MAKALAH (TINJAUAN PUSTAKA

)

PATOFISIOLOGI NYERI DAN PENATALAKSANAANNYA

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SYARAT KEPANITERAAN KLINIK BIDANG ANESTESIOLOGI DAN RAWAT INTENSIF DI BLUD RSUD KOTA SEMARANG

OLEH : TYAS NATASYA CITRAWATI 030.06.262 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA 2011

1

LEMBAR PENGESAHAN
Nama NIM Fakultas Universitas Tingkat Bidang pendidikan Periode Kepaniteraan Klinik Judul Makalah Diajukan Pembimbing : Tyas Natasya Citrawati : 030.06.262 : Kedokteran : Trisakti : Program Pendidikan Profesi Dokter : Anestesiologi dan Terapi Intensif : 12 September 2011- 15 Oktober 2011 : Patofisiologi Nyeri dan Penatalaksanaannya : Oktober, 2011 : Dr. Donni Indra Kusuma, Sp.An, Msi. Med.

TELAH DIPERIKSA DAN DISAHKAN TANGGAL :

Mengetahui : Ketua SMF Anestesiologi dan Terapi Intensif BLUD RSUD Kota Semarang PEMBIMBING

Dr. Purwito Nugroho, Sp.An, M.M NIP. 19551221 198301 1002

Dr. Donni Indra Kusuma, Sp.An, Msi. Med. NIP. 19760808 200903 1 002

2

An.Sp. Wahyu Hendrato. kepada : 1. MM. Med. Dr. selaku Ka. Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi syarat Kepaniteraan Klinik Bidang Anestesiologi dan Terapi intensif Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Semarang periode 12 September 2011. Selaku Ka. 6. SMF dan pembimbing Kepaniteraan Klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota semarang. 3. selaku Direktur Rumah Sakit Umum daerah Kota semarang.An. Para Staff Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang. Dr. Rekan.KATA PENGANTAR Puji syukur yang sebesar-besarnya penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunianya sehingga makalah dengan judul ”Patofisiologi Nyeri dan Penatalaksanaannya” ini dapat selesai dengan baik dan tepat pada waktunya. Sp.15 Oktober 2011. 5. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas bantuan dan kerja sama yang telah diberikan selama penyusunan referat ini. An.rekan Anggota Kepaniteraan Klinik di Bagian Anestesiologi dan terapi Intensif RSUD kota Semarang. Instalasi Anestesiologi dan pembimbing Kepaniteraan Klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD kota Semarang. selaku pembimbing Kepaniteraan klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang. Dr. MH.M . 7. Abimayu. M. 2. Fajrian. Dr. Donni Indra Kusuma. Dicky dan Dr. selaku pembimbing Kepaniteraan klinik Anestesiologi dan Terapi Intensif RSUD Kota Semarang. Sp. 3 . 4. Purwito Nugroho. Msi. Dr. Kes.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan. dan dapat berguna bagi semua yang membacanya. maka penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak. Penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila masih banyak kesalahan maupun kekurangan dalam makalah ini. supaya referat ini dapat menjadi lebih baik. Oktober 2011 Penulis 4 . Semarang.

Key words : Pain. emotional. ABSTRAK Nyeri adalah pengalaman yang bersifat personal dan subyektif yang meliputi faktor sensoris. * Coassisten FK Universitas Trisakti ** Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif BLUD RSUD kota Semarang 5 . dimana terjadi proses tranduksi. Analgesic is divided into three groups that can work on the central and peripheral. transmission. and perception and analgesic. Kata kunci : Nyeri.PATOFISIOLOGI NYERI DAN PENATALAKSANAANNYA Tyas Natasya Citrawati*Donni Indra Kusuma** ABSTRACT Pain is an experience that is personal and subjective factors which include sensory. dari transmisi nosiseptif yang lebih kompleks daripada sistem transmisi langsung. tranduksi. Penatalaksanaan nyeri dibagi menjadi tiga golongan yang dapat bekerja pada sentral dan perifer maupun keduanya untuk memblok jalur nyeri. modulation. Pain is divided into non-painful and painful nosiseptif nosiseptif. disamping anatomi jalur nyeri. Nyeri dibagi menjadi nyeri nosiseptif dan nyeri non nosiseptif. dan persepsi dan analgesik. modulation and perception process. To be able to deliver appropriate therapy. transmission. Anatomi jalur nyeri dibagi menjadi jalur nyeri asendens dan jalur modulasi desendens. Untuk dapat memberikan terapi yang tepat. it is necessary to understand the pathophysiology / neurophysiology of pain. Anatomy of pain pathways are divided into ascending pain pathway and descending modulation pathway. behavioral tissue trauma associated with actual and potential. tranduksi. perilaku yang berhubungan dengan trauma jaringan yang aktual dan potensial. from transmission system in addition to the anatomy of pain pathways. emosional. which occurs tranduction. transmisi. dan persepsi. modulasi. transmisi. maka perlu dipahami mengenai patofisioiogi / neurofisiologi nyeri. or both to block pain pathways. modulasi.

Langkah kedua memberi narkotik lemah. Sedang pada langkah tertinggi.3 Penanganan nyeri tergantung dari derajat rasa nyeri serta tanggapan pada obat analgesik. keluhan nyeri berhubungan langsung dengan trauma jaringan. pendekatan yang paling efektif adalah secara multidisiplin.1 Intensitas nyeri mengacu kepada kehebatan nyeri itu sendiri. Pengukuran nyeri bersifat subyektif dan diukur dengan menggunakan skala FACES yang dimulai dari nilai '0' (tidak dirsakan nyeri pada pasien dapat dilihat dari ekspresi wajah pasien). Langkah pertama mencakup obat analgesik non narkotik. sekali lagi dengan analgesik biasa bila dibutuhkan. yang sulit memperlihatkan bukti adanya kerusakan jaringan sebagai sumber dari rasa nyeri. dari transmisi nosisepsi yang lebih kompleks daripada sistem transmisi langsung. akupuntur. misalnya morfin. misalnya kodein. hipnosis). maka perlu dipahami mengenai patofisioiogi / neurofisiologi nyeri. Tahapan digambarkan dengan Jenjang Analgesik dengan tiga tahap atau langkah. bila dibutuhkan dengan tetap diberi analgesik biasa. ahli urut. Pemberian dan penggantian obat analgesik dilakukan secara bertahap.2 Klasifikasi nyeri secara umum terdiri dari nyeri akut dan nyeri kronik. misalnya aspirin atau parasetamol. Banyak data yang menunjukkan bahwa pada nyeri akut. Berdasarkan International Association for the Study of Pain (IASP) mendefinisikan nyeri sebagai sensasi yang tidak menyenangkan dan mengganggu dan pengalaman emosional akibat adanya kerusakan jaringan atau yang berpotensi terjadinya kerusakan jaringan atau sesuatu yang berarti kerusakan. Untuk dapat memberikan terapi yang tepat. Berbeda sekali dengan nyeri kronis. 6 .PENDAHULUAN Nyeri sangat penting sebagai mekanisme proteksi tubuh yang timbul bilamana jaringan sedang dirusak dan menyebabkan individu bereaksi untuk menghilangkan rangsang nyeri ini. hingga '5' (nyeri terburuk yang pernah dirasakan pasien).4 Praktek pengelolaan nyeri tidak hanya terbatas pada seorang ahli anestesi tetapi juga meliputi dokter lain seperti dokter praktek dan selain dokter (psikolog. Secara jelas. disamping anatomi jalur nyeri. diberikan obat narkotik kuat.

Serat Aδ yang mengandung mechanoreceptors berakhir pada lamina III dan IV yang mengandung nociceptors dan cold receptors berakhir di laminal dan V.5 Anatomi Jalur Nyeri Jalur nyeri dimulai dari jalur saraf perifer dari kulit melewati dorsal root ganglion menuju ke dorsal horn. Aδ dan C akan berakhir di Cornu dorsalis pada lamina-lamina tertentu. Anatomi jalur nyeri 7 .V.4.VI dan laminanya terus menuju ke dorsal columns.IV.6 Mechanoreceptors Aβ berakhir di lamina III. selanjutnya menjadi tractus spraotoalamicus.Definisi Menurut IASP (International Association of the Study of Pain ) nyeri didefinisikan sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang berhubungan dengan kerusakan jaringan yang nyata atau adanya potensi kerusakan jaringan atau yang tergambarkan seperti itu.2 Gambar 1. Saraf aferen primer yang mengandung serat Aβ .

 Serat Aδ mempunyai diameter 1-5 μm. bermielin.com/2011/08/fisiologi-nyeri.2 Adapun spesifikasi serat saraf sensoris aferen adalah sebagai berikut:  Serat Aβ mempunyai diameter > 6-12 μm. thermoreceptor dan mecahnoreseptor) akhir serat aferen di lamina II. untuk nyeri tumpul / terbakar.jpg) Serat C yang mengandung nociceptors.5 μM. serat saraf sensoris aferen (Sumber: http://fikarkasper309. ujung saraf nosiseptif polimodal (nociceptor. transmisi lambat. bersifat unimodal (mechanoreceptor) yaitu untuk nyeri tekan.blogspot.blogspot.(Sumber:http://3. bersifat poli modal (nociceptor. cold receptor dan mechanoreceptor) untuk nyeri tajam yang terlokasi dengan baik. transmisi lebih cepat. thermoreceptors dan mechanoreceptors berakhir dilamina I dan II. Gambar 2.bp.html) 8 .com/_7yh7JzbaJ1c/TCrRyZ8BlvI/AAAAAAAAAAM/3bY Wivh0_MM/s1600/nyeri-pathways.  Serat C mempunyai diameter 0. tidak terlokasi. akhir serat eferen dilamina I dan V.2-1. bermielin dan mempunyai ambang rendah. tidak bermielin.

wordpress.8 Patofisiologi Nyeri Nyeri Nyeri Nosiseptif Nyeri Somatik Somatik Superfisial (Kulit) Somatik Dalam Nyeri Viseral Nyeri Non-Nosiseptif Nyeri Neuropatik Nyeri Psikogenik Tabel 1. impuls akan dibawa secara menyilang ke arah substansia alba lateral melalui tractus spinothalamicus lateral. Di substansia grisea posterior. Tractus spinothalamicus lateral akan membawa impuls ke arah thalamus. luka bakar.com/) Nyeri dibedakan antara nyeri nosiseptif (somatic pain) dan nyeri non nosiseptif (neuropathic pain).4 9 . Third order neuron. dimana nyeri nosiseptif berhubungan dengan kerusakan jaringan perifer. First order neuron. luka kecelakaan dll.Satu neuron terdiri atas : ujung saraf. misalnya nyeri pasca bedah karena sayatan operasi. Rangsangan nosiseptif ditimbulkan oleh mediator nyeri yang dilepas pada kerusakan jaringan perifer. Antara satu neuron dengan neuron yang lain dibatasi oleh celah / sambungan serabut saraf yang disebut sinaps. axon yang terbungkus mielin dan inti neuron / sel saraf. menghantarkan nyeri dari perifer ke medula spinalis 2. menghantarkan nyeri dari thalamus ke korteks7 Rangsangan yang datang (impuls) dibawa dari reseptor-reseptor perifer yang ada di permukaan tubuh melalui tractus dorsolateral Lissauer ke substansia grisea posterior. Perhatikan persilangan yang dilakukan oleh tractus spinothalamicus lateral menyebabkan rangsangan yang datang akan diterima di sisi yang berlawanan pada sistem saraf pusat.6 Ada tiga neuron yang terlibat dalam jalur nyeri: 1. menghantarkan nyeri dari medula spinals ke thalamus 3. Second order neuron. Klasifikasi nyeri (Sumber : http://panmedical. Selanjutnya dari thalamus impuls dibawa ke gyrus postcentralis pada korteks somatosensoris cerebral melalui kapsula interna dan korona radiata (tractus thalamocorticalis).

atau proses ini. disebutkan juga terdapat peran dari neuroregulator yang merupakan suatu substansi yang memberikan efek pada transmisi stimulus saraf. sehingga nyeri ini. biasanya substansi ini ditemukan pada nosiseptor yaitu akhir saraf dalam kornu dorsalis medulla spinalis dan pada tempat reseptor dalam saluran spinotalamik. fase pertamanya adalah transduksi. Pada nyeri nosiseptif. Transduksi.10 Serabut A-δ dan serabut C tidak hanya berbeda dalam struktur dan kecepatan transmisinya namun mereka juga mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mendeteksi suatu stimulus. dan tekanan halus. tidak dipengaruhi oleh penghambat enzim COX-2. misalnya neuropathia diabetica atau herpes zoster.7 Yang dimaksud dengan nosisepsi adalah rangkaian peristiwa elektrofisiologik yang berawal dari kerusakan jaringan (sumber rangsangan nyeri) sampai ke persepsi nyeri. getaran.12 Selain dari peran serabut A-δ dan serabut C.9 Neuron transduksi diperankan oleh suatu nosiseptor berupa serabut A-δ dan serabut C yang menerima langsung suatu stimulus noksius. 10 . dan serabut C menghantarkan sensasi berupa sentuhan. Proses ini tidak melibatkan prostanoid atau produksi prostaglandin oleh siklooksigenase.11. kedua tipe serabut ini memiliki jalur yang sama dalam menghantarkan stimulus yang terdeteksi. Disini didapati adanya protein transducer spesifik yang diekspresikan dalam neuron nosiseptif ini dan mengkonversi stimulus noksious menjadi aliran yang menembus membran. misalnya nyeri pada kerusakan jaringan saraf perifer.4. konversi stimulus yang intens apakah itu stimuli kimiawi seperti pH rendah yang terjadi pada jaringan yang meradang . yaitu neurotransmitter dan neuromodulator. atau kekuatan mekanis. Peristiwa ini melibatkan 4 tahap. Walaupun dengan adanya perbedaan ini. stimulus panas diatas 420C. membuat depolarisasi membran dan mengaktifkan terminal perifer. Neuroregulator ada dua macam. Serabut A-δ mentransmisikan nyeri tajam dan tusukan. suhu. rangsangan timbul pada disfungsi atau kerusakan pada neuron nosiseptif itu sendiri. yaitu : 1. Rute dari impuls saraf ini biasanya disebut dengan ”jalur nyeri”.Sedangkan nyeri non nosiseptif tidak berhubungan dengan kerusakan jaringan perifer.

lokasi. tusuk. Transmisi. dari stimuli perifer yang berbeda lokasi. dimana dapat memprovokasi proses kompleks.Neurotransmitter mengirimkan impuls elektrik melewati celah sinaptik antara 2 serabut saraf dan neuromodulator berfungsi memodifikasi aktivitas saraf dan mengatur transmisi stimulus saraf tanpa mentransfer secara langsung sinyal saraf melalui sinap. menyebrangi sisi berlawanan via commisura alba anterior dan naik ke aras melalui jalur anterolateral. nyeri secara cepat bertransmisi melalui serabut A-δ dan kemudian berujung pada kornu dorsalis di medulla spinalis dan kemudian bersinapsis dengan dendrit pada neospinothlamaik melalui bantuan suatu neurotransmitter. Neuron ini kemudian berakhir dalam batang otak. dengan sepersepuluh serabut berhenti di thalamus dan yang lainnya pada medulla. Transmisi ini melibatkan pelepasan asam amino decarboxilic glutamate. Selanjutnya ini akan memungkinkan transfer yang cepat dari input mengenai intensitas.12 Pada traktus paleospinothalamik. Impuls kemudian dibawa oleh serabut saraf yang berakhir pada lamina V. Di sini terjadi transfer informasi dari neuron nosiseptif primer ke neuron di kornu dorsalis. Serabut ini kemudian berakhir pada kompleks ventrobasal pada thalamus dan bersinapsis dengan dendrit pada korteks somatosensorik. 11 . nyeri lambat dihantarkan oleh serabut C ke lamina II dan III dari cornu dorsalis yang dikenal dengan substantia gelatinosa.13 2. dan gores. Akson dari neuron ini menuju ke otak dan menyebrang ke sisi lain melalui commisura alba anterior. naik keatas dengan columna anterolateral yang kontralateral.12 Sebenarnya terdapat beragam jalur khusus hantaran sinyal dari kerusakan jaringan dibawa ke berbagai tujuan. yaitu melalui traktus neospinothalamic untuk ”nyeri cepat – spontan” dan traktus paleospinothalamic untuk ”nyeri lambat”. dan substantia grisea sentralis dari tectum mesencephalon. Nyeri cepat-spontan ini dirasakan dalam waktu 1/10 detik dari suatu stimulus nyeri tajam.12 Pada traktus neospinothalamik. pons. ada dua cara bagaimana sensasi nosiseptif dapat mencapai susunan saraf pusat. juga peptida seperti substantia P yang bekerja pada reseptor penting di neuron post-sinaptic. Secara umum. selanjutnya ke neuron proyeksi yang akan meneruskan impuls ke otak. juga pada kornu dorsalis. bersinaps dengan neuron yang bergabung dengan serabut dari jalur cepat. durasi.

status emosional & kultur seseorang. Konsep dari sistem ini yaitu berdasarkan dari suatu sifat. spinomesencephalic. spinocervical. kornu posterior diibaratkan sebagai pintu gerbang yang dapat tertutup adalah terbuka dalam menyalurkan input nyeri. Secara skematik proses modulasi dapat dilihat pada skema dibawah ini.Noradrenergik (Norepinephric) Sistem analgesik endogen ini memiliki kemampuan menekan input nyeri di kornu posterior dan proses desendern yang dikontrol oleh otak seseorang. Proses modulasi ini dipengaruhi oleh kepribadian. Traktus spinolimbik termasuk dari bagian spinohipotalamik yang mencapai kedua bagian lateral dan medial dari hypothalamus dan kemudian traktus spinoamygdala yang memanjang ke nukleus sentralis dari amygdala. Analgesik endogen meliputi : .Transmisi nosiseptif sentripetal memicu berbagai jalur : spinoreticular. seperti spinothalamik membawa sinyal ke thalamus. fisiologik. Traktus spinoservikal. Traktus spinomesencephalik mengandung berbagai proyeksi yang berakhir pada tempat yang berbeda dalam nukleus diencephali. motivasi. Modulasi. spinolimbic. dan spinothalamic. pendidikan.Opiat endogen .10 3. Pada fase modulasi terdapat suatu interaksi dengan sistem inhibisi dari transmisi nosisepsi berupa suatu analgetik endogen.Serotonergik . 12 . dan morfologi dari sirkuit yang termasuk koneksi antara periaqueductal gray matter dan nucleus raphe magnus dan formasi retikuler sekitar dan menuju ke medulla spinalis.12 Traktus spinoreticular membawa jalur aferen dari somatosensorik dan viscerosensorik yang berakhir pada tempat yang berbeda pada batang otak.

Gambar 3.12 13 . pada saat individu menjadi sadar akan adanya suatu nyeri.com/2008/05/nyeri-nosiseptif. Persepsi.9. Fase ini merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri. Area ini mengandung sel-sel yang bisa mengatur emosi. Persepsi ini menyadarkan individu dan mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu itu dapat bereaksi. Proses ini berlangsung sangat cepat sehingga suatu stimulus nyeri dapat segera menghasilkan emosi. maka akan terjadi suatu reaksi yang kompleks. Skema Proses Modulasi (Sumber: http://cetrione.html) 4.11 Fase ini dimulai pada saat di mana nosiseptor telah mengirimkan sinyal pada formatio reticularis dan thalamus. Area ini yang akan memproses reaksi emosi terhadap suatu nyeri.blogspot. sensasi nyeri memasuki pusat kesadaran dan afek. Sinyal ini kemudian dilanjutkan ke area limbik.

transmisi dan modulasi. Pada aktivasi sekunder. tetapi juga ke cabang ujung saraf yang lainnya. dimana peptid inkl substance P dilepas. analgesik local dan analgesik sentral.11 Pada proses transmisi. proses depolarisasi dan repolarisasi yang dipicu oleh mediator nyeri akan membentuk potensial aksi dan sinyal elektrokimiawi dikirim kesepanjang serat saraf sensoris.com/2008/05/nyeri-nosiseptif.12 Yang disebut “balanced analgesia” adalah pemberian analgetik yang sisi targetnya pada proses transduksi.html) Penatalaksanaan Nyeri Pada aktivasi primer. Jadi analgesik tersebut sebagai analgesik perifer. sinyal dari ujung saraf tidak hanya ditransmisi ke spinal cord.blogspot. yaitu hasil akhir dari rangkaian peristiwa nosiseptik dan interaksi proses sentral dan rangsangan perifer yang pada gilirannya menghasilkan suatu perasaan subyektif yang dikenal sebagai persepsi nyeri. Skema proses terjadinya nyeri nosiseptif (Sumber: http://cetrione.11 Selanjutnya substance P melepas histamin dan mask selles dan serotonin dari platelets.Gambar 4. Substance P menyebabkan vasodilatasi dan edema neurogenik dan disini terjadi akumulasi bradikinin.14 14 . Pada proses mudulasi. sinyal rangsangan nosiseptif perifer akan dilawan / ditekan oleh sinyal hambatan nyeri (opiate endogen) sehingga terjadilah persepsi. kerusakan yang melepas kalium dan terjadi biosentesis prostaglandin dan bradikinin.

Modulasi ini akan menyebabkan medula spinalis merilis neurotransmiternya (nor epinefrin dan serotonin).: 1.14 15 . Reseptor yang berbeda akan memberikan efek farmakologis yang berbeda pula tergantung dimana lokasinya. yang mana akan memodulasi input serabut C kedalam Lamina II medula spinalis.bp. syaraf perifer. adalah derivat opium termasuk opium natural dan sintetis.Gambar 5. ganglion. Sebagian besar reseptor opioid di otak berada di PAG ( periaqueductal gray). target obat analgetik (Sumber: http://1. medula adrenal dan usus).gif) Obat analgetika dapat dibagi dalam tiga golongan sebagai berikut.com/f4qUPt3Mius/TbhBCuwrcYI/AAAAAAAAAJg/Lz7Hg_JCiro/s320/terapi-nyeri. medula spinalis. opioid berarti mirip opiat (opiatelike). Stimulasi pada reseptor ini akan mengaktifkan serabut desenden.14 Ada 5 grup reseptor opiat yang tersebar di dalam tubuh (otak.blogspot. Golongan Opioid Opiat berasal dari biji-bijian opium. Opioid merupakan obat penghilang nyeri yang terkuat. sayangnya masih banyak pemahaman yang salah mengenai opioid sehingga menyebabkan masih banyaknya tulisan resep dokter yang tidak tepat.

14 Gambar 6. dan akan meningkatkan konduksi Kalium pada terminal post-sinaptik. Stimulasi pada reseptor ini akan menghambat rilis SP ( Substansi P) dari terminal syaraf pre-sinaptik. OAINS adalah obat analgetika non opioid yang mempunyai efek anti-inflamasi.com/2010/10/analgesic-antiinflammation.1. OAINS amat efektif untuk menghilangkan nyeri dan tergantung dari efek durasi dari berbagai golongannya. Obat golongan ini direkomendasikan untuk menanggulangi nyeri ringan sampai sedang.files.Reseptor opioid ditingkat medula spinalis berada di Lamina II ( substansia gelatinosa). target kerja OAINS (Sumber: http://denikrisna.14 2. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS / NSAID). Untuk nyeri sedang sampai berat dapat diberikan kombinasi OAINS dengan opioid.jpg) 16 . Tergantung dari penyebab yang mendasari nyerinya.14 2. Golongan Non Opioid Yang termasuk golongan ini adalah golongan obat anti inflamasi non steriod. golongan obat acetaminophen dan obat golongan tramadol. anti-piretik dan analgetik.wordpress.

Dosis tinggi akan menurunkan sintesis PGE2 dan PGI2 yang berguna untuk menghambat sekresi asam lambung dan merangsang pembentukan sito-protektif mukosa intestinal. karenanya ia merupakan opioid agonis yang lemah. Karena sensitisasi ini maka mediator kimia seperti Bradikinin.14 17 .Cara kerja OAINS terutama melalui penghambatan enzim COX. Dengan adanya NO pada celah sinaptik dapat mengaktivasi neuron traktus spinotalamikus post sinaptik.14 2. Analgesia disebabkan oleh inhibisi NO dalam medula spinalis. Karena itu dapat menyebabkan erosi gaster dan pendarahan gaster sekunder. alkoholik dan usia lanjut. riwayat perdarahan lambung.2. Ikatan lemah pada reseptor mu.14 2. yang mana menyebabkan efek anti-piretik. Histamin dan SP akan memberikan efek yang lebih besar pada reseptor nyeri (nosiseptor). muntah dan sakit kepala. Obat ini sering dikombinasi dengan narkotik (codein). Efek samping yang sering terjadi adalah mual. dan tidak menyebabkan iritasi lambung maupun menghambat agregasi trombosit.14 Cara kerja obat masih belum jelas. yang mencegah pemecahan asam arakhidonat membentuk prostaglandin (PG).14 Efek samping acetaminophen amat minimal. NO adalah neurotransmiter yang dirilis pada kornu dorsalis medula spinalis bila ada aktivasi dari serabut C. terutama pada ulcus peptikum. b. Obat acetaminophen Acetaminophen adalah derivat parasetamol dan berbeda dengan golongan OAINS karena tidak mempunyai efek anti inflamasi. Efek farmakologis tramadol ialah terserap melalui traktus gastrointerstinal dan parenteral. mekanis. Profilaksis dapat dilakukan dengan pemberian H2 antagonis dan analog prostaglandin. Obat ini baik untuk menghilangkan nyeri sedang yang tidak memerlukan anti inflamasi. Selain itu asetaminophen akan menginhibisi COX di otak.3. Obat tramadol Tramadol menyebabkan analgesi melalui dua mekanisme yaitu: a. PG ini akan memicu reaksi inflamasi dan secara langsung akan mensensitisasi terminal syaraf serabut C di perifer terhadap stimulus termal. dan kimia.14 OAINS akan menyebabkan iritasi lokal pada mukosa lambung secara langsung dan tidak langsung. Memudahkan rilis dan menghambat re-uptake dari serotonin atau norepinephrin.

Obat ini menghilangkan nyeri sebagai suatu sindrom atau potensiasi dengan obat analgetika seperti halnya kerja opioid. neuropatik dan kontinyu burning. Obat anatagonis alfa-1 dan agonis alfa-2 18 . Neuron serotonergik dan noradrenergik dalam batang otak akan menginhibisi input serabut C ke medula spinalis.3. gabapentin dan phenytoin.1. Obat anti depresan Obat anti depresan sering digunakan pada penanggulangan sindroma nyeri yang bersifat kronis.3. Cara kerja obat ini umumnya dengan memblok Sodium Channel yang akan menekan fokus ektopik dalam otak. Obat yang sering digunakan adalah golongan Bretylium. Obat anti depresan akan menginhibisi re-uptake amine biogenik (norepinephrin dan serotonin) kembali ke dalam terminal syaraf. maka obat co-analgetika semakin banyak digunakan dalam penanggulangan nyeri. Cara kerja obat golongan ini hampir sama seperti obat anti konvulsan 15 3. Guanetidin dan Lidokain. Obat anti konvulsan Obat anti konvulsan efektif digunakan pada penanggulangan sindroma nyeri yang bersifat intermiten-tajam.15 3. sehingga meningkatkan konsentrasi dan durasi dari kerja neurotransmiter pada sinaps. Golongan Co Analgetika Obat golongan ini digunakan dalam penanggulangan nyeri walaupun mungkin tidak mempunyai efek analgetik. Obat yang sering digunakan adalah golongan carbamazepine.4. Obat anti depresan akan mengaktifkan neuron inhibisi desenden yang juga diaktifkan oleh opioid. Obat anti aritmia Beberapa obat anti aritmia tampaknya berguna pada penanggulangan sindroma nyeri yang bersifat intermiten-tajam. tetapi seiring dengan perkembangan pengetahuan fisiologi yang mendasari sindroma nyeri. Anti depresan akan berpotensiasi dengan serotonin dan norepinephrin yang di rilis oleh opioid. tetapi juga untuk nyeri yang bersifat allodinia dan dysesthetik.15 3. karenanya dapat mencegah kejang dan obat ini juga mengurangi pelepasan fokus ektopik dari cedera syaraf perifer yang diperkirakan merupakan sebab dari nyeri intermiten yang tajam.15 3. Umumnya obat Coanalgetika sebelumnya digunakan untuk tujuan lain dari penanggulangan nyeri.2.

Jalur nyeri dimulai dari jalur saraf perifer. Alfa bloker akan memblok kerja NE pada reseptor ini. Terminal syaraf perifer bertindak sebagai reseptor alfa yang akan menjadi aktif pada keadaan nyeri neuropatik. Anatomi jalur nyeri dibagi menjadi jalur nyeri asendens dan jalur modulasi desendens. Alfa-2 agonis akan menghambat rilis dari NE oleh terminal syaraf simpatis post ganglionik. DAFTAR PUSTAKA 19 . yang menstimuli reseptor ini dan menyebabkan rasa nyeri. perilaku yang berhubungan dengan trauma jaringan yang aktual dan potensial. SSS akan merilis norepinephrin(NE). dari kulit / viscera melewati dorsal root ganglion menuju ke dorsal horn. Saraf aferen primer yang mengandung serat Aβ . Aδ dan C akan berakhir di Cornu dorsalis pada lamina-lamina tertentu. modulasi.15 KESIMPULAN Nyeri adalah pengalaman yang bersifat personal dan subyektif yang meliputi faktor sensoris. Obat alfa-1 antagonis dan alfa-2 agonis digunakan untuk maksud ini. dimana terjadi proses tranduksi. transmisi.Sistem Syaraf Simpatis (SSS) terlibat dalam banyak sindroma nyeri kronis. Dengan cara ini obat ini membuat suatu simpatektomi kimia. Konsep nyeri berubah dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan dan perkembangan neuroanatomi. Nyeri berdasarkan asal timbulnya dapat dibagi menjadi nyeri perseptif dan nyeri nosiseptif. emosional. Demikian juga konsep penatalaksanaannya. neurofisiologi dan neurofarmakologi. Penatalaksanaan nyeri dibagi menjadi tiga golongan yang dapat bekerja pada sentral dan perifer maupun keduanya untuk memblok jalur nyeri. dan persepsi. sehingga merupakan tantangan bagi praktisi nyeri modern untuk meningkatkan mutu pelayanan dan menyebarluaskan informasi nyeri terbaru. selanjutnya menjadi tractus spraotoalamicus.

1. Available from : http://id.wordpress.com/2009/08/29/manajemen-nyeri-akut-dan-nyerirefrakter/. Diunduh pada tanggal 30 20 . Diunduh pada 10. 1993. 13.med.ac. Purwandari R. 3. Philadelphia. 2006. Erlangga Universities Press. Nyeri. Mosby. Dian Rakyat. Rasa Nyeri. Basic Neuroanatomical Pathway.org/wiki/Pain_and_nociception.do c?cidReq=IKU13239dc2. Diunduh pada tanggal 30 September 2011. Pemeriksaan Fisik.elearning. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.html. tanggal 1 September 2011. Manajemen Nyeri Akut dan Nyeri Refrakter. Jakarta. 2. 156-159.com/. McGraw Hill. 12.id/courses/IKU13236c49/document/NYERI handout.wikipedia. 2560. Semarang. Labour Pain As A Model Of Acute Pain. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum. Nyeri. Jakarta. Anonymous. 1996. 117-120. 9. Soetedjo.or.id/li/bacali. Philadelphia. 8. Murdiyanto J. Diunduh pada tanggal 30 September 2011. Diunduh pada tanggal 1 Oktober 2011. 4. Pain and Nociception. Pain Outline. 7. Chapman CR. September 2011. 11. Surabaya. Psychological Aspects of Pain : A Consciousness Studies Perspective – in The Neurological Basis Of Pain.php?lino=560. Available from: http://panmedical. Available from: http://perawattegal. Aspek Neurobiologi Nyeri dan Inflamasi. Panmedical. Wikipedia. 2004. Mekzack R. Budiman G.wordpress. Available from : http://www. 5. Sidharta P. Diunduh pada tanggal 30 September 2011. Available from : http://en. 5-11. 1-20. Available from : http://library. 2009. Diunduh pada tanggal 30 September 2011. 2005.wikipedia. Nyeri: Pengenalan dan Tatalaksana.utah. 51-66. Surota.org/wiki/Pemeriksaan_fisik. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Setiawan.edu/pain_center/education/outlines/toc. 6. Hadinoto H.unej. Available from: http://spiritia.

Jakarta. 27-33. Anestesiologi. Anestesiologi. 15. Thaib R. Dahlan R. Semarang. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. Jatmiko H. 171-183. 2010.14. 2004. Muhiman M. 21 . Soenarjo. Ikatan Dokter Spesialis Anestesi dan Reanimasi. Sunatrio S.