Anda di halaman 1dari 19

PRESENTASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Alamat Agama Tanggal pemeriksaan : An. M : Laki-laki : 2 tahun :Tonjong RT 4 RW 1 : Islam : 13 Maret 2012

II. ANAMNESIS Diambil dari Autoanamnesis dan alloanamnesis tanggal 13 Maret 2012

Keluhan Utama: gatal-gatal di telapak tangan kanan dan kiri, sela-sela jari tangan kanan dn kiri, dada, ketiak, dan buah zakar bagian bawah.

Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke poli kulit dan kelamin diantar oleh ibunya dengan keluhan gatal-gatal pada telapak tangan kanan dan kiri, sela-sela jari tangan kanan dan kiri, dada, ketiak, dan buah zakar bagian bawah. Keluhan berawal dari gatal kemudian timbul bercak-bercak kemerahan yang dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya merasa gatal hanya di telapak tangan kemudian menyebar sampai ke bagian tubuh yang lain seperti sela-sela jari tangan, dada, ketiak dan bawah buah zakar. Keluhan gatal dirasakan semakin hebat terutama pada malam hari dan menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam. Untuk mengurangi keluhan, ibu pasien biasanya menaburi tubuh pasien dengan bedak salisil tetapi keluhan tidak berkurang. Pasien tinggal bersama orangtuanya serta kakaknya di rumah. Ibu pasien mengaku jika rumah pasien memiliki sirkulasi udara yang baik. Pasien sering diajak bermain dan kadang tidur bersama dengan sepupunya yang juga memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

Riwayat Penyakit Dahulu

: riwayat alergi disangkal oleh ibu pasien

Riwayat Penyakit Keluarga : sepupu pasien meiliki keluhan yang sama dengan pasien

III. PEMERIKSAAN FISIK

STATUS GENERALIS Keadaaan umum Kesadaran Keadaan gizi Vital Sign : baik : compos mentis : baik : Nadi : 84 x/menit RR : 18 x/menit Suhu Kepala : afebris : normochepal, rambut hitam, distribusi merata Mata Hidung Telinga Mulut Tenggorokan Thorax : konjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-) : simetris, deviasi septum (-), sekret (-) : bentuk daun telinga normal, sekret (-) : mukosa bibir dan mulut lembab, sianosis(-) : tidak dilakukan : Jantung Paru Abdomen Kelenjar Geah Bening Ekstremitas : tidak dilakuakn : tidak dilakukan : tidak dilakukan

: tidak teraba pembesaran. : akral hangat, edema ( )

STATUS DERMATOLOGIK

Lokasi Regio

: :

telapak tangan kanan kiri dan sela-sela jari tangan kanan kiri palmar dextra et sinistra, intra digiti dextra et sinistra

Effloresensi : papul eritema multipel, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit, vesikel miliar sampai lentikular, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit

Lokasi Regio Effloresensi

: dada, ketiak, scrotum bagian bawah : thorax, axilla, genitalia : papul eritema multipel, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit dan vesikel miliar sampai lentikular, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang

V. RESUME Pasien datang ke poli kulit dan kelamin diantar oleh ibunya dengan keluhan gatal-gatal pada telapak tangan kanan dan kiri, sela-sela jari tangan kanan dan kiri, dada, ketiak, dan buah zakar bagian bawah. Keluhan berawal dari gatal kemudian timbul bercak-bercak kemerahan yang dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya merasa gatal hanya di telapak tangan kemudian menyebar sampai ke bagian tubuh yang lain seperti sela-sela jari tangan, dada, ketiak dan bawah buah zakar. Keluhan gatal dirasakan semakin hebat terutama pada malam hari dan menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam. Untuk mengurangi keluhan, ibu pasien biasanya menaburi tubuh pasien dengan bedak salisil tetapi keluhan tidak berkurang. Pasien tinggal bersama orangtuanya serta kakaknya di rumah. Ibu pasien mengaku jika rumah pasien memiliki sirkulasi udara yang baik. Pasien sering diajak bermain dan kadang tidur bersama dengan sepupunya yang juga memiliki keluhan yang sama dengan pasien.

STATUS DERMATOLOGIK Lokasi Regio : : telapak tangan kanan kiri dan sela-sela jari tangan kanan kiri palmar dextra et sinistra, intra digiti dextra et sinistra

Effloresensi : papul eritema multipel, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit, vesikel miliar sampai lentikular, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit Lokasi Regio : dada, ketiak, scrotum bagian bawah : thorax, axilla, genitalia

Effloresensi : papul eritema multipel, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit dan vesikel miliar sampai lentikular, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit.

VI. DIAGNOSIS KERJA Skabies

VII. DIAGNOSIS BANDING - Dermatitis Kontak Iritan - Prurigo

VIII.

PENATALAKSANAAN 1. Non farmakologis Pakaian, handuk dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita harus diisolasi dan direndam dengan air panas terlebih dahulu sebelum dicuci. Pakaian dan barang-barang yang berbahan kain dianjurkan untuk disetrika sebelum digunakan . Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari sekali Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut) dijemur di bawah sinar matahari Menghindari kontak langsung dengan penderita lain (sepupu penderita) seperti berjabat tangan dan tidur bersama. Membiasakan hidup bersih sehat

2. Farmakologis - Permetrin (Scabimite) cream 5% setelah mandi sore dioles ke permukaan kulit seluruh tubuh, kemudian didiamkan minimal 10 jam, setelah itu mandi seperti biasa. Pemakaian hanya 1 kali dalam seminggu. - Loratadine (alloris) syrup 2x1 cth - Inerson cream dioles 2 x sehari

IX. PROGNOSIS Quo ad vitam Quo ad functionam Quo ad sanationam : bonam : bonam : bonam

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh investasi dan sensitisasi terhadap terhadap Sarcoptes scabei var. hominis dan produknya. Nama lain skabies adalah the itch, kudis, budukan dan gatal agogo.1

B. EPIDEMIOLOGI Skabies ditemukan di semua negara dengan prevalensi yang bervariasi. Daerah endemik skabies adalah daerah tropis dan subtropis seperti Afrika, Mesir, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Amerika Utara, Kepulauan Karibia, India dan asia Tenggara.2,3 Diperkirakan bahwa terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia terjangkit tungau skabies.4 Studi epidemiologi memperlihatkan bahwa prevalensi skabies cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja dan tidak dipengaruhi oleh jenis kelamin,ras, umur, maupun kondisi sosial ekonomi. Faktor primer yang berkontribusi adalah kemiskinan dan kondisi hidup didaerah padat penghuni,3 sehingga penyakit ini lebih sering di daerah perkotaan.5 Terdapat bukti menunjukan insiden kejadian berpengaruh terhadap musim dimana kasus skabies lebih banyak didiagnosis pada musim dingin dibanding musim panas. Insiden skabies semakin meningkat sejak dua dekade ini dan telah memberikan pengaruh besar terhadap wabah di rumah-rumah sakit, penjara, panti asuhan, dan panti jompo. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, anatara lain: higiene yang buruk, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik.5

C. ETIOLOGI Sarcoptes scabiei merupakan Arthropoda yang masuk ke dalam kelas Arachnida, sub kelas Acari (Acarina), ordo Astigmata dan famili Sarcoptidae. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var. hominis. Adapun

jenis Sarcoptes scabei var. animalis yang kadang-kadang bisa menulari manusia terutama bagi yang memelihara hewan peliharaan seperti anjing.1

Gambar 1. Sarcoptes scabiei var. hominis

Sarcoptes scabiei merupakan tungau putih, kecil, transparan, berbentuk bulat agak lonjong, punggungnya cembung dan bagian perutnya rata. Tungau betina besarnya 2 kali daripada yang jantan. Badan tungau berwarna putih suram dan terdapat gambaran gelombang

transversal yang jelas. Pada bagian dorsal ditutupi rambut -rambut halus dan duri-duri, yang disebut dentikel. Tungau dewasa mempunyai empat pasang kaki; dua pasang kaki depan sebagai alat untuk melekat. Pada tungau betina, terda pat rambut-rambut halus yangdisebut setae di ujung dua pasang kaki belakang, sedangkan pada tungau jantan terdapat rambut-rambut halus di ujung pasangan kaki ketiga dan alat perekat di ujung kaki keempat.6

D. CARA PENULARAN Penularan skabies pada manusia dapat melalui kontak langsung dengan penderita (kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual. Penularan skabies pada manusia juga dapat secara tidak langsung melalui pakaian, handuk, sprai dan barang-barang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita. Jumlah rata-rata tungau pada awal infestasi adalah sekitar lima sampai sepuluh ekor. Tungau S. scabiei hidup dari sampel debu penderita, lantai, furniture dan tempat tidur. Penularannya biasanya oleh Sarcopteas scabiei betina yang sudah dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Sarcoptes scabei var. animalis yang kadang-kadang bisa menulari manusia, terutama bagi yang memelihara hewan peliharaan seperti anjing 1

Gambar 2. Tempat predileksi skabies12

E. PATOGENESIS Setelah terjadi perkawinan (kopulasi) biasanya tungau jantan akan mati, namun kadang-kadang masih dapat hidup beberapa hari dalam terowongan yang digali oleh betina. Setelah tungau betina dibuahi, tungau ini akan membentuk terowongan pada kulit sampai perbatasan stratum korneum dan stratum granulosum dengan panjangnya 2-3 mm perhari serta bertelur sepanjang terowongan sampai sebanyak 2 atau 4 butir sampai sehari mencapai 40-50 butir. Telur-telur ini akan menetas dalam waktu 3-5 hari dan menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva tersebut sebagian ada yang tetap tinggal dalam terowongan dan ada yang keluar dari permukaan kulit, kemudian setelah 2-3 hari masuk ke stadium nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina dengan 4 pasang kaki. Waktu yang diperlukan mulai dari telur menetas sampai menjadi dewasa sekitar 8-12 hari.6,8

Gambar 1. Siklus hidup Sarcoptes scabei.7


9

Siklus hidup tungau paling cepat terjadi selama 30 hari dan selama itu juga tungau-tungau tersebut berada dalam epidermis manusia. Tungau yang berpindah ke lapisan kulit teratas memproduksi substansi proteolitik (sekresi saliva) yang berperan dalam pembuatan terowongan dimana saat itu juga terjadi aktivitas makan dan pelekatan telur pada terowongan tersebut. Tungautungau ini memakan jaringan-jaringan yang hancur, namun tidak mencerna darah. Feses (Scybala) tungau akan ditinggalkan di sepanjang perjalanan tungau menuju ke epidermis dan membentuk lesi linier sepanjang terowongan.9 Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi terhadap sekreta dan ekskreta tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Sensitisasi terjadi pada penderita yang terkena infeksi scabies pertama kali. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lainlain. Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Apabila terjadi immunocompromised pada host, respon imun yang lemah akan gagal dalam mengontrol penyakit dan megakibatkan invasi tungau yang lebih banyak bahkan dapat menyebabkan crusted scabies. Jumlah tungau pada pasien crusted scabies bisa melebihi 1 juta tungau.10

F. MANIFESTASI KLINIS Ketika seseorang terinfestasi oleh scabies untuk yang pertama kalinya, gejala biasanya tidak nampak hingga mencapai 2 bulan kemudian (2-6 minggu) setelah terinfestasi. Namun bagaimanapun, seseorang yang terinfestasi masih bisa menyebarkan scabies ini kepada orang lain. Jika seseorang telah pernah menderita scabies sebelumnya, gejala akan muncul dengan segera (1-4 hari) setelah terekspos. Seseorang yang terinfestasi scabies juga dapat menularkan penyakitnya, walaupun mereka tidak memiliki gejala lagi. Hal ini berlaku sampai scabies pada penderita tersebut diberantas beserta tungau dan telurtelurnya.1,11 Diagnosis skabies dapat ditegakkan dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal sebagai berikut:

10

1. pruritus nokturna Artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena aktivitas tungau lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab. Gejala ini adalah yang sangat menonjol. Sensasi gatal yang hebat seringkali mengganggu tidur dan penderita menjadi gelisah.1,11 2. Sekelompok Orang Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu juga dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya terkena. Walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier) bai individu lain.1 3. Terowongan ( kanalikulus ) Adanya terowongan (kanalikulus) pada tempat-tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, ratarata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder, ruam kulitnya menjadi polimorf (pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Umumnya tempat predileksi tungau adalah lapisan kulit yang tipis, seperti di sela-sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipatan ketiak depan, pinggang, punggung, pusar, dada termasuk daerah sekitar alat kelamin pada pria dan daerah periareolar pada wanita . Telapak tangan, telapak kaki, wajah, leher dan kulit kepala adalah daerah yang sering terserang tungau pada bayi dan anak-anak.1 4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik.3 Apabila kita dapat menemuan terwongan yang masih utuh kemungkinan besar kita dapat menemukan tungau dewasa, larva, nimfa dan ini merupakan hal yang paling diagnostik. Akan tetapi kriteria yang keempat ini agak susah ditemukan karena hampir sebagian besar pendeita pada umumnya datang dengan lesi variatif dan tidak spesifik.1,11

11

Gambar 3. Kelainan kulit pada skabies13

Gambar 4. Tampak kelainan yang ditimbulkan oleh scabies pada daerah axilla (sekitar ketiak), genitalia (penis dan scrotum) dan glutea ( sekitar bokong)13

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG Untuk menemukan tungau dapat dilakukan dengan beberapa cara: 1. Kerokan kulit dapat dilakukan di daerah sekitar papula yang lama maupun yang baru. Hasil kerokan diletakkan di atas kaca objek dan ditetesi dengan KOH 10% kemudian ditutup dengan kaca penutup dan diperiksa di bawah mikroskop. Diagnosis scabies positif jika ditemukan tungau, nimpa, larva, telur atau kotoran S. scabiei. 2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung pada kertas putih kemudian dilihat dengan kaca pembesar.

12

3. Dengan membuat biopsy irisan, yaitu lesi dijepit dengan 2 jari kemudian dibuat irisan tipis dengan pisau kemudian diperiksa dengan mikroskop cahaya. 4. Dengan biopsy eksisional dan diperiksa dengan pewarnaan Hematoxylin Eosin. Tes tinta pada terowongan di dalam kulit dilakukan dengan cara menggosok papula menggunakan ujung pena yang berisi tinta. Papula yang telah tertutup dengan tinta didiamkan selama dua puluh sampai tiga puluh menit, kemudian tinta diusap/ dihapus dengan kapas yang dibasahi alkohol. Tes dinyatakan positif bila tinta masuk ke dalam terowongan dan membentuk gambaran khas berupa garis zig-zag.1 Strategi lain untuk biopsi melakukan kulit dan diagnosis mikroskopi scabies adalah

videodermatoskopi,

epiluminesken.

Videodermatoskopi dilakukan menggunakan sistem mikroskop video dengan pembesaran seribu kali dan memerlukan waktu sekitar lima menit. Umumnya metode ini masih dikonfirmasi dengan basil kerokan kulit. Pengujian menggunakan mikroskop epiluminesken dilakukan pada tingkat papilari dermis superfisial dan memerlukan waktu sekitar lima menit serta mempunyai angka positif palsu yang rendah. Kendati demikian, metodemetode diagnosis tersebut kurang diminati karena memerlukan peralatan yang mahal.

H. DIAGNOSIS BANDING Penyakit skabies juga ada yang menyebutnya sebagai the great imitator karena dapat mencakup hampir semua dermatosis pruritik berbagai penyakit kulit dengan keluhan gatal. Adapun diagnosis banding yang biasanya mendekati adalah prurigo, pedikulosis corporis, dermatitis dan lain-lain.1

13

I. PENATALAKSANAAN Syarat obat yang ideal untuk sscabies adalah : 1. Harus efektif terhadap semua stadium tungau 2. Harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik 3. Tidak berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaina 4. Mudah diperoleh dan harganya murah Cara pengobatannya ialah seluruh anggota badan harus diobati (termasuk penderita yang hiposensitisasi). Jenis obat topikal yang dapat diberikan kepada pasien adalah : 1. Belerang endap (sulfur presipitatum) dengan kadar 4-20% dalam bentuk salep atau krim. Preparatini tidak efektif terhadap stadium telur, maka penggunaannya tidak boleh kurang dari 3 hari. Kekurangannya ialah berbau dan mengotori pakaian dan kadang-kadang menimbulkan iritasi. Dapat dipakai pada bayi berumur kurang dari 2 tahun. 2. Emulsi benzyl-benzoas (20-25%) efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. 3. Gama Benzena Heksa klorida (gameksan=gammexane) kadarnya 1% dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang memberi iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak dibawah enam tahun dan wanita hamil, karena toksis terhadap susunan saraf pusat. Pemberiannya cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala diulangi seminggu kemudian. 4. Krotamiton 10% dalam krim atau losio juga merupakan obat pilihan, mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan anti gatal, dipakai selama 24 jam, harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra. 5. Permetrin 5% dalam krim, kurang toksik jika dibandingkan gameksan, efektifitasnya sama, aplikasi hanya sekali dan dihapus setelah 10 jam. Bila belum sembuh diulangi selama seminggu. Tidak dianjurkan pada bayi dibawah umur 2 tahun. Bila disertai infeksi sekunder dapat diberikan antibiotika. Untuk rasa gatal dapat diberikan antihistamin per oral. Perlu diperhatikan jika diantara

14

anggota keluarga ada yang menderita skabies juga harus diobati.1 Karena sifatnya yang sangat mudah menular, maka apabila ada salah satu anggota keluarga terkena skabies, sebaiknya seluruh anggota keluarga tersebut juga harus menerima pengobatan. Pakaian , alat-alat tidur, dan lain-lain hendaknya dicuci dengan air panas.14,16

J. PENCEGAHAN Pencegahan skabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara menghindari kontak langsung dengan penderita dan mencegah penggunaan barang-barang penderita secara bersama-sama. Pakaian, handuk dan barangbarang lainnya yang pernah digunakan oleh penderita harus diisolasi dan dicuci dengan air panas . Pakaian dan barang-barang asal kain dianjurkan untuk disetrika sebelum digunakan . Sprai penderita harus sering diganti dengan yang baru maksimal tiga hari sekali . Benda-benda yang tidak dapat dicuci dengan air (bantal, guling, selimut) disarankan dimasukkan ke dalam kantung plastik selama tujuh hari, selanjutnya dicuci kering atau dijemur di bawah sinar matahari sambil dibolak batik minimal dua puluh menit sekali. Kebersihan tubuh dan lingkungan termasuk sanitasi serta pola hidup yang sehat akan mempercepat kesembuhan dan memutus siklus hidup S. scabiei. Umumnya, penderita masih merasakan gatal selama dua minggu pasca pengobatan. Kondisi ini diduga karena masih adanya reaksi hipersensitivitas yang berjalan relatif lambat. Apabila lebih dari dua minggu masih menunjukkan gejala yang sama, maka dianjurkan untuk kembali berobat karena kemungkinan telah terjadi resistensi atau berkurangnya khasiat obat tersebut. Kegagalan pengobatan pada skabies krustasi secara topikal diduga karena obat tidak mampu berpenetrasi ke dalam kulit akibat tebalnya kerak.15

K. KOMPLIKASI Erupsi dapat berbentuk limfangitis, impetigo, ektima, selulitis, folikulitis dan furunkel jika skabies dibiarkan tidak diobati selama beberapa minggu sampai beberapa bulan. Pada anak-anak sering terjadi glomerulonefritis

15

Pemakaian anti skabies misalnya gamma benzena heksaklorida yang berlebihan dan terlalu sering dapat menimbukan dermatitis kontak iritan

Terjadi iritasi dalam penggunaan benzyl benzoate sehari 2 kali terutama pada pemakian di genitalia pria

Dapat timbul infeksisekunder sistemik yang memperberat perjalanan penyakit seperti pielonefritis, abses, internal, pneumonia piogenik dan septikemia. 15

L. PROGNOSIS Keberhasilan pengobatan skabies dan pemberantasan penyakit tersebut tergantung pada pemilihan efektif, pemakaian obat yang benar, serta menghilangkan faktor predisposisi.3

16

PEMBAHASAN

Dari anamnesis didapatkan keluhan gatal-gatal pada telapak tangan kanan dan kiri, sela-sela jari tangan kanan dan kiri, dada, ketiak, dan buah zakar bagian bawah. Keluhan berawal dari gatal kemudian timbul bercakbercak kemerahan yang dirasakan sejak 3 minggu yang lalu. Awalnya merasa gatal hanya di telapak tangan kemudian menyebar sampai ke bagian tubuh yang lain seperti sela-sela jari tangan, dada, ketiak dan bawah buah zakar. Keluhan gatal dirasakan semakin hebat terutama pada malam hari dan menyebabkan pasien sering terbangun hampir setiap malam. Ibu pasien mengaku jika anaknya sering diajak bermain dan kadang tidur bersama dengan sepupunya yang juga memiliki keluhan yang sama dengan pasien Pasien dapat didiagnosis menderita penyakit skabies, dimana hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa dengan ditemukannya 2 dari 4 tanda kardinal skabies maka diagnosis klinis dapat ditegakkan. Dimana tanda kardinal yang ditemukan adalah pruritus nokturna dan adanya orang sekitar pasien yang mengalami keluhan yang sama yaitu sepupu pasien. Dari status dermatologinya kita dapatkan bahwa terdapat lesi didaerah telapak tangan kanan dan kiri, sela-sela jari tangan kanan dan kiri, dada, ketiak, dan buah zakar bagian bawah dimana didapatkan papul eritema multipel, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit, vesikel miliar sampai lentikular, bentuk bulat berbatas tegas, penyebaran diskrit. Hal ini sesuai untuk diagnosis skabies, dimana didalam teori dikatakan bahwa predileksi terjadinya pada daerah dengan stratum korneum yang tipis, namun karena pada anak-anak lapisan stratum korneum tubuhnya sebagian besar masih tipis maka penyebarannya dapat bersifat atipikal. Pada pasien ini penatalaksanaan yang dilakukan adalah dengan memberikan obat secara topikal dan sistemik. Obat topikal yang diberikan adalah Permetrin (Scabimite) cream 5% yang dioleskan setelah mandi sore ke seluruh permukaan kulit tubuh dari leher sampai kaki sekali dalam seminggu. Pada teori yang telah dikemukakan bahwa obat topikal yang paling baik diberikan pada anak-anak berupa permetrin 5% mengingat obat ini
17

efektif pada semua stadium skabies dan toksisitasnya yang rendah. Selan itu diberikan inerson cream dioles 2 kali sehari sebagai antipruritik untuk mengatasi keluhan bercak-bercak kemerahan pada tubuh. Obat sistemik yang diberikan adalah Loratadine (alloris) syrup yang diminum sehari 2 kali sendok teh setelah makan sebagai antihistamin untuk mengurangi rasa gatal. Prognosis dari skabies yang diderita pasien pada umumnya baik bila diobati dengan benar dan juga menghindari faktor pencetus dan predisposisi, demikian juga sebaliknya. Selain itu perlu juga dilakukan pengobatan kepada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama. Bila dalam perjalanannya skabies tidak diobati dengan baik dan adekuat maka Sarcoptes scabiei akan tetap hidup dalam tubuh manusia karena manusia merupakan host definitive dari Sarcoptes scabiei.

18

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

3. 4. 5. 6.

7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14.

15. 16.

Djuanda A, Hamzah M. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi 4. Jakarta : FKUI;2005.119-22 Binic I, Aleksandar J, Dragan J, Milanka L. Crusted (Norwegian) Scabies Following Systemic and Topical Corticosteroid Therapy. J Korean Med Sci; 25:2010.88-91 Walton SF, Currie BJ. Problems in Diagnosing scabies, A Global Disease in Human and Animal Ppulations. Clin Microbiol Rev.2007. April 268-79 Chosidow O. Scabies. New England J Med. 2006. July :354/1718-27 Scabies and Pedicuosis, Orkin Miltoin, Howard L. Maibach. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine, 7th. USA:McGrawHill;2008.2029-31 Burns DA. Disease Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in : Rooks textbook of Dermatology. Vol 2. USA; Blackwell publishing;2004.3747 Wiederkehr M, Schwart R.A. 2006. Scabies. Available at :http://www.emedicine.com/DERM/topc471.htm. Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions. J Clin Microbiol. 1995. August:33/2139-2140 Hicks MI, Elston DM. Scabies. Dermatoogic Therapy. 2009. November:22/279-292 Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Ed 1. Jakarta:Hipokrates;2000.109-13 Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed 1. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin:2003.5-10 Anonym,2008. Scabies. Online> Available from http://www.scribd.com/doc/2271687?Scabies. [Accesed 15 Maret 2012] Wiederkehr, M. Schwart, R.A. 2006. Scabies. Available at ; http://www.emedicine.com./DERM/topic471.htm. Lab/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 2000. Pedoma Diagnosis dan Terapi Penyakit Kulit dan Kelamin. Denpasar; Fakultas kedokteran Universitas Udayana/RSUP sanglah. Stone, S.P, Scabies and Pedikulosis, in : Freedberg, et al. Fitzpatricks Dermatology In General Medicine 6th edition. Volume 1. McGraw-Hil Siregar, R.S. 2004. Penyakit Kulit karena Parasit dan Insecta. Dalam : Atlas Berwarna Saripati Penyakit Kulit. Edisi 2. Jakarta: EGC

19