Anda di halaman 1dari 112

1

PENGARUH UTANG LUAR NEGERI DAN PENANAMAN


MODAL ASING TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI
DI NEGARA DUNIA KETIGA




RINA FEBRIANTI
8125082647











Skripsi ini Disusun Sebagai Salah Satu Persyaratan Untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan









PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI
KONSENTRASI PENDIDIKAN EKONOMI KOPERASI
JURUSAN EKONOMI DAN ADMINISTRASI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2012

2



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Selama empat dasawarsa terakhir ini, perhatian utama masyarakat
perekonomian dunia tertuju pada cara-cara untuk mempercepat tingkat
pertumbuhan pendapatan nasional. Para ekonom dan politisi dari semua
negara tentunya sangat mendambakan dan menomorsatukan pertumbuhan
ekonomi (ecomomic growth). Tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan
output dan pendapatan nasional sering dijadikan dasar untuk menilai
berhasil atau tidaknya program-program pembangunan di negara-negara
Dunia Ketiga. Bahkan, baik buruknya kualitas kebijakan pemerintah dan
tinggi atau rendahnya mutu aparatnya di bidang ekonomi secara
keseluruhan biasanya diukur berdasarkan kecepatan pertumbuhan output
nasional yang dihasilkannya.
Pertumbuhan ekonomi sangat penting dan dibutuhkan. Sebab,
tanpa pertumbuhan tidak akan terjadi peningkatan kesejahteraan,
kesempatan kerja, produktivitas, dan distribusi pendapatan. Pertumbuhan
ekonomi juga merupakan tangga untuk mencapai tahapan kemajuan
ekonomi selanjutnya.
1

Pertumbuhan ekonomi adalah salah satu indikator penting dalam
melakukan analisis tentang pembangunan ekonomi yang terjadi pada suatu

1
Prathama Rahadja dan Mandala Manurung, Teori Ekonomi Makro; Suatu Pengantar, Edisi
Keempat (Jakarta: LPFE UI, 2008), p. 132
3



negara. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan sejauh mana aktivitas
perekonomian akan menghasilkan tambahan pendapatan masyarakat pada
suatu periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan proses berkelanjutan
merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan ekonomi.
Karena penduduk bertambah terus menerus dan berarti kebutuhan
ekonomi juga terus bertambah, maka dibutuhkan penambahan pendapatan
setiap tahunnya.
Namun, di samping memiliki tingkat pendapatan perkapita yang
begitu rendah, pertumbuhan pendapatan nasional (GNI) di banyak negara-
negara Dunia Ketiga lebih rendah daripada yang dicapai negara-negara
maju. Pada tahun 2002, pendapatan nasional total dari seluruh negara di
dunia mencapai lebih dari US$32 triliun. Dari nilai total tersebut, hampir
US$26 triliun dihasilkan oleh negara-negara maju dan kurang dari US$7
triliun dihasilkan oleh negara-negara berkembang. Apabila ditinjau dari
sudut penyebaran penduduk dunia, maka lebih dari 80 persen nilai total
pendapatan dunia dihasilkan oleh negar-negara maju yang jumlah
penduduknya kurang dari 15% penduduk dunia. Hal ini berarti empat
perlima penduduk dunia hanya menghasilkan seperlima dari total output
dunia. Yang lebih penting lagi, ternyata negara-negara Dunia Ketiga yang
penduduknya hampir meliputi 85% dari total penduduk dunia. Rata-rata
pendapatan per kapita di negara-negara berpendapatan rendah dan
menengah ternyata kurang dari seperdua puluh pendapatan per kapita yang
dimiliki negara-negara kaya.
2


Dari data yang ada pada International Monetary Fund, World
Economic Outlook Database, September 2011, rata-rata pertumbuhan
ekonomi negara berkembang (Emerging and developing economies)
selama periode 1980-2011 adalah 4,6% pertahun dengan angka

2
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development/Ninth Edition, diterjemahkan
oleh Haris Munandar dan Puji A.L dengan judul Pembangunan Ekonomi/Edisi Kesembilan ,Jilid 1 ( Jakarta:
Erlangga, 2006), p. 61-63
4



pertumbuhan terendah tercatat tahun 1982 (1,7%) dan tertinggi tahun 2007
(8,9%).
Tahun 2008 dan 2009 merupakan tahun-tahun yang penuh
tantangan bagi ekonomi dunia. Pada kedua tahun tersebut, pertumbuhan
ekonomi dunia menurun dari 5,4% pada tahun 2007 menjadi 2,8% pada
tahun 2008 dan -0,7% pada tahun 2009. Penurunan kegiatan ekonomi
dunia ini terutama disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan ekonomi
AS dan krisis keuangan di negara maju. Pertumbuhan ekonomi negara
berkembang menurun dari 8,9% pada tahun 2007 menjadi 6,03% pada
tahun 2008 dan 2,8% pada tahun 2009. Seperti yang terjadi di wilayah
Tengah dan Timur Eropa dan juga Amerika Latin dan Karibian yang
mengalami pertumbuhan negatif pada tahun-tahun tersebut. Pertumbuhan
ekonomi mengalami penurunan dari 3,1% tahun 2008 menjadi -3,6% di
tahun berikutnya untuk wilayah Tengah dan Timur Eropa sedangkan untuk
wilayah Amerika Latin dan Karibian penurunannya dari 4,3% menjadi -
1,7%.
Di negara ASEAN-5, rata-rata pertumbuhan ekonomi selama
periode 1991-2010 adalah 4,9% pertahun dengan angka pertumbuhan
terendah tercatat tahun 1998 yang mencapai angka negatif sebesar 8,3%
dan tertinggi tahun 1995 sebesar 8,3%.
Ada beberapa faktor yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi
suatu negara diantaranya sumber daya alam, teknologi, tingkat pendidikan
5



dan kesehatan, kegiatan ekspor dan impor, tingkat investasi, serta utang
luar negeri.
Besar kecilnya potensi pertumbuhan ekonomi suatu negara
dipengaruhi oleh salah satunya dari kuantitas maupun kualitas dari sumber
daya yang dimilikinya, baik itu sumber daya alam berupa tanah yang
subur, kandungan mineral berharga, dan bahan mentah bernilai ekonomis
lainnya. Letak geografi dan iklim juga dapat memainkan peranan penting
dalam keberhasilan atau kegagalan usaha-usaha pembangunan. Pentingnya
persediaan sumber daya alam bagi yang beruntung memilikinya, dapat
dilihat pada negara-negara penghasil minyak seperti yang berada di
kawasan Teluk Persia. Namun, tidak jarang negara berkembang yang
miskin dengan sumber daya alam sehingga pertumbuhan ekonominya pun
rendah. Kasus ekstrem yang memperlihatkan betapa sengsaranya mereka
yang kurang beruntung karena tidak dikaruniai sumber daya alam seperti
Chad, Yaman, Haiti, dan Bangladesh. Negara-negara ini hanya memiliki
sedikit sekali persediaan bahan baku dan mineral yang berharga, tanahnya
pun kurang subur untuk digarap.
3

Faktor lain yang memengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi
adalah kemajuan teknologi. Hampir dapat dipastikan bahwa penggunaan
teknologi yang makin tinggi sangat memacu pertumbuhan ekonomi jika
hanya dilihat dari peningkatan output. Untuk meningkatkan output secara
efisien, pilihan yang rasional yaitu teknologi padat modal. Namun,

3
Ibid., p. 54.
6



konsekuensinya adalah menciutnya kesempatan kerja. Untuk mengurangi
keterpisahan antara kesempatan kerja dan teknologi adalah penggunaan
teknologi tepat guna di negara sedang berkembang sehingga manusia
dapat memanfaatkan secara optimal apa yang ada dalam diri dan
lingkungannya. Kenyataannya, beberapa negara berkembang masih belum
tepat guna dalam penggunaan teknologi sehingga pertumbuhan
ekonominya masih rendah.
4

Kesehatan merupakan inti dari kesejahteraan dan pendidikan
adalah hal pokok untuk menggapai kehidupan yang memuaskan dan
berharga. Keduanya merupakan komponen pertumbuhan dan
pembangunan yang penting. Pendidikan memainkan peranan utama dalam
membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menyerap
teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta
pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Sedangkan
kesehatan merupakan prasyarat bagi peningkatan produktivitas, sementara
keberhasilan pendidikan juga bertumpu pada kesehatan yang baik. Yang
terjadi saat ini adalah tingkat kesehatan dan pendidikan di negara-negara
berkembang masih rendah sehingga pertumbuhan ekonominya pun
berjalan lambat.
5

Ekspor akan memperluas pasar barang buatan dalam negeri dan ini
memungkinkan perusahaan-perusahaan dalam negeri mengembangkan
kegiatannya sehingga memberi sumbangan kepada pertumbuhan ekonomi.

4
Prathama Rahadja dan Mandala Manurung, op.cit., p. 137
5
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op. cit, p. 434-435
7



Pada umumnya, perekonomian negara-negara berkembang lebih banyak
berorientasi ke produksi barang primer (produk-produk pertanian, bahan
bakar, hasil hutan, dan bahan-bahan mentah) daripada barang sekunder
(manufaktur) dan barang tersier (jasa-jasa). Namun, kinerja ekspor
mayoritas negara-negara berkembang senantiasa relatif lemah sehingga
membuat pertumbuhan ekonomi mereka rendah.
6

Banyaknya barang impor yang ada di suatu negara juga
memengaruhi pertumbuhan ekonominya. Di beberapa negara berkembang,
volume impor barang dan jasa lebih besar dibanding volume ekspor
barang dan jasa. Rata-rata dari barang impor tersebut adalah barang
konsumsi yang membuat pertumbuhan ekonominya tidak berkualitas.
Peningkatan impor atau impor yang lebih besar dari pada ekspor membuat
neraca perdagangan menjadi defisit dan membuat pertumbuhan ekonomi
menjadi rendah.
Investasi khususnya penanaman modal asing (PMA) juga ikut
memengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. Pada dasarnya investasi
merupakan pembentukan modal yang mendukung peran swasta dalam
perekonomian. Menurut Harrod Domar, dalam mendukung pertumbuhan
ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai stok modal seperti
penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal asing. Namun,
aliran masuk PMA ke negara-negara berkembang tetap menempati bagian
terkecil dari investasi total negara-negara ini, sebagian besar diantaranya

6
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development/Ninth Edition, diterjemahkan
oleh Haris Munandar dan Puji A.L dengan judul Pembangunan Ekonomi/Edisi Kesembilan ,Jilid 2 ( Jakarta:
Erlangga, 2006), p. 91
8



berasal dari sumber-sumber domestik sehingga membuat pertumbuhan
ekonomi mereka masih rendah.
7

Pengaruh investasi asing seperti penanaman modal asing (direct
invesment) dan berbagai bentuk investasi portofolio (portfolio invesment)
mempunyai arti penting terhadap pertumbuhan ekonomi. Sampai saat ini
konsep pembangunan dengan menggunakan modal asing masih sering
menimbulkan pendapat. Foreign Direct Investment (FDI) dipandang
sebagai cara yang lebih efektif untuk meningkatkan pertumbuhan
perekonomian. Melalui FDI, modal asing memberikan kontribusi yang
lebih baik pada proses pembangunan seperti dengan adanya alih teknologi
dan pengembangan kemampuan manajerial. Mengingat pentingnya
investasi asing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, maka setiap
negara harus terus berupaya untuk menciptakan iklim investasi yang
kondusif sehingga dapat menarik minat para investor asing untuk
menanamkan modalnya.
Utang luar negeri merupakan salah satu sumber modal asing yang
dapat membantu pembiayaan pembangunan suatu negara. Arus modal
asing ini semakin leluasa keluar masuk khususnya ke negara berkembang.
Pinjaman luar negeri sebagai salah satu alternatif pembiayaan
pembangunan, terdiri dari pinjaman yang dilakukan oleh pihak swasta dan
pinjaman oleh pemerintah. Peranan pinjaman luar negeri terhadap

7
Ibid., p. 261-262
9



pertumbuhan ekonomi di negara berkembang telah lama menjadi
perdebatan di antara ekonom dunia.
Pada satu sisi, datangnya modal dari luar negeri tersebut dapat
digunakan untuk mendukung program pembangunan nasional pemerintah,
sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional dan peningkatan
pendapatan per kapita masyarakat meningkat. Tetapi pada sisi lain,
diterimanya modal asing tersebut dapat menimbulkan berbagai masalah
dalam jangka panjang, baik ekonomi maupun politik, bahkan pada
beberapa negara-negara yang sedang berkembang menjadi beban yang
seolah-olah tak terlepaskan, yang justru menyebabkan rendahnya
pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya tingkat kesejahteraan rakyatnya.
8

Begitu kompleksnya yang memengaruhi tinggi rendahnya tingkat
pertumbuhan ekonomi suatu negara. Sebagai contoh di beberapa negara
Dunia Ketiga memiliki kendala pada utang luar negeri dan penanaman
modal asing. Kami sebagai peneliti tertarik untuk meneliti sejauh mana
utang luar negeri dan penanaman modal asing memengaruhi pertumbuhan
ekonomi di negara Dunia Ketiga.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka dapat
diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut:
1. Apakah ada pengaruh sumber daya alam terhadap pertumbuhan ekonomi?

8
Adwin Surya Atmadja, Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia: Perkembangan dan
Dampaknya, Jurnal Akuntansi & Keuangan, Vol. 2, No. 1, Mei 2000, p. 83 94
10



2. Apakah ada pengaruh teknologi terhadap pertumbuhan ekonomi?
3. Apakah ada pengaruh tingkat pendidikan dan kesehatan terhadap
pertumbuhan ekonomi?
4. Apakah ada pengaruh ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi?
5. Apakah ada pengaruh impor terhadap pertumbuhan ekonomi?
6. Apakah ada pengaruh investasi asing terhadap pertumbuhan ekonomi?
7. Apakah ada pengaruh utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi?

C. Pembatasan Masalah
Mengingat kompleksnya masalah yang timbul dan hal ini tidak
memungkinkan bagi peneliti untuk membahas semua masalah di dalam
penelitian ini, maka penelitian ini dibatasi hanya pada masalah
Pengaruh utang luar negeri dan penanaman modal asing terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga tahun 1991 - 2010.

D. Perumusan masalah
Berdasarkan pembatasan masalah, peneliti merumuskan
permasalahan di dalam penelitian ini, yaitu:
1. Apakah terdapat pengaruh antara utang luar negeri terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga tahun 1991-
2011?
11



2. Apakah terdapat pengaruh antara penanaman modal asing terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga tahun 1991-
2011?
3. Apakah terdapat pengaruh antara utang luar negeri dan penanaman
modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara Dunia
Ketiga tahun 1991 - 2010?

E. Kegunaan Penelitian
Secara umum hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi
semua pihak baik secara teeoritis maupun secara praktis.
1. Kegunaan Teoretis:
Sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan yang telah
diperoleh tentang pengaruh utang luar negeri dan penanaman modal
asing terhadap pertumbuhan ekonomi negara khususnya negara-negara
Dunia Ketiga.
2. Kegunaan Praktis:
Sebagai sumbangan pemikiran dan bahan masukan berbagai pihak dan
diharapkan dapat berguna sebagai bahan penelitian lebih lanjut
mengenai utang luar negeri dan penanaman modal asing kaitannya
dengan pertumbuhan ekonomi negara.



12



BAB II
KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN
PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis
1. Pertumbuhan ekonomi
Istilah pertumbuhan ekonomi digunakan untuk menerangkan atau
mengukur prestasi dari perkembangan ekonomi suatu negara.
Pertumbuhan ekonomi menggambarkan adanya perkembangan fisik
produksi barang dan jasa yang berlaku di suatu negara, seperti
pertambahan jumlah produksi barang industri, perkembangan infrastruktur,
pertambahan jumlah sekolah, pertambahan produksi sektor jasa dan
pertambahan produksi barang modal.
Sejak lahirnya ilmu ekonomi, berbagai ekonom besar mempunyai
pandangan atau persepsi yang tidak selalu sama mengenai proses
pertumbuhan suatu perekonomian.
Sering kali pandangan atau persepsi ini sangat dipengaruhi oleh keadaan
atau peristiwa-peristiwa pada waktu ekonom tersebut hidup. Seringkali
pula teori pertumbuhan seorang ekonom dipengaruhi oleh idiologi yang
dianut oleh ekonom, sehingga aspek-aspek yang ditonjolkan dalam
teorinya mencerminkan kecenderungan idiologisnya.
9


Hal ini perlu kita pahami sebagai orang yang mempelajari teori
pertumbuhan (ilmu ekonomi umumnya). Jangan beranggapan bahwa teori
yang kita pelajari adalah yang paling benar dan satu-satunya kebenaran
yang tidak bisa dibantah. Semakin banyak teori yang di pelajari maka akan

9
Boediono, Teori pertumbuhan Ekonomi (Yogyakarta : BPFE, 1985), p. 2
13



semakin luas pandangan dan semakin mudah menghindari perangkap
fanatisme intelektual tersebut.
Arsyad memberikan suatu definisi mengenai pertumbuhan
ekonomi (economic growth) suatu negara.
Pertumbuhan Ekonomi diartikan sebagai kenaikan GDP/GNP tanpa
memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat
pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi
atau tidak.
10


Farid Wijaya berpendapat tentang pertumbuhan ekonomi yaitu
Pertumbuhan ekonomi adalah proses terjadi kenaikan produk nasional
bruto riel atau pendapatan nasional riel. Jadi perekonomian dikatakan
tumbuh atau berkembang bila terjadi pertumbuhan output riel.
11

Dari definisi- definisi tersebut, nilai pendapatan nasional riil
dijadikan sebagai acuan untuk memberikan suatu gambaran tentang
adanya pertumbuhan ekonomi. Tingkat pertumbuhan pendapatan nasional
rill tergambar dari kenaikan GDP/GNP berdasarkan harga konstan. Untuk
menghitung pertumbuhan ekonomi tiap tahunnya dapat dilakukan dengan
cara membandingkan antara perubahan pendapatan nasional tahun yang
dimaksud dikurangi pendapatan nasional tahun sebelumnya dibagi dengan
pendapatan nasional pada tahun sebelumnya. Atau secara ringkas dapat
dituliskan sebagai berikut:



(2.1)
Di mana:
G
t
= pertumbuhan ekonomi periode t (triwulan atau tahunan)

10
Lincolin Arsyad, Ekonomi Pembangunan (Yogyakarta: STIE- YKPN, 1997), p. 11
11
Faried Wijaya, Ekonomika Makro (Yogyakarta: BPFE, 1990),p. 262
14



PDBR
t
= Produk Domestik Bruto Riil periode t (berdasarkan harga
konstan)
PDBR
t-1
= PDBR satu periode sebelumnya
Jika interval waktunya lebih dari satu periode, penghitungan
tingkat pertumbuhan ekonomi dapat menggunakan persamaan
eksponensial:
PDBR
t
= PDBR
0
(1 + r)
t
Di mana:
PDBR
t
= PDBR periode t
PDBR
0
= PDBR periode awal
r = tingkat pertumbuhan
t = jarak periode
12


Apabila tingkat pertumbuhan ekonomi bernilai negatif berarti
kegiatan perekonomian menunjukkan penurunan, sebaliknya jika tingkat
pertumbuhan ekonomi tersebut bernilai positif berarti kegiatan
perekonomian mengalami peningkatan.
Menurut Boediono,
Pertumbuhan Ekonomi merupakan tingkat pertambahan dari pendapatan
nasional. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi adalah sebagai proses
kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan merupakan ukuran
keberhasilan pembangunan.
13


Pengertian tersebut mencakup tiga aspek, yaitu proses, output
perkapita, dan jangka panjang. Jadi, pertumbuhan ekonomi merupakan
suatu proses bukan gambaran ekonomi atau hasil pada saat itu.
Pertumbuhan ekonomi juga berkaitan dengan kenaikan output perkapita
yaitu mengenai pertumbuhan GDP dan pertumbuhan penduduk.
Pertumbuhan ekonomi dalam perspektif jangka panjang yaitu apabila
selama jangka waktu yang cukup panjang tersebut output perkapita
menunjukkan kecenderungan yang meningkat.

12
Prathama Rahadja dan Mandala Manurung, op. cit, p. 130
13
Boediono, Teori Pertumbuhan Ekonomi ( Yogyakarta: BPFE UGM, 1999), p. 12
15



Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi
(economic growth). Pembangunan ekonomi mendorong pertumbuhan
ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar proses
pembangunan ekonomi.
Teori pertumbuhan secara umum terbagi dalam tiga kelompok
pendekatan yaitu pendekatan Klasik (Adam Smith, David Ricardo,
Thomas Robert Malthus dan Jhon Stuart Mill), Neo Klasik (Solow-Swan,
dan Schumpeter), dan pemikiran modern yang dianut oleh Rostow dan
Harrod-Domar.
a. Teori Pertumbuhan Klasik
Bangsa-bangsa di dunia sudah lama menganggap pertumbuhan
ekonomi sebagai tujuan ekonomi dan politik. Pertumbuhan ekonomi
merupakan suatu proses yang berusaha meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Sebagaimana yang dikemukanan oleh Smith yang mengenai
pandangan-pandangannya terhadap faktor yang penting dalam
pertumbuhan ekonomi:
Pertumbuhan ekonomi bergantung pada:
1. Peranan pasar bebas
2. Perluasan pasar
3. Spesialisasi dan kemajuan teknologi
14


Menurut pandangan Adam Smith, kebijaksanaan Laissez-faire atau
sistem mekanisme pasar akan memaksimalkan tingkat pembangunan
ekonomi yang dapat dicapai oleh suatu masyarakat. Penduduk yang
bertambah akan memperluas pasar, dan perluasan pasar akan mendorong

14
Sadono Sukirno, Makroekonomi Modern (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2005), p. 448
16



tingkat spesialisasi. Dengan adanya spesialisasi akan mempertinggi tingkat
kegiatan ekonomi atau mempercepat proses pembangunan ekonomi karena
spesialisasi akan mendorong produktivitas tenaga kerja dan mendorong
tingkat perkembangan teknologi. Mengenai corak dan proses pertumbuhan
ekonomi, Adam Smith mengemukakan bahwa apabila pembangunan sudah
terjadi maka proses tersebut akan terus-menerus berlangsung secara
kumulatif.
Pandangan Smith yang optimis terhadap pola proses pembangunan
di atas sangat bertentangan dengan pendapat David Ricardo dan Malthus,
yang lebih pesimis terhadap proses pembangunan dalam jangka panjang.
Karena dalam jangka panjang menurut mereka perekonomian akan
mencapai stationary state, yaitu suatu keadaan di mana perkembangan
ekonomi tidak terjadi sama sekali. Sedangkan perkembangan penduduk
menurut pendapat mereka, akan menurunkan kembali tingkat
pembangunan ketahap yang rendah.
Menurut David Ricardo, pertumbuhan ekonomi merupakan proses
tarikmenarik antara Law of Deminishing Return dengan kemajuan
teknologi. Sedangkan menurut Thomas Robert Malthus, dalam
pembangunan ekonomi diperlukan pembangunan berimbang antar sektor
pertanian dan industri serta perlunya menaikkan permintaan efektif. Dalam
analisis selanjutnya, John Stuart Mill mengemukakan bahwa dalam
pembangunan ekonomi diperlukan tabungan, tingkat laba, kemajuan
17



teknologi, distribusi yang adil, perluasan perdagangan luar negeri, dan
perubahan kelembagaan.
15


b. Teori Pertumbuhan Neo-Klasik
Teori pertumbuhan Neo-Klasik dikembangkan sejak tahun 1950-
an. Teori ini berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi
menurut pandangan ekonomi klasik. Ekonom yang menjadi perintis
pengembangan teori ini adalah Robert Solow dan Trevor Swan yang
memunculkan teori pertumbuhan ekonomi Solow-Swan.
Fokus pembahasan teori pertumbuhan Neo Klasik adalah
akumulasi stok barang modal dan keterkaitannya dengan keputusan
masyarakat untuk menabung atau melakukan investasi. Faktor-faktor
penentu pertumbuhan yaitu stok barang modal dan tenaga kerja. Lebih
lanjut lagi, PDB per kapita semata-mata ditentukan oleh stok barang modal
per tenaga kerja.
16

Untuk menghasilkan sejumlah produksi dapat digunakan berbagai
jumlah modal yang berbeda-beda dengan bantuan tenaga kerja yang
jumlahnya juga berbeda-beda. Umumnya, kalau banyak menggunakan
modal, sedikit tenaga kerja yang digunakan.
Ahli ekonomi Neo-Klasik lainnya yaitu Yoseph Schumpeter
dalam bukunya The Theory of Economics Development, menekankan

15
Wahyu Sugeng Imam Soeparno, Analisis Indikator Makro Ekonomi Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Kabupaten/Kota Di Sumatera Utara, Tesis (Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara, 2011), p. 117
16
Prathama Rahadja dan Mandala Manurung, op. cit., p. 140-141
18



tentang peranan pengusaha dalam pembangunan. Sebagai kunci dari teori
Schumpeter adalah bahwa untuk perkembangan ekonomi, faktor yang
terpenting adalah entrepreneur, yaitu orang yang memiliki inisiatif untuk
perkembangan produk.
17

Para pengusaha dianggap memiliki kemampuan dan keberanian
mengaplikasikan penemuan-penemuan baru dalam aktivitas produksi
sebagai langkah inovasi. Dengan inovasi produk tersebut, termasuk
penyusunan teknik tahap produksi serta masalah organisasi manajeman,
produk yang dihasilkan akan dapat diterima pasar

c. Teori Pertumbuhan Ekonomi Modern
Rostow memunculkan model pembangunan tahapan
pertumbuhan. Menurut ajaran Rostow, perubahan dari keterbelakangan
menuju kemajuan ekonomi dapat dijelaskan dalam suatu seri tahapan yang
harus dilalui oleh semua negara, yaitu:
1. Masyarakat tradisional, yaitu suatu masyarakat yang strukturnya
berkembang di dalam fungsi produksi yang terbatas yang didasarkan
pada teknologi dan ilmu pengetahuan dan sikap yang masih primitif,
dan berfikir irasional.
2. Prasyarat lepas landas, adalah suatu masa transisi di mana suatu
masyarakat mempersiapkan dirinya atau dipersiapkan dari luar untuk

17
Ibid., p. 143
19



mencapai pertumbuhan yang mempunyai kekuatan untuk terus
berkembang (self-sustained growth).
3. Lepas landas, adalah suatu masa di mana berlakunya perubahan yang
sangat drastis dalam masyarakat seperti revolusi politik, terciptanya
kemajuan yang pesat dalam inovasi, atau berupa terbentuknya pasar
baru.
4. Tahap kematangan, adalah suatu masa di mana suatu masyarakat
secara efektif menggunakan teknologi modern pada sebagian besar
faktor-faktor produksi dan kekayaan alam.
5. Masyarakat berkonsumsi tinggi, adalah suatu masyarakat di mana
perhatiannya lebih menekankan pada masalah konsumsi dan
kesejahteraan masyarakat, bukan lagi pada masalah produksi.
Umumnya negara-negara berkembang masih berada pada tahap
lepas landas, namun ada juga yang masih berada pada tahap prasyarat
lepas landas. Hanya tinggal merumuskan serangkaian aturan pembangunan
untuk tinggal landas, maka mereka akan segera bergerak menuju ke proses
pertumbuhan ekonomi yang pesat dan berkesinambungan. Salah satu cara
untuk tinggal landas adalah pengerahan atau mobilisasi dana tabungan
untuk menciptakan bekal investasi dalam jumlah yang memadai untuk
mempercepat laju pertumbuhan ekonomi.
18

Harrod-Domar adalah ahli ekonomi yang mengembangkan analisis
Keynes yang menekankan tentang perlunya penanaman modal dalam

18
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development/Ninth Edition, diterjemahkan
oleh Haris Munandar dan Puji A.L dengan judul Pembangunan Ekonomi/Edisi Kesembilan ,Jilid 1 ( Jakarta:
Erlangga, 2006), p. 127
20



menciptakan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu menurutnya setiap
usaha ekonomi harus menyelamatkan proporsi tertentu dari pendapatan
nasional yaitu untuk menambah stok modal yang akan digunakan dalam
investasi baru.
Menurut Harrod Domar, masalah pembangunan pada dasarnya
merupakan masalah menaikkan investasi modal. Dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai stok
modal seperti penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal
asing. Selain investasi, pertumbuhan ekonomi juga ditentukan oleh
tingginya tabungan. Bila tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan
ekonomi masyarakat/negara tersebut juga akan rendah.
19


d. Teori Ketergantungan Internasional
Dalam pendekatan ini, terdapat tiga aliran pemikiran utama, yaitu
model ketergantungan neokolonial, model paradigma palsu, dan tesis
pembagunan-dualistik.
20

Model Ketergantungan Neokolonial mencoba menghubungkan
kemiskinan yang terus berlanjut dan semakin parah di sebagian besar
negara Dunia Ketiga dengan keberadaan dan kebijakan kelompok negara-
negara industri kapitalis dari belahan bumi Utara yang dapat menyebar
luas melalui kelompok-kelompok domestik elit yang berkuasa di negara
berkembang. Kelompok domestik elit tersebut seperti para tuan tanah,

19
Nurlia Listiani, Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia,
Widyariset, Vol 9 Tahun 2006, p. 286.
20
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op.cit., p. 142
21



pengusaha, saudagar, pejabat pemerintah dan para pimpinan serikat buruh
telah mengabdi (didominasi oleh) dan tergantung pada kelompok-
kelompok kekuatan internsional yang memiliki kepentingan tertentu
seperti perusahaan-perusahaan multinasional, lembaga-lembaga keuangan
bilateral dan organisasi-organisasi penyedia bantuan multilateral yang
kesemuanya terikat oleh jaring-jaring kesetiaan. Tindakan mereka bahkan
telah mengarah pada penurunan taraf hidup serta pelestarian
keterbelakangan.
Model Paradigma Palsu mencoba menghubungkan
keterbelakangan negara Dunia Ketiga dengan kesalahan dan
ketidaktepatan saran yang diberikan para pengamat atau pakar
internasional. Para pakar ini menawarkan konsep-konsep yang canggih,
struktur teori yang bagus, dan model-model ekonometri yang serba rumit
tentang pembangunan yang dalam praktiknya justru menciptakan
kebijakan-kebijakan yang tidak tepat guna atau bahkan melenceng sama
sekali dan dalam banyak hal hanya melayani kepentingan sepihak. Selain
itu, para pakar di negara berkembang tersebut hampir semuanya mendapat
didikan dan latihan dari negara-negara maju. Mereka terlalu banyak
menelan konsep-konsep dan model-model teoritis yang serba hebat tetapi
sebenarnya tidak cocok dan tidak dapat diterapkan di daerah mereka
sendiri.
Tesis Pembangunan-Dualistik melihat dunia terbagi menjadi
negara-negara kaya dan miskin, dan di negara-negara berkembang terdapat
22



beberapa penduduk yang kaya diantara banyak penduduk yang miskin.
Konsep ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang makin melebar
antara elemen superior dan inferior. Keterbelakangan tersebut semakin
mereka kembangkan. Dalam kenyataannya, elemen-elemen superior
tersebut justru memanfaatkan, memanipulasi, mengeksploitasi ataupun
menggencet elemen-elemen inferior
Pada intinya, model ketergantungan internasional memandang
negara-negara Dunia Ketiga sebagai korban kekakuan aneka faktor
kelembagaan, politik, dan ekonomi baik domestik maupun internasional.
Mereka telah terjebak dalam perangkap ketergantungan dan dominasi
negara-negara kaya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses keadaan di mana terjadi
kenaikan kapasitas produksi perekonomian suatu negara dalam jangka
panjang dan dijadikan sebagai pengukur keberhasilan pembangunan yang
diwujudkan dalam pertumbuhan pendapatan nasional (Gross Domestic
Product).

2. Utang Luar Negeri
Utang luar negeri merupakan pinjaman luar negeri (loan) yang
diberikan oleh pemerintah negara-negara maju atau badan-badan
internasional yang khusus dibentuk untuk memberikan pinjaman semacam
23



itu dengan kewajiban untuk membayar kembali dan membayar bunga
pinjaman tersebut.
21

Biaya terbesar dari semakin menumpuknya utang luar negeri itu
adalah meningkatnya beban pembayaran angsuran utang (debt service).
Angsuran utang tersebut terdiri dari amortisasi (pembayaran utang pokok)
dan pembayaran bunga yang jika tidak segera dilunasi akan menumpuk.
22

Untuk mengukur sampai sejauh mana tingkat utang membebani
suatu negara dan bagaimana efektivitas utang luar negeri, dapat dilihat dari
besarnya DSR (Debt Service Ratio). Jika DSR meningkat maka
menunjukkan semakin tidak efektifnya pengelolaan pinjaman.
Debt Service Ratio (DSR) adalah perbandingan antara pembayaran
bunga plus cicilan utang terhadap penerimaan ekspor suatu negara.
Misalnya tingkat DSR Brazil dan Korea Selatan pada tahun 1982 masing-
masing sebesar 81% dan 2,2%. Ini berarti Brazil menggunakan 81% dari ekspornya untuk
membayar utangnya sedangkan Korea Selatan hanya 2,2%. Ambang batas aman
angka DSR lazimnya menurut para ahli ekonomi adalah 20%. Lebih dari
itu, utang sudah dianggap mengundang cukup banyak kerawanan. Faktor
eksternal seperti perubahan kurs dan suku bunga uang sangat mungkin
akan mudah memengaruhi kondisi perekonomian negara yang berarti
dapat memengaruhi tingkat DSR.
23


21
Zulkarnain Djamin, Masalah Utang Luar Negeri Bagi Negara-negara Berkembang dan
Bagaimana Indonesia Mengatasinya (Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI, 1996),p. 19
22
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, Economic Development/Ninth Edition, diterjemahkan
oleh Haris Munandar dan Puji A.L dengan judul Pembangunan Ekonomi/Edisi Kesembilan ,Jilid 2 ( Jakarta:
Erlangga, 2006), p. 217
23
Zulkarnain Djamin, op. cit, p. 28
24



Munculnya utang luar negeri yang dilakukan pemerintah dapat
mencerminkan adanya ketidakmampuan negara tersebut dalam memenuhi
anggaran pendapatan dan belanja negaranya. Selain itu juga masih adanya
kepercayaan yang tinggi dari negara kreditur atau lembaga keuangan dunia
terhadap debitur. Kreditur beranggapan bahwa debitur masih mampu
meningkatkan perekonomiannya sehingga mampu membayar kembali
hutang-hutangnya.
24

Ditinjau dari sudut manfaatnya, ada dua peran utama bantuan luar
negeri (utang luar negeri), yaitu:
1. Untuk mengatasi kekurangan mata uang asing.
2. Untuk mengatasi masalah kekurangan tabungan
Kedua masalah tersebut biasa disebut dengan masalah jurang ganda (the
two gaps problems), yaitu jurang tabungan (saving gap) yang berarti
bahwa tabungan dalam negeri tidak cukup untuk membiayai penanaman
modal yang dapat ditanamkan dan jurang mata uang asing (foreign
exchange gap) yang berarti bahwa mata uang asing yang tersedia tidak
cukup untuk membiayai impor yang diperlukan.
25

Pinjaman luar negeri bisa dalam bentuk pinjaman bersyarat lunak
(soft loan) atau pinjaman komersial (commercial loan). Apabila tenggang
waktu atau jangka waktu pembayaran kembali pinjaman tersebut lama dan
tingkat bunganya rendah maka dinamakan sebagai pinjaman bersyarat
lunak (soft loan). Dan sebaliknya, apabila tenggang waktu atau jangka

24
A.D. Uphadi. Depresiasi Rupiah, Hutang Luar Negeri dan Beban APBN. Jurnal Ekonomi
Pembangunan: Kajian Ekonomi Berkembang, Vol. 2 No. 3, 1997, p. 227
25
Ibid., p. 21
25



waktu pembayaran kembali relatif singkat dan tingkat bunganya relatif
tinggi maka dinamakan sebagai pinjaman komersial (commercial loan).
26

Pada tahapan awal, total utang negara-negara berkembang
merupakan utang resmi yang bersumber dari pemerintahan negara-negara
asing serta lembaga-lembaga keuangan internasional yang bersyarat lunak.
Namun, berkembang menjadi utang yang bersifat nonkonsensional atau
tidak bersyarat lunak pada bank-bank komersial internasional.
27

Ditinjau dari kajian teoritis, masalah utang luar negeri dapat
diterangkan melalui pendekatan pendapatan nasional. Sebagai salah satu
sumber pembiayaan pembangunan, utang luar negeri dibutuhkan untuk
menutupi 3 (tiga) defisit, yaitu kesenjangan tabungan investasi, defisit
anggaran dan defisit transaksi berjalan.
Hubungan ketiga defisit ini dijelaskan Basri (2004) dalam Nurliani
Listiani yaitu dengan menggunakan kerangka teori three gap model yang
diperoleh dari persamaan identitas pendapatan nasional, yaitu:
a. Sisi Pengeluaran
Y = C + I + G + (X M) . (2.2)
Dimana: Y = Produk Domestik Bruto
C = Total Konsumsi Masyarakat
I = Investasi Swasta
G = Pengeluaran Pemerintah
X = Ekspor Barang dan Jasa
M = Impor Barang dan Jasa
b. Sisi Pendapatan
Y = C + S + T .(2.3)
Dimana: C = Total Konsumsi
S = Tabungan Pemerintah
T = Penerimaan Pajak Pemerintah

26
Ibid., p. 20
27
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op. cit, p. 216-217.
26



Jika kedua sisi identitas pendapatan nasional digabung, maka akan
diperoleh:
(M-X) = (I-S) + (G T) (2.4)
Dimana:
(M-X) = Defisit Transaksi Berjalan
(I-S) = Kesenjangan Tabungan Investasi
(G T) = Defisit Anggaran Pemerintah
Hubungan antara kebutuhan utang luar negeri dan ketiga defisit tersebut
diperlihatkan dengan menggunakan persamaan identitas neraca
pembayaran yaitu:
D
t
= (M-X)
t
+ Ds
t
NFL
t
+ R
t
NOLT . (2.5)
Dimana:
D
t
= Utang pada tahun 1
(M-X)
t
= Defisit transaksi berjalan pada tahun 1
Ds
t
= Pembayaran beban utang (bunga+amortisasi) tahun 1
NFL
t
= Arus masuk bersih modal swasta pada tahun 1.
R
t
= Cadangan otoritas moneter tahun 1.
NOLT = Arus masuk modal bersih jangka pendek seperti capital
flight dan lain-lain pada tahun 1.
Persamaan ini menunjukkan bahwa Utang Luar Negeri (sisi kiri)
digunakan untuk membiayai defisit transaksi berjalan, pembayaran utang,
cadangan otoritas moneter dan kebutuhan modal serta pergerakan arus
modal serta pergerakan arus modal jangka pendek seperti capital flight.
Bila (2.4) disubstitusikan pada (2.5), maka akan diperoleh persamaan:
D
t
= (I-S)
t
+ (G-T)
t
+ DS
t
+ NFL
t
+ R
t
NOLT .(2.6)
Identitas (2.6) ini menunjukkan, disamping untuk membiayai defisit
transaksi berjalan, Utang Luar Negeri juga dibutuhkan untuk membiayai
defisit anggaran pemerintah, serta kesenjangan tabungan-investasi dengan
utang luar negeri.
28


Tabungan domestik dibutuhkan untuk membiayai investasi, namun
besarnya tidak seimbang dengan rencana kegiatan investasi (saving-
investment gap). Nilai impor yang melebihi ekspor membuat neraca
transaksi berjalan mengalami defisit sehingga diperlukan tambahan dana
untuk membiayai impor atau menggenjot nilai ekspor. Pendapatan yang
diterima pemerintah dari masyarakat, selanjutnya digunakan untuk
membiayai pembangunan ekonomi di negaranya. Namun, besarnya

28
Nurlia Listiani, op. cit., p. 285-286
27



pendapatan tersebut tidak cukup untuk membiayai pengeluaran
pemerintah. Sehingga, ketidakmampuan sumber pembiayaan
pembangunan dari dalam negeri untuk membiayai kegiatan
perekonomiannya tersebut harus ditutup dengan mendatangkan
pembiayaan pembangunan dari luar negeri yang salah satunya dalam
bentuk utang.
Berdasarkan pemaparan teori di atas dapat disimpulkan bahwa
utang luar negeri adalah bantuan pinjaman yang didatangkan dari luar
negeri dari pemerintahan negara-negara asing atau lembaga-lembaga
keuangan internasional yang khusus dibentuk untuk memberikan pinjaman
dan bank-bank komersial internasional dengan kewajiban untuk membayar
kembali angsuran utang pokok tersebut beserta bunga pinjaman yang telah
disepakati bersama.

3. Penanaman Modal Asing
Penanaman modal atau terkadang disebut juga investasi adalah
suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berpengaruh dengan
keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi suatu
bentuk aktivitas dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan di masa
depan.
Istilah penanaman modal sebenarnya adalah terjemahan dari
bahasa Inggris yaitu investment. Penanaman modal asing atau investasi
seringkali dipergunakan dalam artian yang berbeda-beda. Perbedaan
28



penggunaan istilah investasi terletak pada cakupan dari makna yang
dimaksudkan.
Samuelson dan Nordhaus mengungkapkan bahwa
Investasi atau pembelian barang modal meliputi penambahan stok modal
atau barang modal di suatu negara seperti bangunan, peralatan produksi,
dan barang-barang inventaris dalam kurun waktu satu tahun. Investasi
merupakan langkah mengorbankan konsumsi saat ini untuk memperbesar
konsumsi di masa yang akan datang. Termasuk investasi adalah tindakan
kita untuk tidak membelanjakan semua uang yang ada untuk membeli roti,
melainkan kita belikan oven baru agar selanjutnya kita bisa menikmati roti
yang lebih banyak.
29


Dari pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa pengertian
investasi dalam konteks kajian ekonomi makro mencakup pembelian
barang modal untuk penambahan stok modal atau untuk mendapatkan
keuntungan atau hasil yang lebih besar di waktu yang akan datang.
Investasi ini bisa dilakukan dengan cara menunda atau mengorbankan
kegiatan konsumsi sekarang agar kehidupan di masa yang akan datang
menjadi lebih bernilai.
Menurut Panglaykim dalam Fahmi Hasbullah,
Penanaman modal asing merupakan usaha yang dilakukan pihak asing
dalam rangka menanamkan modalnya di suatu negara dengan tujuan untuk
mendapatkan laba melalui penciptaan suatu produksi ataupun jasa.
30


Dari pernyataan di atas mengandung makna bahwa modal yang
ditanamkan tersebut bukan berasal dari dalam negeri, melainkan dari luar

29
Paul A. Samuelson dan William D. Nordhaus. Makro Ekonomi edisi keempatbelas (Jakarta:
Erlangga, 1992), p.108
30
Fahmi Hasbullah, Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman Modal Asing
Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia, Skripsi ( Medan: Departemen Ekonomi
Pembangunan USU, 2009), p. 32
29



negeri yang digunakan untuk menciptakan suatu produk atau jasa yang
memiliki nilai dan mendatangkan keuntungan.
Penanaman modal asing adalah salah satu bentuk investasi selain
penanaman modal dalam negeri. Investasi sebagai salah satu bentuk arus
internasional sumber-sumber daya keuangan terdiri dari penanaman modal
langsung yang dilakukan pihak swasta (private foreign direct investment
FDI) dan investasi asing portofolio (foreign portfolio investmentFPI).
FDI biasanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan raksasa multinasional
( atau biasa juga disebut perusahaan transnasional yaitu perusahaan besar
dengan kantor pusat yang berada di negara-negara maju asalnya sedangkan
cabang operasi atau anak-anak perusahaannya tersebar di berbagai penjuru
dunia). Dana investasi ini langsung diwujudkan berupa pabrik, pengadaan
fasilitas produksi, pembelian mesin-mesin dan sebagainya. Bentuknya
dapat berupa cabang perusahaan multinasional, lisensi, joint venture, dan
lain-lain. Sedangkan FPI yang dana investasinya tidak diwujudkan
langsung sebagai alat-alat produksi, melainkan ditanamkan pada pasar-
pasar modal dan kredit milik lembaga swasta atau individu di negara-
negara berkembang dalam aneka bentuk instrumen keuangan seperti
saham, obligasi, sertifikat deposito, surat promes investasi (commercial
paper) dan sebagainya.
31

Menurut Kindleberger (1996), Investasi asing langsung sebagai
setiap arus pinjaman atau pembelian hak pemilikan dalam suatu

31
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op. cit., p. 259-260
30



perusahaan asing yang sebagian besar dimiliki oleh penduduk negara
penanam modal
32

Menurut Ismail Sunny dan Rudiono Rochmat (1968) berpendapat
bahwa unsur-unsur pokok dari Penanaman Modal Asing adalah
penanaman secara langsung, penggunaan modal untuk menjalankan
perusahaan, dan risiko yang langsung ditanggung oleh pemilik modal.
33

Dari beberapa pernyataan tersebut, penanaman modal asing
merupakan investasi asing yang ditanamkan secara langsung dan
diwujudkan berupa pabrik, pengadaan fasilitas produksi, pembelian mesin-
mesin dan sebagainya oleh perusahaan-perusahaan raksasa multinasional
dimana pihak asing tersebut juga ikut menaggung risikonya.
Menurut teori It, Krugman menyatakan bahwa,
keberhasilan dalam ekspor barang-barang manufaktur (dari suatu negara)
tidaklah semata-mata disebabkan oleh perubahan ke arah kebijakan yang
berorientasi pasar, tetapi karena adanya sejenis eksternalitas yaitu
eksternalitas informasi berupa perusahaan-perusahaan pionir (MNC)
membantu mendemonstrasikan kepada perusahaan-perusahaan lain tentang
kemungkinan melakukan ekspor barang-barang manufaktur secara
menguntungkan, sehingga kebijakan yang berorientasi ke luar itu akan
menyebabkan peningkatan ekspor dari dan juga peningkatan teknologi di
negara-negara yang ternyata mempunyai keunggulan komparatif.
34


Menurut teori Krugman, penanaman modal asing membawa
kemampuannya berupa eksternalitas informasi yakni mampu
menerjemahkan berbagai peluang yang dimiliki suatu negara dengan
keberaniannya mengambil risiko untuk memproduksi suatu komoditi yang

32
Pandji Anoraga, op.cit., p. 63
33
Ibid ., p. 48
34
Ibid., p. 18
31



mampu menembus pasaran ekspor barang-barang manufaktur dengan daya
saing yang tinggi.
Menurut M. Arsyad Anwar (1992) dalam Pandji Anoraga,
penanaman modal asing yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan
raksasa multinasional (MNC) berperan secara tidak langsung dalam
pembentukan dan penciptaan berbagai infrastruktur dan perlengkapannya
berupa sarana dan prasarana serta meningkatkan perhatian pemerintah
dalam hal pengadaan fasilitas-fasilitas umum di zona industri.
35

Selain pembangunan infrastruktur dan pengadaan fasilitas umum,
masuknya investasi asing juga membawa alam modernisasi secara lebih
efektif dan mantap baik dibidang teknologi industri maupun manajerial
usaha.
Berdasarkan pemaparan teori di atas dapat disimpulkan bahwa
investasi asing (PMA) adalah kegiatan penambahan stok modal atau
barang modal secara langsung (Direct Investment) oleh sektor produsen
(swasta) yang berasal dari luar negeri dengan tujuan untuk mendapatkan
laba di mana investor ikut serta sebagai pemilik dan mempunyai hak
dalam penguasaan modal.

4. Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Peranan pinjaman luar negeri dan modal asing terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara berkembang telah lama menjadi

35
Ibid., p. 17
32



perdebatan di antara ekonom dunia. Diantara mereka ada yang mendukung
peranan utang luar negeri sebagai sumber modal untuk menaikkan
pertumbuhan ekonomi, tetapi banyak pula yang memandang negatif
pengaruh utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sekelompok ekonom pada tahun 1950-an dan 1960-an
berpendapat dan meyakini bahwa bantuan luar negeri mempunyai dampak
yang positif terhadap pembangunan ekonomi suatu negera tanpa
menimbulkan gangguan pada masa sesudahnya bagi negara-negara debitor
tersebut. Pengalaman keberhasilan pembangunan kembali perekonomian
negara-negara Eropa Barat melalui Marshal Plan menjadi dasar kelompok
tersebut menganjurkannya diterapkan dinegara-negara berkembang.
Argumentasi ekonomi yang dikemukakan oleh pandangan yang
mendukung utang luar negeri antara lain:
a. Teori Harrod Domar
Pengalaman seperti yang diuraikan di atas juga mengilhami teori
yang dikembangkan oleh Sir Roy Harrod dan Evsey D. Domar yang
berpendapat bahwa:
Pinjaman luar negeri mempunyai dampak yang positif terhadap
pembangunan ekonomi suatu negara yaitu akan menambah sumber-
sumber produktif tanpa menimbulkan dampak negatif terhadap alokasi dan
efisiensi sumber daya terutama tingkat efisiensi dalam penggunaan modal.
Keadaan ini telah dibuktikan oleh negara-negara yang tergabung dalam
kelompok negara industri maju seperti Korea Selatan dan Taiwan di mana
utang luar negeri telah dengan sukses menjadi mesin pertumbuhan (engine
of growth) dalam perekonomian mereka.
36



36
Kuwat Waluyo, Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
periode 1999-2004, Tesis (Depok: Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik FE UI, 2006), p. 6
33



Asumsi yang mereka gunakan dalam proses penganjurannya
adalah bantuan luar negeri akan menambah sumber-sumber produktif
tanpa menimbulkan dampak substitusi terhadap tingkat tabungan
domestik, dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap alokasi dan
efisiensi sumber daya terutama tingkat efisiensi dalam penggunaan modal.

b. Teori Neo Klasik,
Menurut aliran Neo Klasik,
Utang luar negeri merupakan suatu hal yang sangat positif terhadap
pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan dana pinjaman luar negeri dapat
menambah cadangan devisa, mengisi kekurangan tabungan sebagai modal
pembangunan yang sangat membantu pertumbuhan ekonomi suatu negara.
Namun, utang luar negeri akan menjadi masalah ketika utang tersebut tidak
dikelola dengan baik dan benar.
37


Sumber keuangan yang berasal dari luar dalam bentuk pinjaman
ini, dapat memainkan peranan yang masuk akal dalam melengkapi atau
menutupi kelangkaan sumberdaya dalam negeri demi mengejar target
tabungan, investasi, dan devisa. Utang luar negeri diberikan dalam rangka
mempercepat proses pembangunan yang nantinya akan menghasilkan
tambahan tabungan dalam negeri sebagai akibat dari tingkat pertumbuhan
ekonomi yang tinggi. Secara bertahap, akhirnya utang luar negeri
berkurang dan lenyap. Sumber daya lokal telah mencukupi untuk
menggerakkan proses pembangunan yang sesuai dengan kemampuan
sendiri (self sustaining).


37
Ibid, p. 283
34



c. Laffer Curve Theory
Teori ini menggambarkan efek akumulasi utang terhadap
pertumbuhan PDB. Menurut teori ini, pada dasarnya utang diperlukan
pada tingkat yang wajar. Penambahan utang akan memberikan dampak
positif terhadap pertumbuhan ekonomi sampai pada satu titik atau batas
tertentu. Pada kondisi tersebut, utang merupakan kebutuhan normal setiap
negara. Namun, pada saat stok utang melebihi batas tersebut maka
penambahan utang mulai membawa dampak negatif terhadap pertumbuhan
ekonomi.
38


Dalam proses pembangunan ekonomi negara-negara berkembang
adanya akumulasi utang luar negeri (external debt) merupakan suatu gejala
umum yang wajar sebab tidak ada satu negara yang membangun tanpa
pinjaman. Pinjaman tersebut merupakan obat pendorong bagi proses
pembangunan dan seharusnya tertanam pada kegiatan-kegiatan yang
mendorong pendapatan sehingga mempercepat proses pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi. Dan utang ini dirasa masih aman selama debt
service ratio tetap di bawah 25% .

Sumber: Catherine Patillo (2002) dalam Nurlia Listiani
Gambar II.1. Kurva Laffer
d. Teori Chenery
Teori yang berbicara tentang penggunaan bantuan luar negeri
dalam pembiayaan pembangunan selanjutnya dikembangkan oleh

38
Nurlia Listiani, op. cit., p. 285
35



beberapa ekonom seperti Hollis Chenery, Alan Strout, dan lain-lain pada
tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an. Pemikiran mereka seperti yang
diungkapkan oleh Chenery dan Carter (1973) dapat dikelompokkan ke
dalam empat pemikiran mendasar.
39

Pertama, sumber dana eksternal (modal asing) dapat dimanfaatkan
oleh negara sedang berkembang sebagai suatu dasar yang signifikan untuk
memacu kenaikan investasi serta pertumbuhan ekonomi. Kedua, untuk
menjaga dan mempertahankan tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi
diperlukan perubahan dan perombakan yang subtansial dalam struktur
produksi dan perdagangan. Ketiga, modal asing dapat berperan penting
mobilisasi sumber dana dan transformasi struktural. Keempat, kebutuhan
akan modal asing akan menjadi menurun setelah perubahan struktural
terjadi.

Pemikiran-pemikiran di atas sedemikian kuatnya mempengaruhi
proses perencanaan pembangunan di negara-negara sedang berkembang
yang semata-mata hanya mengandalkan upaya proses pembangunannya
pada sumber-sumber daya domestik. Malahan porsi bantuan luar negeri
tidak lagi diperlakukan sebagai faktor pelengkap (complementary factor),
tapi telah menjadi sumber utama dalam pembiyaan pembangunan.
40
.
Sementara argumentasi ekonomi yang dikemukakan oleh
pandangan yang negatif terhadap utang luar negeri antara lain:

39
Desmawati Sihombing. Analisis Pengaruh Utang Luar Negeri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia, Skripsi (Medan: Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2010), p. 53-54
40
Basri Faisal, Perekonomian Indonesia (Jakarta: Erlangga, 2002), p. 104
36



a. Rana dan Dowling (1988)
Berdasarkan hasil penelitiannya, pada tahun 1980 di sembilan
negara Asia menunjukkan bahwa
Utang luar negeri cenderung lebih memberikan dampak negatif bagi
negara tersebut. Hal ini disebabkan utang luar negeri yang sangat besar
akan membebani proses dan perjalanan ekonomi sampai dengan generasi
yang akan datang. Selain itu, ketergantungan utang luar negeri juga akan
mengakibatkan bangsa menjadi tidak mandiri dalam membangun dan
memulihkan kondisi ekonomi terutama setelah diterpa krisis ekonomi.
41


Biaya terbesar dari semakin menumpuknya utang-utang luar negeri
itu adalah meningkatnya beban pembayaran angsuran utang (debt service).
Angsuran utang tersebut terdiri dari amortisasi (pembayaran utang pokok)
dan pembayaran bunga yang menumpuk. Apabila utang terus meningkat
atau suku bunganya meningkat, maka pembayaran cicilan utang juga akan
meningkat. Jika hal ini terus berlanjut dan negara tersebut kesulitan untuk
membayar angsuran utangnya, maka dapat berdampak buruk pada
pertumbuhan ekonomi.

b. Kenen (1990) dan Sachs (1990)
Kenen dan Sachs berargumentasi bahwa
Ketergantungan terhadap hutang eksternal merupakan penyebab utama
pelambatan ekonomi di negara-negara pengutang besar dan oleh
karenanya terdapat suatu kebutuhan untuk membuat fasilitas keringanan
hutang internasional.
42


Pandangan mereka didasari pada rasionalitas Krugman (1989)
bahwa pembayaran hutang pemerintah yang tinggi membutuhkan tingkat

41
Nurlia Listiani, op. cit., p. 283
42
Khorshed Chowdhury dan Amnon Levy. Hutang Eksternal dan Implikasinya Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi, Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Ekonomi Negara Berkembang, Vol. 2 No.
3, 1997, p. 340
37



pajak yang tinggi sehingga dapat menghambat pembentukan modal dan
repatriasi pelarian modal.

Pemikiran-pemikiran tersebut didasarkan pada fenomena yang
terjadi akhir-akhir ini di mana utang luar negeri membuat negara menjadi
tidak mandiri dalam membangun negaranya sehingga sangat tergantung
pada negara lain. Selain itu juga melihat fakta bahwa beban yang harus
ditanggung oleh negara debitur semakin lama semakin meningkat seiring
dengan terus bertambahnya hutang yang diakibatkan oleh tingginya cicilan
dan bunga yang harus dibayar. Sehingga pengalaman-pengalaman ini
dijadikan sebagai gambaran untuk berfikir kembali jika ingin berhutang.
Dari perbedaan kedua argumen tersebut dapat ditarik kesimpulan
bahwa pada dasarnya dalam proses pelaksanaan pembangunan ekonomi
negara-negara Dunia Ketiga, akumulasi utang luar negeri (external debt)
merupakan suatu gejala umum yang wajar, di mana tabungan dalam negeri
rendah, defisit neraca pembayaran sangat tinggi, dan impor modal juga
sangat dibutuhkan untuk menambah sumber daya domestik. Utang luar
negeri dibutuhkan untuk menutup kekurangan tersebut. Pinjaman itu
bermanfaat sebagai sumber dana untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi dan pembangunan, namun pinjaman tersebut juga menimbulkan
biaya yang harus dibayarkan Apabila utang terus meningkat atau suku
bunganya meningkat, maka pembayaran cicilan utang juga akan
meningkat. Jika hal ini terus berlanjut dan negara tersebut kesulitan untuk
38



membayar angsuran utangnya, maka dapat berdampak buruk pada
pertumbuhan ekonomi. Untuk itu pinjaman tersebut seharusnya tertanam
pada kegiatan-kegiatan yang mendorong pendapatan sehingga
mempercepat proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

5. Penanaman Modal Asing terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Argumen yang mendukung penanaman modal asing sebagian
besar berasal dari aliran Neo Klasik tradisional yang memusatkan
perhatiannya pada berbagai faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi.
Menurut aliran ini, penanaman modal asing (dan juga bantuan luar negeri)
merupakan suatu yang sangat positif karena hal tersebut mengisi
kekurangan tabungan yang dapat dihimpun dari dalam negeri, menambah
cadangan devisa, memperbesar penerimaan pemerintah, dan
mengembangkan keahlian manajerial bagi perekonomian di negara
penerimanya. Semua manfaat yang akan dihasilkan oleh investasi tersebut
jelas sangat penting karena semuanya itu memang merupakan faktor-faktor
kunci yang dibutuhkan untuk mencapai target pembangunan.
43

Menurut aliran Neo Klasik, penambahan output berhubungan juga
dengan penambahan input kapital, angkatan kerja terlatih dan tidak
terlatih, dan variabel lainnya seperti sumber daya alam dan penambahan
produktivitas atau efisiensi input yang digunakan.

43
Nurlia Listiani, op. cit., p. 286-287
39



Harrod-Domar adalah ahli ekonomi yang mengembangkan analisis
Keynes yang menekankan tentang perlunya penanaman modal dalam
menciptakan pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu menurutnya setiap
usaha ekonomi harus menyelamatkan proporsi tertentu dari pendapatan
nasional yaitu untuk menambah stok modal yang akan digunakan dalam
investasi baru.
Harrod-Domar melihat pentingnya investasi terhadap pertumbuhan
ekonomi, sebab investasi akan meningkatkan stok barang modal yang
memungkinkan peningkatan output. Sumber dana domestik untuk
keperluan investasi berasal dari bagian produksi (pendapatan nasional)
yang ditabung.
44

MNC dengan kemampuan dan kapasitas permodalan, teknologi,
dan keahlian manajerial yang tinggi merupakan salah satu sumber dalam
rangka mengisi kelangkaan modal, teknologi, dan keahlian manajemen
dalam negeri.
Perusahaan multinasional tersebut tidak hanya menyediakan
sumber-sumber finansial dan pabrik-pabrik baru saja kepada negara-
negara tuan rumah, tetapi juga menyediakan pengalaman dan kecakapan
manajerial, kemampuan kewirausahaan, serta keahlian dibidang teknologi
yang kemudian dapat dialihkan kepada mitra-mitra usaha di dalam negeri
melalui program-program latihan dan proses belajar sambil bekerja.
Perusahaan multinasional ini juga berguna untuk mendidik para manajer

44
Prathama Rahadja dan Mandala Manurung, op. cit., p. 143-145
40



lokal agar mereka mengetahui cara-cara dalam memperluas pasar, mencari
alternatif pasokan sumber daya, serta memiliki pemahaman yang lebih
baik akan praktek-praktek pemasaran internasional. selain itu, perusahaan
multinasional ini juga akan membawa pengetahuan mengenai proses
produksi dengan menggunakan teknologi yang canggih. Transfer
pengetahuan, keahlian, dan teknologi semacam ini dianggap sangat
berguna dan produktif bagi negara penerimanya.
45

Namun, ada pula yang berpandangan negatif pengaruh penanaman
modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi. Salah satunya adalah
menurut Maxwell J. Fry yang termuat dalam suntingan Todaro dan Smith
mengungkapkan bahwa:
Kenaikan investasi asing langsung cenderung diiringi oleh hal-hal yang
tidak menguntungkan, yakni penurunan tingkat investasi domestik,
penurunan tabungan nasional, peningkatan defisit neraca transaksi
berjalan, serta pada akhirnya penurunan laju pertumbuhan ekonomi secara
keseluruhan.
46


Kalangan yang cenderung menentang kegiatan investasi asing
mendasarkan sikapnya pada pemikiran dan keyakinan akan pentingnya
pengawasan nasional terhadap aktivitaas perekonomian domestik serta
usaha mengurangi dominasi dari hubungan ketergantungan antara
pemerintah negara-negara Dunia Ketiga dengan perusahaan-perusahaan
multinasional yang sangat kuat tersebut.
47

Kesimpulan yang dapat diambil dari perbedaan kedua argumen di
atas adalah penanaman modal asing bisa menjadi pendorong pertumbuhan

45
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op. cit., p. 267-268
46
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op. cit, p. 271
47
Ibid., p. 272
41



ekonomi selama kepentingan-kepentingan perusahaan multinasional
tersebut sejalan dengan kepentingan pemerintah dan masyarakat di negara
tuan rumah. Namun, jika perusahaan multinasional hanya mementingkan
kepentingannya sendiri dari segi output secara global atau maksimalisasi
keuntungan tanpa meperdulikan dampak jangka panjang yang ditimbulkan
dari aktivitas bisnisnya terhadap kondisi ekonomi dan sosian di negara
tuan rumah, maka pemikiran yang menentang penanaman modal asing
semakin diterima oleh pemerintah dan masyarakat di negara-negara Dunia
Ketiga.

6. Utang Luar Negeri dan Penanaman Modal Asing terhadap
Pertumbuhan Ekonomi
Pada banyak negara yang sedang berkembang, ketidaktersediaan
sumberdaya modal seringkali menjadi kendala utama. Dalam beberapa hal,
kendala tersebut disebabkan karena rendahnya tingkat pemobilisasian
modal di dalam negeri. Beberapa penyebabnya antara lain
1. pendapatan per kapita penduduk yang umumnya relatif rendah,
menyebabkan tingkat MPS (marginal propensity to save) rendah, dan
pendapatan pemerintah dari sektor pajak, khususnya penghasilan, juga
rendah.
2. Lemahnya sektor perbankan nasional menyebabkan dana masyarakat,
yang memang terbatas itu, tidak dapat didayagunakan secara produktif
dan efisien untuk menunjang pengembangan usaha yang produktif.
42



3. Kurang berkembangnya pasar modal, menyebabkan tingkat kapitalisasi
pasar yang rendah, sehingga banyak perusahaanyang kesulitan
mendapatkan tambahan dana murah dalam berekspansi.
48

Dengan kondisi sumberdaya modal domestik yang sangat terbatas
seperti itu, jelas tidak dapat diandalkan untuk mampu mendukung tingkat
pertumbuhan output nasional yang tinggi seperti yang diharapkan.
Sehingga dibutuhkan adanya sumberdaya modal yang dapat digunakan
sebagai katalisator pembangunan, agar pembangunan ekonomi dapat
berjalan dengan lebih baik, lebih cepat, dan berkelanjutan. Dengan adanya
sumberdaya modal, maka semua potensi kelimpahan sumberdaya alam dan
sumberdaya manusia dimungkinkan untuk lebih didayagunakan dan
dikembangkan. Solusi yang dianggap bisa diandalkan untuk mengatasi
kendala rendahnya mobilisasi modal domestik adalah dengan
mendatangkan modal dari luar negeri seperti utang luar negeri dan
penanaman modal asing.
Menurut Harrod Domar, masalah pembangunan pada dasarnya
merupakan masalah menaikkan investasi modal. Dalam mendukung
pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-investasi baru sebagai stok
modal seperti penanaman modal dalam negeri maupun penanaman modal
asing. Selain investasi, pertumbuhan ekonomi juga ditentukan oleh
tingginya tabungan. Bila tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan
ekonomi masyarakat/negara tersebut juga akan rendah.
49


48
Adwin Surya Atmadja, op. cit., p. 83 94
49
Nurlia Listiani, op. cit., p. 286.
43



Teori Harrod Domar menjelaskan hubungan antara pertumbuhan
ekonomi yang ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi. Bila
tabungan dan investasi rendah, pertumbuhan ekonomi masyarakat/negara
tersebut juga akan rendah. Teori ini berasumsi bahwa masalah
pembangunan pada dasarnya merupakan masalah menaikkan investasi
modal.
Pembentukan modal dipandang sebagai pengeluaran yang akan
menambah kesanggupan suatu perekonomian untuk menghasilkan barang-
barang maupun sebagai pengeluaran yang akan menambah permintaan
efektif seluruh masyarakat. Teori ini menunjukan suatu kenyataan bahwa
apabila pada suatu masa tertentu dilakukan sejumlah pembentukan modal,
maka pada masa perekonomian berikutnya mempunyai kesanggupan yang
lebih besar untuk menghasilkan barang-barang.
Menurut Harrod-Domar, ada hubungan ekonomi yang langsung
antar besarnya stok modal dan jumlah produksi nasional. Adapun model
pertumbuhan ekonomi yang bisa ditunjukkan berdasarkan teori Harrrod
Domar adalah sebagai berikut:
1. Tabungan (S) merupakan suatu proporsi (s) dari output total (Y), oleh
karenanya nilai mempunyai persamaan yang sederhana:
S = s . Y .................................................................... (2.7)
2. Investasi didefinisikan sebagai perubahan stok modal dan
dilambangkan dengan K, maka:
I = K ................................................................ .......... (2.8)
44



Tetapi karena stok modal (K) mempunyai hubungan langsung dengan
output total (Y), seperti ditunjukkan oleh rasio modal/output (COR)
atau k, maka:
K/Y = k atau K/Y = k atau K = k . Y ....................... (2.9)
3. Karena tabungan total (S) harus sama dengan investasi total (I),maka:
S = I ..................................................................... (2.10)
4. Dari persamaan (2.7) dikatakan bahwa S = s . Y dan persamaan (2.8)
dan (2.9) maka diketahui bahwa
I = K = k. Y .......................................................... (2.11)
Dengan demikian, identitas tabungan dapat diperlihatkan dalam
persamaan:
S = s . Y = I = K = k. Y .................................. .......... (2.12)
s . Y = k. Y maka akhirnya kita akan mendapatkan :
Y/Y = s/k .............................................................. (2.13)
Karena tingkat pertumbuhan (g) dinyatakan dalam (Y/Y) sehingga
g = s/k ................................................................ (2.14)
Persamaan tersebut menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan PDB
ditentukan bersama oleh rasio tabungan dari pendapatan nasional (s) dan
rasio kapital-output (k). Persamaan tersebut menyatakan bahwa tingkat
pertumbuhan pendapatan nasional akan secara positif berkaitan erat
dengan tingkat rasio tabungan sehingga lebih banyak bagian pendapatan
yang ditabung secara langsung akan meningkatkan pertumbuhan PDB.
Tingkat pertumbuhan yang dapat dijangkau pada setiap tingkatan tabungan
45



dan investasi adalah banyaknya tambahan output yang didapat dari suatu
unit investasi.
Oleh karena itu, dinegara-negara yang sedang berkembang terjadi
kesenjangan antara tabungan dan investasi, di mana tabungan domestik
tidak mampu untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itu, diperlukan
adanya intervensi pemerintah agar menjamin keadaan equilibrium antara
tabungan, investasi, dan pendapatan sehingga alternatif yang paling mudah
untuk menutupi kesenjangan tersebut adalah melalui utang luar negeri dan
penanaman modal asing.
50

Beberapa penelitian terdahulu
Tabel II.1
Penelitian Terdahulu

No Judul Penelitian
dan Nama Peneliti
Hasil Penelitian Tahun
1. Hutang Eksternal
dan Implikasinya
Terhadap
Pertumbuhan
Ekonomi.
Oleh: Khorshed
Chowdhury dan
Amnon Levy
Penelitian menggunakan data tahunan (1970-1993) pada 40
negara yang dikelompokkan menjadi lima wilayah: Asia Timur
dan Pasifik, Asia Selatan, Amerika Latin dan Karibia, Afrika
Utara, dan Afrika Sub Sahara. Menggunakan metode estimasi
three stage least squares (3SLS).
a. Pada semua wilayah kecuali Asia Selatan, pengaruh penuh
pasiva eksternal pemerintah jangka panjang terhadap
output adalah negatif.
b. Pengaruh penuh hutang eksternal swasta jangka panjang
terhadap output adalah positif pada semua wilayah kecuali
di Asia Selatan.
c. Pengaruh penuh pasiva jangka pendek terhadap output
1997

50
Nurlia Listiani, op. cit., p. 286
46



adalah negatif hanya di Afrika Utara dan Sub Sahara
sementara di Asia Timur dan Pasifik, Asia Selatan serta
Amerika Latin dan Karibia adalah positif.
d. Meskipun GNP telah meningkatkan kapasitas produksi
negara berkembang di semua wilayah, tetapi juga telah
meningkatkan tingkat hutang mereka.
2. Peranan
Investasi
Asing
Langsung
Terhadap
Pertumbuhan
Ekonomi Di
Negara-
Negara Asia
Timur.
Oleh:
Suryawati
Penelitian dilakukan pada wilayah Asia Timur terpilih yaitu
Malaysia, Thailand, Korea, Singapura, Indonesia, Philipina
selama periode 1969-1996. Penelitian ini menggunakan model
persamaan regresi berganda linier, model koreksi kesalahan
atau error correction model (ECM), dan Model Granger.
a. Modal Asing Langsung mempunyai hubungan yang positif
dan kuat terhadap pertumbuhan ekonomi (PDB) negara
tujuan FDI dalam jangka pendek sedangkan jangka
panjang, hanya di Indonesia dan Philippina.
b. Dalam jangka panjang, utang luar negeri (DEBT)
berpengaruh negatif bagi pertumbuhan ekonomi kecuali
Philippina. Sedangkan dalam jangka pendek, pada
umumnya, DEBT tidak berpengaruh pada pertumbuhan
ekonomi, kecuali Malaysia.
2000

B. Kerangka Berpikir
Konsep dunia ketiga menjadi terkenal selama perang dingin antara
Amerika Serikat dan Uni Soviet sebagai kepala dari dua blok kekuasaan
yang saling menentang dalam suatu pergulatan ideologi di awal 1950.
Sisa negara-negara yang tidak bersekutu dengan salah satu blok, diberi
label Dunia Ketiga.
Namun, pada akhir perang dingin, konsep Dunia Ketiga tidak lagi
memiliki muatan ideologis dan akhirnya menjadi ungkapan sinonim
47



dengan negara berkembang yang berjuang untuk melawan
keterbelakangan ekonomi dan kemiskinan.
Pada banyak negara yang sedang berkembang, ketidaktersediaan
sumberdaya modal seringkali menjadi kendala utama. Dengan kondisi
sumberdaya modal domestik yang sangat terbatas seperti itu, jelas tidak
dapat diandalkan untuk mampu mendukung tingkat pertumbuhan output
nasional yang tinggi seperti yang diharapkan. Solusi yang dianggap bisa
diandalkan untuk mengatasi kendala rendahnya mobilisasi modal domestik
adalah dengan mendatangkan modal dari luar negeri seperti utang luar
negeri dan penanaman modal asing.
Sekarang ini dengan semakin terbukanya perekonomian dunia,
termasuk dalam bidang finansial, membuat arus modal asing semakin
leluasa keluar masuk suatu negara. Pada banyak negara yang sedang
berkembang, modal asing seolah-olah telah menjadi salah satu sumber
modal pembangunan yang diandalkan.
Peranan pinjaman luar negeri dan investasi asing terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara berkembang telah lama menjadi
perdebatan di antara ekonom dunia. Pada dasarnya, dalam proses
pelaksanaan pembangunan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga,
akumulasi utang luar negeri (external debt) merupakan suatu gejala umum
yang wajar, di mana tabungan dalam negeri rendah, defisit neraca
pembayaran sangat tinggi, dan impor modal juga sangat dibutuhkan untuk
menambah sumber daya domestik.
48



Terjadi kesenjangan yang semakin melebar antara tabungan dan
investasi. Sementara itu pengerahan modal melalui tabungan pemerintah
masih belum bisa diandalkan sepenuhnya, walaupun penerimaan
pemerintah melalui sektor perpajakan dan sumber -sumber lainnya lebih
besar dibandingkan investasi pemerintah, namun secara nasional terjadi
kesenjangan yang terus melebar antara tabungan dengan investasi,
melebarnya kesenjangan ini secara tidak langsung menunjukkan pesatnya
pertumbuhan investasi domestik yang tidak dapat diimbangi oleh
kemampuan perekonomian dalam mengakumulasikan tabungan nasional.
Secara teoritis, kesenjangan antara tabungan dan investasi inilah kemudian
ditutup dengan bantuan luar negeri (utang luar negeri).
Untuk membangun suatu perekonomian harus memiliki Social
Overhead Capital yaitu proyek-proyek raksasa yang diperlukan untuk
memperlancar bisnis dan perdagangan seperti jalan raya, rel kereta api,
proyek irigasi dan bendungan, serta sarana kesehatan umum. Semua ini
memerlukan investasi yang sangat besar yang cenderung bersifat
sekaligus. Tidak ada seorang pun atau perusahaan kecil yang mampu
membangun suatu sistem jalan raya. Tidak ada perusahaan yang bisa
berharap mendapatkan laba jika dana yang diperlukan tidak mampu
disediakan oleh pemerintah. Disinilah manfaat proyek investasi skala besar
yang ke semuanya itu berasal dari luar negeri yang dapat menyebar ke
seluruh perekonomian termasuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi.
49



Dana investasi asing akan selalu tertuju ke negara-negara atau
kawasan yang menjanjikan tingkat hasil finansial dan kadar kepastian
paling tinggi (tingkat risikonya paling kecil). Untuk itu diperlukan iklim
investasi yang menjanjikan, sehingga dapat menarik para investor untuk
menanamkan modalnya. Perusahaan-perusahaan dalam negeri juga harus
meningkatkan daya saingnya agar tidak kalah bersaing dengan
perusahaan-perusahaan multinasional.
Penanaman modal asing dengan kemampuan dan kapasitas
permodalan, teknologi, dan keahlian manajerial yang tinggi merupakan
salah satu sumber dalam rangka mengisi kelangkaan modal, teknologi, dan
keahlian manajemen dalam negeri. Masuknya investasi asing dalam
berbagai industri yang padat modal dan teknologi tinggi telah mendorong
pertumbuhan ekonomi yang semula agraris ke arah pembangunan yang
berorientasi pada industri.
Secara sistematis dapat digambarkan sebagai berikut :








Gambar II.2. Skema Kerangka Berfikir
Terbukanya perekonomian dunia

Arus modal asing

ULN

PMA

Menutup kesenjangan
antara tabungan dan
investasi
Investasi skala besar, kemampuan dan
kapasitas permodalan, teknologi, dan
keahlian manajerial yang tinggi
Pertumbuhan ekonomi meningkat
50



C. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teori dan kerangka berfikir maka dapat
diajukan hipotesis sebagai berikut:
1. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara utang luar
negeri terhadap pertumbuhan ekonomi negara Dunia Ketiga tahun
1991-2010. Artinya, semakin tinggi utang luar negeri maka semakin
rendah pertumbuhan ekonominya.
2. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara penanaman
modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi negara Dunia Ketiga
tahun 1991-2010. Artinya, semakin tinggi penanaman modal asing
maka semakin tinggi pula pertumbuhan ekonominya.
3. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan antara utang luar
negeri dan penanaman modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi
negara Dunia Ketiga tahun 1991-2010. Artinya, semakin tinggi utang
luar negeri dan penanaman modal asing maka semakin tinggi pula
pertumbuhan ekonominya.







51



BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan pengetahuan yang tepat,
valid, dan dapat dipercaya tentang:
1. Pengaruh utang luar negeri terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-negara
Dunia Ketiga tahun 1991 2010.
2. Pengaruh penanaman modal asing terhadap pertumbuhan ekonomi di negara-
negara Dunia Ketiga tahun 1991 2010.
3. Pengaruh utang luar negeri dan penanaman modal asing terhadap
pertumbuhan ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga tahun 1991 2010.

B. Objek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan mengambil data total utang luar
negeri, penanaman modal asing (direct investment), dan pertumbuhan ekonomi
selama tahun 1991-2010 di negara-negara Dunia Ketiga yang dikelompokkan
menjadi wilayah Eropa Tengah dan Timur, Developing Asia, Amerika Latin dan
Karibian, Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Afrika Sub-Sahara. Data tersebut
diperoleh dari website resmi lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World
Bank.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2012. Waktu ini dipilih
dengan alasan bahwa pada waktu tersebut merupakan waktu yang paling luang
52



untuk melakukan penelitian karena sudah tidak terlalu disibukkan dengan jadwal
perkuliahan sehingga peneliti dapat lebih fokus pada saat penelitian.

C. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
expos facto yang merupakan suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti
peristiwa yang telah terjadi dan kemudian meruntut ke belakang untuk
mengetahui faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut.
51
Metode ini
dipilih sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui pengaruh antara
variabel-variabel yang diteliti yaitu pertumbuhan ekonomi sebagai variabel
terikat, utang luar negeri sebagai variabel bebas pertama, dan penanaman modal
asing sebagai variabel bebas kedua.

D. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data sekunder yaitu
data tahunan utang luar negeri dan penanaman modal asing dan data tahunan
pertumbuhan ekonomi. Jenis data yang digunakan adalah gabungan antara data
time series dan data cross section atau disebut data panel. Banyaknya data panel
berjumlah 100 data.
Data sekunder tersebut diperoleh dari sumber-sumber seperti catatan atau
laporan yang dipublikasikan oleh World Bank dan International Monetary Fund
(IMF).

51
Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Jakarta: Alfabeta, 2004), p. 7
53



E. Operasionalisasi Variabel Penelitian
1. Pertumbuhan Ekonomi
a. Definisi Konseptual
Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses keadaan di mana terjadi
kenaikan kapasitas produksi perekonomian suatu negara dalam jangka
panjang dan dijadikan sebagai pengukur keberhasilan pembangunan
yang diwujudkan dalam pertumbuhan pendapatan nasional (Gross
Domestic Product) .
b. Definisi Operasional
Pertumbuhan ekonomi dalam penelitian ini diperoleh dari laporan
pertumbuhan ekonomi negara-negara Dunia Ketiga yang dilihat dari
indikator pertumbuhan GDP tahunan atas harga konstan yang
dinyatakan dalam persen mulai tahun 1991 sampai tahun 2010.

2. Utang Luar Negeri
a. Definisi Konseptual
Utang luar negeri adalah bantuan pinjaman yang didatangkan dari luar
negeri dari pemerintahan negara-negara asing atau lembaga-lembaga
keuangan internasional yang khusus dibentuk untuk memberikan
pinjaman serta dari bank-bank komersial internasional dengan
kewajiban untuk membayar kembali angsuran utang pokok tersebut
beserta bunga pinjaman yang telah disepakati bersama.

54



b. Definisi Operasional
Utang luar negeri dalam penelitian ini diperoleh dari laporan total utang
luar negeri negara-negara Dunia Ketiga yang dilihat dari indikator
besarnya total pinjaman dari pemerintahan negara-negara asing atau
lembaga-lembaga keuangan internasional dan dari bank-bank komersial
internasional negara-negara maju atau badan-badan internasional mulai
tahun 1991 sampai dengan tahun 2010 berdasarkan perhitungan tahunan
dan dinyatakan dalam U.S. dollars.

3. Penanaman Modal Asing
a. Definisi Konseptual
Investasi asing (PMA) adalah kegiatan penambahan stok modal atau
barang modal secara langsung (Direct Investment) oleh sektor produsen
(swasta) yang berasal dari luar dengan tujuan untuk mendapatkan laba
di mana investor ikut serta sebagai pemilik dan mempunyai hak dalam
penguasaan modal.
b. Definisi Operasional
Penanaman Modal Asing dalam penelitian ini diperoleh dari laporan
investasi yang dilihat dari indikator investasi asing langsung atau
Foreign Direct Investment (FDI) negara-negara Dunia Ketiga mulai
tahun 1991 sampai dengan tahun 2010 dalam U.S. Dollars pertahun.


55



F. Konstelasi Pengaruh Antar Variabel
Konstelasi pengaruh antar variabel dalam penelitian ini bertujuan untuk
memberikan arah atau gambaran dari penelitian ini, yang dapat digambarkan
sebagai berikut:



Keterangan:
X
1
: Utang Luar Negeri
X
2
: Penanaman Modal Asing
Y : Pertumbuhan Ekonomi
: Arah Pengaruh

G. Teknik Analisis Data
1. Panel Data
Model ini menggabungkan observasi lintas sektor dan runtun waktu
sehingga jumlah observasi meningkat. Estimasi panel data akan
meningkatkan derajat kebebasan, mengurangi kolinearitas antara variabel
penjelas dan memperbaki efisiensi estimasi. Verbeek dalam Musleh Jawas
(2008) mengemukakan bahwa keuntungan regresi dengan data panel adalah
kemampuan regresi data panel dalam mengidentifikasi parameter-parameter
regresi secara pasti tanpa asumsi restriksi atau kendala.
X
1
X
2
Y
56



Gujarati (2001) berdasarkan uraian dari Baltagi, keunggulan
penggunaan data panel dibanding data runtun waktu dan data lintas sektor
adalah :
1. Estimasi data panel dapat menunjukkan adanya heterogenitas dalam tiap
unit.
2. Dengan data panel, data lebih informatif, mengurangi kolinieritas antara
variabel, meningkatkan derajat kebebasan dan lebih efisisen.
3. Data panel cocok digunakan untuk menggambarkan adanya dinamika
perubahan.
4. Data panel dapat lebih mampu mendeteksi dan mengukur dampak.
5. Data panel bisa digunakan untuk studi dengan model yang lebih lengkap.
6. Data panel dapat meminimumkan bias yang mungkin dihasilkan dalam
regresi.
Data panel merupakan gabungan dari data cross section dan data time
series, dalam hal modelnya dapat dituliskan sebagai berikut:
Y
it
= + X
it
+
it
i = 1, 2, ...., N; t = 1, 2, ...., T (3.1)
Dimana : N = banyaknya observasi
T = banyaknya waktu
N x T = banyaknya data panel
Untuk mengestimasi parameter model dengan data panel, terdapat beberapa
teknik yang ditawarkan, yaitu:


57



a. Model Common Effect
Model common effects atau pooled regression merupakan model
regresi data panel yang paling sederhana. Model ini pada dasarnya
mengabaikan struktur panel dari data, sehingga diasumsikan bahwa perilaku
antar individu sama dalam berbagai kurun waktu atau dengan kata lain
pengaruh spesifik dari masing-masing individu diabaikan atau dinggap tidak
ada. Dengan demikian, akan dihasilkan sebuah persamaan regresi yang sama
untuk setiap unit cross-section. Sesuatu yang secara realistis tentunya kurang
dapat diterima. Karena itu, model ini sangat jarang digunakan dalam analisis
data panel. Persamaan regresi untuk model common effect dapat dituliskan
sebagai berikut:
Y
it
= + X
it
+
it
i = 1, 2, ...., N; t = 1, 2, ...., T (3.2)
di mana Y adalah variabel dependen, adalah koefisien regresi, X adalah
variabel independen, adalah estimasi parameter,
it
adalah error term, N
adalah jumlah (individu) dan T adalah jumlah periode waktu.
Ekananda (2005) menyatakan bahwa berdasarkan asumsi struktur
matriks varians-covarians residual, maka pada model common effects,
terdapat 4 metode estimasi yang dapat digunakan, yaitu:
1. Ordinary Least Square (OLS), jika struktur matriks varians-kovarians
residualnya diasumsikan bersifat homoskedastik dan tidak ada cross
sectional correlation,
2. Generalized Least Square (GLS) / Weighted Least Square (WLS): Cross
Sectional Weight, jika struktur matriks varians-kovarians residualnya
58



diasumsikan bersifat heteroskedastik dan tidak ada cross sectional
correlation,
3. Feasible Generalized Least Square (FGLS)/Seemingly Uncorrelated
Regression (SUR) atau Maximum Likelihood Estimator (MLE), jika
struktur matriks varians-kovarians residualnya diasumsikan bersifat
heteroskedastik dan ada cross sectional correlation,
4. Feasible Generalized Least Square (FGLS) dengan proses autoregressive
(AR) pada error term-nya, jika struktur matriks varians-kovarians
residualnya diasumsikan bersifat heteroskedastik dan ada korelasi antar
waktu pada residualnya.

b. Model Efek Tetap (Fixed Effect)
Jika model common effect cenderung mengabaikan struktur panel dari
data dan pengaruh spesifik masing-masing individu, maka model fixed effect
adalah sebaliknya. Pada model ini, terdapat efek spesifik individu
i
dan
diasumsikan berkorelasi dengan variabel penjelas yang teramati X
it
.
Ekananda (2005) menyatakan bahwa berdasarkan asumsi struktur
matriks varians-kovarians residual, maka pada model fixed effect, terdapat 3
metode estimasi yang dapat digunakan, yaitu:
1. Ordinary Least Square (OLS/LSDV), jika struktur matriks varians-
kovarians residualnya diasumsikan bersifat homoskedastik dan tidak ada
cross sectional correlation,
59



2. Weighted Least Square (WLS), jika struktur matriks varians-kovarians
residualnya diasumsikan bersifat heteroskedastik dan tidak ada cross
sectional correlation,
3. Seemingly Uncorrelated Regression (SUR), jika struktur matriks varians-
kovarians residualnya diasumsikan bersifat heteroskedastik dan ada cross
sectional correlation.
Dalam model data panel dengan OLS, ada asumsi yang menyatakan
bahwa dalam persamaan 3.2, dan konstan untuk setiap individu (i) dan
waktu (t) kurang realistik.
Y
it
= + X
it
+
it
; i = 1, 2, ...., N; t = 1, 2, ...., T
Maka dari itu, dalam model efek tetap hal tersebut diatasi yang mana
model ini memungkinkan adanya perubahan pada setiap i dan t. Secara
matematis, model efek tetap dapat dituliskan sebagai berikut:
Y
it
= + X
it
+
2
W
2i
+
3
W
3i
+ .... +
N
W
Ni
+
2
Z
i2
+
3
Z
i3
+ .... +
i

Z
iT
+
it
(3.3)
Dimana:
Y
it
= variabel terikat untuk negara ke-i dan tahun ke-t
X
it
= variabel bebas untuk negara ke-i dan tahun ke-t
W
it
dan Z
it
variabel dummy yang didefinisikan sebagai berikut:
W
it
= 1; untuk negara i; i = 1, 2, ..., N
= 0 ; lainnya
Z
it
= 1 ; untuk tahun t; t = 1, 2, ..., T
= 0 ; lainnya
60



Dari model di atas, terlihat bahwa sesungguhnya model efek tetap
adalah sama dengan regresi yang menggunakan dummy variable sebagai
variabel bebas, sehingga dapat diestimasi dengan OLS. Dengan diestimasinya
model tersebut dengan OLS, maka akan diperoleh estimator yang tidak bias
dan konsisten.

c. Model Efek Random (Random Effect)
Keputusan untuk memasukkan peubah dummy dalam model fixed
effects akan menimbulkan konsekuensi tersendiri yaitu dapat mengurangi
banyaknya derajat kebebasan yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi
dari parameter yang diestimasi. Untuk mengatasi masalah tersebut maka
dapat digunakan model random effects.
Dalam model ini, parameter yang berbeda antar individu maupun
antar waktu dimasukkan ke dalam error, karena hal inilah model ini sering
juga disebut sebagai error component model. Bentuk model random effects
dapat dijelaskan dengan persamaan berikut:
Y
it
= + X
it
+
it

it
= u
i
+ v
t
+ w
it
(3.4)
dimana:
u
i
~ N (0,
U
2
) = error component cross section
v
t
~ N (0,
V
2
) = error component time series
w
it
~ N (0,
W
2
) = error component combinations
Melihat persamaan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa Model Efek
Random menganggap efek rata-rata dari data cross-section dan time-series
61



direpresentasikan dalam intercept. Sedangkan deviasi efek secara random
untuk data time-series direpresentasikan dalam v
t
dan deviasi untuk data
cross-section dinyatakan dalam u
i
.
Telah diketahui bahwa:
it
= u
i
+ v
t
+ w
it
. Dengan demikian varians
dari error tersebut dapat dituliskan dengan:
Var (
it
) =
U
2
+
V
2
+
W
2
(3.5)
Hal ini tentunya berbeda dengan model OLS yang diterapkan pada
panel data, sebagaimana telah dijelaskan di atas, yang mempunyai varian
error sebesar:
Var (
it
) =
W
2
(3.6)
Dengan demikian, Model Efek Random bisa diestimasi dengan OLS
bila
U
2
=
V
2
= 0. Kalau tidak demikian, Model Efek Random diestimasi
dengan metode Generalized Least Square (GLS).
Asumsi yang digunakan dalam Model Efek Random ini adalah error
secara individual tidak saling berkolerasi, begitu pula dengan error
kombinasinya. Penggunaan pendekatan random effects dapat menghemat
derajat kebebasan dan tidak mengurangi jumlahnya sepeti pada pendekatan
fixed effects. Hal ini berimplikasi pada parameter hasil estimasi akan menjadi
efisien. Semakin efisien maka model akan semakin baik.
Terkait dengan beberapa pilihan teknik untuk permodelan panel data,
sebelum model diestimasi dengan model yang tepat, terlebih dahulu
dilakukan uji spesifikasi apakah Common Effect, Fixed Effect dan atau
62



Random Effect memberikan hasil yang sama. Penyeleksian model estimasi
data panel antara lain:
1. Pengujian Signifikansi Common Effects atau Fixed Effects
Signifikasi model fixed effect dapat dilakukan dengan uji statistik F.
Uji F digunakan untuk mengetahui apakah teknik regresi data panel dengan
fixed effect lebih baik dari model regresi data panel tanpa variabel dummy
(common effect) dengan melihat residual sum squares (RSS).
(3.7)
di mana, n adalah jumlah individu, T adalah periode waktu, k adalah
parameter dalam model fixed effect, RSS
1
dan RSS
2
masing-masing
merupakan residual sum of squares teknik tanpa variabel dummy dan teknik
fixed effect dengan variabel dummy.
Nilai statistik F hitung akan mengikuti distribusi statistik F dengan
derajat bebas sebanyak (n-1) untuk numerator dan (nT-n-k) untuk
denumerator. Jika nilai statistik F hitung lebih besar dari F tabel, maka
hipotesis null akan ditolak, yang berarti koefisien intersep dan slope adalah
sama tidak berlaku, sehingga teknik regresi data panel dengan fixed effect
lebih baik dari common effect.

2. Pengujian Signifikansi Common Effects atau Random Effects
Breush dan Pagan (1980) telah mengembangkan pengujian Lagrange
Multiplier untuk mengetahui signifikansi dari random effects berdasarkan
residual dari OLS (common effects).
63



Secara matematis, statistik uji untuk LM test (Lagrange Multiplier)
dapat dituliskan sebagai berikut:
(3.8)
Di bawah hipotesis nul, LM mengikuti sebaran chi-square dengan
derajat bebas satu. Jika hasil LM statistik lebih besar dari nilai kritis statistik
chi-square, maka hipotesis nul akan ditolak, yang berarti estimasi yang tepat
untuk regresi data panel adalah metode random effect dibandingkan metode
common effects.

3. Pengujian Signifikansi Fixed Effects atau Random Effects
Setelah menguji signifikansi antara common effects atau fixed effects
serta common effects atau random effects, maka selanjutnya jika terbukti fixed
effects dan random effecs sama-sama lebih baik dari common effects adalah
melakukan pengujian signifikansi fixed effects atau random effects.
Uji ini dilakukan dengan membandingkan
untuk subset dari koefisien variabel-variabel yang bervariasi antar unit waktu
(time-varying variables). Secara matematis dengan menggunakan notasi
matriks, statistik uji Hausman (H) dapat dituliskan sebagai berikut:
(3.9)
di bawah hipotesis nul, statistik uji ini mengikuti sebaran chi-square dengan
derajat bebas M, di mana M adalah jumlah variabel penjelas yang nilainya
bervariasi antar unit waktu di dalam model.
64



Hipotesis null pada uji Hausman adalah efek spesifik individu tidak
berkorelasi dengan peregresi atau dengan kata lain model random effect lebih
baik bila diabandingkan dengan model fixed effect. Di bawah hipotesis nul,
pendugaan parameter dengan menggunakan random effect adalah konsisten
dan efisien, sedangkan pendugaan dengan fixed effect meskipun tetap
konsisten, tetapi tidak lagi efisien. Di bawah hipotesis alternatif, estimasi
dengan random effect menjadi tidak konsisten, sebaliknya estimasi dengan
fixed effect tetap konsisten. Jika nilai statistik Hausman lebih besar daripada
nilai kritis statistik chi-square, maka hipotesis nul akan ditolak, yang berarti
estimasi yang tepat untuk regresi data panel adalah metode fixed effect dari
pada metode random effect.
Sementara itu, Judge et al. dalam Gujarati (2003) memberikan
sejumlah pertimbangan terkait pilihan apakah menggunakan model fixed
effect (FE) ataukah model random effect (RE). Pertimbangan-pertimbangan
itu adalah sebagai berikut:
1. Jika jumlah data time series (T) besar dan jumlah data cross-section (N)
kecil, ada kemungkinan perbedaan nilai parameter yang diestimasi
dengan FE dan RE cukup kecil. Karena itu, pilhan ditentukan
berdasarkan kemudahan perhitungan. Dalam hal ini, adalah model FE.
2. Ketika N besar dan T kecil estimasi kedua metode dapat berbeda secara
signifikan. Pada kondisi seperti ini, pilihan ditentukan berdasarkan
keyakinan apakah individu yang diobservasi merupakan sampel acak
yang diambil dari populasi tertentu atau tidak. Jika observasi bukan
65



merupakan sampel acak, maka digunakan model FE. Jika sebaliknya,
maka digunakan model RE.
3. Jika efek individu tidak teramati
i
berkorelasi dengan satu atau lebih
variabel bebas, maka estimasi dengan RE bias, sedangkan estimasi
dengan FE tidak bias.
4. Jika N besar dan T kecil, serta semua asumsi yang disyaratkan oleh
model RE terpenuhi, maka estimasi dengan menggunakan RE lebih
efisien dibanding estimasi dengan FE.
Dalam penelitian ini, penentuan apakah model FE atau RE yang
akan digunakan selain didasarkan pada sejumlah pertimbangan yang telah
disebutkan, juga akan didasarkan pada kreteria ekonomi (make sense secara
ekonomi). Dalam hal ini, adalah kesesuaian tanda hasil estimasi koefisien
regresi setiap variabel di dalam model dengan teori dan kewajaran besaran
nilai koefisien hasil estimasi tersebut.
Setelah menentukan spesifikasi model yang akan digunakan, tahapan
selanjutnya adalah memilih metode estimasi (estimator) yang tepat sesuai
dengan struktur varian kovarian residual.
Konsekuensi yang muncul ketika membangun model regresi dengan
data panel adalah bertambahnya komponen residual, karena adanya dimensi
cross-section dan time-series pada data. Kondisi ini menyebabkan matriks
varian kovarian residual menjadi sedikit lebih kompleks bila dibandingkan
dengan model regresi klasik yang hanya menggunakan data cross-section atau
data time-series.
66



Pada model regresi klasik, pelanggaran terhadap asumsi klasik
terkait residual, seperti heterokedastisitas dan autokerelasi merupakan
masalah serius yang mengakibatkan penduga parameter regresi yang
diestimasi dengan OLS tidak lagi bersifat BLUE (best linier unbiased
estimator). Tindakan yang biasa dilakukan untuk mengatasi masalah ini
adalah dengan melakukan penghitungan robust standard error. Dalam
pemodelan regresi dengan data panel, terjadinya pelanggaran asumsi regresi
linier klasik pada residual adalah hal yang sangat sulit dihindari, dan tidak
seperti pada regresi klasik, pelanggaran dapat diakomodasi untuk menentukan
metode estimasi terbaik bagi spesifikasi model yang digunakan.
Terdapat beberapa kemugkinan struktur varian kovarian residual
yang mungkin terjadi pada model regresi data panel. Berbagai kemungkinan
yang dibahas pada bagian ini adalah yang biasa dijumpai pada estimasi model
dengan common effects dan fixed effect. Karena itu, metode-metode estimasi
yang dapat digunakan terkait struktur varian kovarain residual yang
dipaparkan pada bagian ini hanya akan diterapkan pada model yang
diestimasi dengan common effects atau fixed effect.
a. Pemilihan Estimator Struktur Homoskedastik atau Heteroskedastik
dengan Uji Lagrange Multiplier (LM)
Pada pengujian ini, hipotesis null (H
0
) yang digunakan adalah bahwa
struktur varians-covarians residual bersifat homoskedastik. Sementara
hipotesis alternatif (H
1
) adalah bahwa struktur varians-covarians residual
bersifat heteroskedastik.
67



Secara matematis, statistik uji yang digunakan dapat dirumuskan
sebagai berikut :
(3.10)
di mana T adalah jumlah periode waktu, n adalah jumlah individu,
adalah varians residual persamaan ke-i pada kondisi homoskedastik, dan
adalah Sum Square Residual (SSR) persamaan system pada kondisi
homoskedastik.
Statistik uji LM ini mengikuti distribusi statistik chi-square dengan
derajat bebas sebanyak n-1. Jika nilai statistik LM lebih besar dari nilai kritis
statistik chi-square, maka hipotesis nul ditolak, yang berarti struktur varians-
covarians residual bersifat heteroskedastik.

b. Pemilihan Estimator Struktur Heteroskedastik dan Ada Cross-sectional
Correlation
Pengujian ini dilakukan apabila hasil pengujian LM menunjukkan
bahwa struktur varians-covarians residual bersifat heteroskedastik. Pada
pengujian ini, hipotesis nul (H
0
) yang digunakan adalah bahwa struktur
varians-covarians residual bersifat heteroskedastik dan tidak ada cross
sectional correlation. Sementara hipotesis alternatifnya (H
1
) adalah bahwa
struktur varians-covarians residual bersifat heteroskedastik dan ada cross
sectional correlation (Seemingly Uncorrelated Regression/SUR). Secara
matematis, statistik uji yang digunakan dapat dirumuskan sebagai berikut:
68



(3.11)
di mana T adalah jumlah periode waktu, n adalah jumlah individu, dan r
ij

adalah residual correlation coefficient antara persamaan ke-i dan ke-j.
Statiktik uji LM ini mengikuti distribusi statistik chi-square dengan
derajat bebas sebanyak n(n-1)/2. Jika nilai statistik LM lebih besar dari nilai
kritis statistik chi-square, maka hipotesis nul akan ditolak, yang berarti
struktur varians-covarians residual bersifat heteroskedastik dan ada cross
sectional correlation (Seemingly Uncorrelated Regression/SUR).
Pengujian statistik juga dilakukan untuk mengetahui apakah model
regresi non linier merupakan model yang tepat untuk menggambarkan
hubungan antar variabel dan apakah ada hubungan yang signifikan diantara
variabel-variabel dependen dengan variabel-variabel penjelas (seperti : uji
statistik t dan uji statistik F) selain itu kita bisa melihat nilai hasil estimasi
untuk R
2
(koefisien determinasi).

2. Uji Hipotesis
a. Uji Statistik t
Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel-variabel bebas
secara parsial berpengaruh signifikan terhadap variabel tak bebasnya.
Hipotesis pengujian:
H
0
:
i
= 0
H
1
:
i
0
Formulanya adalah sebagai berikut:
69



(3.12)
adalah nilai penduga parameter ke-i, adalah simpangan baku dari
nilai penduga parameter ke-i.
Hipotesis null ditolak jika t
hitung
> t
/2;(nT-n-k-1)
. Hal ini berarti secara
parsial variabel bebas ke-i signifikan memengaruhi variabel tidak bebasnya
dengan tingkat kepercayaan sebesar (1-) 100%. Tingkat kesalahan yang
digunakan adalah = 5% atau 0,05.

b. Uji Statistik F
Uji statistik F merupakan pengujian koefisien regresi secara
keseluruhan. Pengujian ini menunjukkan apakah semua variabel bebas yang
dimasukkan kedalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama
terhadap variabel terikat. Hipotesis pengujian yang digunakan adalah:
H
0
:
1
=
2
= ... =
k
= 0
H
1
: paling sedikit salah satu nilai
1
0, dengan i = 1, 2, ...,k.
Statistik uji F dihitung dengan formula sebagai berikut:
(3.13)
Hipotesis nol ditolak jika F
hitung
> F
;(n+k 1, nT-n-k)
yang berarti bahwa
minimal ada satu variabel bebas yang signifikan berpengaruh terhadap
variabel tidak bebasnya dengan dengan taraf signifikansi sebesar (1-)
100%. Tingkat kesalahan yang digunakan adalah = 5% atau 0,05
70



c. Koefisien Determinasi (R
2
)
R
2
digunakan untuk mengukur kebaikan atau kesesuaian suatu model
persamaan regresi. Besaran R
2
dihitung dengan rumus:
(3.14)
Dan R
2
adjusted dihitung dengan rumus:

Dimana:
ESS: Jumlah kuadrat yang dijelaskan
RSS: Jumlah kuadrat residual.
TSS: Jumlah kuadrat total.
n: Jumlah observasi (negara)
T: Jumlah periode waktu.
k: Banyaknya variabel bebas tanpa intersep.
Adjusted R
2
digunakan karena sudah menghilangkan pengaruh
penambahan variabel bebas dalam model, karena nilai R
2
akan terus naik
seiring dengan penambahan variabel bebas. Karena itu kita harus berhati-hati
dalam menggunakan nilai R
2
ketika menilai kebaikan dan kesesuaian suatu
model persamaan regresi. Penggunaan adjusted R
2
sudah memperhitungkan
jumlah derajat bebas.
Koefisien determinasi merupakan angka yang menunjukkan besarnya
derajat kemampuan menerangkan variabel bebas terhadap variabel terikat.
71



Nilai R
2
berkisar antara 0 1 (0 < R
2
< 1) yang berarti semakin mendekati satu
maka semakin dekat pula hubungan antara variabel bebas dan terikat dan
dapat dikatakan model tersebut adalah model terbaik.

3. Uji Asumsi Klasik
Untuk membangun persamaan regresi panel yang terbaik dari
kriteria ekonometrika, perlu dilakukan penyelidikan dan penanganan adanya
masalah-masalah yang berkaitan dengan pelanggaran asumsi dasar. Berikut
ini adalah asumsi-asumsi yang diperlukan dalam analisis regresi:
a. Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah residual
berdistribusi normal atau tidak. Berdasarkan dalil limit pusat (central limit
theorem), ada kecenderungan residual yang terjadi sebenarnya menyebar
secara normal. Jika residual merupakan jumlah residual dari beberapa
sumber, maka apapun sebaran peluang masing-masng residual itu, akan
mendekati sebaran normal bila komponen residual semakin banyak. Salah
satu metode yang dapat digunakan untuk menguji Normalitas adalah Jarque-
Bera test. Uji statistik ini dapat dihitung dengan rumus berikut:
(3.15)
di mana:
n = jumlah sampel 2 = varians
3 = skewness 4 = kurtosis
72



Jarque-Bera test mempunyai distribusi chi square dengan derajat
bebas dua. Jika hasil Jarque-Bera test lebih besar dari nilai chi square pada
=5%, maka terima hipotesis nul yang berarti berdistribusi normal. Jika hasil
Jarque- Bera test lebih kecil dari nilai chi square pada =5%, maka tolak
hipotesis nul yang berarti error term tidak berdistribusi normal.

b. Multikolinieritas
Multikolinieritas berarti adanya korelasi antar variabel bebas, yang
terjadi karena variabel-variabel bebas tersebut memiliki hubungan pada
populasi atau hanya pada sampel. Cara mendeteksi adanya kolinieritas:
- Dengan memeriksa simple pairwise (Pearson) correlation antar variabel
independen. Batas nilai yang disarankan sebagai indikasi kolinieritas
serius berbeda-beda (0,8 menurut Berry dan Felman, 1985; dan 0,9
menurut Griffith dan Amerhein, 1997). Nash dan Bradford (2001)
menyebutkan bahwa suatu variabel independen berkorelasi tinggi dengan
variabel independen lainnya jika r lebih dari 0,85.
- Uji formal untuk mendeteksi keberadaan dari multikolinieritas yaitu
dengan melihat nilai Variance Inflation Factor (VIF). Nilai VIF ini
menunjukkan bagaimana varians dari sebuah estimator akan meningkat
akibat adanya multikolinieritas. Nilai VIF diperoleh dengan formula
berikut:
(3.16)
73



di mana k = 1,2,...,p 1 dan merupakan koefisien determinasi dari
regresi berganda ketika X
k
diregresikan dengan p-2 variabel lainnya dalam
model. Jika nilai VIF lebih dari 10, maka hal tersebut dapat berindikasi
bahwa multikolinieritas bersifat serius dan akan memengaruhi estimasi
yang menggunakan OLS karena meskipun estimator tetap bersifat
unbiased namun sudah tidak lagi memiliki varians yang minimum. Selain
itu, keberadaan multikolinieritas juga akan membuat estimator bersifat
sensitif untuk perubahan yang kecil pada data, sehingga akan
mengakibatkan kesalahan (missleading) dalam menginterpretasikan suatu
model regresi. Cara mengatasi adanya multikolinieritas antara lain melepas
satu atau lebih variabel yang memiliki korelasi yang tinggi,
mentransformasi model, atau memperbesar jumlah sampel.











74



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data
Penelitian ini menggunakan dua variabel independen yaitu Utang
Luar Negeri (ULN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) sedangkan variabel
dependennya adalah Pertumbuhan Ekonomi (PE).

1. Pertumbuhan Ekonomi
Data pertumbuhan ekonomi menggunakan data Gross Domestic
Product, percent change berdasarkan harga konstan yang diperoleh dari
laporan lembaga keuangan dunia seperti IMF dan World Bank yang
dipublikasikan pada website resminya selama tahun 1991-2010 di negara-
negara Dunia Ketiga yang dikelompokkan menjadi wilayah Eropa Tengah
dan Timur, Developing Asia, Amerika Latin dan Karibian, Timur Tengah dan
Afrika Utara, dan Afrika Sub-Sahara. Data pertumbuhan ekonomi di negara-
negara Dunia Ketiga dapat dilihat pada tabel IV.1 di lampiran 1 atau secara
grafik tergambar seperti di bawah ini:
75




Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011

Gambar IV.1 Grafik Pertumbuhan Ekonomi di Negara Dunia Ketiga
Berdasarkan gambaran dari grafik di atas maka dapat dilihat bahwa
wilayah Asia (Developing Asia) merupakan wilayah yang paling baik
pertumbuhan ekonominya yang rata-rata mencapai 7% pertahun selama
periode observasi. Seperti yang kita ketahui, sebagian besar negara-negara
berkembang di wilayah Asia memiliki perekonomian yang paling dinamis
sehingga pertumbuhan ekonominya relatif pesat. Sebut saja negara China dan
India yang rata-rata pertumbuhan ekonominya hampir mencapai 10%.
Namun, tidak semua negara di wilayah Asia bernasib sama seperti China dan
India. Seperti negara Nepal, Bangladesh, Pakistan, dan Filipina yang kondisi
perekonomiannya tidak sebaik negara lain dengan pertumbuhan ekonominya
di bawah 5% pertahun. Kondisi demikian juga terjadi di negara kita yaitu
-8
-6
-4
-2
0
2
4
6
8
10
12
14
P
E


(
%
)

Tahun
Pertumbuhan Ekonomi Negara Dunia Ketiga
1991-2010
Central and eastern Europe Developing Asia
Latin America and the Caribbean Middle East and North Africa
Sub-Saharan Africa
76



Indonesia yang rata-rata pertumbuhan ekonominya 4,6% pertahun selama
periode observasi.
Sedangkan wilayah yang pertumbuhan ekonominya tidak terlalu
tinggi yaitu wilayah Eropa Tengah dan Timur serta Amerika Latin dan
Karibian. Wilayah ini sangat rentan terhadap krisis ekonomi yang terjadi di
negara-negara maju sehingga membuat pertumbuhan ekonominya terpuruk
ditahun-tahun tertentu. Seperti pada tahun-tahun belakangan ini yaitu sejak
tahun 2007-2009, kedua wilayah tersebut pertumbuhan ekonominya terus
mengalami penurunan hingga mencapai angka negatif 3% dan 1% sehingga
membuat rata-rata pertumbuhan ekonomi di kedua wilayah ini hanya
mencapai 3%.
Pertumbuhan ekonomi di wilayah lainnya yaitu Timur Tengah dan
Afrika Utara serta di Afrika Sub Sahara juga tidak semulus di wilayah Asia.
Adanya konflik berdarah antaretnik dan antaragama dibeberapa negara di
wilayah ini membuat perekonomiannya terganggu. Pada dekade 1990-an,
ketegangan ini mengakibatkan kehancuran dan kebinasaan seperti yang telah
terjadi di negara Liberia dan Rep. Demokrasi Kongo sehingga membuat rata-
rata pertumbuhan ekonominya hanya 1% dan 3% pertahun. Beberapa negara
yang kurang beruntung di wilayah ini seperti Chad dan Yaman, pertumbuhan
ekonominya hanya mencapai 4% pertahun. Mereka hanya memiliki sedikit
sekali persediaan bahan baku dan mineral yang berharga, tanahnya pun
kurang subur untuk digarap. Di negara Senegal, Kenya, dan Tanzania sering
terjadi kegagalan ekonomi dan krisis keuangan di banyak badan usaha atau
77



perusahaan milik pemerintah sehingga membuat pertumbuhan ekonominya
hanya dikisaran 3% pertahun.

2. Utang Luar Negeri
Data utang luar negeri diperoleh dari laporan lembaga keuangan
dunia yaitu IMF yang dipublikasikan pada website resminya selama tahun
1991-2010 di negara-negara Dunia Ketiga yang dikelompokkan menjadi
wilayah Eropa Tengah dan Timur, Developing Asia, Amerika Latin dan
Karibian, Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Afrika Sub-Sahara. Data
external debt total dalam milyar US $ di negara-negara Dunia Ketiga dapat
dilihat pada tabel IV.2 di lampiran 2 atau secara grafik tergambar seperti di
bawah ini:

Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011

Gambar IV.2 Grafik Utang Luar Negeri di Negara Dunia Ketiga
0
200
400
600
800
1000
1200
1400
1600
U
L
N

(
M
i
l
y
a
r

U
S

$
)

Tahun
Utang Luar Negeri di Negara Dunia Ketiga
1991-2010
Central and eastern Europe Developing Asia
Latin America and the Caribbean Middle East and North Africa
Sub-Saharan Africa
78



Dari gambaran di atas, pada periode antara tahun 1991 dan 2010,
utang eksternal negara-negara Dunia Ketiga terus meroket dari US$1,3 triliun
hingga melebihi US$5,4 triliun atau naik lebih dari 300%. Pembayaran
pelunasan pinjamannya sendiri mengalami kenaikan hingga 700% dengan
nilai lebih dari US$1700 milyar pada tahun 2010 (Tabel IV. 3 di lampiran 3).
Jika total utang eksternal ini dijumlah untuk masing-masing wilayah,
maka Developing Asia merupakan wilayah yang paling tinggi nilai utang
eksternalnya yaitu lebih dari US$15 triliun sepanjang tahun observasi. Di
tahun 2010 saja utangnya sudah mencapai lebih dari US$1400 milyar.
Sebenarnya, seberapa banyak pun jumlah utang di suatu wilayah atau negara
tidaklah menjadi persoalan selama ia memiliki kemampuan untuk
membayarnya. Wilayah Asia sendiri, merupakan salah satu wilayah yang
perekonomian paling dinamis sehingga nilai total utang eksternalnya yang
tinggi dirasa masih aman dengan pertumbuhan ekonominya yang relatif pesat.
Hal ini didukung dengan fakta bahwa rata-rata total utang eksternalnya hanya
sekitar 25% (Tabel IV.4 di lampiran 4).
Sementara wilayah Afrika Sub Sahara, nilai total utang eksternalnya
hanya sekitar US$4000 milyar dan yang paling rendah dari wilayah lainnya,
tetapi nilai tersebut mencapai lebih dari 50% dari GDP-nya. Masalah utang di
kawasan Afrika Sub Sahara dianggap paling memprihatinkan karena
pendapatan per kapitanya terus menerus mengalami kemerosotan dan
perekonomiannya secara keseluruhan mengalami stagnasi.

79



3. Penanaman Modal Asing
Data penanaman modal asing diperoleh dari laporan lembaga
keuangan dunia yaitu IMF berdasarkan nilai Direct Investment, net dalam
milyar US $ yang dipublikasikan pada website resminya selama tahun 1991-
2010 di negara-negara Dunia Ketiga yang dikelompokkan menjadi wilayah
Eropa Tengah dan Timur, Developing Asia, Amerika Latin dan Karibian,
Timur Tengah dan Afrika Utara, dan Afrika Sub-Sahara. Data penanaman
modal asing di negara-negara Dunia Ketiga dapat dilihat pada tabel di Tabel
IV.6 di lampiran 6 atau secara grafik tergambar seperti di bawah ini:

Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011

Gambar IV.3 Grafik Penanaman Modal Asing di Negara Dunia Ketiga

-20
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
200
1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010
P
M
A

(
M
i
l
y
a
r

U
S

$
)

Tahun
Penanaman Modal Asing di Negara Dunia Ketiga
1991-2010
Central and eastern Europe Developing Asia
Latin America and the Caribbean Middle East and North Africa
Sub-Saharan Africa
80



Pertumbuhan PMA yang dilakukan oleh pihak swasta di negara-
negara Dunia Ketiga telah berlangsung pesat selama beberapa dasawarsa
terakhir. Pada tahun 1991, nilai totalnya baru mencapai sekitar US$29 miliar
per tahun kemudian nilai ini terus meningkat hingga mencapai lebih dari
US$166 miliar pertahun di tahun 1999 sebelum menurun menjadi US$148
miliar per tahun berikutnya di tahun 2000. Nilai ini terus mengalami pasang
surut dan mencapai puncaknya pada tahun 2008 sebesar lebih dari US$467
miliar.
Hampir sekitar 60% dari total dana investasi asing tersebut mengalir
ke negara-negara Asia. Jumlah yang diterima Afrika kurang dari 3% dari total
dana yang mengalir sedangkan bagian yang diperoleh sejumlah negara-negara
berkembang paling miskin bahkan di bawah 2%. Hal yang demikian dianggap
wajar karena modal swasta akan selalu tertuju ke negara-negara atau kawasan
yang menjanjikan tingkat pengembalian investasi dan kadar kepastian paling
tinggi.
Perusahaan-perusahaan multinasional itu senantiasa mencari peluang
ekonomi yang paling menguntungkan. Itulah sebabnya mengapa lebih dari
90% dana investasi asing swasta selama ini mengalir ke negara-negara
industri maju dan sebagian negara-negara berkembang yang
perekonomiannya paling dinamis dan pertumbuhannya relatif pesat. dan
mereka tidak bisa diharapkan untuk memberi perhatian kepada soal-soal
kemiskinan, ketimpangan pendapatan, dan lonjakan pengangguran.
52


52
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith, op. cit, p. 261
81



B. Analisis Data
Penelitian ini menggunakan analisis panel data (pooling data) dan
pengolahan datanya menggunakan program Eviews 6.0. Keunggulan
menggunakan panel data sudah dijelaskan sebelumnya. Model regresi data
panel dapat dilakukan melalui tiga model estimasi, yaitu common effects
(lampiran 7), fixed effects (lampiran 8), dan random effects (lampiran 9).
Pemilihan model estimasi terbaik akan dilakukan terhadap ketiga jenis
model tersebut. Untuk menentukkan model estimasi terbaik tersebut akan
dilakukan beberapa prosedur pengujian formal, yaitu: uji statistik F untuk
memilih antara model common effects atau fixed effects; uji Langrange
Multiplier (LM) untuk memilih antara common effects atau random effects;
uji Hausman untuk memilih antara model fixed effects atau random effects.
Selanjutnya, untuk model estimasi data panel terpilih akan dilakukan
pengujian untuk memilih estimator dengan struktur varians-kovarians
residual yang lebih baik.

1. Pemilihan Model Terbaik
a. Pengujian Signifikansi Common Effect atau Fixed Effect
Tahapan awal pemilihan model regresi terbaik adalah pengujian
signifikansi model fixed effects. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui
apakah model estimasi fixed effects lebih baik dari model regresi common
effects. Berdasarkan hasil pengujian dengan Eviews 6.0, ternyata diperoleh
nilai F-statistik sebesar 6,574046 yang lebih besar daripada nilai kritis
82



F
(o,o5, 4, 92)
= 2,470681. Dengan demikian hipotesis null ditolak, sehingga
dapat disimpulkan bahwa pada =5%, intersep untuk setiap negara adalah
berbeda yang artinya bahwa model fixed effects lebih baik dari common
effects. (lampiran 10)

b. Pengujian Signifikansi Common Effect atau Random Effect
Tahapan berikutnya adalah melakukan pengujian signifikansi
model random effects. Pengujian ini dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui apakah model random effects lebih baik dari model common
effects. Berdasarkan hasil penghitungan, diperoleh LM-statistic = 17,86
yang lebih besar daripada nilai kritis = 3,841. Dengan demikian, hipotesis
null dapat ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa pada =5%, intersep
setiap negara merupakan random/stokastik yang artinya model random
effects lebih baik dari model common effects (lampiran 11).

c. Pengujian Signifikansi Fixed Effect atau RandomEffect
Berdasarkan pengujian tahap kedua diperoleh model random
effects lebih baik dari model common effects. Merujuk pada tahap pertama
yang menyatakan bahwa model fixed effects lebih baik daripada common
effects, maka peneliti dihadapkan pada pemilihan mana yang lebih baik
antara fixed effecst dan random effects. Uji formal untuk mengetahui
apakah model random effects lebih baik dari fixed effects adalah Uji
Hausman (lampiran 12).
83



Setelah melakukan pengujian Hausman dengan Eviews 6.0, uji
Hausman akan dibandingkan dengan distribusi chi-square pada derajat
bebas 3 (df=k) dan ternyata diperoleh hasil yang invalid dikarenakan
statistik hitungannya bernilai negatif. Nilai negatif ini kemudian dijadikan
nol dengan probability chi- square menjadi 1. Jadi, karena nilai Chi-
squared stats adalah 0 dan lebih kecil dari Chi-squared tabel (7,814728)
maka hipotesis null diterima yang berarti model random effect lebih baik
digunakan dibanding model fixed effect.
Namun, dengan mempertimbangkan beberapa hal secara teoritis
maka peneliti memilih untuk tidak memakai model random effect. Hal-hal
tersebut adalah:
- Data tersebut memiliki lebih banyak T daripada N. Menurut Gujarati
(2001) berdasarkan penjelasan dari Judge et.al (1985), jika jumlah data
time series (T) besar dan jumlah data cross-section (N) kecil, maka
fixed effecst lebih baik.
- Unit di dalam sampel bukanlah acak yang ditarik dari sampel yang
besar maka jika observasi bukan merupakan sampel acak, maka
digunakan model fixed effecst.
- Dengan membandingkan nilai ukuran-ukuran statistik, seperti Adjusted
R-squared antara fixed dan random, maka fixed effecst lebih baik karena
nilainya yang lebih besar.
Sehingga model yang dipakai dalam penelitian ini adalah persamaan
regresi data panel dengan teknik fixed effects
84



2. Pemilihan Estimator dengan Struktur Varian Kovarian Residual
Setelah fixed effects terpilih, selanjutnya dilakukan identifikasi
struktur matriks varian-kovarian residual. Penyesuaian model regresi
berdasarkan matriks varians kovarians bertujuan untuk menghindari model
fixed effects yang bias bila terdapat heteroskedastisitas. Statistik uji yang
digunakan adalah statistik LM (Langrange Multiplier). Hasil penghitungan
pengujian LM menunjukkan hasil yang signifikan, diperoleh nilai LM-
statistic = 49,00675 yang lebih besar dari nilai chi-square = 9,487. Dengan
demikian hipotesis null ditolak yang berarti bahwa pada =5% model
estimasi fixed effects mengandung masalah heteroskedastisitas. Untuk
mengatasi masalah heteroskedastisitas ini dapat dilakukan dengan
memakai penimbang cross-sections weight pada fixed effect model
sehingga dapat diperoleh model terbaik sementara. (lampiran 13)
Tahapan selanjutnya adalah mengidentifikasi struktur matriks
varians kovarians residual, apakah model fixed effect di atas (yang
heteroskedasnya telah diobati) mengandung masalah autokorelasi atau
adanya cross sectional correlastion. Hasil penghitungan pengujian
diperoleh nilai sebesar 26,379 yang lebih besar dari wilayah kritis 18,307.
Hasil penghitungan ini menunjukkan bahwa hipotesis null ditolak sehingga
model fixed effect mengandung masalah autokorelasi atau terdapat cross
serial correlation. Untuk mengatasi masalah itu,model estimasi fixed effect
akan mamakai penimbang cross section SUR (Seemingly Uncorrelated
Regression) sehingga diperolehlah model terbaik. (lampiran 14)
85



3. Uji Hipotesis
a. Uji T
Uji parsial dapat dilakukan dengan memperhatikan nilai t-hitung (t-
statistik) yang kemudian dibandingkan dengan nilai t-tabel dengan derajat
bebas /2 ; nT-n-k-1. Dari model terbaik tersebut, didapatkan hasil sebagai
berikut:
Tabel IV.7
Hasil Uji T


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 5.135729 0.431822 11.89317 0.0000
ULN? -0.003786 0.001066 -3.550208 0.0006
PMA? 0.042275 0.007043 6.002108 0.0000
D1? -2.279967 0.632538 -3.604472 0.0005

Sumber: Data hasil olahan
1. Untuk variabel Utang Luar Negeri (ULN) diperoleh nilai t
hitung =
-3,550
sedangkan nilai t
tabel
=2,279. Kerena nilai |t
hitung
| > t
tabel
maka peneliti
dapat mengambil keputusan untuk menolak H
0
. Maka dapat
disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel Utang Luar
Negeri memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi pada kelima wilayah penelitian.
2. Untuk variabel Penanaman Modal Asing (PMA) diperoleh nilai
t
hitung
=6,002 sedangkan nilai t
tabel
=2,279. Karena nilai |t
hitung
| > t
tabel

maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menolak H
0
. Maka
dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel
Penanaman Modal Asing memiliki pengaruh positif yang signifikan
terhadap pertumbuhan ekonomi pada kelima wilayah penelitian.
86



3. Untuk variabel dummy (krisis) yang disimbolkan dengan D1 diperoleh
nilai t
hitung =
-3,604 sedangkan nilai t
tabel
=2,279. Kerena nilai |t
hitung
| >
t
tabel
maka peneliti dapat mengambil keputusan untuk menolak H
0
.
Maka dapat disimpulkan pada tingkat kepercayaan 95% bahwa adanya
krisis yang terjadi pada tahun 1998 dan 2008 terbukti memiliki
pengaruh yang negatif terhadap terhadap pertumbuhan ekonomi pada
kelima wilayah penelitian.

b. Uji F
Pengujian parameter secara simultan dilakukan dengan
membandingkan F
hitung
dengan nilai F
(
,
n+k-1, nT-n-k)
, Pada tabel di bawah
diperoleh nilai F
hitung
=21,277 sedangkan nilai F
(0.05
,
7, 92)
= 2,1107. Karena
niali F
hitung
> F
tabel
maka dapat diputuskan untuk menolak H
0
.

Sehingga
diperoleh kesimpulan pada tingkat kepercayaan 95% peneliti dapat
menyatakan semua variabel independen secara bersama-sama (simultan)
signifikan mempengaruhi variabel dependennya.
Dari model terbaik tersebut, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel IV.8
Hasil Uji F


R-squared 0.618157 Mean dependent var 2.719488
Adjusted R-squared 0.589103 S.D. dependent var 2.850296
S.E. of regression 1.009714 Sum squared resid 93.79608
F-statistic 21.27665 Durbin-Watson stat 1.642712
Prob(F-statistic) 0.000000

Sumber: Data hasil olahan
87



Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan tingkat
kepercayaan 95% keseluruhan variabel independen (Penanaman Modal
Asing, Hutang Luar Negeri, dan variabel dummy untuk krisis yang terjadi
pada 1998 dan 2008) secara bersama-sama terbukti signifikan
mempengaruhi angka Pertumbuhan Ekonomi pada kelima wilayah
penelitian.

c. Koefisien Determinasi (R
2
)
Dari model terbaik tersebut, didapatkan hasil sebagai berikut:
Tabel IV.9
Hasil Koefisien Determinasi


R-squared 0.618157 Mean dependent var 2.719488
Adjusted R-squared 0.589103 S.D. dependent var 2.850296
S.E. of regression 1.009714 Sum squared resid 93.79608
F-statistic 21.27665 Durbin-Watson stat 1.642712
Prob(F-statistic) 0.000000


Sumber: Data hasil olahan
Dengan memperhatikan nilai R-Square sebesar 0,5891 maka dapat
dinyakatan bahwa seluruh variabel independen mampu menjelaskan
keragaman nilai pada variabel pertumbuhan ekonomi sebesar 58,91%
sedangkan sisanya 41,09% dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang
berada di luar model penelitian. Besarnya koefisien ini dirasakan wajar
mengingat bahwa penelitian ini hanya memakai 3 variabel independen
yang salah satunya merupakan variabel dummy. Kecurigaan terhadap
adanya regresi yang spurious (regresi palsu) terbantahkan karena nilai R-
square yang lebih kecil dari statistik Durbin.

88



4. Pengujian Asumsi Klasik
Persamaan regresi data panel yang terpilih adalah model fixed
effects dengan penimbang cross section SUR. Asumsi normalitas dari
residual telah terpenuhi. Hal ini dapat dilihat dari signifikansi uji Jarque-
Bera yang menunjukkan nilai probability dari residual untuk masing-
masing wilayah selalu lebih besar dari nilai chi-square pada = 0,05. Oleh
karena itu hipotesis null tidak dapat ditolak, sehingga dapat disimpulkan
bahwa residual berdistribusi normal. (lampiran 15)
Asumsi non multikolinieritas juga telah terpenuhi. Nilai koefisien
korelasi antara variabel independen kurang dari 0,85 (menurut Nash dan
Bradford, 2001). Nilai variance inflation factor (VIF) seluruh variabel
independen lebih kecil dari 10. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa
tidak terjadi hubungan linier (non multikolinieritas) di antara variabel
independen. (lampiran 16)
Asumsi non-autokorelasi juga telah terpenuhi karena sebelumnya
sudah diatasi dengan penimbang cross section SUR. Maka dapat
disimpulkan bahwa sudah tidak terjadi gangguan autokorelasi pada
residual model.
Masalah heteroskedastisitas tidak perlu diuji lagi karena estimator
sudah kebal dengan heteroskedastisitas karena sebelumnya masalah
heteroskedastisitas ini sudah diatasi dengan memakai penimbang cross-
sections weight pada fixed effect model. Maka dapat disimpulkan bahwa
model estimasi fixed effects sudah bersifat homoskedastik.
89



C. Interpretasi Hasil Penelitian
Setelah semua tahap pemilihan untuk menentukan model estimasi
terbaik untuk pertumbuhan ekonomi, akhirnya diperoleh model fixed effects
dengan cross-section SUR sebagai model estimasi terbaik.

1. Variabel Pertumbuhan Ekonomi (%)
Merujuk pada hasil regresi data panel terbaik yang dihasilkan (fixed
effects), diperoleh nilai koefisien untuk masing-masing cross sections
(lampiran 17). Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa wilayah dengan rata-
rata pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah wilayah Developing Asia
kemudian disusul oleh wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara. Wilayah
Afrika Sub Sahara tertinggi ke tiga sedangkan Amerika Latin dan Karibian
tertinggi ke empat. Terakhir adalah wilayah Eropa Tengah dan Timur yang
merupakan wilayah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi terendah.

2. Variabel Utang Luar Negeri (Milyar US $)
Merujuk pada hasil regresi data panel terbaik yang dihasilkan (fixed
effects), diperoleh secara statistik bahwa utang luar negeri berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil penelitian ini diperoleh
tanda yang negatif pada variabel utang luar negeri.
Pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel Utang Luar Negeri
memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
pada kelima wilayah penelitian. Koefisien Utang Luar Negeri sebesar
90



-0,003786 memiliki makna jika terjadi kenaikan pada ULN sebesar 1 milyar
($) akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun sebesar 0,003786 %.
Berarti hasil estimasi ini tidak sesuai dengan hipotesisnya yang
menyatakan positif dan signifikan. Sebenarnya walaupun negatif, nilai
koefisien tersebut kecil dan bahkan jauh dari angka negatif satu. Sehingga
adanya utang luar negeri hanya menurunkan 0,0038% pertumbuhan
ekonominya. Bagaimanapun juga, nilai koefisien yang negatif tersebut
menunjukkan suatu ketidaksesuaian antara teori yang ada dan kenyataan
sebenarnya. Hal ini disebabkan di sebagian besar negara Dunia Ketiga jumlah
utang luar negeri yang didapatkan belum dipergunakan secara maksimal.
Utang masih merupakan sumber utama pembiayaan anggaran negara untuk
menutup defisit maupun untuk pembayaran kembali pokok utang yang telah
jatuh tempo (refinancing). Jadi, utang luar negeri yang lama dibayar dengan
utang luar negeri yang baru.
Pada awal tahun 1990-an yaitu tahun 1991 dan 1992 besarnya
pertumbuhan ekonomi di kawasan Amerika Latin dan Karibian adalah 3,8%
dan menurun menjadi 3,3% sedangkan utang luar negerinya adalah 469,965
milyar US $ dan meningkat menjadi 488,828 milyar US $. Kemudian ditahun
2008 dan 2009 pertumbuhan ekonomi untuk wilayah yang sama mengalami
penurunan yaitu sebesar 4,2% dan -1,7% sedangkan utang luar negerinya
meningkat dari 856,705 milyar US $ menjadi 876,387 milyar US $.
Kemudian di awal tahun 2000-an yaitu tahun 2000 dan 2001,
pertumbuhan ekonomi di kawasan Eropa Tengah mengalami kemunduran
91



dari 5% menjadi 0,2% padahal utang luar negerinya mengalami peningkatan
dari 276,86 milyar US $ menjadi 282,408 milyar US $
Dalam beberapa kasus seperti contoh di atas, peningkatan utang luar
negeri justru menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara menjadi negatif.
Jadi kenaikan utang luar negeri tersebut tidak dibarengi dengan adanya
peningkatan pertumbuhan ekonomi. Salah satu penyebab lainnya adalah
beban atau biaya yang muncul dari dana pinjaman tersebut telah jauh
melebihi keuntungan atau manfaatnya. Apabila utang terus meningkat atau
suku bunganya meningkat, maka pembayaran cicilan utang juga akan
meningkat. Makin besar negara miskin membayar cicilan dan bunga utang,
justru makin besar utang baru diperlukan (the more debtors pay, the more
they owe). Negara pengutang terjebak dalam kondisi "gali lubang tutup
lubang". Jika hal ini terus berlanjut dan negara tersebut kesulitan untuk
membayar angsuran utangnya, maka dapat berdampak buruk pada
pertumbuhan ekonomi. Beban utang tersebut akan ditanggung oleh generasi
yang akan datang untuk itu pinjaman tersebut seharusnya tertanam pada
kegiatan-kegiatan yang mendorong pendapatan sehingga utang luar negeri
yang diberikan tersebut mampu mempercepat proses pembangunan dan
pertumbuhan ekonomi yang nantinya akan menghasilkan tambahan tabungan
dalam negeri sebagai akibat dari tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Secara bertahap, akhirnya utang luar negeri berkurang dan lenyap. Sumber
daya lokal telah mencukupi untuk menggerakkan proses pembangunan yang
sesuai dengan kemampuan sendiri (self sustaining).
92



3. Variabel Penanaman Modal Asing (Milyar US $)
Merujuk pada hasil regresi data panel terbaik yang dihasilkan (fixed
effects), diperoleh secara statistik bahwa penanaman modal asing berpengaruh
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil penelitian ini diperoleh
tanda yang positif pada variabel penanaman modal asing.
Pada tingkat kepercayaan 95% bahwa variabel Penanaman Modal
Asing memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap Pertumbuhan
ekonomi pada kelima wilayah penelitian. Koefisien PMA sebesar 0,042275
memiliki makna jika terjadi kenaikan pada PMA sebesar 1 milyar ($) akan
menyebabkan pertumbuhan ekonomi meningkat 0,042275%. Hal ini sesuai
dengan hipotesis yang menyatakan hubungan penanaman modal asing dan
pertumbuhan ekonomi adalah positif dan signifikan.

4. Variabel Dummy (Krisis Ekonomi 1998 dan 2008)
Peneliti memasukkan krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008 sebagai
variabel dummy (X
3
). Merujuk pada hasil regresi data panel terbaik yang
dihasilkan (fixed effects), diperoleh secara statistik bahwa krisis ekonomi
berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari hasil penelitian
ini diperoleh tanda yang positif pada variabel dummy.
Pada tingkat kepercayaan 95% bahwa adanya krisis yang terjadi
pada tahun 1998 dan 2008 terbukti memiliki pengaruh yang negatif terhadap
terhadap pertumbuhan ekonomi pada kelima wilayah penelitian. Koefisien
variabel dummy pada tahun-tahun terjadinya krisis adalah -2,279967. Hal ini
93



berarti pada saat terjadinya krisis nilai pertumbuhan ekonomi cenderung akan
lebih rendah 2,279967% dibandingkan jika tidak terjadi krisis.

D. Keterbatasan Penelitian
Meskipun penelitian ini telah berhasil menguji hipotesis yang diajukan,
tetapi belum sepenuhnya pada tingkat kebenaran mutlak, sehingga tidak
menutup kemungkinan untuk dilakukan penelitian lanjutan. Hal tersebut
disebabkan adanya beberapa keterbatasan dalam penelitian, antara lain:
1. Permasalahan pertumbuhan ekonomi yang begitu kompleks yang tidak
hanya dipengaruhi oleh utang luar negeri dan penanaman modal asing,
tetapi juga dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan faktor non ekonomi
lainnya. Selain itu pengukuran pertumbuhan ekonomi juga tidak hanya
dilihat dari pertumbuhan GDP tetapi juga bisa dilihat dari pertumbuhan
GDP per kapitanya.
2. Keterbatasan dalam perolehan data untuk wilayah Commonwealth of
Independent States pada tahun-tahun awal penelitian sehingga wilayah
tersebut tidak dijadikan objek penelitian. Selain itu juga penelitian hanya
sampai tahun 2010 karena untuk data tahun terbaru yaitu tahun 2011 belum
dipublikasikan secara final oleh lembaga-lembaga keuangan internasional.




94



BAB VI
KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan dari bab
sebelumnya, penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh variabel
Utang Luar Negeri dan Penanaman Modal Asing terhadap Pertumbuhan
Ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga pada tahun 1991-2010, dari hasil
analisis data yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Wilayah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi tertinggi adalah wilayah
Developing Asia sedangkan wilayah Eropa Tengah dan Timur
merupakan wilayah dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi terendah.
2. Utang Luar Negeri dan Penanaman Modal Asing (PMA) berpengaruh
signifikan secara bersama-sama terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
negara-negara Dunia Ketiga pada tahun 1991-2010.
3. Utang Luar Negeri (X
1
) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di negara-negara negara-negara Dunia Ketiga pada
tahun 1991-2010.
4. Penanaman Modal Asing (X
2
) berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di negara-negara Dunia Ketiga pada tahun 1991-
2010.
95



5. Peneliti memasukkan krisis ekonomi tahun 1998 dan 2008 sebagai
variabel dummy (X
3
) dan diperoleh secara statistik bahwa krisis ekonomi
berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.
6. Pengujian pelanggaran asumsi klasik yang dilakukan dalam persamaan
tersebut tidak terdapat multikolinearitas dan asumsi normalitas terpenuhi
sedangkan heteroskedastisitas maupun autokorelasi sudah diatasi dengan
memakai penimbang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel-variabel
yang digunakan terbebas dari pelanggaran asumsi klasik.

B. Implikasi
Berdasarkan uraian dari hasil penelitian dan pembahasan dari bab
sebelumnya, implikasi dari penelitian ini adalah:
1. Dalam menciptakan kekuatan yang dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi masalah yang dihadapi adalah ketidakefisienan utang luar negeri
di negara-negara Dunia Ketiga. Penggunaan pinjaman tersebut seharusnya
tertanam pada kegiatan-kegiatan yang mendorong pendapatan dan
peningkatan produktivitas sehingga utang luar negeri yang diberikan
tersebut mampu mempercepat proses pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi
2. Total dana investasi asing sebagian besar mengalir ke negara-negara Asia
karena modal swasta akan selalu tertuju ke negara-negara atau kawasan
yang menjanjikan tingkat pengembalian investasi dan kadar kepastian
paling tinggi sehingga harus diciptakan situasi yang kondusif agar fungsi
96



penanaman modal asing ini dapat diperlukan secara optimal dengan
mengacu pada fungsi investasi sebagai salah satu penyokong dana dari
pertumbuhan ekonomi

C. Saran
1. Diperlukan suatu pengelolaan atau manajemen utang luar negeri yang baik
seperti melakukan kegiatan pengawasan, mengevaluasi penggunaan
pinjaman luar negeri, pengelolaan dana pinjaman yang transparan dan
sebagainya sehingga dana pinjaman yang ada dapat digunakan dengan
sebaik mungkin dan dapat terasa langsung manfaatnya oleh masyarakat.
2. Pinjaman tersebut digunakan seperti untuk pembiayaan program padat
karya, pembangunan infrastruktur, dan pembiayaan sektor sosial terutama
untuk pendidikan dan kesehatan atau pada kegiatan-kegiatan yang
merangsang devisa.
3. Menciptakan iklim investasi yang kondusif sehingga mampu menarik
investor asing untuk berinvestasi.






97



DAFTAR PUSTAKA

Anoraga, Pandji. Perusahaan Multinasional dan Penanaman Modal Asing.
Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya, 1995.


Arsyad, Lincolin. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: STIE- YKPN, 1997.


Boediono. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE UGM, 1999.


Djamin, Zulkarnain. Masalah Utang Luar Negeri Bagi Negara-negara
Berkembang dan Bagaimana Indonesia Mengatasinya. Jakarta: Lembaga
Penerbit FE UI, 1996.


Faisal, Basri. Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga, 2002.


Gujarati, Damodar. Ekonometrika Dasar. Terjemahan Sumarno Zain. Jakarta :
Erlangga, 1995.


______________. Basic Econometric: fourth edition. Singapore: McGraw-Hill
International Inc., 2003.


Greene, William H. Econometric Analysis Fifth Edition. New Jersey: Pearson
Education Inc., 2003.


Nachrowi, Nachrowi D. dan Hardius Usman. Pendekatan Populer dan Praktis
Ekonometrika Untuk Analisis Ekonomi dan Keuangan. Jakarta: LPFE
Universitas Indonesia, 2006.


Rahardja, Pratama dan Mandala Manurung. Pengantar Ilmu Ekonomi: Mikro
Ekonomi dan Makro Ekonomi. Jakarta: FE UI, 2004.


______________. Teori Ekonomi Makro; Suatu Pengantar. Edisi Keempat.
Jakarta: LPFE UI, 2008.

98




Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. Makro Ekonomi. Edisi
Keempatbelas. Jakarta: Erlangga, 1992.


Sukirno, Sadono. Makroekonomi Modern. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
2005.


Sutawijaya, Adrian. Analisis yang Memengaruhi Investasi Swasta, Jurnal
Ekonomi (Kajian Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi), No.1 / Th. XIV
/ 28 / Januari-Maret 2005.


Sugiyono. Metode Penelitian Bisnis. Jakarta: Alfabeta, 2004.


Todaro, Michael P. dan Stephen C. Smith. Pembangunan Ekonomi. Edisi
Kesembilan. Jilid 1. Terjemahan Haris Munandar dan Puji A.L. Jakarta:
Erlangga, 2006.


______________. Pembangunan Ekonomi. Edisi Kesembilan. Jilid 2. Jakarta:
Erlangga, 2006.


Wijaya, Faried. Ekonomika Makro. Yogyakarta: BPFE, 1990.



Atmadja, Adwin Surya. Utang Luar Negeri Pemerintah Indonesia:
Perkembangan dan Dampaknya, Jurnal Akuntansi & Keuangan. Mei
2000, Vol. 2, No. 1, hal. 83-94.


Chowdhury, Khorshed dan Amnon Levy. Hutang Eksternal dan Implikasinya
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi, Jurnal Ekonomi Pembangunan:
Kajian Ekonomi Negara Berkembang. 1997, Vol 2, No 3, hal. 337-361.
Listiani, Nurlia. Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi di
Indonesia, Widyariset. 2006, Vol 9, hal. 283-292.


Suryawati. Peranan Investasi Asing Langsung Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Di Negara-Negara Asia Timur. Jurnal Ekonomi Pembangunan, Kajian
Ekonomi Negara Berkembang. 2000, Vol. 5, No. 2, p. 101-113.

99




Uphadi, A.D. Depresiasi Rupiah, Hutang Luar Negeri dan Beban APBN.
Jurnal Ekonomi Pembangunan: Kajian Ekonomi Berkembang. 1997,
Vol. 2 No. 3, p. 227.



Azef, boy. Analisis Total Pengeluaran Wisatawan Mancanegara Berdasarkan
Negara Tempat Tinggal Serta Variabel-Variabel Yang Memengaruhinya.
Skripsi. Jakarta: STIS, 2011.


Hasbullah, Fahmi. Analisis Pengaruh Ekspor Sektor Industri Dan Penanaman
Modal Asing Sektor Industri Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
Skripsi. Medan: Departemen Ekonomi Pembangunan USU, 2009.


Jawas, Musleh. Pengaruh Penanaman Modal Asing dan Ekspor Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Negara Muslim 2004-2005. Skripsi.
Yogyakarta: Universitas Islam Indonesia, 2008.


Ramadhan, Fahril. Pengaruh Utang Luar Negeri, Penanaman Modal Asing, Dan
Inflasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Skripsi. Jakarta:
Universitas Gunadarma, 2010.


Sihombing, Desmawati. Analisis Pengaruh Utang Luar Negeri Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Skripsi. Medan: Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara, 2010.


Soeparno, Wahyu Sugeng Imam. Analisis Indikator Makro Ekonomi Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Di Sumatera Utara. Tesis.
Medan: Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, 2011.


Waluyo, Kuwat. Pengaruh Utang Luar Negeri terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Indonesia periode 1999-2004. Tesis. Jakarta: Program Magister
Perencanaan dan Kebijakan Publik FE UI, 2006.



www.worldbank.org/ (diakses tanggal 31 Maret 2012)

www.imf.org/ (diakses tanggal 31 Maret 2012)
100



Lampiran 1. Pertumbuhan Ekonomi Negara Dunia Ketiga
Tabel IV.1
Pertumbuhan Ekonomi di Negara Dunia Ketiga

Central
and
eastern
Europe
Developing
Asia
Latin America
and the
Caribbean
Middle
East and
North
Africa
Sub-
Saharan
Africa
Emerging
and
developing
economies
1991 -5.802 6.059 3.846 6.915 -0.071 3.834
1992 0.773 8.848 3.337 4.939 -1.249 2.249
1993 3.392 8.953 4.083 1.901 1.329 3.266
1994 0.301 9.326 5.01 2.553 1.844 3.379
1995 5.989 8.893 1.281 2.072 3.489 4.019
1996 5.067 8.433 3.545 5.091 5.598 5.14
1997 4.777 6.274 5.419 3.843 3.808 5.036
1998 3.08 3.595 2.329 3.995 2.381 2.548
1999 0.315 6.361 0.369 1.956 2.651 3.555
2000 5.215 6.95 4.003 4.968 3.568 5.896
2001 0.231 5.767 0.448 2.906 4.92 3.72
2002 4.3 6.835 0.341 3.575 7.219 4.678
2003 4.799 8.127 2.074 7.264 4.873 6.243
2004 7.283 8.527 6.008 5.916 7.064 7.482
2005 5.847 9.482 4.649 5.421 6.183 7.278
2006 6.432 10.331 5.619 6.02 6.445 8.239
2007 5.474 11.457 5.778 6.661 7.103 8.871
2008 3.144 7.736 4.28 4.629 5.585 6.03
2009 -3.642 7.174 -1.747 2.626 2.784 2.795
2010 4.502 9.46 6.083 4.408 5.404 7.327
Gross domestic product, constant prices


Percent change
Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011






101



Lampiran 2. Utang Luar Negeri Negara Dunia Ketiga
Tabel IV.2
Total Utang Luar Negeri

Central
and
eastern
Europe
Developing
Asia
Latin
America and
the
Caribbean
Middle
East and
North
Africa
Sub-
Saharan
Africa
Emerging
and
developing
economies
1991 135.816 363.594 469.965 183.083 181.032 1,333.73
1992 148.395 399.026 488.828 190.943 177.787 1,512.66
1993 165.741 457.979 527.022 218.925 184.665 1,672.53
1994 161.187 513.061 564.607 233.554 195.657 1,808.53
1995 181.938 572.385 621.596 237.731 207.52 1,967.71
1996 184.557 608.091 651.152 245.26 212.378 2,064.44
1997 193.212 659.57 687.852 240.195 209.881 2,179.79
1998 233.425 692.607 773.469 263.658 205.464 2,379.65
1999 254.337 691.944 795.731 266.584 206.666 2,422.24
2000 276.86 652.324 762.885 260.728 208.902 2,371.90
2001 282.408 693.351 774.107 254.932 202.549 2,408.33
2002 324.318 698.078 763.137 261.278 203.929 2,462.92
2003 402.685 728.065 792.398 280.207 221.739 2,678.38
2004 483.837 803.993 802.922 306.741 236.982 2,932.73
2005 528.788 852.501 743.901 414.873 214.335 3,115.83
2006 688.562 934.586 743.136 487.654 183.907 3,503.59
2007 923.969 1,055.67 833.608 651.007 203.458 4,348.00
2008 1,024.19 1,118.18 856.705 689.182 212.913 4,630.72
2009 1,118.41 1,221.00 876.387 718.866 224.029 4,893.80
2010 1,142.61 1,457.97 1,022.53 762.997 239.665 5,414.61


External debt, total


U.S. dollars


Billions
Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011





102



Lampiran 3. Pembayaran Angusuran Utang Luar Negeri
Tabel IV.3
Debt Service Ratio
US. Dollars (Billion)

Central
and
eastern
Europe
Developing
Asia
Latin
America and
the
Caribbean
Middle
East and
North
Africa
Sub-
Saharan
Africa
Emerging and
developing
economies
1991 28.121 63.377 77.729 36.265 20.199 225.707
1992 21.172 74.954 86.858 29.852 25.884 251.411
1993 21.044 80.458 98.469 31.618 22.277 260.404
1994 24.361 92.91 149.412 44.213 25.596 342.312
1995 28.2 128.627 126.696 53.292 26.083 371.463
1996 33.268 149.873 188.582 57.785 30.108 471.499
1997 35.833 169.62 219.06 59.159 35.775 536.221
1998 39.4 182.379 225.708 50.433 29.967 565.888
1999 50.628 164.285 255.825 71.427 29.572 610.238
2000 81.916 149.016 246.586 74.739 35.707 658.473
2001 97.616 157.292 240.428 77.605 34.825 664.014
2002 96.785 247.85 248.812 76.415 33.492 769.21
2003 105.456 249.543 254.99 80.742 34.05 795.182
2004 134.316 238.013 247.225 95.309 41.367 852.528
2005 184.503 317.254 294.821 117.56 57.178 1,098.79
2006 227.327 377.211 309.209 133.887 69.579 1,290.77
2007 288.889 427.463 297.002 138.244 52.433 1,433.82
2008 394.926 517.685 309.709 185.199 59.022 1,782.79
2009 404.935 527.436 312.323 184.09 54.583 1,733.81
2010 379.866 551.733 311.323 199.093 57.243 1,743.70
External debt, total debt service


U.S. dollars


Billions
Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011





103



Lampiran 4. Rasio Utang Luar Negeri terhadap GDP
Tabel IV.4
External Debt Total
Percent of GDP

Central
and
eastern
Europe
Developing
Asia
Latin
America and
the
Caribbean
Middle
East and
North
Africa
Sub-
Saharan
Africa
Emerging
and
developing
economies
1991 37.194 31.434 37.294 35.085 60.213 36.94
1992 38.528 30.9 35.625 33.699 57.44 37.533
1993 39.261 31.285 34.131 39.926 64.103 37.335
1994 41.801 33.741 32.12 42.858 71.612 37.679
1995 36.72 31.197 34.108 39.868 63.59 36.167
1996 34.334 29.687 32.889 36.873 62.092 34.2
1997 35.28 30.689 32.062 34.998 61.414 34.325
1998 38.488 34.625 36.048 40.002 63.793 39.143
1999 44.043 31.868 41.43 37.375 63.784 40.571
2000 46.336 27.872 35.848 32.931 63.457 36.239
2001 50.243 28.223 37.466 31.937 64.307 36.398
2002 50.73 26.055 42.072 32.271 60.795 36.515
2003 51.077 23.924 41.85 30.718 51.308 35.034
2004 49.623 22.797 36.674 28.716 43.777 32.304
2005 45.421 20.931 27.962 31.295 34.191 28.709
2006 52.99 19.394 23.811 31.062 25.616 27.31
2007 56.718 17.415 22.523 34.898 24.617 27.534
2008 53.458 15.045 19.968 29.551 22.547 24.251
2009 70.134 15.427 21.944 34.834 25.067 27.04
2010 65.459 15.292 21.153 31.941 22.839 25.15
External debt, total


Percent of GDP
Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011





104



Lampiran 5. Rasio Pembayaran Angsuran ULN terhadap Ekspor
Tabel IV.5
Debt Service Ratio of Exports (%)

Central
and
eastern
Europe
Developing
Asia
Latin
America
and the
Caribbean
Middle
East and
North
Africa
Sub-
Saharan
Africa
Emerging
and
developing
economies
1991 42.059 27.609 45.453 22.409 27.821 32.142
1992 27.289 28.192 47.577 17.06 34.807 29.647
1993 27.787 27.06 49.727 18.245 30.881 28.985
1994 28.708 25.109 65.883 25.044 34.695 33.449
1995 24.63 28.221 46.45 26.301 30.05 29.788
1996 25.322 29.616 61.939 24.629 31.224 33.683
1997 24.751 29.967 65.016 24.726 36.221 35.448
1998 24.896 33.796 67.092 26.916 34.594 39.91
1999 34.529 28.378 72.193 31.292 32.134 40.479
2000 47.78 21.328 58.387 23.825 32.021 34.981
2001 53.359 22.704 59.426 26.672 33.07 36.041
2002 46.885 31.404 61.017 25.015 30.489 38.511
2003 39.896 26.059 57.342 21.283 24.304 32.991
2004 39.257 19.237 45.573 19.146 23.129 27.475
2005 46.4 20.81 45.188 16.66 25.409 28.214
2006 48.325 20.13 39.915 15.646 26.041 27.3
2007 49.181 18.638 33.997 13.742 16.641 25.304
2008 55.454 19.322 30.599 14.084 15.368 25.853
2009 71.622 22.812 39.078 19.537 18.594 31.866
2010 59.706 18.47 31.198 17.198 15.793 25.581
External debt, total debt service


Percent of exports of goods and services
Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011






105



Lampiran 6. Penanaman Modal Asing Negara Dunia Ketiga
Tabel IV.6
Direct Investment Net
US. Dollars (Billion)

Central
and
eastern
Europe
Developing
Asia
Latin America
and the
Caribbean
Middle
East and
North
Africa
Sub-
Saharan
Africa
Emerging
and
developing
economies
1991 2.389 12.189 11.499 1.521 2.319 29.917
1992 2.672 17.452 13.359 2.309 -0.722 36.082
1993 3.806 34.581 8.863 5.678 0.658 55.236
1994 2.679 44.631 23.832 5.9 1.059 79.578
1995 9.72 50.347 25.248 3.836 1.012 93.215
1996 9.578 58.563 39.794 3.706 2.552 119.008
1997 10.872 61.969 58.399 9.044 5.504 151.765
1998 12.656 58.811 62.473 11.013 4.233 154.819
1999 13.806 54.847 82.435 3.785 6.847 166.399
2000 15.816 45.921 72.694 5.452 6.096 148.303
2001 16.57 46.279 69.221 14.458 17.68 169.094
2002 12.003 60.134 51.378 9.752 10.62 149.008
2003 14.563 58.512 37.868 17.688 12.493 146.567
2004 30.615 68.334 50.852 13.135 11.654 187.789
2005 37.797 131.936 56.82 35.928 17.352 291.508
2006 64.114 131.6 32.689 44.972 8.91 303.629
2007 74.764 175.364 91.254 48.921 22.83 441.429
2008 66.427 161.786 98.039 58.053 32.144 467.023
2009 29.279 102.871 68.752 64.11 28.875 310.599
2010 21.534 159.332 73.183 43.223 19.88 324.768
Direct investment, net


U.S. dollars


Billions
Sumber: International Monetary Fund, World Economic Outlook Database, September 2011





106



Lampiran 7. Model Common Effect
Dependent Variable: PE?
Method: Pooled Least Squares
Date: 03/18/12 Time: 07:40
Sample: 1991 2010
Included observations: 20
Cross-sections included: 5
Total pool (balanced) observations: 100


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 4.357762 0.529687 8.227050 0.0000
ULN? -0.003953 0.001560 -2.534231 0.0129
PMA? 0.063839 0.013015 4.904890 0.0000
D1? -1.494011 0.873486 -1.710401 0.0904


R-squared 0.256166 Mean dependent var 4.554070
Adjusted R-squared 0.232921 S.D. dependent var 2.935279
S.E. of regression 2.570808 Akaike info criterion 4.765495
Sum squared resid 634.4690 Schwarz criterion 4.869702
Log likelihood -234.2748 Hannan-Quinn criter. 4.807670
F-statistic 11.02032 Durbin-Watson stat 1.147441
Prob(F-statistic) 0.000003


Lampiran 8. Model Fixed Effect
Dependent Variable: PE?
Method: Pooled Least Squares
Date: 03/18/12 Time: 07:55
Sample: 1991 2010
Included observations: 20
Cross-sections included: 5
Total pool (balanced) observations: 100


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 4.429613 0.594327 7.453152 0.0000
ULN? -0.002195 0.001623 -1.352281 0.1796
PMA? 0.036602 0.012985 2.818793 0.0059
D1? -1.092042 0.795945 -1.372007 0.1734
Fixed Effects (Cross)
_CEE--C -1.101148
_DA--C 2.464528
_LAC--C -1.267900
_MENA--C 0.112794
_SSA--C -0.208274


Effects Specification


Cross-section fixed (dummy variables)


R-squared 0.421513 Mean dependent var 4.554070
Adjusted R-squared 0.377498 S.D. dependent var 2.935279
S.E. of regression 2.315900 Akaike info criterion 4.594092
107



Sum squared resid 493.4322 Schwarz criterion 4.802506
Log likelihood -221.7046 Hannan-Quinn criter. 4.678441
F-statistic 9.576518 Durbin-Watson stat 1.400686
Prob(F-statistic) 0.000000



Lampiran 9. Model Random Effect
Dependent Variable: PE?
Method: Pooled EGLS (Cross-section random effects)
Date: 05/21/12 Time: 11:01
Sample: 1991 2010
Included observations: 20
Cross-sections included: 5
Total pool (balanced) observations: 100
Swamy and Arora estimator of component variances


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 4.337223 0.504043 8.604863 0.0000
ULN? -0.003613 0.001436 -2.515297 0.0136
PMA? 0.059585 0.011930 4.994389 0.0000
D1? -1.439078 0.787916 -1.826435 0.0709
Random Effects (Cross)
_CEE--C -0.164308
_DA--C 0.361312
_LAC--C -0.245192
_MENA--C 0.054221
_SSA--C -0.006032


Effects Specification
S.D. Rho


Cross-section random 0.250710 0.0116
Idiosyncratic random 2.315900 0.9884


Weighted Statistics


R-squared 0.229864 Mean dependent var 4.098962
Adjusted R-squared 0.205797 S.D. dependent var 2.833201
S.E. of regression 2.524893 Sum squared resid 612.0084
F-statistic 9.551094 Durbin-Watson stat 1.176772
Prob(F-statistic) 0.000014


Unweighted Statistics


R-squared 0.255252 Mean dependent var 4.554070
Sum squared resid 635.2479 Durbin-Watson stat 1.133722



Lampiran 10. Pengujian Signifikansi Common Effect atau Fixed Effect
Hasil pengujian dengan menggunakan Eviews 6.0 :
108



Redundant Fixed Effects Tests
Pool: RINA2
Test cross-section fixed effects


Effects Test Statistic d.f. Prob.


Cross-section F 6.574046 (4,92) 0.0001
Cross-section Chi-square 25.140293 4 0.0000


Lampiran 11. Pengujian Signifikansi Common Effect atau Random Effect
Statistik pengujian:




df (1)= 3,84146 ( = 5%)

Lampiran 12. Pengujian Signifikansi Fixed Effect atau Random Effect
Hasil pengujian dengan menggunakan Eviews 6.0 :
Correlated Random Effects - Hausman Test
Pool: RINA2
Test cross-section random effects


Test Summary
Chi-Sq.
Statistic Chi-Sq. d.f. Prob.


Cross-section random 0.000000 3 1.0000


* Cross-section test variance is invalid. Hausman statistic set to zero.


109



Lampiran 13. Pemilihan Estimator Struktur Homoskedas Atau
Heteroskedastisitas
Secara matematis, statustik uji yang digunakan dapat dirumuskan sebagai berikut :

=
(

=
n
i
i
T
LM
1
2
2
2
1

2 o
o

) 900675 , 4 (
2
20
= LM
) 900675 , 4 ( 10 = LM
00657 , 49 = LM
df (4) = 9,487729 ( = 5%)
Model Terbaik Sementara

Dependent Variable: PE?
Method: Pooled EGLS (Cross-section weights)
Date: 05/21/12 Time: 11:07
Sample: 1991 2010
Included observations: 20
Cross-sections included: 5
Total pool (balanced) observations: 100
Linear estimation after one-step weighting matrix


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 4.904808 0.545604 8.989686 0.0000
ULN? -0.003255 0.001560 -2.085967 0.0397
PMA? 0.039676 0.010299 3.852415 0.0002
D1? -1.676318 0.651277 -2.573896 0.0117
Fixed Effects (Cross)
_CEEC -1.118353
_DAC 2.615357
_LAC--C -1.072098
_MENA--C 0.013808
_SSA--C -0.438714


Effects Specification


Cross-section fixed (dummy variables)


Weighted Statistics


R-squared 0.590508 Mean dependent var 5.823998
Adjusted R-squared 0.559351 S.D. dependent var 4.836096
S.E. of regression 2.294673 Sum squared resid 484.4281
F-statistic 18.95269 Durbin-Watson stat 1.407438
Prob(F-statistic) 0.000000
110





Unweighted Statistics


R-squared 0.413540 Mean dependent var 4.554070
Sum squared resid 500.2334 Durbin-Watson stat 1.446827



Lampiran 14. Pemilihan Estimator Struktur Heteroskedastisitas Dan Ada
Cross-Sectional Correlation
Secara matematis, statistik uji yang digunakan dapat dirumuskan sebagai berikut




df (10) = 18,30704 ( = 5%)
Model Terbaik Terakhir
Dependent Variable: PE?
Method: Pooled EGLS (Cross-section SUR)
Date: 03/18/12 Time: 08:29
Sample: 1991 2010
Included observations: 20
Cross-sections included: 5
Total pool (balanced) observations: 100
Linear estimation after one-step weighting matrix


Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.


C 5.135729 0.431822 11.89317 0.0000
ULN? -0.003786 0.001066 -3.550208 0.0006
PMA? 0.042275 0.007043 6.002108 0.0000
D1? -2.279967 0.632538 -3.604472 0.0005
Fixed Effects (Cross)
_CEE--C -1.112473
_DA--C 2.648183
_LAC--C -0.989934
_MENA--C -0.018711
_SSA--C -0.527065


Effects Specification


Cross-section fixed (dummy variables)


Weighted Statistics


111



R-squared 0.618157 Mean dependent var 2.719488
Adjusted R-squared 0.589103 S.D. dependent var 2.850296
S.E. of regression 1.009714 Sum squared resid 93.79608
F-statistic 21.27665 Durbin-Watson stat 1.642712
Prob(F-statistic) 0.000000


Unweighted Statistics


R-squared 0.397642 Mean dependent var 4.554070
Sum squared resid 513.7940 Durbin-Watson stat 1.501387



Lampiran 15. Normalitas
RESID_CEE RESID_DA RESID_LAC RESID_MENA RESID_SSA
Mean -2.66E-16 -1.11E-17 -8.88E-17 -2.78E-18 2.22E-17
Median 1.454340 -0.024988 0.833678 0.401425 0.453138
Maximum 3.893819 1.836844 2.904469 2.459963 2.933362
Minimum -9.412109 -1.773279 -5.481673 -2.627299 -5.154114
Std. Dev. 3.384459 1.086239 2.426880 1.759226 2.328666
Skewness -1.227278 0.027850 -0.903555 -0.198748 -0.620065
Kurtosis 3.945469 1.914312 2.761313 1.632489 2.522860

Jarque-Bera 5.765629 0.984850 2.768850 1.690075 1.471320
Probability 0.055977 0.611143 0.250468 0.429541 0.479189

Sum -3.55E-15 -1.11E-15 -8.88E-16 -1.17E-15 2.22E-16
Sum Sq. Dev. 217.6367 22.41840 111.9052 58.80268 103.0310

Observations 20 20 20 20 20

Lampiran 16. Multikolinearitas
1. Korelasi Antara Variabel Independen
ULN PMA DUMMY
ULN 1.000000 0.842359 0.182039
PMA 0.842359 1.000000 0.117606
DUMMY 0.182039 0.117606 1.000000

2. Variance Inflation Factor (VIF)



Coefficients
a

Model
Collinearity Statistics
Tolerance VIF
1 PMA .283 3.528
ULN .289 3.459
D1 .962 1.039
a. Dependent Variable: PE
112



Lampiran 17. Representations
Estimation Command:
=====================
LS(CX=F,WGT=CXSUR) PE? C ULN? PMA? D1?

Estimation Equations:
=====================
PE_CEE = C(5) + C(1) + C(2)*ULN_CEE + C(3)*PMA_CEE + C(4)*D1_CEE

PE_DA = C(6) + C(1) + C(2)*ULN_DA + C(3)*PMA_DA + C(4)*D1_DA

PE_LAC = C(7) + C(1) + C(2)*ULN_LAC + C(3)*PMA_LAC + C(4)*D1_LAC

PE_MENA = C(8) + C(1) + C(2)*ULN_MENA + C(3)*PMA_MENA + C(4)*D1_MENA

PE_SSA = C(9) + C(1) + C(2)*ULN_SSA + C(3)*PMA_SSA + C(4)*D1_SSA


Substituted Coefficients:
=====================
PE_CEE = -1.11247312414 + 5.13572925288 - 0.00378558148941*ULN_CEE +
0.0422753002503*PMA_CEE - 2.27996656486*D1_CEE

PE_DA = 2.64818345673 + 5.13572925288 - 0.00378558148941*ULN_DA +
0.0422753002503*PMA_DA - 2.27996656486*D1_DA

PE_LAC = -0.989933658381 + 5.13572925288 - 0.00378558148941*ULN_LAC +
0.0422753002503*PMA_LAC - 2.27996656486*D1_LAC

PE_MENA = -0.018711454819 + 5.13572925288 - 0.00378558148941*ULN_MENA +
0.0422753002503*PMA_MENA - 2.27996656486*D1_MENA

PE_SSA = -0.527065219388 + 5.13572925288 - 0.00378558148941*ULN_SSA +
0.0422753002503*PMA_SSA - 2.27996656486*D1_SSA