Anda di halaman 1dari 4

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi pada organ reproduksi merupakan salah satu penyakit infeksi yang masih menjadi masalah penting dalam kesehatan masyarakat karena menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang luas pada pria dan wanita, terutama pada usia reproduksi. Insiden infeksi pada organ reproduksi telah meningkat secara dramatis di seluruh dunia. Di negara berkembang, infeksi pada organ reproduksi yang paling umum kedua atau ketiga menjadi masalah kesehatan masyarakat pada usia muda (Sri Devi, et.al, 2007). Penyakit infeksi pada organ reproduksi memiliki beberapa gejala antara lain keputihan. Keputihan atau cairan berlebih yang keluar dari vagina merupakan gejala yang paling banyak dikeluhkan oleh kaum wanita terutama pada kelompok usia reproduksi. Data penelitian tentang kesehatan reproduksi wanita menunjukkan 75% wanita di dunia menderita keputihan paling tidak sekali seumur hidup dan 45% diantaranya bisa mengalaminya sebanyak dua kali atau lebih. Di Indonesia sendiri, jumlah wanita yang mengalami keputihan sangat besar, lebih dari 75% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan paling tidak satu kali dalam hidupnya (Tartylah, Elza, 2010; Triastuti, et.al, 2010).

Penyakit infeksi pada organ reproduksi selain yang disebabkan oleh bakteri, klamidia, virus dari mikoplasma juga mungkin disebabkan oleh jamur, protozoa dan parasit antara lain pada penyakit kandidiasis, trikomoniasis, giardiasis. amebiasis, kudis, dan kutu pubis. Diantara penyebab penyakit infeksi pada organ reproduksi tersebut infeksi jamur merupakan infeksi yang paling utama dari infeksi vagina. Hampir 85-90% jamur yang terdapat pada vagina adalah strain Candida albicans dan Torulopsis glabrata. Candida albicans merupakan penyebab utama kandidiasis genital di samping Torulopsis glabrata. Kandidiasis vulvovagina (VVC) atau vaginitis kandida khususnya di daerah tropis dan subtropis seperti Indonesia sangat umum, hal ini berkaitan erat dengan kondisi cuaca yang lembab pada daerah tropis, dimana cuaca yang lembab dapat mempermudah berkembangnya infeksi jamur (Herman, Joseph, 2001). Infeksi jamur dapat dibagi menjadi infeksi superfisial dan dalam. Di antara infeksi superfisial yang sering ditularkan melalui hubungan seksual adalah infeksi oleh Candida spp. Tempat yang paling umum terdapat Candida spp. adalah mulut, saluran anorektal, saluran kelamin dan kuku (dalam lingkungan terbatas). Cara penularan terutama adalah kontak langsung orang ke orang, khususnya tinggi pada kelompok aktif seksual. Sedangkan infeksi dalam mungkin disebabkan oleh keganasan jamur sendiri atau karena penurunan resistensi tuan rumah khususnya pada gangguan kekebalan tubuh. Timbulnya infeksi oleh jamur oportunistik seperti Candida spp. makin meningkat antara lain akibat penggunaan luas antibiotika spektrum lebar dan imunosupresiva,. kemajuan dalam bedah transplantasi dan katup

jantung, peningkatan penggunaan cannulae iv jangka panjang khususnya untuk nutrisi parenteral (Herman, Joseph, 2001). Salah satu pengobatan yang digunakan pada penyakit kandidiasis adalah nistatin. Nistatin bermanfaat untuk kandidiasis dan tersedia dalam sediaan-sediaan yang ditujukan untuk pemberian kutan, vaginal atau oral. Sediaan tablet vagina yang mengandung 100.000 U nistatin walaupun dapat ditoleransi dengan baik namun kurang efektif bila dibandingkan dengan anticandida lainnya seperti imidazol atau triazol. Sediaan suspensi oral biasanya efektif bagi kandidiasis oral, dalam penggunaannya pasien diminta berkumur dengan obat ini, namun karena rasa yang pahit, pasien cenderung mengeluarkan kembali obat ini sehingga pengobatan akan gagal (Bennett, John, 2008). Dewasa ini perkembangan pengobatan telah mengarah kembali ke alam karena obat tradisional dirasa cukup terjangkau dari segi ekonomi. Salah satu tanaman yang telah lama digunakan oleh masyarakat untuk mengobati keputihan adalah daun tapak liman (Elephantopus scaber L) (Sundari, Dian et.al, 1996). Kandungan kimia yang terdapat dalam tapak liman diantaranya adalah flavonoids, triterpenoids, flavonoid esters, terpenoids, sesquiterpene lactones, elephantopin, triterpenes, stigmasterol epifriedelinol dan lupeol. Sesquiterpene lactones bekerja sebagai antivirus, antitumor dan antioksidan. Sementara elephantopin, triterpenes, stigmasterol epifriedelinol dan lupeol bekerja sebagai antipiretik. Terpenoids bekerja sebagai antiseptik, stimulan, diuretik, anthelmintik, dan analgesik yang biasa digunakan untuk mengobati inflamasi, leukorea, dan gonorea (Li Wang et.al, 2004; V R Mohan et.al 2010).

Diduga kandungan-kandungan ini dapat memberikan aktivitas anticandida terhadap Candida albicans sebagai salah satu penyebab keputihan. Selama ini pemanfaatan daun tapak liman di masyarakat hanya berdasarkan pengalaman yang dilakukan secara turun temurun atau sebagai bahan campuran jamu untuk mengobati keputihan. Hipotesis ini masih harus dibuktikan dengan data ilmiah sehingga mendorong peneliti untuk meneliti efek ekstrak daun tapak liman terhadap pertumbuhan Candida albicans. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah ekstrak daun tapak liman (Elephantopus scaber L) mempunyai aktivitas anticandida terhadap pertumbuhan Candida albicans? 2. Bagaimana pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun tapak liman (Elephantopus scaber L) terhadap pertumbuhan Candida albicans? 1.3 Tujuan Penelitian 1. Menentukan aktivitas anticandida ekstrak daun tapak liman (Elephantopus scaber L) terhadap pertumbuhan Candida albicans secara in vitro. 2. Mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi ekstrak daun tapak liman (Elephantopus scaber L) terhadap pertumbuhan Candida albicans. 1.4 Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapakan dapat memberikan informasi kepada masyarakat mengenai alternatif pengobatan terhadap keputihan akibat infeksi Candida albicans.