Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Latar Belakang Broiler adalah istilah yang biasa digunakan untuk menyebutkan ayam hasil budidaya teknologi peternakan dengan menyilangkan sesama jenisnya. Karekteristik ekonomi dari ayam broiler adalah pertumbuhan cepat serta penghasil daging dengan konversi pakan efisien. Bobot badan ayam broiler ini tergolong tinggi. Ransum merupakan gabungan dari beberapa bahan yang disusun sedemikian rupa dengan formulasi tertentu untuk memenuhi kebutuhan ternak selama satu hari dan tidak mengganggu kesehatan ternak. Ransum dapat dinyatakan berkualitas baik apabila mampu memberikan seluruh kebutuhan nutrien secara tepat, baik jenis, jumlah, serta imbangan nutrien tersebut bagi ternak. Ransum yang berkualitas baik berpengaruh pada proses metabolism tubuh ternak sehingga ternak dapat menghasilkan daging yang sesuai dengan potensinya. Faktor penting yang harus diperhatikan dalam formulasi ransum ayam broiler adalah kebutuhan protein, energi, serat kasar, Ca dan P. Komponen nutrien tersebut sangat berpengaruh terhadap produksi ayam broiler terutama untuk pertumbuhan dan produksi daging.
Ransum yang baik adalah ransum yang memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan fase fisiologis serta tidak menggangu kesehatan ternak. Ransum merupakan campuran dari berbagai macam bahan pakan yang diberikan pada ternak untuk memenuhi kebutuhan nutrien selama 24 jam. Nutrien tersebut diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan, perkembangan, dan reproduksi ternak. Usaha peternakan ayam broiler merupakan usaha komersial yang terus dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan gizi masyarakat di Indonesia. Adapun faktor yang menentukan tingkat keberhasilan di dalam usaha peternakan ayam broiler adalah pemilihan bibit, pemberian ransum, dan manajemen pemeliharaan. Ransum merupakan faktor yang paling dominan, karena biaya yang dikeluarkan untuk ransum bisa mencapai 70% dari total biaya produksi.
1

Ayam broiler merupakan tipe ayam pedaging dan umumnya digunakan untuk konsumsi sehari-hari sebagai pemenuhi kebutuhan protein hewani. Berdasarkan aspek pemuliaannya terdapat tiga jenis ayam penghasil daging, yaitu ayam Kampung, ayam petelur afkir dan ayam broiler. Ayam broiler umumnya dipanen pada umur sekitar 4-5 minggu dengan bobot badan antara 1,2-1,9 kg/ekor yang bertujuan sebagai sumber pedaging (Kartasudjana, 2005) dan ayam tersebut masih muda dan dagingnya lunak (North dan Bell, 1990). Ayam broiler mempunyai beberapa keunggulan seperti daging relatif lebih besar, harga terjangkau, dapat dikonsumsi segala lapisan masyarakat, dan cukup tersedia di pasaran. Ayam broiler merupakan ayam yang memiliki ciri khas tingkat pertumbuhan yang cepat sehingga dapat dipasarkan dalam waktu singkat. Pertambahan bobot badan diperoleh dengan pengukuran kenaikan bobot badan melalui penimbangan berulang dalam waktu tertentu misalnya tiap hari, tiap minggu, tiap bulan, atau tiap tahun. Peternakan di Indonesia saat ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan tersebut diiringi pula dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan daging sebagai salah satu sumber protein. Pemenuhan akan daging mempunyai prospek ke depan yang baik, maka ternak yang ideal untuk dikembangkan adalah temak unggas.

Tujuan Praktikum Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui besarnya curah hujan yang jatuh pada permukaan horizontal pada periode pengamatan tertentu. Kegunaan Praktikum Adapun kegunaan penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk dapat mengikuti Praktikal Test di Laboratorium Bahan Pakan Ternak dan Formula Ransum Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, dan sekaligus sebagai bahan informasi bagi penulis dan pembaca.

TINJAUAN PUSTAKA

Mengenal ayam broiler Ayam yang masih berumur rendah/muda, tingkat konsumsinya juga masih rendah. Sedangkan pada ayam yang berumur tinggi, maka tingkat konsumsinya juga akan tinggi, pertambahan bobot badan tergantug dari banyak pakan yang dikonsumsi dan factor lingkungan. (Anggorodi, 1995)
Ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan sekelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan ekonomis tertentu. Contoh strain ayam pedaging antara lain CP 707, Starbro, Hybro (http://www.google.co.id/PKL Akbar, 2009).

Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi, efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadi daging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannya adalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi. Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu, kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa (http://www.google.co.id/evaluasi-kecukupan
nutrient-pada-ransum-broiler07, 2009).

Pertumbuhan yang paling cepat terjadi sejak menetas sampai umur 4-6 minggu,kemudian mengalami penurunan dan terhenti sampai mencapai dewasa

(Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam broiler adalah ayam jantan atau betina yang umumnya dipanen padaumur 5-6 minggu dengan tujuan sebagi penghasil daging (Kartasudjana dan Suprijatna, 2006). Ayam broiler memiliki kelebihan dan kelemahan, kelebihannya adalah dagingnya empuk, ukuran badan besar, bentuk dada lebar, padat dan berisi,efisiensi terhadap pakan cukup tinggi, sebagian besar dari pakan diubah menjadidaging dan pertambahan bobot badan sangat cepat sedangkan kelemahannyaadalah memerlukan pemeliharaan secara intensif dan cermat, relatif lebih peka terhadap suatu infeksi penyakit dan sulit beradaptasi (Tillman, 1989).

Ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yangdipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh (Muwarni, 2008). Konsumsi Ransum Pertumbuhan yang cepat memang dipengaruhi oleh konsumsi ransum yang banyak. Terlebih ayam broiler termasuk ayam yang senang makan. Bila ransum diberikan tidak terbatas atau ad libitum, ayam broiler akan terus makan sepuasnya hingga kekenyangan. Oleh Karen itu sebaiknya setiapbibit ayam sudah ditentukan taraf konsumsi ransumnya pada batas tertentu sehingga kemampun prima ayam akan muncul (Rasyaf, 2009). Ransum yang dijual di took-toko unggas mempunyai tiga bentuk fisik, yaitu : pertama bentuk fiisik tepung lengkap ata all mash, kedua, ransum berbentuk butiran lengkap atau pellet, ransum ini berasal dariall mash yang dipadatkan berbentuk butiran. Ketiga, ransum berbentuk crumble atau butiran pecah lengkap (Rasyaf, 1993). Pemberian ransum dapat dilakukandengan cara bebas maupun terbatas. Cara bebas, ransum disediakan ditempatpakan sepanjang waktu agar saat ayam ingin makan ransumnya selalu tersedia.Cara ini biasanya disajikan dalam bentuk kering, baik tepung, butiran, maupunpelet. Penggantian ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter 75% ditambah ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50% ditambah ransum finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter 25% ditambah ransum finisher 7 5% dan hari terakhir diberi ransum finisher (Yunilas, 2005).

Kebutuhan Nutrisi Ayam Broiler Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya (http://www.google.co.id/budidaya-ayam rasbroiler, 2010). Konversi ransum didefinisikan sebagai banyaknya ransum yang dihabiskan untuk menghasilkan setiap kilogram pertambahan bobot badan. Angka konversi ransum yang kecil berarti banyaknya ransum yang digunakan untuk menghasilkan satu kilogram daging semakin sedikit.( Kartasudjana dan Suprijatna, 2006).
4

Perkandangan Tipe kandang berdasarkan konstruksi lantai, dibedakan menjadi dua tipe, yaitu lantai rapat (termasuk kandang sistem litter) dan lantai renggang atau berlubang yang diantaranya. Pertama kandang berupa kotak sangkar yang terbuat dari kawat atau anyaman bamboo. Kedua, lantai kandang terbuat dari anyaman kawat ram. Ketiga, menggunakan bilah-bilah yang disusun memanjng sehingga kadang lantai bercelah-celah (Suprijatna,et.al, 2005). Lokasi yang dipilih untuk peternakan harus tersedia sumber air yang cukup, terutamapada musim kemarau. Air merupakan kebutuhan mutlak untuk ayam

karenakandungan air dalam tubuh ayam bisa mencapai 70%. Jumlah air yangdikonsumsi ayam bergantung pada jenis ayam, umur, jenis kelamin, berat badan ayam dan cuaca.( Murhalien, dkk, 2011) Jenis litter yang sering digunakan adalah sekam dan serbuk gergaji. Litter harus selalu dijaga agar tetap kering dan bersih. Litter yang basah dapat meningkatkan kandungan amonia, menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit, dan menyebabkan bulu kotor (Murhalien, dkk, 2011). Pemilihan lokasi perkandangan bagi ayam broiler sebaiknya harus strategis. Dalam arti harus dekat dengan sumber air dan tidak ditempat keramaian, karena dapat membuat ayam stress dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler tersebut. Apabila ayam stress maka kan mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat dan akan menimbulkan kerugian bagi para peternak.(Muwarni, 2000).

Temperatur Kandang
Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Suhu atau temperatur ideal kandang ayam broiler berkisar antara 32,2-35 C. Indonesia
0

merupakan negara beriklim tropis. Perbedaan suhu antara siang dan malam hari cukup tinggi berkisar antara 3 5 C dengan kisaran suhu 26 32 C, sedangkan suhu optimal untuk pemeliharaan broiler agar dapat berproduksi dengan baik adalah 21 22 C (Wahyuwardani, dkk, 2000) Selama cuaca panas, unggas harus dijauhkan dari ransum sementara karena suhu akan meningkat dan mencapai puncaknya. Pemberian ransum pada jam-jam awal dan akhir dari hari terang akan membantu mengurangi kematian pada broiler.(Muhammad, 2010).

Umur ayam (hari) 1-7 8 - 14 15 - 21 22 - 28 29 - 35

Suhu ideal ( C) 34 - 32 29 - 27 26 - 25 24 - 23 23 - 21

(http://www.google.co.id/sistem pemeliharaan broiler,2009). Vaksinasi Vaksinasi adalah tindakan preventif pencegahan penyakit dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Vaksinasi penting yang dibutuhkan ayam ras pedaging yaitu vaksinasi ND/tetelo, dilaksanakan pada : (a) umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan (b) pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum (http://pemeliharaan-ayambroilerpdf09, 2009).

BAHAN DAN METODE PERCOBAAN

Waktu dan Tempat Praktikum Adapun praktiukum ini di lakukan pada tanggal 12 November 2012 sampai dengan tanngal 14 Desember 2012 bertempat di Kandang balai Penelitian Program studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara Medan. Bahan Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah DOC sebagai objek pemeliharaan, Vita Chick sebagai minuman ternak, Bahan Pakan sebagai campuran ransum, ransum komersial sebagai pakan control, air minum, sekam sebagai alas kandang, Koran sebagai alas atas kandang, terpal sebagai penutup kandang untuk menjaga suhu kandang, vaksin ND dan Gumboro. Alat Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kandang ayam yang terbuat dari jaring, alat tukang untuk memperbaiki kandang, alat sanitasi untuk menjaga kebersihan kandang, tempat makan dan tempat minum sesuai dengan umur DOC, tape untuk membantu DOC untuk berdaptasi, Timbangan untuk mengukur perubahan bobot badan ternak.

Metode Percobaan 1. Dibersihkan areal perkandangan untuk mencegah dan menghindari kontaminasi penyakit. 2. Dibuat kandang sebanyak 3 bagian dengan masing-masing ukuran : 2 bagian ukura 1x1x0,7 meter dan 1 bagian dengan ukuran 1x1,5x0,7 meter. 3. Dipasang jaring dan terpal pada bagian dinding perkandangan. 4. Dipersiapkan peralatan penerang seperti pembuatan lampu dari masing komponennya. 5. Dipersiapkan atau dinyalakan lampu untuk mencapai suhu yang dibutuhkan. 6. Diberi serbuk gergaji setebal 5 cm pada lantai kandang. 7. Didesinfektan kandang dan peralatannya dengan tujuan agar virus dan bakteri yang berada pada kandang dan peralatan kandang dapat dimatikan. Proses densikfektan ini menggunakan larutan formalin yang dicampur dengan kalium permanganate dalam bentuk serbuk.

8. Ditutup dengan terpal hingga kedap yang terbuat dari plastik, tirai plastik dipasang supaya dapat dibuka atau ditutup dengan cara menggulung dari atas ke bawah. Hal ini bertujuan agar memudahkan untuk mengatur keluar masuknya udara sehingga broiler tetap nyaman di dalam kandang. Penutupan tirai pada masa DOC ini, bertujuan untuk mengatur kondisi suhu kandang agar menyerupai kondisi induknya. Ditutup selama 4 hari. 9. Dibuka terpal kandang dan diatas lantai sekam dilapisi kertas koran 3 lapis tujuannya supaya DOC tidak memakan sekam yang dapat menyebabkan kematian pada DOC. Lapisan koran diambil atau dibuang satu persatu bila kotoran ayam sudah banyak (membasahi koran). 10. Dibuat air gula untuk mengurangi dehidrasi saat DOC tiba dan meningkatkan suplai energi, dengan perbandingan 4 kg gula merah : 8 liter air. 11. Ditimbang bobot awal masing-masing doc. 12. Diberi pewarnaan pada bagian tubuh doc untuk memudahkan pengenalan saat penimbangan bobot badan selanjutnya. 13. Ditempatkan doc pada masing-masing plot kandang sebanyak 5 ekor/plot. 14. Dilakukan pengenalan tempat minum dengan cara mengetuk sisi tempat minum agar doc segera minum dan suplai energi terpenuhi 15. Diberikan ransum secara tidak terbatas pada masing-masing plot diatas baki. Dimana bagian A mendapat perlakuan atas ransum buatan dengan masing-masing komposisi yang telah ditetapkan dan bagian B mendapat perlakuan atas ransum komersil atau pabrik. 16. Dilakukan pengontrolan suhu, tempat pakan, tempat minum dan kondisi lainnya yang memungkinkan dapat menganggu pertumbuhan dan menyebabkan kematian. Dilakukan secara rutinitas. 17. Dilakukan pergantian air minum pada selang waktu : pukul 10.00 WIB, 17.00 WIB dan 19.00 WIB, dengan melarutkan vita-chick pada minum. Dilakukan secara rutinitas. 18. Dilakukan penimbangan sisa rasum dan pemberian ransum pada pukul 17.00 WIB, dan dilakukan serilisasi menggunakan rodalon. Dilakukan secara rutinitas. 19. Dicatat hasil penimbangan sisa ransum ke dalam buku data. Dilakukan secara rutinitas. 20. Dibuka terpal (umur 5 hari) setengah bagian dan spanduk pada dinding kandang pada pagi hari sampai sore hari (kondisional) dikarenakan bulu ayam telah tumbuh. 21. Diletakkan serbuk gergaji (umur 6 hari) pada bagian bawah kandang karena ukuran kaki ayam sudah cukup besar sehingga tidak mengganggu pergerakan ayam di atas kawat

ayam, dilakukan pergantian alas jika kotoran sudah banyak sehingga menguragi timbulnya penyakit. 22. Dilakukan pergantian tempat pakan (umur 7 hari) menjadi bentuk memanjang. 23. Dilakukan vaksinasi dengan ND-Lasota (umur 7 hari) pada pukul 20.00 WIB melalui tetes mata. 24. Dilakukan penimbangan terhadap bobot badan broiler setiap minggunya (umur 7,14,21 dan 28 hari) dan dicatat dalam buku data. 25. Dilakukan pemuasaan selama 6 jam sebelum ayam dipotong atau dipanen. 26. Dipotong ayam setelah sebelumya dilakukan penimbangan untuk mencari bobot potong masing-masing ayam broiler. 27. Dihitung konsumsi ransum, konversi ransum masing-masing bagian dan disusun dalam buku data. 28. Dibuat dalam bentuk laporan hasil pemeliharaan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Tabel Konsumsi Pakan plot 1 T01 T02 T03 T31 T32 T33 57 54 58 40 40 55 2 66 74 70 75 68 78 3 120 81 61 111 114 113 4 115 106 101 94 85 133 5 97 94 87 67 64 112 Konsumsi Pakan 6 83 76 60 81 67 48 7 143 139 128 122 111 138 8 193 158 110 108 177 183 9 90 80 90 70 75 50 10 111 96 79 124 51 81 11 170 170 195 90 130 150 12 229 226 224 228 226 219 13 294 484 188 249 266 222

Tabel Pertumbuhan Bobot Badan Perlakuan T01 Kepala Ekor Dada Syap kiri Sayap kanan T02 Kepala Ekor Dada Syap kiri Sayap kanan T03 Kepala Ekor Dada 52 59 50 134 154 129
10

Bobot awal

Timbangan I

Timbangan II

56 49 58 49 56

150 184 153 169 183

316 422 397 397 425

49 57 55 53 58

137 143 121 153 194

341 372 326 349 429

364 394 474

Sayap kiri Sayap kanan T31 Kepala Ekor Dada Sayap kiri Sayap kanan T32 Kepala Ekor Dada Sayap kiri Sayap kanan T33 Kepala Ekor Dada Sayap kiri Sayap kanan

59 55

125 119

270 336

58 58 45 56 55

157 120 132 142 137

287 367 265 231 362

50 54 56 48 48

115 126 118 115 162

357 275 321 350 261

51 51 52 56 54

166 144 149 115 143

367 364 353 332 332

Parameter Pemeliharaan 1. Konsumsi T01 Konsumsi T02 Konsumsi T03 Konsumsi T31 Konsumsi T32 Konsumsi T33 = 57 + 66 + 120 + 115 + 97 + 83 = 54 + 74 + 81 + 106 + 94 + 76 = 58 + 70 + 61 + 101 + 87 + 60 = 40 + 75 + 111 + 94 + 67 + 81 = 40 + 68 + 114 + 85 + 64 + 67 = 55 + 78 + 113 +133 + 112 + 48 = 89,6 = 80,8 = 72,83 = 78 = 73 = 89,83

PBB T01 PBB T02

= 571 = 472

X= 114,2 X= 94,4
11

PBB T03 PBB T31 PBB T32 PBB T33

= 385 = 387 = 371 = 491

X= 77 X= 77,4 X= 74,2 X= 98,2

2. FCR T01 FCR T02 FCR T03 FCR T31 FCR T32 FCR T33

= konsumsi / PBB = konsumsi / PBB = konsumsi / PBB = konsumsi / PBB = konsumsi / PBB = konsumsi / PBB

= 89,6/ 571 = 80,8/ 472 = 72,83/ 385 = 78/ 387 = 73/371 = 89,83/ 491

= 0,156 = 0,156 = 0,189 = 0,20 = 0,19 = 0,18

Pembahasan Ayam ras pedaging disebut juga broiler, yang merupakan jenis ras unggulan hasil persilangan dari bangsa-bangsa ayam yang memiliki daya produktivitas tinggi, terutama dalam memproduksi daging ayam. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Muwarni (2008) yang menyatakan bahwa ayam broiler telah dikenal masyarakat dengan berbagai kelebihannya, antara lain hanya 5-6 minggu sudah siap dipanen. Ayam yangdipelihara adalah ayam broiler yakni ayam yang berwarna putih dan cepat tumbuh. Pada hasil praktikum ini bobot ayam yang didapatkan sangat sedikit karena dipengaruhi oleh banyak hal termasuk pada kandungan nutrisi pada akan yang digunakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Winarto (2000) yang menyatakan bahwa konsumsi pakan pada ternak dapat mempengaruhi peningkatan bobot badan pada ternak itu sendiri, dari segi kesehatan juga dapat mempengaruhi peningkatan bobot badan ayam. Pada table konsumsi pakan jumlah pakan yang di konsumsi oleh 1 ekor ayam bertambah dari hari ke hari hal ini di pengaruhi oleh semakin banyaknya energi yang dibutuhkan oleh ternak tersebut hal ini sesuai dengan pendapat tilman (1989) yang menyatakan bahwa semakin bertambah umur ternak, maka tingkat konsumsi akan semakin bertambah dan dengan bertambahnya konsumsi akan meningkatkan PBB ternak. Pada minggu ke 4, peningkatan bobot badan ayam semakin rendah Kecuali pada ayam di T01, T02 dan T03 yang pertambahan bobot badannya sangat cepat. Ini dikarenakan mungkin ayam mengalami gangguan pertumbuhan seperti stress atau sakit selama pemeliharaan. Hal ini sesuai dengan pendapat Muwarni (2000) yang menyatakan bahwa pemilihan lokasi perkandangan bagi ayam broiler sebaiknya harus strategis. Dalam arti harus
12

dekat dengan sumber air dan tidak ditempat keramaian, karena dapat membuat ayam stress dan dapat mempengaruhi pertumbuhan ayam broiler tersebut. Apabila ayam stress maka kan mengakibatkan pertumbuhan yang terhambat dan akan menimbulkan kerugian bagi para peternak. Pada saat pemeliharaan dilakukan perbandingan ransum yang bergantian secara tibatiba hal ini membuat system pencernaan pada ayam tersebut tidak baik hal ini di papaarkan oleh Yunilas (2005) yang menyatakan bahwa penggantian ransum starter dengan ransum finisher sebaiknya tidak dilakukan sekaligus, tetapi secara bertahap. Hari pertama diberi ransum starter 75% ditambah ransum finisher 25%, pada hari berikutnya diberi ransum starter 50% ditambah ransum finisher 50%, hari berikutnya diberi ransum starter 25% ditambah ransum finisher 7 5% dan hari terakhir diberi ransum finisher. Brooder house yaitu kandang yang khusus dipergunakan untuk memelihara anak ayam. Kandang khusus untuk anak ayam ini dibuat bila jumlah anak ayam dalam skala besar, sedangkan bila jumlah anak ayam yang dipelihara dalam skala kecil bisa digunakan box anak ayam. Kandang anak ayam ini harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menjamin ventilasi udara yang segar dan lancar, serta lantainya mudah dibersihkan dan tidak lembab. Bila lantai pemeliharaan lembab, akan timbulpenyakit cacing dan timbul macam-macam penyakit lainnya. Sehubungan dengan hal ini, maka kandang anak ayam ini lantainya sebaiknya ditembok berlapis semen agar mudah dibersihkan. Bahan liter yang seringdipergunakan biasanya sekam padi dengan ketebalan 5 7,5 cm. Tidak menggunakan litter yang telah terkena insektisida, jamur dan bahan kimia lain yang membahayakan. Litter jangan terlalu kering, kelembaban litter yang baik yaitu sekitar 25%. Kandang harus bersih sebelum dipergunakan, litter bekas pemeliharaan harus dijauhkan dari kandang. Hal tersebut diatas sesuai dengan pendapat Murhalien, dkk (2011) yang menyatakan bahwa jenis litter yang sering digunakan adalah sekam dan serbuk gergaji. Litter harus selalu dijaga agar tetap kering dan bersih. Litter yang basah dapat meningkatkan kandungan amonia, menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit, dan menyebabkan bulu kotor Selama pemeliharaan box ayam selalu dilapisi dengan litter untuk menjaga kandang tetap hangat dan tetap kering untuk menjaga ayam mudah terserang penyakit. Pemberian litter ini lakukan secara beraturan untuk mencegah kandang dalam keadaan basah yang dapat membuat ternak mudah terserng penyakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Murhalien, dkk, 2011 (2004) yang menyatakan bahwa Litter harus selalu dijaga agar tetap kering dan bersih. Litter yang basah dapat meningkatkan kandungan amonia, menjadi tempat berkembang biak berbagai penyakit, dan menyebabkan bulu kotor.
13

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 1. Ayam Broiler dipeliraha khusus untuk produksi daging dan pemeliharaannya tidak harus dipisahkan antara jantan dan betina. 2. Pertumbuhan Bobot Badan pada ayam control lebih tinggi di bandingkan dengan yang lainnya hal ini di sebabkan oleh kualitas pakan dan kandungan nutrisi pada ransum yang telah disusun oleh praktikan. 3. Pertumbuhan Bobot Badan pada ayam tidak lebih dari 1,3 kg/ekor hal ini dipengaruhi oleh factor stress Lingkungan dan factor pergantian pakan yang dilakukan secara tibatiba. 4. Pada pemeliharaan dilakukan vaksinasi sebanyak 3 kali yaitu pada umur 7, 14 dan 21 hari yaitu vaksin ND dan Gumboro. 5. Ransum yang terlalu banyak daun ubinya akan menyebabkan ayam susah untuk mengalami pertumbuhan bobot badan hal ini disebabkan oleh adanya zat anti nutrisi yaitu HCN. Saran Disarankan dalam pemeliharaan pemberian pakan dilakukan secara teratur dan dan dikontrol oleh asisten, sebelummelakukan tindakan sebaiknya praktikan menanyakan terlebih dahulu kepada asisten yang bersangkutan untuk mempertimbangkan kembali.

14