Anda di halaman 1dari 6

Analisis Pelanggaran-Pelanggaran PT. Sarijaya Permana Sekuritas PT.

Sarijaya Permana Sekuritas merupakan perusahaan sekuritas lokal terbesar kedua yang memiliki 48 kantor cabang tersebar di 24 propinsi. Herman Ramli yang merupakan Komisaris Utama dan pemilik 100% saham PT. Sarijaya Permana Sekuritas. Selain itu, juga merupakan salah satu broker besar yang dipercaya investor selama ini. dan broker yang cukup banyak direkomendasikan oleh para investor yang sudah terlebih dahulu berinvestasi di pasar saham. Berikut adalah kronologis kasus PT. Sarijaya Permana Sekuritas menurut versi Bapepam LK: 2002 2008 : 1. Herman memerintahkan stafnya, Setya Ananda, untuk mencari nasabah nominee dan terkumpul 17 nasabah, yang sebagian besar adalah pegawai group Sarijaya, kemudian dibuatkan rekening atas nama orang lain (nominee). 2. Rekening tersebut digunakan untuk melakukan transaksi jual/beli saham di bursa efek. Namun dana dalam 17 rekening tidak mencukupi, sehingga Herman meminta stafnya Lanny Setiono untuk menaikkan batas transaksi (Trading Available). Kenaikan tersebut disetujui oleh para Direksi sehingga transaksi jual/beli saham dapat dilakukan tanpa sepengetahuan nasabah. 3. Untuk pembayaran transaksi, Herman Ramli mendebet 13.074 dana nasabah yang tersimpan di main account Sarijaya sebesar Rp 235,6 milyar. 12 Desember 2008 Krisis global yang terjadi berdampak pada bursa Indonesia, membuat Direksi Sarijaya menyampaikan surat kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menyatakan bahwa perusahaan mengalami kesulitan likuiditas. 15 Desember 2008 Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam-LK melakukan pemeriksaan ke PT Sarijaya Permana Sekuritas. Herman Ramli, mengakui menggunakan nominee untuk transaksi yang dilakukan sejak tahun 2002 dengan menggunakan dana nasabah yang disimpan atas nama Sarijaya. Diduga bahwa Sarijaya tidak melakukan prosedur yang tepat dalam pelaporan modal kerja bersih disesuaikan (MKBD).

19 Desember 2008 Herman Ramli dianggap tidak memiliki itikad baik dan Bapepam-LK melakukan upaya pencegahan agar dia segera diamankan. Hasil pemetaan permasalahan oleh Bapepam-LK membuktikan bahwa Herman Ramli diduga melakukan tindak pidana dan melakukan penyimpangan. Sebagai pemegang saham dan komisaris, Herman Ramli seharusnya tidak mempunyai kewenangan itu. Tetapi, Herman Ramli memiliki akses agar dana nasabah bisa dipindahkan. Bapepam-LK mengontak Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Markas Besar Kepolisian RI untuk mengamankan Herman Ramli. Sementara itu, BEI melakukan pemeriksaan MKBD Sarijaya. Otoritas bursa belum dapat melakukan suspensi karena dampaknya akan cukup besar 24 Desember 2008 Komisaris PT. Sarijaya Permana Sekuritas Herman Ramli diamankan oleh Bareskrim Mabes Polri. 28 Desember 2008 PT. Sarijaya Permana Sekuritas melaporkan kepada otoritas bursa dan meminta bantuan karena nasabah mulai menarik dana. Kasus Sarijaya telah terdengar oleh nasabah. Manajemen mengaku memerlukan dana segar. Dalam pernyataan tersebut, Herman Ramli juga bersedia menjamin saham-saham yang dimilikinya. 5 Januari 2008 Ketua Bapepam-LK mengundang Anggota Bursa untuk membahas masalah Sarijaya, terutama guna mencari jalan keluar. Dalam rapat dibahas beberapa opsi antara lain, apakah anggota bursa bersedia membantu kebutuhan dana Sarijaya, atau apakah ada dana talangan. Namun, dalam rapat tersebut tidak diperoleh solusi konkret tentang sumber dana untuk kebutuhan Sarijaya. Bapepam-LK juga meminta agar anggota bursa bersiap menghadapi penarikan dana. 6 Januari 2009 BEI menghentikan sementara (SUSPEND) aktivitas perdagangan PT. Sarijaya Permana Sekuritas. 9 Januari 2009

Bapepam-LK menggelar konferensi pers untuk menjelaskan masalah yang menimpa PT. Sarijaya Permana Sekuritas. 13 Januari 2009 Rapat Bapepam-LK dan Self Regulatory Organizations membahas verifikasi rekening efek nasabah. dan melakukan verifikasi dan penilaian atas aset-aset pribadi yang telah diserahkan oleh Komisaris PT. Sarijaya Permana Sekuritas termasuk status hukum atas asetaset tersebut. Pada saat bersamaan, dua direksi diamankan Bareskrim Mabes Polri. 14 Januari 2009 Pukul 10.30 WIB, manajemen PT. Sarijaya Permana Sekuritas mendatangi Bapepam-LK untuk meminta arahan mengingat direksi PT. Sarijaya Permana Sekuritas telah diamankan. Berdasarkan kronologis kasus yang terjadi diatas maka dapat diambil kesimpulan mengenai pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh PT. Sarijaya Permana Sekuritas adalah sebagai berikut : 1. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 90 tentang Penipuan, Manipulasi Pasar, dan Perdagangan Orang Dalam, PT Sarijaya telah melanggar ayat c sbb Membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak mengungkapkan fakta yang material agar pernyataan yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau menghindarkan kerugian untuk diri sendiri atau Pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi Pihak lain untuk membeli atau menjual Efek. Berdasarkan bunyi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal di atas terbukti bahwa PT. Sarijaya Permana Sekuritas membuat 17 rekening fiktif (nominee) dan meningkatkan batas transaksi (Trading Available) sehingga dapat digunakan untuk jual beli saham tanpa sepegetahuan nasabah. Selain itu, Herman Ramli telah mendebet dana 13.074 nasabah untuk membiayai transaksi tersebut sehingga menimbulkan kerugian sebesar Rp 235 milyar. 2. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 43, Yang dapat menyelenggarakan kegiatan usaha sebagai Kustodian adalah Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Perusahaan Efek, atau Bank Umum yang telah mendapat persetujuan Bapepam.

PT. Sarijaya Permana Sekuritas tidak mempunyai itikad baik dalam mengelola dana nasabah yang dititipkan dan dana tersebut telah disalahgunakan dengan melakukan penggelapan atau penyelewengan dan penipuan dana nasabah dengan cara pembuatan rekening gelap yang dilakukan untuk bertransaksi saham. Akibatnya 13.074 nasabah menderita kerugian sebesar Rp. 235,6 milyar. Dana tersebut ternyata dipinjamkan dengan jaminan saham. Pada saat krisis global 2008 Sarijaya mengalami kerugian besar karena nilai saham yang dijamin merosot tajam. 3. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal Pasal 85 tentang Pelaporan dan Keterbukaan Informasi bahwa Bursa Efek, lembaga Kliring dan

Penjaminan, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, Reksa Dana, Perusahaan Efek, penasihat Investasi, Biro Administrasi Efek, Bank Kustodian, Wali Amanat, dan Pihak lainnya yang telah memperoleh izin, persetujuan, atau pendaftaran dari Bapepam wajib menyampaikan laporan kepada Bapepam. Laporan MKBD yang dilaporkan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya yang ternyata minus sehingga Rp 5,644 trilyun. BEI menetapkan modal minimal MKBD sebesar Rp 25 milyar. 4. Sesuai dengan UU PT No 40 2007, pasal 108 tentang Dewan Komisaris ayat 1 disebutkan bahwa Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan, jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai Perseroan maupun usaha Perseroan, dan memberi nasihat kepada Direksi ayat 2 bahwa Pengawasan dan pemberian nasihat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan untuk kepentingan Perseroan dan sesuai dengan maksud dan tujuan Perseroan. Herman Ramli selaku pemegang saham dan komisaris telah melampaui wewenangnya dan ikut campur dalam operasional perusahaan (trading saham)

Kesimpulan Bahwa PT. Sarijaya Permana Sekuritas telah melakukan tindak kejahatan Pasar Modal yaitu melakukan penipuan/penggelapan dana nasabah dengan cara mendebet 13.074 rekening nasabah yang menyebabkan nasabah mengalami kerugian sebesar Rp 235,6 milyar yang dimasukkan ke dalam 17 rekening fiktif oleh Herman Ramli sebagai Komisaris PT Sarijaya Permana Sekuritas dan sebagai pemegang saham terbesar. Bukan hanya Komisaris yang melakukan tindak kejahatan namun kedua Staf Direksi juga ikut melakukan dengan cara

menaikkan batas transaksi agar bisa melakukan transaksi (Trading Available). Kasus penggelapan dana nasabah PT. Sarijaya Permana Sekuritas oleh komisaris utama sekaligus pemilik tunggalnya telah merugikan konsumen dan menghancurkan kepercayaan para investor lokal pasar modal terhadap perusahaan sekuritas. Akibat dari kasus ini, para perusahaan sekuritas lain bekerja keras untuk meyakinkan para nasabahnya agar tetap berinvestasi dan tidak menarik dananya.

Referensi

http://artikel-damianus-renjaan.blogspot.com/2010/09/tinjauan-yuridis-kasus-pt-sarijaya.html http://id.scribd.com/doc/52826384/Penggelapan-Dana-Nasabah-2 http://id.scribd.com/doc/52826483/SariJaya-Paper http://investasi.kontan.co.id/news/sarijaya-tersandung-penyalahgunaan-rekening-efek-nasabah http://www.bapepam.go.id/pasar_modal/regulasi_pm/uu_pm/UU%20No%208%20Tahun%2019 95%20tentang%20Pasar%20Modal.pdf

Tugas Pelaporan Dan Akuntansi Keuangan

Analisis Pelanggaran PT. Sarijaya Permana Sekuritas

Dosen Pengampu : Dr. Setiyono, MBA., Ak

Harum Putri Prawitaningrum 12/343342/EE/06328 Kelas B

Program Pendidikan Profesi Akuntansi Fakultas Ekonomika Dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 2013