Anda di halaman 1dari 37

Bab Adab-Adab Makan dan Minum Allah taala berfirman : Wahai para Rasul makanlah kalian dari makanan-makanan

n yang baik-baik dan kerjakanlah amal-amal yang shalih , sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kalian perbuatan (AlMukminun : 51 ) Dan Allah taala berfirman : Makan dan minumlah kalian dari rizki Allah dan janganlah kalian berlebihan dimuka bumi sebagai orang-orang yang berbuat kerusakan Surah al-Baqarah : 60 Dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismilah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang terdekat denganmu 1 Diantara adab-adab makan dan minum, sebagai berikut : 1. Larangan Makan dan Minum pada bejana yang terbuat dari emas dan perak. Ada beberapa hadits yang berisikan ancaman yang amat keras bagi seseorang yang makan di Bejana emas dan perak, ataukah makan dari piring yang terbuat dari emas dan perak. Dari Hudzaifah radhiallahu anhu , beliau berkata :Saya telah mendengar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian mengenakan pakaian dari sutra, dan juga pakaian yang bercampur dengan sutra, dan janganlah kalian minum dari bejana yang terbuat dari emas dan perak, dan janganlah kalian makan dari piring yang terbuat dari emas dan perak. Karena sesungguhnya bejana dan piring seperti itu bagi mereka ahli kitab didunia dan bagi kita di surga 2
HR. Al-Bukhari ( 5376 ) dan ini merupakan lafazh Al-Bukhari, dan Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 1589 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Majah ( 3276 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ) 2 HR. Al-Bukhari ( 5426 ), Muslim ( 2067 ), Ahmad ( 22927 ), At-Tirmidzi ( 1878 ), An-Nasa`I ( 5301 ), Abu Daud ( 3723, Ibnu Majah ( 3414 ) dan Ad-Darimi ( 2130 )
1

Dari Ummu Salamah istri Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Seseorang yang minum dari bejana perak, maka sesungguhnya diperutnya akan didengarkan3 suara api neraka jahanam 4 Para Ulama sepakat bahwa tidak diperbolehkan minum dari bejana tersebut5. Dan tidak ada satupun nash yang meneangkan sebab dari larangan ini. Dan seorang muslim apabila telah mengetahui suatu dalil dari Al-Qur`an dan As-Sunnah yang shahih tidak sepantasnya dia melanggarnya walau sekecil apapun juga. Dan tidak selayaknya berupaya untuk mentakwilkannya dengan tujuan mendapatkan pembolehan

dalam pengerjaannya. Para Ulama telah mengupas hikmah yang terkandung didalam larangan ini dan mereka berbeda persepsi : Diantara hikmah larangan yang tersebut angkuh : Keserupaan raja-raja dengan penguasa-penguasa dan asing,sikap

berlebihan dan sombong, karena akan menyakiti hati orangorang yang shalih dan kaum fakir miskin yang tidak mempunyai sesuatu untuk memenuhi kebutuhan mereka itu. Sebagaimana hal tersebut dinyatakan oleh Ibnu Abdil Barr.6 Faedah : Al-Ismaili mengatakan : Sabda beliau : Dan bagi kalian di akhirat [ pada riwayat lainnya ] : Maksudnya bahwa kalian akan mempergunakannya sebagai penyeimbang karena telah meninggalkannya didunia. Dan mereka dilarang sebagai balasan bagi mereka kaena telah berlaku maksiat dengan mempergunakannya - yaitu didunia, pen -. Saya ( Ibnu Hajar ) berkata : Dan ada kemungkinan bahwa hadits diatas mengisyaratkan bahwa siapa saja yang mempergunakan
Makna al-jarjarah, didalam Lisan Al-Arab : adalah suara. HR. Al-Bukhari ( 5634 ), Muslim ( 2065 ), Ahmad ( 26028 ), Ibnu Majah ( 3431 ), Malik ( 1717 ) dan Ad-Darimi ( 2129 ). 5 Diantara yang mengutip adanya ijma ini Ibnu Abdil Barr didalam At-Tamhid ( 16/ 104 ) dan Ibnu AlMundzir, lihat didalam Fathul Bari ( 10 / 97 ). Dan tidak disangsikan bahwa makan serupa hukumnya dengan minum. 6 At-Tamhid ( 16 / 105 ) dan lihat pula Fathul Bari (10 / 97 )
3 4

hal itu didunia maka dia tidak akan mempergunakannya di akhirat, sebagaimana yang telah terdahulu disebutkan pada pembahasan minum khamar.7 2. Larangan makan sambil bertelekan atau menelungkupkan wajahnya. Abu Juhaifah meriwayatkan , bahwa beliau berkata : Saya pernah berada disisi Rasulullah maka beliau bersabda : Tidaklah disampingnya bertelekan 8 Ibnu Hajar mengatakan : Cara betelekan yang dilarang telah terjadi perbedaan pendapat, ada yang mengatakan : Dengan bersandar sewaktu makan dengan posisi apapun juga. Ada yang berpendapat : Duduk serong kesalah satu sisi tubuhnya . Ada yang berpendapat : Duduk dengan menopang kepada tangan karirnya diatas tanah Beliau berkata : Ibnu Adiy meriwayatkan dengan sanad yang dhaif : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang seseorang bersandarkan dengan tangan kirinya ketika makan Malik berkata : Ini adalah salah satu bentuk bertelekan Saya Ibnu Hajar berkata : Dan ini adalah isyarat dari Malik bahwa makruh setiap yang termasuk dalam bertelekan sewaktu makan, dan tidak mengkhususkannya dengan posisi tertentu Ibnu Hajar mengatakan : Dan apabila hal ini suatu ketetapan bahwa makruh atau termasuk khilaf aula menyalahi amalan yang utama - , maka posisi duduk yang sunnah disaat makan adalah dengan duduk
7 8

Shallallahu alaihi wa sallam , seseorang saya yang makan berada sambil

kepada

sekali-kali

berjingkat pada lutut dan menegakkan

tumit, dengan melipat kaki kanan dan duduk diatas kaki kiri 9
Fathul Bari ( 10 / 98 ) HR. Al-Bukhari ( 5399 ), dan lafazh diatas adalh lafazh hadits Al-Bukhari, Ahmad ( 18279 ) , AtTirmidzi ( 1830 ), Abu Daud ( 3769 ), Ibnu Majah ( 3262 ) dan Ad-Darimi ( 2071 ). 9 Fathul Bari ( 9 / 452 ), Saya berkata : Posisi ini yaitu dengan menegakkan kaki kanan dan duduk diatas kaki kiri, diriwayatkan oleh Abu Al-Hasan Al-Muqriy didalam Asy-Syamail dari hadits beliau Abu Juhaifah - : Apabila beliau duduk, maka beliau melipat lututnya yang kiri dan menegakkan kaki kanannya Sanadnya dhaif. Al-Iraqi mengatakannya didalam Takrij Ihya Ulumuddin 2 / 6, cet.

Dan tinjauan makruhnya posisi duduk ini dikarenakan merupakan posisi duduk para penguasa yang angkuh dan raja-raja negeri asing. Dan merupakan posisi duduk orang-orang yang berkeinginan memperbanyak makannya.10 Dan posisiyang kedua dari cara makan seseorang yang terlarang adalah makan sambil duduk bersandar/ bertelungkup diatas perutnya. Dari hadits Ibnu Umar radhiallahu anhu , beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang orangorang berbuat tamak, dan melarang duduk diatas meja yang terhidang khamar, dan melarang seseorang duduk bertelungkup diatas perutnya 11 Faedah : Cara duduk ketika makan : Beliau Shallallahu alaihi wa sallam makan dengan posisi muqin dan disebutkan dari beliau, bahwa beliau Shallallahu alaihi wa sallam duduk ketika makan dengan duduk tawarruk, yaitu duduk diatas kedua lutut dan meletakkan telapak kaki kiri beliau atas punggung kaki kanan beliau, sebagai bentuk sikap tawadhu rendah diri kepada Rabb-nya azza wajalla. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim12. Adapun posisi duduk ketika makan yang pertama adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, belaiu berkata : Saya telah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam duduk dengan posisi muqin13, sedang memakan kurma 14 Adapun posisi duduk yang kedua : Diriwayatkan dari Abdullah bin Busr radhiallahu anhu, beliau berkata : Nabi Shallallahu alaihi wa sallam diberi hadiah seekor kambing, maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertopang dengan kedua lututnya
Daar Al-Hadith, cet. I 1412. 10 Lihat : Zaad Al-Maad ( 4 / 222 ) dan Fathul Bari ( 9 / 452 ) 11 HR. Abu Daud ( 3774 ) dan Al-Albani menshahihkanya dan juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah ( 3370 ) 12 Zaad Al-Maad ( 4/ 221 ) 13 Yaitu duduk diatas kedua dubur nya dengan menegakkan kedua lutut beliau. Syarh Muslim Jilid 7 ( 13/ 188 ) 14 HR. Muslim ( 2044 ), Ahmad ( 12688 ), Abu Daud ( 3771 ) dan Ad-Darimi ( 2062 )

menyantap kambing tersebut. Maka seorang Arab Badui berkata kepada beliau : Posisi duduk apakah ini ?. Beliau bersabda : Sesungguhnya Allah menjadikan aku sebagai seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikan aku sebagai seorang penguasa angkuh lagi pembangkang 15 3. Mendahulukan makan dari pada shalat ketaka

makanan telah dihidangkan Pada hadits Anas radhiallahu anhu, dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , beliau bersabda : Apabila hidangan makan malam telah dihidangkan dan shalat telah didirikan makan kalian mulailah denan makan malam 16 Dari Ibnu Umar radhiallahu ;anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila makan malam salah seorang diantara kalian telah dihidangkan sementara shalat telah didirikan, maka mulailah dengan makan malam kalian dan janganlah seseorang tergesatergesa hingga dia selesai dari makannya 17 Dan Ibnu Umar radhiallahu anhuma , apabila dihidangkan makan malam beliau sementara waktu shalat telah datang, beliau tidak beranjak dari makan malamnya hinga menyelesaikannya. Imam Ahmad meriwayatkan didalam Musnad-nya dari Nafi bahwa Inu Umar seringkali mengutus beliau sementara beliau dalam keadaan berpuasa, dan dihidangkan kepada beliau makan malamnya sementara panggilan shalat maghrib telah dikumandangkan, lalu kemudian iqamah shalat dan beliau mendengarkannya, namun beliau tidaklah meninggalkan makan malam beliau dan tidak juga trgesa-gesa hingga beliau menyelesaikan makan malamnya, lalu beliau keluar untuk
HR. Ibnu Majah ( 3263 ) dan lafazh hadits tersebut lafazh riwayat Ibnu Majah. Ibnu Hajar didalam AlFath ( 9 / 452 ) menghasankan sanadnya. Al-Albani berkata : Shahih ( 5464 ). Riwayat diatas juga diriwayatkan oleh Abu Daud ( 3773 ) tanpa menyebutkan kedua lutut. 16 HR. Al-Bukhari ( 5464 ), Muslim ( 557 ), Ahmad ( 12234 ), At-Tirmidzi ( 353 ), An-Nasa`I ( 853 ) dan Ad-Darimi ( 1281 ) 17 HR. Al-Bukhari ( 673 ), Muslim ( 559 ), ahmad ( 5772 ), At-Tirmidzi ( 354 ), Abu Daud (
15

mengikuti shalat . Dan beliau berkata : Nabi Shallallahu alaihi wa sallam Allah bersabda : Janganlah kalian tergesa-gesa menyantap makan malam kalian apabila telah dihidangkan bagi kalian 18 Dan sebab dari hal tersebut, agar jangan sampai seseorang mengerjakan shalat namun hatinya teringat akan makanannya yang mana akan menyebabkan kerisauan yang menghilangkan rasa khusyunya. Ibnu Hajar mengatakan : Said bin Manshur dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan dengan sanad yang hasan dari hadist Abu Hurairah dan Ibnu Abbas : Bahwa mereka berdua tengah menyantap makanan dipemanggangan. Lalu muadzdzin hendak meng-iqamahi shalat, maka Ibnu Abbas berkata kepadanya : Janganlah engkau tergesa-gesa agar kami tidak berdiri mengerjakan shalat sementara pada hati kami ada ganjalan Dan pada riwayat Ibnu Abi Syaibah : Agar tidak memalingkan kami disaat mengerjakan shalat 19 Dan perintah semacam ini tidaklah khusus sebatas pada makan malam saja, melainkan pada setiap makanan yang mana hati tertarik untuk menyantapnya. Dan yang menguatkan hal tersebut adalah larangan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mengerjakan shalat disaat makan telah dihidangkan, dan disaat menahan air kencing dan buang air besar. Dan sebabnya sangatlah jelas. Dari Aisyah ummul mukminin - radiallahu anha, beliau berkata : Saya telah mendengar dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , beliau bersabda : Tidak sempurna shalat disaat makanan telah dihidangkan dan tidak sempurna jikalah seseorang dalam keadaan menahan kencing dan hajat besar 20

18 19 20

Al-Musnad ( 6323 ) Fathul Bari ( 2 / 189 ) HR. Muslim ( 560 ), Ahmad ( 23646 ) dan Abu Daud ( 89 )

Faedah : Sebagian ulama mengatakan : Bagi siapa yang makanannya telah dihidangkan kemudian shalat di-iqamahi, maka sepatutnya dia memakan beberapa suap untuk mengatasi rasa laparnya. An-Nawawi membantah hal tersebut , dan beliau mengatakan : Sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam janganlah seseorang tergesa-gesa hingga ; Da menyelesaikan

makannya, adalah dalil yang menunjukkan bahwa dia makan menyelesaikan kebutuhannya dengan menyempurnakan makannya. Dan inilah pendapat yang shahih. Adapun penafsiran sebagian dari ulama Asy-Syafiiyah bahwa dia cukup makan sesuap untuk mengatasi rasa laparnya yang amat sangat, bukanlah pendapat yang shahih. Dan hadits ini sangat jelas menolaknya.21 Masalah : Apabila makanan telah dihidangkan sementara shalat telah di-iqamahi, apakah wajib untuk makan terlebih dahulu berdasarkan zhahir hadits ataukah perintah pada hadits sebatas menunjukkan suatu yang Sunnah ? Jawab : Amalan Ibnu Umar radhiallahu anhuma, pada riwayat Ahmad dan selainnya menunjukkan pendahuluan makan secara mutlak. Dan sebagian ulama mengkhususkan hal itu apabila hati tertarik dan terbayang dengan makanan tersebut. Apabila hatinya terbayangkan akan makanan tersebut maka yang lebih utama baginya adalah mengambil makanan tersebut hingga dia mengerjakan shalat dalam keadaan khusyu. Dan juga diriwayatkan dari hadits Abu Ad-Darda`a radhiallahu anhu beliau berkata : Diantara bentuk pemahaman seseorang adalah dengan menyelesaikan hajatnya hingga dia menuju shalat dengan hati yang tenang 22 Pendapat yang tepat berkaitan dengan masalah itu adalah yang disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Haja 21 22

dimana setelah beliau

Muslim dengan Syarh An-Nawawi Jilid 3 ( 5 / 38 ) Diriwayatkan secara muallaq oleh Al-Bukhari didalam Kitab Al-Adzan, bab. Idzaa Hadhara AthThaam wa Uqiimat Ash-Shalat. Ibnu Al-Mubarak meriwayatkan atsar ini secara maushul didalam kitab Az-Zuhd. Dan Muhammad bin Nashr Al-Marruzi meriwayatkannya didalam Kitab Tadziim Qadri AshShalat, dari jalan Ibnu Al-Mubarak. Sebagaimana pernyataan Ibnu Hajar didalam Fathul Bari ( 2 / 187 )

mengutip atsar Ibnu Abbas dan Atsar Al-Hasan bin Ali : Makan malam sebelum mengerjakan shalat akan menghilangkan hati yang tercela, beliau mengatakan : Pada atsar ini semuanya mengisyaratkan bahwa sebab pengutamaan makan dari pada shalat itu adalah karena bayangan maka sepatutnyalah hukum diikutkan pada sebabnya, baik ketika sebab itu ada atau tidak, dan tidak terikat dengan seluruhnya atau sebagiannya.23 4. Membasuh kedua tangan sebelum dan sesudah makan Saya tidak menjumpai adanya Sunnah yang shahih yang diriwayatkan secara marfu hingga ke Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , yang menerangkan perihal membasuh kedua tangan sebelum makan. Al-Baihaqi mengatakan : Hadits tentang membasuh kedua tangan setelah makan hadits yang hasan, dan tidaklah shahih hadits tentang membasuh kedua tangan sebelum makan24. Akan tetapi disenangi hal itu untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada kedua tangan dan yang semisalnya yang akan memberi mudharat kepada tubuh. Dan Imam Ahmad berkaitan dengan masalah itu terdapat dua riwayat dari beliau. Yaitu riwayat yang menganggap hal itu makruh dan yang satunya sebagai Sunnah. Dan Imam Malik merinci hal itu, dan mengkaitkan membasuh kedua tangan sebelum makan apabila ada kotoran. Adapun amalan Ibnu Muflih didalam kitab Al-Adab karya beliau, menunjukkan bahwa beliau cenderung berpendapat bahwa amalan tersebut Sunnah sebelum makan, dan ini adalah pendapat sejumlah besar ulama25. Dan permasalahan ini suatu yang lapang walhamdu lillah Rabbil Alamiin. Adapun membasuh kedua tangan setelah makan, tentang hal itu telah diriwayatkan beberapa atsar yang shahih, diantaranya, hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhialahu anhu,
23 24 25

Fathul Bari ( 2 / 189 190 ) Al-Adab Asy-Syariyah ( 3 / 214 ) Lihat : Al-Adab ( 3 / 212 )

bahwa beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa yang tidur dan pada tangannya masih melekat ghamar26 dan tidak membasuhnya kemudian dia terkena sesuatu makan janganlah dia menyesali kecuali pada dirinya sendiri 27 Dan dari abu Hurairah, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah makan bagian punggung kambing, kemudian beliau berkumur-kumur dan membasuh kedua tangannya lalu shalat 28 Dan dari Aban bin Utsman, bahwa Utsman bin Affan radhiallahu anhu pernah makan roti dengan danging kemudian berkumurkumur dan membsuh kedua tangannya lalu membasuh wajahnya, dan kemudian beliau mengerjakan shalat tanpa berwudhu lagi 29 Faedah : Sebagian ulama menganggap Sunnah wudhu yang syarI sebelum makan apabila dalam keadaan junub. Dan hal itu disebutkan dalam sebuah hadits dan sebuah atsar. Adapun hadits yang dimaksud adalah hadits dari Aisyah radhiallahu anha, beliau berkata : Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam junub dan hendak makan atau tidur beliau terlebih dahulu berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat 30 Adapun atsar , adalah asar dari Nafi dari Ibnu Umar bahwa apabila beliau hendak tidur atau makan dalam keadaan junub, beliau mencuci wajahnya, kedua tangannya hingga sampai ke siku, dan membasuh kepadalnya, lalu beliau makan atau tidur 31 Asy-Syaikh Taqiyuddin Ibnu Taimiyah mengatakan : Dan kami tidak mengetahui seorangpun yang beranggapan sunnahnya
Didalam LisanArab : Al-Ghamar yaitu bau daging dan lemak yang melekat pada tangan ( 5 / 32 ) , pada pembahasan ; Ghamara 27 HR. Ahmad ( 7515 ),Abu Daud ( 3852 ), Al-Albani menshahihkannya. Dan juga diriwayatkan oleh AtTirmidzi ( 1860 ), Ibnu Majah ( 3297 ) dan Ad-Darimi ( 2063 ) 28 HR. Ahmad ( 27487 ), Ibnu Majah ( 493 ) dan Al-Albani menshahihkannya ( 498 ) 29 HR. Malik ( 53 ) 30 HR. Al-Bukhari ( 286 ), Muslim ( 305 ), dan lafazh hadits ini adalah lafazh riwayat Muslim, Ahmad ( 24193 ), An-Nasa`I ( 255 ), Abu Daud ( 224 ), Ibnu Majah ( 584 ) danAd-Darimi ( 757 ) 31 HR. Malik ( 111 )
26

berwudhu sebelum makan, kecuali apabila dia dalam keadaan junub.32 Perhatian :Al-Muhadist Al-Albani beragumen denga hadits hendak Aisyah : apabila Nabi Shallallahu alaihi wa sallam

tidur dalam keadaan junub maka beliau berwudhu dan apabila hendak makan maka beliau membasuh kedua tangannya 33 Bahwa disyariatkan untuk membasuh kedua tangan sebelum makan secaa mutlak berdasarkan hadits ini34. Akan tetapi hukum secara mutlak ini perlu diteliti lagi, dikarenakan beberapa hal : Pertama : Hadits tersebut menerangkan tentang amalan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam makan dan minum. Kedua : Sebagian riwayat-riwayat hadits tersebut datang dengan lafazh wudhu dan sebagian lainnya dengan penyebutan membasuh kedua tangan yang menerangkan boleh kedua amalan itu. As-Sindi didalam Hasyiyah-nya mengatakan : Sabda beliau : (( membasuh kedua tangan )) yaitu terkadang beliau mencukupkannya dengan hal itu untuk menerangkan pembolehan, dan terkadang beliau berwudhu sebagai keadaan yang lebih sempurna 35 Ketiga : Bahwa para Imam Ahlul Hadist, seperti Malik, Ahmad, Ibnu Taimiyah, An-Nasa`I rahimahumullah
36

disaat beliau junub ketika tidur,

dan juga selain

mereka dan kami telah mengutip perkataan mereka tidaklah berpendapat bahwa hadits Aisyah diatas berlaku secara mutlak sebagaimana pendapat Al-Allamah Al-Albani rahimahullah yang menganggap berlaku secara mutlak, sedangkan mereka
Al-Adab Asy-Syariyah ( 3 / 214 ) HR. An-Nasa`I ( 256 ), Ahmad ( 24353 ) dan selain mereka berdua. 34 Lihat : As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 674 ) no. ( 390 ). 35 Syarh Sunan An-Nasa`I karya As-Suyuthi dan Hasyiyah As-Sindi, Daar Al-Kitab Al-Arabi ( 1 / 138 139 ) 36 Yang mencantumkan hadits ini pada tiga judul bab, yaitu : Pertama : Wudhu seorang yang junub apabila hendak makan. Kedua : Seorang yang junub mencukupkan dengan membasuh kedua tangan apabila hendak makan. Ketiga : Seorang yang junub mencukupkan mencuci kedua tangan apabila hendak makan atau minum. Lhat : Kitab Ath-Thaharah pada Sunan An-Nasai
32 33

meriwayatkan hadits ini, yang menguatkan bahwa permasalahan ini menurut mereka hanya berlaku pada saat junub, sehingga wudhu dan membasuh tangan sebelum makan pada hadits ini berlaku hanya pada saat junub. Wallahu alam. 5. Membaca Basmalah diawal memulai makan dan minum, dan membaca Alhamdulillah setelah selesai. Diantara Sunnah, seseorang yang ehndak makan dan minum sebelum makan dan minum hendaknya membaca basmalah dan membaca Alhamdulillah taala setelah selesai makan dan minum. Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan : Membaca basmalah diawal makan dan minum dan membaca Alhamdulillah setelah selesai, mempunyai pengaruh yang sangat mengagumkan baik pada manfaatnya, kebaikan dan dalam mencegah kemudharatan. Imam Ahmad mengatakan : Apabila dalam makanan telah terkumpul empat hal, maka telah sempurna : Apabila menyebut nama Allah diawal makan, Alhamdulillah setelah makan, makan berjamaah dan dari makanan yang halal37. Faedah membaca Basmalah : sebelum makan yaitu bahwa syaithan diharamkan bergabung dalam makanan dan dalam meraih makanannya. Dari Hudzaifah radhiallhu anhu, beliau berkata : apabila kami hadir bersama dengan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidaklah kami meletakkan tangan kami hingga Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memulai, maka barulah kami meletakkan tangan kami. Dan suatu saat kami menghadiri makan bersama dengan beliau , lalu seorang anak wanita, sepertinya dia dipanggil dan kemudian datang dan meletakkan tangannya, lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam meraih tangannya. Kemudian datang seorang arab badui, sepertinya dia dipanggil Rasulullah
37

namun

tangannya alaihi

diraih wa

oleh sallam

beliau.

Kemudian :

Shallallahu

bersabda

Zaad Al-Maad ( 4 / 232 )

Sesungguhnya syaithan memasuki makanan yang tidak disebut nama allah. Dan syaithan datang dengan anak wanita ini untuk bergabung , maka saya menari tangannya. Dan datang dengan arab badui ini juga untuk bergabung dengannya, maka saya juga menarik tangannya. Dan demi dzat yang jiwaku berada ditanganNya sesunguhnya tangan syaithan bersentuhan dengan tanganku besamaan dengan tangan anak wanita tersebut 38 Lafazh Basmalah : Adalah dengan mengucapkan Bismillah. Dari Umar bin Abu Salamah radhiallahu anhuma, beliau berkata : Saat itu saya seoranganak keil yang berada didalam kamar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , dan tanganku meraih yang ada didalam piring, maka RasulullahShallallahu alaihi wa sallam bersabda : Wahai anak kecil, bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang terdekat denganmu, maka hal itu menjadi makananku berikutnya 39 An-Nawawi didalam Kitab Al-Adzkar karya beliau memilih bahwa yang paling utama adalah mengucapkan : Bismillahirrahmanirrahim, dan apabila mengucapkan : Bismillah, maka sudah cukup dan sudah mengamalkan Sunnah40. Ibnu Hajar menyaggah pendapat tersebut, beliau berkata : Saya tidak melihat adanya dalil khusus yang menguatkan pernyataan beliau. Saya berkata : Sebagian besar nash-nash yang ada menerangkan hanya dengan lafazh : BIsmillah , dan selain itu tanpa tambahan : Ar-Rahman Ar-Rahim. dari hadits Amru bin Abi Slaamah, beliau berkata :Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam Wahai anak kecil, apabila engkau bersabda : sebutlah makan maka

bismillah, makanlah dengan tangan kanamu dan makanlah yang terdekat denganmu. 41
HR. Muslim ( 2017 ), ahmad ( 22738 ) dan Abu Daud ( 3766 ) HR. Al-Bukhari ( 5376 ) dan lafazh hadits tersebut adalah lafazh beliau, Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895),Abu Daud ( 3777 ), ibnu Majah ( 3267 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ) 40 Al-Adzakr karya An-Nawaw ( 334 ) 41 HR. Ath-Thabrani didalam Al-Mujam Al-Kabir, dan Al-Albani memasukkannya didalam Silsilah AshShahihah, dan beliau ebrkata : Sanad ini shahih sesuai dengan kriteria hadits Asy-Syaikhain ( 1 / 611 ) no. ( 344 ).
38 39

Dan apabila seseorang yang makan lupa mengucapkan : bismilah sebelum makan kemudian dia teringat disaat dia tengah makan, maka hendaknya dia mengatakan : Bismillahi Awwalahu wa Akhirahu , atau mengatakan : Bismillahi fii Awwalihi waakhirihi. Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu anha, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila salah seorang diantara kalian makan hendaknya dia menyebut : Bismillah taala. Dan apabila dia lupa menyebut Bismillah taala diawal makan, maka hendaknya dia mengucapkan : Bismillah Awwalahu wa Akhirahu 42 Adapun ucapan Alhamdulillah taala, setelah menyelesaikan makan atau minum, maka pada ucapan ini mempunyai keutamaan yang sangat agung, yang Allah anugrahkan kepada segenap hamba-Nya. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang ketka makan suatu makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka diapun mengucapkan : Alhamdulillah. 43 Ada banyak lafazh Alhamdulillah setelah selesai dari makan dan minum, diantaranya : a. Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa muwaddain wa laa mustaghnan anhu Rabbana b. Alhamdulillah Alladzi kafaanaa wa arwaanaa ghaira makfiyyin wa laa makfuurin Abu Umamah radhiallahu anhu meriwayakan , beliau berkata : bhwa Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam selesai dari menyantap makanannya, beliau sekali mengucapkan : telah waktu

HR. Abu Daud ( 3767 ), dan lafazh diatas adalah lafazh Abu Daud, Al-Albani menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ahmad ( 25558 ), At-Tirmidzi ( 1858 ), Ibnu Majah ( 3264 ) dan Ad-Darimi ( 2020 ). 43 HR. Muslim ( 2734 ), Ahmad ( 11562 ) dan At-Tirmidzi ( 1816 )
42

Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa muwaddain wa laa mustaghnan anhu Rabbana 44 c. Alhamdulillah alladzi athamaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin. Dari Muadz bin Anas dari bapak beliau, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Barang siapa yang makan suatu makanan, kemudian dia mengucakan : Alhamdulillah alladzi athamaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin , segala dosanya yang telah lampau akan diampuni 45 d. Alhamdulilah alladzi athama wa saqaa wa sawwaghahu wa jaala lahu makhrajan Abu Ayyub al-Anshari meriwayatkan, beliau berkata : Apabila Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sawwaghahu wa jaala lahu makhrajan 46 e. Allahumma athamtu wa asqaitu wa aqnaitu wa hadaitu wa ahbabtu, falillailhamdu ala maa athaitu Dari Abdurrahman bin Jubair, bahwa seseorang yang telah melayani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam delapan tahun menceritakan kepadanya, bahwa mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam beliau disodorkan makanan, beliau mengucapkan : Bismillah , dan apabila beliau selesai beliau mengucapkan : Allahummah athamtu wa asqaituwa aqnaitu wa hadaitu wa ahyaitu falillahilhamdu ala maa athaitu 47 selama dia telah apabila makan atau minum, beliau mengucapkan : Alhamdulillah alladzi athama wa saqaa wa

HR. Al-Bukhari ( 5459 ) dan lafazh diatas adalah lafazh Al-Bukhari, Ahmad ( 21664 ), At-Tirmidzi ( 3456 ), Abu Daud ( 3849 ), Ibnu Majah ( 3284 ), Ad-Darimi ( 2023 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh AsSunnah ( 2828 ) 45 HR. At-Tirmidzi ( 3458 ), dan beliau berkata : Hadits ini hasan gharib . Dan Ibnu Majah ( 3285 ) dan Al-Albani menghasankannya ( 3348 ) 46 HR. Abu Daud ( 3851 ), al-Albani mengatakan : Shahih. 47 Al-Albani mengatakan didalam As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 111 ) : HR. Ahmad ( 4 / 62 , 5 / 375 ) dan Abu Asy-Syaikh didalam Akhlaq An-Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , kemudian beliau menyebutkan sanadnya dan mengatakan : Sanad ini shahih kesemua perawinya tsiqat dan merupakan para perawi yang dipergunakan oleh Muslim .
44

Faedah

Disenangi

untuk

mempergunakan

lafazh-lafazh

Alhamdulillah yang ada didalam As-Sunnah setelah selesai makan. Dengan sesekali mengucapkan lafazh yang ini dan sesekali dengan lafazh lainnya, sehingga denga demikian dia telah menjaga As-Sunnah dari segala sisiknya. Dan dia akan mendapatkan berkah dari doa-doa ini. Bersamaan dengan itu seseorang akan merasakan didalam hatinya penghadiran maknamakna dari doa-doa ini ketika dia mengucapkan lafazh ini tsesekali waktu dan lafazh lainnya diwaktu yang lain. Dikarenakanhati seseorang apabila telah terbiasa dengan

perkara tertentu seperti berulang-ulang menyebutkan dzikir tertentu maka dengan banyaknya pengulangan , biasanya penghadiran makna-makna dari doa tersebut akan semakin berkurang karena seringnya diulangi. Faedah bersabda : Barang siapa yang Allah telah memberikan makanan baginya, hendaknya dia mengucapkan : Allahumma barik lana war-zuqnaa khairan minhu. Dan barang siapa yang Allah telah memberinya minum, hendaknya dia mengucapkan : Allahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa fiihi. Karena sesungguhnya saya tidak mengetahui ada makanan dan minuman yang akan memuaskan selain susu 48 6. Makan dan minum dengan mempergunakan tangan kanan dan larangan mempergunakan tangan kiri Telah kita sebutkan sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam kepada Umar bin Abi Salamah : lainnya : Ibnu Abbas radhiallahuanhuma meriwayatkan , bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam

HR. At-Tirmidzi ( 3455 ), dan beliau berkata : Hadits ini Hasan Shahih, dan juga diriwayakan oleh Ibnu Majah ( 3322 ) dan Al-Albani menghasankannya ( 3385 ).
48

Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat denganmu 49 Dan dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, beliau berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian makan dengan mempergunakan tangan kirimu karena sesungguhnya syaithan makan dengan mempergunakan tangan kirinya 50 Dan pada hadits Umar radhiallahu anhu, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaknya dia makan dengan mempergunakan tangan kanannya dan apabila minum hendaknya dengan mempergunakan tangan kanannya. Karena sesungguhnya syaithan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya 51 Ibnul Jauzi mengatakan : Ketika tangan kiri dijadikan untuk ber-istinja dan menyentuh hal-hal yang najis, sementara tangan kanan untuk mengambil makanan, maka tidaklah shahih salah satu suatu dari yang keduanya memiliki dipergunakan kedudukan pada serta pekerjaan tangan yang lainnya, dikarenakan ini merupakan perendahan meninggikan suatu yang direndahkan kedudukannya. Barang siapa yang menyalahi tuntunan hikmah syaa berarti telah menyepakati syaithan 52 Sedangkan hadits-hadits tersebut dalam permasalahan ini adalah hadits-hadits yangmasyhur yang tidak lagi tersembunyi oleh khalayak awam, hanya saja sebagian kaum muslimin semoga Allah memberi mereka hidayah masih
HR. Al-Bukhari ( 5376 ) danlafazh diatas adalah lafazh riwayat Al-Bukhari, Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Maja ( 3267 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ). 50 HR. Muslim ( 2020 ) danlafazhnya adalah lafazh riwayat Muslim , Ahmad ( 14177 ), Ibnu Majah ( 3268 ) dan Malik ( 1711 ). 51 HR. Muslim ( 2020 ), Ahmad ( 4523 ), At-Tirmidzi ( 1800 ), Abu Daud ( 3776 ), Malik ( 1712 ) dan AdDarimi ( 2020 ) 52 Kasyful Musykil 2 / 594 ) ( 1227 )
49

saja bersikeras dengan sifat yang tercela ini, yaitu makan dan minum dengan mempergunakan tangan kiri. Dan apabila dikatakan kepada mereka tentang hal itu, mereka menjawab : Hal ini telah menjadi kebiasaan kami dan sangat sulit untuk merubahnya. Demi Allah sesungguhnya jawaban ini merupakan kemilau rayuan syaithan bagi mereka, dan penghalang bagi mereka untuk mengikuti syara. Dan secara umum, ini merupakan bukti akan kurangnya iman ddidalam hati mereka. Jika tidak maka apa makna dari penyelisihan perintah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan larangan beliau ! Dan lebih buruk dan lebih keji dari itu, adalah mereka yangmelakukan keangkuhan. Salamah bin al-Akwa radhiallahu anhumeriwayatkan : Bahwa seseorang makan disisi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan mempergunakan tangan kirinya. Maka beliau bersabda : Makanlah dengan tangan kananmu Orang itu berkata : Saya tidak sanggup. Beliau bersabda : Engkau tidak sanggup ? Tidak ada yang menghalangimu kecuali rasa sombong. Maka diapun tidak sanggup mengangkat tangannya kemulutnya Pada riwayat Ahmad : Maka tangan kanannya tidak sanggup lagi dia angkat kemulutnya selamanya 53 An-Nawawi mengatakan : Pada hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mendoakan siapa saja yangmenyalahi hukum syara tanpa adanya udzur. Dan pada hadits ini juga menunjukkan perintah untuk menjalankan Amar Makruf dan Nahi Munkar disetiap keadaan hingga disaat makan sekalipun. Dan disenangi unum mengajarkan seseorang yang makan dengan adaz-dab makan apabila dia menyalahinya54.
53 54

hal

itu

dengan

kesombongan

dan

HR. Muslim ( 2021 ) dan Ahmad ( 16064 ) Syarh Shahih Muslim Jilid 7 ( 14 / 161 )

Peringatan : Apabila ada udzu mempergunakan tangan kanan untuk makan, seperti karena sakit atau luka dan maka tidaklah tangan kiri. mengapa Dan Allah makan tidak selainnya,

denganmempergunakan

membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya. 7. Makan dengan makanan yang terdekat Disalah satu riwayat pada hadits Umar bin Abi Salamah, bahwa beliau mengatakan : Saya makan bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu saya mengambil daging yang ada di seberang piring. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Makanlah makanan yang terdekat denganmu 55 Sebab dari larangan itu, dikarenakan makan dia makan ditempat orang lain mengambil makan dengan adab yang jelek. Dan orang-orang yang makan bisa saja merasa jijik dengan perbuatan ini dan ini yang kebanyakan terjadi -. Akan tetapi mungkin ada yang menyanggah kepada kami, danmengatakan : Lalu apa yang kalian katakan tentang hadits Anas , dimana beliau berkata : Sesungguhnya seorang penjahit mengajak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk menyantap makan sajiannya, maka saya berangkat bersama Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , dan dia menyuguhkan roti dari tepung dan maraq kuah daging yang bercampur labu dan dendeng. Saya melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengambil labu yang ada diseberang piring 56 Jawaban atas sanggahan ini : Kedua hadits ini tidaklah saling bertentangan , dan kami menjawabnya sebagaimana yang
HR. Muslim ( 2022 ), takhrijnya telah disebutkan sebelumnya. HR. Al-Bukhari ( 5436 ) dan lafazh diatas adalah lafazh pada riwayat Al-Bukhari, Muslim ( 2041 ), Ahmad ( 12219 ), At-Tirmdzi ( 1850 ), Abu Daud ( 3782 ), Malik ( 1161 dan Ad-Darimi ( 2050 ). Ad-dibaa`u adalah sejenis buah yang sebesar labu. Pada ini ditegaskan pada riwayat Ahmad, beliau berkata : Dan disuguhkan kehadapan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam semangkuk labu, beliau berkata : Dan beliau sangat menyenangi labu. Beliau berkata : Dan beliau mengemil labi dengan jari atau dengan jari jemari beliau . Sedangkan al-qadiid adalah daging yang diberi garam kemudian dikeringkan dibawah terik matahari.
55 56

dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr : Bahwa al-maraq, al-idam dan makanan lainnya apabila terdiri atas dua jenis atau banyak, maka tidak mengapa menjulurkan tangan untuk mengambilnya, karena bolehnya memilih makanan yang dihidangkan di meja makan Kemudian beliau berkata mengomentari sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam : Dan makanlah dengan makanan yang terdekat denganmu - : Dan sesungguhnya beliau memerintahkan kepadanya untuk makan dengan makanan yang terdekat, karena makanan yang ada waktu itu hanya satu jenis. Wallahu alam. Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama 57 . Dan dengan begitu jelaslah penyesuaian kedua hadits tersebut Wallahu Al-Muwafffiq -. 8. Disenangi atasnya Disebutkan pada hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma -, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila salah seorang diantara kalian makan suatu makanan maka janganlah dia makan pada bagian atasnya, akan tetapi hendaknya dia makan pada bagian pinggirnya, karena sesungguhnya berkah turun dari bagian atasnya . Pada lafadz riwayat Ahmad : Makanlah kalian pada bagian pinggir piring, dan janganlah kalian makan dari bagian tengahnya, karena berkah turun pada bagian tengahnya 58 Bagian tengah diberi kekhususan dengan turunnya berkah, karena tempat itu adalah tempat paling adil. Dan sebab dari larangan tersebut agar seseorang yang makan tidak terharamkan baginya berkah yang berada dibagian tengah. Dan juga termasuk didalam hadits ini apabila yang makan lebih dari seseorang berjamaah -, karena seseorang diantara mereka
At-Tamhid ( 1 / 277 ) HR. Abu Daud ( 3772 ) lafaadz hadits diatas adalah lafazh pada riwayat Abu Daud, Ahmad ( 2435 ), At-Tirmidzi ( 1805 ), dan beliau berkata : Hadits ini hadits hasan shahih , Ibnu Majah ( 3277 ) dan AdDarimi ( 2046 )
57 58

makan

dipinggiran

piring

bukan

bagian

yang mendahului mengambil dibagian tengah makanan sebelum bagian pinggirnya, telah melakukan adab yang jelek kepada mereka, dan mementingkan diri sendiri untuk suatu yang baik selain dari mereka, Wallahu alam59. 9. Disenangi makan dengan mempergunakan tiga jari dan menjilati jari setelah makan. Diantara Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , bahwa beliau makan dengan mempergunakan tiga jari. Dan juga menjilati jarinya setelah makan. Didala hadits Kaab bin Malik dari bapaknya, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam ketika makan beliau mempergunakan tiga jari dan menjilati jarinya sebelum mengelapnya 60 Ibnul Qayyim mengatakan : Dikarenakan makan dengan satu atau dau jari tidaklah dan tidak menjadikan juga seorang yang dan makan tidak menikmatinya memuaskannya

mengenyangkannya kecuali setelah lama berselang dan juga tidak mengenakkan organ mulut dan pencernaan dengan yang masuk kedalamnya dari setiap makanan Sedangkan makan dengan lima jari dan telapak tangan akan menyebabkan makan memenuhi organ mulut dan juga pencernaan. Dan terkadang akan menyumbat saluran makan dan memaksakan organ-organ makan untuk mendorongnya dan juga pencernaan akan terbebani. Dan dia tidak akan mendapatkan kelezatan dan juga kepuasan. Dengan begitu maka cara makan yang paling bermanfaat adalah cara makan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan cara makan yang meneladani beliau Shallallahu alaihi wa sallam yaitu dengan mempergunakan tiga jari 61 Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

59 60 61

Lihat : Aun Al-Maud jilid 5( 10 / 177 ) HR. Muslim ( 20232 ), Ahmad ( 26626 ), Abu Daud ( 3848 ) dan Ad-Darimi ( 2033 ) Zaad Al-Maad ( 4 / 222 ), dengan sedikit perubahan.

Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka janganlah dia membasuh tangannya hingga dia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain . Dan pada riwayat Ahmad dan Abu Daud : Janganlah dia mengelap tangannya dengan kain lap, hingga dia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain 62 Dan sebab hal itu diperintahkan dfiterangkan pada hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjilat jari dan piring makanan, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dimanakah turunnya berkah 63 Dan pada sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam : Kalian tidak mengetahui dimanakah turunnya , maknanya wallahu alam bahwa makanan yang berada dihadapan seseorang mengandung berkah, dan dia tidaklah mengetahui apakah berkar itu yang dimakannya ataukah yang tersisa dijarijarinya atau yang tersisa dibagian bawah piring ataukah pada butiran makanan yang terjatuh. Maka sepatutnyalah seseorang menjaga hal ini semuanya agar dia mendapatkan berkah. Dan asal suatu berkah adalah tambahan dan kebaikan yang selalu ada serta senantiasa dirasakannya. Dan yang dimaksud disini wallahu alam adalah yang dapat mengenyangkan dan akhirnya memberi keselamatan dari segala gangguan dan memperkuat ketaatan kepada Allah dan lain sebagainya, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi64. 10. Disenangi mengambil butiran yang terjatuh,

membasuh yang menempel padanya lalu memakannya.

HR. Al-Bukhari ( 5456 ), Muslim ( 2031 ), Ahmad ( 3224 ), Abu Daud ( 3847 ), Ibnu Majah ( 3269 _ dan Ad-Darimi ( 2026 ) 63 HR. Muslim ( 2033 ) dan lafazh hadits diatas adlah lafazh beliau, Ahmad ( 13809 ), dan Ibnu Majah ( 3270 ). 64 Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 172 )
62

Dijelaskan pada hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila butiran makanan seseorang diantara kalian terjatuh, hendaknya dia mengambilnya, lalu membersihkan kotoran yang menempel kemudian memakannya dan jangan dia membiarkannya sebagai makanan syaithan al-hadits Pada riwayat lainnya : Sesungguhnya syaithan ikut menghadiri makanannya. Maka apabila salah seorang diantara kalian terjatuh makanannya maka hendaknya dia membersihkan kotoran yang menempel padanya kemudian memakannya dan tidak menyisakannya untuk syaithan. Dan apabila dia telah menyelesaikan makannya

hendaknya dia menjilat tangannya karena sesungguhnya dia tidak mengetahui makanan manakah yang ada berkahnya 65 Pada hadits ini ada beberapa faedah diantaranya : Bahwa syaithan selalu mengawasi manusia dan mengiringinya dan berusaha untuk mempengaruhinya. Dan berupaya untuk berkumpul dengan manusia hingga disaat makan dan minum. Diantaranya pula bahwa menghilangkan kotoran yang menempel baik berupa tanah dan selainnya pada makanan yang terjatuh kemudian memakannya dan pengharaman syaithan dari makanan tersebut, karena syaithan adalah musuh, dan seorang musuh seharusnya di jauhkan dan berlindung darinya. Diantaranya, bahwa berkah makanan bisa jadi ada pada makanan yang terjatuh makan janganlah melalaikannya. Diantaranya : Sesungguhnya syaithan hadir dan selalu menyertai manusia, dan akal tidak punya hak untuk mengingkari kehadiran syaithan sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang memiliki akal yang sakit. 11.
65

Larangan mengambil dua kurma bersamaan

HR. Muslim ( 2033 ) dan Ahmad ( 14218 )

Larangan ini berlaku bagi jamaah, bukan bagi yang makan sendiri. Dan tentang hal ini ada beberapa hadits yang shahih. Diantaranya dari jalan Syubah dari Jabalah, beliau berkata : Kami pernah berada di Madinah bersama dengan beberapa penduduk Irak, dan paceklik telah menimpa kami. Maka Ibnu AzZubair memberi kami rizki berupa kurma. Dan Ibnu Umar melintasi kami lalu berkata Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang mengambil

bersamaan lebih dari satu, kecuali seseorang diantara kalian telah meminta izin kepada saudaranya 66 Ibnul Jauzi didalam Al-Musykil berkata : Adapun hukum hadits tersebut, bahwa hukum ini berlaku pada jamaah beberapa orang. Dan kebiasaan yang berlaku adalah mengambil kurma satu persatu. Apabila seseorang mengambil bersamaan akan 67 Larangan pada hadits ini dapat menunjukkan pengharaman dan juga dapat berarti suatu yang makruh, dan masing-masingnya telah dinyatakan oleh ulama. An-Nawawi berpendapat bahwa perlu ada detail pada masalah ini, beliau mengatakan : Yang benar perlu diperinci, apabila makan tersebut mereka diantara mereka bersamaan, maka mengambil lebih dari satu bersamaan hukumnya haram, kecuali jikalau mereka meridhainya, dan ini dengan dapat dengan pernyataan mereka yang jelas, atau yang sederajat dengan pernyataan tersebut baik berupa indikasi keadaan atau isyarat dari mereka semuanya, dimana dapat diketahui dengan pasti atau dengan persangkaan yang kuat bahwa meeka meridhainya. Kapan dia ragu atas keridhaan mereka, maka hukumnya haram. Dan apabila makanan tersebut
HR. Al-Bukhari ( 2455 ), Muslim ( 2045 ), Ahmad ( 5017 ), At-Tirmidzi ( 1814 ), Abu Daud ( 3834 ), Ibnu Majah ( 3331 ). Sabda beliau : Kecuali seseorang diantara kalian meminta izin kepada saudaranya Syubah berkata : Saya tidak mengetahui kecuali kalimat ini berasal dari perkataan Ibnu Umar, yaitu perkataan meminta izin . Lihat riwayat Muslim dan Ahmad tentang hadits ini. 67 Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain ( 2 / 565_ no. ( 1165 )
66

maka akan

menjadikan

jatah

mereka

berkurang

dan

mempengaruhi mereka, olehnya itu dibutuhkan izin dari mereka.

untuk selain mereka atau untuk salah seorang diantara mereka mesti disyaratkan untuk keridhaannya izin sendiri, apabila dia yang mengambilnya tanpa keridhaannya maka hukumnya haram. Dan disenangi meminta kepada orang-orang wajib. Dan menyertainya makan namun tidaklah apabila

makanan tersebut untuk dirinya sendiri dan dia menjamu mereka sebagai tamu maka tidaklah diharamkan mengambil lebih dari satu bersamaan. Kemudian apabila makanan tersebut jumlahnya sedikit maka disukai untuk tidak mengambil lebih dari satu bersamaan, karena hanya mencukupi mereka. Dan apabila jumlahnya banyak, dimana melebihi jumlah mereka maka tidak mengapa mengambil lebih dari satu sekaligus. Akan tetapi adab yang berlaku secara mutlak dan kesopanan dalam makan dan meninggalkan yang lain68. Masalah : Apakah jenis-jenis makanan lainnya yang dapat diambil satu persatu dapat dianalogikan dengan kurma ? Jawab : Iya, dapat dianalogikan kepada kurma, apabila kebiasaan yang berlaku makanan tersebut diambil satu demi satu. Ibnu Taimiyah mengatakan ; Dan dapat dianalogikan larangan mengambil sekaligus lebih dari satu semua makanan yang kebiasaannya diambil satu persatu69 12. Disenangi memakan suatu makanan setelah tidak sikap rakus kecuali jikalau dalam keadaan tergesa-gesa dan semakin terburu-buru lagi jika ada pekerjaan

panas lagi. Dari Asma` binti Abu Bakar radhiallahu anhuma, apabila beliau membuat tsariid sejenis makanan belaiu menutupnya dengan sesuatu hingga tidak mendidih, lalu beliau berkata : Sesungguhnya saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
68 69

Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 190 ) Al-Adab Asy-Syariyah ( 3 / 158 )

Sesungguhnya yang demikian itu lebih besar berkahnya 70 Abu Hurairah radhgiallahu anhu berkata : Tidaklah menyantap makanan hingga panasnya hilang 71 Dan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam makanan kalimat disaat berkah makanan padist itu ini tidaklah menyantap panas. yang Ibnul dapat sangat adalah

Qayyim72mengatakan : Dan makna yang paling tepat dengan pada mengenyangkan dan selamat dari sakit yang timbul diakhirnya, dan menguatkan ketaatan kepada Allah dan lain sebagainya. Sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi73 13. Larangan mencela makanan dan menghinanya

Disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata : Tidaklah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dan mencela makanan sekalipun juga. Apabila beliau apabila beliau tidak menyukainya maka beliau menghendaki suatu makanan maka beliau akan memakannya meninggalkannya 74 Mencela makanan seperti dengan mengatakan : Terlalu asin, atau kurang asin, kecut, tipis, keras, kurang matang, dan lain sebagainya, sebagaimana diaktakan oleh An-Nawawi75 Dansebab larangan itu, dikarenakan makanan adalah ciptaan Allah yang tidak boleh dicela. Dan ada alasan lainnya yaitu bahwa mencela makanan akan menyakiti perasaan pembuat makanan hingga dia bersedih dan tersinggung, dikarenakan dialah yang mempersiapkan dan menyajikannya. Maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menutup pintu ini agar jangan rasa
HR. Ad-Darimi ( 2047 ), al-Albani memasukkan hadits ini didalam Silsilah Ash-Shahihah no. ( 392 ) dan Ahmad ( 26418 ). 71 Al-Albani mengatakan didalam Irwa Al-Ghalil ( 1978 ) : Shahih, diriwayatkan oleh Al-Baihaqi ( 7 / 2580 ) 72 Zaad Al-Maad ( 4 / 233 ). 73 Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 172 ) 74 HR. Al-Bukhari ( 5409 ) , Muslim ( 2064 ), ahmad ( 9882 ), At-Tirmidzi ( 2031 ), Abu Daud ( 3763 ), Ibnu Majah ( 3259 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 2843 ). 75 Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 22 )
70

sedih mendapati pintu untuk masuk kedalam hati seorang muslim Dan Syariat Islam selalu datang dengan hal serupa ini. Masalah : Apakah hadits ini bertentangan dengan keengganan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam makan dhabb kadal gurun -76. Dan apakah sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam tentang dhabb yakni : Saya merasa kasihan kepadanya dan dalam riwayat lainnya : Daging serupa ini saya tidak makan sama sekali , tergolong mencela makanan ? Jawab : Bahwa tidak ada pertentangan antara kedua hadits tersebut. Dan perkataan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tentang dhabb tidak tergolong mencela makanan. Melainkan pemberitahuan sebab mengapa beliau tidak memakannya. Yaitu bahwa beliau tidak menyukai Adapun hadits bahwa Nabi makan jenis ini dan bukan Shallallahu alaihi wa sallam kebiasaan beliau memakannya. An-Nawawi mengatakan : meninggalkan memakan dhabb bukan termasuk dalam kategori mencela makanan, melainkan merupakan pemberitahuan bahwa ini adalah makan yang spesifik yang beliau tidak menyukainya77 14. Hukum minum dan makan sambil berdiri

Para ulama berbeda persepsi tentang hukum mnum sambil berdiri. Dan perbedaan persepsi diantara mereka bermuara pada sejumlah hadits-hadits yang shahih yang secara zhahirnya bertentangan. Sebagian diantara hadits-hadits tersebut menerangkan larangan minum berdiri sedangkan sebagian lainnya adalah sebaliknya. Dan kami akan melampirkan sebagian diantaranya : 1. Anas radhiallahu anhu meriwayatkan , bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang minum sambil berdiri

HR. Al-Bukhari ( 5537 ), Muslim ( 1946 ), Ahmad ( 6678 ), An-Nasa`I ( 4316 ), Abu Daud ( 3794 ), Ibnu Majah ( 3241 ) , Malik ( 1805 ) dan Ad-Darimi (2087 ). 77 Syarh Muslim jilid 7( 14 / 22 )
76

. Dan pada riwayat lainnya : Melarang seseorang minum sambil berdiri 78 2. Dari Abu Said Al-Khudri radhialahu anhu beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam minum sambil berdiri 79 3. Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Dan melarang dari

janganlah sekali-kali salah seorang diantara kalian minm smabil berdiri, barang siapa yang lupa maka hendaknya dia memuntahkannya 80 Hadits-hadits berdiri : 1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, beliau berkata : Saya menuangkan kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari air zam-zam, lalu beliau minum sambil berdiri 81 2. Dari An-Nazzal, beliau berkata : Ali radhiallahu anhu datang menuju pintu Ar-Rahbah, lalu beliau minum sambil berdiri. Beliau berkata : Sesungguhnya beberapa orang tidak menyukai salah seorang diantara mereka minum sambil berdiri. Dan sesungguhnya saya telah melihat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melakukannya sebagaimana kalian telah melihatku melakukannya pada lafazh riwayat Ahmad : beliau berkata : Bagaimana pendapat kalian jika saya minum sambil berdiri, karena sesungguhnya saya telah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam minum sambil berdiri. Dan jika saya minum sambil duduk, sesungguhnya saya tleah melihat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam minum sambil duduk 82
HR. Muslim ( 2024 ), Ahmad ( 11770 ), At-Tirmidzi ( 1879 ), Abu Daud ( 3717 ), Ibnu Majah ( 3424) dan Ad-Darimi ( 2127 ). 79 HR. Muslim ( 2025 ),ahmad ( 10885 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 3045 ) 80 HR. Muslim ( 2026 ), Ahmad ( 8135 ), tanpa sabda beliau : hendaknya dia memuntahkannya . 81 HR. Al-bukhari ( 1637 ), Muslim ( 2027 ), Ahmad ( 1841 ), At-Tirmidzi ( 1882 ), An-Nasa`I ( 2964 ) dan Ibnu Majah ( 322 ).
78 82

yang

menunjukkan

bolehnya

minum

sambil

HR. Al-Bukhari ( 5615 ), Ahmad ( 797 (, An-Nasa`i ( 130 ) dan Abu Daud ( 3718 )

3. Dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma, beliau berkata : Kami dizaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam minum sambil berdiri dan kami makan sambil berjalan 83 4. Atsar dari Aisyah, Saad bin Abu Waqqash, bahwa mereka berdua membolehkan seseorang minum sambil berdiri. Ibnu Umar dan Ibnu Az-Zubair juga terlihat minum sambil berdiri84. Berdasarkan hadits-hdits ini yang secara kontekstual kontradiktif dengan selainnya, ulama berselisih dalam menerangkan hukumnya. Pendapat yang paling tepat menurutku adalah yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah didalam Fatawa beliau, beliau emngatakan : Akan tetapi menyelaraskan hadits-haits tersebut dengan menyatakan adanya keringan disaat mempunyai udzur. Hadist-hadits larangan minum berdiri yang berada didalam As-Shahih seperti: Bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam Shallallahu alaihi wa sallam itu lebih buruk dan jelek. Sedangkan hadits-hadits yang memberi keringanan, semisal hadits yang diriwayatkan didalam Ash-Shahihain dari Ali dan Ibnu Abbas , beliau berkata ; Nabi Shallallahu alaihi wa sallam minum air zamzam sambil berdiri . Dan yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ali : Bahwasanya Ali berada di tanah lapang yang berpasir dan dia minum dalam keadaan berdiri, kemudian beliau berkata : Sesungguhn ya manusia dimakruhkan minum sambil berdiri, dan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallammelukukan seperti apa yang aku lakukan. Dan hadits Ali ini telah diriwayatkan padanya ada atsar bahwasanya Rasulullah melakukan hal itu saat minum air zam-zam, sebagaimana datang pada hadits Ibnu Abbas, hal ini adalah ketika berhaji, dan orang-orang disana melaksanakan thawaf dan minum dari air zam-zam, mereka mengambil air serta meminta minum
83

melarang minum sambil berdiri , melarang minum smbil berdiri .

hadits yang diriwayatkan oleh Qatadh dari Anas : bahwa Nabi Qatadah berkata : Bagaimana dengan makan ? Beliau berkata : Hal

HR. Ahmad ( 4587 ), Ibnu Majah ( 3301 ), Al-Albani menshahihkannya ( 3364 ), Ad-Darimi ( 2125 ) 84 Al-Muwaththa ( 1720, 1721, 1722 )

darinya, dan tidak ada tempat untuk duduk , bersamaan dengan ini beliau lakukan selang waktu sedikit sebelum beliau meninggal, jadilah hal ini dan yang semisalnya dikecualikan dari hal tersebut sebagai larangan. Dan hal ini datang dari perkara syariat : Bahwa larangan dari sesuatu diperbolehkan ketika ada hajat, bahkan dia lebih ditekankan hukum pembolehannya dari sekedar dibolehkan ketika ada hajat, bahkan pula perkara haram yang diharamkan dia dimakan 15. dan diminum, seperti bangkai dan darah bejana yang dan diperbolehkan dalam keadaan darurat.85 Tidak disenangi bernafas dalam meniup padanya. Termasuk adab-adab ketika minum adalah seorang yang minum sebaiknya tidak bernafas dalam bejana dan tidak pula meniupnya, padanya ada hadits-hadits yang shahih, diantaranya sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dari hadits Abu Qatadah radhiallahu anhu, beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Apabila salah seorag diantara kalian minum maka janganlah dia bernafas dalam bejana Al-Hadist.86Dan diantaranya pula hadits Ibnu Abbas : Bahwasanya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melarang satu adab seseorang yang mana bernafas ditakuti dalam akan bejana dan dan meniupnya.87Larangan bernafas dalam bejana ini adalah salah mengotorinya menjadikan bau busuk serta terjatuhnya sesuatu dari mulut dan hidung padabejana dan sejenisnya, Hal ini adalah pendapat Imam An-Nawawi.88 Adapun meniup minuman, maka padanya akan diperoleh dari mulut yang meniup bau yang tidak sedap yang memuakkan karenanya. Terlebih lagi jika yang minum bergantian dan berbilang, maka nafas-nafas yang meminum akan mencampurAl-Fatawa ( 32/209-210) HR. Al-Bukhari ( 5630 ), Muslim ( 267 ), Ahmad ( 22059 ), At-Tirmidzi ( 1889 ), An-Nasa`i (47), dan Abu Daud ( 31 ). 87 HR. At-Tirmidzi ( 1888 ), dan beliau berkata : Hadits hasan shahih,Dan HR. Abu Daud ( 3728 ), dan syaikh Al-Albani menshahihkannya, HR. Ibnu Majah ( 3429 ) tanpa penyebutan at-tanaffus. 88 Syarh Shahih Muslim jilid kedua ( 3/130)
85 86

adukkannya, oleh karena itu Rasulullah menggabungkan antara larangan 16. dari bernafas dalam bejana dan meniupnya, demikianlah pendapat Ibnu Al-Qayyim.89 Disenangi mengambil nafas sebanyak tiga kali ketika minum, dan bolehnya minum dengan sekali tegukan Disebutkan didalam hadits Anas bin Malik radhiallahu anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam biasanya mengambil nafas sebanyak tiga kali sewaktu minum, dan beliau bersabda : Sesungguhnya hal ini akan lebih menghilangkan rasa dahaga, lebih menjaga dan lebih bermanfaat Anas berkata : Maka saya mengambil nafas tiga kali ketika minum 90 Yang dimaksud dengan mengambil nafas ketika minum sebanyak tiga kali adalah dengan menjauhkan bejana air dari mulut sipeminum, lalu dia mengambil nafas tiga kali, karena mengambil nafas dibejana suatu yang dilarang. Dan diperbolehkan meminum dengan sekali tegukan dan bukan suatu yang makruh. Dan ini ditunjukkan pada hadits Abu Said AlKhudri radhiallahu anhu, bahwa beliau mengunjungi Marwan bin Al-Hakam, dan dia berkata kepadanya : Apakah anda telah mendengar jikalau Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang menghembuskan nafas didalam bejana air ? Abu Said berkata : Benar. Maka seseorang berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya dahafa saya tidak hilang hanya dengan sekali tegukan. Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam besabda : Jauhkanlah cerek air dari mulutmu kemudian ambillah nafas . Orang itu berkata : Namun sesungguhnya saya melihat ada

Zaadu Al-Maaad ( 4/235). HR. Al-Bukhari ( 45631 ), Muslim ( 2028 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat Muslim , Ahmad ( 11776 ), At-Tirmidzi ( 1884 ), Ibnu Majah ( 3416 ), dan Ad-Darimi ( 2120 ), Ibnu Majah dan At-Tirmidzi tidak menyebutkan potongan kedua yang ada pada hadits tersebut.
89 90

kotoran pada cerek tersebut . Beliau bersabda : Maka buanglah 91 Malik mengatakan : tidak mengapa seseorang minum hanya dengan sekali mengambil nafas. Dan saya berpendapat ini adalah rukhshah/keringanan dari penjelasan yang ada pada hadits : Sesungguhnya dahaga saya tidaklah hilang hanya dengan sekali mengambil nafas 92 Syaikhul Islam mengatakan : Hadits ini merupakan dalil hadits diatas bahwa sekiranya rasa dahaganya telah hilang hanya dengan sekali mengambil nafas dan tidak lagi butuh untuk mengambil nafas, maka hal tersebut diperbolehkan. Dan saya tidak mengetahuiada imam yang mewajibkan mengambil nafas tiga kali, dan mengharamkan minum hanya dengan sekali tegukan 93 17. Makruh minum dimulut bejana/cerek air

Tentang permasalahan ini ada beberapa hadits yang shahih. Dari abu Hurairah radhiallahu anha beliau berkaa : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang minum dimulut alqirbah sejenis botol penyimpan air dari kulit dan cerek, dan melarang tetangganya menancapkan kayu didindingnya 94 Dan dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma, beliau berkata : Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang seseorang minum dimulut bejana 95 Pada kedua hadits tersebut berisikan larangan yang sangat jelas dari minum dimulut al-qirbah dan cerek. Dan yang semestinya adalah dengan menuangkan minuman tersebut ketempat air lalu
HR. At-Tirmidzi ( 1887 ), danbeliau berkata : hadits ini hadits hasan shahih , ahmad ( 10819 ), Malik ( 1718 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat Malik, dan Ad-Darimi ( 2121 ). 92 At-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr ( 1 / 392 ) 93 Al-Fatawa ( 32 / 209 ) 94 HR. Al-Bukhari ( 5627 ), Ahmad ( 7113 ) tanpa penggalan kedua hadits diatas. Dan Ahmad meriwayatkan penggalan kedua hadits diatas pada riwayat lainnya. Juga diriwayatkan oleh Muslim ( 1609 ), At-Tirmidzi ( 1353 ), Abu Daud ( 3634 ), Ibnu Majah ( 2335 ), Malik ( 1462 ) dan kesemuanya menyebutkan penggalan kedua dari hadits diatas selain pengglan yang pertama. 95 HR. Al-Bukhari ( 5629 ), ahmad ( 1990 ), At-Tirmidzi ( 1825 ), An-Nasa`I ( 4448 ), abu Daud ( 3719 ), ibnu Majah ( 3421 ) dan Ad-Darimi ( 2117 ).
91

minum darinya. Larangan ini oleh sebagian ulama memahaminya sebagai suatu larangan, dan sebagian lainnya menganggapnya hanya sebatas makruh, dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama. Diatara mereka menjadikan hadits-hadits larangan sebagai nasikh yang menghapuskan hukum hadits-hadits yang membolehkan96. Para ulama menyebutkan beberapa kandungan hikmah yang menyebabkan larangan ini, dan kami akan menyebutkan sebagian diantaranya : Seringnya nafas orang yang minum melalui mulut cerek akan menyebabkan bau busuk dan tidak sedap yang akan menjadikan perasan muak. Dan juga terkadang didalam qirbah atau cerek ada serangga atau hewan atau kotoran atau selainnya yang tidak disadari oleh yang minum, lalu masuk kedalam kerongkongannya dan menimbulkan mudharat kepadanya. Diantaranya terkadang air akan bercampur dengan liur yang minum yang menjadikan orang lain merasa jijik97. Terkadang liur dan nafas yang minum akan menyebabkan penyakit dan nafas. Masalah : Telah shahih, bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam minum dari mulut qirbah yang tergantung. Maka Bagaimanakah menyesuaikan perbuatan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan pemboleha minum dimulut qirbah dengan larangan beliau dari ucapannya ? Jawab : Ibnu Hajar mengatakan : Syaikh kami didalam Syarh At-Tirmidzi mengatakan : Sekiranya dibedakan apabila dalam keadaan yang ada udzur, seperti misalnya qirbah yang tergantung, dan seseorang yang butuh untuk minum tidak mendapatkan wadah dan tidak mampu untuk menjangkau
96 97

kepada

orang

lain,

dimana

meurut

para

pakar

kedokteran bahwa bibit penyakit bisa saja berpindah melalui liur

Lihat : Fathul Bari ( 10 / 94 ) Lihat : Zaad Al-Maad ( 4 / 233 ), Fathul Bari ( 10 / 94 ) dan Al-Adab Asy-Syariyah ( 3 / 166 )

dengan tangannya, maka pada keadaan tersebut tidaklah makruh, dan kepada keadaan itulah, hadits-hadits yang telah disebutkan diatas tersebut dipahami. Dan antara seseorang yang tidak mempunyai udzur, maka hadits-hadits larangan dipahami pada keadaan ini. Saya yang berkata adalah Ibnu Hajar Dan pendapat tersebut dikuatkan pula, bahwa hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan semuanya menunjukkan bahwa qirbah tersebut dalam keadaan tergantung, dan minum dari qirbah yang tergantung lebih khusus daris ekedar minum dari qirbah. Dan tidak ada argumen dari hadits-hadits yang menunjukkan pembolehan secara mutlak, melainkan hanya pada keadaan ini saja. Dan memahami pembolehan tersebut pada keadaan darurat sebagai upaya menyelaraskan kedua hadits tersebut lebih utama dari pada menggiringnya sebagai nasikh , Wallahu alam98 18. Disenangi bagi seorang yang menuang minuman,

sebagai orang terakhir yang minum Dalil akan masalah itu adalah hadits Qatadah radhiallahu anhu yang panjang : Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menuang minuman kepada wadah mereka hingga tidak ada lagi yang tersisa selain saya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam . Beliau berkata : Kemudian Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menuangkan kepadaku, dan berkata : Minumlah. Saya berkata : Saya tidak minum hingga anda minum wahai Rasulullah . Beliau bersabda : Sesungguhnya yang menuangkan minum adalah yang palingterakhir minum Beliau berkata : Maka sayapun minum dan Rasulullah kemudian juga minum al-hadits 99
Fathul Bari ( 10 / 94 ) HR. Muslim ( 681 ), Ahmad ( 22040 ), At-Tirmidzi ( 1894 ), Ibnu Majah ( 3434 ), Ad-Darimi ( 2135 ), sebagianya meriwayatkan secara panjang dan sebagian hanya meringkas pada lafazh syahid saja. Dan
98 99

Penunjukan

pada

hadits

ini

sangatlah

jelas,

bahwa

yang

bertanggung jawab menuangkan minum kepada suatu kaum , maka dia mendahulukan mereka dari dirinya sendiri, dan dia adalah orang yang paling akhir minum, untuk meneladani Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. 19. Disenangi berbicara ketika menghadapi makanan

Sebagai bentuk penyelisihan akan kebiasaan orang asing, dimana mereka tidak berbicara sama sekali ketika makan100. Ibnu Muflih mengatakan : Ishaq bin Rahawaih mengatakan , saya pernah sekali waktu makan malam bersama Abu Abdillah ( Ahmad bin Hanbal ) dan beberapa kerabat beliau. Dan kami tidak berbicara : sedikitpun sementara beliau makan dan beliau mengatakan Alhamdulillah, bismillah, kemudian

mengatakan : Makan, memuja lebih baik dari pada makan smabil berdiam diri. Dan saya tidak menjumpai dari Imam Ahmad yang menyelisihi riwayat ini dengan penyelisihan yang jelas. Dan juga kami tidak menjumpai riwayat tersebut pada mayoritas perkataan para ulama Hanabilah. Zhahirnya Imam ahmad rahimahullah mengikuti atsar dalam perkataan beliau itu, karena diantara jalan dan kebiasaan beliau adalah memfokuskan pada ittiba atsar101. 20. Diantara Disenangi makan berjamah adab kenabian, adalah disukainya makan sabil

berjamaah bersama-sama -, dan makan berjamaah ini adalah sebab diliputinya makanan tersebut dengan berkah. Setiap kali jumlah yang makan bertambah maka berkahnya akan bertambah. Pada hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma, beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
sebagian lagi meriwayatkannya dengan kedua lafazh tersebut 100 Lihat : Ihya Ulumuddin karya Al-Ghazali ( 2 / 11 ), Daar Al-Hadist cet. 1 1412 H 101 Al-Adab Asy-Syariyah ( 3 / 163 )

Makanan untuk seorang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang 102 Ibnu Hajar mengatakan : Pad riwayat Ath-Thabrani dari hadits Ibnu Umar, berisi tuntunan akan sebab dari hal itu, dimana pertamanya : Makanlah kalian semua berjamah dan janganlah kalian bercerai berai, karena sesungguhnya makanan untuk seseorang akan mencukupi dua orang al-hadits. Dapat diambil faedah dari hadist ini bahwa kecukupan adalah hasil yang muncul sebagai akibat makan berjamaah. Dan jumlah yang makan ketika semakin banyak akan berkahnya semakin bertambah 103 Dari Wahsyi bin Harb dari bapaknya dari kakeknya, beliau berkata : Para sahabat Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan : Wahai rAsululah, sesungguhnya kami makan dan tidak merasa kenyang. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam menjawab : Mungkin kalian makan sambil tercerai berai. Mereka mengatakan : Benar. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : Berkumpullah kalian pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah niscaya makan kalian akan diberkahi104 21. Dibenci rakus dalam makan dan juga sedkit

karena akan melemahkan tubuh Rakus dalam mengambil makanan akan menyebabkan tubuh menjadi sakit, dan akan menyebabkannya tersebrang banyak penyakit, dan juga akan menyebabkan tubuh terasa penat dan malas, sehingga terasa berat untuk mengerjakan amal-amal

102

HR. Msulim ) 2059 ), Ahmad ( 13810 )At-Tirmidzi ( 1820 ), Ibnu Majah ( 3254 ) dan Ad-Darimi ( 2044 Fathul Bari ( 9 / 446 ) Hr. Abu Daud ( 3764 ) Al-Albani menshahihkannya, ( Ahmad ( 15648 ) dan Ibnu Majah ( 3286 )

).
103 104

ketaatan. Dan juga akan mewariskan hati yang kera semoga Allah melindungi kita dari hal itu -. Dan sebaliknya, sedikit makan juga akan melemahkan tubuh dan akan melemahkannya dari ketaatan kepada Allah. Dan kami tidak menjumpai ada obat yang majur sebagaimana obat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam besar keberadaan kita. Dari Miqdam bin Madiy karib, beliau merkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : tidaklah seorang anak Adam memenuhi penampang kejelekan selain perutnya. Cukuplah makanan bani Adam itu untuk menegakkan tulang belakangnya, jikalau memang harus, maka sepertiga untuk makananya, sepertiga untuk minumannya dan sepertiga untuk nafasnya 105 Dan para Ulama As-Salaf pada persoalan ini ada beberapa anggapan, yang bagus untuk kita ketahui. Ibnu Muflih mengatkan : ibnu Abdil Barr dan yang lainnya menyebutkan bahwa Umar bin Al-Khaththab suatu hari khutbah, dan mengatakan: Hatihatilah kalian dengan pemenuhan perut kalian, karena akan menjadikan malas menuju shalat, dan menjadi penyakit bagi tubuh. Dan wajib bagi kalian untuk berlaku pertengahan dalam makanan kalian, karena sesungguhnya hal tersebut akan menjauhkan kalian dari kufur nikmat dan akan enyehatkan bagi badan dan akan menguatkan kalian untuk beribadah. Dan sesungguhnya seseorang tidak akan celaka hingga syahwatnya mempengaruhi agamanya . Ali radhiallahu anhu mengatakan : lambung adalah telag abagi tubuh, dan setiap usus bermuara kepadanya dan darinya. Apabila lambung itu sehat, maka usus yang bermuara darinya akan sehat. Dan apabila lambung sakit maka usus yang bermuara darinya akan sakit .
HR. At-Tirmidzi ( 2380 ), dan beliau mengatakan : Hadits ini hasan shahih, Ahmad ( 16735 ), Ibnu Majah ( 3349 ) dan Al-Albani menshahihkannya ( 2720 ).
105

, seandainya kita meneladani

beliau, tentula kita tidap perlu beroba tkedokter pada sebagian

Al-Fadhl bin Iyadh mengatakan : Ada dua hal yang akan mengeraskan hati : Banyak berbicara dan banyak makan . Al-Khallal meriwayatkan didalam Jami beliau dari Ahmad, bahwa beliau berkata : Ada yang bertanya kepada beliau : Mereka inilah orang-orang yang makan sedikit dan sedikit menghidangkan makanan ? Beliau mengatakan : Tidaklah mengherankan aku ! Saya telah mendengar Abdurrahman bin Mahdi mengatakan : Suatu kaum melakukan hal demikian, maka menjadikan mereka terputus dari ibadah yang wajib 106 22. Dilarang duduk dimeja yang dihidangkan khamar

Berkaitan dengan hal tersebut diriwayatkan dari hadits Uma rbin al-Khaththab radhiallahu anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang dua hidangan makanan. Duduk dimeja yang ada khamar diminum, dan seseorang yang makan sambil telungkup diatas perutnya 107 Dan pada riwayat Ahmad108 dengan lafazh : Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir , maka janganlah dia duduk di meja yang terhidang khamar diatasnya al-hadits Dan hadits tersebut dengan sangat jelas menerangkan larangan, dan sebabdari larangan itu, bahwa duduk dengan adanya kemungkaran itu menyiratkan keridhaan dan pembenaran terhadapnya109

Al-Adab Asy-Syariyah ( 3 / 183, 184 dan 185 ) dengan beberapa pendahuluan dan pengakhiran. HR. Abu Daud ( 3774 ) dan Al-Albani menshahihkannya, Ibnu Majah ( 3370 ) tanpa menyebutkan penggalan yang pertama dari hadits diatas. 108 Dari jalan yang lainnya ( 14241 ), dan riwayat ini juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi ( 2801 ) dan AdDarimi ( 2092 ) 109 Lihat : Aun Al-Mabud jilid 5 ( 10 / 178 )
106 107