Anda di halaman 1dari 46

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Menjalankan profesi kedokteran / kesehatan ada hal-hal yang jarang disadari oleh dokter, bahwa saat ia menerima pasien untuk mengatasi masalah kesehatan baik di bidang kuratif, preventif, rehabilitasi maupun promotif, sebetulnya telah terjadi transaksi atau persetujuan antara dua belah pihak (dokter dan pasien) dalam bidang kesehatan (M. Yusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Para dokter selama ini mengetahui bila ia telah memiliki ijazah sebagai dokter (umum, gigi, dan spesialis) dan mempunyai izin dokter (SID) dan surat izin praktek (SIP), maka ia boleh memasang papan praktek, dan siap untuk memberikan pelayanan kesehatan sesuai ijazah yang dimilikinya. Selain itu bila bekerja di rumah sakit, puskesmas, atau pusat pelayanan kesehatan lainnya, maka satu-satunya yang dipikirkan adalah ia harus menjalankan profesinya sesuai dengan misi yang diemban atau ditugaskan. Tidak terlintas dalam pemikirannya bahwa pada waktu menerima pasien sebetulnya telah terjadi transaksi terapeutik (M. Yusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Hal ini terjadi dan dipahami sebab dahulu tidak pernah disampaikan dalam pendidikan bahwa menerima dan mengobati pasien adalah suatu persetujuan atau transaksi di bidang pengobatan yang mempunyai landasan hukum. Terasa aneh mungkin bila hubungan dokter dengan
1

pasien demikian disebut sebagai kontrak di bidang kedokteran. Sebab pengertian kontrak selama ini lebih dekat pada pengertian sewa

menyewa, jual beli atau kontrak antara biro bangunan atau pemborong dengan masyarakat yang ingin membuat rumah atau bangunan lainnya (M. Yusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Istilah kontrak terapeutik digunakan pada peristiwa terjadinya hubungan profesional antara dokter dengan pasiennya, yakni berkaitan dengan usaha untuk memperoleh kesembuhan pasien. Namun, ternyata soal kontrak terapeutik ini masih rancu pengertiannya karena pelbagai kalangan mempunyai persepsi yang berbeda, baik itu kalangan dokter, pasien/masyarakat maupun pihak terkait lainnya (Chrisdiono M. Achadiat, 2004). Sebagai contoh rancunya pengertian ini dapat disimak dari komentar/tanggapan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bali mengenai kasus penggerebekan seorang dokter di tempat praktik karena melakukan tindak pidana aborsi/pengguguran kandungan. Dikatakan bahwa kontrak terapeutik antara dokter dan pasiennya tidak dapat dicampuri oleh siapapun, termasuk pihak polisi atau penegak hukum lainnya (Kompas, 5 September 1996). Dengan demikian, seolah olah kontrak terapeutik kebal hukum. Tidak jarang pula pihak pasien menuntut dokter karena dokter itu tidak dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya, walaupun dokter itu telah berusaha sekuat tenanga, pengalaman dan pengetahuannya (Chrisdiono M. Achadiat, 2004).

Jadi, bagaimana sebenarnya posisi kontrak terapeutik ini dalam khasanah hukum di negara kita? Benarkah kontrak terapeutik tidak dapat dicampuri oleh siapapun, atau dengan kata lain kebal hukum? apakah dokter bisa dituntut karena tidak berhasil menyembuhkan pasiennya? Oleh karena itu, perlu dibahas secara lebih mendalam mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kontrak terapeutik (Chrisdiono M. Achadiat, 2004). 1.2 Rumusan Masalah Apa yang dimaksud dengan kontrak terapeutik? Apa bentuk hubungan kontrak tenaga medis dan pasien? Apa landasan hukum kontrak terapeutik?

1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Mengetahui arti kontrak terapeutik, bentuk hubungan kontrak tenaga medis dan pasien, serta landasan hukumnya. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Mengetahui definisi kontrak terapeutik 2. Mengetahui perbedaan bentuk hubungan kontrak terapeutik dengan kontrak yang lain 3. Mengetahui landasan hukum kontrak terapeutik 4. Mengetahui syarat sah terjadinya suatu kontrak terapeutik
3

1.4 Manfaat Referat ini diharapkan dapat menambah informasi tentang pengertian dan penerapan kontrak terapeutik yang benar. Referat ini diharapkan dapat menambah informasi tentang bentuk hubungan kontrak tenaga medis dan pasien. Referat ini diharapkan memberikan informasi mengenai landasan hukum yang mengatur kontrak terapeutik. Referat ini sebagai salah satu tugas bagi dokter muda dalam menyelesaikan kepaniteraan klinik di Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sifat Hubungan Dokter Pasien Sebenarnya pola dasar hubungan dokter dan pasien, terutama berdasarkan keadaan sosial budaya dan penyakit pasien dapat dibedakan dalam tiga pola hubungan, yaitu: 1. Activity - passivity Pola hubungan orangtua - anak seperti ini merupakan pola klasik sejak profesi kedokteran mulai mengenal kode etik, abad ke 5 S.M. Di sini dokter seolah-olah dapat sepenuhnya melaksanakan ilmunya tanpa campur tangan pasien. Biasanya hubungan ini berlaku pada pasien yang keselamatan jiwanya terancam, atau sedang tidak sadar, atau menderita gangguan mental berat. 2. Guidance - cooperation Hubungan membimbing-kerjasama, seperti halnya orangtua

dengan remaja. Pola ini ditemukan bila keadaan pasien tidak terlalu berat misalnya penyakit infeksi baru atau penyakit akut lainnya. Meskipun sakit, pasien tetap sadar dan memiliki perasaan serta kemauan sendiri. la berusaha mencari pertolongan pengobatan dan bersedia bekerjasama. Walaupun dokter rnengetahui lebih banyak, ia tidak semata-mata menjalankan kekuasaan, namun

mengharapkan

kerjasama

pasien

yang

diwujudkan

dengan

menuruti nasihat atau anjuran dokter. 3. Mutual - participation Filosofi pola ini berdasarkan pemikiran bahwa setiap manusia memiliki martabat dan hak yang sama. Pola ini terjadi pada mereka yang ingin memelihara kesehatannya seperti medical check up atau pada pasien penyakit kronis. Pasien secara sadar dan aktif berperan dalam pengobatan terhadap dirinya. Hal ini tidak dapat diterapkan pada pasien dengan latar belakang pendidikan dan sosial yang rendah, juga pada anak atau pasien dengan gangguan mental tertentu (Budiyanto, 2009). Oleh karena hubungan dokter-pasien merupakan hubungan antar manusia, lebih dikehendaki hubungan yang mendekati persamaan hak antar manusia (Budiyanto, 2009). Jadi hubungan dokter yang semula bersifat paternalistik akan bergeser menjadi hubungan yang dilaksanakan dengan saling mengisi dan saling ketergantungan antara kedua belah pihak yang di tandai dengan suatu kegiatan aktif yang saling mempengaruhi. Dokter dan pasien akan berhubungan lebih sempurna sebagai partner (Budiyanto, 2009). Hubungan dokter dan pasien, secara hukum umumnya terjadi melalui suatu perjanjian atau kontrak. Transaksi berarti perjanjian atau persetujuan yaitu hubungan timbal balik antara dua pihak yang bersepakat
6

dalam satu hal. Terapeutik adalah terjemahan dari therapeutic yang berarti dalam bidang pengobatan. Ini tidak sama dengan therapy atau terapi yang berarti pengobatan. Persetujuan yang terjadi di antara dokter dengan pasien bukan di bidang pengobatan saja tetapi lebih luas, mencakup bidang diagnostic, preventif, rehabilitasi maupun promotif, maka persetujuan ini disebut persetujuan terapeutik atau transaksi terapeutik (Asep Rahman, 2009). Dalam bidang pengobatan, para dokter dan masyarakat menyadari bahwa tidak mungkin dokter menjamin upaya pengobatan akan selalu berhasil sesuai yang diinginkan pasien / keluarga. Dokter hanya dapat memberikan upaya maksimal. Hubungan dokter dengan pasien ini dalam perjanjian hukum perdata termasuk kategori perikatan berdasarkan daya upaya / usaha maksimal (inspanningsverbintenis). Ini berbeda dengan ikatan yang termasuk kategori perikatan yang berdasarkan hasil kerja (resultaatsverbintenis). Yang terakhir ini terlihat dalam urusan kontrak bangunan, dimana bila pemborong tidak membuat rumah sesuai jadwal dan bestek yang disepakati, maka pemesan dapat menuntut pemborong (Asep Rahman, 2009). Hubungan yang terjadi antara dokter dengan pasien secara umum dianggap sebagai suatu jenis kontrak. Sebuah kontrak adalah

kesepakatan antara dua orang atau lebih, dimana kedua belah pihak membuat perjanjian untuk masing-masing pihak, menurut istilah hukum, memberikan prestasinya. Masalah perjanjian diatur dalam Hukum Perdata (Asep Rahman, 2009).

Hukum perdata yang termuat di dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata) yang merupakan terjemahan dari Burgerlijk Wetboek yang telah mulai diberlakukan sejak Tahun 1847. Walaupun falsafah dan materinya sudah banyak yang tidak sesuai lagi dengan zaman, namun masih juga ada dasar-dasar pokok yang terdapat di bidang Hukum Perjanjian yang masih dapat dipergunakan (Asep Rahman, 2009). 2.2 Kontrak Terapeutik 2.2.1 Definisi Perjanjian terapeutik atau transaksi terapeutik adalah perjanjian antara dokter dengan pasien yang memberikan kewenangan kepada dokter untuk melakukan kegiatan memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien berdasarkan keahlian dan keterampilan yang dimiliki oleh dokter tersebut. Dari hubungan hukum dalam transaksi terapeutik tersebut, timbullah hak dan kewajiban masing masing pihak, pasien mempunyai hak dan kewajibannya, demikian juga sebaliknya dengan dokter (Prasko, 2011). Mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia yang dilampirkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI, No 434/Men.Kes/X/1983 tentang Berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia Bagi para Dokter di

Indonesia, mencantumkan tentang transaksi terapeutik sebagai berikut : " Yang dimaksud dengan transaksi terapeutik adalah hubungan antara dokter dan penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya

(konfidensial), serta senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani (Isfandyarie A, 2006). 2.2.2 Karakteristik Perjanjian Terapeutik Perjanjian terapeutik mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan perjanjian pada umumnya, yang terletak pada objek yang diperjanjikan (Martabat, 2011). Bahder Johan (Hukum Kesehatan, Pertanggungjawaban Dokter, 2005:11) mengemukakan Objek dari perjanjian ini adalah berupa upaya atau terapi untuk penyembuhan pasien. Menurut hukum, objek dalam perjanjian dalam transaksi terapeutik bukan kesembuhan pasien, melainkan mencari upaya yang tepat untuk kesembuhan pasien. Perikatan antara rumah sakit/dokter dan pasien dapat diartikan sebagai perikatan usaha (inspanningverbintenis) atau perikatan hasil (resultaatsverbintenis). Disebutkan perikatan usaha

(inspanningverbinbentis) karena didasarkan atas kewajiban berusaha, misalnya dokter harus dengan segala daya usahanya untuk

menyembuhkan pasien. Dokter wajib memberikan perawatan dengan penuh kehati-hatian dan penuh perhatian sesuai dengan standar profesinya (met zoorg en inspanning ). Sedangkan perikatan hasil (resultaatsverbintenis) adalah merupakan perikatan dimana seorang dokter berkewajiban menghasilkan suatu hasil yang diharapkan, misalnya seorang dokter gigi yang menambal gigi yang berlubang, pembuatan gigi palsu, dan lain sebagainya (Sunarto Adi Wibowo, 2005).

Ukuran upaya yang terbaik dalam hubungan ini adalah sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, kebutuhan medis pasien, dan standar pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi. 2.2.3 Subyek Subyek Kontrak Terapeutik Subyek-subyek kontrak terapeutik adalah masalah yang terletak di bidang Hukum Perdata. Kontrak terapeutik dapat digolongkan ke dalam kelompok kontrak atau perjanjian. Namun hal ini tidaklah berarti bahwa kontrak terapeutik ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hukum Pidana. Karena bisa saja pasien atau keluarga yang merasa dirugikan oleh suatu tindakan medik ( gross negligence), menuntut dokternya berdasarkan KUHP pasal 359 tentang kelalaian yang menyebabkan kematian. Atau berdasarkan KUHP pasal 360 karena menyebabkan pasien sampai cacat tubuh berat ( Zwaarlichamelijk letse). Dalam konteks ini hanya dibahas segi perdatanya, yaitu yang ada sangkut pautnya dengan informed consent yang merupakan syarat diambilnya suatu tindakan medik (Asep Rahman, 2009). Pengaturan subyek-subyek dari suatu perjanjian pada umumnya, kontrak teraupetik khususnya, diatur di dalam KUH Perdata. Hal ini membawa akibat, bahwa sah tidaknya suatu perjanjian (kontrak terapeutik) harus diuji dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan di dalam KUH Perdata pasal 1320 dan seterusnya (Asep Rahman, 2009). Namun jika ditinjau secara yuridis, maka yang dapat menjadi subyek hukum dalam lalu lintas hukum termasuk juga mengadakan kontrak terapeutik, hanya ada 2 dua bentuk yaitu :
10

Perorangan ( natuurlijk persoon) Setiap orang yang sudah dewasa (21) tahun, atau yang sudah

menikah sebelunya, berhak untuk membuat perjanjian, termasuk suatu kontrak terapeutik. Mereka yang di bawah pengampunan ( onder curatele) harus diwakili oleh walinya (curator) Badan Hukum (rechtspersoon) Badan-badan yang sudah diberikan izin untuk menyelenggarakan pemberian pelayanan kesehatan dengan mendirikan rumah sakit, seperti : pemerintah, ABRI, yayasan yang sudah ada pengakuan sebagai badan hukum, PT, atau badan hukum lainnya. Selain harus dipenuhi persyaratan formal dan menyediakan peralatan tertentu, kepada badan-badan hukum yang hendak mendirikan rumah sakit pun diharuskan mengadakan suatu Unit gawat darurat (Asep Rahman, 2009). Di dalam suatu kontrak terapeutik secara yuridis terdapat 2 (dua) kelompok subyek-subyek yang dinamakan : 1. Pasien dalam arti yang benar-benar sakit, sehingga secara yuridis ada perjanjian terpeutik dengan dokter / rumah sakit. 2. Pasien yang sebenarnya tidak sakit, dan datang ke rumah sakit/dokter hanya untuk : Menjalankan pemeriksaan kesehatan (untuk general checkup, asuransi) Menjadi donor darah

11

Menjadi peserta keluarga berencana (Asep Rahman, 2009). 2.2.4 Obyek Obyek Kontrak Terapeutik Sebagaimana lazimnya di dalam suatu perjanjian, in casu kontrak terapeutik, maka harus dipenuhi pula syarat-syarat yang ditentukan di dalam KUH Perdata pasal 1320, yaitu : Kesepakatan dari pihak-pihak yang bersangkutan ( overeenkomst van partijen) : 1. Adanya kesepakatan kedua belah pihak 2. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian 3. Obyek tertentu 4. Suatu sebab yang diizinkan (Subekti, Tjitrosudibio, 2001). Sesuai dengan KUH Perdata pasal 1320 ayat 3, maka obyeknya harus tertentu, harus jelas. Sebagaimana diketahui bahwa obyek dari suatu kontrak terapeutik adalah suatu ikhtiar penyembuhan

(geneeskundige behandeling, medical treatment, to cure and to care ), dalam arti bahwa dokter/rumah sakit harus berusaha sedapat mungkin untuk penyembuhan penyakitnya. Namun keberhasilannya belum dijamin, sehingga obyeknya menjadi tidak jelas. Obyek kontrak terapeutik mempunyai kekhususan, karena ia berdasarkan suatu kepercayaan (fiduciary relationship, trust, vertrouwen ). Seorang pasien adalah awam di bidang kedokteran, sehingga hubungan antara kedua pihak (dokterpasien) tidaklah seimbang seperti umumnya pihak-pihak dalam suatu perjanjian biasa (Asep Rahman, 2009).
12

Sebagai seorang pasien ia harus percaya bahwa : Dokter memiliki kemampuan dan ilmu pengetahuan untuk

menyembuhkan penyakitnya Dokter itu akan bekerja dengan teliti dan hati-hati, dengan perkataan lain bahwa ia akan bekerja secara lege artis. Dokter itu akan berusaha sebisanya untuk menyembuhkannya. Secara yuridis suatu kontrak terapeutik termasuk jenis perjanjian berikhtiar (inspanningsverbintenis). Oleh karena seorang tidak menjamin akan keberhasilan usaha penyembuhan, maka sewaktu mengadakan pembicaraan dengan pasien, ia harus hati-hati dan jangan sekali-kali memberikan jaminan akan pasti berhasil tindakannya atau pasti akan sembuh penyakitnya. Karena dengan mengutarakan demikian, kontrak terapeutik itu secara yuridis akan beralih dari suatu

inspanningsverbintenis menjadi suatu resultaatsverbintenis dengan segala konsekuensinya (Asep Rahman, 2009). 2.3 Informed Consent Informed consent adalah suatu proses yang menunjukkan

komunikasi yang efektif antara dokter pasien, dan bertemunya pemikiran tentang apa yang akan dan apa yang tidak akan dilakukan terhadap pasien. Informed consent dilihat dari aspek hukum bukanlah sebagai perjanjian antara dua pihak, melainkan lebih ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak lain, yaitu : (Tarmizi Taher, 2003)

13

1. Threshold elements Elemen ini sebenarnya tidak tepat dianggap sebagai elemen, oleh karena sifatnya lebih ke arah syarat, yaitu pemberi consent haruslah seseorang yang kompeten. Kompeten disini diartikan sebagai kapasitas untuk membuat keputusan medis. 2. Information elements Disclosure (pengungkapan) Understanding (pemahaman)

3. Consent elements Terdiri dua bagian : Volutariness (kesukarelaan,kebebasan) Authorization (persetujuan)

Consent dapat diberikan dalam dua bentuk : Expressed (dinyatakan) Dinyatakan secara lisan Dinyatakan secara tertulis. Pernyatan secara tertulis diperlukan apabila dibutuhkan bukti di kemudian hari, umumnya pada tindakan yang invasiv atau yang berisiko mempengaruhi kesehatan pasien secara

bermakna. Permenkes tentang Persetujuan Tindakan

14

Medis menyatakan bahwa semua jenis tindakan operatif harus memperoleh persetujuan tertulis. Implied (tidak dinyatakan) Pasien tidak menyatakannya, baik secara lisan maupun tertulis, namun melakukan tingkah laku (gerakan) yang menunjukkan jawabannya. Meskipun consent jenis ini tidak memiliki bukti, namun consent jenis inilah yang paling banyak dilakukan dalam praktek sehari hari. Misalnya adalah seseorang yang menggulung lengan bajunya dan mengulurkan lengannya ketika akan diambil darahnya (Tarmizi Taher, 2003). 2.3.1 Fungsi informed consent dalam kontrak terapeutik Pasal 39 Undang-undang Nomor: 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran menentukan Praktik kedokteran diselenggarakan

berdasarkan pada kesepakatan antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam upaya untuk pemeliharaan kesehatan, pencegahan penyakit, peningkatan kesehatan, pengobatan penyakit dan pemulihan kesehatan (Martabat, 2011). Yang dimaksud dengan praktik kedokteran dalam ketentuan tersebut adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan. Hubungan
15

hukum antara dokter atau dokter gigi dengan pasien dalam praktik kedokteran timbul,karena adanya kesepakatan antara kedua pihak, atau didasarkan kepada perjanjian diantara mereka (Martabat, 2011). Pasal 45 Undang - Undang Praktik Kedokteran menentukan setiap tindakan kedokteran atau kedokteran yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi terhadap pasiennya, harus mendapat persetujuan. Dan persetujuan tersebut diberikan setelah pasien mendapat penjelasan secara lengkap sekurang-kurangnya mencakup: 1. Diagnosis dan tata cara tindakan medis 2. Tujuan tindakan medis yang dilakukan 3. Alternatif tindakan lain dan risikonya 4. Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi 5. Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan Persetujuan pasien yang dikenal dengan informed consent dapat diberikan baik secara tertulis maupun lisan. Terhadap tindakan kedokteran yang mengandung risiko tinggi harus diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditanda tangani oleh yang berhak memberikan persetujuan. Kesepakatan dalam kontrak terapeutik terjadi pada saat pasien atau orang yang berhak memberikan persetujuan terhadap tindakan medis yang akan dilakukan oleh dokter atau dokter gigi ditanda tangani (Martabat, 2011).

16

Logika hukumnya adalah dokter atau dokter gigi yang membuka praktik dianggap telah melakukan penawaran umum untuk memberikan pelayanan medis sebagai syarat pertama terjadinya kesepakatan. Pasien yang datang untuk dilayani pada dasarnya dianggap menerima

penawaran dari dokter atau dokter gigi yang bersangkutan. Namun, karena ada kewajiban hukum bagi dokter atau dokter gigi untuk memberikan penjelasan secara lengkap mengenai tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien, maka penjelasan tersebut dipandang sebagai satu rangkaian dengan penawaran. Ketika pasien atau orang yang berhak memberikan persetujuan menanda tangani informed consent, maka terjadilah kesepakatan diantara dokter dan pasien. Menurut Pasal 1233 KUH Perdata kesepakatan tersebut merupakan sumber hukum perikatan yang berbunyi Tiap tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang undang (Martabat, 2011). 2.3.2 Rekam Medik Yang dimaksud dengan rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan pada pasien. Pengertian tersebut terdapat pada penjelasan pasal 46 ayat (1) UU Praktik Kedokteran. Dalam Peraturan Mentri Kesehatan Nomor

269/Menkes/Per/III/2088 tentang rekam medis di jelaskan bahwa rekam medis adalah berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.

17

Manfaat Rekam Medis : 1. Pengobatan Pasien 2. Peningkatan Kualitas Pelayanan 3. Pendidikan dan Penelitian 4. Pembiayaan 5. Statistik kesehatan 6. Pembuktian Masalah Hukum, Disiplin dan Etik (Sudjari Solichin, 2010) Isi hukum mengenai rekam medik yaitu : Setidaknya terdapat 3 isi hukum utama yang berkaitan dengan rekam medis, yaitu (1) Komplikasi, Pemeliharaan dan retensi Rekam Medis/Rekam Kesehatan, (2) Penggunaan dan pengungkapan informasi kesehatan, dan (3) Penggunaan catatan pasien dan informasi kesehatan dalam proses peradilan. Selain itu juga terdapat isi hukum di bidang kepemilikan, perlindungan dan komputerisasi. Komplikasi dan pemeliharaan informasi kesehatan harus dilakukan dengan benar dan sesuai dengan standar, etika dan hukum. Undangundang dan Permenkes telah mengatur kewajiban dan pokok-pokok pembuatan rekam medis, selanjutnya pedoman dan standar profesi mengatur rincian pelaksanaannya. Tidak mentaati standar dan hukum diatas akan mengakibatkan diperolehnya sanksi tertentu, seperti dicabutnya izin atau akreditasi, denda atau bahkan hukuman penjara. Sebagai contoh, dokter yang tidak membuat rekam medis dapat diancam pidana kurungan satu tahun atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) (UU Praktik Kedokteran pasal 79 tahun 2004). Setiap rumah sakit sebaiknya memiliki kebijakan yang memastikan keseragaman isi maupun bentuk dari rekam medis berdasarkan standar

18

akreditasi yang dipakai, kebutuhan si pembayar, dan estandar profesi. Berikut ini adalah acuan secara umum untuk menentukan bentuk dan isi rekam kesehatan : Rekam medis hendaknya disusun secara sistematik untuk

mempermudahkan pencarian dan kompilasi data Hanya orang-orang tertentu yang ditunjuk oleh kebijakan rumah sakit saja yang diperbolehkan mendokumentasikan dan menyimpan rekam medis. Kebijakan rumah sakit dan atau peraturan internal staf medis hendaknya menspesifikasi siapa yang berhak menerima dan menulis perintah verbal dokter dan tata caranya. Masukan pada rekam medis hendaknya dicatat pada saat perawatan yang diuraikan diberikan (tidak retrospektif). Penulis semua masukan harus tertera dengan jelas. Singkatan dan symbol sebaiknya hanya digunakan dalam rekam medis bila sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Semua masukan dalam rekam medis hendaknya permanen. Untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi dalam rekam medis, hendaknya digunakan tata cara sebagaimana diatur dalam Permenkes no269/2008. Bila pasien ingin mengubah isi rekam medisnya, perubahan hendaknya dibuat sebagai addendum. Sebaiknya tidak ada perubahan pada masukan yang asli, dan perubahan harus secara jelas merupakan dokumen tambahan yang disertakan dalam rekam medis yang asli atas permintaan pasien, yang selanjutnya akan bertanggungjawab untuk menjelaskan perubahan tersebut

19

Petugas

rumah

sakit

harus

mengembangkan,

mengimplementasikan, dan mengevaluasi kebijakan dan prosedur yang berkaitan dengan analisis kuantitatif maupun kualitatif dari rekam medis (Budi Sampurna, 2005). Isi Rekam Medis menurut PERMENKES No.269/Menkes/Per/III/2008 tentang Rekam Medis pasal 3 sebagai berikut : (1) Pasien rawat jalan pada sarana pelayanan kesehatan rekam medis sekurang kurangnya memuat : a. Identitas pasien, b. Tanggal dan waktu, fisik dan penunjang medik, c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang kurangnya keluhan dan riwayat penyakit, d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medic, e. Diagnosis, f. Rencana penatalaksanaannya, g. Pengobatan dan / atau tindakan, h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien, i. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik, dan j. Persetujuan tindakan bila diperlukan. (2) Pasien rawat inap dan perawatansatu hari rekam medis sekurang kurangnya memuat : a. Identifikasi pasien, b. Tanggal dan waktu,

20

c. Hasil anamnesis, mencakup sekurang kurangnya keluhan dan riwayat penyakit, d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medic, e. Diagnosis, f. Rencana penatalaksanaan, g. Pengobatan dan / atau tindakan, h. Persetujuan tindakan bila diperlukan, i. Catatn hasil observasi klinis dan hasil pengobatan, j. Ringkasan pulang (discharge summary) k. Nama da tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentuyang memberikan pelayanan kesehatan, l. Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga

kesehatantertentu, m. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi odontogram klinik. (3) Pasien Gawat Darurat, sekurang-kurangnya rekam medis memuat: a. Identitas pasien, b. Kondisi saat pasien tiba disarana pelayanan kesehatan, c. Identitas pengantar pasien, d. Tanggal dan waktu, e. Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dari riwayat penyakit, f. Hasil pemerikasaan fisik dan penunjang medic, g. Diagnosis,
21

h. Pengobatan dan/ atau tindakan, i. Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat darurat dan rencana tindak lanjut, j. Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi dan tenaga kesehatan tertentu yang memberikan pelayanan kesehatan lain, k. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. (4) Dalam keadaan bencana, selain memenuhi ketentuan

sebagaimana dimaksud pada ayat 3 rekam medis memuat: a. Jenis bencana dan lokasi dimana pasien ditemukan, b. Kategori kegawatan dan nomor pasien bencana masal, dan c. Identitas yang menemukan pasien. (5) Isi rekam medis untuk pelayanan dokter spesialis atau dokter gigi spesialis dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan (6) Pelayanan yang diberikan dalam ambulan atau pengobatan masal dicatat dalam rekam medis sesuai dengan ketentuan sebagai manadiatur dalam ayat 3 dan disimpan pada pelayanan kesehatan yang merawatnya (Sudjari Solichin, 2010). 2.3.3 Pembatalan persetujuan Persetujuan terapeutik tidak selamanya berjalan mulus. Kadang kadang dapat terjadi salah satu pihak tidak mau melanjutkan transaksi di bidang pengobatan ini. Umumnya yang tidak mau melanjutkan transaksi ini adalah dari pihak pasien maupun keluarga. Pada pasien berobat jalan, hal ini mudah dilakukan pasien. Tidak lagi berkunjung untuk pemeriksaan ulang merupakan tindakan pemutusan ikatan. Namun bila ini terjadi pada
22

pasien sedang dalam perawatan, maka dokter harus hati hati. Membiarkan pasien pulang biarpun semua biaya perawatan telah dilunasi adalah tindakan yang gegabah (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Biarpun ini sudah memadai, namun akan lebih baik bila pembatalan persetujuan semula dilakukan secara benar, yaitu melalui pembatalan secara resmi pula. Dalam lembaran khusus dinyatakan bahwa dokter telah menjelaskan keadaan pasien dan tindakan yang diperlukan, namun pasien dan keluarga meminta pulang dengan segala resiko di luar tanggung jawab dokter. Lembaran pembatalan seperti ini akan

mempunyai kekuatan hukum lebih kuat (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Suatu pertanyaan, apakah mungkin pihak dokter yang memutuskan persetujuan tersebut? Jawabnya, bisa saja. Bila dokter menghadapi pasien yang sudah tidak kooperatif dan tidak yakin lagi akan upaya pengobatannya, maka dokter dapat angkat tangan dan meminta pasien berobat kepada dokter lain. Dalam hal ini sebaiknya dokter menyertakan resume akhir untuk dokter yang akan melanjutkan pengobatan dan perawatan (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Yang diutarakan diatas adalah sesuai dengan ketentuan pasal 1338 KUH Perdata, semua persetujuan dibuat secara sah berlaku sebagai undang undang bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak bisa ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak atau alasan alasan yang oleh undang undang dinyatakan cukup untuk

23

itu. Persetujuan harus dilakukan dengan itikat baik. Dalam pasal ini jelas dinyatakan bahwa persetujuan yang telah terjadi tidak dapat dibatalkan begitu saja. Sebab persetujuan yang kita sebut sebagai transaksi atau kontrak terapeutik, berlaku sebagai undang undang (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Namun kadang kadang pembatalan ini tidak selalu berjalan mulus. Oleh karena itu dalam pemutusan transaksi terapeutik, dokter perlu berhati hati terhadap resiko yang mungkin timbul di kemudian hari (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Pembatalan ini tidak selamanya harus tertulis, sebab keadaan atau alsan alasan yang oleh undang undang dinyatakan cukup, juga akan merupakan buki bahwa persetujuan tersebut telah batal (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). 2.3.4 Konsep Hukum Dalam Kontrak Terapeutik (Transaksi Medis) Perikatan dapat timbul baik karena perjanjian maupun karena undang - undang. Demikian pula halnya transaksi atau perjanjian terapeutik tidak terlepas dari kedua sumber perikatan tersebut. Karena pada hakikatnya transaksi atau perjanjian terapeutik itu sendiri merupakan suatu perikatan, yaitu hubungan hukum yang terjadi antara dokter dan pasien dalam pelayanan medis. Dan kedua sumber perikatan tersebut tidak perlu dipertentangkan, namun cukup dibedakan karena

sesungguhnya keduanya saling melengkapi dan diperlukan untuk

24

menganalisis hubungan hukum yang timbul dari transaksi atau perjanjian terapeutik (Husein Kerbala, 1993). Ketentuan mengenai perjanjian diatur dalam Buku KUH Perdata Bab II sebagaimana yang tersebut dalam pasal 1313 KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap 1 (satu) orang lain atau lebih. Ikatan tersebut jelas ada dalam hubungan antara dokter dengan pasien yang disebut dengan perjanjian terapeutik atau perjanjian penyembuhan (Husein Kerbala, 1993). Perjanjian terapeutik juga dikategorikan sebagai perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan sebagaimana diatur dalam Pasal 1601 Bab 7A Buku III KUH Perdata, maka dapat dikategorikan bahwa perjanjian terapeutik adalah termasuk jenis perjanjian untuk melakukan jasa yang diatur dalam ketentuan khusus. Selain itu jika dilihat ciri yag dimilikinya yaitu pemberian pertolongan yang dapat dikategorikan sebagai

pengurusan urusan orang lain

( Zaakwaarneming) yang diatur dalam

pasal 1354 KUH Perdata maka transaksi terapeutik merupakan perjanjian sui generis (faktual). Transaksi atau perjanjian merupakan hubungan hukum antara 2 (dua) subjek hukum yang saling mengikatkan diri didasarkan atas sikap saling percaya. Di dalam perjanjian terapeutik sikap saling percaya akan tumbuh apabila antara dokter dan pasien terjalin komunikasi yang saling terbuka, karena masing-masing akan saling memberikan informasi atau

25

keterangan yang diperlukan bagi terlaksananya kerjasama yang baik dan tercapainya tujuan transaksi atau perjanjian terapeutik yaitu kesembuhan pasien (Chrisdiono M. Achadiat, 2004). Menurut hukum perdata, hubungan profesional dokter pasien dapat terjadi karena 2 hal, yaitu : 1. Berdasarkan perjanjian (ius contractu) yang berbentuk kontrak terapeutik secara sukarela antara dokter dengan pasien

berdasarkan kehendak bebas. Tuntutan dapat dilakukan bila terjadi apa yang disebut sebagai wanprestasi, yakni pengingkaran terhadap hal yang diperjanjikan. Dasar tuntutan adalah tidak melakukan, terlambat melakukan, salah melakukan ataupun melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan menurut perjanjian itu. 2. Berdasarkan hukum (ius delicto) yang berlaku prinsip siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi (Chrisdiono M. Achadiat, 2004). Bagaimana syarat syarat yang harus dipenuhi agar suatu perjanjian (termasuk kontrak terapeutik) menjadi sah secara hukum dan dengan demikian mempunyai kekuatan hukum?

2.3.5 Syarat Sahnya Perjanjian Dalam Kontrak Terapeutik

26

Suatu perikatan atau tunduk pada asas-asas umum perikatan sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata, dimana disebutkan untuk syarat sahnya persetujuan ada 4 (empat) syarat, yaitu : a. Sepakat mengikatkan diri tidak ada unsur paksaan atau tipuan b. Cakap membuat perikatan (dewasa dan dalam kondisi sadar) c. Ada hal/obyek tertentu d. Karena sebab yang diperbolehkan (halal) Syarat pertama dan kedua adalah mengenai subjeknya atau pihak pihak dalam perjanjian sehingga disebut syarat subjektif, sedangkan syarat ketiga dan keempat disebut syarat objektif karena mengenai objek suatu perjanjian. Dalam hal syarat subjektif tidak terpenuhi maka salah satu pihak mempunyai hak untuk meminta supaya perjanjian itu dibatalkan. Pihak yang dapat meminta pembatalan adalah pihak yang tidak cakap atau pihak yang memberikan sepakatnya secara tidak bebas. Sehingga perjanjian yang dibuat tersebut mengikat selama tidak dibatakan oleh keputusan pengadilan atas permintaan pihak yang berhak meminta pembatalan tadi. Sedangkan apabila syarat obyektif tidak terpenuhi, mak perjanjian itu akan batal demi hukum. Artinya sejak semula tidak pernah dilahirkan suatu perjanjian dan tidak pernah ada suatu perikatan (Subekti, Tjitrosudibio, 2001). Jika transaksi terapeutik telah memenuhi syarat sahnya perjanjian, maka semua kewajiban yang timbul mengikat bagi para pihak, baik pihak
27

dokter maupun pihak pasien. Akibat hukum dari dilakukannya perjanjian tertuang di dalam pasal 1338 dan 1339 KUH Perdata sebagai berikut : Pasal 1338 :" Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya". Suatu perjanjian tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang oleh undang-undang dinyatakan cukup untuk itu. Pasal 1339 :" Suatu perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan, kebiasaan atau undang-undang" (Subekti, Tjitrosudibio, 2001). Dari kedua pasal diatas dapat diambil pengertian sebagai berikut : 1. Perjanjian terapeutik (transaksi terapeutik) berlaku sebagai undangundang baik bagi pihak pasien maupun pihak dokter, dimana undang-undang mewajibkan para pihak memenuhi hak dan kewajibannya diperjanjikan. 2. Perjanjian terapeutik dapat ditarik kembali tanpa kesepakatan pihak lain, pasien boleh memutuskan hubungan kontrak terapeutik tanpa persetujuan dokter yang menanganinya untuk mencari second opinion atau ketika pasien merasa penyakitnya sudah tidak perlu masing-masing sesuai dengan hal yang

28

penanganan dokter lagi, namun ketika dokter tidak berhasil menyembuhkan pasien atau kondisi pasien memburuk setelah ditanganinya, dokter tidak boleh lepas tanggung jawab dengan mengalihkan pasien kepada sejawat yang lain tanpa indikasi medis yang jelas. Untuk mengalihkan pasien kepada sejawat yang lain, dokter yang bersangkutan harus minta persetujuan pasien atau keluarganya. 3. Kedua belah pihak, baik dokter dan pasien harus sama-sama beritikad baik dalam melaksanakan perjanjian terapeutik.

Wawancara dalam pengobatan harus dilakukan berdasarkan itikad baik dan kecermatan yang patut oleh dokter, dan pasien harus membantu menjawab dengan itikad baik pula agar hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan dibuatnya transaksi terapeutik. 4. Perjanjian hendaknya dilaksanakan sesuai dengan tujuan

dibuatnya perjanjian yaitu kesembuhan pasien, dengan mengacu kepada kebiasaan dan kepatutan yang berlaku baik kebiasaan yang berlaku dalam bidang pelayanan medis maupun dari pihak kepatutan pasien. 2.4 Penyelenggaraan Praktik Kedokteran Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja, melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang memiliki kompetensi yang memenuhi standar tertentu, diberi kewenangan oleh institusi yang berwenang di
29

bidang itu dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya (Budi S, Zulhasmar S, Tjetjep D, 2005). Secara teoritis konseptual, antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada doktrin social contract), yang memberi masyarakat profesi hak untuk melakukan self regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan melaksanakan praktek profesinya sesuai dengan standar (Budi S, Zulhasmar S, Tjetjep D, 2005). Undang Undang No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi (Budi S, Zulhasmar S, Tjetjep D, 2005). Pada bagian awal, Undang Undang No. 29 Tahun 2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk dapat berpraktik kedokteran, yang dimulai dengan keharusan memiliki : Ijazah dokter Sertifikat kolegium kompetensi kedokteran yang diperoleh dari

30

Surat tanda registrasi (STR) yang diperoleh dari Konsil Kedokteran Indonesia

Surat ijin praktik (SIP) dari Dinkes Kota/Kabupaten Dokter tersebut juga harus telah mengucapkan sumpah dokter, sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi

Syarat memperoleh SIP menurut Undang Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yaitu : 1. Memiliki STR 2. Tempat praktik (batas maksimal 3 tempat praktik, dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan namanya di daftar dokter bila di rumah sakit) 3. Rekomendasi organisasi profesi Dalam aturan tentang pelaksanaan praktik diatur agar dokter memberitahu apabila berhalangan atau memperoleh pengganti yang juga memiliki SIP, keharusan memenuhi standar pelayanan, memenuhi aturan tentang persetujuan tindakan medis, menjaga rahasia kedokteran, serta mengendalikan mutu dan biaya. Pada bagian ini Undang Undang juga mengatur tentang hak dan kewajiban dokter dan pasien. 2.4.1 Hak dan Kewajiban Dokter Pasien
31

2.4.2 Hak dan Kewajiban Dokter Hak dan kewajiban dokter telah diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran. Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai hak yang telah tercantum pada pasal 50 : a. memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional b. memberikan pelayanan medis menurut standar profesi dan standar prosedur operasional; c. memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien atau keluarganya;dan d. menerima imbalan jasa. Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai kewajiban yang telah tercantum pada Pasal 51 : a. memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien; b. merujuk pasien ke dokter atau dokter gigi lain yang mempunyai keahlian atau kemampuan yang lebih baik, apabila tidak mampu melakukan suatu pemeriksaan atau pengobatan;

32

c. merahasiakan segala sesuatu yang diketahuinya tentang pasien, bahkan juga setelah pasien itu meninggal dunia; d. melakukan pertolongan darurat atas dasar perikemanusiaan, kecuali bila ia yakin ada orang lain yang bertugas dan mampu melakukannya; dan e. menambah ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan ilmu kedokteran atau kedokteran gigi. 2.4.3 Hak dan Kewajiban Pasien Hak dan kewajiban pasien telah diatur Undang Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran, hak dan kewajiban pasien. Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak yang telah tercantum pada pasal 52 : a. mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3); b. meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain; c. mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis; d. menolak tindakan medis; dan e. mendapatkan isi rekam medis.

33

Pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai kewajiban yang telah tercantum pada Pasal 53 : a. memberikan informasi yang lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya; b. mematuhi nasihat dan petunjuk dokter atau dokter gigi; c. mematuhi ketentuan yang berlaku di sarana pelayanan

kesehatan;dan d. memberikan imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

34

BAB 3 PEMBAHASAN 3.1 Definisi kontrak terapeutik Hubungan dokter dan pasien, secara hukum umumnya terjadi melalui suatu perjanjian atau kontrak. Transaksi berarti perjanjian atau persetujuan yaitu hubungan timbal balik antara dua pihak yang bersepakat dalam satu hal. Terapeutik adalah terjemahan dari therapeutic yang berarti dalam bidang pengobatan. Ini tidak sama dengan therapy atau terapi yang berarti pengobatan. Persetujuan yang terjadi di antara dokter dengan pasien bukan di bidang pengobatan saja tetapi lebih luas, mencakup bidang diagnostic, preventif, rehabilitasi maupun promotif, maka persetujuan ini disebut persetujuan terapeutik atau transaksi terapeutik (Asep Rahman, 2009). Dalam bidang pengobatan, para dokter dan masyarakat menyadari bahwa tidak mungkin dokter menjamin upaya pengobatan akan selalu berhasil sesuai yang diinginkan pasien / keluarga. Dokter hanya dapat memberikan upaya maksimal. Hubungan dokter dengan pasien ini dalam perjanjian hukum perdata termasuk kategori perikatan berdasarkan daya upaya / usaha maksimal (inspanningsverbintenis). Ini berbeda dengan ikatan yang termasuk kategori perikatan yang berdasarkan hasil kerja (resultaatsverbintenis). Yang terakhir ini terlihat dalam urusan kontrak bangunan, dimana bila pemborong tidak membuat rumah sesuai jadwal

35

dan bestek yang disepakati, maka pemesan dapat menuntut pemborong (Asep Rahman, 2009). Mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia yang dilampirkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI, No 434/Men.Kes/X/1983 tentang Berlakunya Kode Etik Kedokteran Indonesia Bagi para Dokter di

Indonesia, mencantumkan tentang transaksi terapeutik sebagai berikut : " Yang dimaksud dengan transaksi terapeutik adalah hubungan antara dokter dan penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial), serta senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani. 3.2 Perbedaan Bentuk Hubungan Kontrak Terapeutik Dengan Kontrak Yang Lain Perjanjian terapeutik mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda dengan perjanjian pada umumnya, yang terletak pada objek yang diperjanjikan (Martabat, 2011). Adapun kekhususan perjanjian terapeutik bila dibandingkan dengan perjanjian pada umumnya adalah sebagai berikut : 1. Subyek pada transaksi terapeutik terdiri dari dokter dan pasien. Dokter bertindak sebagai pemberi pelayanan medik professional yang pelayanannya didasarkan pada prinsip pemberian

pertolongan. Sedangkan pasien sebagai penerima pelayanan medik yang membutuhkan pertolongan. Pihak dokter memiliki kualifikasi dan kewenangan tertentu sebagai tenaga profesional
36

dibidang medik yang berkompeten untuk memberikan pertolongan yang dibutuhkan pasien, sedangkan pihak pasien karena tidak mempunyai kualifikasi dan kewenangan sebagaimana yang dimiliki dokter berkewajiban membayar honorarium kepada dokter atas pertolongan yang telah diberikan dokter tersebut. 2. Obyek perjanjian berupa tindakan medik profesional yang

bercirikan pemberian pertolongan. 3. Tujuan perjanjian adalah pemeliharaan dan peningkatan kesehatan yang berorientasi kekeluargaan, mencakup kegiatan peningkatan kesehatan (promotif), penyakit pencegahan (kuratif), dan penyakit pemulihan (preventif), kesehatan

penyembuhan (rehabilitatif).

Bahder Johan (Hukum Kesehatan, Pertanggungjawaban Dokter, 2005:11) mengemukakan Objek dari perjanjian ini adalah berupa upaya atau terapi untuk penyembuhan pasien. Menurut hukum, objek dalam perjanjian dalam trasaksi terapeutik bukan kesmbuhan pasien, melainkan mencari upaya yang tepat untuk kesembuhan pasien. Perikatan antara rumah sakit/dokter dan pasien dapat diartikan sebagai perikatan usaha (inspanningverbintenis) atau perikatan hasil (resultaatsverbintenis). Disebutkan perikatan usaha

(inspanningverbinbentis) karena didasarkan atas kewajiban berusaha, misalnya dokter harus dengan segala daya usahanya untuk

menyembuhkan pasien. Dokter wajib memberikan perawatan dengan


37

penuh kehati-hatian dan penuh perhatian sesuai dengan standar profesinya (met zoorg en inspanning ). Sedangkan perikatan hasil (resultaatsverbintenis) adalah merupakan perikatan dimana seorang dokter berkewajiban menghasilkan suatu hasil yang diharapkan, misalnya seorang dokter gigi yang menambal gigi yang berlubang, pembuatan gigi palsu, dan lain sebagainya (Sunarto Adi Wibowo, 2005). Ukuran upaya yang terbaik dalam hubungan ini adalah sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, kebutuhan medis pasien, dan standar pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi. 3.3 Landasan Hukum kontrak terapeutik Ketentuan mengenai perjanjian diatur dalam Buku KUH Perdata Bab II sebagaimana yang tersebut dalam pasal 1313 KUH Perdata yang menyatakan bahwa suatu persetujuan adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap 1 (satu) orang lain atau lebih. Ikatan tersebut jelas ada dalam hubungan antara dokter dengan pasien yang disebut dengan perjanjian terapeutik atau perjanjian penyembuhan (Husein Kerbala, 1993). Perjanjian terapeutik juga dikategorikan sebagai perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan sebagaimana diatur dalam Pasal 1601 Bab 7A Buku III KUH Perdata, maka dapat dikategorikan bahwa perjanjian terapeutik adalah termasuk jenis perjanjian untuk melakukan jasa yang diatur dalam ketentuan khusus. Selain itu jika dilihat ciri yang dimilikinya yaitu pemberian pertolongan yang
38

dapat

dikategorikan

sebagai

pengurusan urusan orang lain

( Zaakwaarneming) yang diatur dalam

pasal 1354 KUH Perdata maka transaksi terapeutik merupakan perjanjian sui generis (faktual). Transaksi atau perjanjian merupakan hubungan hukum antara 2 (dua) subjek hukum yang saling mengikatkan diri didasarkan atas sikap saling percaya (Chrisdiono M. Achadiat, 2004). Menurut hukum perdata, hubungan profesional dokter pasien dapat terjadi karena 2 hal, yaitu : 1. Berdasarkan perjanjian (ius contractu) yang berbentuk kontrak terapeutik secara sukarela antara dokter dengan pasien

berdasarkan kehendak bebas. Tuntutan dapat dilakukan bila terjadi apa yang disebut sebagai wanprestasi, yakni pengingkaran terhadap hal yang diperjanjikan. Dasar tuntutan adalah tidak melakukan, terlambat melakukan, salah melakukan ataupun melakukan sesuatu yang tidak boleh dilakukan menurut perjanjian itu. 2. Berdasarkan hukum (ius delicto) yang berlaku prinsip siapa merugikan orang lain harus memberikan ganti rugi (Chrisdiono M. Achadiat, 2004). Namun hal ini tidaklah berarti bahwa kontrak terapeutik ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hukum Pidana. Karena bisa saja pasien atau keluarga yang merasa dirugikan oleh suatu tindakan medik (gross negligence), menuntut dokternya berdasarkan KUHP pasal 359
39

tentang kelalaian yang menyebabkan kematian. Atau berdasarkan KUHP pasal 360 karena menyebabkan pasien sampai cacat tubuh berat (Zwaarlichamelijk letse). 3.4 Syarat Sah Terjadinya Kontrak Terapeutik Suatu perikatan atau tunduk pada asas-asas umum perikatan sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUH Perdata, dimana disebutkan untuk syarat sahnya persetujuan ada 4 (empat) syarat, yaitu : a. Sepakat mengikatkan diri tidak ada unsur paksaan atau tipuan Dalam hubungan dokter dan pasien hal ini mudah dipahami, sebab bila salah satu tidak setuju maka tidak akan terjadi suatu transaksi terapeutik. Pasien setuju dengan dokter yang dipilihnya, dan dokter sanggup mengatasi problema kesehatan pasien yang datang kepadanya. b. Cakap membuat perikatan (dewasa dan dalam kondisi sadar) Kecakapan ini harus ada pada kedua belah pihak, yaitu yang memberi pelayanan maupun yang memerlukan pelayanan. Dari pihak pasien menurut ketentuan ini dituntut orang yang cakap untuk membuat perikatan yaitu orang dewasa yang waras. Bila lain dari ini tentu harus ada yang mengantar sebagai pendamping pasien. Demikian pula dari pihak dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Sebagai tambahan, kalangan dokter harus mempunyai kecakapan yang dituntut atau diperlukan oleh pasien yaitu dokter umum

40

sebagai dokter umum dan dokter spesialis sesuai spesialisasi yang ditekuninya. Itu harus ada buktinya, seperti ijazah atau sertifikat yang diakui oleh pemerintah dan perhimpunan keahliannya. c. Ada hal atau obyek tertentu Yang dimaksud sesuatu hal tertentu dalam persetujuan adalah suatu penyakit atau keadaan yang perlu diatasi dokter. Sesuatu di sini tidak perlu satu hal, bisa saja lebih dari satu. Pada pasien berobat jalan, bisa saja menyampaikan keluhan untuk diatasi dari kepala hingga ke kaki. Namun yang menjadi masalah adalah pada tindakan khusus, seperti pembedahan dan tindakan invasif lainnya. Pada pembedahan seksio sesaria, yaitu mengeluarkan bayi melalui operasi disertai tindakan dokter mengangkat apendiks pasien yang tidak patologik, sebetulnya menyalahi perjanjian. Bila dalam keadaan yang sama dokter mendapati apendiks pasien dalam keadaan meradang dan segera seksio sesaria ditutup dulu, baru kemudian dilakukan operasi apendik. Dokter dapat mengangkat apendik yang patologik tersebut, tetapi sesudah pasien siuman harus disampaikan bahwa tindakan tersebut terpaksa

dilaksanakan. Ini diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 2008 tentang Persetujuan Tindakan Medik.

d. Karena sebab yang diperbolehkan (halal)


41

Ini tidak berkaitan dengan kepercayaan atau agama. Yang dimaksud dengan halal di sini adalah sesuatu perikatan yang tidak melanggar hukum. Contoh klasik adalah melakukan pengguguran kandungan yang ilegal, atau mengubah wajah secara operasi kosmetik untuk menghindari penangkapan oleh polisi, atau menghilangkan sidik jari dan lain lain (M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999). Selain yang tercantum diatas, syarat sah lainnya terletak pada bagian awal, Undang Undang No. 29 Tahun 2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk dapat berpraktik kedokteran, yang dimulai dengan keharusan memiliki : Ijazah dokter Sertifikat kolegium Surat tanda registrasi (STR) yang diperoleh dari Konsil Kedokteran Indonesia Surat ijin praktik (SIP) dari Dinkes Kota/Kabupaten Dokter tersebut juga harus telah mengucapkan sumpah dokter, sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi kompetensi kedokteran yang diperoleh dari

42

Syarat memperoleh SIP menurut Undang Undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yaitu : 1. Memiliki STR 2. Tempat praktik (batas maksimal 3 tempat praktik, dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan namanya di daftar dokter bila di rumah sakit) 3. Rekomendasi organisasi profesi

43

BAB 4 KESIMPULAN 4.1 Kesimpulan Kesimpulan yang dapat dibuat dari referat ini adalah : 1. Kontrak terapeutik merupakan hubungan antara dokter dan penderita yang dilakukan dalam suasana saling percaya (konfidensial), serta senantiasa diliputi oleh segala emosi, harapan dan kekhawatiran makhluk insani. 2. Kontrak terapeutik berbeda dengan perjanjian pada umumnya yaitu terletak pada subyek, obyek, tujuan dan sifat dari kontrak terapeutik. Dapat bersifat inspanningverbintenis maupun

resultaatverbintenis tergantung dari kesepakatan yang dibuat antara dokter dan pasien. Namun, dalam perjanjian hukum perdata termasuk kategori perikatan berdasarkan daya upaya/ usaha maksimal. 3. Ketentuan mengenai perjanjian diatur dalam KUH Perdata Bab II pasal 1313 KUH Perdata, perjanjian terapeutik juga dikategorikan sebagai perjanjian untuk melakukan suatu pekerjaan sebagaimana diatur dalam Pasal 1601 Bab 7A Buku III KUH Perdata, serta diatur dalam KUH Perdata pasal 1354. 4. Syarat sahnya persetujuan ada 4 (empat) syarat, yaitu sepakat mengikat diri, cakap membuat perikatan, ada hal atau obyek

44

tertentu, dan karena sebab yang diperbolehkan (halal). Perjanjian terapeutik berlaku sebagai undang undang baik bagi pihak pasien maupun pihak dokter, dimana undang undang mewajibkan para pihak memenuhi hak dan

kewajibannya masing masing sesuai dengan hal yang diperjanjikan.

45

DAFTAR PUSTAKA Isfandyarie, A, 2006. Tanggung Jawab Hukum dan Sanksi Bagi Dokter Buku I, (online), (http://www.indoeducation.com/2010/09/perjanjianterapeutik.html, diakses 2010). Asep0ustom, 2009. Transaksi Terapeutik, (online), (http://chevichenko.wordpress.com/2009/11/28/transaksi-terapeutik/, diakses 28 November 2009). Diana Delvin, L, 2008. Tesis Pelaksanaan Perjanjian Terapeutik Dalam Persetujuan Tindakan Medis Pada Kondisi Pasien Dalam Keadaan Tidak Mampu Di Rumah Sakit Telogorejo Semarang, (online), (http://eprints.undip.ac.id/17021/1/DIANA_DEVLIN_LONTOH.pdf, diakses 2008). Martabat, 2011. Fungsi Informed dalam Perjanjian Terapeutik, (online), (http://www.jamsosindonesia.com/cetak/printout/231, diakses Oktober 2011). Budiyanto, 2009. Hubungan Dokter Pasien, (online), (http://budi399.wordpress.com/2009/10/24/hubungan-dokter-pasien/, diakses 24 Oktober 2009). Ratih Kusuma, W, 2009. Tesis Tinjauan Yuridis Persetujuan Tindakan Medis (Informed Consent) di RSUP Dr. Kariadi Semarang (online), (http://eprints.undip.ac.id/18836/1/RATIH_KUSUMA_WARDHANI.pdf, diakses 2009). Sunarto Adi, W, 2005. Tesis Pertanggungjawaban Rumah Sakit dalam Kontrak Teraupetik (Studi Kasus Antara Rumah Sakit dan Pasien di R.S.U. Dr. Pirngadi, R.S.U. Haji dan R.S.U. Sundari), (online), (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/33357/3/Chapter %20II.pdf, diakses 2005). M. Chridiono, 2004. Dinamika Etika & Hukum Kedokteran dalam Tantangan Zaman, Jakarta : EGC, 2006. M. Jusuf Hanafiah, Amri Amir, 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan ed 3, Jakarta : EGC, 1999. Budi S, Zulhasmar S, Tjetjep D, 2005. Bioetik dan Hukum Kedokteran, Jakarta.

46