Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL Dasar Kebutuhan dan Kecukupan Gizi

14 April 2011

Oleh dr. I Wayan Sujana, M.Kes Tubuh manusia dibentuk dari berbagai jaringan tubuh antara lain tulang, gigi, otot skelet, hati, otot jantung, darah, dan otak. Komposisi yang dikandung oleh semua jaringan tubuh tersebut terdiri dari protein, lemak, karbohidrat, berbagai mineral, dan vitamin hampir sama dengan komposisi bahan makanan pada umumnya. Dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya, tubuh melakukan pemeliharaan dengan mengganti jaringan yang sudah aus ataupun rusak, melakukan kegiatan, dan pertumbuhan sebelum mencapai usia dewasa. Agar tubuh dapat menjalankan ketiga fungsi tersebut diperlukan sejumlah zat gizi setiap hari yang didapatkan melalui makanan. Makanan adalah salah satu kebutuhan pokok yang dibutuhkan oleh tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat-zat gizi, agar tubuh dapat menjalankan fungsinya dengan optimal. Diperkirakan ada lima puluh macam senyawa dan unsur yang harus diperoleh dari makanan dengan jumlah tertentu setiap harinya. Makanan sehari-hari yang dipilih dengan baik akan memberikan semua zat gizi yang dibutuhkan untuk fungsi normal tubuh. Sebaliknya, bila makanan tidak dipilih dengan baik, tubuh akan mengalami kekurangan zat-zat gizi esensial tertentu. Zat gizi esensial adalah zat gizi yang harus didapatkan dari makanan. Bila dikelompokkan, terdapat tiga fungsi zat gizi dalam tubuh, yaitu :

Memberi energi; zat gizi yang memberikan energi adalah karbohidrat, lemak, dan protein, sangat diperlukan untuk mengahasilkan energi yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan aktifitas/kegiatan, ketiga zat gizi ini dinamakan zat pembakar. Pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh; protein, mineral, air adalah zat gizi yang digunakan oleh tubuh untuk membentuk sel-sel baru, dan mengganti sel-sel yang rusak, dan dalam fungsi ini ketiga zat gizi ini dinamakan zat pembangun.

*) Kepala Seksi Kesehatan Keluarga, Bidang Bina Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan dan Kessos, Kabupaten Jembrana.

Mengatur proses tubuh; protein, mineral, dan vitamin diperlukan untuk mengatur proses tubuh seperti : mengatur keseimbangan air, mengatur proses oksidasi, proses penuaan sel, dan mengatur proses ekskresi sisa sisa oksidasi dalam tubuh, dalam fungsi ini zat-zat gizi ini dinamakan zat pengatur.

Konsumsi makanan berpengaruh terhadap status gizi seseorang, dimana status gizi baik atau status gizi optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zat gizi yang digunakan secara efesien, sehingga memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin. Banyak faktor yang mempengaruhi gangguan dalam gizi seperti faktor primer (jumlah dan kwalitas makanan yang tersedia) dan faktor sekunder (terjadi gangguan dalam sistem pencernaan yang diakibatkan oleh kelaianan dan penyakit). Keadaan gizi seseorang merupakan gambaran apa yang dikonsumsinya dalam jangka waktu yang cukup lama. Kekurangan atau kelebihan dalam waktu tersebut akan berakibat buruk tehadap kesehatan. Kekurangan salah satu zat gizi dapat menimbulkan konskuensi berupa penyakit defisiensi ataupun kekurangan hanya marginal dapat menimbulkan gangguan yang sifatnya lebih ringan atau menurunnya kemampuan fungsi. Konsumsi yang berlebihan dari salah satu zat gizi juga menimbulkan gangguan kesehatan mulai dari gangguan yang ringan misalnya gangguan fungsi yang menurun bahkan sampai gangguan yang sangat berat atau sifatnya fatal. Di beberapa bagian di dunia terjadi masalah gizi kurang atau gizi lebih secara epidemis. Negara-negara berkembang seperti sebagian besar Asia, Afrika, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan pada umumnya mempunyai masalah gizi kurang. Sebaliknya, negara-negara maju seperti Eropa Barat dan Amerika Serikat pada umumnya mengalami masalah gizi lebih. Oleh karena itu untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal, mutlak diperlukan sejumlah zat gizi yang harus didapatkan dari makanan dalam jumlah yang sesuai dengan yang dianjurkan setiap harinya. Disinilah diperlukan suatu standar yang digunakan sebagai acuan tentang kecukupan gizi seseorang dibandingkan dengan rata-rata penduduk, dan disusunlah suatu patokan yakni angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan digunakan sebagai standar guna mencapai status gizi optimal bagi penduduk. KECUKUPAN GIZI Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan (AKG) atau Recommended Dietary Allowances (RDA) dalah taraf konsumsi zat-zat gizi esensial, yang berdasarkan pengetahuan ilmiah dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan hampir semua orang sehat di suatu negara. Kecukupan gizi dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin, aktivitas, berat

dan tinggi badan, genetika, serta keadaan hamil dan menyusui. Dalam perhitungan angka kecukupan gizi yang dianjurkan sudah diperhitungkan faktor variasi kebutuhan individual, dimana kebutuhan yang dianjurkan sudah mencakup hampir 97,5 % populasi, dan untuk ekcukupan beberapa zat gizi seperti vitamin, mineral sudah diperhitungkan sampai cadangan zat gizi dalam tubuh. Sehingga perhitungan kecukupan zat gizi sudah memperhitungkan penambahan sebesar dua kali simpang baku (standar deviasi) dari kebutuhan rata-rata penduduk yang sehat. Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing kelompok umur, gender, dan aktifitas fisik. Dalam penggunaannya bila kelompok penduduk yang dihadapi mempunyai rata-rata berat badan yang berbeda dengan patokan, maka perlu dilakukan penyesuaian. Bila berat badan kelompok penduduk tersebut dinilai terlalu kurus, maka AKG dihitung berdasarkan berat badan idealnya. AKG yang dianjurkan tidak dipergunakan untuk perorangan atau individu, namun lebih menggambarkan kelompok penduduk/masyarakat. Angka Kecukupan gizi dianjurkan digunakan untuk tujuan seperti :

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Merencanakan dan menyediakan suplai pangan untuk penduduk atau kelompok penduduk; perlu diketahui pola pangan dan distribusi penduduk Menginterpretasikan data konsumsi makanan perorangan atau kelompok; perlu ditetapkan patokan berat badan untuk masing-masing gender, dan bila menyimpang dari patokan berat badan dilakukan penyesuaian Perencanan pemberian makanan di institusi, seperti rumah sakit, sekolah, industri, asrama, dan lain-lain Menetapkan standar bantuan pangan; misalnya dalam keadaan darurat, dan untuk kelompok penduduk yang berisiko seperti balita, anak sekolah, ibu hamil Menilai kecukupan persediaan pangan nasional Merencanakan program penyuluhan gizi Mengembangkan produk pangan baru di industri Menetapkan pedoman untuk keperluan labeling gizi pangan

Langkah pertama dalam penyusunan AKG adalah menetapkan kebutuhan faali rata-rata penduduk yang sehat dan mewakili tiap golongan umur dan gender menurut kriteria yang telah ditetapkan. Untuk itu, perlu diketahui perbedaan-perbedaan di dalam tiap golongan yang memungkinkan perkiraan jumlah yang perlu ditambahkan pada kebutuhan rata-rata untuk memenuhi kebutuhan sesungguhnya semua orang sehat. Karena alasan mahal dan perlu waktu lama eksperimen tersebut tidak dilakukan, hanya digunakan perkiraan kebutuhan dan variasinya berdasarkan informasi yang terbatas. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan AKG, seperti :

Adanya variasi individual masing-masing orang yang mempengaruhi utilisasi zat gizi oleh tubuh Adanya perbedaan komposisi zat gizi yang terkandung dalam setiap sumber makanan Adanya saling mempengaruhi antar zat gizi dalam tubuh Adanya perubahan komposisi zat gizi akibat proses pemasakan, atau pengolahan sampai makanan siap dikonsumsi.

KEBUTUHAN GIZI Angka Kebutuhan Gizi atau Dietary Requirements adalah banyaknya zat-zat gizi minimal yang dibutuhkan seseorang untuk mempertahankan status gizi yang adekuat. Kebutuhan tubuh akan zat gizi berbeda-beda menurut kelompok umur, pada bayi dan anak merupakan kebutuhan zat gizi yang memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang memuaskan, sedangkan untuk orang dewasa merupakan jumlah yang dibutuhkan untuk memelihara berat badan normal dan mencegah deplesi zat gizi dari tubuh yang diperkirakan melalui penelitian keseimbangan serta pemeliharaan konsentrasi normal zat gizi didalam darah dan jaringan tubuh. Untuk zat-zat gizi tertentu, kebutuhan mungkin didasarkan atas mulah yang diperlukan baik untuk mencegah ketidakmampuan tubuh melakukan suatu fungsi khusus, yaitu jumlah yang mungkin sangat berbeda dengan kebutuhan guna mempertahankan simpanan tubuh. Dengan demikian, penetapan kebutuhan setiap zat gizi berbeda-beda sesuai

dengan umur dan keadaan gizi seseorang. Energi merupakan merupakan hasil katabolisme zat gizi yang terdapat dalam tubuh dan yang berasal dari makanan yang dikonsumsi, dan digunakan sebagai sumber kalori untuk semua proses yang terjadi dalam tubuh. Oleh karena itu istilah lebih sempit dari kebutuhan zat gizi juga lebih sering disebutkan sebagai kebutuhan energi. Zat gizi yang menghasilkan energi adalah karbohidrat, protein, dan lemak, sehingga untuk istilah kebutuhan energi lebih banyak akan dibicarakan adalah kebutuhan ketiga zat gizi tersebut. Untuk perhitungan zat gizi yang lain, seperti mineral, vitamin, dan zat gizi mikro kebutuhannya relatif konstan untuk masing-masing kelompok umur, sehingga tidak banyak dibicarakan atau dibahas dalam kebutuhan zat gizi. Kebutuhan energi orang sehat dapat diartikan sebagai tingkat asupan energi yang dimetabolisasi dari makanan yang akan menyeimbangkan keluaran energi, ditambah dengan kebutuhan tambahan untuk pertumbuhan, kehamilan dan menyusui yaitu energi makanan yang diperlukan untuk memelihara keadaan yang telah baik. Kebutuhan energi dihitung dengan memerlukan beberapa komponen, yaitu :

Basal Metabolic Rate (BMR); merupakan pengekspresian sejumlah kalori (kilokalori) yang dikeluarkan oleh tubuh per meter persegi luas permukaan tubuh setiap jam (kal/jam/m) untuk aktivitas vital tubuh seperti denyut jantung, bernafas, transmisi elektrik pada otot, sirkulasi darah, peristaltik usus, tonus otot, temparatur tubuh, kegiatan kelenjar, serta fungsi vegetatif lainnya. Specific Dynamic Action (SDA)/Food Induced Thermogenesis (FIT); merupakan jumlah energi yang dibutuhkan untuk mengolah makanan dalam tubuh, antara lain untuk proses pencernaan dan penyeapan zat-zat gizi oleh usus, atau segala sesuatu yang tidak berbuhubungan dengan aktifitas otot. Aktifitas Fisik; pengeluaran energi untuk aktifitas fisik harian yang ditentukan oleh jenis, intensitas, dan lamanya akifitas fisik dan olah raga. Faktor Pertumbuhan; pengeluaran energi untuk pertumbuhan tulang dan jaringan tubuh.

Formula (rumus) yang banyak digunakan dalam menghitung kebutuhan energi seseorang adalah : Energi Requirement = BMR + SDA + Aktifitas Fisik + Faktor Pertumbuhan Besarnya penggunaan energi untuk Basal Metabolisme Rate (BMR) dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti : Faktor Primer :

luas permukaan tubuh (tinggi dan berat badan) umur, jenis kelamin cuaca, ras aktifitas hormonal

Faktor Sekunder : status gizi penyakit aktifitas fisik

Beberapa cara untuk menentukan BMR seperti : 1. Rumus Harris Benedict : Laki-laki = 66 + (13,7 BB) + (5 TB) (6,8 U) Perempuan = 65,5 + (9,6 BB) + (1,8 TB) (4,7 U) 2. Cara Cepat I : Laki-laki = 1 kkal x kgBB x 24 jam Perempuan = 0,95 kkal x kgBBx 24 jam 3. Cara Cepat II :

Laki-laki

= 30 kkal x kg BB

Perempuan = 25 kkal x kg BB 4. Cara FAO/WHO/UNU : Kelompok Umur Laki-laki BMR (kkal/hari) Perempuan

03 3 10 10 18 18 30 30 60 60

60,9 BB- 54 22,7 BB + 495 17,5 BB + 651 15,3 BB + 679 11,6 BB + 879 13,5 BB + 487

61,0 BB 51 22,5 BB + 499 12,2 BB + 746 14,7 BB + 496 8,7 BB + 829 10,5 BB + 596

Specific Dynamic Action (SDA) diperkirakan besarnya 10 % dari BMR. Beberapa faktor yang mempengaruhi besarnya SDA :

Suhu tubuh (panas atau demam) Suhu lingkungan Termik makanan Jenis konsumsi makanan Status gizi Aktifitas tubuh (olehragawan)

Kegiatan Fisik diperhitungkan sesuai dengan berat ringannya pekerjaan karena makin berat maka penggunaan energi akan lebih banyak, dan makin ringan pekerjaan penggunaan energi akan lebih sedikit. Sehingga kegiatan fisik tersebut dapat dikategorikan sebagai : o o o o o o o o sangat ringan ringan sedang berat = 1,4 BMR = 1,6 BMR = 2,5 BMR = 6,0 BMR = 20% BMR = 30% BMR = 40% BMR

WHO/FAO/UNU juga merekomendasikan pengelompokan kegiatan fisik menjadi : Kerja ringan Kerja sedang Kerja berat

Kerja sangat berat = 50% BMR

Kegiatan ringan contohnya : seorang profesional (guru, dokter, arsitek, pengacara, akuntan, dll), pekerja kantor, penjaga toko, dan pengangguran. Kegiatan sedang contohnya : pekerja industri, pelajar, pemancing, polisi dalam keadaan aman, tentara tidak dalam peperangan, pekerja bangunan. Kegiatan berat contohnya : pekerja kasar, sebagian besar pekerjaan petani, pekerja tambang, atlet (pelari, pemain sepak bola, perenang), pekerja kehutanan. Kegiatan sangat berat contohnya : pandai besi, penebang pohon, penarik becak/gerobak barang, buruh bangunan, kuli pabrik, pekerja pembongkar muatan di pelabuhan.

Keperluan energi untuk faktor pertumbuhan diperhitungkan sesuai dengan golongan umur, karena faktor umur menentukan sedang terjadinya pertumbuhan yang menyeluruh dari jaringan tubuh, seperti pertumbuhan tulang baru, pertumbuhan organ baru seperti gigi, serta pertambahan volume cairan tubuh. Berdasarkan kelompok umur, besar pertambahan energi untuk faktor pertumbuhan adalah :

10 14 tahun 15 tahun 16 18 tahun

= 2 kkal/KgBB = 1 kkal/KgBB = 0,5 kkal/KgBB

DASAR PERHITUNGAN KEBUTUHAN DAN KECUKUPAN GIZI USIA TERTENTU (REMAJA) Kecukupan gizi Remaja Dasar perhitungan kecukupan gizi pada adalah : 1. Menetapkan berat badan patokan untuk masing-masing kelompok umur; sesuai dengan anjuran WHO untuk kelompok umur remaja di Indonesia memakai patokan berat badan seperti berikut : Pria : 10 12 tahun 13 15 tahun 16 19 tahun Wanita : 10 12 tahun 13 15 tahun 16 19 tahun : 39 kg : 42 kg : 45 kg : 30 kg : 40 kg : 55 kg

2. Menggunakan rujukan WHO, FAO, dan Amerika Serikat; kecukupan masing-masing zat gizi disusun berdasarkan kelompok umur, berat badan dan tinggi badan, dan untuk kelompok remaja seperti dalam tabel berikut ini :

Gol. Umur (tahun)

BB kg

Energi (Kal)

Pro (g)

Ca mg

P mg

Fe mg

Zn mg

I g

Vit. A IU

Tiamin (mg)

Riboflav (mg)

Nia sin mg

Vit C mg

Pria 10-12 13-15 16-19 Wanita 10-12 13-15 16-19 32 42 45 1.750 1.900 1.950 49 56 46 600 600 600 350 400 450 10 18 24 15 15 15 150 150 150 3.500 3.500 3.500 0,9 0,8 0,8 1,1 1,2 1,1 11 13 13 30 30 30 30 40 53 1.950 2.100 2.500 46 56 58 600 600 600 400 400 500 10 18 18 15 15 15 150 150 150 3.450 4.000 4.000 0,9 0,9 1,0 1,2 1,3 1,4 14 15 17 30 30 30

Untuk melihat kecukupan gizi seorang remaja maka di buat catatan konsumsi harian makanan yang telah

dikonsumsi sehari sebelumnya (recall 24 hours), kemudian dihitung banyaknya masing-masing zat gizi yang telah dikonsumsi, dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM). Kemudian dikonversikan kedalam kalori, dan selanjutnya dibandingkan dengan angka kecukupan yang dianjurkan masing-masing zat gizi. Untuk umur yang sudah tercantum, bila tidak sesuai dengan berat badan kenyataan, maka dilakukan koreksi dengan berat badan patokan yang telah ditentukan. Contoh : Seorang remaja laki-laki, masih sekolah SMU umur 17 tahun, berat badan 54 kg, tinggi badan 156 cm. Untuk mengetahui kecukupan zat gizi yang dikonsumsi oleh remaja tersebut dilakukan recall 24 hours, dan didapatkan hasil pencatatan sebagai berikut : Waktu Makanan Komposisi URT Gram

Pagi

Nasi Bungkus

Nasi putih Telur ayam Daging ayam Daun sawi

prg btr ptg kcl 4 helai 2 sdk teh 2 sdk mkn 2 sdk teh 1 sdk teh prg 1 btr 2 ptg kcl 3 sdk mkn 2 sdk mkn 1 sdk teh 2 sdk teh 1 prg ptg 4 bj 4 bj prng 3 sdk teh 2 sdk teh prg

50 15 10 5 5 20 5 10 100 30 20 30 20 2,5 5 150 15 20 5 10 7,5 5 75

Kopi Siang Kue lapis

Gula Tepung beras Gula Santan kelapa

Makan siang

Nasi putih Telur ayam Daging ayam Daun Bayam

Sore

Kue dadar

Tepung beras Gula

Teh Malam Makan malam

Gula Nasi putih Ikan baker Udang Kerang Kangkung Minyak sawit

Teh Pagi Nasi bungkus

Gula Nasi putih

Telur ayam Daging ayam Tepung beras Minyak klp Gula

1 btr ptg 1 sdk mkn 1 sdk mkn 2 sdk teh

30 10 10 10 5

Pisang goreng

Teh manis

Bila dilihat dalam tabel kecukupan gizi yang dianjurkan per hari, maka kecukupan gizi remaja laki-laki ini adalah : Energi Protein Calsium Pospor Fe Zn : 2.500 kal : 58 gr : 600 mg : 500 mg : 18 mg : 15 mg Iodium Vit. A Thiamin Riboflavin Niasin Vit. C : 1,0 : 1,4 mg : 17,0 mg : 30 mg : 150 : 4.000 IU

Dari hasil perhitungan recall 24 hours, setelah dikonvesikan ke dalam DKBM maka didapatkan hasil konsumsi zat gizi dari remaja diatas : Energi Protein : 1418 kal : 37,62 gr Vit A Vit B1 : 8360,5 IU : 0,289 mg

Calsium Lemak

: 217,2 gr : 37,94 gr

Vit C Fe

: 32,5 mg : 8,045 mg

Karbohidrat : 217,575 gr

Bila dibandingkan denganAKG maka kecukupan zat gizi remaja tersebut adalah: Kecukupan Energi : 1418/2500 x 100% = 56,72% AKG Kecukupan Karbohidrat : 60% x 2500 = 1500 kalori = 1500/4 =375 gram 217,575/375 x 100% = 58,02% AKG Kecukupan Protein Kecukupan Lemak : 37,62/58 x 100% = 64,8% AKG : 10% x 2500 kal = 250 kal = 250/9 = 27,7 gram 37,94/27,7 x 100% = 136,9% AKG Kecukupan Calsium : 217,2/600 x 100% = 36% AKG Kecukupan Vit A Kecukupan Vit B1 Kecukupan Fe Kecukupan Vit C : 8360,5/4000 x 100% = 209%AKG : 0,289/1,0 x 100% = 28,9% AKG : 8,045/18 x 100% = 44,7% AKG : 32,5/30 x 100% = 108,3% AKG

Kesimpulan bila hasil recall 24 hours remaja tersebut benar maka kecukupan zat gizi yang dikonsumsi adalah rata-rata belum memenuhi AKG, hanya kecukupan Lemak, Vit.A, dan Vit C sudah melebihi Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan. Kebutuhan Gizi Remaja Cara ringkas untuk memperkirakan kebutuhan energi remaja :

1.

Tentukan BMR dengan patokan yang digariskan oleh WHO/FAO, atau dengan menggunakan rumus Harris-Benedict, Cara cepat I, atau Cara cepat II. Berat badan yang digunakan dalam menghitung BMR adalah menggunakan Berat badan IMT(Indeks Massa Tubuh)/BMI(Boddy Mass Indeks) normal

1. 2. 3.
Contoh :

Tentukan perkiraan derajat kegiatan fisik Tentukan SDA, biasanya 10% dari BMR Perkiraan tambahan energi untuk pertumbuhan sesuai umur

Bila contoh remaja diatas dihitung kebutuhan gizi adalah seperti berikut ini : Berat Badan = 54 Kg, Tinggi Badan = 156 cm, Umur 17 tahun, Aktifitas Ringan IMT saat ini = BB(kg)/TB(m) = 54/ (1,56) = 22,18 Bila dilihat dari IMT saat ini maka remaja tersebut termasuk kategori normal, maka berat badan yang digunakan untuk menghitung BMR adalah berat badan saat ini. Perhitungan BMR dengan rumus Harris Benedict : BMR = 66 + (13,7 BB) + (5 TB) (6,8 U) = 66 + (13,7x54) + (5x156) (6,8x17) = 66 + 739,8 + 780 115,6 = 1470,2 kkal/cm/24 jam SDA dihitung 10 % dari BMR

= 10% x 1470,2 = 147,02 kkal Remaja diatas beraktifitas ringan, maka faktor aktifitas akan menambah kebutuhan nergi sebesar 1,6 x BMR = 1,6 x 1470,2 kkal = 2352,32 kkal Umur 17 tahun maka tambahan energi untuk pertumbuhan adalah sebanyak 0,5 kkal/Kg BB : = 0,5 x 54 kkal = 27 kkal Untuk energi oleh raga, tidak diperhitungkan karena remaja diatas sangat jarang melakukan olah raga Kebutuhan Energi Remaja diatas adalah : = BMR + SDA + Aktifitas Fisik + Olah Raga + Pertumbuhan = 1470,2 kkal + 147,02 kkal + 2352,32 kkal + 0 kkal + 27 kkal = 3996,54 kkal Kebutuhan Energi dari Karbohidrat ( 60 75 % energi total) : = 60 % x 3996,54 = 2397,92 kkal Kebutuhan karbohidrat dari makanan sebanyak (jumlah kalori/4): = 2397,92/4 gram = 599,48 gram Kebutuhan Energi dari Protein ( 10 15 % energi total) : = 15 % x 3996,54 = 599,48 kkal Kebutuhan protein dari makanan sebanyak (jumlah kalori/4): = 599,48/4 gram = 149,87 gram Kebutuhan Energi dari Lemak ( 10 25 % energi total): = 25 % x 3996,54 = 999,14 kkal Kebutuhan lemak dari makanan sebanyak (jumlah kalori/9): = 999,14/9 gram = 111,02 gram DAFTAR KEPUSTAKAAN

1. 2. 3. 4. 5.

Suhardjo, Clara M. Kusharto(1982), Prinsip-prinsip Ilmu Gizi, Penerbit Kanisius, Jakarta. Darwin Karyadi, Muhilal(1985), Kecukupan Gizi Yang Danjurkan, Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Arisman ,MB, Dr.(2004), Gizi dalam Daur Kehidupan dalam Buku Ajar Ilmu Gizi, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta. Sunita Almatsier, M.Sc., DR.(2004), Penuntun Diet, Instalasi Gizi Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Sunita Almatsier (2005), Prinsip Dasar Ilmu Gizi, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.