Anda di halaman 1dari 15

ADMINISTRASI DAN ORGANISASI BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH SMA NEGERI 1 SUKOHARJO

1. 2. 3. 4. 5.

Dwi Endang Novita Sari Nuraini Oki Diah Indah Lestari Levi Prianti Ristina Wardani

11020015 11020048 11020003 11020054 11020026

AH PRINGSEWU

STKIP MUHAMMADIYAH PRINGSEWU

STKIP MUHAMMADIYAH

A. Landasan Dasar Perlunya Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah


1. Pelayanan bimbingan dan konseling adalah bagian yang tidak terpisahkan (integral) dari keseluruhan program . 2. Pembinaan bimbingan konseling berada pada kepala sekolah sebagai administrator sekolah yang megang peran kunci. Maka dari itu guru yag diberi tugas sebagai tambahan sebagai kepala sekolah harus memiliki cukup keterampilan dan pemahama dalam bidag bimbingan sinar konseling agar dapat memberikan pimpinan, batuan, dan penegentasan yang diberikan oleh guru pembimbing dan staf bimbingan lainnya.

3. Tanggung jawab langsung dalam melaksanakan bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dilimpahkan kepada staf yang berwenang memiliki kompetensi dan kualifikasi tertentu baik dalam pendidikan formal, sifat, sikap, kepribadian, keterampilan dan pengalaman. 4. program bimbingan dan konseling merupakan suatu bentuk kegiatan yang cukup luas bidang geraknya. 5. Program pelayanan bimbingan dan konseling disekolah perlu hendaknya diadakan penilaian (evaluasi) untuk mengetahui efektivitas dan efesiensi program bimbingan dan konseling.

B. Prinsip-prinsip Organisasi Bimbingan Dan Konseling


1. Program layanan bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya dirumuskan dengan jelas, sehingga tujuan yang hendak dicapai jelas diketahui oleh pihak-pihak yang bersangkutan terutama untuk memudahkan melaksanakan pembagian tugas, tanggung jawab, dan wewenang. 2. Program layanan dan bimbingan konseling harus disusun sesuai kebutuhan sekolah masing-masing. Sebab setiap sekolah memiliki kebutuhan, fasilitas, dan tenaga personil yang berbeda-beda antara satu sekolah dengan sekolah lainnya.

3. Penempatan petugas-petugas bimbingan dan konseling harus disesuaikan dengan kompetensi, kualifikasi pendidikan, kemampuan, potensi-potensi, dan keahlian masing-masing. 4. Program bimbingan dan konseling hendaknya diorganisasikan secara sederhana, sehingga dapat mudah untuk dipelajari, dilaksanakan, dikontrol, atau diawasi pelaksanaannya.

C. Pola Organisasi Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Agar suatu organisasi dapat mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan bimbingan dan konseling yang baik di sekolah, maka hah-hal yang perlu diperhatikan diantaranya : 1. Semua staf sekolah ( kepala sekolah, wakil kepala sekolah, guru mata pelajaran, wali kelas, staf sekolah) harus dihimpun dalam satu wadah, untuk membantu para siswa di dalam mengatasi permasalahan-permasalahannya

2. Mekanisme kerja bimbingan dan konseling harus tunggal, sehingga para siswa tidak menjadi bingung karena adanya berbagai macam bentuk layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oeh petugas yang berbeda-beda 3. Tugas, tanggung jawab, dan wewenang dari masingmasing petugas bimbingan dan konseling di sekolah harus dirinci dengan jelas dan tegas, sehingga masing-masing personil bimbingan dan konseling akan memahami dan mengerti kewajiban dan tanggung jawabnya sendiri.

D. Pola Organisasi Bimbingan Dan Konseling Yang Disarankan


Organisasi pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah. Keterangan organisasi : 1. Kepala sekolah : adalah penanggung jawab pelaksanaan teknis bimbingan dan konseling di sekolah. 2. Guru pembimbing : adalah pelaksana utama yang mengkoordinir semua koordinator bimbingan dan konseling kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling. 3. Guru mata pelajaran : guru mata pelajaran dan pelatih adalah pelaksana pengajaran dan pelatihan serta tanggung jawab.

Kewajiban dan tugas personil sekolah yang terkait dengan kegiatan bimbingan dan konseling : 1. Kepala sekolah : - Mengkoordinasikan seluruh pendidikan sekolah yang mencakup kegiatan pengajaran, pelatihan, dan kegiatan bimbingan dan konseling. - Menyediakan dan melengkapi sarana dan prasarana yang diperlukan dalam kegiatan bimbingan dan konseling. - Membuat surat tugas guru pembimbing dalam proses bimbingan dan konseling pada setiap awal semesteran

2. Wakil kepala sekolah - Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan bimbingan dan konseling kepada semua personil sekolah. - Pelaksanaan kebijakan kepala sekolah terutama dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling. 3. Guru Pembimbing - Mengkoordinasikan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. - Merencanakan program bimbingan dan konseling. - Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling - Menganalisis hasil penilaian bimbingan dan konseling

Organisasi Pelayanan Bimbingan Dan Konseling

Organisasi pelayanan bimbingan dan konseling meliputi segenap unsur dengan organigram berikut : Garis komando Garis koordinator Garis konsultasi

Beban Tunas Guru Pembimbing Atau Konselor


1. Menyusun Program layanan dalam bidang bimbingan pribadi-sosial, bimbingan belajar, bimbingan karier, serta semua jenis layanan. 2. Melaksanakan layanan dalam bidang bimbingan pribadisosial, bimbingan belajar, bimbingan karier serta semua jenis layanan . 3. Sebagai nama guru mata pelajaran, guru pembimbing/konselor yang membimbing 150 orang peserta didik dihargai sebanyak 18 jam, selebihnya dihargai sebagai bonus dengan ketentuan sebagai berikut :

a. 10 15 peserta didik b. 16 30 peserta didik c. 31 45 peserta didik d. 46 60 peserta didik e. 61 75 peserta didik f. 76 90 peserta didik g. 91 105 peserta didik h. 106 atau lebih

= 2 jam = 4 jam = 6 jam = 8 jam = 10 jam = 12 bjam = 14 jam = 18 jam

KERJASAMA
1. Kerjasama dengan pihak di dalam sekolah. Di antaranya adalah sebagai berikut : Seluruh tenaga pengajar dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah Seluruh tenaga administrasi di sekolah OSIS Komite sekolah 2. Kerjasama dengan pihak diluar sekolah antara lain : Orang tua peserta didik Organisasi profesi / ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) Lembaga / organisasi Kemasyarakatan Tokoh masyarakat Dewan Pendidikan