Anda di halaman 1dari 5

Pelana adalah barang penyokong untuk penunggang kuda maupun muatan lain yang dii katkan ke punggung hewan.

Minnesota, Mata juling adalah kelainan gerak bola mata yang biasanya terjadi sej ak kecil. Anak-anak yang mengalami mata juling besar kemungkinannya mengalami ra bun jauh saat dewasa nanti Satu-satunya cara untuk mengobati mata juling adalah melalui operasi atau menggu nakan kacamata khusus. Sindrom tangisan kucing, disebut juga Sindrom Cri du Chat atau Sindrom Lejeune, adalah suatu kelainan genetik akibat adanya delesi (hilangnya sedikit bagian) pa da lengan pendek kromosom nomor 5 manusia. [1] [2] Manusia yang lahir dengan sin drom ini akan mengalami keterbelakangan mental dengan ciri khas suara tangis yan g menyerupai tangisan kucing. [1] Individu dengan sindrom ini bisanya meninggal ketika masih bayi atau anak-anak. Sindrom tangisan kucing disebabkan kelainan kromosom tubuh (autosomal). [2] Krom osom nomor 5 yang terlibat mengalami delesi pada lengan pendeknya (5p).[2] Keban yakan kasus terjadi akibat mutasi. [2]Suatu mekanisme translokasi genetik pada k romosom orang tua saat pembelahan sel juga menjadi penyebab kelainan ini.[2] Aki bat translokasi ini, risiko terjadinya kasus yang sama pada kehamilan berikutnya akan meningkat. [2]Tidak ditemukan hubungan antara usia orangtua saat kehamilan dengan sindrom ini. [2]Diagnosis kelainan ini dapat dilakukan pada jaringan pla senta (teknik chorionic villus sampling)saat kehamilan berusia 9-12 minggu atau dengan cairan ketuban (amnioncentesis) saat usia kehamilan di atas 16 minggu . Karakteristik Penderita sindrom tangisan kucing menunjukkan ciri utama berupa suara tangisan y ang lemah dan bernada tinggi (melengking), mirip suara anak kucing.[2] Suara tan gisan yang khas tersebut diakibatkan oleh ukuran laring yang kecil dan bentuk ep iglotis yang tidak normal. [2][5]Sejalan dengan pertambahan besar laring, suara menyerupai kucing itu akan hilang. [2] Sepertiga dari penderita tidak lagi menun jukkan suara tangis menyerupai kucing setelah berusia 2 tahun.[5] [sunting] Ciri-ciri fisik Penderita sindrom ini lahir dengan berat badan yang di bawah normal. [2] Selama masa pertumbuhan pun, tubuh penderita kecil dengan tinggi badan di bawah rata-ra ta. [2] 98% penderita memiliki otak yang kecil (mikrochepal) sehingga bentuk kep ala juga kecil saat lahir. [2] Pertumbuhan badan dan kepala lambat. [2] Ciri fis ik lain meliputi bentuk wajah bulat dengan pipi besar, jari-jari yang pendek, da n bentuk kuping yang rendah letaknya. [5] [sunting] Ciri-ciri lain 23 pasang kromosom manusia. Pada penderita sindrom tangisan kucing, kromosom nom or 5 mengalami delesi pada lengan pendeknya. Penderita sindrom tangisan kucing umumnya mengalami penyakit jantung bawaan yang terdeteksi sejak lahir. [2] Terjadi kesulitan dalam bernapas dan menelan pada b ayi penderita berhubungan dengan ukuran laring. [2] Perkembangan bahasa lambat s ehingga komunikasi lebih banyak digunakan dengan bahasa tubuh. [2] Orang dewasa dengan sindrom ini mengalami pertumbuhan otot yang abnormal sehingga menyulitkan pergerakan tubuh. [2] [sunting] Ciri-ciri kromosom Penderita sindrom tangisan kucing memiliki kromosom nomor 5 yang mengalami deles i sebagian (5p). [2][5] Lokasi delesi dibedakan menjadi terminal atau interstisi al pada bagian 15p15.2-5p15.3. [7] Delesi pada bagian 5p15.3 yang berperan pada timbulnya suara tangisan menyerupai kucing. [7]Sementara itu, kelainan fenotipe( sifat fisik yang tampak) lainnya diakibatkan oleh delesi 5p15.2. [7]Karena terja di pada kromosom tubuh maka peluang kejadian pada anak laki-laki dan perempuan a dalah sama. [2] [sunting] Pengobatan Belum ada pengobatan untuk sindrom tangisan kucing. [8] Pengobatan dilakukan ter

hadap penyakit medis seperti gangguan pernapasan, pencernaan, dan penyakit jantu ng yang dialami oleh penderita. [8] Pendidikan untuk peningkatan komunikasi baha sa lisan, tulisan, maupun stimulasi bahasa tubuh dapat dilakukan pada usia sedin i mungkin. [8] Terapi visual motorik dilakukan untuk meningkatkan fungsi tubuh y ang abnormal. [8] [sunting] Frekuensi kejadian Kasus ini terjadi pada 1 individu setiap 20.000 kelahiran. [9]Dikarenakan kecend erungan penderita sindrom ini meninggal pada usia dini maka frekuensi berkurang menjadi 1 individu setiap 50.000 kelahiran bayi yang hidup. [1] [9] Kemungkinan terjadinya keterbelakangan mental adalah 1.5 per 1000 individu. [5] Kasus sindro m tangisan kucing ini lebih banyak ditemukan pada anak perempuan. DEVIASI SEPTUM NASAL (Pergeseran Dinding Hidung) Diposkan oleh Taufik Abidin Oleh: Taufik Abidin Pendahuluan Trauma hidung banyak terjadi akibat kecelakaan yang bersifat tumpul, sehingga be resiko mengakibatkan berbagai macam komplikasi misalnya infeksi, obstruksi hidun g, jaringan parut dan fibrosis, deformitas sekunder, sinekia, hidung pelana, obs truksi duktus nasoolakrimalis, dan perforasi hidung. Berdasarkan waktu, trauma h idung terbagi atas trauma baru, dimana kalus belum terbentuk sempurna; dan traum a lama, bila kalus sudah mengeras. Berdasarkan hubungan dengan telinga luar, ada yang disebut trauma terbuka dan trauma tertutup. Arah trauma menentukan kerusak an yang terjadi, misalnya bila trauma datang dari lateral, akan terjadi fraktur tulang hidung ipsilateral jika ringan, sedangkan trauma yang berat akan menyebab kan deviasi septum nasi dan fraktur tulang hidung kontralateral. Septum hidung merupakan bagian dari hidung yang membatasi rongga hidung kanan da n kiri. Septum nasi berfungsi sebagai penopang batang hidung (dorsum nasi). Sept um nasi dibagi atas dua daerah anatomi antara lain bagian anterior, yang tersusu n dari tulang rawan quadrangularis; dan bagian posterior, yang tersusun dari lam ina perpendikularis os ethmoidalis dan vomer. Dalam keadaan normal, septum nasi berada lurus di tengah tetapi pada orang dewas a biasanya septum nasi tidak lurus sempurna di garis tengah. Deviasi septum dapa t menyebabkan obstruksi hidung jika deviasi yang terjadi berat. Kecelakaan pada wajah merupakan faktor penyebab deviasi septum terbesar pada orang dewasa. Gejala yang paling sering timbul dari deviasi septum ialah kesulitan bernapas me lalui hidung. Kesulitan bernapas biasanya pada satu hidung, kadang juga pada hid ung yang berlawanan. Pada beberapa kasus, deviasi septum juga dapat mengakibatka n drainase sekret sinus terhambat sehingga dapat menyebabkan sinusitis. Pada kasus di bawah ini, deviasi septum yang terjadi akibat trauma tumpul dan ge jala yang dialami pasien masih ringan sehingga pengobatan yang diberikan hanya b erupa simptomatik.

Definisi Deviasi septum ialah suatu keadaan dimana terjadi peralihan posisi dari septum n asi dari letaknya yang berada di garis medial tubuh. Deviasi septum dibagi atas beberapa klasifikasi berdasarkan letak deviasi, yaitu :

Tipe I; benjolan unilateral yang belum mengganggu aliran udara. Tipe II; benjolan unilateral yang sudah mengganggu aliran udara, namun masih belum menunjukkan gejala klinis yang bermakna. Tipe III; deviasi pada konka media (area osteomeatal dan turbinasi tengah). Tipe IV, S septum (posterior ke sisi lain, dan anterior ke sisi lainnya). Tipe V; tonjolan besar unilateral pada dasar septum, sementara di sisi lain masih normal. Tipe VI; tipe V ditambah sulkus unilateral dari kaudal-ventral, sehingga men unjukkan rongga yang asimetri. Tipe VII; kombinasi lebih dari satu tipe, yaitu tipe I-tipe VI.

Bentuk-bentuk dari deformitas hidung ialah deviasi, biasanya berbentuk C atau S; dislokasi, bagian bawah kartilago septum ke luar dari krista maksila dan masuk ke dalam rongga hidung; penonjolan tulang atau tulang rawan septum, bila memanja ng dari depan ke belakang disebut krista, dan bila sangat runcing dan pipih dise but spina; sinekia, bila deviasi atau krista septum bertemu dan melekat dengan k onka dihadapannya. Etiologi Penyebab deviasi septum nasi antara lain trauma langsung, Birth Moulding Theory (posisi yang abnormal ketika dalam rahim), kelainan kongenital, trauma sesudah l ahir, trauma waktu lahir, dan perbedaan pertumbuhan antara septum dan palatum. Faktor resiko deviasi septum lebih besar ketika persalinan. Setelah lahir, resik o terbesar ialah dari olahraga, misalnya olahraga kontak langsung (tinju, karate , judo) dan tidak menggunakan helm atau sabuk pengaman ketika berkendara. Diagnosis Deviasi septum biasanya sudah dapat g hidungnya. Namun, diperlukan juga osisnya. Dari pemeriksaan rinoskopi arah deviasi jika terdapat deviasi iksaan bisa normal. dilihat melalui inspeksi langsung pada batan pemeriksaan radiologi untuk memastikan diagn anterior, dapat dilihat penonjolan septum ke berat, tapi pada deviasi ringan, hasil pemer

Deviasi septum yang ringan tidak akan mengganggu, akan tetapi bila deviasi itu c ukup berat, menyebabkan penyempitan pada satu sisi hidung. Dengan demikian, dapa t mengganggu fungsi hidung dan menyebabkan komplikasi.

Gejala yang sering timbul biasanya adalah sumbatan hidung yang unilateral atau j uga bilateral. Keluhan lain ialah rasa nyeri di kepala dan di sekitar mata. Sela in itu, penciuman juga bisa terganggu apabila terdapat deviasi pada bagian atas septum. Penatalaksanaan Analgesik. Digunakan untuk mengurangi rasa sakit. Dekongestan, digunakan untuk mengurangi sekresi cairan hidung. Pembedahan. Septoplasti.

SMR (Sub-Mucous Resection). Komplikasi Deviasi septum dapat menyumbat ostium sinus, sehingga merupakan faktor predispos isi terjadinya sinusitis. Selain itu, deviasi septum juga menyebabkan ruang hidu ng sempit, yang dapat membentuk polip. Jika Menolak ASI, kemungkinan disebabkan oleh: 1. Kurang sehat. Kondisi tubuh bayi yang kurang sehat bisa membuat bayi kesulitan mengisap dengan baik, sehingga ASI yang didapat sedikit. Akhirnya bayi jadi capek atau frustras i, dan menolak menyusu. 2. Kesakitan. Bayi yang mengalami memar akibat lahir dengan alat bantu (misalnya: vakum) mungk in menolak menyusu jika bagian yang memar ini terpencet tiap kali ia menyusu. 3. Tersumbat hidungnya. Bayi yang hidungnya tersumbat (karena pilek) mungkin menolak menyusu karena kesu litan bernafas. 4. Sariawan. Bayi yang sedang sariawan, atau mulutnya terinfeksi jamur Candida mungkin hanya mau mengisap beberapa kali saat menyusu, lalu berhenti dan menangis. 5. Sedang tumbuh gigi. Bayi yang sedang tumbuh gigi mungkin merasa gusinya nyeri, atau air liurnya berl ebihan, atau agak demam, sehingga menolak menyusu karena merasa tidak nyaman. 6. Mengantuk. Bayi yang terpengaruh efek sedatif (bius) obat-obatan mungkin menolak menyusui k arena mengantuk. 7. Bingung puting. Bayi yang diberi susu botol atau empeng terlalu dini (sebelum 2 minggu) mungkin yang sangat menolak menyusu karena kesulitan menguasai teknik mengisap payudara berbeda dengan mengisap dot. 8. Tidak mampu `mengambil' cukup ASI untuk memenuhi kebutuhannya. Bayi yang belum menguasai teknik menyusu mungkin hanya mampu mengisap ASI sediki t sehingga harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengisap lebih lama atau lebih dalam. Akibatnya ia jadi capek atau frustasi, lalu menolak menyusu. 9. Ingin `melawan' perlakuan yang tidak menyenangkan. Jika ibu atau pengasuh kurang menguasai teknik mengatur posisi bayi saat akan me nyusu, bayi bisa saja merasa diperlakukan kasar atau disakiti. Sebagai upaya `pe rlawanan' , ia pun menolak menyusu. 10. Terganggu isapannya. Jika ibu sering memegangi atau mengguncang payudara saat menyusui, posisi mulut bayi terhadap payudara bisa terganggu. Akibatnya bayi merasa tidak nyaman dan me nolak menyusu. 11 Dibatasi jadwal menyusunya. Jika ibu menyusui hanya pada jam-jam tertentu dan bukan menurut keinginan bayi, bayi bisa frustrasi karena kelaparan dan malah menolak menyusu.

12 Terganggu semburan ASI. Aliran ASI yang terlalu cepat dan deras saat bayi mulai mengisap bisa membuat ba yi tersedak. Jika terjadi berulang kali selama menyusu, bayi mungkin jadi frustr asi dan menolak menyusu. 13. Merasa terganggu oleh suatu perubahan. Bayi usia 3-12 bulan mudah terganggu oleh berbagai perubahan: berpisah dengan ib unya, ada pengasuh baru, pindah rumah, kedatangan tamu, ibunya sakit (atau sedan g menstruasi), payudara ibu terinfeksi, bau tubuh ibu berubah, dsb. Ketika suatu perubahan dirasa mengganggu, bayi bisa jadi tidak menangis melainkan langsung ` mogok' menyusu.