Anda di halaman 1dari 3

Klinik Prostodonsia

Klinik gigi prostodonsia merupakan salah satu jenis klinik yang ditujukan untuk perawatan kesehatan gigi khususnya pada bidang prostodonsia. Prostodonsia adalah cabang ilmu Kedokteran Gigi yang dimaksudkan untuk merestorasi dan mempertahankan fungsi rongga mulut, kenyamanan, estetika dan kesehatan pasien dengan cara merestorasi gigi geligi asli dan atau mengganti gigi-gigi yang sudah tanggal dan jaringan rongga mulut serta maksilofasial yang sudah rusak dengan pengganti tiruan (Academy of Prosthodontics, 1995). Klinik gigi prostodonsia memberikan pelayanan kesehatan gigi berupa : 1. Gigi Tiruan Cekat (GTC) Adalah pembuatan Gigi Tiruan yang menggantikan satu atau lebih gigi yang hilang dan tidak dapat dilepas oleh pasiennya sendiri maupun dokter gigi karena dipasangkan secara permanen pada gigi asli yang merupakan pendukung utama dari restorasi. 2. Gigi Tiruan Sebagian Lepasan (GTS) Adalah Gigi Tiruan yang mengganti satu atau lebih gigi, tetapi tidak seluruh gigi asli dan/atau struktur pendukungnya, didukung oleh gigi dan/atau mukosa yang dapat dilepas dari mulut dan dipasangkan kembali. (Glossary of Prosthodontic terms, 1987). 3. Gigi Tiruan Lengkap (GTL) Adalah pembuatan Gigi Tiruan Lepasan yang menggantikan seluruh gigi geligi asli dan struktur pendukungnya baik maksila maupun mandibula (Glossary of Prosthodontic terms, 1987)

Gambar 1. Gigi tiruan penuh dan sebagian

Tujuan Pembuatan Gigi Tiruan, baik itu Gigi tiruan sebagian lepasan, gigi tiruan cekat maupun gigi tiruan lengkap pada hakekatnya adalah untuk memperbaiki fungsi: pengunyahan, pengucapan, estetis, menjaga kesehatan jaringan serta mencegah kerusakan lebih lanjut dari struktur organ rongga mulut. Karena gigi tiruan dibuat untuk mengganti gigi yang hilang atau rusak, sementara gigi bisa hilang atau rusak apabila terjadi proses destruksi di dalam mulut berkaitan dengan fungsi gigi geligi atau karena trauma. Diperlukan waktu agar proses destruksi menyebabkan rusak, patah atau tercabutnya gigi asli. Berdasarkan hal ini, maka setiap kali kita berbicara mengenai gigi tiruan, kita selalu membayangkan mengenai perawatan dan pembuatan gigi tiruan pada pasien dewasa, umumnya pasien berusia di atas 18 tahun, walaupun gigi tiruan juga dibuatkan pada pasien usia lebih muda yang kehilangan gigi. Di antara batasan usia pasien dewasa tersebut ada satu kelompok umur yang memerlukan penanganan prostodonsia secara khusus. Perawatan prostodonsia pada kelompok ini berkaitan dengan terjadinya berbagai perubahan pada diri mereka disebabkan oleh pertambahan usia. Kelompok tersebut disebut dengan kelompok manusia lanjut usia (Manula), yaitu kelompok individu berusia sekitar 65 tahun ke atas. Pada kelompok umur seperti ini selain telah terjadi berbagai degradasi fisiologis yang banyak berpengaruh terhadap kondisi fisik, sering pula ditemukan perubahan temperamen emosi, misalnya sifat pasien kembali berubah kekanakkanakan, dan juga kemungkinan adanya penyakit-penyakit sistemik yang menyertai usia lanjut. Tidak semua pasien prostodonsia itu berusia lanjut dan tidak pula semua orang yang berusia lanjut adalah pasien prostodonsia. Meskipun demikian, sejalan dengan meningkatnya usia harapan hidup, jumlah pasien lanjut usia yang memerlukan perawatan prostodonsia meningkat sangat tajam. Menurut sensus kependudukan di Amerika Serikat, penduduk yang berusia di atas 65 tahun pada tahun 1980-an mencapai 30 juta dan pada tahun 2000-an diproyeksikan mencapai sekitar 20% dari populasi. Dari jumlah tersebut sebanyak 75% telah kehilangan gigi (edentulus). Gambaran tersebut kurang lebih sama dengan kondisi yang dijumpai di Indonesia, di mana menurut Biro Pusat Statistik (1990) proyeksi jumlah Lansia di Indonesia sampai dengan tahun 2020 adalah seperti tertera pada Tabel 1.

Tabel 1: Proyeksi jumlah penduduk lanjut usia di Indonesia

Pada tahun 2015 ke atas jumlah populasi lanjut usia akan mencapai 10% dari penduduk Indonesia, bahkan akanterus meningkat persentasenya dari tahun ke tahun. Dengan demikian jelas bahwa keperluan perawatan prostodonsia bagi pasien lanjut usia akan semakin diperlukan. Secara umum, tidak ada perbedaan penataan ruang yang berarti antara klinik gigi prostodonsia dengan klinik gigi umum biasa. Penataan ruangan dan peralatan dibuat

sedemikian rupa sehingga pergerakan berlangsung seminimal mungkin, seluruh luasan ruangan termanfaatkan, dan menciptakan rasa nyaman kepada operator yang bekerja serta pasien yang menerima pelayanan. Peletakan alat kedokteran gigi juga harus memenuhi prinsip ergonomis sehingga timbul keserasian atau keseimbangan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup secara

keseluruhan menjadi lebih baik.