Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Leaching merupakan proses pengambilan logam berharga secara selektif dari bijih dengan leaching agents sehingga didapatkan suatu larutan kaya. Leaching juga bertujuan menaikan kadar dari bijih. Dalam melakukan leaching menurut Habashi 1982 ada beberapa hal yang harus diperhatikan yaitu: 1. Leaching agents sebaiknya dapat diregenerasi agar bernilai ekonomis. 2. Leaching agents harus murah dan mudah didapat 3. Material umpan harus bebas dari mineral-mineral lempung 4. Leaching agents bersifat tidak beracun, tidak mudah terbakar dan tidak korosif 5. Material umpan harus bersifat porous sehingga leaching agents mudah kontak dengan material umpan Produksi tembaga 20% dilakukan secara

hidrometalurgi, 80% dilakukan secara pirometalurgi dan elektrometalurgi. Tembaga adalah salah satu dari sekian banyak macam mineral kelas menengah yang penggunaan relatif lebih banyak ketimbang logam mineral yang lain. Sebagai contoh sederhana, tembaga identik dengan kabel, karena tembaga adalah penghantar listrik terbaik (sampai saat ini). Seluruh alat elektronik menggunakan kabel sebagai media penghantar listriknya. Dan masih banyak lainnya peralatan-peralatan yang menggunakan kabel sebagai media penghantar arus listriknya. Tembaga di alam ditemukan dalam bentuk bijih yang bermacam-macam. Teknik leaching yang bisa digunakan untuk tembaga menurut Habashi 1982 yaitu:. Insitu Leaching Insitu leaching disebut juga sebagai leaching in places. Teknik leaching ini merupakan teknik yang paling tua dan sederhana serta diterapkan pada sisa-sisa penambangan. Jadi dapat dikatakan produk yang dihasilkan merupakan produk sampingan (by product). Waktu yang diperlukan sangat lama atau skala tahunan dan terutama diterapkan untuk bijih tembaga berkadar rendah. Teknik

leaching ini dilakukan di Miami Copper Company (Arizona) untuk melarutkan tembaga dari bijih dengan kadar 0,15% tembaga dengan waktu 10-15 tahun. 1.2 Rumusan Masalah 1) Apa saja jenis-jenis leaching ? 2) Bagaiman proses produksi tembaga? 3) Bagaimana proses leaching pada produksi tembaga ?

1.3 Tujuan 1) Untuk mengetahui jenis-jenis leaching. 2) Mengetahui proses produksi khususnya tembaga. 3) Mengetahui proses leaching pada produksi tembaga.

1.4 Manfaat 1) Dapat mengetahui jenis-jenis leaching dan perbedaannya. 2) Dapat mengetahui proses produksi tembaga khususnya pada tahap leaching.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah Tembaga Tembaga adalah salah satu dari sekian banyak macam mineral kelas menengah yang penggunaan relatif lebih banyak ketimbang logam mineral yang lain. Sebagai contoh sederhana, tembaga identik dengan kabel, karena tembaga adalah penghantar listrik terbaik (sampai saat ini). Anda semua pasti tahu betapa bergunanya kabel itu. Seluruh alat elektronik menggunakan kabel sebagai media penghantar listriknya. Dan masih banyak lainnya peralatan-peralatan yang menggunakan kabel sebagai media penghantar arus listriknya. Tembaga di alam berupa batu. Batuan mineral. Di alam batu tembaga atau pada istilah penambang disebut Cu Ore, jenisnya sangat beragam. Jenis-jenis tembaga tersebut dapat ditinjau dan dikenali dengan melihat dari ikatan-ikatan kimianya. Jenis-jenis tembaga tersebut dilihat dari ikatan kimianya adalah sebagai berikut : 1. Jenis ikatan Sulfida : Chalcopyrite, bornite, covelite, chalcocite, dll. 2. Jenis ikatan Oksida : Cuprit, Tenorite. 3. Jenis ikatan Carbonat : Malchite, Bornite, dll. 4. Native atau sudah menjadi tembaga di dalam batuan. Tembaga berwarna coklat keabu-abuan dan mempunyai struktur kristal FCC. Tembaga ini mempunyai sifat sifat yang sangat baik yakni; sebagai penghantar listrik dan panas yang baik, mampu di tempa, duktil dan mudah dibentuk menjadi plat-plat atau kawat. Bijih-bijih tembaga dapat diklasifikasikan atas tiga golongan;Bijih Sulfida, Bijih Oksida.Bijih murni (native).

Dari jenis-jenis ikatan tersebut bisa ditentukan jenis proses yang cocok dengan karakter ikatan tersebut. Misal ikatan carbonat tentu berbeda dengan proses tembaga native. Jika jenis native maka tidak perlu repot, karena tinggal smelting, beres. Tetapi untuk tembaga jenis ini cukup jarang di jumpai di Indonesia. Untuk jenis ikatan carbonat ini, contohnya malchite. Malchite dengan rumus kimia CuCO3. Untuk mendapatkan Cu (copper/tembaga) murni Untuk memecah ikatan kimia tersebut dibutuhkan alat maupun bahan penunjang. Bahan penunjang pada malchite yang paling utama adalah kimia. Jenis kimia yang dipakai banyak sekali dan sangat mudah dibeli di pasaran. Setelah di campur kimia atau istilah yang biasa dipakai Leaching. Setelah melalui proses Leaching, mendapatkan cairan tembaga berwarna biru atau hijau (tergantung tingkat kadar prosentase tembaga yang terkandung dalam batuan tembaga yang kita proses tadi). Setelah terdeteksi bahwa hasil dari Leaching tersebut sudah tidak mengandung tembaga lagi, maka kita bisa mulai proses berikutnya, yaitu mengambil logam tembaga dari cairan hasil Leaching yang biasa di sebut dengan istilah Cementation. Penarikan atau Cementation ini bisa menggunakan berbagai metode. Bisa menggunakan kimia, bisa menggunakan logam. Proses-proses tersebut adalah sebagai berikut : 1. Menggunakan kimia. Kalau menggunakan kimia, tinggal mencampur kimia tersebut ke seluruh cairan tembaga terus diaduk-aduk, kemudian di tunggu beberapa jam maka cairan tersebut akan menggumpal, lalu tinggal disaring dan kemudian dikeringkan. Setelah kering bentuknya sepeti keripik berwarna biru.

Perlu diperhatikan tingkat kekeringan harus benar-benar kering, karena jika belum terlalu kering maka akan mempengaruhi proses berikutnya. 2. Menggunakan logam. Menggunakan logam ini juga relatif mudah. Hanya tinggal mencampurkan logam ke dalam cairan tembaga dan tinggal menunggu hasilnya. Tetapi menggunakan logam ini lebih bagus, karena hasil yang terbentuk sudah berupa serbuk tembaga dengan warna khas tembaga. 2.2. Proses Produksi Tembaga Pembuatan tembaga dilakukan dalam beberapa tahap. Tembaga terikat secara kimia di dalam bijih pada bahan yang disebut batu gang. Untuk mengumpulkan bijihbijh itu biasanya dilakukan dengan membersihkannya dalam cairan berbuih, di mana di situ ditiupkan udara. Ikatan tembaga dari bijih yang digiling sampai halus dicampur dengan air dan zat-zat kimia sehingga menjadi pulp (bubur) pada suatu bejana silinder. Zat-zat kimia (yang disebut Reagens) berfungsi untuk mempercepat terpisahnya tembaga. Pada bubur tersebut ditiupkan udara atau gas sehingga timbul buih yang banyak. Bagian-bagian logam yang kecil sekali melekat pada gelembung udara atau gas tersebut. Di situ terdapat semacam kincir yang berputar dengan kecepatan sedemikian rupa sehingga gaya sentrifugal melemparkan buih tersebut dengan mineral keluar tepi bejana sehingga terpisah dari batu gang. Setelah proses tersebut logam dihilangkan airnya. Proses selanjutnya adalah pencarian di dalam suatu dapur mantel dengan jalan membakarnya dengan arang debu. Di sini dapat dipisahkan zat asam dan batu-batu silikon dan besinya dioksidasikan menjadi terak yang mengapung pada copper sulifida. Pengolahan tembaga selanjutnya adalah dengan membawa isi dapur (yang disebut matte) ke konverter mendatar. Di sini belerang akan terbakar oleh arus udara yang kuat. Kemudian tembaga yang disebut blister sekali lagi dicairkan di dalam sebuah dapur anode. Dalam proses ini (yang disebut polen) terjadi proes pengurangan zat asam. Proses selanjutnya adalah pencarian di dalam suatu dapur mantel dengan jalan membakarnya dengan arang debu. Di sini dapat dipisahkan zat asam dan batu5

batu silikon dan besinya dioksidasikan menjadi terak yang mengapung pada copper sulifida. Pengolahan tembaga selanjutnya adalah dengan membawa isi dapur (yang disebut matte) ke konverter mendatar. Di sini belerang akan terbakar oleh arus udara yang kuat. Kemudian tembaga yang disebut blister sekali lagi dicairkan di dalam sebuah dapur anode. Dalam proses ini (yang disebut polen) terjadi proes pengurangan zat asam. Di bawah ini adalah deskripsi singkat dari jalan. 1. Pertambangan Awal penambangan tembaga adalah menambang bijih sulfida dan oksida melalui menggali atau peledakan dan kemudian menghancurkan ke ukuran yang lebih kecil. 2. Penggilingan Bijih hancuran pertambangan adalah bola atau batang-digiling dalam jumlah besar, berputar, mesin silinder sampai menjadi bubuk biasanya mengandung kurang dari 1 persen tembaga. Bijih sulfida dipindahkan ke tahap berkonsentrasi, sementara bijih oksida yang diarahkan ke tangki pencucian. 3. Berkonsentrasi Sulfida dalam tembaga sekitar 15%. . Air didaur ulang. Tailing (impurities) yang mengandung oksida tembaga yang diarahkan ke tangki pencucian atau dikembalikan ke daerah sekitarnya. Setelah tembaga telah terkonsentrasi dapat berubah menjadi katoda tembaga murni dalam dua cara yang berbeda: Pelucutan & electrowinning atau peleburan dan pemurnian elektrolitik. 4 a. Leaching Oksida bijih dan tailing tercuci oleh larutan asam lemah, menghasilkan solusi tembaga sulfat lemah. b.Peleburan Beberapa tahap mencair dan memurnikan hasil kadar tembaga, berturut-turut, dalam matte, melepuh dan, akhirnya, tembaga murni 99%. Tembaga daur ulang

memulai perjalanannya untuk menemukan penggunaan lain dengan menjadi resmelted. Peleburan tembaga melibatkan tiga langkah:

Roasting - Bijih konsentrat dipanggang atau dipanaskan untuk menghilangkan sulfur dan kelembaban.

Smelting - Tembaga konsentrat dicampur dengan silika (pasir) dan kapur kemudian dipanaskan dalam tungku untuk membentuk dua bercampur (secara alami memisahkan) lapisan. Satu lapisan adalah limbah yang terdiri dari besi dan senyawa silika dan dibuang sebagai terak. Sekitar 75% dari konsentrat tembaga berakhir sebagai terak. Lapisan lain yang disebut "matte tembaga" terdiri dari tembaga, besi sulfida, dan logam lainnya.

Konversi - tembaga Matte ditransfer ke konverter, di mana silika lebih yang ditambahkan untuk membantu memisahkan menjadi copper slag yang kaya, yang kembali ke crusher, dan "tembaga blister," yang dikirim ke tungku untuk casting.

5 a. Elektrowining (SX / EW) Tembaga diperlakukan dan dipindahkan ke tangki proses elektrolisis. Ketika bermuatan listrik, ion tembaga murni bermigrasi langsung dari solusi untuk pemula katoda yang terbuat dari foil tembaga murni. Logam mulia dapat diekstraksi dari solusi. b. Electrolytic Refining Anoda dilemparkan dari tembaga hampir murni direndam dalam bak asam. Ion tembaga murni bermigrasi elektrolitik dari anoda ke "lembar starter" yang terbuat dari foil tembaga murni di mana mereka deposit dan membangun ke katoda 300 pon. Emas, perak dan platinum dapat pulih dari mandi digunakan. 6. Katoda Tembaga Murni Katoda dari 99,9% kemurnian dapat dikirim sebagai mencair saham untuk pabrik atau pengecoran. Katoda juga dapat dilemparkan ke batang kawat, billet, kue

atau ingot, pada umumnya, seperti tembaga murni atau paduan dengan logam lain.Katoda diubah menjadi:

Kawat Rod - digulung batang sekitar 1/2 "dengan diameter yang ditarik oleh pabrik kawat untuk membuat kawat tembaga murni dari semua pengukur.

Billet - log 30 ', sekitar 8 "diameter, dari tembaga murni yang digergaji ke dalam panjang pendek yang diekstrusi dan kemudian ditarik sebagai stok tabung, batang dan bar ukuran bervariasi banyak dan bentuk Rod saham dapat digunakan untuk menempa..

Cake - lembaran tembaga murni, umumnya sekitar 8 tebal dan sampai 28 'panjang, mungkin panas-dan cold-rolled untuk menghasilkan pelat, lembaran, strip dan foil.

Ingot - Bricks dari tembaga murni dapat digunakan oleh pabrik untuk paduan dengan logam lain atau digunakan oleh pengecoran untuk casting. Proses pemurnian bijih tembaga : Proses pemurnian bijih tembaga dapat

dilakukan dengan dua cara; A. Proses Pyrometallurgy Proses ini menggunakan temperatur tinggi yang diperoleh dari pembakaran bahan bakar. Bijih tembaga yang telah dipisahkan dari kotoran-kotoran (tailing) dipanggang untuk menghilangkan asam belerang dan selanjutnya bijih ini dilebur.Berikut ini diberikan gambar dapur peleburan tembaga tersebut.

1-lining; 2-nose or mouth; 3-tuyere; 4-roller stand. Pada peleburan tersebut bijih-bijih dipisahkan dari terak dan akan dihasilkan matte, selanjutnya matte ini diproses pada converter sehingga unsur-unsur besi dan belerang dapat dipisahkan dan akan menghasilkan tembaga blister.Tembaga blister masih mengandung sejumlah unsur-unsur besi, belerang, seng, nikel, arsen dsb. sehingga blister ini harus diproses ulang (refining) yang pelaksanaannya dapat dilakukan pada Reverberatory B. Proses Hydrometallurgy Metoda ini ini dilakukan dengan cara melarutkan bijih-bijih tembaga (leaching) ke dalam suatu larutan tertentu, kemudian tembaga dipisahkan dari bahan ikutan lainnya (kotoran). a. Untuk meleaching bijih tembaga yang bersifat oksida, digunakan asam sulfat (H2SO4), seperti ditunjukkan pada reaksi di bawah ini; CuCO3 . Cu (OH)2 + 2 H2SO4 -> 2 CuSO4 + CO2 + 3 H2O

b. Untuk meleaching bijih yang bersifat sulfida atau native digunakan ferri sulfat (Fe2(SO4)3), seperti bijih cholcocite di bawah ini ; Cu2S + 2 Fe2 (SO4)3 -> Cu SO4 + 4 FeSO4 + S c. Untuk bijih chalcopyrite dan bornite, reaksinya berjalan lambat dan tidak dapat larut seluruhnya. Setelah hasil leaching dipisahkan dari bagian-bagian yang tidak dapat larut, kemudian larutan ini diproses secara elektrolisa,sehingga didapatkan tembaga murni. 2.3. Leaching Pada Produksi Tembaga Teknik leaching yang bisa digunakan untuk leaching tembaga yaitu: [Habashi, 1982] 1. Insitu Leaching Insitu leaching disebut juga sebagai leaching in places. Teknik leaching ini merupakan teknik yang paling tua dan sederhana serta diterapkan pada sisa-sisa penambangan. Jadi dapat dikatakan produk yang dihasilkan merupakan produk sampingan (by product). Waktu yang diperlukan sangat lama atau skala tahunan dan terutama diterapkan untuk bijih tembaga berkadar rendah. Teknik leaching ini dilakukan di Miami Copper Company (Arizona) untuk melarutkan tembaga dari bijih dengan kadar 0,15% tembaga dengan waktu 10-15 tahun.

Gambar 1. Skematik Insitu Leaching

10

2. Heap Leaching Teknik heap leaching dilakukan pada tumpukan bijih berkadar rendah (tailing dari suatu proses pengolahan bijih) yang bagian bawahnya diberi lapisan kedap air (umumnya berupa aspal). Leaching agents disemprotkan dari atas tumpukan dan larutan kaya yang dihasilkan ditampung didalam kolam-kolam kecil dibagian bawah sebelah kanan dan kiri tumpukan bijih tersebut. Untuk lebih jelas nya dapat dilihat pada gambar 2. Waktu leaching-nya skala bulanan karena ada bantuan mikroorganisme yang aktif berperan untuk mempercepat proses pelarutan. Skala komersial heap leaching dilakukan di Rio Tinto, Spanyol untuk leaching tembaga dan seng dari bijih pirit (pyrite).

Gambar 2. Skematik Heap Leaching 3. Percolation leaching Teknik leaching ini menggunakan tangki sebagai tempat leaching dilakukan. Tangki dilengkapi dengan filter sehingga bijih tidak ikut lolos kebawah tangki. Gambar 3 menunjukkan skema tangki yang digunakan untuk melakukan teknik percolation. Pabrik yang menggunakan teknik percolation untuk pengolahan tembaga yaitu Anaconda Copper, Yerington Nevada (12.500 ton/hari).

11

Gambar 3. Skema Tangki Percolation Leaching a. Leaching Agents yang Digunakan untuk Leaching Tembaga Leaching agents yang biasa digunakan untuk leaching tembaga yaitu: [Habashi, 1982] 1. Asam Sulfat (H2SO4) 2. Amonia (NH4OH) 1. Leaching Tembaga dengan leaching agents Asam Sulfat (H2SO4) Asam sulfat merupakan asam yang paling murah harganya dan tingkat korosivitas yang ditimbulkan lebih kecil serta dapat digunakan untuk melarutkan hampir semua jenis bijih daripada larutan asam lainnya. Asam sulfat umum digunakan dalam me-leach bijih tembaga oksida. Tembaga akan dapat diperoleh kembali dari larutan kaya hasil leaching setelah larutan kaya tersebut di elektrolisis (dapat dilihat pada gambar 4).

Gambar 4. Diagram Alir Pelarutan Leaching Tembaga dengan Menggunakan Asam Sulfat

12

Salah satu reaksi leaching tembaga menggunakan leaching agents asam sulfat sebagai berikut: CuCO3.Cu(OH)2 + 2 H2SO4 2CuSO4+ 3H2O + CO2 b. Leaching Tembaga dengan Leaching Agents Amonia (NH4OH) Amonia (NH4OH) adalah larutan NH3 dalam air, reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut: NH3 + H2O NH4OH Melarutnya logam tembaga dalam larutan amonia sudah diketahui sejak tahun 1858 yang ditemukan oleh Peligot. Larutan biru yang diperoleh dari hasil reaksi ini telah digunakan secara khusus untuk melarutkan selulosa dalam memproduksi cuprammoniun rayon, dan didalam indusri sintesis amoniak digunakan untuk menghilangkan karbon monoksida dari gas sintesa, yang jika tidak dapat meracuni katalis. Pelarutan tembaga tidak akan terjadi tanpa adanya udara, reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut : Cu + 4NH3 + O2 + H2O [ Cu (NH3)4 ]2+ + 2OHAdapun diagram alir leaching tembaga dengan menggunakan Amonia sebagai berikut:

Gambar 5. Diagram Alir Leaching Tembaga dengan Menggunakan Amonia Mekanisme Pelarutan Bijih Tembaga Adapun mekanisme pelarutan tembaga sebagai berikut: [Habashi, 1982] Mekanisme auto-katalis Pelarutan diasumsikan berlangsung pada 3 tahap:

13

a. Pembentukan Cupro-amine kompleks 2Cu + 4NH3 + Cu(NH3)2]+ + 2OH- Logam Cu bereaksi dengan amonia dan diinjeksikan oksigen menghasilkan larutan kaya Cupro-amine kompleks. b. Oksidasi dari cupro-amine ke cupri-amine oleh oksigen [Cu(NH3)2]+ + - Cupro-amine kompleks bereaksi dengan amonia dan oksigen yang masih tersisa menghasilkan cupriamine. c. Reduksi cupriCu(NH3)2]+ cupri-amine bereksi dengan logam Cu yang awalnya belum ikut bereaksi menghasilkan Cupro-amine kompleks. d. Kinetika Reaksi Leaching Tembaga Laju pelarutan Leaching Tembaga dipengaruhi berbagai oleh ukuran partikel dari bijih, konsentrasi leaching agents serta leaching agents ini di bantu ole bakteri seingga laju pelautan tembaga lebih cepat. 1. Pengaruh Ukuran Partikel Semakin halus ukuran partikel bijih, maka laju pelarutan tembaga lebih cepat jika dibandingkan dengan ukuran partikel yang lebih besar. 2. Konsentrasi Leaching Agents Dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini

Gambar 6. Pengaruh Konsentrasi Campuran Amonia Hidroksida dan Amonia Karbonat Terhadap Leaching Tembaga (250C, PO2 =6,8 atm) Dari Gambar 1 merupakan hubungan konsentrasi Amonia terhadap laju pelarutan tembaga, dapat
14

dilihat bahwa semakin besar konsentrasi Amonia maka laju dari pelarutan tembaga akan semakin cepat. 3. bantuan adanya bakteri:

Gambar 7. Leaching Tembaga Dari Chalcopyrite dengan dan tanpa bantuan bakteri Dari gambar terlihat bahwa bakteri dapat mempercepat pelarutan tembaga. Dimana fungsi bakteri adalah sebagai katalis, yaitu dapat mempercepat laju pelarutan tembaga dimana tidak ikut bereaksi. Secara Nenrst Boundary Layer, menggunakan NH4OH: Amonia senyawa kimianya dituliskan dengan rumus NH4OH. Sedangkan Amoniak dituliskan dengan rumus NH3. Amonia adalah larutan NH3 dalam air, reaksinya dapat dituliskan sebagai berikut: NH3 + H2O NH4OH Dari gambar dapat dijelaskan mula-mula NH3 berdifusi menuju fase padat, dimana NH3 berasal dari larutan NH4OH. Kemudian bereaksi dengan fase padat sebagai reaksi anodik, reaksinya sebagai berikut: Reaksi Anodik, Cu + 4NH3 [ Cu (NH3)4 ]2+ +2eSelanjutnya O2 berdifusi menuju antarmuka dan terjadi reaksi dengan H2O (yang berasal dari NH4OH) sebagai reaksi katodik. Reaksi Katodik, H2O + O2 + 2e- 2OH- Reaksi dari keduanya adalah sebagai berikut: Reaksi Anodik: Cu + 4NH3 [ Cu (NH3)4 ]2+ +2e- Reaksi Katodik: H2O + O2 + 2e- 2OH-

15

16

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan 1) Jenis-jenis leaching yang digunakan pada produksi tembaga adalah: a. Insitu Leaching b. Heap Leaching c. Percolation leaching d. Leaching Agents yang Digunakan untuk Leaching Tembaga e. Leaching Tembaga dengan Leaching Agents Amonia (NH4OH) 2) Proses produksi tembaga terdiri dari: a. Pertambangan b. Penggilingan c. Berkonsentrasi d. Leaching, atau peleburan e. Elektrowining atau elektrolitic refining f. Katoda tembaga murni

3.2 Saran Pemanfaatan bijih tembaga saat ini sangat diperlukan dalam berbagai industry. Sehingga diperlukan proses pembentukan tembaga yang benar-benar efesien dan juga penggunaan leaching sekarang sangat penting dalam pembuatan tembaga. Oleh karena itu diperlukan proses leaching yang benar-benar dapat menghasilkan tembaga yang murni.

17

DAFTAR PUSTAKA

Davenport, W. G. 2002. Extractive Metallurgy of Copper, Edisi 4, The Boulevard: Elsevier Science Ltd Habashi, Fathi. 1970. Principles of Extractive Metallurgy, Vol.2. New York : Gordon and Breach, Science Publishers, Ltd Brierley, Corale L. 1982. Mikrobiologi Pertambangan. Scientific American 248: 4453. Hudson, Barbara K. dan Linda Sherwood, 1997. Explorations in Mikrobiologi, Pendekatan Discovery-Based. Prentice Hall, Upper Saddle River, New Jersey. Lennox, John E. dan Thomas Blaha, 1991. Pencucian Bijih Tembaga oleh Thiobacillus ferrooxidans. Guru Biologi Amerika, 53: 361-368. Torma, AE, 1977. Peran ferrooxidans Thiobacillus dalam Proses hidrometalurgi. Kemajuan dalam Teknik Biokimia. IN: Ghose, Fletcher dan Blackebrough, Eds, Springer-Verlag, Berlin.. http://id.wikipedia.org/wiki/Tembaga http://www.chem-is-try.org/tabel_periodik/tembaga/ http://id.shvoong.com/exact-sciences/chemistry/2112636-pengertian-tembaga/ http://sylvanachemistry.blogspot.com/2011/08/tembaga.html http://wanibesak.wordpress.com/2010/11/07/tembaga-tambang-sifat-dan-kegunaan/ http://www.google.co.id/imgres?imgurl=http://w21.indonetwork.co.id/pdimage/60/13 62560_tembagacu.jpg&imgrefurl=http://indonetwork.co.id/bulagidun/1362560/batutembaga-copper-ore-cu.htm&usg=__tubcoQyq0fA5AwFjmEQeaBsD3Y=&h=336&w=448&sz=39&hl=id&start=13&zoo m=1&tbnid=bjazhATbuLJg2M:&tbnh=95&tbnw=127&ei=Q6nXT6rUL8btrQedzon8 Dw&um=1&itbs=1

18