Anda di halaman 1dari 11

INSTALASI dan ANALISIS PROSES POINTING ANTENA WCDMA Study Kasus Site RSJ_HARAPAN KITA WISMA BARITO

Agus Priyono
Agus.priyono@politekniktelkom.ac.id

Tengku Ahmad Riza


Tengku.riza@gmail.com

Prajna Deshanta
Desh_ibnu@yahoo.com

Program Studi Computer Engineering Politeknik Telkom Bandung 2010

ABSTRAK Proses instalasi dilakukan untuk penambahan atau penggantian perangkat. Seteleh proes instalasi hardware dilakukan maka proses selanjutnya adalah proses commissioning. Proses commissioning merupakan proses penginputan parameter-parameter dengan menggunakan protokol lokal yaitu WebLCT. Setelah proses ini dilakukan maka site satu dengan far end site dapat saling mengenal serta dapat saling berkomunikasi. Pada proses commissioning inilah proses pointing dilakukan,dimana proses pointing merupakan proses pengarahan antena ke posisi yang paling ideal sehingga nantinya dihasilkan sinyal yang bagus. Wideband Code Division Multiple Access atau W-CDMA merupakan teknik multiple access yang berdasarkan spektral tersebar, dimana sinyal informasi disebar pada pita frekuensi yang lebih besar daripada lebar pita sinyal aslinya (informasi). Wideband Code-Division Multiple Access atau W-CDMA, merupakan teknologi generasi ketiga (3G) untuk GSM, yaitu Universal Mobile Telecommunication System (UMTS). Teknologi ini berbeda dengan teknik akses radio konvensional yang menggunakan teknik pembagian lebar bidang frekuensi yang tersedia ke kanal narrow atau kedalam slot waktu. Antena dipergunakan untuk menerima gelombang elektromagnetik atau untuk memancarkan gelombang tersebut ke ruang bebas. Ada beberapa karakter penting antena yang perlu dipertimbangkan dalam memilih jenis antena untuk suatu aplikasi (termasuk untuk digunakan pada sebuah teleskop radio), yaitu pola radiasi, directivity, gain, dan polarisasi. Proses pointing merupakan proses pengarahan antenna agar sinyal yang diperoleh sesuai dengan link budget. Proses ini dilakukan setelah proses commissioning dilakukan atau dengan kata lain site dengan far end site sudah dapat terhubung. Pada proses commissioning seorang engineer bertugas untuk melakukan konfigurasi terhadap perangkat dengan bantuan protokol lokal yaitu WebLCT. Proses pointing dilakukan agar sinyal yang dikirim ke penerima mendapatkan kualitas sinyal yang bagus dan link kualiti yang tinggi. Pointing dilakukan setelah ke dua site saling berkomunikasi dan sebaiknya pointing dilakukan pada malam hari dengan keadaan cuaca yang cerah,supaya perubahan kualitas sinyal pada kondisi cuaca / alam tidak mengganggu komunikasi antar site.

Kata kunci: Commissioning, Pointing, WCDMA, GSM

1 1.1

PENDAHULUAN 1.3 Latar Belakang Tujuan Tujuan yang akan dicapai melalui pembahasan yang dilakukan pada proyek akhir ini adalah: a. Melakukan langkah-langkah instalasi hardware Antenna, BTS, kabel fedeer dan radio microwave serta mengetahui komponen-komponen hardware yang harus di install. b. Menanalisis tahapan-tahapan commissioning dan pointing mulai dari mengarahkan antenna sampai melakukan konfigurasi dasar perangkat dan input parameter sesuai link budget. c. Melakukan analisis proses pointing antenna. 1.4 Batasan Masalah

Setalah proses installasi hardware selesai maka perlu dilakukan proses pointing. Dimana proses pointing merupakan proses pelurusan arah antenna serta penginputan parameter-parameter seperti: NE Atribut,Cross Connection Configuration dan Link Configuration serta beberapa parameterparameter lain dan kita dapat melihat alarm apa saja yang muncul. NE Atribut merupakan proses penginputan data,seperti nama site,ID site serta beberapa parameter lain. Cross Connection Configuration merupakan proses penginputan data koneksi secara manual melalui protocol local (web LCT),ketika ada salah satu koneksi yang belum terdeteksi melalui protocol local(web LCT). Sedangkan Link Configuration merupakan proses penginputan frekuensi sesuai rentang frekuensi yang telah ditentukan,yang nantinya akan menghasilkan actual frekuensi yang selanjutnya digunakan untuk frekuensi pada far end site. Setelah kedua site menginputkan frekuensi maka ke dua site dapat saling berkomunikasi,maka proses pointing dapat dilakukan dengan cara mengarahkan antenna supaya mendapatkan daya sesuai link budget. Dalam proses ini biasanya menggunakan beberapa alat bantu seperti laptop, suntoo, multitester serta beberapa peralatan dasar lainya . Pointing sering disebut juga proses pencarian titik kordinat.

Untuk menghindari kesalahan persepsi dan meluasnya pokok pembahasan, maka pengerjaan Proyek Akhir ini terbatas pada : a. Instalasi hardware dan commisioning di site RSJ_HARAPAN KITA-WISMA BARITO. b. Menganalisis proses pointing radio microwave RTN600. c. Proses konfigurasi perangkat menggunakan protokol local yaitu Web LCT. 1.5 Metodologi Penelitian

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang menjadi titik utama pembahasan pada Proyek Akhir ini adalah: a. Bagaimana langkah Instalasi hardware Antenna, kabel Fedeer, BTS3900A WCDMA dan Radio Microwave(MW RTN) ? b. Bagaimana tahapan melakukan Commisioning dan pointing ? c. Bagaimana proses pointing antanna dilakukan?

Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan studi literatur-literatur yang terkait dengan tema. Serta melakukan installasi hardware agar dapat menganalisis mengenai proses pointing dan commissioning untuk menerapkan sedikit contoh yang berhubungan dengan topik bahasan. Dan menggunakan sumber literature antara lain buku, jurnal, artikel, datadata hasil installasi dan commissioning.

1.6

Jadwal Pengerjaan

Memuat jadwal pengerjaan proyek akhir.

sistem komunikasi personal dan bergerak, gangguan dapat datang dari rekan berkomunikasi atau pemakai lain, seperti gangguan sinyal banyak jalur atau sering disebut multipath interference, atau gangguan pada kanal yang sama atau sering disebut co-channel interference (Godara 1997) 2.2.1 Pola Radiasi Pola radiasi (radiation pattern) dari sebuah antenna merupakan representasi grafis dari fungsi matematika dari property radiasi sebuah antenna yang dinyatakan dalam kordinat ruang. Pola radiasi biasa digambarkan dalam kordinat bola, polar maupun rectangular. Untuk jelasnya dapat dilihat pada gambar.. Pada gambar..dapat dilihat bahwa berkas radiasi dari antenna membentuk pola-pola tertentu yang disebut dengan lobe. Ada beberapa bagian pada gambar..yang merupakan bagian penting dari pola radiasi antenna, yaitu: 1. Main/Major Lobe, adalah berkas radiasi dimana terdapat kekuatan pancaran radiasi dari antenna yang terbesar. 2. Minor Lobe, adalah berkas radiasi selain major lobe. Minor lobe dikelompokan menjadi dua bagian sesuai dengan posisinya, yaitu : a. Side Lobe b. Back Lobe HPBW(Half Power Beamwidht), adalah merupakan sudut yang dibentuk oleh titik yang bernilai setengah dari daya pancar maksimum pada major lobe.

2 2.1

TINJAUAN PUSTAKA WCDMA

Wideband Code Division Multiple Access atau W-CDMA merupakan teknik multiple access yang berdasarkan spektral tersebar, dimana sinyal informasi disebar pada pita frekuensi yang lebih besar daripada lebar pita sinyal aslinya (informasi). Sistem WCDMA hanya memerlukan satu channel frekuensi radio untuk semua pemakainya, masing-masing pemakai diberi kode yang membedakan antara pengguna satu dengan yang lain. Skema metode akses yang digunakan untuk penyebaran sinyal WCDMA adalah direct sequence dimana code sequence digunakan secara langsung untuk memodulasi sinyal radio yang dipancarkan dengan menggunakan sinyal penebar. Wideband Code Division Multiple Access atau W-CDMA merupakan teknologi generasi ke tiga(3G). Teknologi telekomunikasi wireless generasi ketiga (3G) yaitu Universal Mobile Telecommunication System (UMTS). Universal Mobile Telecommunication System merupakan suatu evolusi dari GSM, dimana interface radionya adalah WCDMA, mampu melayani transmisi data dengan kecepatan yang lebih tinggi, kecepatan data yang berbeda untuk aplikasi-aplikasi dengan QoS yang berbeda. (Roberts 2009) 2.2 Antena Antena dipergunakan untuk menerima gelombang elektromagnetik atau untuk memancarkan gelombang tersebut ke ruang bebas. Sejalan dengan perkembangan teknologi telekomunikasi, masa sekarang ini pemakaian spektrum gelombang radio selain padat juga untuk system komunikasi bergerak sehingga gelombang elektromagnetik yang di pancarkan satu sama lain dapat saling menganggu. Pada

3.

Gambar : Pola Radiasi Antena

Ada Tiga jenis system antenna yang digunakan sampai saat ini, yaitu : 1. Omni-Directional Antena ini mempunyai sudut pancaran yang besar (wide beamwidth) yaitu 3600; dengan daya lebih meluas, jarak yang lebih pendek tetapi dapat melayani area yang luas Omni antena tidak dianjurkan pemakaian-nya, karena sifatnya yang terlalu luas sehingga ada kemungkinan mengumpulkan sinyal lain yang akan menyebabkan inter-ferensi. antena omnidirectional mengirim atau menerima sinyal radio dari semua arah secara sama, biasanya digunakan untuk koneksi multiple point atau hotspot.

Gambar Pola radiasi antenna directional/sectoral 3. Highly Directional Antena yang sangat terarah adalah antena yang mengirimkan dengan sangat sempit balok. Jenis antena sering terlihat seperti piring satelit yang begitu populer di daerah pedesaan, seperti di mana saya dibesarkan di West Virginia. Mereka umumnya disebut parabola atau antena grid. The parabola adalah salah satu yang terlihat seperti parabola, dan antena grid terlihat seperti antena dengan grill melengkung parut di belakangnya. 2.2.2 Directivity Directivity adalah perbandingan antara intensitas radiasi suatu antena pada arah tertentu dengan rata-rata intensitas radiasi dalam semua arah. Directivity dari sebuah antena atau deretan antena diukur pada kemampuan yang dimiliki antena untuk memusatkan energy dalam satu atau lebih ke arah khusus. Antena dapat juga ditentukan pengarahanya tergantung dari pola radiasinya (Utomo 2008). 2.2.3 Gain Gain (directive gain) adalah karakter antena yang terkait dengan kemampuan antena mengarahkan radiasi sinyalnya, atau penerimaan sinyal dari arah tertentu. Gain bukanlah kuantitas yang dapat diukur dalam satuan fisis pada umumnya seperti watt, ohm, atau lainnya, melainkan suatu bentuk perbandingan. Oleh karena itu, satuan yang digunakan untuk gain adalah desibel. (Utomo 2008)

Gambar Pola radiasi antenna omnidirectional 2. Directional/ Bidirectional Antena jenis ini merupakan jenis antena dengan narrow beamwidth, yaitu punya sudut pemancaran yang kecil dengan daya lebih terarah, jaraknya jauh dan tidak bisa menjangkau area yang luas, antena directional mengirim dan menerima sinyal radio hanya pada satu arah, umumnya pada fokus yang sangat sempit, dan biasanya digunakan untuk koneksi point to point, atau multiple point, macam antena direktional seperti antena grid, dish "parabolic", yagi, dan antena sectoral. Berikut merupakan pola radiasi antenna directional.

2.2.4

Polarisasi Gelombang elektromagnetik yang melaju di udara atau di angkasa luar terdiri atas komponen gaya listrik dan komponen gaya magnet yang tegak lurus satu sama lain. Gelombang radio yang memancar dapat dikatakan terpolarisasi sesuai arah komponen gaya listriknya. Untuk antena dipole maka polarisasinya searah dengan panjang bentangannya. Bila antena tersebut dipasang horizontal, maka polarisasinya horizontal pula. Agar dapat menerima gelombang elektromagnetik secara baik, maka antena harus mempunyai polarisasi yang sama dengan polarisasi gelombang radio yang datang. Arah polarisasi ini akan tetap sepanjang lintasan gelombang elektromagnetik, kecuali bila gelombang tersebut sudah dipantulkan oleh ionosphere, maka polarisasinya bisa berubah (Utomo 2008). 2.2.5 SNR

1.

Linkungan Propagasi Kondisi lingkungan sangat mempengaruhi gelombang radio. Gelombang radio dapat diredam, dipantulkan, atau dipengaruhi oleh noise dan interferensi. Tingkat peredaman tergantung frekuensi, dimana semakin tinggi frekuensi redaman juga semakin besar. Parameter yang mempengaruhi kondisi propagasi yaitu rugi-rugi propagasi, fading, delay spread, noise, dan interferensi. Rugi Propagasi Dalam lingkungan radio, konfigurasi alam yang tidak beraturan, bangunan, dan perubahan cuaca membuat perhitungan rugi-rugi propagasi sulit. Kombinasi statistik dan teori elektromagnetik membantu meramalkan rugi-rugi propagasi dengan lebih teliti. Fading Margin Fading margin adalah level daya yang harus dicadangkan yang besarnya merupakan selisih antara daya ratarata yang sampai di penerima dan level sensitivitas penerima. Nilai fading margin biasanya sama dengan peluang level fading yang terjadi., yang nilainya tergantung pada kondisi lingkungan dan sistem yang digunakan. Noise Noise dihasilkan dari proses alami seperti petir, noise thermal pada sistem penerima, dll. Disisi lain sinyal transmisi yang mengganggu dan tidak diinginkan dikelompokkan sebagai interferensi.

2.

(Carpenter 2007)Latar Belakang RF kebisingan, yang dapat disebabkan oleh semua berbagai sistem dan fenomena alam yang menghasilkan energi dalam spektrum elektromagnetik, dikenal sebagai noise. Tingkat kekuatan dari sinyal RF relatif terhadap tingkat daya noise dikenal sebagai rasio sinyal-to-noise atau SNR. Salah satu pengukuran noise yang paling berguna adalah SNR. SNR adalah perbandingan Daya Signal (Signal Power) dengan Daya Noise (Noise Power). SNR dapat digunakan untuk mengevaluasi dan mengantisipasi effect berlebih dari noise. Satuan SNR itu dB (Decibel).

3.

4.

Vs dan Vn adalah Signal Voltage dan Noise Voltage. Ada beberapa parameter-parameter yang mempengaruhi kondisi propagasi suatu kanal transmisi adalah sebagai berikut :

5.

Parameter Antena Ada dua parameter-parameter utama yang mempengaruhi kinerja dari suatu antenna, yaitu : 1. Parameter yang biasa di atur: a. Daya b. Antena Parameter yang tidak biasa di atur:

2.

a. b. c. 2.3

Faktor Cuaca Interferensi Antena

ANALISIS KEBUTUHAN DAN PERANCANGAN Kebutuhan Perangkat Keras

3.1 Commissioning Commissioning adalah tahapan setelah proses instalasi hardware/fisik perangkat selesai dilakukan oleh instaler. Ketika commissioning dilakukan berarti semua kegiatan precommissioning yang meliputi check devices, check wiring, check control action sudah selesai dilakukan artinya semua devices ready untuk beroperasi dalam kondisi normal dan kritikal. Adapun persiapa-persiapan sebelum proses commissioning dilakukan, yaitu: 1. Start perangkat lalu perhatikan indikasi pada lampu indicator, lalu setelah IDU lakukan login ke perangkat. 2. Pastikan dari software semua perangkat dapat dikenali dan bekerja baik dari tiap IDU sampai ODU. 3. Lalu lakukan input parameter dari mulai link configuration Setelah semua perangkat siap maka kita bisa melakukan proses commissioning, Yaitu proses dimana kita sebagai seorang engineer melakukan input parameter-parameter sesuai link budget. Dimana setelah proses commissioning dilakukan maka perangkat bisa bekerja dengan baik serta dapat terhubung dengan site-site lain yang berada dalam satu hop. 2.4 Pointing Pointing merupakan kegiatan dimana kita sebagai Technical Support atau teknisi jaringan bekerja untuk mendapatkan sinyal yg bagus maupun Link Quality yg tinggi. Pointing dilakukan supaya perangkat antenna pengirim dengan antenna penerima dapat berkomunikasi dengan baik sehingga dapat menghasilkan daya sesuai link budget. Dengan cara mengarahkan antenna secara tepat ke arah tujuan,dan agar mendapatkan hasil yang maksimal maka pointing dilakukan dengan bantuan multitester dan engineer, sehingga proses pointing dapat dikontrol.

Kebutuhan perangkat keras untuk membangun sebuah pemancar telepon selular terdiri dari beberapa perangkat, seperti : 1. Kabinet BTS 2. Antena 3. Kabel 4. Grounding Kit 5. Perangkat Microwave 3.2 Kebutuhan Perangkat Lunak Ada beberapa perangkat lunak yang di butuhkan diantaranya, yaitu : 1. Laptop 2. Software WebLCT 3. Multitester 3.3 Perancanan Membahas perancangan karya (cara kerja, interface, dan sebagainya). 3.3.1 Kebutuhan Sistem Kebutuhan sistem mengimplementasikan proyek akhir instalasi dan analisa proses pointing antena WCDMA, dibagi dala dua kategori, yaitu : 1. Kebutuhan Perangkat Keras Kebutuhan perangkat keras untuk membangun sebuah pemancar telepon selular terdiri dari beberapa perangkat, seperti : a. Kabinet BTS Kabinet BTS merupakan tempat dimana semua perangkat BTS di tempatkan, Mulai dari IDU, PMU, BBU, DCDU, DDF dan Modul RFU. Serta beberapa perangkat yang lain yang merupakan perangkat bawaan. 1) PMU PMU merupakan modul pada APM30, berfungsi merubah power AC menjadi power DC serta melakukan koneksi ke HEUA. Dimana HEUA merupakan tempat untuk monitoring alarm. Dari mulai water, smoke, door, temperature, infrared.

2) BBU BBU merupakan sebuah perangkat yang nantinya merupakan terminal panghubung antara transmisi d.

1. 2. 3. 4. 5.

Kabel Fedeer Kabel Coaxial Kabel Power Kabel Optik Kabel E1

dengan RFU yang menggunakan kabel CPR. 3) DCDU DCDU merupakan bagian APM30H, berfungsi sebagai panel yang memberikan layanan power DC. Dimana semua komponenkomponen yang berada dalam cabinet yang memerlukan power DC melakukan koneksi ke DCDU 4) DDF DDF merupakan tempat interkoneksi antara kabel dari IDU ke DDF dan dari DDF ke BBU. Dimana Untuk menghubungkan IDU dan BBU dengan DDF digunakan kabel E-one yang terdiri dari 16 buah kabel yang terbagi menjadi enam 8 pair,satu pair terdiri dari dua buah kabel 5) Modul RFU Modul RFU ini merupakan tempat koneksi antara antenna pemancar dengan BBU, dimana koneksi antenna pemacar dengan modul RFU menggunaka kabel feeder dan koneksi modul RFU dengan BBU menggunakan kabel optic atau sering juga di sebut kabel CPR b. Antena Antena berfungsi untuk mengirim dan menerima gelombang elektromagnetik, ada dua antenna yang digunakan,yaitu : 1. Antena Directional 2. Antena Microwave Kabel Kabel merupakan sarana yang di gunakan untuk menghubungkan antar perangkat yang satu dengan perangkat yang lain, kabel yang diguanakan disini ada tiga jenis, yaitu :

Grounding Kit Grounding Kit merupakan kabel yang di dugunakan untuk menghubungkan antara kabel feeder, coaxial dan antenna MW dengan bushbar yang merupakan ground atau penagkal petir. Perangkat Microwave Perangkat radio microwave yang digunakan terbagi menjadi 2 kategori dan masing-masing perangkat berbeda fungsinya, perangkat microwave tersebut adalah : 1. IDU 2. ODU

e.

2.

Kebutuhan perangkat Lunak Ada beberapa perangkat lunak yang di butuhkan diantaranya, yaitu : a. Laptop/ Operating System XP Laptop digunakan untuk menginputkan parameter-parameter pada komponen BTS, dengan syarat laptop tersebut telah di install software WebLCT. Serta program berjalan dengan baik. Software WebLCT Software WebLCT adalah software yang digunakan sebagai antar muka antara komponen BTS dengan engineer. Dimana software ini merupakan local craft terminal yang digunakan melalui browser. Dengan menggunakan software ini kita dapat melakukan input parameter dan dapat memonitoring kerja dari komponen BTS. Multitester Multitester digunakan untuk membantu seorang installer pada saat melakukan pointing, dimana dengan bantuan alat ini dan seorang engineer proses pointing dapat lebih mudah dilakukan.

b.

c.

c.

3.4 3.4.1

Perancangan dan Implementasi Perancangan Sistem

Sistem yang akan dianalisis disini merupakan system yang telah ada tetapi karena dilakukan penggantian beberapa perangkat maka harus dilakukan proses commissioning dan pointing ulang.

4 IMPLEMENTASI DAN PENGUJIAN Membahas langkah langkah dan lingkungan implementasi dari perancangan yang telah dihasilkan dan pengujian perangkat yang dihasilkan. 4.1 Implementasi Ada beberapa tahapan-tahapan yang harus dilakukan pada saat melakukan implementasi pada instalasi dan Analaisis proses pointing antenna WCDMA, dianataranya : 1. Instalasi Hardware Merupakan instalasi komponen komponen perangkat. Ada beberapa tahapan pada saat instalasi hardware, yaitu : a. Instalasi Antena b. Instalasi Kabel Fedeer c. Instalasi Grounding Kit d. Instalasi Kabinet e. Instalasi Komponen BTS f. Instalasi Batere g. Instalasi Antena Microwave h. Instalasi Coaxial i. Koneksi Coaxial ke ODU Konfigurasi / Commissioning Konfigurasi/commissioning dilakukan agar perangkat hardware dapat dikenali oleh software. Adapun tahapan melakukan proses commissioning, yaitu : a. Login NE 1) Membuat NE 2) Masuk ke NE 3) Modifikasi NE 4) Sinkronisasi Waktu NE b. Configurasi Radio Link 1) Membuat IF 1+1 Protection 2) Configurasi IF/ODU Information 3) Konfigurasi Layanan PDH c. Create Cross Conection d. Konfigurasi Orderwire e. Browse Alarm 4.2 Pengujian

3.4.2

Perancangan Antarmuka

Membahas perancangan dari antarmuka sistem yang akan dibuat. 3.4.3 3.4.4 Implementasi Pengujian

2.

Pengujian dilakukan dari mulai selesai input parameter. Parameter-parameter tersebut diantaranya : Membuat NE, Memodifikasi NE, Input Frekuensi, Input Tx power, membuat cross conection, dan lain sebagianya. Setelah konfigurasi dasar perangkat dilakukan maka proses pointing dapat segera dilakukan, proses pointing dilakukan secara bergantian anatara site pengirim dan far end site, untuk mendapatkan sinyal sesuai link budget. Apabila proses pointing telah selesai dilakukan dan mendapatkan sinyal sesuai link budget maka hal selanjutnya adalah melakukan pengecakan terhadap receive sinyal pada beberapa kondisi waktu dan keadaan cuaca, antara lain : siang, malam, hujan, mendung dan cerah. Dari hasil pengcekan itu maka akan diketahui kualitas sinyal pada berbagai keadaan di atas.

Pengujian sistem dilakukan dengan cara melakukan pengecekan terhadap sinyal pada kondisi tertentu, sehingga nantinya dapat diketahui perbandingan kualitas sinyal yang diperoleh dari pengecekan tersebut. Tabel pengujian dapat dilihat pada lampiran.

5 5.1

PENUTUP Kesimpulan

6.

Selalu lakukan komunikasi dengan engineer pada site lawan agar tidak terjadi miss komunikasi. Segera laporkan jika terjadi masalah pada penempatan posisi ODU, sehingga actual Rx yang di inginkan tidak tercapai.

Kesimpulan yang dapat di ambil dari implementasi proyek akhir ini adalah : 1. Proses instalasi hardware dibagi menjadi beberapa langkah, di antaranya: a. Instalasi komponen antena BTS b. Instalasi kabel fedeer c. Instalasi BTS d. Instalasi microwave 2. Proses commissioning merupakan proses input parameter, mulai dari create NE, modify NE, configuration radio link, membuat cross conetion services dan configuration orderwire. Pointing dilakukan oleh installer dengan bantuan multitester dan di pantau oleh engineer melalui webLCT. 3. Multitester di koneksikan ke boom dan ke ODU sehingga akan tampil nilai yang di dapat selama proses pointing dilakukan. 5.2 Saran

7.

REFERENSI

Beberapa saran yang bisa diberikan berdasarkan pengalaman yang diperoleh penulis dalam Instalasi dan Analisis Antena WCDMA diantaranya : 1. Instaler mengetahui strandard instalasi yang di inginkan. 2. Pada saat pasang feeder posisi feeder jangan sampai cross, penyok bahkan rusak / patah. Posisi Horizontal atau Vertikal pada instalasi ODU harus sesuai dengan link budget. Pointing sebaiknya dilakukan pada malam atau pagi hari, karena pada waktu tersebut, jarang orang melakukan komunikasi memakai telepon seluler. Lakukan pointing pada kedua site secara bergantian untuk mendapatkan actual Rx sesuai link budget.

Carpenter, Tom. United States, 2007. . CWNA Certifeid Wireles Network Administrator, Officiel Study Guide. United States, 2007. Daniel, Jhon. Antennas. 1998. Doe, John. Internet Usage Within Nations. Boston: Boston Publishing, 2000. Godara, Lal C. Applications of Antenna Array to Mobile Communications, IEEE Proceeding. 1997. Godara, lc. 15. 1997. Huawei. Product microwave/Optik RTN 600. 2009. http://www.huawei.com/transport_network/pr oducts (accessed 04 13, 2010). ittelkom. konsep-dasar-sistem-wcdm. 2009. http://www.ittelkom.ac.id/library/index.php. julitra.wordpress. Alokasi-frekuensi-operatorgsm. 01 24, 2009. http://julitra.wordpress.com/2009/01/24meliha t-kembali-alokasi-frekuensi-operator-gsm/ (accessed 04 16, 2010). Roberts, Speerman. Information System: Now and Tomorrow. Chicago: Adventure Press, 2009. Utomo, Pramudi. Teknik Telekomunikasi Jilid 1. 15. Jakarta, 2008. . Teknik Telekomunikasi Jilid 2. Jakarta, 2008.

3.

4.

5.

LAMPIRAN

Tabel Pengujian Terhadap Sinyal

NO

Parameter Status Actual TX Power Actual RX Power Siang Malam (dbm) (dbm) 1 22,5 N/A N/A 0 2 22,5 N/A N/A -1,8 3 22,5 N/A N/A -2,09 4 22,5 N/A N/A -38,8 5 22,5 N/A N/A -41,2 6 22,5 N/A N/A -5,3 7 22,5 Hujan N/A -6,0 8 22,5 Hujan N/A -7,40 9 22,5 Hujan N/A -8,98 10 22,5 Mendung N/A -9,61 11 22,5 Mendung Hujan 1,27 12 22,5 Mendung Hujan 4,8 13 22,5 Mendung Hujan 6,6 14 22,5 Cerah Hujan 8,27 15 22,5 Cerah Mendung 9,5 16 22,5 Cerah Mendung 10,4 17 22,5 Cerah Mendung 16,28 18 22,5 N/A Cerah 18,2 19 22,5 N/A Cerah 20,3 20 22,5 N/A Cerah 21,8 RANGE of POWER (dbm) -6,0 s/d 24,0
Tabel Parameter Test

LAMPIRAN
Tabel Analisa

NO 1 2

Actual Rx Power 0 s/d -38,8 -41 s/d -5,3

Waktu Siang Malam n/a n/a n/a n/a

Keterangan Belum dilakukan pointing Belum terjadi komunikasi antar site Sedang dilakukan pointing Sudah dapat mengirim pesan tetapi pesan belum tentu sampai tujuan Pointing baru dilakukan pada satu site Pesan sampai ke tujuan RSL atau link quality menurun karena pengaruh cuaca dan pengecekan dilakukan pada jam sibuk Proses pointing telah selesai dilakukan Pesan sampai tujuan Karena pengaruh cuaca maka Link Quality jelek dan pengecekan dilakukan pada jam sibuk Komunikasi yang terjadi bagus Pengecekan dilakukan pada jam yang cukup sibuk Karena pengaruh cuaca Komunikasi sangat bagus

-6,0 s/d -9,61

09.00

n/a

1,27 s/d 6,6

11.30

16.00

8,27 s/d 16,28

17.00

20.00

18,2 s/d 21,8

n/a

03.00