ARGENTOMETRI

PRINSIP : TITRASI PENGENDAPAN REAKSI : ANION (sampel) + AgNO3 (pentiter)  Ag-Anion (end.) endpoint : Ag+ (kelebihan) + Indikator  end. warna berbeda SYARAT : - reaksi berlangsung cepat/spontan
- reaksi berlangsung stoikiometri dan kuantitatif - titik akhir titrasi jatuh bersamaan/ berdekatan dengan titik ekivalen.

PENETAPAN TITIK AKHIR TITRASI :
a. Terbentuknya endapan II yang berbeda dengan endapan I  Metoda MOHR. Sampel (Cl– atau Br– ) + AgNO3 (pentiter)  AgCl atau AgBr putih putih kng AgNO3 (kelebihan) + CrO4=  Ag2CrO4 indikator coklat kemerahan

21) = 5. Menetukan volume akhir titarasi = (25 + 1 + 25) + kelebihan AgNO3 = 51 ml. Reaksi : Cl– + AgNO3  AgCl AgNO3 (kelebihan) + CrO4=  Ag2CrO4 (titik akhir titrasi) 2. 4.05 x 10– 3 .CONTOH : 25.Cl– Vol.1) = 25 ml 3. Menghitung Vol. (pKsp dari AgCl = 10 & Ag2CrO4 = 11.1) / (0. Cl– x N.1N + 1 ml indikator K2CrO4 5% dititrasi dengan larutan baku AgNO3 0.1N sampai nampak endapan merah kecoklatan. Menghitung [Ag+] dan [CrO4=] pada titik ekivalen : [Ag+] = √ (Ksp) = √ (1x10–10) = 10– 5 [CrO4=] = (1/51) x (50/194.0 ml larutan NaCl 0. AgNO3 = (25 x 0.7) TINJAUAN (kesalahan titrasi) : 1. ekivalen : Vol.AgNO3 = Vol. AgNO3 x N.

6.00 + 0.05 x 10–3) = 5.05 x 10–13 Ksp Ag2CrO4 = 10–11.0102) ml 0.5.1N Atau untuk mencapai endpoint perlu AgNO3 (25.05 x 10–3) = 2.5)2 x (5.00 x 10–5 = 51 x 2. MENGHITUNG KELEBIHAN TITRAN AgNO3 untuk endpoint : [Ag+]2 x [CrO4=] = [Ag+]2 x (5.00 x 10–12 / 5.02 x 10–2 ml 0.7 = 2.00 x 10–4 = 1.1 = 2.00 x 10–5 Atau kelebihan AgNO3 = {(X/(51+X)} x 0. TINJAUAN ADANYA ENDAPAN Ag2CrO4 (end point) : [Ag+]2 x [CrO4=] = (10. .00 x 10–12 > 5.1N.00 x 10–12 [Ag+] = √ (2.05 x 10–3) = 2.05 x 10–13  saat ekivalen (penambahan titran AgNO3) : belum ada endapan.

Dalam suasana asam ion CrO4=  HCrO4– 4.0 ml) dengan aquades + larutan indkator (1 ml) dan dititrasi dengan larutan AgNO3 sampai diperoleh warna : merah kecoklatan dan AgNO3 yang diperlukan/ yang harus ditambahkan pada titrasi blanko ini merupakan koreksi terhadap titrasi sampel yang sesungguhnya. bila digunakan konsentrasi lebih besar maka warna larutan menjadi kuning kecoklatan sehingga mempersulit pengamatan perubahan warna pada titik akhir titrasi (teramatinya warna merah kecoklatan). Apakah memungkinkan bila titik ekivalen = titik akhir titrasi ?  [CrO4=] = (Ksp Ag2CrO4) / [Ag+]2 = (1. Suasana titrasi netral atau sedikit basa lemah (pH 7 – 10. Untuk mengatasi : digunakan titrasi blanko yaitu mengganti larutan NaCl (25.20 x 10–2 CATATAN : 1.7. Indikator [CrO4=] seyogyanya + 5 x 10-3 M.20 x 10–12) / (10–5)2 = 1.5) 3. Dalam suasana basa : Ag+ + OH–  Ag(OH)2  Ag2O . 2.

6. Anion lain yang mengendap dengan Ag+ dalam suasana netral/alkali lemah akan mengganggu penetapan kadar Cl– atau Br– Metoda Mohr umumnya digunakan untuk penetapan kadar sampel klorida atau bromida dalam suasana netral / alkali lemah. Untuk penetapan kadar I– atau CNS– hasilnya kurang bagus sebab AgI dan AgCNS mempunyai adsorbsi terhadap indikator. . 7.5. HCl : tak dapat ditetapkan langsung sebab suasana asam.

... AgCl ..b.Cl– Na+  NO3– Ag+ . Ag+ NO3– Cl– Na+ keadaan awal / sebelum ekivalen berlebih Ag+ NO3– keadaan sesudah ekivalen pentiter AgNO3 . endapan yang berbeda dari warna semula karena adanya adsorpsi terhadap zat warna tertentu (dyes) METODA FAJANS : terbentuk warna REAKSI : Na+ Cl– NO3– Ag+ Na+ Cl–.AgCl.

.. Ag+ NO3–  Ag+ NO3– Flrsc– Ag+ Flrsc– Ag+ . Ag+ Flrsc– Ag+ Flrsc– keadaan sesudah ekivalen pentiter AgNO3 berlebih dan mengadsorpsi ind.AgCl.AgCl.NO3– Ag+ NO3– Ag+ .. Fluorescein warna : merah . ..

Suasana AgNO3 (pentiter) berlebih.PRINSIP KERJA INDIKATOR : . bukan larutannya. Ion Fluorescein teradsorpsi lebih kuat dari ion NO3– oleh Ag+ sebab Ag-Fluoresceinat mempunyai ikatan yang lebih kuat (berupa endapan) dibandingkan AgNO3 (berupa larutan). yaitu terhadap ion Ag+ atau Halida– - - - - Suasana Halida (sampel) berlebih (sebelum ekivalen)  ion Halida yang teradsorpsi sebagai “inner ion”. . saat titik akhir titrasi  inner ion adalah Ag+ Inner ion akan mengadsorpsi ion berlawanan muatan sehingga pada saat akhir titrasi dimana indikator Fluorescein bermuatan negatif akan diadsorpsi oleh ion Ag+ daripada ion NO3–  warna merah pada partikel-partikel endapan.endapan Ag-Halida mempunyai daya adsorpsi terhadap ion dari pembentuknya. Ion dengan berat molekul lebih besar juga akan teradsorpsi lebih kuat ( Hukum PANETH – FAJANS – HAHN ).

endapan berupa sistem koloid  perubahan warna jelas. sebab besarnya konsentrasi ion dyes (indikator) yang berupa senyawa elektrolit dipengaruhi oleh pH. endapan Ag-Halida mudah terurai oleh cahaya matahari langsung  Ag2O (abu-abu) dan ini akan mengganggu pengamatan perubahan warna pada titik akhir titrasi • 2. yang teradsorpsi adalah bentuk ion  pH (suasana larutan) sangat berperan dalam terjadinya warna adsorpsi.• HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN : • 1. kalau perlu + koloid pelindung untuk mencegah flokulasi • 3. Misalnya : Fluorescein digunakan pada pH : 7 – 10 Eosin digunakan pada pH : 3 – 10 ( Eosin mempunyai keasaman lebih kuat dari Fluorescein ) .

c. METODA VOLHARD : . + FeCNS2+ larutan HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN : 1. sebab pKsp dari AgCl = 10 sedangkan AgCNS = 12 AgBr dan AgI : tidak terdesak oleh CNS– sebab pKsp nya > 12.  pada titrasi Cl– : perlu penyaringan .terbentuknya warna senyawa II yang berupa larutan yaitu Fe(CNS)2+ dalam suasana endapan Ag-Halida dan AgCNS REAKSI : Cl– (sampel) + AgNO3 (baku) berlebih  AgCl + Ag+ (kelebihan) Ag+ (kelebihan + CNS– (pentiter) + ind. Pentiter CNS– tidak boleh mendesak / mensubsitusi endapan sebelumnya (Ag-Halida). Misalnya : AgCl dapat didesak oleh CNS–. Fe3+  AgCNS end. .

Co dan Ni dapat membentuk Ag2S secara kuantitatif. Suasana titrasi : asam. a. Sulfida. 4. b. Garam sulfida dari : Pb.2. diendapkan dengan AgNO3 (berlebih) suasana netral  disaring  ENDAPAN dilarutkan dalam asam (HNO3) dan Ag+ yang dibebaskan dititrasi dengan larutan baku CNS– dan indikator Fe3+. .  FILTRAT (kelebihan AgNO3) dititrasi dengan larutan baku CNS– dan indikator Fe3+ / suasana asam. Arsenat. sebab Fe3+ dalam suasana netral  Fe(OH)3 : koloid kecoklatan. Ag-Anion yang sukar larut dalam air tetapi larut dalam suasana asam  ion Oksalat. mengganggu pengamatan endpoint. 3. Fosfat. Bi. Mn. Kromat. Zn. diendapkan dengan AgNO3 (berlebih) suasana netral  disaring.

1N CNS–  [Cl–] / [CNS–] = 100 [CNS–] = {(0.1 = 10– 4  [Cl–] = (1/100) x 10– 4 = 10– 2  [CNS–] = (99/100) x 10– 4 = 10– 6 Sensitivitas ind. pelarut organik lainnya yang bercampur dg air (Rothmund & Burgstaller).1N tetapi reaksi AgCl dg CNS– berlangsung lambat.1) / (100 + 0. . ligroin.1ml 0. maka untuk menghindari/menghambat reaksi dapat (sebelum dititrasi dg CNS– : + 1 ml nitrobenzen (Caldwell) atau eter. Fe3+ thd CNS– adalah [CNS–] = 10– 5  Untuk membentuk warna Fe(CNS)2+ perlu CNS– = 1 ml 0. benzen.TINJAUAN : AgCl + CNS– === AgCNS + Cl– [Cl–] / [CNS–] = (Ksp AgCl) / (AgCNS) = (10–10) / (10–12) = 100 • 100 ml suspensi AgCl + 0.1)} x 0.

28 x 10– 6 K = {[Fe3+] x [CNS–]} / [FeCNS2+] = 7.4 x 10– 6  [Ag+] = [Cl–] + 0.28 x 10– 8) = 0.4 x 10– 6 1.25 x 10– 3  [Fe3+] = {(7.01 [Cl–]2 + 6.Tinjauan lebih lanjut : AgCl + CNS– === AgCNS + Cl– sebagian CN– + Fe3+ === FeCNS2+  [Ag+] = [Cl–] + [CNS–] dan [Cl–] / [CNS–] = 100 Pada endpoint : AgCl AgCNS Fe(CNS)2+ ( Fe3+)  [Ag+] = [Cl–] + [CNS–] + [FeCNS2+] warna teramati pada : [FeCNS2+] = 6.25 x 10– 3) x (6.4 x 10– 6 [Cl–] – 10– 10 = 0  [Cl–] = 7.4 x 10– 5 [Ag+] x [Cl–] = 10– 10  Pada endpoint : (10– 10) / [Cl–] = 1.01 [Cl–] + 6.01 [Cl–] + 6.64M .4 x 10– 6)} / (7.

64M : warna larutan kecoklatan  endpoint sukar diamati. •  dengan memperkecil [Fe3+] : endpoint memerlukan CNS– lebih banyak.Hal ini tidak terjadi pada titrasi terhadap Br – .) .• Realita pada endpoint : [Fe3+] = 0. (Swift cs.Untuk I – : harus diwaspadai bahwa : Fe3+ + I– === Fe2+ + ½ I2  Indikator Fe3+ baru ditambahkan setelah semua I– terendapkan dengan Ag+ (berlebih) .2M • Teoritis = 0.

d.32 x 10– 8 • Ag Ag(CN)2 === Ag+ + Ag(CN)2– • Ksp = [Ag+] x [ Ag(CN)2–] = 2 x 10– 12 • [Ag+] = (2 x 10– 12) / (0. sedangkan yang ada : 2.32 x 10– 8) .05M  2 [Ag+] = [CN–] {[Ag+] x [2Ag+]2} / (0.05 – [Ag+]) = 10– 21 [Ag+] = {(0.05 x 10– 21) / (4)} 1/3  [Ag+] = 2.05) = 4 x 10– 11 •  endapan (endpoint) teramati sebelum endpoint stokiometri (adanya Ag+ = 4 x 10– 11 . METODA LIEBIG – DENIGES : Ag+ + 2 CN– === Ag(CN)2– Ag+ + Ag(CN)2– === Ag.Ag(CN)2 endapan putih • • • • • Ag(CN)2– === Ag+ + 2 CN– K-instabilita = {[Ag+] x [CN–]2} / [ Ag(CN)2–] = 10– 21 Misal pada endpoint : [Ag(CN)2–] = 0.

90 = 200 ml (dibulatkan) [CN–] sisa = (0.KAJIAN : 100 ml 0.90 ml 0.90 ml 0.2 = 10– 4 Reaksi : 2 CN– + Ag+ === Ag(CN)2– 20 mgrl  ½ x 20 mgrl = 10 mgrl = 10/200 = 0.2M KCN + 99.1 % (karena + 99.05M  {[Ag+] x [CN–]2} / [Ag(CN)2–] = 10– 21  [Ag+] = {(10– 21) x (0. endpoint bila [Ag+] = 4 x 10– 11  kajian diatas pada + 99.1N AgNO3  apakah sudah terjadi endapan Ag.05)} / (10– 4)2 = 5 x 10– 15  dari perhitungan sebelumnya.90 ml belum endpoint) .1 / 200) x 0.Ag(CN)2 ? Volume akhir = 100 + 99.1N AgNO3  [Ag+] = 5 x 10– 15  BELUM ADA ENDAPAN (belum endpoint) atau kesalahan titrasi akan < 0.

0003N) . DIFENIL KARBASID dan DIFENIL KARBASON  violet intensif (pada pH tertentu) untuk : Cl–. Br–. dan I– (< 0. meskipun mudah larut  tak ada ion Hg2+ bebas  penetapan endpoint : + indikator yg dapat bereaksi dg Hg2+ (ion) misal: Na-NITROPRUSID  kekeruhan.PENGGUNAAN LARUTAN BAKU : Hg(NO3)2 Hg(ClO4)2 • PENETAPAN Cl– & Br – : Hg2+ + 2 Cl– === HgCl2 • Hg2+ + 2 Br – === HgBr2 • HgCl2 dan HgBr2 : senyawa yang sukar terdisosiasi.

) + CNS– kelebihan  FeCNS2+ merah Catatan : Klorida dan Bromida : mengganggu ! .) + CNS– === Fe(CNS)2+ merah • Hg(CNS)2 : sukar terdisosiasi.PENETAPAN Hg2+ dg CNS– : Hg2+ (sampel) + CNS– (baku) === Hg(CNS)2 Fe3+ (ind. mudah larut (dalam bentuk molekul) • Bila [Hg2+] : Hg(CNS)2 dapat mengendap sebelum endpoint tetapi tidak mengganggu  titrasi pada suhu : < 20o C : tak perlu blanko  CYANIDA : dapat juga ditetapkan berdasarkan reaksi diatas  CN– (sampel) + Hg(NO3)2 baku === Hg(CN)2 + Hg2+ lebih Hg2+ (lebih) + CNS– baku === Hg(CNS)2 Fe3+ (ind.

0 mg sampel + 100 ml air + 1 ml indikator Diklorofluoresein LP – dititrasi dg AgNO3 0. FARMAKOPE INDONESIA EDISI IV : AMMONII CHLORIDUM : 100. 3. 1. KALII CHLORIDUM : 250.1N LV  flokulasi  merah muda lemah 2.1N LV – endpoint : potensiometri dg elektroda perakkalomel NATRII CHLORIDUM : 250.PENGGUNAAN TITRASI ARGENTOMETRI A. .0 mg sampel + 140 ml air + 1 ml diklorofluoresein LP – dititrasi dg AgNO3 0.0 mg sampel + 150 ml air + 1 ml HNO3 P – dititrasi dg AgNO3 0.1N LV  flokulasi  warna : merah muda lemah.

KI 2.0 ml AgNO3 0.1N (berlebih) – kelebihannya dititrasi dg baku NH4CNS dan ind. a. NH4Br.0 ml sampel (0. NH4Cl 2. NaBr. . 15. FARMAKOPE RUSIA IX : 1.B. Fe(NH4) (SO4)2 c. NaCl 3.0 ml sampel + 40 ml air + ind K2CrO4 – dititrasi dg AgNO3  orange kuning b. KBr 1. EPHEDRIN HCl : 0.3 g) + 2 ml HNO3 + 25.3 g sampel + 10 ml air + 2 tts birubromfenol + HAc sampai kuning hijau – dititrasi dg baku AgNO3  violet. NaI 10.