Anda di halaman 1dari 9

Pertemuan XV Review Pertemuan IX (Kewajiban)

Teori dan pengukuran income bisnis menempati posisi sentral dalam literatur akuntansi keuangan dan akuntansi manajerial. Meskipun artikel tentang manfaat dan metode pengukuran income masih berkembang, namun, konsep income masih menjadi subjek interpretasi dan kelompok pemikiran yang berbeda, yang masing-masing mengklaim secara praktik atau konseptual lebih superior dibanding lainnya. Secara mendasar terdapat empat kelompok pemikiran yang terkait dengan pengukuran income bisnis yang lebih baik. Mazhab klasik (classical school) terutama dikarakteristikkan dengan ketaatan pada postulat unit ukuran dan prinsip kos historis. Secara umum dikenal sebagai akuntansi kos historis atau akuntansi konvesional, kelompok klasik menganggap income akuntansi sebagai income bisnis. Mazhab neoklasik (neoclassical school) terutama dikarakteristikkan dengan pengabaian atas postulat unit ukuran, mengakui perubahan dalam level harga umum, dan ketaatan terhadap prinsip kos historis. Secara umum disebut sebagai akuntansi kos historis disesuaikan level harga umum (general, price-level-adjusted historical costaccounting), konsep income bisnis dari kelompok neoklasik adalah "income akuntansi disesuaikan dengan level harga umum" (general, price-level-adjusted accounting income). Mazhab radikal (radical school) terutama dikarakteristikkan dengan pilihan nilai sekarang (current values) sebagai dasar penilaian. Kelompok ini dibagi dalam dua bentuk. Dalam bentuk pertama, laporan keuangan berbasis nilai sekarang tidak disesuaikan ustuk perubahan level harga umum. Secara umum disebut akuntansi nilai sekarang (current-value accounting), konsep income bisnis kelompok ini adalah income sekarang (current income). Dalam bentuk kedua kelompok radikal, laporan keuangan berbasis nilai sekarang disesuaikan untuk perubahan dalam level harga umum. Secara umum dikenal sebagai akuntansi nilai sekarang disesuaikan level harga umum (general, price-level-adjusted current-value accounting), konsep income bisnis kelompok ini adalah income sekarang disesuaikan (adjusted current income).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

Pertemuan X (Pendapatan) Tekanan utama dalam pendekatan kegiatan terhadap laba adalah peng-akuan dan klasifikasi perubahan-perubahan yang menguntungkan dan yang tidak menguntungkan selama periode akuntansi. Perubahan yang menguntungkan diklasifikasikan sebagai pendapatan atau keuntungan, dan perubahan yang tidak menguntungkan diklasifikasikan sebagai beban atau kerugian. Masalah utama pencatatan perubahan ini selama periode akuntansi meliputi masalah klasifikasi, saat pelaporan (timing) dan penilaian. Tiap perubahan yang menguntungkan dan tidak menguntungkan akan diuraikan secara terpisah dalam kaitannya dengan ketiga masalah ini. PENDAPATAN (REVENUE) Konsep pendapatan sulit dirumuskan karena pada umumnya pendapatan dikaitkan dengan prosedur akuntansi tertentu, jenis perubahan nilai tertentu, dan kaidah implisit atau yang diasumsikan untuk menetapkan kapan pendapatan harus dilaporkan. Pengukuran dan penetapan waktu pendapatan merupakan masalah yang menarik dalam teofi akuntansi, tetapi harus didekati dengan perkiraan tertentu. Masalah itu tidak boleh dibatasi oleh definisi pendapatan yang sempit. Sebaliknya, pendapatan harus didefinisikan secara terpisah dari masalah penilaian dan masalah waktu. Oleh karena itu, dalam bab ini pendapatan dibahas dari sudut pandang tertentu berikut: (1) sifat pendapatan, (2) apa yang harus termasuk dalam pendapatan, (3) pengukuran pendapatan, dan (4) saat pelaporan pendapatan (periode pencatatan pendapatan). Sifat pendapatan (nature of revenue) Pada umumnya konsep pendapatan belum dirumuskan dengan jelas dalam kepustakaan akuntansi, terutama karena pendapatan biasanya dibahas dalam kaitannya dengan pengukuran serta saat pencatatannya dan dalam konteks sistem tata buku berpasangan. Akan tetapi, sifat dasar kegiatan pendapatan dan atributnya yang relevan haruslah diselidiki sebelum masalah pengukuran dan saat pencatatan dipecahkan. Di dalam kepustakaan akuntansi ditemukan dua pendekatan terhadap konsep pendapatan. Satu di antaranya berfokus pada arus masuk aktiva sebagai hasil kegiatan operasi perusahaan dan yang lainnya berfokus pada penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan serta pe-nyalurannya kepada konsumen atau produsen lainnya. Jadi, pendapatan di-anggap sebagai arus masuk aktiva bersih atau sebagai arus ke luar barang dan jasa. Definisi pendapatan yang lebih tradisional adalah bahwa pendapatan merupakan arus masuk aktiva atau aktiva bersih ke dalam perusahaan sebagai hasil penjualan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

barang atau jasa. Inilah pendekatan FASB dalam Statement of Financial Accounting Concept No. 3 (SFAC 3). penetapan waktu Akan tetapi, rumusan ini mengacaukan pengukuran dan pengakuan pendapatan dengan proses pendapatan. Pada

umumnya, aktiva bertambah atau kewajiban dilikuidasi pada waktu penjualan ataupun penyerahan barang atau jasa, dan jumlah pendapatan secara tradisional ditentukan pengukuran aktiva yang diterima dalam unit moneter. Sebab itu, definisi ini sesuai dengan praktek tradisional, tetapi tidak memungkinkan perspektif yang lebih luas bagi proses pengukuran dan penetapan waktu pengakuan. Pendekatan arus masuk juga menuntut pernyataan yang cermat mengenai arus masuk mana yang harus di-anggap sebagai pendapatei dan mana yang tidak. Aktiva dapat bertambah dan kewajiban dapat berkurang lantaran berbagai sebab, antara lain pendapatan. Juga, jika pendapatan dirumuskan dengan cara ini, maka pengecualian haruslah dinyatakan dengan jelas. Misalnya, dalam beberapa kasus pendapatan dilaporkan sebelum penjualan dan sebelum arus masuk aktiva benar-benar terjadi. Pendapatan sering juga dirumuskan berdasarkan pengaruhnya terhadap modal pemegang saham. Perkiraan pendapatan mempunyai saldo kredit dan ditutup pada akhir periode akuntansi ke laba yang ditahan melalui perkiraan ikhtisar pendapatan dan beban/ikhtisar rugi-laba (revenue and expense account/income summary). Oleh karena itu, pendapatan menaikkan modal pemegang saham. Tetapi banyak pengimbang (beban) berkaitan langsung dengan pendapatan sebelum kita dapatkan perubahan bersih dalam modal pemegang saham. Juga, ada beberapa alasan meningkatnya modal pemegang saham bukan karena pendapatan. Definisi ini juga memiliki kelemahan karena menghubungkan pendapatan pada sistem tata buku berpasangan, dan bukan pada sifat dasarnya. Konsep dasar pendapatan adalah bahwa pendapatan merupakan proses arus, yaitu penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan selama jarak waktu tertentu. Paton dan Littleton menamakannya produk perusahaan. Perhatikan bahwa definisi ini tidak menentukan jumlah ataupun saat pengakuan pendapatan, tetapi bersikap netral terhadap aspek-aspek ini. Pada umumnya, pendapatan dinyatakan dalam satuan moneter, walaupun pengukuran pendapatan menurut konsep ini terbuka untuk dibahas tanpa mengubah sifat pos yang sedang diukur.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

Pertemuan XI (Ekuitas)
SIFAT KEKAYAAN (EKUITAS) PEMILIK Setiap aktiva dan hutang dari suatu badan usaha bisnis dapat didefinisikan dan diukur secara independen dari berbagai unsur dalam persamaan akuntansi. Tidak demikian halnya dengan kekayaan (ekuitas) pemegang saham (yang juga biasa dikenal sebagai pemilikan/proprietorship atau kekayaan/ekuitas pemganj^saharn_jalam suatu korporasi). Pada umumnya, tidak ada dalih yang menyatakan~bahwa kekayaankekayaan yang disajikan dalam neraca ini menunjukkan nilai pasar berjalan ataupun nilai subyektif dan badan usaha bagi para pemiliknya. Jumlah total yang disajikan dalam laporan adalah hasil dari metode yang dipergunakan dalam mengukur aktiva dan hutang ekuitas dan dari prosedur akuntansi struktural yang tradisional. Karena total nilai perusahaan bagi para pemiliknya tidak dapat diukur berdasarkan penilaian aktiva dan hutang yang spesifik, maka jumlah yang dilaporkan dari pemilikan tidak dapat menunjukkan nilai berjalan hak-hak pemilik. Pemilikan atau ekuitas pemegang saham hendaknya ditinjau dari keseluruhan sumberdaya dengan sudut pandangan hak-hak pemilikan, ekuitas, atau pembatasan-pembatasan, tergantung pada konsep ekuitas yang dipergunakan, dan bukan meninjaunya dari hak-hak spesifik atas manfaatmanfaatnya di masa yang akan datang, seperti aktiva, atau berdasarkan kewajibankewajiban spesifik badan usaha, seperti misalnya hutang. Teori pemilikan (proprietary theory) Gagasan pemilikan (proprietorship) berawal dari suatu usaha untuk memasukkan logika ke dalam eksposisi tatabuku berpasangan. Dalam persamaan akuntansi A L = P,pemilik merupakan pusat kepentingan. Aktiva di-asumsikan dimiliki oleh pemilik, dan hutang merupakan kewajiban pemilik. Tetapi, Hatfield dalam pembahasannya mengenai konsep pemilikan memper-lakukan hutang sebagai aktiva negatif dan menetapkan bahwa modal dalam tata buku awal, menunjukkan kesejahteraan bersih (net wealth) dari para pernilik. Tanpa memperhatikan perlakuan hutang, pemilikan dianggap merupakan nilai bersih perusahaan bagi pemilik. Pada saat perusahaan didirikan, nilai ini akan sama dengan investasi pemilik. Selama usia badan usaha tersebut, jumlah ini sama dengan investasi asli dan tambahan investasi ditambah akumulasi laba bersih yang melampaui penarikan yang dilakukan oleh para pemilik (atau dikurangi rugi bersih dan penarikan-penarikan). Oleh karena itu, ia merupakan suatu konsep kesejahteraan (wealth concept).

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

Teori entitas (entity theory) Eksistensi suatu perusahaan yang terpisah dari kegiatan pribadi dan

kepentingan lainnya dari pemilik dan pemegang ekuitas lainnya diakui dalam semua konsep pemilikan dan ekuitas. Tetapi dalam teori entitas, suatu perusahaan di-anggap memiliki eksistensi, dan juga personalitas yang terpisah. Para pendiri dan pemilik tidak perlu diidentifikasikan dengan eksistensi perusahaan. Hubungan ini memperoleh dukungan legal dan institusional dalam bentuk korporasi (perseroan), meskipun juga bisa ditemukan dalam bentuk badan usaha lainnya, dan teori entitas dapat dikatakan sesungguhnya mendahului konsep korporasi. Eksistensi yang terpisah ini tidak hanya khusus untuk badan usaha bisnis, universitas, rumahsakit, pemerintahan, dan organisasi-organisasi lainnya memiliki kontinuitas eksistensi yang terpisah dari kehidupan pengorganisasiannya dan juga terpisah dari individu-individu yang secara langsung terkait dengan organisasi. Teori entitas didasarkan pada persamaan: A = L + SE atau Aktiva = Ekuitas (Hutang ditambah Kekayaan Pemegang Saham). Pos-pos pada sisi ka-nan persamaan tersebut kadangkala disebut hutang, tetapi mereka sesungguhnya adalah ekuitas dengan hak-hak yang berbeda. Perbedaan utama antara hutang dan kekayaan pemegang saham adalah dalam hal bahwa penilaian hak-hak dari kreditur tidak tergantung pada penilaian-penilaian lainnya jika perusahaan itu dalam keadaan solven (sehat), sementara hak-hak pemegang saham diukur atas dasar penilaian aktiva yang pada mulanya diinvestasikan ditambah penilaian laba yang diinvestasikan kembali dan revaluasi yang dilakukan kemu-dian. Akan tetapi hak pemegang saham untuk menerima dividen dan bagian dalam aktiva bersih pada saat likuidasi merupakan hak-hak sebagai pemegang ekuitas, dan bukan sebagai pemilik suatu aktiva tertentu. Teori ekuitas residual (residual equity theory) Paton menyebut ekuitas residual sebagai salah satu jenis ekuitas menurut teori entitas. Dalam teori entitas, pemegang saham memiliki suatu ekuitas (kekayaan) dalam perusahaan seperti pemegang ekuitas lainnya, tetapi bukan pemilik. Tetapi, Paton menekankan hubungan khusus pemegang ekuitas residual dengan pekerjaan akuntan. 7 Perubahan-perubahan dalam penilaian aktiva, perubahan-perubahan dalam laba dan laba yang ditahan, serta perubah-an-perubahan dalam kepentingan pemegang ekuitas lainnya semuanya ter-cermin dalam ekuitas residual pemegang saham biasa. Tetapi

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

meskipun ekuitas kreditur, pemegang saham preferen, dan pemegang saham biasa harus di-klasifikasikan secara terpisah, menurut teori entitas semuanya merupakan ekuitas. Pandangan ekuitas residual adalah suatu konsep yang terletak antara teori pemilikan (proprietary theory) dan teori entitas (entity theory). Dalam pandangan ini, persamaan akuntansi akan menjadi: Aktiva Ekuitas spesifik = Ekuitas residual. Ekuitas spesifik meliputi tuntutan kreditur dan ekuitas pemegang saham preferen. Tetapi, dalam kasus-kasus tertentu di mana kerugi-an-kerugian terlalu besar atau dalam pelaksanaan kebangkrutan, ekuitas pemegang saham biasa akan lenyap dan pemegang saham preferen atau pemegang obligasi bisa menjadi pemegang ekuitas residual. Tujuan pendekatan ekuitas residuJ adalah menyajikan informasi yang lebih baik bagi pemegang saham biasa untuk mengambil keputusan investasi. Dalam suatu korporasi dengan kontinuitas yang tidak terbatas, nilai berjalan saham biasa banyak tergantung pada taksiran dividen di masa mendatang. Se-dangkan dividen di masa mendatang bergantung pada taksiran total penerima-an dikurangi kewajiban kontraktual yang spesifik, pembayaran kepada pemegang ekuitas spesifik dan jumlah yang diperlukan untuk reinvestasi. Tren dalam nilai-nilai investasi juga dapat diukur sebagian dengan memperhatikan tren dalam nilai ekuitas residual yang diukur menurut basis nilai berjalan. Teori badan usaha (enterprise theory) Teori badan usaha mengenai perusahaan merupakan suatu konsep yang lebih luas daripada teori entitas, tetapi kurang jelas didefinisikan ruang lingkup dan aplikasinya. Dalam teori entitas perusahaan dianggap merupakan unit eko-nomi yang terpisah yang beroperasi terutama untuk memberi manfaat bagi pemegang ekuitas, sementara dalam teori badan usaha, korporasi merupakan suatu institusi sosial yang beroperasi untuk memberi manfaat bagi banyak kelompok yang berkepentingan. Dalam bentuknyayang paling luas, selain pemegang saham dan kreditur, kelompok ini meliputi karyawan, pelanggan (customers), pemerintah sebagai-suatu otoritas pefpajakan dan sebagai suatu instansi yang berwenang, dan masyarakat umum. Jadi bentuk luas teori badan usaha bisa dianggap sebagai teori sosial akuntansi. Konsep mengenai perusahaan ini paling dapat diterapkan untuk korporasi modern yang besar yang berkewajiban untuk memperhatikan pengaruh ke-giatannya pada

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

berbagai kelompok dan masyarakat secara keseluruhan. Di pandang dari segi akuntansi, ini berarti bahwa tanggungjawab polaporan yang layak tidak hanya untuk pemegang saham dan kreditur saja, akan tetapi juga untuk banyak kelompok lainnya dan unluk masyarakat umum. Korporasi yang besar tidak dapat beroperasi semata-mata hanya untuk kepentingan pemegang saham, dan tak dapat diasumsikan bahwa persaingan akan me-lindungi kepentingan kclompok-kelompok lainnya. Para karyawan, khususnya melalui serikat-serikat buruh, mempergunakan data akuntansi untuk mengajukan tuntutan-tuntutan mereka atas kenaikan upah atau kenaikan tunjangan lainnya. Para pelanggan dan instansi berwenang lainnya berkepentingan untuk mengetahui kewajiban perubahan harga, dan pemerintah berkepentingan untuk mengetahui pengaruh perubahan harga pada keadaan ekonomi pada umumnya. Pertemuan XII (Laba) Pengukuran laba mengandung masalah konseptual dan praktis yang besar, maka beberapa saran pemecahan telah diajukan. Lima pendapat utama berikut mungkin merupakan saran-saran yang representatif mengenai masalah pengukuran laba : 1. Banyak pembahasan sekarang ini berpusat pada usaha untuk memperbaiki pelaporan apa yang disebut laba akuntansi dengan menitikberatkan pada data transaksi dan proses akrual. 1. Pembahasan lainnya mendukung konsep laba tunggal operasional yang dapat digunakan sebagai indikasi kemampuan perusahaan untuk mem-bay ar dividen. 2. Salah satu keyakinan adalah bahwa kemajuan di masa yang akan datang dalam teori akuntansi tergantung pada persetujuan atas konsep-laba tunggal yang lebih sesuai dengan apa yang dimaksud sebagai laba ekonomi. 3. Beberapa penulis mengemukakan ide bahwa beberapa konsep laba harus diukur dan dilaporkan untuk tujuan yang berbeda. 4. Akhir-akhir ini, beberapa saran telah diajukan untuk menegaskan bahwa semua pengukuran laba kurang baik dan dengan demikian harus diganti dengan ukuran lainnya dari kegiatan ekonomi. Tujuan utama pelaporan laba adalah untuk memberikan infor-masi yang berguna bagi mereka yang paling berkepentingan dengan laporan keuangan. Tetapi tujuan yang lebih khusus hams dirinci untuk lebih mema-hami pelaporan laba. Salah satu tujuan dasar yang dianggap paling penting bagi semua pemakai laporan keuangan adalah untuk membedakan antara modal yang diinvestasikan dan laba antara stok dan arus

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

keuangan sebagai bagian dari proses akuntansi deskriptif. Tujuan yang lebih khusus meliputi penggunaan laba sebagai pengukuran efisiensi manajemen, penggunaan angka laba historis untuk membantu meramalkan keadaan usaha dan distribusi divi-den di masa yang akan datang, dan penggunaan laba sebagai pengukuran ke-berhasilan serta sebagai pedoman pengambilan keputusan manajerial di masa yang akan datang. Setiap tujuan ini dibahas secara mendalam dalam alinea berikut. Tujuan lainnya yang tidak dibahas meliputi penggunaan laba sebagai dasar pengenaan pajak, sebagai alat pengawasan perusahaan yang berhubungan dengan kepentingan umum, dan penggunaan laba sebagai sarana bagi para ekonom untuk menge'-aluasi alokasi sumber daya. Pertemuan XIII (Biaya) Metode akuntansi untuk perpajakan, untuk lease jangka panjang oleh lessee, dan untuk biaya pensiun memiliki beberapa permasalahan yang sama, meski-pun masingmasing membentuk permasalahan dan tantangan baru bagi profesi akuntansi dan teori akuntansi.1 Permasalahan yang lazim meliputi sifat dan pelaporan aktiva dan hutang yang bersangkutan serta penentuan waktu (timing) biaya atau pengaruh pendapatan lainnya. Pada masing-masing kasus timbul pertanyaan mengenai sifat hutang. Apakah suatu hutang bisa timbul jika kreditur tidak mengetahui hutang tersebut? Apakah kewajiban harus dilaporkan jika kewajiban-kewajiban itu tidak mungkin dibayar secara kelompok? Mengenai masalah saat biaya, timbul pertanyaan mengenai apakah tekanan harus diberikan pada arus kas, dengan mengasumsikannya atau mengkaitkannya secara sebarang dengan pendapatan, ataukah pada perubahan-perubahan dalam penilaian aktiva serta hutang. Laporan keuangan atas dana atau rencana pensiun Tujuan laporan keuangan mengenai dana atau rencana pensiun hendaknya bisa memberi penjelasan kepada penerima manfaat rencana pensiun tersebut mengenai informasi yang cukup untuk mengevaluasi kelayakan rencana dan memberi penjelasan bagi para investor mengenai informasi kebutuhan kas di masa yang akan datang dari rencana pensiun itu. Saat dan jumlah kebutuhan kas merupakan hal yang penting untuk memungkinkan dilakukannya prediksi pembayaran dividen di masa yang akan datang. Karena itu, laporan keuangan mengenai rencana pensiun tersebut harus dimasukkan ke

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI

dalam laporan keuangan dasar perusahaan atau dilaporkan dalam catatan penjelasan atau skedul-skedul laporan keuangan ini. Topik pengungkapan, yang mencakup hampir seluruh bidang pelaporan keuangan, ternyata cukup luas dan karena itu ditempatkan sebagai bab terakhir yang kiranya cocok untuk sebuah buku mengenai teori akuntansi. Salah satu tujuan pelaporan keuangan adalah untuk memberikan informasi guna pengambilan keputusan. Hal ini memerlukan suatu pengungkapan yang layak mengenai data keuangan dan informasi rplevan lainnya. Akan tetapi pertanyaan utamanya adalah: (1) Untuk siapa informasi itu diungkapkan? (2) Apa tujuan informasi tersebut? dan (3) Berapa banyak informasi itu harus diungkapkan? Pertanyaan mengenai mengapa dan kapan informasi itu harus diungkapkan tentu saja juga penting, karena metode dan saat pengungkapan menetapkan kemanfaatan informasi tersebut, tetapi masalah mengenai metodenya kurang begitu penting dibandingkan dengan pertanyaan mengenai pilih-an dan saat pengungkapan keuangan. Pertemuan XIV (Pengungkapan & Sarana Interpretif) Ikhtisar metode-metode pengungkapan Pengungkapan (disclosure) merupakan suatu istilah yang relatif. akan tetapi merupakan tujuan dasar laporan keuangan setelah menentukan untuk siapa dan untuk tujuan apa informasi keuangan itu disajikan. Sesuai dengan postulat-postulat dasar akuntansi, data keuangan yang paling relevan harus di-ikhtisarkan dalam bentuk kuantitatif dan disajikan sedalam dan sejauh mungkin dalam laporan yang formal dan selanjutnya dalam catatan kaki, skedul pelengkap, dan ikhtisar pelengkap. Informasi deskriptif hanya perlu terlihat dalam batang tubuh laporan dalam bentuk yang ringkas. Uraian yang lebih terinci harus tampak dalam catatan kaki atau tempat lain dalam laporan keuangan.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Ignatius Sarto Budiman,SE, MM.

TEORI AKUTANSI