P. 1
Analgsik Opioid

Analgsik Opioid

|Views: 18|Likes:
Dipublikasikan oleh Nina Kharima

More info:

Published by: Nina Kharima on Jul 03, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2013

pdf

text

original

NARKOTIKA

(Menurut UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 22 TAHUN 1997, TENTANG NARKOTIKA)
2

 zat atau obat yg berasal dari tanaman atau bukan
tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yg dapat
menyebabkan 
* 1. penurunan atau perubahan kesadaran
* 2. hilangnya rasa, mengurangi sampai
menghilangkan rasa nyeri
* 3. dapat menimbulkan ketergantungan
 dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagaimana
terlampir dalam undang-undang ini atau yang
kemudian ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Kesehatan.
U-U No 22 thn 1997 tentang Narkotika
membagi narkotika ke dalam 3 gol :
3
 Narkotika golongan I, yaitu narkotika yang hanya
dapat digunakan untuk tujuan pengembangan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi
menimbulkan ketergantungan
 Contoh gol ini :
heroin, kokain, ganja.
Narkotika golongan II
4
 Yaitu narkotika yang berkhasiat pengobatan,
digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat
digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi menimbulkan
ketergantungan.
 Contoh gol ini :
morfin, petidin, dan derivatnya.
Narkotika golongan III
5
 Yaitu narkotika yang berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan/atau tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan, serta
mempunyai potensi ringan menimbulkan
ketergantungan.
 Contoh : kodein dan garam-garam narkotika dalam
golongan tsb
6
 NAPZA : singkatan dari Narkotika, Alkohol,
Psikotropika & Zat Adiktif lainnya.
 Kata lain yang sering dipakai adalah Narkoba
(Narkotika, Psikotropika dan Bahan-bahan
berbahaya lainnya)
 NAPZA adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan ke
dalam tubuh manusia, baik secara oral (melalui
mulut), dihirup (melalui hidung)
NAPZA
Psikotropika
7
 Adalah zat atau obat, baik alamiah atau
sintetik bukan narkotika
 Berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan saraf pusat
 Menyebabkan perubahan khas pada
aktivitas mental dan perilaku
Psikotropika golongan I
8
 Yaitu psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk
tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
terapi, serta mempunyai potensi sangat kuat dalam
mengakibatkan sindroma ketergantungan.
Contoh :
 3,4-methylenedioxy-N-methylamphetamine (MDMA),
 Ecstasy (often abbreviated E, X, or XTC)
 Psilosibina
 LSD (lysergic acid diethylamide is a hallucinogenic)
Psikotropika golongan II
9
 Yaitu psikotropika yang berkhasiat pengobatan
dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk
tujuan ilmu pengetahuan, serta mempunyai
potensi kuat dalam mengakibatkan sindroma
ketergantungan.
 Contoh : Fensiklidin (PCP), Amfetamin,
Metilfenidat (Ritalin).
Psikotropika golongan III
10
 Yaitu psikotropika yg berkhasiat pengobatan dan
banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk
tujuan ilmu pengetahunan serta mempunyai
potensi sedang dalam mengakibatkan sindroma
ketergantungan.
 Misalnya Flunitrazepam
Psikotropika golongan IV
11
Psikotropika yg berkhasiat pengobatan dan sangat
luas digunakan dlm terapi dan/atau untuk tujuan
ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
dlm mengakibatkan sindroma ketergantungan.

 Alprazolam (Xanax/ Alganax/ Alviz/ Zypraz/ Feprax)
 Bromazepam (Lexotan)
 Diazepam (Valium/ Valisanbe/ Stesolid)
 Estazolam (Esilgan)
 Klobazam (Frisium/ Proclosam),
 Klordiazepoksid (Librium/ Cetabrium)
 Nitrazepam (Dumolid / Mogadon)
 Lorazepam (Ativan/ Renaquil)
 Klonazepam (Rivotril) Triazolam (Halcion)
 Fenobarbital (Luminal).
Jenis Analgetik
12
Beberapa jenis analgetik bisa
membantu mengurangi nyeri.
Obat ini dibagi 3 kelompok:
 · Analgetik opioid (narkotik)
 · Analgetik non-opioid
 · Analgetik ajuvan.

 Analgetik opioid mrpk pereda nyeri yg
paling kuat & sangat efektif utk
mengatasi nyeri yg hebat.
Analgetik Opioid
13
 Secara kimia analgetik opioid berhub dg morfin.
Morfin: bahan alami yg disarikan dari opium, walau ada yg
berasal dari tumbuhan lain & lainnya dibuat di lab.

 Analgetik opioid sangat efektif dlm mengurangi rasa nyeri
tp memp bbrp e.s Makin lama pemakai obat ini akan
membutuhkan dosis yg lbh tinggi.

 Selain itu seblm pemakaian jangka panjang dihentikan 
dosis harus dikurangi secara bertahap, utk mengurangi
gejala-gejala putus obat.

Golongan Obat Opioid
Obt2 yg memp.sifat spt opium/ morfin  terutama
 menghilangkan nyeri
 1.Obat yg berasal dr opium - morfin
 2. Senyawa semi sintetik morfin
 3. Senyawa sintetik yg berefek spt morfin


 Obt yg mengantagonis efek opioid  antagonis
opioid.
 Analgesik kuat mirip
morfin
 Asal : kata narkosis

bhs yunani  arti:
stupor
 Reseptor tempat
terikatnya opioid di sel
otak disbt


reseptor opioid
Analgesik
narkotik
Opium ~ Candu : GETAH BUAH
PAPAVER SOMNIFERUM Linn
 Biji yg tua tp belum
masak  keringkn
t.kamar
 opium kasar ini sdh dpt
dipk u/ diisap
 tumbuh baik di Asia
 penanaman di Ind
terlarang
 Turki dulu slh 1 gudang
utama  
juga melarang tanam
 mgd >20 alkaloid.
Alk.utama morfin,
alk.samping: narkotin,
tebain, kodein, narsein,
papaverin
 Opium Poppy

Opium Poppy
17
Ganja (Cannabis Sativa/Cannabis
Indica)
 Sejenis tumbuhan  mengandung zat
yg dpt memabukkan, yi:
 Tetra Hydro Cannabinol (THC) yg
terkandung dlm tumbuhan tsb dpt
membuat pemakainya mengalami
euphoria
(rasa senang yg berkepanjangan tanpa
sebab).
Ganja
19
 Pada awalnya bunga opium (candu) dikembangkan di
Mesopotamia.
 Bangsa Sumeria menyebutnya Hul Gil (tanaman
kegembiraan)  menularkan pengaruh & efek
tanaman tsb pd bangsa Assyrians.
 Seni mengumpulkan dan meramu opium ini berlanjut
dan menyebar dari Assyrians ke Babylonia sp ketangan
bangsa Mesir.
3400 SM
KLASIFIKASI OBAT
GOLONGAN OPIOID
21
Struktur dasar Agonis kuat Agonis lemah smp Agonis-antagonis Antagonis
sedang

Fenantren Morfin Kodein Nalbufin Nalorfin
Dihidromorfin Oksikodon Buprenorin Nalokson
Oksimorfin Hidrokodon Naltrokson

Fenilheptilamin Metadon Propoksifen

Fenilpiperidin Meperidin Difenoksilat

Morfinan Levorfanol Butorfanol

Benzomorfan Pentazosin
Peptida opioid endogen
 3 peptida yg terdpt
dlm otak & jaringan
lain yg terikat pd
reseptor opioid:
enkefalin, endorfin,
dinorfin
 Opioid interaksi dg
res.opioid u/
menimbulkan efek 
potensi analgesik tgt
afinitasnya thd res.
opioid spesifik
Jenis reseptor opioid di SSP
 Res. µ (mu) 
memperantarai efek
analgetik mirip morfin,
euforia, depresi nafas,
miosis, berkurangnya
motilitas sal.cerna
 Res. k (kappa) 
memperantarai
analgesia spt yg
ditimbulkan 
pentazosin, sedasi serta
miosis, depresi nafas tdk
sekuat agonis µ
reseptor opioid
 Res. o (sigma)  berhub dg efek psikotomimetik
yg ditimbulkn o/ pentazosin & lain agonis -
antagonis
 Res. o (delta)  di ssp selektif thd enkefalin &
pegang peran dlm menimbulkn depresi pernaf yg
disebb opioid
 Res.c (epsilon)  selektif thd | endorfin tp ta’
memp afinitas thd enkefalin
ALKALOID asal OPIUM
 Gol.fenantren: morfin
kodein
 gol. benzilisokinolin:
noskapin papaverin
 Deriv.semisintetik:
heroin,
hidro/oksimorfon,
levorfanol, levalorfan,
hidro/oksikodon,
nalorfin,nalokson,
naltrekson, nalbufin,
tebain
Efek M thd ssp:
analgesia & narkosis
 Do.5-10mg
- euforia pd px
nyeri/sedih/ gelisah.
- Org normal  sebalik:
disforia rasa kuatir/takut,
mual, muntah.
 M  kantuk, tdk
konsentrasi, sukar
berfikir, apatis, aktifitas
motorik 
 Letargi, tbh rasa panas,
muka gatal, mulut kering,
depresi nafas, miosis
 nyeri ¹, ta’ lapar/ muntah tp
ta’mual
 do.terapi 15-20mg 
px cpt tidur nyenyak +
mimpi, napas lambat,
miosis
M: ta’ dpt tembus kulit tp dpt diabs
mel kulit luka, jg dpt tembus mukosa
 M dpt diabs usus
 efek analgtik p.o < inj.
do sama
 onset i.v semua
alkaloid opioid sama
cepat, tp s.c beda2
 Do tunggal  konjugasi
dg as. glukuronat di
hepar, sebag keluar btk
bebas, 10% tdk
diketahui nasibnya.
 Eksr. t.u ginjal
E.S: idiosinkrasi & alergi
 Mual, muntah, eksitasi +
tremor jarang delirium
 Urtikaria, eksantem
dermatitis kontak,
pruritus, bersin
 Bayi/anak ta’ lbh peka thd
alk.opium,
 Manula lbh peka
Intoksikasi akut
 Terj. akibat bunuh diri or
over do  frek.napas
lambat 2-4x / menit.
 T.D  sp syok bl nafas
me’buruk  atasi dg O2.
 Pin point pupils 
midriasis
Toleransi, adiksi & abuse
 Mrpk gambaran
spesifik obat2 opioid
 Mrpk alasan
pembatasan
penggunaan

Opium_smoking
Dasar adiksi morfin
 1.habituasi perubahan psikik emosional shg
ketagihan
 2.ketergantungan fisik kebutuhan `M` krn faal
& biokimia tbh ta’ berfungsi lagi tanpa `M`
 3.adanya toleransi
Interaksi obat
 Depresi ssp.  /
diperpanjang o/

*fenotiazin, *penghamb
mono
aminoksidase/MAO,
*antidepresi trisiklik

 Mek. supraaditif ta’
diket tepat, mgk perub
dlm kecepatan
metabolisme opioid
/perubahan
neurotransmitor yg
berperan dlm opioid

33
 Derivat fenotiazin :
Klorpromazin, triklupromazin

 Penghambat MAO :
Isokarboksasid, nialamid, feneizin

 Antidepresi trisiklik :
Imipramin, amitriptilin

Interaksi obat deriv.Fenotiazin
 Bbrp deriv. Fenotiazin  sedasi , saat yg
sama ada efek anti analgtk/ me  jml opioid
yg diperlukan u/ hilangkan nyeri.
 Amfetamin dosis kecil me  efek analgtk &
euforia M, sedasi 
 Opioid + aspirin  sinergisme analgetik
Sediaan - Posologi
 Yg mengd camp.
alkaloid kasar & masih
dipakai
 1. Pulvis opii: ~~10%
morfin
 2. Pulvis doveri:
~~10% pulv. opii,
150 mg pulv. dov ~1,5
mg morfin

 Yg mengd alkaloid
murni dpt u/ p.o or
parenteral mis. Garam
HCl, sulfat, fosfat
alkaloid morfin 10
mg/ml
 10 mg/70kgbb s.c 
u/ nyeri pasca bedah
Efektivitas morfin p.o:
1/6 -1/5x efektivitas morfin s.c
 60 mg p.o  efek analgetik sdkt lbh
lemah / durasi lbh panjang drpd 8 mg
morfin i.m
 u/ menimbulkan emesis :
5 -10 mg apomorfin s.c

37
 Kodein tab 10,15,20
mg, grm HCl/ fosfat.
 Efek analgetik p.o ~~
1/3 parenteral

 32 mg kodein p.o ~
600mg asetosal 
potensiasi
 10 mg kodein ~ antitusif
~~
2-4 mg morfin

KODEINUM
Indikasi Morfin
 Thd nyeri: morfin & opioid lain u/ nyeri hebat
yg tdk dpt dgn analgesik non opioid
 Thd batuk & sesak: tlh banyak ditinggalkan k/
obt lain yg efektif tanpa adiksi. Sesak napas pd
dekomp akut ventrikel kiri/ edema pulmonal
 hanya dpt +deriv.opium
 Efek antidiare

Morfin sering diperlukan
u/ nyeri yg menyertai
 *infark miokard, *neoplasma,
 *kolik renal/k.empedu
 *oklusio akut pembl drh perifer,
pulmonal/koroner,
 *perikarditis akut, pleuritis-pneumothoraks
ringan
 *nyeri k/ trauma : luka bakar, fraktur, nyeri
pasca bedah
Sbg medikasi preanestetik 
`M`hanya bl px menderita nyeri
 Bila tdk ada nyeri & obt
preanestetik hanya u/
ketenangan/ tidur 
 gunakan: pentobarbital/
diazepam
Alkaloid morfin berguna u/m’hentikan
diare berdsr efek langs thd otot polos
 Tx diare yg disebb o/ intoksikasi makanan/
intoksikasi akut obat  pemberian morfin hrs
didahului grm katartik u/ mengeluarkan
penyebabnya
 dosis alk. morfin yg menyebb sembelit &
menghambat reflex batuk ± sama
Kegunaan sbg obat/Daya kerja
 Masih digunakan 
pulvis.opii/ ekstr. opii/
tinctura opii u/
menenangkan usus pd
diare/ obstipan

  efek depresi pd SSP
 menyebb. Obstipasi
atonik k/ kandungan
alk. samping:
papaverin
Meperidin & deriv.fenilpiperidin
 Meperidin = petidin
 = etil 1 metil 4 fenil piperidin 4
karboksilat
 Obat lain: 
1.piminodin, 2.ketobemidon,
3.fenoperidin
 Deriv. fenil
piperidin:


 1.alfaprodin
2.difenoksilat
3.fentanil
 Spt “M” meperidin  analg, sedasi, euforia,
depr.nafas & efek sentral lain
 Absorbsi Meperidin pasca cara pemberian
apapun baik.
 Kecep. abs mgk tdk teratur pasca i.m.
 Kdr puncak dlm plasma dicapai 45’ tp
bervariasi antar individu
SSP
 Metabolisme berlangs di hati.
 pd manusia meperidin terhidrolisis 
as.meperidinat kmd sebag
terkonyugasi
 t
1/2
± 3 jam
 Px sirosis, bioavail. me  sampai 80%,
t
1/2
memanjang

Meperidin
E.S., K.I., INTOKSIKASI
 E.S: Pusing, keringat,
euforia, mulut kering mual,
muntah, rasa lemah, gangg
pengli- hatan,palpitasi
sedasi
 obstipasi/ retensi urin
jarang, ef sedasi ~ `M`
 K.I spt `M`


 Do terapi -> tremor,
konvulsi, depr.nafas,
koma,kematian
 Depresi nafas
`meperidin` dpt
dilawan nalorfin/
nalokson
Adiksi - toleransi
 Toleransi thd efek depresi lbh lambat dp
`M`.
 TOLERANSI LAMBAT, BL DIBERIKAN DG
INTERVAL 3-4 Jam
 TOLERANSI tdk terjadi THD Efek STIMULASI
& Efek MIRIP ATROPIN
 GEJALA PUTUS OBT DG TIBA2 TIMBUL LBH
CPT /BERLANGS, Lbh SINGKAT DP `M` DG
GANGG SISTEM OTONOM Lbh RINGAN
Sediaan- posologi
 Meperidin HCl: Tab.50, 100 mg, ampul 50
mg/ml, p.o/ i.m.
Efektifitas p.o < dp parenteral
 Alfaprodin HCl: ampul 1 ml, vial 10 ml, kadar 60
mg/ml
 Difenoksilat: tab & syr. 2,5 mg+ 25 µg atropin
sulfat/ tab/ 5 ml syr. U/diare 20 mg/hr.
Sukar disalahgunakan k/ ta’ lrt dlm air
Loperamid:
tab 2mg, syr 1mg/ 5 ml, 4-8 mg/hr
 Loperamid: =difenoksilat u/diare kronis.
 Penyalahgunaan < dp difenoks k/ tdk timbul euforia
spt `M`
 Fentanil: potensi 80x `M`, mrpk agonis res. µ.
 Biasa u/ anestesi jg dpt u/ analgesia pasca operasi
 Btk lrt u/ inj./ kombinasi dg droperidol
Indikasi Meperidin
 Analgesia. Pd keadaan
klinis hanya
diindikasikan atas dsr
masa kerja lbh pendek
dp `m`
 mis.u/ tindakan dx
sistoskopi, gastrokopi
 Jg u/ menimbulk
analgesia obstetrik & sbg
obt preanestetik, kurang
menyebb. depresi nafas pd
janin.
 U/ px yg ta’ me’derita
nyeri ?
Metadon & Opioid Lain
 l. met 8-50x lb kuat ef analgs dp d. met
 dekstromoramid: deriv.metadon tp ta’
lb baik dp metadon, e.s >
 ef analgt 7.5-10 mg= 10 mg `M`
 do tunggal ta’ menimbulk hipnosis
sekuat `m`
 spt `m` metadon berefek antitusif,
menimbulk hiperglikemia, hipotermia,
pelepasan ADH-antidiuretic hormone
Sediaan- posologi: Metadon
 P.o tab 5 - mg
ampul/ vial
10 mg/ml.
 Inj.s.k ÷
iritasi lokal
 Spt `M` & meperidin
÷ e.s lbh sering
timbul pd p.o dp
parenteral, ÷ lbh
sering pd px rawat
jln
Indikasi - Metadon
 Analgesia: jenis nyeri yg dipengaruhi =
`M`
 sbg pengganti morfin/ opioid
lain(heroin) u/ mengatasi gejala putus
obt yg timbul
 Antitusif : ef 1,5 - 2 mg p.o
 ~~~15 - 20 mg kodein,
 Kemungkinan adiksi >> ta’ dianjurkan
Propoksifen
 Struktur kimia mirip metadon
 efek analgs k/ kerja sentralnya
 terikat pd res.µ meski kurang selektif
dp `M`
 kombinasi dg asetosal -> ef analgs lb
baik dp sendiri2.
 Efek = komb kodein asetosal
 tdk ada efek antitusif.
Antagonis opioid
 1915: Pohl  N-alil-nor kodein dpt
mencegah/m`hilangkn depresi nafas
akibat morfin-heroin.
 >25 th: Una, Hart&Mc Cawley sendiri2
menjelaskn efek antagonis morfin yg
dimiliki nalorfin
 1951: manfaat nalorfin sbg antidot pd
keracunan morfin yg terj. pd manusia
Nalorfin
 1953:  gejala putus obt akut pd pecandu
morfin, metadon, heroin dlm wkt singkat
 sebag.orang non adiksi,dosis besar nalorfin
 tdk ada euforia tp disforia & gelisah 
kurang tepat sbg analgesik
 Lasagna&Beecher: melihat antagonisme
nalorfin thd efek analgetik morfin jg efektif
u/nyeri pasca bedah
Substitusi gugus alil
pd gugus N - metil
 pd codein, morfin,
levorfanol,
oksimorfon,
fenasozin 
menghasilkn obt
bersifat antagonis
 Belakangan  ternyata
substitusi sederhana tsb
ta’ selalu  me’hasilkan
suatu analog yg bersifat
antagonis
Nalokson, Naltrekson,
Levalorfan, Siklazosin
 Nalokson ( `N`)
 Me  ambang nyeri pd org
yg biasanya ambang
nyerinya tinggi
 Me’antagonis efek
analgetik plasebo
 Me’antagonis analgsia yg
terj k/ jarum akupungtur
 Efek nalokson thd
hipotensi pd hewan
dlm keadaan syok/
mencegah over eating
/ obesitas pd tikus
stres berat
Efek dgn pengaruh opioid
 Semua ef agonis opioid pd
res. µ diantagonis
nalokson dosis kecil,
i.m/i.v.
 frekuensi nafas me| dlm
1-2’ setlh di +`N`pd px dg
depresi nafas k/agonis
opioid
 ef sedasi / thd T.D jg segra
hilang
 Dosis besar `N`
menyeb kebalikan
efek dr efek psikoto
mimetik & disforia
akibat agn-anta
 antagonis `N`
berlangs 1-4 jam, tgt
dosis
Nalokson
60
 Nalokson adalah antagonis narkotik, terbukti
memulihkan hipotensi akibat cedera kepala pada
kucing.
 Diperkirakan bahwa pelepasan opiat endogen
bertanggung-jawab atas hipotensi pasca konkusi
(trauma pd jaringan lunak).
 Beberapa data ada yang mendukung dan membantah
nilai obat ini pada cedera kepala
 Penelitian terakhir NASCIS II memperlihatkan tidak
ada manfaat nalokson pada cedera cord spinal.
EFEK SAMPING YANG DITIMBULKAN
OPIOID
61
 Mengalami pelambatan dan kekacauan pada saat
berbicara,
 Kerusakan penglihatan pada malam hari,
 Mengalami kerusakan pada liver dan ginjal,
 Peningkatan risiko terkena virus HIV dan hepatitis dan
penyakit infeksi lainnya melalui jarum suntik
 Penurunan hasrat dalam hubungan sex, kebingungan
dalam identitas seksual, kematian karena overdosis.


Indikasi /Sediaan- posologi
 Pemulihan total /sebagian dr
depresi opiat & overdosis opiat
akut tmsk depresi pernafasan yg
diinduksi opiat alami/ sintetik
 U/ mengatasi depresi nafas k/
dosis terapi opioid pd bayi yg baru
lahir k/ ibu dpt opioid wkt partus
or k/ tentamen suicide dg opioid.
 D.o.c. nalokson
 Prep. Parenteral nalorfin
hcl, levalorfan,
nalokson
Pentazosin:
 antagonis lemah pd res. µ , tp agonis
kuat pd res. k & o(sigma)  shg tdk
me’antagonis depresi nafas yg disebb
oleh `M`
 Buprenorfin
 Titidin
Indikasi / Sediaan- posologi
 U/ nyeri sedang
 kurang efektif dibanding
`M` u/ nyeri berat
 u/ medikasi preanestetik.
 Bl u/ analgs obstetrik 
depresi nafas ~~~ meperidin
 i.v; i.m; vial
Butorfanol
 Sec kimia mirip levorfanol, profil
kerja spt pentazosin
 Efektif u/ nyeri pasca operasi
~~~ `M`
 Tdk dianjurkan u/ nyeri yg menyertai
infark miokard akut
 1-4 mg, i.m / 0.5-2 mg i.v.
 S.o.3-4h, S.i.m.m
Antitusif non opioid: 1.DXM
 TDK BEREFEK ANALGETIK/
B’SIFAT ADIKTIF  ME AMBANG
RANGSANG REFLEX BATUK
SECARA SENTRAL, KEKUATAN
=KODEIN
 JARANG MENIMBULKAN KANTUK
/GANGG SAL.CERNA.
 TOKSISITAS RENDAH, DO >> 
DEPRESI NAFAS
 tab.10mg, syr 10-15mg/5ml, s.t.d.d
2. Noskapin
 Alkaloid alam tmsk deriv. benzilisokinolin
yg didpt dr candu. Do terapi ta’ ada efek
thd ssp kec sbg antitusif.
 Mrpk pelepas histamin yg poten shg do
besar menyebb bronkokonstriksi &
hipotensi sementara.
 Tdk ada adiksi/habituasi
 S.3-4.d.d 15-30 mg
TRAMADOL
68
 Obat analgesik sintetis yg lebih baru dg efek agonis mu
(µ) lemah dan beberapa kerja penghambatan ambilan
kembali norefinefrin dan serotonin dalam sistem saraf
pusat
 Tramadol bereaksi terutama melalui suatu metabolit
aktif yg mempunyai kerja analgesik lemah mirip dg
proposifen
 Dosis 50 – 100 mg per oral, S. 4 d d. tab I
 Toksisitas meliputi ketergantungan dan sindroma putus
obat, seizure, terkadang reaksi seperti anafilaksis
 Obat ini berguna untuk penyembuhan nyeri neuropati
kronis

 LSD






 Metadon
 Morphine
 Cocain * Alkohol
 Amfetamin *Barbiturat
 Ganja * Heroin * Codein
 Papaver somniferum * Marijuana
73
74

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->