Anda di halaman 1dari 18

OLEH : KELOMPOK II

Arifa arindina Arum widi sarastuti Asry nurvita sari Awab zaki habibi Aya Sophia Balgis alzagladi Cecep ramdhan

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta 2008

DAFTAR ISI

Kata Pengantar........................................................................................................... i Daftar Isi.......................................................................................................... ............ ii

BAB I PENDAHULUAN Landasan teori.......................................................

.... 01 Soal kasus.................. 02

......................................

BAB II PEMBAHSAN 1. Etiologi 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Pajanan Pajanan 03 04 05 06 Pajanan Pajanan Pajanan mata metil gatal dan etil sinar

berair............................................................................ 02 keton...................................................................................... 02 ultraviolet......................................................................................

formalin................................................................................................. debu....................................................................................................... benzen...................................................................................................

2. Kemungkinan Diagnosis ....................................................... 2.1. Definisi konjungtivitis.............................................................................


2

07 07

2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6.

Penyebab konjungtivitis.......................................................................... Gejala konjungtivitis............................................................................... Pengobatan konjungtivitis...................................................................... Pencegahan............................................................................................ Alat pelindung diri................................................................................

07 07 08 08 11

BAB III DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 15

Kata Pengantar
Bismillahirahmanirahim. Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas Rahmat dan InayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. Shalawat dan salam marilah senantiasa kita junjungkan kehadirat Nabi Muhammad SAW. Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para pengajar, fasilitator dan narasumber modul ilmu kedokteran komunitas khususnya dr. Dwi tyastuti, MPH, dr. Diah handayani, Sp.P, dan dr. Dyah ayu woro setyaningrum, MPH atas bimbingannya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik. Kami sadari laporan kasus ini masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaannya. Demikian yang dapat kami sampaikan, Insya Allah laporan kasus ini dapat bermanfaat khususnya bagi kami yang sedang menempuh pendidikan dan dapat dijadikan pelajaran bagi adik-adik kami selanjutnya. 3

Sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Maka bila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain. Dan hanya kepada tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Q.S. Al Insyirah:6-7)

Ciputat, 07 Juli 2008

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN LANDASAN TEORI


Dalam masa Pembangunan Jangka Panjang (PJP) II, yang disebut juga sebagai era industrialisasi, salah satu fokus utama pembangunan adalah pengembangan Sumber Daya Manusia. Tenaga kerja merupakan segmen populasi yang menjadi sangat penting dalam era ini, sehubungan dengan produktivitas industri. Sehingga dengan demikian penyelenggaraan program kesehatan dan keselamatan kerja yang bertujuan untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal serta melindungi tenaga kerja dari risiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatannya, menjadi sangat penting. Perkembangan angkatan kerja di Indonesia di sektor formal pada 25 tahun terakhir ini sangat pesat. Pada tahun 1971 masih tercatat jumlah angkatan kerja sekitar 27,5 juta yang pada tahun 1993 telah bertambah menjadi 73,9 juta. Jumlah perusahaan di sektor formal (yang diperkirakan hanya mencakup 26% dari seluruh industri), yang pada tahun 1971 masih tercatat sebanyak 23.000 pada tahun 1993 telah mengalami peningkatan menjadi 147.842. Diperkirakan bahwa baik jumlah perusahaan maupun angkatan kerja di sektor formal akan meningkat terus dengan pesat, terutama dalam menyongsong era
4

globalisasi pada tahun 2005 nanti. Perkembangan di sektor industri tersebut, menuntut dukungan penggunaan teknologi maju dan peralatan canggih, yang antara lain juga membawa konsekwensi digunakannya berbagai bahan kimia dalam proses produksi. Penggunaan teknologi dan peralatan canggih tersebut di satu pihak akan memberikan kemudahan dalam proses produksi dan meningkatkan produktivitas, namun di lain pihak penggunaan teknologi maju cenderung untuk menimbulkan risiko bahaya kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang lebih besar, terutama bila ketrampilan tenaga kerja masih rendah, seperti keadaan di Indonesia ini, yang sebagian besar (74%) tenaga kerjanya masih berpendidikan Sekolah Dasar saja. Pada tahun 1971 misalnya pemakaian bahan kimia dalam proses industri masih tercatat sebanyak 3000 jenis, namun pada tahun 1993 sudah tercatat 50.000 jenis bahan kimia yang digunakan dalam proses industri; sehingga kemungkinan seorang tenaga kerja terpajan bahan kimia yang mengakibatkan penyakit akibat kerja semakin besar. Di lain pihak efek terhadap kesehatan manusia baru diketahui untuk beberapa ratus bahan kimia. Hal ini telah lama disadari oleh pemerintah Indonesia, sehingga dibuat peraturan perundangan yang mengatur pelaksanaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja merupakan salah satu unsur perlindungan tenaga kerja yang bertujuan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan para pekerja dan menjamin agar sumber-sumber produksi digunakan secara aman dan efisien serta menjamin kelancaran proses produksi yang merupakan faktor penting dalam meningkatkan produksi dan produktivitas. SOAL KASUS Seorang pekerja pabrik sepatu mengeluh kedua matanya sering gatal dan berair tapi tidak merah. Gejala dirasakan terutama ditempat kerja tapi berkurang pada hari libur

BAB II PEMBAHASAN 1. ETIOLOGI MATA GATAL DAN BERAIR


1.1. Pajanan metil etil keton (MEK)
5

Pajanan uap mek yang dijumpai di departemen stock fit pabrik sepatu mengganggu kesehatan mata pekerja dimana pada penelitian terdahulu oleh aryawan, prevalensi konjungtivitis akibat kerja sebesar 10.9%. Pada penelitian selanjutnya ditemukan insiden konjungtivitis akibat kerja sebesar 43.66%. Diantara kelompok terpajan uap mek. Faktor-faktor yang berhubungan secara statistik dengan terjadinya konjungtivitis akibat kerja adalah usia, masa kerja dan jenis pekerjaan. Konjungtivitis akibat kerja terjadi mulai jam ke 2 dan meningkat tajam sampai jam ke 4, kemudian bertambah sedikit kasusnya pada jam ke 5 sampai jam ke 8. Pajanan uap metil etil keton berhubungan dengan terjadinya konjungtivitis akibat kerja. Pajanan mek mempunyai risiko 3,56 kali dibandingkan pajanan mek dengan sinar ultraviolet untuk menyebabkan konjungtivitis akibat kerja. Proses tahapan terjadinya konjungtivitis akibat kerja terjadi pada jam ke 2 (satu jam setelah bekerja) sampai jam ke 8.

1.2.

Pajanan sinar ultraviolet

Banyak pekerjaan yang dilakukan dengan peralatan yang memancarkan cahaya ultraviolet (uv) seperti spektrofotometer atau kromatografi lapis tipis (tlc). Cahaya ultraviolet dapat merusak, dan terutama kerusakan pada korena mata. Oleh karena itu, harus dapat dihindarkan keterpaan cahaya ultraviolet pada mata, baik pada saat membuka peralatan spektrofotometer maupun pada saat menyinari noda-noda kromatografi lapis tipis (tlc) dengan cahaya ultraviolet.

Peralatan yang memakai sinar-x, seperti fluoresensi atau difraksi sinar-x, lebih berbahaya lagi bila tidak dilakukan dengan hati-hati. Sinar-x mempunyai daya tembus yang kuat dan dapat merusak sel-sel tubuh. Usaha untuk menghindari serta melindungi diri terhadap kemungkinan keterpaan radiasi sinar-x (yang tak dapat dilihat oleh mata) merupakan suatu keharusan dalam bekerja dengan peralatan tersebut. Untuk hal yang sama pula dilakukan bila kita bekerja dengan peralatan yang memancarkan sinar gamma yang lebih kuat daripada sinar-x. Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 lux. Akibat dari radiasi: Sinar laser dapat menyebabkan kebutaan Sinar ultra merah dapat menyebabkan katarak Sinar ultra violet dapat menyebabkan konjugtivitis fotoelektrika Sinar x dapat menyebabkan leukemia, impotensi, dan luka bakar Radiasi sinar radioaktif : sinar alfa, beta, gamma akan mengacaukan proses

metabolisme tubuh

1.3.

Pajanan formalin

Formalin memiliki beberapa nama lain, seperti formaldehid atau formol. Formalin merupakan cairan tidak berwarna dengan karakteristik bau menyengat, iritan dan menghasilkan aroma terbakar. Formalin dapat dicampur dengan alkohol dan air, namun tidak dapat dicampur dengan kloroform dan eter. Formalin tidak dapat digunakan bersamaan dengan ammonia, gelatin, fenol, dan zat oksidator. Untuk menjaga kualitasnya, larutan ini harus disimpan dalam tempat yang hangat (diatas 15 c) pada tekanan udara yang cukup tingi, dan jauhkan dari cahaya. Endapan kecil berwarna putih dapat terbentuk jika disimpan pada tempat yang dingin. Formalin merupakan larutan cair mengandung 34%-38% ch2o dengan metil alkohol sebagai zat stabilisator untuk memperlambat polimerisasi formalin menjadi paraformaldehid yang padat. Formalin bersifat iritan bagi mata, hidung, saluran pernapasan, dapat menyebabkan bersin, disphagia, konstraksi laring, bronchitis dan pneumonia. Hal yang lebih buruk adalah pada paparan berulang kali dapat menyebabkan asma. Larutan pekat yang mengenai kulit menyebabkan pemutihan dan pengerasan. Dermatitis kontak dan reaksi sensitifitas terjadi setelah penggunaan konsentrasi konvensional atau setelah kontak dengan sisa formalin pada resin. Penghirupan formalin dapat menyebabkan rasa nyeri yang intens disertai dengan inflamasi ulcerasi, dan nekrosis pada membran mucus. Dapat terjadi mual, hematemesis, diare disertai darah, hematuria (adanya darah dalam urin) , anuria (tidak ada produksi urin), asidosis, vertigo, dan kegagalan sikulasi. Kematian dapat terjadi setelah menghirup sebanyak 30 ml. Jika korban selamat dalam 48 jam, maka ia masih dapat ditolong. Batas maksimum yang diperbolehkan di udara adalah 2 ppm.

1.4.

Pajanan Debu

Kandungan debu maksimal didalam udara ruangan dalam pengukuran rata-rata 8 jam adalah sebagai berikut :

1.5.

Pajanan Benzen

benzol, cyclohexatriene, phenyl hydride, coal napthta. Sifat Fisika dan Kimia Benzen merupakan senyawa hidrokarbon aromatik dengan rantai tertutup tidak jenuh, rumus kimia C6H6. Dalam keadaan normal merupakan cairan tak berwarna, jernih , berbau khas dan mudah terbakar.Titik didih 80,1C, titik cair 5,5 C.Indeks bias 1,5011, larut dalam 1430 bagian air, dapat campur dengan asam asetat glasial, aseton, etanol, eter, karbondisulfida, karbon tetraklorida, kloroform dan minyak. Benzen termasuk bahan pelarut yang baik, secara kimia cukup stabil; tetapi mudah mengalami reaksi substitusi menjadi bentuk halogen, nitrat dan derivat alkil. Tancampurkan (incompatibility) Campuran benzen dengan bromipentafluorida, klorintrifluorida, klorin, oksigen (cair), ozon, perklorat, perkloril fluorida, aluminium klorida, permanganat, asam sulfat, perak perklorat atau natrium peroksida dapat menimbulkan api dan ledakan. Sedangkan campuran benzen dengan anhidridakromat, nitril perklorat atau natrium peroksida dapat menimbulkan nyala
9

Penggunaan Senyawa benzen dan hidrokarbon aromatik lainnya secara luas digunakan sebagai bahan bakar, bahan pelarut, bahan tambahan. Karena sifatnya yang cepat kering, maka benzen digunakan secara luas dalam industri perekat dan pernis. pembuatan deterjen, pestisida, zat warna, linoleum, pelarut lilin, resin, penghapus cat, dan lain-lain. Benzen juga merupakan bahan penting dalam penerbangan dan motor serta penyiapan produk farmasi. Menurut Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor SE 01/Men/1997 nilai ambang batas untuk benzen adalah 10 ppm. Penguapan benzen dalam konsentrasi tinggi akan menyebabkan keracunan; paling banyak akibat penghirupan/inhalasi. Pada tingkat permulaan, benzen terutama berpengaruh terhadap susunan saraf pusat. Tanda-tanda utamanya ialah iritasi , perasaan mengantuk, pusing, sakit kepala, vertigo, delirium, dan kehilangan kesadaran.

KEMUNGKINAN DIAGNOSIS
2. KONJUNGTIVITIS
2.1. Definisi

Konjungtivitis adalah suatu peradangan pada konjungtiva. Biasanya konjungtivitis hanya menyerang satu mata. Dalam waktu 12 sampai 48 jam setelah infeksi mulai, mata menjadi merah dan nyeri. Jika tidak diobati bisa terbentuk ulkus kornea, abses, perforasi mata bahkan kebutaan. Untuk mengatasi konjungtivitis gonokokal bisa diberikan tablet, suntikan maupun tetes mata yang mengandung antibiotik. 2.2. Penyebab

Konjungtiva bisa mengalami peradangan akibat: infeksi olah virus atau bakteri reaksi alergi terhadap debu, serbuk sari, bulu binatang iritasi oleh angin, debu, asap dan polusi udara
10

lainnya; sinar ultraviolet dari las listrik atau sinar matahari yang dipantulkan oleh salju. Kadang konjungtivitis bisa berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Konjungtivitis semacam ini bisa disebabkan oleh:

Entropion atau ektropion Kelainan saluran air mata Kepekaan terhadap bahan kimia Pemaparan oleh iritan Infeksi oleh bakteri tertentu (terutama klamidia).

Pemakaian lensa kontak, terutama dalam jangka panjang, juga bisa menyebabkan konjungtivitis.

2.3.

Gejala Konjungtiva yang mengalami iritasi akan tampak merah dan mengeluarkan kotoran. Konjungtivitis karena bakteri mengeluarkan kotoran yang kental dan berwarna putih. Konjungtivitis karena virus atau alergi mengeluarkan kotoran yang jernih.

Kelopak mata bisa membengkak dan sangat gatal, terutama pada konjungtivitis karena alergi. Gejala lainnya adalah:

Mata berair Mata terasa nyeri Mata terasa gatal Pandangan kabur Peka terhadap cahaya Terbentuk keropeng pada kelopak mata ketika bangun pada pagi hari.

Diagnosa Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata, kemungkinan penyakit yang terjadi pada kasus ini adalah konjungtivitis. 2.4. Pengobatan

11

pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Kelopak mata dibersihkan dengan air hangat. Jika penyebabnya bakteri, diberikan tetes mata atau salep yang mengandung antibiotik. Untuk konjungtivitis karena alergi, antihistamin per-oral (melalui mulut) bisa mengurangi gatal-gatal dan iritasi. Atau bisa juga diberikan tetes mata yang mengandung kortikosteroid. Untuk memperbaiki posisi kelopak mata atau membukan saluran air mata yang tersumbat, mungkin perlu dilakukan pembedahan. 2.5. Pencegahan

Konjungtivitis mudah menular, karena itu sebelum dan sesudah membersihkan atau mengoleskan obat, penderita harus mencuci tangannya bersih-bersih. Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang sakit. Jangan menggunakan handuk atau lap bersama-sama dengan penghuni rumah lainnya. Gunakan lensa kontak sesuai dengan petunjuk dari dokter dan pabrik pembuatnya.

12

PENCEGAHAN KECELAKAAN AKIBAT KERJA PADA PERUSAHAAN 1. Peraturan perundangan Yaitu ketentuan-ketentuan yang diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan, kontruksi, perwatan & pemeliharaan, pengwasan, pengujian, & cara kerja peralatan industri, tugas-tugas pengusaha & buruh, latihan, supervisi medis, PPPK, & pemeriksaan kesehatan. 2. Standarisasi Yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah mati atau tak resmi mengenai misalnya kontruksi yang memenuhi syarat-syarat keselamatan jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-praktek keselamatan & hygiene umum, atau alat-alat perlindungan diri. 3. Pengawasan Yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan-ketentuan perundang-undangan yang diwajibkan. 4. Penelitian bersifat teknik Yang meliputi sifat & ciri-ciri bahan-bahan yang berbahaya, penyelidikan tentang pagar pengaman, pengujian alat-alat perlindungan diri, penelitian tentang pencegahan peledakan gas & debu, atau penelaahan tentang bahan-bahan & desain paling tepat untuk tambangtambang pengangkat & peralatan pengangkat lainnya.
13

5. Riset medis Yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis & patologis faktor-faktor lingkungan & teknologis, & keadaan-keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan. 6. Penelitian psikologis Yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang menyebabkan terjadinya kecelakaan. Prinsip pencegahan: Pencegahan awal (primer) - penyuluhan - perilaku K3 yang baik - olahraga Pencegahan setempat (sekunder) - pengendalian melalui undang-undang - pengendalian melalui administrasi/organisasi - pengendalian secara teknis (substitusi, ventilasi, isolasi, ventilasi, alat pelindung diri) Pencegahan dini (tertier) - pemeriksaan kesehatan berkala Untuk pengendalian administrative, perusahaan dapat mencanangkan program rolling pekerja untuk minimalisasi paparan alergen tertentu. Dan untuk pengendalian secara teknis, perusahaan dapat mencanangkan program penggunaan alat pelindung diri (APD). 2.6. Alat Pelindung Diri (APD)

adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi seluruh/sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi bahaya/kecelakaan kerja. METODE PENENTUAN APD Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai Telaah data-data kecelakaan dan penyakit Belajar dari pengalaman industri sejenis lainnya Bila ada perubahan proses, mesin, dan material Peraturan perundangan Kriteria APD - Hazard telah diidentifikasi - APD yang dipakai sesuai dengan hazard yang dituju. - Adanya bukti bahwa APD dipatuhi penggunaannya. Jenis-jenis APD A.P. Kepala A.P. Muka dan Mata A.P. Telinga A.P. Pernafasan
14

A.P. Tangan A.P. Kaki Pakaian Pelindung Safety Belt

Alat Pelindung Muka Dan Mata (Face Shield) Fungsi: Melindungi muka dan mata dari: Lemparan benda benda kecil. Lemparan benda-benda panas. Pengaruh cahaya. Pengaruh radiasi tertentu. Bahan Pembuat Alat Pelindung Muka Dan Mata Gelas/kaca biasa/Plastik. Gelas yang ditempa secara panas.Bila pecah tak menimbulkan bagian-bagian yang tajam. Gelas dengan laminasi aluminium dan lain-lain. Integrasi APD Alat pelindung kepala ini dapat dilengkapi dengan alat pelindung diri lainnya seperti: Kacamata / goggles. Penutup muka. Penutup telinga. Respirator dan lain-lain. Syarat Optis Tertentu Lensa tidak boleh mempunyai efek distorsi/ efek prisma lebih dari 1/16 prisma dioptri; artinya perbedaan refraksi,harus lebih kecil dari 1/16 dioptri.

15

Alat pelindung mata terhadap radiasi : Prinsipnya kacamata yang hanya tahan terhadap panjang gelombang tertentu; Standar Amerika, ada 16 jenis kaca dengan sifat-sifat tertentu

Pencegahan Terhadap Pekerja (Individu) Pola hidup sehat Menggunakan APD Meminta kebijakan penempatan bagian yang sesuai Menghindari paparan pada penyebab-penyebab alergi jangan memakai makeup mata sampai gejala-gejala mereda Jangan gunakan lensa kontak (contact lenses) ketika gejala-gejala hadir Istirahatkan mata-mata dan hindari cahaya-cahaya terang. Seringkali mencuci tangan untuk mengurangi alergi dan pencemaran yang berinfeksi. Kuman-kuman dan penyebab-penyebab alergi dapat dengan mudah dipindahkan dari jari-jari tangan ke mata. Jangan menggosok mata-mata, karena ini hanya akan mengiritasi mereka dan memperburuk kondisi.

Pencegahan gangguan mata akibat kerja Untuk mengurangi bahaya potensial yang mungkin timbul akibat kegiatan kerja, maka beberapa cara pencegahandan penanggulangan yang dapat dilakukan adalah didasarkan pada proses kegiatan yang ada serta bahaya potensial yang dapat ditimbulkan pada setiap tahap kegiatan tersebut. Berbagai cara pencegahan dan penanggulangan dari bahaya-bahaya potensial yang mungkin timbul dapat menyebabkan Gangguan Penglihatan a. Penerangan yang cukup dan tidak silau Keselamatan petugas Peningkatan pencermatan Kesehatan yang lebih baik Suasana yang nyaman Petugas yang terpajan gangguan pencahayan akan mengeluh kelelahan mata dan kelainan lain berupa : Iritasi ( conjunctivitis ) Ketajaman penglihatan terganggu
16

Pencahayaan di instalasi loundry perlu karena ia berhubungan langsung dengan:

Listrik
b.

Akomodasi dan konvergensi terganggu Sakit kepala Pencegahan

Dengan pencahayaan yang cukup sesuai dengan standard rumah sakit ( minimal 200 lux ) c) Menggunakan pelindung mata pada saat mengerjakan pengelasan atau pekerjaanyang membahayakan mata sesuai SOP

pekerjaan lain c.

Alat Pelindung Muka Dan Mata ( Face Shield ) Fungsi: Melindungi muka dan mata dari: Lemparan benda benda kecil. Lemparan benda-benda panas. Pengaruh cahaya. Pengaruh radiasi tertentu. apabila penyebabnya berupa bahan kimia, maka dilakukan Penyimpanan dan yaitu diantaranya simpan ditempat aslinya, wadah tertutup

pengangkutan yang tepat d. kimia. e. f.

dibawah kondisi kering ,ventilasi yang baik, dan hindarkan dari suhu ekstrim Segera mencuci tangan sesudah bekerja, terutama apabila sudah kontak dengan bahan Meningkatkan higienes perorangan Memperkuat daya tahan tubuh dengan gizi yang baik.

Metode-Metode Pencegahan Gejala-Gejala Berhubungan Dengan Mata

Cara terbaik untuk mencegah gejala-gejala berhubungan dengan mata adalah menghindari penyebab-penyebab alergi, penyebab-penyebab iritasi dan kuman-kuman yang menyebabkan gejala-gejala. Ini harus dilakukan sebisa mungkin. Saran-saran lain untuk mencegah gejalagejala berhubungan dengan mata termasuk:
-

Seringkali mencuci tangan untuk mengurangi alergi dan pencemaran yang berinfeksi. Kuman-kuman dan penyebab-penyebab alergi dapat dengan mudah dipindahkan dari jari-jari tangan ke mata.

Jangan menggosok mata-mata, karena ini hanya akan mengiritasi mereka dan memperburuk kondisi.
17

Gunakan kacamata diluar ruangan untuk melindungi mata-mata dari penyebabpenyebab alergi dan penyebab-penyebab iritasi lainnya.

Gunakan kacamata sebagai pengganti lensa kontak selama musim alergi. Cuci sesering mungkin seprei dan sarung-sarung bantal didalam air panas dan detergent untuk mengurangi penyebab-penyebab alergi. Hindari produk-produk dari bulu-bulu binatang jika ada alergi terhadapnya.

Hindari memakai makeup mata. Bagi mereka yang memilih tetap menggunakan makeup, jangan sekali-kali berbagi (memakai bersama) produk dengan orang lain.

BAB III Daftar pustaka


-

Stellman JM, et al (editor). Encyclopaedia of occupational health and safety, 4 th edition. Geneva : International Labour office, 2001. Sumamur. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Jakarta : PT. Gunung Agung, 1955.

Kesehatan Kerja. Diambil dari : http://hiperkes.wordpress.com/ Mei 5, 2008,


3:50 am.

Resiko pemajanan benzen. Diambil dari: http://kalbe.co.id//files/17_ResikoPemajananBenzen.pdf/17_ResikoPemajananBenzen .html.

18