P. 1
Ilmu_Bahan_2

Ilmu_Bahan_2

|Views: 37|Likes:
Dipublikasikan oleh Bernard Tofan
Mata Kuliah Ilmu Bahan Plastik
Mata Kuliah Ilmu Bahan Plastik

More info:

Published by: Bernard Tofan on Jul 05, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2013

pdf

text

original

Sections

  • Perbandingan Faktor Harga
  • Blok Pembentuk Polimer
  • Sintesa Makromolekul
  • Penulisan formula
  • Berat Molekul (Molecular Weight)
  • Periodic Table of Elements
  • Molecular Weight Distribution (MWD)
  • Polimerisasi -Poliadisi
  • Polimerisasi –Poliadisi VS Polikondensasi
  • Polimerisasi
  • Tacticity (stereoregular) Polimer
  • Morphology
  • Polimer Amorphous & Semi Kristal
  • Derajad Kristal (Degree of Crystallinity)
  • Sifat –Sifat Mekanis Polimer
  • Sifat –Sifat Mekanis
  • Efek suhu dan kecepatan regangan
  • Fraktur
  • Fraktur pada Amorphous
  • Fraktur pada Semi-Kristal
  • Creep & Relaxation
  • Kekerasan (Hardness)
  • Rockwell Method
  • Shore Hardness
  • Sifat –sifat Mekanis
  • Sifat –sifat Thermal
  • Efek Perubahan Thermal pada Plastik
  • Sifat –sifat alir
  • Polyolefin
  • Polyethylene (PE)
  • Polypropylene (PP)
  • Poly Vinyl Chloride (PVC)
  • Polystyrene (PS)
  • High Impact Polystyrene (HIPS)
  • Polycarbonate (PC)
  • Polyamide (Nylon)
  • Penyerapan Kelembaban
  • Keuntungan dan Kerugian
  • Aplikasi -Automotive
  • Polyoxymethylene (POM)
  • Perbandingan dengan Bahan lain
  • Aplikasi
  • PMMA (Polymethylmethacrylate)
  • Kode Plastik Identifikasi Bahan
  • Bahan Tambah dan Bahan Pengisi
  • Antioxidant
  • UV/Light -Stabilizer
  • Lubricant
  • Efek Lubricant
  • Processing Aid
  • Flame Retardant
  • Filler
  • Efek penambahan Filler
  • Viscositas dan Kontrol thermal selama Crosslinking
  • Amino Plastic (UF & MF)
  • Crosslinking saat pembentukan Polimer
  • Bahan tambah untuk Thermoset Polyester

9/15/2011

1
Ilmu Bahan 2 Ilmu Bahan 2
Polimer & Komposit
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
1
Klasifikasi Bahan
Metal Keramik Polimer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Komposit
1
9/15/2011
2
Klasifikasi Bahan
Karakteristik Plastik dibandingkan Metal atau Keramik
Karakteristik Keuntungan Kerugian
Titik lebur rendah Mudah diproses Rentang suhu pemakaian kecil Titik lebur rendah Mudah diproses Rentang suhu pemakaian kecil
Regangan tinggi Kerapuhan kecil Tendensi creep tinggi, batas
mulur rendah
Massa jenis rendah Produk ringan Kekuatan struktural rendah
Daya hantar panas rendah Insulator panas yang baik Penyebaran panas buruk
Hambatan listrik baik Insulator listrik yang baik Tidak menghantar listrik
Jernih scr optical (amorph) Berguna untuk bahan Degradasi akibat matahari
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
transparan
Mudah diwarnai Tanpa perlu pengecatan Sulit mencari match warna
Sensitive thd larutan Dapat digunakan berupa
larutan
Dapat terpengaruh oleh
larutan
Mudah terbakar Sampah mudah dibakar Bahaya kebakaran
1
Polimer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
1
9/15/2011
3
Definisi
 Polymer (bahasaYunani), Poly: banyak; Mers: partikel. Molekul yang
terbentukdari pengulanganbanyakpartikel sejenis(repeating units /
monomer) melalui reaksi kimia.
M l l t 10000hi 1000000 / l b di k d  Massa molecul antara10000 hingga1000000 g/mol, bandingkandengan
air (18 g/mol), gula(342 g/mol)
 Polimerisasi: prosesreaksi pembentukanpolimer
 Resin: polymer yang siapuntukproseslanjut.
 Polimer jarangdigunakandalamkomposisi origin, seringkali dicampur
denganberbagai bahantambah(additives) hasilnyadisebutplastik. Plastik
adalahpolimer teknik.
 Polimer alami: organikatauinorganik
O ik d l k d d l j i t b h( ll l t i
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Organik: dalammakanandandalamjaringantubuh(cellulosa, protein,
starch), pakaian(wool, katun, sutra),
 Inorganik: graphit, asbes, talcum, mica, kwarsa
 Polimer Semi Sintetis: rantai molekul tumbuhpadaorganismehidup
 Polimer Sintetis
1
History
 Polimer natural digunakan sejak lama, tahun 1400 an Christoper Columbus
menjumpai penduduk asli Haiti bermain bola dengan bahan getah kayu karet
 Ch l G d b hk lf d k t l t k i k t  Charles Goodyear menambahkan sulfur pada karet alam untuk peningkatan
properties
 1900, Bakelite membuat polimer sintetis dari campuran Phenol dan
Formaldehyde (Baekeland)
 Tahun 1920 Herman Staudinger menyatakan bahwa polimer adalah
makromolekul
 1928 Carothers mengembangkan Polyester linear dan Polyamide
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 1950 Ziegler & Natta menggunakan katalis untuk pembuatan Polypropylene,
HDPE
1
9/15/2011
4
OIL
100%
FUEL
70%
PETROL
20%
OTHERS
10%
70% 20%
10%
CHEMICAL RAW
SUBSTANCES
7%
CAR PETROL
13%
PLASTICS
OTHER CHEMICAL
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
PLASTICS
4%
PRODUCT
3%
PE, PP, PVC, PA, PS, PMMA, PTFE, PET, PBT, etc
1
Beberapacontoh
 Polimer semi sintetis : dari kayu(celluloid, cellophane, cellulose plastics),
dari susu(casein), latex karet.
 Polimer sintetis: sintesadari komponenmolecular rendah, umumnya
monomer organikyang diambil dari fossil fuel. Dapat dikategorikandalam
2j i b h i t (b t b ) t h i t ( i kd l ) 2 jenis: carbochemistry (batubara), petrochemistry (minyakdangas alam)
 Carbochemistry:
 Batubara dapat diprosespyrolisispadasuhu800°C menghasilkanhydrocarbon
 Petrochemistry: dari destilasi minyak mentahdihasilkanbeberapajenis
bahanbakar (kerosine, petrol, gasoline) plus residu. Denganvacuum
distillation danthermal cracking menghasilkankomponenlebihringan.
Thermal cracking dari hydrocarbon jenuhjugamenghasilkanunsaturated
hydrocarbon denganC double bond yang akhirnyadigunakansebagai
monomer.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
1
9/15/2011
5
Rantai Industri Plastik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
1
Material Plastik
Thermoplast Thermoset Elastomer
Semi-crystalline Amorphous EPOXY
Natural
Sintetis LCP y p
PP
PE
PET
PBT
PC
PS
PPS
PPO
Melamine
UP
SBR
NBR
FPM
CR
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
POM
PA
PVC
ABS
PMMA
CR
Klasifikasi berdasarkan struktur internal
1
9/15/2011
6
Perbandingan Faktor Harga
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
1
Blok Pembentuk Polimer
 Hydrogen
 Carbon (kunci)  Carbon (kunci)
 Oxygen
 Nitrogen
 Fluorine
 Silicon
 Sulfur
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Chlorine
1
9/15/2011
7
Thermoplastik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
1
LCP PI PPS PEEK PSU PES PEI
PA 11 PA 12
High-tech plastics
PA 6 PA 66 PC PBT POM ABS
SAN PMMA TPU
(PBT+PC) (PP+EPDM) (ABS+PA)
Engineering plastics
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
HD-PE LD-PE PET PP
PS LLD-PE PVC
Basic / commodity plastic
1
9/15/2011
8
 Thermoplastik adalah polimer dengan berat molekul tinggi yang tidak terikat secara
networking (cross linking)
 Mencakup 70% produksi polymer sintetis
 Susunan struktur linear atau bercabang (branched)
 Saat dipanaskan melunak dan meleleh, yang memungkinkan untuk dibentuk. Saat
didi i k k b li k k l Sikl d dil k k b l didinginkan kembali ke struktur semula. Siklus dapat dilakukan berulang
 Polimerisasi: proses pembentukan makromolekul
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Linear Branched Cross Link
Struktur Primer Polimer
1
 Linear polimer tersusun oleh satu rantai utama
 Branched polymer terdiri atas rantai utama dan cabang-cabang yang menyatu saat
sintesa polimer. Cabang ini mempengaruhi gerakan rantai molekul
 Cross link terdapat titik percabangan yang menyatukan empat atau lebih rantai
 Polimer dengan derajad cross link tinggi disebut polimer network  Polimer dengan derajad cross link tinggi disebut polimer network
 Cross link padat dimiliki oleh thermoset, sedangkan cross link longgar dimiliki oleh
elastomer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Thermoset Thermoset Elastomer Elastomer
1
9/15/2011
9
Sintesa Makromolekul
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
n = Derajad polimerisasi
Monomer (repeating unit)
2
Penulisan formula
• Formula di atas adalah penulisan dari monomer ethylene menjadi
makromolekul Polyethylene.
• HDPE terdiri memiliki derajad polimerisasi antara 10000 sampai
100000
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
9/15/2011
10
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
Berat Molekul (Molecular Weight)
 Berat molekul suatu polimer adalah jumlah berat atom dalam
molekul
 Berat atom dapat dilihat pada tabel periodik, misal berat atom
karbon 12g/mol, hidrogen 1 g/mol, oksigen 16 g/mol
 Berat molekul air: ................. g/mol
 Berat molekul methane: ............... g/mol
 Berat molekul benzene: ................ g/mol
 Berat molekul PE dengan n 1000 : .......... g/mol
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
9/15/2011
11
Periodic Table of Elements
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
Rerata Berat Molekul (Average Molecular Weight)
 Dalam sistem polimer riil, proses melibatkan berbagai variasi
panjang rantai.
 Berbeda panjang rantai, berbeda berat molekul.
 Berat moleku secara eksak sulit ditentukan, jumlah n tidak sama.
Karena itu diambil nilai rata-rata yg disebut nilai distribusi.
 Misal: molekul dengan berat A, jumlah yang memiliki berat A adalah
nilai distribusinya
 Histogram akan mewakili bentuk distribusinya (lebar atau sempit),
b t k kili i i b t b d t kili j l h
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
sumbu tegak mewakili variasi berat, sumbu datar mewakili jumlah
nilai berat.
2
9/15/2011
12
Rerata Berat Molekul (Average Molecular Weight)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
Molecular Weight Distribution (MWD)
 MWD adalah variasi ukuran rantai atau berat molekul, merupakan
metode penting untuk karakterisasi polimer
 Distribusi sempit indikasi bahwa hampir semua rantai molekul
memiliki panjang mendekati sama
 Distribusi lebar menunjukkan sebagian molekul memiliki rantai
panjang, sebagian lainnya pendek.
 Distribusi dan rata-rata berat molekul dikendalikan oleh kondisi
polimerisasi
 Ef k di t ib i l b k k t t ik i t t ht k k k
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Efek distribusi lebar: kekuatan tarik, impact strenght, kekakuan,
creep
 Berat molekul rendah: melting point rendah, mudah diproses,
2
9/15/2011
13
Molecular Weight Distribution (MWD)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
Berat Molekul Derajad polimerisasi Fase Bentuk Aplikasi Teknik
200 - 1000 2 - 10 Cair - Padat -
1000 - 20000 10 - 200 Pulver (bubuk) Pelapis
20000 - 75000 200 - 750 Sedikit berserat Injection mold
75000 150000 750 - 15000 Berserat panjang Foil & tape
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
9/15/2011
14
Komposisi Molekul
Struktur rantai: rantai linear terdiri atas „backbone“, rantai utama, dan side group:
 Rantai utama:
 Hanya Carbon
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2
Komposisi Molekul
 Atom Carbon dan oksigen
 Atom Carbon dan Nitrogen
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Atom Carbon dan Nitrogen
2
9/15/2011
15
Komposisi Molekul
 Atom Carbon, oksigen dan Nitrogen
2
 Carbon ring
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Komposisi Molekul
 Side group:
 Yang sering ada adalah side group atom hydrogen (PE, PB, POM)
 Vinyl polymer:
 Vinylidene polymer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Vinylidene polymer
2
9/15/2011
16
Polimerisasi - Polikondensasi
 Step reaction polymerization (Polikondensasi): proses terjadi antara dua fungsi
monomer seringkali disertai dengan pembebasan sejumlah kecil byproduct (berupa
air atau amonia)
 Konsep dasar reaksi: reaksi dari grup fungsi yang berbeda menghasilkan sifat dan
ikatan baru serta pembentukan sisa molekul kecil seperti air
 Misalnya: alkohol dapat bereaksi dengan acid membentuk ester dengan air sebagai
kondensat. Atau amine bereaksi dengan acid membentuk amide, dengan air sebagai
by-product.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
Polimerisasi - Polikondensasi
 Agar terjadi polimerisasi, setiap molekul harus memiliki dua grup fungsi reaktive
(jika tidak reaksi hanya akan terjadi satu kali dan berhenti)
 Monomer yang memiliki dua grup disebut bifunctional, contoh:
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
17
Polimerisasi - Polikondensasi
 Contoh proses kondensasi dari produk komersial Nylon 6/6
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
Polimerisasi - Polikondensasi
Langkah polimerisasi:
1. Dua monomer berbeda (A and B), masing-masing mempunyai dua sisi
aktive,dimasukkan ke dalam bejana reaksi. Material dipanaskan dan diaduk dengan
keras agar terjadi reaksi. (Biasanya tidak diperlukan inisiator atau katalis)
S t j A b k i d t j B t ik t b 2. Satu ujung monomer A bereaksi dengan satu ujung monomer B, satu ikatan baru
terbentuk dan terjadi rantai polimer. Kondensasi air terbentuk
3. Rantai polimer mempunyai grup fungsi aktive pada tiap ujungnya (dalam kasus ini,
satu ujung grup amine, ujung lain grup acid yang dapat kembali bereaksi)
4. Terbentuk rantai polimer yang lebih panjang, air kondensat diambil dengan proses
distilasi saat proses utama berakhir
5. Tidak hanya reaksi antar monomer atau monomer dengan rantai polimer, namun
antar rantai polimer juga dapat bereaksi. Reaksi diakhiri dengan cooling yang akan
mengurangi gerakan grup fungsi untuk bereaksi. Atau dapat juga dengan
menambahkan material dengan satu sisi aktive.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
g
• Repeating unit sama dengan material awal minus H dan OH (elemen air)
• Katalis: zat dalam porsi kecil untuk percepatan reaksi dari reaksi kimia tanpa
mengalami perubahan atau pengurangan, tidak terlibat langsung dalam reaksi. Katalis
bekerja menarik atau mendonorkan elektron
• Contoh produk lainnya: PC
3
9/15/2011
18
Polimerisasi - Poliadisi
 Disebut juga chain growth polymerization, tidak ada pembentukan by-product.
 Contoh: Polyoxymethylene (POM), Polycaprolactone, PP, PVC, PE, PMMA
 Proses melalui tahap:
1. Masukkan monomer yang mengandung carbon-carbon double bond dalam bejana reaksi
(biasanya dalam bentuk gas, juga dalam bentuk cair atau solid meski jarang), konsentrasi bahan
memerlukan tekanan memerlukan tekanan
2. Injeksikan inisiator dalam jumlah kecil ke bejana, reaksi terjadi dengan diawali pembentukan
free radical (molekul yang mengandung elektron tidak berpasangan)
3. Free radical dari peroxide menarik satu dari dua elektron pad ikatan (t), memutuskan ikatan
dan membentuk ikatan baru dengan satu elektron tidak berpasangan (free radical). Free radical
baru ini mendekati carbon lain dan membentuk ikatan baru. Dan seterusnya sehingga
terbentuk growing chain
4. Semakin panjang rantai sehingga peroxide menjadi tidak significant lagi
5. Proses termination: free radical carbon terakhir dipertemukan dengan elektron tidak
berpasanagan dari free radical lain (peroxide atau carbon)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Contoh inisiator:
 Inisiator adalah bahan yang digunakan untuk memulai reaksi dan menyatu dalam reaksi menjadi
bagian dari molekul yang dihasilkan, pelepasan ikatan melalui energi thermal, chemical,
electrochemical atau photochemical
 Benzoyl Peroxide: untuk produksi Polystyrene (PS), mengandung 2 oxygen saat dipanaskan
terpisaj membentuk free radical
 Alumunium Chloride: untuk produksi Isobutyl Synthetic Rubber
3
Polimerisasi –Poliadisi VS Polikondensasi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
19
Polimerisasi
 Jika hanya satu jenis monomer yang dipolimerisasi: Homopolimer
Contoh: Polyethylene (PE)
• Sedangkan polimerisasi untuk dua atau lebih monomer berbeda disebut
Copolimerisasi yang terbagi dalam 4 kategori:
1. Alternating
2. Random
3. Blok
4 Graft
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
4. Graft
• Polymer Blend: adalah pencampuran polimer tanpa melalui reaksi kimia
• Polymer Blend: blending dilakukan dalam kondisi cair. Masalah utama
dalam blending adalah apakah campuran dapat menyatu (miscible)
3
Polimerisasi
• Sintesa Kopolimer dapat dilakukan dari: monomer – monomer, monomer –
polimer atau polimer - polimer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
20
Polimerisasi
Contoh produk komersial Copolymer:
 ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene) adalah blok copolimer dari 3 jenis monomer:
Styrene (40-60%) –Acrylonitrile (15-35%) – Polybutadiene (5-30%)
 St B t di (SBR) d l h lt ti li d i t d b t di  Styrene Butadiene (SBR) adalah alternating copolimer dari styrene dan butadiene
 Etyhlene Vinyl Acetate (EVA) adalah copolimer dari Vinyl Acetate (10-40%) dan
sisanya adalah Ethylene
 Styrene Butadiene Styrene (SBS) adalah blok copolimer dari styrene dan butadiene
 High Impact Polystyrene (HIPS) adalah graft copolimer dari PS pada struktur utama
dan PB pada struktur graft
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
Tacticity (stereoregular) Polimer
 Terbentuk karena katalis yang komplek atau perubahan kondisi polimerisasi, contoh
penurunan temperatur proses
 Berpengaruh pada struktur dan sifat polimer
 Terdiri 3 jenis: isotactic, syndiotactic dan atactic
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
21
Tacticity (stereoregular) Polimer
 Mi lk Z d l h bl k f i  Misalkan Z adalah blok fungsi
 Isotactic: jika Z terletak pada sisi yang sama dalam satu rantai
 Syndiotactic: jika Z terletak pada posisi berganti teratur dalam satu rantai
 Atactic: jika Z tersusun acak dalam satu rantai
 Atactic polimer umumnya amorphous, contoh PS, PVC dan PAN
 Isotactic dan syndiotactic cenderung memiliki derajad kristal tinggi
 At ti PP di k b i dh i I t ti PP d t di k b i
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Atactic PP digunakan sebagai adhesive, Isotactic PP dapat digunakan sebagai
komponen plastik struktural
3
Tacticity (stereoregular) Polimer
Isotactic Polypropylene
Syndiotactic Polypropylene
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Atactic Polypropylene
3
9/15/2011
22
Morphology
 Menurut strukturnya dalam kondisi solid, polimer dikelompokkan menjadi 2:
amorphous dan semi kristal. Morphology berpengaruh pada sifat-sifat polimer
 Amorphous adalah rangkaian tak teratur
 Semi-kristal adalah kombinasi dari rangkaian teratur (kristal) yang dihubungkan oleh
rangkaian tak teratur
 Jumlah kandungan kristal disebut derajad kristal (degree of crystallinity)
 Daerah crystalline lebih rigid, memberi kontribusi kekuatan dan resistansi terhadap
gaya luar dan keburaman (opacity)
 Daerah amorphous memberi kontribusi fleksibilitas dan transparansi
 Tidak seperti metal yang memiliki 100% crystal
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Tidak seperti metal yang memiliki 100% crystal
3
Amorphous Semi-Kristal LCP
Pemanasan Pemanasan Pemanasan
Pendinginan Pendinginan Pendinginan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
23
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
J enis Polimer Amorphous Semi-Kristal LCP
Struktur mikro
Orientasi molekul acak,
dalamkondisi cair
maupun padat
Orientasi molekul acak dalam
kondisi cair, teratur dan kompak
dalamkondisi padat
Struktur
batang
tersusun
pararel
Reaksi terhadap panas
Melunak pada daerah
temperatur lebar
Titik lebur tertentu
Viskositas
cairan rendah
Sifat-sifat umum
Transparansi Transparan Buram(Opaque)
Specific gravity Rendah Tinggi Tinggi
Kekuatan tarik Rendah Tinggi Tertinggi
Modulus elastisitas Rendah Tinggi Tertinggi
Keuletan Tinggi Rendah Terendah
Ketahanan terhadap deformasi
rambatan (creep)
Rendah Tinggi Tinggi
Suhu operasi Rendah Tinggi Tinggi
Performa fatigue Rendah Tinggi
Aliran Rendah Tinggi Tertinggi
Shrinkage & warpage Rendah Tinggi Terendah
Ketahanan terhadap kimia Rendah Tinggi Tertinggi
Penampilan surface Tinggi Rendah
Stabílitas ukuran Tinggi Rendah
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
24
Polimer Amorphous & Semi Kristal
Amorphous
 PC (Polycarbonate)
Semi kristal
 PP (Polypropylene) y
 PS (Polystyrene)
 PVC (Polyvinylchloride)
 PPS (Polyphenylenesufone)
 ABS (Acrylonitrile Butadiene
Styrene)
y y
 PA (Polyamide)
 PE (Polyethylene)
 PET (Polyethylene
Terephtalate)
 PBT (Polybutylene
T ht l t )
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 PMMA / Acrylic
(Polymethylmethacrylate)
 PPO (Polyphenyleneoxide)
Terephtalate)
 POM (Polyoxymethylene)
3
Derajad Kristal (Degree of Crystallinity)
 Adalah porsi kristal dalam material
 Diukur dengan: specific volume, X-ray Diffraction atau IR Spectroscopy
 Besarnya porsi kristal berpengaruh pada peningkatan:
 Densitas
 K k k k k t k l t ( d l l ti it d i ld t th)  Kekakuan, kekuatan, keuletan (modulus elastisitas dan yield strength)
 Ketahanan terhadap panas
 Ketahanan terhadap kimia
 Sebaliknya, sifat-sifat berikut akan mengalami penurunan:
 Kecepatan perpanjangan (elongation rate)
 Ketahanan terhadap beban kejut (impact)
 Transparansi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Ukuran kristal juga tergantung pada kecepatan pendinginan, misalnya pada
bahan semi-kristal dengan kecepatan pembentukan kristal rendah dapat
dihilangkan melalui shock cooling untuk membentuk porsi amorphous
tinggi (contoh PET semi-kristal menjadi transparan)
 Transparansi
 Kecepatan pelepasan gas
3
9/15/2011
25
Derajad Kristal (Degree of Crystallinity)
 Specific gravity (ASTM D 792): Membandingkan berat sample di udara dengan saat
dicelupkan ke air. Ratio berat adalah specific gravity atau density bahan dibanding
dengan density air. Kebanyakan plastik memiliki rentang specific gravity 0.9 hingga
3.0. Ukuran sampel sekitar 1 inch
3
dan ditahan di air dengan bantuan kawat tipis.
 D it b D it G di t T h i (ASTM D 1505) D it t i l  Density by Density-Gradient Technique (ASTM D 1505). Density material
ditentukan dengan membandingkan poin di mana sampel kecil (biasanya pellet) akan
ditahan di cairan yang memiliki variasi density dengan suatu poin suspensi dari bahan
– bahan yang diketahui density nya. Metode ini menggunakan sebuah density-
gradient column yang diisi dua cairan yang saling larut (biasanya air dan ethanol)
dalamvariasi konsentrasi sehingga cairan yang lebih tinggi density nya akan berada
paling bawah, yang paling rendah densitynya berada paling atas. Material-material
yang diketahui densityna dimasukkan ke column. Float akan tenggelamsesuai
densitynya, catat dan plot kedalaman vs density. Kemudian sampel plastik
dimasukkan ke column dan dengan mencatat kedalamannya, density sampel dapat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
dimasukkan ke column dan dengan mencatat kedalamannya, density sampel dapat
dibaca pada diagram kalibrasi.
3
Derajad Kristal (Degree of Crystallinity)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
3
9/15/2011
26
High Crystallinity
PTFE, Acetal,
Low Crystallinity
Moderate Crystallinity
PP, PA, HDPE
PEEK
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Amorphous
PC, PMMA, PS
PVC, LDPE
4
Struktur Molekul PE & PP
4
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9/15/2011
27
Pelipatan Rantai (Conformation)
Terkumpul menjadi kristal lamellar
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Membentuk spherulite
4
 Tahap pertama kristalisasi meliputi pembentukan nuclei / butiran inti kristal
(nucleation) dengan proses cooling dari cairan pada suhu pembekuan (di bawah
melting temperature)
 Saat ukuran terpenuhi, nuclei ini akan menjadi center perkembangan kristal
 Nucleation dipercepat dengan menurunnya suhu (naiknya beda temperatur) T = p p g y ( y p )
Tm –Tc
 Nuclei berkembang menjadi spherulite, T tinggi akan membentuk spherulite lebih
banyak tapi ukuran lebih kecil jika dibanding kondisi sebaliknya
 Kecepatan kristalisasi berbeda pada tiap jenis polimer, tergantung suhu dan panjang
rantai molekul.
 Kecepatan ini dapat ditingkatkan dengan modifikasi eksternal (larutan, plasticizer,
nucleating agent)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
nucleating agent)
4
9/15/2011
28
Proses Kristalisasi PP dari suhu 135 °C
Awal Nucleation Setelah 4 menit Setelah 10 menit
Radius spherulite
akan naik dengan
kecepatan yang
tetap
Pengaruh nucleating agent
tetap
Dengan nucleating agent
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
pembentukan kristal
akan terjadi pada suhu
yang lebih tinggi, kristal
berukuran kecil dan
jumlah banyak.
4
Sifat – Sifat Mekanis Polimer
Faktor yang mempengaruhi sifat mekanis:
• Parameter struktur: rantai ikatan, morpology, orientasi, residual stress, additive
• Parameter pembebanan: jenis beban, periode beban, frekuensi beban,
k t b b h d li k kecepatan beban, suhu dan lingkungan
• Parameter geometris: bentuk, ukuran, retak, garis sambungan, inhomogenities
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
4
9/15/2011
29
Sifat – Sifat Mekanis
• Keuletan adalah kemampuan bahan untuk
menyerap energi mekanis tanpa mengalami
kerusakan
• Batas elastis: tegangan terbesar yang dapat
diaplikasikan pada bahan tanpa menyebabkan
deformasi permanen, kurang lebih pararel
dengan batas proporsional
• Yield point: batas antara limit elastis dan
deformasi plastis
• Deformasi plastis: perubahan bentuk
permanen setelah beban dilepaskan
• Strain (regangan): perubahan dimensi linear
dinyatakan dalam % terhadap panjang awal
• Stress (tegangan): Beban per luasan
• Ultimate stress: batas tegangan yang
mampu ditahan sebelum mengalami patah
4
 True stress-strain: perubahan tegangan yang diikuti perubahan regangan, tidak terjadi
pada situasi plastik secara riil
d d k l h ld b h l
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Engineering stress-strain: terjadi reduksi stress setelah yield point sebagai hasil
penyempitan penampang (necking).
4
9/15/2011
30
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Deformasi plastis terjadi jika tegangan melampaui yield point
Bahan yang memiliki elastisitas baik: thermoplastik elastomer (EPDM) dan rubber
4
 Pengujian sifat mekanis bahan dilakukan dengan membuat bentuk standard specimen
yang diuji: dumbell specimen
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
4
9/15/2011
31
Rigid and tough
x
Rigid and brittle
x
Intrepretasi Uji Tarik
g g
ε [%]
Rigid and strong
x
ε [%]
ε [%]
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Soft and weak
x
ε [%]
Soft but tough
x
ε [%]
4
Definisi:
 Kaku & rapuh: modulus elastisitas tinggi, nilai perpanjangan kecil, patah sebelum
yield (umumnya pada 2 – 5 % perpanjangan), luasan yang kecil indikasi keuletan
rendah. Contoh: PS
 Kaku & kuat: modulus dan kekuatan tarik tinggi, perpanjangan sedang, melampui
i ld C h PVC U yield. Contoh: PVC-U
 Kaku & ulet: modulus tinggi, perpanjangan dan kekuatan cukup, dibutuhkan energi
tinggi untuk mematahkan. Contoh: engineering plastic
 Lunak tapi ulet: modulus rendah tapi nilai perpanjangan tinggi serta diperlukan
energi tinggi untuk mematahkan. Contoh: LDPE, PVC-P
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
4
9/15/2011
32
Tegangan - Regangan
Hukum Hooke:
o = ε.E
μ thermoplastic material ≈ 0.35
μ elastomeric materials ≈ 0.5
μ Steel ≈ 0.3
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Di mana:
Lo: Panjang awal
L: Pertambahan panjang
: Tegangan
F: Beban
A: Luas penampang
: Regangan
: Poisson ratio
E: elastic modulus
4
Efek suhu dan kecepatan regangan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Kurva tegangan-regangan HIPS pada
berbagai variasi suhu
Kurva tegangan-regangan HIPS pada
berbagai kecepatan peregangan
4
9/15/2011
33
Fraktur
 Terjadi jika ikatan molekul terlepas
 Bahan getas akan mengalami fraktur tanpa pemanjangan (yield)
 Bahan ulet akan mengalami fraktur dengan didahului pemanjangan
 Juga dipengaruhi oleh suhu dan kecepatan pembebanan
Elongation % Elongation %
Elongation %
Cold-drawing polymer
Yielding without necking
Neck rupturing polymer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Elongation %
Elongation %
Uniform extension, brittle fracture Slight yielding without necking
4
Fraktur pada Amorphous
J enis fraktur pada amorphous berlainan dengan semi-kristal.
Fraktur pada amorphous: patah geser dan rambatan patah normal
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Patah geser pada ABS Rambatan patah pada PS
4
9/15/2011
34
Fraktur pada Semi-Kristal
Pada batas pembebanan yang melampaui yield point, spherulite akan terurai seperti serat
memanjang (fibril)
a)
b)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
b)
c)
d)
e)
a) Kondisi awal
b) Deformasi pada daerah amorphous
c) Rotasi kristal lamella
d) Pemisahan kristal
e) Terbentuknya serat-mikro (micro-fibril)
4
Fraktur pada Semi-Kristal
Pembentukan micro-fibril dari kristal PE
A) Struktur lamella awal A) Struktur lamella awal
B) Rotasi dan pergeseran lamella
C) Pemisahan kristal individual
D) Terbentuknya micro-fibril
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
4
9/15/2011
35
Creep & Relaxation
 Creep (perambatan)
 Jika plastik menderita beban konstan dalam jangka waktu tertentu, secara gradual ukuran
(bentuk) akan berubah yang jika berlanjut dapat menimbulkan fraktur
 Waktu timbulnya perambatan dipengaruhi oleh besarnya tegangan, temperatur, geometri
benda, struktur molekul, metoda pembuatan
b b d b  Jenis beban dapat berupa tension, puntir, geser
R
Fraktur
a
n

[
%
]
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
P
Q
O
Pemulihan
t
Deformasi
permanen
R
e
g
a
n
g
a
t2 t3
t5
Waktu [jam]
t1
5
Creep & Relaxation
 Faktor yang mempengaruhi creep:
Input pada
Polimer
Panas
(Suhu)
Meningkatkan
creep
Faktor yg
berpengaruh
Tegangan awal
Menurunkan
Creep
Meningkatkan
creep
Derajad
Kristalilasi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Struktur
polimer
Menurunkan
Creep
Menurunkan
Creep
Gaya ikatan
molekul
Crosslinking
Waktu adalah faktor utama yang
berpengaruh pada Creep
5
9/15/2011
36
 Contoh aplikasi creep
Sabuk Kipas radiator
Lantai plastik
Hanger Baju Kantong plastik
Meja Plastik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
5
Creep & Relaxation
 Relaksasi
Menurut Hukum Hooke Menurut Hukum Hooke
o = ε.E
Dalam relaksasi,
o(t) = F(t) / A
o(t) = ε x Er, ε = Constt.
ε = ΔL / Lo
h
L
o
[
m
m
]
b
A = b.h
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
ε ΔL / Lo
F(t1)
ΔL = Constant
F(t2)
5
9/15/2011
37
Kekerasan (Hardness)
• Definisi Ketahanan permukaan terhadap penetrasi objek lain
• Kekerasan adalah nilai empiris bukan properti material
• Macrohardness – Beban >2 N.
• Microhardness - Beban < 2 N
• Nano-hardness – Kekerasan diukur dalam skala panjang 1–10 nm beban sangat kecil
(~100 μN)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
5
Kekerasan (Hardness)
Minor
Load
Minor
Load
Major
Load
Metode Rockwell
Rockwell Hardness Test Parameters
Scale Scale
Minor Load Minor Load
(kg) (kg)
Major Load Major Load
(kg) (kg)
Indentor Diameter Indentor Diameter
(mm) (mm)
Change in indenter depth
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
( g) ( g) ( g) ( g) ( ) ( )
RR 10 10 60 60 12.7 12.7
LL 10 10 60 60 6.35 6.35
MM 10 10 100 100 6.35 6.35
EE 10 10 100 100 3.175 3.175
KK 10 10 150 150 3.175 3.175
5
9/15/2011
38
Rockwell Method
Hardness = 130 - (penetration / scale division)
Rockwell scale division : 0.002 mm penetration of the indentor.
Example: Change in indenter depth 0.12mm, the Rockwell hardness is :
Hardness = 130 - (0.12mm / 0.002mm) = 70
Display of the test result:
70 HRM
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
e.g. 70 HRM
Rockwell scale
Rockwell hardness
Hardness value
5
Shore Hardness
Shore Hardness method for:
rubbers/elastomers
'softer' plastics polyolefins, fluoropolymers, and vinyls
Durometer Durometer
Use Use Indentor Indentor
/ Shore / Shore
Use Use Indentor Indentor
AA
Used for softer Used for softer
materials. materials.
Spring
Pressure load
Indentor
Presser foot
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
DD
Used for harder Used for harder
materials. materials. Specimen
Resilient force
5
9/15/2011
39
Sifat – sifat Mekanis
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
5
Sifat – sifat Thermal
Sifat thermal polimer terindikasi pada:
•Tm (melting point)
•Kecepatan pendinginan (kristalisasi)
•Tg(glasstransitiontemperature) •Tg (glass transition temperature)
•Ekspansi dan penyusutan bahan
•Vicat Softening Temperatur
•HDT
Sifat thermal dipengaruhi oleh
Struktur polimer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
p
Berat Molekul
Kristalinity: Tm akan meningkat dengan peningkatan kristal
Co/Homo polimer
Cross linking
Aditive
5
9/15/2011
40
Sifat – sifat Thermal
Tm(melting point)
 Daerah perubahan dari kondisi lunak ke kondisi cair, tidak dalamtitik eksak tetapi daerah
temperatur
 Ditandai dengan hilangnya bagian kristal pada bahan
 Polymer amorphous tidak memiliki melting point
T ( l t iti t t ) Tg (glass transition temperature)
 Perubahan polimer dari solid menjadi lunak dengan perenggangan rantai molekul
 Perubahan ditandai dengan turunnya nilai modulus (menjadi lebih fleksibel)
 Tg plastik umunya di atas temperatur ruang
 Tg rubber umumnya di bawah temperatur ruang
Td (Decomposition temperature)
 Suhu di mana kemampuan ikatan molekul terlampaui sehingga terjadi putusnya ikatan
 Dekomposisi thermoplast terjadi padakondisi cair padathermoset dalamkondisi padat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Koefisien ekspansi thermal: perubahan panjang bahan jika dipanaskan sebesar 1K
 Konduktivitas panas: kemampuan material menghantarkan panas
 Kapasitas penyerapan panas: Panas / Energi yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1
Kg bahan sebesar 1K
 Dekomposisi thermoplast terjadi pada kondisi cair, pada thermoset dalamkondisi padat
5
Sifat – sifat Thermal
 HDT: suhu di mana bahan polimer padat terdefleksi pada ukuran tertentu
 HDT diukur dengan metode DTUL (Deflection Temperature Under Load –ASTM
D648)
 VST: Suhu di mana bahan padat mulai melunak (ASTM D 1525)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
DTUL Test 5
9/15/2011
41
Sifat – sifat Thermal
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
5
Sifat – sifat Thermal
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Sifat – sifat thermal beberapa plastik
5
9/15/2011
42
Sifat – sifat Thermal
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
5
Fleksibilitas:
 Sifat bahan akan berbeda pada pemakaian di atas atau di bawah suhu
transisi.
 Suhu aplikasi maksimum untuk bahan semi cr stal adalah di ba ah Tm
Efek Perubahan Thermal pada Plastik
 Suhu aplikasi maksimum untuk bahan semi crystal adalah di bawah Tm
 Bahan amorphous kaku, kuat dan rapuh pada suhu di bawah Tg, di atas Tg
bahan melunak dan menjadi lebih ulet
 Tg adalah batasan yang sering digunakan untuk menentukan area
pemakaian bahan.
 Aturan umum untuk amorphous: suhu pemakaian maksimum agar bahan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
tetap rigid: 75 % dari Tg
 Jika diperlukan sifat kelenturan (bukan struktural), gunakan suhu di atas
Tg, jika diperlukan kekakuan dan kekuatan, gunakan di bawah Tg
6
9/15/2011
43
Thermal Degradation:
 Saat terjadi degradasi, sifat fisik dan mekanis akan berubah (kekuatan,
kekakuan dan regangan akan turun)
 Akumulasi energi panas terjadi dalam beberapa cara panas berlebihan
Efek Perubahan Thermal pada Plastik
 Akumulasi energi panas terjadi dalam beberapa cara: panas berlebihan,
pemanasan berulang (thermal history), recycling bahan
Aging
 Jika sejumlah panas diaplikasikan ke polimer dalam waktu lama, stabilitas
thermal akan melampui batasnya dan terjadi degradasi
 Karena sifatnya long term, sulit dideteksi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Pada aging, perubahan kekuatan dan kemampuan regangan berlangsung
secara bertahap dan akhirnya menghasilkan kerapuhan.
 Thermal stabilizer diperlukan untuk perbaikan sifat bahan
6
Sifat – sifat alir
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
9/15/2011
44
Sifat – sifat alir
• Melt Flow Index: metode
sederhana untuk menentukan
karakter alir dari bahan plastik
• Dinyatakan dalam g/10 menit Dinyatakan dalam g/10 menit
• MFI tinggi berarti, kemampuan
alir tinggi, rantai molekul pendek,
berat molekul rendah, viskositas
cairan rendah.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
Sifat – sifat alir
Cairan Newtonian:
 Jika kurva Shear Rate liniar, viskositas konstan
 Contoh: air
Cairan Non Newtonian:
 Jika cairan semakin encer pada shear rate tinggi disebut cairan shear
thinning atau pseudoplastic. Contoh: hampir semua plastik cair
 Jika cairan semakin kental pada shear rate tinggi disebut dilatant. Perilaku
dilatant tidak terjadi pada polimer.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
9/15/2011
45
Jenis –Jenis Bahan
Thermoplastik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
Polyolefin
 Jenis thermoplastik yang dibuat dengan polimerisasi olefin.
 Olefin adalah hydrocarbon (Mengandung hydrogen [H] dan carbon [C]) di mana
l k k d t b t b d ik t molekuknya mengandung sepasang atom carbon tersambung dengan ikatan
ganda (double bond).
 Olefin disebut juga Alkene
 Diambil dari natural gas atau dari minyak bumi dengan berat molekul rendah.
 Lebih sering pada jenis ethylene dan propylene. Dua jenis monomer ini adalah
“lower olefins”—yaitu, olefins yang molekulnya hanya mengandung sepasang
atom Carbon.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 “Higher olefins,” mengandung dua atau lebih pasangan atom carbon tiap
molekulnya, misal butene (butylene) dan methylpentene
6
9/15/2011
46
Polyethylene (PE)
•PE dibuat dengan proses polimerisasi monomer ethylene
•Pada temperatur 180 ° - 190° C, tekanan 1000 – 4000 atm
•J enis – jenis PE:
•HDPE : High Density Polyethylene
•LDPE : Low Density Polyethylene
•LLDPE : Low linear Density Polyethylene
•UHMWPE : Ultra High Molecular Weight Polyethylene
6
Polyethylene (PE)
 Beberapa sifat PE dapat diidentifikasi dari struktur kimianya
 PE hanya mengandung Carbon & Hydrogen (berat molekul tinggi),
tidak terlalu sensitive terhadap solvent
 PE sulit direkatkan, karena perekatan tergantung pada kemampuan
membasahi bahan perekat terhadap bahan yang direkatkan.
 Untuk perekatan, permukaan bahan harus dilelehkan kemudian
dipress
 Hambatan listrik baik.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Mudah diproses dan harga murah.
6
9/15/2011
47
Polyethylene (PE)
• Perbedaan konfigurasi karena beda kondisi reaktor saat proses polimerisasi
• Perbedaan reaktor: suhu, tekanan, jenis katalis, menentukan bentuk dan
pembentukan cabang (branching)
• Konfigurasi rantai molekul menentukan derajad kristal, MW, thermomechanical
ti properties
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
Polyethylene (PE)
LDPE (Low Density Polyethylene)
 Rantai cabang lebih panjang
 Dihasilkan dengan polimerisasi tekanan tinggi dan temperatur tinggi
 Densitas rendah karena harus menghasilkan banyak cabang
 Kandungan kristal rendah (kurang dari 40 %) lebih dominan amorphous Kandungan kristal rendah (kurang dari 40 %), lebih dominan amorphous
 Melting point lebih rendah, lebih mudah diproses
 Digunakan untuk: packaging, mainan, botol, dimana kekuatan bukan hal kritis
HDPE (High Density Polyethylene)
 4 – 10 cabang pendek untuk setiap 1000 atom C
 Dihasilkan dengan polimerisasi tekanan rendah dan temperatur rendah
R i li l bih k k d i l bih i i
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
7
 Rantai polimer lebih kompak, densitas lebih tinggi
 Dibanding LDPE: Branching lebih rendah , lebih kaku, lebih kuat, tahan abrasi,
tahan kimia, permeabilitas rendah, kurang transparan, lebih getas
 Digunakan untuk: barrel, tangki kimia, tempat sampah, tangki BBM
9/15/2011
48
Polyethylene (PE)
LLDPE (Low Linear Density Polyethylene)
 Rantai utama linear panjang, rantai cabang pendek (16 – 35 cabang
/1000 atom C)
 Dihasilkan dengan polimerisasi tekanan rendah seperti HDPE
 D it d h ti LDPE t kt li ti HDPE  Densitas rendah seperti LDPE, struktur linear seperti HDPE
 Proses lebih murah dibanding LDPE
 Dibanding LDPE: kekakuan 15% lebih tinggi, kekuatan 25% lebih tinggi, tahan
kejut 10% lebih tinggi, berat 25% lebih rendah, shrinkage lebih tinggi
UHMWPE (Ultra High Molecular Weight Polyethylene)
 Jika diperlukan kekuatan dan ketahanan impact lebih dari HDPE
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
7
Jika diperlukan kekuatan dan ketahanan impact lebih dari HDPE
 Ketahanan abrasi lebih tinggi, permeabilitas lebih rendah
 Digunakan pada: alat prosthetic, gear
 Lebih sulit dicairkan (sulit diproses dengan proses konvensional, biasanya
dengan proses sinter)
PE PE--LD LD PE PE--HD HD PE PE--LLD LLD PE PE--UHMW UHMW
Density Density
(g/cm (g/cm
33
))
0.917 0.917--
0.94 0.94
0.94 0.94- -0.97 0.97 0.915 0.915- -0.95 0.95 0.93 0.93- -0.95 0.95
(g (g ))
Crystalline Crystalline
Melting Range Melting Range
((
00
C) C)
105 105- -110 110 130 130--135 135 122 122--124 124 144 144--152 152
Shrinkage Shrinkage
(%) (%)
22--44 1,5 1,5- -44 22--2.5 2.5 4 4
Glass Glass
T iti T iti ((
00
C) C)
--110 110 --110 110 --110 110 - -110 110
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Transition Transition((
00
C) C)
Strength at break Strength at break
(tensile) (tensile)
(MPa) (MPa)
10 10--20 20 30 30--40 40 25 25--45 45 39 39--49 49
Young Young
Modulus Modulus(GPa) (GPa)
0.13 0.13- -0.3 0.3 0.5 0.5- -1.1 1.1 0.266 0.266- -0.525 0.525 0.3 0.3- -0.6 0.6
6
9/15/2011
49
PE-HD & PE-LD
Kemampuan diproses lebih baik pada;
Injection molding Injection molding
Extrusion (tubes,blow and cast films, cables,…)
Blow molding
Temperature cairan ( Temperature cairan (
00
CC))
PROCESS PROCESS PE PE--LD LD PE PE- -HD HD
Injection molding Injection molding 160 160--260 260 200 200--300 300
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
j g j g
Blown film extrusion Blown film extrusion 140 140--210 210 180 180--250 250
Flat film extrusion Flat film extrusion 200 200 220 220
Penyusutan (%) Penyusutan (%) 1.5 1.5- -3.5 3.5 1.5 1.5- -33
6
PE-LLD
Kerugian pada pemrosesan…
-Output sekitar 30% lebih rendah, p % ,
-Tenaga screw lebih besar,
-Masalah pendinginan,
-Masalah pada winding,
-Meningkatkan keausan
Temperature cairan,
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
-205-260
0
C (extrusion)
-160-260
0
C (injection molding)
6
9/15/2011
50
PE-UHMW
Sulit diproses dalam keadaan cair
Mungkin diproses dengan ram extrusion and
compression molding.
-Lebih tahan aus dari PE lainnya
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
Kemasan
-Kotak, botol susu dan sari buah, tutup
kemasan
Barang rumah tangga Barang rumah tangga
-Tempat sampah, kotak es, mainan
Automotive
-Tangki bahan bakar
Fiber/Textile
-Monofilament, tapes
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Wiring /Cable
Pipe / Fitting
6
9/15/2011
51
Polypropylene (PP)
 Hasil dari polimerisasi propylene dengan bantuan katalis titaniumhalide/Aluminum
alkyl
 Dalam perkembangannya digunakan katalis berbasis metallocene
 Yang dihasilkan biasanya adalah Isotactic PP
Monomer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
g y
 Adanya CH3 (methyl group) memungkinkan dihasilkan 3 type PP (Stereoregularity)
 Harga rendah, mudah diproses dengan injeksi dan ekstrusi, ketahanan kimia baik,
kekuatan dan kekakuan sedang
 Sering ditambahkan filler CaCo3 atau talcum hingga 30% untuk menurunkan harga,
menurunkan shrinkage dan meningkatkan kekakuan
6
Tacticity
a) isotactic polypropylene
b) syndiotactic
c
c
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
c) atactic polypropylene
Legend: R= CH3
Model dari Struktur kimia
c
6
9/15/2011
52
 Sifat Sifat--sifat sifat
Sifat phisis
Density: 0.9 - 0.91 g/cm
3
T
g
: 10 °C
Sifat Mekanis
σf
σy
E modulus E modulus (MPa) (MPa)
1300 to 1300 to
1800 1800
Torsional Stiffness Torsional Stiffness (N/mm (N/mm
22
)) 400 400
Flexural Creep Modulus (1 Flexural Creep Modulus (1- -min) min)(N/mm (N/mm
22
)) 1100 1100
T
m
: 160 to 165 °C
Crystallinity: 60 to 70 %
εf
εy
Ball Indentation Hardness (30 S) Ball Indentation Hardness (30 S)
(N/mm (N/mm
22
))
70 70
Shore Hardness D Shore Hardness D 72 72
Charpy impact Strength (un Charpy impact Strength (un- -notched) notched) no no- -break break
Charpy notched impact Strength Charpy notched impact Strength (kJ/m (kJ/m
22
))
23 23° °C C
00°°C C
12 12
44
6
 Processing
Process
Melt Temperature
(°C)
Extrusion pressure
(bar)
Extrusion Extrusion
Blown Film 220 200 to 300
Flat Film 265 200 to 300
Sheet, Tube 235 150 to 200
Monofilaments 250 to 270 300 to 400
Blow molding 235 150 to 200
Compression molding 250 20 to 50
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Thermoforming 160 to 165 -
Injection Molding 250 to 270 Injection
Pressure
(bar)
Hold Pressure
(bar)
Shrinkage
(%)
Post
shrinkage
(%)
>1000 ½to 1 Inj. P 1.0 to 2.5 0.1 to 0.5
6
9/15/2011
53
 Aplikasi
Packaging Keuntungan
Flexible packaging (Food and
confectioneries, Tobacco, Clothin ...)
Harga rendah
Sifat barrier baik
Mudah diproses
Hargarendah
Rigid packaging (crates, bottles, pots ...)
Harga rendah
Stabilitas proses baik
Kekuatan tinggi
Finish permukaan baik
Caps and closures for beverage and
cosmetic applications
Harga rendah
Stabilitas proses baik
Kekuatan tinggi
Finish permukaan baik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Fibers / Textiles / Carpets
Nonwovens
Filmtapes
Strapping ...
Fleksibilitastinggi
Ketahanankimiabaik
6
Healthcare / Medical
Syringes
Tahan sterilisasi
Ketahanan kimia baik
Tembus cahaya
Barang – barang rumah tangga
Housewares
Furniture
Kotak
Mainan
Hargarendah
Mudahdiproses
Daya tahan baik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
9/15/2011
54
Poly Vinyl Chloride (PVC)
 Dibuat dengan Poliadisi, menghasilkan atactic PVC
 Dapat juga dibuat, syndiotactic atau isotactic
 Chlorine sensitive terhadap larutan kimia
 Ada 2 jenis: unmodified PVC (rigid PVC) dan plasticized PVC Ada 2 jenis: unmodified PVC (rigid PVC) dan plasticized PVC
(soft PVC / vinyl)
 PVC sulit dibakar, saat dibakar berasap tebal dan dihasilkan HCl
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
Sifat-sifat Umum PVC
U-PVC P-PVC
Density =1,38-1,55 gm/cm3 Density =1,16-1,35 gm/cm3
Kekuatan mekanis tinggi,
kekakuan dan kekerasan
Fleksibel
Tegangan tarik =50 N/mm2
Perpanjangan saat patah =10 %
Tegangan tarik =10N/mm2
Perpanjangan saat patah =170%
Ketahanan thd kimia dan
lingkungan tinggi
Service Temperature =75 deg C
Ketahanan terhadap pengaruh
lingkungan sedang
Service Temperature =55 deg C
Insulator listrik yg baik pada
tegangan rendah
Insulator listrik yg baik pada
tegangan rendah
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Self extinguish Self extinguish
Asap beracun saat dibakar Asap beracun saat dibakar
Tidak mahal Mahal
6
9/15/2011
55
Poly Vinyl Chloride (PVC)
U-PVC
 Dibanding PE dan PP: lebih kaku, lebih kuat, sensitive terhadap
solvent
 Cenderung amorphous (kandungan kristal kurang dari 10%)
 Tg tergantung kondisi polimerisasi, umumnya 60°C – 80°C,
sehingga pada pemakaian normal bahan ini lebih kaku dan rapuh.
 Sering ditambah filler: talc, calcium carbonate dan clay untuk
menambah kekakuan dan stabilitas thermal
 Panduan proses:
 Gunakansuhuserendahmungkin
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
 Gunakan suhu serendah mungkin
 Gunakan aditif untuk menjaga stabilitas suhu
 Gunakan mixing tanpa menambah panas (twin screw extruder)
 Gunakan kandungan re-grind serendah mungkin
 Material mold dan dies tahan terhadap HCl yang korosiv
Poly Vinyl Chloride (PVC)
P-PVC
 Plasticizer meningkatkan fleksibilitas dan regangan PVC (terjadi
swelling dan peregangan ikatan molekul), serta ketahanan impact
 Tg mengalami pergeseran, semakin banyak kandungan plasticizer
 Plasticizer ditambahkan (terkandung) pada raw material
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
9/15/2011
56
Pemrosesan PVC
 Viskositas tinggi saat cair, tapi tidak dapat diturunkan dengan kenaikan suhu.
Diperlukan stabilitas panas karena daerah suhu proses sangat kecil (processing
temperature = 170-210° C, mould temperature = 20-60° C)
 Selama proses moulding, material hanya menerima geseran rendah
 Shrinkage 0,2% - 0,5% untuk U-PVC g
Shrinkage 1,0% - 2,5% untuk P-PVC
Injection Molding
Drying Drying Tidak terlalu diperlukan karena PVC menyerap
moisture kecil
Melt Temperature 160 - 220 C
Mold Temperature 20 - 70 C
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
o d e pe u e 7 C
Material Injection
Pressure
Sampai dengan 150 MPa
Packing Pressure Sampai dengan 100 MPa
Injection Speed Kecepatan relative kecil, mencegah degradasi
6
PVC tanpa stabilizer akan mudah melepaskan gas HCl dan terdegradasi. PVC terdegradasi
akan berubah kekuningan, rapuh dan selanjutnya menghitam. Padahal stabilizer
biasanya dari logam berat yang berbahaya (Pb atau Cd).
Jenis pelunak untuk PVC biasanya adalah DOP, aman jika kandungan di bawah 0.1%
Aplikasi
 Daerah pemakaian luas dari konstruksi hingga baby toys.
U-PVC
 Konstruksi bangunan: rangka jendela, pipa buangan
 Tapes, Plat pemisah pada batterei.
P-PVC
 Plastik penahan hujan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Insulator pada instrumen listrik daan kabel
 Pipa, tabung, sambungan, sol sepatu
 Penutup lantai, Conveyer Belts
 Door Trim mobil
6
9/15/2011
57
Aplikasi pada Pipa
 U PVC untuk mengalirkan bahan kimia
 C PVC (U PVC) adalah PVC dengan klorinasi, tidak tahan terhadap solven, aromatik
dan hidrokarbon. Hanya digunakan untuk mengalirkan air rumah tangga
 Ada kekhawatiran adanya sisa monomer VCM, plasticizer dan stabilizer.
 VCM tidak terlalu berbahaya (kandungan rendah)
 Plasticizer tidak digunakan untuk Hard PVC
 Stabilizer berupa Sn, Pb tidak aman
 Stabilizer Zn/Ca lebih aman
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
Upgrade PVC dengan mixing & blending
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
6
9/15/2011
58
Plastik Berbasis Styrene
PS / HIPS / SAN / ABS
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
7
2.5%
2.6%
Konstruksi & bangunan
Furniture
Automobile
Pemakaian plastik berbasis Styrene dalam banyak area:
44.2%
17%
13%
6.7%
12%
Kemasan
Mainan
Barang RT
Automobile
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
17%
Barang elektronik
7
9/15/2011
59
PS
(Polystyrene)
C C
H H
H
n
7
SAN
(Styrene Acrylonitrile)
HIPS
(High impact Polystyrene)
H
C C
H H
H
n
C C
H
C
H
m
N
H H H H H
C C
C C C C
H
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
ABS
(Acrylonitrile Butadiene
Styrene)
(High impact Polystyrene)
N
C C
H
H
C
H
O
C C
H H
H n
C C
H
H
H
m
C C
H H
H
H
n
H
m
H
Polystyrene (PS)
 Dibuat dengan poliadisi.
 Mengandung ring bensin yang mengurangi kemampuan rantai
untuk dilipat dalam kristalisasi, sehingga PS 100% amorphous
 Molekul yang mengandung ring bensin disebut aromatic. Ring
bensin berpengaruh terhadap sifat kimia bahan.
 PS sensitive terhadap larutan aromatik dan chlorin
 Seperti kelompok aromatik lain, jika dibakar memiliki nyala
kuning dan berasap tebal gelap.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Agar tidak mudah terbakar, ditambah flame retardant namun akan
mengurangi transparansi
 Tidak sesuai untuk penggunaan long term dan luar ruang (ESC)
9/15/2011
60
Polystyrene diproduksi dengan polimerisasi dari monomer styrene. Polystyrene diproduksi dengan polimerisasi dari monomer styrene.
C C
H H
C C
H H
polymerization
(Styrene) (PS)
Benzene
Perbandingan PE dan
PS: C C
H H
C C
H
n
C C
H
polymerization
C C
H H
Ethylene
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
PS: C C
H
H
m
Semi-crystalline
Ulet
Amorphous
Rapuh
C C
H
n
7
 PS (Polystyrene)
Keunggulan Keterbatasan
K k k ti i (l bihd i HDPE) R h d h •Kekakuantinggi (lebihdari HDPE)
•Transparan
•Stabilitas ukuran baik
•Kemampuan proses baik
•Rapuhpadasuhuruang
•Menguningdalamwaktulama
•Ketahanankimiajelek, khususnya
larutan aromatic
•Sifat mekanis sangat menurun pada
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
•Amanuntukkontakmakanan
•Hargarendah
g p
70°C
•Mudah terbakar
7
9/15/2011
61
High Impact Polystyrene (HIPS)
 Tambahan rubber pada PS untuk meningkatkan ketahanan impact
 Jenis rubber: butadien rubber (BR) atau SBR, pada awalnya
pencampuran dengan cara mechanical blending.
 Saat ini pencampuran dengan graft copolimerisasi, dengan
kandungan rubber kurang dari 30%
 Transparansi tidak sebaik PS, ketahanan impact 7x lebih dari PS.
 Kekuatan tarik, kekerasan dan suhu pelunakan lebih rendah dari PS
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
HIPS (High-Impact Polystyrene)
Butadiene Rubber(1-10 µm)
Styrene + HIPS
Keunggulan Batasan
 Lebih ulet dibanding PS
•Stabilitas dimensi baik
•Lebih mudah diproses
 Transparansi berkurang
•Ketahananthdkimiakurang,
khususnyathdlarutanorganik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
•Lebih mudah diproses
•Harga lebih murah
•Degradasi akibat UV lebihtinggi
•Mudah terbakar dan asapnya
beracun
7
9/15/2011
62
SAN: SAN: Styrene-AcrylonitrileCopolymer Copolymer
Keunggulan Batasan
 PeningkatanketahanankimiadibandingPS  Keuletanrendah
Acrylonitrile + Styrene SAN
Peningkatan ketahanan kimia dibanding PS
(oils, lemak)
•Lebih kuat (10%)
•Lebih keras dan tahan goresan
•Transparansi tinggi
Keuletanrendah
•Sensitive thdUV
•Lebih sulit diproses
•Saat dibakar menghasilkan
b k
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
•Dimensi stabil
•Harga murah
banyak asap
7
ABS: Acrylonitrile Polybutadiene Styrene Graft copolymers
Keunggulan Batasan
•Ulet dantahankejut(melebihi HIPS
danSAN)
•Ketahananthdperubahancuacarendah
danSAN)
•Lebihkaku(dibandingHIPS danSAN)
•Lebihmudahdiproses
•Insulator yang baik
Di i bil ( i
•Mudahdigores
•Ketahananthdlarutankimiarendah,
khususnya aromatic, ketones and
esters
•Retak akibat stress cracking akibat
h
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
•Dimensi stabil (penyerapan air
rendah)
•Mudah dicat / diwarnai
•Ketahanan UV sedang
pengaruh greases
•Sekitar 50 – 70% lebih mahal
dibanding PS
7
9/15/2011
63
ABS
Kondisi Pemrosesan pada Injection Molding
Pengeringan ABS adalah bahan hygroscopic dan pengeringan Pengeringan ABS adalah bahan hygroscopic dan pengeringan
sebelum proses diperlukan. Kondisi pengeringan yang
disarankan 80 – 90°C (176 – 195°F) selama minimal 2
jam. Kandungan moisture harus kurang dari 0.1%
Melt
Temperature
200 – 280° C (392 – 536° F); Umum: 230° C (446 F)
Mold
Temperature
25 - 80 C (77 - 176 F). (Mold temperature
mengendalikan sifat gloss; suhu mold lebih rendah
tingkat gloss menurun)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Tekanan Injeksi 50 - 100 MPa
Kecepatan
Injeksi
Sedang - Tinggi
7
General-purpose Polystyrene
60
Polystyrol 143E (PS)
High-impact Polystyrene
20
40
S
t
r
e
s
s

(
M
P
a
)
Polystyrol 454C (HIPS)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Kurva tegangan-regangan dari general-purpose dan high-impact polystyrene pada tensile test
0
10 20 30 40 50 60
Strain (%)
7
9/15/2011
64
100
120
140
160
180 150
170
Notched
Unnotched
J
/
m
2
)
0
20
40
60
80
PS HIPS SAN ABS
25 18
3
16
2
22
(
K
J
P l P l PS PS HIPS HIPS SAN SAN ABS ABS
Kekuatan kejut Charpy untuk specimen injeksi, diuji pada suhu 20°C (Polystyrol, Luran, Terluran)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Polymer Polymer PS PS HIPS HIPS SAN SAN ABS ABS
Ball indentation Ball indentation
Hardness (MPA) Hardness (MPA)
150 150 90 90 165 165 97 97
Ball indentation hardness dari PS, HIPS, SAN dan ABS, diuji pada 358N, 30 detik (Polystyrol, Luran,
Terluran)
7
POLYMER POLYMER TEMPERATURE TEMPERATURE
TEMP. TEMP.
RANGE RANGE
FEED FEED
ZONE ZONE
ZONE 1 ZONE 1 ZONE2 ZONE2 ZONE3 ZONE3 NOZZLE NOZZLE MOULD MOULD
SETTING TEMPERATURE SELAMA PROSES INJECTION (OSSWALD, TIM et al., 2001)
PS 170 - 280 20 – 30 150 – 180 180 – 230 210 – 280 220 – 280 10 – 60
SAN 200 – 270 35 – 45 220 - 270 30 – 80
ABS 220 – 260 35 – 45 210 – 260 40 – 70
PE-LD 160 – 270 20 – 30 140 – 300 200 – 350 220 – 350 220 – 350 20 – 70
REKOMENDASI PARAMETER DRYING
POLYMER POLYMER DRYING DRYING DRYINGTIME DRYINGTIME
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
POLYMER POLYMER DRYING DRYING
TEMPERATURE TEMPERATURE
DRYING TIME DRYING TIME
(HOURS) (HOURS)
PS 60 – 80 1 – 3
SAN 70 – 90 3 - 4
ABS 70 – 80 4
PA 80 – 100 16
7
9/15/2011
65
SETTING TEKANAN DAN DATA PROSES
POLYMER POLYMER INJECTION INJECTION
PRESSURE PRESSURE
(BAR) (BAR)
HOLDING HOLDING
PRESSURE PRESSURE
(BAR) (BAR)
PS 600 – 1800 100 – 200
ABS 1000 – 1500 100 – 250
PENYUSUTAN
POLYMER POLYMER Shrinkage Shrinkage
(%) (%)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
PS 0.4 – 0.6
HIPS 0.2 – 0.8
SAN 0.3 – 0.7
ABS 0.4 – 0.7
7
 Polystyrol (PS)  Polystyrol 454C (HIPS)
 Terluran (ABS)
 Luran(SAN)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
( )
7
9/15/2011
66
Polycarbonate (PC)
 Dibentuk dengan proses polikondensasi menghasilkan carbon yang diikat terhadap 3
oxygen
 Bahan amorphous yang transparan, kandungan aromatic yang besar mempengaruhi sifat
mekanisnya
 Melting point dan service temperature lebih tinggi dari nylon (service temp.: 135°C),
ketahanan creep pada suhu tinggi (dimensi stabil)
 Digunakan pada: tool housing hair dryer body kamera impeller pompa helm housing
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Digunakan pada: tool housing, hair dryer, body kamera, impeller pompa, helm, housing
mesin, bersaing dengan nylon, POM danTP Polyester
7
Polycarbonate (PC)
Physical properties
 Density 1220 kg/m³
 Water Absorption 0.1-0.5 %
 Mould Shrinkage 0.5 - 1%
 Melt Flow 1 4 50 g/10 min  Melt Flow 1.4-50 g/10 min
Mechanical properties
 Tensile strength 55 - 80 MN/m²
 Elongation at Break. 80 - 200%
 Flexural Strength 100 - 150 MN/m²
 Notched Impact Strength >20 kJ/m2
Thermal properties
Gl T i i T 150 °C
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Glass Transition Temperature 150 °C
 Processing temperature 267 °C
 Specific Heat 1.25 - 1.70 kJ/kg/°C
 Price 5-9 €/kg
7
9/15/2011
67
PC
PC/ABS 6
7
8
m
²
)
ABS
PVC
PS
PPO
3
4
5
I
m
p
a
c
t

s
t
r
e
n
g
t
h
(
J
/
c
m
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Acrylic
PBT/PET
Nylon 6/6&6
0
1
2
Material
7
m
m
)
Recycling of PC
T
e
n
s
i
l
e

s
t
r
e
n
g
t
h

(
N
/
m
10 ti
5 times
Original
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Strain (%)
T
10 times
7
9/15/2011
68
Akan merusak
Polycarbonate
Perlu perhatian Aman terhadap PC
Acetone Cyclohexone Acetic acid
Ammonia Diesel oil Ammoniumchloride Ammonia Diesel oil Ammonium chloride
Amyl acetate Formic acid Butane
Benzene Gasoline Calcium chloride
Bromine Glycerine Carbon monoxide
Butyl acetate Heating oil Copper sulphate
Carbon tetrachloride Jet fuel Methane
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Chloroform Perchloric acid Oxygen
Caustic soda Sulfur dioxide Ozone
Methanol Turpentine Water
8
 PROCESSING PROPERTIES (injection moulding)
 Rear Barrel Temperature 271-288°C
 Middle Barrel Temperature 282-299°C Middle Barrel Temperature 282 299 C
 Front Barrel Temperature 293-310°C
 Mold Temperature 82-121°C
 Drying Temperature 85-115°C
 Moisture Content 0.02 %
 Screw 60 - 90 rpm
 Injection 69 - 103 MPa
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Injection 69 103 MPa
 Hold 34 - 83 MPa
 Back 0.34 - 0.69 MPa
8
9/15/2011
69
Metoda proses Kemampuan
 Injection Moulding Ya
 Extrusion Ya
 Extrusion Blow Moulding Ya
 Rotational Moulding Ya
 Thermoforming Ya
 Casting Tidak
 Bonding and joining Ya
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
Keuntungan
 Ketahanan kejut (ulet).
 Transparan Meneruskan cahaya sebaik gelas Transparan, Meneruskan cahaya sebaik gelas.
 Tahan terhadap UV tetapi dalam waktu lama akan menguning.
 Ketahanan terhadap cuaca luar sedang.
 Sifat hambatan listrik baik
 Ketahanan terhadap abrasi baik.
 Dapat diproses dalam banyak warna
 Mampu daur ulang
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Mampu daur ulang
8
9/15/2011
70
Keterbatasan
 Ketahanan terhadap abrasi tidak untuk bantalan atau roda gigi
 PC grade tinggi untuk aplikasi terhadap UV PC grade tinggi untuk aplikasi terhadap UV.
 Harga tinggi.
 Insulasi suara rendah
 Harus dikeringkan sebelum diproses
 Ketahanan thd kimia rendah
 Tidak tahan gores
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
PC-40 GF
s

N
/
m
m
²
PC-20 GF
PC- (Unreinforced) A
m
p
l
i
t
u
d
e

o
f

s
t
r
e
s
s
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Cycles to failure
8
9/15/2011
71
PC
Kondisi Pemrosesan pada Injection Molding
Pengeringan BahanPC hygroscopicdanpredryingpentingdilakukan Pengeringan Bahan PC hygroscopic dan pre-drying penting dilakukan.
Kondisi pengeringan yang disarankan 100 - 120 C (212 - 248
F) selama 3 hingga 4 jam. Kandungan Moisture harus kurang
dari 0.02% sebelum diproses.
Melt
Temperature
260 - 340 C (500 - 644 F)
Mold
Temperature
70 - 120 C (158 - 248 F)
i i ki k id ldi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Tekanan Injeksi Setinggi mungkin untuk rapid molding
Kecepatan
Injeksi
Kecepatan rendah jika menggunakan gate kecil atau ;
kecepatan tinggi untuk jenis gate lainnya
8
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
9/15/2011
72
Polyamide (PA)
PA 6 / PA 11 / PA 12
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
Polyamide (Nylon)
 Jenis engineering plastik yang pertama dibuat, nylon diambil dari
Du Pont
 Dibuat dengan proses polikondensasi, menghasilkan air sebagai by
product. Sifat nylon ditentukan oleh amide group di mana ikatan
N-H dan ikatan C-O merupakan kelompok polar.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
 Kelompok polar sensitive terhadap air, sehingga nylon cenderung
menyerap kelembaban.
9/15/2011
73
o
Struktur Polyamide PA 6, PA 66
[NH CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
C ]
n
Enam atom carbon pada tiap
repeating unit
(Monomer)
Caprolactam
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Ring opening polymerization dari caprolactam
Monomer memiliki 6 atom carbon (konsep serupa dengan PA11, PA 12).
Aliphatic Polyamide
8
o o
[C CH CH CH CH C NH CH CH CH CH CH CH NH ]
PA 66 (Nylon 66)
[C CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
C NH CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
NH ]
n
Enam atom carbon Enam atom carbon
pada Unit pertama pada Unit kedua
Hexamethylene diamine + Adipic acid (Polycondensation)
Struktur Polyamide 66 (Nylon 66)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Hexamethylene diamine + Adipic acid (Polycondensation)
Angka 6 pertama menyatakan atom carbon pada group pertama, angka 6
kedua menyatakan atom carbon group kedua
Konsep serupa dengan PA69, PA6-10, PA6-12
8
9/15/2011
74
Sifat-sifat (Phisis, Mekanis, Thermal)
Properties PA 6 PA 66
Phisis
Density, µ [g/cm³]
WaterAbsorption(sat rated) [%]
1,13
10
1,14
9 Water Absorption (saturated), [%]
Water Absorption (23°C, 50% Rel.Hum.),
[%]
10
3
9
2,5
Mekanis
Tensile Strength, o [MPa]
E-Modulus, E [MPa]
Elongation at Break, c [%]
80
1400
200
85
2000
150
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
g , [%]
Ball Indentation Hardness 75 100
Thermal
Melt Temperature, T
m
[°C]
Thermal Conductivity, [W/mK]
Glass Transition Temperature, T
g
[°C]
230
0,29
78
265
0,23
90
8
Sifat-sifat (Phisis, Mekanis, Thermal)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Ketahanan Kimia PA 6
Polymer Data Handbook.Copyright 1999 by Oxford UniversityPress,Inc.
8
9/15/2011
75
Penyerapan Kelembaban
Kondisi Lingkungan Kandungan air [%] T
g
[°C] T
m
[°C]
PA 6 PA 66 PA 6 PA 66 PA 6 PA 66 PA 6 PA 66 PA 6 PA 66 PA 6 PA 66
Kering Tanpa
kelembaban
<0,2 78 90
230 265 Kelembaban
Standard
23°C / 50%
kelembaban
relative
3 2,5 28 39
J enuh air 10 9 -8 -6
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 H
2
0 – berfungsi sebagai softener atau plasticizer
 Kandungan air – tergantung pada kelembaban lingkungan
 Pengembangan volume (swelling) dari PA 6, PA 66
8
Dimasukkan dalam air mendidih
Penyerapan Moisture dari PA 66 pada media kerja yang berlainan
S
e
r
a
p
a
n

M
o
i
s
t
u
r
e



[
%
]
Dimasukkan dalam H
2
O
(Temp ruang)
Di udara luar (100%RH)
9
3
7
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Waktu [Hari]
Di udara luar
(65% RH)
1 100 10
2
8
9/15/2011
76
Hubungan antara Struktur dan Sifat Bahan
Jenis PA Struktur Jumlah CH
2
per
NHCO
Melting Point [°C]
PA 6 [-NH(CH
2
)
5
CO-] 5 230
PA 11 [-NH(CH
2
)
10
CO-] 10 190
PA 12 [-NH(CH
2
)
11
CO-] 11 170
PA 66 [-NH(CH
2
)
6
NH-CO(CH
2
)
4
-CO-] 4 265
PA 610 [-NH(CH
2
)
6
NH-CO(CH
2
)
8
-CO-] 8 226
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
Panjang segmen CH2 juga berpengaruh terhadap serapan air, semakin pendek CH2
semakin kuat grup amide semakin tinggi serapan air.
Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan Kerugian
Ulet, kuat, tahan kejut
Koefisien gesek rendah
Tahan temperatur tinggi
Penyerapan moisture menyebabkan
dimensi tidak stabil.
Tidak tahan terhadap asam kuat dan
media oksidasi
Shrinkage tinggi (proses injeksi).
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Mudah diproses
Tahan terhadap asam lemah dan alkali
Sifat mekanis dan phisis dipengaruhi
kandungan air.
8
9/15/2011
77
Pengeringan PA6 menyerap moisture, jika moisture >0.2%,
pengeringan dalam oven udara panas 80 C dalam waktu
16 jam. J ika material telah diexpose diudara terbuka
selama lebih dari 8 jam, vacuum drying pada suhu 105 C
selama lebih dari 8 jam.
Suhu Cairan 230 - 280 C; 250 - 300 C untuk reinforced grade
Injection Molding (PA 6)
; g
Suhu Mold 80 - 90 C. Mold temperature dipengaruhi derajad kristal
yang akan memberi efek pada sifat mekanis. Untuk
structural part, diperlukan derajad kristal tinggi dan suhu
mold 80 - 90 C direkomendasikan. Suhu mold tinggi
disarankan untuk part berdinding tipis dengan flow length
yg panjang. Peningkatan suhu mold akan menaikkan
kekuatan dan kekerasan, tapi keuletan akan turun. Bila
tebal dindinglebihdari 3mm suhumolddisarankan20
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
tebal dinding lebih dari 3 mm, suhu mold disarankan 20 -
40 C, yg akan membuat derajad kristal tinggi dan
seragam. Bahan Glass reinforced selalu diproses pada
suhu mold 80 C.
Tekanan Injeksi Biasanya antara 75 - 125 MPa (tergantung bahan dan
desain)
Kecepatan Injeksi Tinggi (pada grade reinforced sedikit lebih rendah)
8
Aplikasi - Automotive
Pegangan pintu
Air intake manifold
 Radiator tank
Radiator top tank Pedal kopling
 Air intake
manifold
 Door handle
 Door lock
parts
 Fittings
 Blower, fan
 Clutch Pedal
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Clutch Pedal
 Break pedal
 Housings
8
9/15/2011
78
Aplikasi - Elektrik
Switches
MCB housings
Plugs and connectors Power pulleys
 Switches
 MCBs
 Circuit Breakers
 Pulleys
 Plugs
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Fittings
 Wall plates
8
Aplikasi - Komersial
Kemasan makanan
Tali Nylon
 Sisir
Tempat duduk stadium Sisir dan Sikat
 Sikat
Packaging
 Tapes
 Jala
 Rambut
boneka
 Tali
T t
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Tempat
duduk
 Films
8
9/15/2011
79
Thermoplastic Polyester
Polyethylene Terephthalate [ PET ] Polyethylene Terephthalate [ PET ]
&
Polybutylene Terephthalate [ PBT ]
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9
Pembuatan
PET
Terephthalic Acid Ethylene glycol PET
Acid
Heat
O [ ]
n
Reaksi Polikondensasi
PBT
Terephthalic Acid Butylene glycol
PBT
Heat
Acid
O O [ ]
n
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 PET: Terephthalic Acid + Glicol
 PBT: Terephthalic Acid + 1,4 Butadiol
 Setelah selesai proses polikondensasi Produk dikirim dalam bentuk band atau fiber
dan dipotong menjadi chip atau granulat
9
9/15/2011
80
PET
 Type Semi-crystalline (30 – 40%)
 Digunakan dalam 3 produk utama: serat, film dan resin molding
 Karakteristik:
 Normalnya SC dengan kristal rendah dan transparansi tinggi.
 Ketahanan terhadap mineral oil, larutan kimia dan asambaik.
9
 Keras, kaku, kuat, bahan yang secara dimensi stabil.
 Menyerap sedikit air.
 Sifat penghalang gas baik.
 Seringkali ditambah bahan penguat.
 Tahan gores.
 Identifikasi sederhana: Bau harum saat dibakar, nyala orange, cairan menetes
B h Sifat sifat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Batasan suhu: -Sifat-sifat
Short-time ~ 170 °C
Long-time ~ 100 °C
PBT
 Type Semi-crystalline (40 – 50%)
 Karakteristik: - BatasanTemperatur:
 Stabilitas ukuran baik
 Sesuai menahan sliding dan aus
 Insulator yang baik
Short-time ~ 160 °C
L ti 100 °C
Insulator yang baik
 Seringkali diberi bahan penguat
 Kekakuan dan kekuatan tinggi
 Lebih mudah diproses dari PET
 Serapan air rendah
 Tahan untuk banyak variasi bahan kimia
 Tahan cuaca
-Sifat-sifat:
µ = 1.30 - 1.32 g/cm
3
E = 2500 - 2800 MPa
o
Y
= 50 - 60 MPa
3 5 7 %
Long-time ~ 100 °C
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Tahan terhadap heat aging
 Identified by: nyala orange cerah,
bau wangi saat dibakar, cairan menetes
c
Y
= 3.5 - 7 %
c
F
= 20 - > 50 %
T
g
= 45 - 60 °C
T
m
= 220 - 230 °C
9
9/15/2011
81
Automotive
 Rak barang
Aplikasi PET
Electrical
 Reflektor lampu
 Bagian belakang cermin
 Bagian mekanisme pintu
p
 Soket lampu
Botol minuman ringan Botol minuman ringan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Textile fibers
9
 Transparansi baik
 Tidak mahal
 Lebih ringan
Keuntungan pemakaian PET pada botol
Lebih ringan
 Tahan kejut (mampu bertahan jika jatuh)
 Barrier dalamdua arah
 Mudah diproses
 100% mampu didaur ulang
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9
9/15/2011
82
 90% PET dibuat dengan katalis antimoni
 Antimoni adalah salah satu bahan berbahaya yang sisanya dapat termigrasi akibat panas.
Bahan lainnya adalah Asetaldehida (AA), ethylene glycol dan diethylene glycol
 AA bersifat iritan merusak DNA dan perkembangan otot
Permasalahan pemakaian PET pada botol
 AA bersifat iritan, merusak DNA dan perkembangan otot
 Minuman yg bersifat asam, bersuhu tinggi akan mempercepat dan memperbesar peluang
migrasi antimoni ke minuman / makanan
 Air minum bersuhu > 60°C akan banyak melepas sisa katalis
 Sinar matahari meningkatkan efek migrasi antimoni 5%
 Efek antimoni dalam jumlah tertentu: pusing, mual, muntah, diare (reaksi jangka
pendek
 Efek antimoni jangka panjang: meningkatkan kolesterol, berkurangnya kadar gula
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
j g p j g g , g y g
 Meletakkan air minum kemasan di dalam mobil tertutup di siang hari.
9
Applications of PBT
 Otomotive
 Grills
 Body panels
 Fenders  Fenders
 Wheel covers
 Wind shield wiper
 Ignition components
 Elektrik Elektrik
 Switches Switches
 Relays Relays
 Break system
 Component for door handles
 Motor housing Motor housing
 Connectors Connectors
 Fuse cases Fuse cases
9
9/15/2011
83
Polyoxymethylene (POM)
 Disebut juga acetal polymer
 Area aplikasi hampir sama dengan Nylon, dalam kemudahan proses
nylon lebih unggul sedangkan terkait dengan kelembaban POM
lebih unggul (hanya menyerap 0 22%) lebih unggul (hanya menyerap 0.22%).
 Kandungan kristal paling tinggi diantara keluarga thermoplastik
 Koefisien gesek rendah, banyak digunakan untuk roda gigi, link
rantai, conveyor, bantalan luncur
 Sensitive terhadap UV, akan terjadi pengapuran permukaan
 Terdapat POM homopolimer dan kopolimer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8
 Kopolimerisasi biasanya untuk improve stabilitas thermal dan
kemudahan proses (homopolimer ada masalah degradasi)
 Tidak sesuai untuk air atau uap panas (100 °C)
Polyoximethylene (POM)
Homopolymer Copolymer
Elastic modulus
(Tensile test)
4623 MPa 3105 MPa
Tensilestrength Tensile strength
(At Yield)
67 – 69 MPa 58 – 72 MPa
Tensile strength
(At break)
67 – 69 MPa -
Hardness
(Rockwell M)
92 -94 75 - 90
Specific Gravity 1,42 g/dm³ 1,4 g/dm³
Melt Flow 20gm/10min 90gm/10min
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Melt Flow 20 gm/10min 90 gm/10min
Melting Temperature 172 – 184°C 160 – 175°C
Processing Temperature
(Injection Molding)
194 – 244°C 183 – 233°C
Linear MoldShrinkage
(Average value after 24h)
0,018 – 0,025 cm/cm 0,02 cm/cm
9
9/15/2011
84
Pengaruh Bahan Kimia & UV
Tahan terhadap:
 Asam ringan
 Alkohol
Tidaktahanterhadap:
 Asamkuat
 UV
 Oil
 Grease
 Bahan bakar
 Hydrocarbon
 UV
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Detergent
 Air
Retakan akibat sinar UV selama 1000 jam
9
Aspek Visual dan Efek Pembakaran
Warna natural: putih berkilau
Opaque
S d b k Saat dibakar:
 Sulit dinyalakan
 Setelah terbakar: sulit dimatikan
 Nyala biru jelas
 Bau khas formaldehyde
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Cairan menetes
9
9/15/2011
85
Parameter Produksi
T
Melt
T
Mould
P
Injection
P
Hold
Shrinkage
°C °C bar bar % °C °C bar bar %
Injection
molding
200-220 90-120 800-1200 800-1200 1,9-2,3
Extrusion 180-190 100-200
Blow
molding
180 90-100
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
molding
Predrying: 4 jam pada 100° C
Reprocessing: 20% – 100%
9
Perbandingan dengan Bahan lain
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9
9/15/2011
86
Perbandingan dengan Bahan lain
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9
POM
Kondisi Pemrosesan pada Injection Molding
Pengeringan Biasanyatidakdiperlukannamunpenyimpananharusdalam Pengeringan Biasanya tidak diperlukan namun penyimpanan harus dalam
ruang kering.
Melt
Temperature
180 - 230 C (356 - 446 F) untuk homopolymer; 190 - 210 C
(374 - 410 F) untuk copolymer
Mold
Temperature
50 - 105 C (122 - 221 F); Suhu mold lebih tinggi disarankan
untuk produk yang presisi untuk mengurangi post-molding
shrinkage
Tekanan Injeksi 70- 120MPa
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Tekanan Injeksi 70 120 MPa
Kecepatan
Injeksi
Sedang - Tinggi
9
9/15/2011
87
Aplikasi
1. AUTOMOTIVE :
Automotive door check (BMW)
Fuel Level Measuring Device
(Renault‘s Car)
2. Rumah Tangga :
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Gear for food processor
Door lock housing
9
Aplikasi
 4. Olah Raga :
 3. INDUSTRI :
Gear Train for Printer - Lexmark
Brake support – In-line Skate
 5. MEDIS :
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Needleless Injection system
Rösch AG Medizintecknik
9
9/15/2011
88
PMMA (Polymethylmethacrylate)
 Disebut juga acrylic polymer, dibuat dengan poliadisi
 Atactic dan amorphous, transparansi 92% meneruskan cahaya
(tertinggi pada bahan plastik)
 Sensitivitas terhadap sinar UV paling rendah, tahan cuaca, tahan Sensitivitas terhadap sinar UV paling rendah, tahan cuaca, tahan
oksidasi
 Digunakan pada: kaca jendela pesawat, difusi cahaya lampu,
outdoor sign, CD, display dan secara umum pengganti gelas kaca.
Bersaing dengan PC (tapi lebih rapuh, tidak tahan gores, lebih
murah)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
 Tidak tahan terhadap chlorine, tahan terhadap sabun, amonia dan
asam inorganic, mudah diwarnai
 Suhu proses rendah, shrinkage rendah, dimensi stabil
 emulsion polymerization, solution polymerization and bulk
polymerization
 emulsion polymerization (pencampuran dengan
mempertimbangkan ukuran bahan yang dicampurkan, contoh
kopi), solution polymerization (polimerisasi yang
membutuhkan pelarut yang tepat agar inisiator dan monomer p y g p g
akan larut satu sama lain) dan bulk polymerization (untuk
mendapatkan polimer dengan tingkat kemurnian yang tinggi)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
Repeating unit
PMMA
9/15/2011
89
Tabel Aplikasi Bahan
Bahan Aplikasi
ABS Automotive (instrument dan interior trim panel, sarung
compartment pintu, pelindung roda, mirror housins, dll.),
refrigerator, perkakas rumah tangga kecil dan power tools (hair
dryer, blender, food processor dll.), rumahan telpon, rumahan
mesin tik tombol typewriter dan kendaraan rekreasi seperti mesin tik, tombol typewriter, dan kendaraan rekreasi seperti
kereta golf dan jet ski.
PA6 Digunakan pada banyak aplikasi struktural karena kekuatan dan
kekakuannya baik. Digunakan untuk bantalan karena tahan aus.
PA12 Roda gigi, sambungan kabel, cam, slide dan bantalan.
PA66 Hampir sama dengan PA 6. PA 66 banyak digunakan di industri
otomotif, barang rumah tangga, di mana diperlukan ketahanan
kejut dan kekuatan.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
Tabel Aplikasi Bahan
Bahan Aplikasi
PBT Barang rumah tangga (food processor blades, vacuum cleaner part, kipas, hair dryer
housing, coffee maker, dll.), electronic (saklar, motor housing, kotak fuse, penutup
tombol keyboard komputer, connector, tabung fiber optic , dll.), automotive (grille,
body panel, wheel cover, dan komponen untuk pintu atau jendela, dll.)
PC Perlengkapan Electronic dan usaha equipment (computer part connector etc ) PC Perlengkapan Electronic dan usaha equipment (computer part, connector, etc.),
barang rumah tangga (food processor, refrigerator drawer, etc.), transportasi
(headlights, taillights, instrument panel, dll.).
PC + ABS Rumahan komputer dan mesin-mesin usaha, aplikasi elektrikal, telpon celular,
perlengkapan taman dan lapangan , komponen otomotif (instrument panel , interior
trim, and wheel cover).
PC + PBT Pelindung Gear, automotive (bumper); aplikasi di mana diperlukan ketahanan
terhadap chemical dan korosi, suhu tinggi, kekuatan kejut, dan stabilitas dimensi.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
9/15/2011
90
Tabel Aplikasi Bahan
Bahan Aplikasi
HDPE Container pada unit lemari es, bejana untuk penyimpanan, barang dapur
(kitchenware), tutup botol PET, dll. Banyak digunakan pada kemasan yang
dibuat dengan blow-molding.
LDPE penutp, mangkok, tempat sampah, pipe couplings.
PEI Otomotif (engine component: temperature sensors, fuel and air handling
devices), electrical/electronics (bahan connector, printed circuit boards, circuit
chip carriers, kotak anti ledakan), kemasan, pesawat terbang (bahan interior),
medical (surgical staplers, rumahan tool, non implant devices).
PET Automotive (structural component seperti bagian belakang cermin, dan grille
supports, part elektrik seperti head lamp reflector dan rumahan alternator),
aplikasi elektrik (rumahan motor, konektor electrical, relay, dan saklar,
microwave oven interior, dll.), Aplikasi industri (lengan kursi furniture, pump
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
c owaveove te o , d .), p as dust ( e ga u s u tu e, pu p
housing, hand tool, dll.).
10
Tabel Aplikasi Bahan
Generic
grades
Typical Applications
PETG Kombinasi tuntutan bening, ulet, dan kaku. Peralatan medis (test tube dan
botol), mainan, display, lighting fixtures, pelindung wajah , bagian refrigerator
PMMA Automotive(signal light devices, panel instrument , dll.), medical (blood PMMA Automotive (signal light devices, panel instrument , dll.), medical (blood
cuvettes, dll.), industrial (VCD, lighting diffuser, display shelving, dll.),
consumer (stationery accessories, dll.).
POM Acetals memiliki koefisien gesek rendah dan stabilitas ukuran yg baik,
sehingga ideal untuk gear dan bantalan. J uga tahan terhadap suhu tinggi,
sehingga digunakan untuk plumbing (valve dan pump housing),.
PP Automotive (umumnya digunakan mineral-filled PP: dashboard component,
kipas,), barang rumah tangga (door liner untuk mesin pencuci piring, rak
cucian, gantungan baju, refrigerator liner, dll.), consumer produk (furniture
t dll )
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
taman dll.).
10
9/15/2011
91
Tabel Aplikasi Bahan
Generic
grades
Typical Applications
PPE Barang rumah tangga (piring, mesin cuci, etc.), aplikasi elektrik misal control
housings, fiber-optic connectors, etc.
PS K b h ( bl ) l i l ( h PS Kemasan, barang rumah tangga (tableware, trays, etc.), electrical (rumahan
transparan, light diffusers, insulating film)
PVC Pipa saluran air, home plumbing, house siding, business machine housings,
kemasan barang electronic, perlengkapan medical, kemasan, etc.
SAN Electrical (Mangkok mixer, housing, dll. Untuk perlengkapan dapur,
sambungan refrigerator, chassis TV, kotak kaset , dll.), automotive (badan head
lamp, reflector, penutup compartment, penutup panel instrument, dll.),
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
perlengkapan rumah tangga , wadah cosmetic, dll.
10
l h l ik Daur Ulang Thermoplastik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
9/15/2011
92
Fakta Tentang Sampah Plastik
 Konsumsi penggunaan plastik dunia mencapai 6.4 juta ton/tahun
 Hanya 20% dari konsumsi tersebut yang didaur ulang. y y g g
 Pembakaran sampah plastik akan menghasilkan Di(2-
ethylhexyl)adipate (DEHA) yang dapat menganggu keseimbangan
hormon manusia, kerusakan kromosom (bayi lahir cacat).
 Tingkat konsumsi plastik sebanding dengan pendapatan perkapita
negara tersebut
 Negara-negara pengonsumsi plastik mulai serius menangani limbah
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Negara-negara pengonsumsi plastik mulai serius menangani limbah
dengan regulasi pemisahan dan penggunaan
(sumber: STP – Indonesia)
10
Fakta Tentang Sampah Plastik
 Konsumsi penggunaan plastik Indonesia mencapai 2.4 juta ton/tahun
di tahun 2007 dengan prediksi peningkatan 6%/tahun. (INAPLAS)
 60% berasal dari sektor industri kemasan sehingga potensi sampah  60% berasal dari sektor industri kemasan, sehingga potensi sampah
yang dihasilkan akan tinggi.
Negara Konsumsi
Perkapita/tahun (Kg)
Singapura 80
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc (sumber: STP – Indonesia)
Malaysia 64
Thailand 42
Indonesia 9.5
10
9/15/2011
93
Kode Plastik Identifikasi Bahan
• PET (polyethylene terphthalate) • PP (polypropylene)
• HDPE (high density polyethylene)
• PVC (polyvinyl chloride)
• LDPE (low density polyethylene)
•PS (polystyrene)
• Lain-lain
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
9/15/2011
94
M d l
Pengumpulan
sampah
Daur Ulang
Transformasi
produk
Macam daur ulang:
1) Daur ulang mekanis (physical):
a) Pemisahan
b) Memperkecil ukuran
c) Peleburan
d) Fiber atau pellet
2) Daur ulang kimiawi (Feed Stock recycling): Glycolysis Pyrolisis
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
2) Daur ulang kimiawi (Feed Stock recycling): Glycolysis, Pyrolisis,
Hydrolysis; mematahkan struktur molekul polimer, hasil reaksi untuk
membuat jenis monomer atau gas/minyak.
3) Pemanfaatan sebagai energi (energy recovery): membantu
proses pembakaran: produksi beton, besi.
4) Dibuang: sisa yang tak dapat diproses.
10
Daur Ulang Plastik
1. Pra pemisahan
mekanis (dry)
Sortir Manual Drum Separator
udara
Bahan
berat
Separator
magnet
Sortir Optik:
NIR
PET
PE
PS
PP
Bahan
Berat dan
i
Bahan
ringan
2. Pemisahan
mekanis (wet)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
ringan
3. Pemrosesan
mekanis (wet)
Proses mekanis Feedstock
Recycling
NIR: Sortir kemurnian hingga an
95 percen ÷ bahan sesuai
untuk daur ulang kualitas tinggi
10
9/15/2011
95
Near Infra Red Spectroscopy
 NIR memiliki panjang gelombang 700 – 2500 nm, molekul menyerap cahaya dalam
range panjang gelombang melalui kombinasi getaran
 Dihasilkan spectra sebagai karakter polimer untuk identifikasi Dihasilkan spectra sebagai karakter polimer untuk identifikasi
 Sistem spectometer terdiri atas: sumber cahaya, filter optik, fiber optik untuk
pengukuran absorsi dan refleksi, dan unit kontrol data.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
10
Near Infra Red Spectroscopy
Spectra PE Spectra PP
Spectra PS
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
p
10
9/15/2011
96
Daur Ulang Plastik
Sortir Plastik kemasan
Homogen
Contoh: botol Contoh: film
Pipa, botol
kotak, dll.
Film
Daur Ulang
Mekanis
Pencacah
Pemrosesan
plastik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Pengeringan
Pencucian /
Pemisahan berdasar
density
Peleburan
Extruder
Granulat
Homogen
11
Daur Ulang Plastik
Pemanfaatan
Energi
Campuran kemasan plastik,
Pig iron for steel
production
Energi
Pencacah
Penggumpalan
Blast Furnace
Preheating Zone
Iron Oxide,
coke
Blast
Furnace gas
Blast Furnace
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Blast Furnace
Process
Gumpalan plastik,
Udara panas
Besi mentah, Slag
Bottom Block
Melting Zone
Reduction Zone
11
9/15/2011
97
• PET: Flotation atau Proses Hydrocyclone
1. Sortir botol kotor (berdasar warna,
berdasar jenis plastik)
3. Pemisahan dengan udara (Labels | )
Produk: PET
Murni dan HDPE
(terkontaminasi
dengan PP, EVA,
dan adhesive).
Raw material:
botol PET yang
dihancurkan
(dengan atau
tanpa tutup)
2. Pencacah
4. Pencucian
5. Flotation atau hydrocyclone (HDPE |
PET + Aluminium + )
7 El t t ti t / t l
)
Contoh: Sleeping
bag, bahan
insulator, baju
mandi, slayer, T-
Shirts.
p p)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
8. Pembentukan granulat
6. Pengeringan
7. Electrostatic separator/metal
detector (Aluminium | )
11
• Polyolefin: PE dan PP
• Sampah industri berupa rigid container: runner, sprue, part
reject (relative bersih).
• Postconsumer Container (Contaminant: decorasi, seal, label,
residu produk dalam container contaminasi dari penyimpanan residu produk dalam container, contaminasi dari penyimpanan,
pengumpulan, dan distribusi
Bale
Braker
Sorting
Line
Size
Reduction
Air
Classifier
Centrifugal
D
Resin
Rinsing
Washing
S t
Filter
Bale
Braker
Sorting
Line
Size
Reduction
Air
Classifier
Centrifugal
D
Resin
Rinsing
Washing
S t
Filter
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Dryer
Rinsing
System
System
Hot Air
Dryer
Extruder-
Pelletizer
Blending
Silo
Packaging
Line
Wash Water
Reclaim
Filter
Dryer
Rinsing
System
System
Hot Air
Dryer
Extruder-
Pelletizer
Blending
Silo
Packaging
Line
Wash Water
Reclaim
Filter
11
9/15/2011
98
• Polystyrene
• Wash-Dry-Pelletize Process
Bale Sorting
Granules
Washing:
Water and
Bale Sorting
Granules
Washing:
Water and
Braker Line
Granules
Water and
Detergent
Heat
Drying
Centrifugal
Dryer
Water and
PS
separation
Densification
Rinsing
Melting
Extruded
Braker Line
Granules
Water and
Detergent
Heat
Drying
Centrifugal
Dryer
Water and
PS
separation
Densification
Rinsing
Melting
Extruded
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Densification
Process
Shredding
Melting
Chamber Pelletized
Densification
Process
Shredding
Melting
Chamber Pelletized
11
Pengaruh Bahan Daur Ulang
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
11
9/15/2011
99
Filler & Additive
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
11
 Sebagian besar bahan plastik tidak dapat digunakan langsung tanpa
tambahan bahan kimia lain (additive). Bahan tambah akan memberikan
sifat baru yang tidak dimiliki bahan induknya.
 Klasifikasi additive:
 Modifiers: impact modifiers, nucleating agents, plasticizers, foaming agent,
crosslinking agent
 Property improvement: antioxidants, heat-light stabilizer, antistatics, flame
retardant
 Processing agents: mold release agents, anti blocking agents, slip agents
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
11
9/15/2011
100
Bahan Tambah dan Bahan Pengisi
Berbagai variasi bahan tambah dan pengisi diberikan untuk kepentingan yang berbeda:
 Kepentingan proses:
 Lubricant untuk transport raw material dalam mesin pemroses
 Anti oksidan untuk melindungi polimer terhadap degradasi oksidasi saat proses
 Sulphur untuk proses vulkanisasi rubber p p
 Percepatan (akselerasi) reaksi pembentukan network pada rubber dan thermoset
 Blowing agent, pada produksi foam
 Peningkatan sifat mekanis:
 Plasticizer, meningkatkan fleksibilitas (misal pada PVC)
 Tepung kwarsa, mika, talcum untuk meningkatkan kekakuan
 Glass fiber pendek; meningkatkan kekakuan dan kekuatan
 Glass fiber panjang; meningkatkan ketahanan terhadap beban kejut
 Peningkatan sifat lain:
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Peningkatan sifat lain:
 UV stabilizer, melindungi polimer terhadap degradasi akibat radiasi UV
 Antistatic agents, mengurangi beban elektrostatis
 Pigmen, pewarnaan
 Filler untuk mengurangi harga (tepung kayu,)
 Flame retardant (penghambat nyala)
11
Additive/filler/Penguat Bahan yang umum Pengaruh pada sifat polimer
Serat Penguat Boron, carbon, mineral
berserat, Kevlar
Menaikkan teg. Tarik, flexural modulus,
HDT. Menghambat shrinkage dan
warpage
Filler penghantar Bubuk alumunium,
k b hi
Memperbaiki konduktivitas thermal dan
l k ik serat karbon, graphite elektrik
Coupling agent Silanes, titanates Memperbaiki rekatan polymer matrix dan
serat
Flame retardant (chlorine, bromine),
phospor, garam metalic
Mengurangi timbulnya dan merambatnya
nyala
Extender filler Calcium carbonate,
silica, clay
Mengurangi harga
Pl i i C i M b iki if li i k k
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Plasticizer Cairan monomer,
material dengan berat
molekul rendah
Memperbaiki sifat alir, meningkatkan
fleksibilitas
Pewarna (dye/pigment) Metal oxides, chrom,
carbon black
Mempermudah pewarnaan, perlindungan
thermal dan UV (carbon black)
Blowing agent Gas, azo-compound,
hydrazine
Menimbulkan sel berongga untuk
menurunkan berat
11
9/15/2011
101
Antioxidant
 Polimer dapat bereaksi dengan oksigen, sensitivitas setiap jenis
polimer terhadap oksigen berbeda
T d k d  Terjadinya oksidasi:
 Saat pemrosesan resin
 Saat penyimpanan resin
 Saat produk plastik digunakan
 Akibat pengaruh oksidasi, polimer bisa terdegradasi, dua efek
reaksi oksidasi:
 Menurunkan berat molekul, akibat putusnya rantai molekul
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
p y
 Meningkatkan berat molekul (menjadi keras dan getas), akibat reaksi
rekombinasi
 Kedua reaksi dapat terjadi simultans
11
Antioxidant
 Akibat oksidasi polimer:
 Berkurang/hilangnya kekuatan mekanik
 Permukaan kasar
 Perubahan warna
 Perubahan Melt flow
 Fungsi utama antioksidan:
 Mencegah/ memperlambat terjadinya oksidasi polimer baik oleh udara
maupun oksidator lain
 Pencegahan dilakukan selama masa penyimpanan pemrosesan atau
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Pencegahan dilakukan selama masa penyimpanan, pemrosesan atau
pemakaian
 Pemakain s/d 2% berat
 Pada PP: Hindered phenol & phospite: 0.08% - 1%
11
9/15/2011
102
UV/Light - Stabilizer
 Photo-oxidation:
 Reaksi yang timbul akibat sinar UV dan oksigen
 Kerusakan plastik akibat photo-oxidation:
 Perubahan warna
 Surface cracking
 Berkurangnya fleksibilitas
 Berkurangnya sifat gloss
 Berubahnya sifat elektrik
 Fungsi UV stabilizer:
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
g
 Melindungi polimer dari radiasi sinar UV atau sinar lain yang dapat
menyebabkan degradasi
 Makin pendek panjang gelombang, makin besar kerusakan yang dapat timbul
karena energi radiasi semakin besar
11
Lubricant
 Adalah bahan yang digunakan dalam pemrosesan polimer untuk
menurunkan gaya friksi antara melt dan permukaan barel / screw
 Fungsi:  Fungsi:
 Pelumas
 Mempercepat aliran, menurunkan viskositas
 Berkurangnya kerusakan akibat gesekan
 Efek Lubrikasi Internal:
 Mereduksi viskositas: dipakai pada bahan yang stabilitas thermalnya rendah,
hemat energi dan mencegah kerusakan resin
 Mereduksi panas dissipasi: energi dissipasi adalah konversi energi mekanik
j di Ef k h b h i k ik dib hk
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
menjadi panas. Efek mencegah perubahan energi mekanik yang dibutuhkan
pada saat pemrosesan menjadi panas (mis: shear force). Panas ini akan
menyebabkan overheating.
11
9/15/2011
103
Efek Lubricant
 Efek Release:
 Membentuk lapisan batas antara melt dengan dinding logam
 Memperpendek waktu plastisasi di screw dan barel p p p
 Mempermudah aliran pada screw
 Mereduksi gesekan
 Efek terhadap produk:
 Pelepasan produk dari mold lebih mudah
 Slip agent, untuk produk yang sifat permukaannya sangat licin
 Jenis lubricant: y acid esters, Amide waxes, Ester waxes, Metal stearat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
11
Processing Aid
 Fungsi Processing Aid:
 Mencegah/mengurangi melt fracture
 Meningkatkan kekuatan melt
 Mereduksi pembentukan gel
 Perbaikan untuk resin daur ulang
 Prinsip kerja: membentuk lapisan licin pada permukaan
mold
 Lapisan ini akan mencegah/mengurangi:
 Penyimpanan energi elastis dalam mold
M l l l h li d ld
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Menempelnya lelehan polimer pada mold
 Dosis: 0.01 – 0.1%
11
9/15/2011
104
Flame Retardant
 Salah satu aspek keamanan dalam aplikasi plastik khususnya dalam fasilitas umum (contoh
FR: Magnesium Hydroxide
 Penyebab kebakaran:
 Panas
 Ratio gas/o2
 Minyak
 Oksigen
l h fl d  Kriteria pemilihan flame retardant:
 Mudah dicampur dengan resin, kompatibel
 Tidak berwarna
 Ketahanan thd UV baik
 Efektif pada dosis kecil
 Tidak menimbulkan korosi pada alat
 Tidak menimbulkan asap, debu dan bau
 Tg / Tm kurang dari processing temperatur bahan plastik
 Properties yang dipengaruhi oleh flame retardant:
 Sifat mekanik
D i
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Density
 MFI: semakin besar FR, semakin besar MFI
 HDT: semakin besar FR, semakin besar HDT
11
Filler
 Tujuan penambahan filler:
 Meningkatkan sifat kekakuan, kekuatan dan stabilitas ukuran
 Meningkatkan HDT
 Mereduksi sifat permeabilitas terhadap gas dan cairan
 Modifikasi sifat kelistrikan
 Mengurangi Harga
 Kriteria pemilihan Filler:
 Harga dan ketersediaan
 Wettability atau compatibility dengan resin
 Pengaruh terhadap karakter aliran polimer
 Stabilitas thermal
 Ketahanan kimia
 Ketahanan terhadap abrasi / wear
 Bersifat racun atau tidak
 Kemungkinan daur ulang
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Kemungkinan daur ulang
 Jenis dan konsumsi Filler:
 CaCO3 (76.5%); Glass fiber (9.7%); Talc (6.6%); Carbon Black (3%);
11
9/15/2011
105
Efek penambahan Filler
 Meningkatkan viskositas, dapat ditekan dengan:
 Konsentrasi filler sama, ukuran partikel lebih besar
 Luas permukaan filler yang lebih kecil
 Environmental properties pada system:
 recycling
Bi d d bli  Biodegradablity
 Flammability
 Degradasi
 Merubah crystallinity:
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
11
Biodegradable Polymer
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
106
PENGERTIAN
Biodegradable polimer merupakan plastik yang dapat Biodegradable polimer merupakan plastik yang dapat
terdegradasi dan terbuat dari sumber yang dapat diperbarui
yaitu dari senyawa-senyawa dalam tanaman misalnya pati,
selulosa, dan lignin, serta pada hewan seperti kasein, protein
dan lipid.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
Dalam proses pembuatannya, bioplastik
dibagi dalam 3 kategori bahan baku :
 Bioplastik Poli Hidroksi Alkanoat  Bioplastik Poli Hidroksi Alkanoat
 Bioplastik Poli Hidroksi Butanoat
 Bioplastik Poli Asam Laktat (atau lebih familiar disebut sebagai
Bioplastik berbahan dasar pati / Poly Lactic Acid - PLA).
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
107
BIOPLASTIK POLY LACTIC ACID (PLA)
 Bioplastik berbahan pati mempunyai keunggulan karena sifatnya yang
dapat terurai secara biologis (biodegradable), sehingga tidak menjadi
beban lingkungan (tidak mencemari lingkungan)
l k b b k k l h l d h  Bioplastik mempunyai beberapa titik kelemahan antara lain rendahnya
sifat mekanis dan bersifat hidrofilik ( mudah menyerap air )
 Dapat diproduksi menjadi preform botol non karbonasi
 PLA mempunyai sifat: transparan, gloss, barrier terhadap oksigen
(setara PP), ratio stretching sama dengan PET sehingga Lini produksi
PET dapat digunakan pada PLA
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Proses PLA relative lebih mahal
12
BIOPLASTIK POLY LACTIC ACID (PLA)
 Suhu pelelehan PLA 145° - 155°C, Tg 55° – 58°C, Tc: 95° - 120°C
 PLA bersifat hidrophilic sehingga sebelum pemrosesan harus  PLA bersifat hidrophilic, sehingga sebelum pemrosesan harus
dikeringkan dahulu dalam suhu 90° - 100°C dalam waktu kurang
dari PET
 Suhu di proses injeksi:
 Feed zone: 180°C ; Compression & Metering zone: 210° - 220°C
 Sebagai produk natural, warna dasar produk adalah kekuningan
( t k hil k l dit b h ditif ti ll )
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
(untuk menghilangkan perlu ditambah aditif anti yellow)
 Aditif lain yang sering ditambahkan: carbon black untuk
meningkatkan daya serap infra merah saat blow molding
12
9/15/2011
108
Kelebihan PLA
 PLA dapat terdegradasi dengan cara terkompos pada kondisi pembuangan
sampah (sanitary land fill) pada suhu 60 deg atau lebih.
1. Pada tahap pertama PLA terdegradasi melalui proses hidrolisis selama 2 1. Pada tahap pertama PLA terdegradasi melalui proses hidrolisis selama 2
minggu sehingga menjadi komponen terlarut dalam air.
2. Pada tahap kedua dengan bantuan mikroba, terjadi metabolism secara
cepat atau pengomposan, menjadi gas CO2, air dan biomassa
 Kelebihan PLA jenis BOPLA (bioriented PLA) mempunyai barier yang bagus
untuk menahan aroma, bau, molekul solven dan lemak sebanding dengan
PET atau nilon 6.
 PLA mempunyai kemudahan untuk proses sealing.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Gabungan antara kemudahan untuk di-seal dan tingginya berier untuk aroma
dan bau maka PLA dapat digunakan sebagai lapisan paling dalam untuk
pengemas makanan.
12
Kekurangan PLA
 Kekurangan dari PLA adalah densitas lebih tinggi dibanding PP
dan PS, sehingga sulit direkatkan dengan PE dan PP yang non
polar dalam system film multi lapis
 PLA juga mempunyai ketahanan panas, moisture dan gas barier
kurang bagus dibanding PET.
 Harga yang masih tinggi.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
109
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Sebuah kantong belanja yang terbuat dari tepung tanaman.
Kantong jenis ini digunakan di banyak pasar swalayan di
seluruh Eropa. Kantong ini higienis, tidak berbau, praktis, dan
dapat terurai seperti kompos.
12
Thermoset
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
110
Definisi
 Resin: Bahan solid, semi solid atau cair organik dengan berat
molekul dan melting point yang tinggi
k k d k d d b l k  Reaksi kimia tidak dapat dibalik
 Proses reaksi disebut Curing, saat curing terbentuk ikatan rantai 3
dimensi (crosslink)
 Makin tinggi derajad crosslink, makin kaku dan stabil terhadap
panas
 Ada kemungkinan diperlunak dalam waktu singkat
K l d b l d d hd k h
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Keunggulan: rigid, stabilitas dimensi dan thd panas, ketahanan
terhadap elektrikal, bahan kimia tinggi
 Contoh bahan: Epoxy, polyester, phenolic, polyimide
12
Viscositas dan Kontrol thermal selama
Crosslinking
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
111
Sifat Umum
 Keunggulan:
 Viskositas rendah
 Membasahi serat dengan baik  Membasahi serat dengan baik
 Ketahanan thermal setelah polimerisasi baik
 Tahan kimia
 Tahan creep
 Kemampuan cure pada temperatur ruang
 Kelemahan:
 Fleksibilitas
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Fleksibilitas
 Pemanasan lanjut akan membuat degradasi (dalam bentuk gas)
 Derajad Cross link dapat ditingkatkan dengan crosslink agent
12
Resin Formaldehyde
 Phenolic
 Urea formaldehyde y
 Melamine formaldehyde
 Amino Plastic
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
112
Phenolic Formaldehyde (PF)
 Dibuat dengan reaksi polikondensasi antara phenol dan formaldehyde
dengan by product berupa air, dikenal dengan nama Baekelite
 Kandungan besar OH dalam polimer membuatnya memiliki kualitas
adhesive yang baik; digunakan sebagai perekat: plywood, PCB, sandpaper,
roda gerinda.
 Karena sifat lengketnya, dalam proses molding perlu menggunakan mold
release agent (misal dilapisi dengan lilin lebah)
 Bersifat nonflammable; digunakan untuk: coating interior pesawat, rocket
nozzle.
 Daya hantar panas dan listrik sangat rendah; digunakan untuk: handle
panci, dasar pemanggang, knob, saklar listrik
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
Phenolic Formaldehyde (PF)
 Kelompok reaksi—Phenolic
C
C C
C
C
O
H H
H
Phenol
C
O
H H
Formaldehyde
Plus
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
C H H
H
12
9/15/2011
113
 Phenolic
Phenolic Formaldehyde (PF)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
Amino Plastic (UF & MF)
 Dibanding phenolic: berwarna lebih jernih, kemampuan adhesive
lebih baik dari (banyak digunakan pada plastik dengan insert logam)
 Sebagai perekat pada particle board, plywood, laminasi kertas,
furniture (ikatan baik dengan kayu)
N
H
H
R
N
H
H
Amine
Plus
C
O
H H
Formaldehyde
12
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
H H
9/15/2011
114
Amine plastic – Perekat bening
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Chipboard
12
Melamine Formaldehyde (MF)
 Dibentuk dengan polikondensasi menghasilkan by product air
 Mempunyai 3 sisi aktif, 1 sisi lebih banyak dari kebutuhan minimal
polikondensasi. 3 sisi aktiv ini dapat membentuk ikatan baru saat
l d b k b l d 3 b polimerisasi. Rantai dapat berkembang simultan dari 3 sisi tersebut.
 Polimer yang dihasilkan memiliki berat molekul tinggi, network lebih
massive
 Kekerasan permukaan paling baik diantara bahan lainnya, bersama
dengan sifat ketahanan terhadapa air, grease, low flammability dan
kejernihan, membuat bahan ini digunakan sebagai counter top
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9/15/2011
115
Crosslinking Saat Pembentukan Polimer
N
H
H
Plus
C
N
C
N
C
N
3 sisi aktif
Formaldehyde
C
O
Plus
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Melamine
C
C
N
N
N
H
H
H
H
C
H H
12
Crosslinking saat pembentukan Polimer
Melamine Formaldehyde
Water
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
12
9/15/2011
116
Jenis Thermoset
 Melamine Plastic
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
Countertop
 Bagian luar atau permukaan yang melapisi dan
melindungi permukaan meja dengan variasi warna dan
b t k bentuk
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
9/15/2011
117
Alat Dapur
 Berbagai macam produk melamin yang tahan panas, anti
pecah dan berbagai corak atau bentuk
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
Polyester Thermoset (TS) atau Unsaturated
Polyesters (UP)
 Dibentuk dengan polikondensasi, rantai pendek, berat molekul rendah,
sehingga mudah dibentuk sehingga mudah dibentuk
 Mempunyai sisi aktif Carbon-carbon double bond, memudahkan reaksi
 Kelompok terbesar pada thermoset, sering diperkuat dengan fiber glass
 FRP termasuk jenis komposit, digunakan untuk membuat: bak mandi,
corrugated panel (atap carport), pipa, tanki penyimpan dan panel dinding.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
9/15/2011
118
Mekanisme Crosslinking Thermoset
Polyester
C C C C O
O O
O H H
H
C C C C O
O O
O H H
H
H
H
Polyester
Styrene
(jumlah besar)
C H
CH
CH
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
O
O
R
1
R
Peroxide
C
C
C CH
CH
H
H H
13
Crosslinking - UP
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
9/15/2011
119
Styrene
Polystyrene
Styrene sebagai Pelarut Aktif untuk UP
Unsaturated Polyester (UP)
HO- -CH=CH-C-O- CH2 -OH
n
=
O
Satu atau lebih reactive group
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Satu atau lebih reactive group,
basis crosslinking dengan jembatan styrene
13
Styrene
=
St
Styrene sebagai Pelarut Aktif untuk UP
St
St
St
St
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
=
St
St
St
St
13
9/15/2011
120
Styrene
=
St
Styrene sebagai Pelarut Aktif untuk UP
St
St
St
St
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
=
St
St
St
St
13
Jenis Thermoset
 Unsaturated Polyester
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
9/15/2011
121
Lebih banyak reactive
group pada rantai UP:
Reaktivitas meningkat
Konsekuensi peningkatan reaktivitas:
÷Reaksi curing lebih cepat
÷waktu gel lebih singkat, waktu curing lebih singkat
¬proses harus lebih cepat
T[°C]
200
120-140°C
180-190°C
÷penyebaran panas dan suhu kerja naik |
Kekuatan mekanis|, E-Modulus|
kekerasan| tapi lebih brittle!
heat distortion temperature (HDT)|
-Ketahanan terhadap larutan kimia |
-shrinkage |
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
t
100
120-140 C
-Reaktivitas terlalu tinggi:
-Bahaya overheating
-Shrinkage berlebihan
13
Resin untuk Laminating
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
13
9/15/2011
122
Bahan tambah untuk Thermoset Polyester
Fill i l C l i C b t
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Filler misal Calcium Carbonate
Keuletan misal rubbers
Antioxidant dan UV stabilizer
Penguat
13
 Epoxy resin adalah jenis thermoset yang sering digunakan pada komposit
khusus dan struktural
 Tersedia dalam berbagai bentuk dari viskositas rendah (cair) hingga solid
dengan titik lebur tinggi
EPOXY
dengan titik lebur tinggi
 Epoxy memiliki kekuatan tinggi, shrinkage rendah, adhesi sempurna
terhadap berbagai bahan, harga rendah dan tingkat racun rendah, insulasi
listrik baik, tahan larutan dan bahan kimia.
 Mudah terjadi curing tanpa menghasilkan by product kimia
 Kompatibel terhadap banyak bahan, cenderung mudah membasahi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
123
EPOXY
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
124
Crosslinking
 Kelompok Reactive—Epoxy
R
N N
H
H
H
H
C
C
O
R
C
C
O
H
H
H
H
E Ri
Plus
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Hardener
(amine)
Epoxy Ring
14
Komposit
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
125
UP-RTM
Komposit Dalam Komposit Dalam
Otomotif Otomotif
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
UP-SMC
14
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
126
Komposit Dalam Pesawat Terbang Komposit Dalam Pesawat Terbang
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
127
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Komposit Dalam Transportasi Laut Komposit Dalam Transportasi Laut
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
128
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Komposit Dalam Pembangkit Energi Komposit Dalam Pembangkit Energi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9/15/2011
129
UP or EP?
Komposit Dalam Sport Komposit Dalam Sport
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
UP-RTM
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
130
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Potongan papan ski es 14
Ujung Stik Golf, dicetak dari bahan
komposit graphit reinforced epoxy
Komposit: Kombinasi Bahan heterogen yang
disusun dengan komposisi proporsional dari dua
atau lebih jenis bahan. Untuk mendapatkan sifat
kombinasi yang tidak dimiliki oleh single
material
Tersusun dari matrix resin (binder) dan elemen
penguat (filler atau fiber)
Komposit:
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
p
•Harga mahal
•Sulit diproses
•Sulit direparasi
•Sulit digabungkan (joint)
14
9/15/2011
131
Jenis Material Komposit
Komposit Tradisional:
 Beton: campuran pasta semen dan batu
 K t kt l l b h
Komposit Modern:
Penguat +Resin Matrik =Komposit
 Kayu : struktur sel sarang lebah
J enis Matrik:
 Polymer: maksimum suhu pemakaian
200°C
 Metal: maksimum suhu pemakaian 800°C
 Ceramic: maksimum suhu pemakaian 1800
°C
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Matrix:
•Bagian yang kontinyu (tidak terputus)
•J enis:
•MMC: metal matrix composite
•CMC: ceramic matrix composite
•PMC: polymer matrix composite
•Fungsi:
•Transfer tegangan dari bagian lain
•melindungi bagian lain terhadap pengaruh lingkungan
•Menjaga orientasi fiber
B i P t ( i f )
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Bagian Penguat (reinforce):
•Fungsi: mendukung matrix; penahan beban
•J enis :
•partikel, misal: beton, Al SiC
•serat: fiber glass, FRP
•struktural: Plywood, Honeycomb sandwich panel
14
9/15/2011
132
Honeycomb Sandwich Panel:
•Masa jenis rendah (ada struktur honeycomb di bagian core)
•Kekakuan terhadap bending tinggi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Perbandingan Sifat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
133
Jenis Konfigurasi Fiber
Kontinyu Mat (chopped)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Woven Fabric 14
Orientasi Serat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
9/15/2011
134
Jenis Proses dan Pemakaian
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
14
Fiber Reinforced Composite
Fiber glass konvensional: glass fiber reinforced polymer
•Kekuatan didapat dari serat gelas berdiameter kecil
K l did d i l i •Kelenturan didapat dari polymer matrix
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Glass fiber digunakan sebagai
penguat dalam fiber glass
composite
14
9/15/2011
135
Fiber Reinforced Composite
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Komposisi Fiber Glass
14
Fiber Reinforced Composite
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Polymer Matrix dalam fiber glass
14
9/15/2011
136
Laminating
Gelcoat, lapisan atas
release agent
Alat impregnation dan venting
Cetakan ringan
Mi l FRP k b t
glass fibre mat
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Misal: FRP, kayu, beton
glass fibre woven fabric
UP: Lapisan bergantian antara rajutan woven dan mat (tidak hanya wf!)
EP: memungkinkan hanya dengan rajutan woven
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9/15/2011
137
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Lebih banyak group
reaktive pada rantai
UP:
Reaksi lebih cepat
Resin khusus untuk macam2 pemakaian:
a) Gelcoat
= lapisan terluar tanpa serat,
melindungi serat terhadap berbagai pengaruh
misal. Melindungi perahu thd air laut
T[°C]
200
120-140°C
180-190°C
misal. Melindungi perahu thd air laut
aplikasi: kuas, roller, spray-gun
ketebalan lapisan h
a
: 0,3 – 0,6 mm
- terlalu tebal: retak, akibat akumulasi panas
- terlalu tipis: curing tidak sempurna karena
hilangnya panas
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
t
100
120 140 C
9/15/2011
138
Resin khusus:
b) Matrix Resin
= mengikat serat,
kekentalan rendah untuk efek wetting yang baik
pada serat
Lebih banyak group
reaktive pada rantai
UP:
Reaksi lebih cepat
T[°C]
200
120-140°C
180-190°C
untuk adhesi yang baik: diperlukan shrinkage
rendah
Aplikasi: kuas, roller, spray-gun
Note: Oxygen mempengaruhi curing (Inhibition)
disini diperlukan (juga untuk gelcoat resin):
lapisan pertama tetap lengket karena adanya O
2
(menyebabkan adhesi yg baik pada lapisan berikut)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
t
100
120 140 C (menyebabkan adhesi yg baik pada lapisan berikut)
Resin khusus:
c) Resin Lapisan atas (LT= Laquer Topcoat)
Reaktivitas sedang
untuk permukaan finish dan melindungi serat
aplikasi: kuas, roller, spray-gun
Lebih banyak group
reaktive pada rantai
UP:
Reaksi lebih cepat
T[°C]
200
120-140°C
180-190°C
aplikasi: kuas, roller, spray gun
Catatan: Oxygen mempengaruhi curing (Inhibition)
tidak diharapkan!
Untuk mencapai curing yang tidak lengket (di udara):
misal ditambahkan paraffin, lapisan film (PE)
tambahan polyisocyanate
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
t
100
120 140 C
9/15/2011
139
=
=
Sistem Hardener Accelerator
Cold Curing = curing tanpa panas (RT)
Memerlukan energi kimia
Hardener = Peroxide
misal MEKP (Methyletherketonperoxide)
atau BP (Benzoylperoxide)
Accelerator
misal Cobalt
i.e. DEA: diethyl aniline
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
=
=
Prosentase Sytrene
20 - 30 - 35 %
6 ---------- 9 % shrinkage!
%St ti i % Styrene tinggi:
Viskositas rendah, impregnation fibre lebih mudah,
Curing cepat, shrinkage besar,
Sifat mendekati thermoplastic (PS)
Ketebalan minimum coating untuk laminasi ~ 0,5 mm
jika kurang, banyak styrene hilang per volume (~ 50 g/m²h)
panas hilang per volume tinggi
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
hasilnya: curing tidak mencukupi sesuai nominal time.
konsekuensi: sebagian lapisan kedua larut ke lapisan pertama
Terkait juga dengan swelling ¬“elephant skin”.
9/15/2011
140
t
T
TG
t gel
t
ΔT (25-35°C)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
t cure
t penanganan
t gel
T
ΔT (25-35°C)
TG
t cure
t handling
ΔT (25 35 C)
Kriteria untuk Curing mencukupi:
Kandungan sisa Styrene rendah (RSt%)
Beban mekanis, kimia: < 2,0 %
Aplikasi makanan: < 0,5 %
Diukur dengan UV-spectroscopy,
Analisa kimia
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Test lain:
Kekerasan, E-Modulus, HDT
9/15/2011
141
Glass Fibre
monofilament
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Ø = 4 - 10 - 14 µm
strand = sekumpulan monofilament
tex = [g/1000m]
Glass Fibre
Sesuai untuk impregnasi yang baik
dengan matrix resin:
parallel fibre berjumlah banyak j y
(capillary effect)
--> maximum kandungan glass
memungkinkan!
Sedangkan untuk permukaan halus:
strand tipis or roving
(kandungan glass minimum)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
roving = kumpulan strand, misal
60
tex = [g/1000m]
9/15/2011
142
Glass Fibre
Rajutan Woven , diukur dalam:
[g/m²]
Rajutan woven strand: 80 - 500 [g/m²]
Rajutan woven roving: 400 - 1200 [g/m²]*)
*) maximum kandungan glass ~ 65 % ) g g
Mat (=strands atau roving yg dipotong2) diukur
dalam [g/m²] :
Untuk lapisan pertama setelah gelcoat: 150
[g/m²]
(menjamin permukaan lebih baik!)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Untuk pemakaian standard: 300- 450- 600 [g/m²]
Untuk dinding tebal: - 900 [g/m²]*)
*) maximum kandungan glass ~ 30 %
Kekuatan max dicapai
dengan
kandungan maximum
glass!
Mat atau Rajutan ?
woven fabric, 0°
X
Y
interlaminar strength
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Z
Mat
9/15/2011
143
Kebutuhan banyaknya
Resin
Glass ~ 2,50 [g/cm³]
Resin ~ 1,22 [g/cm³]
Mat: GResin = 3,0 x GGlass
Woven Fabric: GResin = 1,5 x GGlass
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Filament untuk ketahanan kejut tinggi
(GF ketahanan kejut rendah!)
Mat atau Woven Fabric dari:
Polyester
Polyarylamid (Aramid = Kevlar)
PPS (Fortron)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9/15/2011
144
Rubber (Elastomer)
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
Sejarah
 Polyisoprene dari pohon karet (Hevea Braziliensis), Natural Rubber (NR)
 Christopher Columbus adalah orang Eropa pertama yang melihat penduduk asli Haiti
bermain bola karet (1490)
 Produksi karet hingga abad 19 mengalami banyak kendala. Karet sangat lengket dan
l d l k di i h i d k k di i D b h b l lumer dalam kondisi hari panas, dan sangat kaku saat dingin. Daya guna bahan belum
tinggi.
 1830 Thomas Hancock menggunakan mesin mixing internal melakukan proses mekanis
pada rubber sehingga mudah diproses lanjut
 1839 Charles Goodyear menambahkan Sulfur dan lead pada rubber menghasilkan
komposisi bahan yang lebih kuat dan lebih stabil pada suhu tinggi (proses vulkanisasi)
 1843 Hancock juga melakukan kombinasi sulfur dan rubber dengan panas, muncul istilah
vulkanisasi
 1876 biji pohon karet dibawa ke Inggris dari Brasil, kemudian dibawa ke Timur Jauh dan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
876 b j po o a et bawa e gg s a as , e u a bawa e u Jau a
berkembang ke daerah-daerah lain
 1889 John Dunlop mengembangkan ban angin untuk sepeda
9/15/2011
145
Jenis Rubber Jenis Rubber
Natural Natural Sintetis Sintetis
SBR SBR
CR CR
IIR IIR
FKM FKM
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
FKM FKM
EPDM EPDM
Pembuatan raw material
 Diambil dari getah pohon karet berupa Latex. Latex mengandung air,
polyisoprene dan sejumlah kecil protein dan karbohidrat.
k lk b l d l k b d b h
Natural Rubber Natural Rubber
 Dikumpulkan sebagai gumpalan dalam tanki besar dengan tambahan
formic acid
 Gumpulan diperas diantara rol-rol untuk menghilangkan kandungan
air kemudian dikeringkan
 Gumpalan kering dikemas dan dikirim ke pemroses lanjut
 Ada yang langsung diproses, misal menjadi kondom dan sarung tangan.
k bl k b k d l h l d k d l
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Meski blok pembentuknya adalah Polyisoprene, ada tingkatan dalam
NR yang dibedakan dari kandungan kotorannya (íkutan dari pohon
karet)
9/15/2011
146
Sifat-sifat:
 Produk vulkanisasi NR memiliki kekuatan mekanis dan elastisitas yang
baik
Natural Rubber Natural Rubber
 Ketahanan gesek baik
 Harga murah
 Pada suhu sangat rendah (-57 °C) kekakuan (getas) akan meningkat
 Ketahanan terhadap UV dapat diperbaiki dengan Carbon Black
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Jenis yang paling banyak dipakai (~ 50%), khususnya pada industri ban
(selain NR).
 Sifatnya hampir sama dengan NR (ketahanan cuaca, bahan kimia)
SBR (Styrene Butadiene Rubber) SBR (Styrene Butadiene Rubber)
 Sifat mekanis lebih rendah dibanding CR
 Tambahan Carbon Black akan meningkatkan kekuatan dan kekerasan
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
9/15/2011
147
 Adalah proses kimiawi untuk mengubah karet atau polimer
terkait menjadi bisa dipakai lebih lama (meningkatnya kekuatan terkait menjadi bisa dipakai lebih lama (meningkatnya kekuatan
regang dan stabilitasnya) dengan adisi sulfur.
 Kadang vulkanisasi tidak hanya menggunakan sulfur namun bisa
menggunakan peroksida, senyawa nitro, dsb sesuai materialnya.
 Metode: curing dengan senyawa adisi dengan suhu tertentu.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc
 Vulkanisasi berlangsung lambat, untuk mempercepatnya
digunakan akselerator (bahan organik atau anorganik) dan kalau digunakan akselerator (bahan organik atau anorganik) dan kalau
perlu ditambah juga aktivator (oksida-oksida logam).
 Bahan pengisi (filler), digunakan untuk meningkatkan
kemampuan mekanik, seperti: tensile strength, stiffness, tear
resistence, abrasion resistence.
 Contoh filler: karbon hitam.
Cahyo Budiyantoro, S.T., M.Sc

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->