Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masa pengeraman selama 21 hari merupakan masa yang sangat kritis untuk menentukan penetasan seekor anak ayam. Embrio di dalam telur ini tumbuh secara luar biasa setiap harinya sampai akhirnya menetas menjadi ayam. Secara garis besar dari berbagai literatur menyampaikan perkembangan embrio selama 21 hari pengeraman sampai akhirnya menjadi DOC (Day Old Chicken). Pengetesan fertilitas telur adalah suatu hal yang perlu dilakukan. Hal ini terutama diperlukan untuk menentukan jumlah telur yang fertile untuk terus ditetaskan sedangkan yang tidak fertile disingkirkan karena tidak berguna dalam proses penetasan dan bahkan hanya menghabiskan tenaga dan tempat saja. Tes fertilisasi semacam ini tidak akan mempengaruhi perkembangan embrio telur, malah sebaliknya kita akan mengetahui seberapa normal perkembangan embrio di dalam telur tersebut telah berkembang. Tetapi hal yang terpenting dalam proses ini adalah mengetahui seberapa banyak telur yang fertil dan dapat menentukan langkah-langkah yang diperlukan untuk telur yang tidak fertil. Adapun cara yang sempurna untuk menentukan kelembaban udara adalah dengan memperhatikan ukuran kantong udara di dalam telur bagian atas atau bagian tumpulnya. Kelembaban dapat diatur setelah peneropongan telur pada hari ke 7, 14, dan 18 pada masa penetasan.Ventilasi yang cukup adalah penting untuk diperhatikan mengingat di dalam telur ada embrio yang juga bernafas dalam perkembangannya dan memerlukan O 2 dan membuang CO2.Dalam operasi mesin tetas, lebar bukaan ventilasi harus diatur agar cukup ada sirkulasi udara dan dengan memperhatikan penurunan kelelmbaban udaranya. Pemutaran telur sedikitnya adalah 3 kali sehari atau 5 kali sudah lebih dari baik untuk mencegah embrio telur melekat pada selaput membrane bagian dalam telur.Oleh sebab itu jangan pernah membiarkan telur tetas tidak dibalik atau diputar posisinya dalam
1

1 hari pada masa penetasan telur.Pemutaran telur tersebut dilakukan dalam 18 hari pertama penetasan. Tetapi jangan membalik telur sama sekali pada 3 hari terakhir menjelang telur menetas. Pada saat itu telur tidak boleh diusik karena embrio dalam telur atau anak ayam yang akan menetas tersebut sedang bergerak pada posisi penetasannya.

Tujuan Praktikum Praktikum ini dilaksanakan adalah untuk mengetahui perkembangan embrio baik yang terjadi di dalam tubuh induk maupun diluar tubuh induk serta mengetahui perkembangan embrio pada waktu yang berbeda mulai dari minggu pertama sampai minggu terakhir penetasan.

TINJAUAN PUSTAKA
Bobot telur sangat dipengaruhi oleh masa bertelur. Produksi pertama dari suatu siklus berbobot lebih rendah dibandingkan telur berikutnya pada siklus yang sama.
2

Dengan kata lain bobot telur semakin bertambah dengan bertambahnya umur induk. Maka dari itu untuk keberhasilan penetasan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar telur-telur menetas dengan baik dan dapat hidup sampai dewasa dan kemampuan berproduksinya tinggi (Listiyowati dan Roospitasari, 2000). Persiapan mesin tetas dengan cara menyemprotkan larutan formalin ke dalam ruang mesin tetas. Selanjutnya mesin dikeringkan. Mesin dipanaskan hingga mencapai

suhu yang dibutuhkan untuk penetasan telur puyuh yaitu 103

(39,5 ). Suhu harus

merata diseluruh bagian mesin tetas. Saat mesin tetas dipanaskan, telur-telur tetas yang sudah diseleksi dibersihkan dengan di lap menggunakan kain bersih yang dibasahi air hangat. Setelah itu, telur di fumigasi dengan larutan formalin agar kuman yang masih menempel pada kulit telur dapat hilang (Paimin, 2004). Pemutaran telur mulai dilakukan tiga hari setelah peletakan telur tetas dan berakhir tiga hari sebelum telur menetas. Pemutaran telur perlu agar panas menyebar dan telur tidak mongering pada satu sisi.Pemutaran telur dilakukan setiap hari bersamaan dengan pendinginan telur.Pemutaran dilakukan secara horizontal dengan ujung tumpul selalu berada di sebelah atas.Pemutaran itu berfungsi untuk menyeragamkan suhu permukaan telur sekaligus mencegah embrio melekat pada kulit (Sarwono, 2001). Sebelum ditetaskan, telur diseleksi terlebih dahulu berdasarkan kebersihan, besar dan bentuk.Setelah itu, telur di fumigasi.Bila belum mau dimasukkan dahulu ke ruang pengeraman (incubator/setter), sebaiknya telur tetas diamsukkan dahulu ke ruang

penyimpanan yang bersuhu 15

dengan kelembaban 70 %. Bial akan di tetaskan, telur

dikeluarkan dari ruangan penyimapanan dan dibiarkan terkena udara di ruangan (pre

heating) selama

6 jam. Setelah itu, telur diamsukkan ke mesin pengeraman (Samosir

dan Sudaryani, 1990). Suhu di dalam ruang penetasan sangat menentukan keberhasilan penetasan telur. Bila suhu terlalu tinggi atau terlalu rendah dari suatu suhu ideal maka dikuatirkan akan menimbulkan kematian embrio. Untuk itu, suhu ruang penetasan harus mencapai ideal, hal ini bias di antisipasi dengan pengontrolan ventilasi udara apakah berfungsi baik atau tidak (Nuryati, dkk.,2000). Embrio yang sedang bertumbuh di mesin tetas membutuhkan temperatur yang optimum selama penetasan. Gejolak temperatur yang terlalu ekstrim akan akan mengakibatkan kematian embrio. Hal ini dapat terjadi karena misalnya listrik amti atau lampu minyak terlalu besar atau sebagainya. Hal-hal rutin tersebut (sering terjadi di Indonesia, dimana listrik mudah mati dan hidup atau tidak menentu sering terjadi, sehingga pengusaha peternakan harus benar-benar memperhatikan sumber panas ini (Cahyono, 1998). Fungsi keduakulit telur adalah sebagai lalu lintas gas oksigen dan karbon dioksida dari proses penetasan. Selama masa penetasan, embrio akan mengeluarkan CO 2 sebagai hasil proses pernafasannya danmembutuhkan gasO2 (selama proses penetasan embrio itu hidup). Lalu lintas gas terebut dilakukan melalui pori-pori yang terdapat pada kulit telur. Melalui pori-pori itu pula bibit penyakit dapat masuk dan keluarnya bau usuk ke dalam ruang penetasan kulit telur yang tidak normal akan menghambat lalu lintas gas diperlukan. Kulit telur yang terlalu tebal akan menyebabkan telur kurang terpengaruh olehtemperatur penetasan (Rasyaf, 1990). Lama penetasan telur ayam umumnya 21 hari dengan suhu ruang 1010F, 1020F, 1030F, 1040F DAN 1050F. Kelembapan yang di perlukan untuk hari pertama sampai kedelapan belas adalah 60% dan untuk hari selanjutnya 70%. Untuk menambahkan
4

kelembapan dapat dilakukan dengan cara menggantungkan kain basah dalam kotak penetasan. Sebelum penetasan berlangsung , suhu ruang tetas harus diamati dengan cermat.Pada hari pertama, suhu yang di butuhkan adalah 101 0F. Ai dalam bak minyak tanah pada lampu minyak di usahakan mencukupi selama proses penetasan telur ayam. Hal lain yang harus di perhatikan adalah tangan petugas harus dibersihkan terlebih dahulusebelum memegang telur. Pengontrolan mesin tetas dilakukan secara berkala. Bila perlu dapat di gunakan cheksheet yang di tempelkan di sekitar mesin tetas. Penetasan telur ayam sebaiknya dimulai di pagi hari (Jutawan,2005). Temperatur ideal pada ruang inkubator berbeda-beda tergantung pada besar kecilnya telur ayam yang akan di tetaskan dan tergantung pula pada rak telur yang di pergunakan . Jika rak telur yang dipergunakan adalah rak telur manual, telur ayam yamg berukuran kecil seperti telur ayam kampung ditetas kan pada temperatur ideal sebesar 1000F. Sementara itu, telur ayam yamg berukuran besar seperti telur ayam negeri atau ayam ras jenis rbode island red, rbode island white atau jersey giant di tetaskan pada temperatur ideal 100,50F (Sujionohadi dan Ade). Telur yang akan di tetaskan haruslah diseleksi dengan baik. Telur yang sudah di buahi, bermutu baik, segar, dan berukuran seragam saja yang di tetaskan. Dibandingkan dengan telur segar (baru keluar dari ayam betina), telur yang berusia seminggu memiliki resiko tidak menetas lebih besar jika di masukan ke dalam mesin tetas . Telur yang sudah berusia 15 hari sebaiknya tidak usah di pakai karena hampir di pastikan tidak akan menetas. Singkirkan juga telur yang terlalu kecil, telur bundar dan pecah atau kropos kulit telurnya. Seleksi yang baik akan meningkatkan persentase keberhasilan penetasan (Tim Agromedia Pustaka, 2010).

BAHAN DAN METODE PRAKTIKUM Waktu dan Tempat Praktikum Praktikum dilaksanakan di LaboratoriumDasar Ternak Unggas Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Praktikum dilaksanakan pada hari Senin, 26 November 2012Pukul 09.20 WIB sampai dengan selesai.

Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam praktikum adalah telur ayam kampung sebanyak 120 butir untuk ditetaskan, air hangat untuk mencuci telur dan air dingin untuk menjaga kelembaban di mesin tetas. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah rak telur untuk meletakkan telur, pembatas rak telur, mesin tetas untuk menetaskan telur dan talam untuk tempat penampungan air. Metode Disiapkan telur ayam kampong sebanyak 120 butir untuk di tetaskan, dicuci telur dengan menggunakan kain lap yang bersih dan air hangat, disusun telur di atas rak telur secara horizontal dengan bagian tumpul di bagian atas, dimasukkan ke dalam mesin tetas dan diatur kondisi suhu mesin tetas, dilakukan pemutaran setiap hari setelah hari ketiga, dilakukan pengamatan dengan pemecahan 1 butir telur setiap pengamatan, dihitung persentase fertilitas dan daya tetas serta dibuat laporan.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil Perkembangan Embrio Hari 4 Keterangan Mata sudah mulai terlihat tampak seperti bintik gelap yang terletak di sebelah kanan jantung.

Hari 5

Embrio sudah lebih jelas. Kuncupkuncup anggota badan sudah mulai terbentuk, ekor dan kepala sudah berdekatan.

Hari 6

Kuncup anggota badan sudah mulai terbentuk. Mata sudah mulai menonjol.

Hari 8

Paruh sudah tampak seperti bintik gelap pada dasar mata.

Hari 9

Jumlah pembuluh darah sudah bertambah dan jari kakinya sudah mulai terbentuk.

Hari 10

Paruh sudah mulai keras.

Hari 11 Hari 12

Embrio tampak jelas. Embrio sudah mulai masuk ke yolk. Mata kanan mulai membuka sedikit, telinga sudah mulai terlihat. Jari kaki mulai terbentuk.

Hari 13

Sisik dan cakar sudah mulai tampak jelas.

Hari 14

Sudah tampak punggung embrio yang mulai meringkuk atau melengkung dan bulu hamper menutup seluruh tubuhnya.

Hari 15

Kepala embrio sudah mulai mengarah ke bagian tumpul dari telur.

Hari 16

Embrio sudah mengambil posisi yang baik di dalam kerabang. Sisik, cakar dan paruh mulai mengeras dan bertanduk.

Hari 17

Paruh sudah mengarah ke rongga udara.

Hari 18

Embrio sudah tampak seperti ayam yang akan mempersiapkan diri untuk menetas. Jari kaki, sayap dan bulunya sudah berkembang dengan baik. Ayam siap untuk menetas.

Hari 21 Pembahasan

Telur menetas

Dari hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh bahwa mesin tetas yang baik untuk penetasan telur adalah jika sannitasinya dan keadaan suhu dalam mesin sudah memadai dan optimal. Hal ini sesuai dengan pernyataan Paimin (2004), yang menyatakan bahwa persiapan mesin tetas dengan cara menyemprotkan larutan formalin ke dalam ruang mesin tetas. Selanjutnya mesin dikeringkan. Mesin dipanaskanhingaa mencapai

suhu yang dibutuhkan untuk penetasan telur yaitu 103

(39,5 ). Suhu harus merata

diseluruh bagian mesin tetas. Sat mesin teta dipanaskan, telur-tekur tetas yang sudah diseleksi dibersihkan dngan di lap menggunakan kain bersih yang dibasahi air hangat. Setelah itu, telur di fumigasi dengan larutan formalin agar kuman yang masih menempel pada kulit telur dapat hilang. Dari hasil praktikum diperoleh juga bahwa telur yang terllau cepat ditetaskan dari hasil produksi yang baru tidak baik dilakukan dalam penetasan telur, artinya umur dari telur sangat berpengaruh dalam penetasan.Hal ini sesuai dengan pernyataan Listiyowati dan Roospitasari (2000), yang menyatakan bahwa bobot telur sangat dipengaruhi oleh masa bertelur. Produksi pertama dari suatu siklus berbobot lebih rendah dibandingkan telur berikutnya pada siklus yang sama. Dengan kata lain bobot telur semakin bertambah dengan bertambahnya umur induk. Maka dari itu untuk keberhasilan penetasan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, agar telur-tekur menetas dengan baik dan dapat hidup sampai dewasa dan kemampuan berproduksinya tinggi. Dari hasil praktikum diketahui juga bahwa untuk mendapatkan hasil yang optimal maka perlu dilakukan pemutaran telur secara kontiniu dan teratur guna meratakan suhu yang diperoleh telur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sarwono (2001), yang menyatakan
9

bahwa pemutaran telur mulai dilakukan tiga hari setelah peletakan telur tetas dan berakhir tiga hari sebelum telur menetas. Pemutaran telur perlu agar panas menyebar dan telur tidak mengering pada satu sisi.Pemutaran telur dilakukan setiap hari bersamaan dengan pendinginan telur.Pemutaran dilakukan secara horizontal dengan ujung tumpul selalu berada di sebelah atas.Pemutaran itu berfungsi untuk menyeragamkan permukaan telur sekaligus mencegah embrio melekat pada kulit. Dari hasil praktikum diketahui bahwa suhu juga sangat berpengaruh pada kualitas atau hasil dari penetasan, suhu yang terlalu tinggi atau rendah bisa berakibat buruk pada telur tetas. Kematian pada alat pemanas juga sangat berpengaruh, sebab suhu akan menjadi ekstrim bisa membunuh embrio telur. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cahyono (1998), yang menyatakan bahwa embrio yang sedang bertumbuh di mesin tetas membutuhkan temperatur yang optimum selama penetasan. Gejolak temperatur yang terlalu ekstrim akan mengakibatkan kematian embrio. Hal ini dapat terjadi karena suhu

misalnya listrik mati atau lampu minyak terlalu besar atau sebagainya. Hal-hal rutin tersebut (sering terjadi di Indonesia, dimana listrik mudah mati dan hidup atau tidak menentu) sering terjadi, sehingga pengusaha peternakan harus benar-benar

memperhatikan sumber panas ini.

10

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan 1. Dari hasil penetasan diperoleh bahwa jumlah telur yang menetas adalah 15 butir dimana mortalitasnya adalah sebesar 30%. 2. Sebelum melakukan penetasan, sebaiknya dilakukan pemilihan terhadap telur yang fertil dan infertil. 3. Telur yang disusun di rak telur sebaiknya secara horizontal dengan bagian tumpul dibagian atas.
4. Selama proses penetasan suhu mesin tetas harus di kontrol dimana suhu yang

cocok untuk melakukan penetasan adalah 38

5. Pemutaran telur dilakukan dengan tujuan agar panas pada telur tersebut merata sehingga diperoleh hasil yang baik.

Saran Disarankan agar selama proses penetasan, suhu harus di kontrol dan pemutaran dilakukan secara rutin agar panas pada setiap telur merata.

11

12