Anda di halaman 1dari 22

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjaun Tentang Bayi Dan Pertumbuhan Bayi 1. Pengertian Bayi Masa bayi dimulai dari usia 0-12 bulan yang ditandai dengan pertumbuhan dan perubahan fisik yang cepat disertai dengan perubahan dalam kebutuhan zat gizi (Notoatmodjo, 2007). Selama periode ini, bayi sepenuhnya tergantung pada perawatan dan pemberian makan oleh ibunya. Nursalam, dkk (2005) mengatakan bahwa tahapan pertumbuhan pada masa bayi dibagi menjadi masa neonatus dengan usia 0-28 hari dan masa pasca neonatus dengan usia 29 hari-12 bulan. Masa bayi merupakan bulan pertama kehidupan kritis karena bayi akan mengalami adaptasi terhadap lingkungan, perubahan sirkulasi darah, serta mulai berfungsinya organ-organ tubuh, dan pada pasca neonatus bayi akan mengalami pertumbuhan yang sangat cepat (Perry & Potter, 2005). 2. Pertumbuhan Bayi Supariasa (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan berkaitan dengan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, dan fungsi tingkat sel, organ maupun individu, yang diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Pertumbuhan fisik merupakan hal yang kuantitatif, yang dapat diukur. Indikator ukuran 7

pertumbuhan meliputi perubahan tinggi dan berat badan, gigi, struktur skelet, dan karakteristik seksual (Perry & Potter, 2005). Pertumbuhan pada masa anak-anak mengalami perbedaan yang

bervariasi sesuai dengan bertambahnya usia anak. Secara umum, pertumbuhan fisik dimulai dari arah kepala ke kaki (cephalokaudal). Kematangan pertumbuhan tubuh pada bagian kepala berlangsung lebih dahulu, kemudian secara berangsur-angsur diikuti oleh tubuh bagian bawah. Selanjutnya, pertumbuhan bagian bawah akan bertambah secara teratur (Nursalam dkk, 2005). 3. Ciri-ciri Pertumbuhan Bayi Hidayat (2008) menyatakan bahwa seseorang dikatakan mengalami pertumbuhan bila terjadi perubahan ukuran dalam hal bertambahnya ukuran fisik, seperti berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar lengan, lingkar dada, perubahan proporsi lingkar kepala,

yang terlihat pada

proporsi fisik atau organ manusia yang muncul mulai dari masa konsepsi sampai dewasa, terdapat ciri baru yang secara perlahan mengikuti proses kematangan seperti adanya rambut pada daerah aksila, pubis atau dada, hilangnya ciri-ciri lama yang ada selama masa pertumbuhan seperti hilangnya kelenjar timus, lepasnya gigi susu, atau hilangnya refleks tertentu. 4. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Bayi Supariasa (2001) mengatakan pertumbuhan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu faktor internal seperti biologis, termasuk genetik, dan faktor eksternal seperti status gizi.

a. Faktor internal Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain keluarga, kelompok teman sebaya, pengalaman hidup, kesehatan lingkungan, kesehatan prenatal, nutrisi, istirahat, tidur dan olah raga, status kesehatan, serta lingkungan tempat tinggal (Perry & Potter, 2005). Wong, dkk (2008) mengatakan bahwa nutrisi memiliki pengaruh paling penting pada pertumbuhan. Bayi dan anak-anak memerlukan kebutuhan kalori relatif besar, hal ini dibuktikan dengan peningkatan tinggi dan berat badan. b. Faktor eksternal Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan antara lain keluarga, kelompok teman sebaya, pengalaman hidup, kesehatan lingkungan, kesehatan prenatal, nutrisi, istirahat, tidur dan olah raga, status kesehatan, serta lingkungan tempat tinggal (Perry & Potter, 2005). Wong, dkk (2008) mengatakan bahwa nutrisi memiliki pengaruh paling penting pada pertumbuhan. Bayi dan anak-anak memerlukan kebutuhan kalori relatif besar, hal ini dibuktikan dengan peningkatan tinggi dan berat badan. B. Tinjaun Tentang Berat Badan Lahir Rendah 1. Pengertian Berat Badan Lahir Rendah Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bila berat badannya kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Bayi yang dilahirkan dengan BBLR umumnya kurang mampu meredam tekanan lingkungan yang baru

10

sehingga dapat mengakibatkan pada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan, bahkan dapat menggangu kelangsungan hidupnya

(Prawirohardjo, 2006). BBLR adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram tanpa memandang usia masa kehamilan. BBLR biasa terdiri atas BBLR kurang bulan atau bayi lahir prematur dan BBLR cukup bulan/lebih bulan dengan hambatan pertumbuhan intrauterine (IUGR). BBLR kurang bulan / premature khususnya yang masa kehamilannya, biasanya mengalami penyulit seperti gangguan nafas, ikterus, infeksi dan sebagainya,yang apabila tidak dikelola sesuai dengan standar pelayanan medis akan berakibat fatal. Sementara BBLR yang cukup / lebih bulan pada umumnya organ tubuhnya sudah matur sehingga tidak terlalu bermasalah dalam

perawatannya (Purwanto,2009). Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram) (Hanifa, 2006). Menurut Departemen Kesehatan (1999) bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram, sehingga pertumbuhan dan pematangan (maturitas) organ dan alat-alat tubuh belum sempurna, akibatnya sering terjadi komplikasi yang berakhir dengan kematian.

2. Klasifikasi

11

BBLR dibedakan atas 2 kategori yaitu BBLR karena premature dan BBLR karena Intrauterine Growth Retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. a. Premature Makin rendah masa gestasi dan makin kecil bayi yang dilahirkan makin tinggi morbiditas dan mortalitasnya. Dengan pengelolaan yang optimal dan dengan cara-cara yang kompleks serta menggunakan alatalat yang canggih, beberapa gangguan yang berhubungan dengan prematuritasnya dapat diobati. Dengan demikian gejala sisa yang mungkin diderita di kemudian hari dapat dicegah atau dikurangi. Berdasarkan atas timbulnya bermacam-macam problematik pada derajat prematuritas maka Usher (1975) menggolongkan bayi tersebut dalam tiga kelompok 1) Bayi yang sangat prematur (extremely premature) : 24 30 minggu. Bayi dengan masa gestasi 24 27 minggu masih sangat sukar hidup terutama di negara yang belum atau sedang berkembang. Bayi dengan gestasi 28 30 minggu masih mungkin dapat hidup dengan

perawatan yang sangat intensif agar dicapai hasil yang optimum. 2) Bayi pada derajat prematur yang sedang (moderately premature) : 31 36 minggu. Pada golongan ini kesanggupan untuk hidup lebih baik dari golongan pertama dan gejala sisa yang dihadapinya dikemudian hari juga lebih ringan, asal saja pengelolaan terhadap bayi ini betulbetul intensif.

12

3) Borderline premature : masa gestasi 37 38 minggu. Bayi ini mempunyai sifat-sifat prematur dan matur. Biasanya beratnya seperti bayi matur dan dikelola seperti bayi matur, akan tetapi sering timbul problematik seperti yang dialami bayi prematur, misalnya sindrom gangguan pernafasan, hiperbilirubinemia, daya isap yang lemah dan sebagainya, sehingga bayi ini harus diawasi dengan seksama b. Bayi Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK) Banyak istilah yang digunakan untuk menunjukkan bahwa bayi KMK ini menderita gangguan pertumbuhan di dalam uterus (Intrauterine Growth Retardation = IUGR) seperti pseudopremature, small for dates, dysmature, fetal malnutrition syndrome. Ada dua bentuk IUGR menurut Renfield, (1975), yaitu : 1) Proportionate IUGR Janin yang menderita distress yang lama di mana gangguan pertumbuhan terjadi berminggu-minggu sampai berbulan-bulan

sebelum bayi lahir.sehingga berat, panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. 2) Disproportionate IUGR Terjadi akibat distress subakut. Gangguan terjadi beberapa minggu sampai beberapa hari sebelum janin lahir. 3. Etiologi

13

Terjadinya BBLR merupakan hasil interaksi antara usia pertumbuhan dengan usia kandungan serta kemampuan janin untuk mencapai berat optimal saat lahir dan ditentukan oleh adanya persediaan zat-zat gizi yang cukup dalam arti kuantitas serta kualitas untuk kelanjutan tumbuh kembang anak dalam kandungan serta kemampuan ibu memelihara kehamilan sehingga cukup bulan. Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran prematur. Faktor ibu yang lain adalah umur, paritas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta faktor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR (IDAI, 2004). 4. Tanda dan Gejala a. Premature Tampak luar dan tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkaran dada kurang dari 30 cm, lingkaran kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Kepala relatif besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus, tangisannya lemah dan jarang, pernafasan tidak teratur dan sering timbul apnea.

b. Bayi Kecil Untuk Masa Kehamilan (KMK)

14

Pada keadaan seperti ini, bayi memiliki panjang dan lingkaran kepala dalam proporsi yang seimbang akan tetapi keseluruhannya masih di bawah masa gestasi yang sebenarnya. Bayi tampak wasted dengan tanda-tanda sedikitnya jaringan lemak di bawah kulit, kulit kering keriput dan mudah diangkat, bayi kelihatan kurus dan lebih panjang. Pada bayi IUGR perubahan tidak hanya terhadap ukuran panjang, berat dan lingkaran kepala akan tetapi organ-organ di dalam badan pun mengalami perubahan. Drillen (1975) menemukan berat otak, jantung, paru dan ginjal bertambah, sedankan berat hati, limpa, kelenjar adrenal dan thimus berkurang dibandingkan pada bayi prematur dengan berat yang sama. Perkembangan dari otak, ginjal dan paru sesuai masa gestasinya (Wiknjosastro dkk, 2005) 5. Komplikasi Bersangkutan dengan kurang sempurnanya alat-alat dalam tubuhnya baik anatomik maupun fisiologik maka mudah timbul beberapa kelainan seperti berikut : a. Syndrom distres pernapasan disebut juga membrane hyaline, karena pada stadium akhir akan membentuk membrane hyaline yang melapisin alveulus paru. b. Aspirasi pneumonia disebabkan karena reflek menelan dan batuk pada bayi prematur belum sempurna.

15

c. Perdarahan intra vertikular adalah perdarahan spontan pada ventikel otak lateral, biasanya terjadi bersamaan dengan pembentukan membrane hyaline diparu. d. Fibroplasiasis letromental disebabkan oleh gangguan oksigen yang berlebihan. e. Hiperbilirubinemia disebabkan hepar pada bayi prematur belum matang.. f. Ketidakstabilan suhu disebabkan peningkatan hilangnya panas,

kurangnya lemak sub kutan, rasio luas permukaan terhadap berat badan yang besar, dan produksi panas berkurang akibat lemak coklat yang tidak memadai dan ketidakmampuan untuk menggigil. g. Kesulitan pernapasan disebabkan defisiensi surfaktan paru yang mengarah ke PMH (Penyakit Membran Hialin), risiko aspirasi akibat belum terkoordinasinya refleks batuk, refleks menghisap dan refleks menelan, thoraks yang dapat menekuk dan otot pembantu respirasi yang lemah, dan pernapasan yang periodik dan apnea. h. Kelainan gastrointestinal dan nutrisi disebabkan refleks isap dan telan yang buruk terutama sebelum 34 minggu, motilitas usus yang menurun, pengosongan lambung tertunda, pencernaan dan absorpsi vitamin yang larut dalam lemak kurang, defisiensi enzim laktase pada brush border usus, menurunya cadangan kalsium, fosfor, protein dan zat besi dalam tubuh, dan meningkatnya risiko EKN (Enterokolisit Nekrotikans).

16

i. Imaturitas hati disebabkan oleh konjugasi dan ekskresi bilirubin terganggu dan defisiensi faktor pembekuan yang bergantung pada vitamin.K. j. Imaturitas ginjal disebabkan ketidak mampuan untuk mengekskresi solute load besar, akumulasi asam anorganik dengan asidosis metabolik, dan ketidakseimbangan elektrolit, misalnya hiponatremia atau

hipernatremia, hiperkalemia atau glikosuria ginjal. k. Imaturitas imunologis disebabkan tidak banyak transfer IgG maternal melalui plasenta selama trimester ke tiga, fagositosis terganggu, dan penurunan faktor komplemen. l. Kelainan neurologis disebabkan refleks isap dan telan yang imatur, penurunan motilitas usus, apnea dan bradikardia berulang perdarahan intraventrikel dan leukomalasia periventrikal, pengaturan perfusi serebral yang buruk; hypoxic ischemik encep`phalopathy (HIE), retinopati prematuritas, kejang, dan hipotonia. m. Kelainan kadiovaskuler disebabkan patent ductus arteriosus (PDA) merupakan hal yang umum ditemui pada bayi BKB, dan hipotensi atau hipertensi. n. Kelainan hematologis disebabkan oleh anemia (onset dini atau lanjut), hiperbilirubinemia, disseminated intravaskular coagulation (DIC),

hemorrhagic disease of the newborn (HDN). o. Metabolisme disebabkan oleh hipokalsemia dan hipoglikemia atau hiperglikemia (Soleh, 2008).

17

6. Penatalaksanaan Berat Badan Lahir Rendah a. Pernafasan Bayi premature sering dilahirkan dalam keadaan asfiksia. Menjadi perioritas untuk segera melakukan resusitasi. Mengingat kemungkinan timbulnya penyulit pada sistem pernafasan maka pengawasan ketat di perlukan untuk mendeteksi sedini mungkin adanya serangan apnea serta timbulnya RDS (Respiratory Distress Syndrome) Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak atau bahkan kematian. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh. bayi akan beradapatasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan metabolisme anaerob. Apabila keadaan hipoksia semakin berat dan lama, metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penurunan aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan iskemia (Yu dan Monintja, 1997). Pada stadium awal terjadi hiperventilasi diikuti stadium apneu primer. Pada keadaan ini bayi tampak sianosis, tetapi sirkulasi darah relatif masih baik. Curah jantung yang meningkat dan adanya vasokontriksi perifer ringan menimbulkan peningkatan tekanan darah dan refleks bradikardi ringan. Depresi pernafasan pada saat ini dapat diatasi

18

dengan meningkatkan impuls aferen seperti perangsangan pada kulit. Apneu primer berlangsung sekitar 1 2 menit (Yu dan Monintja, 1997). Apneu primer dapat memanjang dan diikuti dengan memburuknya sistem sirkulasi. Hipoksia miokardium dan asidosis akan memperberat bradikardi, vasokontriksi dan hipotensi. Keadaan ini dapat terjadi sampai 5 menit dan kemudian terjadi apneu sekunder. Selama apneu sekunder denyut jantung, tekanan darah dan kadar oksigen dalam darah terus menurun. Bayi tidak bereaksi terhadap rangsangan dan tidsssak menunjukkan upaya pernafasan secara spontan. Kematian akan terjadi kecuali pernafasan buatan dan pemberian oksigen segera dimulai (Saifuddin, 2002). Oleh karena itu, diperlukan pengamatan dan melaporkan tandatanda dan gejala-gejala aspirasi seperti, tachypnea, sianosis, gerak cuping hidung, lalu mempertahankan saluran pernafasan terbuka dengan penyedotan bila diperlukan, memberikan oksigen bersama dengan pemonitoran gas darah dan memonitor fungsi pengaturan ventilator, memeriksakan konsentrasi oksigen tiap jam. Setelah dilakukan perencanaan tersebut maka hasil yang di harapkan adalah bayi bernafas secara normal atau bernafas ringan dengan ventilator. (Perinasia, 2003). b. Suhu tubuh Bayi prematur secara fisiologis sulit mempertahankan suhu tubuhnya, mudah terjadi hipotermia segera setelah lahir tetapi juga mudah mengalami hipertermia (Perinasia, 2003).

19

Faktor-faktor yang mempengaruhi ialah : luasnya permukaan tubuh menyebabkan mudah kehilangan panas melalui kulit dikarenakan luasnya area permukaan tubuh bayi, maka dibanding bayi normal bayi prematur mempunyai lebih sedikit simpanan lemak subkutan, bayi prematur mempunyai sedikit atau tidak mempunyai cadangan makanan yang berbentuk glikogen dalam hati, kemampuan bayi prematur untuk berkeringat serta pusat termoregulasi bayi-bayi ini belum sempurna maka bila suhu sekitarnya terlalu tinggi bayi akan mengalami hipotermia. Bayi kecil kurang bulan dapat mengalami kehilangan panas tubuh melalui 4 jalan, yaitu : radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi. Radiasi terjadi ketika bayi mengeluarkan panas ke lingkungan yang lebih dingin. Konveksi terjadi ketika bayi kehilangan panas karena aliran udara dan evaporasi terjadi ketika panas hilang melalui penguapan air dalam tubuh bayi. Kondisi bayi yang demikian disebut hipotermia (Perinasia, 2003). Untuk itu, bayi tidak boleh kedinginan harus dibedong agar suhu tubuh tetap 36,5C 37,5C, mempertahankan lingkungan termis normal, memonitor temperatur kulit dengan cara memeriksa temperatur unit inkubator, menghindari bayi pada kehilangan panas melalui penguapan, konveksi, konduksi, dan radiasi. Hasil yang di harapkan dari perencanaan tersebut adalah bayi tidak mengalami tekanan hawa dingin dan dapat mempertahankan temperatur yang stabil. c. Nutrisi

20

Air susu

ibu atau ASI bayi prematur dipertimbangan sebagai

pilihan terbaik untuk nutrisi enternal dan disarankan karena mempunyai susunan yang paling sesuai untuk pencernaan dan pertumbuhan bayi prematur. ASI memberikan pengaruh protektif melawan infeksi, ASI mengandung zat-zat kekebalan, dan dengan memberikan ASI akan memperbaiki hubungan psikologis antara bayi dan ibunya. Pada bayi prematur sering terjadi gangguan hisap untuk itu ASI dapat diberikan dengan cara memerasnya untuk diberikan ke bayi dan di lakukan sesering mungkin agar pasokan ASI terjaga ( Perinasia, 2003). Pengawasan nutrisi/ ASI karena refleks menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat memberikan asupan kalori yang adekuat, penimbangan ketat karena perubahan berat badan mencerminkan kondisi gizi/nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh karena itu penimbangan berat badan harus dilakukan dengan ketat, mengukur lingkaran abdomen bila diperlukan, dan membiarkan orangtua

berpartisipasi dalam rencana pemberian makan. Setelah melaksanakan perencanaan tersebut maka bayi disesuaikan dengan metode pemberian makan dan bayi mempertahankan pergerakan bowel normal. d. Infeksi Karena sistem kekebalan tubuh BBLR belum matang, keluarga dan tenaga kesehatan yang merawat BBLR harus melakukan tindakan pencegahan infeksi dengan membatasi kontak dengan bayi secara tepat

21

yaitu pantau petugas, orangtua, dan pengunjung terhadap infeksi, lesi kulit, demam atau herpes, memelihara peralatan individu dan bahanbahan persediaan untuk setiap bayi, menginspeksi kulit setiap hari terhadap ruam atau kerusakan integritas kulit dan mencuci tangan dengan baik sebelum memegang bayi,. Hasil yang di harapkan adalah bayi bebas dari tanda-tanda infeksi ( Perinasia, 2003). C. Karakteristik 1. Definisi Karakteristik Karakteristik adalah ciri-ciri dari individu yang terdiri dari demografi seperti jenis jenis kelamin, umur serta status sosial seperti, tingkat pendidikan, pekerjaan, ras, status ekonomi dan sebagainya. Menurut Efendi, demografi berkaitan dengan stuktur penduduk, umur, jenis kelamin dan status ekonomi sedangkan data kultural mengangkat tingkat pendidikan, pekerjaan, agama, adat istiadat, penghasilan dansebagainya (Ayurai, 2009). Karakteristik adalah ciri-ciri khusus atau mempunyai sifat khas sesuai dengan perwatakan tertentu (Alwi, 2001). Karakteristik mencakup hal-hal sebagai berikut: umur, pendidikan, pekerjaan,ekonomi (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2000). 2. Jenis karakteristik dalam penelitian ini a. Umur Menurut Hasan (2007) umur adalah lama waktu hidup

yangdihitung sejak ia dilahirkan. Umur 2035 tahun biasanya cenderung mempunyai pengetahuan yang baik, dimana pada umur tersebut mudah

22

sekali untuk menangkap informasi dan pengetahuan sedangkan umur lebih dari 35 tahun cenderung berpengaruh kurang. Pada ibu yang >35 tahun meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatanya sudah mulai menurun sehingga dapat mempengaruhi janin intrauterine dan dapat menyebabkan kelahiran BBLR. Faktor umur ibu bukanlah faktor utama BBLR, tetapi kelahiran BBLR tampak meningkat pada wanita yang berusia < 20 tahun dan >35 tahun (Iskandar, 2009). Menurut Tjipta (2007) umur ibu <20 tahun dan >35 tahun. Wanita yang berumur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35tahun, mempunyai risiko yang tinggi untuk hamil. Karena akan membahayakan kesehatan dan keselamatan ibu hamil maupun janinnya, berisiko mengalami pendarahan dan dapat menyebabkan ibu mengalami anemia serta dapat melahirkan bayi dengan BBLR. Umur dapat dikelompokkan menjadi tiga: 1) < 20 tahun (usia berisiko tinggi), 2) 2035 tahun (usia reproduksi sehat) 3) > 35 tahun (usia berisiko tinggi) b. Jarak Kelahiran Jarak kelahiran adalah jarak lahirnya anak yang satu dengan yang lainnya. Jarak kelahiran < 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik, persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan < 2 tahun akan mengalami

23

peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi dengan BBLR (Iskandar, 2009) c. Paritas Pengertian paritas adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable) (Wiknjosastro, 2002). Paritas adalah keadaan pada wanita yang telah melahirkan janin yang beratnya 500 gram atau lebih, mati atau hidup dan apabila berat badan tidak diketahui maka dipakai batas umur gestasi 22 minggu terhitung dari hari pertama haid terakir yang normal. Paritas adalah seorang wanita sehubungan dengan kelahiran anak yang dapat hidup (Ary, 2009). Menurut ilmu kebidanan (2007), paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan seorang wanita. Dari pola paritas wanita dalam suatu wilayah akan diketahui bagaimana pola dan norma fertilitas yang dianut. Menurut Roestam Mochtar (dalam WoroSedyaningrum, 2009), paritas (para) dibedakan menjadi: 1) Primipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi untuk pertama kali 2) Multipara adalah seorang wanita yang pernah melahirkan bayi viable beberapa kali (sampai 5 kali). 3) Grande multipara adalah wanita yang pernah melahirkan bayi 6 kali atau lebih hidup atau mati.

24

Prevalensi

BBLR

meningkat

sesuai

dengan

meningkatnya

paritasibu. Risiko untuk terjadinya BBLR tinggi pada paritas 1 atau primipara kemudian menurun pada paritas 2 sampai 5 atau multipara, selanjutnya meningkat kembali pada paritas > 5 atau grandemultipara (Dian Sri, 20084). d. Pendidikan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2000) disebutkan, pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Menurut Soekidjo (2003), pendidikan adalah upaya untuk memberikan pengetahuan sehingga terjadi perubahan perilakupositif pengetahuan yang sehingga meningkat, terjadi pendidikan akan memberikan dan tingkat

perubahan

perilaku

pengetahuan lebih meningkat. Pendidikan merupakan landasan bagi upaya untuk meningkatkan kesejahteraan, kemajuan dan kemakmuran, karena dengan pendidikan seseorang dapat menangkap dan menyampaikan informasi yang diperlukan guna melangsungkan kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu tolak ukur yangpaling bermanfaat untuk menentukan status sosial ekonomi dan mempunyai tingkat ketepatan yang cukup baik. Variabel ini bias ditentukan dalam kategori luas, yaitu tidak berpendidikan, SD,SMP, SMU, Perguruan Tinggi. Pendidikan ibu merupakan modal utama dalam

25

menunjang ekonomi keluarga juga berperan dalam penyusunan menu makanan keluarga, serta pengasuhan dan perawatan anak. Bagi keluarga dengan tingkat pendidikan tinggi akan lebih mudah dalam menerima informasi kesehatan khususnya dibidang gizi sehingga dapat menambah pengetahuan dan mampu menerapkan dalam kehidupan sehari-hari (Depkes RI,2002:2). Jenjang pendidikan formal menurut Depdikbud (2000) yaitu: 1) Sekolah Dasar (SD/MI) dan pendidikan yang sederajat. 2) Sekolah lanjutan Tingkat pertama (SLTP/MTs) dan pendidikanyang sederajat. 3) Sekolah Menengah Umum (SMU/MA) dan pendidikan yangsederajat. 4) Perguruan Tinggi; yaitu Diploma (D1, D2, D3), Sarjana (S1),Magister (S2), Spesialis (S3). Menurut Setyowati, dkk (2001) Pendidikan ibu yang rendah terutama yang sekolah atau pendidikan SD lebih cenderung untuk melahirkan bayi dengan BBLR, di bandingkan pendidikan SLTPdan SLTA. e. Pekerjaan Pekerjaan adalah barang apa yang dikerjakan, dilakukan

ataudiperbuat Kamus Bahasa Indonesia (2005). Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bias bermacam-macam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelakunya. Seseorang bekerja karena ada sesuatu yang hendak

26

dicapainya, dan orang berharap bahwa aktifitas kerja yang dilakukannya akan membawanya kepada suatu keadaan yang lebih memuaskan daripada keadaan sebelumnya (Pandji Anaroga, 2005: 11). Adapun jenisjenis pekerjaan yangdapat ditemukan di kalangan wanita / ibu-ibu antara lain : 1) Pegawai (Negeri atau Swasta) 2) Wira Usaha 3) Swasta 4) Petani 5) Buruh 6) Pedagang 7) Ibu Rumah Tangga. Lingkungan pekerjaan menciptakan pola pikir seorang ibu, jika seorang ibu bekerja dengan pekerjaan yang baik dengan tingkatan karir yang bagus cenderung akan mempengaruhi pola pikir ibu tentang hal-hal yang baik untuk ibu maupun janin dalam keluarga. Dengan adanya JAMSOSTEK ataupun ASKES bukti bahwa semakin tingkat pekerjaan baik akan semakin sadar tentang pentingnya kesehatan (Setyowati, dkk, 2001). Menurut Setyowati, dkk (2001) kejadian BBLR pada ibu yang mempunyai status ekonomi rendah adalah lebih tinggi dibandingkan dengan status ekonomi sedang maupun status ekonomi tinggi. Pekerjaan yang berat akan mempengaruhi produk kehamilan, keadaan ini dapat

27

dilihat pada pekerja wanita terutama pada jenis kegiatan fisik yang berat sehingga mereka cenderunguntuk melahirkan bayi dengan BBLR f. Pengalaman Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan

pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Suatu pembelajaran juga mencakup perubahaan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktik (Dian, 2005). Pengalaman seorang ibu akan mempengaruhi ibu dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam menjaga diri dan keluarga. Ketika seorang ibu memiliki pengalaman yang cukup akan membuat ibu lebih berhati-hati dalam menjaga pola makan maupun kesehatan untuk kebaikan janin dalam kandungan sehingga kejadian BBLR dapat diatasi secara dini dengan menjaga hal hal yang akan mempengaruhi bayi dengan berat bayilahir rendah (BBLR) (Dian, 2005).7) g. Status Ekonomi Tingkat kemampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi akan menambahtingkat perilaku seseorang (Soekanto, 2003). Di dalam suatu wilayah, apabila tingkatan sosial ekonomi tinggi, maka ketahanan pangan wilayah tersebut tinggi, sehingga kejadian gizi buruk dapat diminimalisir. Sebaliknya, jika suatu wilayah memiliki ketahanan pangan yang rendah, sehingga didalam suatu

28

wilayah tersebut,akan sering muncul masalah gizi buruk (Yayuk dkk, 2004). Oleh karena itu jika seorang ibu hamil mengalami gizi buruk akan mempengaruhi BBLR, pertumbuhan dan perkembangan janinakan tergantung dari asupan makanan yang dikonsumsi ibu ketikahamil.