Anda di halaman 1dari 2

Klasifikasi Tekanan Darah menurut JNC 7 Klasifikasi Tekanan Darah Tekanan Darah Sistolik (mmHg) Tekanan Darah Diastolik

(mmHg)

Normal

< 120

< 80

Prehipertensi

120 139

80 89

Hipertensi derajat 1

140 159

90 99

HIpertensi derajat 2 > 160 ETIOLOGI & PATOGENESIS Penyebab Hipertensi Esensial biasanya multifaktorial yang timbul dari interaksi berbagai macam faktor risiko tertentu. Adapun faktor risiko yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Faktor risiko: Usia lanjut, jenis kelamin wanita, riwayat keluarga hipertensi, diet asupan garam, stress, obesitas (kegemukan), dislipidemia (kolesterol LDL tinggi), merokok, dan diabetes mellitus. 2. Sistem saraf simpatis 3. Keseimbangan vasodilatasi dan vasokonstriksi pembuluh darah 4. Sistem Renin Angiotensin Tubuh kita memiliki sebuah sistim otonom untuk mengatur tekanan darah. Sistem ini melibatkan berbagai organ tubuh yang menyekresikan zat-zat medulator tertentu (gambar 1). Apabila tekanan darah kita turun, ginjal akan menghasilkan renin yang disekresikan ke pembuluh darah. Renin ini akan mengaktifkan zat yang dihasilkan oleh Hati yang bernama Angiotensinogen menjadi Angiotensin I. Angiotensin I akan diubah menjadi Angiotensin II oleh suatu enzim bernama Angiotensin Converting Enzym (ACE) yang dihasilkan di paru. Angiotensin II ini ada 2 jenis, salah satunya adalah yang dapat meningkatkan tekanan darah dengan jalan vasokonstriksi pembuluh darah. Selain itu, Angiotensin II akan memicu pelepasan aldosteron oleh korteks adrenal (zona glomerulosa) yang berfungsi meningkatkan retensi (penarikan) air di ginjal, menarik natrium, menyekresi kalium sehingga dapat meningkatkan tekanan darah. Jika tekanan darah sudah naik, maka akan ada feedback negatif agar produksi renin di ginjal diturunkan.

> 100

Keluhan sering berdebar-debar karena dipengaruhi saraf simpatis


Sistem saraf simpatis mempengaruhi tekanan darah karena efek vasokonstriksi pembuluh darah dan peningkatan frekuensi denyut jantung. Faktor yang paling berperan disini adalah stress emosional dan aktifitas fisik.

Keluhan sering miksi pada malam hari karena hipertensi yang berat
Biasanya, hipertensi yang sudah menimbulkan gejala adalah hipertensi yang sudah lebih berat. Diantara gejalanya adalalah sakit kepala, nyeri kuduk, nokturia (sering kencing malam hari), dizziness (oyong), tinitus (terdengar suara-suara mendenging, dsb), epistaksis (mimisan), dll.

Keluhan tidur harus dengan bantal yang relatif tinggi ini desebabkan karena gejala sebelumnya yang tak teratasi dengan baik.
Hal ini disebabkan karena gangguan fungsi pompa jantung dalam mengisi dan memompa darah dari paru, akibatnya terjadi penumpukan darah di paru (edema paru) dan menyebabkan peningkatan tekanan pada pembuluh darah paru. Maka fungsi paru pun terganggu dan terjadilah sesak napas. Keluhan sesak napas ini muncul saat beraktivitas, misalnya naik tangga, yang akan membaik setelah beristirahat. Jika tidak segera diatasi, keluhan tersebut dapat terus berlanjut walau pada saat istirahat, yaitu ketika pasien tidur terlentang. Oleh karena itu pasien harus tidur dengan banyak bantal menyangga kepala bahkan baru lega pada posisi setengah duduk.