Anda di halaman 1dari 19

7 II TINJAUAN PUSTAKA Program utama pembangunan pertanian adalah ketahanan pangan dan agribisnis.

Sasaran program pembangunan pertanian yang telah ditetapkan adalah meningkatnya kesejahteraan petani dengan tetap mempertimbangkan

keseimbangan ekosistem, sehingga keberlanjutan usaha pertanian dapat terjamin. Salah satu kebijakan yang ditempuh Kementerian Pertanian pada tahun 2002 adalah melakukan pengembangan usaha pertanian secara terpadu dengan harapan dapat meningkatkan produksi dan produktivitas untuk meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan petani. Guna mendukung keberhasilan kebijakan dimaksud, alternatif yang lebih memungkinkan adalah dengan melakukan pendekatan sistem integrasi padi ternak (SIPT). SIPT merupakan bagian dari program pemerintah yang dilaksanakan secara terpadu, lintas sektoral antara Kementerian Pertanian, Kementerian Pemukiman dan Prasarana Wilayah serta Kementerian Dalam Negeri dan Otonomi Daerah. Program tersebut merupakan salah satu alternatif program terobosan yang diharapkan dapat menjawab tantangan dan tuntutan pembangunan peternakan yakni kecukupan (swasembada) daging Menurut Dirjen Peternakan (2009), program SIPT adalah mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal seperti pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak dan kotoran ternak sapi dapat diproses menjadi pupuk organik yang sangat bermanfaat untuk memperbaiki unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga tidak ada limbah yang terbuang (zero waste). Menurut Diwyanto dan Haryanto (2003), integrasi usahatani pola SIPT mencakup tiga jenis kegiatan usahatani yang saling berkaitan satu sama lain yaitu: (1) budidaya ternak, (2) budidaya padi serta (3) pengelolaan jerami dan kompos. Inovasi yang dikembangkan dalam budidaya ternak mencakup pengandangan temak secara berkelompok, aplikasi budidaya termasuk strategi pemberian pakan, pengelolaan dan pemanfaatan kotoran ternak menjadi kompos untuk tanaman padi. Pengembangan budidaya padi sawah irigasi melalui teknologi pengelolaan, penyimpaman dan peningkatan kualitas jerami sebagai pakan temak. Selama 10 tahun terakhir (1995-2005), data statistik menunjukkan bahwa luas areal tanam padi di lahan sawah secara nasional sedikit meningkat dari 10,08

8 juta ha pada tahun 1995 menjadi 10,71 juta ha pada tahun 2005, atau naik rata-rata 0,61 persen/tahun. Di samping itu, produktivitas juga meningkat dari 4,64 ton/ha pada tahun 1995 menjadi 4,78 ton/ha pada tahun 2005, atau tumbuh rata-rata 0,29 persen/tahun. Pertumbuhan produktivitas yang rendah mencerminkan bahwa penerapan teknologi di tingkat petani sudah mendekati kejenuhan, terutama di Jawa. Terlebih lagi dengan sarana produksi yang makin mahal mengakibatkan kemampuan petani untuk membeli sarana produksi makin terbatas. Pertumbuhan luas panen dan produktivitas tersebut menyebabkan produksi padi sawah secara nasional meningkat dari 46,81 juta ton pada tahun 1995 menjadi 51,22 juta ton pada tahun 2005 atau hanya tumbuh rata-rata 0,91 persen per tahun (BPS 2006). Dalam kaitan ini telah dilakukan upaya untuk meningkatkan produksi ternak sapi dengan tetap melestarikan sumber daya sawah melalui program peningkatan produktivitas padi terpadu dengan Sistem Integrasi Padi-Ternak (SIPT) yang didukung oleh penguatan kelembagaan tani. Pertumbuhan areal dan produktivitas yang rendah terutama terjadi di Pulau Jawa sebagai sentra produksi padi. Luas areal panen, produktivitas dan produksi padi di Jawa selama 10 tahun terakhir meningkat dengan laju yang rendah, yaitu masing-masing 0,45 persen; 0,07 persen; dan 0,52 persen. Pada periode yang sama di luar Pulau Jawa areal panen tumbuh lebih cepat yaitu rata-rata 0,78 persen/tahun, dan produktivitas tumbuh 0,64 persen/tahun, sehingga produksi meningkat rata-rata 1,43 persen/tahun. Namun karena kontribusi luar Jawa dalam produksi padi sawah hanya sekitar 43 persen, maka pertumbuhan produksi nasional lebih dipengaruhi oleh pertumbuhan di Pulau Jawa (Suwandi 2006).

2.1

Potensi Ternak Sapi sebagai Penghasil Daging Dalam aspek pengentasan kemiskinan, subsektor peternakan berperan

sangat penting. Berdasarkan data dari Proyek Inpres Desa Tertinggal (IDT), komoditas yang dipilih sebagian besar (60-70%) adalah ternak. Begitu pula dalam Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI), semua lokasi kegiatan menghendaki adanya sistem usaha pertanian yang melibatkan ternak sebagai basis dalam sistem usaha pertaniannya (Kusnadi et al. 2005b).

9 Program Peningkatan Pendapatan Petani Melalui Inovasi (P4MI) telah mampu meningkatkan fungsi dan peran ternak secara signifikan dalam penyediaan pupuk, pemanfaatan sisa/limbah pertanian, dan sumber pendapatan. Di Lombok Timur, produktivitas dan reproduktivitas ternak cukup tinggi dibandingkan rata-rata yang ada di NTB (Kusnadi et al. 2005). Sistem integrasi tanaman-ternak di lahan marginal, khususnya di NTB dan NTT, kini berkembang hampir di setiap kabupaten lokasi kegiatan P4MI. Lompatan populasi sapi lokal merupakan jawaban pemenuhan kebutuhan daging nasional yang berasal dari produksi dalam negeri. Peningkatan populasi secara rutin/regular akan dirasa sulit untuk memenuhi kecukupan daging pada tahun 2014, karena peningkatan populasi hanya berkisar antara 2-3% per tahun pada tahun 2009. Peningkatan ini lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 5.5%. Populasi sapi (2009) sekitar 12.6% (Blue Print PSDS 2010), yang terdiri atas 68.,6% sapi lokal dan 31,84% sapi simental, limousin dan brahman cross.

Gambar 2. Populasi sapi potong di Indonesia (Statistik Peternakan, 2010) Daging sapi yang bersifat demand driven tersebut, masih bermasalah dalam pemenuhannya. Kesenjangan antara kebutuhan konsumsi dengan produksi daging sapi lokal terjadi tiap tahun, yang diduga karena adanya peningkatan jumlah masyarakat yang berpendapatan menengah ke atas. Peningkatan jumlah tersebut tercermin dari peningkatan konsumsi daging sapi dari sebesar 1,95 kg per kapita pada tahun 2007 menjadi 2 kg per kapita pada tahun 2008 dan meningkat menjadi 2,24 kg per kapita pada tahun 2009. Peningkatan konsumsi ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan daging sapi dan jeroan dari 455.755 ton

10 pada tahun 2008 menjadi 516.603 ton pada tahun 2009 (BPS dan Statistik Peternakan, 2009). Kebutuhan daging tersebut setara dengan jumlah sapi sebanyak 2,432 juta ekor sapi pada tahun 2008 dan 2,746 juta ekor sapi pada tahun 2009 (Australian Statistic Bereau, 2009). Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka impor daging sapi dan jeroan juga meningkat menjadi sebesar 110.246 ton serta untuk sapi bakalan sebanyak 768.133 ekor pada tahun 2009. Hal ini karena sapi lokal hanya dapat mensuplai kebutuhan daging sebesar 49% dari kebutuhan daging nasional pada tahun 2009 (BPS dan Statistik Peternakan, 2009). Kementerian Pertanian mengeksekusi program Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) untuk mengurangi ketergantungan pada impor sapi potong dengan target pemenuhan kebutuhan daging pada 2010 secara domestik sebesar 90%. Kegiatan yang dilaksanakan antara lain dengan mendistribusikan bibit sapi potong ke berbagai propinsi potensial untuk dikembangkan secara intensif. Idealnya peningkatan populasi sapi setidaknya mencapai 7% per tahun atau 15 juta ekor pada tahun 2008, namun populasi sapi pada tahun 2008 hanya dapat mencapai 11,9 juta ekor (Dirjen Peternakan 2009). Diperlukan langkah-langkah pengembangan produksi peternakan

diantaranya dengan usahatani sistem integrasi sapitanaman, khususnya dengan tanaman pangan. Hal ini didukung oleh data dari Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (2009) bahwa potensi sumberdaya lahan untuk pengembangan pertanian di Indonesia sangat besar yaitu 100,7 juta ha yang limbahnya dapat mencukupi biomassa pakan sapi sepanjang tahun (1-3 ekor sapi/ha). Bila tidak dimanfaatkan, limbah pertanian akan menjadi masalah dan kendala dalam agribisnis, karena pada saat panen terbuang dan menjadi pencemar. Usaha pembesaran dan penggemukan mungkin lebih menarik bagi investor, dan saat ini peternak kecilpun sudah mulai untuk mengembangkan usaha ini (Diwyanto dan Priyanto 2008). Pembesaran dapat dilakukan secara ekstensif, yaitu dengan cara menggembalakan sapi di padang pangonan, atau tempat lain yang memungkinkan ternak merumput (grazing) dengan bebas. Pada periode ini sapi lebih banyak bertumbuh kembang pertulangan atau ukurannya. Namun dengan menyusutnya areal padang pangonan menyebabkan usaha pembesaran secara ekstensif menghadapi tantangan yang besar.

11 2.2 Potensi Sapi sebagai Penghasil Pupuk Organik Ternak sapi bagi petani dapat berfungsi sebagai penghasil pupuk kandang dan tabungan yang memberikan rasa aman pada saat kekurangan pangan (paceklik) disamping berfungsi sebagai penyedia tenaga kerja (Najib et al. 1997). Ternak selain menghasilkan produk utama, juga menghasilkan hasil samping berupa feses dan urine yang sampai saat ini masih dianggap masalah, dengan inovasi yang sederhana dapat diubah menjadi kompos yang bermutu, dan nilai kompos yang dihasilkan ternyata cukup besar. Penggunaan kompos pada lahan pertanian akan mendukung kelestarian lingkungan sekaligus mewujudkan organic farming yang berdaya saing tinggi (Badan Litbang Pertanian 2000). Aspek penting dalam penggunaan kotoran ternak sebagai pupuk yaitu nilai penggunaannya dan sebagai sumber hara yang dibutuhkan tanaman.

Berkurangnya kandungan bahan organik pada lahan pertanian di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa sebenarnya diperlukan 100% tambahan bahan organik untuk mengembalikan pada keadaan kesehatan tanah yang normal. Hal ini berarti akan diperlukan pupuk organik yang sangat besar untuk membuat keadaan kesehatan tanah menjadi normal kembali (Deptan 2001). Memacu peningkatan produktivitas lahan dapat digunakan pupuk organik. Pupuk organik sangat penting bagi usaha pertanian, karena selain meningkatkan hasil juga dapat memperbaiki sifat fisika dan kimia tanah (Sally 1999; Thamrin 2002). Bahan organik dapat diperoleh dari pemeliharaan sapi dalam sistem integrasi tanaman padi-ternak (sapi) seperti SIPT. Secara nasional pengelolaan padi pada lahan irigasi tersebut dapat meningkatkan produktivitas padi antara 7,1%38,4% (Bahar 2002), dan meningkatkan hasil padi dari 4,5 t/ha menjadi 5,5 t/ha gabah kering giling (Sumanto et al. 2002). Disamping itu petani dapat memperoleh keuntungan lain dari hasil samping pemeliharaan sapi berupa pertambahan bobot hidup sapi dan pupuk kandang, selain itu sapi juga dapat dimanfaatkan sebagai tenaga kerja untuk meluku. Menurut Adiningsih (2000), kotoran ternak sebagai limbah dengan penggunaan mikroba dan cacing sebagai komoditas baru yang mempunyai keunggulan yaitu proses pengomposan dipercepat; dapat diproduksi secara massal dan dijadikan kemasan ekonomis; kompos dapat menjadi cabang usaha dan

12 penyerapan tenaga kerja; peningkatan kualitas dan penghematan penggunaan; memungkinkan perluasan penggunaan lahan-lahan marginal; dan memutus daur ulang hewan parasit dan kuman patogen yang sering ada di kotoran ternak. Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 8 - 10 kg/hari, kemudian diproses menjadi pupuk organik menghasilkan 4 - 5 kg/hari. Ternak sapi akan menghasilkan sekitar 7,3- 11,0 ton pupuk organik pertahun. Penggunaan pupuk organik pada lahan persawahan adalah 2 ton/hektar/tanam, sehingga potensi pupuk organik yang ada dapat menunjang kebutuhan pupuk organik untuk 1,8 2,7 hektar dengan dua kali tanam pertahun (Haryanto 2000). Seekor sapi dapat menghasilkan kotoran 5 kg/ekor/hari menjadi 3 kg/ekor/hari dengan harga Rp 400/kg. Jadi untuk seekor sapi dapat menghasilkan kompos kotoran sapi sebanyak 90 kg/bulan atau Rp 36.000/bulan (Sariubang et al. 2001; 2004). Pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk organik disamping mampu menghemat penggunaan pupuk anorganik, juga memperbaiki struktur dan ketersediaan unsur hara tanah. Dampak ini terlihat dengan meningkatnya produktivitas lahan. Menurut Adnyana et al. (2003), SIPT yang dikembangkan petani mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25 - 35 persen dan meningkatkan produktivtas padi 20 - 29 persen. Menurut Bulu et al. (2004) bahwa SIPT yang diterapkan petani mampu meningkatkan pendapatan sekitar 8,4 persen dan menghemat biaya pupuk sekitar 25,2 persen dan meningkatkan pendapatan petani sebesar 41,4 persen (Sudaratmaja et al. 2004), sedangkan menurut Suwono et al. (2004) bahwa penggunaan pupuk organik mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik, walaupun dalam prakteknya petani tidak mengurangi penggunaan pupuk anorganik secara signifikan. Pengomposan adalah proses mengubah limbah organik menjadi pupuk organik melalui kegiatan biologi pada kondisi yang terkontrol (Sutardi et al. 2004). Tujuan pengomposan adalah mengurai bahan organik yang dikandung bahan limbah, menekan timbulnya bau busuk, membunuh benih gulma dan organisme yang bersifat pathogen dan sebagai produknya berupa pupuk organik yang sesuai untuk diaplikasikan di lahan pertanian.

13 2.3 Potensi Limbah Jerami Padi Pengangkutan jerami keluar petakan setiap selesai panen diperkirakan tanah akan mengalami kehilangan 0,4% C-Organik, 0,03% N-Tanah, 8,15 kg P/ha, 42,9 kg K/ha dan 25% kg Si/ha. Selanjutnya dikatakan pemberian jerami padi sebanyak 5 ton/ha/musim dapat meningkatkan C-Organik tanah dari 2,4 menjadi 4,0% setelah 4 musim tanah pemberian, disamping meningkatkan ketersediaan unsur K, Mg, Si dan N. Pada SIPT penggunaan jerami padi untuk pakan ternak akan menghasilkan pupuk organik dari kotoran sapi yang dapat digunakan untuk pemupukan sawah sebagai pengganti jerami yang diambil. Kebutuhan pupuk organik untuk tanaman padi sekitar 2 ton/ha/musim (Sriadiningsih (1984) dalam Syam dan Sariubang 2004; Sariubang et al. 2004). Potensi limbah tanaman padi yang dapat digunakan sebagai pakan ternak dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini. Jumlah jerami, sekam dan dedak secara nasional yang dapat digunakan sebagai pakan ternak masingmasing berjumlah 92 juta ton, 12,3 juta ton dan 4,9 juta ton. Tabel 1 Perkiraan produksi jerami, dedak dan sekam padi (000 ton) No 1996 1997 1998 1999 2000 2001 Jerami 92,560 89,128 93,840 95,704 94,344 92,000 Sekam 12,150 12,035 12,003 12,396 12,650 12,300 Dedak 4,860 4,814 4,801 4,959 5,060 4,920

Sumber: Ditjen Bina Produksi Tanaman Pangan (2002) dalam Suwandi (2006)

Padi selain menghasilkan produk utama gabah, juga menghasilkan produk samping yaitu jerami yang mempunyai potensi yang cukup besar dalam menunjang ketersediaan pakan secara nasional dengan jumlah produksi mencapai 48.472.125 ton. Menurut Haryanto (2000) produksi jerami padi dapat mencapai 12 - 15 ton/ha/panen, bervariasi tergantung pada lokasi dan jenis varietas tanaman padi yang digunakan. Jerami padi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai pakan sapi dewasa sebanyak 2-3 ekor pertahun dan pada lokasi yang mampu panen 2

14 kali setahun akan dapat menunjang kebutuhan pakan berserat untuk 4 - 6 ekor. Disamping itu, dedak padi yang dihasilkan dapat digunakan sebagai salah satu komponen bahan pakan untuk menyusun ransum ternak. Menurut Diwyanto et al. (2002), dari setiap hektar lahan sawah dapat dihasilkan 810 ton limbah jerami padi/musim tanam dengan variasi berdasarkan varietas dan lokasi penanaman. Limbah jerami padi ini dapat digunakan untuk pakan sapi dewasa sebanyak 2 3 ekor sepanjang tahun, sehingga pada satu ha sawah dengan waktu panen dua kali per tahun akan tersedia pakan ternak untuk 4 6 ekor ternak sapi Menurut Diwyanto et al. (2001) produksi limbah jerami padi di Indonesia cukup banyak yaitu hampir 40 juta ton per tahun dan yang digunakan untuk pakan ternak baru sekitar 22%, sedang sisanya dibakar untuk dijadikan pupuk atau dibuang. Produksi jerami padi yang melimpah memungkinkan untuk digunakan sebagai pakan ternak dalam jumlah yang lebih besar. Lebih lanjut dikatakan komposisi kimia jerami padi meliputi bahan kering 71,2%, protein kasar 3,9%, lemak kasar 1,8%, serat kasar 28,8%, BETN 37,1%, dan TDN 40,2%. Faktor pembatas adalah nilai gizinya yang rendah yaitu mengandung serat kasar dan silikat dalam jumlah tinggi, sedang daya cerna sangat rendah yang dipengaruhi adanya ikatan lignin, silikat dan kutin. Manfaat jerami padi masih dapat ditingkatkan melalui proses kimia atau dengan teknologi pengolahan sehingga dapat meningkatkan efektifitas daya cerna. Dalam upaya memanfaatkan sumberdaya lokal secara optimal, pada kawasan persawahan dapat dikembangkan usaha pengembangan ternak sapi. Hal ini berkaitan dengan adanya jerami padi yang berlimpah setiap kali musim panen. Meskipun sebagian jerami padi telah dimanfaatkan sebagai bahan industri kertas, bahan pembuatan pupuk maupun media pertumbuhan jamur, namun sebagian besar masih belum dimanfaatkan. Untuk memanfaatkan potensi jerami padi tersebut, perlu dikembangkan rencana unit bisnis yang meliputi : a. unit proses peningkatan kualitas nutrisi jerami padi untuk pakan sapi; b. unit pembuatan pupuk organik untuk menjaga kelestarian kesuburan lahan persawahan; dan c. unit bisnis lainnya seperti pemeliharaan ikan, itik, dan lain-lain. Sebagai upaya bagi peningkatan sistem pertanian diperlukan teknologi alternatif untuk memperbaiki

15 produktivitas lahan dan meningkatkan pendapatan petani, antara lain melalui penerapan teknologi sistem usahatani terintegrasi. Pengembangan sapi potong di areal persawahan diharapkan mempunyai peluang yang besar, karena di kawasan inilah sumber pakan tersedia cukup melimpah serta kebutuhan kompos sangat besar. Selain gabah, dari pertanaman padi juga dihasilkan jerami. Sebagai bahan pakan, jerami padi memiliki kandungan gizi yang rendah sehingga perlu adanya penambahan zat dari sumber pakan lain sebagai pakan penguat. Dengan teknologi fermentasi yang sederhana, mudah dan murah petani dapat memanfaatkan jerami sebagai pakan ternak yang dapat diandalkan. Hasil pengkajian BPTP Jawa Barat (2001), produksi jerami dapat mencapai 6-8 ton/ha/panen, bergantung pada lokasi, varietas dan cara tanam. Perkiraan konsumsi jerami sapi dewasa adalah 30 kg/ekor/hari, maka daya dukung untuk satu hektar lahan sawah adalah 2-3 ekor/6 bulan untuk satu musim panen. Dengan demikian pada lokasi dengan pola tanam 2 kali padi setahun, jerami yang dihasilkan dapat memenuhi kebutuhan pakan untuk 4-6 ekor sapi. Disamping jerami, dari usahatani padi juga dihasilkan dedak yang potensial digunakan sebagai salah satu komponen pakan penguat/konsentrat untuk ternak. Pola pemeliharaan sapi dengan pakan utama jerami fermentasi diperoleh pertambahan berat badan antara 0,8-1,0 kg/ekor/hari atau 240-300 kg/ekor/tahun. Apabila dalam kawasan 100 ha sawah dipelihara 200 ekor sapi, maka akan diperoleh tambahan berat badan sapi sebesar 48-60 ton (BPTP Jawa Barat 2002).

2.4

Sistem Integrasi Usahatani Pola SIPT Penelitian sistem usaha pertanian terpadu yang dijabarkan dalam bentuk

SIPT dengan berbagai pola dan bentuk dirintis oleh Badan Litbang Pertanian sejak tahun 1980 melalui berbagai proyek dan program, antara lain: (1) Penelitian Penyelamatan Hutan Tanah dan Air, (2) Crop Livestock System Research, (3) SUT Sapi dan Padi, (4) Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa, (5) Proyek Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu, (6) Pengembangan Sistem Usaha Pertanian Lahan Pasang Surut Sumatera Selatan, (7) P4MI, serta (8) Sistem Integrasi Kelapa Sawit dan Sapi di Daerah Perkebunan (Kusnadi 2008).

16 Menurut kementerian Pertanian (2005), secara garis besar integrasi terkait dengan sistem produksi ternak dibagi menjadi dua sistem yaitu: 1. sistem produksi berbasis ternak (solely livestock production system) yaitu sekitar 90% bahan pakan dihasilkan dari on-farm-nya, sedangkan penghasilan kegiatan non peternakan kurang dari 10%; dan 2. sistem campuran (mix farming system) yaitu ternak memanfaatkan pakan dari hasil sisa tanaman. Dengan integrasi tersebut maka akan tercipta sentra pertumbuhan peternakan baru dimana komoditi ternak dapat saja menjadi unggulan atau komoditi ternak hanya sebagai penunjang (mix farming). Tetapi bisa saja terjadi, ternak yang tadinya sebagai unsur penunjang kemudian secara bertahap menjadi unsur utama atau sebalikya. Perpaduan sistem integrasi tanaman dengan ternak, dicirikan dengan adanya saling ketergantungan antara kegiatan tanaman dan ternak dengan tujuan daur ulang optimal dari sumberdaya nutrisi lokal yang tersedia (Low External Input Agriculture Sistem). Sistem yang kurang terpadu dicirikan dengan kegiatan tanaman dan ternak yang saling memanfaatkan, tetapi tidak tergantung satu sama lain karena didukung oleh input eksternal (High External Input Agriculture Sistem). Pengelolaan tanaman terpadu adalah strategi yang memperhitungkan keterkaitan atau keterpaduan antara tanaman di satu pihak dengan sumberdaya yang ada di pihak lain, diharapkan dapat meningkatkan hasil padinya. Teknikteknik produksi yang diterapkan mempertimbangkan sinergisme yang diharapkan mampu memberikan hasil yang tinggi (Kartaatmadja dan Fagi, 2000). Sistem integrasi tanaman ternak adalah suatu sistem pertanian yang dicirikan oleh keterkaitan yang erat antara komponen tanaman dan ternak dalam suatu kegiatan usahatani atau dalam suatu wilayah. Keterkaitan tersebut merupakan suatu faktor pemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan petani dan ekonomi wilayah secara berkelanjutan. Sistem integrasi tanaman ternak dalam sistem usaha pertanian di suatu wilayah merupakan ilmu rancang bangun dan rekayasa sumberdaya pertanian yang tuntas (Handaka et al. 2009). Kegiatan integrasi akan meningkatkan produktivitas baik produktivitas tanaman padi, jagung maupun ternak. Hasil sinergisme tanaman padi-jagung dengan sapi, menurut Kartono.(2002) akan memberikan tambahan pendapatan yang diperoleh dari peningkatan produktivitas pada masing-masing komoditas.

17 Tanpa integrasi : Produktivitas tanaman pangan Produktivitas ternak sapi Dengan integrasi : Produktivitas tanaman pangan Produktivitas ternak sapi Hasil sinergisme tanaman dan ternak berupa : a + b (additional out put). Pada prinsipnya konsep CLS menurut Prasetyo et al. (2002), meningkatkan efisiensi usaha dengan memanfaatkan input produksi dari dalam (internal input). Melalui usahatani ternak, input produksi yang berasal dari luar dapat dikurangi (low external input). Usahatani padi dan sapi yang dikelola secara terpadu mampu memberikan keuntungan sekitar 15,86 persen lebih tinggi dari usahatani padi dan sapi yang dikelola secara parsial. Fenomena ini mampu memberikan tambahan keuntungan berturut-turut 29,19 persen dan 27,72 persen. Keunggulan usahatani padi dan sapi yang dikelola secara terrpadu terlihat juga dari efektivitas penggunaan input atau biaya produksi, yang ditunjukkan oleh nilai BCR lebih tinggi pada semua lokasi kajian. Aspek peningkatan produksi dan pendapatan petani, hasil kajian empiris Kariyasa dan Pasandaran (2004) menunjukkan bahwa usahatani padi yang dikelola tanpa diintegrasikan dengan sapi mampu berproduksi sekitar 4,4 - 5,7 ton/ha, sementara pengelolaan usahatani padi yang diintegrasikan dengan sapi mampu berproduksi sekitar 4,7 - 6,2 ton/ha. Artinya usahatani padi yang pengelolaannya diintegrasikan dengan ternak atau yang menggunakan pupuk kandang mampu berproduksi sekitar 6,9 - 8,8 persen lebih tinggi dibanding usahatani padi yang dikelola secara parsial tanpa menggunakan pupuk kandang. Menurut Pamungkas dan Hartati (2004), sistem integrasi ternak merupakan salah satu upaya untuk mencapai optimalisasi produksi pertanian. Upaya ini telah banyak dilakukan yang secara signifikan mampu memberikan nilai tambah baik pada hasil usahatani maupun terhadap produktivitas ternak. Usaha ternak sapi terpadu dapat menekan biaya produksi, terutama terhadap penyediaan hijauan pakan, sebagai sumber tenaga kerja serta dapat memberikan kontribusi dalam penghematan pembelian pupuk. Di Indonesia, ternak sapi dapat diintegrasikan dengan berbagai komoditi tanaman, seperi tanaman pangan (padi, jagung) serta tanaman perkebunan (kelapa :x :y :x+a :y+b

18 sawit). Disamping itu ternak sapi sangat baik beradaptasi dengan pola iklim dan ketinggian tempat, sehingga dapat dipelihara pada lahan sawah, lahan kering semusim dan lahan kering tahunan dari dataran rendah sampai pegunungan. Kesesuaian lahan untuk pertanian yang berpotensi untuk usahatani sistem integrasi ternak sapi dengan tanaman disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Kesesuaian lahan untuk pertanian di Indonesia. Wilayah Sumatera Jawa Bali dan NTT, NTB Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Indonesia Lahan Lahan Kering Lahan Kering Jumlah Sawah (Tan. Semusim) (Tan. Tahunan) . juta hektar .................. 6,05 4,59 0,48 3,01 2,38 8,04 24,56 6,06 1,13 1,15 10,77 1,87 4,40 25,32 16,84 4,47 1,54 14,73 4,80 8,52 50,89 28,89 10,18 3,17 28,51 9,06 20,96 100,77

Sumber: Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, (2009).

Diversifikasi usahatani telah tumbuh dan berkembang di perdesaan, salah satunya bertujuan untuk mengantisipasi resiko usaha dari kegagalan usahatani sejenis. Namun pola integrasi belum banyak dilakukan atau dikenal oleh petani skala kecil, karena umumnya pola usaha yang dilakukan adalah subsisten. Padahal kesempatan untuk melakukan integrasi sangat besar ditinjau dari potensi lahan dan ternak yang ada. Salah satu penyebabnya adalah penguasaan dan pemanfaatan teknologi pertanian (Handaka et al. 2009). Keuntungan sistem integrasi tanaman ternak menurut Diwyanto et al. (2004) adalah: (1) diversifikasi penggunaan sumberdaya, (2) mengurangi resiko usaha, (3) efisiensi penggunaan tenaga kerja, (4) efisiensi penggunaan input produksi, (5) mengurangi ketergantungan energi, (6) ramah lingkungan, (7) meningkatkan produksi, dan (8) pendapatan rumah tangga petani yang berkelanjutan. Sistem integrasi tanamanternak memadukan sistem usahatani tanaman dengan sistem usahatani ternak secara sinergis sehingga terbentuk suatu sistem yang efektif, efisien dan ramah lingkungan. Menurut Chaniago (2009),

19 tujuan integrasi tanaman dengan ternak adalah untuk mendapatkan produk tambahan yang bernilai ekonomis, peningkatan efisiensi usaha, peningkatan kualitas penggunaan lahan, peningkatan kelenturan usaha menghadapi persaingan global, dan menghasilkan lingkungan yang bersih dan nyaman. Pada model integrasi tanaman ternak, petani mengatasi permasalahan ketersediaan pakan ternak dengan memanfaatkan limbah tanaman seperti jerami padi, jerami jagung dan limbah kacang-kacangan. Pada musim kemarau, limbah ini bisa menyediakan pakan berkisar 33,3 persen dari total rumput yang dibutuhkan (Kariyasa 2003). Kelebihan dari adanya pemanfaatan limbah adalah disamping mampu meningkatan "ketahanan pakan", juga mampu menghemat tenaga kerja dalam kegiatan mencari rumput, sehingga memberi peluang bagi petani untuk meningkatkan jumlah skala pemeliharaan ternak. Model integrasi usahatani dan usaha ternak memberi peluang pada pengembangan peternakan dalam suatu kawasan. Pemanfaatan sumberdaya

dengan cara ini akan optimal dan memberi nilai tambah pada produk yang dihasilkan petani. Selain itu, pola-pola semacam ini sangat fleksibel terhadap perubahan harga berbagai komoditi pertanian, baik pada tingkat lokal ataupun global. Menurut Ilham (1998) pendekatan sistem integrasi usahatani melalui pengembangan pola usahatani yang berwawasan lingkungan ditujukan untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil, juga untuk peningkatan pendapatan petani dan menjaga kelestarian sumberdaya alam (Gambar 3).
ON-FARM PEMASARAN SAPROTAN HASIL PADI SAPRONAK PAKAN TERNAK KOMPOS HASIL TERNAK PEMASARAN

USAHATANI TANAMAN

PUPUK ORGANIK BIOGAS

USAHA TERNAK

Gambar 3 Model integrasi usahatani tanaman dan ternak

20 Pengalokasian sumberdaya yang efisien, pemanfaatan keunggulan

komparatif dan pola tanam akan menghasilkan hubungan yang sinergistik antara cabang usahatani. Disamping itu, pola sistem usahatani terintegrasi ini mempunyai beberapa keuntungan baik dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Aspek lingkungan yaitu adanya upaya dalam hal pemanfaatan limbah, efisiensi lahan dan minimalisasi limbah 2.5 Hasil-hasil Penelitian Sebelumnya Beberapa hasil penelitian usahatani pola SIPT yang telah dilakukan masih terbatas melakukan analisis kelayakan secara finansial. Pertama kali penelitian pola SIPT dilakukan di Batumarta, Sumatera Selatan tahun 1985 dimana penerapan model tanaman-ternak selama tiga tahun meningkatkan pendapatan petani sebesar US$1.500/kepala keluarga/tahun, setiap kepala keluarga memiliki lahan 2 hektar tanaman pangan dan satu ekor sapi (Diwyanto et al. 2002). Kontribusi hasil ternak terhadap total pendapatan masih rendah yaitu 10% sedang dari tanaman pangan 71,7% dan sisanya berasal -dari pendapatan lainnya, dibandingkan dengan pola konvensional maka usahatani pola SIPT mampu meningkatkan pendapatan bersih petani sebesar 36% (Devendra et al. 1997). Menurut Rohaeni et al. (2004) pola integrasi padi-sapi potong dengan hasil pendapatan usahatani padi lahan irigasi di kabupaten Banyumas, Purworejo, Pati, Boyolali dan Grobogan pertahun rata-rata Rp. 2,455 juta/ha dan pendapatan dari usahatani sapi dengan pola introduksi sebesar Rp.1,183 juta per periode sehingga penerapan pola SIPT mampu memberikan tambahan pendapatan petani. Hasil penelitian di Philipina menunjukkan bahwa dengan menerapkan pola SIPT, maka usaha dari temak sapi mampu memberikan kontribusi lebih dari 50% terhadap pendapatan usahatani dan lebih dari 20% terhadap pendapatan keluarga. Pola SIPT di lahan irigasi di Mindanao meningkatkan pendapatan per tahun dad US$ 570/hektar menjadi US$ 767/hektar (Devendra et al. 1997 dalam Suwandi 2006). Hasil penelitian di Pulau Luzon, usahatani pola SIPT pada lahan kering dengan pemberian pakan penguat (konsentrat) untuk ternak sapi mampu meningkatkan pendapatan petani dari US$ 935/ha menjadi US$ 1.232/ha. Usaha ternak pada lahan kering mampu meningkatkan pendapatan

21 usahatani dari US$ 518 (tahun 1983) menjadi US$ 715 (tahun 1986) di Ban Donpondaeng Thailand usahatani pola SIPT dengan kepemilikan rata-rata 4,8 ekor sapi menunjukkan hasil pada tahun kedua mampu meningkatkan pendapatan petani sebesar 18.151 baht/kepala keluarga dari 12.728 baht/kepala keluarga dan kepemilikan rata-rata 7,5 ekor sapi pada tahun kedua mampu meningkatkan pendapatan 39.982 baht/kepala keluarga dari 24.972 baht/kepala keluarga, dimana US$1= 26.5 Bath (Devendra et al. 1997) Berdasarkan analisis biaya dan pendapatan dari integrasi usaha sapi dan padi mampu meningkatkan pendapatan petani hingga 100% apabila dibandingkan dengan pola tanam padi tanpa ternak, sekitar 40% dari hasil tersebut berasal dari pupuk organik yang diperoleh dari ternak sapi (Diwyanto dan Hariyanto 2002). Demikian halnya dengan penelitian-penelitian lainnya di berbagai tempat dan agroekosistim menunjukkan bahwa pada umumnya integrasi ternak dan tanaman, baik itu tanaman pangan, tanaman perkebunan maupun tanaman industri memberikan nilai tambah yang cukup tinggi (Diwyanto et al. 2001; Diwyanto dan Handiwirawan 2004; Utomo et al. 2007) melaporkan bahwa selain pendapatan meningkat hingga 119%, dan juga produktivitas lahan meningkat. Kegiatan pola SIPT yang didukung oleh penguatan kelembagaan tani secara nyata dapat meningkatkan hasil padi dan efisiensi usahatani. Hasil padi rata-rata meningkat 13,7-28,8% dengan tambahan keuntungan Rp940.000/ha (Priyanti et al. 2001; Setiani et al. 2000). Model usaha penggemukan sapi dengan memelihara 32 ekor memberikan keuntungan Rp 17.785.100/4 bulan atau Rp 556.000/ekor, di samping petani memperoleh pukan 17.664 ton (Prasetyo et al. 2000). Menurut Haryanto et al. (2002), ada peningkatan pendapatan hingga 100% dan 40% berasal dari hasil pupuk organik. Keuntungan dengan penerapan keterpaduan ternak dan tanaman terdapat peningkatan kesejahteraan petani yang ditunjukkan dengan peningkatan pendapatan. Dengan penerapan teknologi ini diperoleh pendapatan Rp 11.000/ekor/hari. Secara ekonomis petani dapat melakukan efisiensi usaha, sehingga pendapatan semakin meningkat yang pada gilirannya akan tercipta kemandirian petani dalam berusaha yang diwujudkan dengan mengurangi seminimal mungkin ketergantungan sarana produksi dari luar (LEISA). Pada dasarnya sistem integrasi ini resource driven dengan tujuan daur

22 ulang optimal sumberdaya nutrisi lokal yang tersedia. Untuk keberhasilan penerapan keterpaduan ini perlu didukung oleh adanya ketersediaan sumberdaya yang memadai (lahan, bahan baku, teknologi, dan SDM), adanya pasar lokal/domestik yang kuat, sesuai dengan aspirasi masyarakat dan kemauan politik pemerintah. Keberhasilan yang dapat dicapai dengan penerapan keterpaduan ini sifatnya sangat kondisional karena tingkat kesuburan tanah dan kepadatan sangat bervariasi, tingkat sosio-ekonomi masyarakat yang sangat beragam, disamping adanya keterbatasan informasi, infra struktur dan sarana/prasarana pendukung.

2.6

Analisis Leverage Analisis leverage atau analisis sensitivitas digunakan untuk mengetahui

efek stabilitas jika salah satu atribut dihilangkan saat dilakukannya ordinasi. Untuk sebanyak M atribut, maka analisis Leverage dilakukan M+l kali penghitungan, yaitu satu kali penghitungan terhadap seluruh atribut (M atribut) dan M kali terhadap salah satu atribut jika dihilangkan. Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu dilakukan standardisasi atribut untuk menyamakan skala pada skor masing-masing atribut. Hasil analisis leverage ini akan menunjukkan prosentase (%) perubahan root mean square masing masing atribut jika dihilangkan dalam ordinasi. Atribut yang memiliki prosentase tertinggi merupakan atribut yang paling sensitif atau berpengaruh kuat terhadap keberlanjutan (Kavanagh 2004). 2.7 Analisis Monte Carlo Analisis Monte Carlo merupakan metoda simulasi statistik untuk mengevaluasi efek dari random error pada proses pendugaan, serta untuk mengestimasikan nilai yang sebenarnya. Analisis ini perlu dilakukan untuk mempelajari aspek ketidakpastian yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: 1. Dampak dari kesalahan skoring akibat minimnya informasi, atau kesalah pahaman dalam memahami atribut dan skoring 2. Dampak dari keragaman skoring akibat dari perbedaan penilaian 3. Stabilitas dari MDS dalam running 4. Kesalahan dalam entry data

23 5. Tingginya nilai S-stress yang diperoleh dari alogaritma ALSCAL (Kavanagh 2004; Fauzi dan Anna 2005). Apabila perbedaan (selisih)

antara hasil penghitungan MDS dengan hasil penghitungan Monte Carlo tidak lebih dari satu maka sistem yang dikaji sesuai dengan kondisi nyata. Keberhasilan pengembangan kelembagaan akan bergantung pada kapasitas pelaksanaannya dan kelembagaan yang sudah terbentuk (existing condition). Pendekatan pengembangan kelembagaan dapat dilakukan secara individual dengan introduksi pengetahuan, kesadaran dan perilaku, maupun melalui pengorganisasian dengan fokus pada aspek peran, struktur dan prosedur. Dalam usahatani pola SIPT terdapat beberapa jenis kegiatan yang akan lebih efisien apabila dilaksanakan secara berkelompok seperti kegiatan pengandangan ternak, pengelolaan kompos dan lainnya (Fagi et al. 2004).

2.8

Analisis Status Keberlanjutan dan Analisis Prospektif Konsep pembangunan berkelanjutan bersifat multi disiplin karena

banyak dimensi pembangunan yang harus dipertimbangkan, antara lain dimensi ekologi, ekonomi, sosial-budaya, hukum dan kelembagaan. Walaupun banyak pendapat ahli memberikan persyaratan pembangunan berkelanjutan dengan aspek-aspek yang hampir sama tetapi dengan cara dan pendekatan yang berbeda Di bidang pertanian menurut Suryana et al. (1998) dalam Iswari (2008), konsep berkelanjutan mengandung pengertian, bahwa pengembangan produk pertanian harus tetap memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna menjaga keberlanjutan pertanian dalam jangka panjang lintas generasi. Pembangunan pertanian juga harus mengindahkan aspek kelestarian lingkungan sehingga pemilihan teknologi dan pengelolaannya tidak hanya didasarkan pada keuntungan sesaat (jangka pendek). Pembangunan pertanian berkelanjutan pada dasarnya menekankan pada penggunaan input luar (low external input). Penerapan konsep pembangunan berkelanjutan dalam suatu kegiatan pembangunan menjadi lebih komprehensif untuk menilai status/tingkat

keberlanjutan. Usahatani pola SIPT dapat dikatakan berkelanjutan jika memenuhi kriteria dari masing-masing dimensi dari konsep pembangunan berkelanjutan yaitu dimensi ekologi, ekonomi, dan sosial-budaya.

24 Suatu usahatani pola SIPT disebut memenuhi syarat berkelanjutan dilihat dari dimensi ekologi jika usahatani pola SIPT dapat meminimalisir penggunaan. input kimia dari luar, memanfaatkan sumberdaya yang ada dengan mengolah limbah temak menjadi kompos dan mengolah limbah jerami menjadi pakan ternak. Dengan demikian, atribut yang dapat digunakan untuk mencerminkan keberlanjutan dimensi ini adalah tingkat pemanfaatan limbah peternakan untuk pupuk organik dan limbah pertanian untuk pakan ternak, instalasi pengelolaan limbah di rumah potong hewan dan lain-lain. Usahatani pola SIPT dikatakan memenuhi dimensi ekonomi dalam konsep pembangunan berkelanjutan bila mampu menghasilkan produksi secara

berkesinambungan, meningkatkan pendapatan petani, penyerapan tenaga kerja dan tumbuhnya berbagai kegiatan usaha pendukung. Hal tersebut memperlihatkan bahwa atribut ekonomi dapat mencerminkan keberlanjutan dari dimensi ini adalah kelayakan usaha dari aspek finansial dan ekonomi, tingkat penerimaan petani, kontribusi terhadap pendapatan asli daerah, dan lain-lain. Usahatani pola SIPT dikatakan memenuhi dimensi sosial-budaya, bila pola tersebut dapat mendukung pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, sandang, perumahan, kesehatan, dan pendidikan), pemerataan pendapatan, terbukanya kesempatan berusaha secara adil, serta terdapat akuntabilitas serta partisipasi masyarakat. Dengan demikian atribut sosial-budaya yang dapat mencerminkan keberlanjutan dari dimensi ini adalah pemahaman masyarakat yang tinggi terhadap lingkungan, bekerja dalam kelompok, penyuluhan dan pelatihan dan lain-lain. Karena kondisi yang demikian akan mampu mendorong ke arah keadilan sosial dan mencegah terjadinya konflik kepentingan. Uraian sebelumnya, semakin jelas bahwa tujuan pembangunan pertanian berkelanjutan usahatani pola SIPT bersifat multidimensi yaitu mewujudkan kelestarian baik secara ekologis, ekonomi, dan sosial-budaya. Implikasinya memang menjadi kompleks jika dibandingkan dengan usahatani pola monokultur yang hanya mengejar produksi pertanian. Manfaat yang dapat diperoleh dari pertanian terintegrasi ini antara lain: meningkatkan produktivitas gabah dan daging, meningkatkan populasi ternak sapi potong, meningkatkan pendapatan petani dan pendapatan daerah, meningkatkan produktivitas dan kelestarian lahan,

25 meningkatkan lapangan kerja baru dengan mengolah kompos, meningkatkan keharmonisan kehidupan sosial dan menyehatkan lingkungan.