Anda di halaman 1dari 41

BAB II MESIN PENDINGIN 2.

1 Pendahuluan Di jaman yang modern saat ini, pemakaian mesin-mesin pendingin seperti AC, lemari es, dan lain sebagainya mengalami peningkatan yang signifikan. Sebagaimana fungsinya yang sangat penting, penggunaan mesin pendingin juga perlu memperhatikan aspek-aspek dari mesin pendingin tersebut. Sehingga tidak menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Saat mendesain sebuah sistem pendingin, maka sangat penting untuk memahami bagaimana siklus pendinginan bekerja dan efek-efek dari komponen yang tidak efisien pada semua performa. Faktor penting lainnya saat mendesain sistem pendingin adalah fluida kerja. Karena beberapa fluida kerja(refrigeran) dapat merusak lapisan ozon. Oleh sebab itu, sebagai engineer, pemahaman mesin pendingin sangat diperlukan. 2.2 Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum ini adalah : 1. 2. 3. Mengetahui karakteristik dan prinsip kerja dari sistem pendingin siklus kompresi uap. Mengetahui bagian-bagian dari sistem pendingin dan dapat mengoperasikan sistem pendingin. Mengetahui parameter-parameter unjuk kerja dari mesin pendingin.

2.3 Dasar Teori 2.3.1 Pengetahuan Umum Mesin Pendingin Refrigeration didefinisikan sebagai transfer panas dari daerah dengan temperatur yang lebih rendah ke daerah dengan temperatur yang tinggi. Refrigerasi dimaksudkan untuk menghasilkkan operasi pendinginan menggunakan siklus kompresi uap. Beberapa contoh pendinginan antara lain :

pompa kalor, pendingin, AC mobil, dan AC ruangan. Semuanya itu dimaksudkan untuk mengurangi temperatur dari lingkungan tertutup. Siklus kompresi uap ideal memakai refrigerant sebagai fluida kerja untuk menyerap dan menolak panas. Transfer energi mengikuti siklus kompresi uap untuk mengurangi atau mendinginkan lingkungan tertutup. Siklus kompresi uap diasumsikan bahwa sistem adalah seluruhnya mengacu pada teori thermodinamika, maka mengabaikan setiap kerugian. (Sumber :Ir.Henry Nasution, Teknik Pendingin) Dimana pada hakekatnya siklus refrijerasi dan pompa kalor adalah sama, hanya dimana berbeda pada fungsinya, apakah untuk membuang kalor dari reservoir dingin (siklus refrijerasi) atau untuk menyalurkan energi ke reservoir panas (siklus pompa kalor).
(Michael J. Moran , Howard N. Saphiro.2003.Termodinamika Teknik Edisi ke4.Jakarta;Erlangga)

2.3.2 Klasifikasi Mesin Pendingin Sistem pengkondisian udara dapat dibedakan atau diklasifikasikan atas bentuk dan tipenya. Berdasarkan bentuk adalah ekspansi langsung, sistem air penuh, sistem udara penuh dan sistem air-udara. Sedangkan berdasarkan tipe yaitu tipe jendela, terpisah, unit paket sentral, unit koil kipas udara dan unit induksi. 1. Klasifikasi Berdasarkan Bentuk a. Ekspansi Langsung Pada sistem ekspansi langsung, komponen-komponen utamanya diletakkan pada ruangan yang dikondisikan. Udara yang dikondisikan, didinginkan oleh unit pendingin melalui kipas peniup, kemudian dihembuskan kedalam ruangan.

Gb.2.1 Ekspansi langsung b. Sistem Air Penuh (All Water System) Pada sistem air penuh, udara dingin dialirkan melalui unit koil kipas udara, dalam hal ini udara sebagai infiltran dimasukkan melalui celahcelah pintu atau jendela, atau udara luar yang terhisap langsung melaui lubang masuk pada dinding disebalah belakang unit koil kipas udara tersebut. Hal ini akan menyebabkan ventilasi kurang baik, untuk mengatasi kesulitan atau kekurangan tersebut udara yang dibutuhkan untuk ventilasi dimasukkan kedalam ruangan melalui saluran khusus. c. Sistem Udara Penuh (All-Air System) Sistem penyegaran udara sentral adalah sistem yang paling banyak dipergunakan. Pada sistem ini udara dari ruangan yang akan dikondisikan, didinginkan oleh udara pendingin yang dihasilkan pada suatu tempat khusus mesin pendingin, kemudian setelah itu dialirkan kedalam ruangan yang akan dikondisikan.

Gb.2.2 Sistem Udara Penuh

d. Sistem Air-Udara (Air - Water System) Pada sistem air-udara ini, air dingin (pada proses pendinginan) atau air panas (pada proses pamanasan) dialirkan kedalam unit tersebut, sedangkan udara ruangan dialirkan melalui unit tersebut sehingga menjadi dingin atau panas.

Gb.2.3 sistem air-udara Udara yang didinginkan dan dikeringkan atau udara luar yang telah dipanaskan dan dilembabkan dialirkan dari mesin pendingin ke ruangan yang akan dikondisikan, selanjutnya udara tersebut disirkulasi didalam ruangan. 2. Klasifikasi Berdasarkan Tipe : a. Tipe Jendela (Window Unit) Pada tipe ini seluruh komponen terpasang pada satu unit, sehingga perletakkan tipe ini sebagian masuk kedalam ruangan dan sebagian lagi berada di luar ruangan.

Gb. 2.4 tipe jendela Pengaturan menjalankan dan temperatur ruangan kerja dapat dilakukan dengan

menghentikan

kompresor,

berdasarkan

temperatur masuk. Sedangkan kekurangannya dapat ditinjau dari segi distribusi udara, penyaringan debu, ventilasi, pengaturan temperatur, dan pengaturan kelembaban udara serta peredam suara kurang baik terutama pada musim pancaroba. b. Tipe Terpisah Maksud dari tipe terpisah ini adalah, unit mesin pendingan yang komponen utamanya dipisahkan. Sebagian berada di dalam ruangan (evaporator, kipas udara dan alat kontrol) serta lainnya diluar ruangan seperti kompresor, kondensor dan motor penggerak. Sedangkan katup ekspansi kadang-kadang diletakkan di luar ruangan tergantung pada kondisi yang diinginkan.

Gb. 2.5 tipe terpisah c. Unit Paket Sentral Unit paket sentral merupakan dasar dari kebanyakan jenis penyegar udara. Pada gambar.2.6 diperlihatkan dua jenis unit paket sentral, yaitu jenis vertikal dan jenis horizontal.

Gb.2.6 Unit paket Sentral d. Unit Koil Kipas Udara Jenis ini dipergunakan di dalam ruangan, yang komponennya terdiri dari kipas udara, motor listrik, koil udara dan saringan udara. Komponen tersebut diletakkan dalam satu unit, seperti pada gambar 2.7. Udara yang dimasukkan kedalam ruangan terlebih dahulu harus diatur temperatur dan kelembabannya, kemudian baru dimasukkan kedalam ruangan yang akan dikondisikan.

Gb. 2.7 Unit Koil Kipas Udara e. Unit Induksi Pada pemakaiannya unit induksi sama halnya dengan unit koil kipas udara, yaitu didalam ruangan. Unit ini terdiri dari kotak udara, nosel, koil udara sekunder dan penutup. Pada unit induksi, udara segar dimasukkan kedalam kotak udara primer, kemudian dialirkan melalui nosel. Sehingga udara masuk dengan kecepatan tinggi kedalam ruangan pencampur. Dengan pengaruh induksi dari pancaran udara tersebut, udara ruangan terhisap dan masuk melalui koil udara sekunder (udara ruangan) sehingga terjadi proses pendinginan atau pemanasan. Kemudian dicampur dengan udara primer dan masuk kedalam ruangan yang dikondisikan.
(Ir.Henry Nasution, Teknik Pendingin)

2.3.3

Bagian-bagian Sistem Pendingin Siklus Kompresi Uap Adapun bagian-bagian mesin pendingin yang memiliki fungsi yang berbeda, namun bekerja dengan saling mendukung untuk menghasilkan suatu proses atau siklus pendinginan. 1. Kompresor Kompresor adalah jantung dari sistem kompresi uap. Empat jenis kompresor refrigerasi yang paling umum adalah kompresor torak (resiprocating compressor), sekrup (screw), sentrifugal, dan sudu (vane).

Kompresor torak terdiri atas sebuah piston yang bergerak ke depan dan ke belakang di dalam sebuah silinder yang mempunyai katupkatup hisap dan katup buang (suction valve and discharge valve) sehingga berlangsung proses pemompaan. Kompresor sekrup, sentrifugal, dan sudu, semuanya menggunakan elemen-elemen yang berputar, kompresor sekrup dan sudu adalah mesin-mesin yang bergerak positif (positive-displacement), sedangkan kompresor sentrifugal bekerja dengan memanfatkan gaya sentrifugal.

(a)

(b)

Gb. 2.8 (a) Azas kerja kompresor sudu luncur dan (b) kompresor torak (Sumber: Stoecker,drs,Refrijerasi dan pengkondisian udara ,PT.Gelora Aksara Pratama,1996) 2. Kondensor Kondensor adalah bagian mesin pendingin yang berfungsi untuk mengkondensasikan atau mengembunkan refrigeran dari kompresor yang berupa uap jenuh, sehingga menjadi cair jenuh dengan membuang kalor refrigeran yang berupa uap jenuh tadi. Untuk kondensor, fluida yang bias digunakan sebagai penyerap kalor buangan adalah air atau udara. Jenis lain kondensor berpendingin air memiliki pipa-pipa yang dapat diberihkan. Jika digunakan kondensor berpendingin air, air dialirkan ke menara pendingin untuk penukaran kalor yang paling optimal ke atmosfir.

Untuk kondensor berpendingin udara, menggunakan kipas untuk membantu dalam melepas kalor. Beberapa tehun lalu, kondensor berpendingin udara hanya digunakan untuk kapasita di bawah 100 KW, namun sekarang ini kondensor dari jenis tersebut telah diproduksi dengan kapasitas ratusan kilowatt. Sedang kondensor berpendingin air dipilih menggantikan kondensor berpendingin udara jika jarak antara kompresor dan tempat pembuangan kalor terlalu jauh.

(a)

(b) (Sumber: iben-ibens.blogspot)

Gb. 2.9 (a) Kondensor berpendingin air (b) Kondensor berpendingin udara 3. Evaporator Evaporator merupakan bagian mesin pendingin yang berfungsi untuk menguapkan fluida dari katup ekspansi. Untuk menguapkan atau mendidihkan refrigeran, evaporator menyerap panas dari lingkungan atau ruangan yang hendak didinginkan. Untuk evaporator jenis tebung dan pipa (shell and tube, dimana refrigeran mendidih di bagian dalam pipa-pipa, cairan yang akan didinginkan alirannya di dalam tabung dengan melintasi bundel pipa-pipa tersebut. Cairan diarahkan oleh plat pengatur yang disebut bafel (baffles), sehingga cairan akan melintasi bundel pipa berulangkali, jadi tidak melintasi jarak yang pendek dari bagian masuk langsung ke bagian luar. Pada kebanyakan evaporator, refrigeran mendidih di dalam pipa-pipa dan mendinginkan fluida yang lewat di luar pipa tersebut. Evaporator yang mendidihkan refrigeran di dalam pipa disebut

evaporator ekspansi langsung (direct expantion evaporator). Evaporator memiliki sirip-sirip untuk menaikkan hantaran (konduktansi) pada sisi refrigeran. Evaporator ekspansi langsung yang digunakan untuk mengkondisikan udara biasanya disuplai oleh katup ekspansi yang mengatur aliran cairan sedikian sehingga uap refrigeran menginggalkan evaporator dalam keadaan sedikit panas-lanjut. Konsep jenis lainnya adalah evaporator dengan pendauran ulang cairan (liquid recirculation) atau evaporator cairan berlebih (liquid over-feed). Di sini cairan pada tekanan dan suhu rendah dipompa ke dalam evaporatr. Sebagian cairan mendidih di dalam evaporator dan sisanya meluap ke saluran keluar. Cairan yang keluar dari evaporator dipisahkan, dan uapnya dialirkan menuju kompresor. Sistem refrigerasi industri suhu rendah biasanya menggunakan evaporator jenis ini, karena memiliki keuntungan membasahi semua permukaan dalam evporator dan menjaga koefisien perpindahan kalor yang tinggi.

(a)

(b)

Gb. 2.10

(a) Evaporator pendingin air (b) Evaporator pendingin udara

4. Alat Ekspansi Elemen dasar yang terakhir dalam daur refrigerasi uap, setelah kompresor, kondensor, dan evaporator adalah alat ekspansi. Alat ekspansi memiliki dua kegunaan, yaitu untuk menurunkan tekanan refrigeran cair, dan mengatur aliran refrigeran ke evaporator. Kerja alat-alat ekspansi dari jenis umum, yaitu : pipa kapiler,katup ekspansi berpengendalian lanjut panas (superheated controlled expansion valve), katup apung (floating valve), dan katup ekspansi tekanan konstan (constan-pressure expansion valve). a. Pipa kapiler hampir melayani semua sistem refrigerasi yang berukuran kecil dan penggunaannya meluas hingga pada kapasitas refrigerasi 10 KW. Pipa kapiler umumnya mempunyai ukuran panjang 1 hingga 6 m, dengan diameter dalam 0,5 hingga 2 mm. Cairan refrigeran memasuki pipa kapiler tersebut dan mengalir sehingga tekanannya berkurang disebabkan oleh gesekan dan percepatan refrigeran. Sejumlah cairan berubah menjadi uap ketika refrigeran mengalir melalui pipa ini.

Gb. 2.11 Katup ekspansi

b. Katup ekspansi Katup ekspansi merupakan alat ekspansi yang berfungsi menurunkan tekanan refrigeran pada sistem pendingin skala sedang. Perbedaan Pipa kapiler Alat untuk menurunkan tekanan Digunakan untuk Katup ekspansi Alat untuk menurunkan tekanan Digunakan untuk mengatur

Persamaan

mengatur

aliran refrigeran ke evaporator Untuk melayani sistem refrigerasi skala kecil Tidak dapat diatur terhadap

aliran refrigeran ke avaporator Untuk melayani sistem refrigerasi skala sedang Dapat diatur untuk kondisi yang berubah-ubah Bentuk kompleks, mahal Terdapat beberapa bagian yang bergerak

kondisi yang berubah-ubah Bentuk sederhana,murah Tidak ada bagian yang bergerak

Tabel 2.1 perbedaan katup ekspansi dan pipa kapiler (Sumber: Stoecker,drs,Refrijerasi dan pengkondisian udara ,PT.Gelora Aksara Pratama,1996) 2.3.4 Prinsip Kerja Mesin Pendingin Siklus Kompresi Uap Secara garis besar sistem pendingin siklus kompresi uap merupakan siklus yang terbanyak yang digunakan dalam siklus refrigerasi. Proses yang terjadi antara lain Proses kompresi (1 ke 2), Pengembunan (2 ke 3), Ekspansi (3 ke 4), dan Penguapan (4 ke 1). Secara lengkap dapat dijelaskan dalam gambar sebagai berikut :

Gambar 2.12 Skema kerja kompresi uap sistem pendingin Kompresi menghisap uap refrigeran dari sisi keluar evaporator, tekanan dan temperatur diusahakan tetap rendah agar refrigeran senantiasa dalam fase gas (uap). Didalam kompresor, uap refrigeran ditekan (dikompresi) sehingga tekanan dan temperatur tinggi. Energi yang diperlukan dalam proses kompresi diberikan oleh motor listrik atau penggerak mula lainnya. Jadi, dalam proses kompresi energi diberikan kepada uap refrigeran. Pada waktu uap refrigeran dihisap masuk ke dalam kompresor, temperatur masih rendah akan tetapi selama proses kompresi berlangsung maka temperatur dan tekanan akan naik. Setelah proses kompresi, uap refrigeran (fluida kerja) akan mengalami proses kondensasi pada kondensor. Uap refrigeran yang bertekanan dan bertemperatur tinggi pada akhir kompresi dapat dicairkan dengan media pendinginnya air atau udara. Dengan kata lain, uap refrigeran akan memberikan panasnya (kalor laten pengembunan) kepada air pendingin atau udara pendingin melalui dinding kondensor. Selama refrigeran mengalami perubahan fase gas (uap) ke fase cair, tekanan dan temperatur konstan, oleh karena itu dalam proses ini refrigeran mengeluarkan energi dalam bentuk panas. Untuk menurunkan refrigeran cair dari kondensor dipergunakan katup atau pipa kapiler. Melalui katup ekspansi, refrigeran mengalami proses evaporasi, yaitu proses penguapan cairan refrigeran pada tekanan dan temperatur rendah yang terjadi pada evaporator. Selama proses evaporasi

refrigeran memerlukan atau mengambil energi dalam bentuk panas dari lingkungan atau daerah sekelilingnya, sehingga temperatur sekeliling akan turun dan terjadilah proses pendinginan.Dan kemudian refrigeran akan kembali memasuki kompresor
(Ir.Henry Nasution, Teknik Pendingin)

2.3.5

Modifikasi Mesin Pendingin Modifikasi mesin pendingin ada bermacam-macam, menurut ukuran dan kapasitasnya. Ada beberapa sistem refrigerasi yang digunakan untuk memenuhi pendinginan. Sistem refrigerasi Cascade dan absorsi digunakan untuk aplikasi pendinginan perindustrian. a) Refrigerasi dengan Intercooler Intercooling yang ditempatkan diantara dua tingkatan kompresi akan menurunkan kerja kompresi per kilogram uap. Intercooling dalam sistem refrigerasi dapat dengan menggunakan zat cair atau dengan refrigeran. Lebih menguntungkan dengan menggunakan refrigeran karena akan lebih dingin dibadingkan dengan air.

Gambar 2.13. refrigerasi dengan Intercooling

b) Siklus refrigerasi penyerapan Digunakan sebagai metode penyerapan energi panas dengan penggunaan 2 fluida sebagai media kerja. Ammonia/air, lithium, bromida/air, dan ammonia/sodium thiocyanate utamnya digunakan untuk sistem refrigerasi penyerapan. Pembatasan dari sistem ini adalah operasi temperatur. Karena banyak aplikasi refrigerasi komersial dan industri terjadi pada temperatur di bawah 32oF, maka memerlukan input temperatur sedikitnya 230oF2. Sistem absorbsi terdiri dari komponen-komponen yang sama sebagai sebuah siklus kompresi uap yang memiliki perlengkapan penyerapan yang terdiri dari rectifier, absorber, generator, dam pompa. Dasar pemikiran dari sistem absorbsi adalah transfer energi panas dari medium 1 ke medium lainnya. c) Sistem refrigerasi cascade Sistem refrigerasi cascade merupakan gabungan dari beberapa siklus refrigerasi. Sistem ini memungkinkan karakteristik saturasi yang mengijinkan kondensasi pada temperatur yang disaratkan tanpa kelebihan tekanan pada kondensor.

Gb.2.14 Refrigerasi cascade

Sistem refrigerasi intercooler, sistem refrigerasi Cascade, dan sistem absorbsi semuanya beroperasi pada teori siklus yang ada, semuanya beroperasi dengan tujuan yang sama.
(Michael J. Moran , Howard N. Saphiro.2003.Termodinamika Teknik Edisi ke4.Jakarta;Erlangga)

2.3.6

Refrigeran dan Karakteristiknya Refrigeran adalah suatu medium yang fungsinya sebagai pengangkut panas, sehingga panas tersebut diserap dari evaporator ( temperatur rendah ) dan dilepaskan ke kondensor ( temperatur tinggi ). Pemilihan refrigeran pada mesin pendingin merupakan faktor yang menentukan karena dapat mempengaruhi efisiensi dari mesin itu sendiri. Unit-unit refrigerasi banyak dipergunakan untuk daerah temperatur yang luas, dari unit untuk keperluan pendinginan udara sampai refrigerasi. Untuk unit refrigerasi tersebut diatas, hendaknya dapat dipilih jenis refrigeran yang paling sesuai dengan jenis kompresor yang dipakai dan karakteristik termodinamikanya yang antara lain meliputi : a) Tekanan penguapan harus cukup tinggi. Sebaiknya refrigeran memiliki temperatur pada tekanan yang lebih tinggi, sehingga dapat dihindari kemungkinan terjadinya vakum pada evaporator dan turunnya efisiensi volumetrik karena naiknya perbandingan kompresi. b) Tekanan pengembunan yang tidak terlampau tinggi. Apabila tekanan pengembunannya terlalu rendah, maka perbandingan kompresinya menjadi lebih rendah, sehingga penurunan prestasi kondensor dapat dihindarkan, selain itu dengan tekanan kerja yang lebih rendah, mesin dapat bekerja lebih aman karena kemungkinan terjadinya kebocoran, kerusakan, ledakan dan sebagainya menjadi lebih kecil. c) Kalor laten penguapan harus tinggi.

Refrigeran yang mempunyai kalor laten penguapan yang tinggi lebih menguntungkan karena untuk kapasitas refrigerasi yang sama, jumlah refrigeran yang bersirkulasi menjadi lebih kecil. d) Volume spesifik ( terutama dalam fasa gas ) yang cukup kecil. Refrigeran dengan kalor laten penguapan yang besar dan volume spesifik gas yang kecil ( berat jenis yang besar ) akan memungkinkan penggunaan kompresor dengan volume langkah torak yang lebih kecil. Dengan demikian untuk kapasitas refrigerasi yang sama ukuran unit refrigerasi yang bersangkutan menjadi lebih kecil. Namun, untuk unit pendingin air sentrifugal yang kecil lebih dikehendaki refrigeran dengan volume spesifik yang agak besar. Hal tersebut diperlukan untuk menaikkan jumlah gas yang bersirkulasi, sehingga dapat mencegah menurunnya efisiensi kompresor sentrifugal. e) Koefisien prestasi harus tinggi. Dari segi karakteristik termodinamika dari refrigeran, koefisien prestasi merupakan parameter yang terpenting untuk menentukan biaya operasi. f) Konduktivitas termal yang tinggi. Konduktivitas termal sangat penting untuk menentukan karakteristik perpindahan kalor. g) Viskositas yang rendah dalam fasa cair maupun fasa gas. Dengan turunnya tahanan aliran refrigeran dalam pipa, kerugian tekanannya akan berkurang. h) Konstanta dielektrika dari refrigeran yang kecil, tahanan listrik yang besar, serta tidak menyebabkan korosi pada material isolator listrik. Klasifikasi utama dari refrigeran adalah : a) Hydroflurocarbons (HFCs) Hanya berisi atom hydrogen, fluorine dan karbon, tidak menyebabkan lapisan ozon menipis. Kelompok HFCs adalah : 134a, R32, R125, dan R245ca. b) HFCs campuran azeotropic atau HFCs azeotropic

Azeotropic adalah uatu zat campuran multi komponen dari refrigeran yang mudah menguap dan mengembun dan tidak berubah komposisi volumetriknya atau temperatur jenuh jika zat tersebut menguap atau mengembun pada tekanan konstan. FCs azeotropic dapat bercampur dengan refrigeran HFCs. ASHRAE menetapkan angka antara 500 dan 599 untuk azeotropic. HFCs azeotropic R507, campuran dari R125/R143, biasa dipergunakan untuk refrigeran pada sistem pengkondisian udara kompresi uap temperatur rendah. c) HFCs hampir berupa azeotropic Adalah campuran refrigeran yang karakteristiknya hampir berupa azeotropic. Sebab perubahan komposisi volumetrik atau temperatur jenuh cukup kecil untuk mendekati azeotropic, seperti yang demikian, pada temperatur 1 2 0F, dan itu dinamakan HFCs mendekati azeotropic. ASHRAE menetapkan angka antara 400 dan 499 untuk eotropic. R404A (R125/R134a) dan R407B(R32/R125/R134a) adalah kelompok yang mendekati HFCs azeotropic. Refrigeran ini secara luas digunakan pada sistem pendingin kompresi uap. Zeotropic atau nonazeotropic, termasuk kedalamnya hampir berupa zeotropic, seharusnya menunjukkan perubahan komposisi pada perbedaan antara cairan dan fase uap, kebocoran atau kehilangan, perbedaan antara isi an sirkulasi. HFCs mendekati azeotropic memiliki gerakan yang lambat dari ada zeotropic. Titik pertengahan antara titik embun dan titik gelembung seringkali diambil sebagai campuran refrigeran selama temperatur penguapan dan pengembunan berlangsung. d) Hydrochlorofluorocarbons (HCFCs) dan Zeotropic HCFCs mengandung tom hydrogen, chlorine, fluorine, dan carbon dan tidak sepenuhnya alogeneted. HCFCs memiliki waktu yang lama untuk hidup di atmosfir selama hampir satu dasawarsa atau sepuluh tahun) sehingga dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon (ODP 0,02 0,1). R22, R123, R124 dan seterusnya adalah kelompok HCFCs. HCFCs secara umum dimana-mana selalu digunakan. HCFCs hampir berupa azeotropic dan HCFCs zeotropic adalah campuran dari HCFCs dengan

HFCs. Kelompok refrigeran ini penggunaannya dibatasi sampai tahun 2004. e) Campuran inorganic Campuran ini digunakan pada tahun 1931, seperti amonia R717, water R718 dan udara R729. Kelompok ini masih digunakan arena tidak mengakibatkan tipisnya lapisan ozon. Amoniak hanya digunakan ntuk keperluan industri saja karena sifat beracun dan mudah terbakar dilarang untuk digunakan secara umum. Campuran inorganic oleh ASHRAE ditetapkan dengan nomor 700 dan 799. f) Chlorofluorocarbons, Halon dan Azeotropic CFCS hanya memiliki kandungan atom chlorine, fluorine dan karbon. CFCS memiliki waktu yang lama untuk hidup di atmosfer dan menyebabkan tipisnya lapisan ozon(ODP 0,6-1). Kelompok refrigeran ini adalah R11, R12, R113, R114, R115 dan sejenisnya. Halon atau BFCS terdiri dari atom bromide, fluorine dan karbon. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah : R13B1 dan R12B1. jenis ini sangat tinggi untuk merusak dan mengakibatkan tipisnya lapisan ozon (ODP untuk R13B1 adalah 10). Sejak tahun 1995, R13B1 dipakai untuk sistem pengkondisian udara kompresi uap dengan temperatur yang sangat rendah.
(Ir.Henry Nasution, Teknik Pendingin)

2.3.7

Aplikasi Mesin Pendingin Sistem refrigerasi sudah diaplikasi di banyak bidang dan juga sudah

mengalami banyak sekali mengalami modifikasi untuk memenuhi kebutuhan refrigerasi yang tidak dapat aplikasi dengan siklus refrigerasi yang sederhana. Berikut adalah beberapa aplikasi mesin pendingin: a. Dalam Kehidupan Sehari-hari 1. Air Conditioner Untuk mendinginkan suhu udara ruangan tertutup, seperti ruangan dalam mobil, rumah, perkantoran, dan lain-lain.

Gb. 2.15 Berbagai jenis AC 2. Lapangan Es (Ice skating Rinks) Untuk bermain skat dan hoki tidak bisa bergantung penuh pada cuaca apalagi di negara yang tidak bermusim salju seperti Indonesia untuk membekukan air menjadi es. Maka di dalam lapangan skat dipasang pipa-pipa yang mengalirkan refrigeran atau brine (air garam) yang bersuhu rendah. Pipapipa tersebut ditutupi dengan pasir atau serbuk gergaji, diatasnya dituangkan air yang perlu dibekukan.

Gb. 2.16 ice skating rink (ref. www.about.com) b. Aplikasi Pada Jurnal 1. Aplikasi Embedded Internet pada Vending Machine menggunakan Microprocessor Rabbit RCM3200

Gb. 2.17 Bagan Proses kerja Vending machine Pengembangan model Vending Machine yang dilengkapi dengan koneksi Internet. Mesin dapat dimonitor secara jarak jauh melalu Internet untuk memantau hasil transaksi penjualan serta temperatur mesin pendingin. Sistem embedded vending machine terdiri dari 2 bagian, yaitu vending machine yang terhubung pada modul RabbitCore yang terkoneksi dengan jaringan Internet dan computer administrator/kendali sebagai pengendali atau pemonitor. Software yang digunakan pada modul RabbitCore adalah Dynamic C sedangkan pada komputer kendali digunakan Apache Web Server, PHP dan MySQL database server. Pengujian dilakukan dengan cara mengakses mesin ini dari jaringan Internet dengan melakukan pemantauan transaksi penjualan serta pemantauan suhu mesin pendingin. Sistem berjalan baik dan dapat melayani transaksi penjualan yang kesemua prosesnya dapat dimonitor oleh komputer kendali. 2.3.8 Performansi Mesin Pendingin Mesin pendingin memiliki beberapa performansi yang menunjukkan karakteristik mesin pendingin. Dari diagram P h sebagai berikut dapat dijelaskan beberapa karakteristik mesin pendingin.

Gambar 2.18. P h Diagram dan siklus refrigerasi Banyaknya panas setiap kg yang dapat diserap oleh refrigeran pada saat melewati evaporator yang disebut dengan efek pendinginan (refrigerating effect) yang bertambah tiap kg pada tekanan konstan yang diekpresikan sebagai :
q evap = m( h1 h4 )

Dimana :
h1 h4 : perubahan entalpi refrigeran yang melewati evaporator (kJ/kg)

m: flow rate dari refrigerant Pada siklus ideal, proses kompresi dapat diasumsikan dalam proses entropi konstan yang ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut :

Gambar 2.19 Diagram T s

Besar daya masukan pada refrigerant yang melewati kompresor :


Wcom = m( h2 h1 )

Dimana : h2 h1 : perubahan entalpi 22okum22erant yang melewati kompresor (kJ/kg). Sedangkan pada proses kondensasi berlangsung pada tekanan konstan yang ditunjukkan oleh persamaan sebagai berikut :

q cond = m(h2 h3 )

Dimana : h2 h3 : perubahan entalpi 23okum23erant yang melewati kondensor (kJ/kg). Dari 23okum termodinamika pertama : seluruh panas yang dibuang dari kondensor harus sama dengan panas yang diserap ditambah dengan panas ekuivalen dari kerja mekanik kompresi
q cond = q evap + q comp

Jika siklus berlangsung terus menerus dan berlangsung pada siklus tertutup, maka dapat diperoleh : a) Laju Aliran Massa Refrigeran ( mref ) mref =
Daya V I cos = ( h2 h1 ) h2 h1

b) Kapasitas Kompresor ( Q comp ) Q comp = mref c) Kapasitas Kondensor Q cond = mref d) Dampak Refrigeran ( href ) href = h1 h4 e) Laju Aliran Kalor Pendingin ( Qevap ) Qevap = mref f) Coefficient of Performance COP = g) Performance Factor ( PF )
PF = h2 h1 h1 h4 h1 h4 h2 h1

( h2 h1 )
( h2 h3 )

( h1 h4 )

(Michael J. Moran , Howard N. Saphiro.2003.Termodinamika Teknik Edisi ke-4.Jakarta;Erlangga)

2.4 Peralatan dan Bahan Pengujian Mesin pendingin yang digunakan dalam percobaan ini adalah jenis siklus kompresi uap. Secara skematik peralatan pengujian diperlihatkan pada gambar 2.14

Gb.2.20 Mesin Pendingin Keterangan : 1. Refrigeran yang digunakan pada mesin refrigerasi adalah Refrigerant 22.

Gb.2.21 Refrigeran 2. Kompresor adalah kompresor putar jenis hermetic.

Gb.2.22 kompresor 3. Kondensor dan evaporator adalah penukar panas jenis koil bersirip.

Gb.2.23 evaporator dan kondensor 4. Pada pengujian ini hanya digunakan alat ekspansi jenis pipa kapiler.

Gb.2.24 pipa kapiler 5. Setiap seksi masuk dan keluar dari komponen utama mesin refrigerasi dipasang pressure gauge(P1-P4) dan thermometer(T1-T5)untuk mengetahui kondisi pada tiap seksi tersebut. 6. Saluran udara mempunyai penampang bujur sangkar dengan ukuran 15 x 15 cm. Kipas udara digunakan untuk menciptakan aliran udara pada saluran udara

tersebut. Kecepatan aliran udara diatur dengan mengubah kecepatan putar kipas. Pengubahan ini dilakukan dengan memutar saklar pengatur kecepatan putar fan. 7. Anemometer digunakan untuk mengukur kecepatan aliran udara dalam saluran. 8. Kondisi udara sebelum dan sesudah melewati penukar kalor (kondensor dan evaporator) dapat diketahui dengan mengukur temperature bola kering dan temperature bola basahnya. 2.5 Prosedur Percobaan * Pemeriksaan sebelum percobaan 1. Saklar listrik pada panel kontrol pada posisi off. 2. Memastikan AC dalam keadaan vakum. 3. Memastikan air destilasi untuk pengukuran Twb kondensor dan evaporator masih cukup. 4. Wadah tempat air kondensat ditempatkan di bawah evporator. * Cara menjalankan mesin 1. Menghubungkan kabel listrik mesin pendingin dengan sumber listrik. 2. Memutar tombol termstat pada posisi maksimum. 3. Menjalankan motor kompresor dengan memutar saklar pada posisi high cool dan low cool. 4. Menunggu beberapa saat sampai kondisi steady. * Pengamatan 1. Menentukan posisi tombol high cool. 2. Menunggu beberapa saat sampai kondisi steady. 3. Mencatat beberapa data setiap terjadi perubahan suhu pada T 2 setiap kenaikan 10 C dan data lain diantaranya : Temperatur refrigerant di titik 1, 2, 3, dan 4. Tekanan refrigeran di titik 1, 2, 3,dan 4. Temperatur air yang didinginkan T5.

4. Mematikan peralatan uji.

2. 6

Perhitungan Data dan Analisa Grafik 2.6.1. Data Hasil Percobaan Tegangan : 220 volt Arus : 1,9 A
3 T(C) 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 30 29 29 29,05 P (Psia) 160 160 160 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 168,5 T(C) -9 -9 -9 -10 -10 -9 -10 -9 -10 -10 -10 -10 -11 -11 -12 -12 -11 -11 -11 -12 10,3 4 P (Psia) 13 13 14 14 14 15 15 15 15 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 16 15,2 T5(C ) 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 23 23 23 23 23 23 23 23,65 T evap(C0) 8.5 8.5 8.5 8 8 8.5 8 8.5 8 8 8 8 7.5 7.5 7 7 7.5 7.5 7.5 7 7.85 P evap(Psia) 11.5 12 12.5 13 13 13.75 14 14.5 14.5 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 15 14.1875 Tcond(C ) 43 43.5 44 44.5 45 45.5 46 46.5 47 47.5 48 48.5 49 49.5 50 50.5 51 52 52 52.5 47.775 Pcond(Psia) 160 160 160 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 168.5

cos = 0.8

1 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 RATA2 T(C) 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 26 P (Psia) 10 11 11 12 12 12.5 13 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 14 13.175 T(C) 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 66,5

2 P (Psia) 160 160 160 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 170 168,5

2.6.2 Untuk keperluan analisa data, diambil satu sample sebagai berikut : T1 = 26o C P1 = 12 Psia = 0.83 bar T2 = 67o C P2 = 285 Psia = 19.65 bar T3 = 30o C P3 = 283 Psia = 19.51 bar T4 = - 11o C P4 = 10 Psia = 0.69 bar T5 = 25.9o C Cos = 0,8

Tevap

T1 + T 4 2 P1 + P 4 2 T 2 +T3 2 P 2 + P3 2

26 + (11) 2
12 +10 2 67 + 30 2 285 + 283 2

7.5o C

Pevap

11 Psia = 0.758 bar

Tkond =

= 48.5 o C

Pkond =

284 Psia = 19.58 bar

Secara ideal a. Diagram T-h Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada Tevap = 7.5 oC Pada Tkond = 48.5 oC h3 dan h4 T (oC) 3 7.5 48.5 4 1 2 pada T3 hg1 = 252.53 kJ/kg hg2 = 261.77 kJ/kg hf3 dan hf4 = 81.595 kJ/kg

h (KJ/ Kg) hf3= hf4=81.595 hg1=252.53 hg2=261.77

b. Diagram P-h

Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada Pevap = 0.758 bar Pada Pkond = 19.58 bar h3 dan h4 P (bar) 3 19.58 0.758 4 1 2 pada P3 hg1 = 230.08 kJ/kg hg2 = 261.91 kJ/kg hf3 dan hf4 = 108.26 kJ/kg

hf3= hf4=108.26
h g1 = hg 2 hf 3

hg1=230.08

h (KJ/ Kg) hg2=261.91

252.53 + 230.08 = 241.305 kj/kg 2 261.91 + 261.77 = = 261.84 kj/kg 2 81.595 + 108.26 = hf 4 = = 94.93 kj/kg 2

Perhitungan 1. Laju aliran masa refrigerant (Mref)


Daya V .I .Cos = (h g 2 hg1 ) h g 2 hg1

M ref = =

220.0,8.0,8 = 5.103 kg/s (261.84 241.305)

2.

Kapasitor kompresor (Qkomp)


= 5.103( 261.84 241.305) =104.79 kW

Qkomp = M ref ( hg 2 hg 1 )

3.

Kapasitas kondensor (Qkond)

Qkond = M ref ( hg 2 hf 3 )

= 5.103( 261.84 94.93) = 851.74 kW

4.

Dampak Refrigeran (href)

href = h1 h4 = (241.305 94.93) = 146.375 kJ/kg

5.

Laju aliran Kalor Pendingin


= 5.103( 241.305 94.93) = 746.95kW

Qevap = M ref ( h g1 h f 4 )

6.

Coefficient of Performance (COP)


COP = hg 1 h f 4 hg 2 h f 1 = (241.305 94.93) = 7.128 (261.84 241.305)

7.

Performance Factor ( PF ) PF =
hg 2 hg1 hg1 h f 4

(261.84 241.305) = 0.14 (241.305 - 94.93)

Secara aktual Dalam diagram ini h3

h4.

a. Diagram T-h Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat dari interpolasi bahwa Pada T1 = 26 oC Pada T2 = 67 oC Pada T3 = 30 oC Pada T4 = -11 oC hg1 = 257.935 kJ/kg h2 = 278.94 kJ/kg hf3 = 81.595 kJ/kg hf4 = 32.295 kJ/kg

T (oC) 2 3 30 1 -11 4

h4=32.295 h3=81.59 b. Diagram P-h

h1=257.935 h2=278.94 h (KJ/ Kg)

Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada P1 = 0.83 bar Pada P2 = 19.65 bar Pada P3 = 19.51 bar Pada P4 = 0.69 bar P (bar) 2 19.51 0.83 4 3 1 h1 = 230.949 kJ/kg h2 = 278.94 kJ/kg h3 = 108.26 kJ/kg h4 = -9.443 kJ/kg

h4=-9.443 h3=108.26 h1=261.92 h2=278.94

h (KJ/ Kg)

Maka:

257.935 + 230.949 = 244.442 kj/kg 2 h2 = 278.94 kj/kg h1 = 81.595 + 108.26 = 94.93 kj/kg 2 32.295 + ( 9.443) h4 = = 11.462kj/kg 2 h3 =

Perhitungan 1. Laju aliran masa refrigerant (Mref)


Daya V .I .Cos = ( h2 h1 ) h2 h1

M ref =
=

220.0,8.0,8 = 4.1kg/s ( 278.94 244.442)

2.

Kapasitor kompresor (Qkomp)

Qkomp = M ref (h2 h1 )

= 4.1( 278.94 244.442) =140.8 kW

3.

Kapasitas kondensor (Qkond)


= 4.1( 278.94 94.93) = 754.441 kW

Qkond = M ref ( h2 h3 )

4.

Dampak Refrigeran (href)

href = h1 h4 = (244.442 11.462) = 232.98 kJ/kg

5.

Laju aliran Kalor Pendingin


= 4.1( 244.442 11.462) = 955.218kW

Qevap = M ref ( h1 h4 )

6.

Coefficient of Performance (COP)


h1 h4 ( 244.442 11.462) = = 6.75 h2 h1 (278.94 244.442) h2 h1 = 0.15 h1 h4

COP =

7.

Performance Factor ( PF ) PF =

2.6.3. Analisa data berdasarkan data rata-rata T1 = 25.42o CT3 = 30.558o C P1 = 12.13 Psia = 0.83 bar T2 = 70o C P2 = 287.42Psia = 19.816 bar
T1 + T 4 2 P1 + P 4 2 T 2 +T3 2 P 2 + P3 2

Cos = 0,8

P3 = 284.37 Psia = 19.606 bar T4 = -7.07o C P4 = 11.35Psia = 0.782 bar


25.42 + ( 7.07) 2
12.13 +11.35 2 70 + 30.558 2 287.42 + 284.37 2

T5 = 23.83o C

Tevap

9.17o C

Pevap

11.74 Psia = 0.758 bar

Tkond =

= 50.28 o C

Pkond =

285.90 = 19.71 bar

Secara ideal a. Diagram T-h Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada Tevap = 9.17 oC Pada Tkond = 50.28 oC h3 dan h4 T (oC) 3 9.17 2 pada T3 hg1 = 253.08 kJ/kg hg2 = 261.90 kJ/kg hf3 dan h4 = 82.30 kJ/kg

50.28

h (KJ/ Kg) hf3=h4=82.30 b. Diagram P-h Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada Pevap = 0.809 bar Pada Pkond = 19.71 bar hf3 dan hf4 pada P3 hg1 = 231.73 kJ/kg hg2 = 261.93 kJ/kg hf3 dan hf4 = 108.55 kJ/kg h1=253.08 h2=261.90

P (bar) 19.71

3 2

0.809

hf3= hf4=108.55

h (KJ/ Kg) hg1=231.73 hg2=261.93

Maka:
hg 1 = hg 2 hf 3 253.08 + 231.73 = 242.405 kj/kg 2 261.90 + 261.93 = = 261.91 kj/kg 2 82.30 + 108.55 = hf 4 = = 95.425 kj/kg 2

Perhitungan 1. Laju aliran masa refrigerant (Mref)


M ref = Daya V .I .Cos = ( h2 h1 ) h2 h1

220.0,8.0,8 = 7.23 kg/s (261.91 242.405)

2. Kapasitor kompresor (Qkomp)


Qkomp = M ref (h2 h1 )

= 7.23( 261.91 242.405) =140.8 kW

3. Kapasitas kondensor (Qkond)


Qkond = M ref ( h2 h3 )

= 7.23( 261.91 95.425) =1201.68 kW

4. Dampak Refrigeran (href)


href = h1 h4 = (242.405 95.425) = 146.98 kJ/kg

5. Laju aliran Kalor Pendingin


Qevap = M ref ( h1 h4 )

= 7.23(146.98) =1060.90kW

6. Coefficient of Performance (COP)


COP = h1 h4 146.98 = = 7.535 h2 h1 19.505

7. PF =

Performance Factor ( PF )
h2 h1 1 = 0.13 = h1 h4 COP

Secara aktual

Dalam diagram ini h3

h4.

a. Diagram T-h Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada T1 = 25.42oC Pada T2 = 70 oC Pada T3 = 30.558oC Pada T4 = -7.07oC hg1 = 257.85 kJ/kg hg2 = 282.86kJ/kg hf3 = 82.305 kJ/kg hf4 = 36.904 kJ/kg

T (oC) 2 30.558 -7.07 4 3 1

hf4=36.904 hf3=82.305 b. Diagram P-h

hg1=257.85 hg2=262.02

h (KJ/ Kg)

Dalam tabel Termodynamic Properties of R22 on Saturation (SI) didapat bahwa Pada P1 = 0.83 bar Pada P2 = 19.81 bar Pada P3 = 19.60 bar Pada P4 = 0.78 bar P (bar) 2 19.60 3 hg1 = 230.949 kJ/kg hg2 = 282.86 kJ/kg hf3 = 108.55 kJ/kg hf4 = -6.808 kJ/kg

1 0.78 4

hf4=-6.808 hf3=108.55 Maka:

hg1=230.94 h2=282.86

h (KJ/ Kg)

257.85 + 230.949 = 244.39kj/kg 2 h2 = 282.86kj/kg h1 = 82.305 +108.55 = 95.427 kj/kg 2 36.904 + ( 6.808) h4 = = 15.048kj/kg 2 h3 =

Perhitungan 1. Laju aliran masa refrigerant (Mref)


M ref =
=

Daya V .I .Cos = ( h2 h1 ) h2 h1

220.0,8.0,8 = 3.65 kg/s (282.86 244.39)

2. Kapasitor kompresor (Qkomp)


Qkomp = M ref (h2 h1 )

= 3.65( 282.86 244.39) =140.8 kW

3. Kapasitas kondensor (Qkond)


Qkond = M ref ( h2 h3 )

= 3.65( 282.86 95.427) = 751.44 kW

4. Dampak Refrigeran (href)


href = h1 h4 = (244.39 15.04) = 229.35 kJ/kg

5. Laju aliran Kalor Pendingin


Qevap = M ref ( h1 h4 )

= 3.65( 244.39 15.04) = 940.335kW

6. Coefficient of Performance (COP)


COP = h1 h4 (244.39 15.04) = = 6.68 h2 h1 (282.86 244.39) h2 h1 1 = 0.15 = h1 h4 COP

7.

Performance Factor ( PF ) PF =

Analisa perbedaan diagram ideal dengan diagram aktual


Tabel 2.2 Hasil analisa kondisi ideal dengan aktual berdasarkan data sample

Diagram Ideal (kJ/kg) 241.305 261.84 94.93 94.93

h h1 h2 h3 h4

Diagram Aktual (kJ/kg) 244.442 278.94 94.93 11.462

Tabel 2.3 Hasil analisa kondisi ideal dengan aktual berdasarkan data rata-rata

Diagram Ideal (kJ/kg) 242.405 261.91 95.425 95.425

h h1 h2 h3 h4

Diagram Aktual (kJ/kg) 244.39 282.86 95.925 15.048

Hasil analisa : 1. Pada daur kompresi uap aktual selalu mengalami pengurangan efisiensi dibandingkan dengan daur standar. Hal ini disebabkan adanya penurunan tekanan pada kondensor dan evaporator akibat gesekan dan kerugian- kerugian lain pada siklus aktual. 2. Diagram ideal, enthalpy diambil dari suhu evaporasi dan kondensasi. diagram aktual enthalpy diambil dari suhu komponen utama mesin refrigrasi, begitu juga tekanannya. 3. Nilai h3 = h4 pada diagram ideal dapat terjadi karena pada katup ekspansi tidak ada kebocoran. Pada sisi masuk dan sisi keluar dari

4. Rugi rugi pada mesin refrigerasi disebabkan adanya bagian yang tidak terisolasi dengan sempurna, sehingga terjadi kerugian panas pada bagian bagian mesin tersebut. 5. Perbedaan nilai entalphy pada diagram P h ideal maupun actual diakibatkan oleh penyimpangan pembacaan suhu yang tidak sesuai dengan tekanan aslinya. 6. Pada diagram ideal dan actual, penentuan entalphi berdasarkan P dan T akan mengalami perbedaan nilai yang cukup besar. Hal ini disebabkan oleh perbedaan entropi pada P dan T yang akan ditentukan. 2.8. KESIMPULAN DAN SARAN 2.8.1 Kesimpulan 1. Daur refrigerasi yang dipakai dalam siklus adalah tipe kompresi uap yang menggunakan Freon 22 (R22) sebagai refrigeran. 2. Refrigeran adalah fluida yang mampu menyerap dan melepaskan kalor yang sesuai dengan kinerja mesin pendingin. Sampai saat ini refrigeran yang biasa digunakan adalah R22. 3. Daur refrigerasi merupakan daur reversibel yang menyalurkan energi dari suhu rendah menuju suhu yang lebih tinggi. 4. Siklus kompresi uap dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : entalphi, kapasitas kompresor, kapasitas kondensor, laju aliran massa refrigeran dan laju aliran kalor pendingin. 5. Laju aliran massa refrigeran ditentukan oleh daya listrik, dimana daya listrik tersebut besarnya sama dengan kapasitas kompresor. Semakin besar daya listrik maka semakin besar pula laju aliran massa refrigerannya. 6. Kapasitas kondensor dan kapasitas laju aliran kalor pendingin (kapasitas evaporator) ditentukan oleh laju aliran massa refrigeran. Semakin besar laju aliran massa refrigeran maka semakin besar pula kapasitas kondensor dan evaporator. 7. COP akan semakin besar jika perubahan entalphi di evaporator semakin besar.

8. COP yang tinggi dari suatu mesin refrigerasi menunjukkan bahwa untuk melakukan refrigerasi hanya memerlukan sedikit usaha. 2.8.2 Saran 1. Praktikan harus lebih berhati hati dalam melakukan pembacaan temperatur dan tekanan sehingga didapatkan hasil pengamatan yang benar. 2. Sebelum melaksanakan praktikum mesin pendingin, maka praktikan hendaknya sudah mengetahui prinsip kerja mesin. 3. Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang lebih presisi maka diperlukan peralatan yang lebih teliti lagi, misalnya dengan menggunakan pengukuran tekanan digital. 4. Pengkonversian satuan pengukuran hendaknya dilakukan dengan teliti sehingga tidak mengakibatkan kesalahan pengolahan data pada proses selanjutnya. 5. Setelah melaksanakan praktikum hendak membersihkan peralatan dan perlengkapan dengan tertib.