Anda di halaman 1dari 3

Tugas Filsafat Nama : Garina Cahyaning Tyas NIM : 292011082

Kelas : RS11C

Pengangguran Terdidik di Indonesia

Orang yang tidak memiliki pekerjaan, biasa kita sebut dengan istilah pengangguran. Pada umumnya pengangguran muncul karena terjadi ketimpangan atau ketidakseimbangan antara jumlah pencari kerja dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia, dimana jumlah lapangan pekerjaan lebih sedikit dari jumlah pencari kerja. Selain itu pengangguran juga disebabkan oleh tidak sesuainya kualifikasi pencari kerja dengan kualifikasi yang dibutuhkan oleh lapangan pekerjaan, salah satunya mengenai tingkat pendidikannya. Namun di era sekarang ini ada yang disebut dengan pengangguran terdidik. Mengapa bisa dikatakan pengangguran terdidik? Pengangguran terdidik adalah mereka yang memiliki kualitas pendidikan yang cukup tapi belum memiliki pekerjaan. Dikatakan terdidik sebab rata-rata dari mereka adalah lulusan SMA / sederajat dan lulusan perguruan tinggi. Antara lulusan SMA dengan lulusan perguruan tinggi apabila dilihat dari segi kualitas pendidikannya, tentu lulusan perguruan tinggi lebih unggul dan lebih berkualitas dari lulusan SMA. Dengan kata lain mereka merupakan seorang ahli di bidangnya. Mereka yang telah bergelar sarjana dengan nilai kelulusan yang memuaskan pun tidak bisa menjamin setelah lulus mereka akan langsung mendapatkan pekerjaan. Banyak dari sarjana-sarjana tersebut yang akhirnya menganggur karena tidak kunjung mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang mereka kuasai. Pada akhirnya mereka akan mencari pekerjaan secara asal-asalan yang penting mereka bisa mengisi waktu dan juga mendapatkan uang, atau mungkin juga bisa menjadi sebuah pengalaman kerja. Tak jarang mereka-mereka yang sudah bergelar S1 malah bekerja di bidang yang sama sekali tak ada hubungannya di bidang mereka dan seringkali ilmu-ilmu yang mereka dapatkan selama ini di perguruan tinggi sama sekali tidak digunakan. Misalnya saja seorang sarjana hukum bekerja menjadi sales. Otomatis ilmu yang ia peroleh saat kuliah tidak akan digunakan, sehingga proses belajar di bangku perguruan tinggi pun terkesan sia-sia. Ada juga yang lebih memilih membuka usaha sendiri karena tidak kunjung memperoleh pekerjaan. Namun ada juga yang lebih memilih membuka usaha sendiri dengan alasan untuk mengisi waktu luang mereka sebelum benar-benar memperoleh pekerjaan.

Mungkin bagi mereka lebih baik membuka lapangan kerja sendiri daripada menggantungkan nasib mereka pada lapangan kerja yang sudah tersedia dengan jumlah yang tidak memadai. Tentu saja pengangguran dengan pengangguran terdidik memiliki perbedaan yang signifikan, Pengangguran terdidik memiliki kualitas pendidikan yang cukup. Sedangkan pengangguran cenderung kurang memiliki atau bahkan tidak memiliki kualitas pendidikan yang cukup. Di Indonesia, jumlah pengangguran pun tak terhitung lagi, apalagi sekarang ini ditambah dengan adanya pengangguran terdidik. Sekarang ini jumlah pengangguran semakin meningkat terutama di kota-kota besar, salah satunya kota Jakarta. Apalagi adanya urbanisasi atau perpindahan penduduk dari desa ke kota. Mereka beramai-ramai pindah ke kota metropolitan tersebut untuk mencari pekerjaan yang dirasa lebih layak dan lebih menguntungkan daripada saat mereka bekerja di desa. Tidak banyak yang tahu bahwa tindakan mereka itu seringkali justru merugikan diri mereka sendiri. Tidak seimbangnya jumlah lapangan pekerjaan yang ada dengan jumlah pencari kerja menyebabkan mereka sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Selain itu juga disebabkan oleh faktor kualitas pendidikan yang dianggap kurang memenuhi standar. Lalu bagaimanakah nasib mereka selanjutnya? Kebanyakan mereka akan menjadi pengamen jalanan, pembantu rumah tangga, pengemis, bahkan ada juga yang menjadi gelandangan dan harus tidur di kolong jembatan karena tak punya tempat tinggal. Hal tersebut tentu saja meresahkan warga dan menambah kumuh kota besar tersebut. Berbeda dengan pengangguran terdidik yang mungkin akan berpikir dua kali sebelum mengambil keputusan tersebut. Mereka tahu mana yang sebaiknya harus dilakukan dan mana yang sebaiknya tidak mereka lakukan. Walaupun begitu tapi tetap saja pengangguran dan pengangguran terdidik memiliki kesamaan, yaitu sama-sama menyandang predikat pengangguran. Sewajarnya seseorang yang telah menyandang predikat sarjana akan langsung mendapatkan pekerjaan, atau paling tidak dalam waktu dekat. Namun apabila orang itu dalam waktu yang relatif lama tidak segera mendapatkan pekerjaan pasti akan timbul pertanyaan dari warga sekitar. Misalnya mengapa sudah kuliah tinggi-tinggi sampai sarjana malah berakhir menjadi pengangguran. Jika orang itu tidak segera mendapatkan pekerjaan, semakin lama pertanyaan tersebut akan berubah menjadi gunjingan. Misalnya seperti percuma sudah disekolahkan tinggi-tinggi, toh sama saja seperti yang tidak sekolah, sama-sama jadi pengangguran. Atau kalau dia adalah wanita maka akan segera dinikahkan supaya orang tuanya tidak merasa dipermalukan oleh tetangga-tetangga. Ada juga yang memilih setelah lulus dari perguruan tinggi tidak langsung mencari pekerjaan. Mereka menunggu setahun berikutnya baru mencari pekerjaan. Alasannya bermacam-macam, ada yang belum siap kerja, ada yang lebih memilih menghabiskan waktu

bersama teman-teman sebelum memasuki dunia kerja, dan ada yang memilih istirahat dulu sambil mempersiapkan apa-apa saja yang dibutuhkan saat mencari pekerjaan nantinya. Apabila masalah pengangguran terutama pengangguran terdidik ini tidak segera diatasi, maka dikhawatirkan jumlahnya akan semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kedepannya di Indonesia diperkirakan ada 700.000 pengangguran terdidik. Bagaimana kinerja pemerintah sekarang ini dalam menangani tingkat pengangguran terdidik di Indonesia yang semakin merajalela? Mengapa mereka tidak segera mengambil tindakan untuk menyudahi pengangguran di negeri ini atau setidaknya mengurangi jumlahnya? Seharusnya pemerintah mencarikan solusi yang tepat dalam mengatasi tingkat pengangguran terdidik tersebut. Seperti menyediakan lebih banyak lapangan pekerjaan yang jumlahnya seimbang dengan pencari kerja. Atau mungkin pemerintah bisa bekerjasama dengan pihak swasta untuk membantu menangani pengangguran terdidik tersebut dengan membuka lebih banyak lowongan pekerjaan dan kualifikasi yang sesuai dengan kualitas pendidikan mereka. Dengan berakhirnya masalah tentang pengangguran terdidik ini, beban yang dirasakan negeri ini tentu akan terasa lebih ringan karena salah satu masalah telah teratasi. Tapi masih banyak masalah-masalah yang mengantri untuk diselesaikan. Sebagai warga negara, kami tentu menginginkan yang terbaik bagi bangsa dan negara ini. Kami hanya berharap satu per satu masalah dapat terselesaikan dengan baik khususnya masalah pengangguran terdidik.