Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

Mata merupakan jendela kehidupan. Melalui indera inilah kita dapat melihat dan menikmati indahnya kehidupan. Mata merupakan organ yang keberadaannya berhubungan langsung dengan lingkungan luar sehingga sering menyebabkan mata terkena dampak dari posisi anatominya tersebut. Mata sering terpapar dengan keadaan lingkungan sekitar seperti udara, debu, benda asing dan suatutrauma yang dapat langsung mengenai mata.Trauma merupakan salah satu keadaan gawat darurat pada mata. Setiap kerusakan yang terjadi pada mata dapat mengganggufungsi penglihatan bahkan kebutaan. Trauma kimia merupakan salah satu jenistrauma dan dapat menyebabkan komplikasi seperti glaukoma, perforasi kornea,katarak, dan ulkus kornea. Sebuah studi melaporkan sepertiga dari 131 pasien dengan trauma kimia mengalami kecacatan sementara 15% mengalami kebutaan.Sekitar 20% dari trauma kimia berujung pada kecacatan dalam bidang kosmetik dan penglihatan sedangkan hanya 15% pasien dengan trauma kimia yang beratyang dapat memperoleh kembali penglihatannya. Trauma kimia dapat disebabkan oleh zat kimia baik yang bersifat asam atau basa.Trauma kimia asam biasanya kurang berbahaya dibandingkan trauma alkalikarena asam kurang dapat menembus ke dalam jaringan bola mata kecuali asamhidroflorik. Dampak yang ditimbulkan dari trauma asam sangat tergantung pada tingkat pH, kecepatan, dan jumlah bahan kimia yang mencapai mata. Trauma pada mata memerlukan penanganan yang tepat untuk mencegah kerusakan yang lebih berat agar tidak berujung pada kebutaan. Dalam sebuah laporan epidemiologi, di negara berkembang sekitar 80% traumakimia pada mata berhubungan dengan industri atau pekerjaan pasien. Di Norwegi adilaporkan 14% kasus trauma kimia pada mata disebabkan oleh cairan empedu ikan.Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di laboratorium,industri, pekerjaaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian, dan peperangan yang memakai bahan kimia di abad modern. Trauma kimia ini sangat mengkhawatirkan karena berkemampuan untuk menyerang berbagai macam struktur ocular dan berpotensi menyebabkan kebutaan. Keparahan luka yang timbul tergantung kepada zat penyebabnya, berapa lama zat tersebut berkontak dengan mata dan bagaimana penanganannya. Kerusakan biasanya terbatas pada segmen depan mata termasuk kornea, konjungtiva, dan kadang mengenai struktur internal mata seperti lensa.Bahan kimia basa adalah yang paling merusak karena bahan kimia ini memiliki sifat baik hydrophilic dan lipophilic dan mampu menembus membran sel dengan cepat.

BAB II LANDASAN TEORI TRAUMA KIMIA PADA MATA

II.1 Definisi Trauma kimia adalah trauma yang disebabkan oleh bahan kimia, baik berupa cairan benda padat maupun gas. Zat kimia penyebab trauma dibagimenjadi 2 golongan, yaitu asam dan basa. Menurut Fithria Aldi cit RamanjitSihota, trauma kimia pada mata dua kali lebih sering pada bahan kimia yang bersifat basa dibandingkan bahan kimia yang bersifat asam. Bahan kimia yang bersifat basa lebih sering pada bahan seperti amoniak, sodium hidroksida, dan kapur. Sementara bahan yang bersifat asam dapat berupa sulpuric, sulpurous, hidrofluorik, acetic, dan cromic. Bahan kimia yangbersifat basa biasanya penetrasinya lebih dalam dibandingkan bahan kimiayang bersifat asam. Bahan kimia asam pada umumnya menyebabkankerusakan lebih ringan daripada basa karena kebanyakan protein di kornea akan mengikat asam dan dapat berfungsi sebagai chemical buffer. Jaringan yang terkoagulasi karenanya, akan berperan sebagai penghambat terhadap penetrasi lebih lanjut dari asam. Kerusakan okular karena asam disebabkan oleh karena pengerutanserabut kolagen. Trauma kimia mata sering bilateral dan berakibat kehilangan penglihatan.Komplikasi pada mata dapat berupa glaukoma, perforasi kornea, ulkus kornea, katarak,sikatrik kornea, komplikasi konjungtiva dan kelopak mata, dan ablasio retina. Setelah1-2 tahun biasanya diperlukan operasi koreksi terhadap kerusakan yang ditimbulkandari luka bakar yang cukup berat. Penelitian oleh Kuckelkom melaporkan bahwa sepertiga dari 131 pasien yang dilaporkan dengan trauma kimia mata mendapatkan cacat, dan sekitar 15%nya mengalami kehilangan penglihatan. Pada tahun 1995,hampir sepertiga transplantasi kornea dilakukan terhadap pasien trauma kimia.Sayangnya, kesuksesan transplantasi kurang dari 50%. Beberapa pasien membutuhkan4-5 kali transplantasi sebelum benarbenar berhasil. II.2 Epidemiologi Trauma pada mata dilaporkan sekitar 7-18% dari trauma okuli yang datang ketempat pelayanan kesehatan. Sekitar 3-4% trauma mata ini turut menyumbangangka keseluruhan trauma dari kecelakaan kerja. Trauma kimia diperkirakansebesar 84%. Angka perbandingan bahan kimia asam dan alkali sebagai agen penyebab trauma ini bervariasi dari 1:1 sampai 1:4.Trauma kimia umumnyadidapatkan pada usia 16-45 tahun. Trauma kimia sering terjadi pada laki-lakidikarenakan laki-laki lebih banyak bersinggungan dengan bidang perindustrian,konstruksi, atau pertambangan.Salah satu agen penyebab trauma kimia

asamyaitu asam hidroflorida. Lebih dari 1.000 kasus paparan asam hidrofloridadilaporkan walaupun angka insiden pastinya masih belum diketahui. Suatu pusat pelayanan melaporkan asam hidroflorida tercatat sekitar 35 (17%) pasien dari 205 pasien yang datang dengan keluhan trauma kimia.

II.3 Etiologi Bahan-bahan asam yang dapat merusak mata seperti bahan anorganik, bahanorganik (asetat, formiat), dan organik anhidrat (asetat). Beberapa zat asam yang sering mengenai mata adalah asam sulfat, asam asetat, hidroflorida, asam nitrat,asam klorida, dan asam hidroklorida.Ledakan baterai mobil, yang menyebabkan luka bakar asam sulfat, mungkinmerupakan penyebab tersering dari luka bakar kimiawi pada mata. Asam hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat, pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat. Industri tertentu menggunakan asam hidroflorida dalam pembersih dinding, glass etching (pengukiran pada kacadengan cairan kimia), electropolishing, dan penyamakan kulit. Asam hidroflorida juga digunakan untuk pengendalian fermentasi pada breweries (pengolahan bir).

II.4 ANATOMI MATA Mata merupakan organ penglihatan primer. Manusia memiliki dua buah bola mata yang terletak di dalam rongga orbita yang dikelilingi tulang-tulang yang membentuk rongga orbita. Selain itu juga terdapat jaringan adneksa mata yaitu; palpebra, sistem lakrimalis, konjungtiva, oto-otot ekstraokular, fasia, lemak orbital, pembuluh darah, dan serat saraf. Kelopak mata atau palpebra yang terdiri atas palpebra superior dan inferior mempunyai fungsi melindungi bola mata terhadap trauma, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata. Setiap kelopak terdiri dari bagian anterior (kulit, folikel rambut, m. orbikularis, dan m. levator palpebralis superior) dan bagian posterior (tarsus dan konjungtiva palpebralis). Sistem lakrimal mata terdiri dari sistem sekresi yang diperankan oleh glandula lakrimalis yang terletak di temporo anterosuperior rongga orbita dan sistem ekskresi yang dimulai dari pungtum lakrimal, kanalikuli lakrimal, duktus nasolakrimal, dan berakhir di meatus nasi inferior. Konjungtiva merupakan membran yang menutupi permukaan luar bola mta dan kelopak bagian belakang. Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu; konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan konjungtiva forniks. Bola mata berbentuk bulat yang terdiri dari 3 lapisan yaitu: Lapisan jaringan ikat yang terdiri dari kornea di bagian depan dan sklera di bagian belakang yang merupakan pembungkus dan pelindung isi bola mata. Kornea merupakan selaput bening

mata yang bersifat transparan yang tembus cahaya yang mempunyai kelengkungan yang lebih besar dibanding sklera. Kornea teridiri dari 5 lapisan yaitu; epitel, membran Bowman, stroma, membran descement, dan endotel. Sklera merupakan bagian bola mata yang berwarna putih dengan tebal + 1 mm yang mempunyai kekakuan tertentu sehingga mempengaruhi tekanan bola mata. Lapisan vaskular (uvea), yang terdiri atas iris dan badan silir dibagian depan dan koroid di bagian belakang. Uvea mengandung banyak pembuluh darah yang diperdarahi oleh arteri siliaris anteror dan posterior. Persarafan uvea berasal dari ganglion siliar yang mengandung serat saraf sensoris, motorik, dan otonom. Lapisan dalam (lapisan neuroreseptor/ retina), yang terdiri dari 10 lapisan yang menerima rangsangan cahaya kemudian mengubahnya dan menghantarkannya ke pusat penglihatan di lobus occipitalis. Media refraksi bola mata dari depan ke belakang meliputi kornea, bilik mata depan, pupil, bilik mata belakang, lensa, corpus vitreus, dan retina. Otot-otot penggerak bola mata terdiri dari; m. rektus superior, m. rektus inferior, m. rektus lateralis, m. rektus medialis, m. oblik superior, dan m. oblik inferior.Secara klinis bola mata juga terdiri dari 2 segmen, yaitu segmen anterior yang merupakan semua struktur bola mata yang terletak di depan lensa dan segmen posterior yang merupakan struktur yang terletak dibelakang lensa.

II.5 Patologi Trauma kimia yang bersifat asam. Asam akan merusak dan memutus ikatan intra molekul protein, sehingga terjadi koagulasi protein, keadaan ini dapat merupakan barier yang menghambat penetrasi zat ke intraokular. Keadaan ini disebut nekrose koagulase. Bila trauma disebabkan oleh asam kuat maka akan menembus stroma kornea sehingga berubah warna menjadi kelabu dalam 24 jam dan juga timbul kerusakan pada badan siliar. Trauma kimia yang bersifat basa. Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan persabunan disertai dengan disosiasi asam lemak membran sel. Akibat persabunan membran sel akan mempermudah penetrasi lebih lajut daripada alkali.Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosit. Serat kolagen kornea akan menjadi bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edem kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukansel ini cenderung disertai dengan masuknya pembuluh darah baru

atauneovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk dan berhubungan langsung dengan stroma

dibawahnya. Sel epitel baru ini melekat dengan stroma dibawanya melalui plasminogen aktivator.Bersamaan dengan dileaskan plasminogen aktivator, dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea, sehingga terjadi tukak pada kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan epitel yangberkelajutan dengan tukak kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibetuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknyaterdapat pada hari ke 1421. Biasanya tukak pada korea mulai terbentuk 2minggu setelah trauma kimia. Pembentukan tukak berhenti hanya bilatelah terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup seluruh dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannyaakan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang.Kedua unsur ini memegang peranan penting pada pembentukan jaringan kolagen kornea. Teori terbentuknya kolagenase : Pada defek epitel kornea plasminogen activator yang terbentuk merubah plasminogen menjadi plasmin. Plasmin melaui C3a mengeluarkan faktor hemotaktik untuk leukosit polimorfonuklear (PMN) Kolagenase laten berubah menjadi kolagenase aktif akibat terdapatnya tripsin, plasmin ketepepsin. Kolagenase aktif dapat juga berasal dari tukak kornea. Keratosit juga membentuk kolagenase akif melalui kolagenase laten.

II.6 KLASIFIKASI II.6.1 Trauma asam Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata dan termasuk kegawatdaruratan mata yang disebabkan zat kimia asam dengan pH<7. Beberapa zat asam yang sering mengenai mata adalah asam sulfat, asam asetat, hidroflorida, dan asam klorida. Jika mata terkena zat kimia bersifat asam maka akan terlihat iritasi berat yang sebenarnya akibat akhirnya tidak berat. Asam akan menyebabkan koagulasi protein plasma. Dengan adanya koagulasi protein ini menimbulkan keuntungan bagi mata, yaitu sebagai barrier yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. Hal ini berbeda dengan basa yang mampu menembus jaringan mata dan akan terus menimbulkan kerusakan lebih jauh. Selain keuntungan, koagulasi juga menyebabkan kerusakan konjungtiva dan kornea. Dalam masa penyembuhan setelah terkena zat kimia asam akan terjadi perlekatan antara konjugtiva bulbi dengan konjungtiva tarsal yang disebut simblefaron.

1. Penyebab trauma asam a. Bahan kimia berupa cairan, gas atau padat yang mempunyai keasaman (pH) lebih rendah dari 7.0 dan menyebabkan terjadinya proses koagulasi. b. Bahan kimia yang bersifat asam : air keras (asam sulfat : H2SO4) untuk pembersih industri, air accu; asam sulfit (H2SO3) untuk pengawet buah dan sayuran, bahan pemutih, asam cuka; asam khlorida; asam asetat.

Gambar Trauma pada Mata Akibat Bahan Kimia Asam

II.6.2 Trauma Basa atau Alkali Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata dan termasuk kegawatdaruratan mata yang disebabkan zat kimia asam dengan pH>7. Trauma akibat bahan kimia basa akan mengakibatkan kerusakan yang sangat berbahaya pada mata. Alkali akan menembus kornea dengan cepat karena memiliki sifat baik hydrophilic dan lipophilic lalu menembus bilik mata depan dan sampai pada jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen korena. Bahan kimia alkali bersifat koagulasi sel dan akan mengakibatkan proses penyabunan disertai dehidrasi. Bahan akustik soda dapat menembus ke dalam bilik mata depan dalam waktu 7 detik. Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan menambah berat kerusakan kolagen kornea. Alkali yang menembus bola mata akan merusak retina sehingga akan berakhir dengan kebutaan penderita. 1. Penyebab trauma basa atau alkali

Zat-zat basa atau alkali yang dapat menyebabkan trauma pada mata antara lain : a. Semen b. Soda kuat c. Amonia d. NaOH e. CaOH f. Cairan pembersih dalam rumah tangga Bahan alkali Amonia merupakan gas yang tidak berwarna, dipakai sebagai bahan pendingin lemari es, larutan 7% ammonia dipakai sebagai bahan pembersih. Pada konsentrasi rendah ammonia bersifat merangsang mata. Amonia larut dalam air dan lemak, hal ini dangat merugikan karena kornea mempunyai komponen epitel yang lipofilik dan stroma yang hidrofilik. Amonia mudah merusak jaringan bagian dalam mata seperti iris dan lensa. Amonia merusak stroma lebih sedikit disbanding dengan NaOH dan CaOH. pH cairan mata naik beberapa detik setelah trauma. Bahan alkali lainnya adalah NaOH dan Ca(OH)2. NaOH dikenal sebahai kausatik soda. NaOH dipakai sebagai pembersih pipa. pH cairan mata naik beberapa menit sesudah trauma akibat NaOH. Ca(OH)2 memiliki daya tembus yang kurang pada mata. Hal ini akibat terbentuknya sabun kalsium pada epitel kornea. pH cairan mata menjadi normal kembali sesudah 30 sampai 3 jam pascatrauma. 2. Klasifikasi akbat luka bakar alkali: a. Klasifikasi Huges 1) Ringan : a) Prognosis baik b) Terdapat erosi epitel kornea c) Pada kornea tedaat kekeruhan yang ringan d) Tidak terdapat iskemia dan nekrosis kornea ataupun konjungtiva 2) Sedang : a) Prognosis baik

b) Terdapat kekeruhan kornea sehingga sulit melihat iris dan pupil secara terperinci c) Terdapat iskemia dan nekrosis enteng pada kornea dan konjungtiva 3) Sangat berat : a) Prognosis buruk b) Akibat kekeruhan kornea upil tidak dapat dilihat c) Konjungtiva dan sclera pucat 3. Klasifikasi Thoft Menurut klasifikasi Thoft, trauma basa dapat dibedakan menjadi: 1) Derajat 1 : terjadi hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata 2) Derajat 2 : terjadi hiperemi konjungtiva disertai hilangnya epitel kornea 3) Derajat 3 : terjadi hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea 4) Derajat 4 : konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50% Luka bakar alkali derajat 1 dan 2 akan sembuh dengan jaringan parut tanpa terdapatnya neovaskularisasi kedalam kornea. Luka bakar alkali derajat 3 dan 4 membutuhkan waktu sembuh berbulan bulan bahkan bertahun-tahun.

Gambar Klasifikasi Trauma Kimia, (a) derajat 1, (b) derajat 2, (c) derajat 3, (d) derajat 4

II.7 Gejala Klinis Trauma kimia pada mata dapat didiagnosis berdasarkan anamnesis dari tanda dangejala. Pasien umumnya mengeluh nyeri, fotofobia, pengelihatan kabur, danadanya halo berwarna disekitar cahaya. Jika trauma kimianya parah, mata tidak menjadi merah namun akan tampak putih karena iskemia pada pembuluh darah konjungtiva. Perlu juga ditanyakan onset kejadian dan bahan kimia apa yang mengenai mata pasien. Pemeriksaan fisik dapat memakai senter, tetapi lebih baik menggunakan slitlamp. Beberapa tanda klinis yang dapat terjadi antara lain : 1.Penurunan visus mendadak akibat defek pada kornea berupa defek padaepitel kornea atau defek pada lapisan kornea yg lebih dalam lagi. Akan tetapi trauma asam akan membentuk sawar presipitat jaringan nekrotik yang cenderung membatasi penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. 2.Edema pada kelopak mata disebabkan adanya peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Kerusakan pada jaringan pada palpebra sehingga mata tidak dapat menutup sempurna dan terbentuknya jaringan parut pada palpebra. 3.Hiperemis konjungtiva hingga dapat terbentuknya kemosis.

Gambar: Kemosis 4. Kerusakan pada kornea dapat bervariasi dari yang paling ringan, yaitukeratitis pungtata superfisial hingga defek epitel luas berupa erosi kornea, hilangnya epitel kornea hingga perforasi kornea. Walaupun jarang, perforasi kornea permanen dapat terjadi dalam beberapa hari hingga minggu pada trauma kimia parah yang tidak ditangani dengan baik . Pada defek epitel luas, hasil tes flouresin mungkin negatif. 5.Kabut stroma dapat bervariasi dari kornea bersih hingga opasifikasisempurna. 6.Iskemik perilimbus merupakan indikator untuk prognosis penyembuhankornea, karena stem sel di limbus yang berperan dalam repopulasi epitelkornea. Semakin luas iskemik yang terjadi di limbus,

maka prognosis juaga semakin buruk. Tetapi keberadaan stem sel peri limbus yang intak tidak dapat menjamin terbentuknya reepitalial yang normal. 7.Terjadinya reaksi peradangan pada bagian anterior, reaksi yang terbentuk bervariasi dari flare sampai reaksi fibrinoid. Secara umum trauma basalebih sering menyebabkan peradangan bilik mata depan akibat kemampuannya yang dapat menembus lapisan kornea. 8.Peningkatan tekanan intraokular (TIO) dapat terjadi secara mendadak akibat dari deformasi dan pengurangan serabut kolagen serta keikutsertaan prostaglandin. Peningkatan TIO yang terus menerus secara langsung berhubungan dengan derajat kerusakan segmen anterior akibat peradangan. Keadaan akut yang terjadi ada minggu pertama : 1. Sel membrane rusak. 2. Bergantung pada kuatnya alkali akan mengakibatkan hilangnya epitel, keratosit, saraf kornea dan pembuluh darah. 3. Terjadi kerusakan komponen vascular iris, badan siliar dan epitel lensa, trauma berat akan merusak sel goblet konjungtiva bulbi. 4. Tekanan intra ocular akan meninggi. 5. Hipotoni akan terjadi bila terjadi kerusakan pada badan siliar 6. Kornea keruh dalam beberapa menit. 7. Terjadi infiltrasi segera sel polimorfonuklear, monosit dan fibroblast

Keadaan minggu kedua dan ketiga : 1. Mulai terjadi regenerasi sel epitel konjugtiva dan kornea. 2. Masuknya neovaskularisasi ke dalam kornea diserta dengan sel radang. 3. Kekeruhan pada kornea akan mulai menjernih kembali, 4. Sel penyembuhan berbentuk invasi fibroblast memasuki kornea. 5. Terbentuknya kolagen. 6. Trauma alkali berat akan membentuk jaringan granulasi pada iris dan badan siliar sehingga terjadi fibrosis.

Keadaan pada minggu ketiga dan selanjutnya : 1. Terjadi vaskularisasi aktif sehingga seluruh kornea tertutup oleh pembuluh darah. 2. Jaringan pembuluh darah akan membawa bahan nutrisi dan bahan penyembuhan jaringan seperti protein dan fibroblast. 3. Akibat terdapatnya jaringan dengan vaskularisasi ini, tidak akan terjadi perforasi kornea. 4. Mulai terjadi pembetukan panus pada kornea. 5. Endotel yang tetap sakit akan mengakibatkan edema kornea. 6. Terdapat membaran retrokornea, iristis, dan membrane siklitik.

II.8 DIAGNOSIS Pemeriksaan awal pada trauma mata antara lain meliputi anamnesis dan pemeriksaan fisik. II.8.1 ANAMNESE Sering sekali pasien menceritakan telah tersiran cairan atau tersemprot gas pada mata atau pastikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Tanyakan kepada pasien apa persisnya zat kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan dengan kecepatan tinggi). Secara umum, pada anamneses dari kasus trauma mata perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba-tiba. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Dan harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi akibat ledakan. II.8.2 PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena zat sudah terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral. Obat anestesi topical boleh digunakan untuk membantu pasien lebih nyaman dan kooperatif. Setalah dilakukan irigasi, pemeriksaan mata yang seksama dilakukan dengan perhatian khusus untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea, derajat iskemik limbus dan tekanan intra okuli. Pada kasus trauma basa dapat dijumpai kerusakan kornea yaitu terjadi kekeruhan kornea, konjungtivalisasi pada kornea, neovaskularisasi, peradangan kronik dan defek epitel yang menetap

dan berulang serta perforasi kornea. Apabila trauma basa tersebut mengakibatkan penetrasi kedalam intraokuler dapat kita jumpai adanya komplikasi katarak, glaukoma sekunder dan kasus berat ptisis bulbi. Kelainan lain yang dapat dijumpai yaitu pada palpebra berupa jaringan parut pada palpebra dan sindroma mata kering. Pada konjungtiva dapat dijumpai adanya simbleparon. II.8.3PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dalam kasus trauma basa mata adalah pemeriksaan pH bola mata secara berkala. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH netral. Pemeriksaan bagian anterior mata dengan lup atau slit lamp yang bertujuan untuk mengetahui lokasi luka. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengatahui tekanan intraocular. II.9 DIAGNOSA DIFFERENSIAL Diagnosis banding dari trauma kimia asam adalah trauma kimia basa.Perbedaannya terdapat pada kerusakan yang ditimbulkan, kemampuan penetrasi pada organ mata, mekanisme terjadinya kerusakan pada mata, derajat kerusakandan prognosisnya. Garg,A. et al. Clinical Diagnosis and Management of Occular Trauma. Jaype Brothers Medical Publishers. USA. 2009.

No 1

Perbedaan Kerusakan yangditimbulkan

Trauma Kimia Asam Kerusakan yangditimbulkan lebihterbatas, batas tegas dan bersifat tidak progresif Tidak sekuat trauma bas

Kemampuan penetrasi pada organ mata Mekanisme terjadinyakerusakan pada mata

Koagulasi pada permukaan protein yangakan membentuk barier

4 5

Derajat kerusakan Prognos

Lebih ringan karenahanya di bagian permukaan Lebih baik

Trauma Kimia Basa Kerusakan yangditimbulkan lebih beratkarena sudah mencapai bagian yang lebih dalamyaitu stroma Penetrasi bisa terjadi lebihdalam hingga mencapaistroma -Saponifikasi dari selular barrier -Denaturasi mukoidPembengkakan kolagenDisrupsimukopolisakarida stroma Lebih berat Lebih Buruk

Diagnosa differenisal dari trauma basa pada mata adalah : Konjugtivitis Konjugtivitis hemoragik akut Keratokunjugtivitis sicca Ulkus kornea Dan lain-lai

II.10 PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma ataupun jenis trauma itu sendiri. Namun demikian ada empat tujuan utama dalam mengatasi kasus trauma okular adalah : Memperbaiki penglihatan. Mencegah terjadinya infeksi. Mempertahankan arsitektur mata. Mencegah sekuele jangka panjang.

Penatalaksanaan yang dilakukan untuk menangani trauma basa pada mata adalah : Bila terjadi trauma basa adalah secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik selama mungkin. Irigasi dilakukan sampai pH menjadi normal, paling sedikit 2000 ml selama 30 menit. Bila dilakukan irigasi lebih lama akan lebih baik.Untuk mengetahui telah terjadi netralisasi basa dapat dilakukan pemeriksaan dengan kertas lakmus. pH normal air mata 7,3. Bila penyebabnya adalah CaOH, dapat diberi EDTA karena EDTA 0,05 dapat bereaksi dengan CaOH yang melekat pada jaringan. Pemberian antibiotika dan debridement untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. Pemeberian sikloplegik untuk mengistirahatkan iris mengatasi iritis dan sinekia posterior. Pemberian Anti glaukoma (beta blocker dan diamox) untuk mencegah terjadinya glaucoma sekunder. Pemberian Steroid secara berhati-hati karena steroid menghambat penyembuhan. Steroid diberikan untuk menekan proses peradangan akibat denaturasi kimia dan kerusakan jaringan kornea dan konjungtiva. Steroid topical ataupun sistemik dapat diberikan pada 7 hari pertama pasca trauma. Diberikan Dexametason 0,1% setiap 2 jam. Steroid walaupun diberikan dalam dosis tinggi tidak mencegah terbentuknya fibrin dan membrane siklitik. Kolagenase inhibitor seperti sistein diberikan untuk menghalangi efek kolagenase. Diberikan satu minggu sesudah trauma karena pada saat ini kolagenase mulai terbentuk. Pemberian Vitamin C untuk pembentukan jaringan kolagen. Selanjutnya diberikan bebat (verban) pada mata, lensa kontak lembek dan artificial tear (air mata buatan).

Operasi Keratoplasti dilakukan bila kekeruhan kornea sangat mengganggu penglihatan.

II.11 KOMPLIKASI Komplikasi dari trauma mata juga bergantung pada berat ringannya trauma, dan jenis trauma yang terjadi. Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus trauma basa pada mata antara lain : 1.Simblefaron Dengan gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus, sehingga kornea dan penglihatan terganggu.

Gambar Simblefaron 2.Kornea keruh, edema, neovaskuler 3.Katarak traumatik, merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata. Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain menyebabkan kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang masuk mengenai mata menyebabkan peningkatan PH cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka jarang

4.Phtisis bulbi

Gambar Phthisis bulbi

II.12 PROGNOSIS Trauma kimia pada mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan berat jangka panjang dan rasa tidak enak pada mata. Prognosinya ditentukan oleh anestesi kornea dan bahan alkali penyebab trauma tersebut. Terdapat 2 klasifikasi trauma basa pada mata untuk menganalisis kerusakan dan beratnya kerusakan.

BAB III LAPORAN KASUS


III.1 IDENTITAS Nama pasien : Tn. Sutikno Umur : 39 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Pendidikan : Tamat SLTA Pekerjaan : Swasta (cleaning service) Agama : Islam Suku/bangsa : Jawa/Indonesia Alamat : Pandean 30 01/02 Rembang-Pasuruan III.2 ANAMNESA Keluhan Utama: Mata Pedih/ perih Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke poli mata RSUD BANGIL dengan keluhan mata sebelah kanan dan kiri terasa perih terutama mata sebelah kiri. Pada pukul 08.00WIB pasien kecipratan fixol setelah itu mata langsung terasa panas, perih dan gatal.Setelah itu pasien menyiram mata dengan air yang mengalir tapi karena masih terasa perih pasien langsung meneteskan obat mata (aito) sebanyak >10 tetes dalam waktu kurang lebih 4jam.tetapi mata masih terasa perih, keluar air mata terus,apabila berada diluar ruangan mata terasa perih tapi bila berada dr\iruangan AC mata tidak seberapa perih. Riwayat Penyakit Dahulu :

-Riwayat Diabetes Melitus disangkal -Riwayat HT disangkal Riwayat Penyakit Keluarga : -Tidak ada keluarga yang mengalami seperti pasien III.3 Pemeriksaan Fisik Oftalmicus

Pemeriksaan Visus Gerakan bola mata Tekanan bola mata Palpebra Superior Palpebra Inferior Konjungtiva

Oculi Dextra Tidak diperiksa Kesegala arah Tidak diperiksa odema (-), spasme (-) odema (-), spasme (-) Hiperemis(-),sekret(-), edema(-)

Oculi Sinistra Tidak diperiksa Kesegala arah Tidak diperiksa odema (-), spasme (-) odema (-), spasme (-) Hiperemis (-), sekret (-), edema(-)

Kornea Pupil

Jernih

Jernih

Bulat, isokor, RC(+) ukuran Bulat, isokor, RC(+)ukuran 3 mm

3 mm Iris Lensa Tes fluoresein III.4 Diagnosis Trauma kimia Basa ec fixol ODS III.5 Penatalaksanaan Irigasi dengan RL OS = 1FL OD = FL reguler Jernih Tidak diperiksa reguler Jernih Tidak diperiksa

BAB 1V PEMBAHASAN

Trauma kimia pada mata dapat berasal dari bahan yang bersifat asamdengan pH < 7 dan bahan yang bersifat basa dengan pH > 7. Trauma basa biasanya memberikan dampak yang lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-bahan basa memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat masuk secara cepat untuk penetrasi sel membran dan masuk ke sudut mata depan, bahkan sampai retina. Sementara trauma asam akan menimbulkan koagulasi protein

permukaan,dimana merupakan suatu barier pelindung sehingga zat asam tidak penetrasi lebih dalam lagi. Gejala utama yang muncul pada trauma mata adalah epifora, blefarospasme dan nyeri yang hebat. Trauma kimia merupakan satu-satunya jenis trauma yang tidak memerlukan anamnesa dan pemeriksaan yang lengkap.Penatalaksanaan yang terpenting pada trauma kimia adalah irigasi mata dengan segera samapai pH mata kembali normla dan diikuti dengan pemberian obat terutama antibiotik, multivitamin, antiglaukoma, dll. Selain itu dilakukan juga upaya promotif dan preventif kepada pasien. Menurut data statistik 90% kasus trauma dapat dicegah. Apabila dalam menjalankan suatu pekerjaan menggunakan pelindung yang tepat. Pada laporan kasus ini, pasien didiagnosis ODS Trauma Kimia Basa ec fixol berdasarkan data dasar yang didapatkan melalui anamnesis dan pemeriksaanfisik sebagai berikut.Pada anamnesis didapatkan keluhan mata teraasa perih,gatal dan merah sesaat setelah terkena fixol.Setelah itu pasien mata tetap terasa panas,perih dan keluar air mata.Pada pemeriksaan fisik pada ODS tidak terdapat kelainan pda matanya (oedem -,spasme -,hiperemis -, kornea jernih), sedangkan untuk penurunan visus tidak diketahui karena belum dilakukan pemeriksaaan.

BAB V KESIMPULAN

Trauma kimia basa mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, camera oculi anterior, dan sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Trauma basa adalah trauma kimia yang disebabkan zat basa dengan pH>7. Zat-zat basa atau alkali yang dapat menyebabkan trauma pada mata antara lain Semen, Soda kuat, Amonia, dan Cairan pembersih dalam rumah tangga Tindakan bila terjadi trauma basa adalah secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik selama mungkin. Bila mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit setelah trauma. Penderita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA untuk mengikat basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma basa, diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ketujuh. Penyulit yang dapat terjadi ada trauma basa mata adalah simblefaron, kekeruhan kornea, edema, dan neovaskularisasi kornea, katarak, disertai dengan ptisis bola mata. Pada rauma alkali biasanya prognosisnya tidak terlalu baik dan tergantung pada kerusakan yang terjadi.