Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konsili Vatikan II merupakan tonggak pembaharuan hidup gereja. Katolik secara menyeluruh.

Gaudium et Spes menaruh keprihatinan secara luas pada tema hubungan Gereja dan Dunia modern. Ada kesadaran kokoh dalam Gereja untuk berubah seiring dengan perubahan kehidupan manusia modern. Soal-soal yang disentuh oleh Gaudium et Spes dengan demikian berkisar tentang kemajuan manusia di dunia modern. Di lain pihak tetap diangkat ke permukaan soal jurang yang tetap lebar antara si kaya dan si miskin. Judul dokumen ini mengatakan suatu perubahan eksternal dari kebijakan hidup Gereja: Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, terutama kaum miskin dan yang menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Kardinal Joseph Suenens (dari Belgia) berkata bahwa pembaharuan Konsili Vatikan II tidak hanya mencakup bidang liturgis saja, melainkan juga hidup Gereja di dunia modern secara kurang lebih menyeluruh. Gaudium et Spes membuka cakrawala baru dengan mengajukan perlunya membaca tanda-tanda zaman (signs of the times). Di dalam Gaudium et Spes menyentuh nilai-nilai tentang perubahanperubahan dalam tata hidup masyarakat zaman ini; martabat pribadi manusia; ateisme sistematis dan ateisme praktis; aktivitas hidup manusia; hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia; beberapa masalah mendesak, seperti perkawinan, keluarga; cinta kasih suami isteri; kesuburan perkawinan; kebudayaan dan iman; pendidikan kristiani; kehidupan sosial ekonomi dan perkembangan terakhirnya; harta benda diperuntukkan bagi semua orang;

perdamaian dan persekutuan bangsa-bangsa; pencegahan perang; kerjasama internasional. Ini juga merupakan sebuah pernyataan revolusioner. Gereja pasca Konsili Vatikan II dengan berani mendeklarasikan diri sebagai paguyuban orang beriman yang ingin solider, berempati, sehati dan sejiwa dengan mereka yang berada di garis kemiskinan dan hidup dalam penindasan. Sikap dasar baru telah digariskan Gereja yang melihat dunia modern lengkap dengan seluruh permasalahannyasebagai lahan subur yang perlu digarap untuk efektivitas pewartaan. Berkat dan dengan Gaudium et Spes inilah, Gereja bisa merengkuh masuk, memeluk erat, berdialog dengan dunia modern dengan sekalian para penghuninya untuk membangun sebuah peradaban yang lebih bermoral. Sebelumnya dan selama kurun waktu 101 tahun, Gereja telah menaruh sikap penuh curiga dan meletakkan dunia modern di luar kerangka pewartaan. Terbitnya Syllabus Errorum (Daftar Kesesatan) dari meja kerja Paus Pius IX tanggal 8 Desember 1864 jelas menandakan betapa Gereja pra Konsili Vatikan II saat itu bersemangat curiga terhadap dunia modern.

1.2

Rumusan Masalah Gaudium et Spes telah meletakkan dasar pemikiran teologis baru di kalangan otoritas Gereja yang mulai menaruh kiblat baru dan memakai perspektif anyar dalam memandang dunia modern. Dulu, dunia modern dipandang dengan sebelah mata, bahkan dicurigai sebagai sumber dosa. Dengan Gaudium et Spes Gereja bertekad memeluk dunia modern ini sebagai lahan subur untuk pewartaan.

Kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, khususnya mereka yang miskin dan menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kritus. Lalu bagaimana kita sebagai Orang Muda Katolik(OMK) menandai Gaudium et Spes sebagai gagasan pewartaan untuk berperan secara langsung dalam dunia modern sekarang?

1.3

Batasan Masalah Menyadari sangat luasnya ruang lingkup pembahasan mengenai Gaudium et Spes ini, maka hanya akan dijelaskan tentang Gaudium et Spes secara umum dan gagasan untuk OMK (Orang Muda Katolik) berperan serta dalam pewartaan gereja di era modern.

BAB II Gaudium et Spes (Konstitusi Pastoral Tentang Gereja Di Dunia Dewasa Ini) 2.1 Penjelasan Umum Tentang Gaudium et Spes KEGEMBIRAAN DAN HARAPAN, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang, terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga. Tiada sesuatu pun yang sungguh manusiawi, yang tak bergema di hati mereka. Sebab persekutuan mereka terdiri dari orang-orang, yang dipersatukan dalam Kristus, dibimbing oleh Roh Kudus dalam peziarahan mereka menuju Kerajaan Bapa, dan telah menerima warta keselamatan untuk disampaikan kepada semua orang. Maka persekutuan mereka itu mengalami dirinya sungguh erat berhubungan dengan umat manusia serta sejarahnya. Konsili Vatikan Kedua tanpa ragu-ragu mengarahkan amanatnya bukan lagi hanya kepada putera-putera Gereja dan sekalian orang yang menyerukan nama Kristus, melainkan kepada semua orang. Kepada mereka semua Konsili bermaksud menguraikan, bagaimana memandang kehadiran serta kegiatan Gereja di masa kini. Konsili mau menghadapi dunia manusia, dengan kata lain segenap keluarga manusia beserta kenyataan semesta yang menjadi lingkungan hidupnya; dunia yang mementaskan sejarah umat manusia. Adapun zaman sekarang umat manusia terpukau oleh rasa kagum akan penemuan-penemuan serta kekuasaannya sendiri. Tetapi sering pula manusia dengan gelisah bertanya-tanya tentang perkembangan dunia dewasa ini, tentang tempat dan tugasnya di alam semesta, tentang makna jerih-payahnya perorangan maupun usahanya bersama, akhirnya tentang tujuan terakhir segala sesuatu dan manusia sendiri

Memang benarlah ketidak-seimbangan yang melanda dunia dewasa ini berhubungan dengan ketidak-seimbangan lebih mendasar, yang berakar dalam hati manusia. Sebab di satu pihak, sebagai makhluk, ia mengalami keterbatasan dalam banyak hal; tetapi dilain pihak ia merasa diri tidak terbatas dalam keinginan-keinginannya, dan dipanggil untuk kehidupan yang lebih luhur. Namun menghadapi perkembangan dunia dewasa ini, semakin banyaklah mereka, yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan sangat mendasar, atau merasakannya lagi dengan tajam: apakah manusia itu? Manakah arti penderitaan, kejahatan, maut, yang toh tetap masih ada, kendati tercapai kemajuan sebesar itu? Untuk apakah kemenangan-kemenangan, yang dibayar semahal itu? Apakah yang dapat disumbangkan manusia kepada masyarakat? Apakah yang dapat diharapkan manusia dari padanya? Apakah yang akan menyusul kehidupan di dunia ini? Gereja mengimani, bahwa Kristus telah wafat dan bangkit bagi semua orang. Maka dari itu Konsili bermaksud menyapa semua orang, untuk menyinari misteri manusia, dan untuk bekerja sama dalam menemukan pemecahan soal-soal yang paling penting pada zaman sekarang. Konsili terutama bermaksud mempertimbangkan nilai-nilai itu, yang dewasa ini sangat dijunjung tinggi, serta menghubungkannya dengan sumbernya yang ilahi. Sebab nilai-nilai itu, sejauh berasal dari kodrat manusia yang dikurniakan oleh Allah, memang amat baik. Tetapi akibat kemerosotan hati manusia nilai-nilai itu tidak jarang dibelokkan dari arah yang seharusnya, sehingga perlu dijernihkan. Gereja sadar akan tanggung jawab perutusannya yakni menghadirkan Kerajaan Alah di tengah-tengah dunia, karena dunialah yang hendak diselamatkan Allah dalam Kristus. Kesadaran itu dirumuskan dalam Dokumen Gaudium et Spes yang membicarakan permasalahan-permasalahan dunia saat itu yang mencakup : Martabat Manusia, Kesejahteraan Umum, Tanggung Jawab Pemerintah;

Penghargaan

pada

keluarga-keluarga;

Hak

Budaya;

Keadilan

dan

perkembangan; serta Perdamaian.Kalimat pertama dalam Gaudium et Spes merangkum tugas perutusan kehadiran Gereja di tengah-tengah dunia ini Kegembiraan dan harapan orang-orang di jaman sekarang ini, adalah kegembiraan dan harapan..murid-murid Kristus juga. Mau tidak mau Gereja harus menjadi inklusif/terbuka terhadap dunia. Gereja berada di dalam dunia, bukan di luar dunia. Gereja dengan demikian menjadi bagian dari dunia yang akan diselamatkan. Apa saja, yang oleh Konsili ini di hidangkan dari khazanah ajaran Gereja, dimaksudkan untuk membantu orang zaman sekarang, entah mereka beriman akan Allah, entah tidak mengakui-Nya secara eksplisit. Tujuannya: supaya mereka lebih jelas memahami panggilan mereka seutuhnya, lebih menyelaraskan dunia dengan martabat manusia yang amat luhur, menghendaki persaudaraan universal dengan dasar yang lebih mendalam, dan atas dorongan cinta kasih, melalui usaha terpadu terdorong oleh kebesaran jiwa, menanggapi tuntutan-tuntutan masa kini yang memang mendesak. Benarlah, menghadapi kemacam-ragaman situasi maupun pola kebudayaan dunia, penyajian ini dalam cukup banyak bagiannya sengaja menampilkan sifat serba umum, bahkan, meskipun sekedar menguraikan ajaran yang sudah diterima dalam Gereja, tetapi, karena yang dibahas ialah hal-hal yang terus menerus mengalami perkembangan, ajaran itu masih akan perlu diteruskan dan diperluas. Tetapi kami percaya, bahwa banyak hal, yang kami utarakan bertumpu pada sabda Allah dan semangat Injil, dapat merupakan bantuan yang andal bagi semua orang, terutama sesudah penerapannya pada masing-masing bangsa dan pola berpandangan dijalankan oleh umat kristen di bawah bimbingan para Gembala.

Berdasarkan misinya menyinari seluruh dunia dengan amanat Injil, serta menghimpun semua orang dari segala bangsa, suku dan kebudayaan ke dalam satu Roh, Gereja menjadi lambang persaudaraan, yang memungkinkan serta mengukuhkan dialog dari ketulusan hati. Itu menyaratkan, supaya pertama-tama dalam Gereja sendiri kita mengembangkan sikap saling menghargai dan menghormati serta kerukunan, dengan mengakui segala kemacam-ragaman yang wajar, untuk menjalin dialog yang makin subur antara semua anggota yang merupakan satu Umat Allah, baik para gembala maupun umat beriman lainnya. Sebab lebih kuatlah unsur-unsur yang mempersatukan umat beriman daripada yang menggolong-golongkan mereka. Hendaknya dalam apa yang sungguh perlu ada kesatuan, dalam apa yang diragukan kebebasan, dalam segala sesuatu cinta kasih Sambil mengenangkan sabda Tuhan: Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kalian itu murid-murid-Ku, yakni bila kalian saling mengasihi (Yoh 13:35), umat kristen tidak dapat menginginkan apa pun lebih sungguh-sungguh, dari pada untuk mengabdikan diri secara makin penuh dan efektif kepada sesama di dunia masa kini. Maka dari itu, sambil dengan setia bertumpu pada Injil dan bersandar pada kekuatannya, dan bersama dengan semua orang yang mencintai dan melaksanakan keadilan, mereka telah menyatakan bersedia untuk menjalankan karya agung di dunia ini, yang harus mereka pertanggung jawabkan terhadap Dia, yang pada hari terakhir akan mengadili semua orang. Tidak semua orang yang berseru Tuhan, Tuhan! akan memasuki Kerajaan Sorga, tetapi hanya merekalah, yang melaksanakan kehendak Bapa , dan dengan giat menyingsingkan lengan baju, Bapa menghendaki, agar dalam semua orang kita mengenali dan mencintai secara nyata Kristus Saudara kita, dengan kata-kata maupun tindakan, dan dengan demikian memberi kesaksian akan kebenaran, serta menyiarkan kepada sesama misteri cinta kasih bapa di Sorga. Dengan begitu semua orang di seluruh dunia

akan dibangkitkan untuk menaruh harapan hidup, yang merupakan kurnia Roh Kudus, supaya akhirnya ditampung dalam damai dan kebahagiaan yang mulia, di tanah air yang bercahaya gemilang berkat kemuliaan Tuhan. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan dalam Kristus Yesus turuntemurun sampai selama-lamanya. Amin (Ef 3:20-21). 2.2 Gagasan Orang Muda Katolik Dalam Peran Serta Pewartaan Gereja Dalam Gaudium et Spes umat menekankan, betapa Gereja dan umat beriman semakin diwarnai oleh mayoritas warganya, yaitu kelompok orangorang muda yang sampai kini disebut kaum muda. Dekrit untuk kerasulan Kaum Awam menunjuk betapa kaum muda amat mempengaruhi dunia

modern. Sehingga, Konsili Vatikan II menghendaki agar perhatian kepada kaum muda menjadi keprihatinan mendalam yang lebih menyeluruh dalam jemaat beriman. Bukan hanya para pastor atau kaum biarawan, tetapi juga kaum awam terdidik diharuskan memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada generasi muda dalam Gereja yang dimaksud. Sebetulnya juga perlu diketahui bahwa dalam posisinya di tengah Gereja, kaum muda memang memiliki posisi tertentu. Untuk itu, Konstitusi Dogmatis tentang Dei Verbum (Sabda Allah) menempatkan kaum muda tidak

terpisahkan sama sekali dari kaum tua. Gereja hadir secara keseluruhan dan semua menghadap Bapa dengan penuh pengharapan akan kecerahan masa depan. Bahkan, dalam gerak hidup orang muda, seluruh umat Allah memperlihatkan diri sebagai Allah yang sedang tumbuh menyambut pilihan Allah (Ef. 1:14) dan sedang lahir kembali (1 Petr 1:9:6). Jadi, kaum muda Katolik di tengah kemajemukan bangsa di mana posisi Katolik itu sendiri minoritas di negara ini, maka betapa besar tantangan yang

dihadapinya. Untuk menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat, bangsa dan negara ini kaum muda Katolik hendaknya bekerja lebih keras dan berjuang lebih maksimal serta memiliki tanggung jawab yang lebih besar terhadap kemajuan bangsa dan negara ini, terutama terhadap kemajuan masa depan Gereja. Secara spesifik lingkup gagasan peran serta kaum muda katolik dapat dijabarkan sebagai berikut: 2.2.1 Diri Pribadi Orang muda perlu terlibat dan akrab dengan dirinya sendiri. Keterlibatan dan keakraban ini perlu untuk mencapai karakter dan jatidirinya sebagai orang katolik sehingga mampu mengarungi duniadengan mandiri dan bertanggungjawab. Hal ini menjadi mendesak kala kita sadari bahwa dunia mengeliligi orang muda dengan tawaran-tawaran yang berebut untuk menarik orang muda menjadi "penganut"nya. Kenyataan ini seringkali membuat orang muda ada dalam situasi ambang, bahkan tidak jarang mengalami kesepian dan mencoba melarikan diri pada hal-hal yang negatif. Pertama-tama keterlibatan dan keakraban itu dijalankan dengan masuk di dalam dirinya dan meyakini bahwa hidupnya adalah anugerah Allah. Keyakinan tersebut akan menggerakkan setiap pribadi untuk menanggapi anugerah Allah itu dalam ungkapan maupun perwujudan imannya. Karenanya seseorang dapat bersyukur sekaligus menghargai hidupnya dan berusaha untuk menjaga kehidupan. Orang muda perlu mensyukuri aneka keistimewaan dan talenta yang dianugerahkan Tuhan kepadanya. Keberanian untuk menemukan

keistimewaan hidupnya merupakan bekal dasar untuk melangkah.Talenta dan keistimewaan ini perlu ditumbuh kembangkan dengan keberanian untuk bereksplorasi, membangun kreasi dan refleksi supaya semakin terampil

dalam mengarungi dunia. Maka di sini orang muda diundang untuk belajar dan belajar agar mencapai sesuatu yang lebih dalam kerangka karya penyelamatan Allah. Orang muda juga diundang untuk berani mengakui kekurangan-kekurangan yang ada dalam dirinya. Pengakuan ini akan membantu dirinya untuk terbuka pada rahmat Allah yang menyempurnakan, pada bantuan orang lain serta mendorongnya untuk terus berusaha mengatasi kekurangan yang ada. Keterlibatan pada pribadi ini dapat dilakukan setiap saat dalam keseharian orang muda. Baik kalau setiap hari orang muda dapat menyediakan waktu hening barang 15-30 menit untuk mengendapkan dan merefleksikan seluruh perjalanan selama sehari. 2.2.2 Keluarga Keluarga merupakan basis untuk mengembangkan hidup beriman dan keterlibatan hidup beriman orang muda. Keluarga dibangun atas dasar iman akan Allah yang menghendaki hadirnya persekutuan cinta antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan perkawinan. Karena itu keluarga menjadi media dasar untuk mengembangkan iman dan cinta. Setiap pribadi perlu merasakan cinta dalam keluarga sekaligus menjaga cinta itu tetap hidup dalam keluarga. Dengan demikian imannya kepada Allah sang sumber cinta akan diteguhkan. Cinta mengandaikan kerelaan untuk berbagi bahkan berkorban. Cinta selalu mempunyai dimensi sosial. Seseorang yang hidup dalam cinta akan mudah berbagi cinta pada yang lain.Keluarga menjadi ruang pertama bagi sosialisasi cinta seorang anak manusia. Keterlibatan dalam lingkup ini menuntut orang muda untuk selalu menghidupkan komunikasi iman dan cinta yang dialogis dan mendalam di antara anggota keluarga. Maka perlulah kiranya orang muda dan setiap anggota keluarga mempunyai waktu untuk bertemu, berbagi pengalaman dan berdoa bersama agar saling meneguhkan iman dan cinta

setiap

anggotanya.

Kita

mengubah

kebiasaan,

"maaf

tidak

ada

waktu"menjadi "aku ada waktu untukmu". 2.2.3 Gereja Gereja merupakan persekutuan orang beriman pada Yesus Kristus yang wafat dan bangkit. Persekutuan ini mengandaikan interaksi yang mendalam setiap orang di dalamnya. Dalam Gereja kita mewarisi iman pada Bapa, Putera dan Roh Kudus; sebagai Gereja kita menyuburkan iman. Maka tidaklah benar kalau dikatakan, "Gereja No, Yesus Yes" atau bahkan dengan salah dikatakan "Yesus Yes, Kristianitas No". Iman akanYesus yang wafat dan bangkit adalah iman Gereja. Tidak dapat dibayangkan mengimani Yesus yang seperti itu tanpa iman Gereja dan melepaskan diri dari kesatuan dengan Gereja. Persekutuan iman ini dibangun atas dasar warisan iman sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci dan dirumuskan dalam ajaran-ajaran Gereja, diungkapkan dalam aneka perayaan liturgi, serta diwujudkan melalui aneka kegiatan bersama dan keterlibatan dalam masyarakat. Setiap anggota Gereja diundang untuk ikut terlibat dan

bertanggungjawab atas kehidupan Gereja dan bukan sebagai penonton yang dapat meninggalkan persekutuan bila tidak suka. Keterlibatan setiap anggota menentukan gerak dan arah kehidupan Gereja. Orang muda perlu terlibat aktif dalam seluruh keprihatinan Gereja. Keterlibatan itu dapat diwujudkan dengan menjadi salah satu pengurus Gereja entah tingkat lingkungan, wilayah ataupun paroki, maupun dalam aneka macam kegiatan yang ada. Peran serta orang muda dapat puladilaksanakan dengan menghidupkan

komunitas-komunitas orang muda maupun terlibat dalam kegiatan lingkungan, wilayah maupun paroki. Kehadiran dan sumbang sih orang muda akan memberikan warna bagi gerak hidup Gereja.

2.2.4

Panggilan Hidup Sebagai Imam, Bruder dan Suster Dalam rangka keterlibatan orang muda dalam pengembangan hidup umat, pantaslah dipertimbangkan pula panggilan hidup sebagai imam, bruder dan suster. Perkembangan umat Allah diwarnai dengan tumbuh suburnya panggilan menjadi imam, bruder dan suster. Mereka inilah orang-orang yang tertangkap oleh Kristus dan mau membaktikan hidupnya bagi Gereja. Oleh karena itu, dalam rangka pencarian jatidiri pantaslah orang muda mempertimbangkan kemungkinan untuk menanggapi panggilan Tuhan sebagai imam, bruder dan suster dalam Gereja.

2.2.5

Masyarakat Orang muda hidup dalam masyarakat yang sedang berubah. Perubahan masyarakat sebagai akibat globalisasi membawa dampak positif tetapi sekaligus negatif bagi kehidupan bersama. Dalam situasi seperti ini orang muda diundang untuk aktif mengubah dan menggerakkan kehidupan masyarakat menuju tatanan dunia yang adil dan damai. Dengan demikian orang muda ikut serta dalam karya Kristus untuk menghadirkan KerajaanAllah di dunia ini. Karena itu tidak dapat tidak orang muda mesti berperan serta dalam perjuangan untuk menegakkan keadilan dan kebenaran serta melestarikan keutuhan ciptaan. Keterlibatan pada masyarakat ini menjadi perwujudan dari imannya. Keterlibatan ini perlu dibangun sejak dini dan dalam relasi yang mendalam dengan semua pihak yang berkehendak baik. Ada banyak wadah yang membantu keterlibatan ini sejak dini, misalnya gerakan kepanduan atau pramuka, karang taruna. Sekarang ini pun tumbuh aneka macam gerakan orang muda yang menaruh perhatian pada keadilan sosial dan

kemasyarakatan. Gerakan-gerakan peduli lingkungan hidup yang saat ini berkembang pantas untuk dilibati, karena di dalam komunitas itu terkumpul

orang-orang dari berbagai agama, suku dan ras. Selain itu juga gerakan lintas iman dapat menjadi salah satu alternatif yang patut untuk diikuti. Pantas disyukuri bahwa banyak orang muda katolik yang peduli dengan persoalan-persoalan sosial. Kala gempa menimpa Yogyakarta dan Klaten dan banjir melanda eks karesidenan Surakarta dan Pati, ribuan orang muda terlibat sebagai relawan. Selain itu tidak sedikit pula orang muda katolik yang aktif dalam kelompok-kelompok social kemasyarakatan yang peduli pada dialog agama, lingkungan hidup,pembelaan hak asasi manusia, budaya dan lain-lain.

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan 1. Gereja sadar akan tanggung jawab perutusannya yakni menghadirkan Kerajaan Alah di tengah-tengah dunia, karena dunialah yang hendak diselamatkan Allah dalam Kristus. Kesadaran itu dirumuskan dalam Dokumen Gaudium et Spes yang membicarakan permasalahan-permasalahan dunia yang mencakup : Martabat Manusia, Kesejahteraan Umum, Tanggung Jawab Pemerintah; Penghargaan pada keluarga-keluarga; Hak Budaya; Keadilan dan perkembangan; serta Perdamaian. 2. Dengan Gaudium et Spes, Gereja ingin meyampaikan sebuah pernyataan revolusioner. Gereja pasca Konsili Vatikan II dengan berani mendeklarasikan diri sebagai paguyuban orang beriman yang ingin solider, berempati, sehati dan sejiwa dengan mereka yang berada di garis kemiskinan dan hidup dalam penindasan. Sikap dasar baru telah digariskan Gereja yang melihat dunia modern lengkap dengan seluruh permasalahannyasebagai lahan subur yang perlu digarap untuk efektivitas pewartaan. 3. Gagasan peran serta kaum muda katolik dapat dijabarkan antara lain: memperbaiki dari dalam diri mereka sendiri untuk bekal dasar dalam melangkah menghidupkan komunikasi iman dan cinta yang dialogis dan mendalam di antara anggota keluarga Orang muda perlu terlibat aktif dalam seluruh keprihatinan Gereja. Keterlibatan itu dapat diwujudkan dengan menjadi salah satu pengurus Gereja entah tingkat lingkungan, wilayah ataupun paroki, maupun dalam aneka macam kegiatan yang ada.

dalam

rangka

pencarian

jatidiri

pantaslah

orang

muda

mempertimbangkan kemungkinan untuk menanggapi panggilan Tuhan sebagai imam, bruder dan suster dalam Gereja. orang muda diundang untuk aktif mengubah dan menggerakkan kehidupan masyarakat menuju tatanan dunia yang adil dan damai. Keterlibatan pada masyarakat ini menjadi perwujudan dari imannya.