Anda di halaman 1dari 25

EPISTAKSIS

Sub Bagian Rinologi - THT


Fakultas Kedokteran USU 2005

EPISTAKSIS

Perdarahan melalui hidung yang berasal dari rongga hidung atau daerah sekitarnya
Keluhan : ringan berat

90 % berhenti spontan
Bukan penyakit, melainkan gejala dari suatu kelainan

Diagnosis : mudah 95 % dari anterior rongga hidung


Penatalaksanaan bergantung lokasi & berat ringannya

ANATOMI

ETIOLOGI
I.
A.
B.

LOKAL
KONGENITAL : Hereditary Haemorrhagic Telangiectasia ( OSLERS DISEASE)
ACQUIRED : 1. TRAUMA membuang ingus kuat kuat, bersin, korek hidung, korpus alienum, fraktur hidung /SPN / basis kranii, post op. hidung iritasi zat zat kimia. 2. INFEKSI Hidung : rinitis akut dan kronis SPN : sinusitis Granuloma spesifik : SLE, Lepra, Sifilis. 3. NEOPLASMA : hemangioma, karsinoma, angiofibroma 4. IDIOPATIK

B. SISTEMIK
1. PENY. KARDIOVASKULER : hipertensi, kel. pemb. darah 2. KELAINAN DARAH : trombositopenia, hemofilia, leukimia. 3. INFEKSI AKUT : influenza, demam tifoid, difteri, DHF sering

4. OBAT : antikoagulan, salisilat


5. PERUBAHAN TEK. ATMOSFER : Caisson disease 6. GANGGUAN ENDOKRIN : hamil, menarche, menopause 7. ALKOHOLISM 8. IDIOPATIK

LOKASI PERDARAHAN
Menentukan lokasi perdarahan yang tepat PENTING karena : a. dapat segera melakukan tindakan penghentian perdarahan b. identifikasi pembuluh darah besar yang mendarahi lokasi perdarahan. Lokasi perdarahan :

1. Epistaksis anterior : paling sering dan mudah dikontrol Sumber Littles area ( pleksus Kiesselbach )
2. Epistaksis superior (ant-superior dan post-superior) Sumber cabang medial / lateral a.etmoidalis ant. / post. 3. Epistaksis posterior : paling sukar ditanggulangi org tua ( hipertensi, arteriosklerose ) Sumber ruptur arteri sfenopalatina

Plexus Kiesselbach

GAMBARAN KLINIK
1. Serangan epistaksis : anak - anak dan dewasa muda trauma orang tua ( hipertensi ) ruptur spontan pemb. drh sklerotik 2. Jumlah perdarahan : bervariasi, ringan berat kematian perdarahan anterior ( Littles area ) 90 % perdarahan posterior orofaring tertelan hematemesis, haemoptoe 3. Pasien epistaksis : gelisah perdarahan berat dan lama shock hipovolemik 4. Penyakit Familial Multiple Telangiectasis (Oslers disease) perdarahan berat

DIAGNOSIS
1. Anamnesis yang cermat 2. Pemeriksaan status lokalis dari hidung dan nasofaring 3. Keadaan umum penderita 4. Pemeriksaan sistemik 5. Pemeriksaan penunjang, seperti : a. Hematologi lengkap b. Pemeriksaan radiologi c. Serologi d. Elektrokardiografi

PENATALAKSANAAN

1. menghentikan perdarahan 2. mencegah komplikasi 3. mencegah berulangnya epistaksis

I. MENGHENTIKAN PERDARAHAN
a. Bersihkan hidung dari darah / bekuan darah dengan alat pengisap ( suction ) pasien duduk b. Cari sumber perdarahan

c. Tampon hidung dengan kapas + adrenalin


d. Periksa TD, nadi dan pernafasan shock : perbaiki KU infus / transfusi K/P injeksi menghentikan perdarahan

1. KAUTERISASI
Ada dua cara : a. Kauterisasi kimia : AgNO3 20 - 30 % Trichlor acetic acid 10 % b. Kauterisasi listrik ( electrocauter ) Catatan : Kauterisasi hanya efektif untuk epistaksis anterior dan sedikit

2. TAMPON ANTERIOR

pd perdarahan yang minimal kapas / kasa vaseline + salep antibiotika selama 3 4 hari

3. TAMPON POSTERIOR
disebut juga Tampon Bellocq - utk perdarahan posterior - sumber perdarahan sulit dicari / diatasi Prinsip : menutup koana dan mencegah darah dari hidung ke nasofaring Tampon dikeluarkan 2 - 3 hari

CARA :
1.

Pada tupfer diikatkan 3 buah tali ( 2 buah pd satu sisi dan 1 buah pd sisi yang lain ) Masukkan kateter karet mll nares ant orofaring mulut Ikatkan 2 buah tali pada tupfer ke kateter tarik kateter kembali melalui nares anterior Dengan bantuan 2 jari tangan, tupfer diletakkan pada nasofaring menutupi koana Pasang tampon anterior

2.

3.

4.

5.

6.

Letakkan kain kasa didepan lubang hidung dan diikat dgn


2 buah tali yang terikat pada tupfer fiksasi

7.

Tali yg keluar melalui mulut rekatkan pada pipi

4. BALON HIDUNG
- dsbt juga Balon Epistaksis
- dirancang untuk menekan daerah arteri sfenopalatina di posterior, regio septum anterior atau daerah etmoid - Ada 2 tipe : 1.Foley kateter No.12 16 2.Kateter khusus dg 2 buah balon

5. SPONS PENEKAN

- dsbt Compressed sponge - sgt efektif utk epistaksis anterior dan posterior Prinsip : - penyerapan cairan pengembangan dari busa - busa ini tidak dikeluarkan lagi diserap oleh mukosa rongga hidung

6. OPERASI

PRINSIP :

TEKNIK :
a. Ligasi pembuluh darah b. Angiografi dan embolisasi c. Reseksi submukosa d. Kauterisasi endoskopi dan ligasi

Jika dalam 4 - 5 hr perdarahan tidak berhenti atau perdarahan hebat

a. Ligasi pembuluh darah

Bila epistaksis berat dan berulang serta tdk dpt diatasi dgn tampon anterior maupun posterior

Ligasi arteri etmoid anterior / posterior Ligasi arteri maksilaris interna Ligasi arteri karotis eksterna

b. ANGIOGRAFI DAN EMBOLISASI

arteri karotis eksterna

c. KAUTERISASI ENDOSKOPI DAN LIGASI

arteri sfenopalatina

II. MENCEGAH KOMPLIKASI

Perdarahan hebat shock, anemia, tensi mendadak iskemia serebri, insufisiensi koroner, infark miokard kematian Terapi : - IVFD / transfusi secepatnya ! Pemasangan tampon infeksi antibiotika Komplikasi lain : - hemotimpanum : darah masuk mll TE - bloody tears : darah masuk mll duktus nasolakrimalis - laserasi palatum mole / sudut bibir tampon terlalu kencang

III. MENCEGAH BERULANGNYA EPISTAKSIS

Epistaksis gejala perlu : - cari penyebabnya - pengobatan yg sesuai Sering ditemukan anemia def. Fe