Anda di halaman 1dari 20

Analisa Resep

EPILEPSI
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Farmasi Kedokteran

Oleh : Noor Riza Perdana I1A002063

Pembimbing Dra. Sulistianingtyas, Apt

Laboratorium Farmasi Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru

April 2008 BAB I PENDAHULUAN

Setelah seorang dokter menentukan diagnosis yang tepat, maka selanjutnya berupaya melakukan penyembuhan dengan berbagai cara misalnya dengan pembedahan, fisioterapi, penyinaran, dengan obat dan lain-lain, tetapi umumnya menggunakan obat . 1 Obat berperan penting dalam pelayanan kesehatan. Penanganan dan pencegahan berbagai penyakit tidak dapat dilepaskan dari tindakan terapi dengan obat atau farmakoterapi. Berbagai pilihan obat saat ini tersedia, sehingga diperlukan pertimbangan yang cermat dalam pemilihan obat untuk suatu penyakit, dengan mempertimbangkan efektivitas, keamanan, efek samping, interaksi antar obat dan dari segi ekonomi. 1 Obat yang diberikan kepada penderita harus dipesankan dengan menggunakan resep. Satu resep umumnya hanya diperuntukkan bagi satu penderita. Resep selain permintaan tertulis kepada apoteker juga merupakan perwujudan akhir dari kompetensi, pengetahuan keahlian dokter dalam menerapkan pengetahuannya dalam bidang farmakologi dan terapi. Selain sifatsifat obat yang diberikan dan dikaitkan dengan variabel dari penderita, maka dokter yang menulis resep idealnya perlu pula mengetahui penyerapan dan nasib obat dalam tubuh, ekskresi obat, toksikologi serta penentuan dosis regimen yang rasional bagi setiap penderita secara individual. Resep juga perwujudan hubungan profesi antara dokter, apoteker dan penderita . 1,2

A. Definisi dan Arti Resep Definisi Menurut SK. Mes. Kes. No. 922/Men.Kes/ l.h menyebutkan bahwa resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita sesuai peraturan perundangan yang berlaku. 1 Resep dalam arti yang sempit ialah suatu permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan kepada apoteker untuk membuatkan obat dalam bentuk tertentu dan menyerahkannya kepada penderita. 2 Arti Resep 1. Dari definisi tersebut maka resep bisa diartikan/merupakan sarana komunikasi profesional antara dokter (penulis resep), APA (apoteker penyedia/pembuat obat), dan penderita (yang menggunakan obat). 2. Resep ditulis dalam rangka memesan obat untuk pengobatan penderita, maka isi resep merupakan refleksi/pengejawantahan proses pengobatan. Agar pengobatan berhasil, resepnya harus benar dan rasional. 1 B. Kertas Resep Resep dituliskan di atas suatu kertas resep. Ukuran yang ideal ialah lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm. Untuk dokumentasi, pemberian obat kepada penderita memang seharusnya dengan resep; permintaan obat melalui telepon hendaknya dihindarkan. 2

Blanko kertas resep hendaknya oleh dokter disimpan di tempat yang aman untuk menghindarkan dicuri atau disalahgunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, antara lain dengan menuliskan resep palsu meminta obat bius.2 Kertas resep harus disimpan, diatur menurut urutan tanggal dan nomor urut pembuatan serta disimpan sekurang-kurangnya selama tiga tahun. Setelah lewat tiga tahun, resep-resep oleh apotek boleh dimusnahkan dengan membuat berita acara pemusnahan seperti diatur dalam SK.Menkes RI

no.270/MenKes/SK/V/1981 mengenai penyimpanan resep di apotek. 2 C. Model Resep yang Lengkap Resep harus ditulis dengan lengkap, supaya dapat memenuhi syarat untuk dibuatkan obatnya di Apotek. Resep yang lengkap terdiri atas: 2 1. Nama dan alamat dokter serta nomor surat izin praktek, dan dapat pula dilengkapi dengan nomor telepon, jam, dan hari praktek. 2. 3. Nama kota serta tanggal resep itu ditulis oleh dokter. Superscriptio yang berisi tanda R/, singkatan dari recipe yang berarti harap diambil). 4. Inscriptio Nama setiap jenis atau bahan obat yang diberikan serta jumlahnya a) Jenis/bahan obat dalam resep terdiri dari : Remedium cardinale atau obat pokok yang mutlak harus ada. Obat pokok ini dapat berupa bahan tunggal, tetapi juga dapat terdiri dari beberapa bahan.

Remedium adjuvans, yaitu bahan yang membantu kerja obat pokok; adjuvans tidak mutlak perlu ada dalam tiap resep. Corrigens, hanya kalau diperlukan untuk memperbaiki rasa, warna atau bau obat (corrigens saporis, coloris dan odoris) Constituens atau vehikulum, seringkali perlu, terutama kalau resep berupa komposisi dokter sendiri dan bukan obat jadi. Misalnya konstituens obat minum air. b) Jumlah bahan obat dalam resep dinyatakan dalam suatu berat untuk bahan padat (mikrogram, miligram, gram) dan satuan isi untuk cairan (tetes, milimeter, liter). Perlu diingat bahwa dengan menuliskan angka tanpa keterangan lain, yang dimaksud ialah gram 5. Subscriptio Cara pembuatan atau bentuk sediaan yang dikehendaki misalnya f.l.a. pulv = fac lege artis pulveres = buatlah sesuai aturan obat berupa puyer. 6. Signatura Aturan pemakaian obat oleh penderita umumnya ditulis dengan singkatan bahasa Latin. Aturan pakai ditandai dengan signatura, biasanya disingkat S. 7. Nama penderita di belakang kata Pro : merupakan identifikasi penderita, dan sebaiknya dilengkapi dengan alamatnya yang akan memudahkan penelusuran bila terjadi sesuatu dengan obat pada penderita.

8.

Tanda tangan atau paraf dari dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menuliskan resep tersebut yang menjadikan resep tersebut otentik. Resep obat suntik dari golongan Narkotika harus dibubuhi tanda tangan lengkap oleh dokter/dokter gigi/dokter hewan yang menulis resep, dan tidak cukup dengan paraf saja.

D. Seni dan Keahlian Menulis Resep yang Tepat dan Rasional Penulisan resep adalah tindakan terakhir dari dokter untuk penderitanya, yaitu setelah menentukan anamnesis, diagnosis dan prognosis serta terapi yang akan diberikan; terapi dapat profilaktik, simptomatik atau kausal. Penulisan resep yang tepat dan rasional merupakan penerapan berbagai ilmu, karena begitu banyak variabel-variabel yang harus diperhatikan, maupun variabel unsur obat dan kemungkinan kombinasi obat, ataupun variabel penderitanya secara individual.1 Resep yang jelas adalah tulisannya terbaca. Misalnya nama obatnya ditulis secara betul dan sempurna/lengkap. Nama obat harus ditulis yang betul, hal ini perlu mendapat perhatian karena banyak obat yang tulisannya atau bunyinya hampir sama, sedangkan khasiatnya berbeda. 2 Resep yang tepat, aman, dan rasional adalah resep yang memenuhi lima tepat, ialah sebagai berikut : 2 1. Tepat obat; obat dipilih dengan mempertimbangkan manfaat dan risiko, rasio antara manfaat dan harga, dan rasio terapi. 2. Tepat dosis; dosis ditentukan oleh faktor obat (sifat kimia, fisika, dan toksisitas), cara pemberian obat (oral, parenteral, rectal, lokal), faktor

penderita (umur, berat badan, jenis kelamin, ras, toleransi, obesitas, sensitivitas individu dan patofisiologi). 3. Tepat bentuk sediaan obat; menetukan bentuk sediaan berdasarkan efek terapi maksimal, efek samping minimal, aman dan cocok, mudah, praktis, dan harga murah. 4. Tepat cara dan waktu penggunaan obat; obat dipilih berdasarkan daya kerja obat, bioavaibilitas, serta pola hidup pasien (pola makan, tidur, defekasi, dan lain-lain). 5. Tepat penderita; obat disesuaikan dengam keadaan penderita yaitu bayi, anak-anak, dewasa dan orang tua, ibu menyusui, obesitas, dan malnutrisi. Kekurangan pengetahuan dari ilmu mengenai obat dapat mengakibatkan hal-hal sebagai berikut: 2 Bertambahnya toksisitas obat yang diberikan Terjadi interaksi antara obat satu dengan obat lain Terjadi interaksi antara obat dengan makanan atau minuman tertentu Tidak tercapai efektivitas obat yang dikehendaki Meningkatnya ongkos pengobatan bagi penderita yang sebetulnya dapat dihindarkan.

BAB II ANALISA RESEP Contoh Resep dari Poliklinik Syaraf

PROPINSI PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN

Nama Dokter : dr. XY, Sp. S UPF/BAGIAN : Poli Syaraf Nama Pasien : Nn. Norkasmah

Tanda Tangan Dokter Kelas I/II/III/Utama Banjarmasin, 21 Januari 2008

Neurologi RSUD Ulin Banjarmasin Carbamazepin no XC S 3dd I Asam Folat no LXV S 2 dd I

Keterangan Resep Klinik Tanggal Nama Pasien Umur No. RMK : Syaraf : 21 Januari 2008 : Nn. Norkasmah : 22 tahun : 0-68-71-47

Alamat Diagnosa B. Analisa Resep a. Penulisan Resep

: Jln Kuripan Gg I Rt 13 No 30 Banjarmasin : Epilepsi

Pada resep ini ukuran kertas yang digunakan lebarnya 11 cm dan panjangnya 21 cm. Ukuran kertas resep yang ideal adalah lebar 10-12 cm dan panjang 15-18 cm.
2

Berdasarkan ketentuan tersebut, ukuran kertas yang

digunakan pada resep ini, lebarnya sudah ideal tapi masih terlalu panjang. Penulisan pada resep ini bisa dibaca. Pada penulisan resep yang benar tulisan harus dapat dibaca dengan jelas agar tidak terjadi kesalahan dalam pemberian obat. b. Kelengkapan Resep 1. Pada resep ini alamat lengkap dari RSUD Ulin dicantumkan. Unit yang menangani di Rumah Sakit, identitas dokter berupa nama dan tanda tangan dokter penulis resep sudah dicantumkan. Tetapi pencantuman identitas dan unit bagian tidak sesuai tempat yang ditentukan. Nama kota serta tanggal resep sudah ditulis oleh dokter. 2. Superscriptio berupa tanda R/ pada resep ini hanya ditulis pada salah satu resep obat, yaitu hanya diawalnya saja, tetapi tidak dicantumkan lagi pada resep obat selanjutnya. 3. Inscriptio pada resep ini tidak mencantumkan secara rinci remedium cardinale atau obat pokok, remedium adjuvans atau obat tambahan, corrigens dan

10

constituens atau vehikulum yang digunakan karena berupa resep jenis officinalis. Pada resep ini, pada sediaan obat tidak dicantumkan satuan berat sediaan obat dan bentuk sediaan yang diminta. 4. Subcriptio berupa cara pembuatan obat dan bentuk sediaan obat yang akan dibuat tidak dicantumkan. 5. Pada resep ini tanda signatura telah dicantumkan, namun ada tanda signatura yang ditulis dengan huruf yang tidak jelas. Pada resep ini telah dicantumkan berupa jumlah obat yang diminum setiap kali pemberian tetapi tidak dicantumkan waktu pemberian obat, misalnya : a.c atau p.c 6. Nama penderita sudah dicantumkan namun umur dan alamat tidak ada. Seharusnya identitas penderita ditulis lengkap sehingga mudah menelusuri bila terjadi sesuatu dengan obat pada penderita. 7. Untuk keabsahan suatu resep, harus tercantumkan nama, alamat, bagian/unit pelayanan Rumah Sakit tersebut disertai tanda tangan dokter penulis resep. Pada resep ini, tanda tangan dari dokter yang menuliskan resep sudah ada, namun alamat Rumah Sakit tidak dicantumkan. Seharusnya ditulis Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Jl. A. Yani Km. 1,5 Banjarmasin Telp. (0511)3252180 8. Kesahan resep berupa paraf dokter yang menuliskan resep ada. c. Obat yang Digunakan a) Karbamazepin Karbamazepin merupakan turunan dibenzazepin, mempunyai cicncin yang sama seperti timoleptika opipramol dan hanya berbeda dari senyawa ini pada

11

subtituen N. Saat ini senyawa ini merupakan antiepileptika yang terpenting yang paling banyak digunakan. Karbamazepin diindikasikan untuk kejang sebagian dengan gejala yang kompleks (psychomotor, temporal lobe), kejang tonik-klonik (grand mal), pola kejang campuran, neuralgia trigeminal. schizophrenia resisten, penghentian alkohol, gangguan atau stress traumatis. 3,4,5 Karena adanya induksi sendiri pada metabolismenya karbamazepin setelah penggunaan beberapa kali akan dieliminasi jauh lebih cepat. Waktu paruh plsmanya 12-24 jam, hanya sekitar 1-2% diekskresi bentuk semula ke dalam urin. Yang masih berkhasiat adalah karbamazepin-10,11-epoksida yang akan dibiotranformasi lebih lanjut menjadi diol tak aktif dan konjugatnya.6,7 Karbamazepin dikontraindikasikan untuk pasien yang hipersensitivitas terhadap Karbamazepin, bersamaan dengan antidepressan trisiklik (Amitriptilin, depiramin), depresi sumsum tulang belakang, dalam terapi dengan inhibitor MAO (furazolidone, isocarboxazid, linezolid, moclobemide, phenelzine, procarbazine, selegiline, tranylcypromine) selama 14 hari, tekanan darah yang sangat tinggi, kehamilan. Selain itu karbamazepin bisa menyebabkan mekanisme kerja beberapa jenis enzim hati untuk mempercepat pengeluaran obat yang kita konsumsi sehingga menurunkan efektifitas obat tersebut, sebagai contoh caspofungin, cyclosporine, doxycycline, HIV protease inhibitors (amprenavir, saquinavir), levothyroxine, psychiatric medications (clozapine, haloperidol, risperidone), theophylline, warfarin.4,7 Dosis tergantung dari penyakit yang diderita, untuk epilepsi: Anak < 6 tahun, awal: 10-20 mg/kg/hari terbagi dalam 3 kali pemberian (tablet), dan 4 kali

12

pemberian (sirup) dosis ditingkatkan setiap minggu sampai respon optimal dan tingkat terapi didapatkan. Maintenance: terbagi dalam 3-4 kali pemberian dengan dosis mksimum yang direkomendasikan 35 mg/kg/hari. Anak 6-12 tahun, awal: 100 mg dua kali sehari (tablet atau tablet lepas kontrol) atau 200 mg sirup dalam 4 kali pemberian Maintenance: 400-800 mg/hari, dosis maksimum yang direkomendasikan 1000 mg/hari. Anak < 12 tahun yang menerima 400 mg/hari dapat menggunakan sediaan lepas control.5,6,7 Anak > 12 tahun dan dewasa, dosis awal: 200 mg dua kali sehari (tablet) atau 400 mg sehari terbagi menjadi 4 kali pemberian. Dosis maksimum yang direkomendasikan, anak (12-15 tahun) 1000 mg/hari, anak (> 15 tahun): 1200 mg/hari, dewasa 1600 mg/hari dan beberapa pasien membutuhkan 1.6-2,4 g/hari. Pada wanita hamil dengan faktor resiko, karbamazepin dapat melewati sawar plasenta sehingga menyebabkan kerusakan tulang tengkorak, kerusakan jantung. Penggunaan pada ibu menyusui perlu diperhatikan karena Karbamazepin dapat memasuki ASI. Pada pasien dengan riwayat gagal jantung, hati, atau ginjal berpotensi menyebabkan abnormalitas sel darah yang fatal.6,7 Bentuk Sediaan: Tablet, tablet kunyah Tablet lepas control Kapsul salut selaput Sirup Nama Dagang Bamgetol (Mersifarma TM) kapsul salut selaput 200 mg. Carbamazepine Indofarma tablet 200 mg. Tegretol (Novartis) tablet 200 mg, tablet kunyah 100 mg, tablet lepas control 200 mg, sirup 100 mg/5 ml.

13

Teril (Merck) tablet 200 mg

b). Asam Folat Vitamin ini dikelompokkan dalam kelompok vitamin B. Dalam asam folat, asam glutamat terikat seperti peptida dengan asam p-aminobenzoat, yang pada N nya tersulih dengan 2-amino-4-hidroksi-6-metil-pteridin.8 Di dalam organisme, asam folat dengan bantuan asam askorbat akan direduksi menjadi asam tetrahidrofolat, yang merupakan zat pembawa yang penting untuk gugus hidroksimetil (formaldehida yang diaktifkan) dan gugus formil (asam format yang diaktifkan), jadi bertindak sebagai satuan satu-karbon. Defisiensi asam folat pada pasokan makanan normal, jarang terjadi. Ini hanya timbul pada gangguan pencernaan, absorpsi yang kurang atau setelah penggunaan anti-metabolit asam folat, primidon, fenitoin, barbiturat, karbamazepin serta antiepilepsi lainnya serta setelah pemberian kontraseptiva oral karena terjadi hambatan dekonyugasi. Defisiensi asam folat ini juga terjadi pada peminum alkohol.4 Hipovitaminosis asam folat ditandai dengan gangguan pada pembelahan sel, yang terutama diserang adalah jaringan pembentuk darah. Di samping itu terjadi diare dan penurunan berat badan. Gambaran komponen darah yang terjadi pada defisiensi asam folat yaitu anemia makrositer tidak dapat dibedakan dari anemia pernisiosa.4

14

Untuk wanita yang menderita epilepsi para ahli merekomendasikan dosis 1 mg per hari, Pada ibu hamil kekurangan asam folat menyebabkan meningkatnya risiko anemia sehingga ibu muda lelah, letih, lesu dan pucat. Diperkirakan separuh dari kelainan saat kelahiran dapat dicegah jika wanita hamil mengonsumsi asam folat dengan jumlah tepat, apakah lewat makanan mengandung asam folat atau lewat suplemen. kebutuhan asam folat untuk ibu hamil harus disiapkan sejak sebelum hamil. Jika dimulai pada satu bulan sebelum kehamilan dan tiga bulan pertama kehamilan akan menurunkan beban resiko bayi lahir terhadap Neural tube defect lebih dari 70 persen .8 Untuk mendapatkan asam folat, ibu hamil harus mengonsumsi makanan yang mengandung asam folat dalam jumlah cukup. Hati sapi, brokoli, jeruk dan bayam disamping roti dan susu. Kebutuhan asam folat untuk ibu hamil dan usia subur sebanyak 400 mikrogram/hari atau sama dengan dua gelas susu.8 Asam folat dengan dosis rekomendasi 0,4 sampai 1,0 mg tidak memberikan efek berbahaya dalam perkembangan janin atau ibu yang mengandungnya. Asam folat dapat larut dalam air dan yang berlebihan akan dibuang melalui urin. Dampak penggunaan asam folat berlebihan ( lebih 1 mg) belum diketahui, tetapi dapat menutupi diagnosa kekurangan vitamin B 12. Asam folat jarang sekali memiliki respon alergi, tetapi reaksinya dapat berupa erythema, ruam, gatal-gatal, rasa tidak enak badan dan bronkospasme atau rasa tercekik.8

15

IV. Bentuk Sediaan Bentuk sediaan yang diberikan tidak disebutkan secara jelas. Namun, pada kasus ini bentuk sediaan obat tablet tepat dengan penderita karena sesuai dengan keadaan penderita yang tidak ada gangguan menelan, mual atau pun muntah. V. Cara Frekuensi, waktu dan lama pemberian Pada resep ini tidak dituliskan waktu pemberiannya, misalnya sebelum makan (a.c) atau sesudah makan (p.c). Pemberian Karbamazepin dan asam folat tablet tidak dipengaruhi oleh makanan, jadi dapat diberikan sebelum atau sesudah makan.3,7 VI. Interaksi Obat Obat yang diberikan pada kasus ini yaitu antiepilepsi dan asm folat, Kedua jenis obat yang diberikan tidak saling berinteraksi. VII. Efek Samping Obat Efek samping obat Karbamazepin antara lain :3,4 1. Sistem Kardiovaskular: Aritmia, bradikardi, nyeri dada, CHF, edema, hiper/hypotension, lymphadenopathy, tromboembolisme, tromboplebitis.

CNS: Amnesia, ansietas, ataksia, kebingungan, sakit kepala, sedasi. 2. Dermatologi: perubahan pigmentasi kulit, erythema multiforme, stevenjohnson syndrome, reaksi fotosensitivitas, urtikaria. 3. Gastrointestinal: nyeri pada perut, anoreksia, konstipasi, diare, dyspepsia, nausea, pankreatitis, vomiting. Karbamazepin dapat menyebabkan

ketidaknyamanan pada saluran pencernaan, oleh karena itu minum air yang

16

banyak atau makanan dalam jumlah yang cukup untuk menghindari ketidaknyamanan pada saluran pencernaan. 4. Hati: jaundice, uji fungsi hati menunjukkan abnormal. Neuromuskular & tulang: nyeri punggung, nyeri. Mata: pandangan kabur, konjungtivitis, nystagmus. Telinga: hiperakusis, tinnitus.

VIII. Analisa Diagnosa Dari data yang diperoleh dari status pasien, dapat diketahui pada pasien ini menderita epilepsi sejak berumur 8 tahun, pemilihan obat karbamazepin sudah sesuai dengan indikasi karena tipe kejang pada epilepsinya adalah tonik klonik dimana karbamazepin memang diindikasikan untuk jenis kejang tonik klonik, sedangkan pemberian asam folat juga sudah sesuai hal ini untuk memberikan asupan asam folat yang telah berkurang akibat pemberian karbamazepin, apalagi pasien adalah seorang wanita yang baru saja menikah, sehingga asupan asam folat untuk janinnya yang akan dikandungnya kelak akan segera terpenuhi.

17

BAB III KESIMPULAN

Peresepan yang diberikan tidak rasional karena resep yang ditulis tidak dicantumkan alamat instansi yang bersangkutan, bentuk sediaan obat, tidak ada waktu pemberian obat, serta tidak juga dicantumkan tanda R/ disetiap resep obat. Pada resep yang diberikan juga tidak terdapat umur, berat penderita, dan alamatnya.

18

Usulan Resep
PROPINSI PEMERINTAH DAERAH TINGKAT I KALIMANTAN SELATAN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN BANJARMASIN Jl. A. Yani km 1,5 Banjarmasin Telp : (0511) 3252180

Nama Dokter : dr. XY, Sp. S UPF/BAGIAN : Poli Syaraf Nama Pasien : Nn. Norkasmah

Tanda Tangan Dokter Kelas I/II/III/Utama Banjarmasin, 21 Januari 2008

Karbamazepin tablet 200mg No. XC (enam puluh) 3 d.d tab. I (o.8.h) Asam Folat tablet 0,5 mg No. LX

2 d.d tab. I (o.12.h)

Umur No RMK Alamat

: 22 tahun : 0-68-71-47 : Jln Kuripan Gg I Rt 13 No 30 Banjarmasin

19

DAFTAR PUSTAKA

1. Lestari, CS. Seni Menulis Resep Teori dan Praktek. PT Pertja. Jakarta, 2001 2. Joenoes, Nanizar Zaman. Ars Prescribendi Penulisan Resep yang Rasional 1. Airlangga University Press. Surabaya, 1995. 3. Departemen Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Informasi obat nasional Indonesia. Jakarta, Departemen Kesehatan, 2000 4. Winotopradjoko, M dkk. Informasi Spesialite Obat Indonesia. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. Akarta, Volume 39, 2004. 5. Hardjasaputra, S.L.P dkk. Data Obat di Indonesia edisi 10. Grafidian Medipress. Jakarta, 2002. 6. Tjay dan Kirana. Obat-Obat Penting. Elex Media Komputindo. Jakarta, 1991. 7. Ganiswarna, S.G (ed). Farmakologi dan Terapi edisi 4. Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta, 1995. 8. Tjay HT, Rahardja K. (2003). Obat-obat penting. Khasiat, penggunaan, dan efek sampingnya. Jakarta: PT Elex Media Computindo, p 391-403.

20