Anda di halaman 1dari 12

TUGAS PERPAJAKAN ANALISIS KASUS PERPAJAKAN PEMBUKUAN / PENCATATAN PAJAK SERTA PEMERIKSAAAN DAN PENYIDIKAN PAJAK

Disusun oleh : 1. Nur Aini Kusumaningrum 2. Nur Chayati 3. Oktiandri C.K. 4. Susani Astari A. F0311087 F0311088 F0311092 F0311106

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012 1

PEMBUKUAN/ PENCATATAN

Vincent Beberkan Kasus Pajak Asian Agri "Tujuannya Adalah Melakukan Pembukuan Fiktif." Kamis, 28 April 2011, 16:53 WIB Arry Anggadha, Desy Afrianti

VIVAnews - Terpidana pencucian uang PT Asian Agri Group (AAG), Vincentius Amin Susanto, menjadi saksi dalam kasus penggelapan pajak dengan terdakwa Manajer Pajak Asian Agri, Suwir Laut. Dalam kesaksiannya, Vincent mengatakan, setiap tahunnya, Asian Agri selalu melaksanakan pertemuan perencanaan untuk menghemat pembayaran pajak yang harus dibayarkan. "Saya tidak mengetahui angka detilnya, tapi berdasarkan target pertemuan, jumlah yang dihemat 70 juta dolar per tahun," kata Vincent di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis 28 April 2011. Menurut Vincent, salah satu jalan untuk melakukan penghematan yaitu dengan pembukuan fiktif. Vincent mencontohkan, salah satunya dengan cara memasukkan biaya pemotongan rumput sebagai biaya pokok produksi perusahaan. "Biaya lapangan menjadi biaya produksi. Biaya pemotongan rumput dan lain-lain dimasukan ke harga pokok. Tujuannya adalah melakukan pembukuan fiktif," terang Vincent. Manipulasi juga dilakukan dengan cara membuat laporan keuangan selalu terlihat kurang mendapatkan untung. "Tiap kali selalu rugi. Kepala Marketing kok tidak dipecat. Kerugiannya sampai pada puluhan juta dollar. Ini karena sebenarnya untung," jelasnya. Suwir Laut didakwa telah membuat laporan yang keliru tentang SPT perusahaan sehingga menimbulkan potensi kerugian negara dari penerimaan pajak senilai Rp 1,259 triliun. Suwir Laut terancam hukuman enam tahun penjara karena kejahatan berlanjut yang dilakukannya. Dalam dakwaan jaksa, Suwir dikatakan turut menyuruh melakukan, turut melakukan, menganjurkan melakukan dan membantu melakukan penggelapan pajak di beberapa perusahaan. Suwir disebut merekayasa harga jual yang mengakibatkan keuntungan perusahaan menjadi lebih kecil dari yang sebenarnya. Adanya rekayasa ini, diperkuat dengan adanya pertemuan tertanggal 2

4,5 Agustus, 2 September, 18, 19 September 2002 antara Suwir Laut, Vincentius Amin Sutanto dan teman- temannya. Pertemuan tersebut dengan agenda tax planning meeting membahas pengecilan jumlah pajak perusahaan tersebut. Selain itu dilakukan pula pembiayaan fiktif dengan menciptakan kerugian. Cara ini dilakukan dengan cara perusahaan yang bernaung di bawah AAG, seolah membuat kontrak ekspor penjualan minyak kelapa sawit mentah ke perusahaan di Hongkong yang penyerahan barangnya dilakukan beberapa waktu kemudian. Namun, sebelum jatuh tempo penyerahan barang dilakukan, perusahaan yang tergabung dalam AAG melakukan pembelian kembali oleh dengan harga yang lebih tinggi. Perbuatan Suwir laut tersebut melanggar Pasal 39 ayat 1 huruf C junto pasal 43 ayat 1 UU No. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan dan Pasal 38 huruf b junto pasal 43 ayat 1 UU No. 6 tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan. Suwir Laut didakwa dengan dakwaan primair Pasal 39 Ayat (1) huruf C UU Nomor 16 Tahun 2000 tentang tata cara prosedur pembayaran pajak, ancamannya enam tahun penjara dan denda empat kali kerugian pajak. (eh) Sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/217279-vincent-beberkan-kasus-pajak-asian-agri

ANALISIS KASUS Terpidana pencucian uang PT Asian Agri Group (AAG), Vincentius Amin Susanto, menjadi saksi dalam kasus penggelapan pajak dengan terdakwa Manajer Pajak Asian Agri, Suwir Laut. Sesuai persidangan yang telah dilaksanakan terungkap pengakuan bahwa PT Asian Agri Group (AAG), bahwa setiap tahunnya selalu melaksanakan pertemuan perencanaan untuk menghemat pembayaran pajak yang harus dibayarkan. Sesuai dengan pertemuan yang telah dilakukan Asian Agri berusaha mengehemat pembayaran hamper 70 juta dolar per tahun. Salah satu jalan untuk melakukan penghematan yaitu dengan pembukuan fiktif. Cara pengehematan pembayaran pajak salah satunya dengan cara memasukkan biaya pemotongan rumput sebagai biaya pokok produksi perusahaan. Kemudian biaya lapangan menjadi biaya produksi. Biaya pemotongan rumput dan lain-lain dimasukan ke harga pokok. Tujuannya adalah melakukan pembukuan fiktif. Manipulasi juga dilakukan dengan cara membuat laporan keuangan selalu terlihat kurang mendapatkan untung. Sehingga pajak yang dibayarkan akan semakin sedikit. Suwir Laut didakwa telah membuat laporan yang keliru tentang SPT perusahaan sehingga menimbulkan potensi kerugian negara dari penerimaan pajak senilai Rp 1,259 triliun.

ANALISIS UU Sesuai berita terkait maka Suwir Laut didakwa dengan dakwaan primair Pasal 39 Ayat (1) huruf C UU Nomor 16 Tahun 2000 tentang tata cara prosedur pembayaran pajak, ancamannya enam tahun penjara dan denda empat kali kerugian pajak. Karena kasus tersebut mencuat sebelum Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan terbit. Akan tetapi jika ditilik dengan UU terbaru sesuai dengan Undang-Undang No. 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah dengan UndangUndang No. 16 Tahun 2009 Pasal 39 yaitu: 1. Setiap orang yang dengan sengaja: a. tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak; b. menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak; 4

c. d.

tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan; menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap;

e. f.

menolak untuk dilakukan pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29; memperlihatkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen lain yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar, atau tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya;

g.

tidak menyelenggarakan pembukuan atau pencatatan di Indonesia, tidak memperlihatkan atau tidak meminjamkan buku, catatan, atau dokumen lain;

h.

tidak menyimpan buku, catatan, atau dokumen yang menjadi dasar pembukuan atau pencatatan dan dokumen lain termasuk hasil pengolahan data dari pembukuan yang dikelola secara elektronik atau diselenggarakan secara program aplikasi on-line di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (11); atau

i.

tidak menyetorkan pajak yang telah dipotong atau dipungut

sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. 2. Pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambahkan 1 (satu) kali menjadi 2 (dua) kali sanksi pidana apabila seseorang melakukan lagi tindak pidana di bidang perpajakan sebelum lewat 1 (satu) tahun, terhitung sejak selesainya menjalani pidana penjara yang dijatuhkan. 3. Setiap orang yang melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana menyalahgunakan atau menggunakan tanpa hak Nomor Pokok Wajib Pajak atau Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, atau menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak benar atau tidak lengkap, sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d, dalam rangka mengajukan permohonan restitusi atau melakukan kompensasi pajak atau pengkreditan pajak, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah restitusi yang dimohonkan dan/atau kompensasi atau pengkreditan yang dilakukan.

Oleh karena itu maka dengan Undang-Undang yang berlaku saat ini perbuatan Suwir laut tersebut melanggar Pasal 39 ayat 1 huruf F sehingga Suwir Laut diancam dengan pidana penjara paling singkat enam bulan dan paling lama enam tahun dan denda paling sedikit 2 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4 kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Akan tetapi karena sesuai dengan Pasal II Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 yang menyatakan bahwa : Terhadap semua hak dan kewajiban perpajakan Tahun Pajak 2001 sampai dengan Tahun Pajak 2007 yang belum diselesaikan, diberlakukan ketentuan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000. Oleh karena itu maka Suwir Laut didakwa dengan dakwaan primair Pasal 39 Ayat (1) huruf C UU Nomor 16 Tahun 2000 tentang tata cara prosedur pembayaran pajak, ancamannya enam tahun penjara dan denda empat kali kerugian pajak. Akan tetapi sesuai dengan Undang-Undang yang berlaku saat ini, perbuatan Suwir laut tersebut melanggar Pasal 39 UU KUP 1984 ayat 1 huruf F Setiap orang yang dengan sengaja : a. .. menyampaikan Surat Pemberitahuan dan/atau keterangan yang isinya tidak beanr atau tidak lengkap; b. ...... sehinga dapat menimbulkan kerugian pada pendapatan negara, dipidana dengan pidan penjara paling singkat 6(enam) bulan dan paling lama 6(enam) tahun dan denda paling sedikit 2(dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar dan paling banyak 4(empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang dibayar. Berdasarkan pasal 39 UU KUP 1984 ini, PT Asian Agri data dituntut dengan pidana tersebut di atas. Dengan begitu, pokok pajak dan sanksi yang harus dibayarkan oleh PT Asian Agri adalah sekitar Rp 3,9 T Rp 6,5 T.

ANALISIS HUKUM 1. Terkait dengan aksinya ini, PT Asian Agri telah melanggar beberapa ketentuan yang dimuat dalam beberapa pasal dalam KUHP dan KUP. Pasal 263 ayat 1 KUHP berbunyi ;

Barangsiapa membuat secara tidak benar atau memalsu surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan, atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti dari sesuatu hal, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memaki surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu. Diancam, jika pemakai tersebut dapat menimbulkan kerugian karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun 2. Dalam hal ini PT Asian Agri telah dengan sengaja melakukan pemalsuan surat yang diperuntukkan sebagai bukti pelaporan penghitungan dan/atau pembayaran pajak. Surat yang dipalsu oleh PT Asian Agri adalah Surat Pemberitahuan. Selain memalsukan suratdalam hal ini SPTPT Asian Agri juga seklaigus sebagai pihak pengguna surat yang telah dipalsukan tesebut, sehingga PT Asian Agri juga telah melakukan pelanggaran terhadap pasal 263 ayat 2 KUHP yang berbunyi ; diancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai surat yang isinya tidak benar atau yang dipalsu, seolah-olah benar dan tidak palsu, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian. 3. Selain melanggar pasal-pasal berkenaan dengan pemalsuan surat tersebut, PT Asian Agri juga melanggar ketentuan yang mengatur mengenai tindak pidana penggelapan, yakni KUHP pasal 372 yang berbunyi ; barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum mengaku sebagai milik sendiri (zich toeeigenen) barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapu yang ada dalam kekuasaanya bukan karena kejahatan, diancam karena penggelapan dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak enam puluh juta rupiah. Pengakuan barang milik sendiri disiniyang terjadi dalam PT Asian Agriadalah sejumlah uang yang sebenarnya merupakan pajak. pajak tersebut seharusnya dibayarkan kepada kas negara dan menjadi milik negara untuk kepentingan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Terkait dengan penggelapan pajak ini, PT Asian Agri dapat dituntut dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak enam puluh juta rupiah. 4. Pasal lain yang mengatur mengenai tindak pidana penggelapan adalah pasal 374 KUHP yang berbunyi; 7

Penggelapan yang dilakukan oleh orang yang penguasaannya terhadap barang disebabkan karena ada hubungan kerja atau karena pencariannya atau karena mendapatkan upah untuk itu, diancam denga pidana pejara paling lama lima tahun.

PEMERIKSAAN DAN PENYIDIKAN PAJAK

Hasil Audit BPK Atas Kasus Pajak Asian Agri Asian Agri Diduga Menggelapkan Pajak Rp1,4 Triliun. Namun, Penyidikan Tidak Optimal. Kamis, 27 Januari 2011, 12:51 WIB Heri Susanto

VIVAnews - Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) telah melakukan audit atas proses pemeriksaan dan penyidikan pajak terhadap enam perusahaan. Hasil pemeriksaan itu mengungkap proses pemeriksaan rupanya tidak efektif. Berdasarkan dokumen hasil audit BPK yang diterima VIVAnews.com, pemeriksaan BPK tersebut lebih ditujukan untuk menilai kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, serta efektivitas proses pemeriksaan dan penyidikan terhadap wajib pajak. Asian Agri misalnya. Ini merupakan wajib pajak yang bergerak di sektor perkebunan kelapa sawit. Asian Agri diduga menggelapkan pajak sejak 2002 hingga 2005 sebesar Rp1,4 triliun. Dari hasil audit BPK terungkap, kinerja pemeriksaan bukti permulaan dan penyidikan pajak oleh Ditjen Pajak terhadap Asian Agri periode 2002-2005 yang belum sepenuhnya efektif. Akibatnya, proses pemeriksaan atas kasus ini berjalan berlarut-larut cukup lama. Jangka waktu pelaksanaan bukti permulaan atas Asian Agri melebihi ketentuan, yakni melewati dua bulan dan tidak didukung dengan usulan serta surat persetujuan perpanjangan pemeriksaan. Akibatnya, pelaksanaan pemeriksaan bukti awal tidak punya kepastian penyelesaian dan mengganggu efektivitas penyelesaian tindak pidana perpajakan. Pelaksanaan penyidikan dilakukan oleh Direktorat Intelijen dan Penyidikan, namun Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) tanggal 14 Mei 2007 hanya ditujukan kepada Kejaksaan Tinggi Jakarta, melalui Mabes Polri, bukan disampaikan kepada Kejaksaan Agung.

"Akibatnya, penyidikan menjadi tidak efektif dan berpotensi menimbulkan gugatan hukum," kata BPK. Ditjen Pajak telah mengikuti prosedur sesuai dengan ketentuan atas permohonan perpanjangan pencegahan terhadap para tersangka tindak pidana perpajakan dalam kasus Asian Agri. Penyidik Pajak tidak membuat Berita Acara Penggeledahan saat melakukan penggeledahan pada keadaan perlu dan sangat mendesak sesuai surat perintah tanggal 14 Mei 2007. Penggeledahan itu berlokasi di Marunda, Jakarta. Selain itu, terdapat ketidaksesuaian alamat/lokasi penggeledahan antara surat perintah penggeledahan yang menyebutkan kompleks Duta Merlin C33 Jakarta Barat dengan lokasi sebenarnya B33. Atas tindakan penggeledahan itu, Wajib Pajak mengajukan permohonan pra peradilan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Juni 2008. Putusan pra peradilan pada 1 Juli 2008 menyebutkan tindakan penggeledahan tidak sah. Atas putusan tersebut, Ditjen Pajak kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Namun, permohonan kasasi ditolak oleh PN Jaksel dan tidak diteruskan ke MA karena tidak memenuhi syarat formal. "Akibatnya, proses penyelidikan Ditjen Pajak terhadap Asian Agri menjadi tidak efektif." Soal penyitaan, penyidik pajak telah melakukan penyitaan dalam keadaan perlu dan mendesak pada 14 Mei 2007. Persoalannya, penyidik pajak baru melaporkan pelaksanaan dan hasil penyitaan kepada Ketua Pengadilan Negeri untuk mendapat persetujuan pada 14 Agustus 2007 atau 90 hari setelah penyitaan, padahal semestinya dua hari setelah penyitaan. Atas penyitaan tersebut, Wajib Pajak kemudian mengajukan gugatan pra peradilan pada Juni 2008 ke PN Jaksel. Pengadilan menyatakan penyitaan oleh penyidik tidak sah. Atas putusan itu, Ditjen Pajak kemudian mengajukan kasasi ke MA, namun kasasi tidak diproses PN Jaksel karena tidak memenuhi syarat formal. Temuan BPK lainnya menyebutkan penyidik Ditjen Pajak melengkapi berkas perkara P-19 melewati batas waktu yang ditentukan. Mereka juga belum menyerahkan barang bukti dan tersangka atas berkas perkara yang sudah lengkap (P-21) dalam kasus Pajak Asian Agri kepada Kejaksaan Agung. "Akibatnya, proses penyidikan tidak optimal," kata BPK. Karena itu, BPK meminta Dirjen Pajak segera memenuhi dan melengkapi berkas perkara seperti diminta Kejaksaan Agung.

Tanggapan Ditjen Pajak Atas hasil pemeriksaan BPK tersebut, Ditjen Pajak menanggapinya sejumlah temuan tersebut. Soal jangka waktu pemeriksaan bukti permulaaan misalnya. Ditjen Pajak menyatakan

pemeriksaan bukti permulaan diselesaikan dalam tempo dua bulan dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang disesuaikan. Namun, BPK tidak sependapat. BPK malah meminta Dirjen Pajak memberi sanksi pejabat pajak yang membuat proses pemeriksaan melebihi batas waktu. Soal penggeledahan dan penyitaan, Ditjen Pajak menjelaskan bahwa penggeledahan di Marunda telah dibuatkan Berita Acara Penggeledahan pada 14 Mei 2007. Sedangkan untuk alamat di Duta Merlin baik di C-33 atau B-33, tidak pernah dilakukan penggeledahan berdasarkan kesepakatan dengan Wajib Pajak pada 15 Mei 2007. Sementara itu, penyitaan dilakukan oleh penyidik pajak pada 14 Agustus 2007, bukan pada 14 Mei 2007 seperti disebutkan. Itu didasarkan pada Surat Perintah Penyitaan pada 14 Agustus 2007. Saat dihubungi, salah satu pejabat Raja Garuda Mas (induk usaha Asian Agri), Tjandra Putra tidak mengangkat ponselnya. Sedangkan, pengacara Asian Agri, Hinca Panjaitan juga belum bisa dimintai komentarnya saat dihubungi via ponsel. Penjelasan diperoleh dari humas Asian Agri, Fiona Mambu. Menurut dia, kasus pajak Asian Agri sesungguhnya sudah masuk ranah pengadilan. Karena itu, dia merasa lebih baik dibahas di pengadilan. "Kami tidak mau spekulasi, yang jelas kami selalu kooperatif dan berharap diselesaikan secara adil dan tranparan sesuai ketentuan yang berlaku." Fiona mengakui mengacu pada berita-berita yang beredar, Asian Agri memang dituduh menggelapkan pajak itu Rp1,4 triliun. Namun, dia berharap Ditjen Pajak melakukan hitunghitungan yang adil dan transparan. Penyelesaiannya juga harus mengacu aturan yang berlaku. "Sebenarnya, kami melihatnya masalah perpajakan Asian Agri seharusnya diselesaikan secara hukum administratif, bukan dengan pidana," kata Fiona. (art) Sumber : http://us.nasional.vivanews.com/news/read/201621-hasil-audit-bpk-atas-kasus-pajak-asian-agri

10

ANALISIS KASUS Badan pemeriksa keuangan setelah mengaudit proses pemeriksaan dan penyidikan kasus Asian Agri yang diduga telah menggelapkan pajak 2002-2005 sebesar 1,4 triliun, menemukan bahwa terjadi ketidakefektifan dikarenakan beberapa hal: 1. Jangka waktu pelaksanaan bukti permulaan lebih dari 2 bulan, serta tidak didukung usulan dan surat persetujuan perpanjangan pemeriksaan, sehingga tidak ada kepastian penyelesaian dan tidak efektif. 2. SPDP (Surat Dimulainya Penyidikan Pajak) 14 Mei 2007 hanya ditujukan pada Kejaksaan tinggi Jakarta, bukan pada Kejaksaan Agung, sehingga tidak efektif dan berpotensi timbulnya gugatan hukum. 3. Penyidik pajak tidak membuat Berita Acara Penggeledahan sesuai surat perintah 14 Mei 2007. 4. Ketidaksesuaian lokasi penggeledahan. Berdasarkan surat perintah, lokasi pengfeledahan di Komplek Duta Merlin C33 Jakarta Barat, sedangkan lokasi sebenarnya ada di B33. 5. Berkaitan dengan penyitaan 14 Mei 2007, Penyidik pajak baru melaporkan pelaksanaan dan hasil penyitaan pada ketua pengadilan negeri untuk mendapat persetujuan pada 14 Agustus 2007, atau 90 hari kemudian, di mana seharusnya 2 hari setelahnya. 6. Ditjen Pajak melengkapi berkas perkara P-19 melebihi batas waktu, serta belum melengkapi barang bukti dan tersangka atas berkas perkara yang sudah lengkap (P-21).

ANALISIS UU Landasan Hukum yang dapat dipakai dalam kasus ini adalah: 1. Pasal 29 UU KUP tentang Pemeriksaan 2. Pasal 29AUU KUP tentang Pemeriksaan Terbuka 3. Pasal 30 UU KUP tentang Penyegelan 4. Pasal 31 UU KUP tentang Tata Cara Pemeriksaan 5. PMK 198/PMK.03/07 tentang Penyegelan 6. PMK 199/PMK.03/07 tentang Tata Cara Pemeriksan 7. PP 80 thn 07 tentang Hak Dan Kewajiban WP 8. SE-10/PJ.04/2008 tentang Kebijakan Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan WP 11

9. PER 19 thn 2008 tentang Petunjuk Teknis Pelaksaan Pemeriksaan Lapangan 10. PER 20 thn 2008 tentang Petunjuk Teknis Pelaksaan Pemeriksaan Kantor 11. PER 9/PJ/2010 tentang Standar Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan WP Berdasarkan Pasal 29 ayat 1 UU KUP, Pemeriksaan dapat dilakukan di kantor (Pemeriksaan Kantor) atau di tempat Wajib Pajak (Pemeriksaan Lapangan) yang ruang lingkup pemeriksaannya dapat meliputi satu jenis pajak, beberapa jenis pajak, atau seluruh jenis pajak, baik untuk tahun-tahun yang lalu maupun untuk tahun berjalan. Maka, pemeriksaan yang diterapkan pada Asian Agri adalah pemeriksaan lapangan, karena dilakukan di tempat wajib pajak. Berdasarkan sifatnya, pemeriksaan yang diterapkan pada Asian Agri adalah pemeriksaan khusus, di mana dilakukan setelah ada persetujuan atau instruksi dari unit atasan (Direktur Jenderal Pajak atau kepala kantor yang bersangkutan) dalam hal terdapat indikasi bahwa wajib pajak melakukan tindak pidana dibidang perpajakan. Hal tersebut sesuai dengan dugaan bahwa Asian Agri menggelapkan pajak sebesar Rp 1,4 triliun.

ANALISIS HUKUM Jika pemeriksa pajak, dalam hal ini adalah Ditjen pajak terbukti melakukan penundaan dalam proses pemeriksaan bukti permulaan, yaitu melebihi ketentuan (lebih dari 2 bulan), dan tidak didukung dengan usulan, serta surat persetujuan perpanjangan pemeriksaan, yang dapat mendatangkan kerugian bagi negara, maka pemeriksa pajak telah melanggar Pasal 36A(1) UU KUP Pegawai pajak yang karena kelalaiannya atau dengan sengaja menghitung atau menetapkan pajak tidak sesuai dengan ketentuan undang-undang perpajakan dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Sesuai dengan Pedoman Laporan Pemeriksaan Pajak (LPP), LPP yang berkaitan dengan pengungkapan penyimpangan Surat Pemberitahuan harus memperhatikan Kertas Kerja Pemeriksaan (KPP), antara lain mengenai berbagai factor perbandingan, nilai absolute dari penyimpangan, sifat dari penyimpangan, petunjuk atau temuan adanya penyimpangan, pengaruh penyimpangan, dan hubungan adanya pemasalahan lainnya.

12