Anda di halaman 1dari 5

NAMA KELAS NIM

: AYU MUFRIDA : RS 11 C : 292011114

Kejujuran dan Kedisiplinan itu Penting


Pada saat ini pendidikan di Indonesia terlihat kacau dan terlihat tidak tertata dengan baik. Akankah keadaan yang seperti saat ini dunia pendidikan akan mampu mencetak generasi penerus yang baik untuk kemajuan bangsa??? Guru menurut UU no. 14 tahun 2005 adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Winataputra (2007: 1.20). Menurut pasal 1 butir 6 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentangSisdiknas, Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen,konselor, pamong belajar, widyaswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan istilah lainnya yangsesuai dengan kekhususannya yang juga berperan dalam pendidikan. Peserta didik ialah orang yang sedang berada pada proses pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri dari seseorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Peran seorang guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik yaitu : Guru sebagai pendidik, Guru sebagai pengajar, Guru sebagai pembimbing Guru sebagai pelatih Guru sebagai penasehat Guru sebagai pembaharu (innovator) Guru sebagai model dan teladan Guru sebagai pribadi Guru sebagai peneliti

Guru sebagai pendorong kreatifitas Guru sebagai pembangkit pandangan Guru sebagai pekerja rutin Guru sebagai pembawa cerita Guru sebagai actor Guru sebagai pemindah kemah Guru sebagai emansivator Guru sebagai evaluator Guru sebagai pengawet Guru sebagai kumilator

Guru mempunyai peranan penting dalam dunia pendidikan untuk mencetak dan menghasilkan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan berdaya saing yang tinggi pula. Hal tersebut menjadi tanggung jawab seorang guru dalam menyampaikan tugasnya dan keberhasilan seorang guru dalam melaksanakan tugasnya dapat dilihat dari perilaku peserta didik yang dididik dan diajarnya setelah menempuh pendidikan yang dijalaninya. Keberadaan pendidik dalam dunia pendidikan sangat mempunyai pengaruh yang sangat besar secara langsung terhadap peserta didik. Pembelajaran adalah suatu proses yang kompleks melibatkan beberapa aspek yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Ketrampilan mengajar dibutuhkan untuk mewujudkan pembelajaran yang efektif. Ketrampilan mengajar merupakan kompetensi pedagogik yang cukup kompleks karena merupakan integrasi dari berbagai kompetensi guru secara utuh dan menyeluruh. Arti dari ketrampilan itu sendiri adalah kemampuan ataupun kecakapan guru dalam melatih serta membimbing peserta didik dalam proses belajar mengajar untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Guru sebagai pendidik yaitu guru mampu mendidik dan mengajarkan nilai-nilai kebenaran kepada peserta didik dengan tujuan peserta didik bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari untuk hidup bermasyarakat yang baik. Arti dari mengajarkan nilai-nilai kebenaran ialah seorang guru harus mampu mengajarkan kepada peserta didiknya tentang kedisiplinan, tanggungjawab, kejujuran, dan tenggangrasa. Tapi saat ini peserta didik banyak yang tidak mempedulikan kedisplinan, tanggungjawab dan juga kejujuran. Apa seorang guru tidak mengajarkan hal itu kepada peserta didiknya? Apa peran guru selama ini dalam

mendidik peserta didiknya apabila peserta didiknya melalaikan kedisplinan, tanggungjawab dan kejujuran? Banyak perilaku peserta didik yang melalaikan kejujuran, bisa kita ambil contoh seperti pada saat ulangan harian berlangsung tidak sedikit peserta didik yang melakukan kecurangan dalam mengerjakan ulangan tersebut. Kecurangan yang dilakukan peserta didik antara lain menyontek, tidak hanya kejujuran yang menjadi masalah pada peserta didik namun kedisplinan juga, seorang guru juga harus megajarkan dan memberikan contoh akan sebuah kedisplinan. Tidak hanya kedisplinan dan kejujuran saja yang perlu diajarkan kepada peserta didik namun rasa tanggungjawab juga perlu kita ajarkan, agar mereka terbiasa dengan sebuah tanggungjawab dan bisa mengatur semuanya. Sebelum kita membahas lebih jauh lagi, kita harus tahu apa itu kedisiplinan, kejujuran dan tanggungjawab. Kata kedisiplinan berasal dari bahasa Latin yaitu discipulus, yang berarti mengajari atau mengikuti yang dihormati. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007), menyatakan bahwa disiplin adalah: a. Tata tertib (di sekolah, di kantor, kemiliteran, dan sebagainya). b. Ketaatan (kepatuhan) pada peraturan tata tertib. c. Bidang studi yang memiliki objek dan sistem tertentu. Kedisplinan adalah suatu yang tercipta dan terbentuk dalam proses dari serangkain perilaku yang tertuju pada nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan ketertiban. Tujuan dari adanya kedisiplinan adalah memberi kenyamanan pada para siswa dan staf (guru) serta menciptakan lingkungan yang kondusif untuk belajar serta perkembangan dari pengembangan diri sendiri dan pengarahan diri sendiri tanpa pengaruh atau kendali dari luar. Adapun fungsi menerapkan kedisiplinan menurut Tuu (2004) antara lain: Menata kehidupan bersama Menyadarkan siswa bahwa dirinya perlu menghargai orang lain dengan cara menaati dan mematuhi peraturan yang berlaku, sehingga tidak akan merugikan pihak lain dan hubungan dengan sesama menjadi baik dan lancer. Membangun kepribadian Dengan disiplin seseorang akan terbiasa mengikuti, mematuhi aturan yang berlaku dan kebiasaan itu lama kelamaan masuk ke dalam dirinya serta berperan

dalam membangun kepribadian yang baik. Kepribadian seseorang itu dipengaruhi oleh lingkungan. Apabila lingkungannya baik maka kepribadiannya baik pula namun sebaliknya bila lingkungannya kurang baik maka akan berdampak yang kurang baik pula pada kepribadian seseorang. Pada masa seperti saat ini untuk menemukan seseorang yang mempunyai kejujuran itu sangatlah jarang, banyak orang yang menutup-nutupi sesuatu untuk tujuan tertentu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI], jujur adalah lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus ikhlas. Sedangkan kejujuran merupakan sifat jujur, ketulusan hati, kelurusan (hati). Kejujuran adalah investasi yang sangat berharga, karena dengan kejujuran akan memberikan manfaat yang sangat banyak dalam kehidupan kita di masa yang akan datang. Pentingnya menanamkan kejujuran pada peserta didik yaitu, menciptakan komunikasi yang baik antara guru dengan peserta didik agar guru bisa lebih memperhatikan peserta didik dalam mendidik dan mengajarkan sebuah pengetahuan, dan tercipta rasa kepercayaan kepada peserta didik. Tidak hanya guru saja yang berperan dalam menanamkan kejujuran pada peserta didik namun orangtua juga mempunyai porsi untuk menanamkan kejujuran pada anak-anak. Menurut Kelly (2003/2005), orang tua harus mendorong dan mendukung anak untuk berkata jujur, dan tidak meminta anak untuk berkata tidak jujur demi kepentingan orang tua. Selain itu, orang tua juga tidak boleh memanggil anaknya dengan sebutan pembohong karena akan membuat anak bertumbuh menjadi pembohong. Menanamkan kejujuran agar anak tahu kalau mereka berbohong tidak hanya akan merugikan oranglain namun juga diri sendiri. Kendala-kendala yang dialami dalam menanamkan kejujuran pada anak ada dua yaitu kendala internal dan eksterna. Kendala internal yaitu kendala yang berasal dari dalam diri pribadi anak. Kendala-kendala itu dapat berupa sikap anak yang tidak mau dididik atau sikap melawan terhadap orang tua. Menurut Mulyadi (1997), perilaku anak yang berbohong juga dapat dilakukan anak dengan cara menambah atau mengurangi kata yang sebenarnya terjadi. Itu dilakukan karena anak ingin merasa aman atau melindungi diri dari ancaman. Kendala eksternal yaitu kendala yang berasal dari luar diri pribadi anak. Kendala-kendala itu dapat berupa cara orang tua mendidik anak dengan keras atau orang tua yang tidak memberikan contoh yang baik kepada anak. Misalnya orang tua suka berkata tidak jujur atau berbohong kepada anak, sehingga anak juga menjadi terbiasa untuk berbohong.

Kejujuran dan kepercayaan sulit bahkan tidak bisa dipisahkan. Sebuah kejujuran dapat menimbulkan rasa kepercayaan, demikian pula kepercayaan biasanya lahir dari adanya kejujuran. Oleh karena itu, hendaknya para orang tua sudah menanamkan nilai kejujuran pada anak sejak usia dini untuk menciptakan hubungan keluarga yang harmonis dan membuat anak bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Guru dapat menerapkan nilai kejujuran disekolah antara lain dengan cara : Ketika mengadakan ulangan harian, seorang guru haruslah membuat sistem ulangan yang mampu mengurangi tindakan menyontek, misalnya dengan sistem paket (paket A dan B). Soal-soal yang terdapat di setiap paket tersebut tentunya harus berbeda, tidak hanya sekadar mengacak urutan soal. Sistem paket tersebut dapat mengurangi tindakan menyontek. Seorang guru ketika belum mampu menjawab pertanyaan dalam sebuah kegiatan pembelajaran, maka guru tersebut harus jujur mengatakan kepada siswa bahwa dia masih belum bisa menjawab pertanyaan tersebut dan harus segera menjawab dilain waktu. Konsep kantin kejujuran juga mampu menanamkan sifat jujur kepada peserta didik. Meskipun sudah cukup lama diterapkan, tetapi tidak semua sekolah mampu menerapkan kantin kejujuran karena mereka takut merugi jika ada peserta didik yang tidak membayar. Menanamkan sifat jujur itu merupakan suatu proses yang sulit perlu kesabaran untuk menerapkannya. Sudah saatnya untuk kita berubah menjadi lebih baik lagi, dengan menerapkan sifat kedisplinan, kejujuran dan tanggung jawab kepada peserta didik kita nantinya. Agar generasi penerus bangsa ini tumbuh menjadi manusia yang baik dan takut akan Tuhan untuk melakukan semua perilaku yang dapat merugikan orang lain dan diri sendiri. Sebelum menanamkan sifat-sifat tersebut kepada peserta didik kita nanti alangkah baiknya kita juga menerapkannya kepada diri kita sendiri yang nantinya akan mendidik mereka. Peserta didik akan meniru dan mempraktekkan apa yang dilakukan oleh gurunya Karena kita panutan mereka, karena kita motivator mereka, kita innovator mereka, kita pendidik mereka.