Anda di halaman 1dari 3

Nama :Lisa Putri Harmawati Kelas : RS 11 C NIM : 292011109

ANAK PUTUS SEKOLAH KARENA TERHIMPIT FAKTOR EKONOMI Pendidikan merupakan suatu kebutuhan utama yang memegang peranansangat penting. Pada saat orang-orang ingin mendapat dan mencapai pendidikan setinggi mungkin, tetapi disisi lain ada sebagian masyarakat yang tidak dapat mencapai bahkan ada yang tidak menyentuh pendidikan secara layak sedikitpun, baik dari tingkat dasar maupun sampai ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu ada juga anggota masyarakat yang sudah dapat mengenyam pendidikan dasar namun pada akhirnya putus sekolah juga. Salah satu faktor yang menyebabkan putus sekolah yang paling dikenal seperti keterbatasan dana pendidikan karena kesulitan ekonomi. Faktor ekonomi sering menjadi faktor penyebab banyaknya siswa yang putus sekolah. Kenyataan itu dibuktikan dengan tingginya angka rakyat miskin di Indonesia yang anaknya tidak bersekolah atau putus sekolah karena ketiadaan biaya untuk membayar administrasi yang dipungut oleh pihak sekolah. Dalam salah satu berita memberitakan bahwa karena faktor ekonomi, siswa SD tidak melanjutkan aktivitas di sekolahnya (putus sekolah) dikarenakan tidak mampu membayar uang sumbangan yang dipungut oleh sekolah sebesar 100 ribu rupiah. Kehidupan sehari-hari yang sangat sederhana dan orang tua bekerja sebagai buruh, pungutan sumbangan tersebut membuat orang tua tersebut tidak mampu membayarnya sehingga anak terpaksa putus sekolah. Hal itu sangat disayangkan. Seharusnya pihak pemerintah dan pihak sekolah bisa mengatasi hal tersebut. Kemiskinan karena tingkat pendidikan orang tua rendah merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan keterlantaran pemenuhan hak anak dalam bidang pendidikan formal sehingga anak mengalami putus sekolah. Pendidikan murah atau gratis yang banyak diwacanakan dan diinginkan kalangan masyarakat melalui dana Bantuan Operasional Siswa (BOS) banyak disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu sehingga dana kurang tersalur dan tidak meringankan beban orang tua khususnya bagi yang tidak mampu. Penyebab putus sekolah itu ternyata bermacam-macam, baik internal maupun eksternal dari diri siswa sendiri. Aspek internalnya, yaitu tidak ada keinginan atau motivasi untuk melanjutkan sekolah dalam diri anakyang terpengaruh oleh faktor sosial selain itu bisa juga karena merasa kasian melihat kehidupan orang tua nya yang pas-pas an. Lalu penyebab eksternalnya adalah selain faktor ekonomi orang tua yang tidak memungkinkan melanjutkan sekolah anak-anaknya karena takut ada biaya yang menekan dan membuat bingung para orang tua untuk membayarnya.

Kondisi orang tua yang tidak begitu memperhatikan pendidikan sang anak atau tidak begitu memahami makna penting pendidikan juga menyumbang terhadap kemungkinan putus sekolah sang anak. Faktor lainnya juga seperti kondisi keluarga anak yang perhatian orang tuanya kurang juga merupakan penyebab kasus anak putus sekolah. Lokasi fasilitas sekolah yang jauh, tidak terjangkau, tenaga pengajar yang kurang juga menjadi faktor penyebab putus sekolah Kemudian fenomena pengaruh dari gaya hidup yang konsumtif dan hedonis juga membuat banyak anak-anak yang memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah tersebut. Mereka ini akhirnya terjebak dalam hidup konsumtif dan hedonis serta meninggalkan pendidikannya. Selain itu, secara umum di beberapa daerah, pola pikir orang tua juga berpengaruh terhadap melanjutkan atau putus sekolahnya anak-anak mereka. Tenaga pengajar yang kurang ahli juga sangat berpengaruh karena jika pengajar hanya mengajar di sekolah tanpa suatu keahlian khusus pasti anak juga akan merasa kurang nyaman bahkan bisa menganggap pendidikan itu tidak penting dan mereka bisa melaporkan bagaimana sosok tenaga pengajarnya itu. Selain itu, fasilitas yang ada di sekolah pun juga berperan penting. Karena menurut UU SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 Bab III Pasal 45 tentang sarana dan prasarana pendidikan, dimaksudkan agar tiap-tiap sekolah menyediakan sarana dan prasarana pembelajaran yang memadai semua keperluan pendidikan agar siswa dapat memanfaatkannya sebagai penunjang belajar siswa. Karena fasilitas sekolah ternyata berpengaruh terhadap hasil prestasi dan keminatan siswa dalam belajar. Masih banyak orang tua yang memiliki pola pikir bahwa pendidikan itu juga dianggap kurang penting, kemudian juga setengah memaksa anaknya membantu mencari nafkah, seperti di daerah pedalaman yang masyarakatnya hidup menggarap lahan pertanian/perkebunan dan jauh dari jangkau fasilitas pendidikan, atau di daerah kepulauan yang anak-anaknya terpaksa ikut melaut bahkan bekerja di jermal-jermal, bahkan di daerah perkotaan yang dengan orang tua nya hidup di bawah kolong jembatan kemudian anakanaknya memulung demi mencukupi kebutuhan dan meninggalkan aktivitas sekolah, ini harus ditangani. Jika anak-anak yang sepantasnya harus mengikuti pendidikan sudah terbiasa memegang uang dalam arti menghasilkan penghasilan, maka mereka akan menganggap pendidikan itu tak penting. Bahkan, juga ada orangtua yang memang tidak ingin anaknya melanjutkan sekolah karena alasan tertentu, ini merupakan sebagian dari faktor penyebab anak putus sekolah. Oleh karena itu, selain menerapkan kebijakan pendidikan murah dan gratis termasuk menyediakan fasilitas pendidikan yang terjangkau dan menyediakan tenaga pengajar ahli yang siap sedia untuk terjun berjuang ditempatkan di mana saja (bukan yang hanya mengejar status PNS kemudian numpuk di daerah perkotaan).

Maka solusi lain yang tak kalah pentingnya, bahkan termasuk sangat penting dalam upaya menekan angka anak putus sekolah adalah mengubah pola pikir yang menganggap enteng pendidikan, dan menanamkan pola pikir baru kepada para orang tua bahwa pendidikan itu penting. Sosialisasi atau proses penyadaran ini harus terus dilakukan secara aktif dengan melibatkan setiap elemen masyarakat dengan sasaran para orang tua peserta didik. Sosialisasi tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak bangsa sekaligus merupakan agenda penyadaran di kalangan orangtua bahwa pendidikan sangat penting untuk bekal masa depan anak. Padahal di dalam Undang-Undang pada pasal 31 jelas-jelas mencantumkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak. Merujuk dari UU tersebut maka pemerintah harus segera bertindak dan menyelesaikan agar tak ada lagi angka putus sekolah karena faktor apapun. Karena itu, jika sudah ada kebijakan pendidikan yang murah dan gratis, maka faktorfaktor lain yang menjadi penyebab putus sekolah juga harus ditindak lanjuti, karena belum tentu menjadi jaminan masalah anak putus sekolah bisa teratasi jika faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi anak putus sekolah itu tak teratasi.

Referensi : UU SISDIKNAS Nomor 20 Tahun 2003 Bab III Pasal 45 UU pasal 31