P. 1
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BIDANG PERTANAHAN

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BIDANG PERTANAHAN

|Views: 948|Likes:
Dipublikasikan oleh SAEFUL
Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) menjadi isu utama dalam program dan orientasi pembangunan nasional dewasa ini. Mencuatnya model pembangunan yang berbasis komunitas ini tidak hanya didasarkan pada pengalaman kegagalan strategi dan kebijakan pembangunan nasional pada masa lalu, tetapi juga pengalaman negara-negara maju yang kemudian mendorong terjadinya reorientasi dan perubahan paradigma pembangunan dari ekonomi sebagai sentral (capital centered development) kepada manusia sebagai pusat utama pembangunan (people centered development).
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia itu sendiri yaitu sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2006 yang semula hanya merupakan lembaga yang bertugas dalam bidang pengadministrasian pertanahan menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam penyusunan kebijakan nasional, regional dan sektoral di bidang pertanahan. Salah satu kebijakan di bidang pertanahan yang menjadi prioritas dalam penyusunannya adalah kebijakan mengenai pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan.
Pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sumber daya tanah sebagai sumber kehidupan
Pemberdayaan masyarakat (community empowerment) menjadi isu utama dalam program dan orientasi pembangunan nasional dewasa ini. Mencuatnya model pembangunan yang berbasis komunitas ini tidak hanya didasarkan pada pengalaman kegagalan strategi dan kebijakan pembangunan nasional pada masa lalu, tetapi juga pengalaman negara-negara maju yang kemudian mendorong terjadinya reorientasi dan perubahan paradigma pembangunan dari ekonomi sebagai sentral (capital centered development) kepada manusia sebagai pusat utama pembangunan (people centered development).
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia itu sendiri yaitu sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2006 yang semula hanya merupakan lembaga yang bertugas dalam bidang pengadministrasian pertanahan menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam penyusunan kebijakan nasional, regional dan sektoral di bidang pertanahan. Salah satu kebijakan di bidang pertanahan yang menjadi prioritas dalam penyusunannya adalah kebijakan mengenai pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan.
Pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat dengan mendorong, memotivasi dan membangkitkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sumber daya tanah sebagai sumber kehidupan

More info:

Published by: SAEFUL on Jul 04, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial
Harga Terdaftar: $0.99 Beli Sekarang

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

12/23/2014

$0.99

USD

pdf

text

original

SAEFUL ZAFAR

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT BIDANG PERTANAHAN (Paradigma Baru Pengelolaan Pertanahan di Indonesia)

Penerbit Pustaka Alzafri

JUDUL BUKU Oleh: (Saeful Zafar) Copyright © 2012 by (Saeful Zafar)

Penerbit (Pustaka Alzafri) (foel_z@yahoo.com)

Desain Sampul: (Saeful Zafar)

Diterbitkan melalui: www.nulisbuku.com

ii

Putriku Najma Hanin Fadia Sari dan Putraku Aqil Maula Alzafri yang selalu mendukung dan mendoakan setiap langkah dan tindakanku iii .Terima kasih untuk istriku Rina Setiyawati.

Penulis sangat menyadari bahwa tulisan ini masih memiliki kekurangan dan kelemahan. penulis telah menyelesaikan penyusunan sebuah buku yang mengupas tentang pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan. Buku ini memuat dan membahas tentang konsep pemberdayaan masyarakat dibidang pertanahan yang dalam pelaksanaannya melalui kegiatan kerjasama lintas sektor. baik dari segi penulisan maupun dalam penyajiannya. pemberian asistensi dan fasilitasi pemberdayaan masyarakat. Jakarta. Besar harapan penulis setelah membaca buku pembaca dapat membuka wawasan dan memberikan pemahaman tentang kaidah-kaidah dasar dalam pelaksanaan kegiatan di Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan. peningkatan partisipasi masyarakat di bidang pertanahan dan pemberdayaan masyarakat dalam tugas pertanahan lainnya. oleh karena itu kami sangat mengharapkan masukan dari semua pihak sebagai perbaikan di masa mendatang. Pebruari 2012 Saeful Zafar iv .KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT. yang merupakan sebuah amanat dari reformasi pertanahan / reforma agraria.

.......... 29 PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN MELALUI KERJASAMA LINTAS SEKTOR ................... v DAFTAR TABEL .. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat .. 1 I.............2................................................................ Prinsip Dasar Dalam Pemberdayaan Masyarakat ......... 1 I........... ........1.......... Program Pemberdayaan Masyarakat Lintas Sektor di Bidang Pertanahan Dan Tahapan Pelaksanaannya ............ Program Pemberdayaan Masyarakat dan Implementasinya dalam Program /Kegiatan Pertanahan ........................DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ..........1.................................................. iv DAFTAR ISI ............ 63 v II............................................ 23 I................. Format dan Pola Kerjasama di Bidang Pertanahan ... ix I............................................ Unsur-Unsur Pendukung Pemberdayaan Masyarakat ............2...... 52 II...... 49 II.... 49 II..... viii DAFTAR GAMBAR ....................3..... KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ............3....

. Asistensi dan Fasilitasi Akses Personal ..........4..... 71 III......... Asistensi dan Fasilitasi Akses Kelembagaan......................... Inventarisasi Masyarakat Marjinal dan Potensi Pemberdayaannya.............. 92 IV.4.109 IV...................1........III............................................. ASISTENSI DAN FASILITASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT ...........125 vi . 92 IV.112 IV............................... Pengertian Asistensi dan Fasilitasi ... Peranan Fasilitator dan Relawan dalam Peningkatan Partisipasi Masyarakat .....................2......... Peranan Kelompok dalam Peningkatan Partisipasi Masyarakat di Bidang Pertanahan . 81 III..5............3.... 71 III........................1 Pengertian Partisipasi Masyarakat ................................... 84 IV.100 IV.2 Strategi Pengembangan Partisipasi Masyarakat ...3..... 82 III.... Indikator Keberhasilan Meningkatnya Partisipasi Masyarakat di Bidang Pertanahan........ PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN ..........................

....1. Pemberdayaan Masyarakat dan LARASITA .... 140 DAFTAR PUSTAKA ...........V.128 V..... 128 V..... Sosialisasi dan Edukasi Pertanahan... 134 V............. Pemberdayaan Masyarakat dalam Tugas Pengelolaan Pertanahan................................................. 143 vii ............. 136 V..................... Pemberdayaan Masyarakat dalam Implementasi Reforma Agraria.......3.4........................2.............................................. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM TUGAS PERTANAHAN LAINNYA ......................

Tipe Partisipasi dan Peran Masyarakat Lokal 67 2 69 127 3 viii .DAFTAR TABEL Tabel 1 Target Nasional Pemberdayaan Masyarakat Melalui Sertipikasi Hak Atas Tanah (SHAT) dalam RPJM 20102014 Realisasi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Melalui Sertipikasi Hak Atas Tanah (SHAT) 2010-2011 Bentuk Partisipasi.

... Pola Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat..DAFTAR GAMBAR Gambar 1............ 34 6.................................................. 20 5. 17 3.. Tahapan Proses Pemberdayaan.... Model Kerjasama Pemangku Kepentingan Pemberdayaan Masyarakat . Diagram Konsep Kerjasama .................................................... 18 4....... Pola Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Pertanahan ....................... 53 7....... Struktur Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Pertanahan ...................................... 10 2............. 107 ix ......... Tahapan Kegiatan Penyediaan Akses Reform dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat ...

.

penguasa politik. Dalam model pembangunan yang berpusat pada modal. dan uang menjadi instrumen pokok dalam aktivitas pembangunan. sedangkan keterlibatan manusia hanya menjangkau sebagian kecil golongan yang termasuk ke dalam kelompok pemilik modal.BAB I KONSEP PEMBERDAYAAN MASYARAKAT I. Umum emberdayaan masyarakat (community empowerment) menjadi isu utama dalam program dan orientasi pembangunan nasional dewasa ini. PENGERTIAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT I. dan sebagian kecil kelompok manusia sebagai tenaga P . tetapi juga pengalaman negara-negara maju yang kemudian mendorong terjadinya reorientasi dan perubahan paradigma pembangunan dari ekonomi sebagai sentral (capital centered development) kepada manusia sebagai pusat utama pembangunan (people centered development). mesin.1. Mencuatnya model pembangunan yang berbasis komunitas ini tidak hanya didasarkan pada pengalaman kegagalan strategi dan kebijakan pembangunan nasional pada masa lalu. teknologi.1.1. para ahli.

Ketiadaan akses terhadap sumber-sumber tersebut menyebabkan masyarakat umum tidak dapat menikmati berbagai macam kesempatan seperti ekonomi (pekerjaan).produksi. Pada akhirnya. Pembangunan adalah proses dari anggotaanggota suatu masyarakat yang meningkatkan kapasitas perorangan dan institusional mereka untuk memobilisasi dan mengelola sumberdaya untuk menghasilkan perbaikan-perbaikan yang berkelanjutan dan merata dalam kualitas hidup sesuai dengan aspirasi mereka. Sementara itu. pasif. Hanya rakyat sendiri yang bisa menentukan apa yang 2 . Definisi di atas menekankan bahwa proses dan fokus pembangunan pada hakikatnya terletak pada kapasitas perorangan dan institusional. manusia yang kehilangan jiwa. pembangunan dianggap lebih dari sekadar hasil ekonomi yang tumbuh dengan sederhana dan tidak terbagi-bagi. Korten (2001) mendefinisikan pembangunan berpusat kepada manusia sebagai berikut. dan tidak berdaya (powerless). Dalam model ini. inisiatif. politik. pembangunan harus memertimbangkan asas keadilan. model pembangunan yang berpusat pada manusia (people centered development) menempatkan manusia sebagai inisiator dan tujuan pembangunan itu sendiri. strategi pembangunan semacam ini menciptakan dehumanisasi. pendidikan. keberlanjutan. pelayanan sosial dan pelayanan publik lainnya. dan ketercakupan. Oleh karena itu.

diperlukan komitmen yang kuat dari masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan suatu kondisi yang berpihak pada kepentingan kesejahteraan rakyat. yaitu perubahan struktural. 3 . Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat diberbagai sektor kehidupan. akan gagal. dan pembaharuan. Secara konseptual. pengembangan kelembagaan. pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Untuk mengaktualisasikan perubahan tersebut. Sebagaimana dikemukakan Paiva (1993). Namun. ada empat aspek penting yang diperlukan untuk mendukung tercapainya upaya pemberdayaan masyarakat.sebenarnya mereka anggap sebagai perbaikan dalam kualitas hidup mereka. pengintegrasian sosial ekonomi. perubahan orientasi tersebut bukan berarti dapat berjalan dengan sendirinya. Hal ini berarti bahwa pemberdayaan individu tanpa disertai dengan perubahan keempat aspek di atas. Berakhirnya era kekuasaan Orde Baru diharapkan akan mengubah model dan orientasi program-program pembangunan dari yang mengandalkan kekuatan ekonomi dan peran sentral para pemilik modal ke arah model pembangunan yang berbasis kerakyatan (pemberdayaan masyarakat).

kemampuan 2. Montagu & Matson (Suprijatna. 1. 4. setiap anggota masyarakat berinteraksi satu sama lain berdasarkan hubungan pribadi atau kelompok. 7. secara bertahap akan memperoleh daya. 4 . komunitas memberi makna kepada anggota. kekuatan atau kemampuan yang bermanfaat dalam proses pengambilan keputusan secara mandiri. 3. 6.Kemandirian masyarakat dapat dicapai tentu memerlukan sebuah proses belajar. The Good Community and Competency itu adalah. 2000) mengusulkan konsep The Good Community and Competency yang meliputi sembilan konsep komunitas yang baik dan empat komponen kompetensi masyarakat. adanya heterogenitas/beda pendapat. distribusi kekuasaan secara adil dan merata sehingga setiap orang mempunyai berkesempatan dan bebas memiliki serta menyatakan kehendaknya. yaitu memiliki kewenangan dan kemampuan untuk mengurus kepentingannya sendiri secara mandiri dan bertanggung jawab. komunitas memiliki kebebasan atau otonomi. memiliki vialibilitas yaitu memecahkan masalah sendiri. 5. kesempatan setiap anggota masyarakat untuk berpartsipasi aktif untuk kepentingan bersama. Masyarakat yang mengikuti proses belajar yang baik.

Melengkapi sebuah komunitas yang baik perlu ditambahkan kompetensi yang harus dimiliki masyarakat yaitu. dan kesejahteraannya. 2. dan mampu mengontrol diri dan lingkungannya. mampu memberikan kontribusi positif dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. masalah dan mampu mencapai kesempatan tentang sasaran yang hendak dicapai dalam skala prioritas. baik secara individu maupun berkelompok. 3. 4. Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/ meningkatkan kapasitas masyarakat. 2008) yaitu : 5 . sebagai berikut: 1. dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup.8. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang lebih besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai. yang dapat dilakukan melalui tiga pendekatan (Munandar. 9. pelayanan masyarakat ditempatkan sedekat dan secepat mungkin kepada yang berkepentingan. kemandirian. Sedang pelaksanaan proses dan pencapaian tujuan pemberdayaan dilakukan dan dicapai melalui penerapan strategi pemberdayaan. adanya konflik dan manajemen konflik. mampu mengidentifikasi kebutuhan komunitas.

aksi sosial. lobi.1. Pendidikan dan pelatihan. 2. keterampilan. intervensi krisis. dan sikap individu agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya. stress managemet. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. 3. Pendekatan makro. Model ini sering disebut pendekatan yang berpusat pada tugas (task centered approach). Pemberdayaan dilakukan terhadap individu melalui bimbingan. pengorganisasian dan pengembangan masyarakat. tujuan dan output yang ingin dicapai. Pendekatan mikro. karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas seperti perumusan kebijakan. Adapun dalam upaya pemberdayaan secara umum ada banyak metode yang dapat diterapkan dimana perbedaannya lebih dipengaruhi oleh pendekatan. Pendekatan ini disebut strategi sistem besar (large-system strategy). dinamika kelompok. Pendekatan mezzo. Beberapa contoh metode pemberdayaan masyarakat yang biasa diterapkan diantaranya : 6 . kampanye. pengetahuan. biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran. konseling. merupakan beberapa strategi dalam pendekatan ini. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih individu dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. perencanaan sosial.

1. Metode Burung Elang Metode burung elang berkaitan dengan pelaksanaan birokrasi yang dalam praktek memahami suatu kegiatan, selalu melihat dari atas sehingga metode penglihatan yang top down ini cenderung memahami masalah secara kurang tepat, cenderung tergenalisir karena tergantung kepada kemampuan seberapa tinggi si burung itu terbang dalam hal ini adalah para pemegang kekuasaan. Kondisi ini secara filosofi diadaptasi dari beberapa sifat atau karakteristik yang dimiliki oleh seekor burung elang yaitu : (1) mampu terbang selama beberapa hari dengan memanfaatkan arah angin (tanpa perlu sering mengepakkan sayap), sifat ini menggambarkan suatu kondisi yang cenderung ingin memanfaatkan kondisi disekitarnya untuk kenyamanan dirinya tanpa mau berupaya terlalu keras ; (2) selalu fokus dalam memilih mangsa yang enak, sifat ini menggambarkan tentang suatu kebiasaan mengejar sesuatu secara serius jika ada untungnya saja. Sebaliknya jika dilihat tidak ada sesuatu yang menguntungkan maka dirinya hanya menyikapi secara santai atau ala kadarnya saja ; (3) mampu mengenali bumi lebih luas, tapi kurang mendalam, sikap ini cenderung menggambarkan pada kebiasaan yang berkembang di kalangan sebagian pejabat yang lebih banyak merasa banyak tahu dibanding tahu
7

banyak. Bedanya “banyak tahu” lebih mencerminkan suatu wawasan yang sifatnya lebih kepada pengetahuan secara umum saja, sedangkan “tahu banyak” menunjukkan tingkat mendalam penguasaan atas satu persoalan, oleh karena itu mereka memahami masalah tersebut sudah bisa sampai kepada taraf ilmu pengetahuan. 2. Metode Cacing Tanah Metode cacing tanah adalah suatu model yang cukup baik dalam memahami masalah, maknanya adalah memahami sesuatu dengan membaui atau merasakan secara langsung bukan hanya melihat permukaannya saja, sehingga masalah yang dirasakan oleh subjek atau penerima manfaat dapat dipahami dengan penuh empati. Makna membaui masalah, berarti memahami masalah dari dalam sehingga target yang ingin dicapai menjadi lebih jelas termasuk hasil apa yang ingin diperoleh. Kedua metode ini sebenarnya sah-sah saja digunakan sebagai suatu stategi. Hanya permasalahannya kemudian adalah bahwa tidak jarang di antara kita mempraktekkan sebuah metode bukan didasarkan pada tuntutan yang ada di lapangan, tetapi lebih didasarkan kepada kemudahan dalam pelaksanaan, sehingga lebih pada suatu pemenuhan kewajiban semata-mata tanpa mempertimbangkan hasil yang akan dicapai sebagai tujuan dari sebuah kegiatan yang diajalankan. Disamping itu kedua metode tersebut masih perlu
8

dijabarkan lagi kedalam berbagai strategi operasional yang lebih aplikatif sehingga dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan suatu kegiatan pemberdayaan masyarakat. I.1.2. Filosofi Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan masyarakat merupakan sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat “people-centered, participatory, empowering, and sustainable” (Chamber et.al, 1995) dapat dikatakan pemberdayaan didefinisikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan. Pemberdayaan merupakan sebuah “proses menjadi” bukan sekadar “proses instan” dimana didalamnya terdapat 3 (tiga) tahapan yakni : 1. 2. 3. Penyadaran; Pengkapasitasan; dan Pendayaan.

Secara sistematis 3 (tiga) proses tersebut dapat diilustrasikan sebagaimana pada Gambar. 1 berikut :

9

hal ini dikarenakan goal setting dari proses ini adalah peningkatan kesejahteraan mereka. 1.3. Penyadaran 2. Pengkapasitasan Pendayaan Gambar. 1 : Tahapan Proses Pemberdayaan. Tahap pertama adalah penyadaran dimana masyarakat diberikan pemahaman terkait pentingnya proses pemberdayaan guna peningkatan kapasitas/kemampuan mereka menjadi lebih baik. Kondisi ini sangat spesifik sehingga harus mengutamakan keinginan dan kehendak masyarakat sehingga pihak-pihak terkait dalam tahap pertama diatas harus dapat membaca kondisi lapangan dan 10 . Tahap kedua merupakan capacity building yang lebih sederhananya adalah memberikan sesuatu akses terhadap masyarakat terkait dengan peningkatan kemampuan masyarakat yang akhirnya membawa manfaat untuk masyarakat itu sendiri.

Pemberdayaan Pertanahan Masyarakat Bidang Pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan menjadi perhatian khususnya oleh jajaran Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia sejak adanya perubahan yang mendasar akan tugas dan fungsi dari Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia itu sendiri yaitu sejak dikeluarkannya Peraturan Presiden No.potensi wilayah yang akan menjadi sasaran pemberdayaan.1. Tahap ketiga. pendayaan yang dimaksud adalah suatu kondisi dimana masyarakat secara individu dan kelompok yang telah diberikan kemampuan lebih pada tahap ini telah mampu mengelola dan mengatur keunggulan yang spesifik telah mereka terima dalam arti setelah secara internal mereka mengalami proses capacity building dilanjutkan dengan pemberian kewenangan kepada masyarakat secara mandiri sesuai dengan kemampuan mereka.3. sebagai misal pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan perkebunan tentunya akan berbeda dengan pola yang diterapkan kepada masyarakat petambak yang umumnya berada di pesisir pantai. I. 10 Tahun 2006 yang semula 11 . Pengkapasitasan disini adalah dalam upaya memberikan kemampuan lebih baik kepada perorangan maupun masyarakat secara kolektif sebagai sebuah community.

kemandirian masyarakat secara lebih nyata dalam melaksanakan programprogram pertanahan. Dan tujuannya adalah untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap programprogram pertanahan yang meliputi penguasaan. dan pemanfaatan tanan (P4T) dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat (Ruslan. pemilikan. Pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat dengan mendorong. memotivasi dan membangkitkan kesadaran dan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan sumber daya tanah sebagai sumber kehidupan. Adapun maksud dari diselenggarakannya pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk meningkatkan peran serta.hanya merupakan lembaga yang bertugas dalam bidang pengadministrasian pertanahan menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam penyusunan kebijakan nasional. kemampuan. Salah satu kebijakan di bidang pertanahan yang menjadi prioritas dalam penyusunannya adalah kebijakan mengenai pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan. dimana untuk mencapai visi tersebut 12 . kesadaran. regional dan sektoral di bidang pertanahan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan dengan membawa visi untuk “mewujudkan tanah dan pertanahan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat. 2010). yang berkeadilan dan berkelanjutan. penggunaan.

Penataan yang berkeadilan dan bermartabat dalam kaitannya dengan penguasaan. Untuk mencapai kondisi yang ideal dalam proses pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang pengelolaan pertanahan. 3. Penciptaan sumber-sumber baru kemakmuran rakyat. Penataan sistem pengelolaan pertanahan sehingga tidak melahirkan sengketa. Menjamin keberlanjutan sistem kemasyarakatan dengan memberikan akses pada generasi yang akan datang terhadap tanah sebagai sumber kesejahteraan masyarakat. Penguatan lembaga pertanahan untuk mencapai tujuan “Mengelola tanah seoptimal mungkin untuk mewujudkan sebesar-besar kemakmuran rakyat” . penggunaan dan pemanfaatan tanah (P4T). dapat diwujudkan melalui pelaksanakan beberapa tahapan yaitu : 1. pemilikan. konflik dan perkara di kemudian hari. 5. 2. dan pemantapan ketahanan pangan.dijabarkan dalam beberapa misi pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan yaitu : 1. pengurangan kesenjangan pendapatan. 4. Tahap Menentukan Pendekatan Awal Penentuan pendekatan awal merupakan tahapan yang penting dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat karena dilandasi semangat untuk membebaskan masyarakat dari suatu kondisi yang 13 .

membelenggu mereka untuk melepaskan diri kemiskinan. Upaya yang dilakukan antara lain dengan melakukan kerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat misalnya pembentukan kelompok masyarakat sadar tertib pertanahan (pokmasdartibnah). 14 . Sebagai contoh : dalam kegiatan penyuluhan. kemampuan dan hambatan yang dialami. Selain itu pendekatan awal menjadi penting karena menjadi pemandu atau guidance bagi masing-masing pihak dalam pelaksanaan suatu kegiatan. Umumnya pendekatan semacam ini yang diperlukan adalah keadilan sosial. cara menfasilitasinya mirip dengan pengajaran di kelas dimana masyarakat didorong untuk melakukan analisis sendiri atas harapan. Dengan berpihaknya keadilan maka kita diberi kesempatan untuk menerobos kebekuan yang terjadi dengan memberikan penghargaan yang tinggi kepada manusia itu sendiri. Proses ini bisa menemukan bentuk yang tepat dari proses pemberdayaan masyarakat. 2. Tahap Fasilitasi Setelah ditetapkan pendekatan awal. proses menfasilitasi merupakan suatu tahap penting selanjutnya karena dapat melakukan berbagai pilihan metodologis dalam menfasilitasi.

Tahap Perumusan Strategi Perumusan strategi dimaksud untuk menentukan bentuk dari keseluruhan pilihan. 15 . Tahap Pembangunan Komitmen Apabila ketiga tahapan tersebut telah dilakukan dan prosesnya sudah dinikmati sebagai suatu kebutuhan maka tahap berikutnya adalah membangun komitmen secara bersama-sama.3. Dengan adanya perumusan strategi ini diharapkan mampu membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat dengan konsekuensinya ketika pilihan strategi itu diterapkan / dicoba dalam ranah dialogis. khususnya tentang pilihan strategi yang akan dibangun untuk memberdayakan masyarakat. Pilihan strategi yang mana yang dibangun untuk memberdayakan masyarakat diharapkan nantinya mampu untuk membantu daam membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat. Pada aras pemberdayaan sendiri perumusan strategi menentukan bentuk dari keseluruhan pilihan. maka pelibatan pemberdaya dengan subyek penerima manfaat dalam posisi sama kualitas dan kapasitasnya. Ada 2 (dua) urgensi dalam perumusan strategi ini yaitu yang pertama adalah perumusan strategi di tingkat pemberdayaan dan yang kedua adalah pada ruang dialogis antar subyek. 4. Bahkan tidak jarang bahwa strateginya adalah belajar bersama-sama menemukan prosesnya.

maka tahap akhir yang harus dilakukan para pemberdaya adalah melakukan kristalisasi kelembagaan meskipun lembaga yang terbentuk bersifat temporer. 5. Pengembangan kelembagaan dilakukan dalam beberapa bentuk antara lain melakukan pembentukan lembaga formal maupun non formal.antara lain komitmen untuk memberikan semangat membangun nilai-nilai yang akan menjadi sebuah pedoman. serta semangat partisipasi sehingga setiap pihak di lokasi akan memilih untuk melakukan tindakan apa. Dengan menguatnya jati diri dari penerima manfaat maka dengan sendirinya akan meningkatkan posisi sosial mereka dalam struktur sosial masyarakat setempat. dimana di dalam bahasa masyarakat Jawa Tengah sering disebut dengan istilah “diwongke” atau lebih dihargai sebagai bagian dari suatu komunitas sosial. dan bagaimana keterkaitannya dengan komunitas. Tahap Pengembangkan Jati Diri Kelompok Masyarakat Jika komitmen sudah berjalan dengan baik. Adapun untuk memperkuat sistem guna memelihara dinamika dalam kelompok masyarakat adalah dengan memberikan semangat bagi pelakunya untuk menjaga tujuan bersama yang telah disepakati para anggota kelompok tersebut. dalam bentuk apa. bukan hanya sebagai obyek namun juga ikut dilibatkan 16 . dimana.

2011 Gambar.sebagai subjek dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Jika dilihat dari struktur pelaksanaan program pemberdayaan. 2 : Struktur Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pertanahan 17 . maka tanggung jawab pelaksanaan kegiatan pemberdayaan ada di tiap tingkat baik di Pusat maupun didaerah seperti dapat dilihat pada Gambar. 2 berikut : Sumber : Yudistiro.

3 berikut : Gambar 3 : Pola Pemberdayaan Masyarakat Dalam Bidang Pertanahan 18 . Adapun secara umum pola pemberdayaan masyarakat dalam bidang pertanahan dapat dilihat pada Gambar. memotivasi dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimiliki dan berupaya untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi tindakan nyata yang dilaksanakan secara terus menerus hingga masyarakat memperoleh akses terhadap sumber-sumber ekonomi dan sumbersumber kehidupan lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidupnya .Konsep pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan yang selanjutnya disebut dengan pemberdayaan masyarakat menurut Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia adalah upaya untuk membangun kemampuan masyarakat dengan mendorong.

Format/ pola pemberdayaan bagi masyarakat yang berpotensi kuat dan masyarakat yang berpotensi lemah tersebut dilakukan bersamaan sehingga kegiatan pertanahan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dapat dilaksanakan secara menyeluruh untuk mewujudkan kemakmuran seluruh lapisan masyarakat. advokasi dan subsidi silang. partisipasi dan kemitraan/ kerjasama. Masyarakat yang memiliki potensi kuat dalam pengelolaan. penggunaan dan pemanfaatan tanah yang ada pada masyarakat serta hambatan-hambatan yang dihadapi terkait program pemberdayaan masyarakat yang akan diselenggarakan melalui kegiatan pertanahan. Kegiatan pemberdayaan masyarakat pada dasarnya merupakan perwujudan dari konsep Reforma Agraria dalam hal ini dalam penyediaan access reform yang digunakan sebagai instrumen guna meningkatkan taraf hidup para penerima manfaat.Pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan disini dilakukan dengan melihat terlebih dahulu kekuatan potensi dalam pengelolaan. sedangkan untuk masyarakat yang berpotensi lemah adalah dengan pola pendampingan. Secara umum kegiatan penyediaan acces 19 . penggunaan dan pemanfaatan tanah akan berbeda format/ pola pemberdayaannya dengan masyarakat yang memiliki potensi lemah dalam pengelolaan. Format pemberdayaan untuk masyarakat yang berpotensi kuat adalah dengan pola swadaya. penggunaan dan pemanfaatan tanah.

reform sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat terdiri dari beberapa tahapan kegiatan sebagaimana tertuang dalam Gambar. 2011 Gambar. 4 : Tahapan Kegiatan Penyediaan Akses Reform dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat 20 . 4 berikut : Sumber : Yudistiro.

1. dalam tahapan ini kegiatan yang dilakukan adalah dengan memberikan bimbingan teknis kepada 21 . Peningkatan Kapasitas Kelembagaan. dalam tahapan ini jenis kegiatan yang dilakukan adalah social mapping. Pendampingan Usaha. Identifikasi Penerima Manfaat. dalam tahapan ini kegiatan yang dilaksanakan adalah melakukan penumbuhan dan penguatan lembaga ekonomi masyarakat seperti koperasi / kelompok usaha bersama (KUB) baik yang bergerak di on farms. sehingga dapat digunakan sebagai bahan perencanaan program pemberdayaan masyarakat yang lebih komprehensif. dalam tahapan ini pemerintah baik pusat maupun daerah memberikan fasilitasi dalam bentuk kemitraan usaha antara koperasi/kelompok usaha bersama dengan lembaga keuangan dalam hal penyediaan modal serta pemberian supervisi dan pengembangan usaha agar dapat bersaing dan dapat diterima pasar dengan baik. yaitu suatu kegiatan yang bertujuan untuk menemukenali potensi sumberdaya dan modal sosia masyarakat. 3. 4. off farms maupun pemasaran dengan tujuan untuk memberikan berbagai akses yang diperlukan untuk mencapai sasaran yang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan. dan untuk mengenal stakeholder/pemangku kepentingan yang berpotensi untuk diajak bekerjasama. Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia. 2.

Pengembangan Diversifikasi Usaha. 7. Penguatan Basis Data. pengurangan resiko dan perlindungan Sumber Daya Alam. 6. 5. peningkatan kemampuan manajerial dan pengembangan diversifikasi usaha bagi penerima manfaat dan keluarga.para penerima manfaat yang bertujuan untuk : meningkatkan ketrampilan teknis usaha produktif. identifikasi calon penerima akses permodalan dan pendampingan para penerima akses permodalan. secara umum kegiatan pemberian fasilitasi permodalan didahului melalui sosialisasi akses permodalan kepada masyarakatan. tahapan sangat penting dilakukan yaitu dengan melakukan perekaman berbagai kegiatan yang dilaksanakan untuk dijadikan sebagai basis data yang sangat diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi lebih lanjut. Fasilitasi Permodalan. 22 . tahapan ini adalah kelanjutan dari kegiatan pemberian bimbingan tehnis dimana tujuan dari diversifikasi usaha itu sendiri adalah : untuk pengembangan usaha.

dari kehidupan sehari-hari yang tidak memikirkan masa depannya. adapun untuk dapat mewujudkan kondisi tersebut ada beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan yaitu : I. Penyadaran berarti bahwa masyarakat secara keseluruhan menjadi sadar bahwa mereka mempunyai tujuan-tujuan dan keinginan yang apabila di kelola dengan baik diharapkan masyarakat akan dapat mulai menemukan peluang-peluang dan memanfaatkannya dari sumberdaya-sumberdaya yang ada disekitarnya yang barangkali tidak pernah dipikirkan orang. sehingga mampu 23 .2. PRINSIP DASAR DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Tujuan dari pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan adalah untuk memotivasi dan menfasilitasi masyarakat guna memperbaiki diri. orang harus dibangunkan dari tidurnya. Masyarakat yang sadar menjadi semakin tajam dalam berfikir untuk mengetahui apa yang sedang terjadi baik di dalam maupun diluar lingkungan masyarakat. komunitas dan lingkungannya sehingga mampu mengontrol / menguasai kehidupannya melalui pemanfaatan tanah untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Demikian juga masyarakat harus dibangunkan dari “tidur” ketertinggalannya.2.I.1. Penyadaran Untuk dapat maju atau melakukan sesuatu aktivitas.

Namun perlu juga adanya pelatihan untuk mengetahui tentang bagaimana cara memanfaatkan jasa bank khususnya pengetahuan mengenai bagaimana memiliki rekening bank dan kegunaan kredit atau cara memperoleh pinjaman dari bank untuk mendukung modal usaha yang dimilikinya.2. menulis dan berhitung saja. tetapi juga meningkatkan ketrampilan-ketrampilan pertanian.merumuskan apa yang dibutuhkan sesuai dengan aspirasinya sendiri. Pengorganisasian mengacu kepada sebuah aktifitas. perikanan. Pengorganisasian Istilah pengorganisasian masyarakat mengandung pengertian yang luas dari kedua akar katanya. istilah ini disusun dari kata pengorganisasian dan masyarakat. sedangkan masyarakat tidak hanya 24 .3. Pelatihan Pelatihan atau pendidikan bukan hanya belajar membaca. industri dan lain-lain. peternakan. kerumah tanggaan.2.2. I. Pelatihan ini dapat dilakukan melalui berbagai pertemuan informal misalnya diskusi kelompok yang membahas tentang berbagai permasalahan yang dihadapi kelompok masyarakat tersebut. Melalui pelatihan yang intensif diharapkan kesadaran masyarakat semakin berkembang dimana ide besar yang terkandung dibalik pelatihan bagi masyarakat adalah bahwa pengetahuan menganggarkan kekuatan. I.

Dengan demikian mengorganisasikan masyarakat sebenarnya merupakan akibat logis dari analisis tentang apa yang terjadi dan menyangkut cara pandang (paradigma) terhadap ketidak adilan dan penindasan di sekitar kita. sehingga akan menjadi aneh jika kemudian pengorganisasian masyarakat justru hanya meningkatkan kapasitas pelakunya namun bukan masyarakatnya. Adapun pengorganisasian kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat adalah tindakan sosial dimana penerima manfaat seluas komunitas mengorganisasikan dirinya dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif untuk memecahkan masalah sosial atau memenuhi kebutuhan sosial sesuai dengan kemampuan dan sumberdaya yang dimilikinya. Contoh : sebagaimana yang sering kita lihat bahwa banyak sekali lembaga atau institusi pengembangan organisasi masyarakat justru menemukan keuntungan dari “penderitaan” masyarakat yang diberdayakannya. 25 .sekedar mengacu pada perkauman (community) yang khas namun dalam konteks ini memiliki makna yang lebih luas yaitu mengacu kepada pengertian masyarakat sebagai suatu social society atau lingkungan sosial pada umumnya. Dengan demikian visi pengorganisasian masyarakat mengacu kepada seluas aktifitas yang diorientasikan kepada peningkatan kualitas dari tujuan aktifitas tersebut dalam hal ini kualitas masyarakat.

Oleh karena itu ada proses dan tujuan.Inti dari pengorganisasian dan pemberdayaan adalah suatu proses dan tujuan untuk melakukan upaya-upaya bersama dalam memantaskan kapasitas masyarakat.  Membangun sebuah institusi yang secara demokratis diawasi oleh seluruh anggota. birokrasi. kami tidak punya 26 .  Menemu-kenali penyelesaian-penyelesaian yang diinginkan terhadap ancaman-ancaman yang ada.  Menyusun sasaran / tujuan yang harus dicapai. I. perangkat yang ada agar proses penyelesaian yang dipilih menjadi mungkin dilakukan.2. Salah satu hal yang ingin dicapai dalam pengorganisasian masyarakat adalah membangun kekuatan dengan melibatkan anggota masyarakat sebanyak mungkin melalui proses-proses antara lain :  Menemu-kenali ancaman yang ada secara bersama.  Menemu-kenali orang-orang dan struktur. Upaya ini dimaksudkan untuk menjadikan masyarakat penerima manfaat memiliki kesempatan yang sama dengan kelas/kelompok sosial lain. Pengembangan kekuatan Masyarakat yang belum memiliki kesadaran akan potensi kekuatan yang dimilikinya akan selalu berkata ”kami tidak bisa.4. untuk bisa mencapau kehidupan yang lebih baik. maka pemberdayaan masyarakat harus bisa disistenatisasikan serta dijelaskan target-target yang ingin dicapainya.

sedangkan tanah mempengaruhi manusia melalui output dan space-nya.2. Sebab masyarakat dan tanah merupakan dua unsur di bumi yang saling mempengaruhi. Kondisi ideal dari masyarakat dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan pelaksanaan program-program yang akan dijalankan harus sesuai dengan rencana yang telah ditentukan 27 . Tetapi perlu ditekankan bahwa kekuatan itu benarbenar dari masyarakat. dan harus dapat mengontrol kekuasaan para pemimpinnya. I. setengah perjuangan untuk pembangunan sudah dimenangkan. demikian pula halnya dengan pertanahan. Bila masyarakat mempunyai kekuatan. Dengan adanya masyarakat yang percaya diri maka mereka akan dapat menentukan nasib mereka dari tangan mereka sendiri. uang. tehnologi dan lain-lain.5. Untuk penyadaran akan potensi diri yang dimilikinya sangat diperlukan bagi terciptanya masyarakat yang berdaya yang memiliki kepercayaan pada dirinya sendiri sehingga mereka tidak akan mengatakan lagi.kekuatan”. Membangun dinamika Masyarakat bersifat dinamis. hanya digunakan sebagai sarana perubahan sikap. Masyarakat mempengaruhi tanah melalui penggunaan dan pemanfaatan tanah. Pada kondisi ini bantuan yang bersifat fisik. “kami tidak bisa” tetapi mereka akan berkata “kami bisa” dan “kami mampu”. Oleh karena itu dinamika masyarakat akan menyebabkan terjadinya dinamika pertanahan.

3. dalam artian sumber segala keputusan yang diambil harus berasal dari dalam lingkup masyarakat sendiri. Untuk dapat memenuhi kriteria sebagai masyarakat yang berdaya di bidang pertanahan perlu dilakukan suatu perlakuan khusus yaitu kegiatan pemberdayaan masyarakat menurut portofolio Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yaitu kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan berbasis pada pemanfaatan asset / tanah yang dimilikinya.dan diputuskan sendiri. pemilikan. menciptakan keberlanjutan system kemasyarakatan. meningkatkan tatanan kehidupan bersama yang lebih berkeadilan dalam kaitannya dengan penguasaan. Jika hal ini telah terbangun maka berbagai dinamika yang terjadi dalam pelaksanaan programprogram pemberdayaan masyarakat akan selalu dapat terkontrol oleh masyarakat itu sendiri. Hal ini sesuai dengan prisip bahwa suatu keputusan harus diambil sedekat mungkin dengan tempat pelaksanaan atau tepat sasaran. 2. penggunaan dan pemanfaatan tanah. meningkatnya kesejahteraan rakyat dan melahirkan sumber-sunber baru kemakmuran rakyat. bukan diluar masyarakat tersebut. Adapun prinsip-prinsip yang harus dipenuhi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan adalah : 1. kebangsaan dan kenegaraan Indonesia dengan memberikan akses seluas28 .

Unsur-Unsur Pendukung Pemberdayaan Masyarakat Unsur-unsur pendukung masyarakat pada umumnya adalah: pemberdayaan 1. dan 4. Menyediakan ruang partisipasi bagi masyarakat.3.1.3. Inklusi berfokus pada pertanyaan siapa yang diberdayakan. Partisipasi masyarakat miskin dalam menetapkan prioritas pembangunan pada tingkat nasional maupun daerah diperlukan guna 29 . Inklusi dan Partisipasi. dalam pembangunan adalah memberi mereka otoritas dan kontrol atas keputusan mengenai sumber-sumber pembangunan. sedangkan partisipasi berfokus pada bagaimana mereka diberdayakan dan peran apa yang mereka mainkan setelah mereka menjadi bagian dari kelompok yang diberdayakan. menciptakan tatanan kehidupan bersama secara harmonis dengan mengatasi berbagai sengketa dan konflik pertanahan di seluruh tanah air. sumber ekonomi dan sumber-sumber produksi kepada generasi yang akan datang. STRATEGI DAN LANGKAH DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT I. I.luasnya terhadap sumber daya agrarian (tanah). UNSUR-UNSUR PENDUKUNG. khususnya masyarakat miskin.

menjamin bahwa sumber daya pembangunan (dana. mendorong pembentukan Pokmasdartibnah (Kelompok Masyarakat Sadar Tertib Pertanahan) oleh masyarakat. Kedua. oleh sebab itu mekanisme resolusi konflik kepentingan harus dikuasai oleh pemerintah guna mengelola ketidak-sepakatan. Partisipasi yang keliru adalah melibatkan masyarakat dalam pembangunan hanya untuk didengar suaranya tanpa betul-betul memberi peluang bagi mereka untuk ikut mengambil keputusan. Beberapa contoh ruang partisipasi yang dibuka kepada masyarakat dalam pengelolaan pertanahan. Keakraban antara Pokmasdartibnah dengan Kantah (Kantor Pertanahan) akan membuktikan kebenaran dan perwujudan Agenda Pertama dari Sebelas Agenda BPN-RI. seperti dalam hal: Pertama. yang akan berpartisipasi dalam pengelolaan pertanahan. yang dilakukan bersama-sama secara terkoordinir oleh pemilik tanah dan tetangga batasnya. pemasangan tanda batas. tenaga ahli. prasarana/sarana. Pengambilan keputusan yang partisipatif tidak selalu harmonis dan seringkali ada banyak prioritas yang harus dipilih. dll) yang terbatas secara nasional maupun pada tingkat daerah dialokasikan sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masyarakat miskin tersebut. yaitu "Membangun 30 .

program dan kinerja pemerintah. yang berbasis pada status Pokmasdartibnah yang swadaya. budaya dan jarak. ketentuan tentang pelayanan umum. dan swadana. perkembangan permintaan dan penawaran pasar. dan membuat pemerintah dan pihak-pihak lain yang 31 . adalah aliran informasi yang tidak tersumbat antara masyarakat dengan masyarakat lain dan antara masyarakat dengan pemerintah. Unsur ke dua. yang memberi ruang partisipasi kepada masyarakat. menggunakan hak-haknya. Masyarakat pedesaan terpencil tidak mempunyai akses terhadap informasi tersebut. Akses pada Informasi. swakelola. akses pada informasi. Stimulus inilah yang direspon oleh Pokmasdartibnah. Masyarakat yang informed. mempunyai posisi yang baik untuk memperoleh manfaat dari peluang yang ada. dengan memberi kinerja yang dapat mendukung pencapaian tujuan pengelolaan pertanahan oleh BPN-RI. Keakraban ditandai oleh adanya peran Pokmasdartibnah dalam pengelolaan pertanahan. Informasi meliputi ilmu pengetahuan.kepercayaan masyarakat”. memanfaatkan akses terhadap pelayanan umum. hak dan kewajiban dalam bermasyarakat. 2. karena adanya hambatan terhadap bahasa. dsb. Peran Pokmasdartibnah juga diawali oleh adanya stimulus dari BPN-RI dan Kantah.

untuk mendengarkan. lebih mampu membuat suaranya terdengar dan kebutuhannya terpenuhi. Masyarakat yang organized. Profesionalitas Pelaku Pemberdayaan. memobilisasi sumber-sumber daya yang ada untuk menyelesaikan masalah bersama. Kapasitas organisasi lokal adalah kemampuan masyarakat untuk bekerja bersama. yaitu aparat pemerintah atau LSM. mendampingi dan melakukan tindakan yang diperlukan untuk melayani kepentingan masyarakat. 4. mengorganisasikan perorangan dan kelompok-kelompok yang ada di dalamnya. Kapasitas Organisasi Lokal.terlibat bersikap akuntabel atas kebijakan dan tindakan yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pelaku pemberdaya juga harus mampu mempertanggungjawabkan kebijakan dan tindakannya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Profesionalitas pelaku pemberdaya adalah kemampuan pelaku pemberdaya. memahami. Keempat unsur tersebut sangat diperlukan untuk menunjang pelaksanaan strategi dan langkah dalam mengakselerasi pemberdayaan masyarakat khususnya di bidang pertanahan 32 . 3.

adapun pola kerjasama tersebut seperti pada gambar 5 berikut : 33 . namun beberapa strategi dianggap tepat yang telah menjadi kesimpulan dalam Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat BPN R.3.2. Strategi dan Langkah dalam Akselerasi Pemberdayaan Masyarakat Berbagai rumusan strategi sebenarnya dapat dipergunakan dalam mengakselerasi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Strategi 1 : Agar berhasil.I. pada tanggal 20 Agustus 2011 adalah : 1. pemberdayaan masyarakat harus dijalankan dengan membangun kerjasama sinergis dengan para pihak Sebagai sebuah kegiatan yang multi sektor dan memiliki karakteristik yang beragam maka membangun kerjasama dengan berbagai sektor pemangku kepentingan (stakeholders) sangat diperlukan.I.

Sumber : Lokakarya Pemberdayaan Masyarakat BPN RI, 2011

Gambar. 5 :

Model Kerjasama Pemangku Kepentingan Pemberdayaan Masyarakat

2. Strategi 2 : Redistribusi pemilikan dan penguasaan tanah serta legalisasi asset (Asset Reform) merupakan penggerak utama pemberdayaan masyarakat 3. Strategi 3 : Access Reform mendorong secara signifikan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Access Reform dapat ditempuh melalui aneka jenis kegiatan fasilitasi seperti : - peningkatan infrastruktur - pelatihan - penyuluhan - fasilitasi dukungan tehnologi pasca panen
34

- fasilitasi permodalan - fasilitasi pemasaran / tata niaga. 4. Strategi 4 : Pemberdayaan masyarakat harus bertumpu atau berlandaskan pada menguatnya organisasi rakyat. Sehingga penguatan kelembagaan masyarakat subjek Reforma Agraria merupakan syarat penting yang harus dipenuhi. Dalam konteks ini lembaga yang dibangun tak harus merupakan lembaga baru 5. Strategi 5 : Melakukan penerapan langkahlangkah strategis pemberdayaan masyarakat dalam konteks Reforma Agraria yang meliputi : a. Pemetaan Sosial (Social Mapping) Pemetaan Sosial adalah satu kegiatan yang dilakukan untuk menggali dan menemukan kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat atau disebut juga sebagai kegiatan orientasi sosial dan wilayah sasaran program pemberdayaan masyarakat pemetaan sosial dapat disebut juga sebagai social profilling atau “pembuatan profil suatu masyarakat”. Kondisi sosial budaya yang perlu digali dan ditemukan atau perlu diorientasi adalah mencakup beberapa kondisi sebagai berikut : 1) Nilai-nilai apakah yang dianut oleh masyarakat secara dominan, yang mampu menggerakkan masyarakat;

35

2) Kekuatan-kekuatan sosial apakah yang mampu mendatangkan perubahanperubahan sehingga masyarakat dapat berubah dari dalam diri mereka sendiri; 3) Karakter dan karakteristik masyarakat, khususnya dalam menyikapi intervensi sosial; 4) Seperti apakah pola informasi, komunikasi yang terjadi di tengah masyarakat, baik penyebaran informasi maupun dalam kerangka pembelajaran; 5) Media-media seperti apakah dan sumber belajar apakah yang digunakan dan diyakini masyarakat sebagai sarana informasi dan pembelajaran 6) Faktor-faktor lingkungan apakah yang berpengaruh terhadap sikap dan perilaku masyarakat Tujuan dari dikenalinya berbagai kondisi tersebut dalam kegiatan social mapping ini adalah : 1) Sebagai langkah awal pengenalan lokasi sasaran program dan pemahaman fasilitator terhadap kondisi masyarakat sasaran program; 2) Untuk mengetahui kondisi masyarakat sasaran program; sosial

36

aksesibilitas lokasi. mata pencaharian. karakteristik masyarakat. Keluaran atau output dengan dilaksanakan kegiatan social mapping. adat istiadat. 5) Sebagai acuan dasar untuk mengetahui terjadinya proses perubahan sikap dan perilaku pada masyarakat sasaran program. dll. pendidikan. komposisi penduduk menurut usia. 2) Data Geografi: topografi. pengaruh lingkungan geografis terhadap kondisi sosial masyarakat.3) Sebagai dasar pendekatan dan metoda pelaksanaan program melalui sosialisasi dan pelatihan. 3) Data psikografi: nilai-nilai dan kepercayaan yang dianut. mitos. motif yang menggerakkan tindakan masyarakat. gender. dll. 4) Sebagai dasar penyusunan rencana kerja yang bersifat taktis terhadap permasalahan yang dihadapi. kebiasaan-kebiasaan. agama. pola hubungan sosial yang ada. pengalaman-pengalaman masyarakat 37 . diharapkan menghasilkan data dan Informasi tentang : 1) Data Demografi: jumlah penduduk. letak lokasi ditinjau dari aspek geografis.

informasi yang biasa dicari. 38 . rumah kumuh. misalnya jumlah orang miskin. kemampuan baca tulis. Salah satu bentuk atau hasil akhir pemetaan sosial biasanya berupa suatu peta wilayah yang sudah diformat sedemikian rupa sehingga menghasilkan suatu image mengenai pemusatan karakteristik masyarakat atau masalah sosial. yang ditandai dengan warna tertentu sesuai dengan tingkatan pemusatannya. 4) Pola komunikasi: media yang dikenal dan digunakan. anak terlantar. Dalam melakukan pemetaan sosial tidak ada aturan dan bahkan metoda tunggal yang secara sistematik dianggap paling baik.” Sebagai sebuah pendekatan. pemetaan sosial sangat dipengaruhi oleh ilmu penelitian sosial dan geografi. Pemetaan sosial dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan dalam pengembangan masyarakat yang oleh Twelvetrees (1991:1) didefinisikan sebagai “the process of assisting ordinary people to improve their own communities by undertaking collective actions. bahasa. dll. sikap. dan perilaku terhadap intervensi luar. tempat memperoleh informasi.terutama terkait dengan mitigasi bencana. orang yang dipercaya. kekuatan sosial yang paling berpengaruh. pandangan.

Rapid Rural Apraisal (RRA). Metode Survey Formal meliputi : Survey Pengukuran Standar Hidup. Survey ini biasanya mengumpulkan informasi yang dapat dibandingkan mengenai sejumlah orang yang relatif banyak pada kelompok sasaran tertentu. Laporan Statistik 2. adalah kegiatan pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan informasi standar dari sampel orang atau kelompok yang diseleksi secara hati-hati. yang dilakukan di lapangan oleh sebuah tim dan dirancang untuk secara cepat mendapatkan informasi atau hipotesa tentang kehidupan di suatu desa (wilayah bencana) tanpa melibatkan masyarakat secara aktif. Survey Formal. Kartu Laporan Penduduk. Survey Kepuasan Klien. masyarakat 39 . adalah aktivitas yang sistematis dan cukup terstruktur.Prinsip utama bagi para aparat pemberdayaan adalah bahwa ia dapat mengumpulkan informasi sebanyak mungkin dalam suatu wilayah tertentu secara spesifik yang dapat digunakan sebagai bahan membuat suatu keputusan terbaik dalam proses pemberdayaan para penerima manfaat. Menurut Bank Dunia (2002). terdapat tiga metode bagi pelaksanaan pemetaan sosial : 1. Kuesioner Indikator Kesejahteraan Inti.

Dalam pelaksanaan proses Participatory Rural Apraisal ini memerlukan waktu yang relatif lama bila dibandingkan dengan Rapid Rural Apraisal. penelitian kecil. yaitu bisa dengan cara kuantitatif 40 . observasi. diartikan sebagai metode pengumpulan data yang dilakukan oleh perorangan maupun tim untuk mendapatkan informasi mengenai suatu wilayah atau kawasan yang masyarakat dilibatkan secara aktif dan diposisikan sebagai subjek. Peran peneliti menjadi katalis. dan analisis data.diposisikan sebagai objek. Usaha melakukan pemetaan sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara atau metode penjaringan data atas gejala yang tampak. pertemuan. fokus grup. 3. Participatory Rural Apraisal (PRA). bukan sebagai subjek. bukan sebagai ahli. Orientasi Participatory Rural Apraisal adalah untuk memfasilitasi atau meningkatkan kesadaran masyarakat dan kemampuan mereka untuk menangkap isu atau persoalan. Perhatian khusus dilakukan agar masyarakat lokal dapat melakukan analisis secara mandiri serta menyampaikan pengamatannya. Metode Rapid Apraisal meliputi: interview.

Yaitu menggambarkan secara keseluruhan aspek dari keadaan masyarakat dari setiap pranata yang ada di dalamnya. kepadatan penduduk. Walaupun demikian. pola migrasi. data-data sekunder tetap diperlukan untuk melihat perkembangan secara historis keadaan kenyataan yang terdeteksi dan pengalaman dari masyarakat dalam menghadapi keadaankeadaan nyata yang pernah dialaminya. maka akan lebih baik lagi menggunakan metode kualitatif yang berisi tentang kualitas dari data yang diperoleh secara langsung (data primer).atau juga dengan kualitatif. Tetapi agar supaya gejala sosial yang diidentifikasi tersebut dapat tergambar dengan jelas dan berkaitan dengan kebudayaan yang dipegang oleh masyarakat yang bersangkutan. Catatan-catatan ini biasanya berkenaan dengan jumlah penduduk. Kedua data ini yaitu kualitatif dan kuantitatif menjadikan penggambaran kehidupan masyarakat dapat bersifat menyeluruh atau holistik. Kejadian-kejadian nyata yang dialami oleh anggota masyarakat biasanya tercatat dalam buku catatan yang bersifat permanen dan berisi tentang data-data empiris pada masanya. Selain penggambaran keadaan masyarakat secara keseluruhan baik 41 . angka kematian dan kelahiran serta kepemilikan yang ada pada masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat tidak akan berjalan baik tanpa pemahaman mengenai pengaruh-pengaruh masyarakat tersebut. serta sumber-sumber apa yang tersedia untuk menangani masalah tersebut. khususnya dalam praktek tingkat makro atau praktek pemberdayaan masyarakat. Mengacu pada Netting. 2) Pengembangan masyarakat memerlukan pemahaman mengenai sejarah dan perkembangan suatu masyarakat serta analisis mengenai status masyarakat saat 42 . Masyarakat dimana seseorang tinggal sangat penting dalam menggambarkan siapa gerangan dia. masalah apa yang dihadapinya.secara diakronis atau historis juga tergambar secara sinkronis atau fungsional hubungan antar pranata yang berlaku di dalamnya yang berisi tentang kebiasaan-kebiasaan dari anggota masyarakat dalam mewujudkan status dan perannya dalam setiap pranata yang berlaku. Kettner dan McMurtry (1993) ada tiga alasan utama mengapa para aparat pemberdayaan memerlukan sebuah pendekatan sistematik dalam melakukan pemetaan sosial: 1) Pandangan mengenai “manusia dalam lingkungannya” (the person-inenvironment) merupakan faktor penting dalam praktek pekerjaan sosial.

Pemetaan sosial dapat membantu dalam memahami dan menginterpretasikan perubahan-perubahan tersebut. struktur ekonomi. b. Individu-individu dan kelompok-kelompok begerak kedalam perubahan kekuasaan. Tanpa pengetahuan ini. Peningkatan Pemberdayaan Kapasitas Aparat Sebagai salah satu bidang tugas baru di lingkup BPN RI yang merupakan amanat dari Perpres No. 43 .ini. pengembangan kapasitas aparatur BPN RI khususnya yang mengkoordinir perlaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat sangat mutlak diperlukan. sumber pendanaan dan peranan penduduk. Oleh karena itu. 10 Tahun 2006 tentunya tidak mudah menerapkan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat ini ke dalam struktur birokrasi BPN RI yang sedang terus berbenah. 3) Masyarakat secara konstan berubah. sikap-sikap dan tradisi-tradisi pemberdayaan masyarakat maupun dalam memelihara kemapanan dan mengupayakan perubahan. para aparat pemberdayaan akan mengalami hambatan dalam menerapkan nilai-nilai.

sehingga mereka mau berpartisipasi dalam menuntaskan tujuan luhur agenda reforma agraria. sehingga dapat menjalankan tugas dan fungsinya dalam lingkup pemberdayaan masyarakat dengan baik. Mendorong aparatur BPN RI untuk bisa memunculkan kesadaran kritis di kalangan masyarakat.Maksud yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah meningkatnya pengetahuan aparat pemberdayaan mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan program pemberdayaan masyarakat. Meningkatkan kemampuan aparat BPN RI dalam mencermati dan menganalisa persoalan sosial dalam rangka pengambilan keputusan di lapangan 2) 3) 4) 44 . Adapun tujuan yang ingin dicapai dari adanya peningkatan kapasitas aparat pemberdayaan masyarakat diantaranya adalah : 1) Meningkatkan sensitivitas aparatur BPN RI terhadap persoalan-persoalan yang muncul di lapangan terkait program pemberdayaan masyarakat. Meningkatkan kesadaran aparatur BPN RI mengenai pentingnya partisipasi aktif masyarakat dan pengorganisasian dirinya dalam setiap tahapan proses pemberdayaan masyarakat.

terkait program masyarakat. melainkan juga telah dimanifestasikan dalam bentuk programprogram yang berpihak pada kepentingan masyarakat (Modul Pelatihan Peningkatan Kapasitas Aparat Pemberdayaan BPN-RI. 5) pemberdayaan Memberikan pemahaman kepada aparatur BPN RI bahwa perubahan paradigma BPN RI masa depan tidak saja sebatas slogan. Pengorganisasian komunitas merupakan suatu aksi bersama yang bermuara pada kesejahteraan setiap anggota secara individu. Upaya pengembangan pengorganisasian komunitas yang dilakukan selama ini yaitu 45 . Pengorganisasian komunitas manfaat Reforma Agraria penerima Pemberdayaan melalui pengembangan aksi pengorganisasian komunitas sama artinya dengan pengembangan koperasi atau kelompok usaha bersama. Hanya di sini istilah yang digunakan adalah pengorganisasian komunitas yaitu untuk membuka kesempatan kepada masyarakat membentuk kelompok-kelompok yang diinginkannya yang tidak semata-mata koperasi atau kelompok usaha bersama. 2011) c.

dll). peran pendamping sangatlah vital terutama dalam 46 . pertanian. Masyarakat belum dapat berjalan sendiri mungkin karena kekurang pahaman. Pendampingan dan pengembangan Keberadaan pendamping memang dirasakan sangat dibutuhkan dalam setiap program pemberdayaan. Kegiatan ini rakyat diposisikan sebagai subyek utama sehingga proses penentuan kebijakan menggunakan pola bottom up yang lebih mengutamakan partisipasi aktif dari masyarakat penerima manfaat. tingkat penguasaan ilmu pengetahuan yang belum memadai. membangun organisasi dan jaringan serta melakukan diklat-diklat pemberdayaan masyarakat. Untuk mendukung terlaksananya hal tersebut perlu diagendakan berbagai kegiatan seperti melakukan berbagai dialog pemberdayaan (agraria. d. atau mungkin masih kuatnya tingkat ketergantungan mereka karena belum pulihnya rasa percaya diri mereka akibat paradigma-paradigma pembangunan masa lalu.melalui pengembangan kelompok yang berbasis komunitas dan juga dikembangkan kelompok-kelompok yang beraliansi dengan LSM tertentu. ekonomi. Terlepas dari itu semua.

Pendampingan pemberdayaan masyarakat dengan demikian dapat diartikan sebagai interaksi dinamis antara kelompok penerima manfaat dan aparat pemberdayaan masyarakat untuk secara bersama-sama menghadapi beragam tantangan seperti. dan (e) menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang relevan dengan konteks pemberdayaan masyarakat.mendampingi masyarakat menjalankan aktivitas usahanya. Pendampingan pemberdayaan masyarakat kemudian hadir sebagai agen perubah yang turut terlibat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi mereka. 47 . Namun yang terpenting dari pendampingan ini adalah menempatkan orang yang tepat pada kelompok yang tepat pula. (a) merancang program perbaikan kehidupan sosial ekonomi. (d) menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebutuhan. Masyarakat penerima manfaat seringkali merupakan kelompok yang tidak berdaya baik karena hambatan internal dari dalam dirinya maupun tekanan eksternal dari lingkungannya. (b) memobilisasi sumber daya setempat (c) memecahkan masalah sosial.

48 .

prona. Kegiatan-kegiatan tersebut telah berkembang dalam kurun waktu yang bervariatif dan selama ini ditangani oleh kedeputian Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat. konsolidasi tanah.1. Pokmasdartibnah. dimana Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan 49 D . kerjasama.BAB II PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN MELALUI KERJASAMA LINTAS SEKTOR II. dll. Dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 10 tahun 2006 dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 tahun 2006 tentang organisasi dan tata kerja BPN. PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN IMPLEMENTASINYA DALAM PROGRAM / KEGIATAN PERTANAHAN LINTAS SEKTOR alam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat dan implementasinya pada Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia telah terwujud dalam berbagai kegiatan dan pengembangan konsep pemberdayaan masyarakat antara lain melalui kegiatan redistribusi tanah. sertipikasi massal swadaya (SMS).

060/2004 dan Nomor 2/SKB/BPN/2004 tanggal 2-9-2004 tentang Pelaksanaan Petani untuk Mendukung Pembangunan Pertanian. Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Perumahan Rakyat. Salah satu contoh yang telah dilaksanakan Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan dalam implementasi kegiatan pemberdayaan masyarakat yaitu dengan menjalin kerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM. Beberapa bentuk kerjasama yang dijalin oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dengan lembaga/kementerian dalam pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat secara lintas sektor yaitu : 1.Kelembagaan memegang peranan yang sangat penting dalam mengelola program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat. Kementerian Pertanian. Keputusan Bersama Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 515/Kpts/HK. dimana tujuan utama dijalinnya kerjasama tersebut yaitu dalam rangka memberdayakan masyarakat melalui kegiatan sertipikasi hak atas tanah untuk meningkatkan akses permodalan dan pada akhirnya dicapai kesejahteraan masyarakat yang meningkat. 50 .

Nomor 7/SKB/XII/2010 tanggal 3-12-2010 tentang Pemberdayaan Masyarakat Berpenghasilan Rendah untuk Membangun Rumah Secara Swadaya Melalui SHAT. Dengan adanya sinergi yang positif antara masyarakat penerima manfaat dengan para pemangku kepentingan maka perlu kiranya Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia selaku lembaga yang diberi tugas dan tanggung jawab dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan 51 . Nomor 570-351 tahun 2007. 3. Kesepakatan Bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 12/MENKP/KB/VII/2011. Nomor 9/SKB/VII/2001 tanggal 25-7-2011 tentang Pemberdayaan Nelayan.2.KUKM/VII/2007. 4. Kesepakatan Bersama Kementerian Perumahan Rakyat dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 08/SKB/M/2010. Nomor 5-SKB-BPN RI-2007 tanggal 31-7-2007 tentang Percepatan Program Pemberdayaan UMK melalui Kegiatan SHAT untuk Peningkatan Akses Permodalan. Pengolahan Ikan dan Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil serta Legalisasi Aset Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui SHAT. Menteri Dalam Negeri dan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 01/SKB/M. Pembudidayaan Ikan. Kesepakatan Bersama Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

2. menginvestasikan sumberdaya bersama serta harus memberikan hasil yang saling menguntungkan. II. 6 berikut : 52 .2. jika dalam sebuah diagram konsep kerjasama dapat dilihat pada Gambar. Untuk mencapai tujuan bersama tersebut diperlukan adanya pembagian kewenangan dan tanggung jawab bersama. kesediaan menanggung resiko bersama. FORMAT KERJASAMA DAN MODEL KOORDINASI DALAM KEGIATAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN II. Format Kerjasama Lintas Sektor Konsep awal dari kerjasama adalah adanya kesepakatan atau perjanjian antara dua pihak atau lebih untuk bekerjasama dalam semangat kesetaraan demi tercapainya tujuan bersama. pelaksanaan maupun monitoring jenis kegiatan yang ingin dilaksanakan.menyiapkan berbagai rambu-rambu atau aturan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan tersebut sehingga dapat mempermudah dalam melakukan perencanaan.2.

Departemen Pertanian. Departemen Kelautan dan Perikanan maupun dengan pemerintah daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota.I. maka kegiatan sertipikasi hak atas tanah tersebut 53 . Diagram Konsep Kerjasama Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Lintas Sektor ini mengemuka karena kegiatan legalisasi asset pada awalnya adalah inisiatif dan sumber dananya berasal dari instansi terkait. Namun karena portofolio sertipikasi hak atas tanah adalah domainnya Badan Pertanahan Nasional R. seperti Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.Kesepakatan antara dua pihak atau lebih untuk bekerja bersama dalam kesetaraan untuk mencapai tujuan bersama Kewenangan dan tanggung jawab bersama Investasi sumberdaya bersama Tujuan Bersama Menanggung resiko bersama Saling menguntungkan Gambar 6.

untuk membedakan program ini dengan program Prona. usaha mikro kecil oleh Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah. Kantor Pertanahan melakukan verifikasi dan menetapkan pesertanya. dan lain sebagainya yang sudah ada selama ini adalah : a. inventarisasi dan identifikasinya ditentukan oleh sektor terkait. Adjudikasi. Oleh sebab itu tidak mudah memindahmindahkan target kegiatannya karena ketersediaan subyek dan obyeknya banyak ditentukan oleh sektor terkait. misalnya kualifikasi nelayan skala kecil oleh Departemen/Dinas Kelautan dan Perikanan. Subyek Subyek kegiatan ini secara kualifikasi.dilaksanakan dan dikelola melalui mekanisme DIPA Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. petani oleh Departemen/Dinas Pertanian. Dari hasil seleksi tersebut yang dikoordinasikan oleh Pokja Kabupaten/ Kota. Istilah lintas sektor mengandung pengertian bahwa kegiatan sertipikasi hak atas tanah (legalisasi aset) tidak dilaksanakan oleh satu instansi saja dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia tetapi merupakan kegiatan bersama dengan melibatkan sektor/kementerian/lembaga terkait program ini. Kalaupun terjadi pergeseran target harus melalui koordinasi antara 54 .

Sertipikat menjadi instrumen pemberdaya masyarakat. Inilah justru menjadi ikon pembeda dari program lainnya yang menegaskan keberpihakan pada penanggulangan kemiskinan. Mekanisme Dalam kegiatan lintas sektor ini dikenal tiga tahapan kegiatan.Kantor Pertanahan/Kanwil BPN dengan dinas terkait setempat. Sedangkan tahapan pasca sertipikasi merupakan fasilitasi akses dari peserta ke sumber-sumber produksi dan permodalan yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat penerima. 55 . Kegiatan Pra menjadi penting apalagi bila dilaksanakan pada tahun sebelumnya sehingga terinventarisasi dan terseleksi calon-calon peserta yang memenuhi syarat untuk disertipikatkan pada tahun berikutnya. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan dalam kegiatan Prona maupun adjudikasi. sedangkan tahapan sertipikasinya oleh Badan Pertanahan Nasional. yaitu pra. b. sertipikasi dan pasca. yang subyeknya ditentukan kualifikasi dan seleksinya oleh pihak BPN R.I. Pra dan Pasca dilaksanakan oleh sektor terkait bersama dengan pihak Kantor Pertanahan.

Target Target program ini adalah jumlah anggota masyarakat tersejahterakan melalui sertipikasi hak atas tanah. Tim Koordinasi Karena sifatnya lintas sektor maka peran kelompok kerja (POKJA) dalam mengkoordinasikan kegiatan sangat vital. yang tidak signifikan bahkan tidak ada di dalam kegiatan lain tersebut. yang diharapkan dapat dibentuk sedini mungkin untuk memungkinkan optimalisasi kerja bareng dari program ini. Sehingga tertutup kemungkinan buat peserta dapat memiliki jumlah bidang tanah yang disertipikatkan lebih dari satu bidang. 56 . karena sifatnya untuk memberdayakan masyakat yang kurang mampu. Kelompok Kerja Pusat. dan 3. dimana secara umum dalam pelaksanaan program pembentukan POKJA terdiri dari : 1. d. Peran aktif POKJA menjadi pembeda dari kegiatan sertipikasi HAT lainnya. bukan jumlah bidang nya. Adapun pembentukan POKJA didasarkan kepada suatu petunjuk teknis (JUKNIS) yang ditetapkan sebagai panduan pelaksanaan kegiatan.c. 2. Kelompok Kerja Kabupaten/Kota. Kelompok Kerja Provinsi.

Hal-hal yang diatur dalam SPKS / SPK disesuaikan dengan kepentingan dan tujuan masingmasing pihak. secara garis besar harus dimuat yaitu : 1. 57 yang akan . 2. Hak dan kewajiban para pihak. 2. Bagaimana aset yang sudah dilegalisasi tersebut dimanfaatkan untuk memberdayakan diri peserta. Outcome – Indikator kinerja Indikator kinerja dari program ini adalah outcome yang berupa dampak peningkatan kesejahteraan dari peserta bukan sekedar output jum lah sertipikat hak atas tanah yang telah diterbitkan. bukan justru untuk dipindahtangankan. Melalui SPK (Surat Perjanjian Kerja) yaitu kerjasama dengan kelompok masyarakat dalam rangka pelayanan bidang pertanahan yang pembiayaannya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 tahun 2010.e. Untuk mengakomodasi kegiatan pemberdayaan masyarakat lintas sektor dapat dilakukan melalui 2 (dua) macam format yaitu : 1. Melalui SPKS (Surat Perjanjian Kerja Sama) yaitu ikatan kerjasama yang dilakukan antara Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dengan instansi lain dalam rangka pelayanan bidang pertanahan yang pembiayaannya bersumber dari APBN dan APBD. Kejelasan mengenai pelayanan dilaksanakan.

58 . 2.3. Jangka waktu pelaksanaan . untuk selanjutnya ditataran pelaksana jika diperlukan dapat dibuat SPPKS (Surat Perjanjian Pelaksanaan Kerjasama) di tingkat Kanwil BPN Propinsi atau Kantah Kabupaten/Kota setempat. 6. 5. Sanksi / force majeur bila terjadi wanprestasi salah satu pihak. Target yang harus dicapai. Spesifikasi teknis pelaksanaan kegiatan. 8. Mekanisme penyerahan hasil pekerjaan. Pola Lokal yang pelaksanaannya langsung berdasarkan SPKS/SPK yang dibuat oleh Kanwil BPN Propinsi atau Kantah Kabupaten/Kota bersangkutan. Persyaratan tehnis yang diperlukan. Pola Nasional atau Regional dapat dilaksanakan dengan membuat SPKS/SPK di tingkat Pusat atau Kanwil BPN Propinsi sebagai SPKS/SPK Induk. 4. Pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat lintas sektor dapat dilakukan melalui 2 (dua) pola yaitu : 1. 7.

Model Koordinasi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Koordinasi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat terdiri atas dua hal yaitu internal/antar seksi atau bagian dalam institusi serta eksternal/lintas sektor termasuk pada wilayah kegiatan pemberdayaan masyarakat. Organisasi merupakan suatu sistem yang berproses. Proses integrasi sumberdaya maupun proses manajemen untuk mencapai tujuan organisasi.2. Koordinasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam rangka melaksanakan suatu kegiatan yang bersifat multi sektoral seperti kegiatan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan ini. artinya sistem tersebut tidaklah statis.2. organisasi memiliki peran serta yang vital dalam memadukan seluruh sumber daya organisasi untuk pencapaian tujuan. Koordinasi Internal Aparat Pemberdayaan Masyarakat Organisasi dalam bentuk apapun esensinya terdiri dari sumberdaya.II. Dengan demikian. Sebagai sistem yang berproses dan terbentuk 59 . Seluruh sumberdaya yang dimiliki organisasi tersebut dimanfaatkan dalam proses manajemen yang terintegrasi dalam pencapaian tujuan organisasi. disebut dengan proses koordinasi. a. proses manajemen dan tujuan organisasi.

maka organisasi memiliki peluang untuk melakukan perubahan atas masukan atau pengaruh dari lingkungan sekitarnya. organisasi pemerintah non-departemen ini mengalami pengembangan struktur dalam tubuh organisasinya. Kemudian sebagai implementasi Peraturan Presiden tersebut telah dikeluarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Republik dan Kantor Pertanahan. Sejak dikeluarkannya Perpres No. Untuk itu organisasi seharusnya terbuka terhadap masukanmasukan yang ada. sebagai upaya untuk lebih mensinergikan tugas-tugas bidang pertanahan yang diembannya. 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. organisasi mendapat masukan atau dipengaruhi sumber energi dari lingkungan sekitarnya. Dikatakan terbuka karena sebagai suatu sistem. 60 . terutama tugas-tugas yang diamanatkan di dalam UUPA.sebagai atau menjadi keseluruhan dari bagianbagian yang saling bergantung atau terkoordinasi.

melaksanakan dan memanfaatkan hasil-hasil kegiatan organisasi. hal ini dikarenakan pelaksanaan kegiatan tidak bisa bekerja dan berjalan sendiri-sendiri melainkan harus dan akan melibatkan bidang/seksi lainnya. dalam organisasi dan manajemen yang 61 . dan antara organisasi satu dengan organisasi lainnya sehingga dapat dicapai efektivitas dan efisiensi dalam merencanakan.Berdasarkan Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional tersebut Bidang/Seksi Pemberdayaan Masyarakat baik di tingkat pusat. Secara umum koordinasi merupakan “tali pengikat”. Lingkup Koordinasi Internal Aparat BPN dan Lembaga Lain Koordinasi dapat diartikan sebagai upaya untuk menyatukan potensi dan gerak langkah organisasi sehingga peran dan tugas organisasi dapat dilaksanakan secara teratur dan terarah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. propinsi maupun kabupaten/kota merupakan ujung tombak dari pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dalam pelaksanaan tugasnya tidak dapat lepas dari faktor koordinasi dengan bidang/seksi lain yang ada. Sedangkan tujuan dari koordinasi itu sendiri adalah terciptanya keterpaduan kerja antara unit dalam organisasi. b.

Yang menjadi lingkup koordinasi internal aparat BPN dan lembaga lain disini adalah bagaimana setiap unit-unit kerja dapat bersinergi dan berkomunikasi dengan baik. propinsi maupun kabupaten/kota merupakan ujung tombak dari pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dalam pelaksanaan tugasnya selain mensosialisasikan juga sekaligus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait baik yang ada di pusat maupun daerah (propinsi dan kabupaten/kota). Tanpa adanya koordinasi. 62 . Komunikasi menjadi hal yang terpenting dalam suatu organisasi. Dengan kata lain adanya organisasi dapat menjamin pergerakan aktor organisasi kearah tujuan bersama. Bidang/Seksi Pemberdayaan Masyarakat baik di tingkat pusat. semua pihak dalam organisasi dan manajemen akan bergerak sesuai dengan kepentingannya namun tanpa adanya peranan dari aktor yang lainnya dalam organisasi maka belum tentu dapat dicapai suatu tujuan bersama.menghubungkan peran aktor dalam organisasi tersebut dalam mencapai tujuannya. yang dapat didefinisikan sebagai penafsiran pesan-pesan diantara unit-unit komunikasi yang merupakan bagian suatu organisasi tertentu.

Program legalisasi aset Sertipikasi Hak Atas Tanah Nelayan (SHAT Nelayan) bekerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan 2. Tahap Pra Sertipikasi Hak Atas Tanah. tahapan 63 .3. Program legalisasi aset UKM bekerjasama dengan Kementerian Usaha Kecil dan Koperasi 4. tujuan. Sosialisasi Ruang lingkup sosialisasi meliputi informasi tentang maksud.1. PROGRAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LINTAS SEKTOR DI BIDANG PERTANAHAN DAN TAHAPAN PELAKSANAANNYA Beberapa program pemberdayaan masyarakat lintas sektor yang telah dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang bekerja sama dengan instansi lain diantaranya : 1. Berbagai program legalisasi aset petani yang bekerjasama dengan Kementerian Pertanian. Program legalisasi aset Masyarakat Berpenghasilan Rendah bekerjasama dengan Kementerian Perumahan Rakyat 3.II.3. yaitu : a. Mekanisme pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat lintas sektor dapat dilakukan melalui tiga tahapan yaitu : II.

prosedur penyiapan calon peserta. b. .kegiatan. apabila terdapat berkas permohonan calon peserta yang tidak dapat diproses lebih lanjut. pensertipikatan tanah dan fasilitas yang diberikan serta kewajiban calon peserta. . Identifikasi Peserta dan Inventarisasi Calon Identifikasi dan inventarisasi bertujuan untuk mencari calon-calon peserta yang memenuhi syarat untuk disertipikatkan sesuai dengan maksud dan tujuan kegiatan yang ingin dicapai. maka penggantinya diambil dari cadangan calon peserta sesuai urutannya.Jumlah calon peserta sesuai dengan alokasi untuk masing-masing kabupaten/kota.Jumlah calon peserta ditambahkan sepuluh persen dari target yang dialokasikan sebagai cadangan.Jika terdapat peserta yang berkas permohonannya tidak dapat diproses. 64 . c. Penyiapan Data Calon Peserta Pelaksanaan penyiapan calon peserta di masing-masing kabupaten / kota harus memperhatikan ketentuan berikut : .

Tahap Sertipikasi Hak Atas Tanah Proses sertipikasi tanah dilaksanakan oleh Badan Pertanahan Nasional melalui Kantor Pertanahan sesuai ketentuan perundangundangan yang secara gari besar meliputi beberapa kegiatan yaitu : Penyuluhan. Penyusunan Daftar Nominatif Calon Peserta Hasil penyiapan calon peserta dituangkan dalam matriks daftar nominatif calon peserta yang memuat data Subjek Hak (calon peserta) dan Objek Hak (bidang tanah) II. Pengukuran bidang tanah . maka yang bersangkutan dapat mengajukan pengurangan / keringanan sesuai peraturan yang berlaku. dan Penerbitan sertipikat Apabila penerima hak tidak mampu memenuhi kewajiban Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) dan atau uang pemasukan ke Kas Negara. 65 . Pengumpulan data yuridis.3. Sidang panitia pemeriksa. Penetapan hak.2.d.

meningkatkan ketahanan pangan. konservasi tanah dan air melalui konservasi fisik maupun biologis. b. menciptakan lapangan kerja. sengketa dan konflik Penyediaan berbagai fasilitas bagi peserta program lintas sektor dan atau kelompokkelompok masyarakat dilakukan secara terkoordinasi dengan instansi. perbaikan akses rakyat kepada sumbersumber ekonomi terutama tanah. 66 . d. informasi dan tehnologi tepat guna. d.3. c. dan e. Tahap Pasca Sertipikasi Hak Atas Tanah Kegiatan pasca sertipikasi tanah berupa pembinaan dan fasilitasi akses reform kepada penerima sertipikat dalam rangka meningkatkan taraf hidup dan kemandirian masyarakat melalui : a. mengurangi pertanahan. b. pemangku kepentingan. sumber permodalan/keuangan melalui hak tanggungan atau pembiayaan lainnya.II. dan pihak-pihak lain melalui mekanisme pemberian fasilitas akses reform yang meliputi akses terhadap : a. c. sumber-sumber dan peningkatan sarana produksi. mengurangi kemiskinan.3.

000 2012 20.500 61.000 2011 20.500 77.500 7.500 7.000 2013 20.000 23.500 Tabel 1 : Target Nasional Masyarakat Melalui RPJM 2010-2014 Pemberdayaan SHAT dalam 67 .000 25.000 30.000 9.500 66. koperasi.000 30.000 20.500 7.000 2014 20.e. f. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2010-2014 target nasional pemberdayaan masyarakat melalui legalisasi sertipikasi hak atas tanah adalah sebagai berikut : Tahun/Bidang No 1 2 3 KEGIATAN Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Petani Nelayan dan Usaha Penangkapan Ikan Skala Kecil Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) TOTAL (JUMLAH TOTAL) 56. g.000 2010 30.000 9. pemberdayaan lainnya.500 74.000 22. pemasaran.000 4 7.000 3.000 25.

6. 3. Dari berbagai langkah-langkah percepatan pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui pensertipikatan tanah lintas sektor diperoleh gambaran hasil sebagai berikut : 68 . Segera membentuk Pokja (Kelompok Kerja) di awal tahun pelaksanaan. Diharapkan tidak adanya perpindahan lokasi propinsi yang memerlukan waktu lama dan persetujuan DPR. Koordinasi yang kontinyu dengan instansi terkait program lintas sektor 2. Monitoring dan evaluasi selaku anggota Pokja Propinsi dan Kabupaten/Kota. 7. Sosialisasi Undang-Undang BPHTB dalam upaya fasilitasi penyiapan PERDA agar peserta program mendapat penghapusan/pengurangan BPHTB. Paska sertipikasi (fasilitasi akses). Sosialiasasi pelaksanaan program SHAT lintas sektor dengan instansi terkait dengan Pemkab/Pemkot. Tersedia data-data subyek hak (pra sertipikasi) oleh Kementerian/Lembaga pada 1 (satu) tahun sebelum pelaksanaan sertipikasi . 5. 8. 4. belum terpantau hasil / datanya.Untuk mencapai target tersebut telah dilakukan berbagai strategi dan langkah-langkah percepatan kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui sertipikasi hak atas tanah yaitu : 1.

27%) 2.900 (96.500 1 2 3 Usaha Mikro dan Kecil (UMK) Petani Nelayan dan Usaha Penangkapan Ikan Skala Kecil Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) TOTAL (JUMLAH TOTAL) 30. BPHTB yang memberatkan peserta 69 . 3.2 terlihat pada dari target yang ditetapkan realisasi kegiatan masih belum optimal hal dikarenakan ada beberapa kendala dalam pelaksanaannya yaitu : 1.833 (99. Pembayaran program.920 (25.6%) 56.67%) 20. 4.000 1.757 (99.000 61. idealnya paling lambat awal Maret tahun berjalan sudah harus disampaikan kepada Pokja/Kantah beserta berkas tanahnya.500 1.000 3.751 (13.000 29.19%) 22. Kurangnya koordinasi dengan instansi dan lembaga terkait di daerah 2.41%) 7. Surat-surat bukti tanahnya tidak dapat diproses karena masih ada kekurangan.39%) 937 (10. Penyampaian daftar nominatif calon peserta program sering terlambat dari dinas.000 9.76%) 25.Tahun/Bidang No KEGIATAN 2010 Realisasi 2011 Realisasi s/d Oktober 2.597 (6.000 23.000 4 Tabel 2 : Realisasi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Melalui SHAT 2010-2011 Dari Tabel.

Pelaporan realisasi sertipikat berupa (daftar nama.5. alamat pemilik dan alamat letak tanah serta nomor sertipikat) belum kontiyu dilaksanakan dan permasalahannya belum dilaporkan secara berjenjang. Pembentukan Pokja Lintor di tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota belum tepat waktu (idealnya paling lambat awal Maret tahun berjalan sudah terbentuk) 6. 70 .

Kelompok ini kemudian 71 A .1.1.BAB III ASISTENSI DAN FASILITASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT III. masyarakat penerima manfaat dapat memahami nilai kebersamaan.1.Asistensi sistensi adalah suatu kegiatan pemberian bantuan kepada masyarakat penerima manfaat mengenai berbagai pengetahuan teknis kegiatan yang mendukung keberhasilan pelaksanaan program tersebut. Motivasi. PENGERTIAN ASISTENSI DAN FASILITASI III. dimana ada 5 (lima) kegiatan penting yang dapat diberikan melalui asistensi pemberdayaan masyarakat adalah : 1. Penerima manfaat perlu didorong untuk membentuk kelompok yang merupakan mekanisme kelembagaan penting untuk mengorganisir dan melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa atau kelurahannya. Untuk kegiatan asistensi di kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui pembinaan maupun pendampingan. interaksi sosial dan kekuasaan melalui pemahaman akan haknya sebagai warga negara dan anggota masyarakat.

mengoperasikan tabungan dan kredit. Pada tahap awal. resolusi konflik dan manajemen kepemilikan masyarakat. seperti melaksanakan pertemuan-pertemuan. Kelompok kemudian dapat diberi wewenang penuh untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut. Peningkatan kesadaran dan pelatihan kemampuan. Manajemen diri. 3. pemasyarakatan program-program pertanahan serta mengembangkan keterampilanketerampilan kreatif yang bisa dikembangkan melalui cara-cara partisipatif. melakukan pencatatan dan pelaporan. pendamping dari luar dapat membantu mereka dalam mengembangkan sebuah sistem.2. Peningkatan kesadaran masyarakat dapat dicapai melalui pendidikan dasar. Pelatihan semacam ini dapat membantu masyarakat penerima manfaat untuk menciptakan mata pencaharian sendiri atau membantu meningkatkan keahlian mereka untuk mencari pekerjaan di luar wilayahnya. dimotivasi untuk terlibat dalam kegiatan peningkatan pendapatan dengan menggunakan sumber-sumber dan kemampuan-kemampuan mereka sendiri. 72 . Kelompok harus mampu memilih pemimpin mereka sendiri dan mengatur kegiatan mereka sendiri. Pengetahuan lokal yang biasanya diperoleh melalui pengalaman dapat dikombinasikan dengan pengetahuan dari luar.

Pengorganisasian kelompok-kelompok swadaya masyarakat perlu disertai dengan peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan jaringan dengan berbagai sistem sosial di sekitarnya.4.Fasilitasi Fasilitasi dalam pemberdayaan masyarakat mengandung pengertian membantu dan menguatkan masyarakat agar dapat dan mampu mengembangkan diri untuk memenuhi kebutuhannya sesuai dengan 73 . Hal ini dapat menjamin kepemilikan dan pengelolaan secara berkelanjutan.1. Pengembangan sistem penghimpunan. Ide ini didasari pandangan bahwa setiap orang memiliki sumbernya sendiri yang jika dihimpun. III. dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi secara substansial. Merupakan sebuah metode untuk menghimpun sumber-sumber individual melalui tabungan reguler dan sumbangan sukarela dengan tujuan menciptakan modal sosial. Jaringan ini sangat penting dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat penerima manfaat. 5. Pembangunan dan pengembangan jaringan. pengalokasian dan penggunaan sumber perlu dilakukan secara cermat sehingga semua anggota memiliki kesempatan yang sama. Mobilisasi sumber.2.

Dalam tahapan ini sekaligus untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat mengenai keberadaan seorang fasilitator. Terdapat beberapa langkah atau tahapan dalam memfasilitasi masyarakat melakukan suatu program pemberdayaan masyarakat. Bagi Fasilitator yang biasanya berasal dari luar lokasi penerima manfaat. potensi serta kebiasaan yang berkembang di masyarakat tersebut. Tahap Identifikasi. Menyadari keberadaan diri mereka sendiri Untuk mengajak masyarakat melaksanakan suatu kegiatan yang dapat menunjang kualitas hidupnya. . Merupakan proses awal dari fasilitasi yaitu mencoba menemu kenali masyarakat termasuk kondisi dan potensi serta lingkungannya. tahap ini sangat penting dan membantu dalam kelancaran menjalankan tugas-tugasnya. Penyebarluasan dan Pendampingan. maka langkah berikutnya adalah melakukan penyebarluasan dan pendampingan terhadap tahapan pelaksanaan program yang dibawa. Identifikasi wilayah dapat dilakukan melalui kunjungan ke desa-desa untuk mengamati (observasi) dan wawancara dengan masyarakat guna mengetahui kondisi.potensi yang dimiliki. yaitu membantu masyarakat untuk : a. perlu adanya penyadaran 74 2. Setelah melakukan tahap identifikasi dan keberadaan fasilitator diterima oleh masyarakat. yaitu: 1.

kepada masyarakat mengenai keberadaan diri mereka sendiri. kemudian menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin bisa mengandung atau memiliki kondisi serupa. Dalam masyarakat. untuk kesan telah 3) Ajak masyarakat untuk mengkaji atau mengolah semua pengalaman yang diungkapkan tersebut. Langkah-langkah yang diperlukan sebagai berikut: 1) Ajaklah masyarakat untuk mengungkapkan dan menyatakan kembali apa yang telah dialaminya. 2) Mintalah kepada mereka memberikan tanggapan dan terhadap pengalaman yang diungkapkan tersebut. 4) Pandu masyarakat untuk menemukan pada dirinya ada daya dan potensi yang bisa dikembangkan. Seorang fasilitator harus bisa memandu masyarakat untuk menemukan keberadaan mereka sendiri. di samping permasalahan-permasalahan yang sering dirasakan sebenarnya ada juga daya dan potensi yang dimiliki untuk mengatasinya. 75 . Seringkali masyarakat hanya dapat merasakan tetapi tidak dapat mengungkapkan keberadaan mereka sendiri.

potensi dan kemampuan serta keberadaan dirinya. b. parameter dan indikator yang telah dibuat oleh masyarakat sendiri. sehingga sangat diperlukan adanya pendampingan dan pelatihan yang harus diberikan oleh Fasilitator. merinci serta memperjelas kondisi dan potensi. 76 . Tahapan selanjutnya. sesuai pengalaman yang ada. Mendapatkan pembelajaran pelatihan/pendampingan melalui Dengan mengetahui daya.5) Bantu masyarakat untuk merumuskan. Pendampingan kepada masyarakat termasuk dalam mengukur keberhasilannya mengacu pada tujuan. menjadi akan lebih mudah bagi masyarakat untuk mengikuti dan melaksanakan program yang dibawa oleh Fasilitator. Selanjutnya ajak masyarakat untuk mengembangkan atau merumuskan halhal yang dapat memberi manfaat di masa datang. ajak masyarakat untuk mengalami / terlibat langsung dalam mewujudkan kesimpulan yang telah dirumuskan bersama melalui kegiatankegiatan yang ada dalam program. Keikutsertaan langsung masyarakat dalam setiap kegiatan merupakan proses pembelajaran sekaligus pemberdayaan.

d. pada akhirnya akan menjadi dinamika tersendiri bagi masyarakat dalam mengatasi permasalahan dan mewujudkan tujuan-tujuan yang akan dicapai.c. ajaklah masyarakat untuk mengukur. Refleksi hasil Setelah melalui berbagai tahapan di atas. Masyarakat akan mengorganisir diri mereka berdasarkan pengalaman barunya. 3. Menjadi dinamis untuk mewujud nyatakan tujuan yang akan dicapai Sistem baru yang berkembang di masyarakat. Terkait dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat materi penyuluhan yang diberikan oleh fasilitator secara khusus hendaknya memberikan penjelasan tentang penyelenggaraan program pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan 77 . mengevaluasi dan menganalisis langkah-langkah yang telah dilakukan sebelumnya untuk menemukan langkah-langkah strategis selanjutnya. Jika hal ini dilakukan secara berulang-ulang pada akhirnya akan melembaga menjadi suatu sistem yang berkembang di masyarakat. Jika hal ini terjadi maka keberlanjutan program akan dilanjutkan sendiri oleh masyarakat. Mengorganisir diri Keikutsertaan pada setiap kegiatan dalam program merupakan pengalaman baru bagi masyarakat.

melalui kegiatan sertipikasi tanah lintas sektor sesuai tahapan pelaksanaannya yaitu : 1. Menjelaskan Latar belakang perlunya pensertipikatan tanah secara berkelompok. materi yang disampaikan yaitu : a. serta hak dan kewajibannya sebagai calon penerima hak atas tanah. 4) Program Pemberdayaan Usaha Mikro dan Kecil (UMK). 78 . c. Tahap Sertipikasi Tanah. 2. d. 3) Sertipikasi tanah secara Massal Swadaya (SMS). Menjelaskan peranserta masyarakat. 5) Proyek Operasi Nasional Pertanahan/Agraria (PRONA). 7) Larasita. 2) Konsolidasi tanah. Tahap Pra Sertipikasi Tanah. Menjelaskan persyaratan subyek dan obyek sertipikasi tanah. 6) Reforma Agraria. Menjelaskan program-program sertipikasi tanah. Menjelaskan besaran biaya pensertipikatan tanah. melalui: 1) Redistribusi tanah. b. materi yang disampaikan yaitu : a.

Menjelaskan tentang masalah yang berkaitan dengan legalisasi hak atas tanah dalam bentuk sertipikat 3. Menjelaskan tentang aset masyarakat. 3) Prinsip ketiga : Pertanahan merupakan pilar penting berdirinya Negara. oleh karenanya pertanahan harus berkontribusi secara berkelanjutan (Sustainability) dalam kehidupan bermasyarakat. berbangsa dan bernegara Indonesia yang sudah di deklarasikan kemerdekaannya 79 . aset publik serta penataan akses yang berkaitan dengan 4 (empat) prinsip pengelolaan pertanahan yaitu : 1) Prinsip pertama : Harus berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan sekaligus menjadi mekanisme untuk membangun sumber-sumber kemakmuran baru bagi rakyat. merupakan pilar penting dari kehidupan setiap umat manusia dan setiap masyarakat. Tahap Pasca Sertipikasi a.b. 2) Prinsip kedua : Pengelolaan pertanahan harus berkontribusi secara nyata untuk menata kehidupan bersama yang lebih berkeadilan.

pada 17 Agustus 1945. sebagai akses yang menghubungkan dengan sumber ekonomi. dan untuk urusan Tuhan. politik. 80 . termasuk didalamnya tentang hak tanggungan. politik. b. harus bisa Indonesia di dalam selebihnya 4) Prinsip keempat Harus ikut berkontribusi menjamin terbangunnya harmoni sosial (sosio harmony). Menjelaskan tentang isu aktual pertanahan yang sedang berkembang pada tataran dan sesuai tingkat pemikiran masyarakat. yang terhindar dari sengketasengketa dan konflik-konflik terutama yang bersumberkan atas ke-agrariaan dan pertanahan. sosial guna mendukung pembangunan untuk memastikan setelah dilaksanakan legalisasi akan berkaitan dengan sistim ekonomi. kehidupan bersama yang lebih tenteram. sosial sehingga tanah yang dimiliki dapat dimanfaatkan secara maksimal. dan memastikan bahwa umur sampai waktu tak terbatas perspektif manusia. c. Menjelaskan yang berkaitan dengan pemanfaatan tanah secara baik.

serta melibatkan anggota Pokmasdartibnah tersebut dalam beberapa kegiatan yang mendukung pelaksanaan legalisasi aset seperti : membantu pelaksanaan pemasangan tugu tanda batas. Adapun pemberian asistensi dan fasilitasi personal harus lebih diarahkan kepada para penerima manfaat untuk membentuk suatu organisasi yang dapat mewakili suara mereka dalam menyampaikan hal-hal yang benar-benar dibutuhkan untuk menunjang kesejahteraannya. Oleh karena itu tugas dari para fasilitator yang mengkondisikan untuk masingmasing person tersebut agar memiliki pola pikir yang sama.2. Salah satu contoh pemberian asistensi dan fasilitasi kegiatan pemberdayaan masyarakat secara personal adalah dengan merintis pembentukan berbagai kelompok sadar tertib pertanahan (Pokmasdartibnah) di propinsi maupun kabupaten/kota dan memberikan berbagai pelatihan dan pembinaan bagi para anggotanya.III. yang mana mereka memiliki suatu tujuan yang sama untuk mencapainya. ASISTENSI DAN FASILITASI AKSES PERSONAL Kriteria dari personal bagi penerima manfaat adalah orang atau sekumpulan orang (kelompok) yang menjadi sasaran kegiatan program pemberdayaan masyarakat. membantu penataan berkas permohonan sertipikasi massal dan menjadi agen informal dalam memberikan penjelasan tentang 81 .

Yang sempurna adalah organisasi yang melembaga.program-program Badan Pertanahan Republik Indonesia kepada masyarakat. Pembedaan antara lembaga dan organisasi masih sangat kabur.3. itu organisasi sendiri. 2006) : 1. yaitu (Syahyuti. Kelembagaan dari masyarakat organisasi datang dari atas. 82 . adalah tradisional. ASISTENSI DAN FASILITASI AKSES KELEMBAGAAN Istilah lembaga dan organisasi secara umum penggunaannya dapat dipertukarkan dan hal tersebut menyebabkan keambiguan dan kebingungan diantara keduanya. menurut para ahli setidaknya ada empat cara membedakan kelembagaan dengan organisasi. 3. Kelembagaan dan organisasi berada dalam satu kontinuum. 2. Namun demikian. Nasional III. Kelembagaan modern. Organisasi adalah kelembagaan yang belum melembaga. Organisasi yang telah mendapatkan kedudukan khusus dan legitimasi dari masyarakat karena keberhasilannya memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat dalam waktu yang panjang dapat dikatakan bahwa organisasi tersebut telah “melembaga”.

yaitu sebagai organ kelembagaan. Aturan. sehingga mereka terpaksa harus saling berinteraksi. Organisasi merupakan bagian dari kelembagaan. Person (=orang). Inti dari kelembagaan adalah interaksi. 3. Orang-orang yang terlibat di dalam satu kelembagaan dapat diidentifikasi dengan jelas. sehingga seseorang dapat menduga apa perilaku orang lain dalam lembaga tersebut. Setiap orang memiliki posisi dan peran. Untuk mempelajari kelembagaan adalah dengan memperhatikan interaksi yang terjadi : Apakah interaksi tersebut berbentuk formal ataukah nonformal ? Apakah berpola horizontal atau vertikal ? Apakah berbasiskan ekonomi atau bukan (biasanya disebut ”sosial”) ? Apakah hanya sesaat atau berlangsung lama ? Apakah merupakan hal yang biasa atau hal baru ? Apakah berpola atau acak ? Apakah karena perintah atau bukan ?. 83 . 4. Setiap kelembagaan mengembangkan seperangkat kesepakatan yang dipegang secara bersama.4. 2. yang harus dijalankannya secara benar. Kepentingan. Struktur. Orang-orang tersebut sedang diikat oleh satu kepentingan/tujuan. Adapun komponen kelembagaan secara umum terdiri dari 4 (empat) unsur penting yaitu : 1. Orang tidak bisa merubah-rubah posisinya dengan kemauan sendiri.

Berpikir dalam kesisteman. Desentralisasi. Keberlanjutan. 5. Bertolak atas kondisi yang ada dalam masyarakat (existing condition). Fleksibilitas. Sebutan indigenous people menandakan bahwa mereka merupakan kelompok masyarakat yang telah membangun kehidupannya dengan memiliki pemerintahan sendiri (self governing community) jauh sebelum hadirnya negara. 3. Nilai tambah atau keuntungan.Dari kondisi tersebut maka dalam pemberian asistensi dan fasilitasi kegiatan pemberdayaan masyarakat harus berprinsip pada : 1. 7. 4. Efektifitas. 9. III. 6. 2. 8.4. Efisiensi. Partisipatif. 10. Kebutuhan. INVENTARISASI MASYARAKAT MARJINAL DAN POTENSI PEMBERDAYAANNYA Sejarah masyarakat adat yang dikenal sebagai masyarakat asli (indigenous people) diwarnai dengan proses marginalisasi. namun pada perkembangannya kemudian negara 84 .

sudah ada beragam bentuk kegiatan yang berupaya untuk mengembalikan hak dan kedaulatan masyarakat adat. baik dalam maupun luar negeri.yang bersifat ekspansif menjadi pihak yang bertanggungjawab terhadap proses marginalisasi seperti keterasingan dan keterbelakangan masyarakat adat. dan budaya masyarakat yang kemudian diikuti dengan ketergantungan dan ketidakberdayaan. dan gejala ini merupakan fungsi dari terjadinya kemerosotan sampai hilangnya atas hak-hak sosial-politik. Namun pada masa kini kedaulatan hanyalah sebuah pintu masuk untuk mengusung pemberdayaan masyarakat adat. Kedaulatan pun menjadi tidak fungsional untuk memberdayakan jika masyarakatnya tidak mempunyai kekuatan untuk merespons berbagai 85 . keterbelakangan. dan keterasingan. Selama ini masyarakat adat hidup dalam proses marginalisasi. Di berbagai wilayah. harus dipelajari betul bahwa pengembalian atas kedaulatan masyarakat jangan sampai menimbulkan jebakan baru ketika masalah utama yang mereka hadapi adalah powerless. dan membangun kemandirian masyarakat adat justru penting sebagai bekal bagi mereka di dalam mengisi kedaulatan tersebut. Memang pada masa lalu marginalisasi yang dialaminya merupakan fungsi dari hilangnya kedaulatan. Marginalisasi itu mengandung makna terjadinya proses kemiskinan. ekonomi. Akan tetapi.

seseorang atau kelompok masyarakat yang mengalami peminggiran sosial. jarak transportasi yang terjangkau. indeks pembangunan. 86 . ataupun akses pada bank dan komunikasi yang sulit. Definisi marjinal dalam aspek-aspek tersebut dijelaskan sebagai berikut : 1. ketika keberadaan mereka dalam kehidupan secara geografis mengalami kesulitan pada akses untuk mendapatkan air bersih. Dengan demikian. Aspek Sosiologis. Kebanyakan kelompok masyarakat demikian biasanya terisolir dengan masyarakat kebanyakan. sosiologi. seorang / kelompok / masyarakat yang mendapatkan perlakuan tidak adil atau diskriminasi karena persoalan gender. pendidikan. infrastruktur.manuver dan praktik politik ekonomi yang potensial menjerumuskan masyarakat adat ke dalam ketidakberdayaan lagi. individu atau kelompok masyarakat dari kultur manapun ia berasal. dan masyarakat atau kelompok masyarakat yang asasinya terlanggar. ekologis. maka ia masuk dalam kategori marginal. politik. Aspek Infrastruktur. Masyarakat marjinal bisa didefinisikan dalam berbagai aspek. 2. individu atau kelompok masyarakat yang mendapat ketidakadilan / peminggiran karena persoalanpersoalan diatas tersebut. kesehatan. maka kelompok masyarakat ini bisa dikatakan marjinal. ekonomi. yang termasuk kelompok marjinal adalah buruh anak.

masyarakat yang mengalami gizi buruk dan kekurangan gizi. kelompok masyarakat yang harapan hidupnya rendah. banyak yang tidak sekolah. Aspek Politik. tingkat kematian bayinya tinggi. Aspek Pendidikan. semua ini bisa dikategorikan dalam kelompok marginal 4. 5. kelompok masyarakat atau individu yang memiliki pendapatan perkapita rendah sehingga termasuk dalam kategori miskin sering kali menjadi masyarakat yang terpingigirkan.3. walaupun kategori atau standar pendapatan perkapita yang ditetapkan oleh masing-masing pemerintahan berbeda-beda tergantung indikator-indikator yang dipergunakan namun secara umum masyarakat yang berpenghasilan rendah akan berada dalam strata tersendiri pada struktur ekonomi suatu negara. sebuah kelompok yang didalamnya tingkat buta hurufnya tinggi. yang pada akhirnya mereka memiliki keterbatasan dalam memperoleh akses informasi dari luar. 6. Aspek Ekonomi. Aspek Kesehatan. individu atau kelompok masyarakat yang terhambat atau tidak diberi ruang untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan politik maupun golongan masyarakat yang tidak bisa mendapatkan kenyamanan dan selalu terancam baik dalam masalah keamanan maupun kekerasan menjadikan mereka terpinggirkan secara politik. 87 .

7. sehingga masyarakat setempat tidak memperoleh manfaat yang optimal dari sumber daya yang dimilikinya dan bahkan jika timbul kerusakan lingkungan akibat eksploatasi tersebut maka masyarakat setempat itulah yang harus menanggung akibatnya. Sayogyo (1999) mengemukakan bahwa untuk merangsang lahirnya gerakan pemberdayaan masyarakat yang bermula pada komunitas lokal termasuk masyarakat marjinal. dan kepercayaan antar sesama yang lahir dari anggota kelompok dan menjadi norma kelompok. Pada modal manusia segala sesuatunya lebih merujuk ke dimensi individu yaitu daya dan keahlian yang dimiliki oleh seorang individu. ada sejumlah syarat yang terlebih dahulu harus dipenuhi. Pada modal sosial lebih menekankan pada potensi kelompok dan antar kelompok dengan ruang perhatian pada jaringan sosial. masyarakat marginal dari sisi ekologis adalah kelompok masyarakat yang di wilayah tempat tinggalnya sudah mengalami eksploatasi terhadap sumber daya alam yang dimilikinya oleh pihak luar. Modal sosial berbeda dengan istilah populer lainnya yaitu modal manusia (human capital). Aspek Ekologis. norma. Adanya suatu kelompok masyarakat apapun kondisinya secara tidak langsung sudah merupakan suatu modal sosial (social capital) yang dapat di manfaatkan untuk pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat. tiga syarat terpenting adalah : 88 . nilai.

3. pendekatan top-down harus segera diganti pendekatan bottom up. Meninjau kembali segala kebijakan yang memperlemah kebudayaan masyarakat dan menggantinya dengan kebijakan yang lebih memihak pada upaya peningkatan keberdayaan masyarakat desa untuk memperbaiki nasib sendiri. Artinya. pelaksanaan. dalam segala kegiatan pembangunan desa masyarakat desa itulah yang menjadi subyek dan pelaku utama. melainkan program dari desa. Pada azas program. dari yang pola feodalistik dan kolonial (pemerintahan yang kuat dan paternalistik) ke pola pemerintahan yang lebih profesional dan masyarakat yang dinamis.1. 2. yang tercermin dari mekanisme pengambilan keputusan dan penyelenggaranaan program. Masyarakat harus menjadi subyek dan penentu utama dari segala kegiatan pembangunan dalam arti yang sesungguhnya. perencanaan. Restrukturisasi kelembagaan komunitas. evaluasi sampai pemanfaatan hasil89 . Istilah program pemberdayaan masyarakat seharusnya tidak lagi berkonotasi program masuk desa. Mulai dari penjajakan masalah dan kebutuhan. Tatanan dasar yang mengatur kehidupan komunitas perlu direorientasi (UU politik dan pemerintahan). Tatanan baru perlu menjamin kebebasan masyarakat berekspresi dan mengembangkan inisiatif lokal untuk memenuhi kebutuhankebutuhan azasinya. pengawasan.

Pembangunan yang memberdayakan hanya bisa tercapai melalui sikap intristik “memanusiakan manusia’. ekonomi dan sosial budaya kelembagaan masyarakat adat telah tidak memiliki akar yang kuat akibat proses penyeragaman. Dalam keadaan demikian. Kerjasama untuk memperoleh kemanfaatan material dan immaterial bagi masyarakat pada suatu jangka waktu tertentu. Pemerintahan desa ala 90 . Ketidakberdayaan dalam berbagai istilah mengacu pada ketidakmampuan untuk mengakses kebutuhan masyarakat menurut ukuran tertentu. Ketidakberdayaan hampir selalu berkonsekuensi pada aspek ekonomi. Setiap generasi yang berdaya harus bisa mewarisi nilai-nilai pembebasan dari keterbelangan dan kemiskinan. Produktif dalam pengertian mampu mendayagunakan potensi diri dan lingkungan. Fungsi politik. Upaya pemberdayaan masyarakat adat terjadi setelah Orde Baru telah berhasil menghancurkan struktur serta fungsi lembaga masyarakat adat. melalui penggalian dan penghargaan pada nilai-nilai luhur kemanusiaan dan melalui pengembangan prakarsa dan partisipasi masyarakat menolong diri sendiri untuk “berdiri di atas kaki sendiri”. masyarakat akan menerima kegagalan maupun keberhasilan program secara bertanggung jawab. Pemberdayaan merupakan proses belajar yang produktif dan reproduktif. Reproduktif dalam pengertian mampu mewariskan nilai-nilai kearifan.hasilnya. seperti pendapatan.

Begitu pula upaya pemberdayaan masyarakat adat juga perlu dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi. sehingga lembaga adat dapat menjadi lembaga yang akuntabel.UU Nomor 5/1979 menisbikan lembaga masyarakat adat. 91 . handal. serta menjunjung pluralisme. Hal ini penting dikemukakan agar upaya pemberdayaan masyarakat adat dan lembaga adat tidak terjebak pada romantisme yang justru dapat mengundang munculnya nativisme. Oleh karena itu upaya pemberdayaan masyarakat adat perlu mempertimbangkan upaya inventarisasi dan revitalisasi nilai-nilai adat istiadat yang kontekstual dengan tuntutan perkembangan zaman yang saat ini ialah era reformasi dan demokratisasi.

sebagai lembaga 92 P . Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006 telah di bentuk lembaga Sub Direktorat Bina Partisipasi yang merupakan bagian Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan. PENGERTIAN PARTISIPASI MASYARAKAT artisipasi (participation). berada pada lingkungan Deputi Bidang Pengendalian Pertanahan dan Pemberdayaan. hal ini berarti kesediaan masyarakat untuk menjadi peserta dari suatu proses komunikasi atau kegiatan pertanahan. adalah menjadi peserta dari suatu proses komunikasi atau kegiatan bersama dalam suatu situasi sosial tertentu. Dalam konteks pertanahan. Pengelolaan pertanahan dan keagrarian mutlak membutuhkan keterlibatan dan partisipasi aktif dari masyarakat.1.BAB IV PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN IV. Untuk itu dalam kelembagaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang diatur dalam Peraturan Ka.

Untuk mencapai kondisi tersebut. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan reforma agraria dan seluruh kebijakan keagrariaan dan pertanahan hanya dapat muncul jika masyarakat memiliki cukup kesadaran. dijalankan agenda dan program pendidikan. Oleh karena itu. pelatihan 93 . kelembagaan pemerintah di bidang pertanahan membuka ruang yang luas dan kesempatan yang besar bagi tumbuh dan berkembangnya keterlibatan pemerintah dalam berbagai segi dan bentuknya. Partisipasi masyarakat akan sangat menentukan keberhasilan dari penataan pertanahan melalui reforma agraria. kemampuan dan kemauan mengenai hal-hal penting terkait agraria dan pertanahan. 1984). dibimbing dengan cara berfikir mereka sendiri sebagai wujud kesediaan untuk membantu berhasilnya setiap program sesuai kemampuan setiap orang tanpa berarti mengorbankan kepentingan diri sendiri (Murbyarto. Dengan partisipasi masyarakat itulah maka diharapkan legitimasi sosial dari penyusunan dan pelaksanaan agenda dan program-program pemerintahan di bidang pertanahan dan keagraria secara umum dapat berjalan dengan baik dan lebih khusus lagi dapat mendukung pelaksanaan program nasional yaitu reforma agraria. pengetahuan. Partisipasi masyarakat memiliki pengertian sebagai suatu proses aktif dan sukarela yang diambil oleh masyarakat sendiri.yang bertangggung jawab dalam peningkatan partisipasi masyarakat untuk pelaksanaan programprogram pertanahan.

yaitu: Pertama. Partisipasi ini terjadi ketika masyarakat bersedia menghadiri sosialisasi kegiatan pertanahan. partisipasi bertujuan (objective participation). Partisipasi ini terjadi ketika timbul kesediaan masyarakat untuk mengikuti kegiatan pertanahan tertentu. Ada beberapa kemungkinan yang dapat terjadi berkaitan dengan partisipasi masyarakat di bidang pertanahan. partisipasi kehadiran (audience participation).dan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan dan keagrariaan. karena telah mengetahui tujuan kegiatan tersebut. partisipasi budaya (cultural participation). misal: sosialisasi PPAN (Program Pembaruan Agraria Nasional). Ketiga. Kedua. Partisipasi ini terjadi ketika timbul kesediaan masyarakat untuk mengikuti kegiatan pertanahan secara lebih jauh lagi. 94 . Semua ini merupakan bagian dari upaya menegakan kedaulatan rakyat yang dilandasi oleh semangat demokrasi untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan. Agenda dan program pengembangan partisipasi masyarakat ini dijalankan secara mengalir dari bawah ke atas (bottom up) dengan menghargai potensi lokal dan mengangkat kearifan-kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat bawah.

proses persepsi (perception). Kelima. yang relevan dengan kebutuhannya. Keempat. Pada tahap ini masyarakat mengidentifikasi kebutuhannya yang berkaitan dengan pertanahan. proses manipulasi (manipulation). melainkan melalui proses transformasi sikap yaitu : Pertama. Pada tahap ini masyarakat melakukan eksekusi terhadap salah satu dari beberapa alternatif sikap yang telah disiapkannya.Keempat. Ketiga. partisipasi kebijakan (policy participation). Sikap kepedulian masyarakat terhadap kegiatan pertanahan tidaklah tiba-tiba. Pada tahap ini masyarakat berupaya memahami kegiatan pertanahan yang akan disikapinya. Partisipasi ini terjadi ketika timbul kesediaan masyarakat untuk terlibat dan memberi kontribusi dalam perumusan kebijakan pertanahan. proses ini diawali oleh impuls (dorongan hati). Kedua. Pada tahap ini masyarakat berupaya menyiapkan beberapa alternatif sikap terhadap kegiatan pertanahan tertentu. Contoh: masyarakat memberi kontribusi pemikiran (masukan) tentang tradisi lokal yang dapat mendukung PPAN. konsumasi (consumation). 95 . partisipasi psikologis (psychological participation) Partisipasi ini terjadi ketika timbul kesediaan masyarakat untuk melakukan proses formasi sikap untuk mendukung kegiatan pertanahan.

keadilan. Sejak dekade 1990-an. peranserta masyarakat. kabupaten. membawa konsekuensi terhadap pentingnya penguatan peran masyarakat. propinsi hingga nasional. Wacana pembangunan yang partisipatif di Indonesia sesungguhnya telah dimulai sejak lebih dari 30 tahun lalu. Sementara kebijakan yang lebih konkret dimulai pada dekade 1980-an. dimana konsep pembangunan dari rakyat. dimana proses pembangunan diselenggarakan dengan memperhatikan prinsipprinsip demokrasi. Dalam era demokratisasi dan otonomi daerah pasca pemerintahan Orde Baru. oleh rakyat dan untuk rakyat telah dimasukkan dalam GBHN pada dekade 1970-an. kegiatan pembangunan daerah dirancang lebih partisipatif melalui lembaga pengambilan keputusan tingkat desa. maka konsep pembangunan yang partisipatif mulai digagas dan dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia. dan penguatan semangat tata pemerintahan yang baik (Good governance). Berbagai program 96 . serta memperhatikan potensi dan keaneka-ragaman daerah. dan munculnya kebijakan desentralisasi pembangunan. Sejalan dengan dikedepankannya prinsip tata pemerintahan yang baik terutama di tingkat Kabupaten/Kota.Mengemukanya tuntutan reformasi politik dan pembangunan. pemerataan. pentingnya partisipasi masyarakat dalam semua tahapan proses pembangunan merupakan suatu keniscayaan. kecamatan.

Partisipasi mendorong setiap warga masyarakat untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Pembedaan perlakuan atas dasar apapapun dapat menumbuhkan kecemburuan dan mendorong terjadinya konflik sosial di masyarakat. baik secara langsung maupun tidak langsung. Dapat berperan dalam perencanaan masa depan mereka sendiri dalam masyarakatnya tanpa 2. mulai dari pembangunan infrastruktur perdesaan. Mampu secara kritis menilai lingkungan sosial ekonomi mereka sendiri mengidentifikasi bidang-bidang yang perlu diperbaiki. 97 . 3. Mampu menentukan visi masa depan yang ingin masyarakat wujudkan. perencanaan pembangunan partisipatif. Melalui pembangunan masyarakat diharapkan dapat : 1. Partisipasi masyarakat dapat terwujud seiring tumbuhnya rasa percaya masyarakat kepada penyelenggara pemerintahan di daerah. Rasa percaya ini akan tumbuh apabila masyarakat memperoleh pelayanan dan kesempatan yang setara (equal). dan sebagainya. yang partisipatif. pengembangan pertanian.pemberdayaan masyarakat dilaksanakan dengan pendekatan partisipatif dan meliputi semua sektor. desentralisasi pendidikan dasar. pelayanan kesehatan.

merupakan hal penting yang akan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisinya saat ini dan 98 . menganalisa situasi dan mengidentifikasi strategi yang tepat dan realistis untuk suatu kehidupan yang baik. Desa dan masyarakat akan menyelesaikan tugas dan proyek swadaya.menyerahkannya kepada ahli atau kelompok berkuasa. 7. Kantor Pertanahan hendaknya membantu masyarakat mengenali akar masalah yang dihadapi masyarakat. Berdasarkan fakta sosiologis ini. Dapat memperoleh pengalaman dalam menyatakan. maka selayaknya Kantor Pertanahan melakukan upaya penguatan daya pengertian masyarakat dengan memperhatikan tahapan-tahapan dalam proses transformasi sikap. karena masyarakat tidak tergantung pada bantuan dari luar. dan Dalam proses ini akan dibangun hubungan yang erat dan integratif diantara anggota masyarakat 5. yang juga akan menjadi dasar menuju kemandirian. dalam tahap impuls. 6. Karenanya anggota masyarakat menjadi tokoh individual yang dapat bekerja atas dasar persamaan. 4. Kemampuan mengenali akar masalah. Sebagai contoh. 8. Dapat menghimpun sumber-sumber daya di dalam masyarakat dan juga di dalam lingkup anggotanya untuk merealisasi tujuan bersama.

Peran juga merupakan perilaku aktual dari Pokmasdartibnah. Keterlibatan dalam kepanitiaan atau satuan tugas tertentu. Ikut serta mengawasi secara aktif jalannya pelaksanaan pendaftaran tanah. yang memberinya perangkat hak dan kewajiban. dan merupakan bagian dari aktivitas yang sedang dimainkan Pokmasdartibnah. Aktif mendaftarkan tanah yang dimilikinya atau sebagai kuasa dan memenuhi persyaratan yang diperlukan. Membantu panitia atau hadir dalam acara penyuluhan yang diselenggarakan panitia. Untuk mewujudkan kondisi tersebut. 99 . Peran (role) memberi makna adanya aspek dinamis dari status Pokmasdartibnah.korelasinya dengan prospeknya di masa depan dalam konteks pertanahan. Gerakan ini bertujuan untuk memberi ruang partisipasi kepada masyarakat dalam pengelolaan pertanahan. b. c. Melaporkan kepada petugas pendaftaran tanah atau Kepala Kantor Pertanahan jika mengetahui adanya kejanggalan dalam pelaksanaan kegiatan pendaftaran tanah. e. d. Pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Negara Agraria Nomor 5 Tahun 1995 tentang Gerakan Nasional Sadar Tertib Pertanahan. Beberapa bentuk atau wujud partisipasi masyarakat dalam bidang pertanahan dapat berupa : a.

terpeliharanya kondisi aman. nyaman. yang kurang aspiratif.Rencana kedepan peran Pokmasdartibnah akan digantikan oleh suatu lembaga baru yaitu Gemara (gerakan masyarakat reforma agraria) yang memiliki sasaran untuk menciptakan peran aktif masyarakat meliputi : 1. dan 3. tertib dan lancar dalam penataan aset masyarakat. tapi partisipasi yang dipaksakan atau partisipasi karena dimobilisasi (mobilize participation). terbukanya akses masyarakat untuk mengelola aset tanah dalam pelaksanaan Reforma Agraria. 2. mulai dari tahap perencanaan sampai pada evaluasi.2. IV. Proses pelaksanaan pembangunan yang demikian itu akan memunculkan pengaruh yang 100 . STRATEGI PENGEMBANGAN PARTISIPASI MASYARAKAT Berbagai program pembangunan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah secara mendasar belum dapat menjawab segala permasalahan yang dialami masyarakat. Akibatnya muncul partisipasi yang bukan berdasarkan kehendak masyarakat. Kesemua permasalahan tersebut dapat disebabkan diantaranya oleh sistem pelibatan/partisipasi/keikutsertaan masyarakat. terbangunnya kesadaran dan pemahaman hak dan kewajiban masyarakat dalam penataan sistem politik dan hukum agraria/pertanahan.

pelaksanaan. yaitu : 1. Selain itu kurangnya rasa memiliki dikalangan masyarakat terhadap program yang dilaksanakan berakibat pada ancaman ketidakberlanjutan program (unsustainability). Konsep pembangunan yang partisipatif merupakan suatu proses pemberdayaan pada masyarakat sehingga masyarakat mampu untuk mengidentifikasi kebutuhannya sendiri atau kebutuhan kelompok masyarakat sebagai suatu dasar perencanaan pembangunan. dan mudah sekali dilupakan dan ditinggalkan (hit and run). maka konsep pembangunan partisipatif mengandung tiga unsur penting. pemanfaatan hasil pembangunan. dan evaluasi proses pembangunan. 3. 101 . Oleh karena itu. Pembangunan partisipatif atau Pemberdayaan berbasis partisipasif yang diyakini akan memunculkan rasa memiliki terhadap suatu program mengharuskan bahwa setiap komponen masyarakat ikut terlibat mulai dari proses perencanaan. sampai evaluasi program. 2. Dengan demikian paradigma pembangunan yang bersifat sentralistis dan top down harus mulai ditinggalkan. Orientasi pemahaman masyarakat akan peran tersebut. implementasi pembangunan. dan Peran pemerintah sebagai fasilitator.signifikan terhadap hasil yang dicapai. Peningkatan peran masyarakat dalam perencanaan.

4. 3. 2. 5. Kurang terakomodasinya aspirasi dan kepentingan rakyat serta ketergantungan masyarakat kepada pihak ”luar” dalam pengambilan prakarsa dan perumusan program. sehingga mereka seringkali tidak merasa sebagai pemilik program. Karena tidak merasa memiliki program. karena keterlibatannya hanya sebagai pelaksana. akibatnya dukungan masyarakat terhadap program seperti ini seringkali semu demikian pula dengan partisipasi mereka.Hasil penelitian LPPM Uninus Bandung (2000) disebutkan bahwa pola pendekatan yang bersifat sentralistik dan Top Down seringkali menimbulkan permasalah-permasalahan seperti : 1. Tidak adanya proses pembelajaran (learning proccess) dari masyarakat dalam hal perencanaan dan pengorganisasian karena mereka hanya sebagai pelaksana (obyek). Masyarakat sasaran program hanya sebagai objek. dengan demikian kurang menjamin keberlanjutan program karena prakarsa selalu datang dari luar dan keterampilannyapun akhirnya tetap dimiliki oleh orang luar. Terjadinya ketidakcocokan program (lag of program) antara “pemrakarsa” atau perancang program yang nota bene “orang luar” dengan pelaksana dilapangan (masyarakat). 102 .

komitmen dan kebersamaan mewujudkan partisipasi semua kalangan. yang dapat melibatkan pengembangan atau organisasi sosial yang telah diprakarsai sebelumnya (di luar komunitas yang bersangkutan). tinggal bagaimana sistem itu dijalankan sinergis dengan kesadaran. Hal ini cenderung melibatkan beragam metodologi interdisiplin dalam menggali tujuan beragam dan memanfaatkan proses pembelajaran terstruktur dan sistematik. melakukan pendekatan partisipasi aktif / interaktif.Untuk menghindari masalah tersebut. yang membawa kepada rencana tindak dan pembentukan kelembagaan lokal yang baru atau perkuatan kelembagaan yang telah ada. masyarakat berpartisipasi dalam analisis bersama. melakukan pendekatan partisipasi berbasis kelompok/organisasi. sehingga melalui strategi pengembangan partisipasi masyarakat yang tepat dapat menjawab berbagai permasalahan yang timbul yaitu: 1. partisipasi ini dilakukan melalui pendekatan kepada organisasi yang sudah dikenal atau sudah ada ditengah-tengah masyarakat yang bersangkutan atau masyarakat berpartisipasi dengan membentuk kelompokkelompok untuk mencapai tujuan tertentu (yang ditetapkan terlebih dahulu) dari proyek. 2. Kelompok yang terbentuk bisanya mempunyai kendali atau rasa 103 . sebenarnya sistem perencanaan pemberdayaan berbasis partisipatif sudah ada.

Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif/prakarsa secara independen. 104 . 4. bebas dari pengaruh kelembagaan luar/eksternal untuk mengubah sistem dengan memperhatikan potensi kearifan-kearifan lokal yang dimiliki wilayah setempat. melakukan pendekatan partisipasi dengan pola keterikatan. sehingga berkepentingan dalam memelihara struktur atau praktek yang berkembang. makanan. masyarakat diberikan pilihan untuk terikat dengan tanggung jawab atas dukungan finansial dan teknis dari luar. Masyarakat berpartisipasi dengan mengambil inisiatif/prakarsa secara independen. 3.kepemilikan atas keputusan yang diambil. melakukan pendekatan partisipasi dengan pola permintaan setempat. Sebagian on farm research termasuk kategori ini. masyarakat berpartisipasi dengan menyediakan sumber daya seperti tenaga kerja. Contoh kegiatan melalui pendekatan ini biasa diterapkan pada pola plasma di areal perkebunan kelapa sawit. dana atau bentuk insentif material lainnya. bebas dari pengaruh kelembagaan luar/eksternal untuk mengubah sistem. di mana para petani biasanya hanya menyediakan lahan tetapi tidak terlibat dalam uji coba (eksperimen) atau proses pembelajaran.

dimana pengalihan pola komunikasi dari sekedar menginformasikan ke pola dialog berbagi informasi. Komunikasi partisipatif kaitannya dengan pemberdayaan sangat diperlukan dalam bentuk pengelolaan informasi. pendidikan. sehingga diperlukan 105 . Komunikasi partisipatif harus bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan mengambil keputusan para pihak yang terlibat. pendidikan masyarakat. 2. dan penyebaran informasi. agama dan sebagainya). 3. gender. tetapi juga membuka “ruang publik” untuk berbagi informasi. Adapun secara umum prinsip-prinsip dari komunikasi partisipatif antara lain (Adiwibowo. dari dominasi satu arah ke komunikasi dua arah. Komunikasi bukan sekadar menginformasikan. 2011) : 1. ras. dimana ini merupakan salah satu elemen penting komunikasi dalam menunjang kegiatan pemberdayaan. Ruang publik yang terbuka harus memberikan kesempatan yang setara kepada berbagai kelompok “tertinggal” (ekonomi.Semua strategi dan langkah dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya yang terkait dengan partisipasi masyarakat tersebut tidak akan dapat memperoleh hasil yang maksimal bila tidak dilakukan dengan sebuah komunikasi yang partisipatif yaitu dengan melakukan pengalihan kekuasaan (power).

massa-individu-kelompok). tetapi berbagi informasi antara pihak-pihak yang memiliki kedudukan setara. Penerapan komunikasi partisipatif beberapa perlu diperhatikan atau menjadi peringatan bahwa komunikasi partisipatif bukanlah obat manjur bagi 106 . Memanfaatkan media massa untuk membantu mendiagnosa masalah menyebarkan informasi. dan media pendidikan bagi publik. 4.pencarian dan pendokumentasian informasi agar mempermudah akses bagi masyarakat yang memerlukannya. Menempatkan komunikasi bukan untuk persuasi. dan pengalaman. 3. Beberapa bentuk komunikasi partisipatif menurut Adiwibowo (2011) antara berupa : 1. Memberikan akses bagi publik untuk dapat memanfaatkan media massa dalam mengekspresikan pandangan. 2. kepentingan. Hal lain yang dapat diambil sebagai manfaat dari pola komunikasi partisipatif adalah untuk meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat baik terhadap program yang dilaksanakan maupun dalam kemampuan berkomunikasi yang baik dan benar dari masyarakat itu sendiri dengan memanfaatkan berbagai media komunikasi yang ada sesuai dengan kelompok sasaran yang dihadapinya (modern-tradisional. Mampu mengubah komunikasi massa dari kendali untuk “kepentingan kelompok” menjadi ke “kepentingan publik”.

untuk itu perlu diwaspadai atau dibedakan antara “partisipasi” dan “manipulasi”. ADVOKASI KOMUNIKASI INFORMASI EDUKASI PENGEMBANGAN JARINGAN PENGORGANISASIAN KOMUNITAS PENGEMBANGAN KAPASITAS Gambar 7 : Pola Komunikasi dan Pemberdayaan Masyarakat (Adiwibowo. ketidakjujuran pesan atau menutupi maksud utama akan berdampak “negatif” terhadap pencapaian tujuan pemberdayaan masyarakat.semua masalah pembangunan termasuk dalam hal ini adalah pemberdayaan masyarakat. Adapun pola komunikasi dan pemberdayaan masyarakat dapat dilihat pada gambar berikut . 2011) 107 . Masyarakat selaku partisipan dalam komunikasi harus diberikan penghargaan atas waktu yang dikorbankan dalam kesediaannya untuk ikut aktif berpartisipasi dalam proses pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting karena komunikasi adalah suatu refleksi batin para pihak yang berkomunikasi sehingga keinginan untuk memanipulasi.

Perlu identifikasi dan pelibatan semua sektor di berbagai level untuk mendukung program.Upaya mengubah atau mempengaruhi perilaku penentu kebijakan agar berpihak pada kepentingan publik. dan seterusnya. Dilakukan dengan menyampaikan pesanpesan yang didasari pada argumentasi ilmiah. Aspek Advokasi : . legal. kelompok. dalam Menjadi wadah refleksi dan aksi bersama anggota komunitas.Menjalin kerjasama dengan pihak lain (individu. komunitas. Unsur penting dalam modal sosial (disamping trust). Berjenjang : tingkat komunitas. -  Aspek Pengorganisasian Komunitas : . antar  Pengembangan Jaringan : . dapat memanfaatkan sumberdaya dengan efisien. Memampukan masyarakat memanfaatkan sumberdaya. dan atau organisasi) agar bersama-sama saling mendukung untuk mencapai tujuan.Menjadi arena bagi masyarakat untuk mendiskusikan dan mengambik keputusan. 108 . dan moral. Komunitas yang mempunyai jaringan. antar desa. sehingga akan lebih baik perkembangannya.

Kemampuan masyarakat meliputi : kemandirian. sikap. keswadayaan. keuangan. Kemampuan individu meliputi : pengetahuan. pembelajaran.Meningkatnya kemampuan masyarakat untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien.3. dan ketrampilan. Peran pembentukan kelompok kadangkala mendapat hambatan karena tidak semua masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. - IV. Pengembangan Kapasitas : . PERANAN KELOMPOK DALAM PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN Tujuan pembentukan kelompok adalah sebagai wadah berorganisasi. dan budaya organisasi. Kemampuan kelembagaan meliputi : perbaikan organisasi. wahana kerjasama dan unit produksi yang mampu menghasilkan sosialisasi dan rekomendasi untuk kemajuan kelompoknya. Meski demikian pada hakekatnya keberadaan suatu kelompok sangat dibutuhkan dan keberadaannya mempunyai peranan yang sangat 109 . berminat untuk membentuk atau mengembangkan kelompok yang sudah ada. dan kemampuan mengantisipasi perubahan.

BPN RI dapat bekerja sama dengan BPPT dari Kementerian Pertanian untuk membina petani dalam mengolah tanahnya sehingga tanah tersebut menjadi subur dan menghasilkan tanah/hasil/produksi yang baik. Nelayan. Prona. membantu masyarakat melalui pembukaan berbagai akses. dengan cara: memberi pembinaan kepada masyarakat bagaimana cara mengolah tanah dengan baik. Petani. banyak hal yang dapat dilakukan diantaranya dengan cara percepatan pendaftaran melalui berbagai program seperti Larasita. UKM. Redistribusi. MBR. adalah dengan cara memberikan kontribusi nyata yang bisa dirasakan oleh masyarakat baik secara individual maupun kelompok. dimulai dengan pemahaman bahwa tanah yang dimiliki harus memberikan manfaat untuk sebesar-besarnya bagi masyarakat. serta usaha permodalan. dan lainlain.penting. 110 . untuk itulah BPN RI bekerjasama dengan instansi terkait untuk menciptakan suatu program yang dapat memberi pengetahuan kepada masyarakat bagaimana cara mengolah tanah. Kedua. bagaimana pola tanam dan teknik penanaman. dan pola pengembangan produksi. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam peningkatan partisipasi masyarakat di bidang pertanahan diantaranya yaitu : Pertama.

kurangnya tingkat pengetahuan masyarakat terhadap hukum pertanahan mengakibatkan masyarakat tidak mengetahui hak dan kewajibannya terhadap tanah. sehingga masyarakat mengerti terhadap hukum pertanahan. sehingga tanah yang sebenarnya memiliki nilai ekonomis tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. dengan memberikan pencerahan kepada masyarakat.- membentuk kelompok-kelompok masyarakat seperti kelompok tani. mengundang lembaga perbankan untuk menjajaki peluang yang dapat membantu masyarakat dalam permodalan untuk meningkatkan produktifitas baik kualitas maupun kuantitas. - - Ketiga. mengundang suatu badan usaha untuk menilai hasil tanaman petani dan membina mereka sehingga hasil tanaman mereka dapat memenuhi standar mutu pasar baik lokal. Oleh sebab itu tim pemberdayaan harus lebih intensif memberikan pencerahan atau penyadaran melalui : penyuluhan kepada masyarakat dalam upaya pencerahan. nasional maupun internasional. membangun kepercayaan masyarakat kepada lembaga BPN RI dengan cara meningkatkan - 111 . agar memudahkan dalam memberikan informasi dan koordinasi melalui penyuluhan-penyuluhan. POKMASDARTIBNAH (Pokmas) dan lain-lain.

terdapat beberapa unsur yang didalamnya mempunyai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Peranan fasilitator dalam memfasilitasi kegiatan pemberdayaan masyarakat sangat strategis. Unsur tersebut meliputi masyarakat. fasilitator. IV. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah dengan mengembangkan atau pembentukan kelompokkelompok yang mandiri. posisi fasilitator sangat strategis karena setiap saat langsung berhadapan dan berdampingan dengan masyarakat dimana tugas terpenting fasilitator harus mampu menciptakan transformasi sosial (perubahan sosial). Secara profesi fasilitator lebih dituntut peranannya dalam memfasilitasi masyarakat penerima manfaat. 112 .pelayanan kepada masyarakat. sehingga programprogram BPN dapat diterima oleh masyarakat. khususnya di wilayah perumusan strategi yang digunakan adalah penguatan kelembagaan yang merupakan sebuah kegiatan memberdayakan masyarakat agar mampu secara mandiri berperan serta dalam peningkatan kesejahteraan hidupnya.4. pemerintah dan pihak swasta. PERANAN FASILITATOR DAN RELAWAN DALAM PENINGKATAN PARTISIPASI MASYARAKAT Dalam program pemberdayaan.

Tujuan adanya kelompok ini sebagai wadah berorganisasi, pembelajaran, wahana kerjasama, dan unit produksi yang mampu menghasilkan solusi dan rekomendasi bagi kemajuan kelompoknya. Pada hakekatnya kelompok sangat dibutuhkan untuk sebuah perubahan. Tanpa kelompok, perubahan akan tersendat pertumbuhannya. Fasilitator memandang dengan adanya kelompok akan mempermudah ruang gerak dalam menjalankan misi perubahan. Fasilitator harus mampu memfasilitasi lahirnya kelompol-kelompok peduli dan mengakar di masyarakat yang akan menjadi agent of change (agen perubahan) di wilayahnya sendiri. Berbagai upaya yang dilakukan dalam membentuk kelompokkelompok di masyarakat, fasilitator harus memahami terlebih dahulu karakteristik masyarakat setempat (local spesific) atau melalui kearifan lokal. Tanpa adanya pemahaman terhadap masyarakat, sangat sulit bagi fasilitator untuk melaksanakan kegiatan pemberdayaan . Dalam upaya mendorong anggota-anggota masyarakat agar memiliki wadah kerjasama itu, tentu perlu memperkenalkan tentang kelompok, fungsi, tujuan serta sasaran yang hendak dicapai sehingga masyarakat menyadari betapa pentingnya kelompok itu. Disinilah peran fasilitator menggerakkan rasa sadar (aware), tergugah minat (interest) dan terbuka wawasan (understanding) dari masyarakat terhadap pengembangan kelompok sebagai wadah aspirasi masyarakat.
113

Seiring telah terbentuknya kelompok tersebut fasilitator tetap melakukan pembinaan dan penguatan serta menciptakan rasa kebersamaan diantara anggota kelompok. Setiap kegiatan dalam pemberdayaan harus berorientasi kelompok sehingga fasilitator harus dapat melahirkan adanya relawan yang akan menjalankan program secara bersama. Pada era reformasi dan desentralisasi saat ini tuntutan terhadap pelaku pemberdayaan yang memiliki kemampuan yang memadai semakin menguat. Pelaku pemberdayaan tidak hanya dituntut untuk memperkaya pengetahuannya, melainkan mereka dituntut meningkatkan ketrampilannya dalam mendesain program pemberdayaan. Lantas muncul pertanyaan, kemampuan seperti apa yang harus dimiliki oleh pelaku pemberdayaan? Tjokrowinoto (2001) menawarkan lima bentuk kemampuan yang dianggapnya sangat relevan dengan kualitas pelaku pemberdayaan, yakni: 1. 2. kemampuan untuk melihat peluang-peluang yang ada, kemampuan mengidentifikasikan subjek-subjek yang mempunyai potensi memberikan input dan sumber bagi proses pembangunan, kemampuan untuk mengambil keputusan dan langkah-langkah yang dianggap prioritas dengan mengacu pada visi, misi dan tujuan yang ingin dicapai,

3.

114

4.

kemampuan menjual inovasi dan memperluas wilayah penerimaan program-program yang diperuntukkan bagi kaum miskin; dan kemampuan memainkan peranan sebagai fasilitator atau meningkatkan kemampuan masyarakat untuk tumbuh berkembang dengan kekuatan sendiri.

5.

Keberhasilan pelaku pemberdayaan dalam memfasilitasi proses pemberdayaan juga dapat diwujudkan melalui peningkatan partisipasi aktif masyarakat. Fasilitator harus trampil mengintegrasikan tiga hal penting yakni : optimalisasi fasilitasi, waktu yang disediakan, dan optimalisasi partisipasi masyarakat. Masyarakat pada saat menjelang batas waktu harus diberi kesempatan agar siap melanjutkan program pembangunan secara mandiri. Sebaliknya, fasilitator harus mulai mengurangi campur tangan secara perlahan. Berkaitan dengan jangka waktu keterlibatan fasilitator (pelaku pemberdayaan) dalam mengawal proses pemberdayaan terhadap warga masyarakat, Sumodiningrat (2000) menjelaskan bahwa, pemberdayaan tidak bersifat selamanya, melainkan sampai target masyarakat mampu mandiri, dan kemudian dilepas untuk mandiri, meskipun dari jauh tetap dipantau agar tidak jatuh lagi. Meskipun demikian dalam rangka menjaga kemandirian tersebut tetap dilakukan pemeliharaan semangat, kondisi, dan kemampuan secara terus menerus supaya tidak mengalami kemunduran.
115

Upayakan bahwa pendapat masyarakatlah yang mengambil alih keputusan. mendorong menghargai perbedaan. komunikasi dan relasi. dan trampil memfasilitasi proses problem solving (pemecahan masalah). Berkaitan dengan tugas pelaku pemberdayaan sebagai fasilitator oleh Parsons. Persoalan yang diungkapkan masyarakat saat problem solving tidak secara otomatis harus dijawab oleh fasilitator tetapi bagaimana fasilitator mendistribusikan dan mengembalikan persoalan dan pertanyaan tersebut kepada semua pihak (peserta atau masyarakat). Hal yang penting juga untuk diperhatikan pelaku pemberdayaan sebagai fasilitator harus dapat mengenali tugasnya secara baik. serta pengalaman dan perbedaan- 4. 116 . aktif menjadi mediator. aktif memberikan animasi dan advokasi. 2. Jorgensen dan Hernandez (1994) memberikan kerangka acuan mengenai tugas sebagai berikut : 1. fasilitator sudah pasti dituntut untuk selalu trampil melakukan fasilitasi. 3. mendefenisikan siapa yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan.Sebagai tenaga ahli. mendefenisikan tujuan keterlibatan. memfasilitasi keterikatan dan kualitas sinergi sebuah sistem: menemukan kesamaan dan perbedaan. aktif menciptakan media konsultasi.

Seorang fasilitator harus mampu menjawab pertanyaan. 117 . Sebagai Narasumber Artinya seorang fasilitator harus mampu menyediakan dan siap dengan informasiinformasi termasuk pendukungnya yang berkaitan dengan program. dan 8. mendorong pelaksanaan tugas. 10. memfasilitasi pendidikan pengetahuan dan keterampilan. mengidentifikasi masalah-masalah prioritas yang akan dipecahkan bersama dan memfasilitasi penetapan tujuan. memecahkan konflik/masalah. 9. Agar dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik maka seorang Fasilitator perlu menyadari dan memahami empat fungsi seorang fasilitator di masyarakat yaitu : a. 6. memberikan contoh pemecahan masalah kegiatan kolektif. memberikan ulasan. dalam hal ini program pemberdayaan masyarakat. gambaran analisis maupun memberikan saran atau nasehat yang kongkrit dan realistis agar mudah diterapkan. merancang solusi-solusi alternative.5. membangun dan memfasilitasi bersama mendorong 7.

perguruan tinggi. Sebagai fasilitator harus mampu menyampaikan materi yang dibutuhkan sesuai dengan kondisi dan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat serta mudah diterapkan tahap demi tahap. c. Sebagai Mediator: (i) Mediasi potensi Seorang fasilitator diharapkan dapat membantu masyarakat memediasi/ mengakses potensi–potensi yang dapat mendukung pengembangan dirinya misalnya: sektor swasta. (ii) Mediasi berbagai kepentingan Seorang fasilitator diharapkan juga dapat berperan sebagai orang yang dapat menengahi apabila diantara kelompok atau individu di masyarakat terjadi perbedaaan kepentingan.b. Arti lain adalah menyesuaikan berbagai kepentingan 118 . peluang pasar dsb. LSM. Perlu diingat fungsi ini bukan berarti fasilitator perlu memutuskan tetapi hanya perlu mengingatkan masyarakat tentang konsistensi terhadap berbagai kesepakatan yang telah dibuat sebelumnya. Sebagai Pendidik Fungsi sebagai pendidik seringkali dibutuhkan untuk membantu masyarakat dalam mempelajari dan memahami keterampilan atau pengetahuan baru dalam upaya pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan program.

d. Sebagai Perangsang (Challenger) atau Penantang Sering ditemui bahwa masyarakat jarang mengetahui dan mengenal potensi dan kapasitasnya sendiri. Sehingga pada saat tertentu seorang fasilitator harus tahu kapan dirinya berfungsi sebagai animator artinya masyarakat dapat berfungsi penuh / mandiri dalam memutuskan segala sesuatu tanpa bayangbayang intervensi fasilitatornya.untuk mencapai tujuan bersama. Untuk itu seorang fasilitator harus netral dan tidak memihak kepada salah satu kelompok saja. Untuk itu seorang fasilitator harus mampu merangsang dan mendorong masyarakat untuk menemukan dan mengenali potensi dan kapasitasnya sendiri. Sehingga masyarakat dapat melaksanakan berbagai kegiatan pembangunan secara mandiri. 119 . Jika diperlukan seorang fasilitator bisa membantu masyarakat dengan memberikan berbagai alternatif kesepakatan dalam menyesuaikan berbagai kepentingan demi tercapainya tujuan bersama.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kepemimpinan antara lain: (i) Dengan menambah pengetahuan melalui pelatihan-pelatihan. menggerakkan sekaligus berperan sebagai mediator antar warga masyarakat dan pihak lain yang diperlukan.seminar) (iv) Harus tanggap. 120 . (vi) Tahan dan berjiwa besar menerima kritikan dari luar. Kepemimpinan Seorang fasilitator juga akan menjalankan fungsi kepemimpinan di masyarakat sehingga seharusnya memiliki kapasitas untuk membimbing.Agar dapat menjalankan fungsi-fungsi diatas maka seorang fasilitator perlu dibekali dan memiliki beberapa kemampuan antara lain : a. (iii) Banyak menimba atau mempelajari pengalaman dari luar (studi banding. dapat menjabarkan ide-ide. (ii) Belajar sendiri dengan banyak membaca buku. memberi motivasi. seminar. konsep dan kebijakan. berpikir orisinil dan selalu berwawasan masa depan (visioner). (v) Melatih diri dengan berpikir kreatif.

informasi. Dengan kemampuan itulah fasilitator akan dapat menjelaskan dan memberikan kontribusi kepada anggota dan kelompok masyarakat.b. Kemampuan Komunikasi Termasuk dalam kemampuan komunikasi yang dibutuhkan adalah: (i) Kemampuan menyampaikan pesan atau informasi Fasih dan jelas dalam menyampaikan pesan. (ii) Menjadi pendengar yang aktif Jika seorang fasilitator mampu menjadi pendengar yang aktif maka sangat memungkinkan akan tahu apa yang terjadi dan peka terhadap perasaan dan emosi dibalik ungkapan kata yang disampaikan oleh masyarakat. Untuk menjadi pendengar yang baik dan aktif diperlukan suatu pengendalian terhadap emosi atau 121 . ide atau gagasan (intevensi informasi) kepada masyarakat merupakan syarat mutlak seorang fasilitator dalam menjalankan proses fasilitasi. Dengan mengetahui apa yang terjadi dan peka terhadap perasaan dan emosi dibalik ungkapan kata yang disampaikan oleh masyarakat menjadi dasar untuk mengambil sikap dan tindakan apa yang seharusnya dilakukan.

(iv) Kemampuan masyarakat dalam pengembangan termasuk Beberapa kemampuan yang dalam kelompok ini adalah: 1) Mengenal isu-isu lokal Seorang fasilitator perlu memahami benar serta menghayati isu-isu yang berkaitan dengan pemberdayaan sehingga mengenal apa yang harus dan bisa dilakukan oleh masyarakat. 2) Kemampuan identifikasi Kemampuan mengidentifikasi potensi. hambatan dan fenomena yang terjadi merupakan awal dan bekal seorang fasilitator dalam melakukan pemberdayaan dan fasilitasi di 122 . masalah. (iii) Bertanya efektif dan terarah Dengan bertanya secara efektif akan memudahkan seorang fasilitator untuk belajar dan mengerti apa yang terjadi serta sekaligus dapat memberi pemahaman untuk dapat memilih dan menemukan alternatif tindakan.perasaan diri serta bisa menghargai setiap pendapat dan gagasan yang disampaikan masyarakat. Bertanya efektif dan terarah dapat dilakukan jika fasilitator telah menguasai dan memahami program yang disampaikan.

Kemampuan ini diperlukan untuk pendekatan kepada masyarakat agar program dapat berjalan optimal. harapan dan karakteristik masyarakat dalam program pemberdayaan masyarakat merupakan bekal yang sangat positif dalam fasilitasi.masyarakat. 123 . Hal tersebut diharapkan dapat memberi manfaat berupa keterlibatan dan rasa memiliki dari masyarakat terhadap program pemberdayaan masyarakat serta dapat mendorong keberhasilan pelaksanaan program. menemukan berbagai alternatif penyelesaian serta mampu menjadi prakarsa dalam upaya pemberdayaan 4) Adaptasi partisipatif Menyesuaikan diri dengan kondisi. Di sisi lain keberadaan masyarakat sebagai orang dewasa menuntut fasilitator untuk dapat melibatkan pemikiran dan aksi mereka agar dapat memberi kontribusi terhadap pelaksanaan program. 3) Kemampuan analitis Melalui proses analitis maka seorang fasilitator akan dapat mengantisipasi masalah.

6) Kemampuan melakukan aksi sebagai akumulasi kemampuan teknis Seringkali “dengan kata” saja dirasa tidak cukup karena di beberapa hal menuntut bukti. Berkaitan dengan bagaimana memperlakukan dan berinteraksi dengan mereka serta menempatkan mereka dengan prinsip kesetaraan. seorang fasilitator perlu sesekali melakukan sesuatu sebagai wujud sebuah pernyataan untuk bukti keberadaan dan kepedulian terhadap masyarakat.tetapi segala sesuatu dipandang secara utuh didasarkan pada tujuan yang jauh ke depan. 124 .5) Berpandangan positif ke depan Selalu berpandangan secara positif dalam banyak hal sehingga tidak mudah terjebak pada pengambilan posisi pada setiap masalah secara sebagian– sebagian dan hanya didasarkan pada kepentingan sesaat/jangka pendek saja. 7) Kemampuan hubungan antar manusia (“human relationship”) Seorang fasilitator harus memiliki kapasitas untuk membina hubungan yang harmonis dengan masyarakat. Begitupun dengan masyarakat.

125 . Mampu menentukan visi masa depan yang ingin masyarakat wujudkan. 4.IV. hal ini diindikasi melalui beberapa kondisi masyarakat yaitu : 1. Dapat memperoleh pengalaman dalam menyatakan. Mampu berfikir secara kritis dalam menilai lingkungan sosial ekonomi mereka sendiri mengidentifikasi bidang-bidang yang perlu diperbaiki. 6 Karenanya anggota masyarakat menjadi tokoh individual yang dapat bekerja atas dasar persamaan. 5. 2. Dapat berperan dalam perencanaan masa depan mereka sendiri tanpa menyerahkannya kepada ahli atau kelompok lainya.5. Dapat menghimpun sumber-sumber daya di dalam masyarakat dan juga di dalam lingkup anggotanya untuk merealisasi tujuan bersama. INDIKATOR KEBERHASILAN MENINGKATNYA PARTISIPASI MASYARAKAT DI BIDANG PERTANAHAN Peningkatan partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat akan memberikan dampak yang positif. menganalisa situasi dan mengidentifikasi strategi yang tepat dan realistis untuk suatu kehidupan yang baik. 3.

Desa dan masyarakat akan menyelesaikan tugas dan proyek swadaya. 2001). dan 8.7. yang juga akan menjadi dasar menuju kemandirian. dimana ini akan berkaitan dengan tipe partisipasi dan peran serta masyarakat itu sendiri. Selain melalui indikator yang terlihat dalam masyarakat. Dalam proses ini akan dibangun hubungan yang erat dan integratif diantara anggota masyarakat. (P3P Unram. ukuran keberhasilan partisipasi masyarakat dapat juga diukur melalui bentuk partisipasi masyarakat yang ada. 3 berikut : 126 . Syahyuti berpendapat ada 6 (enam) bentuk partisipasi masyarakat yang memiliki tingkatan-tingkatan secara berurutan semakin kebawah semakin baik yaitu sebagaimana pada Tabel. karena masyarakat tidak tergantung pada bantuan dari luar.

3. Tipe Partisipasi dan Peran Masyarakat Lokal 127 . pihak luar absen sama sekali Peran Masyarakat Subject Employees atau subordinat 2 Co-operation 3 Consultation Clients 4 Collaboration Collaborators 5 Co-learning Partners 6 Collective action Directors Sumber : Syahyuti. 2006 Tabel. sementara pihak luar hanya menfasilitasinya Masyarakat lokal menyusun dan melaksanakan agendanya sendiri. dan bekerja sama untuk merencanakan kegiatan. Bentuk Partisipasi. Masyarakat lokal dan luar saling membagi pengetahuannya untuk memperoleh saling pengertian.No 1 Bentuk Partisipasi Co-option Tipe Partisipasi Tidak ada input apapun dari masyarakat lokal yang dijadikan bahan masukan Terdapat insentif namun proyek telah didesain oleh pihak luar yang menentukan seluruh agenda dan proses secara langsung Opini masyarakat ditanya namun pihak luar menganalisis informasi sekaligus memutuskan bentuk aksinya sendiri Masyarakat lokal bekerjasama dengan pihak luar untuk menentukan prioritas. dan pihak luar bertanggung jawab langsung kepada proses.

BAB V PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM TUGAS PERTANAHAN LAINNYA V. Namun pada kenyataannya pelaksanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang pertanahan belum dapat berjalan secara optimal. dimana untuk masalah pemberdayaan masyarakat secara resmi telah masuk dalam struktur kelembagaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang berjenjang dari tingkat pusat. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM TUGAS PENGELOLAAN PERTANAHAN V. hal ini disebabkan kelembagaan pemberdayaan di lingkungan Badan Pertanahan Nasional Republik 128 P . 3 dan 4 Tahun 2006 Tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia serta Kanwil BPN dan Kantor Pertanahan.1.1. provinsi dan kabupaten/kota. Umum emberdayaan masyarakat sebagai salah satu tugas pokok di bidang pertanahan meski sudah menjadi amanat dalam UUPA namun dalam kenyataannya baru mendapat perhatian ketika Perpres No.1. 10 Tahun 2006 terbit yang kemudian di tindak lanjuti dengan keluarnya Perkaban No.

2. sehingga jika semua agenda yang diharapkan dapat dilaksanakan secara keseluruhan maka dipastikan dapat memberdayakan masyarakat secara optimal. Namun pada kenyataan belum semua agenda yang di rencanakan dapat terlaksana sesuai yang diharapkan baik dari implementasi peraturan yang telah ada maupun dari SDM pelaksana di tingkat daerah baik kanwil maupun kantor pertanahan yang masih mengalami kesulitan dalam melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dibidang pertanahan tersebut. V. apakah itu melalui prona.Indonesia masih mengalami banyak kesulitan dalam pelaksanaan reforma agraria khususnya dalam penyediaan akses reformnya yang dalam pelaksanaannya membutuhkan dukungan dari berbagai sektor khususnya pemerintah daerah setempat maupun pihak perbankan guna mendukung ketersediaan tehnologi maupun permodalan. Kondisi saat ini Konsep pemberdayaan masyarakat yang dibangun oleh Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia sebenarnya sudah cukup ideal. konsolidasi dan 129 .1. Kegiatan pemberdayaan selama ini cenderung hanya sebagai pelengkap kegiatan legalisasi asset tanpa adanya suatu perencanaan yang baik sehingga seolah-olah target yang paling penting untuk dicapai adalah terlegalisasinya asset. program redistribusi.

5. dll. pasar. Tingginya sengketa dan konflik pertanahan. 4.program-program lainnya. sarana produksi. Berbagai kondisi eksternal yang ada tersebut mengakibatkan ketidak berdayaan masyarakat dalam mengoptimalkan pemanfaatan tanah yang dimilikinya guna kesejahteraan mereka. personil maupun anggaran. Peran kelembagaan masyarakat pertanahan masih sangat terbatas bidang 2. Partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan pertanahan belum maksimal 3. sehingga pelaksanaannya menjadi prioritas dibandingkan program pemberdayaan masyarakat yang masih harus melakukan pendekatan dengan berbagai pihak untuk dapat terlibat dengan aktif baik dari segi konsep. Belum optimalnya kegiatan pemberdayaan yang dijalankan selain dari kondisi internal yang ada di Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia juga disebabkan beberapa kondisi eksternal yang berkembang yaitu : 1. Masih rendahnya akses masyarakat ke sumbersumber permodalan. Tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian. Hal ini dapat dimaklumi karena sumber anggaran untuk kegiatan tersebut memang telah dialokasikan secara khusus dari anggaran DIPA Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. 130 .

pelaku pemberdayaan maupun masyarakat.3. kekuatan atau kemampuan berpartisipasi aktif dalam pembangunan serta memiliki kebebasan di segala bidang kehidupan sejalan dengan tujuan dari pengelolaan pertanahan itu sendiri yaitu ”Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan”. Salah satu indikator dari keberdayaan masyarakat adalah kemampuan dan kebebasan untuk membuat pilihan yang terbaik dalam menentukan atau memperbaiki kehidupannya. swasta. baik pemerintah. Keberhasilan implementasi paradigma baru pemberdayaan masyarakat disadari bukanlah hal yang mudah. tetapi memerlukan upaya dan kerja keras dari berbagai pihak. Salah satu yang harus diperhatikan dalam proses pemberdayaan masyarakat adalah keterlibatan masyarakat sasaran dan pemanfaatan potensi dan sumberdaya lokal khususnya untuk mendukung tugas pengelolaan pertanahan yang dilakukan oleh aparat Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia baik di pusat maupun daerah.V.1. Mengingat salah satu tujuan pembangunan adalah terciptanya masyarakat yang memiliki daya. Pada tingkat 131 . Konsep pemberdayaan merupakan hasil dari proses interaksi di tingkat ideologis dan praktis. Kondisi yang diharapkan Paradigma baru pemberdayaan yang harus menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan diharapkan lebih dapat bersifat memberdayakan masyarakat.

Dalam kerangka pikiran itu. setiap masyarakat. karena. dapat dilihat dari tiga sisi. memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat (empowering). Perkuatan ini meliputi langkah-langkah nyata. memiliki potensi yang dapat dikembangkan. proses interaksi terjadi melalui pertarungan antar ruang otonomi. Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia. kalau demikian akan sudah punah. Kedua. menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang (enabling). Pertama. dengan mendorong memotivasikan dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya.ideologis. Artinya. Dalam rangka ini diperlukan langkah-langkah lebih positif. antara growth strategy dan people centered strategy. Sedangkan di tingkat praktis. tidak ada masyarakat yang sama sekali tanpa daya. upaya memberdayakan masyarakat agar dapat secara langsung atau tidak langsung mendukung kegiatan pengelolaan pertanahan yang baik. pemberdayaan merupakan hasil interaksi antara konsep top-down dan bottom-up. Maka. selain dari hanya menciptakan iklim dan suasana. konsep pemberdayaan mencakup pengertian pembangunan masyarakat (community development) dan pembangunan yang bertumpu pada masyarakat (community based development). Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu. dan 132 .

perlindungan dan pemihakan kepada yang lemah amat mendasar sifatnya dalam konsep pemberdayaan masyarakat. sehingga dalam menentukan pelaksaan suatu kegiatan pengelolaan pertanahan hendaknya selalu mengedepankan perlindungan kepada masyarakat kecil sehingga mereka dapat merasakan manfaat dari aset yang dimilikinya. Karena. memberdayakan mengandung pula arti melindungi. oleh karena kekurangberdayaan dalam menghadapi yang kuat. Dengan demikian. memampukan. karena hal itu justru akan mengerdilkan yang kecil dan melunglaikan yang lemah.menyangkut penyediaan berbagai masukan (input). Pemberdayaan masyarakat bukan membuat masyarakat menjadi makin tergantung pada berbagai program pemberian (charity). tujuan akhirnya adalah memandirikan masyarakat. pada dasarnya setiap apa yang dinikmati. dan membangun kemampuan untuk 133 . harus dicegah yang lemah menjadi bertambah lemah. Dalam proses pemberdayaan. Melindungi tidak berarti mengisolasi atau menutupi dari interaksi. harus dihasilkan atas usaha sendiri (yang hasilnya dapat dipertukarkan dengan pihak lain). Melindungi harus dilihat sebagai upaya untuk mencegah terjadinya persaingan yang tidak seimbang. Oleh karena itu. serta pembukaan akses ke dalam berbagai peluang (opportunities) yang akan membuat masyarakat menjadi makin berdaya. Ketiga. serta eksploitasi yang kuat atas yang lemah.

Sosialisasi informal. Untuk mengetahui siapa yang melakukan sosialisasi. pertemanan atau sifatnya tidak resmi. 2. yaitu sosialisasi yang dilakukan melalui lembaga-lembaga berwenang menurut ketentuan negara atau melalui lembagalembaga yang dibentuk menurut undang-undang dan peraturan pemerintah yang berlaku. Sosialisasi yang ada di masyarakat terbagi atas beberapa jenis yaitu : 1. kita harus melihat jenis sosialisasinya. 134 . SOSIALISASI DAN EDUKASI PERTANAHAN Bruce J. V. Nilai dan norma yang ada di masyarakat serta pemahaman akan peran sosial sesuai dengan status sosial yang dimiliki individu akan mempengaruhi pembentukan kepribadian.memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara sinambung. Sosialisasi dapat dilakukan tanpa sengaja atau dengan sengaja. Sosialisasi formal. yaitu sosialisasi yang bersifat kekeluargaan.2. Cohen mengatakan sosialisasi adalah proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan dalam masyarakat untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok.

khususnya pada tahapan pra legalisasi aset dimana selain materi tentang pentingnya sertipikasi. Pesan yang disampaikan harus dibuat dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti agar masyarakat dengan mudah dapat memahami tujuan dan kegiatan program sehingga termotivasi untuk 135 . Edukasi merupakan proses pembelajaran yang diarahkan pada perubahan sikap dan perilaku dari penerima informasi melalui penyebaran informasi. menyusun proposal hingga membuat laporan pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat. Tujuan edukasi adalah membangun rasa percaya diri (self confident). dan edukasi secara terus menerus. Hal lain yang penting dari kegiatan edukasi adalah memberikan keterampilan praktis kepada khalayak sasaran dalam merancang program. rasa mampu diri (self efficacy). dan kesadaran kerjasama untuk bangkit mandiri secara bahu membahu. para calon peserta dapat juga diberikan sosialisasi tentang fungsi tanah yang memiliki nilai capital (ekonomi) yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraannya. karena kegiatan pemberdayaan masyarakat yang berinteraksi langsung dengan masyarakat sehingga dapat dijadikan sarana untuk melakukan sosialisasi.Peran pemberdayaan masyarakat dalam mensosialisasikan berbagai kegiatan di bidang pertanahan sangat penting. persuasi.

Orang per orang mungkin sudah punya pengalaman. V. Pemberdayaan itu juga di dalamnya adalah pengorganisasian masyarakat. Pengorganisasian masyarakat adalah tugas besar karena aparat Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia belum banyak pengalaman mengenai hal ini.berpartisipasi dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat. program Edukasi terkait berbagai program kegiatan pertanahan dapat diberikan langsung dalam bentuk pelatihan ketrampilan. sehingga dia bisa mengelola hidupnya dari waktu ke waktu. atau percontohan (modelling) mengenai program pemberdayaan masyarakat sehingga akan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang tujuan yang ingin dicapai sehingga akan membuka wawasan yang berimbas dengan adanya peningkatan partisipasi aktif dari para penerima manfaat.3. Berarti masyarakat yang punya akses terhadap sumbersumber ekonomi dan sumber-sumber politik pada hari ini dan pada masa akan datang. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN LARASITA Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang hari ini bisa mengontrol dirinya dan bisa ikut mengontrol kehidupannya ke depan. tetapi sebagai lembaga belum ada 136 . Dan masyarakat yang semacam itu umumnya adalah masyarakat yang terorganisir.

Dengan demikian LARASITA menjadi mekanisme untuk: 1. 137 . LARASITA adalah singkatan layanan rakyat untuk sertipikasi tanah yang menjalankan tugas pokok dan fungsi yang ada pada kantor pertanahan sehingga fungsi LARASITA lebih dari sekedar ”loket berjalan” namun lebih dari itu LARASITA adalah ”mobile office” sehingga fungsi yang dijalankan sama dengan yang dimiliki kantor pertanahan setempat. Salah satu sarananya yang sudah disiapkan. pelaksanaan tugas pokok dan fungsi tersebut diperlukan pemberian atau pendelegasian kewenangan yang diperlukan guna kelancaran pelaksanaan di lapangan.pengalaman. dalam rangka mendekatkan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia kepada masyarakat dikembangkan pola pengelolaan pertanahan yang disebut LARASITA. 2. yaitu melalui LARASITA. melaksanakan pendampingan dan pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan. Namun sesuai dengan sifatnya yang bergerak. Dan inilah nanti menjadi bagian dari mekanisme yang dikembangkan secara terus menerus. menyiapkan masyarakat dalam pelaksanaan pembaruan agraria nasional (reforma agraria). Sesuai Pasal 1 Peraturan Kepala BPN RI Nomor 18 tahun 2009 tentang Larasita Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.

dan 7. meningkatkan legalisasi aset tanah masyarakat. diharapkan kantor pertanahan menjadi mampu menyelenggarakan tugas-tugas pertanahan dimanapun target kegiatan berada. pemilikan. memfasilitasi penyelesaian tanah yang bermasalah yang mungkin diselesaikan di lapangan. di seluruh wilayah kerjanya. penguasaan. 4. 5. penggunaan dan pemanfaatan tanah serta 138 . Dengan LARASITA. 6. LARASITA menjalankan tugas dan fungsinya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku pada kantor pertanahan. menyambungkan program Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dengan aspirasi yang berkembang di masyarakat.3. dengan kekhususan pada jenis kegiatan sebagai berikut: 1. dan tingkat komunitas masyarakat. melaksanakan secara lebih dini pengawasan dan pengendalian. kelurahan/desa. terutama pada lokasi yang jauh dari kantor pertanahan. melakukan pendeteksian awal atas tanah-tanah yang diindikasikan bermasalah. melakukan pendeteksian awal atas tanah-tanah terlantar. Pergerakan tersebut juga akan memberikan ruang interaksi antara aparat Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia dengan masyarakat sampai pada tingkat kecamatan.

melaksanakan identifikasi dan penelitian terhadap tanah yang diindikasikan terlantar; 2. melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan sinkronisasi dan penyampaian informasi penatagunaan tanah dengan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) kabupaten/kota; 3. memfasilitasi dan mendekatkan akses-akses untuk menciptakan sumber-sumber ekonomi baru dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat; 4. melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan identifikasi masalah, sengketa atau perkara pertanahan secara dini serta memfasilitasi upaya penanganannya; 5. melakukan sosialisasi dan berinteraksi untuk menyampaikan informasi pertanahan dan program-program pertanahan lainnya serta menghubungkan kebutuhan masyarakat dengan program Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia; 6. melaksanakan kegiatan legalisasi aset; dan 7. melaksanakan tugas-tugas pertanahan lain.

139

V.4.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM IMPLEMENTASI REFORMA AGRARIA

Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu strategi pembangunan yang bertumpu pada rakyat dengan cara meningkatkan kemampuan masyarakat agar menjadi lebih berdaya/berkuasa. Pemberdayaan masyarakat merupakan kegiatan memotivasi masyarakat dalam menentukan pilihannya dan melaksanakan proses secara bertanggung jawab. Pemberdayaan masyarakat di bidang pertanahan dalam pelaksanaannya dituangkan dalam konsep kegiatan reforma agraria yang meliputi dua garis besar, yaitu aset reform dan akses reform. Aset reform diimplementasian dengan legalisasi aset dan penguatan hak melalui sertipikasi hak atas tanah. Sedangkan akses reform , diimplementasikan dengan memfasilitasi permodalan melalui perbankan, lembaga keuangan dan koperasi. Memfasilitasi peningkatan produksi melalui pembinaan oleh aparat dinas pertanian, peternakan, perikanan, dan lainnya. Sedangan untuk pemasaran hasil usaha dilakukan oleh dinas perdagangan dan perindustrian. Untuk mendukung implementasi reforma agraria tersebut, pemberdayaan masyarakat memiliki fungsi yang penting sebagai berikut :

140

- Alat, yaitu berfungsi menyiapkan perangkat aparat pemberdayaan, penerima manfaat serta instansi terkait lainnya sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan sosial; - Cara, yaitu menentukan cara yang efektif, efisien melalui kegiatan pemetaan sosial (social mapping) dan analisa sosial dengan membentuk aturan yang disepakati bersama; - Sistem, yaitu sebagai rangkaian kegiatab antar komponen yang membentuk satu kesatuan yang terintegrasi dalam mencapai tujuan yang ditetapkan; - Aksi, yaitu memotivasi, memfasilitasi dan sekaligus sebagai kontrol bagi aparat pelaksana serta masyarakat penerima manfaat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan yaitu kesejahteraan sosial melalui keadilan. Berkaitan dengan telah diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 tahun 2010 tentang Penertiban dan Pendayagunaan Tanah Terlantar, juncto Peraturan Kepala Badan Pertanahan (Perkaban) Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penertiban Tanah Terlantar, juncto Perkaban Nomor 5 Tahun 2011 tentang Tatacara Pendayagunaan Tanah Negara Bekas Tanah Terlantar. Hal ini mengandung konsekuensi logis bahwa pemerintah sangat serius dalam menangani tanah-tanah terlantar atau bekas terlantar.

141

energi. dan/atau kerjasama masyarakat dan badan hukum c. badan hukum. Adapun TCUN dialokasikan secara nasional untuk kepentingan masyarakat dan negara melalui: a. program strategis Negara. dimanfaatkan untuk pertanian dan non pertanian yang dilaksanakan melalui program-program pertanahan khususnya untuk pengembangan sektor pangan. diputus hubungan hukumnya. energi. untuk pengembangan sektor pangan. kesesuaian tanah. dan ditegaskan menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara merupakan Tanah Cadangan Umum Negara. kebutuhan tanah akibat adanya bencana alam. perumahan rakyat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 142 . pertahanan dan keamanan. dihapuskan haknya. reforma agraria. b. pemanfaatannya mempertimbangkan ketersediaan tanah. relokasi dan pemukiman kembali masyarakat yang terkena pembangunan untuk kepentingan umum. dengan sasaran peruntukannya bagi: masyarakat. Adapun bentuk pemanfaatannya dialokasikan untuk kepentingan pemerintah. dan perumahan rakyat. selanjutnya disebut TCUN. cadangan negara lainnya.Tanah negara bekas tanah terlantar adalah tanah yang sudah ditetapkan sebagai tanah terlantar. dan kemampuan tanah bagi kepentingan nasional.

2009. Komunikasi Partisipatif Untuk Program Pemberdayaan Masyarakat di Lingkungan BPN RI. Jakarta. Konstitusi dan Hukum Dalam Rangka Mewujudkan Tanah Untuk Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat. Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Adiwibowo. materi Diklat Pemberdayaan Masyarakat. Pusdiklat BPNRI. Reforma Agraria. Jakarta. Mandat Politik. Jakarta. Darwanto.go. 143 . Makalah Pemberdayaan Masyarakat Pedesaan Berbasiskan Masyarakat Terpencil. Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia. H.id/node/48/2268/pem berdayaan-masyarakat-pedesaan-berbasiskanmasyarakat-terpencil---oleh-herry-darwanto-/ diakses tanggal 25 Nopember 2011. S.I. 2008. 2011.bappenas. Buku Saku Penyuluhan Dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat (Suatu Panduan untuk Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Pertanahan). Bappenas R. Jakarta http://www. 2007. Pusat Hukum dan Hubungan Masyarakat BPN-RI. Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan BPN-RI.

Hadi. 2011. D. Paper Kebijakan Pemberian HGU yang Berdampak pada Pemberdayaan Masyarakat. Konsep Pemberdayaan.50webs.com/32%20Konsep %20Pemberdayaan%20Partisipasi%20Kelem bagaan. Puslitbang BPN R. Direktorat Pemberdayaan Masyarakat dan Kelembagaan BPN RI. 2009. Jakarta.pdf diakses tanggal 25 Nopember 2011 Korten. Munandar A. 2008. Jurnal Kajian Politik dan Masalah Pembangunan. Jakarta Direktorat PMK. Wicaksono. Maharani. Yayasan Obor : Jakarta. 2001 Menuju Abad ke -1. Vol.1/2008. 2005.I. Agustina dan A. Jakarta. Buku Saku Penyuluhan dalam Rangka Pemberdayaan Masyarakat (Suatu Panduan untuk Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Pertanahan). N.Departemen Dalam Negeri RI. Peran Negara dalam Penguatan Program Pemberdayaan Masyarakat.4/No. Tim Koordinasi Program Pengembangan Kecamatan Depdagri. 144 . 2008. Fasilitasi dan Pelatihan Program Pengembangan Kecamatan. Partisipasi dan Kelembagaan dalam Pembangunan http://suniscome. AP.

depsos. A. Kettner dan Steven L.go. Depsos RI http://www. 2009.id:8080/web_pascapolitik/p ublikasi/P%20151162%20Peran%20Negara. Yogyakarta. Community Work.unas. Social Work Macro Practice.ac. A. Muttaqin. Komunikasi. Jurnal Transdisiplin Sosiologi.ipb. 2000. Subhan. edisi April 2009. Badiklit. T. New York: Longman Saharudin. London: McMillan 145 .pdf diakses tanggal 20 Nopember 2011. (1991). IRE Insight. Ellen.pdf diakses tanggal 24 Nopember 2011. dan Ekologi Manusia. Tiga Persoalan dan Urgensi Pemberdayaan Masyarakat Adat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung : Sebuah Kajian Awal. Pusat Pengembangan Ketahanan Sosial Masyarakat.http://pps. 2009.pdf diakses tanggal 23 Nopember 2011 Netting. Merancang Pembentukan Motivator Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Partisipatif. 2005. F. Peter M. Pemberdayaan Masyarakat Miskin Berbasis Kearifan Lokal. http://jurnalsodality.id/unduh/Muttaqin.ac. Rineka Cipta: Jakarta. Strategi Pembangunan dan Kemiskinan.id/jurnalpdf/edisi72. McMurtry (1993). Twelvetrees. Suprijatna.

146 . R. Methods and Approaches. 2011. S.com/doc/58528943/PEMB ERDAYAAN-MASYARAKAT-BIDANGPERTANAHAN-MELALUIPEMANFAATAN-REFORMA-AGRARIASERTA-LARASITA diakses tanggal 26 Nopember 2011.K. Zafar. Washington D. 2011.World Bank (2002).scribd.C. http://www. Direktorat Pemberdayaan Masyakat dan Kelembagaan BPN RI. Monitoring and Evaluation: Some Tools.: The World Bank Yudistiro. Pemberdayaan Masyarakat Bidang Pertanahan Melalui Pemanfaatan Reforma Agraria serta Reforma Agraria dalam Rangka Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat. Jakarta. Bahan Sosialiasi Program Pengendalian Program Pertanahan dan Pemberdayaan Masyarakat di Cisarua Bogor.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->