Anda di halaman 1dari 19

\

MAKALAH ILMU KEPERAWATAN DASAR III


TENTANG

MENGAPLIKASIKAN TEKNIK ASEPTIK DALAM PERAKTIK KEPERAWATAN

STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO TAHUN AKADEMIK 2011/2012

HALAMAN PENGESAHAN

Judul

: Mengaplikasikan Teknik Aseptik Dalam Praktik Keperawatan

Disusun Oleh: 1. Dwi Abdul Rohman 2. Moh. Ahsanul M. 3. Zainal Abidin

Disahkan di Mojokerto pada: Hari Tanggal :. :.

Mojokerto, 1 Maret 2012 Dosen Pembimbing

Nuris Khushayati, S.Kep. Ns

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu mengaplikasikan teknik aseptik dalam peraktik keperawatan yang kami sajikan berdasarkan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini memuat tentang mengaplikasikan teknik aseptik dalam peraktik keperawatan. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Mojokerto, 1 Maret 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Judul ...................................................................................... .................................................................... i ii iv

Halaman Pengesahan Kata Pengantar Daftar Isi

....................................................................... iii ...............................................................................

BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 Latar Belakang ................................................................. 5 5 5 Rumusan masalah ................................................................ Tujuan dan manfaat ...............................................................

BAB 2 : TINJAUAN TEORI 2.1 Perspektif Keperawata Keluarga A. Definisi Keluarga B. Tipe Keluarga .................................................... 7 7 9 ................................................................... ...............................................................

C. Fungsi Keluarga ................................................................... 11 D. Dimensi Dasar Struktur Keluarga .......................................... 13 E. Peran Perawat Keluarga 2.2 .................................................. 15

Perspektif Keperawatan Komunitas ................................................................. 18 ...................................................................................................... 18 ................................................................................ 19 24 25

A. Falsafah

B. Pengertian ........................................................................................................ 19 C. Ilmu Keperawatan BAB 3 : PENUTUP DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Antisepsis adalah cara dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai keadaan bebas kuman patogen. Tindakan ini bertujuaan mencegah terjadinya infeksi dengan membunuh kuman patogen. Obat-obat antiseptik, misalnya lisol atau kreolin, adalah zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit merupakan syarat mutlak dalam tindak bedah. Hal-hal yang melatar belakangi pembuatan makalah ini adalah : 1. Ingin lebih mengetahui tentang tentang teknik-teknik aseptik dalam keperawatan 2. Penulis ingin memperluas Model tentang teknik-teknik aseptik dalam keperawatan 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Apa itu asepsis? 2. Apa itu antisepsis? 1.3 Tujuan dan Manfaat Tujuan dan manfaat penulis membuat makalah tentang tentang perspektif keperawatan keluarga dan komunitas adalah : 1. Penulis dapat menjelaskan desinfeksi. 2. Penulis dapat menjelaskan dekontaminasi 3. Penulis dapat menjelaskan tentang penjelasan yang sebenarnya. Demikian, tujuan dan manfaat yang dapat disebutkan oleh penulis.

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1 Pengertian Asepsis dan Antisepsis Asepsis adalah prinsip bedah untuk mempertahankan keadaan bebas kuman. Keadaan asepsis . Antisepsis adalah cara dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai keadaan bebas kuman patogen. Tindakan ini bertujuaan mencegah terjadinya infeksi dengan membunuh kuman patogen. Obat-obat antiseptik, misalnya lisol atau kreolin, adalah zat kimia yang dapat membunuh kuman penyakit merupakan syarat mutlak dalam tindak bedah. Asepsis ada 2 macam: 1. Asepsis medis Tehnik bersih, termasuk prosedur yang digunakan untuk mencegah penyebaran mikroorganisme. ex: mencuci tangan,mengganti linen tempat tidur, dan menggunakan cangkir untuk obat. 2. Asepsis bedah Teknik steril, termasuk prosedur yang digunakan untuk membunuh

mikroorganisme dari suatu daerah. Prinsip-Prinsip Tindakan Asepsis Yang Umum Semua benda yang menyentuh kulit yang merekah atau dimasukkan ke dalam kulit untuk menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh, atau yang dimasukkan ke dalam rongga badan yang dianggap steril, haruslah steril. Jangan sekali-kali menjauhi atau membelakangi tempat yang steril. Peganglah objek-objek yang steril, setinggi atas pinggang dengan demikian objekobjek itu selalu akan terlihat jelas dan ini mencegah terjadinya kontaminasi diluar pengawasan. Hindari berbicara, batuk, bersin atau menjangkau suatu objek yang steril

Jangan sampai menumpahkan larutan apapun pada kain atau kertas yang sudah steril. Bukalah bungkusan yang steril sedemikian rupa, sehingga ujung pembungkusnya tidak mengarah pada si petugas. Objek yang steril menjadi tercemar, jika bersentuhan dengan objek yang tidak steril. Cairan mengalir menurut arah daya tarik bumi, jika forcep dipegang sehingga cairan desinfektan menyentuh bagian yang steril, maka forcep itu sudah tercemar.

2.2 1.

Sumber Infeksi Udara Udara merupakan sumber kuman, karena debu yang halus di udara

mengandung sejumlah mikroba yang dapat menempel pada alat bedah, permukaan kulit, maupun alat lain di ruang pembedahan. Untuk tetap dapat hidup, bakteri membutuhkan kondisi lingkungan tertentu seperti suhu, kelembaban, ada atau tidak adanya oksigen, bahan nutrisi tertentu, dan udara. Umumnya bakteri tumbuh subur pada suhu yang sama dengan suhu tubuh manusia. Bakteri akan berbiak cepat pada suhu antara 20 sampai 37 C. Suasana yang lembab merupakan kondisi yang baik buat pertumbuhan dan reproduksi bakteri tetapi bakteri tertentu dapat pula tumbuh pada nanah yang mengering, ludah, atau darah setelah waktu lama. Bakteri anaerob umumnya berasal dari usus dan dapat hidup tanpa oksigen, tetapi bakteri aerob memerlukan oksigen, dan bakteri yang disebut fakultatif aerobanaerob dapat hidup dalam keadaan tanpa atau ada oksigen. 2. Alat dan pembedah Mikroba atau bakteri dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain melalui perantara. Pembawa kuman ini dapat berupa hewan misalnya serangga, manusia, atau benda yang terkontaminasi seperti alat atau instrumen bedah. Jadi dalam hal ini, alat

bedah, personil, dan dokter pembedah merupakan pembawa yang potensial untuk memindahkan bakteri. 3. Kulit penderita Ada dua macam mikroorganisme yang tinggal pada kulit manusia. Flora komensal misalnya Staphylococcus epidermis yang pada keadaan normal terdapat di kulit dan tidak patogen sampai kulit terluka. Flora transien yang dipindahkan ke kulit penderita melalui sumber pencemaran, misalnya S.aureus yang bersifat patogen dan dapat menyebabkan infeksi yang mengancam hidup bila masuk lewat luka operasi. Kulit penderita merupakan salah satu sumber bakteri, terutama karena penderita dibawa masuk ke tempat pembedahan dari luar kadang tanpa persiapan terlebih dahulu. 4. Visera Usus, terutama usus besar, merupakan sumber bakteria yang dapat muncul ke luka operasi melalui hubungan langsung yaitu melalui lubang anus atau melalui pembedahan pada usus. Bakteria yang berada di usus dalam keadaan fisiologik umumnya adalah bakteria komensal, tetapi dapat menjadi patogen melalui luka pembedahan. 5. Darah Darah penderita infeksi atau sepsis mengandung virus atau bakteria patogen sehingga penyakit mudah ditularkan bila alat bedah yang digunakan pada penderita demikian digunakan untuk penderita lain tanpa disucihamakan terlebih dahulu. 2.4 Desinfeksi Desinfeksi adalah menghancurkan atau membunuh kebanyakan kebanyakan organisme patogen pada benda atau instrumen dengan menggunakan campuran zat kimia cair. Hasil proses desinfeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor: Beban organik (beban biologis) yang dijumpai pada benda. Tipe dan tingkat kontaminasi mikroba. Pembersihan/dekontaminasi benda sbelumnya. Konsentrasi desinfektan dan waktu pajanan Struktur fisik benda

Suhu dan PH dari proses desinfeksi

Terdapat 3 tingkat desinfeksi: 1. Desinfeksi tingkat tinggi yaitu membunuh semua organisme dengan perkecualian spora bakteri. 2. Desinfeksi tingkat sedang yakni membunuh bakteri kebanyakan jamur kecuali spora bakteri. 3. Desinfeksi tingkat rendah yaitu membunuh kebanyakan bakteri beberapa virus dan beberapa jamur tetapi tidak dapat membunuh mikroorganisme yang resisten seperti basil tuberkel dan spora bakteri. Kriteria desinfeksi yang ideal:

Bekerja denga`n cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban Tidak toksik pada hewan dan manusia Tidak bersifat korosif Tidak berwarna dan meninggalkan noda Tidak berbau/ baunya disenangi Bersifat biodegradable/ mudah diurai Larutan stabil Mudah digunakan dan ekonomis Aktivitas berspektrum luas Mencegah terjadinya infeksi Mencegah makanan menjadi rusak Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industri Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.

Tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi adalah:

Beberapa cara melakukan disinfeksi atau menghilangkan kuman sebagai berikut :

1.

Memanaskan atau memaksa air

Pasteurisasi pada air yang akan dikonsumsi dapat dilakukan dengan jalan memanaskan air pada temperatur 55C 60C selama sepuluh menit. Hal tersebut akan mematikan sebagian besar patogen yang ada dalam air. Walaupun demikian cara ini tidak efektif, sebab kita hampir tidak mungkin setiap saat dapat memantau air yang kita panaskan apa sudah berada dalam temperatur pasteurisasi tersebut atau belum. Cara lain yang lebih efektif dan telah sering kita lakukan adalah memasak atau merebus air yang akan kita konsumsi hingga mendidih. Cara ini sangat efektif untuk mematikan semua patogen yang ada dalam air seperti virus, bakteri, spora, fungi dan protozoa. Lama waktu air mendidih yang dibutuhkan adalah berkisar 5 menit, namun lebih lama lagi waktunya akan lebih baik, direkomendasikan selama 20 menit. Walaupun mudah dan sering kita gunakan, kendala utama dalam memasak air hingga mendidih ini adalah bahan bakar, baik itu kayu bakar, briket batubara, minyak tanah, gas elpiji ataupun bahan bakar lainnya. 2. Radiasi dan Pemanasan Dengan Menggunakan Sinar Matahari Proses radiasi ultra violet dan pemanasan air dengan menggunakan sinar matahari ini dapat dilakukan dengan bantuan wadah logam ataupun botol transparan. BOTOL transparan yang digunakan umumnya adalah botol plastik. kaca dapat digunakan tetapi memiliki kelemahan mudah pecah, lebih berat dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemanasan. Oleh karena itu gunakanllah botol kaca yang dapat ditembus oleh sinar ultra violat. Untuk mengantisipasi bahaya dari pemakaian plastik, sebaiknya gunakan botol plastik dengan nomor logo daur ulang 1 atau PETE/PET (polyethylene terephthalate), atau lebih baik lagi bila anda memiliki botol bernomor 5 atau PP (polypropylene). Keterangan lebih lanjut mengenai jenis plastik tersebut dapat anda lihat nomer plastik.

10

Untuk mempercepat proses radiasi dan pemanasan botol transparan tersebut dicat hitam pada salah satu sisinya (50% dari permukaann botol) atau diletakkan pada permukaan media yang berwarna gelap yang dapat mengumpulkan dan menimbulkan radiasi panas. Pada kondisi demikian, setelah diletakkan selama beberapa jam (5-6 jam untuk keadaan cerah) air di dalam botol tersebut akan dapat mencapai 55C (mencapai suhu pasteurisasi) sehingga patogen yang ada dalam air dapat dieliminir. Untuk hasil yang lebih baik lagi, sebelum dijemur lakukan proses aerasi dengan mengocok botol terlebih dahulu setelah itu botol diletakkan pada permukaan metal seperti atap seng. 3. Air Perasan Jeruk Nipis Cara ini efektif untuk mengatasi virus kolera. Dengan menambahkan air jeruk nipis hingga mencapai 1-5% dari air yang hendak dikonsumsi dapat menurunkan pH air di bawah 4,5. Pada tahap ini virus kolera dapat dikurangi hingga hampir 100%. Selain itu dari hasil penelitian, pertumbuhan virus kolera pada nasi dapat ditahan dengan menggunakan air jeruk nipis pada saat dimasak. Kelemahan dari cara ini adalah bila campuran air perasan jeruk nipis terlalu banyak akan dapat merubah rasa air.

11

2.5 Dekontaminasi Dekontaminasi aritnya adalah membuang semua material yang tampak (debu,kotoran) pada benda,lingkungan,permukaan kulit dengan menggunakan sabun, air dan gesekan. Yang dilakukan sebelum cleaning , Langka pertama dalam menangani benda tercemar , merendam dalam larutan klorin 0,5% - 10 menit. Tujuan prosedur dekontaminasi: 1. Untuk mencegah penyebaran infeksi melalui peralatan pasien atau permukaan lingkungan. 2. Untuk membuang kotoran yang tampak. 3. Untuk membuang kotoran yang tidak terlihat (Mikroorganisme). 4. Untuk menyiapkan semua permukaan untuk kontak langsung dengan alat pensteril atau desinfektan. 5. Untuk melindungi personal dan pasien. 6. Melindungi petugas yang menangani instrumen. 7. Meminimalkan risiko penularan virus. 8. Menonaktifkan HBV , HCV , dan HIV. Tips Dekontaminasi Gunakan APD sebelum bekerja Gunakan wadah plastik Mencegah tumpul Mencegah karat Jangan merendam instrumen logam Cuci instrumen segera setelah didekontaminasi dengan air dingin

Cuci Tangan Mencuci tangan dilakukan dengan air mengalir dan dianjurkan teknik Fuerbringer Handuk harus dilepaskan jatuh segera setelah menyentuh siku.

12

1. Teknik tanpa singgung Dalam teknik asepsis digunakan teknik tanpa singgung yang bertujuan mengusahakan agar benda steril yang akan dipakai sewaktu pembedahan tidak langsung bersinggungan dengan kulit tangan pemakai. Terlebih dahulu dikenakan masker dan tutup kepala. Teknik tanpa singgung ini harus diterapkan dalam tindakan mengeringkan tangan dan lengan, memasang gaun bedah, mengambil dan memakai sarung tangan, memasangkan gaun bedah untuk orang lain, memasang dan melepas sarung tangan, membuka bungkusan kain dan instrumen, menyerahkan set instrumen, melakukan desinfeksi kulit penderita. Prinsip cuci tangan A. Cara memegang sikat dan sabun, B. Sikat tangan secara sistematik; satu per satu jari dicuci, C. Sikat kuku D. Tutup kran dengan siku; tangan dikeringkan dengan kain handuk steril, yang dijatuhkan segera setelah menyentuh siku E. Tangan harus selalu lebih tinggi daripada siku. Teknik tanpa singgung untuk mengeringkan tangan dan lengan A. Mengambil handuk, B. Keringkan tangan, C. Keringkan pergelangan tangan, D. Lengan bawah, E. Siku, F. Handuk langsung dijatuhkan, sebab dikontaminasi oleh siku.

13

4.6 Sterilisasi s Defenisi Sterilisasi Sterilisasi merupakan suatu tindakan atau kegiatan untuk membinasakan atau membunuh berbagai bentuk mikroorganisme secara lengkap berupa bakteri, virus jamur maupun spora pada benda yang didekontaminasi. Penanganan sterilisasi dalam suatu rumah sakit merupakan kegiatan yang perlu dilakukan baik pada ruangan seperti ruang bedah, terhadap alat kesehatan, alat kedokteran, alat rumah tangga, sehingga dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial di pasien yang menjalani perawatan dirumah sakit. Infeksi nosokomial dapat ditularkan baik melalui alat rumah sakit maupun secara langsung dari tenaga kesehatan atau kelurga pasien yang berkunjung kerumah sakit. Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Uap bertekanan tinggi (Autoklaf) Pemanasan kring (oven) Kimiawi Fisik radiasi

Tujuan Sterilisasi Memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroorganisme patogen termasuk spora, yang mungkin telah ada pada peralatan kedokteran dan perawatan yang dipakai.

Hal-Hal Yang Perlu Dipertimbangkan Dalam Memilih Metode Sterilisasi Sifat bahan yang akan disterilkan Metode yang paling mudah, murah namun cukup efektif.

14

Bila terdapat beberapa fasilitas untuk melakukan sterilisasi, haruslah dipilih cara yang baik

Sterilisasi dapat dilakukan dengan cara: 1. Sterilisasi dengan pemanasan kering a. Pemijaran/flambir Cara ini dipakai langsung, cara ini sederhana, cepat dan dapat menjamin sterilisasinya,hanya penggunaannya terbatas pada beberapa alat saja, misalnya: - Benda-benda dari logam (instrument) - Benda-benda dari kaca. - Benda-benda dari porselen. Caranya: Siapkan : - Bahan yang disterilkan - Waskom besar yang bersih - Brand spritus - Korek api. Kemudian brand spritus dituangkan secukupnya ke dalam waskom tersebut. Selanjutnya dinyalakan dengan api. Alat-alat instrumen dimasukkan ke dalam nyala api. b. Dengan cara udara panas kering Cara ini pada dasarnya adalah merupakan suatu proses oksidasi, cara ini memerlukan suhu yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan sterilisasi pemanasan basah. Adapun alat yang dapat dilakukan dengan cara ini: - Benda-benda dari logam. - Zat-zat seperti bubuk, talk,vaselin,dan kaca.

Caranya :

15

- Alat bahan harus dicuci, sikat dan desinfeksi terlebih dahulu - Dikeringkan dengan lap dan diset menurut kegunaannya - Berilah indikator pada setiap set - Bila menggunakan pembungkus, dapat memakai kertas aluminium foil. - Oven harus dipanaskan dahulu sampai temperatur yang diperlukan. - Kemudian alat dimasukkan dan diperhatikan derajat pemanasannya. 2. Sterilisasi dengan pemanasan basah. Ada beberapa cara : a) Dimasak dalam air biasa. Suhu tertinggi 100 C, tapi pada suhu ini bentuk vegetatif dapat dibinasakan tetapi bentuk yang spora masih bertahan. Oleh karna itu agar efektif membunuh spora maka dapat ditambahkan natrium nitrat 1% dan phenol 5%. Caranya : - Alat atau bahan instrumen dicuci bersih dari sisa-sisa darah, nanah atau kotoran lain. - Kemudian dimasukkan langsung ke dalam air mendidih. - Tambahkan nitrit 1% dan phenol 5%, agar bentuk sporanya mati - Waktu pensterilan 30-60 menit (menurut pharmacope Rusia). - Seluruh permukaan harus terendam. b) Dengan uap air. Cara ini cukup efektif dna sangat sederhana. Dapat dipakai dengan dandang yang bagiannya diberi lubang/sorongan, agar uap air dapat mengalir bagian alat yang akan disterilkan.waktu sterilisasi 30 menit. Caranya : - Alat-alat yang akan disterilkan: dicuci, dibersihkan, disikat serta didesinfeksi. - Kemudian dibungkus dan dimasukkan dalam dandang c) Sterilisasi dengan uap air bertekanan tinggi. Jenis sterilisasi dengan cara ini merupakan cara yang paling umum digunakan dalam setiap rumah sakit.menggunakan alat yang disebut autoclave. Caranya : - Alat-alat atau bahan-bahan yang akan disterilkan dicuci, disikat, dan didesinfeksi.

16

- Kemudian diset menurut penggunaannya dan diberi indikator. - Kemudian dibungkus kain/kertas. - Masukkan alat/bahan yang telah dibungkus ke dalam autoclave. 3.Sterilisasi dengan penambahan zat-zat kimia Cara ini tidak begitu efektif bila dibandingkan dengan cara pemanasan kering. Cara ini dipergunakan pada bahan-bahan yang tidak tahan pemanasan atau cara lain tidak bisa dilaksanakan karena keadaan. Contoh zat kimia 4. Sterilisasi dengan radiasi. Radiasi ultraviolet Karena disemua tempat itu terdapat kuman2x, maka dilakukan sterilisasi udara dan biasanya dilakukan di tempat-tempat khusus. Misalnya: di kamar operasi, kamar isolasi, dsb. udaranya harus steril.Hal ini dapat dilakukan dengan sterilisasi udara (air sterilization) yang memakai radiasi ultraviolet. 5. Sterilisasi dengan filtrasi Cara ini digunakan untuk udara atau bahan-bahan berbentuk cairan. Filtrasi udara disebut HEPA (Hight Efficiency Paticulate Air). Tujuannya : Filtrasi cairan secara luas hanya digunakan dalam produksi obat-obatan atau pada sistem irigasi dalam ruang operasi, maupun dalam perawatan medik lainnya yang membutuhkan adanya cairan steril. Jenis filternya yang penting ialah pori-porinya harus lebih kecil dari jenis kuman. Poripori filter ukurannya minimal 0,22 micron. : Formaldehyda, hibitane, Cidex.

17

BAB III PENUTUP


1. KRITIK DAN SARAN Bagi para pembaca dan rekan-rekan yang lainnya, jika ingin menambah wawasan dan ingin mengetahui lebih jauh, maka penulis mengharapkan dengan rendah hati agar lebih membaca buku-buku ilmiah dan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan judul Mengaplikasikan Teknik Aseptik Dalam Praktik Keperawatan. Kritik dan saran yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi perbaikan dan kesempurnaan Makalah kami. Jadikanlah makalah ini sebagai sarana yang dapat mendorong para mahasiswa berfikir aktif dan kreatif.

18

DAFTAR PUSTAKA
http://andaners.wordpress.com/2009/04/27/konsep-keperawatan-keluarga/ www.askep.net/pdf/perspektif-keperawatan-keluarga.html Mubarak, wahid iqbal,SKM.2005. Pengantar Keperawatan Komunitas 1. Jakarta: CV. Sagung Seto www.infokeperawatan.com/id/keperawatan-keluarga-perspektif.\tml

19