Lampiran HISTORIS KEBERADAAN JALAN DI DEPAN RUMAH YANG SAYA TEMPATI Pada pertengahan tahun 60-an ketika saya menginjakkan

kaki pertama kali di Sunter di depan rumah saya sudah merupakan “jalan kampung” membujur dari Timur ke Barat melintasi jalan utama (waktu itu disebut “Jalan Baru”). Kondisinya masih merupakan rawa-rawa dan sawah. Ketika itu belum ada kali. Yang ada hanyalah saluran irigasi. Tahun 1974 dimulainya pembangunan kali. Untuk menghubungkan jalan tersebut dibangunlah jembatan atas swadaya Almarhum H. Djasmani dan sebagian masyarakat. Masyarakat menyebutnya adalah “Jembatan Salam”. Entah mengapa? Saya H. Salam selaku warga RW 04 kelurahan Sunter Agung menempati rumah diatas tanah negara di kelurahan Sunter sudah sejak lama. Pada awalnya saya membuka usaha warung pada tahun 1973 di sebelah Timur jalan Baru. lalu pindah, saya menempati tanah almr. H. Djasmani di sebelah Barat jalan Baru / kali kemudian membelinya pada tahun 1977. Di depan rumah (sebelah utara) merupakan akses jalan membujur dari Jembatan Salam (pinggir kali) ke arah Barat sepanjang ± 300 mtr. menghubungkan jalan Baru Ancol Selatan (jalan raya) dengan jalan LKMD/K (pemukiman penduduk sebelah Barat kali). Tahun 1987 di sebagian lokasi tersebut yang sebelumnya merupakan pesawahan mulai berubah fungsi menjadi kawasan Real Estate / pemukiman rumah mewah (Griya) dan ruko. Kini, antara Griya dan pemukiman warga RW 04 kelurahan Sunter Agung masih merupakan lahan kosong yang cukup luas asset pengembang. Di blok areal seluas itu masih tetap berdiri terkesan satu-satunya rumah yang masih tetap bertahan, adalah rumah H. Salam; kebetulan posisinya sangat strategis dekat jalan raya dan jembatan. Pada Desember 1996; jembatan yang merupakan swadaya dan asset masyarakat dibongkar paksa tanpa kompromi dengan warga, dibiayai oleh pihak pengembang dengan memanfaatkan unsur aparat kelurahan. Alasannya, sudah ada jembatan yang lebih kokoh-permanen dan akan segera diadakan “lomba getek” (ternyata lomba getek tidak pernah ada). Alhasil, akses jalan yang menghubungkan jalan raya dengan Jln. LKMD/K (jalan di depan rumah saya) menjadi buntu. Pada tahun 1993-2003, pihak pengembang mengurug kawasan arealnya terutama lahan yang masih kosong lebih dari tiga kali. Alhasil, sebagian jalan sepanjang ± 100 meter ke arah Barat dari warteg bapak Wirjo kehilangan jejak (gbr.C). Sementara itu, setiap kali ada proyek pengurugan saya sekeluarga mempertahankan keberadaan jalan yang ada di depan rumah saya yang merupakan sisanya sepanjang ± 30 mtr. agar tidak diurug. Lebih dari tiga kali pengurugan (terakhir 2003) saya sekeluarga berhasil mempertahankan keberadaan jalan tersebut. Beberapa bulan kemudian masih tahun yang sama (1995) ada pihak yang mengklaim “jalan di depan rumah saya” tanpa bukti otentik. Mereka berupaya menjualnya kepada pihak pengembang. Setelah pengembang merespon, mereka pun segera memagarinya dengan pagar seng (gbr A). Dalam pemagaran tersebut dilakukan secara sepihak tanpa kompromi. Tentu saja keluarga saya pun berreaksi. Saya melayangkan “surat pengaduan” kepada Walikota dengan tembusan: Camat, Lurah, LKMD/K, dan RT/RW setempat. Follow up-nya saya dan pihak yang mengklaim (Bapak Djakim) segera dipertemukan di kantor kelurahan. Dalam pertemuan tersebut dihadiri pula oleh ketua RW 04 (H. Sain) dan ketua LKMD/K (Djudju Subagio). Bapak

Djasmani mengklaim atas tanah eks jalan tersebut. Penulis. meskipun pelakunya berbeda dan hal ini telah Saya laporkan ke kelurahan. Abdul Salam Kepala Keluarga (73) . pihak Bapak Djakim agar menghentikan semua kegiatan berkenaan dengan pemagaran dan segera mencabut kembali pagar yang menghalangi ruang gerak keluarga saya”. Adha Iskandar Anak (39) H. Lagi-lagi mereka tidak bisa membuktikannya secara otentik. 1 Oktober 2005 Saksi Sejarah. namun pada April 2005 kembali lagi menghangat. bahwa ayahnya dahulu pernah meminjamkan jalan kepada masyarakat (termasuk sisa jalan yang ada di depan rumah saya). Akibat ambisi dan akumulasi kekecewaan mereka. Dua kali pertemuan hanya sampai ditingkat RW. Selama ± 10 tahun tidak ada yang mengklaim keberadaan jalan tersebut. Pengurugan paksa pada 18 September ‘05. Dan berakhir mereka melakukan kegiatan pada 3 Juni 2005. Dan kini masih diklaim oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Demikianlah historis dan kronologis tentang keberadaan jalan yang saya buat dengan sebenar-benarnya. Maka diputuskan: “. Perkembangan berikutnya. Beberapa kali mereka ingin mengukur tanah rumah yang saya tempati berikut jalan. Mereka ingin memaksa mengukur tetapi saya berhasil menolaknya... tidak menghasilkan suatu keputusan. Mereka mengklaim. (Berkas terlampir). Jakarta. Djakim dan kelompoknya mengklaim kembali atas tanah jalan tersebut. maka mereka melakukan serangkaian kegiatan secara brutal dan tidak bertanggungjawab dan ini saya anggap sebagai teror murahan : 1) 2) 3) Pada 15 September ’05 mereka melakukan pemagaran paksa di sekitar rumah kami tanpa kompromi. tetapi saya dan keluarga menolak dan menghalang-halanginya. Mereka melakukan pendekatan dengan pihak saya dan pengurus RT/RW lebih mengedapankan pendekatan historis daripada pembuktian otentik. pada Agustus 2005 ada pihak lain yang mengaku sebagai ahli waris dari almarhum H.. Pihak Bapak H.Kusmana selaku Lurah dan pimpinan musyawarah mengklarifikasi atas kasus tersebut. Penebangan pohon secara paksa 20 Oktober ’05.

TANGAN 2 14 3 15 4 16 5 17 6 18 7 19 8 20 9 21 10 22 11 23 12 24 . 13 NAMA RT / RW UMUR TD. Kecamatan Tanjung Priok. Salam itu sejak dahulu merupakan jalan masyarakat (jalan kampung) yang menghubungkan jalan raya dengan pemukiman masyarakat walaupun kini sudah buntu. SALAM. Jakarta Utara. No.PERNYATAAN WARGA RW 04 KELURAHAN SUNTER AGUNG ATAS KEBERADAAN JALAN DI DEPAN RUMAH H. TANGAN No. Benar di depan rumah H. 1 NAMA RT / RW UMUR TD. Jalan tersebut terletak di RT 007/04 kelurahan Sunter Agung.

Jakarta Utara. 1 TD. Kecamatan Tanjung Priok. NAMA JABATAN No. Benar di depan rumah H. TANGAN CAP/STEMPEL 2 3 4 5 6 7 8 9 SURAT PERNYATAAN .PERNYATAAN PENGURUS RT / RW 04 KELURAHAN SUNTER AGUNG ATAS KEBERADAAN JALAN DI DEPAN RUMAH H. Salam itu sejak dahulu merupakan jalan masyarakat (jalan kampung) yang menghubungkan jalan raya dengan pemukiman masyarakat walaupun kini sudah buntu. SALAM. Jalan tersebut terletak di RT 007/04 kelurahan Sunter Agung.

Posisi saya hanya sebagai wakil dari orangtua dalam pertemuan tersebut (tanpa Surat Kuasa). Salam sisanya dibagi 2 (dua) (plus eks jalan)”. saya: Nama Kelahiran Alamat : Adha Iskandar : Jakarta. orangtua masih ada. Adha Iskandar SAKSI-SAKSI: _______________ _______________ _______________ _______________ . 24 Oktober 2005 Yang membuat Pernyataan. orangtualah yang lebih berhak mengambil keputusan. Dengan ini saya menyatakan menarik kembali kesepakatan yang telah ditandatangani antara saya dan Yusuf pada tanggal 11 Agustus 2005 yang berbunyi: “Tanah diukur semuanya ambil sesuai surat H. Jakarta. Demikian Surat Pernyataan ini saya buat. posisi saya bukanlah orang yang tepat untuk mengambil kebijaksanaan dan keputusan. semoga pihak-pihak yang berkepentingan maklum adanya.34 Kelurahan Sunter Agung. Dalam hal urusan tanah / rumah dan atau sebagian jalan di depan rumah. Setia Agung RT 007/04 No.Yang bertanda tangan dibawah ini. 30 November 1966 : Jln. Jakarta Utara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful