Anda di halaman 1dari 12

BNN perkirakan 2015 jumlah pengguna narkotika capai 5,1 juta

M. Satibi
Selasa, 4 Juni 2013 15:38 WIB

Ilustrasi. (Sindophoto)

Sindonews.com - Siti Alfiasih, Kasubdit Masyarakat BNN mengatakan, saat ini diperkirakan 4 juta orang yang menjadi penyalahguna narkoba di Indonesia. Pada tahun 2015, diproyeksikan angka ini akan meningkat sampai sekitar 5,1 juta orang. Bila tanpa ada kemampuan masyarakat untuk menolak, katanya, maka angka ini akan terlampaui dan menimbulkan dampak buruk yang lebih besar bagi Indonesia. BNN sekuat tenaga berusaha menekan angka ini, melalui berbagai upaya pencegahan, pemberantasan maupun rehabilitasi. Namun akan sangat sulit membendung bila tanpa keikutsertaan masyarakat, ungkap Siti, Selasa (4/6/2013). Terkait dengan hal ini, Chairul Alwan Ar Rivai dosen komunikasi Islam Universitas Islam Negeri (UIN) menyatakan, peredaran narkoba yang kian tinggi dan meluas membutuhkan ketegasan dalam penanganannya. Bukan hanya keputusan pemerintah, tetapi keputusan pemuka agama seperti fatwa. Pernyataan narkoba itu haram harus menjadi doktrin bagi setiap keluarga, kata Alwan. Banyaknya korban narkoba, menurut dosen yang juga ustadz ini, disebabkan oleh banyak orang yang terlalu dibelit masalah. Melihat kenyataan itu, katanya, maka narkoba bisa mengancam siapa saja. Umat, harus mengetahui mana yang benar dan salah melalui agama karena agama itu adalah sumber ilmu. Karena itu memperbaiki hubungan dengan Allah menjadi jawaban, dan masjid harus menjadi jawaban untuk negara dan bangsa yang bebas dari penyalahgunaan narkoba, tandas Alwan.

(stb)

Cegah penggunaan narkoba, BNN berharap peran strategis media


Eidi Krina Jason Sembiring
Senin, 3 Juni 2013 18:49 WIB

Kombes Pol Sundari (SINDOphoto)

Sindonews.com - Narkoba terus menjadi momok menakutkan bagi Indonesia. Pertumbuhan pengguna narkotik terus meningkat signfikan setiap tahunnya. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN) tercatat sebanyak 4 juta pengguna narkoba di tanah air. Angka dikhawatirkan akan terus bertambah setiap tahunnya "Jika tidak kita antisipasi sejak dini diperkirakan akan mencapai di atas 5 juta di tahun 2015. Karena itu BNN sangat mengharakan peran strategis media dan wartawan untuk mencegah dan melakukan pengawasan," ujar Direktur Pengawasan Tahanan, Barang Bukti, dan Aset Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kombes Pol Sundari dalam diskusi "Narkoba di Mata Jurnalis" di Gedung SINDO, Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Senin (3/5/2013). Untuk menekan bertambahnya jumlah pengguna narkoba, Sundari mengatakan BNN memiliki strategi yang menekan dari tiga sisi. Pertama, menekan suplai peredaran narkoba. "Jika suplai putus dan ada pemusnahan narkoba dalam skala besar maka efektif untuk memutus jaringan peredarannya di masyarakat," ucapnya. Strategi kedua, membuat masyarakat imun terhadap narkoba. Caranya, masyarakat yang belum menggunakan terus diberikan pemahaman akan bahaya narkoba. Strategi ketiga, merehabilitasi para pengguna narkoba. "Dengan tiga strategi itu diharapkan bisa menekan angka peredaran dan penggunaan narkoba. Untuk itu, BNN berharap segenap lapisan masyarakat termasuk media ambil bagian dalam pemberantasan narkoba," pungkasnya.

(kri) Metrotvnews.com, Jakarta: Pengguna narkoba di Indonesia diperkirakan meningkat mencapai 2,3 persen. Lebih mengkhawatirkan, pengguna narkoba usia 10-20 tahun meningkat hingga 2,5 persen. Deputi Rehabilitasi BNN Kusman Suryakusumah mengatakan hal itu. "Ini berdasarkan bukti dan data kasus yang diambil dari BNN," kata Kusman usai penandatanganan MoU pengembangan pascarehabilitasi penyalahguna narkoba di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (14/4). Hasil riset Universitas Indonesia dan BNN menunjukkan, pada 2005, tercatat penggunaan narkoba sebanyak 1,75 persen meningkat menjadi 4,9 persen di 2011. Hal itu jika dibiarkan akan bertambah parah dan semakin menghawatirkan. Lantaran, sebanyak 250 zat yang disinyalir mengandung narkoba jenis baru masuk ke Indonesia. Secara kuantitas narkoba, Indonesia berada di posisi keempat terbesar dunia. "Kami (BNN) saat ini menjalankan Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pengentasan Narkoba. Permasalahan narkoba sangat berdampak negatif dalam semua aspek, seperti ketahanan sosial, pelanggaran hukum, dan penyakit," pungkasnya.

Editor: Wisnu AS

Pengguna Narkoba di Indonesia Tembus 4 Juta Orang


TEMPO.CO, Manado - Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN), Komisaris Jenderal Anang Iskandar, mengatakan bahwa 4 juta orang Indonesia sudah menggunakan narkoba dengan berbagai jenis dan berbagai cara. Hal ini dikatakan Anang ketika memberi sambutan pada pembukaan sosialisasi "Penanganan Pecandu, Penyalah Guna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika yang Sedang Menjalani Proses Peradilan Ditempatkan di Tahanan atau di Tempat Rehabilitasi", di Kota Manado, Sulawesi Utara, Rabu, 10 April 2013. Dikatakannya, peningkatan jumlah pengguna narkoba yang setiap tahunnya mengalami peningkatan hingga 1 persen ini disebabkan oleh cara penanganan yang menurut Anang kurang efektif, karena jumlah tempat rehabilitasi yang kurang. "Tempat rehabilitasi milik BNN itu hanya empat buah. Makanya saya katakan masih jadi masalah karena untuk menekan jumlah pengguna narkoba itu bukan hanya menangkap, tapi harus merehabilitasi

korban narkotik," kata Anang. Anang mengatakan bahwa rehabilitasi akan lebih efektif menekan jumlah pengguna narkoba karena akan menyebabkan turunnya permintaan narkoba, mengingat tak ada lagi pengguna yang memesan. "Makanya saat ini saya sementara berusaha untuk meminta DPR untuk membuat undang-undang agar di kabupaten dan kota memiliki tempat rehabilitasi," kata Anang. "Sekadar diketahui saja, dari 4 juta pengguna, yang baru direhabilitasi sekitar 18 ribu, di mana 2 ribunya direhabilitasi oleh BNN dan 16 ribu direhabilitasi oleh perorangan, LSM, dan lainnya."

BNN: Sehari 40 orang tewas karena narkoba


Yudi Setyowibowo
Minggu, 2 Juni 2013 04:08 WIB

Ilustrasi (istimewa)

Sindonews.com - Saat ini, Badan Narkotika Nasional menilai kasus narkoba di Indonesia sudah cukup mengkhawatirkan. Bahkan data yang dimilikinya, dalam sehari sekira 40 orang tewas karena narkoba. Menurut Kepala BNN Komjen Pol Anang Iskandar, Indonesia saat ini sedang prihatin karena menghadapi permasalahan 4 juta korban penyalahguna narkoba yang saat ini tersebar diseluruh Indonesia. "Sayangnya dari 4 juta ini hanya sekitar 18 ribu atau 0,47 persen yang mendapat layanan terapi dan rehabilitasi," kata Anang melalui rilis yang diterima Sindonews.com, Sabtu (1/6/2013). Karena minimnya pusat rehabilitasi, membuat korban jiwa terus berjatuhan. BNN mencatat, dalam sehari sekira 40 orang meninggal sia-sia karena narkoba. "Jujur saja kami prihatin karena minimnya tempat rehabilitasi dibanding dengan prevalensi

penyalahguna narkoba yang ada saat ini," terangnya. Ia menyarankan, seharusnya tempat rehabilitasi tersedia disetiap provinsi/kabupaten/kota untuk merehabilitasi warganya masing masing. ANang berharap, tanpa kepedulian semua maka Indonesia dihadapkan pada kehancuran masa depan bangsa. "Sekali lagi kami tidak bisa perang melawan narkoba sendirian," pungkasnya.

(ysw)

80 persen narkoba di Indonesia masuk lewat laut


Sholahuddin Al Ayyubi
Rabu, 17 April 2013 13:29 WIB

Ilustrasi

Sindonews.com - Deputi Badan Pemberantasan Narkoba, Brigjen Pol Benny Mamoto menegaskan,pintu masuk narkoba yang masuk ke Indonesia sekitar 80 persen didominasi dari jalur laut. Sementara, 20 persen sisanya melalui jalur darat dan udara. Hal itu dikatakan Benny dalam acara Focus Group Discussion (FGD) dengan tema Peran Pimpinan Daerah Dalam Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) Guna Meningkatkan Ketahanan Nasional. "Jalur laut, bisa lewat kontainer, bisa lewat kapal nelayan, kemudian bisa lewat speed boat langsung dan kapal penumpang," ujar Benny seusai acara Gedung Lemhanas, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (17/4/2013). Lanjut Benny, "Badan Narkotika Nasional (BNN), belum lama ini mengungkap penyebaran

narkoba melalui jalur laut Tawao, nNunukan. Itu lewat kapal, setelah itu baru naik pesawat." Selain melalui jalur laut, saat ini modus baru penyebaran narkoba ini yaitu lewat paket menggunakan jasa pengiriman. Terakhir, BNN mendapatkan 14 kasus lebih penyebaran narkoba melalui paket dari luar negeri di Kantor Pos Pasar Baru. Untuk mengantisipasi itu, pihak BNN dan Bea Cukai berkoordinasi untuk melakukan control delivery terhadap paket dari luar negeri yang diduga narkoba, setelah itu BNN akan mengecek penerimanya, dari situlah baru bisa diketahui siapa pengirim paket tersebut.

Pengguna Narkoba di Kalangan Remaja Meningkat

Kamis, 7 Maret 2013 | 03:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS - Jumlah pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif di kalangan remaja cenderung meningkat. Bahaya kehilangan generasi produktif terbayang di depan mata. Pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (napza) diperkirakan sekitar 5 juta orang atau 2,8 persen dari total penduduk Indonesia. Angka ini lebih tinggi daripada jumlah penduduk Nusa Tenggara Timur yang mencapai 4,6 juta jiwa. Pengguna remaja yang berusia 12-21 tahun ditaksir sekitar 14.000 orang dari jumlah remaja di Indonesia sekitar 70 juta orang. Di DKI Jakarta, berdasarkan catatan Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, jumlah pengguna napza di kalangan remaja dalam tiga tahun terakhir terus naik. Pada tahun 2011, siswa SMP pengguna napza berjumlah 1.345 orang. Tahun 2012 naik menjadi 1.424 orang, sedangkan pengguna baru pada Januari-Februari 2013 tercatat 262 orang. Di kalangan SMA, pada 2011 tercatat 3.187 orang, tahun berikutnya menjadi 3.410 orang. Adapun kasus baru tahun 2013 tercatat 519 orang. Kepala Bagian Pengawasan dan Pengendalian Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Sri Hastuti mengatakan, kerentanan remaja dipengaruhi faktor lingkungan. Kondisi mental remaja yang biasanya ingin tahu dan labil, jika ditambah pergaulan yang tidak sehat, bisa menjerumuskan mereka ke praktik penyalahgunaan napza. Situasinya lebih parah kalau keluarga tidak memperhatikan anak-anak, ujar Sri. Konsultan dari Rumah Pencandu Badan Narkotika Nasional (BNN), Benny Ardjil, mengatakan, untuk menangani masalah penyalahgunaan napza, koordinasi lintas sektor sangat diperlukan.

Minimal lima pemangku kepentingan, yaitu BNN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Kementerian Hukum dan HAM, serta masyarakat. Sintetis dan semisintetis Terhadap tingginya pengguna napza, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dadang Hawari mengatakan, data tercatat belum menggambarkan keadaan sesungguhnya. Jumlah sesungguhnya bisa 10 kali lipat dari yang terdata, kata Dadang pada simposium Perkembangan Terkini Penyalahgunaan Napza di Masyarakat Perkotaan, di Jakarta, Rabu (6/3). Acara diselenggarakan Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan. Kepala Seksi Bimbingan dan Evaluasi Sub-bidang Napza Kementerian Kesehatan Herbert Sidabutar mengatakan, Kementerian Kesehatan tengah melaksanakan pendidikan keterampilan hidup (life skill) di sekolah. Ini bertujuan untuk memberikan penguatan mental kepada siswa dalam menghadapi pelbagai persoalan hidup, termasuk jerat narkoba. (K01) Kepala BNN : Tahun 2013 Pengguna Narkoba Meningkat 2,56 Persen Kategori: NASIONAL - Dibaca: 320 kali

JAKARTA, Rakyat Media-Badan Narkotika Nasional (BNN) memprediksi penyalahgunaan narkoba pada tahun 2013 akan mengalami peningkatan sebesar 2,56 persen. Sementara pada tahun 2011 penyalahgunaan narkoba meningkat sebesar 2,2 persen. "Penelitian BNN dan Puslitkes UI prevalensi penyalahgunaan tahun 2011 sebesar 2,2 persen, sementara tahun 2013 bisa meningkat 2,56 persen dan 2015 bisa melonjak 2,80 persen," kata Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Anang Iskandar kepada wartawan Kamis (27/12) di Kantor Kompolnas, Jakarta. Meski demikian kata mantan Kadiv Humas Mabes Polri ini berharap, angka pecandu narkoba bisa ditekan dengan upaya melakukan penindakan terhadap pengedar, program rehabilitasi dan mencegah agar prevelensinya tidak naik.

Sementara kebijakan pemerintah terkait penanganan pengguna narkotika, seorang pecandu narkotika wajib menjalani rehab medis dan rehab sosial sesuai dengan UU 35/2009 pasal 54 tentang narkotika. Sedangkan pasal 55, pecandu narkotika wajib lapor pada IPWL yang telah ditunjuk pemerintah. "Ini sangat penting dan efektif, kalau tidak orang itu akan terus mengkonsumsi narkoba," ujar Anang Iskandar.(rm/ro

14.033 Napi di Indonesia Pengguna Narkoba


Rabu, 15 Mei 2013 09:19 WIB Share

POS KUPANG/NOVEMY LEO Wakil Menteri Hukum dan HAM RI, Denny Indrayana, didampingi Kepala Kantor Hukum dan HAM NTT, Leo Detri, dan pejabat lainnya, saat berdialog dengan warga binaan di Lapas Anak Kupang, Minggu (7/4/2013) petang.

Foto: Diskusi Politik Pemilukada

Foto: Diskusi Politik Pemilukada

Laporan Wartawan Warta Kota, Budi Sam Law Malau TRIBUNNEWS.COM, MAKASSAR - Pemahaman para penegak hukum bahwa pengguna narkotika baik pecandu atau penyalahguna narkoba wajib mendapatkan rehabilitasi medis sesuai UU Narkotika No 35/2009, tampaknya belum dipahami secara maksimal. Untuk itu Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali menggelar pemahaman kepada para aparat penegak hukum di Makassar, Sulawesi Selatan, mulai Selasa (14/5/2013) sampai Kamis (16/5/2013). Acara yang digelar di Hotel Singgasana, Makassar, ini dibuka Selasa (14/5/2013) malam, dan dihadiri Wakil Menteri Kementerian Hukum dan HAM Prof Denny Indriyana. Acara bertajuk 'Sosialisasi Penanganan Pecandu, Penyalahguna dan Korban Penyalahgunaan Narkotika Yang Sedang Menjalani Proses Peradilan Ditempatkan Di Tahanan Atau Di Tempat Rehabilitasi'. Dalam paparan awalnya, Denny Indriyana, menjelaskan kebijakan Kemenkumham dalam penanganan pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkotika, setelah lahirnya UU Narkotika No 35/2009 sangat jelas. Bahwa pengguna narkoba baik pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkotika wajib mendapatkan rehabilitasi. Namun diakui angka dimana pengguna narkoba mendapatkan rehabilitasi masih sangat kecil. Denny memaparkan sampai 13 Mei 2013, data Kemenkumham mencatat bahwa dari 158.812 jumlah napi dan tahanan di seluruh Indonesia terdapat 51.899 diantaranya terkait kasus narkotika. Untuk yang berkekuatan hukum tetap yakni narapidana, tercatat ada 36.598 orang. Dari jumlah itu tercatat jumlah napi yang merupakan pecandu, penyalahguna dan korban penyalahgunaan narkotika adalah 14.033 orang. Sementara produsen narkoba 759 orang, bandar narkoba 3.751 orang, pengedar narkoba 16.432 orang, dan penadah narkoba 1.621 orang.

Menurut Denny dari 14.033 napi yang merupakan pecandu, penyalahguna dan penyalahgunaan narkoba, yang saat ini mendapatkan kesempatan rehabilitasi sangat kecil dan tidak mencapai 5 persen. "Jumlah ini sangat kecil sekali. Padahal dalam UU Narkotika itu jelas, bahwa mereka wajib mendapatkan rehabilitasi," kata Denny. Kendalanya kata Denny, ketiadaan tempat rehabilitasi yang bisa dijangkau dan masih minimnya pusat rehabilitasi yang ada. Kedepan, katanya, sejumlah Lapas Narkotika akan dilengkapi dengan pusat rehabilitasi. Untuk itu, dalam kasus-kasus narkotika ke depannya, Denny berharap, sebelum seorang pecandu, penyalahguna atau korban penyalahgunaan narkoba mendapatkan kekuatan hukum tetap di tahanan, penegak hukum diharapkan memberikan rehabilitasi sebagai bentuk hukuman atau sanksi yang diterima. "Dan kita harus sama-sama menempatkan para pecandu dan penyalahguna narkoba ini, juga sebagai korban," kata Denny.(bum)

BNN Sarankan Pengguna Narkoba Dihukum Rehabilitasi


Jumat, 17 Mei 2013 15:42 WIB Share

WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA DEMO ANTI NARKOTIKA - Sejumlah warga melakukan aksi damai dan teatrikal di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat, untuk menyuarakan gerakan anti narkoba yang terus terjadi di Indonesia, Jumat (10/5/2013). Tututanya antara lain, mendesak pemerintah untuk jangan ragu dan takut menindak pengedar narkoba jaringan Internasional yang masuk ke Indonesia terutama Jakarta. (Warta Kota/angga bhagya nugraha)

Laporan Wartawan Tribun Jakarta, M Zulfikar TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Narkotika Nasional (BNN) menilai hukuman yang tepat bagi pengguna narkoba adalah hukuman rehabilitasi bukan hukuman pidana. Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Pol Anang Iskandar. "Hukuman yang tepat bagi pengguna narkoba adalah hukuman rehabilitasi," kata Anang di Jakarta, Jumat (17/5/2013). Anang menuturkan, saat ini ada sebanyak 4 juta orang di seluruh Indonesia yang masih mengkonsumsi narkoba. Besarnya jumlah pengguna narkoba tidak sebanding dengan jumlah tempat rehabilitasi.

"Saat ini baru ada 90 tempat rehabilitasi, BNN pun hanya mampu merehabilitasi 18.000 pengguna setiap tahunnya," kata Anang. Berikut adalah beberapa tempat rehabilitasi yang ada di Indonesia: - Pondok Pesantren Bani Syifa - Pondok Pesantren Al Islami - Yayasan Harapan Kasih - Yayasan Kharisma - Yayasan Kasih Indonesia - LSM Suci Hati - CBU Wado - CBU Master - Rumah Kasih dan Pemulihan Serambi Salomo - Lingkaran Harapan Banua - Yayasan Bunga Bakung - Metanoia Papua - Lembaga Kemaslahatan Nahdlatul Ulama