Anda di halaman 1dari 3

NAMA NIM KELAS

: M. WISNU PRIYAMBODO : 292011086 : RS 11 C

KEJUJURAN ITU KUNCI KEBANGKITAN BANGSA Bicara tetang masalah kejujuran, tentunya kita berfikir tentang perilaku yang baik, kejujuran memang memiliki harga sangat yang mahal untuk negeri ini, betapa penting dan jarang sebuah kejujuran kita temui dan dapatkan, ketika kejujuran itu ditempatkan pada masyarakat awam, sepertinya sangat berat kejujuran itu mereka miliki alasanya demi kebutuhan dan mempertahankan hidup Kejujuran diberikan kepada para golongan-golongan yang elit sepertinya juga mereka tidak berani untuk mereka miliki alasanya, mereka tidak sanggup untuk menjalankanya, mereka mengatakan Kejujuran untuk kami hanya untuk menghancurkan nilai dan harga diri kami.sungguh sebuah ungkapan yang menyayat hati orang-orang yang jujur yang tidak punya nilai dimata mereka. Kita bertanya, dimanakah kejujuran harus kita tempatkan dan dimana harus kita berikan? kepada siapakah ? semua mungkin akan bingung dan tidak bisa menjawab. Lihatlah bangsa yang kaya yang memiliki banyak pulau yang besar, berbagai budaya dan masyarakatnya yang sangat plural dan memiliki karakteristik bila dibandingkan dengan negara-negara yang ada di dunia ini, tapi kenapa miskin akan kejujuran? Kita lihat dengan hal yang kecil ketika kita parkir, ketentuan parkir yang sudah ditentukan lima ratus rupiah, tetapi ketika kita berikan seribu tidak dikembalikan, inilah contoh gambaran bangsa kita yang tidak jujur, sebenarnya tanpa kita minta harus mengembalikan lagi dengan lima ratus lagi, karena dalam hatinya tidak ada kejujuran. Ada persoalan yang saat ini dialami oleh bangsa Indonesia. Persoalan tersebut seakan menjadi penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Penyakit tersebut adalah hilangnya kejujuran. Kejujuran seakan menjadi barang langka dan mahal harganya. Sebaliknya kebohongan seakan sudah menjadi laku rutinitas dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut menjadi satu pertanda bahwa bangsa ini sedang sakit. Berbicara tetang kejujuran, tentu yang terlintas dalam benak kita adalah sebuah sifat dan berperilaku seseorang yang sesuai dengan apa adanya, tidak dilebihkan dan tidak dikurangkan. Kejujuran merupakan dasar dan prinsip dari suatu kehidupan, baik kehidupan berkeluarga, masyarakat , berbangsa dan bernegara. Di zaman modern saat ini, kejujuran ibarat seperti barang langka yang harganya lebih mahal dibandingkan dengan uang maupun permata. Buktinya saat ini kejujuran seakan telah punah, dan akibat dari kepunahan tersebut adalah krisis multidimensional yang melanda bangsa Indonesia sehingga kekacauan terjadi di mana-mana. Hilangnya kejujuran di negeri ini telah melanda hampir di semua sendi kehidupan, baik itu di sektor pendidikan, ekonomi, hukum lebih-lebih dalam dunia politik kejujuran seakan menjadi musuh yang harus diberangus habis.

Akibat hilangnya budaya jujur paling tidak akan membawa dampak negatif bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dampak tersebut antara lain: 1. Hilangnya rasa malu. Jika seseorang sudah tidak memiliki kejujuran dalam dirinya maka dia tidak akan mempunyai rasa malu meskipun melakukan perbuatan yang salah dan merugikan orang lain. 2. Budaya korupsi. Bangsa ini memang merupakan Negara korup karena perilaku korupsi telah mengakar baik yang dilakukan oleh pejabat di tingkat pusat sampai pejabar RT semua terbiasa melakukan korupsi. 3. Hilangnya rasa tanggung jawab. Kejujuran sesungguhnya dapat menjadikan seseorang menjadi bertanggung jawab, sebaliknya jika seseorang sudah tidak memiliki prinsip jujur dalam hidupnya maka dia akan menjadi seseorang yang tidak bertanggung jawab dalam hal apapun. Ketiga dampak diatas merupakan efek ketidakjujuran secara umum yang terjadi di negera kita tercinta, masih banyak efek buruk lainnya yang disebabkan oleh perilaku tidak jujur. Lebih dari itu sesungguhnya kejujuran merupakan modal dasar kebangkitan bangsa ini dari segala keterpurukan. Oleh sebab itulah agar bangsa ini tidak semakin tenggelam dalam keterpurukan, maka kejujuran harus kembali menjadi prinisp hidup masyarakat Indonesia. Sebelum kita membahas topik ini lebih jauh lagi saya akan memberikan data dan fakta berikut: 158 kepala daerah tersangkut korupsi sepanjang 2004-2011 42 anggota DPR terseret korupsi pada kurun waktu 2008-2011 30 anggota DPR periode 1999-2004 terlibat kasus suap pemilihan DGS BI Kasus korupsi terjadi diberbagai lembaga seperti KPU,KY, KPPU, Ditjen Pajak, BI, dan BKPM Sumber : Litbang Kompas

Kini setelah membaca fakta diatas, apa yang ada dipikran anda? Cobalah melihat lebih ke atas sedikit, lebih tepatnya judul artikel ini. Yah, itu adalah usulan saya untuk beberapa kasus yang membuat hati di dada kita terhentak membaca kelakuan para pejabat Negara. Pendidikan karakter, sekarang ini mutlak diperlukan bukan hanya di sekolah saja, tapi dirumah dan di lingkungan sosial. Bahkan sekarang ini peserta pendidikan karakter bukan lagi anak usia dini hingga remaja, tetapi juga usia dewasa. Mutlak perlu untuk kelangsungan hidup Bangsa ini. Bayangkan apa persaingan yang muncul ditahun 2021? Yang jelas itu akan menjadi beban kita dan orangtua masa kini. Saat itu, anak-anak masa kini akan menghadapi persaingan dengan rekan-rekannya dari berbagai belahan Negara di Dunia. Bahkan kita yang masih akan berkarya ditahun tersebut akan merasakan perasaan yang sama. Tuntutan kualitas sumber daya manusia pada tahun 2021 tentunya membutuhkan good character.

Bagaimanapun juga, karakter adalah kunci keberhasilan individu. Dari sebuah penelitian di Amerika, 90 persen kasus pemecatan disebabkan oleh perilaku buruk seperti tidak bertanggung jawab, tidak jujur, dan hubungan interpersonal yang buruk. Selain itu, terdapat penelitian lain yang mengindikasikan bahwa 80 persen keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh emotional quotient. Bagaimana dengan bangsa kita? Bagaimana dengan penerus orang-orang yang sekarang sedang duduk dikursi penting pemerintahan negara ini dan yang duduk di kursi penting yang mengelola roda perekonomian negara ini? Apakah mereka sudah menunjukan kualitas karakter yang baik dan melegakan hati kita? Bisakah kita percaya, kelak tongkat estafet kita serahkan pada mereka, maka mereka mampu menjalankan dengan baik atau justru sebaliknya? Dari sudut pandang psikologis, saya melihat terjadi penurunan kulaitas usia psikologis pada anak yang berusia 21 tahun pada tahun 20011, dengan anak yang berumur 21 pada tahun 2001. Maksud usia psikologis adalah usia kedewasaan, usia kelayakan dan kepantasan yang berbanding lurus dengan usia biologis. Jika anak sekarang usia 21 tahun seakan mereka seperti berumur 12 atau 11 tahun. Walau tidak semua, tetapi kebanyakan saya temui memiliki kecenderungan seperti itu. Saya berulangkali bekerjasama dengan anak usia tersebut dan hasilnya kurang maksimal. Saya tidak kapok ber ulang-ulang bekerja sama dengan mereka. Dan secara tidak sengaja saya menemukan pola ini cenderung berulang, saya amati dan evaluasi perilaku dan karakter mereka. Kembali lagi ingat, disekolah pada umumnya tidak diberikan pendidikan untuk mengatasi persaingan pada dunia kerja. Sehingga ada survey yang mengatakan rata-rata setelah sekolah seorang anak perlu 5-7 tahun beradaptasi dengan dunia kerja dan rata-rata dalam 5-7 tahun tersebut pindah kerja sampai 3-5 kali. Hmm.. dan proses seperti ini sering disebut dengan proses mencari jati diri. Pertanyaan saya mencari diri itu didalam diri atau diluar diri? saya cocoknya kerja apa ya? Coba kerjain ini lah lalu kalau tidak cocok pindah ke lainnya. Kenapa tidak diajarkan disekolah, agar proses anak menjalani kehidupan di dunia yang sesungguhnya tidak mengalami hambatan bahkan tidak jarang yang putus asa karena tumbuh perasaan tidak mampu didalam dirinya dan seumur hidup terpenjara oleh keyakinannya yang salah. Kembali lagi ke topik, Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat. Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguhsungguh, sitematik dan berkelanjutan untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada masa depan yang lebih baik yang bisa diwujudkan tanpa kejujuran, tanpa meningkatkan disiplin diri, tanpa kegigihan, tanpa semangat belajar yang tinggi, tanpa mengembangkan rasa tanggung jawab, tanpa memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, tanpa semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta tanpa rasa percaya diri dan optimisme.