Anda di halaman 1dari 17

TUGAS MAKALAH PSIKIATRI

GANGGUAN AUTISTIK

DISUSUN OLEH NIM PEMBIMBING

: : :

HANDAYAN HUTABARAT 080100156 dr. ELMEIDA EFFENDY, Sp. KJ

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan yang Maha Kuasa atas berkat-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Terima kasih kami ucapkan kepada dokter pembimbing, dr. Elmeida Effendy, Sp. KJ yang telah bersedia menjadi pembimbing makalah ini. Adapun tujuan penulisan laporan kasus ini adalah memenuhi tugas kepaniteraan klinik senior Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa. Besar harapan, melalui makalah ini, akan menambah pengetahuan dan pemahaman kita tentang salah satu penyakit jiwa, gangguan autistik. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu penulis mohon maaf. Penulis juga sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan makalah selanjutnya. Terima kasih.

Medan, Agustus 2012

Penulis

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................... KATA PENGANTAR ................................................................................. DAFTAR ISI ................................................................................................

i ii iii

BAB 1

PENDAHULUAN ....................................................................... 1.1. 1.2. Latar Belakang .................................................................. Tujuan ...............................................................................

1 1 1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 2.1 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7. 2.8. 2.9. Definisi Gangguan Autistik .............................................. Epidemiologi Gangguan Autistik ..................................... Etiologi Gangguan Autistik .............................................. Patofisiologi Gangguan Autistik ....................................... Gejala Klinis Gangguan Autistik ...................................... Diagnosis Gangguan Autistik ...........................................

3 3 3 4 5 7 8

Diagnosis Banding Gangguan Autistik ............................ 10 Tatalaksana Gangguan Autistik ........................................ 10 Prognosis Gangguan Autistik ........................................... 11

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN ................................................... 12 3.1. 3.2. Kesimpulan ....................................................................... 12 Saran ................................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 14

iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Gangguan perkembangan pervasif adalah kelompok kondisi psikiatrik di

mana keterampilan sosial yang diharapkan, perkembangan bahasa, dan kejadian perilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa anak-anak awal. Pada umumnya, gangguan mempengaruhi berbagai bidang perkembangan, bermanifestasi pada awal kehidupan, dan menyebabkan disfungsi yang persisten.1,2 Gangguan autistik (juga dikenal sebagai autisme infantil), merupakan gangguan yang terkenal, ditandai oleh gangguan berlarut-larut pada interaksi sosial timbal bali, penyimpangan komunikasi, dan pola perilaku yang terbatas dan stereotipik. Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV), fungsi abnormal pada bidang di atas harus ditemukan pada usia 3 tahun. Lebih dari dua pertiga orang dengan gangguan autistik memiliki retardasi mental, tetapi hal tersebut tidak diperlukan untuk diagnostik.1,2 Autisme infantil digambarkan oleh Leo Kanner pada tahun 1943, tetapi sampai tahun 1980, dalam DSM edisi ketiga (DSM-III), gangguan autistik tersebut tidak dikenali sebagai kesatuan klinis tersendiri. Sebelum tahun 1980, anak-anak dengan salah satu gangguan perkembangan pervasif diklasifikasikan menderita skizofrenia tipe masa anak-anak.1 DSM-IV mempertahankan kategori gangguan perkembangan pervasif yang tidak ditentukan untuk pasien yang menunjukkan gangguan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik dan komunikasi verbal dan nonverbal tetapi yang tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan autistik.1

1.2.

Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk lebih mengerti gangguan autistik serta untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kegiatan

Kepaniteraan Klinik Senior (KKS) di Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara.

1.2.2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penulisan makalah ini adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Mengetahui dan memahami definisi gangguan autistik Mengetahui dan memahami epidemiologi gangguan autistik Mengetahui dan memahami etiologi gangguan autistik Mengetahui dan memahami patofisiologi gangguan autistik Mengetahui dan memahami gejala klinis gangguan autistik Mengetahui dan memahami penegakan diagnosis gangguan autistik Mengetahui dan memahami diagnosis banding gangguan autistik Mengetahui dan memahami penatalaksanaan gangguan autistik Mengetahui dan memahami prognosis gangguan autistik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Definisi Gangguan Autistik Gangguan autistik adalah suatu jenis gangguan perkembangan pervasif

pada anak yang kompleks dan berat yang tampak sebelum usia 3 tahun. Keadaan ini menyebabkan mereka tidak mampu berkomunikasi, mengekspresikan perasaan maupun keinginannya, sehingga perilaku dan hubungan dengan orang lain terganggu.3

2.2.

Epidemiologi Gangguan Autistik Gangguan autistik terjadi dengan angka 2 sampai 5 kasus per 10.000 anak

(0,02 sampai 0,05 persen) di bawah usia 12 tahun. Jika retardasi mental berat dengan ciri autistik dimasukkan, angka dapat meningkat sampai setinggi 20 per 10.000. Pada sebagian besar kasus autisme mulai sebelum 36 bulan tetapi mungkin tidak terlihat bagi orangtua, tergantung pada kesadaran mereka dan keparahan gangguan.1 Gangguan autistik ditemukan lebih sering pada anak laki-laki

dibandingkan pada anak perempuan. Tiga sampai lima kali lebih banyak anak laki-laki yang memiliki gangguan autistik dibandingkan anak perempuan. Tetapi anak perempuan yang memiliki gangguan autistik cenderung terkena lebih serius dan lebih mungkin memiliki riwayat keluarga gangguan kognitif dibandingkan anak laki-laki.1,3 Penelitian awal menyatakan bahwa status sosioekonomi yang tinggi sering ditemukan pada keluarga dengan anak-anak autistik; tetapi temuan tersebut kemungkinan didasarkan pada rujukan bias. Selama lebih dari 25 tahun yang lalu, semakin banyak kasus yang ditemukan pada kelompok sosioekonomi rendah. Temuan tersebut mungkin dikarenakan meningkatnya pengetahuan tentang gangguan autistik dan petugas kesehatan mental yang tersedia bagi anak-anak miskin.1,3

2.3.

Etiologi Gangguan Autistik Penyebab gangguan autistik masih tidak diketahui. Belum ada kesepakatan

mengenai penyebab utama autisme. Para ahli hanya meyakini disebabkan oleh multifaktor yang saling berkaitan satu sama lain, seperti: faktor genetik, abnormalitas sistem pencernaan (gastrointestinal), polusi lingkungan, disfungsi imunologi, gangguan metabolisme, gangguan pada masa kehamilan/persalinan, abnormalitas susunan syaraf pusat/struktur otak, dan abnormalitas biokimiawi.4 Awalnya autisme diduga sebagai kegagalan orang tua dalam pengasuhan anak, yaitu perilaku orang tua terutama ibu yang dingin dalam mengasuh anak sehingga anak menjadi dingin pula. Faktor psikologis dianggap sebagai pencetus autisme yang menyebabkan anak menolak dunia luar. Teori ini selanjutnya dikenal dengan teori psikososial serta populer sekitar tahun 19501960.4 Teori tersebut kemudian disusul dengan teori neurologis. Dari berbagai gangguan perkembangan otak, mungkin gangguan autisme adalah yang paling menarik dan misterius. Hal ini akibat kompleksitas berbagai sistem otak yang berinteraksi dan rumit karena mengenai aspek sosial, kognitif dan linguistik sehingga sangat erat dengan komunikasi dan humanitas. Penelitian dalam bidang neoroanatomi, neorofisiologi, neorokimiawi dan genetika pada beberapa anak penyandang autisme menunjukkan adanya gangguan atau kelainan pada perkembangan sel-sel otak selama dalam kandungan. Pada saat pembentukan selsel tersebut terjadi gangguan oksigenasi, pendarahan, keracunan, infeksi TORCH yang mengganggu kesempurnaan pembentukan sel otak di beberapa tempat.4 Faktor lain yang juga diduga dan diyakini penyebab autisme adalah faktor perinatal, yaitu: selama kehamilan, gangguan pembentukan sel otak oleh berbagai faktor penyebab, serta berbagai faktor sesaat setelah kelahiran. Selain itu, pengobatan pada ibu hamil juga dapat merupakan faktor resiko yang menyebabkan autisme. Komplikasi yang paling sering dilaporkan berhubungan dengan autisme adalah pendarahan trimester pertama dan gawat janin disertai aspirasi mekonium saat mendekati kelahiran. Kasus autisme ditemukan pada masalah-masalah pranatal, seperti: premature, postmature, pendarahan antenatal

pada trimester pertama-kedua, umur ibu lebih dari 35 tahun, serta banyak dialami anak-anak dengan riwayat persalinan yang tidak spontan serta repiratory distress syndrome.4 Adanya gangguan struktur dan fungsi otak disebabkan oleh:4 1. Herediter/genetik, dimana saudara dari para penyandang autisme mempunyai resiko puluhan kali untuk dapat menyandang autisme dibandingkan dengan anak-anak lain yang tidak mempunyai saudara yang menyandang autisme. 2. Proses selama kehamilan dan persalinan. Diduga infeksi virus pada awal kehamilan, komplikasi kehamilan dan persalinan, dapat berkaitan dengan lahirnya anak autisme. Pada beberapa kasus, ditemukan bahwa autisme memang berkaitan dengan masalah genetik, walaupun hingga kini belum ditemukan gen tertentu yang berhubungan secara langsung menyebabkan autisme. Para ahli meyakini bahwa gen yang mendasari autisme sangat kompleks dan mungkin terdiri atas kombinasi beberapa gen. Teori yang meyakini faktor genetik memegang peran penting dalam terjadinya autisme diungkapkan pada tahun 1977. Hubungan autisme dan masalah genetik ini dibuktikan dengan kenyataan bahwa 2,5% hingga 3% autisme ditemukan pada saudara dari pengidap autisme, yang berarti jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan populasi normal.4 Faktor lain yang juga dituding adalah gangguan susunan syaraf pusat. Gangguan metabolisme yang mengganggu kerja otak (kekurangan vitamin, mineral, enzim), alergi makanan, gangguan pencernaan (infeksi dinding usus oleh jamur, virus, bakteri), keracunan logam berat, serta gangguan kekebalan tubuh juga sering dikaitkan dengan munculnya autisme pada anak yang semula terlahir normal tapi mulai menampakkan gejala autisme sekitar usia 2 tahun.4

2.4.

Patofisiologi Gangguan Autistik

A. Faktor Genetik Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh

faktor genetik. Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut fragile-X

karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti patahan diujung akhir lengan panjang kromosom-X.4,5

B. Gangguan pada Sistem Syaraf Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinje di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel purkinje diduga dapat merangsang pertumbuhan akson, glia, dan myelin sehingga terjadi pertumbuhan otak yang abnormal, atau sebaliknya pertumbuhan akson yang abnormal dapat menimbulkan sel purkinje mati. Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat, seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.4,5

C. Ketidakseimbangan Kimiawi Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala

autistik berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan tertentu, seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula, bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi. Penelitian lain menghubungkan autis dengan ketidakseimbangan

hormonal, peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang menurunkan persepsi nyeri dan motivasi.4,5

D. Faktor Psikogenik Teori psikogenik menyatakan bahwa sikap keluarga tersebut kurang memberikan stimulasi bagi perkembangan komunikasi anak yang akhirnya menghambat perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi sosial anak. Namun hal tersebut tidak sepenuhnya diterima. Penelitian-penelitian selanjutnya lebih memfokuskan kaitan faktor-faktor organik dan lingkungan sebagai penyebab

autis. Kalau semula penyebabnya lebih pada faktor psikologis, maka saat ini bergeser ke faktor organik dan lingkungan.4,5

E. Faktor Biologis dan Lingkungan Seperti gangguan perkembangan lainnya, autis dipandang sebagai gangguan yang memiliki banyak sebab dan antara satu kasus dengan kasus lainnya penyebabnya bisa adanya tidak kelainan sama. atau Penelitian tentang dalam faktor tahap

organik menunjukkan

keterlambatan

perkembangan anak autis sehingga autisme kemudian digolongan sebagai gangguan dalam perkembangan dan (developmental diagnosis dalam disorders) Hasil

yang mendasari pengklasifikasian yang khas. 4,5

DSM-IV.

pemeriksaan laboratorium, juga MRI dan EEG tidak memberikan gambaran

F. Kemungkinan Lain Infeksi yang terjadi sebelum dan setelah kelahiran dapat merusak otak seperti virus rubella yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan kerusakan otak. Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orangtuanya sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak pernah diajak berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita gangguan autistik.4,5

2.5.

Gejala Klinis Gangguan Autistik Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin

jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:6 1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara,mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, ekolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa ia mengerti maknanya, dan seterusnya.

2.

Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dan seterusnya.

3.

Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih (excessive)dan dan kekurangan (deficient)seperti impulsif, hiperaktif, repetitif, namun di lain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton. Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti: gambar, karet, dan lain-lain yang dibawanya kemanamana.

4.

Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati,dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.

5.

Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dan sebagainya. Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.

2.6.

Diagnosis Gangguan Autistik Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi

keempat (DSM-IV), kriteria diagnostik gangguan autistik adalah:7 A. Sejumlah enam hal atau lebih dari (1), (2) dan (3), paling sedikit dua dari (1) dan satu masing-masing dari (2) dan (3) : 1) Gangguan kualitatif dalam bidang interaksi sosial yang ditunjukkan paling sedikit dua dari yang berikut: a) Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai dalam perilaku non verbal, seperti: pandangan mata, ekspresi wajah, sikap tubuh dan gerak terhadap rutinitas dalam interaksi sosial.

b) Kegagalan dalam membentuk hubungan pertemanan sesuai tingkat perkembangannya. c) Kurang kespontanan dalam membagi kesenangan dan tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain. d) Kurang sosialisasi atau emosi yang timbal balik. 2) Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi seperti yang

ditunjukkan paling sedikit dari yang berikut: a) Keterlambatan atau berkurangnya perkembangan berbicara (tidak menyertai usaha untuk mengimbangi cara komunikasi alternatif seperti gerak isyarat atau gerak meniru-niru). b) Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi. c) Mempergunakan kata berulang kali dan bahasa atau kata-kata aneh. d) Cara bermain yang kurang variatif, kurang imajinatif dan kurang bisa meniru. 3) Suatu pola yang dipertahankan dan berulang-ulang dari perilaku, minat dan kegiatan. Sedikitnya harus ada satu dari gejala berikut: a) Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih-lebihan. b) Terpaku pada satu kegiatan yang ritualistik atau rutinitas yang tidak fungsional. c) Gerakan yang aneh dan berulang seperti, memukul, memutar arah jari dan tangannya, disertai dengan keasyikan terhadap bagianbagian objek yang stereotipe. B. Keterlambatan atau kelainan fungsi paling sedikit satu dari yang berikut ini, dengan serangan sebelum sampai usia 3 tahun: 1) Interaksi sosial 2) Bahasa yang dipergunakan dalam komunikasi sosial 3) Bermain simbol atau berkhayal C. Gangguan ini tidak disebabkan oleh gangguan Rett atau gangguan disintegrasi masa kanak-kanak.

2.7.

Diagnosis Banding Gangguan Autistik Beberapa diagnosis banding utama gangguan autistik, seperti: skizofrenia

dengan onset anak-anak, retardasi mental dengan gejala perilaku, gangguan bahasa reseptif/ekspresif campuran, ketulian kongenital atau gangguan

pendengaran yang parah, pemutusan psikososial, dan psikosis disintegratif (regresif).1,2 Karena anak-anak dengan gangguan perkembangan pervasif biasanya memiliki banyak masalah penyerta, maka dianjurkan pemakaian suatu pendekatan bertahap dalam diagnosis banding, yakni sebagai berikut:1 1. 2. 3. Tentukan tingkat intelektual. Tentukan tingkat perkembangan bahasa. Pertimbangkan apakah perilaku anak sesuai dengan usia kronologis, usia mental, dan usia bahasa. 4. Jika tidak sesuai, pertimbangkan diagnosis banding gangguan psikiatrik menurut pola interaksi sosial, pola bahasa, pola permainan, dan perilaku lain. 5. 6. Kenali tiap kondisi medis yang relevan. Pertimbangkan apakah terdapat faktor psikososial yang relevan.

2.8.

Tatalaksana Gangguan Autistik Tujuan terapi ialah untuk menurunkan gejala perilaku dan membantu

perkembangan fungsi yang terlambat, sehingga pasien memiliki keterampilan berbahasa dan dapat merawat diri-sendiri. Metode pendidikan dan perilaku sekarang ini dianggap merupakan terapi yang terpilih. Latihan di ruang kelas yang terstruktur dalam kombinasi dengan metode perilaku adalah metode terapi yang paling efektif dan lebih unggul dibandingkan metode lain. Di samping itu, orangtua yang sering merasa kecewa, juga memerlukan bantuan dan konseling.1,8 Walaupun tidak ada obat yang ditemukan spesifik untuk gangguan autistik, psikofarmakoterapi adalah tambahan yang berguna bagi program terapi menyeluruh. Pemberian haloperidol dapat menurunkan gejala perilaku dan mempercepat belajar. Obat ini juga dapat menurunkan hiperaktivitas, stereotipik, menarik diri, kegelisahan, hubungan objek abnormal, irritabilitas, dan afek yang

10

labil. Naltroxone, suatu antagonis opia, sekarang sedang diteliti dengan harapan bahwa penghambatan opioid endogen akan menurunkan gejala autistik. Lithium dapat dicoba untuk perilaku agresif atau melukai diri-sendiri jika medikasi lain gagal.1,8

2.9.

Prognosis Gangguan Autistik Onset gangguan autistik biasanya panjang dan memiliki prognosis yang

terbatas. Beberapa anak-anak autistik menderita kehilangan semua atau beberapa bicara yang ada sebelumnya. Hal tersebut paling sering terjadi antara usia 12 dan 24 bulan. Anak-anak autistik dengan Inteligent Quotient (IQ) di atas 70 dan mereka yang menggunakan bahasa komunikatif pada usia 5 sampai 7 tahun memiliki prognosis yang terbaik. Penelitian menunjukkan bahwa dua pertiga orang dewasa autistik tetap mengalami kecacatan parah dan hidup dalam ketergantungan penuh atau setengah tergantung, baik dengan sanak saudara atau dalam institusi jangka panjang. Hanya 1 atau 2 persen yang mencapai status normal dan mandiri dengan pekerjaan yang mencukupi, dan 5 sampai 10 persen mencapai status normal ambang. Prognosis membaik jika lingkungan atau rumah adalah suportif dan mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut yang sangat banyak.1,9

11

BAB III KESIMPULAN

3.1. Kesimpulan 1. Gangguan autistik adalah suatu jenis gangguan perkembangan pervasif pada anak yang kompleks dan berat yang tampak sebelum usia 3 tahun, dimana keadaan ini menyebabkan mereka tidak mampu berkomunikasi,

mengekspresikan perasaan maupun keinginannya, sehingga perilaku dan hubungan dengan orang lain terganggu. 2. Gangguan autistik ditemukan lebih sering pada anak laki-laki dibandingkan pada anak perempuan. 3. Penyebab gangguan autistik masih tidak diketahui dan belum ada kesepakatan mengenai penyebab utama autisme. Para ahli hanya meyakini disebabkan oleh multifaktor yang saling berkaitan satu sama lain. 4. Gejala gangguan autistik secara umum akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu: gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal, gangguan dalam bidang interaksi sosial, gangguan pada bidang perilaku, gangguan pada bidang perasaan atau emosi, dan gangguan dalam persepsi sensoris. 5. Diagnosis gangguan autistik ditegakkan berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi keempat (DSM-IV). 6. Tatalaksana gangguan autistik bertujuan untuk menurunkan gejala perilaku dan membantu perkembangan fungsi yang terlambat, sehingga pasien memiliki keterampilan berbahasa dan dapat merawat diri-sendiri, yaitu dengan metode pendidikan dan perilaku Di samping itu, orangtua pasien juga memerlukan bantuan dan konseling. Psikofarmakoterapi yang dapat diberikan, seperti haloperidol, naltroxone, dan lithium. 7. Onset gangguan autistik biasanya panjang dan memiliki prognosis yang terbatas. Dua pertiga orang dewasa autistik tetap mengalami kecacatan parah dan hidup dalam ketergantungan penuh atau setengah tergantung, baik dengan sanak saudara atau dalam institusi jangka panjang. Prognosis

12

membaik jika lingkungan atau rumah adalah suportif dan mampu memenuhi kebutuhan anak tersebut yang sangat banyak.

3.2. Saran Perlu dilakukan suatu penelitian khusus mengenai gangguan autistik terutama pada bagian perjalanan penyakit gangguan ini disebabkan karena sulitnya mencari informasi mengenai kepastian patofisiologi penyakit ini.

13

DAFTAR PUSTAKA

1.

Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Sinopsis Psikiatri: Gangguan Perkembangan Pervasif. Jilid ke-2. Tangerang: Binarupa Aksara Publisher. Hal 728-738.

2.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2010. Buku Ajar Psikiatri: Autisme Masa Kanak. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 420-440.

3.

Ginting SA, Ariani A, Sembiring T. 2004. Sari Pediatri: Terapi Diet pada Autisme. Volume 6. Hal. 47-51.

4.

Pusponegoro, HD. 2003. Pandangan Umum Mengenai Klasifikasi Spektrum Gangguan Autistik dan Kelainan Susunan Saraf Pusat. Jakarta: Konferensi Nasional Autisme I. Hal. 1-7.

5.

Pusponegoro, HD. 2007. Sari Pediatri: Peran Serotonin pada Anak dengan Gangguan Autistik. Volume 8. Hal. 115-119.

6.

Alisjahbana, A. 2003. Tanda-Tanda Awal dari Autisme. Jakarta: Konferensi Nasional Autisme I. Hal. 28-34.

7.

American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic & Statistical Manual of Mental Disorders. Fourth Edition. Washington DC: American Psychiatric Publishing. Page 70-75.

8.

Wibowo, CS. 2003. Manfaat Antipsikotik pada Autistic Spectrum Disorders. Jakarta: Konferensi Nasional Autisme I. Hal. 55-60.

9.

Edithhumris, W. 2003. Autisme dan Retardasi Mental. Jakarta: Konferensi Nasional Autisme I. Hal. 117.

14