Anda di halaman 1dari 90

Laporan On The Job Training PT.

PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Industri di Indonesia dewasa ini mengalami perkembangan yang cukup pesat seiring dengan kebutuhan akan tenaga kerja yang siap pakai, terampil dalam mengoperasikan alat - alat industri, mempunyai keahlian yang sesuai dengan spesifikasinya, serta memiliki kemampuan adaptasi yang cukup tinggi terhadap penggunaan teknologi yang sering digunakan dibidang industri dimana penggunaan yang dimaksud didalamnya meliputi proses dan maintenance. Sehubungan dengan hal itu, perguruan tinggi sebagai tempat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, berkepribadian mandiri, dan memiliki kemampuan intelektual yang baik merasa terpanggil untuk semakin meningkatkan mutu mahasiswa lulusannya. Sejalan dengan pemikiran tersebut Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai sebuah institusi perguruan tinggi di Indonesia berupaya untuk

mengembangkan sumber daya manusia dan IPTEK guna menunjang pembangunan industri, serta sebagai research university. Output dari PPNSITS diharapkan siap untuk dikembangkan kedalam bidang yang sesuai dengan spesifikasinya. Guna menunjang terwujudnya komitmen dari perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang memiliki kualitas unggul dan sesuai dengan standar kompetensi dunia kerja, maka wawasan mahasiswa tentang dunia kerja yang berkaitan dengan industrialisasi sangat diperlukan, mengingat kondisi Indonesia yang merupakan negara berkembang, dimana teknologi masuk dan diaplikasikan oleh industri terlebih dahulu. Sebagai mahasiswa D-3 Teknik Bangunan Kapal, kami dituntut untuk mampu mencermati perkembangan dan penerapan teknologi 1

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
pembangunan kapal mulai dari desain sampai proses pembangunannya di perusahaaan, sehingga kami bisa menganalisis kelebihan - kelebihan yang dimiliki dan kekurangan - kekurangan yang masih perlu dibenahi dan ditingkatkan bila sebuah perusahaan ingin berkerja secara efektif dan efisien sehingga perusahaan bisa mendapatkan keuntungan sebesar - besarnya dan dapat melindungi tenaga kerja dan masyarakat yang berada di suatu tempat kerja agar selamat dan sehat serta melindungi sumber produksi (alat, bahan, dsb) agar aman dan dapat digunakan dengan efisien. Hal ini dilakukan sebagai langkah aplikatif dari pemberian teori yang kami terima di bangku perkuliahan. Oleh karena itu kerja sama dengan bidang industri perlu lebih ditingkatkan agar terdapat keseimbangan dalam penyampaian ilmu kepada mahasiswa, yaitu antara teori yang disampaikan melalui pemberian materi, yang dilakukan secara rutin di kelas sebagai salah satu metode kegiatan perkuliahan, dengan praktek di perusahaan sebagai upaya untuk

mengaplikasikan teori yang telah didapat secara langsung di dunia kerja. Upaya tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan studi ekskursi, magang, joint research, On The Job Training (OJT) dan lain sebagainya. PPNS - ITS menetapkan On The Job Training (OJT) sebagai salah satu kurikulum wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Jurusan D-3 Teknik Bangunan kapal Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Melalui kegiatan On The Job Training (OJT) di berbagai bidang industri yang sesuai dengan spesifikasi yang diambil oleh masing - masing mahasiswa diharapkan bahwa mahasiswa sebagai calon output dari perguruan tinggi dapat lebih mengenal suasana kerja sebenarnya dalam industri, dimana hal tersebut akan sangat membantu mahasiswa dalam mengatasi kecanggungan ketika nantinya terjun langsung sebagai pekerja di sebuah perusahaan. Selain itu kegiatan ini secara khusus bagi mahasiswa D-3 Teknik Bangunan Kapal, diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai hal-

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
hal yang berkaitan dengan Inspeksi dalam pembangunan maupun reparasi kapal ., diharapkan dapat menunjang pengetahuan secara teoritis yang didapat dari materi perkuliahan, sehingga mahasiswa dapat menjadi salah satu sumber daya manusia yang siap menghadapi tantangan era globalisasi. Dengan syarat kelulusan yang ditetapkan, mata kuliah On The Job Training (OJT) telah menjadi salah satu pendorong utama bagi tiap-tiap mahasiswa untuk mengenal tentang Inspeksi dalam pembangunan maupun reparasi yang ada di dunia industry galangan dan untuk melihat keselarasan antara ilmu pengetahuan yang diperoleh dibangku kuliah dengan aplikasi praktis di dunia kerja. Pemerintah mendukung terwujudnya kerjasama antara industri dan perguruan tinggi melalui kebijakan link and match yang telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan merupakan upaya dari pihak pemerintah. Hal tersebut dilakukan untuk menjembatani kesenjangan antara perguruan tinggi sebagai salah satu wadah untuk menghasilkan tenaga kerja dengan industri sebagai pihak pemakai tenaga kerja dalam rangka memberikan sumbangan yang lebih besar dan sesuai untuk menjadi Partner in Progress bagi pembangunan bangsa dan negara. 1.2 Tujuan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya - ITS, berusaha agar lulusannya bisa dan siap menghadapi tantangan yang ada di dunia kerja, sehingga mahasiswa dapat mengetahui permasalahan - permasalahan yang sering terjadi di dunia kerja. Dalam melaksanakan On The Job Training (OJT) ini, kami bertujuan : a. Untuk memenuhi beban Satuan Kredit Semester (SKS) yang harus ditempuh sebagai persyaratan akademis di Jurusan D-3 Teknik Bngunan Kapal PPNS - ITS

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
b. Mengenal secara khusus bidang yang menjadi minat peserta yakni tentang Inspeksi pada proses pembangunan maupun reparasi kapal di PT. PAL Indonesia c. Memperdalam dan memperjelas pelaksanaan teori dan praktek yang diperoleh selama kuliah ke dalam dunia kerja sesungguhnya. d. Memantapkan kemampuan praktik dalam penguasaan peralatan industri. e. Berlatih untuk membiasakan diri terhadap situasi kerja sebenarnya terutama yang berkenaan dengan sikap disiplin kerja dan sikap profesional. f. Memperluas pengetahuan tentang wawasan kerja. g. Mematuhi persyaratan wajib mata kuliah On The Job Training (OJT). h. Membuka dan menambah wawasan mahasiswa agar dapat mematuhi dan memahami aplikasi ilmunya di dunia industri. i. Mampu menyerap dan berasosiasi dengan dunia kerja secara utuh, sekaligus dapat mengetahui dan memahami sistem kerja di dunia industri. j. Untuk mengaplikasikan sekaligus melakukan koreksi dalam kajian keilmuannya dan tanggap terhadap kemajuan teknologi. k. Mewujudkan sosok praktisi yang terampil, kreatif, inovatif, dan jujur serta mampu dan bertanggung jawab terhadap pribadi, masyarakat, bangsa, dan negara.

1.3 Rumusan Masalah Dalam pelaksanaan on the job training adapun permasalahan yang diambil adalah sebagi berikut : 1. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan visual permukaan marterial hasil blasting 2. Bagaimana cara pengukuran dew Point, surface temperature dan Relative humidity serta cara pengujian roughness dan salt test

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3. Bagaimana cara melakukan pemeriksaan setelah pengecatan ? 4. Bagaimana pemeriksaan fabrikasi pipa 5. Bagaimana pemeriksaan instalasi pipa di kapal ? 6. Bagaimanakah tahapan dari proses pickling ? 1.4 Batasan Masalah Adapun batasan yang diambil untuk permasalhan tersebut adalah : 1. Pemeriksaan persiapan permukaan sebelum pengecatan hanya membahas persiapan permukaan dengan metode blasting. 2. Pengujian persiapan aplikasi pengecatan yang di jelaskan hanya tentang pengukuran dew point, pengukuran surface temperatur, pengukuran relative humidity, salt test dan rougness test 3. Cara pemeriksaan hasil blasting dan pengecatan yang dilakukan berdasarkan pemeriksaan yang dilkukan pada blok kapal tanker S.271 dan S.272 milik pertamina. 4. Pemeriksaan pipa di bengkel, pemriksaan hasil pickling dan periksaan pipa di kapal berdasarkan standard PAL

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
BAB II DATA UMUM PERUSAHAAN

2.1 Profil Perusahaan PT. PAL INDONESIA (Persero) terletak di JL. Ujung Perak Surabaya Jawa Timur. Daerah ini berada dikawasan tanjung perak sehingga memudahkan pemindahan kapal dari industri ke laut. Untuk memenuhi kebutuhan pembangunan di sektor industri maritim maka dalam hal ini pemerintah membuka perusahaan galangan kapal yaitu PT.PAL INDONESIA (Persero). Perusahaan ini disamping tugas utamanya membangun kapal baru juga ikut serta membangun dan memajukan Teknologi dan Industri kemaritiman yang ada di Indonesia. Terbentuknya perusahaan PT. PAL INDONESIA (Persero) merupakan kelanjutan dari Marine Establishment (ME) yang didirikan oleh pemerintah Hindia Belanda. ME diresmikan dengan lembar nomer 22/1939 pada tahun 1939 yang mempunyai tugas dan fungsi untuk melakukan perawatan dan perbaikan kapal-kapal laut yang digunakan sebagai armada Angkatan Laut Belanda yang menjaga kepentingan-kepentingan daerah kolonialnya. Pada dasarnya ME sendiri merupakan kelanjutan dari PAL artinya Penataran Angkatan Laut yang didirikan oleh Hindia Belanda pada tahun 1848. Pada masa perang dunia kedua, pemerintah Hindia Belanda di Indonesia menyerahkan kepada pemerintah Jepang sehingga pada masa penduduk Jepang ME diganti menjadi Haigun SB 21/24 Butai yang mempunyai tugas dan fungsi yang sama dengan pada masa pemerintahan Belanda. Setelah Jepang menyerah pada sekutu, maka pemerintahan Hindia Belanda menguasai kembali selama dua bulan sehingga tahun 1945 namanya diganti seperti semula menjadi Marine Establishment yang fungsinya sama. Pada masa perang kemerdekaan setelah Republik Indonesia diproklamasikan namanya dirubah menjadi PAL (Penataran Angkatan

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Laut), hanya saja penyerahan ME pada pemerintah Hindia Belanda berkesan setengah hati dan sering terjadi sabotase. Dengan berdasarkan keputusan Presiden RI nomor 370/61 tahun 1961, Penataran Angkatan Laut dilebur kedalam Departemen Angkatan Laut dan namanya dirubah menjadi Komando Angkatan Laut (Konatal). Sejak tahun 1961 Konatal tidak lagi berstatus sebagai Perusahaan Negara dan bertugas untuk memelihara, memperbaiki, membangun kapal-kapal Angkatan Laut. Perkembangan selanjutnya adalah perubahan status Konatal menjadi Perusahaan Umum Negara berdasarkan Peraturan Pemerintah nomer 4 tahun 1978. Perusahaan Negara ini dikenal dengan nama Perusahaan Umum Dok dan Galangan Kapal (Perumpal). Akhirnya dengan lembaran Negara RI nomer 8 tahun 1980 dan akte pendirian nomer 12 tahun 1980 tanggal 15 April 1980 Perumpal diubah statusnya menjadi Perseroan dengan nama PT. PAL INDONESIA (Persero) dan sampai dengan saat ini telah diadakan perubahan yang terakhir dengan akte pendirian nomer 1 tanggal 4 November 2002.

2.2 Produk dan Pemasaran 2.2.1 Produk Kapal Niaga Pengembangan produk kapal niaga diarahkan pada pasar internasional, pengembangan model-model 7ndustry pelayaran nasional dan pelayaran perintis bagi penumpang dan barang (cargo). Kapasitas produksi per tahun saat ini mencapai 3 unit kapal dengan ukuran 50,000 DWT dan 2 unit kapal dengan ukuran 20,000 DWT per tahun. Pada saat ini PT PAL INDONESIA (PERSERO) telah menguasai teknologi produksi untuk kapal-kapal seperti Kapal Bulker sampai dengan 50.000 DWT, kapal container sampai dengan 1.600 TEUS, kapal tanker sampai dengan 30,000 DWT, kapal penumpang sampai dengan 500 PAX. Sementara itu produk yang telah dikembangkan antara lain kapal container sampai dengan 2.600 TEUS,

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
kapal Chemical Tanker sampai dengan 30,000 DWT, kapal LPG Carrier sampai dengan 5.500 DWT. Berikut beberapa produk kapal niaga beserta spesifikasinya: Dry Cargo Vessel STAR 50 Box Shaped Bulk Carrier (BSBC) 50.000 DWT

Gambar 2.1. Gambar Kapal Dry Cargo Vessel STAR 50 Box Shaped Bulk Carrier (BSBC) 50.000 DWT Product Branding PAL INDONESIA Owner : Azurite Invest Ltd, British Virgin Land, Singapura ; Truva Shipping Ltd, Malta & Space Shipping Ltd, Malta Total Products : 5 Unit Specifications : Length Over All:189.90 m Length Between Perpendicular:182.00 m Breadth Moulded: 30.50 m Depth Moulded to Main Deck :17.50 m Speed Service: 14.50 knots Complement : 23 persons Main Engine: MAN B&W Complement:26 persons Class: Nippon Kaiji Kyokai

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Dry Cargo Vessel 18.500 DWT Owner: Mounsmeyer Peterson Capital GERMANY Total Produk : 1 Unit

Gambar 2.2. Gambar Kapal Dry Cargo Vessel 18.500 DWT Specifications: Length Overall: 141,00 m Length Between Perpendiculars: 134,30 m Breadth: 22,50 m Depth: 12,85 m Speed Service: 13,00 knots Complement: 20 person Deadweight: 14.135 ton Main Engine: MAN B&W Class: LR

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Container Ship 1.600 TEUS (PALWO BUWONO SERIES)

Gambar 2.3. Gambar kapal Container Ship 1.600 TEUS Owner : DIRJEN PERLA INDONESIA Total Products : 2 Unit Delivery : 2000 & 2001 Specifications: Length Overall: 177,35 m Length Between Perpendiculars: 167,74 m Breadth: 27,50 m Depth: 14,30m Speed: 20 knots Deadweight: 23.200 ton Main Engine: MAN B&W Class: GL & BKI Tanker 30.000 LTDW MT FASTRON

Gambar 2.4. Gambar Kapal Tanker 30.000 LTDW MT FASTRON

10

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Owner : PT Indonesia State own Oil Company, INDONESIAN Total Products : 1 Unit Specifications: Length Overall: 180,00 m Length Between Perpendiculars: 173,00 m Breadth: 30.50 m Depth: 15,60 m Complement : 37 person Class: Nippon Kaiji Kyokai Kapal Tanker 24.000 LTDW

Gambar 2.5. Gambar Kapal Tanker 24.000 LTDW

Lenghth Overall : 170.0 M Lenght Between perpendiculars : 162.0 M Breadth Moulded : 27.4 M Depth, Mouded : 13.0 M Design Draft, Moulded : 7,5 M Scantling Draft, Moulded : 8,5 M Service Speed : 15.5 knot Including Slop Tanks : 28,000 Cubic meters

11

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
PAX-500

Gambar 2.6. Gambar Kapal PAX-500

Owner : PT. PELNI - INDONESIA Total Products : 3 Unit Specifications : Length Overall: 74,00 m Length Between Perpendiculars: 68,00 m Breadth: 15,20 m Depth: 6,00 m Speed Service: 14,00 knots Complement : 47 person Deadweight: 400 ton Main Engine: 2 x 1.320 HP Class ; + 100 I Passenger Ship + SMO 2.2.2 Produk Kapal Cepat Khusus Saat ini PT. PAL INDONESIA (PERSERO) tengah mengembangkan produk-produk yang akan dipasarkan di dalam negeri, terutama untuk memenuhi kebutuhan badan-badan pemerintah pusat seperti Departemen Pertahanan, Kepolisian Rl, Departemen Kelautan, Departemen Keuangan/Direktorat Jenderal Bea & Cukai

12

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
serta Otonomi Daerah maupun swasta. Produk yang telah dikuasai antara lain: Kapal Landing Platform Dock 125 M Kapal Patroli Cepat Lambung Baja klas 57 m Kapal Patroli Cepat/ Kapal Khusus Lambung Aluminium klas sampai dengan 38 m Kapal Tugboat dan Anchor Handling Tug/Supply sampai dengan klas 6.000 BHP Kapal Ikan sampai dengan 600 GRT Kapal Ferry dan Penumpang sampai dengan 500 pax Berikut beberapa produk kapal cepat kapal khusus beserta spesifikasinya: Landing Platform Dock 125 Meter KRI BANJARMASIN 592

Gambar 2.7. Gambar Kapal KRI BANJARMASIN 592 Owner : DEPHAN TNI-AL Delivery : 2009 & 2011 Total Produk : 2 Unit Spesifikasi : Length Over All = 125 M Length Between Perpendicular = 109,2 M Breath = 22.0 M Depth (Tank Deck)/Truck Deck = 6,7 M / 11,3 M

13

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Draft : Max = 4,9 M Displacement = 7.300 Ton Kecepatan Maksimum = 15 Knots Endurance days = 30 days Cruisning Range = 10.000 Miles Max Embarcation = 344 person (Crew 126; Troops 218) Helicopter = 5 unit LCVP = 2 unit Kapal Patroli Cepat 57 Meter NAV V

Gambar 2.8. Gambar Kapal Patroli Cepat 57 Meter Owner : TNI AL Total Produk : 4 Unit Delivery : 2000, 2002 & 2003 Specifications : Length Overall: 58,10 m Length Waterline : 54.20 m Breadth: 7.62 m Depth: 4.75 m Speed Max: 30 knots Displacement: 454 Ton Complement: 42 persons Main Engine: 2 X 4130 HP

14

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Kapal Patroli Cepat 38 Meter Aluminium

Gambar 2.9. Gambar Kapal Patroli Cepat 38 Meter Building Number : W000268 70 Classification : LLOYDS Register Statement Of Compliance Owner : Directorat BEA CUKAI INDONESIA Total Produk : 3 Unit Delivery : 2009, 2010 PRINCIPAL PARTICULARS Length,overall : 42,00 M Length,in waterline : 38,00 M Length Between Perpendiculars : 36,70 M Breadth (Moudlded) : 7,30 M Depth (Moudlded) : 4,47 M Scantling Draft : 1,85 M Displacement Max Condition : 184,80 Ton MAIN ENGINE : TYPE : mtu 16V 400 M90 Out put : 2 X 2720 kW (3650 HP) SPEED : Max Speed : 30 Knot Service Speed : 18 Knot Complement (ABK/Crew) : 25 person Structure : Aluminum

15

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2.2.3 Produk kapal Tug boat Kapal Tugboat 2400 HP Panjang Keseluruhan : 29.00 Meter Panjang Garis air : 26.50 Meter Lebar : 9.00 Meter Tinggi sampai geladak Utama : 4.50 meter Sarat Air desain : 3.50 Meter Kecepatan maksimum tidak kurang dari : 12 knots Jumlah Kru : 10 Orang Kapal Escort Tug 4400 HP

Gambar 2.10. Gambar Kapal Escort Tug 4400 HP Panjang Keseluruhan : 32.00 Meter Panjang diantara garis tegak : 26.67 Meter Lebar : 11.60 Meter Sarat air : 5.36 Meter Sarat Air desain : 4.10 Meter Mesin pokok : 2 x 2200 HP Kecepatan maksimum tidak kurang dari : 12 knots

16

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2.2.4 Produk Jasa Harkan Produk Jasa harkan kapal maupun non kapal meliputi jasa pemeliharaan dan perbaikan kapal tingkat depo dengan kapasitas docking 600.000 DWT per tahun. Selain itu jasa yang disediakan adalah annual/ special survey dan overhaul bagi kapal niaga dan kapal perang, pemeliharaan dan perbaikan elektronika dan senjata serta overhaul kapal selam. Peluang pasar untuk kategori pelayanan jasa seperti ini berasal dari TNI AL, swasta, pemerintah serta kapal-kapal yang singgah dan berlabuh di Surabaya, dengan jumlah yang mencapai 6.800 kapal per tahun. Adapun kapal yang pernah direparasi di PT PAL Indonesia (Persero) yaitu : Kapal KRI Ki Hajar Dewantara (pemilik TNI)

Gambar 2.11. Gambar Kapal Ki Hajar Dewantara Displacement: 1,850 tons full load Dimensions : 96.70 x 11.2 x 3.55 meters/317.3 x 36.7 x 11.6 feet Propulsion : 2 shafts; 2 cruise diesels, 7,000 bhp; 1 boost gas turbine, 22,300 shp; 27 knots Crew : 91 + 14 instructors + 100 students Sonar : PHS-32 hull mounted MF Fire Control : WM-28 EW : SUSIE-1 intercept, 2 flare RL Aviation : aft helicopter deck and hangar for 1 NBO-105 helicopter (7)

17

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Armament : 4 MM38 Exocet SSM (1), 1 Bofors 57mm/70cal DP (2), 2 Rheinmetall 20 mm (3), 2 ASW torpedo tubes Builders : Uljanic SY, Split, Yugoslavia.

Kapal Caraka Jaya Niaga III 24 (pemilik Meratus)

Gambar 2.12. Gambar Kapal Caraka Jaya Niaga Vessel type:Cargo Gross tonnage:3,258 tons Summer DWT:3,650 tons Length:97 m Beam:16 m Draught:4.9 m

Kapal Maratus Tangguh II (pemilik Meratus)

Gambar 2.13. Gambar Kapal Maratus Tangguh II

18

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur

Vessel type:Container Ship Gross tonnage:6,543 tons Summer DWT:8,515 tons Length:119 m Beam:18 m Draught:7.7 m

Kapal Maratus Padang (pemilik Maratus)

Gambar 2.14. Gambar Kapal Maratus Padang Vessel type:Container Ship Gross tonnage:4,476 tons Summer DWT:5,538 tons Length:101 m Beam:18 m Draught:6,1 m

19

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
SPM 150.000 Balongan (pemilik pertamina)

Gambar 2.15. SPM 150.000 Balongan

Kapal Teras Conquest

Gambar 2.16. Kapal Teras Conquest

2.2.5 Produk Rekayasa Umum Pada saat ini PT PAL INDONESIA (PERSERO) telah menguasai teknologi produksi komponen pendukung 20ndustry pembangkit tenaga listrik seperti Boiler dan Balance of Point. Kemampuan ini akan terus ditingkatkan sampai pada taraf kemampuan modular dan EPC bagi 20ndustry pembangkit tenaga listrik skala kecil menengah sampai dengan 50 Mega Watt.

20

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Saat ini PT PAL INDONESIA (PERSERO) telah menguasai produk Rekayasa Umum seperti Steam Turbine Assembly sampai dengan 600 MW, Komponen Balance of Plant dan Boiler sampai dengan 600 MW, Compressor Module 40 MW, Barge Mounted Power Plant 30 MW, Pressure Vessels dan Heat Exchangers, Generator Stator Frame s.d 600 MW. Sementara itu produk rekayasa umum yang sedang dikembangkan adalah Steam Turbine Power Plant, Jackets structure sampai dengan 1000 ton serta Monopod dan Anjungan (Platform) sampai dengan 1000 ton. Berikut beberapa produk rekayasa umum: Barge Mounted Power Plant (BMPP) 1 x 30 MegaWatt

Gambar 2.17. Gambar Barge Mounted Power Plant (BMPP) 1 x 30 MegaWatt

21

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Combined Cycle 400 MegaWatt - Tambak Loro

Gambar 2.18. Gambar Combined Cycle 400 MegaWatt Stator Frame 750 MegaWatt

Gambar 2.19. Gambar Stator Frame 750 MegaWatt

Steam Power Plant

Gambar 2.20. Gambar Steam Power Plant

22

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Monopod Well Head Platform

Gambar 2.21. Gambar Monopod Well Head Platform Turbin Compresor Module

Gambar 2.22. Gambar Turbin Compresor Module

23

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2.3 Visi dan Misi Perusahaan PAL INDONESIA mempunyai reputasi sebagai kekuatan utama untuk pengembangan industri maritim nasional. Sebagai usaha untuk mendukung pondasi bagi industri maritim, PAL INDONESIA bekerja keras untuk menyampaikan pengetahuan, ketrampilan dan teknologi untuk masyarakat luas industri maritim nasional. Usaha ini telah menjadi relevan sebagai pemegang kunci untuk meningkatkan industri maritim nasional. Pengenalan lebih luas di pasar global telah menjadi inspirasi PAL INDONESIA untuk memelihara produk yang berkualitas dan jasa yang sempurna. Visi ; Menjadi perusahaan perkapalan dan rekayasa berkelas dunia yang dihormati Misi ; Meningkatkan kesejahteraan bangsa melalui pemuasan pelanggan dan insan PT PAL INDONESIA (Persero) Menjadi bagian penting dalam mendukung pertahanan dan keamana

2.4 Struktur Organisasi dan Deskripsi Job Struktur Organisasi PT. PAL INDONESIA (Persero) terdiri dari 5 (lima) Direktorat dan 14 (empat belas) Divisi. Adapan penjelasan dari tugas masing-masing Divisi beserta bagan struktur organisasi PT. PAL INDONESIA (Persero) sebagai berikut : 2.4.1 Divisi Pemasaran dan Penjualan Melaksanakan perencanaan pemasaran jangka panjang jangka pendek produk kapal maupun non kapal. Melaksanakan riset pasar, segmentasi pasar dan studi kelayakan terhadap produk kapal maupuin non kapal. Melaksanakan pemasaran dan penjualan produk kapal dan non kapal. Melaksanakan pengembangan produk dan pengembangan pasar 24

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
untuk mendukung produk baru. Melaksanakan monitoring terhadap pelaksanaan proyek dalam aspek biaya dan kepuasan pelanggan.

Gambar 2.23. Struktur Organisasi PT. PAL INDONESIA (PERSERO)

2.4.2 Divisi Teknologi Melaksanakan perencanaan desain dan engineering untuk proyekproyek yang sedang diproduksi. Melaksanakan penelitian dan pengembangan dibidang rancang bangun dan proses produksi. Merencanakan dan mengembangkan sistem informasi untuk

menunjang kegiatan yang berhubungan dengan rancang bangun dan penelitian. Melaksanakan strategi dibidang 25 teknologi, penelitian dan

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
pengembangan maupun bidang-bidang lainnya sesuai dengan pengarahan dan ketentuan direksi. Melaksanakan kegiatan integrated logistic support untuk kapal-kapal yang diproduksi

2.4.3 Divisi Kapal Perang Melaksanakan perencanaan pembangunan kapal-kapal perang

maupun selain kapal perang sesuai dengan kebijakan Direktur Pembangunan Kapal. Melaksanakan pemasaran dan penjualan untuk produk dan jasa bagi fasilitas idle capacity. Merinci IPP (Instruksi Pelaksanaan Proyek) yang telah dibuat Direktur Pembangunan Kapal menjadi jadwal pelaksanaan proyek dan nilai biaya proyek yang terperinci. Melaksanakan pembangunan proyek-proyek kapal secara efektif dan efisien sesuai aspek QCD. Mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan pembangunan proyekproyek agar mendapatkan hasil pekerjaan yang memnuhi standart kualitas dengan menggunakan biaya, tenaga, material, peralatan, keselamatan kerja dan waktu seefektif mungkin. 2.4.4 Divisi Kapal Niaga Melaksanakan Perencanaan pembangunan kapal-kapal niaga sesuai kebijakan Direktur Pembangunan Kapal. Melaksanakan pemasaran dan penjualan untuk produk dan jasa bagi fasilitas idle capacity. Merinci IPP (Instruksi Pelaksanaan Proyek) yang telah dibuat Direktur Pembangunan Kapal menjadi jadwal pelaksanaan proyek dan nilai biaya proyek yang terperinci. Melaksanakan pembangunan proyek-proyek kapal secara efektif dan efisien sesuai aspek QCD.

26

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan pembangunan proyekproyek agar mendapatkan hasil pekerjaan yang memnuhi standart kualitas dengan menggunakan biaya, tenaga, material, peralatan, keselamatan kerja dan waktu seefektif mungkin. 2.4.5 Divisi General Engineering Melaksanakan perencanaan produk-produk rekayasa umum sesuai dengan kebijakan Direktur Pemeliharaan dan Rekayasa Umum. Melaksanakan pemasaran dan penjualan untuk produk dan jasa bagi fasilitas idle capacity. Merinci IPP (Instruksi Pelaksanaan Proyek) yang telah dibuat Direktorat Pemeliharaan dan Rekayasa Umum menjadi jadwal

pelaksanaan proyek dan nilai biaya proyek yang terperinci. Melaksanakan pembangunan proyek-proyek kapal secara efektif dan efisien sesuai aspek QCD. Mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan pembangunan proyekproyek agar mendapatkan hasil pekerjaan yang memnuhi standart kualitas dengan menggunakan biaya, tenaga, material, peralatan, keselamatan kerja dan waktu seefektif mungkin.

2.4.6 Divisi Pemeliharaan dan Perbaikan Melaksanakan perencanaan pemeliharaan dan perbaikan kapal maupun non kapal sesuai dengan kebijakan Direktur Pemeliharaan dan Rekayasa Umum. Melaksanakan pemasaran dan penjualan untuk produk dan jasa bagi fasilitas idle capacity. Merinci IPP (Instruksi Pelaksanaan Proyek) yang telah dibuat Direktorat Pemeliharaan dan Rekayasa Umum menjadi jadwal

pelaksanaan proyek dan nilai biaya proyek yang terperinci. Melaksanakan pembangunan proyek-proyek kapal secara efektif dan efisien sesuai aspek QCD.

27

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan pembangunan proyekproyek agar mendapatkan hasil pekerjaan yang memnuhi standart kualitas dengan menggunakan biaya, tenaga, material, peralatan, keselamatan kerja dan waktu seefektif mungkin.

2.4.7 Divisi Treasury Melaksanakan kebijakan pendanaan perusahaan sesuai prinsip pengelolaan pendanaan dan perbankan yang berlaku. Melaksanakan strategi optimalisasi return kerja kinerja keuangan dan likuiditas perusahaan. Melaksanakan analisa pasar keuangan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam rangka mengurangi resiko pasar keuangan. Melaksanakan studi kelayakan kinerja keuangan proyek atau bidang usaha sendiri. Melaksanakan pengelolaan invoicing dan penaguhannya, untuk menunjang optimalisasi Cash Flow perusahaan.

2.4.8 Divisi Akuntansi Mempersiapkan dan melaksanakan kebijakan akuntansi perusahaan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. Melaksanakan perencanaan dan pengendalian serta pengawasan atas biaya-biaya perusahaan dan investasi perusahaan. Menyusun rencana kerja jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang dalam bidang akuntansi dan keuangan yang mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan perusahaan. Melaksanakan evaluasi dan analisa terhadap pengelolaan asset liabilities serta kinerja dari anak perusahaan dan usaha kerjasama lainnya.

28

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2.4.9 Divisi Pengadaan Merencanakan kebutuhan material baik untuk mendukung proyek maupun operasional. Mengkoordinir pelaksanaan pengadaan material sesuai kebutuhan material. Mengkoordinir pengelolaan material pada lokasi penyimpanan. Membuat perencanaan kebutuhan dana untuk menunjang kebutuhan material. Mengelola sistem informasi material untuk menunjang unit kerja lain.

2.4.10 Divisi Kawasan Perusahaan Merencanakan dan mengendalikan terhadap pengelolaan dan pemeliharaan bangunan infrastrukturnya beserta anggarannya. Merencanakan, mengendalikan dan pemeliharaan terhadap utilitas dan lingkungan hidup. Merencanakan dan mengendalikan terhadap pengelolaan

keselamatan kerja. Merencanakan dan mengendalikan terhadap pengelolaan keamanan dan ketertiban Membina pengelolaan asset perusahaan.

2.4.11 Divisi Pembinaan Organisasi dan SDM Merencanakan dan mengevaluasi organisasi perkembangan bisnis perusahaan. Merencanakan kebutuhan SDM baik jangka pendek maupun jangka panjang beserta pengembangannya. Melaksanakan proses administrasi mutasi promosi dan rotasi dalam rangka peningkatan kompetensi diri sendiri dan penyegaran penugasan. sesuai dengan

29

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Merencanakan, mengelola, dan mengembangkan sistem pelatihan baik dari dalam maupun dari luar perusahaan.

2.4.12 Satuan Pengawasan Intern Menyelenggarakan pengawasan, pengamatan, analisa dan evaluasi terhadap penyelenggaraan operasional dan pengelolaan keuangan perusahaan. Mencegah kemungkinan penyimpangan operasional perusahaan melalui pembinaan sumber daya dan sumber dana. Meningkatkan efisiensi pemakaian sumber daya dan sumber dana dalam rangka mendukung program profitisasi perusahaan. Menyusun dan menentukan standart ekonomi teknis, hukum , dan manajemen sebagai tolak ukur dalam penilaian atas pelaksanaan tugas pokok di setiap lini perusahaan.

2.4.13 Sekretaris Perusahaan Mengadakan pembinaan, pengelolaaan dan penyempurnaan sistem administrasi yang ada dengan mengacu kepada prinsip manajemen keadmnistrasian Melaksanakan pembinaan hubungan baik dengan stakeholder guna menumbuhkan citra dan positif terhadap informasi perusahaan mengenai

(komunikasi,publikasi

penyebaran

kebijakan maupun aktifitas perusahaan). Memberikan pelayanan hukum serta mempersiapkan dokumen yang mengandung aspek hukum yang diperlukan perusahaan.

2.4.14 Divisi Quality Assurance Melaksanakan perencanaan pemeriksaan dan pengujiam proyekproyek yang sedang diproduksi. Melaksanakan pemeriksaan dan pengujian guna pengendalian dan

30

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
jaminan mutu seluruh hasil produksi perusahaan. Mengkoordinir kegiatan purna jual hasil produksi perusahaan selama masa garansi. Menganalisa dan mengevaluasi hasil pencapaian mutu produksi perusahaan. Melaksanakan pengujian baik merusak maupun tidak merusak untuk material dan hasil proses produksi.

2.5 Struktur Organisasi Divisi Jaminan Kualitas dan Standarisasi Di dalam struktur organisasi divisi jaminan kualitas dan

standarisasi merupakan suatu struktur organisasi yang dibagi-bagi sesuai dengan bidang masing-masing dan dipergunakan untuk memudahkan penanganan pekerjaan agar lebih mudah dalam koordinasi. Berikut ini

merupakan struktur organisasi divisi jaminan kualitas dan standarisasi.


Divisi Jaminan Kualitas & Standarisasi

Sekretariat

Departemen Standarisasi & ISO

Departemen QA Engineering & Commisioning Kapal

Departemen QA/QC Rekayasa Umum

Departemen QA Penerimaan

Departemen QC Kapal

Gambar 2.24 Struktur Organisasi Divisi Jaminan Kualitas dan Standarisasi

31

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2.5.1 Struktur Organisasi Departemen QC Kapal Di dalam struktur organisasi departemen QC kapal merupakan suatu struktur organisasi yang dibagi-bagi sesuai dengan bidang masing-masing dan dipergunakan untuk memudahkan penanganan pekerjaan agar lebih mudah dalam koordinasi. Berikut ini merupakan struktur organisasi departemen QC kapal.
Departemen QC Kapal

Biro Inspeksi Kualitas HC

Biro Inspeksi Kualitas HO

Biro Inspeksi Kualitas EO

Biro Inspeksi Kualitas MO

Gambar 2.25 Struktur Organisasi Departemen QC Kapal Kedudukan & Organisasi Kedudukan Departemen QC Kapal adalah unit kerja struktural tingkat Departemen dalam organisasi Divisi Jaminan Kualitas & Standarisasi yang berkedudukan langsung dibawah Kepala Divisi Jaminan Kualitas & Standarisasi dan dipimpin oleh seorang Kepala Departemen QC Kapal. Organisasi Kepala Departemen Quality Control (QC Kapal) membawahi dan membina: 1. Biro Inspeksi Kualitas HC 2. Biro Inspeksi Kualitas HO 3. Biro Inspeksi Kualitas MO

32

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
4. Biro Inspeksi Kualitas EO Tugas Pokok Menjabarkan dan melaksanakan program kerja Divisi Jaminan Kualitas & Standarisasi dalam bidang pengendalian mutu atas produksi kapal baru dan Harkan (kapal niaga dan kapal perang). Fungsi Merancang strategi dan system pengendalian kualitas bangunan kapal baru dan Harkan Kapal beserta pelaksanaannya yang meliputi: a. Pengendalian mutu bersama-sama fungsi terkait, mulai dari identifikasi material, proses produksi smapai dengan

pemeriksaan dan pengujian akhir di divisi produksi kapal baru & harkan sesuai ketentuan yang berlaku. b. Koordinasi pemeriksaan dan pengujian untuk owner dan badan klasifikasi kemanproan. c. Pengendalian terhadap adanya ketidaksesuaian bidang HC, HO, MO, EO, serta melaksanakan verifikasi tindak lanjutnya. d. Pemantauan pelaksanaan QC Check Sheet di divisi produksi kapal baru dan Harkan. e. Welder sweeping untuk menjamin bahwa juru las/operator las telah sesuai dengan kualifikasi yang dipersyaratkan. f. Koordinasi dengan departemen pelaksana di divisi produksi kapal baru dan Harkan Kapal dalam hal pemenuhan juru las/operator las/workmanship dan prosedurnya yang memenuhi persyaratan kualifikasi dan ketentuan yang disepakati. g. Mengelola dan mengembangkan hubungan internal dan eksternal perusahaan sesuai dengan bidangnya. h. Mengendalikan biaya-biaya yang menjadi beban unit kerja. bersama-sama denga fungsi produksi dan

33

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
i. Melaksanakan penerapan 5R j. Memimpin dan membina bagian yang menjadi tanggung jawabnya. k. Pembuatan/pengisian laporan hasil pemeriksaan dan pengujian sesuai test procedure. l. Biro Inspeksi Kualitas Hull Construction (HC) Kedudukan & Organisasi Kedudukan Biro Inspeksi Kualitas Hull Construction (HC) adalah unit kerja struktural tingkat Biro dalam organisasi Departemen QC Kapal yang berkedudukan langsung dibawah Kepala Departemen QC Kapal dan dipimpin oleh seorang Kepala Biro Inspeksi Kualitas Hull Construction. Organisasi Kepala Biro Inspeksi Kualitas Hull Construction membawahi dan membina Fungsional Inspeksi Mutu. Tugas Pokok Menjabarkan dan melaksanakan program kerja Departemen QC Kapal dalam bidang pemeriksaan dan pengujian mutu konstruksi lambung, dimulai dari identifikasi plat dan profil, proses produksi (fabrikasi, assembly, dan erection) sampai dengan pengujian akhir (sea trial) pada setiap produk kapal baru maupun harkan. Fungsi 1. Mengkoordinir pelaksanaan serta melaksanakan aktivitas pengendalian mutu bidang konstruksi lambung bersama-sama fungsi terkait, mulai dari identifikasi material, proses produksi improvement, norma-norma K3LH dan

34

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
sampai dengan pemeriksaan dan pengujian akhir di divisi produksi kapal baru & Harkan sesuai ketentuan yang berlaku. 2. Mengkoordinir jadwal pemeriksaan dan pengujian untuk owner dan badan klasifikasi bersama-sama dengan fungsi terkait. 3. Melaksanakan pengendalian terhadap adanya ketidaksesuaian bidang konstruksi lambung dan melaksanakan verifikasi tindak lanjutnya. 4. Memantau pelaksanaan QC Check Sheet di divisi produksi kapal baru dan harkan. 5. Melaksanakan welder sweeping untuk menjamin bahwa juru las/operator las telah dipersyaratkan. 6. Melaksanakan koordinasi dengan departemen pelaksana di divisi produksi kapal baru dan harkan dalam hal pemenuhan juru las/operator las dan prosedurnya yang memenuhi persyaratan kualifikasi dan ketentuan yang disepakati. 7. Ikut sertadalam kegiatan QA patrol yang dilaksanakan di divisi produksi kapal baru & Harkan. 8. Membuat/mengisi laporan hasil pemeriksaan dan pengujian sesuai test procedure. 9. Melaksanakan penerapan 5R. 10. Mengelola dan mengembangkan hubungan internal dan eksternal perusahaan sesuai dengan bidangnya. 11. Memimpin dan membina bagian yang menjadi tanggung jawabnya. improvement, norma-norma K3LH dan sesuai dengan kualifikasi yang

35

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2. Biro Inspeksi Kualitas Hull Outfitting (HO) Kedudukan & Organisasi Kedudukan Biro Inspeksi Kualitas Hull Outfitting (HO) adalah unit kerja struktural tingkat Biro dalam organisasi Departemen QC Kapal yang berkedudukan langsung dibawah Kepala

Departemen QC Kapal dan dipimpin oleh seorang Kepala Biro Inspeksi Kualitas Hull Outfitting. Organisasi Kepala Tugas Pokok Menjabarkan dan melaksanakan program kerja Departemen QC Kapal dalam bidang pemeriksaan dan pengujian mutu outfitting lambung, dimulai dari identifikasi equipment, proses produksi sampai dengan pengujian akhir pada setiap produk kapal baru maupun harkan. Fungsi 1. Melaksanakan aktivitas pengendalian mutu bidang outfitting lambung bersama-sama fungsi terkait, mulai dari identifikasi material, proses produksi sampai dengan pemeriksaan dan pengujian akhir di divisi produksi kapal baru & Harkan sesuai ketentuan yang berlaku. 2. Mengkoordinir jadwal pemeriksaan dan pengujian untuk owner dan badan klasifikasi bersama-sama dengan fungsi terkait. 3. Melaksanakan pengendalian terhadap adanya ketidaksesuaian bidang outfitting lambung dan melaksanakan verifikasi tindak lanjutnya. 4. Memantau pelaksanaan QC Check Sheet di divisi produksi kapal baru dan harkan & Harkan. Biro Inspeksi Kualitas Hull Outfitting

membawahi dan membina Fungsional Inspeksi Mutu.

36

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
5. Melaksanakan welder sweeping untuk menjamin bahwa juru las/operator las telah sesuai dengan kualifikasi yang

dipersyaratkan. 6. Melaksanakan koordinasi dengan departemen pelaksana di

divisi produksi kapal baru dan harkan dalam hal pemenuhan juru las/operator las dan prosedurnya yang memenuhi persyaratan kualifikasi dan ketentuan yang disepakati. 7. Ikut sertadalam kegiatan QA patrol yang dilaksanakan di divisi produksi kapal baru dan harkan. 8. Membuat/mengisi laporan sesuai test procedure. 9. Melaksanakan penerapan 5R. 10. Memimpin dan membina bagian yang menjadi tanggung jawabnya 11. Mengelola dan mengembangkan hubungan internal dan eksternal perusahaan sesuai dengan bidangnya. improvement, norma-norma K3LH dan hasil pemeriksaan dan pengujian

3. Biro Inspeksi Kualitas Machinery Outfitting (MO) Kedudukan & Organisasi Kedudukan Biro Inspeksi Kualitas Machinery Outfitting (MO) adalah unit kerja struktural tingkat Biro dalam organisasi Departemen QC Kapal yang berkedudukan langsung dibawah Kepala Departemen QC Kapal dan dipimpin oleh seorang Kepala Biro Inspeksi Kualitas Machinery Outfitting. Organisasi Kepala Biro Inspeksi Kualitas Machinery Outfitting membawahi dan membina Fungsional Inspeksi Mutu.

37

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Tugas Pokok Menjabarkan dan melaksanakan program kerja Departemen QC Kapal dalam bidang pemeriksaan dan pengujian mutu outfitting permesinan, dimulai dari identifikasi equipment, proses produksi sampai dengan pengujian akhir pada setiap produk kapal baru maupun harkan. Fungsi 1. Melaksanakan aktivitas pengendalian mutu bidang outfitting permesinan bersama-sama fungsi terkait, mulai dari identifikasi material, proses produksi sampai dengan pemeriksaan dan pengujian akhir di divisi produksi kapal baru & Harkan sesuai ketentuan yang berlaku. 2. Mengkoordinir jadwal pemeriksaan dan pengujian untuk owner dan badan klasifikasi bersama-sama dengan fungsi terkait. 3. Melaksanakan pengendalian terhadap adanya ketidaksesuaian bidang outfitting permesinan dan melaksanakan verifikasi tindak lanjutnya. 4. Memantau pelaksanaan QC Check Sheet di divisi produksi kapal baru dan harkan. 5. Melaksanakan koordinasi dengan departemen pelaksana di divisi produksi kapal baru dan harkan dalam hal pemenuhan tenaga kerja berkualifikasi dan prosedurnya yang memenuhi persyaratan Class dan ketentuan yang disepakati. 6. Ikut serta dalam kegiatan QA patrol yang dilaksanakan di divisi produksi kapal baru dan harkan. 7. Membuat/mengisi laporan sesuai test procedure. 8. Melaksanakan penerapan 5R. improvement, norma-norma K3LH dan hasil pemeriksaan dan pengujian

38

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
9. Mengelola dan mengembangkan hubungan internal dan eksternal perusahaan ssuai dengan bidangnya. 10. Memimpin dan membina bagian yang menjadi tanggung jawabnya.

4. Biro Inspeksi Kualitas Electric Outfitting (EO) Kedudukan & Organisasi Kedudukan Biro Inspeksi Kualitas Electric Outfitting (EO) adalah unit kerja struktural tingkat Biro dalam organisasi Departemen QC Kapal yang berkedudukan langsung dibawah Kepala Departemen QC Kapal dan dipimpin oleh seorang Kepala Biro Inspeksi Kualitas Electric Outfitting. Organisasi Kepala Biro Inspeksi Kualitas Electric Outfitting membawahi dan membina Fungsional Inspeksi Mutu. Tugas Pokok Menjabarkan dan melaksanakan program kerja Departemen QC Kapal dalam bidang pemeriksaan dan pengujian mutu outfitting perlistrikan, dimulai dari identifikasi equipment, proses produksi sampai dengan pengujian akhir yang terkait dengan peralatan listrik, elektronika, dan senjata pada setiap produk kapal baru maupun harkan. Fungsi 1. Melaksanakan aktivitas pengendalian mutu outfitting

perlistrikan dan senjata bersama-sama fungsi terkait, mulai dari identifikasi material, proses produksi sampai dengan pemeriksaan dan pengujian akhir di divisi produksi kapal baru & Harkan sesuai ketentuan yang berlaku.

39

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2. Mengkoordinir jadwal pemeriksaan dan pengujian untuk owner dan badan klasifikasi bersama-sama dengan fungsi terkait. 3. Melaksanakan pengendalian terhadap adanya ketidaksesuaian bidang outfitting perlistrikan, elektronika, sistem control dan senjata serta melaksanakan verifikasi tindak lanjutnya. 4. Memantau pelaksanaan QC Check Sheet di divisi produksi kapal baru dan harkan. 5. Melaksanakan koordinasi dengan departemen pelaksana di divisi produksi kapal baru dan harkan dalam hal pemenuhan tenaga kerja berkualifikasi dan prosedurnya yang memenuhi persyaratan Class dan ketentuan yang disepakati. 6. Ikut serta dalam kegiatan QA patrol yang dilaksanakan di divisi produksi kapal baru dan harkan. 7. Membuat/mengisi laporan hasil pemeriksaan dan pengujian sesuai test procedure. 8. Melaksanakan penerapan 5R. 9. Mengelola dan mengembangkan hubungan internal dan eksternal perusahaan ssuai dengan bidangnya. 10. Memimpin dan membina bagian yang menjadi tanggung jawabnya 2.6 Kebijakan Perusahaan Tentang Safety dan Lingkungan 2.6.1 Kebijakan Perusahaan Dalam rangka mewujudkan visi dan misi perusahaan serta memuaskan pelanggan dan pihak-pihak berkepentingan di dalam perusahaan, maka PT. PAL Indonesia (persero) dalam menghasilkan produk/jasa menetapkan kebijakan perusahaan yaitu : 1. Penurunan tingkat kerugian jiwa dan properti dengan menurunkan dan mengendalikan resiko kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan improvement, norma-norma K3LH dan

40

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
juga mencegah pencemaran lingkungan serta menjamin keselamatan dan kesehatan kerja. 2. Pemenuhan kepuasan pelanggan dengan menjamin produk yang berkualitas kelas dunia dan ketepatan waktu penyelesaian. 3. Peningkatan efektifitas dan efisiensi secara berkesinambungan di segala bidang. 4. Penerapan etika usaha dan etika kerja, baik untuk internal maupun eksternal. 5. Pemenuhan terhadap pemenuhan perundang-undangan. 2.6.2 Ketentuaan Umum 1. Taatilah Prosedur dan Peraturan Umum K3. 2. Pastikan kondisi jasmani dalam keadaan sehat sebelum

beraktifitas. 3. Selalu waspada dalam melaksanakan suatu pekerjaan karena setiap kecelakaan yang menimpa karyawan akan menyebabkan keluarga menderita. 4. Sebelum melakukan suatu pekerjaan, pikirkan cara aman yang akan anda lakukan dan telitilah bahwa semua peralatan kerja ataupun alat pelindung diri yang diperlukan sesuai dengan jenis pekerjaan yang akan saudara lakukan. 5. Pusatkan perhatian saudara saat melakukan pekerjaan. Perhatikan keselamatan diri sendiri dan orang lain. 6. Lakukan suatu evaluasi pekerjaan sebelum pekerjaan dimulai, untuk mencegah terjadinya langkah-langkah yang keliru yang dapat mendatangkan bahaya. Pertimbangkan apakah pekerjaan tersebut memerlukan bantuan Inspektur Keselamatan & Kesehatan Kerja. 7. Ambilah posisi kerja yang aman dan benar. 8. Gunakan katelpak yang sesuai dengan model pakaian kerja

41

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
9. Rapikan rambut yang panjang / gondrong karana akan membahayakan keselamatan saudara. 10. Simpanlah perkakas kerja saudara dalam kotak atau tas penyimpan, jangan disimpan dalam saku baju/celana. 11. Simpanlah perkakas kerja saudara dalam kptak/tas penyimpanan, jangan disimpan dalam saku baju/celana. 12. Bila mengangkat brang, bawalah sebatas kemampuan saudara dan usahakanlah jangan menghalangi pandangan. 13. Apabila bekerja dengan alat ungkit atau dongkrak tempatkaanlah alat tersebut pada posisi yang kokoh dan yakinkan bahwa posisi saudar cukup aman sekiranya alat pengungkit atau dongkrak tersebut tergelincir. 14. Periksalah baik-baik semua peralatan listrik serta sambungan kabelnya, sebelum memulai pekerjaan. Tanyakan pada pimpinan saudara bila merasa belum mengetahui. 15. Perhatikan instruksi dari atasan/pimpina sebelum bekerja. 16. Bacalah dengan seksama semua instruksi tentang cara

pengoperasian suatu alat atau tata cara melakukan pekerjaan. Tanyakan pada pimpinan saudara bila merasa belum mengetahui. 17. Tegurlah dan peringatkan dengan baik seseorang yang berperilaku membahyakan. 18. Patuhilah batas kecepatan serta rambu-rambu lalu lintas saat saudara mengemudikan kendaraan bermotor. 19. Dilarang keras merokok, kecuali ditempat-tempat yang telah ditentukan dan pada jam istirahat. 20. Tampunglah setiap tetes minyak kedalam ember atau bak-bak penampung. Minyak yang tercecer dilantai akan membahayakan. Bersihkan tetesan minyak yang tercecer dilantai dengan

sabun/tipol/pembersih minyak lainnya. 21. Gunakan pelindung telinga (ear plug atau Ear Muff) bila berada atau bekerja didekat sumber kebisingan.

42

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
22. Dilarang keras minum semua jenis minuman yang mengandung alcohol selama jam kerja atau dalam perusahaan. 23. Dilarang keras menggunakan narkoba atau sejenisnya selama jam kerja atau dalm perusahaan. 24. Dilrang memindahkan rambu-rambu lalu lintas, gambar/spanduk keselamatan kerja, alat pelindung diri dan sejenisnya yang telah ditempatkan pada lokasi-lokasi tertentu, tanpa mendapat arahan personil yang berwenang terhadap masalh tersebut. 25. Setelah mengakhiri pekerjaan, periksalah daerah kerja sebelum meninggalkannya. 26. Laporkan pada inspector K3 setiap keadaan yang dapat membahayakan ataupun yang dapat menimbulkan kecelakaan. 27. Ketahuilah letak alam pemadam api yang terdekat dengan area kerja anda dan ketahuilah cara penggunaan dengan benar. 28. Dilrang keras berkelahi dan bercanda dengan kasar.

2.6.3 Persyaratan Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) 1. Setiap karyawan yang menangani pekerjaan langsung, berhak memiliki inventaris APD dan tidak boleh dipindahkan atau dipinjamkan pada orang lain. 2. Setiap karyawan berkewajiban merawat dan memelihara APD yang diterimanya, agar selalu dalam keadaan baik, bersih dan layak pakai. 3. Agar menggunakan APD sebagaimana mestinya dalam melaksanakan tugas, sehingga terhindar dari luka atau sakit akibat karja. 4. Bila APD rusak segera laporkan kepada pengawas pekerjaan (kabeng/kasi) masing-masing untuk dimintakan penggantian disertai inventaris barang yang telah rusak.

43

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
5. Setiap karyawan yang kehilang APD yang menjadi tanggung jawabnya, harus mengganti dengan uang senilai barang yang hilang. 6. Pengawas pekerjaan bertanggung jawab terhadap pemakaian APD bawahannya.

2.6.4 Jenis Pekerjaan Yang Mewajibkan Pemakaian APD A. APD wajib dipakai di tempat kerja, meliputi : 1. Helm Pengaman 2. Kacamata pengaman 3. Katelpak/ pakaian kerja 4. Sabuk pengaman 5. Stiwel 6. Sepatu keselamatan B. APD untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu : Pengawas/ Inspektor/ Surveyor. a. Helm pengaman b. Kacamata pengaman c. Katelpak/ pakaian kerja d. Sabuk pengaman (bila ketinggian lebih dari 2 meter) e. Stiwel f. Sepatu Keselamatan g. Sarung tangan katun/ kulit pendek

44

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2.6.5 Kebersihan Lingkungan (Housekeeping) 1. Jalan terusan, jalan masuk, gang, tangga, gudang, ruang pelayanan daan daerah kerja agar dalam keadaan : Bersih dan tidak ada yang menghalangi jalan Bebas dari bahaya terpeleset 2. Material yang tidak diperlukan atau tidak terpakai harus segera dipindahkan ketempat yang telah ditentukan. 3. Semua sampah dan material scrap harus dipindah dari wilayah kerja dan dibuang ketempat yang telah disediakan. 4. Tumpuhan minyak harus dilaporkan dan dibersihkan dengan benar. 5. Material harus tertata rapid an tidak boleh merintangi jalan. 6. Wilayah disekitar bangunan dan operasi harus dijaga

kebersihannya dan bebas dari material yang tidak diperlukan. 7. Cairan-cairan yang mudah dan cepat terbakar yang ada di dalam bangunan atau kawasan operasi diusahakan seminimum mungkin dan disimpan dilokasi yang disediakan untuk itu. 8. Wadah-wadah atau tempat buangan sisa makanan harus

dikosongkan setiap hari dan dijaga bersih serta sehat

45

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
BAB III TEORI DASAR 3.1 Sand Blasting 3.1.1 Pengertian Sand Blasting Sand blasting adalah suatu metoda pembersihan permukaan yang dilakukan dengan cara menyemburkan material abrasive ke permukaan.

Benturan abrasive yang disemburkan pada kecepatan yang tinggi terhadap permukaan yang dibersihkan dapat secara menyeluruh menghilangkan segala kontaminasi yang merekat keras pada permukaan seperti kerak besi, karat, pelapisan lain dan kotoran lainnya. Selain itu benturan abrasive juga digunakan untuk mengasarkan permukaan sehingga tercipta profil

kedalaman yang diperlukan sebagai pondasi pelapisan cat. 3.1.2 Jenis Abrasive Untuk Sand Blasting a. Steel Shot Steel shot merupakan bahan abarasive yang diproduksi dari baja. Memiliki bentuk yang bundar dan mengandung silica bebas 1 %. Steel shot baik digunakan untuk membersihkan permukaan namun kurang efektif untuk menciptakan kedalaman profile, oleh karena itu, umumnya dicampur dengan steel grit. Dapat digunakan kembali untuk beberapa kali dan dipakai untuk shop blasting saja (pekerjaan blasting dalam ruang tertutup).

Gambar 3.1 Gambar Material Steel Shot

46

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
b. Steel Grit Sama dengan steel shot yang diproduksi dari baja, namun memiliki bentuk yang runcing. Mengandung silica bebas kurang dari 1%. Abrasive ini dapat berkarat dan mengkontaminasi permukaan yang dibersihkan. Oleh sebab itu, baik steel grit dan steel shot harus diperhatikan tidak berkarat sebelum digunakan. Dapat digunakan ulang untuk beberapa kali dan umummnya digunakan untuk shop blasting saja.

Gambar 3.2 Gambar Material Steel Grit c. Coal Slag Coal slag merupakan ampas hasil olah pembakaran industri. Mengandung silica bebas kurang dari 1 %. Memiliki bentuk persegiempat atau agak lonjong dan mempunyai tingkat kekerasan 6 mohs dengan berat lebih besar dibanding pasir silica. Oleh sebab itu, dapat digunakan untuk membersihkan permukaan logam dan memperoleh kedalaman profile, namun umummnya tidak digunakan untuk beberapa kali pembersihan karena sifatnya agak rapuh. d. Copper Slag Copper slag merupakan ampas hasil olah industri yang berasal dari peleburan tembaga. Bentuknya sama dengan coal slag, persegiempat dengan kekerasan 6 Mohs. Abrasive ini memeiliki kekerasan yang lebih rendah dibanding pasir silica namun mempunyai berat yang lebih besar. Oleh sebab itu, dapat digunakan untuk membersihkan dan menciptakan profile permukaan, tetapi mempunyai

47

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
kelemahan sering menempel dalam celah profile yang harus dibersihkan secara seksama. e. Aluminium Oxide Aluminium oxide merupakan jenis sintetik abrasive yang mempunyai tingkat kekerasan yang sangat tinggi dan dapat membersihkan dan menciptakan kekerasan pemukaan dengat cepat karena beratnya dan bentuknya yang memiliki sudut-sudut yang runcing. Dipakai untuk shop blasting dan dapat dipergunakan kembali untuk beberapa kali pembersihan permukaan. f. Silicon Carbide Sama dengan aluminium oxide, abrasive ini merupakan jenis sintetik abrasive yang mempunyai tingkat kekerasan ang sangat tinggi. Membersihkan dan menghasilkan profile kedalaman

permukaan dengan cepat karena memiliki berat dengan sudut-sudut yang runcing. Dipakai untuk shop blasting dan dapat dipergunakan kembali untuk beberapa kali pembersihan permukaan.

Tabel 3.1 Tabel Karakteristik Material Abrasive

48

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3.1.3 Komponen Peralatan Sand Blasting a. Kompresor Kompresor digunakan sebagai sumber tenaga untuk

menghasilkan angin yang dibutuhkan oleh alat penyemburan dan pernafasan. Kapasitas kompresor harus memenuhi persyaratan, yaitu memiliki kemampuan untuk menghasilkan tekanan angin sampai dengan 100 psi (7 bar) dan volume angin yang memadai sekitar 375 cfm (dua kali lebih besar dari volume angin yang diperlukan oleh blasting nozzle). Selain itu, kompresor yang digunakan sangat disarankan memiliki penyaring air dan minyak karena kualitas angin yang dihasilkan harus benar-benar kering dan tidak boleh mengandung air dan minyak yang dapat mengkontaminasi permukaan yang dibersihkan

b. Selang Angin Selang angin yang digunakan bila melebihi 30 meter panjangnya, harus memiliki diameter dalam paling tidak empat kali lebih besar dari ukuran diameter nozzle blasting yang digunakan. Ini berfungsi untuk menghindari hilangnya tekanan. Perlu diketahui, setiap kelipatan 15 meter panjang selang terjadi kehilangan sekitar 2-3 psi dan untuk setiap tekukan 90o terdapat kehilangan tekanan sekitar 5-6 psi. Selain itu bahan selang juga harus terbuat dari materi yang memiliki ketahanan terhadap air dan minyak termasuk tahan terhadap tekanan.

c. Blasting Pot Blasting pot adalah mesin penyemburan yang diperlukan untuk melakukan pembersihan. Abrasive dan angin dengan tekanan tinggi akan bersatu dalam mesin ini. Oleh sebab itu, kualitas blasting pot yang digunakan harus memiliki ketahan tekanan sampai 150 psi dengan ketebalan dinding minimal 8 mm serta mempunyai sertifikat pengujian tekanan

49

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur

Gambar 3.3 Gambar Blasting Pot d. Selang Blasting Ukuran selang blasting yang digunakan untuk penyemburan harus memiliki diameter dalam minimal empat kali lebih besar dari diameter blasting nozzle yang digunakan. Selang ini membawa abrasive dan tekanan anagin yang disemburkan. Oleh sebab itu, selang blasting tersebut harus memiliki ketahan yang kuat terhadap gesekan abrasive dan dapat menampung tekan sampai dengan 175 psi serta mempunyai ketahanan terhadap panas sampai dengan 80o C. selang tersebut juga harus memiliki tingkat fleksibilitas yang cukup agar tidak sulit digunakan. Untuk alasan keselamatan kerja, gunakan selalu selang blasting yang terdiri dari tiga lapis selang atau three-ply blast hose.

e. Nozzle Blasting jenis ukuran dan bahan blasting nozzle berhubungan erat dengan kecepatan produksi dan hasil pembersihan pemukaan. Terdapat dua jenis blasting nozzle yaitu venture dan straightbore. Venture umunya digunakan untuk pemukaan yang lebar dan untuk membersihkan permukaan yang baru atau pembersihan secara

menyeluruh terhadap permukaan lama. Sedangkan jenis straight-bore digunakan untuk permukaan yang kecil dan pembersihan untuk perbaikan pelapisan. Begitupun terhadap ukuran nozzle bervariasi namun umumnya yang digunakan untuk pembersihan permukaan baru yang luas adalah ukuran no. 6 dan

50

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
ukuran no. 4 untuk permukaan yang kecil atau untuk pemeliharaan atau kasus untuk perbaikan setempat pada permukaan. Bahan nozzle ada yang terbuat dari ceramic, tungsten, silicon carbide, dan boron-silicon. Masingmasing memiliki ketahan dan umur yang berbeda-beda. f. Safety Equipment Orang yang melakukan blasting harus menggunakan blasting hood. Blasting hood yang digunakan harus daapt menutupi kepala, wajah, leher dan bahu dengan rapat dan dilengkapi alat bantu pernafasan yang dpat memasok dengan cukup kadar angin yang bersih. Pakaian pelindung yang digunakan harus terbuat dari bahan yang cukup untuik menahan benturan balik abrasive yang disemburkan. Sarung tangan pelindung dan sepatu boot yang digunakan saat penyemburan harus sesuai dengan stadart

3.2 Persiapan pengecatan Adapun hal-hal yang harus diketahui sebelum dilakukan aplikasi pengectan adalah sebagi berikut : a. Relative Humidity Relatif Humidity yaitu tingkat ketinggian kadar uap air yang ada pada ruangan dimana akan dilakukan proses blasting,. Biasanya dalam bentuk satuan (%) dan batasan maksimumnya yaitu 85%. Jika RH kurang dari atau sama dengan 85% maka proses pengecatan dapat dilakukan, tetapi jika RH lebih besar dari 85% maka proses pengecatan tidak boleh dilakukan karena tingkat kandungan uap air di udara terlalu besar yang akan mengakibatkan uap air menempel pada permukaan pelat sehingga cat tidak mempunyai daya rekat yang tinggi. Untuk mengetahui besarnya RH dapat dicari dengan alat deteksi RH auto.

51

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
b. Dew Point Dew Point yaitu temperatur dimana kelelmbaban udara menjadi uap air yang akan membasahi permukaan logam. Dew point dapat diukur dengan menggunakan dew point calculator.

c. Surface Temperatur Pemeriksaan temperature permukaan logam sebelum pelapisan berguna untuk mendeteksi adanya kondensasi atau uap pada permukaan. Temperature permukaan yang akan dilapisi minimal harus 3o diatas Dew point

d. Dust Level Dust level adalah tingkat kandungan debu yang ada pada permukaan pelat setelah blasting hal ini dapat diketahui dengan menggunakan masking tipe yang terbuat dari plastic transparan, kemudian dibandingkan dengan table dust level. Criteria penerimaan dust level yaitu level 2.

e. Kecepatan Angin Sebelum pelapisan, arah dan kecepatan angin ada baiknya untuk diketahui agar proses penyemprotan tepat pada sasarn permukaan dan kontaminasi yang dapat terjadi pada permukaan akibat debu dan partikel kimia yang terbawa oleh angindapat dihindari. Penyemprotan pelapisan tidak disarankan apabila kecepatan angin melebihi 25 km/jam

f. Tingkat Kebersihan Permukaan 1. ISO8501-1-1998 Sa 3 Secara kasat mata, permukaan setelah dibersihkan harus bebeas dari minyak, gemuk dan pasir yang Nampak, dan bebas dari kerak, pelapisan lama, dan kontaminasi lainnya dimana keseluruhan permukaan mempunyai keseragaman warna metalik.

52

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2. ISO8501-1-1998 Sa 2 Secara kasat mata, permukaan setelah dibersihkan harus bebeas dari minyak, gemuk dan pasir yang Nampak, dan bebas dari kerak, pelapisan lama, dan kontaminasi lainnya kecuali kontaminasi yang dibolehkan tertinggal pada permukaan hanya sedikit bayangan dalam bentuk bintik atau garis. 3. ISO8501-1-1998 Sa 2 Secara kasat mata, permukaan setelah dibersihkan harus bebeas dari minyak, gemuk dan pasir yang Nampak, dan bebas dari kerak, pelapisan lama, dan kontaminasi lainnya kecuali kontaminasi yang dibolehkan tertinggal pada permukaan hanya yang merekat keras pada permukaan. 4. ISO8401-1-1998 Sa 1 Secara kasat mata, permukaan setelah dibersihkan harus bebeas dari minyak, gemuk dan pasir yang Nampak, dan bebas dari kerak, pelapisan lama, dan kontaminasi lainnya yang merekat lemah pada permukaan. g. Salt Contamination Salt contamination adalah kadar garam yang terkandung pada permukaan pelat, semakin besar kadar garam yang terkandung maka proses korosi akan semakin cepat. Kandungan garam yang diperbolehkan untuk proses apalikasi penngecatan tidak boleh lebih dari 50 mg/m. untuk mengetahui kadar garam pada pemukaan pelat maka digunaka alat yang disebut Salt Contamination Test h. Surface Roughness Surface rougness yaitu tingkat kekasaran permukaan pelat setelah dilakukan blasting. Kekasaran permukaan pelat yang dibentuk bertujuan sebagai pondasi dari cat. Semakin kasr permukaanya, maka tingkat ikatanya semakin kuat dan sebaliknya jika permukaanya halus maka semakin lemah tingkat ikatan dar cat tersebut. Kekasran permukaan yang disrankan yaitu antara 30 sampai dengan 5 m

53

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3.3 Pengecatan 3.3.1 Pengertian pengecatan Pelapisan liquid atau cat adalah lapisan proteksi yang melindungi suatu permukaan logam dari akses lingkungannya dengan cara membentuk lapisan tipis diatan permukaan logam tersebut. Cat merupaka metoda yang sering digunakan dalam mengendalikan korosi 3.3.2 Komponen Cat Cat adalh suatu bahan cair yang bersifat kental dan terdiri dari 3 komponen utama, yaitu pigment atau bahan pewarna, binder (resin) atau bahab pengikat, dan solvent atau bahan pelarut. Pigment atau bahan pewarna pada cat merupakan partikel padat yang berfungsi memberikan warna dan menutupi permukaan sebelumnya, serta memperlambat laju korosi pada permukaan logam. Selain itu memberikan efek kilap dan menambah ketahananterhadap cuaca serta turut menguatkan lapisan film pada cat yang telah kering. Binder (resin) atau bahan pengikat adalah bagian cair dari cat nsmun tidak menguap dan membentuk lapisan film pada permukaan setelah cat mongering. Fungsinya sebagai bahan perekat dan pemberi kohesi, selain itu memegang peranan dalam proses pengeringan cat, serta memberikan kekuatan lapisan, dan kemudahan aplikasi. Merupakan suatu prasarana yang mutlak dalam cat. Umumnya cat diberi nama berdasarkan jenis bindernya. Solvent atau bahan pelarut adalah bagian yang cair dari cat daan akan menguap. Diperlukan untuk mengencerkan bahan pengikat saat produksi dan aplikasi cat. Selain itu ikut membantu proses pengeringan cat.

54

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3.3.3 Klasifikasi Cat Berdasrkan proses pengeringannya cat dibagi menjadi 2, yaitu : 1. Pengeringan dengan Solvent Lapisan cat yang terbentuk pada permukaan setelah penguapan bahan pelarut selesai. Sifat-sifat cat dengan pengeringan solvent, yaitu : Revesible, artinya meskipun cat telah kering dengan sempurna, namun dapat kembali seperti bentuk semula bila dilarutkan dengan solvent atau pelarutnya ( sensitive terhadap solvent/pelarut yang lebih kuat dari larutanya sendiri). Thermoplastic, artinya cat yang telah kering dapat menjadi lentur dan lunak pada temperature tertentu. Non-covertible, artinya tidak terdapat atau tidak terjadi proses kimia pada pengeringannya, tetapi kering secara fisik berdasrkan penguapan solvent. 2. Pengeringan dengan Proses Kimia Lapisan cat terbentuk oleh adanya proses kimia yang mengikat molekul-molekul cat satu sama lain dan merekat pada permukaan, baik beraksi dengan oksigen, dengan reaksi kimia yang lain (duakomponen), dengan moisture (air), maupun dengan panas (heat). Sifatsifat cat dengan pengeringan proses kimiawi adalah sebagai berikut : Irrevisible, artinya tidak dapat kembali kebentuknya semula dan tidak dapat dilarutkan kembali (tidak sensitive terhadap

solvent/pelarut, tahan terhadap solvent apabila kering). Thermosetting, artinya cat setelah kering tidak dapat menjadi lunak atau lentur walaupun pada temperature tinggi. Convertible, artinya terjadi proses kimia yang mengikat molekulmolekul cat pada saat pengeringan. Adapun contoh klasifikasi cat dengan menggunakan

pengeringan dengan proses kimia, yaitu : 55

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Kering dengan proses oksidasi (oksigen), misalnya: Alkyd, epoxy ester, dan Modified Alkyds. Kering dengan reaksi kimia yang lain (jenis dua-komponen / base dan hardener), misalnya: coal tar epoxy, polyurethane, polyester, epoxy phenolic, dan vinyl ester. Kering dengan moisture (air), misalnya: Inorganic zinc, moisturecured urethane (satu komponen) Kering dengan heat (panas), misalnya: silicone dan baked phenolic.

3.3.4

Sistim Pelapisan Adapun sistim pelapisan pengecatan sebagai berikut : 1. Primer Cat dasar untuk melindungi permukaan loagam agar tidak berkarat. Fungsi di titik beratkan kepada pigment sebagi anti karat. Sifat yang dibutuhkan harus memiliki daya rekat yang baik terhadap permukaan. Adapun jenis pelapaisan primer ini dibagi menjadi 2 jenis : Shop Primer Berfungsi sebagai pelindung sementara selama perakitan, biasanya dapat memberikan perlindungan sekitar beberapa bulan dan diaplikasi sangat tipis antara 10-30 mikron kering saja. Umumnya pelapisan dilaksanakn di pabrik. Holding Primer Tidak sama dengan shop primer. Holding primer merupakan jenis cat dasar yang sifatnya memberikan perlindungan permanen. Jenis cat ini adalh umum dipakai di lapangan atau di lokasi kerja. 2. Intermediet / Undercoat Cat tengah untuk menambah ketebalan dan rintangan terhadap akses dari lingkungan. Biasanya lebih tebal dari cat dasar dan cat akhir. Sifat yang dibutuhkan harus memiliki daya rekat yang baik terhadap primer dan dilapisi dengan top coat. 56

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3. Top Coat / Finish Coat Cat akhir untuk pelindung paling luar terhadap akses lingkungan dan berfungsi sebagai keindahan aatu estitika. Ditekankan pada ketahanan warna dan daya kilapnya. Sifat yang dibutuhkan harus memiliki daya rekat yang baik terhadap primer atau intermediate.

3.4. Pipa 3.4.1. Sejarah Pipa Pipa (pipe) ditemukan saat manusia dulu kesulitan membawa air dari sumber air ke rumah atau pemukiman mereka. Dengan adanya pipa maka pekerjaan membawa air menjadi lebih mudah. Pipa pertama terbuat dari bambu (bamboo).Pada peradaban Mesir dan Aztec, pipa terbuat dari lempung yang dibakar. Pipa logam pertama dibuat pada masa Yunani dan Romawi dengan membuatnya dari timbal dan bronze (perunggu, Cu-Sn). Pipa besi dibuat setelah adanya penemuan serbuk senjata (gun powder), karena serbuk senjata memerlukan pipa besi yang lebih kuat untuk dilewati peluru, Sejak saat itu berbagai produk pipa dari logam berkembang pesat dan menjadi produk khusus saat ini.

3.4.2. Material Pipa Material yang digunakan sebagai pipa sangat banyak

diantaranya adalah: beton cor, gelas, timbal, kuningan (brass),tembaga, plastik, aluminium, besi tuang, baja karbon, dan bajapaduan.pemilihan material pipa akan sangat membingungkan sehingga perlu pemahaman mendalam untuk apa saluran/sistem pipa itu dibuat, mengingat setiap material memiliki keterbatasan dalamsetiap aplikasinya.Material yang paling umum digunakan adalah pipa baja karbon.

57

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3.4.3. Metoda Pembuatan Pipa Baja Karbon Pipa karbon dapat diproduksi dengan bebagai metoda, metoda yang sering digunakan dalam pembuatan pipa meliputi seamless, butwelded dan spiral-welded pipe manufacturing. a. Seamless Pipe Dibuat dengan cara menusuk batang baja yang mendekati suhu cair (disebut billet) dengan menggunakan sebuah mandrel yang mana pipa ini tidak memiliki sambungan. Diagram pembuatan pipa seamless (tanpa sambungan) dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 3.4 Gambar Diagaram Pembuatan Pipa Seamless b. But-welded Pipe Dibuat dengan cara memasukkan pelat baja panas melalui pembentuk (shapers, shape rollers) yang akan merolnya menjadi bentuk batangan pipa yang berlubang. enekanan yang sangat kuat pada kedua sisi-sisi pelat akanmenghasilkan sambungan las. Gambar dibawah ini, menunjukkan pembentukan pipa buttwelded daribahan dasar pelat hingga menjadi pipa melalui proses pengerolan :

Gambar 3.5 Gambar Diagaram Pembuatan Pipa Butt-Welded

58

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
c. spiral-welded pipe Dibuat dengan cara memuntir strip logam (pelatmpanjang dengan lebar sempit, seperti pita), menjadi bentuk spiral, seperti pola kriting rambut di salon, kemudian dilas dimana ujung-

ujungsambungan satu-sama lain membentuk sebuah sambungan.Pipapipa jenis ini terbatas pada sistem pemipaan yang menggunakan tekanan rendah karena tebal pipa yang tipis. Gambar berikut ini menunjukkan spiral-welded pipe sebelum dilas :

Gambar 3.6 Gambar Spiral-Welded Pipe Sebelum Dilas

3.4.4. Ukuran Pipa Ukuran pipa dinyatakan dengan NPS (Nominal Pipe Size). NPS ini digunakan untuk menjelaskan sebuah pipa dengan namanya. Selain itu dengan NPS, ukuran pipa juga dinytakan dalam OD (Outside Diameter, OD). Utuk pipa yng dinamai dengan NPS dimulai dari ukuran sampai denga 12 , untuk pipa yang dinyatakan berdasarka OD yaitu pipa dengan ukuran diatas 12.

3.4.5. Ketebalan Pipa Pipa diproduksi dalam berbagai macam ketebalan yang sudah distandardkan. setiap ketebalan tertentu pada pipa diberi penamaan dalam bentuk schedule number, bukan dalam bentuk ukuran pipa yang sebenarnya. pada awalnya ketebalan pipa hanya ada 3 kelompok yaitu: a. b. c. Standard Extra Strong (XS) Extra Strong (XS)

59

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Saat ini penamaan sudah diganti dengan memberikan schedule number tertentu, yang dimulai dari 5 dan 5S, kemudian diiukuti dengan 10 dan 10S, seterusnya dalam kelipatan 10 sampai schedule 40 (20, 30, 40) dan selanjutnya mempunyai kelipatan 20, yaitu 60, 80, 100, 120, 140, 160

Gambar 3.7 Gambar 3 Kelompok Ketebalan Pipa

Tabel 3.2 Tabel Dimensi Pipa

3.4.6. Penyambungan Pipa Penyambungan pipa bisa dilakukan dengan butt welded (BW), socket welded (SW) maupun screwed(Scrd).

60

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
a. Butt Welded (BW). Digunakan pada secara luas untuk proses, keperluan umum, dsb. Cocok untuk pipa dan fitting berukuran besar, dengan reliabilitas yang tinggi (leak-proof). Prosedur fabrikasinya adalah dengan menyatukan masing-masing ujung sambungan (bevel), diluruskan (align), tack-weld, lalu las kontinu. Beberapa contoh fitting yang menggunakan BW antara lain: BW Tee, dipakai untuk membuat percabangan 900 dari pipa utama. Cabang dapat berukuran lebih kecil (reduced tee) atau sama dengan pipa utama (equal tee) Stub-in digunakan untuk membuat cabang langsung ke pipa utama. Cabang berukuran lebih kecil. Weldolet digunakan untuk membuat percabangan 900 pada pipa utama. Elbolet digunakan untuk membuat percabangan tangensial pada suatu elbow. Sweepolet digunakan untuk membuat percabangan 900. Umumnya dipakai pada pipa transmisi dan distribusi (pipe line system) b. Socket Welded (SW). SW digunakan untuk ukuran kecil . Ujung pipa dibuat rata, lalu didorong masuk ke dalam fitting, valve atau flange. Dibandingkan dengan BW, SW memiliki kelebihan dalam hal penyambungan dan pelurusan yang lebih mudah, terutama untuk ukuran kecil. Tetapi, adanya sisa jarak 1/16 in antara pertemuan ujung pipa dan fittings, valve, atau flange dapat menyebabkan kantung cairan. Penggunaan SW juga dilarang per ASME B31.1.0-1967 jika terdapat erosi atau korosi cresive. Beberapa contoh SW fittings: Ful-coupling untuk menyambung pipa ke pipa Swage Nipples (Plain Both Ends/PBE) digunakan untuk

menyambung SW item ke BW pipa atau fitting berukuran lebih besar

61

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
SW Elbow digunakan untuk menghasilkan perubahan arah 900 atau 450. Nipolet digunakan untuk sambungan ke valve berukuran kecil. SW Tee dipakai untuk membuat percabangan 900 dari pipa utama. Cabang dapat berukuran lebih kecil (reduced tee) atau sama dengan pipa utama (equal tee) SW elbowlet digunakan untuk membuat percabangan tangensial Sockolet digunakan untuk membuat percabangan 900 pada pipa utama. c. Screwed (Scrd). Seperti SW, screwed piping digunakan untuk pipa berukuran kecil. Umumnya tidak dipakai untuk proses, meskipun mungkin pressure-temperature ratingnya memenuhi. SW dan screwed fitting umumnya berkelas 2000, 3000, dan 6000 PSI.

3.5. Pickling 3.5.1. Pengertian Proses Pickling Proses pickling adalah proses penghilangan karat pada logam yang akan dilapisi. Caranya dengan mencelupkan logam yang akan dilapisi ke dalam bak yang berisi larutan asam kuat (HCl). Apabila karat yang menempel pada logam relatif sedikit maka pencelupan hanya akan dilakukan sekitar 3-4 jam, sebaliknya apabila karat yang terdapat pada logam sangat banyak maka pencelupan dilakukan sekitar 4-5 jam . Reaksi yang terjadi pada proses pickling adalah sebagai berikut Fe2O3 + 6HCl FeO + HCl Fe + HCl 2FeCl3 + 3H2O FeCl2 + H2O FeCl2 + H2O (1) (2) (3)

62

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3.5.2. Peralatan Pickling Adapun Peralatan yang diperlukan dalam proses pickling adalah sebagi berikut : 1. bak Hcl dan Bak pembilasan (7m x 1m x 1,5m ) 2. Laruan Asam Clorida (HCL sampai 33%) 3. Inhibitor 4. Tali sling 5. Kompresor

Gambar 3.8 Gambar Bak Pickling Yang berisi Cairan

63

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
BAB IV PEMBAHASAN MASALAH

4.1 Pemeriksaan Visual Hasil Blasting Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat tingkat kebersihan dari material setelah di blasting. Dalam pemeriksaan ini material akan diperiksa secara visual untuk melihat ada tidaknya sparter, ada tidaknya pasir yang menggumpal, dan ada tidaknya pengkaratan kembali. Selain itu juga dilihat apakah permukaan dari pelat tersebut terdapat cacat permukaan atau tidak. Untuk Sparter yang ditemukan bisa dilakukan penggerindaan, untuk pasir yang menggumpal bisa di bersihkan dengan alat vakum sedangkan untuk pegkaratan kembali, apabila tidak terlalu banyak bisa di brushing, jika sudah merata di seluruh permukaan maka akan ditembak ulang, tetapi bukan ditembak secara full blasting melainkan hanya dilakukan sweep blasting. Dan untuk pelat yang terdapat cacat permukaan akan di tutup sementara dengan tip saat diaplikasi pengecatan. Selain itu, untuk bisa mengetahui apakah material hasil blasting sudah sesuai dengan standard kebersihan permukaan yang diminta, maka dilakukan perbandingan antara material hasil blasting dengan photo dari standard yang digunakan.

(a) (b) Gambar 4.1 (a)Sparter pada Material Hasil Blasting,(b) Pengkaratan Kembali Pada Material Hasil Blasting

64

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur

Gambar 4.2 Photo Standar Kebersihan SA 2.5

4.2 Pengujian-Pengujian pada Persiapan Pengecatan Adapun Pengujian- pengujia yang dilakukan sebelum aplikasi Pengecatan adalah : a. Pengukuran Relative Humidity Untuk mengukur relative humidity digunakan sebuah alat yang disebut Sling Psychrometer, Adapun cara menggunakat Sling Psychrometer adalah sebagai berikut : 1. Bukalah tutup sling psychrometer dimana sumbu terletak, dan basahkan sumbu tersebut dengan air bersih secukupnya. 2. Tunggu beberapa menit hingga air menyerap dan membasahi bagian sumbu yang membungkus thermometer basah. 3. Putar sling psychrometer searah jarum jam minimal 1 menit dengan kecepatan putaran 2-3 kali per detik. 4. Baca temperatur basah terlebih dahulu sebelum membaca temperatur

65

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
pada thermometer kering. 5. Catat hasil pengukuran temperatur basah dan kering 6. Temukan skala angka yang menunjukkan temperatur baah dan skala angka yang menunjukkan temperatur kering, selanjutnay cari kelembapan udara dari ruangan tersebut.

Gambar 4.3 Gambar Sling Psychrometer

b. Pengukuran Titik Embun. Untuk mengukur dew point, bisa digunakan dewpoint calculator. Adapun cara penggunaan alat tersebut adalah : 1. Geser skala angka pada dew point calculator agar skala angka temperature kering bisa sama dengan temperature basah.bagaian atas. 2. Kemudian lihat skala angka yang ditunjuk oleh temperature basah bagian bawah untuk bisa mengetahui nilai dew point.

66

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur

Gambar 4.4 Gambar Dew Point Calculator

c. Pengukuran Surface Temperature. 1. Letakkan sensor dari pengukur surface temperature ke permukaan material. 2. Tunggu hingga alat menunjukkan angka, kemudian catat temperature tersebut.

Gambar 4.5 Gambar Alat Pengukur Surface Temperature

d. Pengujian Surface Roughness. Adapun langkah-langkah pengukuran profil permukaan sebagai berikut : 1. Pilih kertas replika yang belum digunakan dan sesuai dengan tingkat kekasaran yang akan dihitung. 2. Lepaskan kertas pelindung,dan tempelkan pada permukaan substrat

67

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
3. Pegang kertas replica dan gosok bagian plastik bulat ditengahnya, hingga warna abu-abu muncul secara merata 4. Lepaskan kertas replica dan tempatkan diantara Micrometer Dial Gauge, dan hitung tebalnya dan kurangi dengan tebal plastik untuk mendapatkan profil permukaan. 5. Lakukan langkah-langkah tersebut diatas dan hitung di tiga lokasi, kemudian dilakukan perhitungan rata-rata sebagai angka profil permukaan

Gambar 4.6 (a) Testex Press O Film Replica Tape, (b) Dial Thickness Gauge

e. Pengujian Salt Test. Untuk pengujian salt test dibutuhkan beberapa peralatan antara lain : 1. Syringe (alat suntik) 2. Aquades 3. Bresle Patches 4. Gelas kimia 5. Conductivity meter

68

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Adapun langkah-langkah untuk pengujian adalah sebagi berikut : 1. Tuangkan cairan aquades ke dalam gelas kimia 2. Ukur caian tersebut dengan conductivity meter, catat hasilnya sebagia initial reading. 3. Isi syringe dengan cairan aquades yang ada di dalam gelas kimia hingga seperempat 4. Suntikkan cairan ke bresle patch, ulangi hingg 10 kali. 5. Masukkan cairan ke gelas kimia, ukur kembali dengan conductivity meter, catat hasilnya sebagai actual reading. 6. Hitung kadar garam dari material hasil blasting tersebut dengan cara : Kadar garam = (actual reading-initial reading) x 6 (mg/cm2) 7. Jika hasilnya < 50 mg/cm2, maka diterima

Gambar 4.7 Gambar Alat Salt Test

69

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
f. Dust Level Test Adapun Langkah-Langkah untuk mengukur dust level adalah : 1. Letakkan pita perekat diatas permukaan . 2. Ambil pita melekat tersebut, kemudian bandingkan hasil debu yang menempel pada pita tersebut dengan dust level comperator board 3. Lakukan evaluasi termasuk level yang mana debu yang menempel pada material.

Gambar 4.8 Gambar Alat Yang Digunakan dalam Dust Level Test

g. Pengukuran Arah dan Kecepatan Angin Adapun langkah-langkah dalam pengukuran arah kecepatan angin adalah : 1. Untuk menentukkan arah angin dapar menggunakan bendera, sedangkan untuk mengukur kecepatan angin diperlukan peralatan Digital anemometer. 2. Hidupkan anemometer denagn menekan tombol on dan periksa

70

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
kondisi alat dapat berfungsi dengan baik atau tidak. 3. Ukur kecepatan angin dengan menekan tombol lain pada alat tersebut dan diamkan selama beberapa saat hingga kecepatan angin rata-rat ditampilkan pada display monitor. 4. Bila kecepatan angin lebih dari 25 km/jam, maka penyemprotan pelapisan tidak daapat dilakukan.

Gambar 4.9 Gambar Anemometer

4.3 Pemeriksaan Hasil Pengecatan a. Pemeriksaan Secara Visual Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui hasil baik tidaknya hasil pengecatan secara visual. Dalam pemeriksaan ini akan diberikan simbol-simbol yang digunakan untuk memperbaiki hasil pengecatan yang dilakukan, adapun simbol-simbol yang digunakan dan artinya : F = Filler, catatan ini diberikan apabila pada daerah pengelasan atau pelat terdapat lubang sehingga diperlukan filler untuk menutupinya. SP = Sand Paper, catatan ini diberikan untuk permukaan cat yang kurang rata apabila tidak bisa di gosok dengat kertas gosok GSK= Gosok dengan kertas, catatan ini diberikan untuk permukaan cat yang tidak rata SK = skarap, catatan ini diberikan apabila tetesan cat yang jatuh pada 71

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
permukaan cat menimbulkan gumpalan diatasnya sehingga dipelukan skrap untuk menghilangkannya. SPT = sparter, catatan ini diberikan apabila ada sparter pada permukaan cat. Untuk menghilangkan sparter bisa dilakukan penggerindaaan. TU = tancap ulang, catatan ini diberikan apabila ada permukaan material yang masih kelihatan tipis catnya, sehingga diperlukan pengecatan kembali. b. Pengukuran Ketebalan pengukuran ini dilakukan dengan alat DFT gauge.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ketebalan cat apakah sudah sesuai dengan DFT yang disyaratkan. Pengukuran ini lebih cenderung di lakukan pada area yang sulit untuk di cat, misalnya pada area dibelakang bulb. Untuk menggunakanya cukup meletakkan diatas permukaan cat, sehingga akan ditampilkan DFT yang terukur. Apabila tidak sesuai maka akan dilakukan pengecatan kembali pada permukaan tersebut

Gambar 4.10 Gambar Pengukuran DFT Pada Permukaan Cat

72

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
4.4 Pemeriksaan Fabrikasi Pipa Adapun urutan pemeriksaan fabrikasi pipa adalah sebagai berikut : a. Identifikasi Material Semua pipa sebelum dikerjakan di bengkel fabrikasi harus di identifikasi terlebih dahulu. Ini dilakukan untuk mengetahui apakah material yang dikirim sudah sesuai debgan sertifikat dari material tersebut.

Gambar 4.11 Gambar Pipa Yang Diidentifikasi

b. Penandaan Pipa Penandaan ini bertujuan untuk mengelompokkan dari masingmasing sisitem sesuai dengan kode proyek serta perlakuan pipa setelah dari bengkel fabrikasi pipa. Contoh penandaan pipa : S.150 / BW - 100 - 1 GZ Artinya : S.150 BW 100 1 GZ WH adalah kode proyek. adalah sistem pipa ballast adalah diameter pipa (100 mm) adalah nomor urut pipa. adalah pipa tersebut harus digalvanis atau adalah Pipa tersebut hanya di pickling

73

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Tabel 4.1 Tabel Kode Sytem Pipa di Kapal. No 1 2 3 4 5 6 7 8 c. Pemotongan Pipa Pada tahap ini yang harus diperiksa adalah bentuk bevel dari pipa yang akan disambung apakah sudah sesuai dengan WPS yang telah disepakati oleh Class (Approval Class). Kode FW BW FO LO HW BL FM SO Keterangan System pipa fresh water System pipa ballast water System pipa fuel oil System pipa lubrication oil System pipa hot water System pipa bilge System pipa FM System pipa soil

d. Pembengkokan Pipa Untuk memastikan hasil pembengkokan pipa sesuai gambar kerja dan standar yang dipakai, pemeriksaan ini meliputi : Pemeriksaan sudut hasil pembengkokan pipa Pemeriksaan bentuk ellipsoid. Pemeriksaan ketebalan pipa setelah dibengkokan Pemeriksaan gelombang permukaan pipa pada daerah pembengkokan. Toleransi sudut pembengkokan

Gambar 4.11 Gambar Toleransi Sudut Pembengkokan 74

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Toleransi Perbandingan Bentuk Ellipsoid

Gambar 4.12 Gambar Perbandingan Bentuk Ellipsoid Perbandingan ellipsoid = a - b x 100 % D a = Jarak sumbu terbesar (diameter luar) b = Jarak sumbu terkecil (diameter luar D = Diameter luar pipa sebelum dibengkok. Tabel 4.2 Tabel Perbandingan Bentuk Ellipsoid Jari Kelengkungan Toleransi (% ) 2 3D 9 3 4D 8 4 5D 8 5D 6D 8

Toleransi

Perbandingan

Perubahan

Ketebalan

Pipa

Setelah

Pembengkokan.

Gambar 4.13 Gambar Perbandingan Perubahan Ketebalan Pipa Setelah Pembengkokan.

75

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Perbandingan perubahan ketebalan = T - t x 100 % T T t D = Ketebalan pipa sebelum pembengkokan = Ketebalan pipa sesudah pembengkokan = Diameter luar pipa sebelum pembengkokan

Tabel 4.3 Tabel Perbandingan Perubahan Ketebalan Pipa Setelah Pembengkokan. Jari kelengkungan Pipa (%) Pipa (%) 2 - 3D 25 30 3 - 4D 20 25 4 - 5D 15 20 5D atau lebih 10 15

e. Penyetelan Pipa (Fit Up) Pemeriksaan pada proses ini bertujuan untuk Untuk

memastikan hasil penyetelan (Fitt Up) sudah sesuai dengan gambar kerja dan standar yang dipakai. Beberapa item pemeriksaan setelah penyetelan pipa antara lain : Sudut kemiringan flange Bevel (rumah las) pada flange. Posisi lubang baut pada flange. Persiapan bevel (rumah las) untuk sambungan tumpul (butt joint) Ukuran dari rangkaian pipa dengan pipa cabang atau bagian - bagian yang menempel Toleransi dari sudut kemiringan flange.

Gambar 4.14 Gambar Toleransi Sudut Kemiringan Flange

76

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Tabel 4.4 Tabel Toleransi Sudut Kemiringan Flange Diameter pipa > 400 A 200 A - 350 A < 150 A 30 2,4 () 10 20 ( C ) mm 1,8 2,2

Toleransi dari sudut lubang baut pada flange

A < 0,5 mm.

Gambar 4.15 Gambar Toleransi Sudut Lubang Baut Pada Flange

Toleransi margin las / kampuh las pada flange.

Gambar 4.16 Gambar Toleransi Margin Las / Kampuh Las Pada Flange.

77

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Toleransi kampuh las untuk sambungan tumpul (butt)

Gambar 4.17 Gambar Toleransi Kampuh Las Untuk Sambungan Tumpul (Butt) Pengelasan pipa cabang.

(a). Pipa cabang ukuran kecil dengan diameter sama.

Gambar 4.18 Gambar Pengelasan Pipa Cabang Ukuran Kecil Dengan Diameter Sama. (b). Pipa cabang ukuran kecil dengan diameter berbeda.

Gambar 4.18 Gambar Pengelasan Pipa Cabang Ukuran Kecil Dengan Diameter Sama.

78

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
(c). Pipa cabang ukuran menengah dan besar dengan diameter sama.

Gambar 4.19 Gambar Pengelasan Pipa Cabang Ukuran Menengah Dan Besar Dengan Diameter Sama. (d). Pipa cabang ukuran menengah dan besar dengan diameter berbeda.

Gambar 4.20 Gambar Pengelasan Pipa Cabang Ukuran Menengah Dan Besar Dengan Diameter Berbeda f. Pemeriksaan Pengelasan Pipa Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan hasil pengelasan sudah sesuai gambar kerja dan standar yang dipakai. Pemeriksaan ini dilakukan secara visual. Pemeriksaan ini pada awalnya dilakukan secara intern oleh QC, setelah pemeriksaan secara intern berhasil, maka akan di undang class dan owner surveyor untuk memriksa kembali.

79

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Ketentuan bentuk pada pengelasan fillet. (1). Masih diijinkan (Pass).

Gambar 4.21 Gambar Pengelasan Pipa yang Diijinkan

(2). Tidak diijinkan (fail).

Gambar 4.22 Gambar Pengelasan Pipa yang Tidak Diijinkan Ketentuan bentuk pada pengelasan butt.

Gambar 4.23 Gambar Ketentuan Bentuk Pada Pengelasan Butt

80

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
Standar pengelasan. (1). Panjang kaki las dan margin las/kampuh las pada flange.

Gambar 4.24 Gambar Panjang Kaki Las Dan Margin Las/Kampuh Las Pada Flange. Tabel 4.5 Tabel Panjang Kaki Las Dan Margin Las/Kampuh Las Pada Flange. Tebal Pipa (t) Diameter Nominal 15 20 25 32 40 50 65 80 100 125 150 200 SGP SCH SCH SCH1 40 2,8 2,9 3,4 3,6 3,7 3,9 5,2 5,5 6,0 6,6 80 3,7 3,9 4,5 4,9 5,1 5,5 7,0 7,6 8,6 9,5 60 4,7 5,5 6,4 6,4 7,1 8,7 9,5 11,1 13,5 15,9 18,2 23,0 Panjang Kaki Las (min) (W1) 5K,10K 5K SGP 16K Margin Las / Kampuh Las Pada Flange (W2) 4-5 4-5 4-6 4-6 4-6 4-7 6-8 6-9 6 - 10 7 - 11 7 - 12 8 - 14 #40,80,1 #40,80,1 60 5 5 5 6 6 6 6 6 7 7 7 9 5 5 5 6 6 6 7 7 7 8 8 9 60 5 5 5 6 6 6 8 8 9 10 10 12

2,8 2,8 3,2 3,5 3,5 3,8 4,2 4,2 4,5 4,5 5,0 5,8

7,1 11,0 8,2 12,7

81

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
225 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 Ketentuan pengecekan secara visual : 6,2 6,6 6,9 7,9 7,9 7,9 7,9 9,3 15,1 10,3 17,7 11,1 19,0 12,7 21,4 14,3 23,8 15,1 26,2 28,6 33,3 35,7 40,5 45,2 50,0 9 10 10 12 12 12 12 12 12 12 12 9 10 10 12 12 14 14 16 16 12 13 14 16 18 20 21 22 22 8 - 14 8 - 14 8 - 14 9 - 14 9 - 14 9 - 14 9 - 14 10 - 15 10 - 15

Gambar 4.25 Gambar Ketentuan Pengecekan Secara Visual

82

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
g. Test Tekanan (Press Test) Pemeriksaan ini Bertujuan untuk memeriksa terjadinya kebocoran pada daerah lasan. Hal ini perlu dilaksanakan agar mengurangi pekerjan yang terlalu sulit apabila terjadi kebocoran di kapal, pemeriksaan ini meliputi : Pemeriksaan pengencangan baut. Pemeriksaan media yang dipakai. Pemeriksaan tekanan yang dipakai, tekanan yang dipakai adalah 1.5 kali dari tekanan kerja pipa yang telah di design. Setelah itu diperiksa daerah pengelasan apakah terjadi kebocoran atau tidak. Indikasi kebocoran muncul apabila ada rembesan air dari dalam ke luar pipa di daerah pengelasn

Gambar 4.26 Gambar Pipa Yang Di Press Test

4.5 Pemeriksaan Instalasi Pipa Di Kapal Pemeriksaan pemasangan / instalasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa

pipa di kapal telah sesuai dengan gambar kerja

standar dan spesifikasi yang telah disepakati. Adapun pemeriksaannya meliputi : a. Pemeriksaan posisi pipa, jarak antara pipa yang satu dengan yang lain. 83

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
b. Posisi pipa, ducting dan instalasi kabel tidak boleh bersinggungan. c. Pemeriksaan terhadap support apakah sudah lengkap dengan U bolt dan baut terikat kuat. d. Pemeriksaan terhadap sambungan flange, apakah sudah dilengkapi dengan packing serta baut terikat kuat. e. Pemeriksaan terhadap hasil pengelasan pada sambungan pipa atau penetration. f. Pemeriksaan test kebocoran dengan tekanan (Press Test) atau dengan penggenangan (flooding test). Tabel 4.6 Tabel System Pipa Yang di Lakukan Pres Test atau di lakukan Flooding Test Test Tekanan Test Penggenangan System Pipa 1,5 x Tekanan kerja (Flooding Test) 1. Pipa Air Tawar (FW) O 2. Pipa Bilge (BL) O 3. Pipa Ballast (BW) O 4. Pipa Pemadam (FM) O 5. Pipa Hydraulic O 6. Pipa Soil (SO) O 7. Pipa Scupper (SC) O 8. Pipa accommodation Drain O (AD) 9. Pipa Compressor Air (CA) O Lihat Keterangan dari 10. Pipa CO2 Maker Adapun pelaksanaan test kebocoran adalah sebagai beikut : 1. Masukkan udara bertekanan sebesar 1.5 kali tekanan kerja sesuai design. Udara tekanan yang dipakai dalam test kebocoran yaitu gas nitrogen. Apabila dilakukan dengan air atau dikenal dengan hydro test maka perbandingan udara dan air yang digunakan yaitu 50:50. Press test yang menggunakan udara bertekanan dilakukan untuk mengetes kebocoran pada air supply system., sedangkan press test dengan udara bertekanan dan air dilakukan untuk mengetest kebooran pada system HW, water ballas, DW dan lain-lain.

84

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
2. Tunggu hingga 1 hari, kemudian cek tekanan kerja apakah terjadi penurunan atau tidak 3. Setelaah itu periksa selurah daerah pengelasn apakah terjadi kebocoran atau tidak. Untuk presst test dengan udara bertekanan, untuk melihat terjadinya kebocoran dilakukan dengan meyemprotkan air sabun ke daerah pengelasan, jika timbul gelembung maka terjadi kebocoran. Untuk press test dengan udara dan air bertekanan, untuk melihat adaya kebocoran dilakukan denga melihat apakah ada rembesan air atau tidak padadaerah pengelasan. g. Untuk system pipa hydraulic & pipa bahan bakar harus dilaksanakan proses flushing terlebih dahulu. Adapun proses flushing meliputi : Sebelum flushing instalasi pipa harus sudah di test kebocoran. Pada proses flushing bisa menggunakan pompa bantu atau pompa system tersebut tergantung kesepakatan dengan maker. Pada saat proses flushing dilakukan pemukulan pada pipa, agar kotoran yang menempel pada bagian dalam pipa bisa terlepas. Pengamatan untuk hasil flushing dilihat pada filter di mana hasil filter tersebut bersih dan hasilnya disaksikan oleh OS.

4.6 Proses Pickling Adapun tahapan dari proses pickling sebuah material adalah sebagai berikut : 1. Proses pencelupan a. Periksalah karat yang ada dan perkirakan waktu pembersihannya (lama pencelupan). b. Pisahkan material yang ada apabila membutuhkan perlakuan yang lebih.

85

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
c. Celupkan material secara perlahan-lahan kedalam larutan. Setelah seluruhnya tercelup, garakan material dua atau tiga kali kedalam larutan. Pada prinsipnya, material yang panjang di masukkan / dicelupkan dari salah satu sisi bak untuk menghindari udara yang terperangkap dan keluarnya larutan asam. d. Setelah selesai pencelupan, getarkan tali sling. Pilihlah posisi yang terbaik pada saat pencelupan didalam bak dan jangan membenturkan material pada pagar pengaman. Kemudian keluarkan udara yang terperangkap, lalu tempatkan bagian yang terbuka pada bagian atas. Catatlah waktu mulai pencelupan dan waktu pengangkatan pada buku laporan harian. 2. Pengoperasian a. Untuk material seperti pipa, plat bar, dan profil, setelah pencelupan didalam larutan rubahlah posisi bagian yang bersentuhan b. Bila jumlahnya sedikit, gerakkan material tersebut ke atas dan kebawah dua atau tiga kali sampai tercelp semuana c. Bila jumlahnya banyak, gerakkan dengan arah vertical dua atu lebih dan selalu di ulang-ulang. 3. Proses pengangkatan a. Angkatlah pelan-pelan material yang di proses setelah jadwal waktu pencelupan terpenuhi. Biasna 3-4jam. b. Usahakan pencelupan sesempurna mungkin. Khusus untuk materialmaterial yang sulit pengeluaran Hclnya/ material yang mempunyai bentuk tidak rata maka sistem pengeluaran Hcl dengan cara memberi waktu agak lama/ didiamkan agak lama.

86

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
4. Pemeriksaan Hasil Pickling a. Periksalah material secara visual dan bila perlu gunakan sikat baja atau kikir untuk menghilangkan karat atau cat yang tersisa sampai bersih betul. b. Bila dari hasil pemeriksaan permukaan material sudah bersih dari karat dan kotoran dan berwarna keabu-abuan berarti proses pembersihan dapat diterima. c. Bila permukaan material terjadi lubang lubang kecil dan kasar, kemungkinan telah terjadi pickling yang berlebihan. d. Bila ada material yang tidak terkena pembersihan pada waktu pencelupan, ulangi lagi proses pembersihannya hanya pada daerah tersebut. e. Untuk kotoran yang tidak hilang seperti cat yang tipis, slag welding dan apa saja yang melekat pada material bersihkan material tersebut dengan gerinda, kertas gosok atau sikat. 5. Pembilasan a. Material setelah proses pickling harus dibilas dengan air di dalam bak pembilasan dengan cara dikocok dalam bak. b. Selanjutnya di proses lebih lanjut ke bak fluxing.

Gambar 4.27 Gambar Pipa Hasil Pickling

87

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan dari laporan OJT ini adalah : 1. Pemeriksaan blasting dilakukan secara visual untuk melihat ada tidaknya sparter, ada tidaknya pengkaratan kembali dan cacat permukaan. Hasil pemeriksaan secara visual tersebut selanjutnya dilaksankan pekerjaan baik di gerinda, brushing atau yang lain agar permukaan blasting siap untuk dilakukan pengecatan. 2. Untuk melakukan pengukuran relative humidity digunakan alat sling psychrometer, untuk melakukan pengukuran dew point digunakan alat dew point calculator, untuk melakukan pengukuran surface temperature bisa digunakan alat pengukur surface temperature, untuk melakukan pengukuran surface roughness digunakan alat dial thickness gauge, untuk melakukan pengukuran kadar garam digunakan alat conductivity meter dengan cara mengukur cairan aquades yang dimasukkan ke bresle patches , untuk melakukan pengukuran dust level digunakan pita yang dilekatkan di permukaan material selanjutnya dilakukan evaluasi untuk melihat level dari debu, dan untuk mengukur kecepatan angin digunakan lat anemometer 3. Pemeriksaan hasil pengecatan dilakukan secara visual dengan melakukan pemberian symbol pada hasil pengecatan selanjutnya coment tersebut dikerjakan sesuai dengan symbol yang diberikan, selin itu juga dilakukan pengukuran ketebalan cat dengan DFT gauge. 4. Pemeriksaan fabrikasi pipa meliputi identifikasi material, penandaan pipa, pemeriksaan pemotongan pipa, pemeriksaan pembengkokan pipa, pemeriksaa penyetelan pipa, pemeriksaan pengelasan pipa, dan pemeriksaan tes tekanan.

88

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
5. Pemeriksaan instalasi pipa di kapal meliputi pemeriksaan posisi pipa, pemeriksaan terhadap support, pemeriksaan terhadap sambungan flange, pemeriksaan terhadap hasil pengelasan danpemeriksaan tes kebocoran. 6. Untuk melakukan proses pickling, adapun tahapanya yaitu proses pencelupan, proses pengangkatan, pemeriksaan hasil pickling dan pembilasan. 5.2. Saran Adapun saran dari laporan OJT adalah : 1. Pihak K3 hendaknya lebih memperketat pengawasannya terhadap pemakaian alat-alat pengaman bagi tenaga kerja. Di lapangan sering dijumpai tenaga kerja yang tidak memakai helm dan alat pengaman lainnya. 2. Proses produksi yang berisiko tinggi terhadap kecelakaan hendaknya dilaksanakan dengan pengawasan langsung pimpinan proyek. 3. Proses pemeriksaan sebaikya dilakukan sesuai prosedur yang terdapat di galangan sehingga tidak tejadi masalah dalam pemeriksaan tersebut. 4. Proses pekerjaan dilapangan harus disesuaikan dengan standard yang terdapat digalangan sehingga hasil dari pekerjaan akan mempercepat proses produksi. 5. Dari segi kerapian, kesehatan, kebersihan, kenyamanan dalam tempat kerja harus lebih diperhatikan lagi serta dalam kamar mesin hal di atas perlu diperhatikan.

89

Laporan On The Job Training PT. PAL INDONESIA (Persero) SURABAYA - Jawa Timur
DAFTAR PUSTAKA

Anonymus. (2010), Materi Pelatihan Blasting dan Coating Operator Muda.PT. Corrosion Care Indonesia:Bandung. Anonymus.2011,BAB IV PEMBAHASAN - upn veteran Jakarta,[pdf], (http://www.library.upnvj.ac.id/pdf/2s1teknikkapal/206212011/bab4. pdf,diakses tangggal 16 Pebruari 2013) Hartoyo, Ary. 2011 Jenis Pipa dan Ukurannya, (http : // eryhartoyo . wordpress.com /2011/08/14/jenis-pipa-dan-ukurannya, diakses tanggal 22 April 2013) Hidayanti, Sri dkk.2011, Tugas Mekanika Fluida dan Partikel:Fitting,[pdf], (http://www.scribd.com/doc/66826807/Fitting tangggal 22 April 2013) Sirawan, Yudi.2009, Pipa Bja (Steel Pipe),[pdf], ( http : // mesin . ub . ac . id/upload/kuliah/PipingSyst06th, diakses tangggal 22 April 2013)

90