Anda di halaman 1dari 19

13.

Operasi Bedah, Transfusi Darah, Injeksi, Infus, Mengobati Mata, Menghirup Minyak Angin dan Minyak Wangi Batalkah puasa karena operasi bedah, transfusi darah, injeksi, infus, mengobati mata, menghirup minyak angin dan minyak wangi? Pembedahan dalam operasi tidak menjadi sebab batalnya puasa. Yang menjadi sebab pembatalannya adalah pembiusan sebelum operasi itu dilakukan. Pembiusan itu akan mengaki-batkan seseorang kehilangan kesadarannya. Ketidaksadaran itu sama halnya dengan orang yang pingsan atau hilang akal yang menyebabkan batal puasa. Tentang transfusi darah, mengambil atau memasukkan darah dengan alat tertentu, pada zaman Rasul tidak dikenal. Agak sulit untuk menentukan batal-tidaknya puasa akibat tranfusi darah ini. Para fuqaha sepakat bahwa segala tindakan yang akan melemahkan tenaga maka hukumnya makruh bahkan haram jika tindakan itu kemudian akan menyebabkan seseorang tidak mampu lagi melanjut-kan puasanya. Namun jika tindakan itu merupakan suatu langkah darurat untuk menyelamatkan nyawa seseorang, tranfusi darah diperbolehkan. Seperti sudah diketahui secara umum orang yang diambil darahnya biasanya selalu diberi susu atau makanan yang berfungsi untuk menguatkan keadaan tubuhnya yang lemah. Karena itu orang yang memberikan darah dalam keadaan berpuasa sebaiknya membatalkan puasanya, dengan alasan menghindari diri dari kemudharatan. Sebaliknya orang yang menerima transfusi karena sudah pasti dia adalah orang yang sedang sakit parah, bahkan bisa jadi tidak sadarkan diri, maka puasanya batal. Tentang injeksi atau memasukkan cairan obat lewat jarum suntik pada tubuh seseorang, pada zaman Nabi tidak dikenal. Untuk itu, dalam menentukan hukumnya bagi orang yang sedang berpuasa para ahli fiqh mengaitakannya dengan hukum dasar puasa. Salah satu sebab yang membatalkan puasa adalah masuknya makanan atau minuman ke dalam perut atau usus melalui kerongkongan (jalan masuk makanan dan atau minuman). Injeksi tidak berhubungan dengan dengan kerongkongan, sehingga ahli fiqh sepakat bahwa cairan yang masuk ke tubuh itu tidak membatalkan puasa karena tidak bertujuan untuk memasukkan makanan. Persoalan yang mirip dengan injeksi adalah infus. Alat yang digunakan sama yakni jarum. Tapi cairan yang digunakan dalam infus sudah dimaklumi merupakan sari zat makanan. Tentang hal ini para ulama bebeda pendapat. Ada yang menyatakan puasa itu tidak batal 7 karena bagaimana pun masuknya cairan itu tidak melalui kerongkongan yang menjadi sebab batalnya puasa. Pendapat yang lain mengatakan batal karena sekalipun masuknya cairan itu tidak melalui kerongkongan melainkan ke pembuluh darah, tapi dampaknya bisa menguatkan tubuh sebagaimana makanan yang masuk lewat kerongkongan pun pada akhirnya akan masuk ke darah pula. Dr. Yusuf Qardhawi menilai bahwa hukum infus dan injeksi tidak membatalkan puasa. Tapi ulama besar itu menyarankan agar dalam menggunakan fasilitas-fasilitas itu sebaiknya tidak dilakukan pada siang hari bulan Ramadhan, karena bagaimanapun zat-zat yang dimasukkan lewat jarum infus itu akan mempengaruhi kekuatan tubuh. Padahal dengan puasa Allah menghendaki agar manusia merasakan lapar dan dahaganya supaya ia mengetahui kadar nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Tentang pengobatan mata dan telinga dengan memasukkan cairan serta penggunaan celak mata, para ahli fiqh umumnya sependapat karena ia tidak berhubungan sama sekali dengan perut dan kerongkongan maka hukumnya tidak membatalkan puasa. Ulama besar yang memfatwakan hukum ini antara lain Ibnu Taimiyah dan Yusuf Qardhawi. Menghirup bau obat seperti minyak angin untuk penyembuhan, sekalipun masuk ke dalam tubuh melalu rongga kerongkongan dan bisa menyegarkan tubuh tidak membatalkan puasa. Lantaran yang dihirup itu adalah bukan benda yang berwujud. Jadi sama halnya dengan hukum mencium dan menghirup aroma masakan yang tidak membatalkan puasa. Alasannya dalam kehidupan sehari-hari manusia, baik sengaja atau tidak akan selalu mencium berbagai aroma.

dalam perspektif fiqih formal (hukum), di antara yang membatalkan puasa adalah masuknya suatu benda secara sengaja ke dalam rongga badan yang dapat tembus ke "rongga perut". oleh karena itu walau dalam keadaan berpuasa menggunakan obat tetes mata tidak membatalkan puasa karena tidak tembus kerongga perut. tapi kalau tetes mata itu masuk ketenggorokan lalu ditelan sengaja maka membatalkan puada dan sebaliknya jika tidak sengaja maka tidak membatalkan puasa. Demikian juga injeksi (suntik) jelas tidak membatalkan puasa karena disamping alasan darurat pengobatan juga tidak berefek sama dengan makan/minum "mengenyangkan". begitu juga air yang masuk ketelinga tidak membatalkan puasa baik sengaja atau tidak karena telinga tidak tembus langsung ke rongga perut. yang diperselisihkan adalah pemakaian infus (cairan khusus bagi orang sakit untuk memperkuat kondisi fisik), apakah membatalkan puasa atau tidak.dilihat dari segi masuknya cairan ketubuh, mestinya tidak membatalkan puasa karena tidak melalui rongga badan juga rongga perut. namun dilihat dari segi efek infus yang dapat " menyegarkan" tubuh bahkan hampir sama dengan orang yang makan/minum, sehingga menghilangkan salah satu nilai puasa (yakni lapar dan dahaga), sehingga dikiaskan dengan makan/minum, yang membatalkan puasa. mestinya orang sakit tidak perlu berpuasa karena udzur (berhalanga) sakit yang membolehkan tidak puasa. namun bila bersikeras untuk tetap berpuasa, maka puasanya sah asal memenuhi syarat rukunya puasa, sedang pemakaian infus dikategorikan sebagai tindakan darurat yang memenuhi kaidah fiqhiyyah diperbolehkan, yakni: "Adldlaruuraatu tubiichul mahdhuuraat" (keadaan darurat itu dapat menyebabkan dibolehkannya sesuatu yang semula dilarang), dan kaidah lain yang menyatakan: "Al-chaajah tanzilu manzilatadlaruurati" (kebutuhan mendesak itu dapat menduduki posisi darurat). walaupun menurut (1) puasanya orang sakit hukumnya makruh karena takalluf (memaksakan diri diluar kemampuan wajar). Allah SWT berfirman dalam akhir surat al-Baqarah (286) yang bermakna: Allah tidak membebani siapapun di luar kemampuan (wajarnya)... menurut (1) orang yang diinfus itu semestinya adalah orang sakit, sehingga boleh tidak berpuasa (dan cukup men-qadla'). sedang orang yang sehat tentu tidak perlu infus. jika ada orang yang diinfus padahal sehat sekedar ingin mengurangi atau bahkan menghilangkan "penderitaan" puasa, maka walaupun secara fiqih dapat dicakrikan alasan tidak batalnya, namun ketaatan dan kesetiaan orang semacam ini kepada Allah SWT dipertanyakan. akan lain halnya, jika seseorang yang sahur dengan meminum obat penguat stamina atau mengkonsumsi pil antilapar/haus, maka hal itu tidak mengganggu pahala dan sahna puasa karena hukumnya sama dengan makan sahur saja, yang juga dimaksudkan untuk menguatkan fisik disiang hari saat puasa. Rasulullah SAW besabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Muslim dan Ahmad dari Sahl bin Sa'id RA yang maknanya:orang yang berpuasa itu akan selalu dalam kebaikan manakala bersegera untuk berbuka dan mengakhiri sahur. dalam riwayat lain beliau bersabda yang maknanya:makan/minum sahurlah kalian, karena didalam sahur itu penuh berkah. jangan sampai kalian meninggalkan bersahur walau sekedar minum seteguk air, karena sungguh Allah dan para malaikat itu bershalawat kepada orang-orang yang bersahur (HR al-Bukhariy, Musli, Ahmad dari Anas RA).

akan halnya orang yang sakit ringan (flu ringan, misalnya) dan tetap kuat berpuasa, tapi kemudian menggunakan obat hirup (inhaler) karena hidungnya sering buntu sehingga sulit bernafas, hukumnya ada dua kemnungkinan. Pertama, jika masih bisa dihindari penggunaannya, maka sengaja memanakinya membatalkan puasa, dikiaskan dengan orang yang merokok. Jumhur fuqoha (mayoritas ulama ahi fiqih) kompak sependapat, bahwa masuaknya asap rokok kekerongkongan secara sengaja membatalkan puasa. kedua, jika amat terpaksa karena amat sulit bernafas sedang secara fisik masih bisa berpuasa, maka bisa menggunakan obat hirup seperlunya dengan tetap berpuasa, hal ini didasarkan pada kaidah darurat diatas. dapat disimpulkan bahwa orang yang beruasa bolehmemakai obat tetes mata, nboleh diinjeksi, jika sakit boleh diinfus tetapi lebih baik tidak puasa (dan men-qadla'), dan boleh makan sahur disertai obat penahan lapar/haus atau pil penguat stamina, atau cara halal apapun yang dapat memperkuat kondisi fisik waktu puasa, serta boleh menggunaa\kan obat hirup karena darurat. tetapi orang yang sehat walafiat, lalu menggunakan infus untuk stamina, menggunakanobat hirup sekedar penyegar, menurut (1) puasanya batal karena fungsi infus dalam hal ini dikiaskan dengan makan/minum dan fungsi obat hirup dikiaskan dengan merokok. wallaahu a'lam

Asy-Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah dalam beberapa fatwanya mengatakan: Pengobatan yang dilakukan melalui suntik, tidaklah membatalkan puasa, karena obat suntik tidak tergolong makanan atau minuman. Berbeda halnya dengan infus, maka hal itu membatalkan puasa karena dia berfungsi sebagai zat makanan. Begitu pula pengobatan melalui tetes mata atautelinga tidaklah membatalkan puasa kecuali bila dia yakin bahwa obat tersebut mengalir ke kerongkongan. Terdapat perbedaan pendapat apakah mata dan telinga merupakan saluran ke kerongkongan sebagaimana mulut dan hidung, ataukah bukan. Namun wallahu alam yang benar adalah bahwa keduanya bukanlah saluran yang akan mengalirkan obat ke kerongkongan. Maka obat yang diteteskan melalui mata atau telingatidaklah membatalkan puasa. Meskipun bagi yang merasakan masuknya obat ke kerongkongan tidak mengapa baginya untuk mengganti puasanya agar keluar dari perselisihan. (Fatawa Ramadhan, 2/510-511)

Berikut adalah penjelasan mengenai pembatal puasa. 1. Makan dan minum dengan sengaja. Hal ini merupakan pembatal puasa berdasarkan kesepakatan para ulama[1]. Makan dan minum yang dimaksudkan adalah dengan memasukkan apa saja ke dalam tubuh melalui mulut, baik yang dimasukkan adalah sesuatu yang bermanfaat (seperti roti dan makanan lainnya), sesuatu yang membahayakan atau diharamkan (seperti khomr dan rokok[2]), atau sesuatu yang tidak ada nilai manfaat atau bahaya (seperti potongan kayu)[3]. Dalilnya adalah firman Allah Taala,

Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. (QS. Al Baqarah: 187). Jika orang yang berpuasa lupa, keliru, atau dipaksa, puasanya tidaklah batal. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Apabila seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, hendaklah dia tetap menyempurnakan puasanya karena Allah telah memberi dia makan dan minum.[4] Beliau shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda, Sesungguhnya Allah menghilangkan dari umatku dosa karena keliru, lupa, atau dipaksa.[5] Yang juga termasuk makan dan minum adalah injeksi makanan melalui infus. Jika seseorang diinfus dalam keadaan puasa, batallah puasanya karena injeksi semacam ini dihukumi sama dengan makan dan minum.[6] Siapa saja yang batal puasanya karena makan dan minum dengan sengaja, maka ia punya kewajiban mengqodho puasanya, tanpa ada kafaroh. Inilah pendapat mayoritas ulama.[7] 2. Muntah dengan sengaja. Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang dipaksa muntah sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qodho baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qodho.[8] 3. Haidh dan nifas. Apabila seorang wanita mengalami haidh atau nifas di tengah-tengah berpuasa baik di awal atau akhir hari puasa, puasanya batal. Apabila dia tetap berpuasa, puasanya tidaklah sah. Ibnu Taimiyah mengatakan, Keluarnya darah haidh dan nifas membatalkan puasa berdasarkan kesepakatan para ulama.[9] Dari Abu Said Al Khudri, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, . . Bukankah kalau wanita tersebut haidh, dia tidak shalat dan juga tidak menunaikan puasa? Para wanita menjawab, Betul. Lalu beliau shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Itulah kekurangan agama wanita.[10] Jika wanita haidh dan nifas tidak berpuasa, ia harus mengqodho puasanya di hari lainnya. Berdasarkan perkataan Aisyah, Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.[11] Berdasarkan kesepakatan para ulama pula, wanita yang dalam keadaan haidh dan nifas wajib mengqodho puasanya ketika ia suci.[12] 4. Keluarnya mani dengan sengaja. Artinya mani tersebut dikeluarkan dengan sengaja tanpa hubungan jima seperti mengeluarkan mani dengan tangan, dengan cara menggesek-gesek kemaluannya pada perut atau paha, dengan cara disentuh atau dicium. Hal ini menyebabkan puasanya batal dan wajib mengqodho, tanpa menunaikan kafaroh. Inilah pendapat ulama Hanafiyah, Syafiiyah dan Hanabilah. Dalil hal ini adalah sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, (Allah Taala berfirman): ketika berpuasa ia meninggalkan makan, minum dan syahwat karena-Ku[13]. Mengeluarkan mani dengan sengaja termasuk syahwat, sehingga termasuk pembatal puasa sebagaimana makan dan minum.[14]

Jika seseorang mencium istri dan keluar mani, puasanya batal. Namun jika tidak keluar mani, puasanya tidak batal. Adapun jika sekali memandang istri, lalu keluar mani, puasanya tidak batal. Sedangkan jika sampai berulang kali memandangnya lalu keluar mani, maka puasanya batal.[15] Lalu bagaimana jika sekedar membayangkan atau berkhayal (berfantasi) lalu keluar mani? Jawabnya, puasanya tidak batal.[16] Alasannya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Sesungguhnya Allah memaafkan umatku apa yang terbayang dalam hati mereka, selama tidak melakukan atau pun mengungkapnya[17] 5. Berniat membatalkan puasa. Jika seseorang berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa. Jika telah bertekad bulat dengan sengaja untuk membatalkan puasa dan dalam keadaan ingat sedang berpuasa, maka puasanya batal, walaupun ketika itu ia tidak makan dan minum. Karena Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Setiap orang hanyalah mendapatkan apa yang ia niatkan.[18] Ibnu Hazm rahimahullah mengatakan, Barangsiapa berniat membatalkan puasa sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, maka puasanya batal.[19] Ketika puasa batal dalam keadaan seperti ini, maka ia harus mengqodho puasanya di hari lainnya.[20] 6. Jima (bersetubuh) di siang hari. Berjima dengan pasangan di siang hari bulan Ramadhan membatalkan puasa, wajib mengqodho dan menunaikan kafaroh. Namun hal ini berlaku jika memenuhi dua syarat: (1) yang melakukan adalah orang yang dikenai kewajiban untuk berpuasa, dan (2) bukan termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa. Jika seseorang termasuk orang yang mendapat keringanan untuk tidak berpuasa seperti orang yang sakit dan sebenarnya ia berat untuk berpuasa namun tetap nekad berpuasa, lalu ia menyetubuhi istrinya di siang hari, maka ia hanya punya kewajiban qodho dan tidak ada kafaroh.[21] Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, . . . . . . . . . . . .

Suatu hari kami duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, Wahai Rasulullah, celaka aku. Nabi shallallahu alaihi wa sallam berkata, Apa yang terjadi padamu? Pria tadi lantas menjawab, Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa. Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bertanya, Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan? Pria tadi menjawab, Tidak. Lantas Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi, Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut? Pria tadi menjawab, Tidak. Lantas beliau shallallahu alaihi wa sallam bertanya lagi, Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin? Pria tadi juga menjawab, Tidak. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa

sallam berkata,Di mana orang yang bertanya tadi? Pria tersebut lantas menjawab, Ya, aku. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam mengatakan, Ambillah dan bersedakahlah dengannya. Kemudian pria tadi mengatakan, Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. Nabi shallallahu alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu alaihi wa sallam berkata, Berilah makanan tersebut pada keluargamu.[22] Menurut mayoritas ulama, jima (hubungan badan dengan bertemunya dua kemaluan dan tenggelamnya ujung kemaluan di kemaluan atau dubur) bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan (di waktu berpuasa) dengan sengaja dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), mengakibatkan puasanya batal, wajib menunaikan qodho, ditambah dengan menunaikan kafaroh. Terserah ketika itu keluar mani ataukah tidak. Wanita yang diajak hubungan jima oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini. Namun yang nanti jadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan apakah keduanya sama-sama dikenai kafaroh. Pendapat yang tepat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafiiyah dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, bahwa wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadhan tidak punya kewajiban kafaroh, yang menanggung kafaroh adalah si pria. Alasannya, dalam hadits di atas, Nabi shallallahu alaihi wa sallam tidak memerintah wanita yang bersetubuh di siang hari untuk membayar kafaroh sebagaimana suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya wanita memiliki kewajiban kafaroh, maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam tentu akan mewajibkannya dan tidak mendiamkannya. Selain itu, kafaroh adalah hak harta. Oleh karena itu, kafaroh dibebankan pada laki-laki sebagaimana mahar.[23] Kafaroh yang harus dikeluarkan adalah dengan urutan sebagai berikut. a) Membebaskan seorang budak mukmin yang bebas dari cacat. b) Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut. c) Jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin mendapatkan satu mud[24] makanan.[25] Jika orang yang melakukan jima di siang hari bulan Ramadhan tidak mampu melaksanakan kafaroh di atas, kafaroh tersebut tidaklah gugur, namun tetap wajib baginya sampai dia mampu. Hal ini diqiyaskan (dianalogikan) dengan bentuk utang-piutang dan hak-hak yang lain. Demikian keterangan dari An Nawawi rahimahullah.[26] Semoga sajian ini bermanfaat. Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal Artikel www.muslim.or.id Dari artikel 'Pembatal-Pembatal Puasa Muslim.Or.Id'

Pada tulisan yang lalu, dijelaskan terdapat 3 jenis suntikan yang tidak membatalkan puasa. Kali ini kita akan membahas mengenai jenis suntik yang di suntikan ke pembuluh darah yang berisi cairan nutrisi. Suntikan nutrisi yang lebih dikenal dengan infus merupakan larutan steril yang mengandung bahan nutrisi yang dibutuhkan agar pasien tetap hidup, dengan menyuntikkannya melalui selang yang disambung dengan jarum, kemudian disuntikkan di pembuluh darah pada pasien.

Untuk lebih mengetahui pentingnya air bagi tubuh, perlu diketahui sesungguhnya tubuh terdiri 70% cairan dari total berat badan. Tubuh akan kehilangan air dan garam ketika muntah, diare, sering buang air kecil, saat cuaca yang sangat panas seperti yang terjadi ketika haji, atau saat demam. Ketika dehidrasi atau sebelum operasi -baik menggunakan bius total maupun lokal- pasien dilarang makan beberapa saat namun ia membutuhkan garam, maka kebutuhan ini diberikan secara infus. Infus mengandung cairan steril dengan sedikit natrium klorida (garam), dekstrosa (gula) yang disimpan dalam paket kaca atau kantong plastik yang dapat digantung di tempat tidur pasien. Larutan gula dan garam dapat mencukupi cairan dan kalori yang dibutuhkan orang sakit untuk jangka waktu yang pendek. Setiap 50mg gula setara dengan 200kalori. Suntikan nutrisi membatalkan puasa sekalipun ia tidak masuk melalui kerongkongan namun ia berfungsi seperti makanan dan minuman. Hal ini sangat jelas karena suntikan nutrisi diberikan pada pasien yang tidak mampu untuk memakan makanan, atau yang tidak diizinkan untuk memakan makanan karena sakitnya, atau karena membahayakan penyakitnya, agar dapat bertahan hidup melalui penyuntikan nutrisi untuk waktu yang lama walaupun hanya sedikit yang dimasukkan. Apabila para ulama fiqih menghukumi batalnya puasa dengan memakan batu atau kerikil padahal ia bukanlah nutrisi dan tidak bermanfaat bagi tubuh, maka hukum dengan batalnya puasa disebabkan infus ini lebih utama, karana peranannya yang sangat jelas sekalipun berbuka dengan suntikan ini tidak sama secara sepenuhnya dengan memakan melalui mulut yang bisa merasakan lezat dan kenyang dan terisinya lambung akan tetapi ia hampir mencukupinya sehingga tidak butuh makan. Menyuntikkan nutrisi berbeda dengan menyuntikkan obat pada tubuh, karena menyuntikkan obat sekalipun tubuh mengambil manfaat darinya namun sangat sedikit untuk nutrisi. Tidak mungkin dikatakan bahwa orang yang sakit dapat hidup dengan suntikan tersebut tanpa makan. Adapun suntikan nutrisi dia menghilangkan hikmah dari puasa, karena ia memberikan nutrisi pada tubuh dan melapangkan aliran darah dalam pembuluh darah. Dan diketahui bahwa disyariatkannya puasa untuk menyempitkan aliran darah yang merupakan tempat jalannya syetan. Telah disahkan dalam keputusan Majma Al Fiqh Al Islami (divisi OKI) dalam rapat ke -sepuluh no.93 menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : (8. Menyuntikkan obat di kulit atau otot atau pembuluh darah, yang bukan cairan nutrisi.) Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Jumlah manusia yang membutuhkan oksigen tambahan setiap harinya selalu bertambah, seperti : pasien paru-paru, bronchitis kronis, kanker paru-paru, pasien gagal jantung.

Ada tiga jenis oksigen tambahan yang digunakan untuk pengobatan, antara lain oksigen tabung, oksigen cair yang apabila disemprotkan kembali ke wujud aslinya yang berupa gas, dan oksigen dari udara langsung. Tidak ada permasalahan tentang batalnya puasa menggunakan oksigen dari tabung dan udara bebas, karena keduanya berupa gas. Hanya saja sebagian ulama mempermasalahkan hukum menggunakan oksigen cair. Tetapi sesungguhnya oksigen cair apabila dilepaskan dari tempatnya, akan kembali ke bentuk aslinya yaitu berupa gas. Maka penggunaan oksigen cair tidak membatalkan puasa karena ia murni gas yang masuk ke saluran pernafasan, dan lambung tidak menyerap cairannya sedikitpun. Tidak seorangpun mengatakan bernafas atau menghirup udara, dapat membatalkan puasa. Majma Al Fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapat tahunan ke X no.93 memutuskan dalam menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : ( 9. Gas oksigen ). Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Para ulama sepakat bahwa orang berpuasa apabila memasukkan cairan obat, atau yang semisalnya selama tidak melampai hidung, tidak membatalkan puasa dan tidak wajib mengganti puasanya. Ini dianalogikan dengan menghirup air ketika berwudu saat puasa. Tetapi ulama berselisih pendapat, apabila obat yang dimasukkan hingga melampai hidung, sehingga masuk ke tenggorokan bahkan ke kerongkongan. Apakah hal itu membatalkan puasa, sehingga wajib mengganti puasanya atau tidak?. Pendapat pertama : membatalkan puasa. Berdalil dengan hadist Laqith bin Shabrah bahwa ia berkata, Ya Rasulullah beritahukan padaku tentang wudhu!. Beliau bersabda Berlebih-lebihanlah ketika berwudhu. Dan berlebih-lebihanlah menghirup air, kecuali engkau sedang berpuasa. Mereka mengatakan, bahwa ini menunjukkan bahwa hidung akses menuju lambung. Oleh karena itu menggunakan obat tetes hidung dilarang oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Nabi Salallahu alaihi wasallam- melarang berlebih-lebihan menghirup air, termasuk larangan untuk memasukkan sesuatu melalui hidung, walaupun sedikit, karena air yang masuk ke tenggorokan melalui hidung sangat sedikit ketika berlebih-lebihan menghirup air.

Syeikh Ibnu Utsaimin- Rahimahullah- berkata : Adapun obat tetes hidung apabila sampai ke lambung maka membatalkan puasa, adapun apabila tidak sampai ke lambung maka tidak membatalkan puasa. Pendapat kedua : tidak membatalkan puasa. Mereka berpendapat bahwa tetes hidung bukan makan dan minum dan tidak semakna dengan keduanya. Pada dasarnya puasa adalah sah, batalnya puasa dengan tetes hidung masih diragukan. Dan sesuatu yang yakin tidak bisa dihilangkan dengan yang ragu. Juga satu tetes adalah jumlah yang sangat sedikit, apabila melewati hidung, tidak akan masuk ke lambung, kecuali hanya sangat sedikit, sehingga di maafkan, sama seperti air yang tersisa di mulut ketika berkumur-kumur. Majma Al fiqhi Al Islami ( divisi fiqih OKI ) dalam rapatnya yang ke X no.93 menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa : ( tetes hidung, inhaler hidung, apabila berhati-hati agar tidak tertelan ). Kedua pendapat ini sama kuatnya, tetes hidung dianggap tidak membatalkan puasa karena sangat sedikit yang masuk ke lambung. Akan tetapi, tetes hidung apabila dipastikan masuk ke tenggorokan maka menggunakannya membatalkan puasa, karena sengaja memasukkan sesuatu ke saluran pencernaan. Adapun apabila masih diragukan masuknya ke tenggorokan maka tidak membatalkan puasa, sekalipun dirasakan di kerongkongan, Sebagaimana perkataan ulama mazhab Hanbali tentang orang yang berlebihlebihan menghirup air ketika berwudhu maka masuk ke kerongkongannya tanpa sengaja. Yang lebih afdhol bagi orang berpuasa menghindari segala yang dapat merusak puasanya, dan menjaga puasanya. Apabila terpaksa menggunakan obat tetes hidung karena sakit yang parah, atau menjadi lambat sembuhnya, atau jika tidak diobati akan bertambah parah, maka tidak mengapa menggunakannya akan tetapi jika masuk sesuatu ke tenggorokan maka sebaiknya mengganti puasa untuk kehati-hatian dalam ibadah, dan untuk keluar dari perselisihan ulama, tetapi mengganti puasa ini tidak wajib. Allahu alam. Kita memohon pada Allah untuk agar diberikan pemahaman masalah agama dan diberi taufik untuk beramal shalih. Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Di dalam kulit terdapat pembuluh-pembuluh darah yang akan menyerap sesuatu yang diletakkan di atas kuli, melalui pembuluh kapiler, penyerapan ini berjalan sangat lambat. Sebagian obat dapat sampai keseluruh tubuh melalui obat yang ditempelkan diatas kulit. Melalui penempelan obat tersebut, kemudian masuk ke dalam kulit secara pelan-pelan dan terus menerus dalam

beberapa jam, hari, bahkan lebih. Hal tersebut bertujuan agar jumlah obat tersebut senantiasa tetap di dalam darah. Obat yang ditempel sangat bermanfaat untuk memasukkan obat yang diserap tubuh dengan cepat. Karena obat jenis ini apabila digunakan dengan cara lain, haruslah digunakan terus menerus. Oleh

karena itu, obat-obat yang mungkin pemberiannya melalui penempelan, hanya obat yang berdosis kecil setiap harinya, seperti nitrogliserin patch untuk penderita angina, nikotin yang di tempelkan untuk membantu berhenti dari merokok, dll. Para ulama dahulu telah sepakat sesungguhnya sesuatu yang diletakkan di atas kulit seperti krim, balsem, inai atau yang lainya di siang bulan Ramadhan tidak membatalkan puasa, berdasarkan alasan-alasan berikut ini : 1. Sesungguhnya boleh bagi orang yang berpuasa mandi, padahal tubuhnya bersentuhan dengan air, melembabkannya serta masuk ke pori-pori kulit. Oleh karena itu boleh juga menggunakan yang semisalnya seperti minyak dan lain-lain. 2. Mengoleskan minyak di badan merupakan kebutuhan kebanyakan orang, seandainya membatalkan puasa tentulah Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskannya. Terlebih lagi badan dapat menyerap minyak, maka tatkala Beliau tidak menjelaskan, menunjukkan bahwa itu adalah boleh. 3. Sesungguhnya krim, balsem, yang dioleskan di atas kulit untuk pengobatan lambung. Dari alasan-alasan di atas maka minyak oles, balsem, obat yang ditempel pada permukaan kulit tidak membatalkan puasa. Majma Al Fiqhi Al Islami ( divisi OKI ) memutuskan dalam rapat tahunan ke X no. 93 dalam menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa: ( 11. Sesuatu yang masuk ke tubuh yang dihisap oleh kulit seperti minyak oles, salep, obat-obat yang ditempel di kulit). Hukum tersebut juga berlaku untuk krim, pelembab kulit, perawatan wajah modern, pemutih wajah, lipstick, blush on, maka ini semua tidak membatalkan puasa. Akan tetapi bagi wanita yang sedang berpuasa, hendaknya menjaga lipstick tidak masuk ke tenggorokan melalui mulut ketika berbicara. Dan ketika melembabkan bibir dengan lidah, karena lipstick apabila bercampur dengan air ludah dan sengaja menelannya ke tenggorokan dapat membatalkan puasa. Bedak untuk mewangikan badan juga tidak membatalkan puasa dengan syarat yang menggunakannya berhati-hati agar tidak tertelan ke kerongkongan. Apabila masuk ke kerongkongan dengan sengaja maka puasanya batal, jika tidak sengaja maka tidak batal. tidak dapat masuk ke

Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Ada beberapa jenis suntikan yang dikenal saat ini: 1. 2. 3. Suntikan di kulit, contohnya suntik insulin untuk penderita diabete. Suntikan di otot, contohnya suntik vaksin, bius, penurun panas, suntikan alergi yang berfungsi untuk menambah daya tahan tubuh pasien terhadap bibit alergi. Suntikan di pembuluh darah, merupakan suntik yang paling banyak dilakukan. Pembuluh darah merupakan jalur yang paling baik untuk memasukkan dosis yang ditentukan, seperti nutrisi atau obat-obatan, dan merupakan cara yang efektif dan cepat untuk menyebarkannya ke seluruh tubuh.

Suntikan di pembuluh darah ada dua jenis : 1. Suntikan nutrisi, ini akan kita bahas pada tulisan bagian kedua, insyallah. 2. Suntikan obat yang bukan sebagai nutrisi, contoh suntikan di pembuluh darah yang sebagai obat, pewarna khusus yang disuntikkan pada pasien yang ingin melakukan sinar-x dan MRI. Adapun tentang pengaruh ketiga jenis suntikan di atas terhadap puasa maka sesungguhnya suntikan tersebut bukanlah nutrisi, maka tidak membatalkan puasa, karena itu bukanlah makanan dan minuman juga tidak yang semakna dengan keduanya dan juga tidak masuk melalui saluran makanan. Pada dasarnya sah puasa hingga dipastikan ada yang membatalkannya sesuai dalil syari. Penyuntikan obat walaupun kadang dicampur dengan larutan garam dalam jumlah yang cukup besar ia tidak membatalkan puasa, karena tidak masuk ke tubuh melalui kerongkongan dan tidak sebagai makanan dan minuman. Dan larutan garam saja tidak cukup untuk memberikan kehidupan bagi pasien dalam waktu yang lama. Pada dasarnya sah puasa hingga ada dalil yang menjelaskan batalnya. Adapun menyuntikkan glukogen juga tidak membatalkan puasa. Sesungguhnya untuk meningkatkan jumlah glukosa di darah bukanlah dengan masukkan ke tubuh makanan yang berubah menjadi gula, tetapi dengan merangsang tubuh untuk melakukan proses menghasilkan gula akibat pengaruh suntik glukogen tersebut. Telah di sahkan dalam pada keputusan Majma Al Fiqih Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan yang ke sepuluh no.93 yang menyebutkan hal-hal yang tidak membatalkan puasa: (8. Menyuntikkan obat di kulit atau otot atau pembuluh darah, yang bukan cairan dan nutrisi.) Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Berikut ini kami hadirkan kesimpulan lengkap keputusan Majma Al fiqih Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan ke X no.93 mengenai hal-hal yang tidak membatalkan puasa, antara lain:

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17.

Tetes mata, tetes telinga, cuci telinga, tetes hidung, semprot hidung, apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak masuk ke tenggorokan. Memakai obat yang diletakkan di bawah lidah untuk pengobatan dan lainnya apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak masuk ke kerongkongan. Sesuatu yang dimasukkan ke vagina seperti supositoria, pencuci vagina atau endoskopi vagina atau jari untuk pemeriksaan kedokteran. Memasukkan kamera atau spiral dan sejenisnya ke rahim. Sesuatu yang dimasukkan ke uretra yaitu jalan kencing bagian luar pada laki-laki dan perempuan berupa kateter atau kamera atau bahan pewarna untuk penyinaran, obat atau larutan untuk mencuci kandung kemih. Membor, mencabut, atau membersihkan gigi, bersiwak, dan menggunakan sikat gigi, apabila berhati-hati dan tidak tertelan ke kerongkongan. Berkumur-kumur, semprot obat di mulut apabila dilakukan dengan hati-hati, dan tidak tertelan ke kerongkongan. Suntik obat di kulit, otot, atau pembuluh darah yang cairannya tidak mengandung nutrisi. Gas oksigen. Gas bius selama pasien tidak diberikan cairan nutrisi. Sesuatu yang masuk ke tubuh melalui penyerapan dari kulit seperti minyak, salep, obat tempel kulit yang mengandung bahan obat kimia. Memasukkan kateter pada arteri untuk menampilkan gambar, pengobatan pembuluh darah jantung, atau yang lainnya di anggota tubuh. Memasukkan kamera melalui dinding perut untuk pemeriksaan bagian dalam perut atau melakukan operasi. Mengambil sebagian dari hati atau lainya dari anggota selama tidak menggunakan pemberian infus. Endoskopi lambung apabila tidak disertai memasukkan cairan (infus) atau bahan lainnya. Memasukkan alat atau bahan obat ke otak, atau sumsum tulang belakang. Muntah yang tidak disengaja, bukan dengan sengaja.

Ulama kontemporer berselisih pendapat tentang hukum puasa dua orang yang melakukan trasnfusi darah. Maka mayoritas ulama mengatakan bahwa transfusi darah membatalkan puasa orang yang mendapat transfer darah, ini adalah perkataan Syeikh Abdul Aziz Ibnu Baaz Rahimahullah dan Syeikh Muhammad Ibnu Saleh Al Utsaimin -Rahimahumullah pada perkataan yang pertama dan ia rujuk darinya. Dalam kitab Majalis Syahrur Ramadhan majelis ke-14, Syeikh Muhammad Ibnu Saleh Al Utsaimin berkata Memberikan darah kepada orang yang puasa, seperti orang yang terkena pendarahan maka disuntikkan padanya darah maka puasanya batal karena sesungguhnya darah tujuan nutrisi dari makanan dan minuman, dan itu didapati dengan menyuntikkan darah padanya. Namun kemudian ia berkata di catatan kaki di bukunya Ini adalah pendapatku dahulu kemudian jelaslah bagiku se sungguhnya menyuntikkan darah tidak membatalkan puasa karna ia tidak makan dan minum dan tidak pula semakna denganya, pada dasarnya sah puasa sehingga jelas batalnya dan diantara faedah-faedah (sesuatu yang yakin tidak dapat dihilangkan dengan ragu). Pendapat yang Syeikh Ibnu Utsaimin rujuk darinya yaitu tidak batalnya puasa dengan transfusi darah adalah kesepakatan peserta seminar fiqih kedokteran yang ke-9 (divisi fiqih OKI di bidang kedokteran) di Kuwait tahun 1997. Mereka memutuskan tidak batal puasa disebabkan transfusi darah karena hukum asal ibadah seseorang muslim sah hingga ada dalil yang kuat yang menyatakannya batal.

Sesungguhnya jika hanya darah saja yang disuntikkan kepada orang sakit ia tetap tidak dapat hidup tanpa makan dan minum. Sedangkan jika disuntikkan nutrisi maka ia dapat hidup untuk masa yang lama tanpa makan dan minum. Oleh karena itu tidak dapat kita katakan bahwa darah yang disuntikkan sama seperti makan dan minum. Transfusi darah bukan disebabkan oleh kebutuhan tubuh akan nutrisi atau air, karena kebutuhan tersebut dapat digantikan dengan menyuntikkan nutrisi secara langsung. Transfusi darah dibutuhkan untuk menggantikan sesuatu yang penting yang kurang pada tubuh seperti sel darah merah yang berfungsi untuk membawa oksigen dari paru-paru ke sel-sel, atau trombosit yang dibutuhkan saat pendarahan, atau plasma yang penting untuk menjaga tekanan darah dan sebagai anti bodi. Pada keadaan di atas tidak mesti dilakukan transfusi darah dengan seluruh kandungan darah, cukup dilakukan transfusi pada komponen yang dibutuhkan saja, oleh karena itu terkadang transfusi dilakukan hanya dengan sel darah merah saja atau trombosit saja. Air walaupun bagian pembentuk yang paling besar di darah (sekitar 95% di plasma, di dalam darah sekitar 55%) sesungguhya peranannya sebagai perantara untuk membawa seluruh kandungan darah dan bukan sebagai nutrisi untuk sel-sel tubuh. Darah sekalipun ia merupakan tonggak kehidupan akan tetapi ia bukan makanan dan minuman, nutrisi dan air tidak berubah menjadi darah di dalam lambung atau hati seperti keyakinan orang-orang dahulu tetapi ia terbentuk pada tempatnya yaitu sumsum tulang belakang. Ia tidak dapat memberikan nutrisi pada tubuh tapi tugasnya hanya membawa serta mensuplai oksigen dan air dan bahan-bahan nutrisi yang diserap usus halus ke seluruh jaringan tubuh, penyerapan nutrisi terjadi di usus halus sedangkan darah hanya sebagai kurir pembawa, fungsi darah ketika disuntikkan pada tubuh sama seperti fungsi menyuntikkan obat pada otot dan lainnya. Maka pendapat yang mendekati kebenaran, wallahualam, bahwa transfusi darah tidak membatalkan puasa pelakunya, tetapi tidak diragukan lagi ia merupakan masalah yang pelik, dan Majma Al Fiqih Al Islami tatkala mempelajari tema pembatal-pembatal puasa pada rapat tahunan yang ke-10 menangguhkan memutuskan hukum masalah ini karena membutuhkan pembahasan dan pembelajaran yang lebih lanjut terhadap pengaruhnya pada puasa. Untuk kehati-hatian maka bagi orang yang disuntikkan padanya darah bukan untuk orang yang membutuhkan tranfusi darah berulang ulang- mengganti puasa pada hari itu lebih utama sebagai jalan keluar dari perselisihan para ulama, terlebih lagi kebanyakan orang yang melakukan transfusi darah boleh membatalkan puasa disebabkan sakit. Allahualam.

Donor Darah Di sebagian daerah masih banyak orang yang meninggal disebabkan kekurangan pasokan darah di rumah sakit sehingga darah diambil dari orang yang mendonorkan kemudian didistribusikan sesuai kandungannya di dalam paket yang disimpan di bank darah. Setelah transfusi darah, orang yang mendonaturkan darah akan merasa gemetar maka dianjurkan meminum cairan yang banyak dan memakan makanan yang bergizi selama 24 jam ke depan, dan menghindari berolahraga yang berat atau mengangkat sesuatu yang berat selama 24 jam, selain kedua hal tersebut, ia dapat melakukan aktifitas sebagaimana biasa. Oleh karena itu donor darah merupakan pekerjaan yang berat bagi donatur disebabkan banyak darah yang diambil darinya bahkan melebihi jumlah darah yang dikeluarkan ketika berbekam. Karenanya ia dihukumi seperti berbekam, dan jumhur fuqaha mengatakan bahwa bekam tidak membatalkan puasa, maka donor darah juga tidak membatalkan puasa, Akan tetapi lebih baik menghindari donor darah ketika berpuasa, karena keluarnya darah dari orang yang berpuasa mengakibatkan badan lemah, sehingga membutuhkan makan dan minum untuk menguatkan badan. Namun jika terdapat kebutuhan darurat tidak mengapa mendonorkan darah, bahkan menjadi wajib pada sebagian keadaan, dan tidak membatalkan puasa. Dan apabila ia lemah setelah donor darah dan membutuhkan makan dan minum maka tidak mengapa ia berbuka karena ia dihukumi seperti orang sakit.

Pengambilan Sampel Darah Mengambil sampel darah untuk dianalisis merupakan proses yang sederhana yang dilakukan pada pasien untuk mengetahui sebagian penyakit. Jumlah darah yang dikeluarkan dari pasien antara 5-25 ml atau sesuai jenis pemeriksaan yang diminta. Mengambil darah untuk dianalisis tidak menyerupai bekam karena jumlah darah yang dikeluarkan sedikit, tidak mempengaruhi tubuh, dan tidak menjadikan badan pasien lemah, tetapi ia menyerupai pendarahan akibat luka kecil, dan yang demikian tidak termasuk membatalkan puasa secara syariat. Oleh karena itu tidak seorangpun dari ulama fiqih yang mengatakan bahwa mengeluarkan darah untuk dianalisis membatalkan puasa, walaupun ulama tersebut mengatakan berbekam membatalkan puasa. Allahu alam Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Ulama fiqih sepakat mengeluarkan darah secara tidak sengaja tidak membatalkan puasa, sebagaimana darah keluar dari hidung yang dinamakan dengan epistaksis (mimisan), atau keluar di sela-sela giginya atau menggaruk kulitnya karena terpaksa hingga mengeluarkan darah, atau keluarnya darah penyakit (istihadoh) pada perempuan. Hal tersebut karena alasan berikut ini: 1. Tidak segaja dan ia tidak dapat mencegah darah keluar 2. Mewajibkan mengganti puasa pada orang yang keluar darah akibat luka atau bisul, mimisan, gusi berdarah saat bersiwak merupakan hal yang memberatkan. Syariat datang berlandaskan toleransi dan kemudahan, Allah berfirman: bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Al Baqarah : 185) Dan dia sekali kali tidak menjadikan utuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Al Hajj : 78) Allah tidak membebani seseorang melainkan seseuai dengan kesanggupannya . (Al Baqarah : 286). Adapun mengeluarkan darah dari tubuh dengan secara sengaja seperti berbekam, hukumnya masih diperselisihkan. Disebutkan dalam sahih Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Salallahualaihi wasallam berbekam dan memberikan upah pada orang yang membekam. Nabi salallahu alaihi wassallam ia berkata : Sebaik-baik kalian untuk berobat adalah berbekam. Bekam ada dua jenis, 1. Bekam kering yaitu meletakkan gelas pada tempat yang tertentu sesuai jenis penyakitnya, kemudian menyedot udara melalui selang (adakalanya melalui mulut atau dengan menggunakan alat penyedot atau dengan kertas yang dibakar) sehingga kosonglah udara di dalam gelas, dengan hal tersebut tersedotlah bagian permukaan kulit yang di dalam gelas dan dibiarkan gelas tersebut selama 3-5 menit, kemudian dicabut gelas ketika didapati daerah merah pada permukaan kulit pada area mulut gelas. Allah menghendaki kemudahan

Bekam kering tidak mempengaruhi puasa karena tidak ada darah yang dikeluarkan, hanya saja tujuannya membuat darah berkumpul yang membantu menghilangkan sebagian penyakit dengan izin Allah Taala. 2. Bekam basah yaitu bekam yang sudah dikenal sejak dahulu dengan menancapkan gelas di daerah yang diinginkan dengan cara mengosongkan udara di dalam gelas tersebut. Maka meluaslah permukaan yang di dalam gelas tersebut, juga tertarik darah dan terus berkumpul di daerah ini. Kemudian gelas dilepaskan dan dilakukan penyayatan di permukaan kulit tersebut dengan mata pisau yang steril. Lalu ditancapkan gelas tersebut sekali lagi, maka gelas tersebut menyedot darah yang rusak. Hal ini dilakukan berulangulang hingga dianggap cukup. Diperkirakan jumlah darah kotor yang keluar pada proses pembekaman dalam satu kali kira-kira 100150gram, jumlah ini lebih sedikit dari pada jumlah yang diambil ketika donor darah. Pada donor, darah yang diambil sejumlah450gram.

Ulama dahulu berselisih pendapat tentang hukum bekam, mayoritas fuqoha mazhab Hanafi, Maliki, dan Syafii berpendapat bahwa bekam tidak membatalkan puasa. Mereka berdalil dengan hadits yang diriwayatkan imam Bukhari dari Ibnu Abbas bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam melakukan bekam ketika sedang ihram dan ketika puasa. Juga hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari, dari Anas bin Malik ia ditanyakan orang : Apakah kalian dahulu memakruhkan bekam? ia menjawab: Tidak, kecuali menyebabkan lemah, dan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Said Al Khudri, ia berkata:Rasulullah SAW memberikan keringanan bagi orang yang berpuasa untuk berbekam. Ulama mazhab Hanbali berpendapat berbekam membatalkan puasa, mereka berdalilkan dengan hadits Syaddat bin Aus, ia berkata Adalah kami dahulu bersama Rasulallahualaihi wasallam waktu pembebasan kota Mekah, maka beliau melihat seorang yang sedang berbekam pada hari ke-19 di bulan Ramadhan maka ia berkata sambil menarik tanganku: Batallah puasa orang yang membekam dan dibekam. Mayoritas fuqaha menjawab hadis yang menjadi dalil ulama mazhab Hanbali bahwa hadits tersebut hukummya dihapuskan (mansukh) oleh hadits ibnu Abbas yang menyatakan bahwa Nabi SAW melakukan bekam saat ia sedang berpuasa. Hadits ibnu Abbas terjadi dua tahun setelah hadis Syaddat bin Aus, yaitu saat Haji Wada. Dan mengambil hukum dari hadis yang terakhir lebih utama. Dalil bahwa ada penghapusan hukum terhadap hadis Abu Said Al Khudri bahwasanya keringanan datang setelah kewajiban, sehingga hadits Abu Said Al Khudri ini menghapuskan hukum hadis Syaddat bin Aus. Maka pendapat yang terkuat yaitu pendapat jumhur fuqaha bahwa berbekam tida k membatalkan puasa, tetapi lebih baik bagi orang berpuasa menghindarinya. Imam Syafii berkata jika salah seorang berpuasa dan menghindari berbekam itu lebih baik menurutku dan lebih berhati-hati sehingga tidak menjadikannya lemah berpuasa sehingga ia membatalkan puasanya. Akan tetapi apabila sangat membutuhkan berbekam bagi orang yang berpuasa disebabkan untuk pengobatan dan tidak mungkin menundanya maka tidak mengapa untuk berbekam dan tidak membatalkan puasa, dan jika ia lemah setelah berbekam sehingga butuh untuk membatalkan puasa maka tidaklah mengapa karena dia dihukumi seperti orang yang sakit. Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fihs Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Anastesi suatu cara kedokteran untuk menghilangkan rasa sakit yang bersifat sementara. Sebagian operasi hanya membutuhkan anastesi lokal pada tempat pembedahan, sedangkan operasi lainnya mengharuskan pasien hilang kesadaran total. Pada umumnya bius total disertai pemberian larutan nutrisi (infus) agar pasien terhindar dari dehidrasi. Apabila ini terjadi maka sepakat para ulama bahwa puasanya batal karena adanya pemberian nutrisi ini dan bukan akibat pemberian anestesi.

Majmaa Al Fiqh Al Islami (divisi OKI) dalam rapat tahunan ke X no.93 dalam keputusan mengenai hal -hal yang tidak membatalkan puasa(no.10) gas anastesi (obat bius) selama pasien tidak diberikan larutan nutrisi (infus). Adapun anastesi tanpa larutan nutrisi maka inilah permasalahan yang akan kita bahas: I. Anastesi lokal ada berbagai jenis, di antaranya: 1. Totok (anastesi Cina), yaitu menusukkan jarum kering pada pusat indra perasa di bawah kulit, yang menyebabkan beberapa kelenjar mengeluarkan zat bius alami yang dikandung oleh tubuh yang menyebabkan hilangnya kemampuan merasakan. Jenis ini tidak membatalkan puasa karena tidak memasukkan sesuatu ke kerongkongan, dan hanya terjadi interaksi fisik oleh hasil pembiusan tersebut; 2. Anastesi dengan injeksi, yaitu menyuntikkan bius di bawah kulit yang meghasilkan pembiusan pada tempat tertentu. Jenis ini tidak membatalkan puasa, karena tidak memasukkan bahan apapun ke dalam kerongkongan. 3. Anastesi inhalasi, yaitu anastesi dengan cara pasien menghirup bahan gas yang menyebabkan terjadinya pembiusan. Jenis ini tidak membatalkan puasa karena bahan berbentuk gas yang tidak terasa dan tidak mengandung bahan nutrisi. Oleh karena itu seluruh jenis pembiusan lokal tidak membatalkan puasa. II. Pembiusan total yaitu pembiusaan yang menghilangkan kesadaran dan indera perasa di seluruh tubuh sehingga ia seperti keadaan tertidur nyenyak. Tahapan anastesi umum seperti berikut:

Menghirup gas seperti eter atau semisalnya, maka darah yang mengalir di paru-paru membawa obat bius ke dalam sel-sel darah pusat. Pemberian suntikan di pembuluh darah yang mengandung bahan zat obat hipnotik yang bekerja merelaksasikan otot-otot secara penuh. Memasukkan selang khusus langsung ke dalam trakea melalui hidung atau mulut, selang ini terhubung ke sistem pernafasan untuk pemberian gas yang menyebabkan hilangnya kesadaran penuh pada pasien.

Anastesi umum dengan gas bius atau cairan bius bukanlah makanan atau minuman maka tidak membatalkan puasa karena pemberiannya melalui pembuluh darah atau melalui sistem pernafasan dan bukan melalui kerongkongan. Adapun hilang kesadaran disebabkan anastesi dianalogikan dengan pingsan bahwa keduanya sama-sama kehilangan rasa dan kesadaran.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai status puasa orang yang tidak sadar :

1. Mazhab Hanafi mengatakan puasanya sah, cukup berniat di malam hari sekalipun orang yang pingsan tidak sadarkan diri sepanjang hari, 2. Mazhab Syafii dan Hanbali mengatakan puasanya sah jika ia sempat sadar di siang hari serta berniat di malam hari. 3. Mazhab Maliki mengatakan puasanya sah jika ia sadar lebih dari setengah hari.
Mayoritas ahli fiqih berpendapat bahwa pingsannya orang berniat di malam hari untuk berpuasa tidak membatalkan puasa apabila orang tersebut sempat sadar di siang hari, namun jika pingsannya sepanjang hari maka tidak sah puasanya. Dan kebanyakan pasien anastesi menjadi sadar di siang hari sehingga puasanya sah. Mayoritas peserta seminar fiqih kedokteran yang ke-9 (divisi OKI bidang kedokteran) di Kuwait tahun 1998 berpendapat bahwa operasi dengan pembiusan total tidak membatalkan puasa apabila pasien telah berniat puasa di malam hari. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa pasien terkadang muntah setelah anastesi dan ini tidak membatalkan puasanya. Karena yang membatalkan puasa adalah muntah yang disengaj, sesuai dengan hadis Barang siapa yang muntah tidak disengaja maka tidak wajib mengqodho, dan siapa yang muntah dengan sengaja maka wajib menqodho. Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fish Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)

Di antara penyakit yang banyak diderita oleh manusia adalah asma. Sebagian pasien penyakit asma menggunakan obat semprot(inhaler spray seperti Ventolin) melalui mulut yang berisi cairan yang mengandung air, bahan-bahan obat serta oksigen. Cara penggunaannya dengan menyemprotkan obat pada mulut, serta menghirup dalam-dalam hingga melewati kerongkongan dan sampai pada bronkus yang terdapat pada paru-paru. Tetapi seringkali meninggalkan bekas di kerongkongan dan terkadang dalam jumlah banyak. . Ahli fiqih kontemporer berselisih menjadi dua pendapat tentang hukum penggunaan inhaler ini, apakah membatalkan puasa sehingga wajib mengganti puasa atau tidak ? Pendapat pertama : penggunaan inhaler membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa, karena inhaler mengandung air. Dan sebagian dokter telah memastikan sampainya campuran tersebut masuk ke lambung. Sesuatu yang sudah di pastikan masuk ke lambung dapat membatalkan puasa dan wajib mengganti puasa tersebut. Pendapat kedua : penggunaan inhaler melalui mulut tidak membatalkan puasa dan tidak wajib mengganti puasa, karena inhaler digunakan pasien dengan cara menghirupnya hingga sampai ke paru-paru melalui

trakea, bukan melalui lambung. Sehingga tidak termasuk makan dan minum dan tidak semakna dengan keduanya. Pendapat kedua lebih kuat, karena obat semprot masuk ke paru-paru, dan masuknya ke paru-paru tidak membatalkan puasa. Adapun perkataan pendapat pertama bahwa obat semprot mengandung air, dan ia masuk melalui tempat yang biasa di gunakan untuk makan dan minum yaitu mulut, maka tidak aman dari masuknya sesuatu ke lambung, maka jawabannya ada beberapa cara : 1. Bahwa zat yang disemprotkan dari spray (inhaler) belum dapat dipastikan (masih diragukan) apakah zat tersebut sampai atau tidak ke lambung. Sedangkan pada dasarnya puasanya adalah sah. Dan sesuatu yang pasti tidak dapat dihilangkan dengan sesuatu yang meragukan. Sepakat ulama bahwa orang yang berpuasa boleh berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung. Berkumurkumur akan meninggalkan bekas air yang jika menelan ludah akan ikut terbawa ke lambung. Sedangkan masuknya obat ini ke kerongkongan sangatlah sedikit sehingga dapat dianalogikan dengan berkumur-kumur, bahkan dengan jumlah lebih sedikit.Kemasan inhaler ini berisi 10 ml dan digunakan untuk 200 kali semprot. Maka satu kali semprot hanya seperduapuluh-nya, serta kandungan airnya sangat sedikit sehingga sulit untuk menghindarinya. Dan air tersebut bukanlah untuk diminum, maka ini masuk dalam kaidah : hukum sesuatu yang statusnya adalah sebagai pengikut berbeda dengan hukum sesuatu yang terpisah. Para dokter mengatakan bahwa siwak (yang berasal dari kayu arak -ed.) mengandung 8 bahan kimiawi, tetapi ia dibolehkan bagi orang berpuasa. Tidak diragukan akan masuknya bahan kimia tersebut ke lambung, maka kita analogikan kandungan obat tersebut dengan bahan kimia pada siwak, maka menggunakan obat tersebut tidak membatalkan puasa seperti siwak.

2.

3.

Dan pendapat yang mengatakan tidak batalnya puasa, merupakan pendapat mayoritas peserta muktamar fiqih kedokteran yang ke IX ( divisi OKI ilmu kedokteran ) di Kuwait 1998. Dan pendapat ini juga yang dipilih Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Ilmiah Arab Saudi ketika menjawab pertanyaaan tentang itu : Obat semprot paru-paru yang digunakan pasien dengan cara menghirup hingga masuk ke paru-paru melalui trakea, tidak ke lambung, maka tidak termasuk makan dan minum dan tidak menyerupai keduanya. Disarikan dari : Ahkamun Nawazil Fis Shiyaam (Dr Muhammad Al Madhaghi)