Nama NIM

: Prayoga W. da Costa : 105020107111026

Mata Kuliah : Metodiologi Penelitian Kelas : AE

BAB I PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Kota Malang adalah sebuah kota terbesar kedua setelah Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur. Malang terkenal dengan kota wisata dan kota pendidikan karena terdapat banyak kampus – kampus dan tempat wisata yang menunjang baik dari segi alam maupun yang sengaja dibuat oleh pihak swasta di daerah ini, menjadi nilai tambah ekonomi bagi daerah malang sendiri yang dapat memanfaatkan peluang bagi usaha sector UMKM untuk berkembang lebih pesat dikarenakan dengan jumlah penduduk kota Malang yang sampai 860 juta jiwa seharusnya para pelaku UMKM dapat melihat peluang – peluang yang tercipta dari julukan kota Malang itu sendiri. Dalam hal ini UMKM atau industry kecil menengah melihat dari potensi kota Malang yang sangat berpotensi untuk berkembang dalam UMKM – nya dan dapat mendorong UMKM untuk berkontribusi terhadapa PDB kota Malang. Pihak yang dapat membantu UMKM agar berkembang dan berkontribusi terhadap PDB suatu daerah adalah pihak perbankan selaku penunjang terciptanya pertumbuhan UMKM, menjadi penentu posisi industry kecil menengah atau UMKM dalam kontribusinya terhadap PDB suatu daerah, dan kontribusinya terhadapat pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Dengan demikian peran perbankan sebagai intermediasi antara bank dan pelaku usaha industry kecil menengah sangatlah penting karena sebagai penyalur dana dari masyarakat yang kelebihan dana maupun yang kekurangan dana. Khusunya Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam mengembangkan usahanya selain perlu dana juga membutuhkan adanya bimbingan dalam pengelolaan manajemen agar UMKM bisa berkembang dan mampu utnuk memenuhi kewajiaban bagi UMKM yang punya pinjaman ke Bank.

Hal yang menarik untuk dibahas adalah peran intermediasi bank terhadap perkembangan UMKM di kota Malang, yang menurut data dari bisnis jatim menyebutkan pada tahun 2013 penyaluran dana UMKM untuk kota Malang sebesar 300 miliar rupiah dengan berbagai sector usaha UMKM yang akan disalurkan dananya. Namun realitanya para pelaku usaha saja untuk mendapatkan kredit bank bukan merupakan hal yang

89% yang terhitung sangat tinggi dengan acuan dari Bank Indonesia (BI) melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) menetapkan bahwa rasio kredit bermasalah (NPL) adalah sebesar 5%. Dari uraian diatas lah yang mendasari peneliti melakukan penelitian dengan judul “ Peran Intermediasi Bank Terhadap Perkembangan UMKM Studi di ( Kota Malang ) “.sistem intermediasi bank yang kurang kooperatif. Sistem yang cocok untuk industry kecil menengah saat ini lebih baik seperti apa? . dan suku bunga pengembalian yang tinggi oleh para pelaku industry kecil menengah yang menyebabkan kurang aktifnya industry kecil menengah di kota malang. Judul tersebut sengaja dipilih karena banyak terdapat fakta atau kejadian yang berhubungan dengan pola tindakan intermediasi antara bank dan pelaku UMKM yang belum padu antara pihak bank dan pihak UMKM. 1. Selain itu juga ada yang belum mengetahui bagaiamana mendapakan pinjaman. ini menambah adanya hubungan yang tidak baik antara keduanya. Selain itu juga ada perbedaan pandangan antara usaha skala kecil dan pihak Bank. 1. Pentingnya dana bagi kegitan usaha untuk UMKM maka perlu adanya kerjsama yang baik antara pihak Bank sebagai lembaga pemberi krdit dengan UMKM. hal ini dapat dilihat dari Non performing loan (NPL)-nya 3.2 Rumusan Masalah Dengan adanya fenomena yang terjadi antara sistem intermediasi bank dengan pelaku industry kecil menengah yang sangat rumit dikarenakan banyaknya pihak yang kurang paham dari sistem pembiayaan untuk industry kecil menengah. Memang dari realita yang ada sector perbankan kurang berperan aktif terhadap intermediasi antara bank dan pelaku UMKM di karenakan prospek yang kurang menguntung bagi pihak perbankan. hal itu disebabkan faktor persyaratan yang harus dipenuhi untuk mendapatkan kredit. Mengapa pelaku industry kecil menengah kurang meminati pembiayaan yang diberikan pemerintah melalui bank – bank umum? 2.mudah bagi pengusaha kecil. Hal itu disebabkan karena akses informasi khususnya usaha kecil sangat rendah. Kerjasama ini perlu dilakukan agar permasalahan di antara kedua belah pihak tersebut bisa diatasi dan saling menguntungkan. Pelaku industry kecil menengah seharusnya juga lebih bisa ikut berkerja sama dengan perbankan karena kebanyakan masalah yang terjadi anatar bank dan pelaku usaha industry kecil menengah adalah syarat – syarat yang diajukan oleh bank selaku pemberi kredit atau pinjaman tidak dapat dipenuhi oleh pelaku industry kecil menengah yang membuat pelaku indusrti kecil menengah beralih ke bank makro lainnya yang memiliki persyarat yang lebih mudah dan pencairan dana yang lebih cepat.

Adapun manfaat yang akan diperoleh dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 1.1 Secara akademis Satu referensi atau tambahan informasi bagi penelitian yang sejenis. Mengetahui peran intermediasi sector perbankan terhadap perkembangan UMKM di Kota Malang 2. penelitian ini bertujuan untuk : 1.4.2 Secara praktis Bagi pembaca adalah sebagai bahan informasi dan penjelasan tentang fenomena antara bank dengan pelaku UMKM sebagai pelaku intermediasi untuk mendapatkan dana dari sector perbankan.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan ruang lingkup permasalahan yang dirumuskan diatas. . untuk kemudian dikembangkan menjadi suatu acuan lengkap yang sangat bermanfaat bagi terciptanya kegiatan ekonomi yang lebih baik antara bank dan pelaku UMKM.1.4.4 Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan tersebut. Memperjelas sistem intermediasi anatara bank dan pelaku UMKM agar saling menguntungkan satu dengan lainnya 1. 1. penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. baik bagi peneliti maupun masyarakat luas yang membaca hasil penelitian ini.

pemerintah maupun rumah tangga. (4) role as information producer. biaya likuiditas dan risiko harga (price risk) karena adanya informasi asymmetric antara pemilik dana (household/net savers) dengan perusahaan pengguna dana (corporations/ netborrowers) sehingga dibutuhkan pihak perantara (intermediary) yang mampu mengakomodir kebutuhan kedua belah pihak (Saunders. Saunders (2008) mengemukakan bahwa fungsi dan peranan intermediasi keuangan yaitu: (1) function as broker. antara lain:     Menciptakan stabilitas makro ekonomi (Inflasi. BI juga berperan dalam mendorong intermediasi perbankan. Bantuan yang diberikan oleh BI antara lain pelatihan kepada bank. MoU Legalisasi Aset Masyarakat. Suku Bunga) Sistem Informasi Debitur (SID) Ketentuan relaksasi perbankan untuk UMKM Mengembangkan potensi daerah (Pembentukan TFPPED. dsb)      Mendorong Linkage program BU dengan BPR Memfasilitasi Pembentukan Perusahaan Penjaminan Kredit Daerah (PPKD) Mendorong Pengembangan Bank Syariah dan BPR Penyediaan Data dan Informasi (DIBI) Bazar Intermediasi . Program Ketahanan Pangan. Program Klaster. 2008). kegitan penelitian. Teori Intermediasi. Penelitian KPJu Unggulan.1 Kebijakan Bank Indonesia tentang UMKM . BI tidak lagi memberikan kredit program .BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. untuk disalurkan kepada unit ekonomi yang defisit. dan Sistem Informasi Terpadu Pengembangan Usaha Kecil atau SIPUK). kebijakan kredit perbankan. pengembangan kelembagaan dan bantuan teknis. Penelitian Lending Model. Lebih lanjut. dan diamandemen lagi menjadi UU Nomor 6 Tahun 2009. BI berperan dalam kebijakan seperti. penyediaan sistem informasi (Sistem Informasi debitur atau SID. Nilai Tukar. dan Konsep pembiayaan UMKM Intermediasi keuangan adalah proses pembelian surplus dana dari sektor usaha. Fungsi intermediasi keuangan muncul sebagai akibat dari mahalnya biaya monitoring. (3) roleas delegated monitor. pelatihan kepada Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB). (2) function as asset transformers. Kebijakan mendorong industry kecil menengah dengan kebijakan setelah amandemen UU Nomor 13 Tahun 1968 menjadi UU Nomor 23 Tahun 1999.

Pencapaian target kredit/pembiayaan kepada UMKM di atas dapat dipenuhi oleh bank umum baik dengan pemberian kredit/pembiayaan secara langsung dan/atau secara tidak langsung kepada UMKM melalui kerjasama pola executing. Peraturan Bank Indonesia No. dan Menengah juga ikut mendukung dalam kemajuaan industry kecil menengah untuk mendapatkan kredit atau pembiayaan industry kecil menengah.14/22/PBI/2012 tanggal 21 Desember 2012 tentang Pemberian Kredit Atau Pembiayaan dan Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro. BPR/BPRS. bank umum wajib berpedoman pada ketentuan Bank Indonesia yang mengatur mengenai rencana bisnis bank. dalam hal ini untuk menyalurkan pembiayaan kredit khususnya kepada pelaku UMKM.Selanjutnya peran perbankan dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan UMKM adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui fungsi intermediasi perbankan. Bantuan teknis yang disediakan oleh Bank Indonesia di atas antara lain untuk meningkatkan kompetensi bagi SDM perbankan dalam melakukan pembiayaan kepada UMKM dan dalam rangka meningkatkan capacity building UMKM agar mampu memenuhi persyaratan dari perbankan. Perluasan bentuk dan penerima bantuan teknis. Pembiayaan diberikan kepada calon debitur yang memenuhi persyaratan serta berdasarkan skim yang dimiliki oleh masing-masing Bank yang sesuai dengan kebutuhan UMKM. Pokok-pokok pengaturan dalam PBI meliputi: a. d. Sementara penerima bantuan teknis adalah Bank Umum. penyediaan informasi dan fasilitasi. c. pola channeling dan pembiayaan bersama. Kegiatan bantuan teknis dilaksanakan dalam bentuk penelitian. Kewajiban bank umum untuk menyalurkan dananya dalam bentuk kredit/ pembiayaan kepada UMKM dengan pangsa sebesar minimal 20% secara bertahap yang diikuti dengan penerapan insentif/disinsentif. Lembaga pembiayaan UMKM. b. Dalam memberikan Kredit atau Pembiayaan UMKM. e. transparansi informasi produk bank dan penggunaan data pribadi nasabah. Kecil. . pelatihan. sistem informasi debitur. laporan keuangan publikasi triwulanan dan bulanan bank umum serta laporan tertentu. laporan bulanan bank umum. kredit usaha kecil dan kredit usaha menengah diharmonisasikan dengan kriteria usaha sebagaimana yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro. Kecil. Definisi kredit usaha mikro. Lembaga Penyedia Jasa (LPJ) dan UMKM. dan Menengah.

. Identitas diri calon penerima KUR. TDP. Izin gangguan HO. 2. g. dan Menengah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 99. Kecil. Perizinan Usaha seperti SIUP. Namun. maka PBI No. Ketentuan Penutup: 1. juga diatur tentang perlunya penguatan koordinasi dan kerjasama dengan Pihak Lain dalam pengembangan UMKM agar tercipta keselarasan program pengembangan UMKM. peraturan pelaksanaan dari PBI No. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4543). Proposal Usaha 6.7/39/PBI/2005. dll 4. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam PBI ini. h. PBI ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan yaitu 21 Desember 2012. 2. Laporan Keuangan Usaha 5. Keterangan Domisili. seperti KTP.7/39/PBI/2005 tentang Pemberian Bantuan Teknis Dalam Rangka Pengembangan Usaha Mikro. Lebih lanjut dalam pokok-pokok PBI di atas. Persyaratan lain sesuai ketentuan Bank yang mungkin di tambahkan 7. Pada saat PBI ini berlaku. Data Usaha 3. Persiapkan jaminan atau agunan jika dibutuhkan (namun hal ini tidak berlaku untuk pengajuan Kredit Tanpa Agunan dan KUR Ritel). Industri kecil menengah juga harus mengikuti persayaratan – persyaratan yang ada dalam ketentuan bank umum atau Bank Indonesia ( BI ) untuk mendapatkan pembiayaan atau kredit usaha rakyat ( KUR ) Persyaratan mengajukan Kredit Usaha Rakyat seperti : 1. Legalitas Usaha seperti Akte Pendirian usaha. Bank Umum yang melanggar hal-hal yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia ini akan dikenakan sanksi. Namun. khusus pengaturan untuk pencapaian rasio Pembiayaan UMKM mulai berlaku bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah pada tahun 2014.Kartu Keluarga.f.

Pengaruh yang cukup tinggi mengindikasikan selama periode krisis perlu dilakukan pengendalian kredit melalui penurunan BI Rate untuk menghindari terdepresiasinya nilai tukar. dan nilai tukar. Namun demikian krisis yang terjadi pada pertengahan tahun 2008 tidak menghambat pertumbuhan kredit yang disalurkan.2 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu dengan judul “Pertumbuhan yang dijadikan acuan dalam penelitian Perbankan di Indonesia ini Kredit dalam Intermediasi dan Pengaruh Variabel Makro Ekonomi” yang dilakukan oleh Sri Haryati (2009).2. inflasi. DPK. Terdapat penelitian lainnya yang sebelumnya pernah diteliti dengan judul “The Impact of Monetary Policy on Bank Credit During Economic Crisis : Indonesia’s Experiences” “Penguatan Stabilitas oleh Abdul Melalui Mongid (2008) serta Fungsi Sistem Keuangan Peningkatan Intermediasi Bank Pembangunan” Daerah oleh Endri (2009). secondary reserve. suku bunga BI. Sedangkan semua variabel independent yaitu variabel makro ekonomi . Begitu pula pada penelitian oleh Siregar (2006) dengan judul Analisis . kebijakan moneter dari kredit perbankan kurang mampu berjalan secara optimal. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan fundamental perbankan nasional cukup baik. Penelitian yang dilakukan oleh Sri Haryati (2009) ini menunjukkan bahwa untuk perbankan swasta nasional di Indonesia mengindikasikan fungsi intermediasi yang berjalan dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa selama masa krisis. pinjaman diberikan dan modal secara bersama – sama mempunyai pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan kredit. Sedangkan penelitian dengan judul “The Impact of Monetary Policy on Bank Credit During Economic Crisis : Indonesia’s Experiences” oleh Abdul Mongid (2008) diperoleh bahwa BI Rate dan nilai tukar mempunyai pengaruh negatif signifikan sedangkan pertumbuhan simpanan dan DPK mempunyai pengaruh positif signifikan.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdullah dan Suseno (2003) dengan judul “Pengukuran dan Identifikasi Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Fungsi Intermediasi Perbankan Daerah ” yang menunjukkan bahwa perbankan daerah umumnya belum menjalankan fungsi intermediasi secara efektif. Hal ini ditunjukkan dengan rendahnya LDR dan peningkatan jumlah DPK yang berakibat terjadinya kelebihan likuiditas. Hasil analisis mengenai “Penguatan Stabilitas Sistem Keuangan Melalui Peningkatan Fungsi Intermediasi” oleh Endri (2009) memperlihatkan bahwa BPD belum optimal menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi perbankan. Diperoleh kesenjangan penelitian Sri Haryati (2009) yang menunjukkan bahwa bank swasta nasional mampu menjalankan intermediasi secara optimal pada masa krisis daripada BPD yang masih jauh di bawah ketentuan BI sebagai konsekuansi atas rendahnya penyaluran kredit bank tersebut. Penelitian Haas dan Lelyveld (2006) dengan judul “Foreign Bank dan Credit Stability in Central and Eastern Europe” diperoleh hasil bahwa variabel makro (Gross Domestic Product.“Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Kredit pada Bank Pemerintah di Sumatera Utara” memperlihatkan hasil yang sama dengan hasil penelitian oleh Abdul Mongid (2008) bahwa BI Rate mempunyai pengaruh negatif signifikan terhadap permintaan kredit pada bank pemerintah. tingkat inflasi dan lending rate) mempunyai .

pengaruh yang tidak signifikan terhadap pertumbuhan kredit pada foreign bank sedangkan pada domestic bank mempunyai pengaruh yang negatif signifikan. Terlihat dari walaupun adanya pengaruh variabel makro ( Gross Domestic Product. Sedangkan Loan to Deposit Ratio (LDR) yang rendah mengindikasikan bahwa bank sangat berhati-hati dalam menyalurkan kreditnya karena dipengaruhi oleh keadaan krisis ekonomi yang mengharuskan perbankan lebih selektif dalam penyaluran kreditnya. Hanya penelitian oleh Haas dan Lelyveld (2006) saja yang menunjukkan bahwa . . tingkat inflasi dan lending rate tetap membuat foreign bank berkinerja cukup baik. Soedarto (2004) membuktikan penelitiannya bahwa suku bunga BPR berpengaruh positif signifikan terhadap penyaluran kredit. Hal ini menunjukkan bahwa foreign bank mempunyai kinerja yang lebih baik daripada domestic bank. Loan to Deposit Ratio menjadi salah satu alat untuk mengukur kinerja perbankan dengan melihat perbandingan antara total kredit yang diberikan terhadap total DPK. demikian pada penelitian oleh Siregar (2004) yang diperoleh hasil yang sama. Dampak krisis ekonomi pada perbankan sangat mempengaruhi pertumbuhan simpanan pada bank. tingkat inflasi dan lending rate) bank tetap mengoptimalkan fungsi intermediasi. hal ini kembali sesuai dengan penelitian oleh Endri (2009).

Bank non Devisa berperan lebih besar dalam melaksanakan Faktor yang Faktor Mempengaruhi intermediasi. 2006 Pengaruh Perubahan Wajib Terhadap Giro Variabel independent: GWM.TABEL 2. DPK. 2008 The Impact of Variabel Independent: Sertifikat Indonesia Bank (SBI). Teniwut. Maharani. Secara keseluruhan menjelaskan bahwa kebijakan moneter During Economic Crisis:Indonesia’s Experience Deposito. Variabel Dependent: (Kinerja Terbukti adanya hubungan yang negatif signifikan antara variabel GMW dan NPL sementara hasil menunjukkan DPK berhubungan yang positif signifikan terhadap kinerja perbankan yang diukur dengan LDR pada Bank Persero dan Swasta Nasional. Suku Bunga Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan Minimum Tingkat LDR Perbankan) Kinerja Perbankan Devisa dan Bank non Devisa – dan SBI. Nilai Tukar Variabel Dependent: Perubahan Total Kredit Bank melalui pemberian kredit bank pada periode krisis berjalan kurang efektif. . penempatan dana dan deposito.1 DAFTAR REVIEW PENELITIAN TERDAHULU Nama Peneliti Abdul Mongid. dkk . Nilai Tukar Variabel Dependent: Loan to Deposit Ratio (LDR) pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat sangat lemah. Judul Penelitian Variabel Penelitian Kesimpulan Umum Monetary on Bank Policy Credit Sertifikat Bank Indonesia (SBI). 2007 Kinerja Bank Variabel Independent: Inflasi. NPL. Terbukti signifikan adanya antara hubungan nilai tukar. Penempatan Dana.

Terbukti adanya hubungan yang bersama – sama (Suku secara Tingkat Indonesia mempunyai pengaruh signifikan semua variabel Intermediasi Inflasi. 2004 Fungsi Intermediasi Bank Asing Mendorong Pemulihan Sektor Riil di Indonesia Dalam Variabel Independent: Return (ROA). . pinjaman diterima dan modal berpengaruh positif Variabel Dependent: Pertumbuhan Perbankan Intermediasi (LDR) Kredit : signifikan sedangkan likuiditas. Nilai Tukar). Abdullah. nilai tukar berpengaruh negatif signifikan terhadap intermediasi baik pada perbankan asing. Secara parsial. 2006 Analisis Pengaruh Variabel Independent: Secara nasional suku bunga SBI berpengaruh secara negatif nasional maupun Suku Bunga SBI Suku Bunga SBI Jangka Waktu 1 Bulan Loan to Terhadap Variabel Dependent: Loan to Deposit Ratio terhadap Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan nasional di Lampung. suku bunga BI. On Assets Biaya Adanya hubungan yang positif signifikan antara ROA terhadap LDR. Makro Ekonomi Pinjaman dan Modal independen terhadap dependent. DPK. Diterima. Operasional Pendapatan Operasional (BOPO). Pengaruh Variabel Likuiditas.Sri Haryati. Deposit (LDR) Ratio Perbankan di Lampung Muliaman dkk. antara DPK. 2009 Pertumbuhan Kredit di Perbankan : dan Variabel Independent: Makroekonomi Bunga BI. sementara variabel BOPO dan NPL mempunyai pengaruh yang negatif terhadap fungsi intermediasi Bank Asing. tingkat inflasi.

NPL dan suku bunga kredit memiliki NPL yang Variabel Independent: Suku Bunga Riil. dan tidak signifikan untuk variabel Suku Bunga Riil. NPL. 2008 Analisis Faktor – Faktor Menyebabkan Peningkatan Terhadap Penyaluran Kredit di Sektor UMKM: Studi Kasus pada Bank BRI Nasiruddin .Non Performing Loan (NPL) Variabel Dependent: Fungsi Intermediasi Bank Asing (LDR) Purnama Alam. bunga kredit Variabel Dependent: Loan to Deposit Ratio (LDR) BPR Provinsi Jawa Tengah hubungan yang negatif terhadap LDR Bank Perkreditan Rakyat yang ada di Jawa Tengah.dan CAR dan GWM memiliki pengaruh yang negatif terhadap kemampuan memberikan BOPO terhadap BPR kredit. 2005 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Loan to Deposit Ratio (LDR) di Variabel Independent: CAR. Kebijakan BI Variabel Dependent: Penyaluran Kredit terhadap kredit. Terhadap Kredit Variabel Independen: CAR. dalam sedangkan positif BPR Pemberian BPR di Semarang berpengaruh kemampuan . GWM BOPO. 2006 Analisis Pengaruh CAR. Widi Pramono. GWM Variabel Dependent: Loan to Deposit Ratio (LDR) BOPO. Non Performing Loan Terbukti adanya hubungan yang negatif signifikan antara Non Performing kebijakan penyaluran berpengaruh Loan BI (NPL) dan (NPL). suku CAR memiliki pengaruh positif terhadap kondisi LDR BPR yang ada di Jawa Tengah.

Secara parsial terdapat Mempengaruhi Penyaluran Kredit Bank Perkreditan hubungan yang signifikan dan positif antara CAR. Hal ini ditunjukkan tingkat NPL. NPL Variabel Dependent: Penyaluran Kredit Terdapat hubungan yang simultan antara CAR. DPK dan NPL. DPK. 2008 Analisis Faktor Faktoryang Variabel Independent: Tingkat bunga kredit dan NPL negatif terhadap Tingkat bunga kredit. DPK. dengan rendahnya Identifikasi Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Soedarto. Budiawan. Makroekonomi Bank Asing menunjukkan peningkatan deposito dan alokasi . sedangkan CAR simpanan masyarakat dan jumlah simpanan masyarakat berpengaruh positif terhadap LDR perbankan Wilayah Kerja BI Banjarmasin Abdullahd an Suseno. berpengaruh Mempengaruhi Penyaluran Kredit Bank Rakyat Kasus di Perkreditan (Studi BPR NPL. dan NPL terhadap penyaluran kredit BPR. 2003 Fungsi Intermediasi Perbankan Daerah: Pengukuran dan di Variabel Independent: Non Performing Loan (NPL) Variabel Dependent: Loan to Deposit Ratio (LDR) Perbankan penelitian bahwa di ini fungsi daerah pada membuktikan intermediasi berjalan dengan baik.didalam memberikan kredit. 2004 Analisis Faktor – Faktor yang Variabel Independent: CAR. CAR. Rakyat (BPR) Lelyveld. dan jumlah LDR perbankan. 2006 Foreign Bank and Credit Stability in Variabel Independent.

Nasional) Variabel Dependent: Stabilitas Perbankan Kredit dengan adanya hubungan yang signifikan semua terhadap dan positif antara variabel makroekonomi kredit pertumbuhan pada Bank Asing dan hubungan yang signifikan dan negatif pada Bank Domestik Sumber : dari beberapa jurnal dan buletin Berdasarkan peneliti terdahulu. dana (kredit). penelitian yang akan dilakukan memiliki persamaan dan perbedaan dengan peneliti sebelumnya. Giro Wajib Minimum (GWM). Capital Adequacy Ratio (CAR). Sensitivitas NIM Terhadap Inflasi. dimana penelitian ini adalah Bank Devisa dan Non Devisa yang beroperasi dan berkedudukan di Indonesia selama periode 2001 sampai dengan 2009 dengan menggunakan variabel Sensitivitas NIM Terhadap BI Rate.Central and (Tingkat Rate Inflasi. Jumlah Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terhadap Total Assets dan Loan to Deposit Ratio (LDR) . Perbedaannya adalah dalam objek penelitian. Non Performing Loan (NPL). Persamaannya dengan peneliti terdahulu adalah faktor – faktor yang berpengaruh terhadap intermediasi perbankan. sekalipun demikian diikuti Hal oleh ini Bank terbukti Eastern Europe: A Lending Panel Analysis Data antara tidak Bank Asing dan Bank Domestik. Sensitivitas NIM Terhadap Nilai Tukar.

2. Teori Intermediasi. dan Konsep Pembiayaan UMKM yang berguna bagi pemberian informasi antara bank dan pelaku UMKM.4 Penjelasan Kerangka Pola Pikir Dari konsep diatas dapat menjelaskan alur dana dari pemberi pinjaman ( UL ) melalui bank kepada peminjam ( UB ) yang sebagai peminjam itu bisa UMKM dan Corporate. Skema diatas sudah menggambarkan bahwa bank adalah pelaku intermediasi yang sangat penting agar dana – dana yang disalurkan ke bank bisa disalurkan kembali ke sector rill untuk UMKM dan bak selaku pelaku intermediasi yang sangat penting memiliki persyaratan – persyaratan bagi pelaku UMKM melalui kebijakan BI.3 Kerangka Pola Pikir UL Bank UB Intermediasi UMKM Corporate Persyaratan Kebijakan BI Teori Intermediasi Konsep Pembiayaan UMKM 2. . tetapi disini saya akan membahas yang UMKM.

tujuh variabel yang digunakan yaitu: Sensitivitas Net Interest Margin (NIM) terhadap BI rate Sensitivitas Net Interest Margin (NIM) terhadap inflasi Sensitivitas Net Interest Margin (NIM) terhadap nilai tukar Capital Adequacy Ratio (CAR) Giro Wajib Minimum (GWM) Non Performing Loan (NPL) Jumlah Sertifikat Bank Indonesia (SBI) terhadap total assets . Dalam penelitian ini.1 Variabel Penelitian Dalam penelitian ini variabel yang digunakan terdiri dari dua variabel yaitu variabel independen atau bebas (X) dan variabel dependen atau terikat (Y).BAB III METODE PENELITIAN Metode penelitian yang saya gunakan pendakatan kuantitatif non parametik yang dimana dalam hal ini peran perbankan dapat ikur dengan presentase. 1) Variabel Independen (mempengaruhi) yaitu variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab terjadinya perubahan atau timbulnya variabel dependen. 3. dll. Maka dari itu kuantitatif non parametik digunakan karena data – data yang dibaca tidak menggunakan alat ukur seperti ekonometrika melainkan menggunakan teori dari ekonomi.

Dalam penelitian ini. . variabel dependen yang digunakan yaitu Loan to Deposit Ratio (LDR).2) Variabel Dependen (dipengaruhi) Yaitu variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful