Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Anak yang berprestasi adalah investasi sumber daya manusia yang berharga bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Untuk mewujudkan impian akan anak yang berprestasi, selain diperlukan pendidikan yang baik dan berkualitas, juga harus memperhatikan kebutuhan gizi yang cukup. Hal itu untuk menunjang proses tumbuh kembang anak agar dapat tumbuh dan berkembang lebih optimal. Sehingga lebih mudah dan cepat menerima masukan dalam proses belajar-mengajar anak di sekolah serta meningkatkan konsentrasi belajar (Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia,2003). Tingkat kecukupan pemenuhan kebutuhan gizi anak dapat dilihat dari menu dan pola konsumsi sarapan pagi anak sebelum memulai aktifitas di sekolah. Dalam bidang ilmu gizi dan kesehatan, anak dapat dikelompokkan menjadi: Anak Pra Sekolah (4-6 tahun), Anak Sekolah (7-12 tahun), dan Remaja (13-18 tahun) (Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia, 2003). Anak pra sekolah (usia 4-6 tahun) termasuk golongan usia rawan terhadap masalah gizi, yaitu gizi buruk dan gizi kurang. Anak usia pra sekolah sedang dalam masa pertumbuhan sehingga kebutuhan energi dan protein meningkat dibandingkan dengan kelompok umur yang lain. Anak pra sekolah belum bisa memilih menu sarapan pagi yang banyak mengandung energi dan protein, yang akan digunakan untuk aktifitas hari itu (Rumah Sakit Dr.Cipto Mangunkusumo dan Persatuan Ahli Gizi Indonesia, 2003). Pendidikan dan pengetahuan gizi ibu dapat mempengaruhi pemberian menu sarapan pagi. Seorang ibu yang pendidikannya tinggi dan pengetahuan gizinya baik diharapkan dapat menyiapkan sarapan pagi yang cukup mengandung energi dan protein, serta zat gizi lainnya. Energi dan protein

sangat penting karena dua zat gizi ini memberikan peranan penting dalam tubuh (Winarno, F.G.,1997). Pada penelitian pendahuluan, diketahui bahwa anak pra sekolah di TK Masyitoh 08 Kramatsatri Kota Pekalongan dalam pemberian sarapan pagi sangat beragam. Orang tua ada yang hanya memberi uang saku pada saat anak akan berangkat sekolah dan ada pula orang tua yang menyiapkan sarapan pagi di rumah. Selain itu, pendidikan ibu juga bervariasi. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut maka dapat dirumuskan permasalahan Apakah Ada Hubungan Pendidikan dan Pengetahuan Gizi Ibu dengan Sumbangan Energi dan Protein Sarapan Pagi Pada Anak Usia Pra Sekolah Di TK Masyitoh 08 Kramatsari Kota Pekalongan? C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan pendidikan dan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan energi dan protein sarapan pagi pada anak usia pra sekolah di TK Masyitoh 08 Kramatsari Kota Pekalongan. 2. Tujuan Khusus a. Mendeskripsikan pendidikan ibu b. Mendeskripsikan pengetahuan gizi ibu c. Mendeskripsikan sumbangan energi sarapan pagi d. Mendeskripsikan sumbangan protein sarapan pagi e. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi f. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi g. Menganalisis hubungan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi h. Menganalisis hubungan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi

a. Manfaat Penelitian 1. Bagi orang tua murid: memberikan pemahaman dan penekanan tentang manfaat sumbangan energi dan protein sarapan pagi pada anak usia pra sekolah. 2. Bagi institusi: sebagai masukan bagi TK Masyitoh 08 Kramatsari Kota Pekalongan tentang sarapan pagi pada anak usia pra sekolah sehingga dapat diupayakan untuk membiasakan sarapan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Sarapan Pagi Sarapan pagi adalah makanan atau minuman yang memberikan energi dan zat gizi lain yang dikonsumsi pada waktu pagi hari. Makan pagi ini penting karena makanan yang dimakan pada pagi hari sebelum berangkat kerja atau sebelum berangkat sekolah memberikan tenaga untuk badan selama mulai kerja, antara pukul 08.00-11.00 WIB. Jarak waktu makan malam dengan makan pagi cukup lama, yaitu sekitar 10-12 jam (Moehji, 1989). Sarapan pagi sama dengan makan siang yang terdiri dari zat tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur (Winarno, 1997). Sarapan pagi yang baik harus mengandung 20-30% jumlah zat gizi yang dibutuhkan sehari (Roedjito, 1989). Sarapan pagi merupakan sumber energi bagi segala aktifitas tubuh di sekolah, termasuk berpikir dan belajar, karena energi yang berasal dari makan malam telah terpakai untuk aktifitas tubuh malam hari sebelum tidur dan pada saat tidur (Roedjito, 1989). Jika sarapan pagi tidak selalu dilakukan, maka tubuh akan berusaha menaikkan kadar gula darah yang mengambil cadangan lemak. Dalam keadaan seperti ini, tubuh tidak berada dalam keadaan baik untuk melakukan aktifitas. Sehingga anak akan terganggu konsentrasinya (Moehji, 1989). B. Faktor yang Berhubungan dengan Sarapan Pagi 1. Pendidikan Pendidikan adalah alat dari masyarakat untuk memperbaharui dirinya dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup (Suhardjo,1989). Makin tinggi pendidikan yang dicapai oleh rakyat, makin mudah pula kemajuan masyarakat tersebut tercapai. Sebaliknya, rakyat yang taraf pendidikannya rendah, sukar membantu masyarakatnya untuk maju. Orang

dengan pendidikan cukup tinggi, diharapkan akan mempunyai sikap, pengetahuan dan ketrampilan lebih daripada mereka yang berpendidikan rendah. Latar belakang pendidikan orang tua, baik ayah maupun ibu, merupakan salah satu unsur penting dalam menentukan status gizi anak. Pendidikan ibu di samping merupakan modal utama dalam menunjang perekonomian rumah tangga, juga berperan dalam pola pemberian makan keluarga maupun pola pengasuhan anak. Pendidikan ibu memberi pengaruh terhadap perilaku kepercayaan diri dan tanggung jawab dalam memilih makanan. Seseorang yang berpendidikan tinggi tidak memperhatikan tentang pantangan atau makanan tabu terhadap konsumsi bahan makanan yang ada (Singarimbun, 1998). Tingkat pendidikan yang rendah mempengaruhi penerimaan informasi, sehingga pengetahuan akan terbatas. Pada masyarakat dengan pendidikan rendah akan lebih kuat mempertahankan tradisi-tradisi yang berhubungan dengan makanan, sehingga sulit untuk menerima pembaharuan di bidang gizi (Singarimbun, 1998). 2. Pengetahuan Gizi Pengetahuan tentang gizi dan kesehatan adalah suatu keadaan di mana seseorang dapat menguasai dan memahami pengertian tentang gizi dan kesehatan. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh dari orang lain, generasi sebelumnya, atau melalui informasi yang lain. Tingkat pengetahuan tentang kesehatan berpengaruh kepada perilaku kesehatan seseorang sebagai indikator kesehatan masyarakat karena perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmojo, 2002). Suatu hal yang meyakinkan pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan bahwa: Status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan.

Untuk memperoleh status gizi yang cukup, diperlukan makanan yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh untuk pertumbuhan yang optimal, pemeliharaan, dan energi.

Dengan ilmu gizi, seseorang dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi kesejahteraan gizi (Suhardjo, 1989).

C. Konsumsi Energi dan Protein 1. Konsumsi Energi Energi adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan tubuh diperoleh dari makanan yang di makan, dan energi dalam makanan ini terdapat sebagai energi kimia yang diubah menjadi energi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses- proses biologi adalah energi kimia, energi mekanik, energi panas, dan energi listrik. Energi dalam tubuh digunakan untuk : a. Melakukan pekerjaan eksternal b. Melakukan pekerjaan internal dan untuk mereka yang masih tumbuh c. Melakukan pekerjaan, yaitu untuk sintesis senyawa-senyawa baru. Sumber energi berkonsentrasi tinggi adalah bahan makanan sumber lemak, seperti minyak dan lemak, kacangkacangan, dan bijibijian. Selain itu bahan makanan sumber karbohidrat, seperti padi-padian, umbi umbian, dan gula murni. Semua makanan tersebut sumber energi. Kebutuhan energi seseorang menurut FAO / WHO (1985) adalah konsumsi energi berasal dari makanan yang diperlukan untuk menutupi pengeluaran energi seseorang bila ia mempunyai ukuran dan komposisi tubuh dengan tingkat aktivitas yang sesuai dengan kesehatan jangka panjang, dan memungkinkan pemeliharaan aktivitas fisik yang dibutuhkan secara sosial dan ekonomi. Pada anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui kebutuhan energi termasuk kebutuhan untuk pembentukan jaringanjaringan baru atau untuk sekresi ASI yang sesuai dengan kesehatan (Almatsier, 2003).

2. Konsumsi Protein Protein merupakan suatu zat makanan yang sangat penting bagi tubuh, karena zat ini disamping berfungsi sebagai bahan bakar dalam tubuh juga berfungsi sebagai zat pembangun dan pengatur. Protein adalah sumber asamasam amino yang mengandung C, H, O, dan N yang tidak dimiliki oleh lemak atau karbohidrat. Protein juga mempunyai berbagai macam fungsi bagi tubuh, yaitu sebagai enzim, alat pengangkut dan alat penyimpan, pengatur pergerakan, penunjang mekanis, pertahanan tubuh, media perambatan impuls saraf, dan pengendalian dan pertumbuhan (Almatsier, 2003). Kebutuhan protein menurut FAO / WHO UNU (1995) adalah konsumsi yang diperlukan untuk mencegah kehilangan protein tubuh dan memungkinkan produksi protein yang diperlukan dalam masa pertumbuhan, kehamilan, atau menyusui. Bahan makanan hewani merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Sumber protein nabati seperti kacang kedelai dan hasilnya, seperti tempe dan tahu, serta kacang kacangan lain. Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati yang mempunyai mutu atau nilai biologi yang tertinggi (Almatsier, 2003). D. Tingkat Konsumsi Energi dan Protein Setiap makhluk hidup memerlukan makanan untuk melangsungkan kehidupannya. Demikian pula manusia membutuhkan makanan agar selalu hidup sehat sempurna, sehingga dapat melakukan berbagai kegiatan atau pekerjaan selama hidupnya. Untuk itu, dibutuhkan berbagai jenis bahan makanan yang mengandung zat-zat gizi yang cukup sebagai sumber tenaga, zat pembangun, dan zat pengatur. Konsumsi makanan adalah jenis dan banyaknya makanan yang dapat diukur dengan jumlah bahan makanan atau jumlah kalori dan zat gizi. Dalam praktek sehari-hari, konsumsi makanan selain diperhitungkan dari ketersediaan bahan makanan, juga harus disesuaikan dengan berat badan, tinggi badan, umur, dan jenis kelamin.

Pada dasarnya, konsumsi makanan dipengaruhi oleh dua faktor pokok, yaitu internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang ada pada manusia itu sendiri. Faktor internal ini dapat dibedakan dalam dua golongan, yaitu yang bersifat emosi / kejiwaan dan bersifat kebiasaan. Contohnya: larangan makan ikan pada anak-anak yang sebetulnya sangat membutuhkan protein. Faktor eksternal adalah faktor yang ada di luar manusia, misalnya: bahan makanan yang disediakan oleh alam sekitarnya, daya beli, dan sebagainya. Konsumsi makanan juga berbeda antara anak-anak dan orang dewasa, perempuan dan laki-laki, atau berbeda jenis kegiatannya. Apabila dilihat dari segi pemeliharaan dan pengaturan, makanan bayi dan anak usia di bawah lima tahun (balita), dapat dibagi dalam beberapa tahapan sebagai berikut: 1. 2. Tahapan pada masa air susu ibu (ASI) merupakan satu-satunya sumber zat gizi bagi anak, yaitu ketika lahir hingga usia 6 bulan. Tahapan di mana anak sudah memerlukan makanan pendamping selain ASI (6-8 bulan). Karena ASI tidak dapat lagi memenuhi kebutuhan anak akan berbagai zat gizi. 3. 4. Tahapan anak mulai dapat menerima makanan biasa dengan ASI sebagai penambah (9 bulan sampai 2 tahun). Tahapan usia 2-5 tahun. Pada masing-masing tahap usia, baik jumlah maupun bentuk makanan yang diberikan kepada anak berbeda sesuai dengan perkembangan tubuh serta masalah gizi dan kesehatan yang sering ditemukan. Kecukupan gizi yang dianjurkan (AKG) adalah kecukupan rata-rata zat gizi setiap hari bagi semua orang menurut golongan umur, jenis kelamin, ukuran tubuh, dan aktifitas fisik untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal (Almatsier, 2003). Angka kecukupan gizi yang dianjurkan didasarkan pada patokan berat badan untuk masing-masing kelompok umur, jenis kelamin, dan aktifitas fisik. Patokan berat badan tersebut didasarkan pada berat badan orang-orang yang mewakili sebagian besar penduduk yang mempunyai derajat kesehatan yang optimal (Almatsier, 2003).

TABEL 1 ANGKA KECUKUPAN ENERGI DAN PROTEIN RATA-RATA YANG DIANJURKAN UNTUK ANAK No Kelompok Berat badan Tinggi badan Energi Protein umur (kg) (cm) (kkal) (g) 1 0-6 bl 6 60 550 10 2 7-12 bl 8.5 71 650 16 3 1-3 th 12 90 1000 25 4 4-6 th 17 110 1550 39 Sumber : Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, 2004 E. Sumbangan Energi dan Protein Sarapan Pagi Sarapan pagi yang baik harus mengandung 20-30% jumlah zat gizi yang dibutuhkan dalam sehari. Susunan menu sarapan pagi sebaiknya sama dengan susunan makan siang dan makan malam, yang terdiri dari zat tenaga, sumber zat pembangun, dan sumber zat pengatur. Jenis makanan yang dihidangkan hendaknya yang mudah disiapkan segera. Sebagian lauk-pauk dapat pula dimasak sekalian dari makan malam sebelumnya (Roedjito, 1989). Komposisi kebutuhan zat gizi dan energi untuk sehari dibagi dalam tiga bagian utama, yaitu: makan pagi sebanyak 20-30%, makan siang sebanyak 40-50%, dan makan malam sebanyak 30-40%. (Roedjito, 1989). F. Cara Pengukuran Konsumsi Makanan Penilaian konsumsi makanan adalah mempelajari seluk-beluk tentang makanan, menelaah jumlah makanan yang dikonsumsi masuk ke dalam tubuh dan membandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Sehingga diketahui kecukupan gizi yang dapat dipenuhi. Pengukuran konsumsi makanan merupakan salah satu penilaian status gizi secara tidak langsung. Pengukuran dapat dilakukan dengan berbagai metode, yaitu sebagai berikut: 1. Recall yaitu mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi selama 24 jam yang lalu. 2. Pencatatan dan Penimbangan Makanan (Food Record and Weighting), yaitu mencatat semua makanan dan minuman setiap kali sebelum makan berikut ukuran / berat makanan tersebut dengan dilakukan penimbangan.

3. Dietary History, yaitu mencatat makanan yang dimakan pada waktu lalu. Cara ini bertujuan untuk mengetahui konsumsi makanan sesungguhnya dari seseorang berdasarkan pengamatan dalam jangka waktu cukup lama. 4. Frekuensi Makanan (Food Frequency), yaitu menentukan konsumsi makanan jadi dalam suatu periode tertentu sepanjang hari, minggu, bulan, atau tahun. (Supariasa, dkk., 2002). G. Kerangka Teori
Pendapatan, lapangan kerja, pendidikan, kemampuan sosial Kesehatan Produksi pertanian

Keadaan gizi Konsumsi makanan Kemampuan keluarga menggunakan makanan Pengolahan bahan makanan

Distribusi bahan makanan dan faktor harga Tersedianya bahan makanan Dapat diperolehnya bahan makanan

10

Sumber: Supariasa, 2002.

H. Kerangka Konsep Sumbangan Energi Sarapan Pagi Pendidikan Ibu

Pengetahuan Gizi Ibu Sumbangan Protein Sarapan Pagi

I. Hipotesis 1. Ada hubungan pendidikan ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi. 2. Ada hubungan pendidikan ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi. 3. Ada hubungan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi. 4. Ada hubungan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi.

11

BAB III METODE PENELITIAN

a. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan explanatory research yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan 2 variabel atau lebih. Metode yang digunakan adalah survai dengan wawancara menggunakan kuesioner, pendekatan penelitian adalah crossectional yaitu variabel sebab dan akibat diambil pada waktu yang bersamaan (Notoatmodjo, 2002).

b. Tempat dan Waktu Penelitian Tempat penelitian yaitu Taman Kanak-kanak Masyitoh 08 Kramatsari Pekalongan. Waktu penelitian dimulai pada bulan September 2007 - Mei 2008 sampai dengan selesai, yang dimulai dari pembuatan proposal sampai penyelesaian laporan akhir. Pengambilan data dilakukan pada bulan MaretApril 2008.

c. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah semua murid TK Masyitoh 08 Kramatsari Pekalongan yang berjumlah 53 anak. Seluruh anggota populasi diteliti. Responden adalah ibu dari murid TK Masyitoh 08 yang diteliti.

d. Jenis dan Cara Pengambilan Data Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder dengan wawancara. 1. Data Primer Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari responden dengan cara wawancara berpedoman pada kuesioner meliputi

12

data identitas responden (nama, umur, pendidikan, status pekerjaan ibu), identitas anak, pengetahuan gizi ibu, menu sarapan pagi. 2. Data Sekunder Data sekunder merupakan gambaran umum TK Masyitoh 08 Kramatsari Pekalongan meliputi data siswa dan keadaan sekolah.

e. Pengolahan dan Analisis Data 1. Pengolahan Data Data yang diperoleh diedit untuk diperiksa apakah ada kekeliruan dalam pengisian, kemudian diolah dan dianalisis dengan menggunakan alat bantu komputer program SPSS for Windows versi 11.5. a. Data pendidikan ibu diperoleh dari lama sekolah (tahun) yang telah diselesaikan dengan sukses oleh ibu. Kemudian dikelompokkan berdasarkan pendidikan formalnya, yaitu: SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi. b. Pengetahuan gizi diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan pada kuesioner. Setelah terisi, dilakukan skoring berdasarkan jawaban, bila benar nilainya 1 (satu), dan bila salah diberikan nilai 0 (nol). Selanjutnya, hasil perhitungan tersebut dikatagorikan menurut Ali Khomsan (2000), dan diberi kode, yaitu: 1 = Baik, jika > 80%. 2 = Sedang, jika 60%-80%. 3 = Kurang, jika < 60%.
skor jawaban responden x100% jumlah nilai tertinggi Perhitungan skor jawaban=

c. Konsumsi Energi dan Protein diperoleh dari hasil recall sarapan pagi anak. 1) Sumbangan energi sarapan pagi terhadap AKG

13

Konsumsi energi diolah dengan komputer program Nutrisurvey, yang selanjutnya dimasukkan dalam rumus: konsumsi energi sarapan pagi x100% AKG Sumbangan energi = Selanjutnya dikategorikan menjadi: cukup (20-30%) dan kurang (< 20%). Bila di atas 30% dikategorikan cukup (Roedjito, 1989). 2) Angka Kecukupan Energi Angka kecukupan energi diperoleh dari berat badan aktual anak dibagi berat badan yang ditetapkan, dikalikan dengan AKG. BBA xAKG (energi) AKE= BBI Keterangan: BBA BBI AKE = Berat Badan Aktual = Berat Badan Ideal = Angka Kecukupan Energi sesudah dikoreksi dengan BB 3) Sumbangan protein sarapan pagi terhadap AKG Konsumsi protein diolah dengan komputer program Nutrisurvey, yang selanjutnya dimasukkan dalam rumus: Sumbangan protein = konsumsi protein sarapan pagi x100% AKG Selanjutnya dikategorikan menjadi: cukup (20-30%) dan kurang (< 20%). (Roedjito, 1989). 4) Angka Kecukupan Protein Angka kecukupan protein diperoleh dari berat badan aktual anak dibagi berat badan yang ditetapkan, dikalikan dengan AKG. BBA xAKG ( protein) AKP= BBI Keterangan: BBA BBI AKP = Berat Badan Aktual = Berat Badan Ideal = Angka Kecukupan Protein sesudah

AKG (energi) = Angka Kecukupan Energi

AKG (protein)= Angka Kecukupan Protein

14

dikoreksi dengan BB 2. Analisis Data Analisis univariat digunakan untuk mengetahui distribusi frekuensi, nilai rata-rata, nilai maksimal, nilai minimal, dan standar deviasi, yaitu: sumbangan energi, sumbangan protein, pendidikan ibu, dan pengetahuan gizi ibu. Data hasil penelitian yaitu data pendidikan (dalam tahun), pengetahuan gizi (%), dan sumbangan energi dan protein (%) yang diuji kenormalannya menggunakan Kolmogorov Smirnov Test. Data berdistribusi normal dan tidak normal sehingga diuji dengan uji korelasi Pearson dan uji Rank Spearman . Sedangkan hubungan antar variabel dilakukan uji korelasi person product moment dan uji Rank Spearman. Analisis dilakukan dengan alat bantu komputer menggunakan program SPSS Versi 11,5.

f. Definisi Operasional 1. Pendidikan Ibu adalah banyaknya tahun sekolah yang dilewati ibu dengan sukses, diukur dengan jumlah tahun sekolah ibu sampai dengan tahun terakhir. (Interval) Pada analisis deskriptif, akan dikelompokkan menjadi: 1 2 3 4 = SD, 0-6 tahun = SLTP, 7-9 tahun = SLTA, 10-12 tahun = PT, > 13 tahun

2. Pengetahuan Gizi ibu adalah kemampuan ibu untuk menjawab pertanyaanpertanyaan yang berhubungan dengan gizi. Skor diberikan berdasarkan jawaban pertanyaan yang ada, kemudian dihitung dibandingkan dengan total jawaban benar dan dikalikan 100%. (Rasio) 3. Sumbangan energi sarapan pagi adalah jumlah energi yang didapat dari sarapan pagi yaitu makanan yang dimakan sejak bangun tidur sampai

15

sebelum berangkat sekolah (pukul 08.00 WIB), kemudian dibagi dengan AKG (energi), dinyatakan dengan satuan persen (Rasio). 4. Sumbangan protein sarapan pagi adalah jumlah protein yang didapat dari sarapan pagi, yaitu makanan yang dimakan sejak bangun tidur sampai sebelum berangkat sekolah (pukul 08.00 WIB), kemudian dibagi dengan AKG (protein), dinyatakan dengan satuan persen (Rasio).

16

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum TK Masyitoh 08 1. Anak Didik TABEL 2 JUMLAH SISWA Jumlah anak didik 2004 - 2005 2005 - 2006 24 anak didik 28 anak didik 38 anak didik 49 anak didik 62 anak didik 77 anak didik

Kelas A B Jumlah

2006 - 2007 29 anak didik 37 anak didik 53 anak didik

2. Keorganisasian KB/TK Masyithoh 08 Kramatsari ini diselenggarakan oleh lembaga pendidikan Muslimat NU Masyithoh Ranting Kramatsari Pekalongan. Lokasi KB/TK Masyithoh 08 Kramatsari berada di Jl. AMD Kramatsari Pekalongan yang masih berada di wilayah kelurahan Kramatsari Pekalongan. Sebelah utara berbatasan dengan desa Pabean, sebelah selatan berbatasan dengan Puskesmas Kramatsari, sebelah barat berbatasan dengan desa Pasirsari, sebelah timur berbatasan dengan Kantor Kelurahan Kramatsari Pekalongan. 3. Kondisi Fisik a. Gedung Gedung/ruangan dari KB/TK Masyithoh 08 Kramatsari merupakan hasil dari usaha penyelenggara pendidikan yakni, Muslimat NU Ranting Kramatsari dalam rangka Peningkatan Sumber Daya Manusia Sejak Dini. b. Fasilitas Pendidikan Untuk menunjang perkembangan potensi anak didik, pendidik memberikan fasilitas berupa ekstra kurikuler BTQ (baca tulis alquran), melukis dan mewarnai, sempoa, drumband, berenang, dan

17

tari. TK Masyitoh 08 tidak memiliki kantin dan tidak ada penjual jajanan. Tetapi ada jadwal makan siang setiap hari untuk anak TK. 4. Data Guru TK Masyitoh 08 memiliki 7 orang guru yang berasal dari berbagai tingkat pendidikan, yaitu 3 orang lulusan SLTA dan S1, serta 1 orang lulusan D3. Semua guru yang ada di TK Masyitoh 08 memiliki status guru tetap.

B. Gambaran Umum Ibu 1. Pendidikan Ibu TABEL 3 DISTRIBUSI IBU BERDASARKAN PENDIDIKAN Pendidikan Ibu n % Tamat SD (0-6 tahun) 6 10,5 Tamat SLTP (7-9 tahun) 6 10,5 Tamat SLTA (10-12 tahun) 34 59,6 Tamat PT (>/= 13 tahun) 7 12,3 Total 53 100,0 Berdasarkan Tabel 3 pendidikan ibu dapat diketahui yang paling banyak adalah pendidikan tamat SLTA (10-12 tahun) dengan persentase (59,6%) Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, akan lebih mudah mendapat informasi tentang makanan seimbang dan pola makan yang baik. Pada umumnya salah satu faktor yang berperan dalam pengetahuan seseorang adalah tingkat pendidikan. Sehingga dengan tingkat pendidikan yang tinggi akan semakin baik pengetahuannya, karena dengan pendidikan yang lebih tinggi seseorang lebih mudah menerima hal-hal baru yang berpengaruh pada sikap yang positif (Singarimbun, 1998). 2. Pengetahuan Ibu TABEL 4 DISTRIBUSI IBU BERDASARKAN PENGETAHUAN Pengetahuan Ibu n % Kurang 0 0 Sedang 1 1,9 Baik 52 98,1 Total 53 100,0

18

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa hampir semua ibu masuk dalam katagori pengetahuan gizi baik yaitu sebanyak 52 orang (98,1 %). Pengetahuan gizi ibu sangat berpengaruh pada terpenuhinya kebutuhan gizi anak Biasanya, pengetahuan gizi ibu dan status gizi anak berbanding searah. Artinya, bila pengatahuan gizi ibu tinggi, maka status gizi anak juga baik (Roedjito, 1989). 3. Sumbangan Energi Sarapan Pagi Untuk memenuhi kecukupan zat-zat gizi, diperlukan konsumsi makanan yang bergizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak dalam jumlah yang cukup, baik frekuensi dan macamnya. Rata-rata asupan energi sarapan pagi dari 53 anak pra sekolah adalah 250,615 Kkal 76,9. Asupan yang terendah adalah 98,3 Kkal dan tertinggi adalah 392,4 Kkal. Anak pra sekolah dengan asupan terendah karena menu ibu berupa teh manis dan pisang goreng, sedangkan menu anak pra sekolah dengan asupan tertinggi yaitu menu lengkap dan susu. Sumbangan energi sarapan pagi dibandingkan dengan AKG, dari 53 anak, sumbangan terendah 6,3 % dan tertinggi 25,3 %. Sedangkan ratarata sumbangan energi sarapan pagi adalah sebesar 16,150 %. Adapun distribusi anak pra sekolah berdasarkan sumbangan energi dapat dilihat pada Tabel 5. TABEL 5 DISTRIBUSI ANAK PRA SEKOLAH BERDASARKAN SUMBANGAN ENERGI Katagori Kurang Cukup Total n 41 12 53 % 77,4 22,6 100,0

Hasil perhitungan sumbangan energi (77,4%) dalam katagori kurang dan (22,6%) berada pada katagori cukup. Keadaan ini bisa jadi disebabkan karena anak pra sekolah tidak sempat sarapan atau orang tua yang tidak menyiapkan sarapan pagi bagi keluarganya. 4. Sumbangan Protein Sarapan Pagi

19

Anak pra sekolah membutuhkan zat-zat gizi yang mencukupi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Rata-rata asupan protein sarapan pagi adalah 10,608 gr 3,9. Asupan protein terendah adalah 4,3 gr dan tertinggi adalah 21,2 gr. Anak pra sekolah dengan asupan terendah karena menu sarapan berupa teh manis dan pisang goreng, sedangkan menu anak pra sekolah dengan asupan tertinggi yaitu menu lengkap dan susu. Sumbangan protein sarapan pagi dibandingkan dengan AKG, dari 53 anak, sumbangan protein terendah 11,0 % dan tertinggi 54,4 %. Sedangkan rata-rata sumbangan protein sarapan pagi adalah sebesar 27,157 %. Adapun distribusi anak pra sekolah berdasarkan sumbangan protein dapat dilihat pada Tabel 6. TABEL 6 DISTRIBUSI ANAK PRA SEKOLAH BERDASARKAN SUMBANGAN PROTEIN Katagori Kurang Cukup Total n 19 34 53 % 35,8 64,2 100,0

Hasil perhitungan sumbangan protein anak pra sekolah 35,8% dalam katagori kurang dan 64,2% dalam katagori cukup. Keadaan ini disebabkan karena daerah ini berada di pesisir pantai yang menyebabkan masyarakatnya mudah untuk mendapatkan bahan makanan sumber protein terutama protein hewani.

C. HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU DENGAN SUMBANGAN ENERGI SARAPAN PAGI ANAK PRA SEKOLAH Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi anak. Menurut teori, terdapat hubungan perilaku terhadap kepercayaan diri dan tanggung jawab dalam memilih makanan. Tingkat

20

pendidikan yang rendah bisa mempengaruhi penerimaan terhadap informasi tentang gizi, sehingga pengetahuan akan terbatas. Hubungan Pendidikan Ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi dapat dilihat pada gambar 1:
30

20

sumbangan energi

10

0 4 6 8 10 12 14 16 18

pendidikan ibu dalam tahun

GAMBAR 1 HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU DENGAN SUMBANGAN ENERGI SARAPAN PAGI ANAK PRA SEKOLAH Pada Gambar 1 bisa diketahui bahwa ada kecenderungan semakin baik pendidikan ibu diikuti dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Namun, hasil analisis data dengan menggunakan Rank Spearman diperoleh nilai r : 0,126 dengan p = 0,368 > 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah. Hal ini dikarenakan sebagian ibu yang bekerja tidak sempat menyiapkan sarapan pagi yang lengkap. Selain itu, bisa jadi disebabkan faktor ekonomi yang tidak mendukung ibu untuk menyiapkan sarapan pagi dengan susunan menu yang lengkap karena harga kebutuhan yang semakin meningkat.

D. HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU DENGAN SUMBANGAN PROTEIN SARAPAN PAGI ANAK PRA SEKOLAH Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi konsumsi anak. Menurut teori, terdapat hubungan perilaku terhadap

21

kepercayaan diri dan tanggung jawab dalam memilih makanan. Tingkat pendidikan yang rendah bisa mempengaruhi penerimaan terhadap informasi tentang gizi, sehingga pengetahuan akan terbatas. Hubungan pendidikan ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah dapat dilihat pada Gambar 2:
60

50

40

sumbangan protein

30

20

10 4 6 8 10 12 14 16 18

pendidikan ibu dalam tahun

GAMBAR 2 HUBUNGAN PENDIDIKAN IBU DENGAN SUMBANGAN PROTEIN SARAPAN PAGI Pada Gambar 2 bisa diketahui bahwa ada kecenderungan semakin baik pendidikan ibu diikuti dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Namun dari hasil analisis data dengan menggunakan uji statistik Rank Spearman diperoleh nilai r= -0,036 dengan p = 0,796 > 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah. Pada hasil penelitian ini menerangkan, bahwa semakin tinggi pendidikan ibu tidak diikuti dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Hal ini bisa terjadi karena ibu sudah menyiapkan sarapan pagi, tetapi hanya berupa nasi bungkus yang susunan menunya tidak seimbang dimana kandungan protein sarapan pagi tersebut rendah, nasi bungkus hanya berisi nasi dan megono (urap nangka muda) saja, sehingga zat gizi terutama protein yang dikonsumsi tidak mencukupi.

22

E. HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN SUMBANGAN ENERGI SARAPAN PAGI ANAK PRA SEKOLAH Pengetahuan gizi ibu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah. Hubungan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi dapat dilihat pada Gambar 3:
30

20

sumbangan energi

10

0 70 80 90 100

pengetahuan

GAMBAR 3 HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN SUMBANGAN ENERGI SARAPAN PAGI Pada gambar 3 bisa diketahui bahwa ada kecenderungan semakin baik pengetahuan gizi ibu diikuti dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Namun dari hasil analisis data dengan menggunakan uji statistik Pearson diperoleh nilai r : 0,217 dengan p = 0,118 > 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah. Pada hasil penelitian ini menerangkan bahwa semakin baik pengetahuan gizi ibu tidak selalu diikuti dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Hal ini dapat disebabkan ketrampilan ibu yang kurang dalam penyajian bahan makanan untuk anak pra sekolah. Karena anak usia pra sekolah biasanya menyenangi makanan yang tampilannya menarik. Bila ibu menyiapkan makanan yang kurang menarik, anak biasanya tidak mau sarapan.

23

F. HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN SUMBANGAN PROTEIN SARAPAN PAGI ANAK PRA SEKOLAH. Pengetahuan gizi ibu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sumbangan protein anak pra sekolah. Hubungan pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan protein sarapan anak pra sekolah dapat dilihat pada gambar 4:
60

50

40

sumbangan protein

30

20

10 70 80 90 100

pengetahuan

GAMBAR 4 HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI IBU DENGAN SUMBANGAN PROTEIN SARAPAN PAGI Pada gambar 4 bisa diketahui bahwa ada kecenderungan semakin baik pengetahuan gizi ibu diikuti dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Namun dari hasil analisis data dengan menggunakan uji statistik Pearson diperoleh nilai r : 0,132 dengan p = 0,346 > 0,05 menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah. Pada hasil penelitian ini menerangkan bahwa semakin baik pengetahuan gizi ibu tidak selalu diikuti dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah yang baik pula. Hal ini bisa terjadi dikarenakan ibu yang bekerja merasa repot menyiapkan sarapan pagi bagi anak pra sekolah. Sehingga anak pra sekolah hanya sarapan seadanya.

24

G. KELEMAHAN PENELITIAN Dalam penelitian perhitungan recall sarapan pagi hanya makanan yang dimakan sejak bangun tidur sampai sebelum berangkat sekolah (pukul 08.00 WIB) sedangkan makan pada jam istirahat dan makan lebih dari jam 08.00 sampai dengan sebelum makan siang tidak diperhitungkan.

25

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

i.

KESIMPULAN 1. Sebagian besar pendidikan ibu adalah tamat SLTA sebanyak (59,6%). 2. Hampir semua ibu masuk dalam katagori pengetahuan gizi baik yaitu sebanyak (98,1 %). 3. Rata-rata sumbangan energi adalah 16,150 %. 4. Rata-rata sumbangan protein adalah 27,157 %. 5. Tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah. 6. Tidak ada hubungan antara pendidikan ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah. 7. Tidak ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan energi sarapan pagi anak pra sekolah. 8. Tidak ada hubungan antara pengetahuan gizi ibu dengan sumbangan protein sarapan pagi anak pra sekolah.

ii.

SARAN 1. Perlu adanya penyuluhan gizi tentang pentingnya sarapan pagi bagi anak pra sekolah bagi ibu. Meskipun tidak ada hubungan pada masing-masing variabel, tetapi ibu harus paham bahwa sarapan penting untuk proses belajar anak selama di sekolah. Sehingga ibu harus memperbaiki menu sarapan pagi, baik kualitas maupun kuantitas agar kebutuhan energi dan protein anak pra sekolah tercukupi. 2. Guru-guru di TK Masyitoh 08 Pekalongan harus memberikan nasihat kepada anak-anak agar sarapan pagi terlebih dahulu sebelum berangkat sekolah.

26

3. Menyarankan kepada pihak sekolah untuk menyediakan buku pemantuan sarapan pagi, sehingga ibu memprioritaskan sarapan pagi dengan menu lengkap. 4. Memberi saran kepada pihak sekolah agar jadwal makan siang bersama yang biasa dilakukan di sekolah kadang kala waktunya diubah menjadi sarapan pagi bersama.

27