30

BAB 3

PERANCANGAN SISTEM

3.1 Diagram Blok Rangkaian

Di bawah ini adalah blok diagram dari perancangan alat sensor keamanan menggunakan PIR (Passive Infrared).
Buzzer

PIR (Passive Infra Red)

Mikrokontroler AT89S52

LCD (Liquid Chrystal Display)

Gambar 3.1 Diagram Blok Rangkaian

Sumber hanya menerima radiasi inframerah pada range panjang gelombang (8 – 14 µ m. radiasi inframerah diubah dengan bentuk tegangan 5 volt. Kemudian sensor PIR (Passive Infrared) mendeteksi pergerakan manusia, apabila melewati ruangan maka akan diteruskan ke mikrokontroler. Pada mikrokontroler dianalisa pergerakan manusia yang diterima PIR, apakah sekedar lewat atau bergerak diruang itu saja. Apabila pergerakan melebihi batas yang ditentukan pada ruangan tersebut, maka alarm aktif dan LCD menampilkan status.

Universitas Sumatera Utara

2 Sistem Minimum Mikrokontroler AT89S52 Rangkaian skematik dan layout PCB sistem minimum mikrokontroler AT89S52 dapat dilihat pada gambar 3.2.31 3.2 Rangkaian skematik sistem minimum Mikrokontroler AT89S52 Universitas Sumatera Utara . di bawah ini: Gambar 3.

Miso. Vcc dan Gnd pada mikrokontroler terletak pada kaki 6. 9. Sck. 7. Sck. Apabila terjadi keterbalikan pemasangan jalur ke ISP Programmer. Kaki Mosi. Selain digunakan untuk fungsi diatas resistor array digunakan sebagai pull up. Reset. Jika mikrokontroler tidak menggunakan memori eksternal. Pulsa transisi dari rendah ke tinggi akan me-reset mikrokontroler ini. RJ45 sebagai konektor yang akan dihubungkan ke ISP Programmer. Reset.32 Pin 18 dan 19 dihubungkan ke XTAL 11. Universitas Sumatera Utara . Miso. Karena fungsi tersebut maka Port 0 dihubungkan dengan resistor array. maka pemograman mikrokontroler tidak dapat dilakukan karena mikrokontroler tidak akan bisa merespon. Pin 9 merupakan masukan reset (aktif tinggi). 8. Pin 32 sampai 39 adalah Port 0 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit open collector dapat juga digunakan sebagai multipleks bus alamat rendah dan bus data selama adanya akses ke memori program eksternal.0592 MHz dan dua buah kapasitor 30 pF. Mosi. maka penggunaan resistor array tidak begitu penting. Dari ISP Programmer inilah dihubungkan ke komputer melalui port paralel. XTAL ini akan mempengaruhi kecepatan mikrokontroler AT89S52 dalam mengeksekusi setiap perintah dalam program. 40 dan 20. Untuk men-download file heksadesimal ke mikrokontroler. Vcc dan Gnd dari kaki mikrokontroler dihubungkan ke RJ45.

Gambar 3.4 Rangkaian Power Supply Rangkaian skematik power supply dapat dilihat pada gambar 3.4 di bawah ini: Gambar 3.33 3.3 Rangkaian LCD (Liquid Crystal Display) Rangkaian skematik konektor yang dihubungkan dari LCD (liquid crystal display) ke mikrokontroler dapat dilihat pada gambar dibawah ini.3 Rangkaian skematik konektor yang dihubungkan dari LCD ke Mikrokontroler 3.4 Rangkaian skematik power supply Universitas Sumatera Utara .

keluaran 5 volt digunakan untuk menghidupkan seluruh rangkaian kecuali rangkaian ADC. karena rangkaian ADC memerlukan tegangan input sebesar 12 volt agar tegangan referensinya stabil. sehingga regulator tegangan (LM7805CT) tidak akan panas ketika rangkaian butuh arus yang cukup besar. sedangkan keluaran 12 volt digunakan untuk mensupplay tegangan ke rangkaian ADC. Trafo stepdown yang berfungsi untuk menurunkan tegangan dari 220 volt AC menjadi 12 volt AC.34 Rangkaian power supply berfungsi untuk mensupplay arus dan tegangan ke seluruh rangkaian yang ada. Regulator tegangan 5 volt (LM7805CT) digunakan agar keluaran yang dihasilkan tetap 5 volt walaupun terjadi perubahan pada tegangan masukannya. Transistor PNP TIP 32 disini berfungsi sebagai penguat arus apabila terjadi kekurangan arus pada rangkaian. Universitas Sumatera Utara . LED hanya sebagai indikator apabila PSA dinyalakan. Tegangan 12 volt DC langsung diambil dari keluaran jembatan dioda. Kemudian 12 volt AC akan disearahkan dengan menggunakan dua buah dioda. Rangkaian power supply ini terdiri dari dua keluaran. selanjutnya 12 volt DC akan diratakan oleh kapasitor 2200 μF. yaitu 5 volt dan 12 volt.

5 Kaki koneksi PIR (Passive Infrared) Tabel 3.35 3. Universitas Sumatera Utara .4 Rangkaian PIR ( Passive Infra Red) Gambar 3.1 Hubungan DT– 51 dengan PIR (Passive Infrared) Sensor Pada gambar di atas dapat dilihat bahwasannya PIR (Passive Infrared) sensor dihubungkan ke power supply melalui pin 1 (Vcc) dan pin 2 (Gnd).2. Pada pin 3 (O/P) terkoneksi ke port pada microcontroller yang berfungsi sebagai Counter yaitu port3.

Flowchart Rangkaian Start Inisialisasi LCD Set Counter = 0 Ada gerak ? Tidak Ya Buzzer hidup 1 x Matikan Buzzer Tampilkan ke LCD dan Counter = counter 1 Matikan Buzzer Delay Lama sinyal = 0.6 Flowchart Program Universitas Sumatera Utara .6.36 3.5 detik Tidak Ya Buzzer hidup berkali-kali Ya Counter kelipatan 5 ? Tidak Buzzer Hidup sekali Gambar 3.

d.. Apabila masih ada terdeteksi gerakan lagi. b. c.” dan setelah bebarapa saat sistem reset dan kembali mendeteksi. maka counter terus menghitung sampai berapa kali gerakan berikutnya terdeteksi. Apabila gerakan terdeteksi lima (5) kali atau lebih maka buzzer akan hidup berkali-kali dan LCD menampilkan “Bahaya…. jika tidak sensor kembali mengecek. f. Kemudian sensor PIR mendeteksi apakah ada pergerakan. Setelah selang setengah detik sensor kembali mengecek apakah masih ada gerakan atau tidak jika tidak kembali ke prosdur awal.7 Rangkaian Pengkondisi Sinyal Gambar 3.37 Keterangan Flowchart a. Apabila sensor mendeteksi gerakan maka sistem akan menghidupkan buzzer sekali dan menampilkan “Sensor Aktif” pada LCD. e.7 Rangkaian Pengkondisi Sinyal Universitas Sumatera Utara . 3. jika belum lima (5) kali terdeteksi maka buzzer hidup sekali dan kembali ke prosedur awal. Awal start sistem akan inisialisasi LCD dan mengeset counter menjadi 0.

Untuk mengamankan agar program pada Universitas Sumatera Utara . Untuk mengecek apakah mikrokontroler bisa ditulisi atau tidak dapat diketahui dengan dua cara. Tampilannya seperti gambar 4.Flash Programmer 3.Flash Programmer 3.1 Pengujian Rangkaian Sistem Minimum AT89S52 Untuk mengirimkan bilangan-bilangan heksadesimal ini ke mikrokontroler digunakan software ISP.1 di bawah ini : Gambar 4.a Cara menggunakannya adalah dengan meng-klik Open File untuk mengambil file heksadesimal dari hasil kompilasi 8051IDE.38 BAB 4 PENGUJIAN RANGKAIAN 4.0a yang dapat di download dari internet.1 ISP. kemudian klik Write untuk mengisikan hasil kompilasi tersebut ke mikrokontroler. yaitu dengan cara meng-klik Signature dan Read.

4. Makin tinggi tingkatan Lock Bitnya maka makin sulit membongkar programnya.39 mikrokontroler tidak dapat dibaca oleh orang yang tidak diinginkan.2 Jangkauan PIR Universitas Sumatera Utara . Lock Bit-2 dan Lock Bit-3 yang masing-masingnya memiliki tingkat keamanan yang berbeda. dapat digunakan Lock Bit-1.2 Pengujian Rangkaian LCD Rangakaian LCD diuji dengan menampilakan karakter dengan perintah sebagai berikut : Cls LCD “Hallo Dunia” Lowerline LCD “Baik-Baik aja” Perintah di atas menampilkan teks “Hallo Dunia” pada baris pertama dan “Baik-Baik aja” pada baris kedua. Tetapi apabila telah di lock (dikunci) maka mikrokontroler tidak dapat lagi ditulisi.3 Pengujian Rangkaian PIR (Passive Infra Red) Gambar 4. 4.

4.3 Skema rangkaian power supply Universitas Sumatera Utara . sehingga sensor akan men-trigger alarm system bila ia mendeteksi kehadiran seseorang di ruangan tersebut. Setelah dilakukan pengukuran maka diperoleh besarnya tegangan keluaran sebesar 5 volt.40 Untuk keperluan security system sensor ini di gunakan untuk mendeteksi adanya gerakan manusia di suatu ruangan atau area.4 Pengujian Rangkaian Power Supply Pengujian rangkaian ini dengan mengukur tegangan keluaran dari power supply menggunakan multimeter digital. Setelah itu rangkaian power supply dihubungkan ke sumber arus listrik dan saklar ON/OFF nya diaktifkan ke posisi ON. Perlu tidaknya ruangan yang ingin di monitor oleh PIR harus benar-benar di perhitungkan. Gambar 4.

D As Long Count As Word T0ic As Long Delayword As Word Bahaya1 As Integer Penentuan tipe data pada tiap variabel Declare Sub Aktif Declare Sub Bahaya Deklarasi sub prosedur yang akan digunakan Config Lcd = 16 * 2 Config Lcdpin = Pin .2 . Db7 = P1. Mode = 1 Priority Set Timer0 Enable Interrupts Enable Timer0 Aktifkan timer0 sebagai counter Universitas Sumatera Utara .0 ‘ Konfigurasi LCD P2. Db6 = P1. Db5 = P1.5 .5 Pengujian dan Analisa Program $regfile = "8052.dat" $crystal = 11059200 Dim Dim Dim Dim Dim Dim A As Byte C As Long .41 4.4 = 0 Do Cls If P3.1 . E = P1. Rs = P1. program akan mengecek apakah sensor aktif atau tidak.3 .4 = 1 Then Call Aktif Lcd "Status : Aman" Waitms 50 Loop Sub Aktif Cls Count = 0 T0ic = 0 D = 0 P3 = 255 Lcd "Status : Aktif" Lowerline ‘ Non aktifkan buzzer bila aktif Tampilan awal pada LCD Set nilai port 3. Db4 = P1. Gate = Internal .4 = 0 Program Utama. jika ya lompat ke sub prosedur aktif jika tidak tampilkan aman pada LCD dan ulangi prosedur dari perintah Do Awal sub prosedur aktif Set semua varibel ke nilai 0 Isi port 3 dengan nilai 255 Tampilkan pada LCD “Status : Aktif” Config Timer0 = Counter .7 = 0 Cls Lcd " PIR SECURITY " Lowerline Lcd " SYSTEM " Wait 2 Cls Lcd "A I S Y A H N I" Lowerline Lcd " FIN'05 " Wait 2 P3.4 .

7 = 0 Next Bahaya1 End Sub End prosedur penghitungan pulsa yang didapat pada interrupt timer 0 sebagai prosedur penghitungan pulsa yang dikirim oleh sensor PIR selama 10 detik. “Ada penyusup” kemuadian Hidupkan Buzzer sampai 200 kali.7 = 1 Waitms 100 P2. menampilkan pada LCD “Status : Bahaya”.7 = 1 Waitms 500 P2. Sub-rutin Bahaya. Prosedur tampilkan pada LCD “Sensor Aktif” kemudian bandingkan nilai dari hasil counter dengan nilai 5 (apakah ada 5 kali pergerakan) apabila ya maka lompat ke subrutin bahaya.42 Counter0 = 0 'clear counter Start Counter0 'enable the counter to count 'set up a 1 sec accurate DO NOTHING loop Enable Interrupts Wait 10 Disable Interrupts C = Counter0 'get counter value C = C + D Cls Lcd "Status : Aktif" Lowerline ' show the frequency Lcd "Gerak = " . 4. Apabila orang tersebut terdeteksi lima (5) kali bergerak di daerah yang terdeteksi sensor maka buzzer untuk alarm akan berbunyi berulang-ulang menandakan situasi bahaya. Universitas Sumatera Utara . Apabila tidak maka hidupkan buzzer 2 kali dan kembali ke program utama.6 Pengujian Rangkaian Keseluruhan Rangkaian ini harus dapat mendeteksi pergerakan manusia. apabila ada orang yang terdeteksi sensor maka buzzer akan hidup sekali dan di LCD tertera “Sensor Aktif”. C Waitms 250 If C > 5 Then Call Bahaya Waitms 500 For Bahaya1 = 1 To 2 Waitms 500 P2.7 = 0 Next Bahaya1 C = 0 End Sub Sub Bahaya Cls Lcd "Status : Bahaya" Lowerline Lcd "Ada Penyusup" For Bahaya1 = 1 To 200 Waitms 100 P2.

Sensor PIR (Passive Infrared) cukup memadai untuk mendeteksi pergerakan manusia. Universitas Sumatera Utara . sistem ini memakai sensor PIR (Passive Infrared) sebagai detektor suhu yang bekerja pada – 200C – 500C. 2. 5. sistem ini bekerja dengan cara mendeteksi panas dengan menmanfaatkan radiasi infra merah yang dipancarkan oleh tubuh manusia dengan radiasi infra merah terkuat dengan panjang gelombang 9. Sensor PIR (Passive Infrared) yang difungsikan sebagai sensor keamanan harus diletakkan pada ruangan yang memang orang tidak boleh memasukinya kecuali yang berhak. PIR (Passive Infrared) tidak dapat mengenali manusia melalui ciri bentuk tubuh (biometric) sehingga bias terjadi error pada pendeteksian di lingkungan yang ramai. dengan jangkauan efektif sejauh 33 pada sudut 00C 3. Sebab apabila alat ini diletakkan pada daerah yang sering dilalui orang maka sensor ini menganggap pergerakan simultan yang dilakukan oleh orang yang sedang berjalan sebanyak lebih dari 5 kali akan dianggap bahaya meskipun yang di deteksi sensor tersebut bukanlah orang yang sama pada pendeteksian selama 5 kali. 4.43 BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN 5.4 µ m.1 Kesimpulan 1.

Sensor PIR (Passive Infrared) sangat sensitif pada pergerakan manusia.. Sensor PIR (Passive Infrared) memiliki sudut deteksi yang lebar. sehingga untuk memberi fokus ke satu daerah perlu ditutupi dengan selubung. 3. daerah yang akan Universitas Sumatera Utara .2 Saran 1. Dengan menambah jenis sensor dan membuat rancangan sistem keamanan yang lebih baik kita dapat membuat automatic security system yang lebih kompleks dan mutakhir. 2.44 5. Sehingga penempatannya harus cocok sesuai dengan diamankan.