Anda di halaman 1dari 5

Sejarah Banjir Batavia dan Penanggulangannya di Masa Kolonial

REP | 01 August 2011 | 15:28 Dibaca: 665 Komentar: 0 Nihil

Air menggenangi kawasan Pintu Besar tahun 1872 Banjir dan Jakarta adalah dua hal yang sulit dipisahan. Semua orang pasti mafhum, banjir merupakan salah satu masalah yang dihadapi kota Jakarta sejak lama. Banjir besar pertama yang melanda Jakarta saat masih bernama Batavia tercatat pada tahun 1621, dan berulang pada tahun 1654, 1671, 1699, 1711, 1714, 1854, 1872, 1893, 1918, 1930, 1942, 1976, 1996, 2002, 2007, hingga kini. Banjir di Batavia selalu menimbulkan dampak yang merugikan, misalnya banjir pada tahun 1872 membuat Pintu Air di depan Masjid Istiqlal sekarang ini jebol, banjir di tahun 1893 membuat Batavia mendapat julukan Batavia Onder Water, lalu banjir di tahun 1918 yang bertepatan dengan kenaikan harga beras dan bahan pangan lain yang membuat beban masyarakat di Batavia bertambah. Sedangkan banjir di tahun 1930-an membuat moda transportasi trem tidak dapat berjalan dengan semestinya, dan menyebabkan beberapa orang meninggal. Batavia, sebagian besar wilayahnya berada lebih rendah daripada permukaan laut, curah hujannya pun tinggi, sistem drainasenya pun kurang baik, dan tentu saja sampah yang semakin banyak dibuang masyarakat ke sungai merupakan beberapa sebab mengapa kota ini sering dilanda banjir. Seiring perjalanan waktu, banjir yang melanda Batavia semakin tahun semakin parah, awalnya banjir yang melanda Batavia hanya merendam kawasan pinggiran sungai-sungai besar yang mengalir di wilayah Batavia, namun lama kelamaan kota bagian tengah pun tak luput dari banjir.
Usaha pertama untuk menanggulangi banjir di Batavia pertama kali dilakukan oleh Gubernur Jendral VOC Jan Pieterszoon Coen . Cara pertama yang dilakukan JP. Coen untuk menanggulangi banjir di Batavia dengan cara membagi aliran Sungai Ciliwung melalui pembangunan kanal-kanal seperti yang ada di negeri Belanda. Kanal-kanal itu dibuat untuk memperlancar aliran Sungai Ciliwung menuju Laut Jawa. Kanal-kanal yang dibangun di masa kolonial tidak hanya dibangun untuk membantu aliran air sungai-sungai yang melintasi Batavia, tetapi untuk sarana

transportasi air di daerah Batavia. Misalnya saluran Ammanusgracht yang dibangun oleh Johannes Amanus pada tahun 1647 berguna untuk pengangkutan barang ke laut melalui Kali Angke. Di tahun yang sama, beberapa kanal dibangun misalnya seperti Kanal Ancol, Kalibesar, Mookervaart, Kali Item, Sentiong dan Krukut. Kemudian dalam kurun waktu 1728 - 1778 dibangun sistem drainase dengan pintu air (kini sudah hilang) dan bendungan Katulampa yang kemudian diperbaiki pada proyek di tahun 1912. Pada tahun 1845 dibangun kanal di Grogol, Kali Karang, Ciliwung dan Gunung Sahari. Beberapa area persawahan diubah menjadi situ, seperti Situ Gintung di Ciputat. Banjir besar kembali melanda Batavia di awal tahun 1918 setelah hujan terus melanda Batavia. Akibat dari banjir besar tahun 1918, pada awal tahun 1920 pemerintah setempat merencanakan upaya untuk menangggulangi banjir. Rencana itu datang dari Herman van Breen, seorang insinyur hidrologi yang bekerja pada Burgelijke Openbare Werken yang merupakan cikal bakal Dinas Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Rencana van Breen saat itu cukup sederhana yaitu memecah aliran sungai yang masuk Batavia melalui sebelah kiri dan kanan Batavia sehingga aliran air tidak ada yang masuk tengah kota. Atas dasar rencana itulah pada tahun 1922 dimulai pembangunan Banjir Kanal Barat setelah sebelumnya membangun pintu air Manggarai. Dalam buku Bob Heering, Mohammad Hoesni Thamrin : Tokoh Betawi, Nasionalis Revolusioner Perintis Kemerdekaan , pembangunan sebuah kanal besar untuk mengatasi banjir datang dari ide M.H. Thamrin. Ide itu adalah menghubungkan Sungai Krukut dengan Sungai Ciliwung. D. Van der Zee, yang mendengar langsung ide M.H. Thamrin itu, segera meminta Dewan Kota agar masalah banjir diperhatikan. Penelitian tentang sungai di Batavia pun segera dilakukan oleh Commissie voor den Watearafvoer en Watervooierziening van Batavia (Komisi Pengaliran Air dan Penyedia Air di Batavia). Penelitian itu berlangsung selama setahun, dan hasil penelitian itu diserahkan kepada Gubernur Jenderal A.W.F Idenburg (1909-1916) pada 10 Oktober 1911.

Banjir Kanal Manggarai-Karet atau sekarang dikenal dengan Banjir Kanal Barat dibangun dalam dua tahapan pembangunan. Tahap pembangunan pertama dimulai dari Pintu Air Manggarai menuju arah barat melewati Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet. Tahap kedua dibangun setelah BOW mendapat bantuan dana dari Pemerintah, tahap kedua ini dibangun dari dari Karet menuju ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah reservoar di muara, di daerah Pluit. Dipilihnya Manggarai sebagai awal dari Banjir kanal ini menurut Paulus Londo (2002) karena letak Manggrai yang merupakan batas kota di sebelah selatan dan dianggap aman dari banjir yang bisa memudahkan pengedalian air saat musim hujan. Sebenarnya van Breen juga telah merancang pembangunan Banjir Kanal Timur, namun gagal terwujud karena masalah dana. Banjir Kanal Timur sendiri mulai di bangun di masa pemerintahan Presiden Megawati pada Juli 2003 lalu dengan menggunakan rancangan van Breen.

Dalam kurun waktu 1911-1938 cukup banyak usaha-usaha yang dilakukan Pemerintah HindiaBelanda dan Pemerintah Batavia untuk menanggulangi banjir di Batavia. Selain membangun pintu air seperti Pintu Air Manggarai, Karet, dan Kampung Gusti, pemerintah juga melakukan pemeliharaan sungai dengan mengeruk beberapa sungai besar yang ada di Batavia seperti Sungai Ciliwung, Kali Angke, Sungai Krukut, Kali Baru, Saluran Sentiong dan lain-lain. Pengerukan sungai itu dilakukan untuk memperdalam sungai. Itulah kelebihan yang dilakukan Pemerintah Hindia-Belanda saat itu, melakukan banyak pembangunan untuk menanggulangi banjir di Batavia, hanya saja kekurangan mereka adalah dana yang besar telah banyak dikeluarkan, namun hasil yang di dapat belum maksimal karena Batavia masih dilanda banjir, hingga sekarang. Sumber : Gunawan, Restu. 2010. Gagalnya Sistem Kanal: Pengendalian Banjir Jakarta dari Masa ke Masa. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. Adhi, Robert, Ksp, dkk. 2010. Banjir Kanal Timur: Karya Anak Bangsa. Jakarta : Grasindo. Artikel : Banjir di Batavia: Dinamika Pembangunan Kota di Dataran Rendah 1913 - 1940. Restu Gunawan. Disampaikan pada Konferensi Nasional Sejarah Indonesia, di Jakarta; 13 - 17 Nopember 2006 http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-347-air-mengalir-sampai-banjir.html http://kitlv.pictura-dp.nl/index.php?option=com_memorix&Itemid=28&task=result http://bataviase.wordpress.com/2006/12/21/sistem-batavia/ http://www.republikapenerbit.com/book/batavia-kota-banjir/

Pintu Air Manggarai


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Langsung ke: navigasi, cari

Pintu Air Manggarai adalah pintu air yang berada di daerah Manggarai, sebagai pengatur aliran air yang akan memasuki Kanal Banjir Barat. Pintu air ini merupakan bagian dari pengendalian banjir di Ciliwung dengan mengalihkan air ke bagian luar Jakarta, melewati kanal dari Manggarai, di kawasan selatan Jakarta sampai ke Muara Angke di pantai utara. Setelah dari pintu air Manggarai, air akan mengalir ke Pasar Rumput, Dukuh Atas, lalu membelok ke arah barat laut di daerah Karet Kubur, kemudian dilanjutkan ke arah Tanah Abang, Tomang, Grogol, Pademangan, dan berakhir di sebuah reservoar di muara, di daerah Pluit. [1] Dalam pengoperasiannya, Pintu Air Manggarai terkait erat dengan Pintu Air Karet.

Sejarah
Sejarah Pintu Air Manggarai terkait dengan pembangunan Kanal Banjir Barat, dimulai dengan adanya ide menghubungkan Kali Krukut dengan Kali Ciliwung, sehingga mengalihkan aliran air yang selama ini menggenangi Menteng dan Weltevreden. Dengan pengaturan air sejak dini dari bagian selatan Jakarta, diharapkan beban banjir di pusat kota pada masa itu lebih ringan. Prof. Herman Van Breen adalah arsitek yang bertanggung jawab membuat perencanaan pengendalian banjir melalui Kanal Banjir Barat, sistem polder, dan rencana Kanal Banjir Timur pada masa itu. Namun hingga 2003, hanya Kanal Banjir Barat yang berhasil diwujudkan. Akibatnya air hanya mengalir dari yang seharusnya menggenangi Jakarta Pusat, beralih menggenangi daerah yang lebih rendah di Manggarai dan Jatinegara. Barulah setelah pemerintahan Presiden Megawati, ide itu kembali dilanjutkan melalui Kanal Banjir Timur. [2]

Tumpukan sampah
Pintu Air Manggarai menghadapi masalah tumpukan sampah setiap tahun yang menganggu kerja pintu air. Hal ini disebabkan buruknya kesadaran warga dalam manajemen sampah serta pemukiman warga yang dibangun di atas kali Ciliwung. Pada tahun 2011, penjaga pintu air menyatakan sampah bisa mencapai 100 meter kubik setiap harinya, dan meningkat tiga kali lipat saat banjir. [3]Wakil Gubernur pada periode tersebut, Prijanto, pernah menegur buruknya penanganan sampah yang menyebabkan memburuknya banjir.[4] Pada tanggal 24 Desember 2012, Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menyatakan bahwa telah menjalin komunnikasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengganti mesin pengeruk sampah yang telah lama rusak. Selama terjadi kerusakan, fungsi mesin ini digantikan oleh ekskavator.[5]