Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan tidak hanya dilakukan di bangku sekolah saja.

Kita dapat menimba ilmu dari berbagai kejadian yang kita saksikan secara langsung maupun dengan melihat berbagai peristiwa lewat sebuah diorama yang menceritakan kejadian masa lampau. Salah satu upaya pendidikan selain yang dilaksanakan di sekolah adalah adanya studi wisata, yaitu mengunjungi suatu tempat tertentu dengan harapan dapat menimba suatu ilmu baru. Selain itu dengan pelaksanaan studi wisata kita dapat belajar dengan suasana yang berbeda dari saat belajar di sekolah. Dengan pelaksanaan studi wisata, kegiatan belajar dilaksanakan dalam suasana yang menyenangkan. Pariwisata di Indonesia saat ini menunjukan perkembangan yang semakin meningkat. Setelah pemerintah menetapkan bahwa pariwisata sebagai sarana pembangunan agar dapat menjadi penghasil devisa nomor dua setelah minyak dan gas bumi. Sebagai salah satu unsur didalam pariwisata, hotel adalah salah satu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh bangunan untuk memberikan jasa pelayanan penginapan, makan, minum, serta lainya bagi umum dan dikelola secara komersial (SK Menparpostel No.KM.34/HK.103/MPPT1987). Dunia pariwisata secara umum pada saat ini berkembang sangat pesat dan maju, akan tetapi di negara Indonesia keadaanya masih sangat terpuruk dan belum stabil. Hal ini disebabkan karena dampak dari krisis ekonomi global yang sedang melanda dunia dan krisis keamanan yang membuat wisatawan takut untuk berkunjung ke Indonesia. Tetapi sebagai insan pariwisata, segenap masyarakat dan rakyat Indonesia harus selalu optimis dan bekerjasama dengan pemerintah untuk mewujudkan keadaan yang aman di Indonesia, sehingga pariwisata di Indonesia dapat berkembang dengan pesat pada tahun-tahun yang akan datang.

Industri pariwisata di indonesia telah menampilkan peranannya dengan nyata dalam memberikan kontribusinya terhadap kehidupan ekonomi, sosial dan budaya bangsa. Kesempatan kerja bagi orang-orang terampil di bidang ini, semakin bertambah jumlahnya dari tahun ke tahun. Selain itu, pendapatan negara dari sektor pajak dan devisa juga bertambah. Dengan adanya sektor tersebut, keadaan sosial dalam masyarakat yang terlibat menjadi semakin baik. Salah satu obyek wisata terkenal di Bali yang terkenal hingga manca negara adalah objek wisata Tanah Lot. Dengan berbagai keunggulannya, objek Wisata Tanah Lot mampu menarik wisatawan baik manca maupun domestik untuk datang dan berkunjung. Namun demikian dengan sistem pengelolaan objek wisata yang lebih baik lagi diharapkan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan yang ingin memanjakan mata dan pikiran dengan keindahan panorama Tanah Lot. Berdasarkan uraian di atas, dalam penyusunan karya tulis ini penulis mengambil judul Upaya Meningkatkan Kunjungan Wisata di Objek Wisata Tanah Lot Bali. B. Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penulisan ini adalah : 1. Bagaimanakah upaya yang dilakukan oleh pengelola obyek wisata Tanah Lot Bali dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan? 2. Kendala apakah yang muncul dalam upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Objek Wisata Tanah Lot Bali? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui berbagai upaya yang dilakukan oleh pengelola obyek wisata Tanah Lot Bali dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. 2. Untuk mengetahui kendala-kendala yang muncul dalam upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Objek Wisata Tanah Lot Bali.

D. Metode Pengumpulan Data 1. Metode wawancara Metode wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan kepada petugas / pemandu wisata untuk mendapatkan jawaban yang sedetail mungkin. Saat malakukan tanya jawab harus dilakukan minimal dua orang, yang satu sebagai penanya dan yang satu sebagai penulis. 2. Metode Observasi/Pengamatan Metode observasi atau pengamatan adalah metode pengumpulan data dengan cara mengamati secara langsung ke lokasi wisata untuk mengetahui berbagai hal penting khususnya tentang berbagai upaya dan kendala yang muncul dalam meningkatkan jumlah wisatawan yang datang dan berkunjung di Tanah Lot Bali. 3. Study Pustaka Studi pustaka, adalah metode pengumpulan data dengan cara mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang tempat wisata tersebut didalam buku. Kita dapat mencari buku tentang tempat wisata tersebut ataupun meminta brosur wisata kepada pengelola tempat wisata. Selain itu kita juga dapat mencari di perpustakaan sekolah ataupun daerah. E. Sistematika Karya Tulis Untuk mempermudah pemahaman pembaca terhadap isi karya tulis ini, berikut penulis sajikan sistematika sebagai berikut : BAB I. PENDAHULUAN Merupakan bab awal yang berisi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, metode pengumpulan data dan sistematika karya tulis BAB II BAB III KAJIAN TEORI Membahas tentang berbagai teori terkait judul karya tulis yaitu : PEMBAHASAN

Merupakan inti bab yang membahas dengan detail terkait objek penelitian yaitu BAB IV PENUTUP Merupakan bab akhir yang berisi kesimpulan hasil pengamatan dan saran-saran perbaikan.

BAB II KAJIAN TEORI A. Pariwisata Istilah pariwisata berasal dari dua suku kata, yaitu pari dan wisata. Pari berarti banyak, berkali-kali atau berputar-putar. Wisata berarti perjalanan atau bepergian. Jadi pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari suatu tempat ke tempat yang lain. UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan dalam pasal 1 menyebutkan bahwa : 1. Wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. 2. Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata. 3. Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah. 4. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan pengusaha. 5. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. 6. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam satu atau lebih wilayah administratif yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas

pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Pengertian pariwisata secara luas dapat dilihat dari beberapa definisi sebagai berikut : 1. Menurut A.J. Burkart dan S. Medlik yang dikutip dari Soekadijo (2000:3) menyebutkan bahwa : Pariwisata berarti perpindahan orang untuk sementara (dan) dalam jangka waktu pendek ke tujuan-tujuan di luar tempat dimana mereka biasanya hidup dan bekerja, dan kegiatan-kegiatan mereka selama tinggal di tempat-tempat tujuan tersebut. 2. Menurut Prof. Hunzieker dan Prof. K. Krapf yang dikutip dari Soekadijo (2000:12) menyebutkan bahwa : Pariwisata dapat didefinisikan sebagai keseluruhan jaringan dan gejala-gejala yang berkaitan dengan tinggalnya orang asing di suatu tempat, dengan syarat bahwa mereka tidak tinggal di situ untuk melakukan suatu pekerjaan yang penting yang memberikan keuntungan yang bersifat permanen maupun sementara. 3. Menurut World Tourism Organization (WTO) menyebutkan bahwa : Pariwisata adalah kegiatan seseorang yang bepergian ke atau tinggal di suatu tempat di luar lingkungannya yang biasa dalam waktu tidak lebih dari satu tahun secara terus menerus, untuk kesenangan, bisnis ataupun tujuan lainnya 4. UU No. 9 tahun 1990 pasal 1 bahwa : Pariwisata merupakan segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan perjalanan yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmatai abjek dan daya tarik wisata termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata tersebut. B. Jenis-jenis Wisata Menurut Soekadijo (2000:23-25) wisata berdasarkan jenis-jenisnya dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu : 1. Wisata Alam

Wisata Alam yang terdiri dari: a. Wisata Pantai (Marine tourism), merupakan kegiatan wisata yang ditunjang oleh sarana dan prasarana untuk berenang, memancing, menyelam, dan olahraga air lainnya, termasuk sarana dan prasarana akomodasi, makan dan minum. b. Wisata Etnik (Etnik tourism), merupakan perjalanan untuk mengamati perwujudan kebudayaan dan gaya hidup masyarakat yang dianggap menarik. c. Wisata Cagar Alam (Ecotourism), merupakan wisata yang banyak dikaitkan dengan kegemaran akan keindahan alam, kesegaran hawa udara di pegunungan, keajaiban hidup binatang (margasatwa) yang langka, serta tumbuh-tumbuhan yang jarang terdapat di tempat-tempat lain. d. Wisata Buru, merupakan wisata yang dilakukan di negeri-negeri yang memang memiliki daerah atau hutan tempat berburu yang dibenarkan oleh pemerintah dan digalakkan oleh berbagai agen atau biro perjalanan. e. Wisata Agro, merupakan jenis wisata yang mengorganisasikan perjalanan ke proyek-proyek pertanian, perkebunan, dan ladang pembibitan dan wisata rombongan dapat mengadakan kunjungan serta peninjauan untuk tujuan studi maupun menikmati segarnya tanaman di sekitarnya. 2. Wisata Sosial-Budaya Wisata Sosial-Budaya, yang terdiri dari : a. Peninggalan sejarah kepurbakalaan dan monumen, wisata ini termasuk golongan budaya, monumen nasional, gedung bersejarah, kota, desa, bangunan-bangunan keagamaan, serta tempat-tempat bersejarah lainnya seperti tempat bekas pertempuran (battle fields) yang merupakan daya tarik wisata utama di banyak negara. b. Museum dan fasilitas budaya lainnya, merupakan wisata yang berhubungan dengan aspek alam dan kebudayaan di suatu kawasan atau daerah tertentu. Museum dapat dikembangkan berdasarkan pada temanya, antara lain museum arkeologi, sejarah, etnologi, sejarah alam, seni dan kerajinan, ilmu pengetahuan dan teknologi, industri, ataupun dengan tema khusus lainnya.

C. Wisatawan Definisi wisatawan ini ditetapkan berdasarkan rekomendasi International Union of Office Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism Organization (WTO, 1990:4). Wisatawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan perjalanan ke sebuah atau beberapa negara di luar tempat tinggal biasanya atau keluar dari lingkungan tempat tinggalnya untuk periode kurang dari 12 (dua belas) bulan dan memiliki tujuan untuk melakukan berbagai aktivitas wisata. Terminologi ini mencakup penumpang kapal pesiar (cruise ship passenger) yang datang dari negara lain dan kembali dengan catatan bermalam. Adapun menurut Soekadijo (2000:16) wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata. Sedang wisatawan menurut jenisnya dibagi ke dalam kategori : 1. Wisatawan mancanegara (internasional), yaitu wisatawan dari berbagai negara lain yang berkunjung ke wilayah negara X dan warga negara X yang berwisata ke luar wilayah negara X (outbond tourist). 2. Wisatawan nasional (domestik), yaitu wisatawan melakukan kegiatan wisata di dalam wilayah negara. D. Pengembangan Pariwisata Pada dasarnya pengembangan pariwisata adalah suatu proses yang berkesinambungan untuk melakukan matching dan adjustment yang terus menerus antara sisi supply dan demand kepariwisataan yang tersedia untuk mencapai misi yang telah ditentukan (Soekadijo, 2000:15). Sedangkan pengembangan potensi pariwisata mengandung makna upaya untuk lebih meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu obyek wisata dengan cara melakukan pembangunan unsur-unsur fisik maupun non fisik dari sistem pariwisata sehingga meningkatkan produktivitas. Dalam hal ini yang dimaksud produktivitas obyek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh dari kunjungan wisatawan yang masuk.

Di

samping

itu

untuk

dapat

melakukan

pengembangan,

perlu

memperhatikan berbagai aspek (Soekadijo, 2000:13). Suatu obyek wisata harus memperhatikan syarat-syarat pengembangan daerah menjadi obyek wisata yang dapat diandalkan, yaitu : 1. Seleksi terhadap potensi, hal ini dilakukan untuk memilih dan menentukan potensi obyek wisata yang memungkinkan untuk dikembangkan sesuai dengan dana yang ada. 2. Evaluasi letak potensi terhadap wilayah, pekerjaan ini mempunyai latar belakang pemikiran tentang ada atau tidaknya pertentangan atau kesalahpahaman antar wilayah administrasi yang terkait.

BAB III PEMBAHASAN A. Objek Wisata Tanah Lot 1. Pengertian Tanah Lot Mungkin tak asing lagi kata tanah, disana terdapat pura yang terpenting bagi rakyat Bali. Tanah Lot berasal dari kata medelot yang terletak paling selatan. Karena orang-orang sudah sekali menyebutnya akhirnya menjadi tanah Lot. Tanah ini terletak pada kecamatan Kediri yang mempunyai jarak + 29 Km dari pusat Denpasar. 2. Sejarah Tanah Lot Pura tanah Lot di bangun oleh Maha Resi yang bernama Dahyang Diwerta kira-kira pada abad 14, ketika itu Dahyang Diwerta sedang melakukan Tirta Yatra yang biasa dikenal dengan sebutkan melakukan perjalanan suci untuk menyebarkan ajaran Hindu di wilayah Bali. Ketika di dalam perjalanan itu Dahyang Diwerta mempergunakan alat transportasi yang tak mungkin seseorang dapat mempergunakan, dikarenakan bahayanya alat itu. sesudah itu Dahyang melakukan perjalanan sempat terhenti dengan jalan kaki dan kemudian melewati pura : a. Puncak b. Rabun Siri c. Gandi Melati d. Tanah Lot 3. Kegunaan Tanah Lot Tanah Lot ialah pura terbesar, jadi tak heran bila pura ini seringkali dipergunakan sebagai tempat peribadahan pada hari-hari besar umat Hindu misalnya pada hari : Galungan, Kuningan, Nyepi. Hal seperti ini yang perlu dilaksanakan karena menurut kepercayaan tersebut ritual ini berlangsung supaya roh-roh penjaga tak murka dan tak memberi suatu musibah apapun.

10

11

4. Tanah Lot sebagai obyek wisata dilihat dari ekonomi, Sosial, Budaya Tanah Lot jika di lihat dari segi ekonomi pasti memberi penghasilan bagi setiap masyarakat yang menghidupi keluarga dari sektor itu. jadi bisa diambil kesimpulan kegiatan seperti itu dapat menurunkan angka pengangguran bagi tiap-tiap keluarga dan menambah penghasilan tersendiri. Tanah Lot jika dilihat dari sisi sosial disini dapat terlihat bahwa sosial yang terbentuk ialah rasa kekeluargaan dan tenggang rasa. Memang ada kalanya di dunia perdagangan mengalami persaingan dalam menjual produk yang ada pada mereka, walaupun mereka berlomba-lomba mencari sesuap nasi tetapi mereka tak kan melupakan rasa kebersamaan. Tanah Lot dilihat dari sisi budaya adanya tanah lot yang memiliki pura terbesar sehingga budaya yang tercermin dapat dipastikan budaya Indonesia dilihat dari pahatan dan tata artistic sehingga itu semua yang menjunjung orang untuk datang menikmati panorama itu. B. Kendala Dalam Meningkatkan Jumlah Kunjungan Wisatawan Di Objek Wisata Tanah Lot dan Upaya Mengatasinya 1. Kendala Meningkatkan Jumlah Kunjungan Wisatawan Ke Objek Wisata Tanah Lot Bali dan Upaya Mengatasinya Upaya peningkatan kunjungan wisatawan di Objek Wisata Tanah Lot yang telah dilakukan oleh berbagai pihak di atas, tidak selamanya berjalan mulus dan sesuai dengan target yang diharapkan. Berbagak kendala yang muncul dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan di Tanah Lot, adalah sebagai berikut : a. Sumber daya manusia Sebagaimana umumnya negara berkembang, keberadaan Sumber Daya Manusia yang memiliki kemampuan di atas sangatlah sedikit. Demikian pula halnya di Indonesia khususnya di Bali. Khusus mengenai Objek Wisata Tanah Lot, masih banyak masyarakat sekitar yang kurang berupaya secara maksimal untuk meningkatkan kemampuannya khususnya di bidang pariwisata, seperti meningkatkan kemampuan

12

menguasai bahasa asing, penguasaan berbagai hal terkait obyek wisata baik dari sisi sejarah, maupun pemanfaatannya untuk meningkatkan standar kehidupan. b. Sarana Pendukung Meski kondisi saat ini, objek Wisata Tanah Lot dapat dikategorikan sebagai obyek wisata unggulan, namun untuk sarana penunjang lainnya perlu lebih ditingkatkan lagi. Dengan banyaknya outlet yang berada di sekitar lokasi obyek wisata, hal ini tentunya kurang memberikan pilihan bagi wisatawan khususnya mereka yang menginginkan berbagai souvenir unik untuk koleksi atau sebagai buah tangan. Dengan hanya tentunya kurang mengandalkan satu objek wisata saja, hal ini c. Kebersihan Sebagaimana umumnya wisata alam, faktor kebersihan sangatlah susah untuk dilaksanakan, mengingat kondisi objek yang berada di alam bebas. Sehingga seringkali dijumpai berbagai benda yang berserakan, yang tentunya kurang sedap untuk dipandang. 2. Upaya mengatasi kendala dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke objek wisata Tanah Lot Bali Dengan kondisi yang ada sekarang, keberadaan Tanah Lot sebagai objek wisata unggulan sebenarnya sudah memenuhi syarat sebagai objek wisata unggulan. Dengan kelengkapan sarana pendukung wisata, seperti kondisi lingkungan yang bersih, jasa penginapan yang memenuhi standar internasional dan juga tersedianya pasar cinderamata yang menawarkan berbagai benda khas Bali khususnya yang berkaitan dengan Tanah Lot. Namun demikian, hal tersebut tidak dapat dibiarkan berjalan sendiri, perlu adanya dukungan dan upaya dari Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pariwisata dan Kabudayaan Bali, untuk terus berusaha meningkatkan image dan pemeliharaan dan penambahan fasilitas penunjang lainnya.

memberikan warna bagi wisatawan yang datang dan berkunjung.

13

Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik manca maupun domestik, diantaranya : a. Mengadakan kegiatan promosi baik melalui media cetak maupun elektronik, yang memuat tentang berbagai keistimewaan wisata alam dan budaya yang ada di Tanah Lot. b. Mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak terkait, dalam hal ini khususnya Travel Agent untuk memasukkan objek Wisata Tanah Lot sebagai saslah satu tujuan wisata yang utama. c. Mengadakan berbagai atraksi wisata budaya yang berlokasi di sekitar Tanah Lot untuk menambah daya tarik wisatawan. d. Mengadakan berbagai kursus untuk meningkatkan kemampuan para guide (pemandu wisata), sebagai salah satu upaya meningkatkan kwalitas layanan yang diberikan kepada wisatawan mancanegara maupun domestik.

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas, dapat penulis tarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Tanah Lot adalah salah satu objek wisata unggulan di Bali yang menawarkan keindahan alam dan budaya yang mampu memanjakan mata para pengunjungnya. 2. Penurunan jumlah wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Tanah Lot disebabkan karena kurangnya fasilitas pendukung yang menawarkan berbagai hal yang mampu menarik minat wisatawan untuk datang dan berkunjung, diantaranya kondisi objek yang kurang bersih, kurangnya kemampuan pemandu wisata dalam memberikan keterangan kepada wisatawan dan lain sebagainya. 3. Dengan banyaknya objek wisata sejenis yang ada di Bali, penanganan secara profesional dalam upaya meningkatkan kunjungan wisatawan ke obyek wisata Tanah Lot mutlak untuk segera dilaksanakan. 4. Berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali sebagai upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke obyek wisata Tanah Lot, diantaranya adalah meningkatkan kemampuan SDM dalam hal ini adalah para Guide untuk meningkatkan kemampuan dan skill khususnya dalam penguasaan bahasa asing. B. Saran Sedikit saran yang ingin penulis kemukakan yang mudah-mudahan dapat berguna dan bermanfaat khususnya dalam upaya meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara, yaitu : 1. Pihak pengelola objek wisata

14

15

Sebagai salah satu tujuan utama wisatawan yang berkunjung ke Bali, keberadaan Objek Wisata Tanah Lot sebagai maskot wisata, perlu penanganan yang lebih nyata lagi, baik berupa penambahan sarana dan prasarana wisata pendukung maupun pihak-pihak lain yang berkompeten dalam bidang tersebut, sehingga tujuan peningkatan jumlah wisatawan yang datang dan berkunjung ke Tanah Lot dapat tercapai. 2. Pihak sekolah Perlu penjadwalan yang lebih matang lagi mengenai susunan acara, sehingga keberadaan siswa di objek wisata sesuai dengan kriteria wisata tersebut sehingga dapat menikmati secara maksimal hasil kunjungannya.

DAFTAR PUSTAKA

Soekadijo, 2000 Pengertian Kerangka Dasar Kepariwisataan, Dasur-Dasar Managemen Kepariwisataan. Yogyakarta: Liberty. International Union of Office Travel Organization (IUOTO) dan World Tourism Organization, 1990 UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan

16

17

LAMPIRAN