Anda di halaman 1dari 22

UTY 1

1

Tim : UTY 1
Anggota : 1. Eka Srihartini
2. Yuniati Dwi Kurniawati
3. Amin Wastinah

1. Di era reformasi sekarang ini organisasi sector public, khususnya di lingkungan
pemerintah pusat maupun daerah sedang sibuk melakukan berbagai upaya guna
meningkatkan akuntabilitas financial maupun akuntabilitas kinerja dalam upaya
meningkatkan transparansi dan kualitas layanan public
a. Pengertian akuntabilitas dan akuntabilitas publik
Akuntabilitas (accountability) secara harfiah dapat diartikan sebagai
pertanggung jawaban. Akuntabilitas adalah tanggung jawab atas hasil.
Akuntabilitas merupakan konsep kunci dalam teori dan praktik manajemen modern
yang berarti bahwa manajer bertanggung jawab untuk melaksanakan tugas atau
sekelompok tugas yang telah ditetapkan, dan bertindak sesuai dengan aturan dan
standar yang berlaku di posisi mereka.
Akuntabilitas publik merupakan hasil dari suatu entitas kedalam bentuk
fungsinya, program dan kegiatan, maupun kebijakan suatu lembaga publik harus
dapat dijelaskan dan dipertanggung jawabkan kepada masyarakat luas (public
disclosure), dan masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi dimaksud
tanpa hambatan.
Akuntabilitas publik melekat pada fungsi pengendalian dan pengawasan, maka
informasi yang disajikan terutama aspek pelaporan keuangan kepada publik harus
auditable atau dapat diaudit oleh pihak lain baik aparat internal dan eksternal
pengawasan fungsional Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas
Daerah (Bawasda) maupun auditor lainnya yang terkait. Selain itu, akuntansi
pemerintahan sebagai penyedia informasi tidak hanya menyediakan informasi yang
bersifat keuangan tetapi juga menyediakan informasi tentang penggunaan resources
oleh setiap entitas publik yang terkait dengan tujuan Negara kesejahteraan, yang
merupakan landasan filosofi akuntansi pemerintahan (non profit organization) yang
akuntabel dan transparan.
Akuntabilitas publik merupakan tuntutan masyarakat dalam menciptakan
pemerintahan yang bersih. Akuntanbilitas publik yang tidak dapat dipisahkan
UTY 1
2

dengan transparansi yang merupakan prinsip-prinsip dasar tata pemerintahan yang
baik. Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
1) Akuntabilitas vertikal
Akuntabilitas vertikal adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana
kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban unit-unit
kerja (dinas) kepada pemerintah daerah, pertanggungjawaban daerah kepada
pemerintah pusat, dan pemerintah pusat kepada MPR
2) Akuntabilitas horisontal
Pertanggungjawaban horizontal adalah pertanggungjawaban kepada
masyarakat luas.
b. Alasan mengapa kata akuntabilitas digunakan pasca reformasi, di era
sebelumnya hanya digunakan hanya kata pertanggungjawaban
(responsibilitas).
Fenomena tersebut merupakan imbas dari tuntutan masyarakat yang mulai
disuarakan pada awal era reformasi di tahun 1998. Tuntutan masyarakat muncul
karena pada masa orde baru konsep akuntabilitas tidak mampu diterapkan secara
konsisten di setiap lini kepemerintahan yang pada akhirnya menjadi salah satu
penyebab lemahnya birokrasi dan menjadi pemicu munculnya berbagai
penyimpangan-penyimpangan dalam pengelolaan keuangan dan administrasi
negara di Indonesia. Era reformasi telah memberi harapan baru dalam
implementasi akuntabilitas di Indonesia. Apalagi kondisi tersebut didukung oleh
banyaknya tuntutan negara-negara pemberi donor dan hibah yang menekan
pemerintah Indonesia untuk membenahi sistem birokrasi agar terwujudnya good
governance.
Implementasi akuntabilitas di Indonesia pada prinsipnya telah dilaksanakan
secara bertahap dalam lingkungan pemerintahan. Dukungan peraturan-peraturan
yang berhubungan langsung dengan keharusan pernerapan akuntabilitas di setiap
instansi pemerintah menunjukan keseriusan pemerintah dalam upaya melakukan
reformasi birokrasi. Disisi lain msih terdapat beberapa hambatan dalam
implementasi akuntabilitas seperti rendahnya kesejahteraan pegawai, faktor
budaya, dan lemahnya penerapan hukum di Indonesia.

UTY 1
3

c. Perbedaan Akuntabilitas dengan Responsibilitas
Dalam literatur Australia, konsep akuntabilitas ini sering dipahami dalam dua
pengertian, (1) berkaitan dengan virtually interchangeable (dapat dipertukarkan
dengan sebenar-benarnya), dan (2) berkaitan dengan closely related (terdapat
saling keterkaitan yang bersifat tertutup). Sementara itu, responsibilitas
mempunyai sejumlah konotasi termasuk di dalamnya kebebasan untuk bertindak,
kewajiban untuk memuji dan menyalahkan, dan perilaku baik yang merupakan
bagian dari tanggung jawab seseorang. Responsibility ada pada dimensi etika,
sementara akuntabilitas ada pada dimensi demokrasi.
Jadi akuntabilitas dan resposibilitas saling berhubungan sebagai bagian dari
sistem yang menyeluruh. Akuntabilitas didasarkan pada catatan/laporan tertulis
sedangkan responsibilitas didasarkan atas kebijaksanaan. Akuntabilitas merupakan
sifat umum dari hubungan otoritasi asimetrik misalnya yang diawasi dengan
pengawasnya, yang mewakili dengan yang diwakili, dan sebagainya. Selain itu,
kedua konsep tersebut sebetulnya juga mempunyai perbedaan fokus dan
cakupannya. Responsibility lebih bersifat internal sebagai pertanggungjawaban
bawahan kepada atasan yang telah memberikan tugas dan wewenang, yang
biasanya terbatas pada bidang keuangan saja, sedangkan akuntabilitas lebih
bersifat eksternal sebagai tuntutan pertanggungjawaban dari masyarakat terhadap
apa saja yang telah dilakukan oleh para pejabat atau aparat. Ruang lingkup
akuntabilitas tidak hanya pada bidang keuangan saja, tetapi meliputi:
1) Fiscal Accountability
Akuntabilitas yang dituntut masyarakat berkaitan pemanfaatan hasil perolehan
pajak dan retribusi.
2) Legal accountability
Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana undang-undang maupun
peraturan dapat dilaksanakan dengan baik oleh para pemegang amanah.
3) Program accountability
Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana pemerintah mencapai
program-program yang telah ditetapkan
4) Process accountability
Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana pemerintah mengolah dan
memberdayakan sumber-sumber potensi daerah secara ekonomi dan efisien.
UTY 1
4

5) Outcome accountability
Akuntabilitas yang berkaitan dengan bagaimana efektivitas hasil dapat
bermanfaat memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat

UTY 1
5

2. Di bawah ini komparasi penyajian laporan posisi keuangan dan laporan laba-rugi PT
Insani tahun 2011 dan 2012
Comparative Statement of Financial Position
Laporan Posisi Keuangan Komparatif
2012 2011
Tanah
Bangunan
(-) Akumulasi Depresiasi Bangunan
Peralatan
(-) Akumulasi Depresiasi-Peralatan
Paten
Investasi Ekuitas
Investasi Utang (diperdagangkan)
Persediaan
Biaya Dibayar Dimuka
Piutang Usaha
(-) Cadangan Kerugian Piutang
Kas

Modal Sahan Biasa, $5 par
Laba Ditahan
(-) Saham Tresuri
10%, Utang Obligasi
Utang Usaha
Utang Bunga
Utang Gaji
Utang Dividen
Utang Pajak
Biaya Masih Dibayar
Provisi
1.000
6.000
(800)
1.500
(800)
380
1.700
1.180
2.200
800
1.500
(187)
5.579,39

7.800
8.002.39
(700)
0
2.500
0
320
80
100
1.450
500
2.300
5.000
(250)
3.000
(750)
400
1.700
0
2.600
740
1.370
(137)
3.306,07

6.800
6.897,4
0
1.000
2.320
41,67
680
100
90
1.350




Laporan Laba Rugi 2012
Penjualan Bersih
Harga Pokok Penjualan
Laba Kotor
Beban Operasi :
Beban Depresiasi
Beban Kerugian Utang
Beban Amortisasi
Beban lain-lain
Total
Beban dan Pendapatan lain-lain :
Pendapatan dari Investasi




1.300
150
28,88
2.350
3.828,88

200
$15,370
(7,340)
8,030








UTY 1
6

Keuntungan/kerugian dari Tanah
Keuntungan/kerugian Penjualan Peralatan
Keuntungan/kerugian dari Pelunasan Obligasi
Beban Provisi
Total
Pendapatan Operasi :
Beban Bunga Obligasi
Pendapatan Sebelum Pajak
Pajak Penghasilan (35%)
Laba (rugi) Bersih
(600)
200
(46,69)
(500)









(746,69)
3.454,43
(100)
3.354,43
(1.174,05)
2.180,38
PT Insani
Laporan Arus Kas
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2012
Metode Langsung
Laba Bersih 2.180,38
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Penurunan Persediaan 400
Kenaikan Biaya Dibayar di Muka (60)
Kenaikan Piutang Usaha (130)
Kenaikan Cadangan Kerugian Piutang 50
Kenaikan Utang Usaha 180
Penurunan Utang Bunga (41,67)
Penurunan Utang Gaji (360)
Perurunan Utang Deviden (20)
Kenaikan Utang Pajak 10
Kenaikan Biaya yang Masih Harus Dibayar 100
Kenaikan Provisi 500
Beban Depresiasi 1.300
Beban Amortisasi 28,88
Kerugian penjualan tanah 600
Keuntungan penjualan peralatan (200)
Kerugian pelunasan obligasi 46,69
Total 2.403,9
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Penjualan Tanah 600
Penjualan Peralatan 1.000
UTY 1
7

Treasury (700)
Pendapatan dari investasi 200
Total 1.100
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pelunasan Obligasi (1.100)
Membayar dividen (20)
Investasi utang (1.180)
Total (2.300)
Kenaikan kas 3.384,28
Kas awal 3.306,07
Kas Akhir 6.690,35

PT Insani
Laporan Arus Kas
Untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2012
Metode Tidak Langsung

Penjualan Bersih 15.370
Biaya depresiasi 1.300
Biaya kerugian utang 150
Biaya Amortisasi 28,88
Biaya Lain-Lain 2.350
Kerugian penjualan tanah (600)
Keuntungan penjualan peralatan 200
Kerugian pelunasan obligasi (46,69)
Beban Provisi 500
HPP 7.340
Total 11.222,19
Arus Kas bersih dari Aktivitas Operasi 4.147,81
Arus kas dari Aktivitas Investasi
Penjualan Tanah 600
Penjualan Peralatan 1.000
Treasury (700)
UTY 1
8

Pendapatan dari investasi 200
Total 1.100
Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan
Pelunasan Obligasi (1.100)
Membayar dividen (20)
Bunga Obligasi (100)
Investasi utang (1.180)
Total (2.400)
Kenaikan Kas 2.847,81
Kas Awal 3.306,07
Kas Akhir 6.153,88

UTY 1
9

Cara Perhitungan :
a. Depresiasi Bangunan
Tahun 2011 ( 1 Okt 31 Des 2011) =3 bulan
Tarif =
100%
10
X 2 =20%
3 / 12 X 20% X $ 5.000 =$ 250
Tahun 2012
$5.000
10
=$ 500
6 / 12 X
$ 1.000
10
=$ 50
b. Depresiasi Peralatan
Tahun 2011
Penyebut =
5 X 6
2
=15

5
15
X
9
12
X $ 3.000 = $ 750
Tahun 2012
5
15
X
3
12
X $ 3.000 = $ 250
4
15
X
6
12
X $ 3.000 = $ 400
4
15
X
3
12
X $ 1.500 = $ 100 +
Total Depresiasi 2012 $ 750
c. Penjualan Peralatan tanggal 1 Oktober 2012
Harga Jual $ 1.000
Harga Perolehan $ 1.500
Akumulasi Depresiasi 1 / 2 X $ 1.400 $ 700 -
Nilai Buku $ 800 -
Laba Penjualan Aset Tetap $ 200
d. Penjualan Tanah tahun 2012
Harga Jual $ 700
Harga Perolehan $ 1.300 -
Rugi Penjualan Tanah $ 600
e. Cadangan kerugian piutang = 10% dari piutang usaha
UTY 1
10

Tahun 2011 =10% x 1.370 =137
Tahun 2012 Cadangan Kerugian Piutang dihapuskan sebesar 100
Tahun 2012 =10% x 1.500 =150
f. Obligasi
Nilai jatuh tempo obligasi 1.000
Nilai tunai 1,000, bunga 12% setahun 558,39
Nilai tunai bunga =1.000 x
10
100
x
6
12
=50
10 kali tiap setengah tahun dengan tarif 12% 368,00 +
Harga jual obligasi 926,39
Diskonto obligasi 73,61
Bunga berjalan =
10
100
x
2
12
x 1.000=16,67
Jurnal
Kas 943,06
Diskonto obligasi 73,61
Utang Obligasi 1,000
Biaya bunga 16,67
Pencatatan utang obligasi sebesar nilai nominal, jadi dicatat sebesar 1,000
g. Utang bunga berjalan (dari 1 Agt 31 Des 2011)
Tahun 2011 =
10
100
x
5
12
x 1.000=41,67
Tahun 2012 tidak mempunyai utang bunga karena obligasi telah ditebus
kembali oleh PT Insani.
h. Pelunasan obligasi yang belum jatuh tempo
Nilai Nominal 1.000,00
Diskonto Obligasi yang dibatalkan
Tahun 2012 : 5 bulan X
73,61
58 buIan
= 6,35
Tahun 2013 2015 : 36 bulan X
73,61
58 buIan
= 45,69
Tahun 2016 : 1 bulan X
73,61
58 buIan
= 1,27
53,31 +
Nilai Buku Obligasi 1.053,31
Harga Pelunasan 1.100,00 -
UTY 1
11

Rugi Pelunasan Obligasi 46,69
i. Beban amortisasi Paten =400 380 =20
Beban amortisasi diskonto obligasi =7 bulan X
73,61
58 buIan
=8,88
Jadi, total beban amortisasi =28,88
j. Beban bunga obligasi
Bunga 1 Februari dan 1 Agustus : 10% X $ 1.000 =$ 100

UTY 1
12

3. PT. Dewa Komputindo
a. PPh Pasal 21 terutang untuk masa Februari 2013 semua karyawan
PPh Pasal 21 atas gaji karyawan bagian administrasi
Gaji Pokok Rp 2.500.000
Biaya Jabatan 5% X Rp 2.500.000 Rp 125.000
Penghasilan neto sebulan Rp 2.375.000
Penghasilan neto
setahun
12 X Rp 2.375.000 Rp 28.500.000
PTKP (K/0)
Diri WP Rp 24.300.000
PKP Rp 4.200.000
PPh Pasal 21 setahun :
5% X Rp 4.200.000 = Rp 210.000
PPh Pasal 21 masa Februari 2013 =
Rp 210.000
12
=Rp 17.500

PPh Pasal 21 atas gaji direktur
Gaji Pokok Rp 15.000.000
Biaya Jabatan 5% X Rp 15.000.000 Rp 500.000
Penghasilan neto sebulan Rp 14.500.000
Penghasilan neto setahun 12 X Rp 14.500.000 Rp 174.000.000
PTKP (K/2)
Diri WP Rp 24.300.000
Status kawin Rp 2.025.000
Tanggungan 2 X Rp 2.025.000 Rp 4.050.000
Jumlah PTKP Rp 30.375.000
PKP Rp 143.625.000
PPh Pasal 21 setahun :
5% X Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000
15% X Rp 93.625.000 = Rp 14.043.750 +
Rp 16.543.750
PPh Pasal 21 masa Februari 2013 =
Rp 16.543.750
12
=Rp 1.378.645,83

UTY 1
13

PPh Pasal 21 atas gaji kepala bagian operasional
Gaji Pokok Rp 10.000.000
Biaya Jabatan 5% X Rp 10.000.000 Rp 500.000
Penghasilan neto sebulan Rp 9.500.000
Penghasilan neto setahun 12 X Rp 9.500.000 Rp 114.000.000
PTKP (K/1)
Diri WP Rp 24.300.000
Status kawin Rp 2.025.000
Tanggungan Rp 2.025.000
Jumlah PTKP Rp 28.350.000
PKP Rp 85.659.000
PPh Pasal 21 setahun :
5% X Rp 50.000.000 = Rp 2.500.000
15% X Rp 35.650.000 = Rp 5.347.500 +
Rp 7.847.500
PPh Pasal 21 masa Februari 2013 =
Rp 7.847.500
12
=Rp 653.958,33
PPh Pasal 21 atas gaji karyawan bagian operasional Tidak dikenakan
dipotong PPh Pasal 21 karena penghasilan mereka selama satu bulan Rp
2.000.000 dan penghasilan tersebut kurang dari PTKP yang telah ditetapkan
yaitu sebesar Rp 2.025.000

Jadi, PPh Pasal 21 terutang untuk masa Februari 2013 semua karyawan :
PPh Pasal 21 atas gaji bag. administrasi 3 X Rp 17.500 Rp 52.500,00
PPh Pasal 21 atas gaji direktur Rp 1.378.645,83
PPh Pasal 21 atas gaji kepala bagian operasional Rp 653.958,33 +
Rp 2.085.104,16
b. PPh Pasal 25 terutang untuk masa Februari 2013
Penjualan 100/110 X (Rp 241.560.000 +Rp 362.340.000) Rp 549.000.000
Kos Barang Terjual Rp 151.200.000 +Rp 226.800.000 Rp 378.000.000
Laba Kotor Penjualan Rp 171.000.000
Biaya-Biaya
Biaya Gaji Bagian Administrasi Rp 7.500.000
Biaya Gaji Direktur Rp 15.000.000
Biaya Gaji Kepala Bagian Operasional Rp 10.000.000
Biaya Gaji Bagian Operasional Rp 20.000.000
Jumlah Biaya Rp 52.500.000
Laba Bersih Sebelum Pajak Rp 118.500.000


UTY 1
14

Penghitungan PPh Pasal 25 tiap bulan, dengan asumsi penghasilan tiap bulan
sama
Penghasilan setahun =12 x Rp 118.500.000
=Rp 1.422.000.000
Karena peredaran bruto PT Dewa kurang dari Rp 4.800.000.000 maka
memperoleh fasilitas pengurang pajak sebesar 50%
Pajak penghasilan tahun 2013
25% x Rp 1.422.000.000 =Rp 355.500.000
Fasilitas pengurang
50% x Rp 355.500.000 =Rp 177.750.000 -
PPh terutang =Rp 177.750.000
Kredit Pajak :
PPh Pasal 21 Rp 2.085.104,16 -
PPh Kurang Bayar Rp 175.664.895,84
PPh Pasal 25 terutang untuk masa Februari 2013 :
Rp 175.664.895,84
12
= Rp 14.638.741,32
Jadi, PPh Pasal 25 terutang masa Februari sebesar Rp 14.638.741,32
c. PPN Kurang Bayar (Lebih Bayar) untuk masa Februari 2013
PPN Masukan : 10/110 X Rp 385.000.000 Rp 35.000.000
PPN Keluaran : 10/110 X (Rp 241.560.000 +Rp 362.340.000) Rp 54.900.000 -
PPN Kurang Bayar Rp 19.900.000

UTY 1
15

4. Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa penerapan IFRS di Indonesia
akan mengurangi derajat konservatisme dalam proses penyusunan laporan
keuangan. Jelaskan apa yang anda ketahui tentang konsep dasar yang mendasari
pendapat tersebut! Apakah anda setuju dengan pendapat tersebut? Jelaskan!
a. Pengertian Konservatisme
Konservatisme merupakan salah satu prinsip yang digunakan dalam akuntansi.
Menurut FASB Statement of Concept No.2 dalam Sari (2004) Konservatisme
adalah reaksi hati-hati untuk menghadapi ketidakpastian dalam mencoba
memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko pada situasi bisnis telah
dipertimbangkan. Suwardjono (2010) mendefinisikan konservatisme sebagai sikap
atau aliran (mazhab) dalam menghadapi ketidak pastian untuk mengambil tindakan
atau keputusan atas dasar munculan (outcome) yang terjelek dari ketidak pastian
tersebut.
LaFond dan Roychowdhury (2007) menyatakan bahwa konservatisme dalam
pelaporan keuangan ini merupakan salah satu mekanisme dalam mengatasi
permasalahan agensi ketika timbul pemisahan antara kepemilikan dan
pengendalian. Mereka menghipotesiskan bahwa dengan semakin kecilnya
kepemilikan manajerial maka permasalahan agensi yang muncul akan semakin
besar sehingga permintaan atas laporan yang bersifat konservatif akan semakin
meningkat. Konsisten dengan hipotesa tersebut, mereka menemukan adanya
hubungan yang negatif antara kepemilikan manajerial dengan konservatisme yang
diukur dengan menggunakan ukuran asymmetric timeliness dari pengakuan laba
dan rugi.
b. Pengertian International Financial Reporting Standart (IFRS)
IFRS (International Financial Reporting Standard) merupakan pedoman
penyusunan laporaan keuangan yang diterima secara global. Sejarah terbentuknya
pun cukup panjang dari terbentuknya IASC/ IAFC, IASB, hingga menjadi IFRS
seperti sekarang ini. J ika sebuah negara menggunakan IFRS, berarti negara
tersebut telah mengadopsi sistem pelaporan keuangan yang berlaku secara global
sehingga memungkinkan pasar dunia mengerti tentang laporan keuangan
perusahaan di negara tersebut berasal.
UTY 1
16

Indonesia pun akan mengadopsi IFRS secara penuh pada tahun 2012. Dengan
mengadopsi penuh IFRS, laporan keuangan yang dibuat berdasarkan PSAK tidak
memerlukan rekonsiliasi signifikan dengan laporan keuangan berdasarkan IFRS.
Adopsi penuh IFRS diharapkan memberikan manfaat :
1) memudahkan pemahaman atas laporan keuangan dengan menggunakan SAK
yang dikenal secara internasional
2) meningkatkan arus investasi global
3) menurunkan biaya modal melalui pasar modal global dan menciptakan
efisiensi penyusunan laporan keuangan
c. Hubungan IFRS dan Konservatisme
Berdasarkan Kerangka Konseptual IFRS untuk Pelaporan Keuangan yang
dikeluarkan oleh IASB di tahun 2010, tujuan keseluruhan informasi keuangan
adalah agar dapat bermanfaat bagi investor yang ada atau investor potensial.
Berbeda dengan Kerangka konseptual Penyajian Informasi Keuangan 1989,
prinsip konservatisme akuntansi sudah bukan lagi merupakan karakteristik
kualitatif dalam kerangka konseptual yang baru tahun 2010.
Kebutuhan "konservatisme" sering terkait dengan pelaporan yang dapat
diandalkan atas peristiwa masa lalu dan yang menyiratkan penekanan pada
backward-looking. Tujuan standar akuntansi modern yang utama adalah
berorientasi masa depan, yang bertujuan untuk membantu kepentingan investor
dan pihak pengguna laporan keuangan lainnya dalam pengambilan keputusan
mereka. Dengan demikian, konservatisme tidak lagi diatur dalam prinsip akuntansi
di bawah Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS). Laporan keuangan
berdasarkan IFRS harus bersifat dapat dimengerti, relevan, dapat diandalkan dan
sebanding, tetapi tanpa bias konservatif. Hal ini juga tercermin dalam metode
akuntansi yang ditetapkan oleh Standar Akuntansi Internasional (IASB).
Namun dalam penerapan aturan IFRS tertentu, prinsip akuntansi
konservatisme masih dipertahankan pada berbagai area meskipun dalam standar
pelaporan keuangan internasional (IFRS) menyiratkan bahwa prinsip
konservatisme tidak lagi diterapkan. Ada beberapa contoh area yang prinsip
konservatisme akuntansi kemungkinan masih dipertahankan, misalnya :
a) Kompensasi kerugian menyebabkan pengakuan piutang pajak
tangguhan. Aset pajak tangguhan diakui untuk akumulasi rugi pajak belum
UTY 1
17

dikompensasi apabila besar kemungkinan laba kena pajak masa depan akan
memadai untuk dimanfaatkan dengan rugi pajak belum dikompensasi. Kriteria
probabilitas (kemungkinan) merupakan kriteria kualitatif yang bersifat
subjektif dimana dengan adanya kriteria subjective judgement ini terbuka
peluang untuk menerapkan konservatisme.
b) Kapitalisasi biaya pengembangan
Salah satu syarat Aset tak berwujud yang timbul seperti biaya pengembangan
(atau dari tahap pengembangan pada proyek internal) diakui apabila
memenuhi bagaimana aset tak berwujud tersebut akan menghasilkan
kemungkinan besar manfaat ekonomi masa depan. Dalam sebuah perusahaan
memperbarui estimasi mengenai arus kas masa depan dari biaya
pengembangan yang dikapitalisasinya, mungkin ada "efek sementara"
konservatisme yang mengarah pada penciptaan cadangan tersembunyi yang
kemudian dapat dibalik kembali (Reversed).
Intinya, Prinsip "konservatisme" tetap ada dalam penerapan IFRS. Prinsip
konservatisme berdasarkan IFRS diterapkan dalam cara konservatisme sementara
(perubahan estimasi akuntansi yang sementara seperti understated aset bersih
melalui penciptaan cadangan tersembunyi yang kemudian dapat dibalik) daripada
cara konservatisme konsisten (penilaian aset bersih yang terlalu rendah). Hal ini
berarti penekanan yang lebih rendah dari konservatisme yang konsisten pada
implementasi IFRS digantikan oleh penekanan pada konservatisme sementara
yang lebih besar.
Hal ini memiliki dampak bagi pengguna laporan keuangan karena efek
penerapan prinsip konservatisme sementara (perkiraan akuntansi diubah) memiliki
tingkat yang lebih kompleks pada pengukuran laba dibandingkan dengan aplikasi
konservatisme konsisten. Ketika prinsip konservatisme diterapkan dalam cara
sementara, perusahaan memperlakukan beberapa kegiatan secara konservatif
(item-item yang tidak memenuhi persyaratan kriteria pengakuan atau probabilitas
lain), sementara yang lain akan diperhitungkan sesuai dengan IFRS. (item-item
yang memenuhi persyaratan probabilitas dan kriteria pengakuan lainnya).
Perlakuan prinsip akuntansi campuran ini juga akan memiliki dampak bagi
pengguna laporan keuangan.
UTY 1
18

d. Pengaruh penerapan IFRS di Indonesia terhadap penurunan derajat
konservatisme dalam proses penyusunan laporan keuangan.
Berdasarkan penjelasan diatas sudah nampak jelas memang penerapan IFRS di
Indonesia dapat mengurangi derajat konservatisme terlebih karena Indonesia
sebelumnya memakai standar akuntansi berbasis cost dan kemudian beralih kepada
nilai wajar. Hal ini dapat dilihat melalui contoh di bawah ini:
Sekuritas yang di Perdagangkan
Sekuritas ini dimiliki untuk dijual dalam periode pendek. Dan perlakuan
akuntansi nya yaitu:
1) Investasi awalnya dicatat sebesar cost, dan pada periode berikutnya dinilai
sebesar nilai wajar nya.
2) Selisih antara nilai wajar dengan nilai tercatat diakui sebagai kerugian/
keuntungan yang dilaporkan dalam laba rugi
Dengan perubahan aturan ini, yaitu Metode Penilaian atas Investasi Temporer
dari Metode Lower Cost Or Market (LCOM) ke Metode Harga Wajar (Market)
maka jika harga pasar naik, perusahaan sudah harus meningkatkan nilai
investasinya, dan sudah mengakui keuntungan. Memang kalau dilihat dari sisi nilai
Investasi, penilaian dengan nilai wajar memang sesuai dengan kondisi saat ini.
Tetapi jika dilihat dari sisi keuntungan yang belum terjadi, karena memang tidak
ada suatu transaksi penjualan, maka asas konservatisme dalam penilaian investasi
sudah tidak berlaku lagi. Hal ini lah yang berarti menurunnya asas Konservatisme
dalam Akuntansi. Itu salah satu contoh dampak perubahan SAK yang mengarah ke
IFRS, belum adanya dampak aturan-aturan yang lainnya.
Tidak hanya terdapat dalam penilaian sekuritas, tertapi penurunan
konservatisme dalam penerapan IFRS juga terletak dalam penilain aset tetap.
Kesimpulan
Konservatisme akuntansi tetap "bermain" atas pengimplementasian IFRS.
Standar-standar IASB (IFRS) tidak merujuk secara eksplisit prinsip penerapan
konservatisme, karena memang tidak sesuai dengan kerangka teori IFRS. Namun,
konservatisme tidak hilang hanya karena tidak "ditekankan" dalam standar.
Dengan adanya ketidakpastian maka akan tetap ada penerapan konservatisme
dalam penyajian laporan keuangan.
UTY 1
19

Berdasarkan penjelasan konsep dasar diatas kami setuju bahwa penerapan
IFRS di Indonesia dapat menurunkan derajat konservatisme karena memang
penerapan IFRS tidak lagi menekankan prinsip konservatisme, meskipun pada
kenyataannnya ada beberapa penilaian akuntansi yang masih mempertahankan
prinsip konservatisme.

UTY 1
20

5. Pada akhir tahun 2013 ini, diketahui bahwa harga yang ditawarkan oleh Specialized ini
naik 50% dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, harga dan jumlah sepeda
yang dijual oleh Orbea tidak mengalami perubahan.
Specialized Orbea
Unit 100 50

Revenues 300.000 200.000
Cost of Goods Sold
Variable 150.000 75.000
Fixed 45.000 20.000
Total 195.000 95.000
Gross Margin 105.000 105.000

Setelah melengkapi perhitungan perbandingan antara penjualan sepeda merk Orbea
dan Specialized, kami lebih memilih untuk berinvestasi ke Orbea S. Coop. Dari
perhitungan sebelumnya, dengan gross margin yang sama, namun Specialied
menggunakan biaya variabel dan biaya tetap yang lebih tinggi. Menurut kami,
Specialized takut akan adanya resiko. Hal tersebut dibuktikan dengan pengunduran diri
sebagai sponsorship kejuaraan balap sepeda karena adanya isu akan terjadi krisis
finansial yang akan melanda Eropa di tahun 2014. Namun, Orbea S Coop, tetap
mempertahankan sebagai sponsorship walaupun adanya isu krisis finansial tersebut.
Selain itu, Specialized tidak dapat mengefisiensi untuk biaya R & D sebagai
sponsorship kejuaraan balap sepeda. Orbea tetap mempertahankan sebagai sponsorship,
hal tersebut akan menambah kepercayaan calon investor terhadap reputasi perusahaan
Reputasi perusahaan Orbea tetap terjaga. Pengaruh sponsorship terhadap brand image
adalah cenderung kuat. Sponsorship memiliki pengaruh yang signifikan dengan Brand
Image. Dengan pernyataan tersebut diharapkan penjualan sepeda merk Orbea akan
tetap stabil bahkan diharapkan akan meningkat.
Namun bagi investor yang kurang menyukai resiko, akan memilih Specialized
karena manajer perusahaan sangat berhati-hati dalam mempertimbangkan risiko yang
akan dihadapi.
Jadi dalam hal ini kami sebagai investor memilih perusahaan Orbea untuk
berinvestasi jarena prospek Orbea kedepannya sangat bagus. Hal ini dapat dilihat dari
promosi Orbea terhadap produk yang dihasilkan dalam rangka meningkatkan penjualan
produk Orbea. Selain itu dengan adanya promosi besar-besaran seperti menjadi sponsor
balap sepeda di Amerika mampu menjadikan Orbea menguasai pasar dunia dibidang
UTY 1
21

produksi sepeda. Selain itu faktor pendukung lainnya mengapa kami memilih Orbea
menjadi Investor adalah karena Orbea mampu meminimalkan biaya produksi lainnya
tanpa mengurangi kualitas serta harga yang ditawarkan tidak berubah. Dalam hal ini
isu adanya krisis di Eropa tidak begitu berpengaruh besar terhadap penjualan di Orbea.
Informasi Pendukung Pemilihan Investasi pada Orbea
The Orbea perusahaan sepeda telah menjadi pemimpin konsisten dalam jalan
tingkat atas Eropa dan pasar sepeda gunung, dan sekarang perusahaan diatur untuk
menyebarkan keberhasilannya di seluruh dunia. Perusahaan Spanyol telah membuat
nama untuk dirinya sendiri memasok frame untuk tim pro internasional seperti
Euskaltel-Euskadi, Milanezza-MSS, CCC-Polsat, dan tim sepeda gunung Orbea, di
samping tim regional di seluruh dunia. Dimulai pada tahun 2003, Orbea juga telah
menjadi sponsor sepeda untuk Jelly Belly tim bersepeda yang berbasis di AS.
Orbea adalah salah satu produsen sepeda nomor di Spanyol, dan berkat akuisisi
dari Zeus dan Veneto merek dan posisi pasar yang berkembang dari nama Orbea asli,
perusahaan telah menjadi yang terbesar kedua di Perancis.
Sementara pasar Eropa ditetapkan untuk stabil tapi relatif lambat pertumbuhan,
penjualan meledak di seluruh dunia. Pasar utama muncul untuk Orbea di Amerika
Serikat, Australia, dan Afrika Selatan, di mana Orbea penjualan naik 30 persen pada
tahun lalu, menurut manajer ekspor Maria Retegi. Perusahaan menjual 200.000 sepeda
per tahun, dengan pendapatan tahunan sebesar 33,5 juta euro.
Sepertiga dari sepeda Orbea yang dijual di Spanyol, sepertiga di Perancis, dan
sepertiga sisanya di pasar lain. Di luar Spanyol dan Perancis, Jerman menyumbang
penjualan tertinggi, mengungguli Amerika Serikat. Beberapa pertumbuhan tercepat
dapat ditemukan di Amerika Serikat. Orbea USA diciptakan sebagai anak perusahaan
yang dimiliki dari Orbea Sepeda di tahun 2002, bekerja sama dengan pasar Amerika
Serikat dan Kanada.
Bisnis di Orbea telah berkembang melalui akuisisi beberapa perusahaan, terutama
Veneto merek sepeda dari Perancis dan pembuat komponen Spanyol Zeus, yang
menyediakan Orbea dengan pengenalan gambar berharga. Sekarang nama merek
Orbea sedang semakin diterapkan pada produk di semua pasar, sementara perusahaan
menggunakan merek Zeus untuk komponen Orbea high end, termasuk garpu karbon
dan segitiga belakang.
UTY 1
22

Perusahaan ini merupakan studi yang menarik, dijalankan sebagai bagian dari yang
lebih besar koperasi. Dengan demikian, semua karyawan Orbea memiliki kepentingan
dalam keberhasilan perusahaan dan menikmati suasana yang lebih kekeluargaan.
Karyawan disediakan dengan semua informasi yang berkaitan dengan penjualan
perusahaan, dan tiga kali per tahun general manager memberikan gambaran tentang
keuntungan dan anggaran. Perusahaan mencakup dewan eksekutif dari tujuh anggota,
dan anggota dewan administratif sembilan (yang karyawan sebagai). Umpan balik
untuk masing-masing kelompok umumnya diberikan atas melalui rantai komando.
Model koperasi telah terbukti berhasil untuk Orbea, sebagai karyawan dapat - dan
mendorong - untuk berbicara secara terbuka dan sering tentang isu-isu dalam
perusahaan.
Referensi : http://autobus.cyclingnews.com/sponsors/orbea/ yang diakses tanggal
17 April 2013