P. 1
SAP PeraturanPemerintah 2005 No24 BulTekSaP 03 Konversi LKPD Ke SAP

SAP PeraturanPemerintah 2005 No24 BulTekSaP 03 Konversi LKPD Ke SAP

5.0

|Views: 3,205|Likes:
Dipublikasikan oleh Ayoum Tse

More info:

Published by: Ayoum Tse on May 09, 2009
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/25/2013

pdf

text

original

Sections

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

i

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

1

(KSAP)

2
3
4

Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005

5

tentang Standar Akuntansi Pemerintahan yang menyatakan bahwa:

6
7

1. Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) dapat dilengkapi

8

dengan Buletin Teknis yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari

9

SAP;

10

2. Buletin Teknis disusun dan ditetapkan oleh KSAP;

11
12

dengan ini KSAP menetapkan Buletin Teknis Nomor 03 tentang Penyajian

13

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah sesuai dengan Standar Akuntansi

14

Pemerintahan dengan Konversi.

15
16
17
18

Jakarta, 1 Maret 2006

19

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

20
21

Binsar H. Simanjuntak

Ketua

22

Ilya Avianti

Wakil Ketua

23

Sonny Loho

Sekretaris

24

Sugijanto

Anggota

25

Hekinus Manao

Anggota

26

Jan Hoesada

Anggota

27

A. B. Triharta

Anggota

28

Soepomo Prodjoharjono

Anggota

29

Gatot Supiartono

Anggota

30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

ii

1

DAFTAR ISI

2
3

PENETAPAN

i

4

DAFTAR ISI

ii

5

BAB I PENDAHULUAN

1

6

A. LATAR BELAKANG

1

7

B. STRATEGI KONVERSI PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN TAHUN

8

ANGGARAN 2005

2

9

BAB II KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG PENTING

4

10

A. PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BELANJA

4

11

B. PENGAKUAN ASET

5

12

C. PENGAKUAN KEWAJIBAN

5

13

D. PENILAIAN ASET

5

14

BAB III LAPORAN REALISASI ANGGARAN : STRUKTUR APBD DAN

15

KLARIFIKASI APBD

7

16

A. STRUKTUR APBD

7

17

B. KLASIFIKASI PENDAPATAN

7

18

C. KLASIFIKASI BELANJA

8

19

BAB IV POS-POS NERACA

18

20

A. STUKTUR NERACA

18

21

B. POS-POS ASET

18

22

C. POS-POS KEWAJIBAN

23

23

D. POS-POS EKUITAS

24

24

BAB V POS-POS LAPORAN ARUS KAS

26

25

A. STRUKTUR LAPORAN ARUS KAS

26

26

B. ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI

28

27

C. ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI NONKEUANGAN

29

28

D. ARUS KAS DARI AKTIVITAS PEMBIAYAAN

29

29

E. ARUS KAS DARI AKTIVITAS NONANGGARAN

30

30

F. SALDO KAS

30

31

BAB VI CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

31

32

A. INFORMASI UMUM

31

33

B. KEBIJAKAN AKUNTANSI

31

34

C. PENJELASAN POS-POS NERACA, LAPORAN REALISASI ANGGARAN,

35

DAN LAPORAN ARUS KAS

31

36

D. PENGUNGKAPAN LAIN

34

37

E. INFORMASI TAMBAHAN BILA DIPERLUKAN

34

38

CONTOH FORMAT LAPORAN KEUANGAN

35

39

A. FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PENDAPATAN DAN

40

BELANJA DAERAH (APBD)

35

41

B. FORMAT NERACA

39

42

C. FORMAT LAPORAN ARUS KAS

41

43

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

1

BAB I PENDAHULUAN

1
2

A. LATAR BELAKANG

3
4

Pemerintah Indonesia telah menggulirkan otonomi daerah dan

5

desentralisasi fiskal sejak tahun 1999. Dalam rangka otonomi ini telah dikeluarkan

6

berbagai peraturan perundang-undangan yang mengatur berbagai aspek

7

penyelenggaraan pemerintahan, antara lain Undang-undang No. 22/1999

8

tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang No. 25/1999 tentang

9

Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.

10
11

Dalam rangka menindaklanjuti peraturan peundang-undangan tersebut,

12

Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 105/2000 yang

13

mengatur Pokok-pokok Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan

14

Daerah. Dalam Peraturan Pemerintah ini telah diletakkan prinsip-prinsip

15

pengelolaan keuangan daerah yang menuju pada terselenggaranya tata

16

kelola pemerintahan yang baik. Namun demikian timbul kesulitan dalam

17

implementasinya karena belum ada ketentuan yang mengatur setiap aspek

18

penyelenggaraan pengelolaan keuangan daerah secara cukup. Untuk

19

mengatasi kekosongan peraturan tersebut, Menteri Dalam Negeri

20

mengeluarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 29/2002 tentang Pedoman

21

Penyusunan Pertanggungjawaban dan Pengawasan Keuangan Daerah serta

22

Tata Cara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,

23

Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan

24

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Kepmendagri No. 29/2002 tersebut

25

pada umumnya telah mulai diimplementasikan mulai tahun anggaran 2003.

26
27

Reformasi manajemen keuangan pemerintah merupakan salah satu

28

agenda yang terus dilaksanakan Pemerintah Indonesia, termasuk pembaharuan

29

landasan hukum. Pembaharuan ini dimulai dengan dikeluarkannya satu paket

30

peraturan perundang-undangan di bidang keuangan, yaitu Undang-undang

31

No. 17/2003 tentang Keuangan Negara, Undang-undang No. 1/2004 tentang

32

Perbendaharaan Negara, dan Undang-undang No. 15/2004 tentang

33

Pemeriksaan Tanggung Jawab dan Pengelolaan Keuangan Negara.

34

Selanjutnya juga dilakukan revisi terhadap UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999,

35

yaitu digantikan dengan UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU

36

No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan

37

Pemerintahan Daerah.

38
39

Undang-undang di bidang keuangan tersebut mengamanatkan agar

40

gubernur/bupati/walikota menyampaikan laporan pertanggungjawaban yang

41

berupa laporan keuangan yang telah diaudit BPK selambat-lambatnya 6

42

(enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan disusun dan

43

disajikan sesuai dengan SAP. SAP telah diatur dengan Peraturan Pemerintah No.

44

24/2005 tentang SAP. Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku untuk penyusunan

45

laporan keuangan tahun anggaran 2005.

46
47

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

2

Penyusunan dan penyajian laporan keuangan tahun anggaran 2005 akan

1

mengalami kesulitan karena pemerintah daerah telah menyusun APBD dan

2

melaksanakannya berdasarkan Kepmendagri 29/2002 atau sistem yang lain.

3

Untuk itu perlu ada cara atau mekanisme yang dapat digunakan oleh

4

pemerintah daerah untuk dapat mengkonversi laporan keuangan yang

5

dihasilkannya, sehingga pemerintah daerah dapat menyajikan laporan

6

keuangan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan berdasarkan

7

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005. Dalam rangka memfasilitasi

8

pemerintah daerah yang telah menyusun laporan keuangan berdasarkan

9

Kepmendagri No. 29/2002 untuk dapat menyajikan laporan keuangan sesuai

10

SAP, maka Komite Standar Akuntansi Pemerintah (KSAP) perlu menyusun Buletin

11

Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP

12

dengan Konversi.

13
14

B. STRATEGI KONVERSI PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN TAHUN ANGGARAN

15

2005

16
17

Berhubung PP No. 24/2005 mengamanatkan penyusunan dan penyajian

18

laporan keuangan tahun anggaran 2005 sesuai dengan Standar Akuntansi

19

Pemerintahan, sedangkan APBD masih disusun dilaksanakan berdasarkan

20

Kepmendagri 29/2002, maka pemerintah daerah perlu menyusun strategi

21

implementasi penyajian laporan keuangan tahun anggaran 2005. Strategi

22

implementasi tersebut perlu dituangkan dalam bentuk peraturan kepala

23

daerah. Untuk tahun anggaran 2005, berarti pemerintah daerah menyajikan

24

laporan keuangan dalam dua versi, yaitu berdasarkan Kepmendagri No.

25

29/2002 dan sesuai dengan PP No. 24/2005 untuk memenuhi ketentuan

26

pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan

27

peraturan perundang-undangan yang berlaku.

28
29

Penyajian laporan keuangan tahun anggaran 2005 dapat dilakukan

30

dengan teknik memetakan atau konversi ketentuan-ketentuan di Kepmendagri

31

No. 29/2002 ke dalam ketentuan-ketentuan SAP. Konversi mencakup jenis

32

laporan, basis akuntansi, pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan pos-pos

33

laporan keuangan, struktur APBD, klasifikasi anggaran, aset, kewajiban, ekuitas,

34

arus kas, serta catatan atas laporan keuangan.

35
36

Konversi dilakukan dengan cara mentrasir kembali (trace back) sebagai

37

berikut:

38
39

1. Pos-pos laporan keuangan menurut Kepmendagri No. 29/2002 dengan

40

pos-pos laporan keuangan menurut SAP;

41

2. Apabila angka 1 belum menyelesaikan konversi, maka konversi buku

42

besar/pos/rekening menurut Kepmendagri No. 29/2002 ke buku besar

43

menurut SAP, dengan memperhatikan cakupan masing-masing buku

44

besar;

45

3. Apabila angka 2 belum menyelesaikan konversi, maka lakukan konversi

46

dari buku pembantu/rekening menurut Kepmendagri No. 29/2002 ke

47

buku besar menurut SAP;

48

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

3

4. Apabila angka 3 belum menyelesaikan konversi, maka lakukan konversi

1

buku jurnal atau dokumen sumber ke buku besar menurut SAP.

2
3

Strategi konversi tersebut di atas dilakukan dengan terlebih dahulu

4

menyusun lembar muka (face) laporan keuangan menurut Kepmendagri No.

5

29/2002 yang terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus

6

Kas. Konversi dilakukan dengan menggunakan kertas kerja yang

7

menggambarkan proses konversi dari laporan keuangan berdasarkan

8

Kepmendagri 29/2002 ke laporan keuangan berdasarkan SAP. Konversi untuk

9

Laporan Realisasi Anggaran dilaksanakan baik untuk anggaran maupun

10

realisasinya. Proses konversi ini disajikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan.

11

Kertas kerja konversi disajikan sebagai lampiran laporan keuangan sesuai

12

dengan SAP.

13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

4

BAB II KEBIJAKAN AKUNTANSI YANG PENTING

1
2

A. PENGAKUAN PENDAPATAN DAN BELANJA

3
4

PP SAP menggunakan basis kas untuk pengakuan pendapatan dan

5

belanja. Pendapatan diakui setelah penerimaan uang disetor dan masuk ke

6

Rekening Kas Umum Daerah. Belanja diakui setelah uang dikeluarkan secara

7

definitif dari Rekening Kas Umum Daerah dan/atau telah

8

dipertanggungjawabkan. Kepmendagri No, 29/2002 menyatakan bahwa basis

9

akuntansi yang digunakan untuk mengakui pendapatan dan belanja adalah

10

basis kas modifikasian.

11
12

Dengan adanya perbedaan basis akuntansi tersebut, setiap pemerintah

13

daerah perlu memperhatikan basis pengakuan pendapatan dan belanja yang

14

digunakan dalam APBD masing-masing. Apabila Pemda telah menggunakan

15

basis kas modifikasian, maka besarnya pendapatan dan belanja yang berasal

16

dari selisih yang terjadi karena penggunaan basis yang berbeda tersebut

17

dieliminasi.

18
19

Sebagai contoh, terdapat Pemda yang menerapkan basis kas

20

modifikasian. Pemda tersebut mengakui kas yang berada di tangan Bendahara

21

Penerimaan per 31 Desember sebagai pendapatan. Berdasarkan SAP, jumlah

22

tersebut belum termasuk sebagai pendapatan karena belum disetor ke

23

Rekening Kas Umum Daerah tetapi diakui sebagai Kas di Bendahara

24

Penerimaan. Oleh karena itu pendapatan yang telah diakui berdasarkan basis

25

kas modifikasian perlu disesuaikan dengan mengeliminasi pendapatan tersebut

26

dan menambahkan akun pendapatan yang ditangguhkan di pos kewajiban

27

pada neraca. Namun bagi Pemda yang menggunakan basis kas, berarti belum

28

mengakui kas yang berada di tangan Bendahara Penerimaan/Pemegang kas

29

yang berasal dari penerimaan pendapatan tersebut sebagai pendapatan

30

tahun anggaran yang bersangkutan, oleh karena itu tidak perlu melakukan

31

penyesuaian.

32
33

Demikian pula halnya dengan belanja, pemerintah daerah perlu

34

memperhatikan pengakuan belanja di pemerintah daerah masing-masing. SAP

35

mengatur bahwa belanja diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari

36

Rekening Kas Umum Daerah. Khusus pengeluaran melalui Bendahara

37

Pengeluaran, pengakuannya terjadi pada saat pertanggungjawaban atas

38

pengeluaran tersebut disahkan oleh unit yang mempunyai fungsi

39

perbendahraan. Oleh karena itu apabila terdapat Pemda yang mengakui

40

belanja pada saat uang dikeluarkan dari rekening Kas Umum Daerah, maka

41

Pemda tersebut perlu memperhatikan substansi pengeluaran uang tersebut.

42
43

Dalam sistem pembayaran untuk pengeluaran belanja dikenal adanya

44

dua sistem pembayaran, yaitu pembayaran yang dilakukan secara langsung

45

kepada pihak ketiga (SPMU LS atau BT) dan pembayaran melalui uang muka

46

kerja atau dana kas kecil (SPMU BS, SPM PK atau SPM UP) yang diberikan

47

kepada Bendahara Pengeluaran/Pemegang Kas. Apabila pembayaran

48

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

5

dilakukan dengan SPM LS kepada pihak ketiga untuk barang dan/atau jasa

1

yang telah diterima, dan pemerintah daerah mengakui pengeluaran belanja

2

tersebut sebagai belanja, pengakuan belanja ini sudah benar. Akan tetapi jika

3

pembayaran dilakukan melalui Bandahara Pengeluaran atau Pemegang Kas

4

(SPM BS, SPM PK atau SPM UP), maka uang yang diberikan kepada Bendahara

5

Pengeluaran/Pemegang Kas belum dapat diakui sebagai belanja. Jumlah

6

tersebut merupakan uang muka kerja atau dana kas kecil di satuan kerja

7

perangkat daerah. Jumlah tersebut baru diakui sebagai belanja setelah

8

dipertanggungjawabkan ke satuan kerja pengelola keuangan daerah. Dengan

9

demikian apabila Pemda mengakui belanja berdasarkan SPMU-BS, SPM PK atau

10

SPM UP perlu melakukan penyesuaian dengan mengeliminasi belanja tersebut

11

dari Laporan Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas.

12
13

Saldo kas yang berasal dari sisa uang muka kerja, yang berada di

14

Bendahara Pengeluaran/Pemegang Kas merupakan aset pemerintah daerah.

15

Oleh karena itu jumlah tersebut disajikan pada akun Kas di Bendahara

16

Pembayar di neraca pemerintah daerah.

17
18

B. PENGAKUAN ASET

19
20

Kepmendagri No. 29/2002 mengatur bahwa pengakuan aset dilakukan

21

pada akhir periode. Sementara SAP menyatakan bahwa aset diakui pada saat

22

diterima dan/atau hak kepemilikan berpindah. Dengan demikian selama tahun

23

berjalan terdapat perbedaan waktu pengakuan aset namun pada akhir

24

periode akuntansi akan diperoleh saldo aset yang sama.

25
26

C. PENGAKUAN KEWAJIBAN

27
28

Kepmendagri 29/2002 menyatakan bahwa utang diakui pada akhir

29

periode. SAP menyatakan bahwa kewajiban diakui pada saat pinjaman

30

diterima atau kewajiban timbul. Bagi Pemda yang telah mengimplementasikan

31

ketentuan pengakuan kewajiban sebagaimana diatur dalam Kepmendagri

32

29/2002, perlu menginventarisasi seluruh utang yang ada per 31 Desember untuk

33

disajikan di neraca.

34
35

Kewajiban yang disajikan di neraca mencakup utang yang berasal dari

36

pinjaman, utang biaya, seperti biaya yang masih harus dibayar, dan utang PFK.

37

Oleh karena itu pada akhir tahun, setiap satuan kerja perangkat daerah perlu

38

menginventarisasi utang-utang di unitnya masing-masing untuk disajikan di

39

neraca.

40
41

D. PENILAIAN ASET

42
43

Pengaturan penilaian aset untuk penyusunan neraca awal berdasarkan

44

Kepmendagri 29/2002, yaitu Kepala Daerah dapat secara bertahap melakukan

45

penilaian seluruh aset Daerah yang dilakukan oleh Lembaga Independen

46

bersertifikat bidang pekerjaan penilaian aset dengan mengacu pada Pedoman

47

penilaian Aset Daerah yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri. SAP

48

mengatur bahwa aset dinilai berdasarkan harga perolehan. Ketentuan ini

49

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

6

berlaku untuk transaksi yang terjadi setelah penyusunan neraca awal (neraca

1

yang pertama kali disusun). Sedangkan untuk aset yang sudah dimiliki pada

2

saat penyusunan neraca pertama kali (neraca awal) dinilai berdasarkan nilai

3

wajar pada tanggal penyusunan neraca tersebut.

4
5

Untuk keperluan penyusunan neraca awal, termasuk penilaian asetnya,

6

KSAP telah menerbitkan Buletin Teknis Penyusunan Neraca Awal Pemda. Dalam

7

Buletin Teknis tersebut tersedia berbagai alternatif penilaian aset yang dapat

8

dipilih oleh Pemda dalam penyusunan neraca awal. Oleh karena itu bagi

9

Pemda yang belum menyajikan pos-pos neraca sesuai dengan ketentuan-

10

ketentuan dalam SAP, yang selanjutnya diilustrasikan melalui Buletin Teknis

11

tersebut dapat melakukan penyesuaian. Sebagai contoh: tanah dapat dinilai

12

berdasarkan Nilai Jual Obyek Pajak, Bangunan dapat dinilai berdasarkan

13

standar biaya yang disusun oleh Departemen Pekerjaan Umum.

14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

7

BAB III LAPORAN REALISASI ANGGARAN:

1

STRUKTUR APBD DAN KLASIFIKASI APBD

2
3

A. STRUKTUR APBD

4
5

Laporan Realisasi Anggaran merupakan istilah baru yang digunakan dalam

6

pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan negara/daerah. Selama ini

7

listilah yang digunakan adalah Laporan Perhitungan Anggaran.

8
9

Kepmendagri 29/2002 dan SAP menggunakan struktur APBD yang sama,

10

yaitu APBD terdiri dari Anggaran Pendapatan, Anggaran Belanja, dan

11

Anggaran Pembiayaan. Perbedaan terjadi dalam struktur anggaran belanja.

12

SAP mengatur penyajian Laporan Realisasi Anggaran pada lembar muka

13

berdasarkan karakter belanja dan jenis belanja, sedangkan Kepmendagri

14

29/2002 mengklasifikasikan belanja ke dalam Belanja Aparatur dan Belanja

15

Publik. Selanjutnya baik pada Belanja Aparatur maupun Belanja Publik, belanja

16

diklasifikasikan menjadi Belanja Administrasi Umum, Belanja Operasi dan

17

Pemeliharaan, dan Belanja Modal.

18
19

B. KLASIFIKASI PENDAPATAN

20
21

Pada prinsipnya struktur pendapatan yang digunakan dalam SAP dan

22

Kepmendagri 29/2002 sama. SAP mengatur klasifikasi pendapatan berdasarkan

23

sumbernya, yaitu Pendapatan Asli Daerah, Transfer yang berasal dari

24

Pemerintah Pusat dan Pemda lain, serta Lain-lain Pendapatan yang Sah.

25

Sedangkan Kepmendagri 29/2002 mengatur klasifikasi pendapatan menjadi

26

tiga, yaitu Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, dan Lain-lain

27

Pendapatan Yang Sah.

28
29

Dengan adanya perbedaan tersebut maka perlu adanya reklasifikasi

30

pendapatan. Bagi Pemda yang menerima Pendapatan Bagi Hasil dari

31

Pusat/Provinsi serta Dana dari APBN selain Dana Perimbangan, misalnya Dana

32

Otonomi Khusus dan Dana Kontinjensi/Dana Penyesuaian/Dana Adhoc, yang

33

berdasarkan Kepmendagri 29/2002 diklasifikasikan dalam Lain-lain pendapatan

34

yang sah, perlu direklasifikasi dari Lain-lain Pendapatan Yang Sah ke kelompok

35

Pendapatan Transfer.

36
37

Skema Konversi Pendapatan adalah sebagai berikut:

38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48

Buletin Teknis Penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Sesuai dengan SAP dengan Konversi

Komite Standar Akuntansi Pemerintahan

8

KEPMENDAGRI 29/2002

SAP

Pajak Hotel

Pajak Restoran

Pajak Hiburan

Pajak Reklame

Pendapatan Pajak Daerah

Pajak Penerangan Jalan

Pajak Pengambilan Bahan Galian Gol. C

Pajak Parkir

Pajak Burung Walet

Retribusi Pelayanan Kesehatan

Retribusi Pelayanan Persampahan/kebersihan

Retribusi Penggantian Biaya Cetak KTP

Retribusi Penggantian Biaya Cetak Akte Catatan Sipil

Retribusi Pelayanan Pemakaman

Retribusi Pengabuan Mayat

Retribusi Pelayanan Parkir Di Tepi Jalan Umum

Retribusi Pelayanan Pasar

Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor

Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran

Retribusi Penggantian Biaya Cetak Peta

Retribusi Pengujian Kapal Perikanan

Retribusi Jasa Usaha Pemakaian Kekayaan Daerah

Retribusi Jasa Usaha Pasar Grosir Dan Atau Pertokoan

Retribusi Jasa Usaha Tempat Pelelangan

Pendapatan Retribusi Daerah

Retribusi Jasa Usaha Terminal

Retribusi Jasa Usaha Tempat Khusus Parkir

Retribusi Jasa Usaha Tempat Penginapan/pesanggrahan/villa

Retribusi Jasa Usaha Penyedotan Kakus

Retribusi Jasa Usaha Rumah Potong Hewan

Retribusi Jasa Usaha Pelayanan Pelabuhan Kapal

Retribusi Jasa Usaha Tempat Rekreasi Dan Olah Raga

Retribusi Jasa Usaha Penyebrangan Di Atas Air

Retribusi Jasa Usaha Pengelolaan Limbah Cair

Retribusi Jasa Usaha Penjualan Produksi Usaha Daerah

Retribusi Izin Pendirian Bangunan

Retribusi Izin Tempat Penjualan Minuman Beralkohol

Retribusi Izin Gangguan

Retribusi Izin Trayek

Bagian Laba Perusahaan Milik Daerah

Bagian Laba Lembaga Keuangan Bank

Bagian Laba Lembaga Keuangan Non Bank

Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

Bagian Laba Atas Penyertaan Modal/investasi Kepada Pihak Tiga

Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan

Penerimaan Ganti Rugi Atas Kekayaan Daerah ( Tp/tgr)

Penerimaan Bunga Deposito

Hasil Penjualan Aset Daerah Yang Tidak Di Pisahkan

Lain-lain PAD yang sah

Penerimaan Jasa Giro

Penerimaan Lain-lain

Bagi Hasil Pajak

Dana Bagi Hasil Pajak

Bagi Hasil Bukan Pajak /sumber Daya Alam Iuran Hak Pengusahaan Hutan (hph)

Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam

Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Umum

Dana Alokasi Khusus Reboisasi

Dana Alokasi Khusus

Dana Alokasi Khusus Non Reboisasi

Dana Alokasi Khusus

Bagi Hasil Pajak Propinsi

Pendapatan Bagi Hasil Pajak

Bantuan Keuangan Dari Propinsi

Pendapatan Hibah

Hibah

Pendapatan Hibah

Bantuan Dana Kontijensi Penyeimbang

Dana Penyesuaian

Dana Darurat

Pendapatan Dana Darurat

1
2

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->