Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Dalam kehidupan bersosialisasi di masyarakat modern ini serta ilmu pengetahuan yang juga semakin maju ditemukan banyak penyakit salah satunya bagian yang cukup penting adalah bagian telinga, hidung dan tenggorok (THT). Sistem ini memegang peran penting dalam kehidupan manusia sehingga perlu di perhatikan. Pada perkembangan zaman semakin banyak penyakit yang ditemukan sehingga itulah yang menjadi latar belakang penulisan makalah ini. Dalam makalah ini, penulis mencantumkan hal mengenai penyakit di THT yaitu mengenai Otitis Media Akut (OMA) yang sering terjadi pada kasus anak dan dewasa serta beberapa penyakit yang merupakan diagnosis bandingnya dan cukup populer di masa kini. Makalah ini berisikan mengenai cara anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, etiologi, pathofisiologi, penatalaksanaan, prognosis dan epidemiologi dari penyakit tersebut yang ditulis dalam bentuk tinjauan pustaka dan status pasien. Akhir kata, semoga makalah ini dapat membantu kita semua mengerti dengan lebih mendalam lagi mengenai penyakit Otitis Media Akut ini.

PENDAHULUAN

Hippocrates mengatakan, nyeri akut pada telinga dengan demam tinggi yang berlangsung terus menerus perlu ditakuti karena terdapat bahaya orang tersebut akan menjadi delirium dan meninggal. Otitis media dan mastoiditis akut merupakan masalah utama sebelum antibiotik ditemukan pada pertengahan tahun 1930-an. Kini pasien-pasien dengan otitis media akut tanpa komplikasi dapat ditangani dengan berhasil oleh dokter anak dan dokter keluarga.1 Telinga tengah biasanya steril, suatu hal yang mengagumkan menimbang banyaknya flora organisme yang ada dalam nasofaring dan faring. Gabungan aksi fisiologis silia, enzim penghasil mukus (misalnya muramidase) dan antibodi berfungsi sebagai mekanisme pertahanan bila telinga terpapar dengan mikroba kontaminan ini pada saat menelan. Otitis media akut terjadi bila mekanisme fisiologis ini terganggu. Sebagai pelengkap mekanisme pertahanan di permukaan, suatu anyaman kapiler subepitel yang penting menyediakan pula faktor-faktor humoral, leukosit polimorfonuklear, dan sel fagosit lainnya. Obstruksi tuba eustachius merupakan suatu faktor penyebab dasar pada otitis media akut. Penyebab lain adalah infeksi saluran nafas terutama disebabkan oleh virus, namun sebagian besar infeksi otitis media akut disebabkan oleh bakteri piogenik.1 Karena semakin meningkatnya insidens resistensi ampisilin, maka antibiotik kini dikombinasi dengan asam klavulanat dan terbukti efektif terhadap bakteri pembentuk beta laktamase. Disamping terapi antibiotik, tindakan pemanasan dan pemberian analgetik dapat pula meringankan gejala dan beberapa dokter menganjurkan pemakaian tetes telinga anestetik.1

TINJAUAN PUSTAKA

OTITIS MEDIA Otitis media ialah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid.2 Banyak ahli membuat pembagian dan klasifikasi otitis media. Secara mudah, otitis media terbagi atas: Otitis media supuratif Otitis media non supuratif (= otitis media serosa, otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi/OME). Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu: Otitis media supuratif o Akut ( otitis media akut = OMA) o Kronis (OMSK/OMP) Otitis media non supuratif/ otitis media serosa o Akut (barotrauma = aerotitis) o Kronis Selain itu terdapat juga otitis media spesifik seperti otitis media tuberkulosa atau otitis media sifilika. Otitis media yang lain ialah otitis media adhesiva.2 OTITIS MEDIA AKUT Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba eustachius, enzim dan antibodi. Etiologi

Otitis media akut (OMA) terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini terganggu. Sumbatan tuba eustachius merupakan faktor penyebab utama dari otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke dalam telingah tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Dikatakan juga bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran nafas atas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA. Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar dan letaknya agak horisontal.2 Kuman penyebab utama OMA ialah bakteri piogenik, seperti Streptokokus hemolitikus, stafilokokus aureus, pneumokokus. Selain itu kadang-kadang ditemukan juga Hemofilus influenza, Escherichia colli, Streptokokus anhemolitikus, proteus vulgaris dan Pseudomonas aeruginosa. Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak berusia di bawah 5 tahun.2 Patofisiologi Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran, dan datangnya selsel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga. Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas. Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya. OMA dapat berkembang menjadi otitis media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat, pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik.3
4

Gambar 1: patofisiologis OMA.

Stadium OMA Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas 5 stadium: 1. Stadium oklusi tuba Eustachius 2. Stadium hiperemis 3. Stadium supurasi 4. Stadium perforasi 5. Stadium resolusi

Stadium oklusi tuba Eustachius Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, akibat absorpsi udara. Kadang-kadang membran timpani tampak normal (tidak ada kelainan) atau berwarna keruh pucat. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi. Stadium hiperemis (stasium pre-supurasi) Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edem. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar terlihat.2 Stadium supurasi Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani, menyebabkan menbran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar. Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat, serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan nanah di kavum timpani tidak berkurang, maka terjadi iskemia, akibat tekanan pada kapiler-kapiler, serta timbul tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa. Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan berwarna kekuningan. Di tempat ini akan terjadi ruptur. Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan melakuakn miringotomi, luka insisi akan menutup kembali sedangkan apabila terjadi ruptur, maka lubang tempat ruptur (perforasi) tidak mudah menutup kembali.2 Stadium perforasi Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya gelisah sekarang menjadi tenang,
6

suhu badan turun dan anak dapat tertidur nyenyak. Keadaan ini disebut dengan otitis media akut stadium perforasi.2 Stadium resolusi Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahan-lahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa berupa otitis media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.2 Gejala klinik Otitis Media Akut Gejala klinik OMA bergantung pada stadium penyakit serta umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah rasa nyeri di dalam telinga, keluhan di samping suhu tubuh yang tinggi. Biasanya terdapat riwayat batuk pilek sebelumnya. Pada anak yang lebih besar atau pada dewasa, selain rasa nyeri terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang dengar. Pada bayi dan anak kecil, gejala khas OMA ialah: Suhu tubuh tinggi dapat sampai 39.5C (pada stadium perforasi) Anak gelisah dan sukar tidur Tiba-tiba anak menjerit waktu tidur Diare Kejang-kejang Kadang-kadang anak memegang telinga yang sakit. Bila terjadi ruptur membran timpani, maka sekret mengalir ke liang telinga, suhu tubuh turun dan anak tertidur tenang.2 Gejala klasik otitis media akut antara lain berupa nyeri, demam, malaise, dan kadangkadang nyeri kepala di samping nyeri telinga; khususnya pada anak dapat terjadi anoreksia

dan kadang-kadang mual dan muntah. Demam dapat tinggi pada anak kecil namun dapat pula tidak ditemukan pada 30% kasus. Seluruh atau sebagian membrana timpani secara khas menjadi merah dan menonjol dan pembuluh-pembuluh darah di atas membran timpani dan tangkai maleus berdilatasi dan menjadi menonjol.1

Differensial Diagnosis Otitis Media Efusi/Otitis Media Serosa Otitis media serosa adalah keadaan terdapatnya sekret yang nonpurulen di telinga tengah, sedangkan membran timpani utuh. Adanya cairan di telinga tengah dengan membran timpani utuh tanpa tanda-tanda infeksi disebut juga otitis media dengan efusi. Apabila efusi tersebut encer disebut otitis media serosa dan apabila efusi tersebut kental seperti lem disebut otitis media mukoid (glue ear). Otitis media efusi terbatas pada keadaan dimana terdapat efusi dalam kavum timpani dengan membran tipani utuh tanpa tanda-tanda radang. Bila efusi tersebut berbentuk pus, memran timpani utuh dan disertai tanda-tanda radang maka disebut otitis media akut (OMA). Pada dasarnya otitis media serosa dapat dibagi atas dua jenis otitis media serosa akut dan otitis media serosa kronik.2 Otitis Media Supuratif Kronis Otitis media supuratif kronis (OMSK) dahulu disebut otitis media perforata (OMP) atau dalam sebutan sehari-hari congek. Yang disebut otitis media supuratif kronis ialah infeksi kronis di telinga tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus-menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah. Otitis media akut dengan perforasi membran timpani menjadi otitis media supuratif kronis bila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Hal ini terjadi akibat tidak terjadi stadium penyembuhan atau resolusi pada membran timpani. Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman yang tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau higiene buruk.2

Penatalaksanaan Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Pada stadium oklusi Pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba Eustachius, sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan dekongestan. HCL efedrin 0.5% dalam larutan fisiologik (anak < 12 tahun) atau HCL efedrin 1 % dalam larutan fisiologis untuk yang berumur di ata 12 tahun dan pada orang dewasa. Selain itu sumber infeksi harus diobati. Antibiotik diberikan apabila penyebab penyakit adalah kuman, bukan oleh virus atau alergi.2 Pada stadium hiperemis/ pre supurasi Terapi yang diberikan pada stadium presupuratif adalah antibiotika, obat tetes hidung dan analgetika. Antibiotik yang dianjurkan ialah dari golongan penisilin atau ampisilin. Terapi awal diberikan penisilin intramuskular agar didapatkan konsentrasi yang adekuat di dalam darah, sehingga tidak terjadi mastoiditis yang terselubung, gangguan pendengaran sebagai gejala sisa, dan kekambuhan. Pemberian antibiotik yang dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin, maka diberikan eritromisin. Pada anak, ampisilin diberikan dengan dosis 50-100 mg/kgBB per hari dibagi dalam 4 dosis atau amoksisilin 40 mg/kg BB per hari dibagi dalam 3 dosis atau eritromisin 40 mg/kgBB/hari.2 Pada stadium supurasi

Selain diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi, bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari.2 Pada stadium perforasi Sering terlihat sekret banyak keluar dan kadang terlihat sekret keluar secara berdenyut (pulsasi). Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H 2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.2 Pada stadium resolusi Pada stadium resolusi maka membran timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui perforasi di membran timpani. Keadaan ini dapat disebabkan karena berlanjutnya edema mukosa telinga tengah. Pada keadaan demikian antibiotika dapat dianjurkan sampai 3 minggu. Bila 3 minggu setelah pengobatan sekret masih tetap banyak, kemungkinan telah terjadi mastoiditis. Bila OMA berlanjut dengan keluarnya sekret dari telinga tengah lebih dari 3 minggu, maka digokeadaan ini disebut otitis media supuratif subakut. Bila perforasi menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan, maka keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis. Pada pengobatan OMA terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan kegagalan terapi. Risiko tersebut digolongkan menjadi risiko tinggi kegagalan terapi dan risiko rendah.2 Komplikasi Sebelum ada antibiotika, OMA dapat menimbulkan komplikasi, yaitu abses subperiosteal sampai komplikasi yang berat ( meningitis dan abses otak). Sekarang setelah ada antibiotika, semua jenis komplikasi itu biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari OMSK.2

10

STATUS PASIEN FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA (UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA) Jl. Terusan Arjuna no.6 Kebon Jeruk, Jakarta-Barat.

KEPANITERAAN KLINIK STATUS ILMU PENYAKIT THT FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA Hari/ Tanggal Ujian/ Presentasi kasus: SMF PENYAKIT THT RUMAH SAKIT: RSUD TARAKAN, JAKARTA

Nama Nim

: Siti Nor Asyikin Bt Muhamad : 11-2011-247

Tanda Tangan

Dr Pembimbing/Penguji : dr Riza Rizaldi, SpTHT-KL

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : Ibu S : 32 tahun Jenis Kelamin Agama : Perempuan : Islam
11

Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Jakarta

Pendidikan

: SMA

Status Menikah : Sudah menikah

ANAMNESA Diambil secara Pada tanggal Keluhan utama : Autoanamnesis : 12 April 2013 Jam : 9.45 WIB

: Penurunan pendengaran pada telinga kanan, 3 hari SMRS

Keluhan tambahan : Batuk, pilek dan telinga kanan berdengung.

Riwayat perjalanan penyakit (RPS): 3 hari SMRS, pasien mengeluh pendengarannya agak berkurang pada telinga kanan. Pasien merasakan di telinga kanannya itu seperti ada kemasukan air. Pasien juga berusaha untuk mengeluarkan cairan tersebut yaitu dengan memiringkan kepalanya ke kanan, tetapi airnya tidak keluar. Pasien juga merasa bunyi seperti berdengung di telinga di telinga kanannya. Pasien mengaku bahawa mengalami batuk dan pilek sebelumnya kira-kira seminggu yang lalu. Batuk yang dialami pasien sering dan bertambah berat jika setelah makan makanan yang berminyak dan minum air es. Pasien juga mengeluh batuknya berdahak yang kental dan berwarna putih kekuningan. Pilek yang dialami pasien adalah encer dan berwarna jernih. Pasien juga sempat mengalami deman yang tidak terlalu tinggi. Pasien juga mengeluh kepalanya agak pusing tetapi tidak seperti berputar-putar. 2 hari SMRS, pasien mengeluh kurang pendengarannya semakin bertambah dan terasa
seperti ada kemasukan air di dalam telinga kanannya tidak juga berkurang. Pasien masih

merasa berdengung di telinganya tetapi tidak nyeri apabila ditekan. Batuk yang dialami pasien sudah agak berkurang tetapi masih berdahak. Dahak yang keluar berwarna jernih tetapi agak kental. Pasien masih terasa hidungnya seperti terasa tersumbat karena pileknya itu. Riwayat mengorek telinga menggunakan cotton bud ada tetapi tidak sering. Riwayat pasien mengalami alergi terhadap debu-debu, udara yang dingin dan makanan disangkal. Pada waktu kecil juga, pasien mengaku tidak pernah keluar cairan dari telinga kanannya itu. 1 hari SMRS, pasien masih merasa berdengung dan terdengar suaranya sendiri lebih kuat di telinga kanannya. Kurang pendengaran yang dialami pasien juga tidak berkurang.
12

Tetapi batuk sudah agak jarang dan dahaknya yang keluar juga agak berkurang. Hidungnya masih terasa seperti tersumbat. Pasien juga mengeluh terkadang merasa seperti ada cairan yang mengalir ke tenggorokannya dari hidung. Demamnya sudah menurun dan pusingnya juga sedikit berkurang. Karena khawatir akan kondisi telinga kanannya yang berdengung dan penurunan pendengaran itu, pasien mengambil keputusan untuk berobat ke dokter THT di RSUD Tarakan. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) Pasien mengaku tidak pernah mengalami masalah ditelinga kanannya itu sebelum ini. Dan riwayat keluar cairan pada telinga kanannya pada waktu kecil juga disangkal. Riwayat Penyakit Keluarga (RPK) Pasien menyatakan tidak ada riwayat alergi dalam keluarganya. Riwayat hipertensi dan diabetes di dalam keluarga juga disangkal. PEMERIKSAAN FISIK
Status Presens Keadaan umum Kesadaran Status Gizi Nadi Tensi Suhu RR : tampak sakit ringan : compos mentis : cukup : 84 x/menit : 110/70 mmHg : 36,5 0 C : 22 x/menit

Kepala dan Leher Kepala Wajah : normosefali : simetris

Leher anterior : KGB tidak teraba membesar Leher posterior: KGB tidak teraba membesar Lain lain : Pembesaran Kelenjar Tiroid (-)

TELINGA
13

KANAN Bentuk daun telinga Kelainan kongenital Radang, tumor Nyeri tekan tragus Penarikan daun telinga Kelainan pre, infra, retroaurikuler Region Mastoid Liang telinga Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Abses (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-), benjolan (-) Abses (-), tidak nyeri tekan Lapang, furunkel (-), jaringan granulasi (-), serumen (-), sekret (-). Membran timpani Utuh, refleks cahaya (-), agak merah, bulging (+), perforasi (-) TES PENALA KANAN Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan (-)

KIRI Normal Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Abses (-), hiperemis (-), nyeri tekan (-), benjolan (-) Abses (-), tidak nyeri tekan Lapang, furunkel (-), jaringan granulasi (-), serumen (+), sekret (-). Utuh, refleks cahaya (+), warna pucat, retraksi (-), perforasi (-).

Rinne Weber Swabach Penala yang dipakai

KIRI Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan (-)

Kesan: Terdapat tanda-tanda peradangan telinga tengah pada telinga kanan

HIDUNG Bentuk Tanda peradangan : Normal : Hiperemis (-), udem (-), tumor (-),

Daerah sinus frontalis dan maksilaris : Tidak nyeri tekan Vestibulum Cavum nasi : Sekret (+), furunkel (-), krusta (-) : Lapang, polip hidung (-)
14

Konka inferior kanan/kiri Meatus nasi inferior kanan/kiri Konka medius kanan/kiri Meatus nasi medius kanan/kiri Septum nasi

: Hiperemis (+), udem (+) kanan dan kiri : Sekret (-) kanan dan kiri : Tidak dapat dinilai kanan dan kiri : Tidak dapat dinilai kanan dan kiri : Normal, tidak ada deviasi.

RHINOPHARYNX Koana : Tidak dilakukan

Septum nasi posterior : Tidak dilakukan Muara tuba eustachius : Tidak dilakukan Tuba eustachius Torus tubarius Post nasal drip : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

PEMERIKSAAN TRANSILUMINASI Sinus frontalis kanan, grade : Tidak dilakukan Sinus frontalis kiri, grade : Tidak dilakukan

Sinus maxillaris kanan, grade : Tidak dilakukan Sinus maxillaris kiri, grade : Tidak dilakukan

TENGGOROK
15

FARING Dinding faring : hiperemis (+), granul (-), post nasal drip (-) Arcus Tonsil Uvula Gigi Lain-lain : Hiperemis (+) : T1-T1 tenang, hiperemis (-), kripta (+), melebar (-), dentritus (-). : Bentuk normal, hiperemis (-) : semua gigi dalam batas normal : (-)

LARING Epiglotis Plica aryepiglotis Arytenoids Ventricular band Pita suara Rima glotidis Cincin, trakea Sinus piriformis : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan : Tidak dilakukan

Kelenjar limfe submandibula dan cervical : Tidak membesar

RESUME Dari anamnesa didapat keluhan : Pendengaran pada telinga kanan pasien menurun 3 hari SMRS. Pasien merasa seperti telinganya kemasukan air dan bunyi berdengung. Disertai ada riwayat batuk pilek sebelumnya. Pasien sempat demam yang tidak terlalu tinggi dan

16

mengeluh terkadang pusing. Pasien tidak mengeluh nyeri di telinga kanannya apabila ditekan dan tidak ada sekret yang keluar dari telinganya. Riwayat mengorek telinga ada dan riwayat alergi terhadap debu, dingin dan makanan disangkal. Dari pemeriksaan didapatkan pada : Telinga kanan Membran timpani utuh, tetapi refleks cahaya (-), warna membran timpani agak kemerahan dan ada bulging (seperti menonjol dari dalam keluar). Liang telinga lapang dan hiperemis. Teling kiri Membran timpani utuh, refleks cahaya (+), serumen (+), warna pucat, tiada retraksi dan perforasi pada membran timpani. Liang telinga lapang dan tidak hiperemis. Hidung Didapatkan ada udem konka inferior kanan dan kiri, hiperemis (+) dan ada sekret encer di vestibulum nasi kanan. Tenggorok Didapatkan dinding posterior faring hiperemis (+), tonsil T1-T1 tenang, dan post nasal drip (-). WORKING DIAGNOSIS (WD/) Otitis Media Akut AD Rhinofaringitis akut DIAGNOSA BANDING (DD/) Otitis Media Efusi/Otitis Media Serosa AD Otitis Media Supuratif Kronis AD PROGNOSIS Dubia ad Bonam

PENATALAKSANAAN

17

1. Antibiotik. Untuk menghilangkan infeksi dari bakteri. Yang dapat diberikan adalah cefadroxil yaitu antibiotik golongan sefalosporin generasi 1. Cefadroxil kapsul 500mg 3x1. Selama 5 hari. 2. Dekongestan. Dekongestan merupakan agen simpatomimetik yang bertindak pada reseptor dalam mukosa nasal yang menyebabkan pembuluh darah mengecil. Selain itu juga dapat mengurangi pembengkakan mukosa hidung dan melegakan pernafasan. Dekongestan apabila dikombinasikan dengan antihistamin sangat efektif melegakan tanda-tanda rinitis terutama bila hidung sumbat. Obat dekongestan yang biasa digunakan antara lain pseudoefedrin dan efedrin. Obat dekongestan dapat diberikan secara tunggal atau kombinasi dengan antihistamin H1 lokal atau peroral. Contohnya obat Rhinofed. 3. Antihistamin. Antihistamin oral merupakan senyawa kimia yang dapat melawan kerja histamin dengan mekanisme inhibisi kompetitif pada lokasi reseptor histamin. Generasi antihistamin H1 antara lain adalah loratadin, terfenadin, dan astemizol.

ANJURAN Melakukan pemeriksaan untuk menilai keadaan telinga tengah seperti test timpanometri. Kontrol lagi ke spesialis THT seminggu kemudian. Mencegah daripada kekambuhan ISPA pada pasien.

PEMBAHASAN Otitis media merupakan suatu peradangan pada telingah tengah. Otitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yang paling sering ialah sumbatan tuba eustachius akibat infeksi. Selain itu, otitis media dapat juga merupakan suatu komplikasi akibat penyakit lain misalnya rhinitis, sinusitis, faringitis, otitis eksterna, dan lain-lain. Gejala yang sering ditimbulkan pada otitis media biasanya ialah rasa nyeri, pendengaran berkurang, demam, pusing, juga kadang disertai mendengar suara dengung (tinitus).

18

Pada kasus di atas, pasien mengalami penurunan pendengaran pada telinga kanan sejak 3 hari, yang disertai dengan batuk pilek sebelumnya. Pasien juga mengalami demam dan kepala pusing. Pasien tidak mengeluh nyeri di telinga tetapi terasa seperti telinga kemasukan air dan bunyi berdengung. Pasien tidak ada riwayat keluar cairan di telinga kanannya itu. Untuk menegakkan diagnosis otitis media, perlu dilakukan pemeriksaan otoskopi. Ditemukan pada membran timpani telinga kanan sedikit merah dan seperti ada yang menonjol dari dalam ke luar (bulging). Tidak terdapat refleks cahaya. Kemungkinan stadium otitis medianya ialah stadium supurasi. Penyebab yang mungkin sebagai pencetus otitis media pada pasien di atas ialah rhinofaringitis yang dialaminya. Dari pemeriksaan rinoskopi anterior didapatkan konka nasalis inferior mengalami edema & hiperemis yang disertai adanya sekret jernih. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyebab dari otitis medianya ialah komplikasi dari rhinofaringitis yang dialami pasien. Pengobatan yang diberikan pada pasien di atas ialah pemberian antibiotik (cefadroxil tablet), gabungan antihistamin (terfenadine) dan dekongestan yaitu dalam kemasan obat tablet (Rhinofed). Kemudian pasien diminta untuk kontrol lagi 1 minggu jika gejala tidak hilang.

DAFTAR PUSTAKA 1. Adam, Boies, Higler. Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2012. h; 88-119. 2. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008. h; 64-77.

19

3. Otitis

Media

Akut.

Diunduh

pada

16

April

2013.

Diunduh

dari:

http://www.scribd.com/doc/4825625/Otitis-Media-Akut.

20

Anda mungkin juga menyukai