Anda di halaman 1dari 15

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 1

BAB I PENDAHULUAN

Bagi negara beriklim tropis seperti Indonesia, keadaan cuaca yang panas, sangat kering atau lembab akan mempengaruhi status kesehatan hewan. Variasi perubahan cuaca akan mempengaruhi fluktuasi prevalensi penyakit yang dalam kondisi tertentu dapat mencapai titik intensitas yang sangat tinggi atau sebaliknya dapat pula mencapai titik intensitas yang rendah, bahkan / mungkin meghilang sama sekali. Bila suhu dan kelembaban udara sangat tinggi, prevalensi parasit atau penyakit dapat berkembang dan meningkat sampai ke situasi kesehatan hewan, sehingga hewannya tidak dapat dipertahankan lagi keseimbangannya. Keadaan yang demikian sekurang-kurangnya menyebabkan dua kemungkinan, kemungkinan pertama organisme parasit tetap bertahan dan berkembang biak di dalam suasana lingkungan yang ada dan tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca. Kemungkinan kedua adalah lingkungan memiliki dampak yang merugikan terhadap hewan itu sendiri, seperti lingkungan yang lembab sehingga parasit dapat berkembang dengan baik. Kambing dan domba merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara petani ternak di pedesaan dengan berbagai tujuan, antara lain sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dijual untuk keperluan hidupnya. Namun demikian, dalam pemeliharaan ternak kambing memerlukan perhatian terhadap kesehatannya. Salah satu penyakit yang biasanya timbul dan perlu diwaspadai adalah Haemoncosis. Secara umum parasit dapat terjadi bila terpenuhi komponen-komponen sebagai berikut : (1) adanya parasit, (2) adanya sumber parasituntuk hospes yang rentan (reservoir: hospes antara atau hospes definitif), (3) proses pembebasan stadium parasit dari reservoir, (4) proses penularan terhadap hospes yang rentan, (5) adanya hospes yang rentan. Adanya parasit di dalam hospes yang rentan tidak harus di ikuti oleh perubahan yang sifatnya klinis. Banyak proses parasitisme yang bila di ukur dari jumlah parasit di dalam tubuh hospes definitive jumlahnya cukup banyak, tetapi perubahan klinisnya tidak dapat dikenali dari luar (sub klinis).

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 2

Adanya parasit yang patogen di dalam tubuh hospes tidak selalu mengakibatkan parasitisme yang sifatnya klinis. Jumlah parasit yang menyerang hospes yang rentan harus cukup banyak agar terjadi keseimbangan hubungan parasit-hospes. Jumlah tersebut sangat bervariasi tergantung pada jenis parasitnya, jenis hospes yang rentan dan bahkan untuk satu jenis hospes pun dapat bervariasi tergantung pada waktu terjadinya parasitisme. Parasitisme akan memperlihatkan gejala klinis bila keseimbangan hubungan antara hospes dengan parasit terganggu, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan hospes yang menurun dan / atau oleh peningkatan jumlah parasit yang pathogen dalam tubuh hospes. Untuk dapat menyebabkan parasitisme secara klinis sifat pathogen parasit dipengaruhi oleh virulensi parasit dan mikrohabitat parasit dalam organ penderita. Keruskan jaringan oleh parasit yang virulen dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Perubahan yang ditimbulkan oleh parasit dapat berupa kerusakan sel dan jaringan, perubahan fungsi faali dari hospes, penurunan daya tahan terhadap agen penyakit lain, masuknya agen penyakit sekunder setelah terjadi kerusakan mekanik dan parasit mampu menyebarkan mikroorganisme patogen. Karena kerusakan jaringan menyebabkan fungsi faali akan mengalami penurunan dan mungkin berbentuk sebagai hilangnya nafsu makan, gangguan digesti, gangguan penyerapan, hilangnya cairan dan elektrolit dan hypersensitivity secara lokal atau sistemik.

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 3

MENDIAGNOSA KASUS PENYAKIT PADA KAMBING

Diagnose A. Anamnesa B. Pemeriksaan Laboratorium 1. Pemeriksaan feses

2. Pemeriksaan urine

Gambar metode pemeriksaan urin yang dilakukan

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 4

3. Pemeriksaan darah

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 5

LABORATORIUM KLINIK
FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
Darussalam Banda Aceh Telp (0651) 51977 Pesawat 157,158

Nama Pemilik Alamat Pemilik Signalement Jenis Hewan Jenis Kelamin

: Teaching Farm FKH Unsyiah : Jl. InongBalee, Tungkop-Darussalam :Warna bulu merah hitam, ras local, umur 2 tahun, :Kambing :Betina

I. ANAMNESA

: Kambing kurusa, nafsu makan kurang, dan bulu kusam.

II. STATUS PRAESENT 1. KeadaanUmum a. Gizi b. Temperamen c. Habitus 2. Frekuensi nafas Frekuensi pulsus SuhuTubuh 3. Kulit dan bulu 4. Selaput lendir 5. Kelenjar limfe 6. Alat pernafasan 7. Alat peradaran darah 8. Alat pencernaan 9. Alat kelamin dan urinasi 10. Urat saraf :Kulit kusam :Buruk :Jinak :Lordosis : 27x/menit :113x/menit : 39 oC : Turgor kulit jelek dan bulu kusam :Anemi :::: Anus kotor ::-

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 6

III. PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Kulit : a. Parasit b. Jamur 2. Feses : a. Keadaan feses b. Parasit Interna c. Protozoa d. Mikroba 3. Urin : a. Warna b. Bau c. Eritrosit d. Urobilinogen e. Bilirubin f. Protein g. Nitrit h. Keton i. Glukosa j. pH k. Densitas l. Leukosit 4. Darah : a. WBC b. Hb c. RBC d. PCV e. MCV f. MCH g. MCHC h. RDW-CV i. RDW-SD ::: Normal : Ditemukan telur cacing :::Kuning jernih :Amonia :: Normal :+ : 30 (0,3)mg/dL ::::8 : 1,000 : Ca.25 :17,0 x 103 :7,1 g/dL : 1,51 x 106 :: 29,8 : 47,0pg : 161,3 g/dL : 17,3% : 16,7

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 7

IV. DIAGNOSA

: Hemonchosis

V. DIFFERENTIAL DIAGNOSA : VI. PROGNOSA VII. TERAPI : Dubius :-

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 8

BAB II PEMBAHASAN

Sampel pemeriksaan yang digunakan kambing lokal di Teaching Farm Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah dengan no 008. Hewan kurus, nafsu makan kurang, dan bulunya kusam. Frekuensi nafas 27 kali/menit masih dalam keadaan normal karena frekuensi nafas normal pada kambing 26-54 kali/menit, frekuensi pulsus 113 kali/menit tidak normal karena frekuensi pulsus normal pada kambing 70-104 kali/menit ini mungkin hewan pada saat pemeriksaan dalam keadaan stress sehingga frekuensinya tidak normal, menurut Walser, (1990) pada sapi, domba, dan babi ditemukan adanya frekuensi pulsus yang tinggi selama masa menyusu dan kemudian mengalami penurunan seiring dengan pertambahan umur. Suhu tubuh hewan 39 0C masih dalam keadaan normal karena suhu normal pada kambing 38-49,9 0C nilai suhu tubuh ini tidak berbeda dengan nilai pada ruminansia kecil lain (domba) pada umur yang sama (Bostedt, 1990) atau rata-rata suhu tubuh fisiologis pada kambing dewasa 39,4 0C. Pemeriksaan darah ternak ruminansia yang umum dan biasa dilakukan yaitu untuk mengetahui kesehatan umum ternak dan mendiagnosa suatu penyakit secara umum penghitungan jumlah eritrosit, leukosit, PCV, dan Hemoglobin (Hb)

Eritrosit Faktor yang mempengaruhi kualitas eritrosit bukan saja jumlah sel-selnya tetapi juga kadar Hb, PCV dan kadar konstituen darah laninya. Factor lain yang dapat mempengaruhi kualitas eritrosit adalah umur, sex, gizi, kehamilan, laktasi, iklim, fase estrus, dan ketinggian lokasi (Widjajakuisuma dan Sikar, 1986). Dari pemeriksaan darah yang dilakukan pada kambing no 008 di dapatkan hasil RBC 1,51 x 106 ini menanndakan hasilnya rendah dibandingkan dengan nilai normal RBC pada seekor kambing yaitu 8-18 x 106 bila pada ternak ruminansia terjadi defisiensi vitamin dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan eritrosir misalnya penyakit anemia terjadi apabila jumlah sel-sel darah merah yang fungsional atau jumlah hemoglobin berkurang jauh di bawah keadaan normal. Anemia dapat terjadi karena pembentukan darah yang kurang memadai karena gizi yang tidak baik masuk disini adanya defisiensi zat besi, C1, vitamin dan asam-asam amino di dalam makanan, tapi dapat juga

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 9

disebabkan oleh hilangnya darah karena perdarahan dari luka atau karena parasit seperti cacing [perut atau karena sel-sel darah merah tidak berhasil menjadi masak secara normal (Frandson, 1993).sedangkan pada polisitemia atau peningkatan produksi eritrosit bisa disebabkan karena adanya hipoksia jaringan akibat kadar oksigen dalam udara terlalu rendah, transportasi oksigen dari alveoli paru-paru ke sirkulasi terganggu hemoglobin tidak dapat melepaskan oksigen ke jaringan.

Leukosit Didalam aliran darah kebanyakan sel-sel darah putih bersifat nonfungsional dan hanya diangkut ke jaringan ketika dan dimana dibutuhkan saja , sel darah putih dibagi ke dalam dua golongan yaitu: granulosit (adanya bintik granula) terdiri dari netrofil, eosinofil, basofil, yang termasuk arganulosit limposit dan monosit. Dari pemeriksaan di dapatkan nilai leukosit 17,0 x 103 tinggi bila dibandingkan dengan nilai normal yaitu 4000-13000 peningkatan jumlah leukosit (leukositosis) sering disebabkan oleh infeksi, umum, infeksi lokal, intoksikasi, dan obatanobatan, pertumbuhan neoplasma yang ganas, peredaran akut di dalam rongga tubuh, hemolisis eritrisitdan leukemia.

Hematokrit (PCV) Pada ternak \-ternak yang sehat (normal) penghitungan PCV harus sebanding dengan jumlah eritrosit dan Hb. Hematokrit di pergunakan untuk menghitung jumlah darah dan untuk mengecek jumlah sel darah merah. Meskipun hematokrit bukan pengukuran volume darah yang tepat, derajat hemokonsentrasi pada syok dan berhubungan dengan kesehatan, trauma, dan lukaluka bakar dapat dinilai dengan hematokrit (Mitruka dan Rawnsley, 1977).

Hemoglobin (Hb) Hemoglobin merupakan pigmen eritrosit yang terdiri dari protein komplek terkonyugasi yang mengandung besi. Proteinnya adalah globulin suatu histon. Warna hemoglobin senyawa metalik disebabkan oleh heme yaitu suatu senyawa yang mengadnung suatu atom besi (Widjajakuisuma dan Sikar, 1986), ditambah globin yang merupakan protein globular yang terdiri dari 4 rantai asam-asam amino. Hemoglobin menggabung dengan oksigen udara yang

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 10

terdapat di dalam paru hingga terbentuklah oksihemoglobin yang selanjutnya melepaskan oksigen itu ke sel-sel jaringan dalam tubuh, karena adanya hemoglobin, darah dapat mengangkut sekitar 60 kali oksigen lebih banyak di bandingkan dengan air dalam jumlah kondisi yang sama (Frandson, 1993) Dari hasil pemeriksaan di dapatkan hasil Hb 7,1 g/dl rendah di bandingkan dengna nilai normal Hb yaitu 8-12 g/dl hemoglobin, hematokrit dan eritrosit akan meningkat apabila hewan dalam keadaan takut atau hewan dalam keadaan gembira. Hal ii dapat disebabkan karena dilepaskannya katekolamin (epinefrin/norepinefrin), akibatnya tekanan darah meningkat dan disertai kontraksi dari limpa sehingga eritrosit akan di pindahkan untuk ikut aliran darah begitu juga jika terjadi penurunan Hb bisa di sebabkan oleh salah astunya oleh anemia.

Pemeriksaan Feses Adanya parasit yang patogen di dalam tubuh hospes tidak selalu mengakibatkan parasitis me yang sifatnya klinis. Jumlah parasit yang menyerang hospes yang rentan harus cukup banyak agar terjadi keseimbangan hubungan parasit-hospes. Jumlah tersebut sangat berva-riasi tergantung pada jenis parasitnya, jenis hospes yang rentan dan bahkan untuk satu jenis hospes pun dapat bervariasi tergantung pada waktu terjadinya

parasitisme. Parasitis me akan memperlihatkan gejala klinis bila ke-seimbangan hubungan antara hospes dengan parasit terganggu, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan hospes yang menurun dan / atau oleh peningkatan jumlah parasit yang pa-togen dalam tubuh hospes. Untuk dapat me nyebabkan parasitisme secara klinis sifat pato-gen parasit

dipengaruhi oleh virulensi parasit dan mikrohabitat parasit dalam organ pen-derita. Keruskan jaringan oleh parasit yang vi rulen dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Perubahan yang ditimbulkan oleh parasit dapat berupa kerusakan sel dan jaring-an, perubahan fungsi faali dari hospes, penu runan daya tahan terhadap agen penyakit lain, masuknya agen penyakit sekunder setelah ter-jadi kerusakan mekanik dan parasit mampu menyebarkan mikroorganisme patogen. Kare-na kerusakan jaringan menyebabkan

fungsifaali akan mengalami penurunan dan mungkin berbentuk sebagai hilangnya nafsu makan, gangguan digesti, gangguan penyerapan, hi langnya cairan dan elektrolit dan

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 11

hipersensi-tivity secara lokal atau sistemik. Dari pemeriksaan feses di temukan telur cacing Haemonchus contortus di dalam feses. Haemonchus contortus merupakan parasit yang patogenik, luas penyebaran dan tingkat infeksinya dapat mencapai 80%. Kambing dan domba mudah terkena infeksi cacing sapuran pencernaan ini karena Indonesia yang beriklim tropis basah sangat menguntungkan kelangsungan hidup dan mempermudah penularannya. Patogenitas Haemonchosis tergantung jumlah larva yang menginfeksi, hal tersebut tampak pada domba muda yang terinfeksi sebanyak 1500 sampai 250 larva infektif akan terjadi kematian, sedangkan pada domba dewasa jika terinfeksi 3000 sampai 6000 larva cacing Haemonchus contortus. Telah dilaporkan bahwa infeksi hiperakut terjadi kematian pada domba dan ditemukan sebanyak 20.000 sampai 50.000 cacing di dalam abomasum (Colin, 1999). Kerugian yang ditimbulkan selain kematian juga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan produksi karena sifat cacing adalah menghisap darah yang mengakibatkan anemia hemoragie dengan ditandai penurunan jumlah eritrosit dan PCV. Infeksi kronis dapat berjalan lama karena masih adanya sejumlah cacing. Jika disertai nutrisi jelek maka berakibat penurunan berat badan dan disertai penurunan protein dalam tubuh. Panjang cacing Haemonchus contortus betina 18-30 mm dan jantan sekitar 10-20 mm. pada cacing betina secara mikroskopis usus yang berwarna merah berisi darah saling melilit dengan uterus yang berwarna putih

Etiologi Haemonchus contortus merupakan cacing kawat yang tinggal di dalam abomasum domba, kambing, sapi serta golongan ruminansia lainnya. Nama lain yang dikenal bagi cacing ini adalah cacing lambung, cacing kawat, dan cacing halus. Cacing ini mempunyai lans et pada bagian dorsal dari rongga mulut dan papillae cervical berbentuk duri kira-kira 300 dari ujung anterior. Cacing jantan mempunyai bursa yang berbentuk seperti huruf y dan spikula. Cacing betina mempunyai ovarium dan uterus berwarna putih yang meliliti saluran pencernaan berwarna merah, berekor kecil dan berujung runcing. Vulva ditutupi oleh penutup anterior yang saling melebar dan terbuka.

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 12

Gambar : Bagian ujung belakang Haemonchus contortus dengan bursa dan spikula

Siklus hidup Siklus hidup Haemonchus contortus dan nematode lain pada ruminansia bersifat langsung, tidak membutuhkan hospes intermediet. Cacing dewasa hidup di abomasum, memproduksi telur. Telur dikeluarkan oleh ternak bersama-sama dengan pengeluaran feses. Diluar tubuh hospes, pada kondisi yang sesuai telur menetas dan menjdai larva. Larva stadium L1 berkembang menjadi L2 dan selanjutnya menjadi L3 yang merupakan stadium infektif. Larva infektif menempel pada rumput-rumput dan teringesti oleh domba selanjutnya larva akan dewasa di abomasums. Infestasi pada domba terjadi apabila larva stadium tiga (L3) termakan oleh domba, yang biasanya berlangsung dilapangan pada waktu domba merumput. Kemudian bergerak dari retikulorumen ke abomasums. Di dalam retikulorumen larva infektif akan segera melepaskan kulit yang membungkusnya, hal ini terjadi satu jam setelah domba terinfeksi (Dakkak et al, 1981). Kemudian Larva ketiga mengadakan ekdisis dalam waktu 48 jam setelah di dalam abomasum, membentuk larva stadium keempat (L4). Menurut Whitlock (Dakkak et al, 1981)hanya larva tidak berselubung yang dapat berkembang di dalam abomasums. L4 dilengkapi dengan bucal capsul sementara. Cacing menjadi dewasa di dalam abomasums 19 hari setelah infestasi dan telur pertama dikeluarkan bersama tinja induk semang 18-21 hari setelah infestasi.

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 13

Gambar : Siklus hidup cacing Haemonchus spp (Whittier, et al., 2003)

Kerugian Haemonchus contortus adalah cacing penghisap darah yang rakus, setiap ekor perhari menhabiskan 0,049 ml darah, sehingga menyebabkan anemia berlangsung melalui 3 tahap, yaitu tahap I, 3 minggu setelah terinfeksi ternak akan kehilangan darah dalam jumlah besar, hal ini merupakan tahap akut, tahap II, antara 3-8 minggu setelah terinfeksi kehilangan darah dan zat besi ternak berlangsung terus tetapi masih diimbangi oleh kegiatan eritropoetik, dan tahap III, terjadi kelelahan sistem eritropoetik yang disebabkan oleh kukarangan besi dan protein hal ini merupakan tahap kronis.

Gejala klinis Anemia merupakan gejala utama dari infeksi Haemonchus contortus bersamaan dengan kehilangan darah dan kerusakan usus. Terlihat busung dibawah rahang, diare, tapi kadangkadang kambing sudah mati sebelum diare muncul. Gejala lain yang menonjol yaitu: penurunan berat badan, pertumbuhan yang jelek, dan penurunan jumlah produksi susu

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 14

Diagnosis Diagnosis dibuat berdasarkan gejala klinik dan identifikasi telur-telur cacing di bawah mikroskop. Diagnosis Haemonchosis secara serologis menggunakan antibody poliklonal untuk mendeteksi infeksi Haemonchosis pada domba dan kambing sampai saat ini di Indonesia belum ada laporan. Penelitian yang dilakukan oleh Kodyman et al. (2000) menunjukkan antigen dari produksi eksresi dan sekresi cacing Haemonchosis yang mengandung protein 15 dan 24 kDa merupakan protein yang sangat imunogenik sehingga bisa dikembangkan sebagai vaksin sub unit untuk Haemonchosis. Mufasirin dkk. (2002) telah memproduksi antibody poliklonal spesifik terhadap protein ekresi dans ekresi dengan berat molekul sebesar 33 kDa dari cacing Haemonchus contortus isolate local dari kambing dan domba. Antibody yang didapatkan dapat digunakan untuk mendeteksi protein Haemonchus contortus dalam sirkulasi darah sehingga antibody tersebut dapat dikembangkan untuk diagnosis Haemonchus contortus pada ternak kambing dan domba.

Pencegahan Tindakan pencegahan yang bisa dilakukan adalah jangan menggembalakan ternak terlalu pagi, pemotongan rumput sebaiknya dilakukan siang hari, pengobatan secara teratur dan mengurangan pencemaran tinja terhadap pakan dan air minum.

Pengobatan Pengobatan yang bisa diberikan berupa kelompok benzilmidazole, antara lain albendazole dengan dosis 5-10 mg/kg bb, mebendazole dengan dosis 13,5 mg/kg bb, dan thiabendazole dengan dosis 44-46 mg/kg bb. Albendazole dilarang dipakai pada 1/3 kebuntingan awal. Mebendazole dan thiabendazole aman untuk ternak bunting, tapi thiabnedazole sering menyebebkan resistensi. Pemberian daun nenas segar maupun serbuk daun nenas kering menurunkan jumlah telur cacing Haemonchus contortus pada feses kambing PE sampai 45% namun efektifitas anthihelmentiknya menurun dengan cepat. Efektifitas pemberian atau frekuensi pemberian maupun kombinasi keduanya.

Laporan Pemeriksaan Ternak Klinik Interna

Page | 15

DAFTAR PUSTAKA
Kodyman, F.N., H.D. Scaling., M.A Vanleuwen., S. Mackella. And J.F Huntley. 2000. Protection in Lambs Vaccinated with Haemonchus contortus antigens is age Related and Corellates with IgE rather than IgGI Antibody. Parasite. Immunonal; 22(1):13-20 Mufasirin, N.D.R Lastuti, dan LS. Hamid. 2002. Identifikasi dan produksi antibody poliklonal protein spesifik eksresi-eksresi cacing Haemonchus contortus untuk diagnosis haemonchosis pada domba dan kambing. Laporan Penelitian DUE-Like Batch III tahun 2002, FKH, Unair. Surabaya. Dakkak, A.J. Floramenti, L. Bueno. 1981. Haemonchus contortus third stage larvae in sheep kinetics of arrival into abomasums and transformation during rumino-omasal transit. Researchin Veterinary Science 31:384-385. Panjaitan. T dan Astutu, L.G.S. 2009. Pengendalian Infestasi Cacing Haemonchus contortus Menggunakan Daun Nenas Pada Kambing PE. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat. Mataram Walser, K. 1990. Herz und Kreislaufsystem, Atmung, Blut, Nieren, Dalam: Walser K, and H. Bostedt (Eds.): Neugeborenen- und Saeuglingskunde der Tiere. Ferdinan Enke Velag. Stuttgart. Pp. 4-23. Bostedt, H. 1990. Erkrangkungen bei Schaf-und Ziegenlaemmen. Dalam: Walser K and H, Bostedt (Eds): Neugeborenen-und Saeulingskunde der Tiere. Ferdinand Enke Verlag, Stuttgart. Hal: 336-413. Frandson, R.D. 1993. Darah dan cairan Tubuh Lainnya. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Edisi ke 4 Gajah Mada University Press. Widjajkusuma, R dan H. Sikar. 1986. Fisiologi Hewan. Laboratorium Fisiologi dan Farmakologi FKH IPB. Bogor Mitruka, B.M and H.M Rawnsley. 1977 Clinical Biochemical and Hematogical Reference Valuesin Normal Exsperimental Animals. Mason Publishing. U.S.A