Anda di halaman 1dari 57

EPIDEMIOLOGI GINGIVAL DIEASES

Dr. Haris Budi Widodo

Carranza, Newman, Takei. 2012. Clinical Periodontology. 9th ed. W. B. Saunders. London

Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan kesehatan atau peristiwa tertentu yang berhubungan dengan populasi di suatu wilayah.

Epidemiologi kesehatan tradisional dianggap sebagai ilmu dasar kesehatan masyarakat. Apa yang membedakan praktik kesehatan masyarakat dari praktik klinis adalah bahwa praktik kesehatan masyarakat menekankan kesehatan pada kelompok penduduk, sedangkan praktik klinis adalah yang berkaitan dengan masalah kesehatan pasien secara individual.

Faktor penentu penyakit pada pasien individu berbeda dengan faktor penentu penyakit pada populasi. Misalnya, berdasarkan atribut pasien, periodontitis mrp penyakit periodontal yang terjadi akibat akumulasi plak dan kalkulus (Faktor yang dapat diatasi dalam praktik), sedangkan berdasarkan atribut praktisi kesehatan masyarakat, tingginya prevalensi penyakit periodontal pada populasi, adalah karena status sosial ekonomi yg rendah atau kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan gigi pencegahan.

Sesuai dgn definisi menyiratkan bahwa epidemiologi memiliki tiga tujuan: 1. untuk menentukan jumlah dan distribusi penyakit dalam suatu populasi, 2. untuk menyelidiki penyebab suatu penyakit, dan 3. untuk menerapkan pengetahuan ini dalam rangka pengendalian penyakit. Pertanyaan mendasar yang paling mungkin dalam kesehatan masyarakat dan praktik klinis adalah berapa banyak penyakit yang muncul?

Penelitian deskriptif digunakan untuk menyatakan jumlah penyakit dalam suatu populasi. Penyakit sering dinyatakan dalam bentuk persentase orang yang terkena dampak dan distribusi di antara subkelompok (berdasarkan pada umur, jenis kelamin, etnis, tingkat pendidikan, atau karakteristik lain) dalam populasi.

Asumsi yang mendasari dalam epidemiologi adalah bahwa distribusi penyakit di antara anggota masyarakat adalah tidak acak. Beberapa anggota atau sub kelompok populasi memiliki karakteristik yang membuatnya lebih rentan terhadap penyakit. Karakteristik ini meliputi faktor biologis, fisik, perilaku, budaya, dan sosial yang menentukan kesehatan. Epidemiologi menggunakan desain studi analitik seperti kasus-kontrol atau penelitian kohort untuk menyelidiki faktor yang berhubungan dengan penyakit.

Tujuan akhir dari epidemiologi adalah untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari studi ini untuk promosi, melindungi, dan memulihkan kesehatan. Data epidemiologis merupakan pondasi bagi berbagai macam kebijakan kesehatan publik. Salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang telah menunjukkan hasil adalah fluoridasi air minum publik untuk mencegah karies gigi .

Data epidemiologis juga merupakan pondasi untuk berbagai praktik klinis: Diagnostik tes, prognosis, dan pemilihan terapi yang tepat berdasarkan studi pada kelompok orang. Praktik kedokteran gigi berdasarkan evidance base membutuhkan praktisi klinis dalam menggunakan informasi ilmiah terbaik yang tersedia dalam membuat keputusan tentang perawatan individu pasien. Banyak dari informasi ilmiah ini yang berasal dari studi epidemiologis dan khususnya uji klinis secara random.

Ukuran epidemiologi Penyakit


Prevalensi Prevalensi adalah proporsi orang dalam suatu populasi yang terpapar penyakit pada titik tertentu atau dalam jangka waktu tertentu. Dihitung dengan cara membagi jumlah orang dalam populasi yang menderita penyakit dengan jumlah orang dalam populasi.

Prevalensi dapat dilaporkan sebagai suatu proporsi atau persentase, yang merupakan ukuran beban penyakit dalam populasi. Informasi tentang prevalensi dapat bermanfaat untuk memperkirakan kebutuhan tenaga untuk perawatan kesehatan. Misalnya, data prevalensi penyakit gigi digunakan untuk memperkirakan jumlah calon dokter gigi dan dokter gigi spesialis baru yang harus dididik.

Beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi penyakit. Prevalensi penyakit di suatu titik tertentu dalam situasi waktu yang dinamis hasil antara penambahan kasus (kejadian) baru, yang meningkatkan prevalensi, dan berkurangnya kasus melalui kematian atau penyembuhan, sehingga prevalensi menurun. Ironisnya, dengan dikenalkannya tes diagnostik yang lebih sensitif atau perawatan baru untuk meningkatkan kelangsungan hidup tetapi prevalensi penyakit ternyata meningkat terus.

Selain itu, prevalensi penyakit kronis, seperti periodontitis kronis, cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Peningkatan prevalensi berdasarkan usia, yang hanya disebabkan oleh akumulasi kasus berarti dapat diartikan bahwa dengan bertambahnya usia risiko penyakit meningkat.

Insiden si
Insidensi juga disebut sebagai risiko atau insiden kumulatif, adalah rata-rata persentase orang yang terpapar suatu penyakit selama jangka waktu tertentu. Insiden dapat dilihat sebagai risiko atau probabilitas bahwa seseorang akan berubah menjadi kasus. Insiden dihitung dengan cara membagi jumlah kasus baru dari suatu penyakit dengan jumlah orang dalam populasi yang berisiko terhadap penyakit tersebut pada awal pengamatan.

Sedangkan prevalensi adalah ukuran dari jumlah penyakit yang ada dalam suatu populasi, insiden adalah mengukur terjadinya penyakit baru. Pembilang dari persamaan insiden adalah jumlah orang yang mengalami transisi dari keadaan tidak sakit ke keadaan sakit selama periode observasi. Penyebut adalah hanya orang yang ada pada populasi yang berisiko untuk terpapar penyakit tetapi tidak sedang menderita sakit.

Sebagai contoh dalam sebuah studi kanker mulut, hanya individu yang bebas dari kanker mulut pada awal penelitian akan dimasukkan sebagai populasi berisiko. Untuk menunjukkan adanya insidensi, harus ditetapkan periode pengamatan yang dilakukan. Tanpa penetapan jangka waktu tertentu, seperti per bulan atau per tahun, insiden hanya punya sedikit makna. Pada studi penyakit periodontal, jarang sekali bahkan tidak pernah, insiden penyakit periodontal mengacu ketat onset timbulnya penyakit pada orang yang sebelumnya bebas periodontitis.

Desain Studi Epidemiologi

Untuk mengetahui prevalensi dan insiden penyakit, faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit, dan efektivitas intervensi, peneliti melakukan studi epidemiologi. Kebanyakan penelitian adalah epidemiologi observasional. Dalam studi ini peneliti mengamati kejadian dalam populasi. Desain yang paling umum digunakan pada studi observasional adalah cross-sectional, kohort, dan studi case-control. Selain studi observasional, epidemiologi juga melakukan studi eksperimental yaitu peneliti memanipulasi paparan, seperti halnnya pada uji coba obat yaitu satu kelompok studi menerima obat dan kelompok lain menerima plasebo (atau obat standar saat itu).

Studi eksperimental berguna dalam mempelajari manfaat dari intervensi pencegahan, perawatan, dan obatobatan. Karena peneliti dapat mengontrol paparan, penelitian ini memberikan bukti sebab dan akibat yang terkuat.

Cross-Sectional Studi Studi cross-sectional mempelajari ada atau tidaknya penyakit dan karakteristik populasi diukur pada satu titik waktu. Studi ini digunakan untuk memperoleh data prevalensi penyakit, membandingkan karakteristik orang dengan dan tanpa penyakit, dan membuktikan hipotesis tentang etiologi penyakit, sedangkan studi kohort dan kasuskontrol dianggap desain untuk penelitian analitik.

Cross-sectional studi juga disebut sebagai studi survei frekuensi penyakit atau prevalensi. Tergantung pada ukuran populasi dan sumber daya yang tersedia bagi peneliti, seluruh penduduk atau sampel yang mewakili populasi dapat dipelajari. Cross-sectional studi yang diulang secara berkala dengan interval tertentu dapat memberikan informasi mengenai tren penyakit dari waktu ke waktu atau efektivitas program pencegahan atau pengobatan.

Studi Cross-sectional memiliki dua keterbatasan utama. Pertama, studi cross-sectional hanya dapat mengidentifikasi kasus penyakit yang lazim. Karena studi ini tidak melibatkan populasi berisiko thd penyakit dari waktu ke waktu, kejadian tidak dapat ditentukan. Kedua, meskipun studi cross-sectional dapat menunjukkan karakteristik tertentu yang berkaitan dengan adanya penyakit, namun yang merupakan faktor awal penyebab penyakit tidak selalu dapat ditentukan.

Sebagai contoh, sebuah penelitian cross sectional mengungkapkan bahwa orang dengan penyakit periodontal cenderung terjadi lebih banyak pada perokok; Namun, tidak selalu dapat ditentukan apakah merokok atau penyakit yang merupakan penyebab pertama.

Menetapkan hubungan temporal antara karakteristik tertentu dan timbulnya penyakit adalah kriteria penting untuk menentukan apakah karakteristik tertentu merupakan penyebab dari penyakit. Studi Cohort yang mengamati orang-orang dari waktu ke waktu diperlukan untuk menghitung kejadian dengan periode yang tetap. Kelebihan penelitian cross-sectional umumnya lebih murah dari studi longitudinal, dan dapat dilakukan lebih cepat.

Studi Cohort

Tidak seperti studi cross-sectional, penelitian kohort dilakukan dengan cara diikuti dari waktu ke waktu. Tujuan dari studi kohort adalah untuk menentukan apakah suatu paparan atau karakteristik tertentu berkaitan dengan perkembangan atau kondisi penyakit. Pada awal penelitian, semua subjek harus bebas dari penyakit yang diteliti. Subjek diklasifikasikan ke dalam kelompok terpapar" dan "tidak terpapar dan kemudian diikuti dari waktu ke waktu dan dimonitor perkembangan penyakitnya. Insiden penyakit dihitung berdasarkan adanya kasus baru.

Jika insiden penyakit lebih besar pada kelompok terpapar daripada kelompok tidak terpapar, memberikan bukti penelitian bahwa paparan adalah faktor risiko untuk penyakit ini. Karena penelitian kohort dapat menunjukkan bahwa paparan mendahului penyakit, ini memberikan dukungan thd kekuatan hubungan. Kelemahan dari penelitian kohort adalah bahwa untuk melakukannya diperlukan periode pengamatan panjang dan seringkali mahal. Juga, jika penyakit sangat jarang, sejumlah besar subyek perlu/harus diikuti.

Studi Kasus-Kontrol Studi kasus-kontrol memberikan cara yang efisien untuk menyelidiki hubungan antara paparan dan penyakit, terutama penyakit langka. Dalam studi kasus-kontrol, melibatkan orang dengan penyakit (kasus) dan orang-orang tanpa penyakit (kontrol) diikutkan dalam studi dan pemaparan dinilai. Jika ada hubungan antara paparan dan penyakit, proporsi orang yang terpapar diharapkan akan lebih besar di antara kasus dibandingkan pada kontrol.

Karena studi kasus-kontrol tidak dikuti dari waktu ke waktu, membutuhkan sumber daya yang lebih sedikit dan dapat dilakukan lebih cepat daripada penelitian kohort. Untuk penyakit langka seperti kanker mulut, mengamati kasus yang ada jauh lebih efisien daripada studi kohort, yang harus melakukan pengamatan subjek yang bebas kanker dari waktu ke waktu. Kerugian utama studi kasus kontrol adalah bahwa hubungan temporal antara paparan dan timbulnya penyakit tidak dapat selalu ditentukan karena yang biasanya dinilai besar risiko setelah status penyakit ditegakkan. Juga, prevalensi atau kejadian penyakit yang tidak dapat ditentukan dari studi kasus-kontrol karena subyek diikutkan ke dalam studi berdasarkan status penyakitnya.

Risiko, Faktor Risiko, dan Penilaian Risiko


Periode waktu seseorang kemungkinan akan terpapar suatu penyakit dalam waktu tertentu, disebut dengan risiko. Untuk setiap penyakit yang terjadi, risiko dari berkembangnya penyakit berbeda di antara individu. Karakteristik individu yang memungkinkan terjadi peningkatan risiko untuk terpapar penyakit disebut faktor risiko.

Sesuai definisi tersirat bahwa, paparan faktor risiko terjadi sebelum timbulnya penyakit. Paparan faktor risiko mungkin dapat terjadi pada satu titik waktu, episodik, atau berkelanjutan. Penghapusan faktor risiko atau pengurangan paparan dapat mengurangi risiko individu terkena penyakit, tetapi sekali seseorang menderita penyakit, hilangnya faktor risiko tidak berarti

Identifikasi dan pentingnya faktor risiko untuk penyakit didasarkan pada pengetahuan saat ini, dan sebagai pengetahuan tentang hubungan antara faktor dan perubahan penyakit, faktor-faktor baru bisa menjadi penting sedangkan faktor sebelumnya diidentifikasi menjadi kurang penting atau tidak relevan.

Proses memprediksi probabilitas individu yang terpapar penyakit disebut penilaian risiko. Dokter menggunakan penilaian risiko melalui beberapa cara. Salah satunya adalah dengan memprediksi pasien berisiko untuk penyakit. Misalnya, orang yang terpapar asap rokok atau diabetes berada pada risiko yang lebih tinggi berkembang penyakit periodontal dibanding orang bukan perokok atau nondiabetes.

Cara lain klinisi menggunakan penilaian risiko adalah untuk membantu dalam diagnosis penyakit. Pada pasien remaja dengan kehilangan tulang alveolar lokal pada M1 bawah, terdeteksi jumlah Actinobacillus actinomycetemcomitans yang signifikan dapat membantu dalam diagnosis EOP, Akhirnya, dokter sering menggunakan penilaian risiko untuk mencegah penyakit dengan mengidentifikasi dan memodifikasi faktor risiko. Misalnya, pelayanan KG biasanya mengidentifikasi rokok pada praktik mereka dan memberikan saran berhenti merokok. Jenis penyakit yang dicegah tergantung pada keberhasilan intervensi dalam mengurangi risiko dan besar faktor risiko yang terkait dengan penyakit.

Suatu kasus gingivitis jelas melibatkan orang dengan radang gingiva. Sulit menyatakan kapan seseorang telah disebut gingivitis. Definisi awal gingivitis hanya menyatakan bahwa gingivitis adalah radang gingiva. Definisi lain berdasar literatur di beberapa negara lain menyatakan gingivitis adalah peradangan gingiva di mana junctional epitel tetap melekat pada gigi pada kondisi aslinya.

Definisi ini menunjukkan bahwa gingivitis tidak ada lagi jika gigi telah periodontitis. Dengan kata lain, jika proses inflamasi melibatkan gingiva dan periodonsium dan hilangnya perlekatan periodontal telah terjadi, maka menurut definisi ini, kondisi tsb seharusnya digolongkan sebagai periodontitis, bukan lagi tergolong gingivitis.

Adanya plak-yang menginduksi gingivitis pada pasien dengan atau tanpa kehilangan perlekatan gingiva telah dapat diklasifikasikan. Ada atau tidak adanya gingivitis tergantung pada tingkat perlekatan periodontal memiliki dampak penting dalam mengestimasi kejadian gingivitis.

Meskipun mudah mendeteksi tanda-tanda klinis dari gingivitis, tidak jelas berapa besar peradangan yang terjadi pada seseorang dapat dipertimbangkan sebagai kasus gingivitis. Secara universal diterima ambang batas untuk jumlah atau keparahan peradangan gingiva yang harus ada dalam suatu individu adalah tidak baku. Dalam penelitian gingivitis, digunakan beberapa macam indeks.

Karena indeks yang berbeda memiliki kriteria klinis untuk menetapkan ada atau tidaknya radang gingiva, definisi kasus gingivitis bervariasi. Secara umum dinyatakan kasus gingivitis adalah seseorang dengan setidaknya terjadi peradangan ringan pada satu dari unit gingiva yang dinilai. Menurut studi ini yang dimaksud unit gingiva meliputi struktur anatomi gingiva, seperti papilla interdental, gingiva marjinal, gingiva cekat, atau juga bagian gingiva yang berkaitan dengan gigi, seperti permukaan fasial, lingual, mesial, maupun distal.

Bagaimanakah Gingivitis diukur? Gingivitis diukur dengan indeks gingiva. Indeks adalah metode untuk mengukur jumlah dan tingkat atau kondisi keparahan penyakit pada individu atau populasi. Indeks digunakan dalam praktik klinis untuk menilai status gingiva pasien dan mengikuti setiap perubahan status gingiva berdasarkan waktu. Indeks gingiva digunakan dalam studi epidemiologi untuk membandingkan prevalensi gingivitis dalam populasi kelompok.

Dalam studi klinis, indeks gingiva digunakan untuk menguji efektivitas agen atau perangkat terapeutik. Ideal nya indeks harus sederhana dan cepat untuk digunakan, akurat / direproduksi, dan kuantitatif. Semua indeks gingiva mengukur satu atau beberapa hal sebagai berikut: warna gingiva, kontur gingiva, perdarahan gingiva, gingiva yang terlibat dan aliran cairan sulkus gingiva. Sebagian besar indeks ditetapkan dengan angka skala ordinal (0, 1, 2, 3 dan seterusnya) untuk mewakili luas dan tingkat keparahan gingivitis. Angka tersebut biasanya dapat diringkas untuk mewakili status gingiva pada individu atau populasi.

Metode ini merupakan metode kuantitatif pertama yang digunakan untuk menilai radang gingiva yang muncul sekitar akhir Perang Dunia II. Banyak indeks gingiva telah diperkenalkan sejak saat itu, dan tidak ada satupun indeks yang dapat diaplikasikan atau diterima secara universal.

Indeks gingiva

Indeks gingiva (GI) diusulkan pada tahun 1963 sebagai metode untuk menilai tingkat keparahan dan adanya peradangan gingiva pada pasien individu atau di antara subyek dalam kelompok populasi besar. Hanya jaringan gingiva yang dinilai dengan GI. Menurut metode ini, masing-masing dari empat bidang gingiva sekitar gigi (facial, mesial, distal, dan lingual) selanjutnya tingkat peradangannya dinilai dan diberikan skor dari 0 sampai 3. Perdarahan dinilai dengan menggerakkan suatu probe periodontal sepanjang dinding jaringan lunak dari celah gingiva. Nilai untuk empat bidang gigi yang diperoleh selanjutnya dibagi empat untuk memberikan skor masing-masing gigi. Skor GI individu dapat diperoleh dengan menambahkan skor masing-masing gigi secara keseluruhan dan membagi dengan jumlah gigi yang diperiksa. .

Skor dan Kriteria Gingival Index

Nilai GI: 0,1 sampai 1,0: peradangan ringan, 1,1-2,0: peradangan moderat (sedang) 2,1-3,0: peradangan berat (parah).

Indeks Gingiva dimodifikasi

Indeks gingiva dimodifikasi (MGI) memperkenalkan dua perubahan penting pada GI: (1) menghilangkan cara probing gingiva untuk menilai ada atau tidak adanya perdarahan dan (2) redefinisi dari sistem penilaian untuk peradangan ringan dan moderat. Ahli yang mengembangkan MGI memutuskan untuk menghilangkan cara penyelidikan yang dapat mengganggu plak dan mengiritasi gingiva. Suatu indeks noninvasif akan memungkinkan untuk mengevaluasi ulang dan memberikan intracalibrasi dan intercalibrasi pada pemeriksa. Juga, para ahli menginginkan indeks yang lebih sensitif dibandingkan indeks sebelumnya, yaitu perubahan yang lebih nyata dalam peradangan gingiva.

Untuk melakukan hal ini, skor 1 diberikan untuk peradangan ringan yang melibatkan hanya sebagian dari marjinal atau unit gingiva papilari dan skor 2 peradangan ringan yang melibatkan seluruh unit gingiva marjinal atau papiler. Skor dari 3 dan 4 sesuai dengan masing-masing skor asli 2, dan 3 dari GI. Seperti dengan GI, empat unit gingiva per gigi (dua marjinal, dua papiler) dinilai. Penilaian baik penuh atau sebagian dapat dilakukan. Skor rata-rata untuk seorang individu dapat dihitung dengan menjumlahkan nilai unit gingiva dan membagi dengan jumlah unit gingiva yang diperiksa.

MGI merupakan indeks yang paling banyak digunakan pada uji klinis agen terapeutik. Seperti indeks sebelumnya, MGI tidak menilai adanya poket periodontal atau kehilangan perlekatan. Dengan demikian, indeks ini tidak dapat mengidentifikasi gingivitis bila tidak ada periodontitis.

Indeks Perdarahan Gingiva

Penilaian perdarahan gingiva secara klinis berdasarkan warna, bentuk, dan tekstur adalah subyektif karena hanya merupakan tanda diagnostik peradangan. Penelitian menunjukkan bahwa perdarahan dgn probing pada sulkus gingiva dapat terjadi sebelum terjadi perubahan warna, bentuk, atau tekstur yang jelas. Sejak tahun 1971, berbagai indeks yang mengukur pendarahan saja, seperti indeks pendarahan gingiva dan indeks perdarahan interdental Eastman, telah diterbitkan dan dilakukan kajian.

Periodontal probe digunakan untuk mengukur indeks perdarahan, namun dapat juga digunakan tusuk gigi dan benang gigi. Untuk memperoleh indeks perdarahan diperlukan periodontal probe, dengan jenis dan kedalaman probe serta kekuatan pemeriksaan bervariasi. Meskipun pendarahan gingiva adalah tanda peradangan, namun perdarahan dari sulkus gingiva dapat berkaitan dengan bentuk-bentuk penyakit periodontal lainnya, bukan hanya gingivitis.

Untuk indeks yang memerlukan penyisipan probe periodontal ke bawah sulkus gingiva, adanya kecenderungan perdarahan merupakan tanda periodontitis daripada gingivitis. Indeks perdarahan gingiva digunakan dalam praktik klinis, survei, uji klinis antiplaque dan agen antigingivitis.

Protokol Nidcr untuk Penilaian Perdarahan gingiva

Pada beberapa survei nasional, seperti Survei Nasional Kesehatan Mulut NIDR di AS (1985-1986) Survei Kesehatan Nasional Ketiga dan Survey Pemeriksaan Gizi (1988-1994), Badan Penelitian Gigi dan Craniofacial (NIDCR) telah menggunakan ada atau tidak adanya perdarahan gingiva sebagai indikator kesehatan gingiva. Penilaian gingiva hanyalah salah satu dari beberapa komponen protokol NIDCR untuk penilaian penyakit periodontal. Untuk pendekatan ini, tingkat perdarahan dinilai pada sisi fasial dan mesiofacial gigi dalam dua kuadran yang dipilih secara acak, satu maxila dan satu mandibula. Sebuah probe khusus yang dikenal sebagai probe NIDR digunakan untuk melakukan penilaian.

Probe NIDR diberi kode warna dan secara bertingkat 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 mm.

Untuk memulai penilaian, pemeriksa mengeringkan satu kuadran gigi menggunakan udara. selanjutnya, dimulai pada gigi paling posterior dalam kuadran (tidak termasuk molar ketiga), pemeriksa menempatkan probe periodontal 2 mm ke dalam sulkus gingiva di bagian fasial dan hati-hati menggerakkan probe dari mesiofacial ke interproksimal daerah mesial. Setelah memeriksa lokasi pada kuadran tsb, pemeriksa menilai ada atau tidak adanya perdarahan pada setiap bagian. Prosedur yang sama diulang untuk memeriksa kuadran yang lain.
Untuk individu, jumlah atau persentase gigi atau sisi dengan perdarahan dapat dihitung. Untuk kelompok populasi, prevalensi perdarahan gingiva, biasanya didefinisikan sebagai perdarahan di salah satu bagian atau lebih.

Berapa Banyak kasus Gingivitis? Data kesehatan gigi penduduk AS berasal dari Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional ketiga (NHANES III), yang dilakukan 1988-1994. Survei ketujuh dalam serangkaian survei nasional dirancang untuk memperkirakan status kesehatan populasi di U.S. Survei ini menggunakan protokol NIDCR untuk perdarahan gingiva. Menurut data NHANES III, 54% dari non instituti sipil US penduduk usia >13 tahun mengalami pendarahan gingiva setidaknya di satu bagian gingiva.

Indonesia ?

Anda mungkin juga menyukai